Rabu, 22 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Spesial Dialog Ruai Tv

Pontianak, 23 November 2018. Berbagai macam terobosan dalam upaya memberantas perdagangan satwa liar. Kali ini bersama Balai PPHLHK Wilayah Kalimantan dan Yayasan Titian Lestari kami berjuang bersama, berdialog di salah satu stasiun televisi untuk mengkampanyekan usaha bersama memerangi perdagangan satwa liar ilegal. Sore hari ini, 22 November 2018 di stasiun Ruai Tv spesial dialog diadakan dengan spirit menjaga kelestarian kekayaan borneo. Ibu Lidia Lilly, S.Hut., M.P. menyampaikan bahwa Wildlife Rescue Unit (WRU) siap bekerja bersama stakeholder untuk upaya penyelamatan tumbuhan dan satwa liar. Pelaporan masyarakat dapat dilakukan melalui call center 08115776767. David Muhamad, S.Sos., M.H., Kepala Seksi 3 BPPHLHK Wilayah Kalimantan menyampaikan adanya sanksi atas pelanggaran kasus perdagangan tumbuhan dan satwa liar. Ini menjadi salah satu pemberi efek jera agar menekan pelanggaran yang lain. Sulhani, Direktur Eksekutif Yayasan Titian Lestari Kalbar berharap dengan berbagai upaya dan terobosan maka angka perdagangan satwa liar ilegal dapat menurun. Kami bersepakat bahwa upaya penyelamatan tumbuhan dan satwa liar hanya dapat berhasil jika dilakukan bersama dengan seluruh pihak, termasuk masyarakat Kalimantan Barat . Oleh karena itu kami tunggu aksimu bergabung bersama kami menciptakan kelestarian alam borneo. Work hard, Stay productive. Bravo Konservasi Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Pengumuman Pemenang Lomba Film Dokumenter TN Meru Betiri Tahun 2018

Jember, 23 November 2018. Bertempat di Lippo Plaza Jember, TN Meru Betiri menyelenggarakan pengumuman pemenang Lomba film Dokumenter. Sebelumnya peserta lomba telah mengikuti serangkaian acara yang diselenggaran oleh panitia. Tahapan yang telah dilewati yaitu pendaftaran, technical meeting, adventure shooting day, proses editing dan penyempurnaan fim, tahap penjurian hasil karya peserta lomba dan puncaknya pengumuman pemenang. Adventure shooting day dilaksanakan di Sukamade, Banyuwangi dan Bandealit, Jember. Acara ini diikuti oleh 30 orang peserta. Harapannya dengan adanya film dokumenter ini dapat mempromosikan keindahan alam dan kekayaan keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna beserta pengelolaannya di TN Meru Betiri. “Kita semua patut berbangga dan bersyukur berada di daerah yang memiliki hutan, seperti TN Meru Betiri dengan keanekaragaman hayati yang masih melimpah. Semoga dengan film dokumenter ini bisa menjadi promosi/ mengkampanyekan konservasi dan wisata alam TN Meru Betiri.” Sambutan Ir. Kholid Indarto, Kepala Balai TN Meru Betiri. Tim juri diketuai oleh Djoko Supriatno, SS,. M.med.Kom dari Universitas Islam Jember, dan anggota tim juri yaitu Dr. M.Ilham Zubazari (Universitas Jember) dan Nur Rohmah Syarif, S.Si, M.P (TN Meru Betiri) menetapkan Juara I, II, III dan Harapan I dan II berdasarkan akumulasi nilai penjurian. Ada pun pemenang Lomba Film Dokumenter TN Meru Betiri Tahun 2018 adalah sebagai berikut: Juara I, Andi Cipan, film “Eksotika Meru Betiri” Juara II, Adam Sulaiman, film “The Story of Meru Betiri National Park” Juara III, Enggar, film “The Little Awesome From Sukamade” Harapan I, M. Khoirudin, film “Java Tropical Forest” Harapan II Dino Puguh, film “Meru Betiri Dalam Lensa” Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Sosialiasasi Dini Dalkar Kepada Pelajar

