Rabu, 22 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Pemanfaatan Hutan di Kawasan Harus Bijaksana dan Dilaksanakan Secara Lestari

Malinau, 1 Januari 2018. Demikian Ungkap Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang Johnny Lagawurin Melalui Agus Erwan selaku Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) wilayah III Long Ampung dalam acara rapat koordinasi Pengelolaan Sumber daya Alam pada tanggal 20 desember 2018 di Long Ampung. Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) merupakan kawasan konservasi yang dikelola secara kolaboratif. Pengelolaannya melibatkan banyak pihak seperti Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Adat, LSM dan berbagai stakeholder lainnya. Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk memberikan pemahaman kepada stakeholder dalam upaya pengelolaan kawasan konservasi TNKM. Mengingat beberapa keterbatasan pihak Balai TNKM dalam mengelola kawasan yang luasnya lebih dari 1,2 juta hektar. Rapat Koordinasi Pengelolaan Sumberdaya Alam SPTN III Long Ampung ini di hadiri oleh Pemerintah Kecamatan Kayan Hulu, Kecamatan Kayan Selatan, perwakilan desa-desa yang ada di sekitar kawasan, Adat Besar Apau Kayan dan tokoh masyarakat. Agus Menambahkan, Selama ini ketergantungan masyarakat di sekitar TNKM cukup tinggi terhadap kawasan. Beberapa hasil hutan yang kerap di manfaatkan berupa rotan, madu hutan, dan lain sebagainya. “Pemanfaatan yang mereka lakukan juga sangat terbatas karena akses menuju kawasan yang masih cukup sulit dijangkau. Beberapa yang mereka manfaatkan seperti Rotan, Madu Hutan, yang seperti itu yang dapat di olah mulai dari kerajinan hingga Obat-obatan Tradisional.” Ungkap Agus Erwan Oleh sebab itu di Himbau agar dapat memanfaatkan hutan secara Bijaksana dan memperhatikan nilai-nilai konservasi dan Lestari agar fungsi kawasan baik ekonomi maupun ekologi bisa dirasakan khususnya oleh masyarakat sekitar. karena wilayah ini merupakan hulu beberapa sungai sehingga mengelola kawasan ini dengan baik dapat memberikan perlindungan sampai ke wilayah hilir. Hal senada juga di ungkapkan Polsek Kayan Hulu yang diwakili Kepala Subsektor Kayan Selatan, Yohanes Bid. dirinya mengingatkan kepada masyarakat agar turut serta melindungi jenis-jenis tumbuhan dan satwa dilindungi yang ada di kawasan. Jangan sampai masyarakat sekitar terjerat hukum atas kasus perdagangan satwa di lindungi atau pun perusakan hutan. “Jangan sampai karena tidak tahu, kemudian tergoda untuk ikut memperdagangkannya (satwa di lindungi). Hal tersebut jelas merupakan pelanggaran hukum.” Ungkap yohanes Bid. Selama ini masyarakat Apau Kayan dikenal sudah cukup baik mengelola hutan. Mereka juga mencadangkan kawasan hutan sebagai kawasan konservasi/lindung yang mereka kenal sebagai Tana’ Ulen. Sehingga Balai TN Kayan Menatarang terbantu dalam pengelolaan kawasan selain melalui skema Kolaboratif juga oleh status Tana Ulen tersebut. Sumber : Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Paket Bantuan Pengembangan Usaha Ekonomi Produktif Kepada Kelompok Binaan

