Rabu, 22 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Sekditjen KSDAE Resmikan Breeding Insitu Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai

Tinanggea, 14 Desember 2018. Agenda selanjutnya kunjungan Sekretaris Ditjen KSDAE, Ir. Herry Subagiadi, M.Sc di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai adalah meresmikan Breeding Insitu Rusa Timor TNRAW pada Rabu, 12 Desember 2018 . Dalam acara peresmian ini yang ditandai dengan penandatanganan prasasti ini juga turut hadir beberapa stakeholder terkait yaitu Camat Tinanggea, Kapolsek Tinanggea dan beberapa Kepala Desa sekitar kawasan TNRAW Pada acara ini, setibanya rombongan di lokasi, mereka disambut dengan alunan Mars Rimbawan dengan menggunakan musik bambu yang dimainkan oleh anak – anak dari SD/SMP SATAP Lanowulu. Sekditjen KSDAE menyampaikan bahwa Rusa (Cervus timorensis) merupakan ikon TNRAW semakin hari semakin langka dan sulit ditemukan. Bahkan dalam beberapa tahun sangat jarang terlihat lagi. Dalam rangka pengembangannya, Balai TNRAW berencana akan melibatkan masyarakat sekitar kawasan. Hal ini dimaksudkan supaya areal breeding dapat dikelola secara intensif sehingga keamanan rusa lebih terjamin dan pada gilirannya dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan ekonomi masyarakat sekitar. Sebagai kawasan konservasi, Balai TNRAW berkewajiban untuk menjamin keberadaan satwa Rusa Timor yang memiliki ikatan historis tak terpisahkan dengan sejarah penunjukan kawasan. Breeding In-situ Rusa Timor ini di bangun pada bulan agustus 2018 dengan ukuran 40 x 90 m. Lokasi Demplot pengembangan penangkaran rusa timor ini telah dipagari setinggi ± 2,0 m menggunakan Kawat besi dengan menggunakan sistem mini ranch atau semi terkurung dimana rusa dibiarkan merumput di dalam areal penangkaran dengan sumber pakan alami. Penangkaran rusa dengan sistem mini ranch diharapkan dapat memenuhi kebutuhan hidup seperti di habitat alamnya. Breeding Insitu Rusa Timor selain memiliki nilai strategis untuk pengembangbiakkan populasi, juga memiliki nilai pariwisata dan nilai pendidikan yang semuanya berdampak positif untuk membangun kesadaran masyarakat luas, baik akademisi, peneliti, masyarakat lokal maupun wisatawan terhadap upaya perlindungan habitat dan populasi rusa timor di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Sumber : Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
Baca Berita

Visit to School SD 244 dan SD 131 Palembang

Palembang, 14 Desember 2018. Balai KSDA Sumatera Selatan melakukan kegiatan visit to school di SD 244 dan SD 131 Palembang. Kegiatan ini tiap tahun dilaksanakan di beberapa sekolah dasar di Kota Palembang. Metode pelaksanaannya dengan menggunakan metode tatap muka/ langsung. Materi yang disampaikan berupa leaflet, poster, dan boneka mini/maskot serta paparan berupa kegiatan konservasi alam, pengertian hutan, perilaku cinta alam, kawasan konservasi, dan jenis-jenis satwa dilindungi. Selain itu juga dilakukan games berupa tebak perilaku satwa serta bernyanyi lagu ‘rimbawan kecil’. Bagi yang memenangkan games diberikan hadiah (reward) sebagai bentuk apresiasi keaktifan dalam kegiatan ini. Di penghujung kegiatan dilakukan diskusi sebagai sarana bertukar pikiran dan mengemukakan pendapat di kelas. Para siswa cukup antusias dan gembira mengikuti kegiatan visit to school, pengetahuan tentang alam dan lingkungan hidup pun bertambah. Upaya penyebarluasan informasi dan pendidikan lingkungan pada usia dini cukup efektif. Secara psikologi anak usia dini masih sangat sensitif untuk dapat dibentuk karakternya. Visit to school dilakukan secara rutin dan berkelanjutan sehingga fasilitator/pendamping dapat memonitoring dan mengevaluasi perkembangan psikologi konservasi pada pelajar sebagai sasaran binaan pada usia dini. Semoga para rimbawan kecil ini menjadi agen konservasi yang dapat berperilaku mencintai alam sekitar mulai saat ini. Salam lestari! Sumber : Agnes Indra Mahanani - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Balai KSDA Sumatera Selatan Lakukan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi

Palembang, 13 Desember 2018. Balai KSDA Sumatera Selatan melakukan penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi pada bulan Nopember yang lalu. Penilaian dengan metode METT (Management Effectiviness Tracking Toll) merupakan penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi untuk melihat sejauh mana pengelolaan telah dilakukan dalam kerangka mencapai tujuan yang ditetapkan. Prinsip-prinsip yang dipedomani dalam melakukan penilaian yakni: obyektif, transparan, partisipatif, regular, independen, introspeksi, dan berbagi pengetahuan. Sejumlah 5 (lima) kawasan konservasi dilakukan penilaian yaitu SM Bentayan, SM Padang Sugihan, SM Isau-Isau, HSA Pusat Latihan Gajah Kelompok Hutan Isau-Isau, HSA Gumai Tebing Tinggi. Dalam proses penilaian ini melibatkan dari pihak internal Balai KSDA Sumatera Selatan dan pihak eksternal yakni akademisi, peneliti, mitra, dan masyarakat sekitar kawasan konservasi. Hasil penilaian terhadap 5 (lima) kawasan tersebut : SM Bentayan (71 %),SM Padang Sugihan (70 %), SM Isau-Isau (80 %), HSA Pusat Latihan Gajah Kelompok Hutan Isau-Isau (69 %), HSA Gumai Tebing Tinggi (79 %). Tahapan selanjutnya setelah proses penilaian adalah menyusun resume hasil penilaian efektivitas pengelolaan yang mencakup beberapa substansi yaitu nilai efektivitas pengelolaan, faktor kekuatan dari masing-masing unit kawasan, faktor kelemahan dari pengelolaan masing-masing unit kawasan, isu prioritas yang perlu ditingkatkan, resume lagkah-langkah tindak lanjut yang didasarkan pada hasil penilaian. Hasil evaluasi diharapkan dapat memberikan masukan mengenai perbaikan yang dilakukan. Sumber : Agnes Indra Mahanani - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Kemah Konservasi Pelajar Di Dataran Lindu

Palu, 13 Desember 2018. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) melaksanakan kegiatan “Kemah Konservasi Pelajar” dalam rangka psiko-sosial terhadap anak-anak korban gempa bumi di sekitar Taman Nasional Lore Lindu khususnya di wilayah Dataran Lindu. Kegiatan ini diadakan pada tanggal 10 hingga 12 Desember 2018 yang di pusatkan di Desa Tomado-Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi. Kemah konservasi pelajar ini terlaksana berkolaborasi dengan Yayasan KUN Gerakan Manusia dan didukung KfW melalui program Forest Program III (FP III). Peserta kemah konservasi ini terdiri dari siswa-siswi SD, SMP dan SMA sekitar Dataran Lindu yang berjumlah 120 orang. Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Gimpu, Marselinus Y. Ado yang mewakili Kepala BBTNLL manyampaikan dalam acara pembukaan bahwa kegiatan kemah konservasi pelajar ini diselenggarakan dengan fokus pada kondisi psiko-sosial untuk pemulihan rasa trauma khususnya pada anak-anak SD, SMP, dan SMA pasca gempa bumi Palu, Sigi, dan Donggala pada 28 September 2018. Kegiatan ini mengusung tema besar yaitu Lindu Molibu (Lindu berkumpul/ bermusyawarah). Pembukaan kemah konservasi ini dihadiri oleh Camat Lindu, Ketua Lembaga Adat Lindu, Kepala Desa, dan Tokoh Adat serta Pemuka Agama sedataran Lindu. Melalui kemah konservasi ini, BBTNLL berharap masyarakat Lindu khususnya para pelajar tingkat SD, SMP dan SMA yang mengalami rasa trauma bisa cepat pulih dan beraktivitas belajar kembali demi menggapai cita-cita mereka di masa mendatang. Semoga slogan Lindu Bangkit, Lindu Kuat, Lindu Sejahtera, Lestari TNLL bisa terwujud. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

Balai KSDA Sumatera Selatan Lakukan Pelepasliaran Satwa Hasil Serahan Masyarakat

Bangka Selatan, 13 Desember 2018. Resort Konservasi Wilayah XIV Bangka Belitung, Balai KSDA Sumatera Selatan pada hari Selasa (4/12) melakukan pelepasliaran satwa musang pandan 1 (satu) ekor, ular sanca 3 (tiga) ekor, dan kukang 2 (dua) ekor di Taman Wisata Alam Gunung Permisan yang berada di Kabupaten Bangka Selatan. Satwa yang dilepasliarkan berasal dari serahan masyarakat yang diserahkan kepada Resort Konservasi Wilayah XIV Bangka Belitung. Sesuai dengan prosedur pelepasliaran satwa liar di habitatnya, sebelum dilakukan pelepasliaran satwa tersebut dilakukan habituasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Alobi, sehingga pada saat dan setelah dilakukan pelepasliaran satwa dapat hidup dan mencari makan di habitatnya. Kegiatan pelepasliaran satwa ini bukan yang pertama kalinya dilakukan Resort Konservasi Wilayah XIV Bangka Belitung bersama Alobi. Balai KSDA Sumatera Selatan berharap agar masyarakat di Bangka Belitung dapat peduli terhadap satwa-satwa agar tetap terus lestari. Sumber : Yusmono, Agnes Indra Mahanani (Balai KSDA Sumatera Selatan)
Baca Berita

