Rabu, 22 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Satu Pohon Yang Hidup mampu Memberikan Kehidupan Bagi Satwa Di TN Matalawa

Waikabubak . 28 November 2018. Sudah seminggu ini kawasan hutan Tanamodu di Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) diguyur hujan, dulu tanah yang kering kini menjadi basah dan nampak hijau terhampar oleh alang-alang yang hidup pada wilayah itu. hampir tiap siang hari selalu turun hujan hingga malam hari, hari ini tepat selasa tanggal (27/11) udara terasa dingin ditempat ini (Tanamodu) dari kejauhan nampak Kelompok Tani Tanamodu dengan bahu-membahu dan penuh semangat melakukan serangkaian kegiatan dalam rangka pemulihan ekosistem, baik itu pembuatan lubang tanam, pemasangan ajir, pemupukan, pendistribusian bibit hingga penanaman tak kurang dari 35.000 anakan siap untuk ditanam pada wilayah ini dan tidak kurang 22 jenis tanaman lokal digunakan dalam penanaman tersebut . Jenis tanaman yang digunakan dalam pemulihan ekosistem itu diantaranya adalah jenis tanaman tahan api, tanaman pioneer maupun jenis dari tanaman pakan dari Kakatua hingga jenis tanaman klimaks, salah satu diantaranya adalah anakan Adinu (Melochia umbellata), tanaman ini sudah teruji dan cukup berhasil memulihkan kondisi ekosistem yang ada di kawasan TN Matalawa, disisi lain juga mampu meningkatkan daya dukung habitat dalam mensupport sumber pakan bagi sebagian burung paruh bengkok yang ada di Kawasan tersebut. Kawasan hutan Tanamodu merupakan wilayah yang terbuka dan rentan terhadap kebakaran lahan sehingga melalui upaya restorasi kawasan diharapkan dapat memulihkan menjadi kawasan tutupan dan mampu mengembalikan fungsi ekologis yang mendukung kehidupan berbagai satwa didalamnya, tercatat ada 27 jenis burung, 2 jenis mamalia, 3 jenis herpetafauna dan 12 jenis kupu kupu yang hidup di kawasan tersebut. Maman Surahman S.Hut., M.Si selaku Kepala Balai mengungkapkan harapannya di setiap tanaman yang ditanam dapat tumbuh dengan sempurna dan mampu memulihkan ekosistem pada wilayah tersebut dan meningkatkan biodiversitas yang ada. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwngi Wanggameti
Baca Berita

Masyarakat Desa Penyangga TN Bukit Baka Bukit Raya Terima Bantuan Fasilitasi Pemberdayaan

Sintang, 26 November 2018. 6 (enam) kelompok masyarakat telah menerima bantuan fasilitasi pemberdayaan yang diserahkan secara simbolis di kantor Balai TN Bukit Baka Bukit Raya Sintang. Kelompok masyarakat ini berasal dari desa penyangga kawasan TN Bukit Baka Bukit Raya yaitu Desa Rantau Malam dan Desa Nusa Poring dimana kedua desa tersebut berada di dalam wilayah kerja SPTN Wilayah I Nanga Pinoh. Kelompok-kelompok tersebut adalah Kelompok Porter “Mo Three” yang menerima bantuan berupa peralatan pendakian dengan jumlah anggota sebanyak 30 orang, Kelompok Transportasi “Topakai Juoi” berupa peralatan transportasi air (kelotok) dengan jumlah anggota sebanyak 10 orang, Kelompok Homestay “Danum Sorio” dengan jumlah anggota sebanyak 5 orang berupa peralatan homestay dan Kelompok Pengrajin “Rotan Rimba” dengan jumlah anggota sebanyak 13 orang berupa peralatan kerajinan yang berasal dari Desa Rantau Malam. Penerima bantuan yang berasal dari Desa Nusa Poring yaitu Kelompok “Tungku Sengkumang” menerima bantuan berupa budidaya karet unggul sebanyak 40 KK dan Kelompok “Sekujang Permai” menerima bantuan bibit babi lokal dan ayam pedaging sebanyak 39 KK. Penyerahan bantuan fasilitasi pemberdayaan masyarakat ini secara simbolis diterima oleh masing-masing ketua kelompok yaitu Dionisius Bacok sebagai Ketua Kelompok Porter “Mo Three”, Yulius Ihton sebagai Ketua Kelompok Transportasi “Topakai Juoi”, Oktavia sebagai Ketua Kelompok Homestay “Danum Sorio”, Pendi sebagai ketua Kelompok Pengrajin “Rotan Rimba”, Tingas sebagai Ketua Kelompok “Tungku Sengkumang” dan Ahermanto sebagai Ketua Kelompok “Sekujang Permai”. Dalam acara tersebut Kepala Balai TN Bukit Baka Bukit Raya yang diwakili Bapak Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Hernowo Supriyanto, S.Hut., M.P. dalam sambutannya menyampaikan bahwa tujuan dari pemberian bantuan ini adalah untuk membantu masyarakat dalam memajukan desa khususnya Desa Rantau Malam dan Desa Nusa Poring sesuai dengan tugas pokok dan fungsi pengelola kawasan Balai TN Bukit Baka Bukit Raya dalam rangka memberdayakan masyarakat di sekitar kawasan, bantuan tersebut merupakan stimulan bagi masyarakat agar kesejahteraan dan perekonomian mereka menjadi lebih baik dan dapat menjadi titik awal perubahan di desa. Kepala Seksi Pengelolaan TN Wilayah I Nanga Pinoh, Bpk. Purwadi, S.Hut., M.P memberikan ucapan selamat kepada kelompok-kelompok masyarakat yang terpilih mendapatkan bantuan fasilitasi pemberdayaan masyarakat di Desa Penyangga. Latar belakang diberikannya bantuan tersebut adalah sebagai bentuk apresiasi Balai TN Bukit Baka Bukit Raya kepada kelompok masyarakat karena komitmennya untuk menjaga dan melestarikan kawasan TN Bukit Baka Bukit Raya. Harapan dengan adanya pemberian bantuan fasilitasi pemberdayaan masyarakat adalah kegiatan pemberdayaan masyarakat dapat terus bergulir dan berkelanjutan, bukan hanya terbatas pada kelompok saja tetapi juga masyarakat luas. Selain itu, bantuan tersebut dapat dikembangkan dan digunakan sebaik-baiknya sehingga hasil yang diperoleh dapat maksimal dan memberikan perubahan ke arah yang lebih baik lagi. Tugas pemberdayaan bukan hanya tugas Balai TN Bukit Baka Bukit Raya tetapi pihak pemerintah daerah setempat juga berkewajiban dan harus ikut berpartisipasi di dalamnya. Balai TN Bukit Baka Bukit Raya akan berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah setempat terkait kegiatan pemberdayaan yang dilakukan serta bekerjasama dengan pihak-pihak terkait sehingga terbuka jaringan kerja yang lebih luas. Dengan adanya pemberian bantuan fasilitasi pemberdayaan masyarakat diharapkan masyarakat dapat turut serta dalam upaya menjaga kawasan taman nasional. Jika terjadi perubahan negatif terhadap alam maka masyarakat di sekitar kawasan yang akan merasakan dampaknya terlebih dahulu. Sumber: Humas dan Ivonne Br. Panggabean - Penyuluh Balai TN Bukit Baka Bukit Raya
Baca Berita

