Rabu, 22 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Paus Terdampar di Perairan Pulau Kapota Taman Nasional Wakatobi

Wangi - wangi, 21 November 2018. Balai Taman Nasional Wakatobi Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Wangi-Wangi menerima laporan dari Staff WWF SESS adanya bangkai Paus yang terdampar di perairan Pulau Kapota, Resort Wangi-Wangi. Personil SPTN Wilayah I bersama dengan WWF SESS, Tim Dosen Akademi Komunitas Perikanan dan Kelautan (AKKP) Wakatobi dan masyarakat sekitar melakukan peninjauan lapangan pada tanggal 19 November 2018 sekitar pukul 08.00 WITA. Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, jenis Paus yang terdampar merupakan Paus Sperma (Physeter macrocephalus) dengan ukuran panjang ± 9,5 meter dan lebar ± 437 cm dalam keadaan mati dan sudah mulai membusuk. Bangkai paus yang terdampar direncanakan akan dikubur pada hari Selasa 20 November 2018 di sekitar pantai Kolowawa Desa Kapota Utara saat air pasang sehingga memudahkan dalam penarikan bangkai ke darat. Tindakan penguburan ini dilakukan guna mendapatkan spesimen Paus yang digunakan sebagai salah satu bahan pendidikan dan penelitian di kampus AKKP Wakatobi. Hasil identifikasi isi perut paus yang dilakukan di Kampus AKKP Wakatobi ditemukan sampah plastik dengan komposisi sampah gelas plastik 750 gr (115 buah), plastik keras 140 gr (19 buah), botol plastik 150 gr (4 buah), kantong plastik 260 gr (25 buah), serpihan kayu 740 gr (6 potong), sandal jepit 270 gr (2 buah), karung nilon 200 gr (1 potong), tali rafia 3.260 gr (lebih dari 1000 potong). Adapun total berat basah sampah yaitu 5,9 kg. Untuk sementara belum bisa dipastikan penyebab kematian dari paus sperma. Sumber : Balai Taman Nasional Wakatobi, Tim Dosen Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan (AKKP) Wakatobi, dan WWF SESS
Baca Berita

Stasiun Pembinaan Penyu Rantau Sialang Kedatangan Kaum Millenial Konservasi

Tapaktuan, 21 November 2018. Stasiun Pembinaan (SP) Populasi Penyu Rantau Sialang sarat kunjungan puluhan kaum pelajar dari SMPN 1 Kluet Selatan, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan Rabu, (21/11). Kehadiran kaum milenial konservasi tersebut bertepatan dengan hari pohon sedunia yang jatuh pada tanggal, 21 November 2018. Penyelenggara kegiatan, Petugas Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) I Tapaktuan membekali mereka dengan materi konservasi, diskusi, pemutaran film konservasi, game konservasi dan berakhir dengan menanam pohon bersama petugas Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) di sekitar pantai habitat pendaratan penyu laut "Bentuk aktivitas pengelolaan di SP. Penyu Rantau Sialang yang berjalan selama ini meliputi monitoring habitat, pendataan administrasi pengelolaan, pengumpulan telur, penanaman telur didalam bak penetasan semi alami, pemeliharaan anakan didalam bak pembesaran dan selanjutnya pelepasliaran tukik penyu laut ke laut lepas" jelas Kepala Stasiun Pembinaan Populasi Penyu Rantau Sialang, Soloon Syahruddin Tanjung, S.Hut "Kunjungan edukasi dilakukan di tingkat pendidikan formal mulai dari SD, SMP dan SMA sederajat yang terdapat di sekitar TN. Gunung Leuser dengan sasaran kegiatan wilayah dampingan program BCCPGLE KFW bekerjasama dengan BBTNGL serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan" ujar Arif Saifudin, S.Si (PEH BBTNGL). Arif juga menjelaskan kunjungan edukasi ini dapat membawa dampak positif terhadap generasi muda Aceh di masa mendatang. Setidaknya pemahaman tentang konservasi alam yang didapatkan mampu diimplementasikan ditengah kehidupan sosial masyarakat secara harmoni Pungkasnya. Rasa terimakasih kepada petugas TN. Gunung Leuser atas peluang dan kesempatan yang diberikan terhadap siswa (i) nya untuk ambil bagian dalam kegiatan disampaikan Hj.Edyawati, S.Pd (Kepala Sekolah). Edyawati berharap temu ramah konservasi seperti ini dapat terus berjalan secara continue tutupnya. Sumber : Efa Wahyuni – Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser Foto: Ulul Azmi
Baca Berita

