Rabu, 22 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Bersama Kendalikan Pencemaran di Pesisir dan Laut

Kepulauan Selayar, 6 Desember 2018. Direktorat Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menginisiasi Focus Group Discussion (FGD) Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut di Kawasan Konservasi khususnya di wilayah Taman Nasional Taka Bonerate (TNTBR)1. FGD diselenggarakan di aula kantor Balai TN.Taka Bonerate (05/12) yang dibuka Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate Faat Rudhianto. Melalui FGD ini, diharapkan tersusunnya rancangan pengendalian pencemaran dan kerusakan pesisir dan laut di kawasan konservasi perairan TN. Taka Bonerate, Kepulauan Selayar. Hadir dalam FGD dari Dinas Kelautan dan Perikanan Selayar, Dinas LHK Selayar, Dinas Pariwisata Selayar, Bappelitbangda Selayar, Mitra WCS, dan pejabat struktural serta para koordinator fungsional Balai Taman Nasional Taka Bonerate. Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate Faat Rudhianto menggambarkan secara umum kondisi pencemaran laut oleh sampah kiriman setiap musim angin. Kemudian dilanjutkan dengan materi pengantar dari peneliti perguruan tinggi IPB Isdahartarti "Perencanaan Pengendalian Pencemaran Wilayah Pesisir dan Laut" "Pencemaran di Pesisir adalah masalah bersama, jadi penanganannya harus bersama" Jelas Isdahartarti Selanjutnya FGD diakhiri dengan mengisi bahan kusioner Identifikasi Pencemaran dan Kerusakan Pesisir dan Laut di Kawasan Konservasi. Sumber : Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Masukan Berbagai Pihak Untuk CA Kelautku

Banjarbaru, 5 Desember 2018 – Bertempat di Barito Room Fave Hotel Banjarbaru, Balai KSDA Kalimantan Selatan mengadakan kegiatan Konsultasi Publik Review Rencana Pengelolaan CA Teluk Kelumpang, Selat Laut dan Selat Sebuku (CA KELAUTKU) dengan dihadiri unsur dinas instansi terkait lingkup Pemerintah, Kecamatan dan BKSDA Kalsel. “Konsultasi Publik ini bertujuan memperoleh masukan serta saran guna penyempurnaan draft final review Rencana Pengelolaan CA Kelautku sebagai tahapan untuk proses pengesahan oleh Direktur Jenderal KSDAE”, ujar Nikmat Hakim Pasaribu, S.P, M.Sc Kasi Konservasi Wilayah III Batulicin. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc mengatakan, “Total hutan konservasi Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru seluas ± 58.227 Ha. Semua kawasan konservasi statusnya Cagar Alam, flora 84 jenis dan fauna 35 jenis didominasi mangrove. Ada blok perlindungan, rehabilitas dan blok khusus. Pengelolaan bersama masyarakat berada di blok khusus.” “BKSDA Kalimantan Selatan punya mimpi sebagai pusat konservasi mangrove di Kalimantan Selatan yang harus melibatkan masyarakat. Misi BKSDA Kalimantan Selatan dengan pemantapan, perlindungan dan pelestarian hutan mangrove, perlindungan dan pengawetan satwa, perlindungan dan pengamanan berbasis masyarakat, serta pemenfaatan jasa lingkungan berbasis masyarakat.”, tambah Mahrus. Kepala Bappeda Kab. Tanah Bumbu, Drs. Rahmadi mengatakan, “CA Kelautku mempunyai mandat sebagai perlindungan dan pelestarian hutan, namun kondisi Cagar Alam Kelautku 40% luas mengalami penurunan yang signifikan sehingga kegiatan pemuliahan ekosistem sebagai salah satu prioritas untuk beberapa tahun ke depan dan mengalami gangguan sebesar 40% berupa fasilitas umum, tempat ibadah, sekolah, jalan pelabuhan, area perkebunan dan pertambangan.” Kepala Bappeda Kalimantan Selatan yang diwakili Sekretaris Bappeda Kalimantan Selatan Dr. Ariyadi menjelaskan bahwa Bappeda Kalimantan Selatan sangat mendukung kegiatan review ini yang mendudukkan peran masyarakat dan kegiatan silvofisheri. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Kembali Gelar Bakti Sosial, Bukti Kepedulian Masyarakat dari Pengelola Bumi Perkemahan Ipukan