Siantar, 23 Nopember 2018. Untuk pertama kalinya Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar menyelenggarakan Kampanye Pencegahan Kebakaran Hutan Konservasi pada tanggal 19 Nopember 2018 di SMA Negeri 1 Muara Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara. Kegiatan ini dilakukan disekolah sebagai upaya dini mengubah pola pikir siswa/siswi sehingga menjadi salah satu pihak yang bisa berperan aktif dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Mengingat SMA Negeri 1 merupakan salah satu sekolah yang berdekatan dengan Kawasan Konservasi TWA. Sijaba Hutaginjang sehingga sekolah ini menjadi sasaran kegiatan ini. Diikuti 30 peserta siswa/siswa SMA Negeri 1 Muara dan dihadiri juga oleh Camat, Kapolsek, dan Danramil Muara serta Kepala SKW IV Tarutung semakin menyempurnakan kampanye ini. Kegiatan diawli dengan sambutan dari Kepala SKW IV Tarutung dilanjutkan dengan Sambutan dari Camat Muara sekaligus membuka acara. Dalam sambutannya Camat Muara, Bapak Richand Panggabean Situmorang, S.STP, menyatakan pada Tahun 2016 Kabupaten Tapanuli Utara menduduki urutan teratas sebagai daerah di Provinsi Sumatera Utara dengan kejadian kebakaran terbanyak yaitu di daerah Muara. Kebakaran hutan mengakibatkan dampak negatif terhadap lingkungan yang mana kebakaran ini sebagian besar diakibatkan karena ulah manusia. Oleh karena itu diharapkan kepada siswa/siswi SMA Negeri 1 Muara setelah mengikuti kegiatan ini dapat menjadi duta pencegahan kebakaran hutan dan lahan khususnya di daerah Muara. Dalam pelaksanaan kampanye ini Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar melibatkan Daops Aek Nauli sebagai Narasumber. Narasumber memberikan materi tentang pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang diselingi dengan kuis-kuis dengan hadiah yang menarik semakin meningkatkan antusias peserta. Setelah pemberian materi dilanjutkan dengan simulasi pencegahan kebakaran dimana peserta mempraktekan peggunaan peralatan pemadaman kebakaran sederhana. Pihak Sekolah yang diwakili Ibu Merida Simanjuntak, S.Pd mengucapkan terimaksih kepada Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar yang telah menyelenggarakan Kampanye Pencegahan Kebakaran Hutan Konservasi di SMA Negeri 1 Muara. Sebagai generasi penerus, siswa/siswi harus dibekali pemahaman yang benar bagaimana mengelola hutan dan lahan agar tetap lestari. Program kampanye yang dilaksanakan ini sangat bermanfaat bagi para siswa/siswi untuk merubah pola pikir masyarakat tentang membakar hutan dan lahan. Sumber : Lisbeth - Penyuluh Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Aksi Hipnotis untuk Menjadi Pejuang Konservasi

Pontianak, 23 November 2018. Lagu Legendaris "Abang Tukang Bakso" terdengar dinyanyikan di Studio 121 BKSDA Kalimantan Barat oleh siswa kelas 6 SD Tunas Bangsa. Pembelajaran konservasi tidak melulu monoton dan membosankan. Namun dapat dikemas dalam kemeriahan dan keceriaan. Setelah bergembira menanamkan semangat konservasi kepada generasi muda ini relatif lebih mudah. Mereka belajar tentang beberapa kawasan konservasi dan tumbuhan dan satwa dilindungi. Kuis bertaburan hadiah membawa semangat belajar yang positif bagi mereka. Setelah berhasil menanamkan nilai konservasi, harapannya kelak mereka akan menjadi penerus perjuangan upaya penyelamatan biodiversitas yang ada di Indonesia. Ini aksi kami untuk Bumi Katulistiwa. Mana aksimu? Work Fun, Stay Productive Bravo Konservasi Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

BKSDA Kalsel Kembali Amankan Satwa Tanpa Dokumen

Banjarbaru, 23 November 2018 – Balai KSDA Kalimantan Selatan kembali mengamankan peredaran satwa liar tanpa dokumen. Pada hari Senin, 19 November 2018 pukul 21.00 WITA, sebanyak 23 ekor Musang yang terdiri dari 8 ekor Musang Pandan dan 15 ekor Musang Akar berhasil diamankan oleh petugas Pos Pelabuhan Laut Trisakti Banjarmasin yang bekerjasama dengan Kepolisian Sektor Pelabuhan Laut Trisakti. Satwa ini diamankan saat hendak dikirim ke Pulau Jawa melalui jalur laut, namun tidak dilengkapi dengan dokumen angkut yang resmi. Selanjutnya satwa tersebut dititip di kandang transit Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru, untuk perawatan sementara sebelum pelepasliaran. Pelepasliaran Musang hasil temuan dilakukan oleh Balai KSDA Kalimantan Selatan. Pada hari Kamis, 22 November 2018 pukul 10.00 WITA, sebanyak 9 ekor Musang Akar di kawasan Tahura Sultan Adam, Mandiangin. Musang yang dilepasliarkan adalah satwa telah mendapatkan perawatan sementara di kandang transit Seksi konservasi Wilayah II Banjarbaru. Kepala Balai KSDA Kalsel, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc berharap tidak terjadi lagi penangkapan terhadap satwa yang dilindungi agar keseimbangan ekologi tidak terganggu. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Wanita - Wanita Hebat di Sekitar Kawasan Penyangga Terluar

