Rabu, 22 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Tanggung Jawab Bersama, Balai TN Wakatobi Kolaborasi Pengamanan Bersama Para Pihak

Wangi-Wangi, 17 Desember 2018. Balai Taman Nasional Wakatobi (TNW) menggelar rapat koordinasi pengamanan bersama para pihak dalam upaya peningkatan sinergitas pengelolaan di kawasan TNW. Dalam rapat tersebut beberapa instansi yang terlibat antara lain Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum LHK (BPPLHK) Wilayah Sulawesi, Perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Wakatobi, Kepolisian Resort Wakatobi, Kejaksaan Negeri Wakatobi, Imigrasi Kelas III Wakatobi, Perwira Penghubung Wakatobi KODIM 1413 Buton, POS AL Wakatobi, Satker Pengawasan SDKP Kendari, Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Baubau, WWF SESS, perwakilan lembaga Adat (Meantu’u Liya, Meantu’u Wanse, Meantu’u Kapota) serta perwakilan masyarakat di kawasan TNW. Agenda pertemuan diawali dengan pemaparan oleh Balai TN Wakatobi, BPPLHK Wilayah Sulawesi, PSDKP Kendari, dan Polres Wakatobi terkait kondisi perkembangan keamanan dan mengidentifikasi gangguan yang terjadi di TNW selama tahun 2018. Selanjutnya, dilaksanakanlah diskusi pemetaan masalah dan penjaringan aspirasi dari peserta rapat untuk mencari solusi terbaik sebagai rekomendasi kebijakan pengelolaan pengamanan kawasan di tahun 2019. Dalam sambutan Kepala Balai TN Wakatobi yang disampaikan oleh La Ode Ahyar Mufti, S.Pi, M.T. selaku Kepala Sub Bagian Tata Usaha, bahwa setiap gangguan keamanan di Wakatobi merupakan tanggung jawab bersama yang perlu didiskusikan untuk mencari solusi terbaik sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing pihak, sehingga diharapkan dapat terciptanya harmonisasi pengelolaan di kawasan TNW. Secara garis besar, rekomendasi hasil rapat koordinasi pengamanan tahun 2018 berupa peningkatan sinergitas dan kerjasama antar lembaga dalam pelaksanaan perlindungan dan pengamanan kawasan TNW, baik dari segi pemanfaatan sumber daya perikanan, pembangunan infrastruktur, wisata, penelitian, maupun peredaran tumbuhan dan satwa dari dan dalam kawasan TNW. Peran aktif berbagai pihak sangat diharapkan dalam implementasi hasil rapat koordinasi ini, sehingga dapat mendukung terwujudnya kelestarian sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya di kawasan TNW. Sumber : Balai Taman Nasional Wakatobi
Baca Berita

Monitoring Bantuan Ekonomi oleh SKW I BKSDA Jambi

Sarolangun, 19 Desember 2018. SKW I BKSDA Jambi melakukan monitoring dan evaluasi bantuan ekonomi kelompok tani hutan Rimba Lestari di Desa Petiduran Kec. Mandiangin Kab. Sarolangun. SKW I mengutus 2 orang personel untuk melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi tersebut yaitu Penyuluh Kehutanan SKW I Sdri. Desi Anggraini dan PEH SKW I Sdr. Seto Sudarmono. Kegiatan monitoring dan evaluasi berlangsung selama 3 hari dari tanggal 17 hingga 19 Desember 2018. Kegiatan diawali dengan rapat pendahuluan antara petugas SKW I dengan anggota KTH Rimba Lestari terkait bantuan ekonomi yang sudah diberikan. Rapat dilakukan di rumah Sdr. Alpian selaku ketua dari KTH Rimba Lestari. Bantuan ekonomi yang telah diberikan untuk KTH Rimba Lestari antara lain 2 set tenda, 100 buah kursi, bibit pohon gaharu, dan bibit pohon gambir. Tenda dan kursi dikelola oleh KTH dengan cara disewakan untuk masyarakat Desa Petiduran yang membutuhkan, terhitung sudah 6 kali tenda dan kursi disewa oleh masyarakat sejak bulan Oktober 2018. Uang hasil penyewaan tenda dan kursi dibukukan dan dibagikan untuk anggota KTH dan untuk uang kas perawatan tenda. Tenda dan kursi disimpan di dalam gudang penyimpanan milik KTH Rimba Lestari. Bantuan bibit gaharu dan gambir dibagikan ke setiap anggota KTH dan masing masing menerima sekitar 50 bibit. Bibit ditanam oleh anggota KTH di belakang rumah, kebun plasma, dan dikebun masing masing. Sekitar 1000 bibit gaharu dan 3000 bibit gambir diberikan kepada KTH Rimba Lestari. Berdasarkan penuturan anggota KTH, rata-rata hanya 1-2 bibit saja yang mati selebihnya tumbuh semua. Petugas melihat bahwa bibit yang telah ditanami diberikan ajir dan tanda agar memudahkan anggota KTH mengontrol bibit yang hidup dan mati. Kepala SKW I BKSDA Jambi, Udin Ikhwanuddin mengatakan “Kami sudah melakukan monitoring dan evaluasi terhadp bantuan ekonomi yang kami berikan pada KTH Rimba Lestari. Alhamdulillah pengelolaan yang dilakukan KTH Rimba Lestari cukup baik dan kami berharap itu dapat membantu kelangsungan KTH Rimba Lestari kedepannya.” Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Dua Aplikasi Baru BBKSDA Sulsel