Kuningan, 6 Desember 2018. Sobat Ciremai, pasti sudah sering mendengar aktivitas bakti sosial? Biasanya kegiatan itu dilaksanakan dalam rangkaian keagamaan. Bakti sosial merupakan suatu kegiatan wujud dari rasa kepedulian terhadap sesama manusia. Dimana kegiatan ini diharapkan dapat merekatkan rasa kekerabatan kita terhadap orang lain. Bakti Sosial kali ini berbeda, dilaksanakan oleh kelompok Masyarakat Pengelola Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) Bumi Perkemahan (Buper) Ipukan (5/12). Kegiatan bakti sosial bertempat di Bumi perkemahan Ipukan, yang berada di wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Kuningan, Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Acara bakti sosial ini sangat menarik, dengan membagikan paket sembilan bahan pokok (sembako) kepada masyarakat sekitar, yaitu kepada janda dan anak yatim. Ini adalah bentuk kelola sosial budaya yang merupakan salah satu dari tiga pilar pengelolaan TNGC. Selain ttentuny kelola ekonomi dan ekologi. Acara berlangsung dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Bantuan yang diberikan berupa sembako berjumlah sebanyak 150 paket. Dan diterima oleh warga masyarakat sekitar ODTWA Bumi Perkemahan Ipukan. Bakti sosial merupakan agenda rutin tahunan yang sudah dilaksanakan untuk ketiga kalinya oleh kelompok masyarakat mitra pengelola wisata alam gunung Ciremai (MPGC) Bumi perkemahan Ipukan Rimba Alam Lestari. Mereka adalah pemegang Ijin Usaha Pemanfaatan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) dari Balai TNGC yang mengelola jasa wisata alam di Bumi Perkemahan Ipukan. Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pihak terkait yaitu Balai TNGC, Kapolsek Cigugur, Koramil Cigugur, Kepala Desa Cisantana, tokoh masyarakat dan pemuka agama serta tamu undangan lainnya. "Luar biasa, inilah yang disebut rakyat berdaulat. Masyarakat telah ikut berpartisipasi dalam mengelola kawasan hutan konservasi milik negara sesuai aturan, telah menikmati hasilnya secara berkelanjutan, dan mau berbagi kepada saudara di lingkungannya yang juga memiliki hak untuk ikut menikmati rejeki tersebut,” ungkap Kuswandono, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Ciremai, saat berkesempatan memberikan sambutan. Banyak pesan yang didapatkan dari sambutan berbagai pihak ini. Diantaranya bahwa dukungan dari berbagai pihak dalam pengelolaan pariwisata alam sangatlah dibutuhkan, agar dapat berkembang dengan baik dan tentunya harus sesuai dengan peraturan yang berlaku. Yang tak kalah penting tentunya adanya keselarasan dan sinergi dengan masyarakat sekitar serta terjaganya keamanan agar pengunjung dapat memperoleh rasa aman dan nyaman saat berkunjung. Sobat Ciremai, apa saja kesan yang didapatkan dari kegiatan bakti sosial ini? Tentunya banyak sekali. Salah satu diantaranya yaitu bahwa memberi itu bukanlah soal apa yang kita berikan dan kepada siapa diberikan. Tetapi yang paling penting adalah ketulusan. Karena apa yang diberikan secara ikhlas dengan diiringi oleh niat yang baik. Mudah-mudahan bisa menjadi berkah dalam kehidupan kita. [Teks, Foto & Video © Dini Natalia & Agus Yudantara - BTNGC | 05122018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Mahasiswi UNS Akan Jelajahi Sigogor

Sidoarjo, 6 Desember 2018. Sebanyak 4 orang mahasiswi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta akan melakukan penjelajahan di Cagar Alam Gunung Sigogor. Kegiatan tersebut terungkap saat keempat mahasiswi berjilbab tersebut melakukan presentasi di Kantor Balai Besar KSDA Jawa Timur, 6 Desember 2018. Adalah Naila Izati, Rizqi Adanti Putri Pertiwi, Fatimah Az Zhara, dan Malinda Duta Pertiwi Pranoto yang akan melakukan penjelajahan tersebut. Penjelajahan dimaksud untuk melakukan inventarisasi berbagai spesies di cagar alam yang terletak di Ponorogo, Jawa Timur. Masing-masing mahasiswi melakukan inventarisasi berbeda, yakni inventarisasi Jamur, Anggrek, Kupu-kupu, dan Capung. Pelaksanaan inventarisasi direncanakan pada 14 Januari hingga 14 Februari 2019. Waktu ini dirasa cukup untuk melakukan inventarisasi dengan metode penjelajahan sepanjang jalur yang ditentukan. Menurut Naila Izati, kegiatan inventarisasi ini merupakan tugas wajib bagi mahasiswa FMIPA pada Semester V dalam bentuk magang. Hasil yang didapat nanti berupa database yang berisi morfologi dari masing spesies. Sedangkan bentuk publikasi berupa jurnal yang akan dipresentasikan di depan pihak pemangku kawasan dan kampus. Nurohman, Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan, dan Pengawetan, berharap hasil yang didapat nanti dilengkapi dengan hasil dokumentasi yang baik. Sehingga dapat dibuat guide book atau daftar jenis sebagai bahan publikasi di kemudian hari. “Dengan waktu magang yang sebulan, output yang dihasilkan bisa juga dilengkapi dengan peta sebaran”, imbuhnya. Di lain pihak, Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan, menyarankan kegiatan magang juga ke kawasan konservasi tetangga Sigogor, yakni Cagar Alam Gunung Picis. Alasannya, dengan waktu yang sebulan sangat sayang jika hanya di satu kawasan saja. “Meski bertetangga, Picis mempunyai karakteristik yang sedikit berbeda. Dan perlu diingat, kedua kawasan ini masih dalam satu bentang alam”, ujar Fajar. Mengakhiri presentasi, Fajar kembali mengingatkan dalam pelaksanaan inventarisasi nanti untuk mendahulukan prinsip kehati-hatian. Karena lokasi kegiatan memiliki status cagar alam. (Agus Irwanto) Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Tingkatkan Sinergitas Para Pihak BBTNGL Hadiri Rapat Koordinasi Pembangunan Kehutanan Kab. Aceh Selatan

