Senin, 25 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Orangutan Sambangi Ladang Warga di Desa Kuta Gugung

Orangutan terpantau di atas pohon mendekati ladang warga Kuta Gugung, 9 Januari 2025. Bermula pada Jumat ((3/1), sekitar pukul 12.00 Wib, warga Kuta Gugung, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, dikagetkan dengan penampakan 1 individu Orangutan Sumatera (Pongo abelii) di hutan desa (adat) dekat dengan perladangan warga. Khawatir satwa liar ini akan mengganggu, warga yang menyaksikannya Jaya Perangin-angin, Bina br. Sembiring dan Masmur Tarigan segera melaporkannya ke anggota MMP (Masyarakat Mitra Polhut) Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Simon Sitepu. Warga bersama dengan MMP melakukan pengecekan dan benar menemukan 1 individu orangutan sedang berada di pohon di hutan desa. Hasil pengecekan dilaporkan ke Kepala Resort Taman Wisata (TWA) Deleng Lancuk dan diteruskan ke Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang serta Kepala Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe. Menindaklanjuti laporan tersebut, Kepala Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe menugaskan Kepala Resort TWA Deleng Lancuk bersama dengan Lembaga mitra kerja Balai Besar KSDA Sumatera Utara Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) untuk melakukan tindakan mitigasi. Pada Sabtu (4/1) tim gabungan menuju lokasi namun tidak menemukan keberadaan orangutan. Yang ditemukan hanya bekas makanan berupa pucuk rotan dan buah rotan yang tersisa. Petugas Bersama warga melakukan pemantauan Setelah beberapa hari melakukan pemantauan di lokasi dan tidak ditemukan lagi satwa tersebut, pada Selasa (7/1) petugas Resort TWA Deleng Lancuk melakukan sosialisasi kepada warga untuk tetap waspada dan berhati-hati saat melakukan aktivitas di ladang dan dihimbau untuk tidak melakukan tindakan atau perbuatan yang membahayakan serta mengancam kehidupan orangutan, mengingat satwa dimaksud termasuk jenis yang dilindungi undang.undang. Dan apabila menemukan kembali keberadaannya segera melaporkan ke MMP maupun petugas untuk dilakukan upaya penanganan. Sumber : Bergiat Sembiring (Kepala Resort TWA Deleng Lancuk) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Bersama Mitra Mewujudkan Kelestarian Rusa Bawean dan Ekosistem Laut di Pulau Bawean

Sidoarjo, 8 Januari 2025. Melalui berbagai upaya strategis, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA), dan PT. Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Surabaya, terus berkomitmen menjaga ekosistem alam yang kaya dan beragam di Pulau Bawean. Kegiatan ini menjadi bagian dari tanggung jawab bersama untuk melestarikan kekayaan alam bagi generasi mendatang. Tahun 2024 menjadi tonggak penting dengan keberhasilan pelaksanaan berbagai program, termasuk Konservasi Rusa Bawean yang meliputi identifikasi pakan Rusa Bawean, pemantauan habitat melalui kamera trap, dan rehabilitasi ekosistem laut di penyangga kawasan Cagar Alam Pulau Noko dan Cagar Alam Pulau Nusa. Hasil kegiatan sebagaimana telah dipresentasikan di Balai Besar KSDA Jawa Timur, Rabu (08/01/2025), dimana hasil kegiatan tersebut tidak hanya menjadi data yang berharga, tetapi juga menjadi dasar untuk kegiatan konservasi berikutnya. Konservasi Rusa Bawean Rusa Bawean sebagai spesies endemik yang dilindungi, menjadi fokus utama konservasi pada kolaborasi kerjasama para pihak. Melalui survei intensif, tim berhasil mengidentifikasi lebih kurang 21 jenis tumbuhan pakan yang disukai rusa, seperti tunas muda ilalang dan rumput-rumput lokal. Habitat di Blok Lang Pellem menjadi fokus pengelolaan terus dipantau untuk memastikan ketersediaan pakan yang cukup dan kondisi lingkungan yang mendukung. Pemulihan Terumbu Karang Ekosistem laut juga menjadi perhatian utama, dengan transplantasi fragmen karang di Pulau Noko, tim dari UINSA dan BBKSDA Jatim berupaya memperbaiki tutupan karang yang rusak. Monitoring terumbu karang menunjukkan bahwa meski beberapa area dalam kondisi baik, masih ada lokasi yang memerlukan intervensi lebih lanjut. Selain itu, pengendalian populasi bintang laut pemangsa karang juga menjadi prioritas untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Kami percaya bahwa keberhasilan konservasi tidak dapat dicapai tanpa keterlibatan masyarakat. Program edukasi dan pemberdayaan komunitas lokal menjadi elemen penting dalam setiap kegiatan, menjadikan masyarakat sebagai pelopor pelestarian alam. Pada tahun 2025, kegiatan akan dilanjutkan melalui program-program dengan peningkatan kolaborasi, penelitian lanjutan, dan penguatan upaya konservasi. Secara bersama-sama BBKSDA Jatim bersama UINSA, dan PT. Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Surabaya berkomitmen untuk terus mempublikasikan hasil-hasil ini, baik melalui jurnal ilmiah maupun media, sebagai bentuk transparansi dan inspirasi bagi pihak lain. Bersama-sama, mari kita wujudkan masa depan yang berkelanjutan dan alam yang tetap lestari. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan pada Seksi KSDA Wilayah III – Surabaya.
Baca Berita

Ditemukan Warga di Tengah Jalan, BBKSDA Jawa Timur Evakuasi Trenggiling yang Dilindungi