Makassar, 19 Desember 2019. Lokasi . Masih dalam kesatuan acara memperingati “Hari Konservasi Kehidupan Alam Liar”, Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) lakukan sosialisasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan Aplikasi New Orang Melapor (NEW OME) di Pantai wisata Galesong, Takalar. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan Aplikasi New Orang Melapor (NEW OME) merupakan aplikasi internal petugas resort melapor dan berpatroli. Untuk paparan materi SPIP di bawakan Kepala Bagian Tata Usaha Hendro Prabowo, SP. Hendro Prabowo menjelaskan “Dengan adanya SPIP diharapkan dapat menciptakan kondisi dimana terdapat budaya pengawasan terhadap seluruh organisasi dan kegiatan sehingga dapat mendeteksi terjadinya sejak dini kemungkinan penyimpangan serta meminimalisir terjadinya tindakan yang dapat merugikan negara.” Materi aplikasi NEW OME dibawakan oleh IT Programmer BBKSDA Sulsel Mallombasi Mattawang, S.Kom. Awan (Sapaan Beliau) menjelaskan “aplikasi NEW OME adalah aplikasi yang akan memudahkan petugas di resort untuk melapor dan berpatroli. Fitur baru dari aplikasi yang lama adalah aplikasi ini tidak lagi mengandalkan koneksi internet jadi saat di TKP petugas lapangan bisa langsung lapor serta keakuratan GPS sudah ditingkatkan.” Acara ini pun diakhiri dengan kegiatan bersih pantai dengan membersihkan sampah plastik dan sampah laut yang dihadiri Kepala Bagian Tata Usaha Pusat Pengelolaan Ekoregion Sulawesi dan Maluku (P3E Suma), Azri Rasul di sekitaran pantai Galesong dan Kegiatan Outbone untuk pegawai BBKSDA Sulsel. Sumber : Awan - Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Bersih Pantai di Hari Konservasi Kehidupan Alam Liar BBKSDA Sulsel

Takalar, 18 Desember 2018. Dihadiri Kepala Bagian Tata Usaha Pusat Pengelolaan Ekoregion Sulawesi dan Maluku (P3E Suma), Azri Rasul. Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) lakukan kegiatan bersih pantai di sekitaran Pantai Wisata Galesong yang diawali senam pagi bersama. Kepala Balai Besar KSDA Sulsel Ir.Thomas Nifinluri mengatakan “Kegiatan seperti ini harus sering dilakukan, lihat saja sampah pelastik ini sepeti sedotan pelastik, bungkus makanan, air mineral dan lainnya. Inikan jenis sampah yang sulit terurai” Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Pelepasliaran Kika dan Alba, Dua Orangutan Kalimantan Semi Wild