Susun Rencana Induk Pariwisata Alam, Strategi Balai TNBB Kembangkan Ekowisata

Pemuteran, 27 November 2018. Mengembangkan ekowisata, Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) melakukan penyusunan Rencana Induk Pariwisata Alam (RIPA) agar pengelolaan wisata alam bisa semakin terarah dan mengadakan konsultasi publik guna mendapatkan masukan dalam penyempurnaan dokumen rencana pengelolaan. Konsultasi publik RIPA dilakukan di Hotel Adi Assri Pemuteran dengan mengundang parapihak. Selain tim penyusun, hadir sebagai narasumber terkait kebijakan pengelolaan maupun teknis pengembangan wisata alam seperti Tenaga Ahli Menteri KLHK bidang kemaritiman, Dr. Rusdi Ridwan, tenaga ahli ekowisata, SY Christanto, M.For.Sc, Kepala Dinas Pariwisata, Ir. Nyoman Sutrisna, M.Sc, Kepala Balai TNBB, Drh. Agus Ngurah Krisna, M.Si, dan tim dari Universitas Gadjah Mada, Kaharudin, S.Hut, M.Sc. Sepanjang tahun 2017 sampai dengan 2018, sarana dan prasarana wisata yang dikembangkan antara lain berupa dermaga wisata, shelter, toilet, pedestrian, landmark, dan pengembangan Wisma Cinta Alam (WCA). Diharapkan dengan adanya sarana penunjang pariwisata alam tersebut pengembangan ekowisata di TN Bali Barat bisa semakin baik. Sehingga dampaknya dapat dinikmati oleh masyarakat sekitar taman nasional. Konsep pengembangan ekowisata di TNBB perpaduan sinkronisasi dengan rencana pengembangan wisata daerah maupun nasional. Pengembangan wisata diarahkan dengan melibatkan peran serta para pihak baik masyarakat, pemerintah daerah, swasta, maupun instansi pusat. Atraksi wisata yang akan dikembangkan sesuai rencana induk antara lain berupa diversifikasi produk wisata alam. Yaitu mengembangkan produk yang sudah ada seperti menyelam (diving), snorkeling, pengamatan hidupan liar, pengamatan burung (birdwatching), dan trekking, dan menambahkan produk wisata yang dikelola oleh masyarakat sekitar. Atraksi tersebut dikembangkan secara proporsional pada zona pemanfaatan yang telah ditetapkan. Sederet penghargaan bergengsi bidang pariwisata telah diraih Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) seperti Best Top 100 Destinations di Internationale Tourismus Borse (ITB) Berlin, Indonesian Sustainable Tourism Awards (ISTA) oleh Kementerian Pariwisata dan Tri Hita Karana (THK) Awards. Hal ini menjadi bukti bahwa destinasi wisata TNBB layak diperhitungkan karena arah pengembangan wisatanya ke model wisata minat khusus (special interest tourism). Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Peringatan Hari Pohon Dalam Harmoni Arcapada