Kediri, 7 Januari 2025. Seekor Trenggiling (Manis javanica) ditemukan warga di tengah jalan pemukiman di daerah Kediri. MATAWALI atau Penyelamatan Satwa Liar Ilegal Melalui Kolaborasi Multi Pihak merupakan program penyelamatan satwa liar dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur. Program ini telah dimulai sejak tahun 2023. Pada tahun 2024 lalu, Seksi KSDA Wilayah I Kediri telah berhasil mendukung program yang mendapat penghargaan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang berhasil menyelamatkan satwa liar terbanyak di Indonesia. Dukungan tersebut berupa penyelamatan satwa liar ilegal sebanyak 42 individu dari berbagai jenis. Awal tahun 2025 ini, Seksi KSDA Wilayah I Kediri kembali melakukan penyelamatan satwa liar pertamanya. Jenis satwa liar tersebut adalah Trenggiling. Satwa yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia sejak tahun 1931 mulai di bawah Ordonansi Perlindungan Satwa Liar No. 266 tahun 1931 sampai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hudup dan Kehutanan No. P.106 tahun 2018. Satwa ini diserahkan secara sukarela oleh warga Desa Jambean, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri pada pukul 21.00 WIB. Menurut warga, Trenggiling tersebut ditemukan di tengah jalan pemukiman yang kemudian diamankan di rumahnya untuk diserahkan secara sukarela kepada pihak yang berwenang, BBKSDA Jawa Timur. Kondisi Trenggiling remaja ini masih sangat agresif dan menunjukkan sifat liarnya. Setelah dilakukan penyerahan dan penandatanganan Berita Acara Serah Terima, Tim MATAWALI Seksi KSDA Wilayah I Kediri mengamankan mamalia bersisik tersebut di kandang transit untuk dilakukan penanganan lebih lanjut. Meskipun Trenggiling termasuk satwa yang dilindungi dan berstatus terancam punah atau Critically Endangered (CR) menurut IUCN, kegiatan perburuan dan perdagangannya masih marak. Daging dan sisik merupakan bagian tubuh Trenggiling yang dijual dan dimanfaatkan oleh para pemburu. Menurut Wilson (1994), Trenggiling masih sulit untuk dibudidaya sehingga tidak dapat bertahan lama hidup di penangkaran yang seharusnya bisa menjadi metode untuk mengurangi perburuan di habitatnya. Satwa hasil penyerahan sukarela tersebut dilepasliarkan oleh Tim MATAWALI pada 7 Januari 2025 setelah dilakukan pengecekan kesehatan. Pelepasliaran dilaksanakan pada sore hari mengingat Trenggiling merupakan hewan yang aktif pada malam hari atau nokturnal. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra; Ardiansyah – Polisi Kehutanan di Seksi KSDA Wilayah I Kediri
Baca Berita

Awal Tahun Warga Dikejutkan Penampakan Jejak Harimau

Jejak Harimau ditemukan, warga was-was dan ketakutan (foto : illustrasi) Sidikalang, 7 Januari 2025. Masih awal tahun, tepatnya pada Jumat (3/1) warga Lingkungan 4 Lae Gerat, Kelurahan Panji Dabutar, Kecamatan Sitinjo, Kabupaten Dairi dikejutkan dengan penemuan jejak harimau di perladangan warga yang berdekatan dengan lahan konsesi milik PT Wahana Graha Makmur. Penemuan itu sontak membuat warga was-was dan ketakutan sehingga menghubungi serta melaporkannya ke Lurah Panji Dabutar dan petugas Kepolisian Sektor Sidikalang. Laporan juga disampaikan ke petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang. Hasil penelusuran petugas, sebagaimana di kutip dari Harian Mistar edisi Senin 6 Januari 2025, halaman 12, memang benar jejak tersebut adalah jejak satwa liar dilindungi jenis Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Tapi petugas meyakini bahwa harimau tersebut sedang berburu mangsanya yaitu babi hutan, karena bersamaan dengan jejak harimau ditemukan juga jejak babi hutan. Harimau diperkirakan keluar dan masuk kembali dari kawasan hutan konsesi PT. Wahana Graha Makmur. Usai mengidentifikasi jejak, petugas gabungan dari Kelurahan Panji Dabutar, Kepolisian Sektor Sidikalang dan Balai Besar KSDA Sumatera Utara menghimbau kepada warga untuk tetap waspada dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari. Disarankan dalam beraktivitas khususnya di ladang, sebaiknya dilakukan oleh beberapa orang atau berkelompok untuk mencegah jatuhnya korban. Petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyampaikan sosialisasi kepada warga untuk tidak melakukan aktivitas atau tindakan/perbuatan yang dapat mengancam kehidupan satwa liar harimau, karena satwa ini dilindungi undang-undang sebagiamana diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/ 12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi. Bila warga menemukan kembali keberadaan maupun jejak si raja hutan agar segera menghubungi petugas terkait terdekat agar dilakukan tindakan mitigasi. Sampai saat ini petugas masih terus berkoordinasi dan memantau di sekitar lokasi. Sumber : Evansus Renadi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Balai TN Taka Bonerate Intensifkan Pengawasan Keramba

Desa Jinato, 07 Januari 2025 – Upaya mencegah praktik illegal fishing dan menjaga keberlanjutan ekosistem laut, Balai Taman Nasional (TN) Taka Bonerate akan mengintensifkan patroli pengawasan terhadap penampungan ikan sementara (keramba) yang berada dalam kawasan taman nasional. Langkah ini diambil menyusul arahan Kepala Balai serta laporan masyarakat terkait dugaan pelanggaran di sejumlah penampungan ikan. "Diduga meningkatnya permintaan ikan hidup dikarenakan harga yang mulai tinggi dipengaruhi cuaca yang cukup ekstrim saat ini," jelas Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah 1 Tarupa, Raduan. Sementara itu, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah 2 Jinato, Muhammad Nurhidayat juga menambahkan, bahwa kondisi demikianlah mendorong oknum-oknum masyarakat menggunakan segala cara untuk menangkap ikan hidup termasuk menggunakan bius. Sementara Tim SPTN Wilayah II Jinato bersama Babinsa Jinato telah memulai inspeksi di tiga penampungan ikan sementara, yaitu Kelompok Sumber Rejeki, Kelompok Pulau Mas, dan Kelompok Dolphin Sejahtera. Meskipun ikan yang ditampung pada penampungan ikan sementara tersebut dinyatakan berasal dari nelayan lokal Jinato, tim memberikan peringatan keras agar tidak ada ikan hasil tangkapan menggunakan bius atau bom yang diterima. Sebagai bagian dari upaya intensifikasi pengawasan, patroli akan dilakukan secara berkala untuk memastikan seluruh penampungan ikan sementara mematuhi aturan yang berlaku. Pelanggaran terhadap aturan atau Perjanjian Kerja Sama (PKS) kelompok yang telah ditandatangani akan ditindak tegas sesuai ketentuan hukum. Selain penampung ikan sementara, Patroli dan Pengawasan juga ditujukan kepada oknum pelaku illegal fishing, bius dan bom. Saat ini Kepala Balai TN Taka Bonerate sedang dalam proses dan akan berkordinasi dengan Kepala Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kehutanan Sulawesi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan serta Kepala Kepolisian Resor Kepulauan Selayar untuk meminta dukungan pencegahan dan penindakan illegal fishing. Komitmen ini menunjukkan keseriusan Balai Taman Nasional Taka Bonerate dalam melindungi sumber daya perikanan dan mendukung pengelolaan yang berkelanjutan oleh masyarakat sekitar. Sumber: Asri - Humas Balai TN Taka Bonerate Sumber Foto : Personil SPTN Wilayah 2 Jinato
Baca Berita