Palangkaraya, 18 Desember 2018. Direktorat Jenderal KSDAE bekerja sama dengan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) pada hari ini tanggal 18 Desember 2018 akan melepasliarkan 2 individu Orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus wurmbii) bernama Kika dan Alba di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), tepatnya di wilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Kasongan, Kalimantan Tengah. Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, menyatakan apresiasi dan dukungan kegiatan ini, mengingat Indonesia sangat dikenal dengan kekayaan keanekaragaman hayatinya, sehingga perlu ada upaya untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kekayaan sumber daya alam hayati tersebut yang merupakan asset negara. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia juga menyampaikan bahwa pengelolaan keanekaragaman hayati juga perlu memperhatikan masyarakat di sekitar kawasan hutan, melalui pengembangan ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat sehingga tidak bergantung pada pemanfatan secara langsung atas sumber daya alam hayati tersebut. Pengembangan ekonomi kreatif pada masyarakat sekitar hutan juga merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan, sehingga diharapkan pemenuhan target Aichi dari Konvensi Keanekaragaman Hayati, dapat tercapai. Indra Exploitasia, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, mewakili Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, mengapresiasi kegiatan ini dan menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah untuk meningkatkan populasi satwa di habitat alam. Bahwa sesuai ketentuan, jenis satwa dapat dilepaskan kembali ke habitatnya dengan syarat diantaranya satwa yang dilepaskan secara fisik sehat, memiliki keragaman genetik tinggi dan habitat pelepasan merupakan bagian dari sebaran asli jenis yang dilepaskan. Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya telah dikaji dan merupakan bagian dari sebaran Orangutan kalimantan ini. Beberapa tahapan dalam proses konservasi in situ ini telah dilalui yaitu dimulai dari penyelamatan satwa tersebut, selanjutnya upaya rehabilitasi Orangutan kalimantan dengan melatih kemampuan adaptasi dan mempunyai tingkah laku seperti populasi di alam dan terakhir adalah pelepasliaran. Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati mengucapkan terima kasih kepada para pihak yang telah mendukung program konservasi Orangutan kalimantan, terutama kepada Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Balai KSDA Kalimantan Tengah, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah, BOSF, dan semua pihak yang telah mendukung upaya pelepasliaran ini berjalan dengan baik. Pelepasliaran ini memerlukan kerjasama multipihak dan melibatkan multidisiplin ilmu, untuk itu perlu adanya sinergi bersama dengan berbagai pihak untuk mengupayakan dan melaksanakan program konservasi Orangutan kalimantan sehingga dapat berjalan dengan baik. Sugianto Sabran, Gubernur Propinsi Kalimantan Tengah menyambut baik kepulangan Alba ke TN Bukit Baka Bukit Raya dan mempertahankan Alba di Kalimantan Tengah dengan mengembalikannya ke habitat aslinya karena Alba adalah aset sekaligus branding daerah Kalimantan Tengah. Saya percaya Alba akan hidup lebih baik di habitat alaminya. Saya menghimbau mari kita semua tidak hanya berharap, namun juga berupaya keras untuk mendukung pelestarian Alba dan orangutan kalimantan lainnya di Bumi Tambun Bungai ini. Adib Gunawan, Kepala Balai KSDA Kalimantan Tengah, menyambut baik kegiatan ini dan menyatakan bahwa kedua orangutan kalimantan tersebut, Kika dan Alba merupakan hasil penyelamatan yang dilakukan tim Balai KSDA Kalimantan Tengah. Kika adalah orangutan kalimantan betina yang diselamatkan dari operasi gabungan BKSDA Kalimantan Tengah pada 18 Februari 2017 di Buntok, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Saat itu Kika telah berusia 5 tahun dengan berat badan 9,3 kilogram dan masih menunjukan perilaku liar. Orangutan kalimantan Alba merupakan hasil penyelamatan Balai KSDA Kalimantan Tengah bekerja sama dengan Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) tanggal 29 April 2017 di desa Tanggirang, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Alba saat itu berusia sekitar 5 tahun dengan berat badan 8,3 kilogram, menunjukkan perilaku liar, menolak berdekatan dengan manusia. Kondisi individu orangutan kalimantan Alba betina sangat unik, memiliki penampakan, dimana rambut seluruh tubuh putih, bola mata kebiruan dan pupil mata merah sehingga disebut albino. Orangutan kalimantan Kika dan Alba telah menjalani rangkaian proses rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi Orangutan Nyaru Menteng Kalimantan Tengah dan setelah semua dinyatakan siap baik aspek kesehatan, kesiapan lokasi pelepasliaran hingga tim monitoring maka kegiatan pelepasliaran orangutan kalimantan hari ini dapat dilakukan sesuai tahapan prosedur yang berlaku. Heru Raharjo, Kepala Balai TN Bukit Baka Bukit Raya, menyatakan bahwa berdasarkan hasil kajian yang dilakukan bersama dengan BOSF, mengidentifikasi tujuh zona potensial untuk reintroduksi orangutan kalimantan di TN Bukit Baka Bukit Raya area Kalimantan Tengah yang tersebar dari arah barat ke arah rimur. Dua diantara tujuh zona potensial terletak di daerah Sungai Bemban dan Sungai Mahalat, mempunyai akses yang bagus, area hutan hujan yang besar, dan memiliki dataran rendah yang luas, sehingga sangat cocok sebagai lokasi pelepasliaran orangutan kalimantan. Wilayahnya luas, memiliki batas alam, habitat yang cocok, bagus untuk monitoring dan menyokong populasi liar yang layak, diperkirakan area ini dapat menampung 200 orangutan kalimantan. Apresiasi yang tinggi juga kita berikan kepada masyarakat sekitar, karena sangat mendukung upaya ini. Jamartin, Ketua Borneo Orangutan Survival, mengatakan bahwa hasil kajian yang dilakukan ini merupakan kerjasama dengan Balai TN Bukit Baka Bukit Raya. Kegiatan pelepasliaran Orangutan kalimantan ini juga memperoleh dukungan dari beberapa pihak diantaranya Pemerintah Daerah Prop. Kalimantan Tengah, serta masyarakat yang berada di sekitar Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Setelah kegiatan pelepasliaran ini dilakukan, BOSF berkomitmen untuk membantu melaksanakan manajemen paska pelepasliaran orangutan kalimantan dengan cakupan tidak hanya terkait kegiatan observasi dan pengamanan tetapi juga kegiatan sosialisasi dan edukasi terutama kepada masyarakat setempat dan para pihak lain. Ingin lebih mengenal Kika dan Alba, klik link sebagai berikut :Profil Kika dan Alba Sumber : Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati ======================= Untuk wawancara dan informasi lebih lanjut dapat menghubungi : Puja Utama Kepala Subdit Pengawetan Jenis, Dit KKH HP: 08127963755 Adib Gunawan Kepala Balai KSDA Kalimatan Tengah HP: 08115451118 Heru Raharjo Keala Balai TN. Bukit Baka Bukit Raya HP: 081380110997 Jamartin CEO Yayasan BOS HP : 0811984680
Baca Berita