Sangatta, 24 November 2018. Untuk menumbuhkan kepedulian generasi muda Kutai Timur akan pentingnya pohon dalam kehidupan dan untuk memperingati hari pohon, Kader Konservasi Balai Taman Nasional Kutai wilayah Sangatta dan pemuda Kutai Timur yang tergabung dalam Forum Pemerhati Taman Nasional Kutai, terinspirasi untuk membuat suatu kegiatan dalam bentuk “Harmoni Arcapada” dengan tema “Peran Pohon Sebagai Komponen Ekosistem di Kehidupan Manusia”. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tujuan menjadi media edukasi, transformasi, dan aspirasi generasi muda terutama di Kabupaten Kutai Timur serta memperkenalkan potensi keindahan hutan di Kabupaten Kutai Timur yang salah satunya berada di Taman Nasional Kutai. Harmoni Arcapada dilaksanakan selama 2 hari yaitu 24 - 25 November 2018 di Bumi Pelatihan dan Percontohan Usaha Tani Konservatif (BPPUTK), Taman Nasional Kutai dan didukung oleh Mitra TN Kutai. Kegiatan diikuti oleh pelajar SMA dan SMK Kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan, Pramuka serta Kelompok Pecinta Alam Sangatta sebanyak 100 orang. Konsep acara pada kegiatan ini yaitu camping, sharing, kesenian, materi tentang "pengenalan rumah" oleh Kak Nina Amban dari Bumi Edukasi Bogor, dan juga kegiatan penanaman 100 bibit pohon buah yang ditanam di sekitaran BPPUTK. Hadir juga dalam acara tersebut Kepala Balai Taman Nasional Kutai Bapak Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M. Sc. dan staf, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Timur dan Kepala Dinas Pertanian Kutai Timur yang mewakili Bupati Kutai Timur untuk membuka acara. Dalam sambutannya, Kepala Balai Taman Nasional Kutai mengucapkan terima kasih kepada Kader Konservasi Balai TN Kutai Wilayah Sangatta dan Forum Pemerhati Taman Nasional Kutai yang telah melakukan gerakan moral pertama kali di Kabupaten Kutai Timur. Beliau berharap momen ini tidak hanya sekali saja tetapi harus berlanjut. Taman Nasional Kutai merupakan milik bersama, milik masyarakat Kutai Timur yang harus dijaga dan dipertahankan. Sumber: Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Kelompok Sadar Ekowisata Swarga Bara, Belajar Bisnis Ekowisata di Prevab TN Kutai

24 November 2018. Prevab-Taman Nasional Kutai terkenal karena merupakan pusat penelitian orangutan liar sejak tahun 80-an. Keberadaan satwa orangutan liar merupakan keunikan sekaligus potensi yang dikembangkan sebagai objek penelitian dan wisata terbatas di Taman Nasional Kutai. Status satwa yang tergolong dalam status terancam punah serta kelangsungan kegiatan penelitian orangutan liar, menjadikan tempat ini menjadi suatu areal yang harus dikelola secara spesifik. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Balai TN Kutai untuk dapat menjalankan fungsi-fungsi tersebut, dengan tetap menjaga keliaran orangutan dan keaslian kawasan. Partner Balai Taman Nasional Kutai dalam mengembangkan potensi Prevab adalah masyarakat Desa Swarga Bara yang merupakan daerah penyangga Taman Nasional Kutai. Desa Swarga Bara merupakan Desa yang sangat unik karena merupakan perpaduan dari beberapa kelompok etnis yang hidup dalam keharmonisan. Keberagaman tradisi, adat istiadat menjadikan Desa Swarga Bara khususnya Dusun Kabojaya menjadi Dusun yang sangat kaya dengan potensi wisata. Pada tahun 2009, kegiatan wisata alam sudah mulai diinisiasi Balai TN Kutai didukung oleh Mitra TN Kutai dan PILI (Pusat Informasi Lingkungan) dengan pembentukan kelompok Eko-Kabojaya dengan beberapa program antara lain penyediaan homestay, wisata kuliner, kebun buah untuk agrowisata, pembuatan keajinan, pengolahan sampah dan beberapa kegiatan lain. Kegiatan tersebut masih terus belangsung, namun seiring dengan berjalannya waktu terjadi perubahan struktur dan personil yang mengelola lembaga ini, sehingga beberapa unit usaha kurang optimal dan perlu dibenahi kembali. Tanggal 24-25 November 2018, Balai TN Kutai melaksanakan kegiatan peningkatan kapasitas kelompok masyarakat pengelola wisata di Desa Swarga Bara, Kabupaten Kutai Timur. Kegiatan diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari Kelompok Eko-Kabojaya, Pokdarwis Desa Swarga Bara dan Pengurus Bumdes Swarga Bara. Materi yang disampaikan antara lain: bagaimana menggali potensi, mengenali diri dan membangun kepercayaan diri dalam melakukan bisnis pariwisata, Menjadi tuan rumah yang baik dalam pengusahaan wisata, mengenal lebih dekat Prevab sebagai potensi objek wisata dan bagaimana membangun komitmen dan kelompok. Narasumber adalah Bintarti Widayanti (IPMI-Jakarta), Irwan Saroso (Pengelola wisata Baliwoso), Nina Amban (Bumi Edukasi Bogor) dan Balai TN Kutai. Kegiatan yang berlangsung di Prevab Taman Nasional Kutai, berlangsung dengan santai dan diselingi dengan games yang membuat para peserta sangat bersemangat. Dalam penggalian potensi terdapat beberapa hal potensial dalam pengelolaan wisata di Desa Swarga Bara adalah: Tantangannya adalah bagaimana menjadikan potensi tersebut menjadi bisnis pariwisata yang berhasil, agar menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat dengan tetap menjaga kelestarian kawasan. Melakukan Bisnis pariwisata berarti melakukan kegiatan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya dalam bisnis pariwisata. Dalam kerangka mencapai tujuan bersama peserta telah menyusun program kerja, tata waktu dan penanggung jawab masing-masing. Untuk dapat mengembangkan potensi-potensi tersebut, perlu membangun komitmen diri dan komitmen bersama. Peran Balai TN Kutai sebagai partner, fasilitator dan pendamping menjadi sangat penting dalam upaya menjaga proses tersebut sampai tercapai kemandirian kelompok. Sumber: Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Pesona Edelweis Kelimutu