Kotabaru, 22 November 2018 – Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc didampingi Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Batulicin, Nikmat Hakim Pasaribu, S.P, M.Sc mengunjungi Desa Karang Payau Kecamatan Kelumpang Hulu Kabupaten Kotabaru. Desa ini berdampingan dengan CA Teluk Kelumpang yang merupakan desa terjauh jika diambil dari Kotabaru. Desa Karang Payau ini dibina sejak tahun 2018 dan pada kesempatan akhir tahun ini kembali mendapat suntikan dana dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang disampaikan langsung oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan berupa bantuan peningkatan ekonomi masyarakat sebesar 30 juta. Kelompok Harapan Makmur merupakan kelompok binaan Balai KSDA Kalimantan Selatan dengan anggota yang seluruhnya adalah wanita. Pada kesempatan diskusi dengan Kelompok Harapan Makmur, Salasiah sebagai ketua kelompok mengatakan bahwa kelompoknya sudah berhasil mengembangkan hidroponik dimasing-masing anggota kelompok, hasil tersebut berupa bayam, sawi, dan seledri. Sebagian untuk konsumsi rumah tangga dan ada beberapa yang sudah dijual. Kedepannya mereka menginginkan hidroponik yang lebih canggih, yaitu dengan adanya sirkulasi air sehingga memerlukan tenaga listrik. Dalam sesi diskusi berkembang bahwa dimungkinkan menggunakan listrik tenaga surya karena memang desa tersebut listriknya lebih banyak padam dibandingkan hidupnya. Salah satu anggota Kelompok Harapan Makmur, Arni mengatakan bahwa mereka juga berkeinginan untuk mengembangkan kolam buatan untuk bisa memelihara ikan nila dan ikan lele walaupun nanti tidak terlalu besar tetapi mereka berharap bahwa ini bisa dikembangkan di desa mereka dikemudian hari. Kepala SKW III Batulicin, Nikmat Hakim Pasaribu, S.P, M.Sc menyampaiakan ucapan terima kasih kepada Kepala Desa Karang Payau dan aparaturnya serta kelompok tani yang sudah bekerja sama dengan tim SKW III Batulicin dalam rangka pemberdayaan masyarakat sekaligus juga bersama-sama memelihara dan melindungi kawasan konservasi yang berada di sekitar desa mereka. Setelah penyampaian bantuan, Kepala BKSDA Kalimantan Selatan, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc mengharapkan dana bisa dimafaatkan secara baik dan terus memperkuat kekompakan kelompok yang nanti hasilnya bisa dinikmati secara bersama-sama oleh kelompok dan akan dikembangkan kepada anggota masyarakat lainnya sehingga keberadaan BKSDA, SKW, dan Resort di desa bisa memberikan manfaat secara ekonomi, sosial, dan ekologi. Kepala Desa Karang Payau, Arbani, S.AP berharap keberhasilan Kelompok Harapan Makmur bisa menjadi penyemangat atau percontohan untuk ditularkan kepada masyarakat di sekitar desanya. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Dua Taman Nasional Kembali Kunjungi Taman Nasional Gunung Ciremai

Kuningan, 23 November 2018. Senin, 12 November 2018, dua taman nasional kembali kunjungi Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Kunjungan kedua taman nasional kali ini membawa serta tokoh masyarakat, Kepala Desa dan Kepala Adat. Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) membawa sembilan orang dan TN Aketajawe Lolobata (TNAL) membawa tiga orang. Peserta di ajak berdiskusi dan melihat langsung masyarakat penyangga TNGC yang telah berupaya mewujudkan kedaulatan di rumahnya sendiri. Selain itu peserta juga melihat secara langsung kerja keras masyarakat penyangga membangun perekonomian yang bersinergis dengan terjaganya kawasan taman nasional dari berbagai gangguan keamanan hutan. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari. Setelah mendapatkan pemaparan dan diskusi awal di Kantor Balai TNGC, keesokan harinya peserta di ajak menuju ke wisata alam Ciboer Pas dan Curug Cipeuteuy, Bantaragung, Sindangwangi, Majalengka. Wisata alam Ciboer Pas merupakan salah satu lokasi Role Mode Pertanian Sehat binaan Balai TNGC. Di sini peserta berdiskusi mengenai pertanian sehat yang merupakan proses budidaya tanaman yang memprioritaskan penggunaan bahan-bahan alami yang dikembangkan melalui eksplorasi dan penelitian "mikroorganisme" positif dari gunung Ciremai. Sementara di wisata alam Curug Cipeuteuy peserta berdiskusi terkait penataan, pengelolaan dan peran serta dalam keikutsertaan masyarakat dalam pengaman dan perlindungan kawasan. Curug Cipeteuy juga merupakan pioner wisata alam yang di kelola masyarakat setempat sejak tahun 2011 yang sebelumnya hanya disahkan kepala desa namun kini sudah berubah menjadi badan usaha koperasi. ODTWA Curug Cipeuteuy juga merupakan Kelompok Binaan Terbaik yang mendapatkan penghargaan pada Hari Konservasi Alam Nasional tahun 2018. Hari kedua, peserta berkeliling wilayah Kuningan diantaranya mengunjungi wisata alam Batu Luhur berdiskusi terkait "Camp Fire Care" dimana lahan bebatuan dan rawan kebakaran hutan diubah menjadi lahan yang dapat memberikan manfaat untuk masyarakat yang ada di sekitarnya. Peserta diajak secara langsung melihat lokasi yang masih dalam tahap penataan di wisat alam Bukit Kahiyang, Pasawahan yang mana masyarakat secara swadaya melakukan penataan wisata alam. Dalam tahap penataan ini masyarakat juga melihat aspek perlindungan dan pengamanan kawasan, salah satunya beberapa lokasi yang akan jadi wisata alam dibuat sekat bakar untuk pencegahan dari bahaya kebakaran hutan. Terakhir, peserta mengunjungi wisata alam Ipukan melihat beberapa lokasi Glamping (glamorous camping) serta berdiskusi langsung dengan masyarakat terkait pengelolaan wisata, perijinan, penguatan kelompok dan penataan. Di sini juga peserta melihat secara langsung Kodok Merah (Leptophryne cruentata) yang merupakan salah satu simbol "high quality" lingkungan hidup [teks & foto © Mendry - BTNGC | 112018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Kunjungan Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Timur di Taman Nasional Gunung Ciremai