Rengat, 1 Januari 2018. Tingginya tekanan penduduk terhadap kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) menjadikan upaya pemberdayaan masyarakat sebagai hal yang wajib untuk dilakukan. Pemberdayaan masyarakat ini dilakukan dengan melakukan pembinaan secara intensif terhadap kelompok masyarakat dalam kurun waktu tertentu. Komoditas yang dikembangkan merupakan komoditas Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) pilihan yang bernilai ekonomis. Hal ini bertujuan agar pengelolaan kawasan berjalan secara optimal. Adapun sasaran pemberdayaan adalah masyarakat yang berada di dalam dan di luar kawasan TNBT. Dari 2017 sampai dengan 2018 terdapat 10 (sepuluh) kelompok binaan yang telah dibina Balai TNBT secara intensif. Kelompok binaan ini tergabung dalam wadah Kelompok Tani Hutan (KTH) dimana terdapat 5 (lima) KTH beranggotakan masyarakat di zona tradisional dan 5 (lima) KTH di zona penyangga TNBT. Sebanyak 8 (delapan) kelompok berada di Seksi Pengelolaan (SPTN) Wilayah II Belilas Riau dan 2 (dua) kelompok lainnya berada di SPTN Wilayah I Jambi. Masing-masing kelompok memiliki komoditas Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) pilihan yang bernilai ekonomis dimana pilihan ini telah melalui tahapan identifikasi potensi sumber daya ekonomi, budaya dan sosial yang dilakukan di masing-masing desa target. Komoditas yang dikembangkan di Wilayah Riau cukup seragam yaitu budidaya lebah madu jenis Trigona Sp atau Kelulut, rotan Kelukup dan pinang. Sedangkan komoditas yang dikembangkan di wilayah Jambi berbasis peternakan yaitu budidaya sapi dan kambing. Sebagai bagian dari tahapan pembinaan kelompok, Balai TNBT telah menyerahkan bantuan kepada seluruh KTH binaan pada rentang waktu 22 sampai dengan 26 Desember 2018. Total bantuan ekonomi yang diserahkan kepada 8 (delapan) KTH binaan di wilayah Riau adalah 135 koloni Trigona Sp , 205 unit Kotak topping, 40 unit masker, 35 unit alat panen madu, botol kemasan 200 ml sebanyak 550 buah beserta 2.500 bibit rotan Kelukup dan 1.000 bibit Pinang. Sedangkan untuk KTH binaan di wilayah Jambi, bantuan yang diberikan meliputi 3 ( tiga) ekor anakan Sapi dan 43 (empat puluh tiga) ekor anakan kambing. Adapun penyerahan bantuan untuk kelompok di wilayah Jambi telah diserahkan pada November 2018. Secara serentak pada 27 Desember 2018 dilakukan seremoni penyerahan bantuan di Kecamatan Batang Gansal dan Kecamatan Kemuning. Turut hadir Kepala Balai TNBT Darmanto, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Azmardi dan Kepala SPTN Wilayah II Belilas Lukman Hery P. Kepala Balai menyatakan agar segenap pihak terkait mengetahui kegiatan pengembangan bantuan ini dan turut membina serta mengawasi kegiatan kelompok binaan TNBT ini. Di akhir acara, setiap pihak menandatangani berkas Berita Acara Serah Terima bantuan dan foto bersama. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh
Baca Berita

Gelombang Tinggi di TN Taka Bonerate, Bupati Kepulauan Selayar Distribusikan Bantuan

Pulau Jinato - Kepulauan Selayar, 1 Januari 2019. Rombongan Bupati Kepulauan Selayar baru saja tiba dengan menggunakan kapal KM. Banawa Nusantara 9 di Pulau Jinato Taman Nasional Taka Bonerate Kepulauan Selayar. Walaupun kondisi cuaca masih kurang bersahabat rombongan tetap berangkat hari ini (30/12) dari Pelabuhan Pattumbukang pukul 06.00 pagi dan tiba di Pulau Jinato pukul 10.30 waktu setempat. Rombongan disambut oleh Kades Jinato Abdulllah, Komandan Resort Jinato Ajadin Anhar serta warga. Agenda rombongan adalah mendistribusikan bantuan ke nelayan yang terdampak gelombang tinggi beberapa hari lalu (27/12). Setiba di Pulau Jinato Bupati Kepulauan Selayar Muh. Basli Ali dan rombongan langsung mengecek kondisi pantai yang terkena gelombang tinggi yang berada di sebelah timur pulau. Setelah melakukan pengecekan rombongan kemudian mengadakan pertemuan dengan beberapa perwakilan desa yang ada dalam kawasan TN. Taka Bonerate yang sudah berkumpul di Pulau Jinato. "Rombongan akan menginap dan rencana siang ini melakukan verifikasi korban kemudian ba'da isya akan dilakukan penyerahan bantuan oleh Bupati Kepulauan Selayar Muh.Basli Ali" jelas Ajadin Anhar yang dikonfirmasi lewat WhatsApp. Cuaca dalam kawasan masih belum kondusif, rencana besok bupati dan rombongan akan bertolak kembali ke Pelabuhan Pattumbukang. Sumber : Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate Foto : Ajadin Anhar - Polhut
Baca Berita