Inovasi Baru TWA Pulau Bakut di Tahun Baru 2025

Barito Kuala, 31 Desember 2024 – Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Kalimantan Selatan, drh. Agus Ngurah Krisna K., M.Si, mengunjungi Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut guna pemantauan pengunjung selama libur Natal dan Tahun Baru. Pada kesempatan ini juga dimanfaatkan untuk launching sarana video booth spinner 360 yang menjadi bagian dari kegiatan pemberdayaan ekonomi Kelompok Masyarakat Mitra Wisata Alam setempat. Sarana yang merupakan inovasi baru memungkinkan pengunjung untuk merekam video dengan tampilan 360 derajat. Selanjutnya dapat diunggah ke media sosial sehingga dapat mempromosikan TWA Pulau Bakut secara lebih luas dan menarik minat wisatawan, khususnya generasi muda. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Balai KSDA Kalsel menyampaikan apresiasinya terhadap upaya-upaya yang telah dilakukan dalam mengembangkan TWA Pulau Bakut. Beliau menekankan pentingnya sinergi antara konservasi alam dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. “Pengembangan TWA Pulau Bakut harus berjalan seiring dengan upaya pelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kehadiran sarana video booth spinner 360 ini adalah salah satu contoh bagaimana inovasi dapat mendukung kedua aspek tersebut,” ujar Agus Ngurah Krisna. Minat pengunjung berdasarkan data pengunjung akan digunakan sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan pengelolaan TWA Pulau Bakut di masa mendatang. Balai KSDA Kalsel akan terus mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat di sekitar TWA Pulau Bakut melalui berbagai program, seperti pelatihan keterampilan, pengembangan usaha mikro, dan pemasaran produk-produk lokal. Hal ini penting agar masyarakat dapat merasakan manfaat langsung dari keberadaan TWA Pulau Bakut. Kunjungan ini diakhiri dengan peninjauan fasilitas-fasilitas yang ada di TWA Pulau Bakut, termasuk jalur tracking, pusat informasi, dan fasilitas penunjang lainnya. Kepala Balai KSDA Kalsel berharap TWA Pulau Bakut dapat terus berkembang menjadi destinasi wisata alam yang berkelas dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian daerah dengan terus bersinergi antara Stakeholder terkait. (Ryn) Sumber: Tri Budi Yono, S.Hut. - PEH SKW II Banjarbaru Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Dua Pilihan Transportasi Menuju Taman Nasional Taka Bonerate via Pulau Jinato

Pulau Jinato, 02 Januari 2025 – Wisatawan yang ingin menjelajahi keindahan Taman Nasional Taka Bonerate kini memiliki dua pilihan transportasi yang memudahkan akses menuju pintu masuk Pulau Jinato. Dua kapal, yaitu KMP. Taka Bonerate dan KM. Sabuk Nusantara 85, kini melayani rute tersebut secara rutin, memberikan kenyamanan dan fleksibilitas bagi pengunjung. KMP. Taka Bonerate Kapal ini menawarkan perjalanan yang cepat dan efisien dari Pelabuhan Pattumbukan, Selayar, ke Pulau Jinato. Dengan fasilitas modern, KMP. Taka Bonerate mampu membawa penumpang dan barang dalam jumlah besar, menjadikannya pilihan utama bagi wisatawan maupun masyarakat lokal yang membutuhkan layanan transportasi yang nyaman dan aman. KM. Sabuk Nusantara 85 Sebagai bagian dari program tol laut, KM. Sabuk Nusantara 85 melayani rute yang lebih luas, termasuk beberapa pulau di sekitar Taman Nasional Taka Bonerate. Kapal ini menjadi solusi bagi pengunjung yang ingin menjelajahi lebih banyak destinasi di kawasan kepulauan, selain sekadar berkunjung ke Pulau Jinato. Kemudahan Akses dan Daya Tarik Wisata Dengan kehadiran dua layanan transportasi ini, akses ke Taman Nasional Taka Bonerate menjadi lebih mudah, terutama bagi wisatawan yang tertarik mengeksplorasi keanekaragaman hayati taman nasional ini, seperti hamparan atol terbesar ketiga di dunia, kehidupan laut yang memukau, dan daya tarik wisata budaya di Pulau Jinato. Jadwal dan Reservasi Wisatawan dapat memesan langsung di pelabuhan keberangkatan. Kehadiran layanan ini juga didukung oleh e-ticketing melalui SiMata Taka, yang mempercepat proses administrasi masuk ke Taman Nasional Taka Bonerate. Masuknya feri KMP Taka Bonerate merupakan hasil kordinasi Kepala Balai TN Taka Bonerate dengan Pemda Kabupaten Kepulauan Selayar. Sehingga dengan hadirnya KMP. Taka Bonerate dan KM. Sabuk Nusantara 85, eksplorasi Taka Bonerate kini menjadi lebih nyaman dan terjangkau bagi semua kalangan. Jangan lewatkan kesempatan untuk menjelajahi keajaiban alam Indonesia yang luar biasa ini! Cat. Jadwal bisa dilihat diuplodtan @asdp_selayar @upt_asdp_bira @sabuknusantara_85 Sumber : Asri - Humas Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Animo Kunjungan Wisata Alam ke TWA Lejja pada Libur Natal 2024