Penguburan Bangkai Paus Di Pulau Kapota Taman Nasional Wakatobi

Kapota Utara, 21 November 2018. Selasa Pagi 20 November 2018 sekitar pukul 08:00 wita, tim gabungan terdiri atas Balai Taman Nasional Wakatobi, Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan (AKKP) Wakatobi, Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD), POS TNI AL (POSAL) Wakatobi, Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Wakatobi, Kepala Desa Kapota, Kepala Desa Kapota Utara, Yayasan Alam Lestari Wakatobi, WTC, WWF SES dan masyarakat bergerak menuju Desa Kapota Utara, tepatnya di Jembatan Manohara dalam rangka persiapan pemusnahan bangkai paus dengan metode dikubur. Penguburan bangkai paus di persisir Desa Kapota Utara guna menghindari dampak negatif bagi lingkungan perairan maupun dampak negatif bagi masyarakat sekitar lokasi, selain itu penguburan paus dapat menyelamatkan rangka tulang secara utuh. Rencananya rangka tersebut akan dijadikan spesimen oleh kampus AKKP Wakatobi sebagai bahan edukasi dan penelitian. Sebelum kegiatan dilaksanakan, tim gabungan melakukan koordinasi teknis kegiatan dan penentuan lokasi penguburan paus kepada Kepala Desa Kapota Utara. Adapun proses penimbunan diawali dengan persiapan lubang dengan kisaran ukuran panjang 10 meter, lebar 2 meter, dan kedalaman 80 cm. Penarikan paus dari laut ke lokasi penguburan yaitu Pantai Watululu menggunakan speed POSAL Wakatobi, selanjutnya bangkai paus dimasukkan kedalam lubang. Untuk memudahkan proses penarikan yang dilakukan oleh kurang lebih 50 orang, disepakati bangkai paus dibagi dua bagian yaitu badan dan kepala karena tidak memungkinkan jika ditarik sekaligus masuk ke dalam lubang. Selanjutnya bangkai ditimbun dengan pasir. Aktifitas dilanjutkan dengan pembuatan tanggul karung berisi pasir mengelilingi titik penguburan bangkai paus untuk melindungi dari hempasan ombak agar pasir tidak tergerus air laut. Proses penguburan bangkai paus untuk dijadikan spesimen ini berlangsung hingga pukul 15:00 WITA. Sumber : Balai Taman Nasional Wakatobi, Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan (AKKP) Wakatobi, dan WWF SESS Foto : AKKP Wakatobi
Baca Berita

BKSDA Kalsel Giatkan Pelestarian Anggrek Lokal

Pelaihari, 21 November 2018 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) melaksanakan kegiatan pembentukan kelompok masyarakat peduli anggrek di Kalimantan Selatan khususnya dimulai dari Kabupaten Tanah Laut di wilayah kerja Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Pelaihari. Kabupaten Tanah Laut sudah ada beberapa orang yang mengembangkan anggrek secara mandiri. Sehingga dengan kondisi seperti ini, BKSDA yang mempunyai kewajiban untuk melindungi, mengawetkan, dan memanfaatkan TSL (Tumbuhan dan Satwa Liar) sangat support terhadap keberadaan orang-orang seperti mereka. Dalam rangka percepatan, perlu adanya pembentukan kelompok sehingga nantinya kelompok itu BKSDA Kalimantan Selatan bisa memfasilitasi dan mediasi agar bisa di-support oleh para pihak lainnya. BKSDA Kalimantan Selatan nanti akan bekerja sama dengan perusahan-perusahaan baik perusahaan tambang, perusahan sawit, dan perusahaan lainnya yang mempunyai dana CSR untuk bisa dipergunakan oleh teman-teman dalam pengembangan anggrek di Kalimantan Selatan. Kepala BKSDA Kalimantan Selatan, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc yang didampingi oleh Kepala SKW I Pelaihari, Mirta Sari, S.Hut, M.P di sela-sela break mengatakan, “Kita juga mengundang dari organisasi PAI (Persatuan Anggrek Indonesia) Kalimantan Selatan sebagai salah satu narasumber dengan harapan nanti bersama mereka kita bisa mendorong percepatan dalam rangka untuk pemasaran hasil-hasil produk anggrek yang bernilai ekonomi. Khusus untuk anggrek lokal kita lebih kepada pembudidayaannya, tetapi nanti dalam rangka menjaga kesinambungan perekonomian kelompok maka kita juga akan membantu dalam hal bisnis anggrek yang dikembangkan dari angrek-anggrek luar”. “BKSDA Kalimantan Selatan juga nanti akan mengembangkan tanaman anggrek ini di kawasan ekosistem esensial dalam skema keanekaragaman hayati khusus anggrek”, tambah Mahrus. (jrz) Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan
Baca Berita