Desa Loe Menginisiasi Penanaman Mangrove di Sekitar Kawasan TN Kepulauan Togean

Ampana, 13 Desember 2018. Masyarakat Desa Loe mengundang Balai Taman Nasional Kepulauan Togean melalui Seksi Pengelolaan Taman Nasional wilayah III Popolii untuk melaksanakan penanaman bibit mangrove bersama masyarakat Desa Loe Kecamatan Walea Kepulauan pada tanggal 11 Desember 2018. Kegiatan ini merupakan inisiatif dari masyarakat Desa Loe secara mandiri yang menggagas untuk melakukan penanaman bibit dan menjaga kelestarian ekosistem mangrove di desa mereka. Bibit yang disiapkan oleh masyarakat desa adalah Bibit Rhizophora sp. sebanyak 600 bibit yang diambil dan dipindahkan dari teluk loe dan ditanam di pesisir dalam Teluk Loe dimana lokasinya berada di APL, ujung batas Zona Tradisional TNKT. Kegiatan penanaman bibit mangrove ini menggunakan metode jalur dan diikuti kurang lebih 20 orang warga Desa Loe mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Salah satu tokoh masyarakat Desa Loe Bapak Irman Hi Buloe mengatakan bahwa kegiatan ini muncul dari kesadaran masyarakat Desa Loe sendiri yang ingin melestarikan lolaro (bahasa daerahnya mangrove) agar masyarakat desa sadar akan pentingnya pelestarian lingkungan dan alam sekaligus memberikan contoh kegiatan yang harus dilakukan untuk menjaga keseimbangan lingkungan yang merupakan warisan buat anak cucunya nanti dan untuk berbuat baik kepada lingkungan agar tetap terjaga. Timbulnya inisiatif dari masyarakat Desa Loe dikarenakan adanya kegiatan yang dilakukan oleh TNKT berupa transplantasi karang dan pembutan kebun bibit karang sehingga hal ini menginisiasi masyarakat untuk melakukan kegiatan rehabilitasi juga namun pada mangrove, ujarnya. Menurut Kepala SPTN III Popolii Hariadi Siswantoro, S.Si.,M.Si, kegiatan menanam bibit mangrove ini murni keinginan dan inisiatif masyakat Desa Loe sendiri, antusiasme masyarakat desa terlihat dari awal kegiatan penanaman dilaksanakan hingga selesai. TNKT hadir untuk mendukung dan mengapresiasi aksi swadaya warga Loe dalam melestarikan lingkungan termasuk mangrove. Kedepannya TNKT akan terus mendorong dan mensosialisasikan kepada setiap masyarakat desa di sekitar kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean akan pentingnya pelestarian lingkungan dan kawasan konservasi. Sumber : Ardiyansyah Putra – Polisi Kehutanan Pelaksana Lanjutan Balai TN Kep. Togean
Baca Berita

23 Mbou di Torong Padang

Ngana, 13 Desember 2018. Torong Padang, suatu tanjung di Utara Pulau Flores yang masuk kedalam wilayah Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada. Terkait dengan konservasi keanekaragaman hayati, kawasan ini bernilai penting karena menjadi habitat alami biawak Mbou/Mbau atau yang lebih dikenal sebagai biawak komodo (Varanus komodensis). Untuk memantau biawak Mbou yang menjadi spesies prioritas pada Balai Besar KSDA NTT maka dilakukan monitoring populasi secara rutin. Mitra yang membantu Balai Besar KSDA NTT untuk kegiatan tersebut adalah Yayasan Komodo Survival Program. Kemitraan ini berdasarkan Perjanjian Kerjasama dengan Yayasan Komodo Survival Program (KSP) periode 2016-2021 mengenai “Penguatan Fungsi KSA dan KPA serta Konservasi Keanekaragaman Hayati melalui Optimalisasi Konservasi Spesies Biawak Komodo (Varanus Komodoensis) dan Keanekaragaman Hayati Lain beserta Habitatnya pada Wilayah Kerja BBKSDA NTT”, Nomor: PKS. 49/K.5/TU/KSA/8/2017 dan Nomor: PKS.06/KSP/2017 tanggal 18 Agustus 2017. Monitoring populasi Mbou di Torong Padang menggunakan kamera penjebak (Camera Trap) dan dibantu dengan umpan gantung. Diperkirakan sekitar 23 ekor biawak Mbou dengan kelas umur anakan, remaja, dan dewasa menghuni area tersebut. Torong Padang juga merupakan habitat bagi satwa mangsa Mbou, yaitu rusa Timor. Ancaman utama terhadap kelestarian Mbou dan satwa mangsanya adalah aktivitas perburuan liar. Populasi rusa Timor pun relatif sedikit, hanya kurang dari 20% dari populasi di Taman Nasional Komodo. Hal ini menyebabkan sulitnya kedua jenis satwa tersebut dijumpai. Torong Padang disebut juga Tanah Pirong atau tanah sakral bagi Suku Baar. Torong Padang juga menjadi lokasi acara Napak (perburuan adat) yang dipimpin oleh Raja Riung bersama dengan pemuka adat diikuti oleh seluruh warga Riung menggunakan kuda, jerat, anjing berburu, dan tombak. Satwa yang diburu adalah rusa, babi hutan, babi landak dan musang. Tujuan upacara ini adalah membasmi hama sebelum melakukan usaha pertanian yang diawali pada bulan September – Oktober dengan prosesi, sebagai berikut: upacara penentuan tempat berburu, berburu adat, dan upacara pesta pembagian hasil buruan. Sesungguhnya dengan adanya Mbou, rusa Timor, dan panorama alamnya, Torong Padang dapat menjadi magnet untuk pembangunan dan pengembangan wisata alam. Untuk mendorong wisata alam yang berkelanjutan perlu upaya bersama agar kawasan dan obyek daya tarik wisata alam Torong Padang lestari serta bermanfaat bagi masyarakat di sekitanya. Sumber : Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur
Baca Berita

