Rabu, 22 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Pelepasan Purna Tugas Pegawai BKSDA Sulteng

Palu, 14 Desember 2018. Balai KSDA Sulawesi Tengah mengadakan acara pelepasan dan perpisahan beberapa pegawainya (14/12) yang di tahun 2018 ini 3 pegawai Balai KSDA Sulawesi Tengah memasuki purna tugas (pensiun). Ketiga pegawai an. Sudjono Pardjan dari bidang perlindungan, pengawetan dan perpetaan, Darius Rante dari Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Pangi dan Samsi Nurdin dari SKW II Poso. Sedangkan seorang penyuluh an. Azizah Baroroh dari SKW I Pangi akan mutasi ke Balai KSDA Jambi mengikuti suaminya yang bertugas di daerah tersebut. Acara yang diselenggarakan di halaman kantor ini dihadiri seluruh pegawai dan juga pensiunan Balai KSDA Sulawesi Tengah. Dalam sambutannya Noel Layuk Allo selaku Kepala Balai mengungkapkan, mengapresiasi para pegawainya yang sudah memasuki masa pensiun tersebut karena menjelang akhir masa tugasnya, mereka tetap semangat untuk menjalankan tugasnya masing-masing. Acara ini menurut beliau bukan perpisahan melainkan pelepasan, karena diharapkan masing-masing akan berjumpa kembali pada suatu kesempatan. Dalam kesempatan yang sama Kepala Balai juga menitipkan pesan pada Azizah untuk senantiasa semangat dan menjaga integritas seperti yang dilakukannya saat bertugas di SKW I Pangi. Dalam pelepasan itu, Sudjono Pardjan yang mewakili rekan-rekannya yang lain menyampaikan pesan dan kesan. Beliau mengungkapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Kepala Balai, Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan seluruh pegawai yang telah memberikan arahan, kritikan maupun bantuan selama masih aktif bertugas di kantor Balai KSDA Sulawesi Tengah. Beliau juga bercerita banyak mengenai pengalaman-pengalaman yang sudah dialaminya baik suka dan duka yang membuat suasana semakin haru. Acara pelepasan tersebut dilanjutkan dengan pemberian kenang-kenangan dari kantor balai serta ditutup dengan acara foto bersama seluruh pegawai Balai KSDA Sulawesi Tengah. Tidak ada kegembiraan yang menyamai perjumpaan dengan sahabat, dan tidak ada kesedihan yang menyamai perpisahan dengan mereka. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Bersama Lepasliarkan Penyu di Teluk Palu

Palu, 15 Desember 2018. Kepala Balai KSDA Sulawesi Tengah didampingi Kepala Seksi Wilayah I Pangi, bersama-sama dengan perwakilan Seksi 2 Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPPLHK) Wilayah Sulawesi, perwakilan Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar wilayah Kerja Palu, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), Polisi Kehutanan, Pemilik Penyu, dan awak media melakukan pelepasliaran penyu di Teluk Palu. Satwa yang dilindungi dan terancam punah itu merupakan hasil sitaan petugas BKSDA Sulawesi Tengah dalam kegiatan operasi tumbuhan dan satwa liar (TSL) di Kabupaten Parigi Moutong sebelumnya. Penyu yang dilepaskan berjumlah 4 (empat) penyu yang terdiri dari 1 (satu) ekor penyu sisik (Eretmochelys imbricate) dan 3 (tiga) ekor penyu hijau (Chelonia mydas). Jumlah penyu sitaan ini awalnya berjumlah 10 (sepuluh) ekor , 1 (satu) ekor mati dilokasi, 4 (empat) ekor dilepasliarkan di teluk palu dan sisanya telah lebih dulu dilepasliarkan di pantai Kayu Bura Sail Tomini di kabupaten Parigi Moutong. Petugas dari BPSPL memasang alat pelacak berupa microchip pada tubuh penyu sebelum dilepasliarkan yang berfungsi untuk mendeteksi keberadaan penyu hingga dapat diketahui apakah penyu itu berada dilaut atau diamankan oleh pihak lain. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Musda ke-3 FK31 Sumatera Utara