Kerjasama Intensif Antar Instansi, Tingkatkan Kelestarian Hutan

Waibakul, 21 November 2018. Kerjasama antar instansi dalam rangka melestarikan hutan di Pulau Sumba, khususnya Kabupaten Sumba Tengah terus diintensifkan. Pada hari ini (21/11), Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Waibakul, Abdul Basit Nasriyanto, S.Hut, M.Sc, bersama Pengurus harian Generasi Hijau (Gen Hijau) Berbangsa Kabupaten Sumba Tengah melakukan audensi kepada Bupati terpilih Kabupaten Sumba Tengah yang baru dilantik beberapa waktu lalu. Umbu Djima sebagai Dewan Pembina Gen Hijau menyampaikan kepada Bupati tentang program-program yang telah dilaksanakan serta persiapan acara penanaman dalam rangka Hari Menanam Pohon Indonesia dan Bulan Menanam tahun 2018, pada tanggal 28 Nopember 2018 di Halaman SMP 5 Anakalang di Desa Dasaelu Kec. Katikutana Selatan Kab. Sumba Tengah. Pada kesempatan lain, Kepala SPTN I juga ikut menyampaikan capaian-capaian yang sedang dikerjakan khususnya kegiatan Pemulihan Ekosistem (PE) Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) yang lokasinya berbatasan dengan Desa Tanamodu, Kabupaten Sumba Tengah. Bupati secara tegas menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada semua pihak yang peduli akan kelestarian hutan di wilayahnya. Program cinta lingkungan juga merupakan salah satu program kerja unggulannya dengan nama Revolusi Hijau. Bupati memberikan saran kepada pihak TN Matalawa agar menggunakan bibit anakan lokal untuk kegiatan PE serta melibatkan masyarakat sekitar dalam pengelolaannya.(abn/mtlw) Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS) Ikuti Pelatihan Kewirausahaan : Promosi Serta Pemasaran Produk HHBK (NTFP) 2018

Kuching, 21 November 2018. Bertempat di Hotel Harbour View, Kuching, Sarawak. Sebanyak 103 (seratus tiga) orang mengikuti Pelatihan Kewirausahaan yang diselengggarakan oleh Forest Department Sarawak dalam rangkaian Karnival Non Timber Forest Product (NTFP) Sarawak 2018. Acara yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam promosi dan pemasaran produk hasil hutan bukan kayu diera digital ini diikuti oleh 9 (sembilan) orang yang berasal dari 3 (tiga) desa penyangga kawasan Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TNBKDS). Jasriyadi lelaki paruhbaya adalah salah satu peserta dari Indonesia sekaligus manajer pemasaran produk dari APDS mengatakan, “pelatihan ini sangat berguna bagi saya dan organisasi, saya harap bisa menjual madu APDS di pasar Malaysia lebih banyak dan bisa menjual lewat aplikasi Internet (jual beli online).” APDS sebagai unit koperasi adalah organisasi yang didirikan tanggal 21 Juli 2006 dengan visi organisasi “Sebuah organisasi penyedia madu terbaik di Indonesia,Malaysia/ Serawak/ Brunei Darusallam” dengan anggota sejumlah 344 (Tiga Ratus Empat Puluh Empat) orang terdiri dari 15 Periau dengan luasan pengelolaan 36.569 (Tiga Puluh Enam Ribu Lima Ratus Enam Puluh Sembilan) hektare. APDS memiliki sertifikat internasional BioCert dalam pengolahan madu hutan sehingga menjadi jaminan bahwa panen madu hutan dilakukan sevara lestari dan higienis, produksi rata – rata madu hutan organik adalah 15 – 20 ton pertahun Potensi madu yang melimpah menjadi modal utama bagi kita untuk membuka dan memperluas jaringan pemasaran kita di Malaysia, APDS harus memanfaatkan peluang ini secara optimal untuk meningkatkan volume penjualan kita”, ujar Harri Ramadani, Penyuluh Kehutanan sekaligus pendamping APDS ini. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Mengenal Herpetofauna