Dampak positif Tsunami, Pengunjung PLG Way Kambas “Membludak”

Labuhan Ratu, 1 Januari 2019. Di tengah kekawatiran terjadinya bencana tsunami, Pusat Latihan Gajah Way Kambas yang terletak di propinsi Lampung ini menjadi salah satu destinasi wisata pilihan liburan tahun baru 2019. Masyarakat memilih daerah yang aman dan menjauhi kawasan pantai. Puluhan ribu pengunjung memadati kawasan wisata Pusat Latihan Gajah Way Kambas. Ternyata antusiasme masyarakat untuk menikmati liburan cukup tinggi, selama liburan akhir tahun 2018 dan tahun baru 2019 Taman Nasional Way Kambas, terutama kawasan Pusat Latihan Gajah dipadati pengunjung. Mereka berasal dari berbagai daerah baik dari Pulau Sumatera maupun Jawa. Sejak pagi hari rombongan pengunjung mulai mengalir memasuki gerbang TN. Way Kambas, petugas piket jaga sudah disiagakan dan mereka dengan sigap telah menempati posisi masing-masing sesuai dengan tugasnya. Kepala Balai memberikan arahan agar para petugas dapat bekerja melayani pengunjung dengan ikhlas dan jaga keamanan para pengunjung. “Kami minta kepada seluruh petugas yang piket meskipun pada hari ini hari libur, kita tetap dapat memberikan pelayanan dengan sebaik-baiknya dan menjaga keamanan para pengunjung yang datang ke Way Kambas. Mereka adalah tamu kita, kita harus ikhlas menerima tamu-tamu kita”, demikian arahan bapak Ka. Balai Subakir, SH. MH. Semakin siang arus pengunjung semakin bertambah, antrian pengunjung di loket semakin panjang. Bahkan pada jam 10.00 antrian kendaraan roda 4 mencapai 2 km. Sampai dengan jam 15.00 pengunjung yang masuk ke Way Kambas diperkirakan mencapai puluhan ribu dengan jumlah kendaraan Roda 6, Roda 4 dan 2 diperkirakan mencapai 2000-an kendaraan. Petugas TN. Way Kambas dengan dibantu dari Satlantas Polres Lampung Timur, MMP, Koperasi Kowagas dan Pramuka Saka Wana Bhakti sigap mengatur lalu lintas dan parkir. Mereka bekerja dengan sangat baik dan dengan penuh rasa tanggung jawab. Untuk mengatur kelancaran lalu lintas dan mengurangi kemacetan, petugas membuat kantong-kantong parkir tambahan. Kepadatan pengunjung ini diluar dugaan para petugas, kepadatan ini kemungkinan dipengaruhi situasi bencana Tsunami Selat Sunda. Masyarakat memilih untuk menghindari daerah pantai. Dan ternyata bagi TN Way Kambas berdampak positif. Sumber: Humas Balai TN Way Kambas
Baca Berita