Kuningan, 23 November 2018. Kamis (22/11), Balai TNGC kembali kedatangan tamu dari Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Timur. Rombongan dipimpin langsung oleh Dewi (Kadishut) bersama Para Kepala Bidang beserta jajaran, sebanyak 12 orang. Maksud kedatangan rombongan adalah untuk belajar pemanfaatan jasa lingkungan melalui pemberdayaan masyarakat di TNGC, sebagaimana diungkapkan Ibu Eni pada saat menyampaikan sambutan perkenalan di Kantor Balai TNGC. Selain itu diungkapkan bahwa di Jawa Timur terdapat Taman Hutan Raya (Tahura) dan Hutan Masyarakat yang belum dioptimalkan pemanfaatannya, sehingga model pemanfaatan di TNGC dapat dilakukan juga di Jawa Timur. Setelah perkenalan, penyambutan dan penyampaian materi tentang pengelolaan kawasan TNGC, dilanjutkan dengan kunjungan ke obyek wisata Batuluhur. Kunjungan selanjutnya tertuju ke Balong Cigugur yang di kelola oleh Perusahaan Dagang Aneka Usaha (PDAU). Acara ramah tamah dan diskusi akhir dilaksanakan pada malam hari di Villa Saung Gunung, Gunung Keling, Cigugur. . Di obyek wisata Batuluhur, tamu disambut kelompok masyarakat Pujangga Manik, pengalaman bermusuhan dengan Taman Nasional, memadamkan api kebakaran hutan, membangun kelompok, menata “camp fire care” dan memanfaatkan kawasan berbatu Batuluhur disampaikan oleh Ketua Kelompok, Usman dengan “gaya bahasa masyarakat”. Selanjutnya, dalam diskusi akhir terungkap banyak prestasi Dishut Propinsi Jawa Timur yang telah dicapai, namun nilai sosial dan ekonomi kawasan konservasi yang dikelola Dishut Propinsi Jatim masih harus ditingkatkan, sehingga pada kawasan Tahura khususnya, dapat diterapkan model pemanfaatan kawasan seperti di TNGC, yang secara luasan dan potensi lebih kecil namun dapat memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar kawasan TNGC pada khususnya. Mungkin sebagian besar pegawai TNGC dan masyarakat sekitar kawasan menganggap bahwa fakta manfaat yang dirasakan dan dilihat itu biasa-biasa saja. Namun bagi sebagian besar tamu yang berkunjung, belajar maupun yang membandingkan menganggap ini adalah hal yang berbeda dan luar biasa, sebagaimana apresiasi atas pemberdayaan masyarakat di TNGC yang disampaikan Tim Inspektorat Jenderal KLHK pada laporan hasil pemeriksaan April 2018 [teks © ISO - BTNGC , foto © Agus Y - BTNGC | 112018 ]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Pengembangan Wisata Alam Laputi, Balai TN Matalawa Datangkan Sang Pakar