Tiga Materi di Peringatan Hari Konservasi Kehidupan Alam Liar BBKSDA Sulsel

Makassar, 19 Desember 2018. Bertempat di Pantai wisata Galesong - Takalar, Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) bersama PERBAKIN dan Burung Indonesia menggelar kegiatan memperingati “Hari Konservasi Kehidupan Alam Liar” yang berlangsung selama dua hari (17-18 Desember 2018). Kepala Bagian Tata Usaha Pusat Pengelolaan Ekoregion Sulawesi dan Maluku (P3E Suma), Azri Rasul dalam acara ini menjadi moderator dengan tiga pemateri dari BBKSDA Sulsel, PERBAKIN Prov Sulsel dan Burung Indonesia. Kepala BBKSDA Sulsel Ir. Thomas Nifinluri, M.Sc memaparkan materi mengenai “Membangun Cakrawala Pengelolaan Kawasan Konservasi”. Beliau menjelaskan tentang 6 poin strategi pengelolaan kawasan konservasi, yaitu : Goods to Service, Comparative advantage to Competitive Advantage, From Forest to Landscape, Single Approach to Integrated, Holistic and multi disciplinary approach, Exclusive to Inclusive, participation and partnership dan Cost center to Profit center. Ketua Bidang Berburu Perbakin Sulsel, Irawan Abadi dalam paparannya yang berjudul “Teknik dan strategi perburuan berdasarkan SOP Perbakin” menjelaskan “Di Perbakin tidak pernah dibenarkan untuk memburu Satwa yang dilindungi. Yang boleh diburu oleh Anggota Perbakin hanya Babi hutan dengan Senapan khusus berburu itupun harus One Shoot One Kill” Dari burung Indonesia menjelaskan materi “Populasi dan sebaran burung di provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi barat” seperti Burung-burung khas sulawesi yang terancam punah (Julang Sulawesi, Kangkareng dan Maleo). Burung Indonesia juga menjelaskan bahwa "2019 konsentrasi kegiatan kami akan lebih banyak di Taman nasional Gandang Dewata baik itu kegiatan di desa sekitar Taman nasional serta dan penyelamatan Satwa Anoa di Taman Nasional Gandang Dewata". Sumber : Awan - Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

SKW I BKSDA Jambi ikuti Focus Group Discussion Bungo

Bungo, 19 Desember 2018. SKW I mengikuti kegiatan FGD (Focus Group Discussion) yang diselenggarakan oleh Balai Besar TNKS dengan Pemerintah Kabupaten Bungo. SKW I diwakilkan oleh Kepala Resort Bungo Sdr. Ikawa untuk mengikuti kegiatan FGD. Kegiatan FGD dilakukan di Hotel Swarnabhumi Bungo dan diikuti oleh kurang lebih 50 orang peserta yang datang terdiri dari dinas terkait, kecamatan dan desa penyangga TNKS. FGD dibuka langsung oleh Kabid Pengelolaan TNKS Wilayah I Jambi Bpk. Jaya Sumpena sekaligus memberika kata sambutan. Kegiatan FGD dibagi menjadi 2 sesi yang memaparkan materi yang berbeda, pada sesi pertama dengan narasumber yaitu Kasi SPTN Wilayah II Bungo Bpk. Itno Itoyo memaparkan materi tentang peran masyarakat dan stakeholder dalam pengelolaan TNKS di Kab. Bungo. Selanjutnya pada sesi kedua dengan narasumber yaitu FFI Kerinci Seblat Lansekap Project Sdr. Abdul Horison memaparkan materi pemberdayaan masyarakat di sekitar penyangga kawasan TNKS. Kegiatan FGD berhasil merumuskan beberapa hal yang disepakati oleh pada peserta yang hadir. Rumusan FGD antara lain sinkronisasi program dan kegiatan dengan program pembangunan yang ada di wilayah mulai dari tingkat desa, mitra kerja maupun stakeholder. Kerjasama antara BBTNKS dengan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Dusun dalam rangka memberikan penghargaan kepada desa konservasi yang berkontribusi positif. Batas kawasan TNKS dengan areal lain seperti hutan produksi dan lahan milik perlu dipertegas dengan membuat tanda batas. Balai Besar TNKS agar mensosialisasi peraturan perundangan yang terkait dengan pemberdayaan masyarakat dan peningkatan peran serta masyarakat dan stakeholder. Perlu dilakukan kajian yang mendalam terkait dengan keberadaan suku anak dalam yang menggantungkan kehidupannya pada sumber daya alam, khususnya yang berada TNKS wilayah Bungo. Perlunya sinergi pihak perguruan tinggi dalam pengelolaan kawasan konservasi dan sosialisasi tentang jenis TSL yang dilindungi di dalam kawasan TNKS dan sekitarnya. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Launching dan Sosialisasi Sistem Informasi Angkut Satwa Dan Tumbuhan (SIASAT) Online