Melihat Dari Dekat

Sidoarjo, 29 Desember 2018. Seksi Konservasi Wilayah (SKW) dan Resort Konservasi Wilayah (RKW) Balai Besar KSDA Jawa Timur merupakan ujung tombak pengemban tugas dan pelaksana kegiatan bidang konservasi di lapangan. Keberadaannya perlu mendapat perhatian, baik dari sisi sarana dan prasarana maupun sisi sumberdaya manusianya. Untuk menuju pengelolaan konservasi berbasis resort, seorang pimpinan wajib mengetahui kondisi nyata dilapangan, selain mengetahui kondisi sarana dan prasarana yang ada di SKW dan RKW serta kawasan konservasi yang dikelola, secara moril akan dapat menumbuhkan semangat kerja bagi para staf di SKW dan RKW dalam melaksanakan tugas. Menjelang penghujung tahun 2018 tepatnya tanggal 27 Desember 2018, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Dr. Nandang Prihadi, S. Hut., M.Sc. melakukan kunjungan kerja di Kantor Seksi Konservasi Wilayah 2 Bojonegoro. Kepala Balai Besar melakukan pemeriksaan kondisi kantor SKW 2 Bojonegoro, hasilnya cukup memprihatinkan, beberapa bagian atap mengalami kebocoran dan diperintahkan agar tahun 2019 dilakukan rehabilitasi. Kerapian bangunan paling tidak cermin dari kinerja, bagaimana bisa menjaga dan memelihara kawasan konservasi, jika bangunan kantornya compang-camping (*red) Selanjutnya melakukan koordinasi dengan Perum Perhutani KPH Parengan dan dilanjutkan dengan mengunjungi unit penangkaran Rusa Timor (Rusa timorensis) KPH Parengan yang berlokasi di BKPH Malo. Administratur /KKPH Parengan, Badaruddin, S. Hut menyampaikan kepada Kepala Balai bahwa banyak yang berminat untuk membeli Rusa Timor tersebut. Kembangkan unit penangkaran dan kelola sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, selalu berkoordinasi dengan RKW, SKW dan BKW BBKSDA Jatim, himbauan Nandang. Di hari kedua, 28 Desember 2018, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur melakukan kunjungan lapangan ke kawasan Cagar Alam Gua Nglirip. Dengan didampingi petugas lapangan, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur meninjau pintu masuk dan pintu keluar Gua Lawa. Dikarenakan untuk melakukan susur gua diperlukan perlengkapan khusus, untuk agenda kegiatan kali ini tidak sampai melakukan susur gua. “Kita perlu agendakan lagi terutama untuk susur gua, persiapkan perlengkapannya, ternyata Goa Nglirip sangat indah, ungkap Nandang. Pada musim penghujan ini tetesan Air di stalagtit cukup kerap didengar, dan kondisi lantai gua cenderung basah dan licin, berbeda sekali ketika musim kemarau yang jarang ada tetesan Air. Penetapan Gua Nglirip sebagai Nature Monument oleh Pemerintah Hindia Belanda pasti mempunyai maksud dan tujuan, perlu dilakukan penelusuran rona sejarah dan penelitian tentang Cagar Alam Goa Nglirip. Jaga dan lestarikan kawasan konservasi kita yang merupakan benteng terakhir dalam usaha perlindungansumberdaya alam hayati. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Peduli Keselamatan Kerja Petani Madu Hutan, Balai TN Kayan Mentarang Gelar Latihan Panjat Pohon