Ende, 26 November 2018. Dibalik keindahan Danau Kelimutu yang mendunia, terselip kecantikan abadi. Bunga Edelweis (Anaphalis longifolia) banyak tumbuh di TN Kelimutu dan sekitarnya, namun belum banyak dimanfaatkan untuk daya tarik untuk menunjang kegiatan wisata alam yang ada. Berdasarkan hal ini sebagai sebuah organisasi pembelajar (learning organization) Balai TN Kelimutu mengundang pemateri dari Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru, yang telah lebih dulu berhasil mengembangkan Edelweis dalam kegiatan Pelatihan Pembuatan dan Pemanfataan Demplot Edelweis yang dilaksanakan selama 3 hari dari tanggal 14 s.d 16 November 2018 di Ende. Untuk kegiatan ini BBTN BTS menugaskan Sdr. Birama T. Radityo (Penyuluh Kehutanan) dan Sdr. Teguh Wibowo (Ketua Kelompok Desa Edelweis) untuk menjadi pemateri. Kegiatan ini diikuti sebanyak 25 peserta masyarakat yang berasal dari Desa Saga dan Desa Sokoria, dan petugas yang berasal dari Seksi PTN I Moni dan Seksi PTN II Detusoko. Materi kegiatan ini meliputi sharing role model pengembangan wisata desa edelweiss berbasis masyarakat di Desa Penyangga TN BTS, pengenalan dan budidaya Edelweiss, pemenafaatan bunga Edelweis. Harapannya, kegiatan ini dapat meningkatkan alternatif daya tarik wisata di TN Kelimutu Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Balai TN Taka Bonerate Ikuti Forum Komunikasi Antar Pelaku Pariwisata Kepulauan Selayar

Benteng - Kepulauan Selayar, 27 November 2018. Balai Taman Nasional Taka Bonerate menghadiri Forum Komunikasi Antar Pelaku Pariwisata yang diwakili oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Jinato Abdul Rajab di Ruang Pertemuan Hotel Rayhan Square, Benteng, Kepulauan Selayar (26/11). Dinas Kepariwisataan Kabupaten Kepulauan Selayar menginisiasi forum ini untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh pelaku pariwisata ditingkat lapangan serta sinergitas antar instansi terkait. 40 orang hadir dari kalangan pelaku pariwisata dan instansi terkait se-kabupaten Kepulauan Selayar. Kegiatan dimulai dengan laporan singkat Sekretaris Dinas Pariwisata Findriani Arifin yang kemudian dibuka oleh Bupati Kabupaten Kepulauan Selayar yang diwakili Asisten Pemerintahan Suardi. Dua materi dipaparkan dengan materi pertama Pengembangan Industri Pariwisata Melalui Industri Kreatif Event Organizer oleh Sofyan Setiawan (Direktur PT. 3 Production), materi kedua Strategi Pengembangan Pariwisata dalam Meningkatkan Kunjungan Wisatawan ke Selayar oleh Didi Leonardo Manaba (Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia -ASITA Sul-Sel). Tanya jawab secara interaktif menjadi rangkaian acara selanjutnya. Pariwisata itu "Jangan Hanya dijalankan Tapi dihidupkan" ucap pemateri Sofyan Setiawan Direktur PT. 3 Prodution. Sumber : Asri - PEH Penyelia Balai Taman Nasional
Baca Berita

Balai TN Bali Barat Kembali Melepasliarkan 30 Ekor Curik Bali

Labuan Lalang, 26 November 2018. Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB), sebagai pengelola kawasan yang menjadi habitat Curik Bali, telah melakukan berbagai upaya untuk melestarikan burung langka ini. Upaya tersebut antara lain : perlindungan dan pengamanan kawasan, pembinaan habitat, pembiakan di Unit Pengelolaan Khusus Pembinaan Jalak Bali (UPKPJB), dan juga upaya pembinaan populasi melalui pelepasliaran. Berdasarkan hasil monitoring burung curik bali yang dilakukan pada Tahun 2018, terdapat 141 ekor burung yang hidup liar di alam. Sementara burung Curik Bali yang ada di UPKPJB, saat ini terdapat 331 ekor. Burung yang ada di UPKPJB dikembangbiakan secara semi alami. Hasilnya digunakan untuk restocking populasi di alam. Dalam 5 tahun terakhir (2014 – 2018) peningkatan ukuran populasi burung curik bali di alam maupun di pusat perkembangbiakan UPKPJB cukup signifikan. Saat ini, kita bisa dengan mudah melihat burung Curik Bali terbang bebas di TNBB. Burung yang dilepasliarkan sudah berkembang secara alami di habitatnya. Teknis pelepasliaran menggunakan metode soft release. Pada metode ini, burung burung yang akan dilepasliar ditempatkan pada kandang habituasi untuk penyesuaian dengan kondisi lingkungan sekitar. Untuk melepaskannya, terdapat pintu yang dirancang khusus dapat dibuka dengan cara menarik tali yg dipasang pada bagian atas kandang. Setelah pintu terbuka, burung keluar kandang dengan sendirinya tanpa sentuhan tangan manusia. Pada tahun 2018, telah dilakukan dua kali pelepasliaran. Yang pertama dilakukan pada bulan September sebanyak 10 ekor oleh Dirjen KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc, bersama Koordinator Stafsus Presiden, Teten Masduki. Pelepasliaran kedua dilakukan pada tanggal 26 November 2018 sebanyak 30 (tiga puluh) ekor burung pada kandang habituasi di 3 (tiga) lokasi. Rinciannya sebagai berikut : 8 (delapan) ekor di Labuan Lalang, 10 (sepuluh) ekor di Cekik, dan 12 (dua belas) ekor di Brumbun. Burung-burung ini telah melewati masa habituasi dengan waktu yang cukup. Diharapkan burung yang dilepasliarkan tersebut dapat bertahan hidup dan berkembangbiak dengan baik. Untuk memastikan hal tersebut, para petugas dibantu masyakarak melakukan monitoring intensif, baik harian, mingguan, dan bulanan. Pelepasliaran di Labuan Lalang merupakan seremonial melepas secara simbolis burung Curik Bali di alam. Turut diundang dan hadir dalam acara tersebut antara lain : Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Kementerian LHK, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kab. Buleleng dan Jembrana, Kapolres Buleleng, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Kepala P3E Bali Nusra, Kepala KSDA Bali, Camat Gerogak, Kepala Desa, tokoh masyarakat, pelajar & LSM. Tujuan kegiatan seremonial pelepaslian juga sekaligus untuk menggalang dukungan terhadap upaya konservasi burung Curik Bali dan TNBB. Dalam acara kali ini dilakukan juga penyerahan 28 ekor burung Curik Bali oleh para penangkar di wilayah pengelolaan Balai KSDA Jateng yang merupakan kewajiban penangkar untuk mengembalikan 10 % hasil penangkaran kembali ke habitatnya. Rangkaian acara lainnya antara lain penyerahan bantuan kandang display burung Curik Bali dari PLN ke masyarakat sebagai implementasi kerjasama dengan TNBB, launching pusat pendidikan konservasi Curik Bali serta aksi peduli konservasi burung curik bali berupa pembacaan deklarasi dukungan pelestarian Curik Bali, penyerahan bantuan oleh PLTG, penyerahan 2 pasang burung Curik Bali oleh Pertamina, dan adopsi nesting box atau kotak sarang burung Curik Bali. Curik Bali atau biasa juga dikenal dengan nama Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) merupakan jenis burung Endemik Bali yang habitat aslinya berada di Taman Nasional Bali Barat. Curik Bali memiliki ciri khas warna bulu yang di dominasi warna putih dengan kombinasi warna hitam pada ujung sayap dan ujung ekor. Ciri khas lainnya adalah warna biru terang pada bagian sekitar mata. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Ulah Asa, Hasil Tapa Brata Ke Jogja