Waingapu, 22 November 2018. Kembali pada tahun 2018 Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) membuat dokumen perencanaan pengelolaan wisata alam. Pada tahun ini berfokus pada wilayah hutan Laiwangi Wanggameti yang berlokasi pada wilayah zona pemanfaatan Blok Hutan Laputi. Adapun dokumen perencanaan pengelolaan wisata alam yang di buat berupa dokumen Feasibility Study/FS atau studi kelayakan yang merupakan suatu kajian yang menyeluruh dan mendalam terhadap seluruh kajian aspek teknis, ekonomi, keuangan, lingkungan dan kelembagaan dengan justifikasi bahwa proyek pembangunan Wisata Alam Laputi apakah dapat dikerjakan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang diharapkan atau tidak. Kali ini Balai TN Matalawa menggandeng Pakar dalam bidang Wisata Alam dengan mendatangkan Dr. Ir. Ricky Avenzora, M.ScF yang merupakan dosen Manajemen Ekowisata Dan Jasa Lingkungan Institut Pertanian Bogor. Dalam tahap selanjutnya dokumen Feasibility Study/FS tersebut apabila berdasarkan kajian ternyata layak untuk dikerjakan maka ditindak lanjuti dengan membuat Detailed Engineering Design (DED) Wisata Alam Laputi. Dalam Penyusunan Feasibility Study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) Wisata Alam Laputi, metode pengambilan data dan informasi menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif serta melihat visual secara langsung di lapangan. Kepala Balai TN Matalawa Maman Surahman S.Hut M.Si menyebutkan bahwa upaya pembuatan dokumen perencanaan pengelolaan wisata alam di Blok Hutan Laputi berupa FS dan DED selain sebagai studi kelayakan pembangunan Wisata Alam Laputi juga merupakan dasar atau pedoman pengelolaan wisata alam laputi yang dapat mengsinergiskan rencana pembangunan wisata alam laputi baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Partisipasi Tana Bentarum dalam NTFP Carnival Sarawak

Putussibau, 22 November 2018. Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) turut berpartisipasi dalam event Non Timber Forest Product (NTFP) Carnival Sarawak 2018 yang diselenggarakan oleh Forest Department Sarawak (FDS). Pameran yang digelar di Kuching Waterfront, Sarawak ini dimulai 22 s/d 26 November 2018 merupakan kali pertama bagi Tana Bentarum dan ketigakalinya diselenggarakan oleh FDS. Pada kesempatan ini, Balai Besar Tana Bentarum membawa serta 6 orang masyarakat dari desa binaan yaitu Jasriyadi, petani Madu dari Desa Semangit, Margareth Aya penenun desa Kelayam, Muling dan Tomas pengrajin tatto dari pewarna alami juga pengrajin woodcraft dari Sungai Utik. Silvester Berasap pengrajin tenun desa Mensiau dan Susana sutai pengrajin tenun dari dusun Kelawik, Mensiau. Saat dikonfirmasi, Kepala Balai Besar Tana Bentarum menyampaikan agar masyarakat desa binaan dapat meningkatkan kualitas produk mereka supaya bisa bersaing dan bernilai ekonomis tinggi. “Balai Besar Tana Bentarum siap membantu fasilitasi baik pelatihan ketrampilan bagi masyarakat desa binaan”, ujar Arief. Masyarakat desa binaan Tana Bentarum sebelum pembukaan juga mendapatkan pelatihan kewirausahawanan mengenai kewirausahaan, promosi, network marketing juga sharing pengalaman dari expert. Pelatihan digelar di aula Tebu, hotel Harbour View selama 1 hari tanggal 21 November 2018. Selama pameran, masyarakat desa binaan akan mempraktikan secara langsung skill mereka didepan umum serta memamerkan hasil kerajinan tangannya di booth pameran Tana Bentarum. Silvester Berasap, salah satu pengrajin dari masyarakat binaan ini mengungkapkan harapannya setelah mengikuti pelatihan.”Dengan adanya pameran hasil hutan bukan kayu ini harapaannya agar produk yg kami hasilkan dari desa Mensiau seperti tikar, tenun, anyaman dan pewarna alam menjadi lebih dikenal dan mendapatkan nilai jual yang sesuai”, ujar kepala desa Mensiau. Non Timber Forest Product Carnival merupakan ajang pameran yang bertujuan untuk mempromosikan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) seperti madu, tenun, anyaman, pewarna alami juga woodcraft. Sumber : Balai Besar Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Wujud Nyata Balai TN Matalawa Dorong Perekonomian Masyarakat Sumba