Soppeng, 27 Desember 2024 – Pada libur Natal 2024, tepatnya 25-26 Desember 2024, Taman Wisata Alam (TWA) Lejja dikunjungi wisatawan sebanyak 628 orang dengan total Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp. 9.420.000,- (Sembilan juta empat ratus dua puluh ribu rupiah). Data pada 25 Desember, jumlah pengunjung sebanyak 295 orang, dan pada 26 Desember meningkat menjadi 333 orang. Cuaca selama periode libur tersebut sempat diwarnai hujan ringan dan angin kencang pada pagi hari, yang kemudian berangsur cerah menjelang sore. Meskipun demikian, suasana di kawasan wisata alam TWA Lejja tetap kondusif dan aman untuk para pengunjung. Petugas di lapangan aktif memantau situasi dan memberikan pelayanan terbaik kepada wisatawan. TWA Lejja menyediakan berbagai fasilitas yang menunjang kenyamanan pengunjung, seperti area parkir yang memadai dan area pemandian air panas yang menjadi daya tarik utama. Terdapat pula pusat informasi, area kuliner, dan tempat ibadah untuk memenuhi kebutuhan wisatawan selama berada di lokasi. Bagi wisatawan yang ingin menginap, tersedia beberapa penginapan Vila di dalam TWA Lejja, yang menawarkan kenyamanan dengan harga yang terjangkau. Petugas TWA Lejja terus bekerja keras untuk memastikan pengalaman wisata alam yang aman dan nyaman bagi pengunjung. Tim di lapangan melaksanakan berbagai tugas, seperti: BBKSDA Sulawesi Selatan mengimbau para pengunjung TWA Lejja untuk: BBKSDA Sulawesi Selatan mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat untuk berkunjung ke TWA Lejja. Semua pihak diharapkan berkontribusi dalam menjaga kelestarian kawasan ini agar tetap menjadi destinasi wisata yang aman, nyaman, dan berkelanjutan. TWA Lejja merupakan kawasan konservasi yang berada di Desa Bulue Kecamatan Marioriawa Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan, dan ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor : 169/Kpts-II/2000 tanggal 29 Juni 2000 seluas 1.318 Hektar. Potensi wisata alam yang terdapat di TWA Lejja antara lain berupa : a. Pemandian air panas Fenomena alam yang menjadi obyek utama adalah air panas. Terdapat sumber air panas belerang dengan suhu mencapai 60 derajat Celcius, yang dipercaya dapat menyembuhkan gatal-gatal dan rematik. Dari sumber air panas, air dialirkan ke bak penampungan dan kolam pemandian umum serta kolam pemandian privacy. b. Air terjun Agak jauh dari pemandian air panas, terdapat air terjun yang bisa dimanfaatkan sebagai lokasi alternatif. Namun untuk mencapai lokasi air terjun harus menyewa kendaraan karena tidak ada transportasi umum. c. Kebudayaan dan adat Pada hari-hari tertentu, wisatawan dapat mendokumentasikan acara ritual atau upacara adat yang dilaksanakan di lingkungan pemandian air panas. d. Potensi keanekaragaman hayati Di dalam Kawasan TWA Lejja menyimpan keanekaragaman hayati yang cukup tinggi, baik flora maupun fauna. Di sekitar lokasi pemandian air panas terdapat habitat kera hitam (Macaca maura). Selain kera hitam, fauna lain yang dapat ditemui antara lain : rusa, babi hutan, rangkong, musang, kadal, kus kus, ular sawah, Raja udang, dan ayam hutan. Sedangkan untuk flora terdapat antara lain : kemiri, enau, ketapang, kayu hitam, rotan, beberapa jenis anggrek seperti aerides odorata dan nervilia aragoana, kenanga, manga, kedawung, kesambi, bitti. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (Siaran Pers Nomor : SP.60/K.8/TU/Humas/12/2024) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Berita