Kuningan, 26 November 2018. Istilah bahasa Sunda, "ulah asa" artinya "jangan sok" atau sepadan dengan istilah bahasa Jawa, "ojo dumeh". Dalam kalimat "ulah asa pang endahna", kita bisa terjemahkan "jangan sok paling indah". Dalam kurun waktu satu hingga dua tahun ke belakang, gunung Ciremai menjelma sebagai 'kiblat' pengelolaan taman nasional di Indonesia yang berbasis masyarakat. Ya, masyarakat ialah subjek dalam perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Maka sebisa mungkin, setiap keputusan yang diambil mengikuti 'kehendak rakyat'. Inilah yang disebut 'demokrasi konservasi?'. Model kelola gunung Ciremai telah menciptakan harmonisasi alam dan sosial budaya masyarakat setempat. Hal ini terlihat dalam pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam. Benar, manfaat ekonomis wisata membuat masyarakat 'siuman' atas tata kelola ekologi gunung Ciremai yang baik pula. "Succes story" gunung Ciremai menarik minat instansi lain dari pusat, daerah dan lintas sektor untuk belajar pengelolaan taman nasional. Kini, tak kurang dari 30 instansi telah 'sowan' ke gunung tertinggi di Jawa bagian barat ini. Singkatnya, Ciremai sedang menikmati "hurung nangtung, siang leumpang" (masa keemasan, red). Namun semua itu tak lantas membuat Ciremai besar kepala. Buktinya, sejak kemarin (21/11) Balai TNGC melakukan 'tapa brata' ke Jogja. Di sana, selama tiga hari ke depan mengulik hal baru di beberapa lokasi "mustajab". Joglo Tani, lokasi pertama "ngalap elmu". Di sana terdapat kompleks kehidupan tani mulai pertanian, perikanan hingga peternakan. Ketiga bidang tadi saling keterkaitan antara satu dan lain. Contohnya, beberapa tanaman pertanian dapat menjadi pakan ternak. Kotoran ternak seperti "feses" ayam bisa menjadi pakan ikan. Sementara air bekas kolam ikan lele bisa menjadi pupuk bagi tanaman "hidroponik". "Tanam apa yang kita makan. Makan apa yang kita tanam", petuah TO Suprapto, empunya Joglo Tani yang sekaligus Menteri Pertanian Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pagi itu (21/11). Bangsal Mertani yang asri itu berpedoman pada filosofi #Jawa yang penuh makna kehidupan. Misalnya 'Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani' benar-benar diterapkan di tempat itu. "Amati, tiru dan praktekan. Paling penting JOS, Jangan Omong Saja!", pungkas darah biru keraton #Jogja itu mengakhiri wejangannya. Siang berganti malam bertabur bintang, awan dan cahaya bulan di pantai Krakal, Gunung Kidul itu Rifqi Hadziq, motivator kondang Jogja memompa semangat. "Berprestasilah agar sobat segera berpindah posisi dari pekerjaan sobat. Visi harus keras kepala. Sementara misi boleh fleksible", ungkap Sang Motivator. Esok hari, di tengah sejuk dan rindang wisata Seribu Batu Songgo Langit, Bantul menyimak wejangan Purwo Harsono, Ketua Koperasi Notowono Mangunan tentang kiat mengelola wisata alam berbasis masyarakat. "Trend selfie akan segera pudar satu hingga dua tahun ke depan. Oleh karenanya perlu mencari hal baru. Nah, sosial budaya yang dikemas menjadi wisata bisa jadi salah satu solusinya", tutur Purwo. Ya, pendapat 'pakar' ini tentu perlu diperhatikan para pengelola wisata gunung Ciremai mengingat "selfie" merupakan wahana andalan mereka. Ternyata benar di atas langit masih ada langit. Setiap wejangan yang disampaikan 'para ahli' negeri Mataram harus segera ditindaklanjuti "stakeholders" gunung Ciremai [teks © Kang Sirod, foto © Rudi - BTNGC | 112018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Monitoring Burung Migran di Kawasan Taman Nasional Sembilang