Medan, 14 Desember 2018. Siang itu, tepatnya Kamis, 13 Desember 2018, bertempat di Garuda Plaza Hotel Medan, kader-kader konservasi yang tergabung dalam Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Provinsi Sumatera Utara, menggelar acara Pemberdayaan Kader Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dalam Rangka Percepatan Implementasi Perhutanan Sosial melalui Musyawarah Daerah (Musda) FK3I Sumatera Utara. Kegiatan yang diikuti oleh 55 orang perwakilan kader konservasi dari seluruh kabupaten di Provinsi Sumatera Utara, berlangsung selama 3 hari (tanggal 13 s.d 15 Desember 2018) difaslitasi oleh Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Wilayah Sumatera Utara, Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan. Kepala Balai PSKL Wilayah Sumatera yang diwakili Kepala Seksi Kemitraan Lingkungan, Ujang Barata, S.Hut., M.Sc., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Balai PSKL Wilayah Sumatera sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya aktif dalam melakukan upaya-upaya pemberdayaan kader lingkungan hidup dan kehutanan, mengingat keberadaan dan peranan kader-kader tersebut sangat menbantu untuk meminimalkan tekanan dan gangguan pada keseimbangan ekosistem alam. Kader konservasi adalah bagian dari kader lingkungan hidup dan kehutanan. “Oleh karena itu kami menyambut baik keinginan kader-kader konservasi yang tergabung dalam FK3I Sumatera Utara untuk melaksanakan Musyawarah Daerah (Musda) ke 3, dan Balai PSKL membantu memfasilitasi penyelenggaraan Musda tersebut,” ujar Ujang Barata. Sementara itu Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For., yang didaulat untuk membuka acara, dalam sambutannya menyampaikan bahwa berbagai upaya telah dilakukan untuk pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup, namun masih banyak permasalahan yang belum diatasi secara menyeluruh. Salah satu permasalahan pokok tersebut antara lain masih rendahnya pemahaman dan kepedulian masyarakat akan pentingnya pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup secara berkesinambungan. “Saat ini kita semua hadir dan berkumpul disini untuk mendukung penyelenggaraan MUSDA FK3I Provinsi Sumatera Utara dalam rangkaian kegiatan pemberdayaan kader lingkungan hidup dan kehutanan dalam rangka percepatan implementasi Perhutanan Sosial. Kami sangat berharap agar pertemuan ini dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat,” ujar Hotmauli. Pembukaan Musda ke 3 FK3I Sumatera Utara, turut dihadiri Kepala Bidang Teknis Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Ir. Irzal Azhar, M.Si., mewakili Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser dan yang mewakili Kepala Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara. Diharapkan di akhir Musda ini akan terpilih kepengurusan baru FK3I Sumatera Utara Periode 2018-2022 beserta dengan Program Kerjanya. Sumber : Evan - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Pemusnahan Barang Bukti oleh BKSDA Jambi dan Kejaksaan

Merangin, 13 Desember 2018. SKW I BKSDA Jambi bersama dengan Kejaksaan Negeri Merangin melakukan pemusnahan barang bukti kejahatan dibidang kehutanan. Barang bukti yang dimusnahkan berupa 2 lembar kulit Harimau beserta tulangnya dan senpi rakitan beserta amunisi sebanyak 2 unit. Barang bukti diatas merupakan hasil tangkapan SKW I BKSDA Jambi yang proses hukum dan barang buktinya dilimpahkan kepada Kejaksaan Negeri Kabupaten Merangin. Selanjutnya barang bukti yang dimusnahkan berupa produk minyak rambut palsu yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan narkotika jenis sabu-sabu. Barang bukti tersebut merupakan hasil tangkapan atau sitaan petugas Kejaksaan Negeri Kabupaten Merangin. Kegiatan pemusnahan dilakukan di halaman kantor Kejaksaan Negeri Merangin dihadiri oleh Kajari Merangin, Asisten 2 Merangin, Perwakilan Polres Merangin, Kanit Jibom Polda Jambi, Lapas Merangin dan SKW I BKSDA Jambi. SKW I BKSDA Jambi diwakilkan oleh Polhut SKW I Sdr. Ikawa dan Penyuluh Pertama Kehutanan Sdri. Desi Anggraini. Pemusnahan 2 lembar kulit Harimau beserta tulang dan produk palsu dilakukan dengan cara dibakar sedangkan senjata api rakitan dilakukan dengan pemusnahan dengan dilakukan pemotongan menggunakan gerinda. Kepala SKW I BKSDA jambi, Udin Ikhwanuddin mengatakan “SKW I bersama dengan Kejaksaan Merangin sudah memusnahkan barang bukti yang waktu itu kami sita dari tersangka. Alhamdulillah acara pemusnahan barang bukti berjalan lancar.” Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Bekantan Diselamatkan Warga, BKSDA Kalsel Beri Apresiasi