Malinau, 31 Desember 2018 - Balai Taman Nasional Kayan Mentarang melaksanakan kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat desa binaan SPTN Wilayah III Long Ampung dengan melakukan pelatihan panjat pohon sebagai salah satu cara efektif untuk panen madu alam di Desa Data Dian, Kecamatan Kayan Hilir. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 8 s/d 13 Desember 2018 ini menghadirkan Pemateri dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Malinau dan Tarakan. dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang, termasuk di dalamnya Kelompok Tani Madu Hutan Data Dian. Materi di mulai dari pengenalan alat panjat, fungsi alat, cara perawatan alat, membuat simpul dan praktek penggunaan alat Panjat pohon dan cara mudah serta aman dalam memanjat pohon madu hutan. pelatihan panjat pohon madu hutan merupakan tindak lanjut terhadap pemberian bantuan bagi kelompok tani madu hutan data Dian. Berdasarkan hasil FGD yang dilakukan beberapa bulan sebelumya, kelompok tani madu hutan data Dian membutuhkan bantuan berupa peralatan panjat untuk memanen madu hutan mereka secara aman. Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional wilayah III Long Ampung Agus Erwan, S.Hut., M.Sc melalui Kepala Resort Data Dian Nadir mengungkapkan bahwa kegiatan yang dilaksanakan merupakan perhatian Balai TN Kayan Mentarang terhadap masyarakat dan petani madu yang ada di kawasan penyangga TNKM agar dapat bekerja secara aman dan mendapatkan hasil yang maksimal. "Kegiatan ini kita laksanakan sebagai perhatian kita kepada masyarakat, utamanya para petani madu yang ada di wilayah SPTN III Long Ampung. Yang kita harapakan pada saat mereka memanen madu mereka tetap mengutamakan keselamatan dan tetap mendapatkan hasil yang maksimal." Ungkap Nadir Desa Data Dian merupakan salah satu desa binaan SPTN Wilayah III dengan penghasil madu alam terbaik. Namun selama ini, aktivitas pemanenan madu hutan dilakukan secara tradisional tanpa pengaman, sehingga sangat beresiko terjadinya kecelakaan saat bekerja. Dengan adanya pelatihan ini masyarakat bisa mengembangkan lagi hasil madu alam yang merupakan salah satu mata pencaharian mereka . “Dengan adanya pelatihan ini, masyarakat dapat bekerja lebih efektif dan tingkat resiko kecelakaan kerja dapat di minimalisir. Adapun ini juga sebagai bentuk dari hasil kerjasama dalam pengelolaan TNKM secara Kolaboratif yang selama ini di jalankan oleh Balai TN kayan Mentarang.” Tutup Agus Erwan saat di konfirmasi baru-baru ini. Sumber : Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Buaya Muara Kembali Muncul di Desa Wawontulap Penyangga Bagian Selatan TN Bunaken

Tatapaan, 30 Desember 2018. Buaya muara (Crocodylus porosus) kembali muncul dan terperangkap oleh jaring nelayan Desa Wawontulap. Buaya dengan panjang 262 cm dan lingkar badan 84 cm masuk di jaring Lukman Nungan dan Rasid Matingga, jam 4 sore tanggal 29 Desember 2018. Menurut Hukum Tua Wawontulap Fadly Tapola, buaya ini diprediksi berasal dari Muara sungai talongkak (sungai kecil) di ujung desa yang berhadapan dengan Pulau Tatapaan di Desa Wawontulap, Kecamatan Tatapaan Kabupaten Minahasa Selatan. Pada tahun 2017 pernah muncul buaya serupa, tetapi lebih besar, masuk di sero nelayan dengan panjang 6 m dan linkar badan 2.8 m kemudian ditangkap oleh nelayan yang dijual seharga 2.5 juta, dan akhirnya buaya tersebut juga sudah disita aparat, adapun tahun 2018 tertangkap di jaring nelayan, lalu diamankan ke rumahnya untuk menghindari penjualan kembali, tambah Hukum Tua. Dalam Buku Panduan Lapangan TN Bunaken (Mehta 1999), disebutkan Buaya Muara (Crocodylus porosus) pernah terlihat dan tertangkap di Desa Wawontulap. Panjang mencapai 6-7 meter. Populasi buaya muara sangat sedikit di Indonesia, satwa ini menjadi pemangsa terbesar dan berada di ujung rantai makanan dalam habitatnya yakni mangrove, rawa sungai, dan daerah muara. Makanan utamanya krustacea, serangga, dan ikan kecil (untuk buaya anakan) dan buaya muara dewasa makanannya ikan, mamalia (babi, rusa) dan bisa menyerang manusia. Dalam Buku RPTN Bunaken 1996-2021 Review (2010) dilaporkan masih ada buaya di sekitar mangrove Pulau Mantehage tetapi keberadaannya masih belum di ketahui. Seekor buaya muara ditemukan dalam mangrove di Desa Pinasungkulan tahun 2007, setelah ditangkap dibawa ke Tatelu untuk perawatan, karena jika tetap berada di mangrove tersebut dikawatirkan menyerang warga. Crocodylus porosus merupakan satwa dilindungi berdasarkan PP 7/1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Permenlhk No.20/menlhk/setjen/kum.1/6/2018 jo Permenlhk No.P.92/menlhk/setjen/kum.1/8/2018 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi. Buaya yang ditemukan sudah dievakuasi oleh Tim dari Balai TN Bunaken dan setelah mendapatkan konfirmasi dari BKSDA Sulawesi Utara untuk ditipkan pada Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki Bitung untuk perawatan dan penanganan proses tindaklanjut. Mengingat buaya muara termasuk hewan buas dan dikawatirkan akan mengganggu nelayan yang beraktivitas. Sumber : Eko Wahyu Handoyo, S.Hut - PEH Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Menghantarkan Kebebasan si Burung Merak Hijau di Taman Nasional Alas Purwo