Bogor, 18 Desember 2018. Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati pada hari ini menyelenggarakan acara launching dan sosialisasi sistem informasi angkut satwa dan tumbuhan (SIASAT) online yang diselenggarakan di Hotel Royal-Bogor yang dibuka oleh Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE mewakili Direktur Jenderal KSDAE sekaligus memukul gong sebagai tanda peluncuran secara resmi aplikasi SIASAT. Dalam sambutannya, Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE menyampaikan bahwa Capaian nilai ekspor (devisa negara) dan PNBP tiga tahun (2015 s.d 2017) terakhir terus mengalami peningkatan. Devisa negara dari sektor pemanfaatan jenis TSL tahun 2015 sebesar Rp. 5,3 trilyun, tahun 2016 sebesar Rp. 6,4 trilyun, dan tahun 2017 meningkat sebesar Rp. 8,3 trilyun. Sampai dengan Bulan Oktober 2018 devisa negara sebesar 6,2 trilyun. Sedangkan untuk capaian PNBP sektor pemanfaatan jenis TSL tahun 2015 sebesar Rp. 14,8 milyar, tahun 2016 sebesar Rp. 15,1 milyar, dan tahun 2017 meningkat sebesar Rp. 24,7 milyar. Sampai dengan bulan Oktober 2018 PNBP dari pemanfaatan TSL ke luar negeri sebesar Rp. 18,6 milyar. Namun demikian terdapat beberapa permasalahan atau kendala dalam pelayanan publik penerbitan SATS-LN yang saat ini masih dilakukan dengan sistem manual. Sistem manual tersebut dinilai kurang efektif dan efisien dalam hal biaya, waktu, dan tenaga untuk eksportir terutama yang berdomisili jauh dari Jakarta. Oleh karena itu, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati-Ditjen KSDAE berkomitmen untuk terus menerus meningkatkan pelayanan publik yang berorientasi pada kepuasan pelanggan (customer satisfaction). Dalam rangka optimalisasi pelayanan pemanfaatan TSL, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati telah membangun Sistem Pelayanan Peredaran TSL online berbasis website (E-SATSLN) yang direncanakan akan diterapkan pada awal tahun 2019. Sistem pelayanan online tersebut merupakan sistem informasi Online yang dapat merekam, mengolah, memonitor, mengevaluasi data dan menyajikan informasi kepada para stakeholder serta memudahkan pelaku usaha untuk melakukan permohonan penerbitan SATS-LN melalui portal website. Selain itu juga sistem ini memudahkan Otoritas Pengelola dalam proses verifikasi permohonan karena dilengkapi dengan kelola penyimpanan dokumen secara digital dan monitoring proses-proses verifikasi secara langsung maupun bertingkat. Fitur-fitur yang dibangun dalam sistem ini juga telah memperhatikan ketentuan-ketentuan terkait pemanfaatan jenis TSL dalam peraturan perundangan yang berlaku. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh pemegang izin usaha pengedar TSL ke luar negeri, perwakilan BBKSDA/BKSDA seluruh Indonesia, dan instansi terkait lainnya seperti Kementerian Perdagangan dan Bea Cukai. Para peserta menyambut dengan baik peluncuran aplikasi SIASAT Online dengan harapan penerapan sistem online tersebut dapat memberikan manfaat dan menjadi langkah penting yang konstruktif dalam implementasi perdagangan TSL yang lestari serta meningkatkan pelayanan publik yang berorientasi pada kepuasan pelanggan (customer satisfaction). Sumber : Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati
Baca Berita

Aksi Sosial TN Matalawa Mengunjungi Panti Asuhan Di Waikabubak

Waingapu.18 Desember 2018. Tidak terasa sudah berada di penghujung Tahun 2018, Kali ini Abdul Basit Nasrianto S.Hut., M.Sc selaku Kepala SPTN Wilayah I Waibakul yang mewakili Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) melakukan Aksi Sosial dengan mengunjungi Panti Asuhan yang ada di pinggir Kota Sumba Barat tepatnya di Kurutepe - Karatena Waikabubak. Pada kesempatan ini Abdul Basit NasriantoS.Hut.M.Sc menggandeng Satuan Karya (SaKa) Wanabakti melakukan kunjungan panti asuhan di dua tempat, yang pertama adalah di Rumah Anak Harapan dibawah Yayasan Global Obor Indonesia dengan jumlah penghuni sebanyak 39 anak, yang kedua Mercy Indonesia Lembaga Kesejahteraan Anak dengan jumlah penghuni sebanyak 14 anak, dalam kunjungannya pihak Taman Nasional tidak hanya memberikan bingkisan kepada anak-anak tetapi juga melalui SaKa Wanabakti membuat suatu permainan dan bernyanyi bersama dengan melibatkan anak-anak penghuni panti asuhan sehingga wajah ceria muncul disetiap anak-anak tersebut, berdasarkan informasi yang diperoleh bahwa anak-anak penghuni panti asuhan tersebut berasal dari anak yatim piatu yang terlantar, anak-anak dari perdagangan manusia dan lain sebagaianya. Abdul Basit Nasrianto S.Hut., M.Sc selaku Kepala SPTN Wilayah I Waibakul menyebutkan bahwa Aksi Sosial ini merupakan wujud kepedulian TN Matalawa kepada sesama untuk mencoba merasakan dan menghibur anak-anak penghuni panti asuhan tersebut. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Penyelamatan Kukang Malang