Alabio, 12 Desember 2018 − Bekantan (Nasalis larvatus) masih menjadi salah satu satwa yang menarik perhatian warga di sebagian wilayah di Kalimantan Selatan (Kalsel). Kali ini terjadi di Desa Rantau Karau Hulu, Kec. Sungai Pandan, Alabio, Kab. Hulu Sungai Utara (HSU). Masyarakat yang melihat bekantan yang nampak kelelahan berenang di daerah rawa, kemudian menyelamatkannya. Satwa tersebut kemudian dibawa ke rumah salah satu warga, yang bernama Norman. Melalui layanan pengaduan (call center) anggota Polsek Alabio, Bapak Robby, menginformasikan penangkapan bekantan oleh warga ke BKSDA Kalsel. Tim BKSDA Kalsel yang terdiri dari petugas Resort Banua Anam dan Staf Balai KSDA Kalsel, kemudian turun menuju TKP pada hari itu juga. Sesampainya di lokasi, dengan didampingi oleh anggota Polsek Alabio, Tim kemudian menuju rumah warga. Di tempat itu sudah ramai masyarakat menonton bekantan yang diketahui berjenis kelamin jantan. Mereka berbondong-bondong menyaksikan bekantan dikarenakan baru pertama kali dapat melihat langsung jenis primata unik yang berhidung mancung dan berbulu kuning keemasan itu. Kondisi bekantan saat itu dalam keadaan sehat, aktif bergerak, mau minum dan makan daun-daun yang disediakan warga. Adapun warga yang menangkap bekantan adalah Bapak Norman, beralamat di Desa Rantau Karau Hulu No.54 Kec. Sungai Pandan, Alabio, Kab.HSU. Bapak Norman menjelaskan alasannya menangkap bekantan itu adalah semata-mata untuk menyelamatkannya dari kelelahan akibat terlalu lama berenang (hampir tenggelam). Ia menuturkan bahwa bekantan itu terlihat sendirian berenang di daerah rawa yang lumayan luas sedangkan pohon-pohon yang dapat dipanjatnya sudah tidak ada lagi. Menurut Kepala BKSDA Kalsel, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., fenomena masyarakat menyelamatkan binatang dilindungi seperti bekantan, sudah beberapa kali terjadi. Ini murni menunjukkan tingkat kepedulian yang besar masyarakat akan kelestarian satwa maskot Kalsel ini. Namun yang perlu diingat, tindakan warga harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Jika memang bekantan hanya melintas dan tidak merugikan warga (merusak tanaman budidaya), biarkan dia hidup bebas dan jangan ditangkap, imbuhnya. Tim berterimakasih kepada bapak Norman atas tindakan penyelamatannya. Tim juga melakukan sosialisasi kepada warga mengenai bekantan sebagai hewan yang dilindungi undang-undang, yang mana keberadaannya tidak boleh diganggu, ditangkap dan diperjualbelikan. Mengingat disekitar desa tersebut tidak ada hutan dan koloni bekantan maka tim melakukan evakuasi ke Cagar Alam Gunung Kentawan di Desa Lumpangi. Pada tanggal 13 Desember 2018 , sekitar pukul 01.30 WITA bekantan berhasil dilepasliarkan dengan selamat di daerah CA Gunung Kentawan pada sisi sebelah timur. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Pelepasan Purna Tugas Tiga Pejuang Konservasi Balai Besar KSDA Riau

Pekanbaru, 14 Desember 2018. Bertempat di aula Gajah Balai Besar KSDA Riau pagi menjelang siang dilakukan pelepasan tiga pejuang konservasi Balai Besar KSDA Riau. Tiga pejuang konservasi yang telah memasuki masa pensiun tersebut adalah Nugroho Kodrat Ariyanto bertugas selama 31 tahun 9 bulan, Joko Negoro bertugas selama 31 tahun 1 bulan dan Ilyas yang telah bertugas selama 37 tahun 6 bulan. Kepala Balai Besar KSDA Riau memimpin acara pelepasan tersebut menyampaikan penghargaan setinggi tingginya dan mengharapkan untuk generasi penerus agar meneladani etos kerja para pejuang konservasi tersebut, yang bekerja dengan ikhlas, keras dan disiplin. Selalu bersyukur dan tekun melaksanakan tugasnya. Terima kasih atas dedikasinya terhadap dunia konservasi bapak-bapak.... Jiwa konservasi selalu ada dalam diri kita, konservasi ada di mana saja.... Salam konservasi!!!! CONSERVATION #everyonecandoit Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Resmikan Wisma Cinta Alam, Sekditjen KSDAE lakukan Pembinaan ASN Balai TN Rawa Aopa Watumohai