Banyuwangi, 27 Desember 2018. Akhirnya merak hijau bisa menikmati rumah barunya di Taman Nasional Alas Purwo. Setelah melalui perjalanan dari Jogja ? Banyuwangi, merak hijau menjalani habituasi di kandang habituasi sebagai tahap akhir sebelum dilepasliarkan di savana Sadengan Kawasan Taman Nasional Purwo, Senin (24/12). 10 Ekor burung merak hijau (Pavo muticus) tersebut berasal dari hasil serahan suka rela masyarakat selama periode 2014-2018 yang sementara ini dititipkan di Lembaga Konservasi 4 ekor di Gembiraloka Zoo, 2 ekor di YKAY dan sisanya 3 kor direhabilitasi di BKSDA Yogyakarta. Dipilihnya Taman Nasional Alas Purwo sebagai tempat pelepasliaran burung pemangsa memiliki sejumlah alasan, selain kesesuaian habitat dan kecukupan sumber pakan alami, Hal ini diperlukan untuk mengenalkan satwa dengan habitat aslinya. BKSDA Yogyakarta berkolaborasi dengan Gembiraloka Zoo, Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta-Wildlife Rescue Center. Dalam ceremony pelepasliaran dihadiri oleh Jajaran Pejabat Struktural dari Taman Nasional Alas Purwo, Balai KSDA Yogyakarta, Manager Konservasi dan Perawatan Gembiraloka Zoo dan tamu undangan. Sementara itu Kepala Balai Alas Purwo Nuryadi, S.Hut, M.P. menyampaikan bahwa selain ikut berkontribusi melestarikan satwa dilindungi, dengan adanya penambahan individu merak dari kegiatan pelepasliaran wisatawan tidak hanya bisa melihat saja, namun sekaligus bisa juga sebagai sarana wisata edukasi masyarakat, tuturnya. Dalam pesannya Kepala Balai KSDA Yogyakarta Ir. Junita Parjanti, MT menyampaikan, "kolaborasi BKSDA Yogyakarta dengan mitra seperti lembaga konservasi di DIY ini mengapresiasi dan dapat membangun citra positif sekaligus ikut berkontribusi dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Pihaknya sangat mengapresiasi kolaborasi antar Lembaga Konservasi di DIY, sementara itu salah satu tujuan utama dari rehabilitasi satwa, yaitu pengembalian satwa liar ke alam? Ini salah satu harapan dari kegiatan konservasi satwa liar, bahwa satwa dapat kembali lagi ke alam?", ucapnya. Sumber : Andie Chandra Herwanto / PEH BKSDA Yogyakarta
Baca Berita