Medan, 6 Desember 2018. Dalam rangka meningkatkan sinergitas dan kerjasama antar instansi dan lembaga dalam mendukung pembangunan dan pemberdayaan masyarakat peduli hutan serta perlindungan dan pelestarian hutan Aceh Selatan dan Ekosistem di dalamnya, Kapolres Aceh Selatan AKBP Dedy Sadsono, ST menginisiasi pertemuan para pihak melalui Rapat Koordinasi (Rakor) yang diselenggarakan di Gedung serbaguna Polres Aceh Selatan(5/12). Hadir dalam Rakor tersebut antara lain Bupati Aceh Selatan yang diwakili oleh Sekda, Perwakilan KODIM 0107 Aceh Selatan, Asisten I Bupati, Perwakilan Bappeda, Kadis Lingkungan Hidup, Kadis Pertanian, Kadis Kelautan dan Perikanan, Kadis Pariwisata, Kadis Pemberdayaan Masyarakat Gampong, Perwakilan BPBD, BKSDA Aceh, KPH Wilayah VI Subulussalam, National Project Manager BCCPGLE KFW, USIAD Lestari, WCS-IP, FKL, YOSL-OIC, YEL-SOCP, Akademi Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara, dan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) yang diwakili Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional (BPTN) Wilayah I Tapaktuan. Dalam Rakor tersebut setiap lembaga/instansi memaparkan kinerja yang telah dilakukan selama ini terkait pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan. Konsep Pengelolaan Hutan secara lestari dan berkelanjutan melalui skema perhutanan sosial menjadi bahan diskusi yang paling menarik dibahas dalam Rakor tersebut. Sebagian besar peserta Rakor sepakat bahwa masyarakat terutama yang hidup dan tinggal di sekitar hutan seyogyanya dapat mengakses dan mengelola hutan secara legal melalui mekanisme perhutanan sosial baik itu dalam bentuk Hutan Desa (HD), Hutan Kemasyarakatan (HKm), ataupun Kemitraan Kehutanan. Dengan adanya akses legal dalam mengelola hutan, maka tidak akan ada lagi istilah masyarakat sekitar hutan melakukan perambahan ataupun pembalakan liar (illegal logging) karena merekalah yang menjadi aktor utama dalam mengelola dan menjaga kelestarian hutan untuk dapat dimanfaatkan dan dikelola secara lestari dan berkelanjutan. Pada akhirnya terjadi peningkatan ekonomi masyarakat yang hidup dan tinggal di sekitar hutan. Sehingga kalimat Hutan Lestari Masyarakat Sejahtera tidak lagi menjadi slogan semata. Pada akhir kegiatan, sebagian besar peserta Rakor sepakat bahwa instansi baik pusat maupun daerah serta lembaga/NGO harus bekerja bersama-sama dalam membangun sinergitas dalam mendukung pembangunan dan pemberdayaan masyarakat sekitar hutan serta perlindungan, pemanfaatan dan pelestarian hutan Aceh Selatan dan Ekosistemnya secara lestari dan berkelanjutan. Pada kesempatan tersebut, Kepala BPTN Wilayah I Tapaktuan, Buana Darmansyah, S.Hut.T sangat berterima kasih kepada Kapolres Aceh Selatan yang telah menginisisasi acara ini. Beliau berharap di masa yang akan datang semua pihak lingkup Kabupaten Aceh Selatan dapat bersama-sama bekerja demi kelestarian hutan dan lingkungan hidup serta peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat terwujud, pungkasnya. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser Teks : Arif Saifudin, S.Si (PEH-BBTNGL) Foto : Ulul Azmi
Baca Berita

Elang Bondol yang Terpenjara

Kandangan, 3 Desember 2018 – Kegiatan patroli pengawasan peredaran TSL dilindungi di Kabupaten Hulu Sungai Selatan dilaksanakan oleh tim dari Resort CA Gunung Kentawan. Tim yang diketuai oleh Aris Fadillah, A.Md Polhut SKW I Pelaihari melakukan patroli pengawasan di tempat-tempat penjualan burung berkicau. Salah satunya pada tempat penjualan burung milik Norifansyah yang beralamat di Jalan Bina Bakti Desa Amawang Kiri Muka Kec. Kandangan Kab. HSS ditemukannya 1 (satu) ekor jenis satwa liar dilindungi di tempat kandang terpisah berupa anak elang bondol yang diperkirakan berumur 4 bulan. Setelah tim patroli melakukan pendekatan dan memberikan arahan serta informasi mengenai larangan memiliki jenis satwa liar dilindungi, si pemilikpun bersedia menyerahkan secara sukarela kepada petugas di lapangan dengan membuat Surat Pernyataan Menyerahkan Secara Sukarela Satwa Liar Dilindungi. Sesuai arahan Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr.Mahrus Aryadi,M.Sc mengingat kondisi kesehatannya sangat sehat, elang tersebut dilepasliarkan di kawasan CA Gunung Kentawan keesokan harinya (04/12/2018), dan sebelumnya dirawat serta diberi makan sementara selama satu malam oleh petugas Resort CA Gunung Kentawan sebelum dilepasliarkan oleh tim. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Gelar Ekspose Disain Tapak, Fokus Balai TN Taka Bonerate Kembangkan Ekowisata