Meriahkan Festival Gunung Ciremai, Dharma Wanita Persatuan TN Gunung Ciremai adakan Lomba Mewarnai

Kuningan, 13 Desember 2018. Festival Gunung Ciremai merupakan unjuk perpaduan sinergitas perwujudan ekologi, sosial budaya dan ekonomi antara Gunung Ciremai dengan daerah penyangga kawasan pada khususnya dan komponen masyarakat luas di luar daerah penyangga. Selain itu, FGC merupakan bentuk rasa syukur komponen masyarakat kepada Tuhan YME atas karunia dan berkah gunung ciremai serta diharapkan menjadi ajang silaturahmi semua komponen masyarakat yang merasa memiliki karunia atas gunung tertinggi di tanah priangan ini. Digagas oleh Balai TNGC, bersama mitra kelompok pengelola wisata alam, kelompok seni dan budaya Kab Kuningan dan Majalengka, Pemerintah Daerah Kab Kuningan dan Majalengka, dan stakeholder lainnya, pagelaran Festival Gunung Ciremai akan dilaksanakan pada tanggal 22-23 Desember 2018 di Bumi Perkemahan Palutungan. Gempita dirasakan Dharma Wanita Persatuan Balai TNGC yang merupakan wadah perkumpulan istri dan karyawati Balai TNGC. Dalam memeriahkan Festival Gunung Ciremai akan diadakan lima kegiatan yaitu lomba mewarnai, lomba menggambar caping, ecobrick, dan pelatihan pengolahan sampah non organik. Rabu (12/12) tadi pagi, merupakan hari yang menggembirakan. Sebanyak 81 pelajar tingkat TK dan SD dari 17 sekolah sekitar Manislor, Maniskidul, Jalaksana, Cilimus, Bandorasa, Sadamantra, dan Cisantana ikut serta dalam lomba mewarnai. Lomba mewarnai ini dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok A (TK dan SD kelas 1-3) dan kelompok B (SD kelas 4-6). Dibuka oleh Kepala Balai TNGC, Kuswandono apresiasi dan bangga atas animo siswa/i dalam mengikuti lomba mewarnai. Sempat berbincang dengan para peserta dan memberikan souvenir boneka macan Tutul kepada salah satu peserta. "Hayo, siapa yang bisa jawab, ada satwa apa di logo Taman Nasional Gunung Ciremai"? Tanyanya. Serentak sebagian peserta angkat tangan dan yang berkesempatan maju kedepan bernama Adi dari SDN 3 Cisantana. "Macan Tutul" jawabnya. Sebelum dimulai mewarnai, Ka Ila juga mendongeng tentang pentingnya hutan kepada siswa/i. "Tuh kan kalau hutan kita tidak dijaga, banjir longsor lambat laun akan terjadi" ceritanya. Sambil bercerita, peserta mulai mewarnai. Antusiasme terlihat dari goresan pinsil warna dan crayon peserta. Lima karya terbaik dari masing-masing kelompok akan mendapatkan paket perlengkapan sekolah, paket dari Tupperware dan souvenir TNGC. Pemenang akan diumumkan pada hari minggu (23/12), tepat pada acara penutupan Festival Gunung Ciremai. #sobatciremai, merekalah generasi penerus bangsa ini yang harus mencerminkan sebagai bangsa yang beradab dengan sikap, perbuatan dan ucapan yang baik. Terutama terhadap lingkungan sekitar. Hutan yang telah menjadi sandaran kehidupan manusia harus lebih diperhatikan. Keberadaan hutan memberikan ruang kehidupan bagi makhluk hidup, terutama dalam menjaga dari segala bencana. Kebayangkan ya sobat apabila hutan kita rusak, banjir dan longsor pun akan melanda. Kalau sudah begitu, tak hanya kerugian materi tapi namun juga kehidupan sosial dan ekonomi. Yuk sama-sama kita jaga hutan dan lingkungan kita, mulai dari keluarga sendiri. Pastikan anak-anak kita memahami bahwa lingkungan ini perlu dijaga, karena kalau sudah terbiasa sedari kecil sampai dewasa pun akan terbiasa. [Teks & Foto © Nisa syachera – BTNGC | 122018] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Penyelamatan Satwa Penyu Hijau di Pantai Cangga, Dompu