Jakarta, 22 November 2108. Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (Maman Surahman,S.Hut,M.Si ) menandatangani Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Balai Pelaksanaan Jalan X Kupang (Dr.Ir. Muktar Napitupulu, M.Sc) terkait Pembangunan Strategis yang Tidak Dapat Dielakan berupa Peningkatan Jalan Nasional Trans Sumba Melintas Kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru di Provinsi Nusa Tenggara Timur yang diatur dalam Pasal 43 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 Jo. PP No.108 tahun 2015 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelstarian Alam (KPA) dapat dilakukan melalui kerjasama penyelenggara KSA dan KPA. Penandatangan dilakukan di ruang rapat Direktur Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem tepat hari ini (22/11) yang dihadiri Direktur Jenderal KSDAE Ir. Wiratno M.Sc, Sekertaris Direktorat Jenderal KSDAE Ir. Herry Subagiadi M.Sc, Direktur Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam Ir. Listya Kusumawardhani, M.Sc dan Kepala Bagian Hukum dan Kerjasama Teknik Agus Supriyanto S.H,MH. Penandatanganan Perjanjian Kerjasama ini mendorong terwujudnya keutuhan, kelestarian dan manfaat Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) serta meminimalkan dampak negatif baik langsung maupun tidak langsung sebagai akibat kegiatan pembangunan dan preservasi jalan dan jembatan pada Jalan Nasional Lintas Sumba yang melintasi kawasan TN Matalawa. Selain itu, PKS juga mengatur pula Hak dan Kewajiban dari masing-masing pihak. Kepala Balai TN Matalawa Maman Surahman S,Hut., M.Si mengungkapkan bahwa dengan terjalinnya kerjasama ini harapan kedepan mampu mendorong peningkatan perekonomian masyarakat yang ada di Pulau Sumba. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Tingkatkan Pengembangan Wisata Alam TN Matalawa Dengan Penyusunan Master Plan

Waingapu 22 November 2018. Setelah tahun lalu Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) menyusun Master plan pengelolaan Wisata Alam di Kawasan Hutan Manupeu Tanah Daru, kini pada tahun 2018 kembali TN Matalawa membuat Master Plan pengelolaan Wisata Alam khusus di Kawasan Hutan Laiwangi Wanggameti. Kawasan TN Matalawa patut menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia karena memiliki potensi dan peluang untuk dijadikan salah satu destinasi unggulan berkelas dunia. Kawasan ini memiliki alam dan landscape yang luar biasa berupa hamparan savanna, hutan, perbukitan, pantai, gua dan beranekargaman jenis flora fauna yang khas dan tidak dimiliki di wilayah manapun serta ditunjang dengan kekayaan dan kekentalan budaya masyarakat sumba yang khas. Dalam penyusunan Master Plan ini TN Matalawa menggandeng Tenaga Ahli Bidang Pariwisata Alam di Kawasan Konservasi yaitu Bapak Ir. Soewartono M.Sc. Sejalan dengan meningkatnya minat publik terhadap kegiatan wisata alam dan kebutuhan untuk melakukan pemanfaatan sumber daya alam secara lestari dalam rangka pemerataan dan percepatan pembangunan wilayah serta pertumbuhan ekonomi di daerah, maka diperlukan adanya perencanaan pengembangan pariwisata alam yang dilakukan secara menyeluruh terhadap Kawasan Laiwangi Wanggameti. Perencanaan pengembangan pariwisata alam di Kawasan Laiwangi Wanggameti tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan aspek kebijakan, ekologis, fisik, teknis, estetika, dan sosial-ekonomi-budaya serta dihimpun dalam suatu Master Plan (Rencana Induk) yang digunakan sebagai dasar dalam mewujudkan pengelolaan pariwisata alam Kawasan Laiwangi Wanggameti secara lebih baik dan berkelanjutan. Kepala Balai TN Matalawa Maman Surahman S.Hut., M.Si menyebutkan bahwa Master Plan Pengembangan Pariwisata Alam Laiwangi Wanggameti, TN Matalawa ini merupakan dokumen perencanaan bersifat makro yang berisikan langkah-langkah strategis bagi pengembangan pariwisata alam Laiwangi Wanggameti di masa yang akan datang. Rencana tersebut berupa pengembangan klaster, pengaturan fungsi ruang masing-masing klaster, aksesibilitas dan konektivitas antar klaster, pengembangan potensi dan atraksi ODTWA, pengembangan sarana dan prasarana wisata alam, pemasaran pariwisata, pemberdayaan masyarakat, pengembangan SDM dan kelembagaan, serta investasi. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS) ikuti Pameran Produk HHBK Internasional

Kuching, 22 November 2018. Pameran Hasil Hutan BukanKayu pada tanggal 22 – 26 November 2018 yang diselenggarakan oleh Forest Department Sarawak dalamrangkaian Karnival Non Timber Forest Product (NTFP) Sarawak 2018 diikuti oleh peserta dari beberapa negarasalah satunya adalah Asosiasi Periau Danau Sentarum(APDS). Bertempat di Waterfront, Kuching, Sarawak Malaysia dan diikuti oleh 40 komunitas dan dinas terkait. Kegiatan pameran bertujuan untuk meningkatkanpenjualan dan mengenalkan produk – produk hasil hutanyang ada di Borneo kepada masyarakat, adapun produkyang dijual dan pamerkan adalah anyaman tikar, tasanyaman, madu hutan, tenun pewarna alami, furnitur, kerajinan rotan, olahan kayu gaharu, kursi meja bambu, dan lain – lain. Dari berbagai produk yang dipamerkan ada yang menarikperhatian pengunjung yakni Madu Hutan Organik APDS yang dipajang di Booth Balai Besar Tana Bentarum. Pasalnya Madu tersebut tidak seperti madu kebanyakanyang berasal dari Kelulut. Lebah Madu Apis Dorsataditampilkan adalah produk madu bersertifikat organikBioCert yang dijamin keasliannya, madu botol berisi 300 mg dengan kadar air tidak lebih dari 20% banyak menarikperhatian. Frieska Chang, salah satu pengunjung dari Kuching inimisalnya, Frieska yang mampir di Booth Tana Bentarumini mengatakan “di sini (Sarawak, Red) tidak banyak madudari lebah Apis Dorsata, yang umum hanya madu kelulut, tapi boleh coba ini madu” sambil membeli 1 buah botolmadu APDS. “Madu ini kita panen secara lestari dengan standar dariBioCert, termasuk peralatan dan penyimpanannya, di saring dengan saringan khusus, dan dimasukan kedalamdehumidifier sehingga berkurang kadar airnya dandikemas secara higienis. Ujar Jasriyadi, ManajerPengolahan APDS. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Ladang Amal di Dunia, Balai TN Matalawa Ajak Kelompok Tani Tanamodu Pemulihan Ekosistem