Benteng - Kepulauan Selayar, 5 Desember 2018. Balai Taman Nasional Taka Bonerate (TNTBR) gelar Expose Rancangan Disain Tapak di Hotel Rayhan Square (04/12), acara dimulai dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan dibuka oleh Kepala Balai Faat Rudhianto. Asisten 3 Bidang Administrasi, mewakili Bupati Kepulauan Selayar, Kepala Desa se-TN Taka Bonerate, pihak pengelola hotel di Selayar, Kodim Selayar, Dinas Perhubungan, Himpunan Pariwisata Indonesia Cab. Selayar, Bappelitbangda, Mitra WCS, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Selayar, Dinas Pariwisata Selayar, para Operator Wisata serta media Tribunnews turut hadir. Dan tak ketinggalan utusan dari Direktorat Pemanfaat Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) Kementerian LHK untuk mencermati bentuk disain tapak yang disusun. Jika berbicara mengenai Disain Tapak, maka tidak terlepas dari zonasi yang ada karena disain tapak merupakan penataan ruang dari zonasi. Kepala Balai menyampaikan secara umum rancangan disain tapak yang disusun dan mensosialisasikan kembali zonasi yang ada dalam kawasan TN. Taka Bonerate. "Disain tapak ini penting dalam pengelolaan dan pengembangan ekowista di TN Taka Bonerate, yakni dengan membagi ruang publik dan ruang usaha untuk investasi" Ucap kepala balai Faat Rudhianto Setelah itu dilanjutkan materi pertama "Ekowisata Pada Kawasan Konservasi" oleh Prof. Dr. Ir. Amran Achmad., M.Sc. Dosen Fakultas Kehutanan UNHAS bidang keahlian Ekologi, Konservasi dan Ekowisata. Dalam materinya beliau menjelaskan perbedaan pemandu dan seorang interpreter, manfaat ekowisata serta bercerita tempat-tempat wisata yang sudah mengadopsi prinsip ekowisata. Disusul materi kedua "Rancangan Desain Tapak TN. Taka Bonerate" oleh Abdul Rajab Kepala SPTN Wilayah II Jinato selaku Ketua TIM Disain Tapak. Dalam zonasi Taman Nasional Taka Bonerate ada 4 pulau yang menjadi Zona Pemanfaatan, yaitu Pulau Belang-Belang dan perairannya, P. Tarupa Kecil dan perairannya, P. Tinabo Besar dan perairannya, serta Pulau Lantigian dan perairannya. Keempat pulau inilah yang didisain tapak, dibagi dalam bentuk ruang usaha dan publik. Selain pembagian ruang juga ditampilkan contoh gambaran umum disain bangunan di ruang usaha. Usai pemaparan materi, dilanjutkan dengan dialog interaktif. Peserta yang hadir sangat antusias yang berarti ini adalah tanda bahwa geliat wisata di Kepulauan Selayar ini bergerak. Banyak masukan dan bahkan bernada curhat. Kedepan diharapkan semua pihak bisa bahu membahu bergerak bersama membangun Ekowisata Taman Nasional Taka Bonerate khususnya, dan kepariwisataan Selayar pada umumnya. Sumber : Asri - PEH Penyelia Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Inhouse Training Pegawai Balai KSDA Jambi

Jambi, 3 Desember 2018. Balai KSDA Jambi mengadakan kegiatan Inhouse Training Pegawai bertempat di Hotel Luminor Kota Jambi. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pegawai Balai KSDA tak terkecuali. Seluruh pegawai Balai KSDA yang terdiri dari 3 Seksi Wilayah hadir mengikuti kegiatan ini. Kegiatan ini sendiri dibuka langsung oleh Kepala Balai KSDA Jambi, Bpk. Rahmad Saleh. Balai KSDA Jambi mengundang 2 orang narasumber untuk memberikan materi dan training kepada pegawai Balai KSDA Jambi, diantara nya adalah Kepala Bagian Analisis Laporan Hasil Pengawasan Irjen KLHK Bpk. Juli Haryono dan Kepala Sub Bagian Evaluasi Kinerja dan Disiplin Pegawai Ibu Lies Setyawati. Materi training yang diberikan kepada pegawai Balai KSDA Jambi yaitu Sistem Pengendalian Intern Pemerintahan (SPIP), Laporan Harta Kekayaan Aparatur Sipil Negara (ASN), dan E-Kinerja. Narasumber menerangkan materi secara seksama dan memberikan contoh contoh terkait. Para pegawai pun berkesempatan untuk melakukan sesi tanya jawab kepada narasumber terkait hal hal yang masih belum dimengerti oleh para pegawai. Seluruh pegawai Balai KSDA Jambi terlihat antusias dalam mengikuti kegiatan pelatihan terutama pada sesi tanya jawab. Kegiatan pelatihan ditutup oleh Kasubbag Tata Usaha dan Kepala Balai KSDA Jambi sekaligus memberikan apresiasi terhadap seluruh pegawai yang hadir dalam kegiatan pelatihan. Kepala Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh menyatakan “Kegiatan pelatihan pegawai Balai KSDA Jambi telah selesai kami laksanakan. Seluruh pegawai senang dengan ada nya pelatihan ini dan kami berharap kegiatan pelatihan ini akan menambah produktivitas kinerja kami kedepan nya. Sumber: Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Jajaki Potensi Pasar Produk Ramah Lingkungan Berbasis Masyarakat, BBTNBKDS Hadiri Workshop Forest for Business di Jepang