Bima, 11 Desember 2018. Balai KSDA NTB melalui Kantor SKW III Bima bersama Stasiun Karantina Ikan Bima, Kepala Dinas dan Kepala Bidang Budidaya Tangkap Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Dompu melakukan evakuasi satu ekor satwa Penyu Hijau (Green turtle /Chelonia mydas) di pantai Cangga, desa Hu'u, Kecamatan Hu'u, Kabupaten Dompu. Awal Mula Satwa ditemukan oleh wisatawan asal Jerman, Barnaud Kessler pada pagi hari dalam keadaan terluka akibat perburuan. Satwa kemudian dibawa menuju hatchery lobster yg berada di Kec. Hu'u. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh drh. Furqan dari poskeswan Kec. Huu. Dari hasil pemeriksaan, penyu mengalami fisical disorder, penyu tidak mau berenang dan kehilangan keseimbangan. Karena diperoleh keterangan bahwa penyu sempat dilepasliarkan, namun satwa malah terlihat berenang kembali dan diam di tepi pantai. Hingga perawatan selesai dan mendapat rekomendasi pelepasliaran, satwa sementara dititipkan di hatchery lobster yg berada di Kec. Hu'u untuk menjalani proses pemulihan. Sebagai informasi, Penyu merupakan satwa dilindungi dan diatur dalam perundangan dan peraturan pemerintah yaitu UU No.5/1990 dan PP No.7/1999. Oleh karenanya, segala bentuk perdagangan dari setiap bagian dari Penyu, termasuk telurnya tidak diperkenankan. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Balai TN Taka Bonerate expose Desain Tapak di Bogor

Bogor, 13 Desember 2018. Desain Tapak merupakan pembagian ruang pengelolaan pariwisata alam di zona pemanfaatan dan zona perlindungan bahari yang diperuntukkan bagi pembagian ruang publik dan ruang usaha. Penyusunan desain tapak pengelolaan pariwisata alam dapat dilakukan pada lanskap kawasan yang memiliki penetapan zonasi, merupakan keterpaduan zona perlindungan bahari dan zona pemanfaatan. Dengan penyusunan desain tapak di TN Taka Bonerate diharapkan akan terwujud tata ruang pengelolaan pariwisata alam di zona pemanfaatan yang diperuntukkan bagi pembagian ruang publik dan ruang usaha yang tetap memperhatikan keserasian dan keharmonisannya dengan lingkungan alam dalam kawasan taman nasional. Desain tapak yang dihasilkan harus tetap memperhatikan kaidah, prinsip dan fungsi konservasi alam di kawasan taman nasional. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor. P.48/Menhut-II/2010 pasal 3 Jo Peraturan Menteri Kehutanan Nomor. P.04/Menhut-II/2011 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya, dan Taman Wisata Alam, usaha pariwisata alam direncanakan sesuai dengan desain tapak pengelolaan pariwisata alam yang disusun oleh tim kerja yang dibentuk oleh Kepala UPT dan disahkan oleh Direktur Teknis di Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Penyusunan Desain Tapak Pengelolaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam berpedoman pada Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor : P.3/IV-SET/2011 Tentang Pedoman Penyusunan Desain Tapak Pengelolaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam dan Nomor : P.5/IV-SET/2015 tentang Perubahan Atas Peraturan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor : P.3/IV-SET/2011 Tentang Pedoman Penyusunan Desain Tapak Pengelolaan Pariwisata Alam di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman Wisata Alam. Dalam rangka mendukung peraturan tersebut dan mencapai harmonisasi pengelolaan dan penyelenggaraan pariwisata alam sesuai dengan kaidah, prinsip dan fungsi kawasan maka Balai TN Taka Bonerate melakukan penyusunan Desain Tapak Pengelolaan Pariwisata Alam di Kawasan Taman Nasional Taka Bonerate. Hal tersebut dilaksanakan untuk mengorganisasi dan membagi ruang pengelolaan pariwisata alam di zona pemanfaatan untuk ruang publik dan ruang usaha penyediaan jasa/sarana pariwisata alam. Kemarin (12/12) telah dilaksanakan expose desain tapak Pengelolaan Pariwisata Alam Taman Nasional Taka Bonerate yang bertempat di kantor Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) Kementerian LHK Jalan Juanda nomor 15, Bogor, Jawa Barat. Kegiatan expose ini dipimpin langsung oleh Direktur PJLHK Dody Wahyu Karyanto dan dihadiri oleh Tenaga Ahli Menteri Bidang Marine Ecosystem dan Kelautan Rusdi Ridwan, Kasubdit Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi S. Y. Crhystanto. M. For, SC dan beberapa undangan lainnya. Tim beranggotakan Kepala Balai Faat Rudhianto, Abdul Rajab (Ka.SPTN II Jinato), Irfandi Aznur (Penyuluh Kehutanan), dan Yasri Tahir (POLHUT). Tim memaparkan rancangan desain tapak di 4 pulau yang masuk dalam zona pemanfaatan (P. Belang-Belang, P. Tarupa Kecil, P. Tinabo Besar, dan P. Lantigian) yang kemudian secara umum ke 4 pulau ini dibagi dalam ruang publik dan ruang usaha. Tim mendapatkan banyak masukan namun ini penting guna mendapatkan rancangan desain tapak yang ideal guna menunjang kawasan yang tetap harmonis dan lestari. Sumber : Asri PEH Penyelia - Balai Taman Nasional Taka Bonerate Foto : Irfandi Aznur - Penyuluh - Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Akhirnya Kukang Kembali Pulang