Waingapu, 22 November 2018. Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) melalui Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (KSPTN) Wilayah I Waibakul Abdul Basit Nasrianto S.Hut., M.Sc bersama Kepala Resort Taman Mas Gaudiencio Gabriel S.ST selaku pengawas lapang mengajak Kelompok Tani Tanamodu (20 orang) melakukan pertemuan membahas terkait pelaksanaan penanaman melalui metode restorasi di rumah Ketua Kelompok Tani Tanamodu Laiya Sobang (22/11). Kegiatan penanaman ini mengacu pada Peraturan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor : P.12/KSDAE-Set/2015 tentang Tata Pedoman Tata Cara Penanaman dan Pengkayaan Jenis Dalam Rangka Pemulihan Ekosistem Daratan pada Kawasan Suaka Alam/Kawasan Pelestarian Alam. Sesuai arahan dari Kepala Balai TN Matalawa Maman Surahman S.Hut., M.Si kegiatan penanaman sudah bisa dilaksanakan apabila hujan sudah mulai turun secara konstan, adapun lokasi yang akan ditanami kurang lebih memiliki luasan 57 ha. Selain membahas teknis penanaman, pertemuan ini dalam rangka menguatkan hubungan kedua belah pihak, baik dari Taman Nasional juga dari pihak masyarakat sehingga sinergitas dapat terbangun dan upaya pemulihan ekosistem di Tanamodu dapat berjalan dengan lancar. Keberhasilan terhadap upaya pemulihan ekosistem ini dapat menjadi ladang amal selama didunia,ungkap Maman Surahman S.Hut., M.Sc . Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Aneka Produk Hiasi NTFP Carnival Sarawak; Booth Tana Bentarum Kebanjiran Pengunjung

Kuching, 22 November 2018. Sejumlah 40 stand memadati sisi kanan kiri Hall NTFP Carnival. Peserta Pameran terdiri dari instansi pemerintah Malaysia seperti Jabatan Hutan Sarawak, Jabatan Pertanian Sarawak, Perbadanan Kemajuan Kraftangan Cawangan Sarawak, Kementerian Kesihatan Malaysia, berbagai komunitas pengrajin produk hasil hutan bukan kayu dari penjuru daerah di Sarawak dan Sabah serta Balai Besar Tana Bentarum dan komunitas masyarakat desa binaannya dari Indonesia. Dalam peresmian yang dimulai pukul 3 tadi, Non Timber Forest Product (NTFP) Carnival ke tiga ini dibuka secara resmi oleh Datuk Awang Tengah Ali Hasan selaku Timbalan (Wakil) Ketua Menteri Serawak. Dengan mengusung tema “ Building Partnership to Promote NTFP” , Datuk Awang Tengah dalam pidatonya menyampaikan apresiasinya kepada Forest Department Sarawak yang telah sukses menyelenggarakan pelatihan kewirausahawan dan Pameran NTFP ini dengan menjaring komunitas dari luar Bandar (kota, red), sehingga mereka dapat menjual produk ke pasaran yang lebih luas.“Pembangunan NTFP boleh digiatkan lagi dengan konsep Smart Partnership yaitu jalinan kerjasama antar Agensi kerajaan dan non kerajaan serta pihak swasta”jelasnya dihadapan 250 tamu undangan. Berbagai jenis olahan produk pameran terpajang mulai dari rotan seperti keranjang, bakul, Bubu’ (alat tanggok Ikan), kemudian Bemban yang dirangkai menjadi aneka produk fashion seperti tas / pouch, topi , gelang dan cincin juga ada tikar bermotif aneka ukuran. Berbagai aneka motif Tenun Dayak Iban yang menggunakan pewarna alami. Aras, yang merupakan Lulur tradisional Dayak Iban yang terbuat dari Daun Aras berfungsi menghaluskan, mengencangkan juga memutihkan kulit wajah dan tangan. Dari Produk makanan Madu pun tak kalah menarik perhatian, baik madu Kelulut maupun Apis Dorsata. Produk makanan lain seperti Gula Enau, Keripik sagu. Adapula produk kreasi ukiran kayu seperti sarung parang, kursi, meja, talanan, baki, lesung kayu, pot gantung, mangkok. Untuk produk aromaterapi / obat-obatan herbal dari kayu Gaharu, kayu manis dan Lada hitam serta Garam Bukit juga aneka aksesoris. Dari bermacam ragam produk pameran , ada 16 jenis produk yang dipamerkan oleh Balai Besar Tana Bentarum yang berupa makanan, aksesoris, furnitur dan peralatan memasak. Sejak dibuka, Pengunjung tampak antusias tak henti memadati booth Tana Bentarum bahkan omset penjualan harian Booth bernomor 32-33 itu paling tinggi dibanding booth lainnya dengan jumlah RM 1.150 atau mencapai Rp 4.1 jt dalam waktu beberapa jam saja. Produk yg laris tersebut adalah Madu, aksesoris dr Bemban dan Lulur Aras. Dalam wawancaranya Kepala Balai Besar Tana Bentarum menyampaikan harapannya dengan keikutsertaan di NTFP ini produk yang dihasilkan masyarakat baik yang dari dalam dan luar kawasan Taman Nasional dapat dipasarkan juga di Kuching, Sarawak sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar Kawasan. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Balai TN Kayan Mentarang Tambah Kader Konservasi Menjadi 97 Orang