Kabandungan, 21 November 2018. Selama tujuh hari ini, sejumlah kader konservasi Halimun Salak belajar mengenal herpetofauna di wilayah pegunungan Salak. Teknik survey dan identifikasi jenis menjadi pengetahuan dasar yang harus dimiliki para peserta. Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak menggandeng Ciliwung Reptile Center (CRC) sebagai narasumber dan pendamping lapangan dalam kegiatan ini. Herpetofauna adalah binatang melata yang di dalamnya berupa jenis amfibi dan reptil. Keberadaan herpetofauna sangat penting dalam rantai makanan dan menjadi bioindikator lingkungan. Bekerjasama dengan PT Indonesia Power, survey herpetofauna ini merupakan rangkaian kegiatan pembinaan kader konservasi Halimun Salak. Berbagai kegiatan untuk pembinaan kader dilakukan seperti pengenalan metode monitoring satwa dan tumbuhan, kampanye konservasi dan lingkungan, penyadartahuan melalui pendidikan konservasi diharapkan mampu meningkatkan wawasan dan kapasitas kader konservasi. Sumber : Hermita Widi, Editor : Satria Giri, Foto : Tim Survey Herpetofauna - Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Baca Berita

Belajar Online Marketing Produk Olahan Ikan

Binongko, 21 November 2018. Guna meningkatkan kapasitas kelompok masyarakat binaan di Desa Jaya Makmur, Kecamatan Binongko, Kabupaten Wakatobi dalam pemasaran online produk olahan ikan, Balai Taman Nasional Wakatobi melalui Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III melaksanakan in house training “Pemasaran Online Produk Olahan Ikan.” Dalam sambutannya, Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, Dr. Heri Santoso, S.Pi., M.Si, mengharapkan agar masyarakat di Binongko tetap semangat walaupun Pulau Binongko yang letaknya di bagian ujung, masyarakat di Binongko tetap bisa memasarkan produk secara online seperti yang dilakukan di kota-kota besar. Dalam acara ini, ikut hadir Sekretaris Kecamatan Binongko dan Kepala Desa Jaya Makmur. Acara yang berlangsung selama 3 (tiga) hari mulai tanggal 21 s.d 23 November 2018, menghadirkan beberapa narasumber yang berkompeten, berasal dari Subdit Bina Daerah Penyangga (BDP) dan ZPT, Direktorat Kawasan Konservasi (Bisro Sya’bani, S.Hut.,M.Eng dan Aldila Paramita,S.Hut);Setditjen KSDAE (Iskandar, S.Hut); WWF SES dan Swiss Contact Field Office Wakatobi. Sumber : Parulian Situmorang (Pendamping/fasilitator desa binaan) - Balai Taman Nasional Wakatobi
Baca Berita