Bangko, 18 Desember 2018. SKW I BKSDA Jambi menerima laporan dari masyarakat bahwa telah ditemukan seekor satwa dilindungi yaitu kukang (Nycticebus). Petugas langsung menghubungi seorang warga yang menemukan kukang tersebut. Kepala SKW I BKSDA Jambi menugaskan 3 orang personil untuk turun memeriksa kebenaran laporan tersebut. Petugas SKW I langsung mendatangi kediaman warga yang menemukan kukang tersebut di Desa Sungai Murak Kecamatan Bangko Kabupaten Merangin. Menurut penuturan Maryati yang menemukan kukang tersebut, kukang ditemukan di bawah tiang listrik disamping rumahnya. Kukang ditemukan dalam kondisi kaki yang terputus dan kepala yang tidak dapat digerakkan. Kukang langsung diserahkan kepada petugas dan dilengkapi dengan berita acara penyerahan satwa. Selanjutnya kukang dibawa ke PPS kantor SKW I di Bangko Kabupaten Merangin. Setibanya di kantor SKW I, petugas langsung menghubungi dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kukang. Saat ini kukang sedang dalam perawatan intensif oleh dokter hewan dan akan dilepasliarkan apabila kondisinya sudah memungkinkan atas rekomendasi dokter hewan. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

BKSDA Maluku Gagalkan Aksi Penyelundupan Burung Dilindungi

Ambon, 18 Desember 2018. Minggu (16/12) malam, sebuah mobil penumpang diamankan di Pelabuhan Kapal Fery Liang, Ambon. BKSDA Maluku dan aparat keamanan di lokasi mengamankan 19 ekor burung Kakatua Oranye (Cacatua moluccensis) yang berada pada bagasi belakang mobil. Burung dilindungi tersebut dimasukan pada pipa-pipa pralon. Ruang gerak yang terbatas membuat beberapa ekor burung terlihat lemas saat ditemukan. Saat ini burung yang berstatus Vulnerable (VU)/ Rentan dalam daftar merah IUCN terindikasi mengalami tren populasi yang menurun. Hal utama yang menyebabkan hal ini salah satunya karena praktik penangkapan di alam oleh penyelundup untuk diperjual-belikan. Untuk sementara burung telah diamankan di kandang transit BKSDA Maluku untuk mendapatkan perawatan. Sedangkan untuk kasus penyelundupan BKSDA Maluku telah berkoordinasi dengan Balai Gakkum Maluku Papua dan Instasi terkait untuk proses penyidikan. Sumber : Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Penandatanganan Dokumen Masterplan Pariwisata Alam TN Matalawa Dan FS dan DED Wisata Alam Laputi

Waingapu. 18 Desember 2018. Bertempat di ruang rapat Hotel Sahira Butik Syariah Bogor, telah dilakukan penandatanganan Dokumen Masterplan pariwisata alam untuk kawasan hutan Laiwangi Wanggameti dan dokumen Feasibility Study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) Wisata Alam Laputi. Penandatanganan ini dilakukan oleh Direktur Pemanfaatan dan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK) dan berbagai stakeholder yang terlibat didalamnya Penandatanganan Dokumen Masterplan pariwisata alam untuk kawasan hutan Laiwangi Wanggameti dan dokumen Feasibility Study (FS) dan Detail Engineering Design (DED) Wisata Alam Laputi didahului dengan melakukan rapat pembahasan bersama , adapun narasumber dalam rapat pembahasan tersebut adalah Ir. Dody Wahyu Karyanto MM selaku Direktur Pemanfaatan dan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, Maman Surahman S.Hut., M.Si selaku Kepala Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti dan Dr.Ir. Ricky Avenzora, M.ScF selaku Tenaga Ahli Ekowisata dan Jasa Lingkungan dari Institut Pertanian Bogor dan dihadiri oleh para Kasubdit, para Kasie pada lingkup Direktorat PJLHK serta anggota tim penyusun dokumen Master Plan, FS, dan DED. Maman Surahman S.Hut., M.Si selaku Kepala Balai TN Matalawa menyebutkan bahwa dengan ditandatanganinya dokumen pengelolaan di bidang wisata alam, diharapakan mampu memberikan pedoman pelaksanaan program dan kegiatan wisata alam di masa yang akan datang sehingga terwujudnya pengelolaan yang efektif dan efisien serta memiliki nilai yang tepat guna dan tepat sasaran. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Lagi, Harimau Sumatera Lahir di Kebun Binatang Bukittinggi