Malinau, 22 November 2018. Pembentukan Kader Konservasi Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) telah dilaksanakan pada tanggal 16 hingga 18 November 2018 kemarin di Pusat Bina Cinta Alam Balai TNKM Kilometer 8. Acara di buka secara resmi oleh Kepala Balai TNKM Johnny Lagawurin yang di ikuti 27 Orang Peserta dari organisasi mahasiswa perguruan tinggi Politeknik Malinau. Johnny menjelaskan bahwa kawasan Taman Nasional kayan Mentarang butuh perhatian seluruh masyarakat agar tetap terjaga lestari. Salah satu langkah untuk mengkampanyekan perlindungan kawasan ini dengan memperbanyak kader konservasi di daerah. “Kader Konservasi bukan hanya sekedar berkumpul dan bukan sekedar kader, tapi lebih spesifik lagi sebagai aktivis konservasi yang berkomitmen untuk terlibat aktif dalam upaya perlindungan kawasan konservasi khususnya di kawasan TNKM. Baik melalui kegiatan di lapangan maupun mengkampanyekan perlindungan kawasan di berbagai media sosial.” Ungkap Johnny Lagawurin Di temui disela kegiatan Jungle Tracking kamrin (18/11), Anis Mustopo di dampingi Indra Nata selaku perwakilan peserta Kader Konservasi TNKM menyebutkan, kegiatan pembentukan Kader Konservasi telah memberikan banyak manfaat bagi mereka, terutama dari segi pengetahuan mulai dari Perlindungan Hutan beserta Ekosistem di dalamnya hingga pemanfaatan jangka panjang. “TNKM ini bukan kawasan biasa, sehingga butuh perhatian yang luar biasa agar tetap lestari. Saya pikir kami yang mengikuti kegiatan ini adalah orang-orang yang beruntung. dan secara pribadi apa yang telah saya dapatkan ini menjadi modal untuk membangun kesadaran masyarakat kita yang lain untuk peduli terhadap kawasan ini.” Ungkap Anis Mustopo selaku Presiden BEM Politeknik Malinau yang juga salah satu PNS di Lingkungan Sekretariat Dewan Pimpinan Raerah Kabupaten Malinau. Selain itu, Ketua Panitia Pembentukan Kader Konservasi TNKM 2018 Husein Dwi Husainar menyebutkan, hingga saat ini jumlah kader konservasi TNKM sebanyak 97 orang. Dengan jumlah tersebut harapnya dapat berkarya dalam upaya konservasi dimana pun berada. “dengan di tutupnya kegiatan pembentukan kader konservasi ini secara resmi TNKM telah memiliki 97 orang kader konservasi. Semoga kedepan dapat bertambah. Namun kader yang ada sekarang kita harapkan mereka mampu berkarya dalam upaya perlindungan kawasan konservasi dimana pun berada.” Ungkap Husein Kegiatan pembentukan kader konservasi TNKM 2018 juga menghasilkan deklarasi peserta pada saat acara penutupan, yang berisi komitmen untuk menjaga dan melestarikan hutan dan dukungan peserta kepada Balai TNKM dalam mengawal kegiatan konservasi kapan pun dan dimana pun. Sumber : Balai Taman Nasional Kayan Mentarang

Menampilkan 6.577–6.592 dari 11.140 publikasi