Pembukaan Jalur Pendakian Aik Berik

Aik Berik, 19 November 2018. Pembukaan jalur pendakian Aik Berik tanggal 18 November 2018, membuka kembali layanan pendakian pada jalur pendakian di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) yang sebelumnya ditutup sejak tanggal 30 Juli 2018 akibat gempa bumi yang melanda Pulau Lombok mulai tanggal 29 Juli 2018. Kegiatan ini membangkitkan perekonomian masyarakat sekitar kawasan khususnya pelaku wisata, menghilangkan dahaga pendaki pecinta Rinjani dan merupakan rekomendasi hasil survey yang Balai TNGR lakukan. Sebagai infomasi, telah dilakukan survey sejumlah 3 kali, tanggal 3-5 Oktober 2018, tanggal 15-17 Oktober 2018 dan tanggal 2-6 November 2018 di 4 jalur pendakian wisata (Sembalun, Senaru, Timbanuh dan Aik Berik) dan 1 jalur pendakian budaya (jalur Torean). Hasil survey menunjukkan jalur pendakian Aik Berik merupakan satu-satunya jalur pendakian yang dapat dibuka kembali di tahun 2018 ini, dengan pertimbangan kondisi jalur pendakian relatif aman, potensi flora dan fauna serta bentang alam, sarpras pada jalur pendakian ada dan dalam kondisi baik dan ketersediaan air bersih. Kegiatan survey melibatkan mitra diantaranya Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Pecinta Alam, Pelaku wisata (Guide, Porter dan TO), BASARNAS, Dinas Pariwisata Provinsi dan Kabupaten, Balai Wilayah Sungai NT-I, TNI dan POLRI. Sebelumnya jalur ini merupakan jalur dengan jumlah pendaki yang paling sedikit yang diakibatkan kurangnya promosi dan tidak adanya TO yang berasal dari Aik Berik. Tahun 2017 Balai TN. Gunung Rinjani mengembangkan 2 role model pengelolaan kawasan konservasi yaitu : Manajemen Pendakian dan Budidaya Jamur Morel. Kegiatan pendakian gunung rinjani selama ini telah memberikan manfaat bagi pengembangan ekonomi masyarakat baik sebagai pelaku wisata maupun aktivitas pendukung lainnya. Tercatat hingga hari ini lebih 1.755 pemandu gunung (guide 499 orang dan porter 1.256 org) yang terdata dan telah diterbitkan KTA. Khusus untuk jalur Aik Berik saat ini terdata sejumlah 79 orang Porter dan 50 orang Guide. Untuk menjawab dan mengurangi dampak dan permasalahan yang terjadi pada kegiatan pendakian, Balai TN Gunung Rinjani akan menerapkan beberapa hal baru dalam kegiatan pendakian meliputi SOP Pendakian, Pengunjung asing hanya bisa melakukan pendakian melalui TO yang berizin (IUPJWA) yang hingga saat ini sejumlah 89 TO. Penggunaan e-Rinjani sebagai aplikasi pendakian (booking dan payment) sehingga diharapkan dapat paperless, data pengunjung dapat terekap dengan baik, ada reward and punishment dll. Pengawasan pengunjung via CCTV yang saat ini telah terpasang di 5 titik yaitu Gunung Kondo, Santong, Sangkareang, Pelawangan Sembalu dan Pelawangan Senaru. Penguatan pemeriksaan barang pengunjung berpotensi sampah dan vandalisme (Pack in dan Pack out). Pemberlakukan Quota pendakian sejumlah 150 orang / hari untuk jalur pendakian Aik Berik, 150 orang Timbanuh, 100 orang/hari Senaru dan 300 orang/hari untuk jalur sembalun. Untuk jalur selain Aik Berik perlu dilakukan analisis ulang berdasarkan perubahan pada kondisi jalur akibat gempa bumi yang terjadi. Jalur pendakian aik berik merupakan salah satu jalur pendakian yang memeiliki beberapa keunikan diantaranya berada paling dekat dengan bandara internasional dan ibu kota provinsi, Memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang tercatat 45 jenis anggrek (identifikasi tahun 2006, diantaranya ada anggrek tasbih (Dendrobium rindjaniense) yang merupakan anggrek endemik Rinjani), beberapa jenis burung diantaranya burung endemik dan satwa prioritas nasional (celepuk Rinjani dan elang flores), Musang Rinjani, Rusa, Kijang dan Beberapa spesies Kupu-kupu. Di setiap pos peristirahatan terdapat sumber mata air, terdapat beberapa situs geologi dan jejak kaki Wali Mukmin (Umar Maya), 3 destinasi top view (pelawangan Aik Berik, Pelawangan Batu Belah dan Puncak Gunung Kondo), memungkinkan kegiatan pendakian bebas sampah, terdapat 5 Air Terjun di sepanjang Jalur Pendakian yang ditemukan pendaki, ada sekitar 35 jenis tumbuhan edibel (yang dapat dikonsumsi) serta merupakan paket kegiatan pendakian yang lengkap karena selain trekking juga bisa dipadukan dengan beberapa kegiatan wisata antara lain paket transportasi (Off road, berkuda dan motor dari pintu gerbang menuju batas kawasan TNGR), Pengamatan flora dan Fauna, Air terjun serta agriwisata. Jalur pendakian aik berik merupakan model kegiatan pendakian yang melibatkan multi pihak. Pada jalur ini akan dikembangkan kerjasama/kolaborasi dengan Pemkab Lombok Tengah, Provinsi melalui KPH, dan KTH serta promosi yang lebih gencar terkait jalur pendakian Aik Berik, mengoptimalkan paket wisata agar terkoneksi dengan desa wisata, pemberdayaan potensi dan kearifan lokal masyarakat. Kebutuhan dalam pengembangan Jalur pendakian Aik Berik meliputi peningkatan sarana prasarana di jalur pendakian dan peningkatan kapasitas SDM yang ada, optimalisasi regulasi dan tata kelola yang tentunya membutuhkan pelibatan banyak pihak diantaranya : masyarakat, pelaku wisata, Pemkab, Pemprov, Kementerian terkait, Basarnas, Poltekpar dll. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Berita

Mengenal Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Bersama Masyarakat Gampong