Tokyo, 4 Desember 2018. Bertempat di Gedung ASEAN-Japan Center Tokyo, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) turut mensukseskan kegiatan Workshop for Forest Business dalam rangka perayaan kerjasama Indonesia-Jepang yang ke-60. Workshop ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan terakhir pembangunan berkelanjutan di bidang kehutanan, menggali potensi kerjasama dalam pembangunan KPH untuk menunjang kesejahteraan masyarakat, meng-explore potensi produk-produk ramah lingkungan berbasis masyarakat yang sesuai untuk permintaan pasar dan industri di Jepang, serta menarik minat para investor Jepang dalam green economy dan eco-products di Indonesia terutama yang terkait pelibatan masyarakat. Workshop dibuka oleh Duta Besar Indonesia di Tokyo, H.E. Arifin Tasrif, serta menghadirkan sedikitnya lima KPH dari Indonesia, BBTNBKDS, Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Sosial wilayah Kalimantan, Perhutani serta para pelaku bisnis Jepang di Indonesia. Dalam pemaparannya, BBTNBKDS menyampaikan keunggulan madu hutan APDS yang dipanen dan diproduksi secara _sustainable_ dari Taman Nasional Danau Sentarum, serta kerajinan kain tenun masyarakat adat yang dibuat secara tradisional dan menggunakan bahan pewarna alami. "Dengan pengembangan produk alami yang dimanfaatkan oleh masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan, akan menggerakkan ekonomi masyarakat sehingga diharapkan kesejahteraan masyarakat meningkat dan kelestarian kawasan hutan semakin terjaga" tegas Murlan Dameria Pane, Kepala Bagian Tata Usaha BBTNBDS dalam paparannya. Di sela-sela workshop juga dilaksanakan market matching agar para investor mengenal lebih dekat dan melihat langsung Non Timber Forest Product (NTFP) yang ditampilkan oleh masing-masing unit pengelolaan hutan. Para investor Jepang mengakui keelokan dan keunggulan NTFP berbasis masyarakat yang dihasilkan Indonesia, meskipun beberapa hal mendasar perlu dilakukan perbaikan. Peningkatan kemampuan sumberdaya manusia serta detail produk seperti perbedaan rasa dari berbagai jenis madu di Indonesia menjadi perhatian para investor Jepang. Komunikasi yang intens antara para investor Jepang dan pelaku usaha NTFP Indonesia diperlukan untuk menjamin produk-produk yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi yang diminta Pasar Jepang. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Birdrace Muara Pantai Trisik Kulonprogo

Yogyakarta, 2 Desember 2018. Birdrace Balai KSDA Yogyakarta untuk pertama kalinya digelar baru saja usai. Gelaran yang berlangsung pada tanggal 30 November hingga 2 Desember 2018 bertajuk lomba pengamatan burung dan lomba fotografi, yang terselenggara atas kerjasama dengan Paguyuban Pengamat Burung Jogjakarta (PPBJ) dan Pemerintah Desa Banaran. Rangkaian lomba meliputi pengamatan burung dari checklist, sket burung, penulisan essay, presentasi, kuis dan juga lomba fotografi. Lokasi lomba di sekitar muara yang pertama kali dilaksanakan, tentunya memberikan pengalaman baru dan challenge di kalangan pengamat burung Indonesia. Sebanyak 50 tim (150 orang peserta) dari berbagai kota berkompetisi untuk menampilkan hasil yang terbaik. Hasil birdrace BKSDA Yogyakarta pada kategori pengamatan burung dengan tiga dewan juri yang terdiri dari Dr. Karyadi Baskoro (Dosen Biologi Universitas Diponegoro, Imam Taufiqurrahman (Direktur Kutilang Indonesia) dan Iwan Febrianto (Ekologi Satwa Liar Indonesia / EKSAI) dengan dibantu sie lomba menepatkan Juari I hingga juara III, sebagai berikut : Juara I Tim BSC Kecial dari Universitas Mataram, Tim BBC Kenthish Plover Yogyakarta dan Tim APES (Anak Pantai Surabaya) dari Surabaya sedangkan panitia birdrace spesial memberikan gelar tim Pengamat Burung Potensial kepada Tim Pemburu Darul Ulum dari Yogyakarta. Sementara itu untuk lomba fotografi, dinilai oleh tiga juri yaitu Ignas Seta Dwi Wardhana (praktisi fotografi), Swiss Winnasis Bagus Prabowo (PEH BTN Baluran) serta Andie Chandra Herwanto (BKSDA Yogyakarta) memutuskan bahwa untuk foto terbaik adalah : Juara 1 Tim Tesi Alaska Yogyakarta, Juara 2 WNA Penggembira, Juara 3 tim KP3 Burung. Sedangkan untuk Harapan 1 Burung Gereja Harapan 2 Tim KP3 Burung. Kepala Balai KSDA Yogyakarta Ir.Junita Parjanti, MM menyampaikan mengapresiasi gelaran even ini. Birdrace atau lomba pengamatan burung kali ini bertujuan menggugah kecintaan masyarakat luas terhadap keberadaan burung khususnya di kawasan perairan dan sekitarnya. Sementara itu dengan even ini dapat mengenalkan potensi kawasan lahan basah yang potensial juga untuk avitourism atau wisata pengamatan burung di Yogyakarta, tutur Junita. Birdrace BKSDA Yogyakarta ini merupakan even yang ditunggu-tunggu oleh para pengamat burung, semoga nantinya dapat menjadi ajang rutin di tahun-tahun berikutnya. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