Penyelamatan Labi-Labi Moncong Babi di Penghujung Akhir Tahun 2024

Ribuan telur labi-labi moncong babi (Carettochelys insculpta) di kediaman pelaku MKP yang diamankan Satuan Reserse Kriminal Polres Asmat pada Jumat. 13 Desember 2024. Foto: Dok. BBKSDA Papua. Agats, 29 Desember 2024 – Pada ruang berdinding tripleks bercat kuning, ribuan telur labi-labi moncong babi (Carettochelys insculpta) tersusun rapi pada pasir. Banyak cangkang berserakan di sekitar telur, menandakan sebagian tukik telah menetas. Inilah awal penyelamatan labi-labi moncong babi di Asmat, Papua Selatan, pada akhir tahun 2024. Sampai berita ini dirilis, telur-telur tersebut terus mendapatkan penanganan intensif. Tukik-tukiknya menetas tidak dalam waktu bersamaan. Fikri Al Mubarok, Pengendali Ekosistem Hutan pada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua, merinci jumlah keseluruhan telur pada mulanya 19.000 butir, diamankan di dua lokasi. Pada Jumat, (13/12/2024) Satuan Reserse Kriminal Polres Asmat mengamankan 9.000 butir telur serta 1.809 tukik di kediaman pelaku. Kemudian pada Sabtu, (14/12/2024) mereka kembali mengamankan 10.000 butir telur serta 1.385 tukik di kediaman pelaku yang berbeda. Aksi pengamanan tersebut dilaksanakan berdasarkan laporan masyarakat dan penyelidikan mendalam oleh Satuan Reserse Kriminal Polres Asmat terhadap kedua pelaku. Fikri menjelaskan, “Tukik-tukik ditampung di kantor Polres Asmat, sedangkan telur-telur tetap di TKP dan diberi garis polisi karena sudah dalam posisi siap menetas. Kami dari Seksi Konservasi Wilayah I BBKSDA Papua bersama dokter hewan dari Dinas Tanaman Pangan dan Pertanian Kabupaten Asmat memantau secara rutin. Hampir setiap hari ada tukik yang menetas di dua TKP. Saat ini kami buatkan kolam di satu TKP karena tukik-tukik yang baru menetas harus segera dipindahkan ke air.” Kondisi tukik labi-labi moncong babi (Carettochelys insculpta) yang baru menetas di kediaman pelaku MKP. Tukik dalam kondisi ini perlu segera dipindahkan ke air. Foto: Dok. BBKSDA Papua. Menurut Fikri, situasi ini memerlukan dedikasi tersendiri. Demi menjunjung asas filosofis produk hukum tentang konservasi sumber daya alam, maka barang bukti berupa tukik yang berjumlah ribuan perlu dirawat sedemikian rupa dan dilepasliarkan sesegera mungkin. Ini demi mencegah kematian tukik yang terlalu banyak akibat kelebihan populasi di lokasi penampungan. Pada Selasa, (28/12/2024) BBKSDA Papua bersama pihak-pihak terkait telah melepasliarkan 6.000 tukik hasil pengamanan tersbut. Lokasi lepas liar di Rawa Baki, Distrik Suator, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Selatan. Namun, masih terdapat sekitar 1.000 tukik di penampungan kantor Polres Asmat, dan akan dilepasliarkan kemudian. Sementara telur yang belum menetas berjumlah sekitar 10.000 butir. “Dari hasil pemeriksaan dokter hewan, semua tukik yang dilepaskan dalam kondisi sehat, dan dinyatakan siap kembali ke alam,” kata Fikri. Sementara pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan lepas liar, antara lain, kepolisian setempat, TNI, Dinas Tanaman Pangan dan Pertanian Kabupaten Asmat, serta Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Asmat. Suasana lepas liar 6.000 tukik labi-labi moncong babi (Carettochelys insculpta) di Rawa Baki, Distrik Suator, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Selatan, pada Selasa, 28 Desember 2024. Foto: Dok. BBKSDA Papua. Sementara itu, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I BBKSDA Papua, Lusiana Dyah Ratnawati, menjelaskan bahwa saat ini pelaku diamankan di kantor Polres Asmat untuk proses lebih lanjut. “Peristiwa ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita bersama. Kami berharap ini dapat menimbulkan efek jera sehingga tidak terjadi lagi tindak ilegal terhadap satwa liar Papua yang dilindungi undang-undang, khususnya labi-labi moncong babi,” ungkap Lusi. Pada kesempatan ini, Kepala BBKSDA Papua, A.G. Martana, menyampaikan terima kasih kepada Polres Asmat yang telah bersinergi dalam penyelamatan satwa dilindungi, juga semua pihak yang terlibat dalam pengamanan ribuan tukik beserta telur labi-labi moncong babi. “Peristiwa ini merupakan bagian dari pencapaian kita bersama. Kami memberikan apresiasi, khususnya kepada Polres Asmat, berbagai instansi terkait, juga tim Seksi Konservasi Wilayah I BBKSDA Papua. Mari kita terus tingkatkan sinergi dan kerja sama, sehingga satwa liar Papua dapat dijaga kelestariannya.” Demikian kata Martana.(dd) Sumber: Balai Besar KSDA Papua Call Center BBKSDA Papua: 0823 9770 9728
Baca Berita

Rayakan HUT Polhut ke-58, Seluruh Polhut di Sumatera Utara Laksanakan Upacara dan Tumpengan

Medan, 27 Desember 2024. Hari Ulang Tahun Polisi Kehutanan (Polhut) kembali dirayakan. Kali ini perayaan Ulang Tahun Polhut Ke-58 untuk Provinsi Sumatera Utara dilaksanakan pada Selasa (24/12) dengan upacara bendera di halaman kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Bertindak sebagai Pembina upacara Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Ir. Yuliani Siregar, M.AP. dan diikuti oleh seluruh Polhut lingkup Kementerian LHK dan Dinas LHK Provinsi Sumatera Utara. Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, Ph.D., dalam sambutan tertulis yang dibacakan Pembina Upacara menyampaikan bahwa Polhut bukan tugas yang mudah dalam melaksanakan tugas-tugas perlindungan hutan dan upaya penanggulangan tindak kejahatan kehutanan. Risiko kerap mengancam secara nyata termasuk kehilangan nyawa sekalipun. Oleh karenanya, Menteri memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh jajajaran Polhut atas segala dharma bhaktinya dalam menjaga kelestarian ekosistem sumberdaya alam hutan dan keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya dalam kerangka pengelolaan hutan yang lestari dan berkeadilan. Pada peringatan HUT Polhut kali ini mengusung tema “Bhakti Wirawana - Wana Wibawa”. Tema ini secara simbolik mengingatkan betapa pentingnya keberanian dan ketangguhan setiap insan Polhut dalam mengemban peran dan tugas pengabdian kepada Nusa dan Bangsa dalam segala situasi dan kondisi apapun. Berbagai ancaman dan gangguan terhadap kelestarian hutan dalam bentuk tindak kejahatan kehutanan akan terus memberikan penetrasi terhadap keberlanjutan pembangunan kehutanan dan sumberdaya alam hutan itu sendiri yang merupakan sistem penyangga kehidupan. Kejahatan terhadap ekosistem sumber daya alam hutan seperti pembalakan liar, Penambangan Tanpa Ijin (PETI), perambahan hutan, perburuan dan perdagangan Tumbuhan dan Satwa (TSL) yang dilindungi merupakan kejahatan yang sangat serius dan berdampak nyata pada sendi-sendi kehidupan, baik dimensi ekologis, sosial budaya, maupun dimensi ekonomi berupa potential loss pendapatan negara. Raja Juli Antoni, juga mengingatkan bahwa transformasi dan tantangan pembangunan kehutanan ke depan tentu tidaklah mudah. Upaya perbaikan tata kelola pembangunan kehutanan yang akutanbel, transparan dan bertanggung gugat harus bisa ditunjukkan bersama di hadapan publik. Kementerian Kehutanan pada Kabinet Merah Putih di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, mendapat amanat untuk mewujudkan Program Prioritas, yakni: (1) Digitalisasi Layanan : Transparansi, Akuntabilitas, Efektivitas, dan Efisiensi Tata Kelola ; (2) Penguasaan Hutan yang Berkeadilan ; (3) Hutan Sebagai Sumber 5 Swasembada Pangan ; (4) Menjaga Hutan Indonesia sebagai Paru-Paru Dunia ; (5) Indonesia Satu Peta (One Map Policy). “Dalam upaya mewujudkan terlaksananya Program Prioritas Kementerian Kehutanan tersebut, Saya meyakini eksistensi dan peran Polhut ke depan semakin penting dan strategis. Keyakinan ini didasari bahwa upaya perlindungan hutan dan penegakan hukum kehutanan merupakan mata rantai penting dalam perbaikan tata kelola pembangunan kehutanan”, ujar Raja Juli Antoni. Mengakhiri amanat singkat ini, Menteri Kehutanan berpesan pada seluruh Polhut di seluruh pelosok tanah air, untuk terus semangat dalam menjaga kelestarian ekosistem sumberdaya alam hutan demi kesejahteraan Bangsa Indonesia, sembari mengajak untuk terus menghayati peran dan tugas melalui aksi-aksi nyata mewujudkan pengelolaan hutan yang lestari sekaligus perlindungan ekosistem sumberdaya alam demi Masa Depan Bumi Indonesia yang lebih baik. Dirgahayu Polhut Ke-58, jayalah Polhut! Sumber : Ani, SP. (Polhut Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Raja Rimba Penghuni Asli Kawasan Gunung Ciremai Berhasil Terpantau Kamera Jebak