Konawe Selatan, 14 Desember 2018. Sekretaris Ditjen KSDAE, Ir. Herry Subagiadi, M.Sc dalam rangka kunjungan kerja ke Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) selanjutnya adalah meresmikan Wisma Cinta alam/ Tourist Information Center dan melakukan Pembinaan Aparatur Sipil Negara terkait 10 cara baru kelola kawasan konservasi. Dalam acara peresmian tersebut yang di ditandai dengan penandatanganan prasasti ini, Sekditjen KSDAE yang di dampingi oleh Kabag Kepegawaian dan Ortala memberikan arahan – arahan terkait 10 cara baru kelola kawasan konservasi kepada seluruh ASN lingkup Balai TN Rawa Aopa Watumohai yang berjumlah 92 orang. Beliau menuturkan dalam pengelolaan kawasan konservasi harus melibatkan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan konservasi serta harus mempertimbangkan prinsip-prinsip penghormatan terhadap hak asasi manusia. “Cara baru tersebut juga sebagai upaya menemukan model kelola kawasan konservasi yang didasarkan pada nilai-nilai adat dan budaya setempat, perubahan geopolitik, serta sosial ekonomi yang terjadi di sekitar kawasan konservasi sebagai dampak dari pembangunan di berbagai bidang. Selain melibatkan masyarakat, kepemimpinan yang kuat menjadi syarat utama menjalankan cara baru kelola kawasan konservasi dengan dukungan semua level. Mulai pusat, daerah, hingga tingkat tapak. Untuk itu, kita akan terus membangun sinergisitas lintas sektoral sejak dari tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring, serta evaluasi. Begitu pula para pihak yang bekerja sama, harus mampu menerapkan empat prinsip governance (tata kelola pemerintah), yaitu partisipasi, keterbukaan, tanggung jawab kolektif, juga akuntabilitas. Ilmu pengetahuan dan teknologi serta sistem aplikasi Resort Based Management juga penting sebagai dasar penerapan cara baru kelola kawasan konservasi. Sebagai implementasinya, penerapan role model sebagai prototype yang dilaksanakan secara partisipatif. Sumber : Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
Baca Berita

Penyerahan Bantuan Kepada Masyarakat Kereng Bangkirai Oleh Balai TN Sebangau

Palangka Raya, 14 Desember 2018. Pada tanggal 9 Desember 2018, pihak Balai TN Sebangau telah menyerahkan bantuan ekonomi produktif kepada dua kelompok masyarakat binaan Balai TN Sebangau di Kelurahan Kereng Bangkirai, Kota Palangka Raya. Bantuan tersebut secara simbolis diserahkan oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Kalimantan Tengah (Dr. Guntur Talajan, S.H, M.Pd) didampingi oleh Kepala Balai TN Sebangai (Ir. Anggodo, MM) dan Kepala SPTN Wilayah I (Lisna Yulianti, S.Hut, M.Sc). Dua kelompok tersebut adalah kelompok perahu getek wisata Maju Mandiri dan kelompok nelayan tradisional Kereng Permai. Secara administratif letak Kelurahan Kereng Bangkirai berbatasan secara langsung dengan kawasan TN Sebangau dan masyarakat Kereng Bangkirai dalam kesehariannya memiliki interaksi yang cukup tinggi dengan TN Sebangau. Interaksi tersebut diantaranya dalam bentuk mencari ikan di zona tradisional dan jasa transportasi wisata yang ditawarkan oleh masyarakat untuk berkunjung ke kawasan TN Sebangau. Dalam penentuan jenis bantuan yang akan diberikan, sebelumnya telah dilakukan diskusi antara pihak Balai TN Sebangau dan kelompok masyarakat untuk didata potensi, keahlian yang dimiliki oleh anggota kelompok dan jenis bantuan apa yang sangat dibutuhkan oleh kelompok untuk dapat meningkatkan pendapatan. Bantuan yang diberikan kepada kelompok nelayan Kereng Permai adalah alat tangkap ikan tradisional mengingat mayoritas masyarakat Kereng Bangkirai bermata pencaharian sebagai nelayan. Bantuan yang diberikan kepada kelompok perahu getek wisata maju mandiri adalah 6 buah kano yang nantinya akan digunakan untuk meningkatkan atraksi wisata di TN Sebangau, khususnya Resort Sebangau Hulu. Diharapkan bantuan ini dapat dikelola dengan baik oleh kelompok masyarakat sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sumber : Balai Taman Nasional Sebangau
Baca Berita