Pekanbaru, 12 Desember 2018. Pesona Alam Sungai Mengkuang Kawasan Konservasi SM. Kerumutan tidak berkurang walaupun saat itu tergenang banjir dan cuaca mendung. Dengan airnya yang hitam Sungai Mengkuang menyajikan alam yang berbeda. Tujuh personil Tim Rescue Balai Besar KSDA Riau, Bidang Wilayah I bersemangat menembus Sungai Mengkuang untuk mengantar seekor Kukang (Nycticebus coucang) kembali ke alamnya. Kukang diperoleh dari penyerahan warga yang menemukan satwa dilindungi tersebut. Kemungkinan karena meluapnya air di Sungai Indragiri Hulu. Tim melakukan pelepasliaran satwa di tempat yang aman jauh dari pemukiman penduduk dan merupakan habitatnya pada hari Selasa, 11 Desember 2018 setelah sebelumnya dilakukan observasi dan perawatan. Kembalilah ke alammu Kukangku.... agar engkau dapat hidup bebas dan berkembangbiak dengan baik. CONSERVATION#everyonecandoit Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Ngopi & Diskusi Pelestarian Kakatua Kecil Jambul Kuning

Sumenep, 12 Desember 2018. Kedai kopi Kancakona Sumenep menjadi tempat anjangsana diskusi pelestarian Kakatua Kecil Jambul Kuning (11/12) yang diinisiasi Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV, UPT PHW IX Dishut Prop Jatim, DLH Sumenep dan Univ. Trunojoyo Madura. BAPPEDA Sumenep, Disperindag Sumenep, Pariwisata Sumenep, Kepala Desa dan Ketua BPD Masakambing, Radar Madura turut hadir dengan total 15 orang peserta. Anjangsana ini menghasilkan beberapa kesepakatan bahwa Kakatua kecil jambul kuning merupakan satwa endemik Masakambing yang harus terus dilestarikan keberadaannya, dan merupakan ikon penting Sumenep khususnya di bidang keanekaragaman hayati (Kehati). Pelestarian kakatua kecil jambul kuning juga hendaknya dilakukan dan dibarengi dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Kolaborasi antar stakeholder menjadi kunci utama dalam kegiatan pelestarian kakatua kecil jambul kuning. Kolaborasi yang telah berjalan akan terus ditingkatkan sekaligus menggandeng instansi terkait lainnya. Peserta sepakat segera menyusun bentuk/format kolaborasi yang lebih kongkret terkait peran serta para pihak. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Buaya Terperangkap di Saluran Irigasi Berhasil Dievakuasi

Kuasing, 9 Desember 2018. Camat Benay melaporkan tentang adanya Buaya yang terperangkap di saluran Irigasi persawahan di Desa Talontam Kec. Benay, Kab. Kuansing, Prov. Riau. Kepala Balai Besar KSDA Riau segera mengirimkan Tim Rescue ke lokasi TKP untuk menangani masalah tersebut sebelum jatuh korban jiwa. Kepala Resort Petai Ar Azmi tiba di lokasi pada pukul 15.10 WIB dan mendapati Buaya telah di tangkap warga serta diamankan di kantor Polsek Benay. Tidak berselang lama, Kepala Seksi Wilayah l, Laskar Jaya Permana bersama anggota tambahan tiba di lokasi TKP dan melakukan koordinasi dengan Camat, Polsek Benay dan Kepala Desa Talontam untuk mengamankan satu ekor Buaya Muara (Crocodylus porosus) dengan panjang berkisar 3 meter. Berdasarkan observasi yang dikumpulkan dan menyaksikan kondisi lapangan, Buaya muncul akibat meluapnya volume air Sungai Kuantan, sehingga Buaya terjebak masuk ke aliran irigasi. Informasi yang diperoleh dari Kepala Desa menyebutkan setidaknya ada 5 (lima) ekor Buaya yang terjebak di saluran sekunder irigasi. Tim segera melakukan evakuasi dan menitipkan satwa tersebut di lembaga konservasi Kasang Kulim sebelum nantinya kembali dilepasliarkan. Langkah selanjutnya Tim segera memasang spanduk rawan Buaya dan melakukan sosialisasi serta melakukan pendalaman tentang jumlah satwa Buaya secara pasti untuk kemudian akan dilakukan upaya evakuasi. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Dirjen KSDAE di COP24 UNFCCC Katowice - Polandia : Kontribusi Forestry Private Sectors dalam Mitigasi Perubahan Iklim