Kuningan, 24 Desember 2024. Kabar gembira datang dari dunia satwa liar khususnya mamalia kucing besar di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Balai TNGC melalui kegiatan monitoring dari bulan Juni sampai dengan Desember 2024 ini berhasil memantau keberadaan individu native Macan Tutul Jawa yang merupakan satwa asli kawasan Gunung Ciremai melalui kamera jebak (camera trap). Individu unik yang terpantau sebanyak 3 ekor berjenis kelamin jantan, yaitu dua ekor memiliki corak tutul hitam (kumbang) dan satu ekor bercorak tutul terang. Individu Macan Tutul Jawa di kawasan TNGC dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu satwa asli dan individu hasil introduksi. Macan tutul jawa hasil introduksi di kawasan TNGC merupakan hasil pelepasliaran yaitu pada tahun 2019 bernama Slamet Ramadhan (kumbang jantan), dan tahun 2022 bernama Rasi (tutul betina). Macan Slamet Ramadhan terakhir terpantau kamera jebak pada bulan April 2023, sedangkan Macan Rasi berhasil terpantau pada Juli 2024 ini. Sehingga jumlah individu Macan tutul jawa di kawasan TNGC yang berhasil terpantau keberadaannya selama kurun tahun 2024 sebanyak 4 ekor, yaitu 3 ekor satwa asli dan 1 ekor satwa introduksi (Rasi). Keberhasilan pemantauan keberadaan Macan tutul jawa baik satwa asli dan satwa introduksi tidak lepas dari peran dan komitmen para pihak yaitu Tim Monitoring Macan tutul jawa Balai TNGC, masyarakat mitra TNGC yang selalu mendampingi selama kegiatan pemantauan serta berperan sebagai sumber informasi keberadaan Macan tutul jawa di kawasan TNGC, serta dibantu oleh Yayasan SINTAS Indonesia dalam teknis pelaksanaan kegiatan mulai dari desain survey monitoring, penerapan metode/SOP secara langsung, support peralatan kamera jebak, sampai dengan pengolahan dan analisis data. Selain pemantauan yang dilakukan rutin oleh tim monitoring Balai TNGC, saat ini juga sedang berlangsung monitoring lanjutan untuk pendugaan struktur populasi Macan tutul se-Jawa (Javan Wild Leopard Survey/JWLS) yang merupakan program dari Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Sumberdaya Genetik (KKHSG), Direktorat Jenderal KSDAE yang disupport oleh Yayasan SINTAS Indonesia. Diharapkan hasil survei yang akan dapatkan tahun 2025 nanti bisa memberikan informasi yang lebih komprehensif terkait jumlah individu Macan tutul jawa khususnya di kawasan TNGC. Yuk sama-sama kita jaga dan lestarikan keberadaan Macan tutul jawa “Raja Rimba Taman Nasional Gunung Ciremai”. Sumber: Silvia Lucyanti, S.Hut., M.Si. - PEH Ahli Muda Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Beberapa Titik Longsor Ditemukan Saat Patroli Ground Check Open Area di TN Betung Kerihun

Putussibau, 20 Desember 2024. Tim Patroli Gabungan yang terdiri dari Polisi Kehutanan (Polhut), Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonzipur 5/ABW, dan Koramil Embaloh Hulu melaporkan adanya beberapa titik area terbuka berupa bekas longsor di dalam kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), Minggu (15/12). Titik longsor tersebut ditemukan saat kegiatan Patroli yang bertujuan untuk memeriksa kondisi kawasan hutan yang terbuka saat dilihat melalui citra satelit. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi adanya aktivitas manusia terutama WNA di area terbuka tersebut, mengingat kawasan TNBK berbatasan langsung dengan Negara Malaysia. "Saat kami menerima laporan adanya area terbuka di Kawasan TNBK, kami segera berkoordinasi dengan TNI AD yaitu Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonzipur 5/ABW dan Koramil Embaloh Hulu, mengingat titik lokasi tersebut dekat dengan perbatasan dan masuk dalam wilayah Embaloh Hulu. Lalu diputuskan untuk melaksanakan Patroli Gabungan yang bertujuan mengecek kondisi area terbuka tersebut" Jelas Edwar selaku Ketua Tim dari Polhut TNBKDS. Target lokasi yang sangat jauh membuat tim harus menempuh perjalanan selama 5 (lima) hari. Perjalanan ditempuh melalui sungai menggunakan kendaraan air kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju lokasi. Medan yang sulit dan terjal tidak menyurutkan semangat tim untuk menuju lokasi. Selama perjalanan, tim pun bermalam beberapa hari di hutan rimba. Saat sudah mencapai lokasi target, tim segera melakukan pengamatan fisik di area terbuka tersebut. Selain itu, tim juga menerbangkan drone untuk melihat kondisi area terbuka dari atas ketinggian. Hasilnya area terbuka tersebut bukan akibat dari aktivitas manusia melainkan kejadian alam yang mengakibatkan beberapa titik mengalami tanah longsor yang masif. "Sudah kewajiban kami mengantisipasi segala bentuk ancaman yang masuk ke Indonesia. Kegiatan ini menunjukkan kebersamaan kami dalam menjaga keutuhan NKRI dari manapun itu termasuk di kawasan TNBK." Pungkas Sertu Fajar dari Pamtas TNI AD. "Ketika mendapat laporan adanya area terbuka di kawasan TNBK, harus segera kita cek untuk memastikan bahwa tidak terjadi aktivitas illegal di area tersebut. Oleh karena itu kolaborasi ini sangat penting untuk mengantisipasi segala ancaman yang ada." Tambah Sertu Sutomo dari Koramil Embaloh Hulu. Kawasan TNBK dengan luas 816.693,40 hektar memang dikenal memiliki hutan yang masih terjaga kelestariannya, di dalamnya terdapat beberapa satwa dilindungi seperti orangutan, beruang madu, owa, dan masih banyak lagi. Kondisi topografi yang sulit untuk dilalui serta wilayah yang sangat luas membuat beberapa lokasi masih belum bisa terjamah petugas. Letaknya yang berbatasan langsung dengan negara tetangga juga berpotensi menimbulkan ancaman sehingga diperlukan kolaborasi dalam pengelolaannya. "Kolaborasi beberapa pihak dalam kegiatan ini merupakan wujud komitmen dari kami dalam pengelolaan kawasan TNBK sehingga hutan kita bisa tetap lestari dan terjaga." Tutup Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I, Hernowo Supriyanto. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Pendanaan Sosial Islam untuk Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia

Bulukumba, 18 Desember 2024 – Dalam upaya melindungi dan melestarikan keanekaragaman hayati, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), dan BIOFIN-UNDP menggelar rapat koordinasi bersama dinas terkait. Acara ini menandai dimulainya percepatan pemanfaatan dana sosial Islam untuk mendukung konservasi keanekaragaman hayati di Desa Kahayya, Sulawesi Selatan. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sulawesi Selatan turut hadir sebagai narasumber kunci dalam rapat ini. Hasil kajian BIOFIN mengungkap bahwa kebutuhan anggaran untuk mengimplementasikan Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia (IBSAP) mencapai Rp167,9 triliun. Namun, terdapat kesenjangan finansial yang signifikan untuk merealisasikan target ini. Mobilisasi dana dari berbagai sumber, termasuk pendanaan sosial Islam, menjadi salah satu solusi strategis untuk menjembatani kekurangan tersebut. BAZNAS melalui program Zakat for Community Development (ZCD) telah menjadikan Desa Kahayya sebagai lokasi program sejak 2019. Program ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat mustahik (penerima zakat) agar bertransformasi menjadi muzakki (pemberi zakat). Bersama BIOFIN-UNDP, program ini kini diperluas untuk mengintegrasikan perspektif pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati. Desa Kahayya, yang terletak di ketinggian 700–1.800 mdpl di kaki Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompobattang, merupakan kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi. Lanskapnya mencakup vegetasi pegunungan dan menjadi habitat satwa endemik seperti anoa pegunungan (Bubalus quarlesi). Di wilayah ini juga terdapat dua kawasan konservasi, yakni Taman Wisata Alam Malino dan Taman Hutan Raya Abdul Latief, yang menjadi benteng pelestarian biodiversitas Sulawesi. Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Ir. Jusman, memaparkan potensi pengembangan kegiatan konservasi di Desa Kahayya. Inisiatif yang dapat dilakukan meliputi pendidikan lingkungan melalui program visit to school hingga pengembangan area preservasi berbasis komunitas. Upaya ini diharapkan tidak hanya melestarikan keanekaragaman hayati, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem. Pendanaan sosial Islam, seperti zakat, infak, dan sedekah, memiliki potensi besar untuk mendukung implementasi Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia (IBSAP). Pendekatan ini diharapkan mampu mengatasi kesenjangan finansial dalam konservasi sekaligus memberikan dampak nyata bagi pengembangan komunitas. Dengan adanya kolaborasi antara pemerintah, lembaga sosial, dan masyarakat, Desa Kahayya diharapkan dapat menjadi model integrasi antara pelestarian lingkungan dan pemberdayaan ekonomi berbasis keadilan sosial. Inisiatif ini juga diharapkan menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk mengembangkan solusi kreatif yang menggabungkan pemberdayaan masyarakat dengan pelestarian alam, guna mewujudkan Indonesia yang lebih hijau dan berkelanjutan. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (Siaran Pers Nomor : SP.59/K.8/TU/Humas/12/2024) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Berita

Rinjani Meriri, Menuju Zero Waste 2025

Sembalun, 23 Desember 2024. Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Jumat (20/12), menggelar Rinjani Meriri dengan mengusung Tema Rinjani Zero Waste 2025 di kantor Resort Sembalun. Kegiatan Rinjani Meriri merupakan kegiatan rutin yang diadakan oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani menjelang penutupan Destinasi Wisata Alam Pendakian dengan peserta yang berasal dari berbagai komunitas diantaranya Kelompok Pecinta Alam, Asosiasi Pemandu Gunung indonesia, Kader Konservasi, Perwakilan Trekking organizer dan Forum Wisata Lingkar Rinjani dll. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani sekaligus melepas Peserta Rinjani Meriri. Rinjani meriri Tahun ini dirangkaikan dengan Dialog interaktif (kentongan) bersama Radio Republik Indonesia (RRI) Mataram dengan tema Konservasi dan Mitigasi Pendakian Rinjani Meriri 2024. Dialog interaktif tersebut dihadiri oleh Bapak kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani serta beberapa Narasumber diantaranya Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTB Ir. H. Ahmadi, SP-1 dan Asisten II Setda Kabupaten Lombok Timur - Ahmad Masfu, SE., M.M. Pada Akhir dialog interaktif dilakukan penyerahan piagam penghargaan Vertical Rescue Kecelakaan Pendaki dari Dirjen KSDAE kepada para stakeholder dan relawan yang telah ikut serta dalam kegitan Vertical Rescue tersebut. Dalam kesempatan ini pun sekaligus diumumkan penutupan Destinasi Wisata Alam Pendakian Taman Nasional Gunung Rinjani terhitung mulai tanggal 1 Januari 2025 sampai dengan 2 April 2025 Semoga dengan kegiatan Rinjani Meriri ini akan memberikan edukasi dan kesadaran pada kita semua akan pentingnya kebersihan sampah di Taman Nasional Gunung Rinjani. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Berita