Banyuasin, 25 November 2018. Burung migran merupakan burung air yang berasal dari daratan Asia Timur (Siberia) yang melakukan migrasi secara periodik seiring dengan kondisi cuaca yang mengalami musim dingin di tempat asalnya yang mengakibatkan berkurangnya ketersediaan makanan. "Jalur migrasi burung migran meliputi jalur asia timur-australasia melalui 22 negara yang tergabung secara sukarela menjadi East Asian-Australian Flyway yang terbentuk pada tahun 2006,"kata Riza Kadarisman. Salah satu lokasi tempat singgah sementara yang menjadi jalur migrasi dari burung migran sebelum menuju ke daratan Australia berada di dalam Kawasan Taman Nasional Sembilang tepatnya di Semenanjung Banyuasin. Menurut Kepala SPTN Wilayah II Palembang Afan Absori, ST., “untuk mengetahui jumlah populasi serta usaha perlindungan keberadaan burung migran serta habitatnya di dalam Kawasan Taman Nasional Sembilang, Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang sebagai pengelola melakukan kegiatan berupa monitoring satwa tersebut pada setiap musim migrasi”. Kegiatan monitoring burung migran ini dilaksanakan selama 10 hari dari tanggal 15-24 November 2018 oleh tim yang personilnya terdiri dari; Riza Kadarisman (Pengolah Data Pengawetan), Agus Prabowo, ST (PEH), Deni Mulyana (Polhut) dan David Handoko (PEH). Kegiatan monitoring meliputi penghitungan jumlah burung tiap jenisnya melalui pengamatan langsung menggunakan peralatan seperti teropong, binocular serta kamera yang berspesifikasi tinggi. Untuk melakukan penghitungan jumlah, menurut Deni Mulyana, “Untuk penghitungan ada dua cara secara akurat yaitu dengan secara cepat dg menghitung satu-satu individu maupun kelipatan dan secara perkiraan dengan menggunakan metoda blok (block method), lingkaran bergaris, dan lingkaran tidak bergaris". Masih menurut Deni Mulyana, “penentuan jenis serta jumlah tiap jenis pada kumpulan besar dapat diketahui dari penggunaan teropong, binocular atau evaluasi dari gambar hasil pemotretan”. Selain pengamatan jumlah serta jenis burung migran, juga dilakukan pencarian terhadap burung yang sudah diberikan tanda pada kakinya berupa bendera dengan warna tertentu. Warna dari bendera menjadi identitas dimana burung migran diberikan penanda sehingga dapat diidentifikasi dari mana penandaan pada burung tersebut berasal. “Penandaan burung migran dari wilayah Sumatera berwana oranye-hitam sesuai dengan buku manual pengamatan burung migran. Kata Agus Prabowo "Selama kegiatan monitoring burung migran ini tim pelaksana menjumpai berbagai jenis burung migran, jenis yang mendominasi diantaranya biru laut dengan jenis Limosa limosa dan Limosa laponica terhitung sebanyak 30000 - 32000 ekor, 380- 400 ekor jenis gajahan ( Numenius phaepus dan Numenius arquata) cerek teramati sebanyak 950 - 1000 ekor dg jenis Charadrius mongolus, Pluvialis squatarola, Pluvialis fulva, Charadrius alexandrines, Caradrius leschenaultii), trinil teramati diangka 1250 -1300 ekor dg jenis Tringa totanus, Tringa nebularia,Tringa stagnatilis, Trinil bedaran, Actitis hypoleucos, Tringa guttifer, Arenaria interpres, Limnodromus semipalmatus, dan kedidi diangka 200- 250 ekor dg jenis Calidris ferruginea, Calidris canutus. Sedangkan jenis lainnya yaitu dara laut terhitung diangka sebanyak 960 - 1000 ekor dg jenis Sterna albifron, Sterna hirundo, Sterna bergii, Sterna bengalensis, Sterna caspia, Chlidonias hybridus", menurut tim pelaksana. "Sedangkan burung migran terdapat bendera yang berhasil ditemukan ada pada 2 jenis, Tringa cinereus dan Tringa totanus berwarna oranye hitam merupakan ciri khas penandaan burung dari wilayah Sumatera". Sumber : Balai Taman Nasional Berbak dan Sembilang
Baca Berita

Tim Pengamanan TSL BKSDA NTB Amankan 81 Ekor Love Bird dari Bali

Lembar, Jumat 23 November 2018 - Tim Pengamanan TSL BKSDA NTB melalui kegiatan rutin pengamanan di Pelabuhan Lembar mendapati kendaraan bongkaran yang baru tiba dari Bali. Bapak S Sang Pemilik Satwa yang merupakan warga Banyuwangi Jawa Timur dan rencana akan diterima oleh Bapak D yang berdomisili di Mataram. Jumlah Satwa yang diamankan antara lain Burung Murai Batu (1 Ekor) dan Love Bird (81 Ekor). Bapak S tidak mampu menunjukkan dokumen ijin Angkut SATS-DN kepada petugas di Pelabuhan Lembar. Tim TSL BKSDA NTB akhirnya mencoba melakukan pendekatan dengan memberikan penjelasanan bahwa meski tidak dilindungi, namun Pengangkutan Satwa tetap harus disertai SATS-DN yang diterbitkan oleh UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan setempat. Tim juga memberikan sosialisasi mengenai PP. 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan jenis Tumbuhan dan Satwa Liar dan P.92 revisi P. 20 Tahun 2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang di lindungi serta PP 8 tahun 1999 tentang Pemanfaatan jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Satwa langsung diamankan di Kantor BKSDA NTB untuk proses lebih lanjut. Sumber: BKSDA NTB
Baca Berita