Komunitas Medan Hash Sambangi TWA Sibolangit

Sibolangit, 13 Desember 2018. Bermula dari salah seorang anggota Medan Hash, Dr. Tomy Edy yang bertugas di Puskesmas Sibolangit pernah berkunjung ke Taman Wisata Alam Sibolangit, untuk menyampaikan rencana Medan Hash yang akan melaksanakan Jungle Track(Jelajah Hutan) TWA Sibolangit. Kedatangan salah seorang anggota Medan Hash ini sebagai bagian promosi yang dilakukan oleh petugas Resort TWA Sibolangit bersama Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Bagi orang yang penggemar olahraga sambil menikmati alam, maka olahraga Hash bisa menjadi alternatif pilihan. Olahraga ini dilakukan dengan cara berjalan sambil menelusuri rute yang cukup berat seperti hutan, sungai dan berbagai rute lainnya. Rute yang dilalui memiliki rintangan tersendiri dan jalur yang jarang dilalui. Sobekan kain atau kertas menjadi penanda jalan untuk menyelesaikan rute yang telah ditentukan oleh panitia. Hash biasanya dilakukan di pagi hari dan atau sore hari dengan rute yang ditempuh memakan waktu kurang lebih 1 sampai 2 jam. Komunitas Medan Hash sebagai salah satu contoh komunitas yang anggotanya berasal dari berbagai profesi pekerjaan seperti pengusaha dan konsultan dari berbagai tingkatan umur serta usia dari 30 tahun keatas. Komunitas Medan Hash ini telah berdiri sejak tahun 1973 dan memang sudah cukup lama dan sudah banyak anggotanya. Kunjungan ke TWA Sibolangit tanggal 10 Desember 2018, berjumlah 29 orang yang langsung dipandu oleh Ketua GMMedan Hash, Pencil Prick. Komunitas ini sangat antusias, mengapa ? Karena mereka menggangap TWA Sibolangit masih alami dan masih natural kondisi alamnya dengan adanya berbagai jenis pohon-pohon masih berukuran besar dan kelestariannya sangat terjaga, ungkap salah satu anggotanya Subjik Sigh yang diberi gelar hash dengan nama Babon dan merupakan juga GM Tiger Hash. Subjik Singh menyatakan kegembiraannya bisa mengunjungi TWA Sibolangit dan berencana akan segera mengajak keluarganya serta komunitas Hash lainnya yang berasal dari kota Medan, seperti : Sunday Hash dan Tiger Hash untuk berkunjung ke TWA Sibolangit. Selesai menjelajahi TWA Sibolangit, Kepala Resort TWA Sibolangit, Samuel Siahaan, SP. melakukan promosi wisata dan penyuluhan singkat tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Diakhir pertemuan, Kepala Resort TWA Sibolangit menyerahkan buku-buku Informasi tentang Konservasi Sumber Daya Alam, stiker serta botol air minum (tumbler). Sumber : Samuel Siahaan, S.P. - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Serius Garap Wisata Arung Jeram, Balai TN Kayan Mentarang Ajak Masyarakat Desa Binaan

Malinau, 13 Desember 2018. Sungai Bahau di kenal sebagai salah satu sungai dengan Riam Giram ekstrim di Malinau. Riak air yang ribut disertai panorama alam dengan hutan hijau akan dapat di nikmati sambil berolahraga. Tentu saja dengan mengembangkan wisata arung jeram. Wisata sambil berolahraga akan dapat segera di nikmati. Baru-baru ini Balai Taman Nasional Kayan Mentarang memberikan bantuan kepada masyarakat berupa 2 unit perahu karet untuk keperluan wisata arung jeram dan 2 unit ketinting untuk aksesibilitas wisata arung jeram di sungai Bahau SPTN wilayah II Long Alango. Penyerahan di lakukan oleh Tamsil, S.Hut selaku Kepala SPTN II Long Alango yang mewakili Kepala Balai TNKM Ir. Johnny Lagawurin kepada Kelompok Masyarakat Desa Binaan "Dema Mading" Apau Ping. Tidak hanya di serahkan, Balai TNKM juga langsung memberikan pelatihan arung jeram kepada 20 orang masyarakat desa binaan yang berlangsung dari tanggal 4 hingga 6 Desember kemarin. Pelatihan dilaksanakan atas kerjasama dari Faderasi Arung Jeram Indonesia Kabupaten Banjarnegara Prvinsi Jawa Tengah dan Instruktur dari Tanjung Selor yg merupakan operator arung jeram. Dengan harapan agar dapat memudahkan pengembangan kedepan sehingga masyarakat terus bersemangat dalam mengembangkan potensi wisata yang ada di daerahnya. "Kita tidak menyerahkan bantuan begitu saja, kita punya tanggung jawab hingga pelatihan bagi masyarakat. Tujuannya agar mereka terus bersemangat mengembangkan potensi di daerah ini. Salah satunya potensi wisata arung jeram." Ungkap Tamsil. "Inilah salah satu bukti keseriusan Balai TNKM dalam mendukung pengembang potensi di sekitar kawasan penyangga TNKM di Kaltara ini. " lanjutnya. Satu persatu obyek wisata di TNKM mulai di kembangkan dengan melihat kondisi dan potensi di lapangan. Tentu bukan hal yang mudah untuk mendorong pengembangan tersebut, mengingat kondisi aksesibilitas yang terbatas serta faktor cuaca yang tidak menentu menjadi bagian dari tantangan di lapangan. Belum lagi dari segi pembiayaannya yang tak kalah ekstrim. Oleh karena itu, harapnya kedepan ada kerjasama antara seluruh pihak , baik dari Balai TNKM, pemerintah daerah, pemerintah provinsi hingga ke swasta dalam pengembangan potensi wisata yang ada di sekitar kawasan penyangga maupun TNKM yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Sumber : Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Bahas Peta Laut TN Wakatobi, Balai TN Wakatobi Gandeng PEH Muda