BBTN Lore Lindu dan Nokia Serahkan Bantuan di Sekolah Alam Ngata Toro

Sigi, 4 Desember 2018. Kepala Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (Jusman) dan Perusahaan NOKIA menyerahkan bantuan di Sekolah Alam Ngata Toro yang berada di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Gimpu (1/12) yaitu berupa 1 (satu) unit genset 2.000 watt lengkap dengan peralatan pendukungnya dan 1 (satu) unit mesin Dap Air. Bantuan ini sebagai wujud kepedulian dan komitmen dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) serta Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) dalam mendukung sekolah alam di Ngata Toro untuk pembangunan sumber daya manusia sekitar Taman Nasional Lore Lindu yang berbasis kearifan lokal. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kader-kader konservasi baru yang peduli akan lingkungan hidup pada kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Bantuan ini sendiri langsung diterima oleh Said Tolao (penggagas dan pengelola sekolah alam). Bantuan peralatan tersebut sangat bermanfaat dan dibutuhkan untuk mendukung aktivitas sekolah alam di Ngata Toro dan kami mengapresiasi kepedulian Taman Nasional Lore Lindu bagi pendidikan konservasi, ungkap Said Tolao. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

Komitmen Para Pihak Perangi Peredaran TSL Ilegal di Maluku Utara

Ambon, Senin 3 Desember 2018. BKSDA Maluku menyelenggarakan Rapat Koordinasi Peningkatan Komitmen Stakeholders terkait Peredaraan TSL Ilegal di Provinsi Maluku Utara yang diselenggarakan di Ballroom Royal’s Resto and Function Hall, Kota Ternate. Dalam acara ini hadir berbagai instansi diantaranya TNI/POLRI, instansi pemerintah, universitas, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM). Tujuan diadakan acara ini adalah untuk meningkatkan koordinasi stakeholders dalam meningkatkan efektivitas pengawasan dan pengendalian peredaran tumbuhan dan satwa liar (TSL) baik keluar maupun masuk ke Provinsi Maluku Utara. Dalam rapat tersebut, Mukhtar Amin Ahmadi, Kepala Balai KSDA Maluku menyampaikan sejak awal Januari 2018 hingga pertengahan November 2018 ini telah ditemukan kasus peredaran TSL illegal sebanyak 72 kasus dengan sekitar 1.100 ekor burung dapat diselamatkan dan sebagian besar telah dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya. Berdasarkan tingginya peredaran TSL ilegal tersebut, Kepala Balai KSDA Maluku mengajak seluruh pihak-pihak terkait untuk berkomitmen dalam upaya perlindungan dan pemberantasan kejahatan TSL. “Ino siselamatkan keanekaragaman hayati ngom moi moi untuk masa depan ngom yang lebe jang adi, waje ua mafuku joro se haiwan liar yang dilindungi,” tegasnya. Dengan pernyataan ini, Amin mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut menyelamatkan keanekaragaman hayati demi masa depan yang lebih baik lagi. Selain juga menghimbau untuk tidak lagi melakukanperdagangan tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi. Rapat juga membahas peran para pihak sesuai dengan isi Joint Action Plan yang merupakan hasil workshop April 2018. Kemudian pada akhir rapat, para pihak yang terkait membacakan dan menandatangani Deklarasi Ternate yang berisi tentang dukungan dan komitmen untuk memerangi kejahatan TSL di Provinsi Maluku Utara. Rangkaian Rapat Koordinasi Koordinasi Peningkatan Komitmen Stakeholders terkait Peredaraan TSL Ilegal di Provinsi Maluku dan Maluku Utara ditutup dengan pelepasliaran burung-burung endemik Maluku Utara yang dilaksanakan pada Selasa (4/12). Seluruh burung dilepasliarkan di Hutan Lindung Sidangoli, Kabupaten Halmahera Barat. Dalam kegiatan ini, dilepasliarkan 51 ekor burung yang terdiri dari 22 ekor Kakatua Putih (Cacatua alba); 6 ekor Nuri Bayan (Eclectus roratus); 15 ekor Kasturi Ternate (Lorius garrulus); dan 8 ekor Nuri Kalung Ungu (Eos squamata). Seluruh jenis burung tersebut dilindungi PP No 7 Tahun 1999 dengan Lampiran sesuai dengan Peraturan Meneteri LHK Nomor P.92/2018. Sebelum dilepasliarkan, burung-berung tersebut telah melalui pengawasan intensif oleh dokter hewan Balai KSDA Maluku. Sumber: Balai KSDA Maluku
Baca Berita

TN Matalawa Terus Menggencarkan Aksi Pemulihan Ekosistem Dengan Melibatkan Berbagai Stakeholder