Pembangkit Listrik Microhydro Tingkatkan Perekonomian Masyarakat Desa Terpencil di Kawasan Penyangga Taman Nasional Matalawa

Waingapu, 26 November 2018, Kesejahteraan masyarakat disekitar kawasan hutan masih sangat rendah, hal ini menjadi realita yang tidak terbantahkan hingga saat ini. Begitu pula yang dialami oleh masyarakat desa disekitar kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa), hampir sebagian besar desa-desa yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi di Pulau Sumba ini termasuk kedalam kategori tertinggal dan miskin. Minimnya sarana dan prasarana pendukung, serta sulitnya aksesibilitas menjadi salah satu kendala yang dihadapi masyarakat sekitar kawasan TN Matalawa. Salah satu upaya pengelola kawasan TN Matalawa guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa disekitar kawasan adalah dengan pengembangan sumber energi terbarukan (Mikrohidro) melalui pemanfaatan potensi air yang berasal dari dalam kawasan hutan. Pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) merupakan pembangkit listrik tenaga air skala kecil dengan batasan kapasitas energy listrik yang dihasilkan antara 5 Kilowatt hingga 1 Megawatt. Energi listrik saat ini merupakan salah satu objek vital yang mampu menggerakan perekonomian masyarakat, selain sebagai sumber penerangan bagi masyarakat. Pada tahun 2018, TN Matalawa mengembangkan PLTMH di dua Desa yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan, yaitu Desa Wanggameti dan Desa Mahaniwa dengan output energi listrik yang dihasilkan sebesar 45 Kilowatt. Dalam pelaksanaannya Balai TN Matalawa bekerjasama dengan Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Makassar, mulai dari tahap survey, perencanaan hingga pengembangannya. Hingga saat ini proses pembangunan PLTMH di Kedua Desa masih terus berjalan dan ditargetkan pada minggu kedua bulan desember, masyarakat sudah dapat menikmati listrik yang dihasilkan dari PLTMH tersebut. Pengembangan energi terbarukan (Mikrohidro) merupakan langkah nyata meningkatkan kualitas hidup masyarakat disekitar kawasan hutan, diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat seperti diungkapkan Maman Surahman, S.Hut.,M.Si (Kepala Balai TN Matalawa). Sehingga ketergantungan masyarakat akan potensi sumberdaya hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup dapat diminimalisir dan keberlangsungan hutan TN Matalawa akan terus lestari serta memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat Sumba. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Rapat Rutin MDK "Jinato Marennu"

Resort Jinato - TN. Taka Bonerate, Kepulauan Selayar, 26 November 2018. Walaupun dihari libur (25/11) personil ditingkat resort tetap melaksanakan kegiatan rutinnya. Menerima laporan dari masyarakat atau ada perintah dari atasan melaksanakan tugas. Seperti halnya yang dilaksanakan oleh petugas di resort Jinato Balai Taman Nasional Taka Bonerate. Sebagai fasilitator kelompok MDK (Masyarakat Desa Konservasi) "Jinato Marennu" kang Dadang Hermawan seorang Polhut di Resort Jinato tetap melaksanakan rapat rutin dengan pengurus kelompok MDK walaupun dihari minggu di kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Jinato. Hadir dalam Rapat tersebut para pengurus Kelompok MDK Jinato Marennu. Banyak hal yang diperbincangkan dalam agenda rapat mulai dari perkembangan kelompok sampai evaluasi kegiatan Festival Taka Bonerate yang dilaksanakan bulan Oktober lalu. Ada dua Kelompok MDK yang didampingi secara terus-menerus oleh para petugas di kawasan, satu MDK Desa Rajuni dan satu MDK di Desa Jinato. Setiap MDK mempunyai master plan dan merupakan role model Balai TN. Taka Bonerate. Sumber : Asri - PEH Penyelia Balai Taman Nasional Taka Bonerate Foto : Anam - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Masyarakat Wakatobi Tanam 5.000 Mangrove

Binongko, 23 November 2018. Balai Taman Nasional Wakatobi melalui Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III melakukan penanaman 5.000 (lima ribu) mangrove dari jenis Rhizophora apiculata, Bruguiera gymnorhiza dan Sonneratia alba di Desa Jaya Makmur. Tak sendiri, lima ribu mangrove ditanam bersama kelompok masyarakat binaan SPKP Benteng Wacu Awa dan Koncu Patua Wali, Pemerintah Kecamatan Binongko, Pemerintah Desa Jaya Makmur, Kelurahan Wali, Masyarakat Mitra Polhut, Kelompok Pecinta Alam, WWF-SES dan siswa SD Desa Jaya Makmur. Hal ini untuk meningkatkan kesadaran dan peran masyarakat dalam pengelolaan ekosistem di dalam kawasan Taman Nasional Wakatobi. Kepala Seksi Bina Daerah Penyangga-Subdit BDP dan ZPT serta Kepala Sub Bagian Data dan Informasi Setditjen KSDAE turut serta menanam bersama masyarakat. "Kegiatan seperti ini penting untuk dilakukan karena selain mampu mencegah terjadinya abrasi pantai, dengan adanya hutan mangrove, biota perairan akan meningkat dan kualitas perairan akan terjaga" jelas Chris Awang Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (KSPTN) Wilayah III. Chris menambahkan kedepannya, Balai Taman Nasional Wakatobi akan terus menggandeng berbagai pihak untuk melaksanakan kegiatan serupa di lokasi-lokasi lain di Taman Nasional Wakatobi. Sumber : Parulian Situmorang - Balai Taman Nasional Wakatobi.
Baca Berita