Wakatobi, 13 Desember 2018. Balai Taman Nasional Wakatobi (BTNW) gelar sosialisasi peta laut (peta wisata bahari) Taman Nasional Wakatobi (TNW) di Aula Hotel Wakatobi. Acara ini dihadiri POS TNI Angkatan Laut, Satuan Polair Polres Wakatobi, Syahbandar Pelabuhan Wanci, para pelaku usaha wisata, forum nelayan, Lembaga Pengkajian Teknologi Kelautan (LPTK) Wakatobi, Kampus Akademi Komunitas Kelautan dan Perikanan (AKKP) Wakatobi dan para pihak lainnya. Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I membuka acara mewakili Kepala Balai Taman Nasional. Kepala SPTN Wilayah I, Union menyampaikan bahwa sosialisasi peta laut (peta wisata bahari) TNW untuk menyebarluaskan peta laut (peta wisata bahari) TNW yang dibuat oleh Pusat Hidrografi dan Oceanografi TNI AL (Pushidrosal) kepada para pihak dalam melaksanakan aktifitas wisata dan pelayaran di perairan TNW. Jimi Purnama Putra selaku Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Muda pada Balai Taman Nasional Wakatobi menyampaikan materi sosialisasi peta laut (peta wisata bahari) TNW dengan latar belakang pembuatan peta laut (peta wisata bahari) TNW, proses pembuatan peta laut (peta wisata bahari) TNW dan hasil peta yang telah dibuat oleh Pushidrosal. Jimi Purnama Putra menekankan bahwa pembuatan peta laut (peta wisata bahari) TNW adalah hasil kerjasama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Kementerian Perhubungan dan Pushidrosal. Peta laut yang dibuat terdiri dari Peta Wisata Bahari dan Peta Tematik Alur Pelayaran, Sarana Bantu Navigasi-pelayaran dan daerah Labuh kapal di alur pelayaran pelabuhan Wanci dan Pelabuhan Kaledupa. Namun, saat ini peta yang sudah tersedia adalah peta wisata bahari TNW dari Pushidrosal sedangkan Peta Tematik Alur Pelayaran, Sarana Bantu Navigasi-pelayaran dan daerah Labuh kapal di alur pelayaran pelabuhan Wanci dan Pelabuhan Kaledupa masih menunggu proses penetapan dari Menteri Perhubungan. Peta laut (peta wisata bahari) TNW dibuat sebagai tindak lanjut dari adanya beberapa kasus Kapal Pesiar atau Kapal barang/penumpang yang menabrak karang di perairan Indonesia. Beberapa diantaranya, pihak kapal selalu beralasan ketiadaan peta laut di beberapa perairan Indonesia sebagai salah satu alasan insiden menabrak karang ketika insiden akan dikasuskan atau dituntut ganti rugi. Oleh karenanya mengantisipasi kasus serupa, Kementerian LHK mengintruksikan kepada 8 pengelola kawasan konservasi di perairan (salah satunya Taman Nasional Wakatobi) untuk memprogramkan pembuatan peta laut. Apresiasi dari peserta bahwa inisiasi pembuatan peta laut (peta wisata bahari) TNW akan sangat bermanfaat bagi lalu lintas kapal di perairan TNW, bagaimana aspek penegakan hukum bagi kapal yang berlayar bukan di daerah alur lintas kapal yang telah ditetapkan, dan bagaimana mengontrol dan mengetahui pergerakan kapal yang berlayar di perairan TNW. Sumber : Jimi - PEH Muda Balai Taman Nasional Wakatobi
Baca Berita