Ombak Tinggi Hancurkan Jolloro Nelayan Jinato

Pulau Jinato - Taman Nasional Taka Bonerate, 27 Desember 2018. Telah terjadi musibah angin kencang dan hujan deras yang memporak-porandakan jolloro (kapal kayu) pantai timur pulau Jinato, Desa Jinato Kecamatan Taka Bonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar. Kejadian ini terjadi sekitar pukul 02.00 dini hari (27/12). Hujan lebat dan angin kencang yang berhembus dari arah timur pulau. Menyebabkan kapal nelayan tenggelam, terdampar dan rusak berat. "Harusnya ini musim barat namun semalam pas kejadian angin tiba-tiba berubah dari arah timur menghempas jolloro yang diparkir di pinggir pantai" jelas Ajadin Anhar Polhut Balai TN. Taka Bonerate yang lagi bertugas di pos Jinato via WhatsApp Kejadian ini tiba-tiba ombak besar setinggi 2-3 meter dan angin bersamaan datang dari arah timur pulau yang membuat beberapa masyarakat tidak sempat menyelamatkan perahunya. "Alhamdulillah, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, namun sampai saat ini teman di lapangan masih melakukan identifikasi berapa jumlah kapal nelayan yang rusak berat" ucap Faat Rudhianto kepala Balai TN. Taka Bonerate. Kepala balai menambahkan bahwa pihak balai lagi menghimpun informasi dari semua Resor (Tarupa, Tinabo, Latondu, Rajuni dan Pasitallu) yang ada di dalam TN. Taka Bonerate dikarenakan signal juga mengalami gangguan Sampai saat ini belum diketahui berapa jumlah perahu yang rusak dari musibah ini. Masyarakat dan petugas resort kini bahu-membahu mengevakuasi kapal-kapal yang tenggelam dan rusak. Selain pulau Jinato beberapa pulau lain di dalam kawasan TN. Taka Bonerate juga mengalami kejadian serupa. Sumber : Ajadin Anhar - Polhut Balai TN. Taka Bonerate Editor : Asri - PEH Balai TN. Taka Bonerate
Baca Berita

BPCB Sulsel Gelar Diskusi Kelompok Terfokus Bahas Ancaman Laju Kerusakan Lukisan Prasejarah