Waingapu, 4 Desember 2018. Berlokasi di Blok Hutan Wundut Wilayah SPTN II Lewa, Kepala Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti Maman Surahman S.Hut., M.Si didampingi Kepala Seksi PTN Wilayah II Judy Aries Mulik STP melakukan Restorasi Kawasan dengan melibatkan berbagai pihak diantaranya adalah masyarakat lokal yang berdampingan langsung dengan kawasan, kemudian bekerja sama dengan aparat setempat Polsek, Danramil Lewa dan juga KPH Sumba Timur untuk melakukan pemulihan ekosistem. Tercatat tidak kurang dari 105 hektar yang sedang dilakukan pemulihan ekosistem atau kurang lebih 63.000 anakan yang digunakan dalam aksi tersebut. Upaya pelibatan masyarakat lokal dalam melakukan serangkaian kegiatan penanaman (pembuatan piringan, lubang tanam, pemasangan ajir hingga penanaman) dalam rangka pemulihan ekosistem merupakan strategi nyata yang dapat digunakan dalam melindungi kawasan. Hingga saat ini masyarakat sekitar hutan wundut masih menggantungkan hidupnya pada hutan, hal ini juga mendorong terhadap ancaman kawasan yang tinggi salah satunya adalah ancaman terhadap kebakaran hutan dan lahan, tercatat hampir tiap tahun pada wilayah ini mengalami kebakaran hutan, dengan adanya kegiatan penanaman yang melibatkan langsung masyarakat sekitar kawasan secara signifikan pula mengurangi ancaman pada kawasan, hal ini disebabkan oleh terdongkrak kesejahteraan masyarakat , tak sedikit kelompok masyarakat yang merasakan terbantu dengan adanya kegiatan Pemulihan Ekosistem yang ada di Wundut, dalam tiap kelompok hampir seluruh anggota keluarga ikut terjun dalam penanaman tidak hanya orang tua (bapak dan istrinya) tetapi keponakan bahkan anaknya pun ikut terjun dalam pelaksanaan tersebut, hal ini tidak lain merupakan semangat dan kebahagian sebuah kelompok dalam menerima kegiatan yang sangat positif tidak hanya secara langsung memperoleh penghasilan namun secara tidak langsung juga turut serta dalam pemulihan ekosistem yang ada di kawasan tersebut, yang notabene anak cucu mereka lah yang akan menikmati itu semua. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Bersih Pantai dan Penanaman Mangrove di Desa Liya Mawi Taman Nasional Wakatobi

Liya Mawi, 2 Desember 2018. Aksi bersih pantai dan penanaman mangrove di Desa Liya Mawi dilakukan Balai Taman Nasional Wakatobi bersama Kelompok La Gundi, WWF SESS, The Nature Conservacy (TNC), Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan (AKKP), Kamelia, dan pihak Pemerintah Desa Liya Mawi (2/11). Tak hanya aksi bersih pantai, penanaman mangrove juga dilakukan sebagai bagian dari upaya konservasi sumberdaya alam dan ekosistem di wilayah Taman Nasional Wakatobi sebagai media pendidikan konservasi lingkungan bagi masyarakat sekitar dan masyarakat Wakatobi secara keseluruhan. Aksi bersih pantai dilakukan di sepanjang garis pantai dengan jarak ± 100 meter, beberapa jenis sampah yang ditemukan yaitu sampah plastik, kaca, logam, karet, dan sampah organik. Jenis Mangrove yang ditanam ada 2 (dua) jenis, yaitu Rhizophora apiculata dan Bruguiera gymnorrhiza. Penanaman menggunakan metode rumpun berjarak, dengan jumlah bibit per lubang tanam sebanyak 20 buah dan jarak antar lubang tanam 1,5 meter. Metode ini direkomendasikan dalam penanaman mangrove di wilayah pesisir karena bibit yang ditanam dapat saling menguatkan dan menghindari terbawa arus, sehingga diharapkan tingkat keberhasilannya lebih besar. Jumlah bibit yang ditanam sebanyak 760 bibit, dengan rincian per jenisnya yaitu jenis Rhizophora apiculata sebanyak 660 bibit dan jenis Bruguiera gymnorrhiza sebanyak 100 bibit. Aksi bersih pantai dan penanaman mangrove yang telah dilaksanakan bersama para pihak tentunya diharapkan terus digalakan dan menjadi budaya atau kebiasan masyarakat Wakatobi dalam kehidupan sehari-hari. Sumber : Balai Taman Nasional Wakatobi
Baca Berita