Penyempurnaan Rencana Pengelolaan CA Gunung Kentawan Dengan Konsultasi Publik

Kandangan, 11 Desember 2018 – Balai KSDA Kalimantan Selatan kembali mengadakan konsultasi publik review rencana pengelolaan CA Gunung Kentawan di Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Konsultasi publik ini dihadiri unsur dinas instansi terkait lingkup Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kepala Desa Hulu Banyu dan Lumpangi, LSM, TNI/POLRI, serta BKSDA Kalsel. Pengelolaan CA Gunung Kentawan mempunyai visi ”Pusat Konservasi Anggrek Endemik Bernilai Tinggi di Provinsi Kalimantan Selatan”, dengan misi : pelestarian ekosistem karst, perlindungan, pengawetan, penelitian, dan pengembangan tanaman anggrek endemik, pelestarian satwa dilindungi, serta pemanfaatan jasa lingkungan secara lestari berbasis masyarakat. “Konsultasi Publik ini bertujuan memperoleh masukan serta saran dari para pihak guna penyempurnaan draft final review RP CA Gunung Kentawan”, ujar Mirta Sari, S.Hut, M.P Kasi Konservasi Wilayah I Pelaihari. “Selain itu tujuan pengelolaan CA Gunung Kentawan ialah untuk mempertahankan ekosistem karst, menurunkan ancaman eksploitasi anggrek, mengembangkan potensi anggrek, memperbaharui dan menyediakan data jenis satwa dilindungi, mempertahankan habitat satwa dilindungi, meningkatkan peran serta para pihak, serta meningkatkan kesadaran, peran aktif dan manfaat bagi masyarakat sekitar.”, timpal Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc, Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc juga mengatakan, “Kegiatan ini sebagai langkah mengikuti dinamika yang berkembang, baik dari aspek hukum maupun aspek sosial budaya. Dipilihnya anggrek endemik sebagai pusat kegiatan karena kawasan CA Gunung Kentawan masih banyak ditemui anggrek yang hidup secara alami di alam. Peran para pihak khususnya Pemda HSS akan dapat mempercepat pencapaian tujuan yang sudah dibuat.”Drs. Hubriansyah selaku pejabat Sekda Kab. HSS mewakili Bupati mendukung kegiatan pengelolaan CA Gunung Kentawan yang tertuang dalam dokumen RPJP CA Gunung Kentawan Periode Tahun 2019 – 2028. Kepala Bappelitbangda Kab. HSS, Drs. H. Iwan Friady, M.AP menyampaikan bahwa Pemda Kab. HSS akan memberikan tempat bagi perlindungan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Pencanangan Wisata Alam Mangrove Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai oleh Sekditjen KSDAE

Lanowulu, 14 Desember 2018. Sekretaris Ditjen KSDAE, Ir. Herry Subagiadi, M.Sc melakukan kunjungan kerja ke Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW). Dalam kunjungan ini, Sekditjen KSDAE yang didampingi oleh Kabag Kepegawaian dan Ortala beserta Kepala Balai TNRAW, Kepala Balai BKSDA Sulawesi Tenggara dan Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi pada hari pertamanya, Selasa, 11 Desember 2018 yaitu meninjau dan mencanangkan lokasi pengembangan wisata alam mangrove Lanowulu yang rencananya akan mulai dibangun pada awal tahun 2019 di tiga zona mulai dari Dermaga Lanowulu, Pondok Singgah dan Muara Lanowulu. Dalam kesempatan ini, sekitar 2 jam, Sekditjen KSDAE bersama rombongan berkeliling di kawasan mangrove muara lanowulu, mereka sempat berhenti beberapa kali untuk melemparkan alat pancing dan menikmati ekosistem mangrove yang ada di sana. Selain itu Sekditjen KSDAE juga menyampaikan kepada masyarakat muara lanowulu terkait pemanfaatan hutan mangrove tanpa harus merusaknya. Konsep yang dibangun adalah perjalanan wisata mangrove pada lingkungan alami dengan pembangunan sarpras buatan yang seminimal mungkin tanpa mengurangi kenyamanan pengunjung. Sebagai pengendali ruang, area di dalam kawasan mangrove didesain sebagai ruang public dimana pengunjung dapat menikmati atraksi alam mangrove yang tinggi dan rapat, menikmati aliran air sungai, melihat hilir mudik perahu nelayan serta memancing dengan nyaman di badan Sungai Lanowulu. Sarpras yang akan dibangun di dermaga lanowulu adalah shelter, menara pengamatan, darmaga, jembatan dan tracking mangrove serta tempat penambatan perahu. Di bagian hilir sungai, percabangan sungai Lanowulu memiliki potensi cukup besar untuk dimanfaatkan sebagai stasiun penelitian, wisata memancing dan pengawasan hilir mudik perahu yang dari sungai Lanowulu maupun Sungai Roraya yang menuju ke arah Muara Lanowulu. Untuk fungsi ini, di area tersebut sangat cocok dibangun sarpras pendukung berupa pondok singgah yang dapat dimanfaatkan oleh pengunjung maupun petugas. Area yang dirancang sebagai ruang usaha memiliki topografi datar dengan luasan 7 ha. Lahan ini berada di pinggir jalan poros Tinanggea-Lantari Jaya. Dengan posisi yang strategis ini ruang usaha dapat penangkap peluang ekonomi ramainya lalu lintas jalan raya dan menyediakan aneka kebutuhan pengunjung. Ruang usaha ini juga cukup terlindung dari perambatan api disebabkan terfragmentasi oleh sungai Lanowulu, mangrove dan jalan raya. Sumber : Balai Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai
Baca Berita