Nagan Raya, 19 November 2018. Personil Resor Konservasi Wilayah 13 Meulaboh Seksi Konservasi Wilayah II Subulussalam BKSDA Aceh yang dipimpin Kepala Resor Zulkarnain melakukan sosialisasi Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar kepada masyarakat Gampong Seumambek Kecamatan Sukamakmur Kabupaten Nagan Raya berdasarkanPeraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.92/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi. Adapun dalam kegiatan sosialisasi tersebut personil Resor Konservasi Wilayah 13 Meulaboh memberikan materi pengenalan jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia ; gambaran secara singkat teknis penghalauan kawanan gajah liar yang masuk ke pemukiman serta membagikan poster dan brosur gambar jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi serta meinformasikan nomor Call Center BKSDA Aceh kepada masyarakat untuk pelaporan terkait permasalahan dengan tumbuhan dan satwa liar yang terjadi diwilyahnya. Dalam kesempatan tersebut masyarakat juga memberikan masukan/saran untuk Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh melalui Personil Resor Konservasi Wilayah 13 Meulaboh Seksi Konservasi Wilayah II Subulussalam diantaranya : masyarakat berharap untuk diberikan pelatihan penanggulangan konflik satwa dengan melibatkan stakeholder terkait dan perhatian instansi terkait terhadap korban konflik satwa liar dengan manusia tang terjadi di wilayah mereka. Kegiatan sosialisasi tersebut dilakukan sebagai bentuk penyadar tahuan kepada masyarakat untuk jenis – jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang dilindungi serta upaya BKSDA Aceh untuk melibatkan masyarakat untuk turut serta dalam upaya pelestarian dan perlindungannya. Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh
Baca Berita

Evakuasi Satwa Ular Pyton Hasil Laporan Kapolsek Rambah Samo

Pekanbaru, 20 November 2018. Pada hari Minggu, 18 November 2018, Tim Quick Respon Balai Besar KSDA Riau mendapat laporan dari Kapolsek Rambah Samo, AKP Hermawan tentang adanya tangkapan Ular Pyton di wilayahnya. Kepala Bidang Teknis Balai Besar KSDA Riau, Mahfud segera menyampaikan perihal tersebut kepada Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono yang segera memerintahkan untuk mengevakuasi satwa tersebut. Kronologis kejadiannya, ada seorang warga bernama Dawar, 40 tahun penduduk Desa Pawan, Kec. Rambah Samo, Kab. Rokan Hulu melihat Ular Pyton dengan panjang sekira 6 Meter di kebun karetnya yang berdekatan dengan pemukiman warga. Dikarenakan yang bersangkutan takut apabila satwa tersebut memangsa ternak warga maka dengan bantuan beberapa warga sekitar dia mendatangi dan menangkap ular pyton tersebut. Kapolsek Rambah Samo yang mendapat laporan tersebut segera menghubungi pihak Balai Besar KSDA Riau untuk meminta agar ular segera di evakuasi. Tim Balai Besar KSDA Riau terdiri dari Aswar, Ahmad Sunarko dan Debby Lapoliza segera turun menuju TKP untuk melakukan penjemputan Ular Pyton. Tim sampai di lokasi sekira pukul 17.00 wib. Dikarena cuaca hujan terus menerus, evakuasi berjalan hampir 2,5 jam, namun khirnya Ular Pyton berhasil dievakuasi untuk dibawa ke kandang transit sementara Balai Besar KSDA Riau. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

BBKSDA Riau Evakuasi Satwa Buaya Sinyulong di Desa Sontang

Pekanbaru, 20 November 2018. Buaya yang telah memakan satu orang korban anak kecil bernama Rahmat 7 (tujuh) tahun di Desa Sontang, Kec. Bonai Darussalam, Kab. Rokan Hulu telah tertangkap oleh warga pada Sabtu, 17 November 2018 sekira pukul 22.00 wib. Sebagaimana diketahui begitu laporan tentang adanya konflik satwa Buaya dengan manusia pada Kamis, 15 November 2018 Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono segera memerintahkan anggotanya untuk turun ke TKP. Hasil yang didapat dari keterangan orang tua korban, anaknya mandi di depan rumah sekira pukul 08.00 wib kemudian anaknya hilang sesaat timbul ombak kecil dan terlihat ekor Buaya. Seluruh keluarga dan masyarakat mencoba mencari anak tersebut namun saat itu belum membuahkan hasil. Akhirnya dengan bantuan pawang lebih kurang 7 jam korban ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa dengan luka gigitan di dada dan di punggung. Buaya yang terlihat memiliki lebar dada 50 cm dengan jenis Buaya Ikan/ Sinyulong (Tomistoma schegelli). Kemudian korban dikebumikan keesokan harinya. Selain mengumpulkan informasi, Tim mengunjungi keluarga korban untuk menyampaikan rasa bela sungkawa dan melakukan koordinasi dengan aparat setempat serta melakukan sosialisasi dan pemasangan banner/ spanduk "Daerah rawan Buaya" di sekitar TKP. Pada Minggu, 18 November 2018, Tim kembali tiba di lokasi dan melakukan koordinasi dengan Polsek dan aparat desa setempat perihal tertangkapnya Buaya tersebut oleh warga. Buaya di tangkap oleh warga dengan menggunakan umpan dan setelah berhasil ditangkap buaya di ikat serta diamankan ke Polsek Bonai Darussalam. Minggu malam Buaya di evakuasi dengan menggunakan kendaraan roda 4 oleh tim Balai Besar KSDA Riau ke Pekanbaru untuk dititipkan sementara di Lembaga Konservasi Kasang Kulim. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Berkah Hujan untuk Tim PE TN Matalawa