Katowice, 12 Desember 2018. Direktur Jenderal KSDAE Wiratno menjadi keynote speaker di Paviliun Indonesia pada COP 24 UNFCCC, Refleksi Implementasi Paris Agreement, Katowice, Polandia. Tema yang dipaparkan Wiratno “Forestry Private Sector Contribution to Climate Change Mitigation” mendapat sambutan positif dari peserta yang berada di Paviliun Indonesia karena kawasan konservasi seluas 27,14 juta Ha yang dikelilingi 6.381 desa sangat berpotensi berperan dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemitraan konservasi maupun perhutanan sosial di daerah penyangga kawasan konservasi. "Saya tekankan pentingnya kolaborasi dengan masyarakat seperti di Tangkahan, dimana terbukti dengan ekowisata berbasis masyarakat mampu merubah para illegal loggers menjadi pelaku utama ekowisata selama 18 tahun sejak tahun 2000” ucap Wiratno. Wiratno juga menambahkan Hutan Kemasyarakatan (HKM) Kali Biru Kulonprogo Yogya juga mampu menggerakkan ekonomi desa melalui desa wisata serta di HKM Tebing Siring Tangkahan mampu merubah alang - alang jadi agroforestry berbasis karet. Contoh konkrit lainnya seperti kalibiru, restorasi di SM Paliyan, restorasi HKM Tebing Siring, Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan, juga pemanfaatan teknologi untuk anti kanker di TWA Teluk Kupang dan masih banyak lagi ucap Wiratno. Keberhasilan – keberhasilan yang disampaikan Wiratno adalah hasil kerja kolektif berkolaborasi dengan semua stakeholder, yang tentu dimulai dari membangun kesadaran bersama, membangun visi dan strategi bersama serta ada proses pembelajaran multipihak yang dikawal dengan kemampuan leadership multipihak dan multilayer yang kuat dan konsisten. Kolaborasi ini hanya bisa dibangun melalui proses kerjasama yang menumbuhkan situasi saling percaya (mutual trust) atau sebaliknya, dengan adanya trust, maka kerjasama akan meningkat dan selanjutnya menumbuhkembangkan tingkat-tingkat kepercayaan yang semakin tinggi. Tak lupa Wiratno juga menyampaikan pentingnya pengelolaan hutan secara berkelanjutan bagi perubahan iklim yaitu dimulai dari skala kecil, memberikan peluang keuntungan dari sisi ekonomi, hadirnya local champion, kemitraan konservasi dan penggunaan teknologi yang tepat guna. Hal - hal tersebut terintegrasi sebagai pendekatan kunci untuk mencapai keberlanjutan. Paviliun Indonesia menjadi bagian dari soft diplomacy Indonesia pada COP 24 dan sudah berlangsung selama 4 tahun berturut – turut dan juga menjadi “rumah informasi” bagi delegasi negara – negara di dunia tentang berbagai upaya mitgasi, adaptasi, kebijakan, aturan dan implementasi perubahan iklim. Full Artikel tentang kolaborasi dapat di klik pada link sebagai berikut : Kontribusi Forestry Private Sectors dalam Mitigasi Perubahan Iklim: Tantangan dan Peluang Sumber : Wiratno - Direktur Jenderal KSDAE
Baca Berita

Menghabiskan Sehari di CA Manggis dan CA Besowo

Kediri, 12 Desember 2018. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) Nandang Prihadi ikut berpatroli ke Cagar Alam (CA) Manggis diiringi rasa penasaran dengan suksesi di bekas jalan aspal (11/12). Nandang menyaksikan langsung perubahan jalan aspal yang kini telah dipenuhi vegetasi perintis dan semak. Pesona Amorphophallus paeniifolius si bunga bangkai di dekat pal 8 menjadi rasa penasaran selanjutnya yang secara bersamaan mucul beberapa individu, 8 individu tumbuh fase vegetatif dan 4 individu sedang mengalami fase generatif. Meskipun sudah mulai membusuk, pesona bunga bangkai tidak berkurang. Ditambah lagi latar belakang Pohon Beringin dan Pohon Leses yang menjadi tempat peraduan ribuan Kalong raksasa. Dengan tepukan tangan dan kehadiran kami membuat Kalong Kalong bangun dari tidurnya dan menggaduhkan suasana dengan kepakan sayap dan suara berdecitnya. Nandang melanjutkan patroli dengan memasuki kawasan menuju banir raksasa yang menopang Pohon Leses rumah Kalong dan menembus hutan melewati bekas jalan dan keluar di pal 20. Beberapa jenis Jamur mulai tumbuh subur dilantai hutan dengan bentuk dan warna yang berbeda. Dari pal 20 menuju pal terakhir dijumpai Pohon Flamboyan sedang berbunga dan Jambu hutan yang berbuah. Tak jauh dari pal 21, terlihat liana berduri yang menurut kearifan lokal merupakan obat penyakit perut. Liana yang bernama Ribandil itu dapat diminum airnya yang keluar dari batangnya. Sangat menyegarkan dan cukup untuk mengobati dahaga setelah berkeliling kawasan. Perjalanan dari CA Manggis dilanjutkan ke CA Besowo dengan tujuan melihat lahan bekas kebakaran hutan di barat kawasan. Saat ini lahan tersebut sudah menjadi areal terbuka tinggal tunggul tunggul Mahoni. Perhutani telah melaksanakan penebangan di akhir musim kemarau. Di selatan kawasan dijumpai beberapa semai Kemiri yang sengaja ditanam untuk mengamankan kawasan dari penggarap yang terlalu dekat dengan pal batas. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Sekditjen KSDAE Bahas Penanganan Keterlanjuran Permasalahan Jalan dan Sarana Komunikasi di TN Bromo Tengger Semeru