Inhouse Training Bagi Mahout Balai KSDA Sumatera Selatan

Palembang, 14 Desember 2018. Sudah tak asing lagi istilah ‘Mahout’ di Balai KSDA Sumatera Selatan. Dalam kesehariannya para mahout atau lebih seringnya disebut pawang gajah bertugas mengurusi seluruh aktivitas gajah jinak di Pusat Latihan Gajah (PLG) Padang Sugihan di Suaka Margasatwa Padang Sugihan dan Pusat Latihan Gajah Bukit Serelo di Hutan Suaka Alam Kelompok Hutan Isau-Isau. Tentu dalam pelaksanaan tugasnya terdapat prosedur yang harus dilakukan sehingga gajah-gajah jinak di PLG dapat berkembang dan hidup dengan sejahtera. Tantangan dalam pengelolaan gajah jinak cukup banyak mulai dari kesehatan, pakan, hingga keamanannya. Sumber daya manusia yang handal menjadi salah satu kunci terpeliharanya gajah jinak dengan baik. Oleh karena itu di bulan Desember 2018 Balai KSDA Sumatera melakukan inhouse training bagi mahout yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan para mahout dalam mengelola dan merawat gajah di PLG. Narasumber pada kegiatan ini terdiri dari Bapak Syamsuardi, Bapak drh M. Wahyu dan drh Diah Esti A. Pada kesempatan ini, para mahout juga berdiskusi bersama narasumber dalam menangani permasalahan pengelolaan di PLG. Kegiatan yang dilaksanakan selama 3 (tiga) hari ini cukup bermanfaat bagi pengelolaan gajah di PLG Padang Sugihan dan PLG Bukit Serelo. Sumber : Agnes Indra Mahanani - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Patroli Si Raja Hutan di Kerinci

Kerinci, 13 Desember 2018. Tim Satgas Mitigasi Konflik SKW I BKSDA Jambi dan KPHP Unit 1 Kabupaten Kerinci melakukan patroli gabungan di Dusun Tanah Teraleh Desa Masgo Kabupaten Kerinci. Patroli gabungan dilakukan untuk memonitoring keberadaan Harimau yang kerap muncul di Dusun Tanah Teraleh. Selain melakukan kegiatan patroli, tim juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar tentang TSL dan juga himbauan kepada masyarakat agar tidak beraktifitas sendirian di luar rumah apalagi di malam hari. Tim membunyikan meriam spritus di tempat yang merupakan tempat kemunculan harimau menurut penuturan masyarakat. Tim juga bersama masyarakat melakukan patroli setelahnya untuk memastikan harimau sudah tidak berkeliaran disekitar kebun dan pemukiman masyarakat. Setelah situasi dirasa kondusif dan aman, masyaraakt mulai kembali beraktifitas di kebun milik mereka. Untuk antisipasi kemunculan harimau, tim meminta warga agar memasang perangkap milik BKSDA Jambi di lokasi yang dianggap rawan kemunculan si raja hutan. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Rose Pulang ke Habitatnya

Sibolangit, 13 Desember 2018. Rose adalah Orangutan Sumatera (Pongo abelii), yang pada tanggal 6 Maret 2018 lalu ditemukan oleh petugas di Blok Hutan Batu Ronring penyangga kawasan Taman Nasional Gunung Leuser, di Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat. Saat ditemukan oleh petugas resque konflik satwa, orangutan yang berjenis kelamin jantan dan diperkirakan berumur sekitar 30 tahun ini, kondisinya terlihat kurang sehat, sehingga dilakukan tindakan evakuasi ke Stasiun Pusat Karantina Orangutan Sumatera (PKOS) Batu Mbelin, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Sedang. Hasil pemeriksaan medis tim dokter hewan PKOS Batu Mbelin, juga menemukan adanya luka bekas peluru senapan angin di tubuh Rose. Setelah dirawat secara intensif oleh tim medis PKOS Batu Mbelin dibantu perawat satwa selama hampir sembilan bulan, dan hasil rekomendasi tim medis menyatakan bahwa Rose (ID OU 355) sudah sehat dan siap untuk dilepasliarkan, maka direncanakanlah waktu yang tepat untuk pelepasliarannya ke habitatnya. Tepat pada hari Senin, tanggal 5 Desember 2018, Rose dipulangkan ke habitatnya Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di wilayah kerja Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Stabat, Seksi Pengelolaan Wilayah VI Besitang, Resort Cinta Raja, tepatnya di Desa Mekar Makmur, Kecamatan Batang Serangan, Kabupaten Langkat. Lokasi ini dipilih mengingat kecukupan pakan satwa di alam serta Orangutan tersebut mudah dipantau oleh petugas. Sesaat setelah dilepasliarkan, Rose langsung beradaptasi dengan lingkungannya dan terlihat langsung memanjat serta berayun ayun di atas pohon. Kurang lebih satu jam tim mengamati Rose sampai benar-benar masuk kedalam hutan dan tidak terlihat lagi oleh pandangan mata. Pelepasliaran dilaksanakan oleh Tim yang terdiri dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL)-SOCP dan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari (YOSL)- Orangutan Information Center (OIC). Sumber : Samuel Siahaan, S.P. - Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 6.417–6.432 dari 11.140 publikasi