Bukittinggi, 18 Desember 2018. Koleksi Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) kota bukittinggi Sumatera Barat kembali bertambah dengan kelahiran sepasang anak harimau Sumatera (Panthera tigris). Lembaga Konservasi di bawah binaan Balai KSDA Sumatera Barat tersebut sudah berhasil menunjukkan bahwa lembaga tersebut mampu melaksanakan tugas untuk menjaga, merawat dan mengembang-biakkan koleksi satwanya, apalagi jenis Harimau Sumatera ini adalah jenis satwa yang dilindungi dan hampir punah. Kelahiran sepasang anak harimau ini berasal dari induk betina, bernama Dara Jingga dan pasangan jantan bernama Bancah, pada hari minggu tanggal 16 Desember 2018. Dengan kelahiran sepasang anak harimau sumatera ini, Dr. Erly Sukrismanto (Kepala BKSDA Sumbar) menyampaikan apresiasi kepada TMSBK karena telah berhasil menjalankan tugas sebagai lembaga yang mengelola konservasi ek-situ (di luar kawasan hutan). Fungsi lembaga konservasi, sejauh ini merupakan instrumen pelestarian jenis satwa, yang kontribusinya sangat penting dalam menunjang upaya-upaya pengawetan jenis yang dilakukan oleh pemerintah. Kedepannya, BKSDA Sumbar akan terus meningkatkan kerjasama dan monitoring terhadap pengelolaan lembaga konservasi di Sumatera Barat, termasuk TMSBK, sehingga terus berkontribusi dalam pengawetan jenis. Sumber : Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Berita

Ikhlas dan Bijak atas Tragedi Konflik Satwa Kualin

Kualin, 14 Desember 2018. Hujan turun dengan deras di Dusun 1 Desa Oni, Kecamatan Kualin. Begitu derasnya sehingga terjadi genangan setinggi lutut, terutama pada beberapa rumah di sekitar sebuah kali/lolok. Ama Rame, seorang petani sungguh khawatir dengan ternak-ternaknya yang berada di belakang rumah. Sekitar pukul 3 sore, ditemani puterinya, Kristin Rame (12) memeriksa keadaan ternak mereka. Mereka harus melintasi genangan air tersebut tentu. Insiden terjadi saat Kristin berada pada genangan, seekor buaya menyergapnya, lalu menyeretnya ke dalam air. Sang ayah, dengan gagah berani loncat ke atas buaya untuk menyelamatkan sang puteri, dia berusaha merebutnya kembali. Namun buaya itu terlalu kuat baginya. Dia menyeret korban ke arah muara di belakang rumah sembari menenggelamkannya. Mendengar teriakan Ama Rame, para penduduk sekitar berbondong-bondong membantunya. Mereka berusaha mengambil kembali sang korban dari mulut buaya hingga akhirnya mereka berhasil. Namun malang, kondisi Kristin Rame sudah tak bernyawa lagi. Masyarakat juga berhasil menjerat sang buaya, lalu mengamankannya. Bapak Vion Kase, seorang warga yang selama ini memang selalu berkomunikasi dengan BBKSDA NTT menyampaikan laporan. Pukul 20:00 WITA, 1 (satu) regu dari Unit Penanganan Satwa BBKSDA NTT meluncur ke lokasi, dini hari mereka langsung melakukan penyisiran ulang mengingat dicurigai masih terdapat buaya lain. Tim memang menemukan buaya berukuran kecil diperkirakan di bawah 3 meter. Untuk keamanan warga Unit Penanganan Satwa lalu mengupayakan upaya penangkapan melalui pemasangan jerat. Keesokan harinya (15/12) dari lokasi kejadian Tim dibantu masyarakat berhasil mengamankan seekor buaya betina sepanjang 232 cm. Sungguh bijak warga masyarakat Desa Oni, Kecamatan Kualin, bagi sebagian lain warga, mungkin akan membunuh buaya yang berhasil ditangkap. Nyawa dibayar nyawa. Namun mereka tidak, keluarga ikhlas menerimanya sebagai sebuah musibah. Terima kasih juga kepada masyarakat yang telah menjaga papan himbauan yang telah kami pasang tahun sebelumnya. Selanjutnya kedua buaya (jantan 420 cm dan betina 232 cm), dievakuasi ke kandang penampungan BBKSDA NTT. Sumber : Dadang Suryana - Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur
Baca Berita