Malang, 12 Desember 2018. Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru gelar Rapat kordinasi pembahasan penanganan keterlanjuran permasalahan jalan dan sarana komunikasi di dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di aula Kantor Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru (10/12). Rapat di hadiri 50 (lima puluh orang) peserta yang merupakan perwakilan dari TNBTS, Polres Probolinggo, Armada II Angkatan Laut Surabaya, Inteldam V Brawijaya, Satuan Komunikasi Lanudal TNI AL Juanda Surabaya, Hubdam V Brawijaya, Kogartap III Surabaya (Garnizun), Sekda Propinsi Jawa Timur, Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur, Perum Perhutani KPH Probolinggo, Bappeda Kabupaten Malang, Dinas PU dan Tata Ruang Kabupaten Lumajang, Dinas PU Bina Marga Kabupaten Malang, Dinas PU Bina Marga Kabupaten Pasuruan, Dinas PU dan Penataan Ruang Kabupaten Probolinggo, PT PLN UP2B Jawa Timur dan Subdit Pemanfataan Kawasan Strategis Direktorat PIKA KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sekretaris Direktorat Jenderal Konservas Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ir. Herri Subagiadi, M.Sc., membuka kegiatan didampingi Kepala Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru Ir. John Kennedie, MM. Setditjen KSDAE menyampaikan Apresiasi kepada TNBTS atas prakarsa pengelolaan TNBTS yang melibatkan stakeholder serta progress untuk menangani permasalahan dan tantangan di dalam dan sekitar kawasan dan Apresiasi kepada mitra TNBTS sebagai stakeholder yang turut berperan serta dalam kelola kawasan konservasi. Lebih lanjut Sekditjen KSDAE menyampaikan bahwa sosialisasi prinsip kerjasama pembangunan strategis yang tidak dapat dielakkan, memantapkan koordinasi antar pihak, dan mengembangkan kolaborasi pengelolaan TNBTS. Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa Kawasan konservasi adalah “natural capital” sekaligus “national treasure”. Biodiversity dan bioprospecting akan menjadi tulang punggung dalam bidang pangan, kesehatan dan energi. Hal ini akan dapat terwujud melalui Pengelolaan Kolaboratif sebagai salah satu strategi pengelolaan kawasan konservasi ke depan. Kebutuhan kolaborasi dalam pengelolaan Kawasan Konservasi (TNBTS) merupakan hal yang urgent mengingat pengelolaan sebuah kawasan konservasi tidak dapat dilakukan mandiri oleh TNBTS dan fakta di lapangan terdapat kebutuhan strategis non kehutanan yang tidak dapat terelakan ada di dalam kawasan TNBTS seperti : Jalan, Tower Repeater, sarana prasarana lainnya. Kolaborasi yang dilaksanakan oleh TNBTS juga merupakan implementasi dari mandat pasal 4 Undang-undang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem serta PP 28 TAHUN 2011 DAN PP 108 TAHUN 2015. Kepala Balai Besar TNBTS menjelaskan bahwa dari 22 sarana dan prasarana non kehutanan yang berada di dalam kawasan TNBTS milik 15 Intansi baik sipil maupun militer baru 4 instansi yang sudah memiliki Perjanjian Kerjasama dengan TNBTS sebagaimana diamanatkan oleh P 85 / Menhut-II/ 2014 sebagaimana telah diubah dalam Permenlhk no. p.44/Menlhk/Setjen/kum.1/6/2017 tentang tata cara kerjasama penyelenggaraan KSA dan KPA, yaitu Detasemen Intledam V Brawijaya, Komando Armada II TNI AL Surabaya, Garnizun tetap III Surabaya, dan Perhubungan Daerah Militer V Brawijaya. Diakhir acara ditandatangani rumusan dan hasil kesepakatan bersama peserta Rapat Koordinasi Pembahasan Penanganan Keterlanjuran Permasalahan Jalan Dan Sarana Komunikasi di Dalam Kawasan TNBTS oleh 22 (dua puluh dua) orang yang merupakan perwakilan instansi yang hadir. Rumusan dan hasil kesepakatan tersebut di harapkan dapat diimplementasikan oleh Instansi yang hadir dan belum memiliki nota perjanjian kerjasama dengan TNBTS sebagai wujud implementasi kolaborasi sekaligus taat produk hukum Republik Indonesia yang mengatur mengenai sarana prasarana non Kehutanan yang ada di dalam kawasan TNBTS. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Menampilkan 6.433–6.448 dari 11.140 publikasi