Waingapu, 19 November 2018. Pada tahun 2018 ini, Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) mendapatkan mandat untuk memulihkan ekosistemnya sebesar 438,31 ha yang tersebar di 3 wilayah seksi pengelolaan. Metode pemulihan ekosistem yang digunakan yaitu restorasi, rehabilitasi, dan mekanisme alam. Kondisi cuaca yang berbeda-beda pada tiap seksi wilayah pengelolaan membuat waktu tanam yang telah dijadwalkan pun akhirnya harus menyesuaikan dengan curah hujan yang turun. Hujan yang telah turun selama beberapa hari di lokasi Kambatawundut, membuat tim segera bersiap untuk melakukan penanaman. Tim penanaman yang terdiri dari para pegawai di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Lewa dibantu dengan warga sekitar berjumlah 20 orang, siap untuk menanam bibit pada 120 ha lahan yang sudah disiapkan. Kepala Balai TN Matalawa, Maman Surahman, S.Hut, M.Si, menyampaikan pesan kepada seluruh petugas pendamping untuk memberikan contoh bagaimana cara menanam yang baik serta memperhatikan cara penanaman yang dilakukan oleh masyarakat. Hal ini untuk memastikan bibit yang ditanam dapat tumbuh dengan baik sehingga tutupan lahan meningkat. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Kunjungan Belajar Masyarakat Binaan ke Taman Nasional Gunung Ciremai

Sofifi, 19 November 2018. Desa Kobe, Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah yang merupakan desa binaan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) mendapat kesempatan untuk melakukan kunjangan belajar ke Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) di Kuningan, Jawa Barat. Kunjungan belajar dilaksanakan selama 5 (lima) hari mulai tanggal 10 hingga 14 November 2018. Dua orang perwakilan dari masyarakat Desa Kobe yang mendapat kesempatan kunjungan belajar adalah Mikles Kadari (Kepala Desa) dan Yordan Doter (Tetua Masyarakat Desa Kobe) yang didampingi oleh Penyuluh Kehutanan Balai TNAL. Hari pertama di Kuningan, melakukan kunjungan ke Kantor Balai TNGC dimana telah ada rombongan dari Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang juga bermaksud melakukan kunjungan belajar. Kemudian tim Balai TNAL bergabung dengan tim Balai TNTN hingga selesainya kunjungan belajar di TNGC. Di kantor Balai TNGC, rombongan mendengarkan pemaparan dari narasumber mengenai pengelolaan TNGC bersama masyarakat. Obyek dan daya tarik wisata alam kawasan TNGC seluruhnya dikelola masyarakat dengan prinsip saling percaya, saling menghormati, dan saling menguntungkan yang merupakan prinsip kemitraan yang dijalankan Balai TNGC dan masyarakat sekitar. Rombongan juga sempat berdiskusi dengan Kepala Balai TNGC, Bapak Kuswandono, S.Hut., M.P. Pada hari kedua dan selanjutnya, rombongan didampingi oleh petugas Balai TNGC untuk melihat dan belajar secara langsung pengembangan wisata di kawasan TNGC yang dilakukan oleh masyarakat. Kunjungan lapangan pertama, rombongan diarahkan ke Desa Bantar Agung yang berada di SPTN Wilayah II Majalengka. Masyarakat di desa ini membentuk kelompok bernama Mitra Pariwisata Gunung Ciremai (MPGC) yang mengelola tempat wisata Curug Cipeuteuy. Sebelum ke Curug Cipeuteuy, rombongan singgah ke Cibroer Pass yang berada di lokasi persawahan yang menjadi demplot pertanian organik dengan tema wisata yang berkerjasama dengan Balai TNGC. Kunjungan juga dilakukan ke lokasi wisata Desa Batu Luhur, Desa Pesawahan dengan obyek wisata Bukit Kahiyangan, dan Bumi Perkemahan Ipukan. Dari semua lokasi yang dikunjungi pengelolaan wisata yang dijalankan masyarakat desa penyangga TNGC, perwakilan masyarakat Desa Kobe banyak belajar mengenai bagaimana menciptakan peluang dalam membangun tempat wisata di dalam kawasan konservasi taman nasional. Dimana dapat memberikan keuntungan ekonomi bagi masyarakat dan keuntungan bagi kelestarian kawasan taman nasional. Pun, belajar dalam kesungguhan dan fokus yang ditunjukkan masyarakat sekitar kawasan TNGC dalam mewujudkan visi untuk mewujudkan peningkatan kesejahteran masyarakat yang lebih baik. Kunjungan belajar di TNGC cukup membekas dalam benak perwakilan masyarakat Desa Kobe. Kepala Desa menyatakan bahwa Desa Kobe memiliki potensi yang lebih baik sehingga sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi tempat wisata. Kepala Desa juga menyatakan keinginannya untuk bekerjasama dengan Balai TNAL untuk pengembangan potensi wisata di sekitar wilayah Desa Kobe. Sumber : Muhammad Arif Setiawan Penyuluh Kehutanan - Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Akhirnya Harimau Sumatera Dapat Dievakuasi