Dua Tahun Penjara Bagi Penjual Kakatua Jambul Kuning

Tindak lanjut penanganan barang bukti 7 ekor Kakatua Jambul Kuning menunggu keputusan dari Kejaksaan Negeri Belawan Medan, 23 Desember 2024. Persidangan kasus perdagangan satwa liar dilindungi jenis Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea) memasuki babak akhir. Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan menjatuhkan vonis pidana penjara 2 tahun bagi terdakwa, Ferdinan Parmonangan Tampubolon, warga Jl. Nilam Raya No. 143, Perumnas Simalingkar, Kecamatan Medan Timur, Kota Medan, sebagaimana dikutip dari pemberitaan Harian Waspada edisi Jumat (20/12). "Menjatuhkan pidana kepada terdakwa Ferdinan Parmonangan Tampubolon oleh karena itu dengan pidana penjara selama 2 tahun,” ujar Hendra Hutabarat,Ketua Majelis Hakim, di ruang sidang Cakra 7 PN Medan, Rabu (18/12). Selain pidana penjara, hakim juga menjatuhkan hukuman kepada Ferdinan untuk membayar denda sebesar Rp. 200 juta. Dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, maka diganti (subsider) dengan pidana penjara selama 3 bulan. Majelis Hakim meyakini perbuatan pria berusia 42 tahun itu terbukti bersalah melakukan tindak pidana memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup sebagaimana dakwaan Jaksa Penuntut Umum. Hukuman hakim lebih ringan daripada tuntutan Jaksa Penuntut Umum Bella Azigna Purnama, yang sebelumnya menuntut Ferdinan 2 tahun 6 bulan penjara serta denda sebesar Rp. 200 juta subsider 6 bulan penjara. Kasus ini bermula ketika Ferdinan Parmonangan Tampubolon, SE., berhasil ditangkap oleh petugas Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumatera Utara saat akan memperniagakan satwa dilindungi Kakatua Jambul Kuning sebanyak 7 (tujuh) ekor melalui Bus Paimaham, pada Rabu 12 Juni 2024, sekitar pukul 18.00 Wib di Loket Bus Paimaham jln. Gagak Hitam Ring Road, Kelurahan Sunggal, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan. Dalam proses persidangan sebelumnya telah didengar pula keterangan Saksi dan Ahli dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara, masing-masing M. Ali Iqbal Nasution dan Dede Syahputra Tanjung, SP. Sementara barang bukti berupa 7 (tujuh) ekor Kakatua Jambul Kuning dititip oleh Kejaksaan Negeri Belawan ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit untuk dirawat dan direhabilitasi, pada Senin (30/9). Terhadap barang bukti ini masih menunggu tindak lanjut dari Kejaksaan Negeri Belawan. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Ratusan Satwa Kembali ke Cagar Alam Pegunungan Cycloop

Foto bersama pada kegiatan lepas liar satwa di hutan wilayah Kampung Asei Kecil, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, pada Rabu, 18 Desember 2024. Foto: Dok. BBKSDA Papua. Jayapura, 18 Desember 2024 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua melepasliarkan 264 satwa liar ke habitat alaminya. Lepas liar berlangsung di hutan wilayah Kampung Asei Kecil, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua, pada Rabu, 18 Desember 2024. Wilayah ini terletak di sekitar Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Jenis satwa yang dilepasliarkan terdiri atas 8 individu biawak papua (Varanus salvadorii), 161 individu kadal duri mata merah (Tribolonotus gracilis), 3 individu kadal panana (Tiliqua gigas evanescens), 44 individu ular sanca hijau (Morelia viridis), 1 individu ular sanca cokelat (Bothrochilus albertisii), 2 individu ular boa pohon (Candoia carinata), 42 individu ular boa tanah (Candoia aspera), 3 individu ular piton olive papua (Apodora papuana). Satwa-satwa tersebut berasal dari 2 sumber, yaitu translokasi dari Jawa Timur dan penyerahan Balai Besar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Papua. Semua satwa telah menjalani masa habituasi sehingga siap dilepasliarkan ke habitat alaminya. Kadal duri mata merah (Tribolonotus gracilis), salah satu jenis satwa yang dilepasliarkan pada Rabu, 18 Desember 2024. Foto. Dok. BBKSDA Papua. Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV BBKSDA Papua, Rian Agustina, menyatakan bahwa pengendalian peredaran satwa liar Papua dilakukan dengan sinergisme berbagai pihak terkait, bersama masyarakat. Dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan, sinergisme para pihak telah banyak menuai keberhasilan dalam menggagalkan tindak ilegal terhadap satwa liar. Puluhan kasus telah diselesaikan dan ratusan atau bahkan ribuan satwa liar Papua diamankan untuk dikembalikan ke habitat alaminya. Rian berpendapat bahwa poin penting keberhasilan dalam pengendalian peredaran satwa liar Papua adalah sinergisme. Selain itu, komitmen dan dedikasi juga sangat penting dalam menjaga kekayaan hayati Papua tanpa kenal lelah dan tanpa batas waktu. Rian menegaskan, “Jangan mengaku sebagai pencinta satwa, khususnya reptil, kalau masih punya ego memeliharanya untuk kesenangan pribadi dan gaya hidup. Biarkan satwa liar tetap merdeka di habitat alaminya. Kelak, manusia jugalah yang menikmati hasilnya, berupa kelestarian alam dan keseimnangan ekosistem.” Ular sanca hijau (Morelia viridis), salah satu jenis satwa yang dilepasliarkan para Rabu, 18 Desember 2024. Foto: Dok. BBKSDA Papua. Sementara itu, Kepala BBKSDA Papua, A.G. Martana, menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah bersinergi melaksanakan kegiatan ini. “Kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung Balai Besar KSDA Papua. Segala bentuk kontribusi sangat bermanfaat bagi kelestarian tumbuhan dan satwa liar Papua,” ungkap Martana.(dd) Sumber: Balai Besar KSDA Papua Call Center BBKSDA Papua: 0823 9770 9728

Menampilkan 625–640 dari 11.141 publikasi