BKSDA Jambi Pantau Rutin Gajah L

Jambi, 26 November 2018. Tim Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Balai KSDA Jambi berjumlah 2 orang Polhut yaitu Sdr. Satria dan Sdr. Nimrod Hutahean melakukan monitoring Gajah L di Lansekap Hutan Harapan PT. REKI bersama tim PT. REKI (19/11). Lokasi Gajah L terpantau berada di Desa Pangkalan Bulian Kab. Musi Banyuasin. Pada tanggal 20 November Gajah L terpantau melakukan pergerakan sejauh 2,5 Km dari posisi sebelumnya. Tim mengalami hambatan menuju kantor PT. REKI dikarekan jalan yang rusak parah dan beberapa titik kemacetan akibat mobil angkutan hasil kebun milik warga dan perusahaan yang terpuruk akibat kondisi jalan. Pada tanggal 21 November posisi Gajah L terpantau bergerak sejauh 4,7 Km dari Desa Pangkalan Bulian menuju Desa Ulak Kembang. Dikarenakan posisi Gajah yang semakin laju menjauh dari kawasan PT. REKI, tim menyepakati untuk melakukan pengecekan langsung terhadap posisi update terakhir dari GPS Collar milik Gajah L dan melakukan usaha penggiringan seandainya Gajah tersebut mendekati areal pemukiman. Setelah mendapat arahan dari Kepala Seksi SKW I, tim berangkat menuju Desa Ulak Kembang menggunakan 1 kendaraan roda empat dan 4 kendaraan roda dua. Keesokan hari nya posisi Gajah L terpantau bergerak dari Desa Ulak Kembang menuju Desa Sungai Napal Kec. Abang Kab. Musi Banyuasin kurang lebih 3 Km. Pada tanggal 23 November tim berkoordinasi dengan Kepala Desa Napal Bpk. Aneka, Babinsa, Babinkamtibmas, dan beberapa anggota masyarakat yang antusias mendampingi tim menuju lokasi terakhir Gajah L terlihat. Tim dapat melakukan pemantauan langsung Gajah L melalui jejak, kotoran, dan sisa tanaman sawit yang dimakan di pinggiran Sungai Batanghari Leko.Pada tanggal 24 November tim melakukan diskusi dan sosialisasi kepada perangkat desa dan warga agar warga tidak anarkis dan memburu Gajah tersebut. Selanjutnya tim mengedukasi warga tentang penanganan awal dan pencegahan Gajah agar tidak memasuki wilayah pemukiman kebun melalui bunyi bunyian petasan (meriam spritus) atau api unggun sekitar kebun. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

TN Matalawa Terus Menggalakan Eksplorasi Sebaran Potensi Sumber Air di Dalam Kawasan

Waingapu, 26 November 2018, Kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) berada di tengah-tengah Pulau Sumba dan merupakan satu-satunya kawasan konservasi yang berperang sangat penting, tidak hanya bagi masyarakat di 50 desa penyangga, tetapi juga bagi sebagian besar mahluk hidup yang ada di dalamnya. Walaupun luasannya yang kurang dari 10 % luas Pulau Sumba, TN Matalawa memiliki fungsi dan manfaat yang begitu banyak bagi kehidupan mahluk hidup yang tinggal di Pulau ini. Beberapa publikasi menyebutkan bahwa tegakan hutan alam yang tersisa di pulau ini sebagian besar terdapat di TN Matalawa. Begitu juga dengan sumber-sumber mata air yang mengalirkan airnya menjadi banyak air terjun dan sungai-sungai besar, menjadikan TN Matalawa sebagai kawasan perlindungan hidrologi yang sangat penting, setidaknya terdapat 17 DAS (daerah aliran sungai), yang hulunya berada di kawasan TN Matalawa, dan kemudian alirannya menyebar ke berbagai hilir di tiga Kabupaten (Sumba Timur, Sumba Tengah dan Sumba Barat). Selain fungsi hydrologis, potensi sumberdaya air yang ada pada kawasan TN Matalawa telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar kawasan untuk pemenuhan kebutuhan air sehari-hari dan kebutuhan air untuk lahan pertanian yang bersifat non-komersial. Dalam pengelolaan kawasan TN Matalawa data dan informasi terkait potensi sumberdaya air yang berada didalam kawasan sangat diperlukan. Hal ini berguna dalam menentukan arah dan kebijakan pengelolaan kawasan terkait potensi sumberdaya air dan pemanfaatannya oleh masyarakat di masa yang akan datang. Pada Tahun 2018 Balai Taman Nasional Matalawa berhasil mencatat sebaran sumber air sebanyak kurang lebih 25 titik sumber air berikut dengan debit, gambaran kondisi lingkungan sekitar, pemanfaatannya serta potensi pengembangan lainnya. adapun sumber air yang ada berupa mata air, aliran sungai dan air terjun, dan di Tahun mendatang TN Matalawa akan terus mendata potensi sumber air yang ada, ungkap Maman Surahman S.Hut., M.Sc selaku Kepala Balai TN Matalawa. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wangggameti

Menampilkan 6.545–6.560 dari 11.140 publikasi