Alam Menyapa di RRI Pro 1 Makassar

Makassar, 4 Desember 2018. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) berkesempatan melangsungkan dialog interaktif di RRI Pro 1 Makassar. Dialog mengusung tema pengelolaan konservasi untuk kesejahteraan di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, berlangsung Selasa pagi (4/12), sekitar satu jam dipandu penyiar Alfianus. drh. Supriyanto selaku narasumber dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan, menyampaikan fungsi dan peran BBKSDA Sulsel di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dimana diantaranya adalah menyelanggarakan kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem di Cagar Alam, Suaka margasatwa, Taman Wisata Alam, Taman Buru dan Taman Nasional. Dalam dialognya drh. Supriyanto juga menyampaikan peran BBKSDA SULSEL dalam kerja sama dan koordinasi dengan pemerintah daerah untuk Taman Hutan Raya (TAHURA). Sulawesi Selatan memiliki dua TAHURA yaitu TAHURA Bontobahari di Bulukumba dan TAHURA Abdul Latif di Sinjai. Selanjutnya narasumber kedua yaitu Ir. Alias selaku kepala seksi konservasi wilayah I menyampaikan tentang peran personil BBKSDA SULSEL dengan masyarakat, peraturan menteri LHK terkait Tumbuhan Satwa Liar (TSL) yang dilindungi dan cara penanganan konflik satwa liar dengan masyarakat. Disela diskusi menarik itu beberapa penelfon ikut bergabung untuk menanyakan dan menyampaikan saran terkait maraknya penjualan Online satwa liar dilindungi di sosial media dan bagaimana cara melapor ke BBKSDA SULSEL apabila melihat perdagangan satwa liar dilindungi. drh. Supriyanto menyampaikan, “Untuk saat ini kami lebih mengedepankan tindakan preemtif dan preventif. Tetapi tindakan hukum tidak dapat terhindarkan apabila terjadi pelanggaran hukum yang tertangkap tangan. Tentunya tindakan-tindakan yang diambil didahului dengan koordinasi bersama stakeholder penegak hukum. Para Pendengar bisa melaporkan ke Call Centre kami di (+6281) – 1460 0883” Alfianus kemudian menelisik tentang peran BBKSDA Sulsel terkait kebiasaan masyarakat yang memelihara satwa liar secara ilegal dan perilaku masyarakat yang sering memberi makan satwa liar ketika menjumpai Satwa tersebut . drh. Supriyanto memaparkan, "Apabila satwa liar sejak lahir dipelihara atau terbiasa diberi makan itu akan menghilangkan sifat liar satwa tersebut yang berarti menghilangkan kemampuan satwa liar itu mencari makan di alam dan itu sama saja mempercepat kematian pada satwa liar tersebut". Selain membicarakan masalah-masalah yang terjadi di dalam kawasan dan peran BBKSDA SULSEL di luar kawasan, dialog tersebut juga membincangkan Street Campaign, yang dilaksanakan setiap minggu di lokasi yang berbeda. Street campaign, pameran, penyuluhan dan talk show yang dilaksanakan oleh BBKSDA Sulsel, diharapkan dapat meningkatkan kesadartahuan masyarakat tentang pentingnya sumber daya alam hayati dan ekosistem bagi kehidupan. (Awank-Paska) Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan link terkait: http://ksdasulsel.menlhk.go.id/post/dialog-interaktif-alam-menyapa-di-rri-pro-1-makassar
Baca Berita

Kurangi Sampah Plastik PKK Kelurahan Bunaken Sulap Menjadi Buah Tangan Menarik

Manado, 1 Desember 2018. Kelurahan Bunaken melalui PKK menggerakan Ibu-Ibu rumah tangga menyulap sampah plastik dari gelas kemasan menjadi buah kerajinan tangan yang menarik. Sampah dari gelas minuman kemasan dibersihkan kemudian ditempelkan pada bola plastik dengan menggunakan lem. Bola dipotong seperempat lingkaran sebagai tempat gantungan yang kemudian dilobangi bagian tengah gelas lalu didalamnya diisi lampu-lampu kecil untuk penerang. Selanjutnya untuk memberikan warna berbeda hasil kerajinan dipoles dengan cat pilox berbagai warna. Menurut Lurah Bunaken Gleen Laale saat ditemui dikediamannya, kegiatan kerajinan tangan dengan membuat hiasan lampu dari gelas minuman plastik adalah upaya untuk mengurangi sampah yang ada selama ini, kami berupaya menjadikan sesuatu yang bernilai dan berguna. Lampu dari bekas gelas kemasan digabungkan dengan bola merupakan ide dari Penggerak PKK di Kelurahan Bunaken, sekaligus ini menjadi buah kerajinan tangan yang akan kami pajang di rumah-rumah warga, di jalan dalam menyambut natal dan tahun baru. Semoga ini akan mengubah sesuatu menjadi bernilai, pungkasnya. Bunaken merupakan sebuah Pulau di Provinsi Sulawesi Utara, menjadi magnet bagi surga penyelam wisatawan dunia. Dalam kesempatan tersebut Prof. Dr. Ir. Jani Kusen, M.Sc yang hadir meninjau kerajinan tangan hasil karya Ibu-Ibu PKK Kelurahan Bunaken saat pengambilan data daya tampung lokasi selam dan snorkelling di Perairan Pulau Bunaken. Kepala Balai Taman Nasional Bunaken, Dr. Farianna Prabandari, S.Hut, M.Sc menyampaikan bahwa kami telah bekerja sama dengan Kecamatan Bunaken dalam pengangkutan sampah secara periodik, demikian pula selama ini dalam penanganan sampah di perairan laut, melalui bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Sulawesi Utara. Bunaken merupakan role model penanganan sampah di Taman Nasional Bunaken, hampir setiap tahun Balai TN Bunaken menyelenggarakan pelatihan pengolahan sampah dengan tema yg berbeda, saat ini kita sedang latih Ibu-Ibu dari Kader Konservasi yang berada di desa penyangga dan pulau-pulau untuk membuat sesuatu yang bernilai dari sampah dan tahun 2018 pelatihan dengan tema pengolahan limbah sampah plastik, tutup Kepala Balai. Sumber: Eko Wahyu Handoyo, S.Hut - PEH pada Balai Taman Nasional Bunaken

Menampilkan 6.481–6.496 dari 11.140 publikasi