Kampanye Konservasi Alam Bersama Pedagang GOR Sudiang

Makassar, 16 Desember 2018. Sebanyak 20 lubang untuk penanaman bibit mangga, durian dan rambutan di GOR Sudiang akhirnya terlaksana. Hadir dan sekaligus melakukan penanaman langsung Kepala Balai Besar KSDA Sulsel, Darhamsyah sebagai Kepala P3E Suma, Anggota Daops Manggala Agni, Kepala TN Babul, Kepala Litbang Makassar , FK3I sulsel dan anggota Pramuka Saka Wanabakti dan Saka Kalpataru. Selain Penanaman bibit, agenda lainnya yaitu Street Campaign (Kampanye Konservasi), Pembagian bibit gratis sebanyak 500 bibit, Marching band dari anak-anak SMK Kehutanan Negeri Makassar, Pameran dan Simulasi penggunaan peralatan penanggulangan kebakaran oleh Daops Manggala Agni dan Donor darah dari PMI. Ada yang menarik dari acara penanaman dan kampanye konservasi kali ini, stand kami berbaur dengan pedagang-pedagang yang memadati GOR Sudiang, mulai dari pedagang buah, sayuran, makanan dan pedagang lainnya. Kepala Bidang Teknis BBKSDA Sulsel Drh.Supriyanto menyampaikan "Yah ini adalah inovasi dan tantangan untuk kita untuk mengampanyekan konservasi yaitu di Pasar seperti ini. Ada ratusan orang yang datang kesini dan kebanyakan adalah Ibu Rumah Tangga. Seperti yang kita ketahui penggunaan kantong plastik di pasar sudah sangat lumrah dan tiap hari pasar mungkin ada kiloan sampah plastik disini. Di kegiatan ini kita himbau, edukasi dan membagikan Goody Bag 'I Don't Use Plastik'. Kita harapkan para pengunjung nantinya tidak lagi menggunakan kantong plastik kresek tapi menggunakan Goody Bag yang ramah lingkungan dan bisa digunakan berulang kali." Kepala Balai Besar KSDA Sulsel juga menyampaikan "kegiatan street campaign ini bertujuan untuk membawa konteks hutan dan TSL kepada masyarakat perkotaan sehingga lebih peduli terhadap upaya pelestarian TSL khususnya jenis-jenis endemik Anoa dan jenis asli lainnya. Pelestarian TSL dan SD hutan harus mendapat dukungan semua pihak termasuk masyarakay urban yang merupakan "pasar" atau sumber permintaan produk-produk barang dan jasa termasuk TSL dan HHBK lainnya" Terakhir ucapan terimakasih kepada Ka Dispora Provinsi Sulawesi Selatan dan Camat Biringkanaya yang mendukung suksesnya acara ini dari Sabtu 15 Desember hingga selesainya acara. Diharapkan nantinya tanaman tersebut bermanfaat untuk masyarakat sekitar dan pengunjung GOR Sudiang, dan tentunya masyarakat juga harus ikut merawat pohon ini agar penanaman pohon tidak sia-sia dan kegiatan ini bermanfaat dimasa depan [AWAN]. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Menggenjot Promosi Wisata Unggulan TN Matalawa Bersama Metro TV

Waingapu. 15 Desember 2018. Kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) merupakan Destinasi unggulan wilayah Bali Nusa Tenggara (Nusra), oleh karena itu Taman Nasional terus melakukan inovasi dalam rangka mempromosikan objek wisata yang ada di dalamnya, salah satu upaya yang dilakukan dengan menggandeng Metro TV yang merupakan TV Nasional dengan pangsa pasar luas sehingga cukup strategis dalam memasarkan wisata unggulan di TN Matalawa pada khalayak umum. Dalam liputannya, ada beberapa atraksi wisata yang dapat di nikmati di Taman Nasional Matalawa diantaranya adalah: Birdwatching, Jungle Tracking, River tubbing, Wisata Air terjun , Pantai, Caving dan monitoring Rusa di habitat alam, serta beragam budaya leluhur masyarakat pulau sumba, tak ketinggalan landscape pulau sumba yang unik. Kepala Balai TN Matalawa Maman Surahman S.Hut., M.Si menyebutkan bahwa TN Matalawa dengan segudang pesona wisata alam dan budaya merupakan asset penting Pulau Sumba, melalui upaya promosi pada stasiun Televisi Besar Nasional diharapkan mampu meningkatkan laju kunjungan wisatwan ke Pulau Sumba, yang secara langsung dan tidak langsung dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Pulau Sumba. Segudang pesona alam dan budaya warisan leluhur yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia ada di TN Matalawa, tak sedikit orang merasa takjub setelah menginjakkan kakinya di Tanah Sumba. Tercatat kunjungan selama kurun waktu tiga tahun terakhir, trend kunjungan wisatawan terus mengalami peningkatan baik berasal dari wisatawan domestik maupun mancanegara. Bentang alam sumba yang khas ditunjang dengan flora fauna Wallacea menambah daya tarik sendiri bagi wisatawan untuk berkunjung ke Pulau Sumba. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti

Menampilkan 6.401–6.416 dari 11.140 publikasi