Pekanbaru, 18 November 2018. Setelah terkurung di bawah kolong ruko selama kurang lebih tiga hari, akhirnya memasuki hari keempat Tim Rescue Balai Besar KSDA Riau berhasil melakukan pembiusan terhadap Harimau Sumatera tersebut. Pembiusan dilakukan sekira pukul 01.48 wib, Sabtu dini hari tanggal 17 November 2018. Setelah waktu yang diperkirakan satwa tersebut tertidur, maka Tim segera membuka sebagian tembok pondasi ruko untuk melakukan evakuasi. Tim cukup kewalahan dengan bobot Harimau yang diperkirakan mencapai berat 80 kg, dengan jenis kelamin jantan dan berumur berkisar 3 tahun. Pada kaki kiri depan ditemukan luka seperti bekas jeratan, gigi taring retak yang diperkirakan karena menggigit jerat dan demikian juga kaki belakang kanan terdapat luka yang langsung mendapat pengobatan dari 3 dokter hewan di tim tersebut. Evakuasi dilakukan dengan menggunakan transportasi air dan darat dimana dari lokasi TKP menggunakan speedboat ke Tembilahan kemudian dari Tembilahan akan dibawa menggunakan jalur darat ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Yayasan Arsari di Dharmasraya, Sumatera Barat. Perjalanan dari Tembilahan ke Dharmasraya diperkirakan akan memakan waktu sekitar hingga 12 jam sampai di lokasi rehabilitasi. Di tempat tersebut akan dilakukan pengobatan, pemulihan, observasi dan rehabilitasi sebelum si belang kembali dilepasliarkan. Kepala Balai Besar KSDA Riau mengucapkan terima kasih atas upaya yang dilakukan seluruh Tim dan kerjasama dari seluruh pihak terutama pemerintah daerah setempat khususnya BPBD, jajaran TNI, Polri, Yayasan Arsari, aparat Kecamatan, Kepala Desa dan warga yang luar biasa kondusif selama berlangsungnya evakuasi. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Survey Burung BKSDA Jambi

Jambi, 18 November 2018. Petugas Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi melakukan kegiatan survey pemanenan burung pada tanggal 14 s.d 18 November 2018 di wilayah kerja SKW I di kabupaten Bungo, kabupaten Merangin, kabupaten Sarolangun. Di Kabupaten Bungo petugas bertemu dengan pemikat burung jalak kerbau, pemikat burung ini berkelompok dengan jumlah 6 orang. Pada umumnya daerah tangkap burung jalak berlokasi di daerah kebun sawit dan pabrik pengolahan sawit. Jumlah burung yang ditangkap rata rata sebanyak 30 ekor per minggu. Di Kabupaten Merangin petugas menemui pembeli burung, menurut pembeli para pemikat sudah tidak menjual burung kepada nya sejak dikeluarkan Permenhut No. 20 Tahun 2018 tentang jenis TSL yang dilindungi, karena jenis burung yang dipikat adalah jenis yang dilindungi. Di Kabupaten Sarolangun petugas mencari informasi dari penjual burung yang ada di Sarolangun. Menurut info dari penjual burung bahwa pemikat burung sudah tidak menjual burungnya di toko mereka sejak dikeluarkan Permenhut No. 20 Tahun 2018 sekitar bulan Agustus, jenis yang biasa dijual pemikat yaitu cucak hijau, cucak ranting, kapas tembak, kacer, cucak biru, dll. Dari 4 kabupaten dan 1 kota yang merupakan wilayah kerja SKW I, baru 3 kabupaten yang telah disurvey sementara kab. Kerinci dan Kota Sungai Penuh belum dilakukan survey, dikarenakan jarak tempuh yang jauh. Namun demikian survey akan tetap dilaksanakan untuk kedepannya. Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jambi

Menampilkan 6.593–6.608 dari 11.140 publikasi