Makassar, 27 Desember 2018. Bertempat di aula kompleks Benteng Rotterdam, Makassar, Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan (BPCB Sulsel) gelar diskusi terfokus. Membahas perihal restrukturisasi data, identifikasi, dan pemantauan laju kerusakan lukisan prasejarah di Kawasan Karst Maros Pangkep dan Muna, Konawe Utara. Gelaran ini berlangsung sehari pada Rabu (26/12/2018). Hadir sejumlah pihak di antaranya Balai Arkeologi Sulsel, dosen dan mahasiswa arkeologi Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, dan BPCB Sulsel sendiri. Tak ketinggalan Pusat Kajian Arkeologi Untuk Masyarakat, Universitas Negeri Makassar, dan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul). Sedikitnya 31 undangan telah hadir saat acara dimulai. Kepala BPCB Sulsel, Laode Muhammad Aska membuka diskusi kelompok terfokus secara resmi. Tim kerja kegiatan ini kemudian mempresentasikan hasil pelaksanaan kegiatan mereka. Adalah Rustan, staf BPCB Sulsel mewakili timnya mempresentasikan hasil kerja mereka selama setahun belakangan ini. Dalam paparannya ia menyebutkan bahwa telah terjadi kerusakan terus menerus pada lukisan dinding gua prasejarah. Penyebab kerusakan diduga berasal dari faktor alam dan faktor manusia. Kondisi iklim, vegetasi, fauna, jasad renik, dan bencana adalah faktor alam. Kerusakan karena faktor manusia seperti aktivitias pertanian, pengembalaan ternak, vandalism, kunjungan wisata, dan penambangan. “Kajian pelestarian yang berlangsung 2015 lalu menunjukkan bahwa media lukisan prasejarah telah mengalami kerusakan hingga seratus persen. Dari 340 buah gambar, 92 persen di antaranya telah mengalami kerusakan,” terang Rustan dalam presentasinya. Karenanya BPCB Sulsel kemudian bertekad untuk mengidentifikasi dan memantau laju kerusakan lukisan peninggalan manusia prasejarah ini. Melalui kegiatan ini tim kerja melakukan pengumpulan data kondisi objek secara terukur dari waktu ke waktu. Tak hanya itu mereka juga merekam data pendukung lainnya yang diduga sebagai faktor penyebab kerusakan. Pada akhirnya mereka kemudian menganalisis korelasi antara perubahan lukisan prasejarah dengan data rekaman faktor dugaan penyebab perubahan. Tim telah menentukan tujuh sampel gua prasejarah yang tersebar di tiga kabupaten: Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan serta Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Leang Pettae, Leang Jarie, Leang Jing, Leang Bulu Sipong 2, Leang Parewe, Liang Metanduno, dan Gua Anabahi adalah gua yang terpilih sebagi sampel kajian. Pemilihan gua tersebut mewakili karakter dominan gua prasejarah. Data yang mereka kumpulkan cukup komplit dan sistematik. “Kami memilih sampel gambar pada lukisan di dinding gua prasejarah kemudian merekamnya dalam bentuk foto. Termasuk merekam data klimatologi dan kondisi lingkungan fisik ,” tambahnya. Data perekaman tersebut akan mereka kumpulkan selama paling sedikit lima tahun. Perekaman diakukan selama empat periode dalam setahun: awal musim hujan, puncak musim hujan, awal musim kemarau dan puncak musim kemarau. Kajian ini telah dirintis mulai awal 2018 ini. Data yang telah terkumpul menjadi data awal, pembanding rekaman periode berikutnya. “Kami mengalami berbagai kendala dalam pengambilan data di lapangan karena sejumlah keterbatasan. Karenanya hasil sementara hanya satu sampel yang terekam tiga kali, dua sampel yang terekam dua kali, dan empat sampel yang terekam hanya sekali,” tutur Rustan memaparkan hasil pengambilan data timnya. “Kendala yang kami alami di lapangan di antaranya akurasi peletakan kamera yang berakibat tidak konsitennya foto rekaman. Juga belum tersedia kamera yang mumpuni agar mampu memudahkan mengidentifikasi kerusakan,” tambahnya. Lebih jauh Rustan membeberkan bahwa ada beberapa data yang belum mampu direkam karena kekurangan alat pengukur. Karenanya tim hanya memanfaatkan alat yang tersedia. “Kami membutuhkan alat perekam gelombang getaran, perekam polusi atau debu, dan perangkat stasiun klimatologi mini,” bebernya. “Karenanya kami meminta saran dan masukan dari berbagai pihak demi keberhasilan perekaman data dalam kajian ini,” tutupnya. Nasir, staf BPCB Sulsel selaku moderator diskusi kelompok terfokus itu kemudian menyilahkan narasumber berikutnya. Adalah Iwan Sumatri, Dosen Departemen Arkeologi Unhas, meninjau dari aspek akademik. Ia secara gamblang memaparkan dasar-dasar ilmu arkeologi, termasuk tujuan dasar ilmu ini. “Betapa penting lukisan tangan manusia yang hidup puluhan hingga ratusan ribu tahun lalu ini. Dengan kehadiran lukisan prasejarah ini, kita mengetahui ada kehidupan di sana sebelumnya. Kemudian peneliti melaksanakan tugasnya. Mengeksplorasi nilai yang terkandung di sana. Hingga kemudian kita dapat mengetahui kebudayaan manusia yang hidup di zaman itu,” pungkasnya. Pada akhir sesi paparan materi, Kepala BPCB Sulsel menyampaikan bahan presentasi tentang perlunya monitoring dan evaluasi. “Melalui pemantauan secara berkala, kita akan mengetahui tren kecenderungan kerusakan, termasuk mendeteksi dini penyebabnya. Ini penting sebagai dasar untuk menanganinya. Paling tidak memperlambat proses laju kerusakannya,” terang Laode Muhammad Aska. Sesi berikutnya diskusi, moderator membagi dalam beberapa babak tanya jawab. Begitu antusias audiensi mengajukan pertanyaan dan saran. Sejumlah saran mencuat seperti perlunya pengaturan kunjungan wisatawan di gua prasejarah, mengintip upaya negara lain menjaga situs prasejarahnya hingga perlunya menitik beratkan kajian pada satu faktor penyebab agar datanya lebih akurat. Tak hanya itu kemampuan tenaga penjaga situs perlu ditingkatkan dan perlunya sosialisasi lebih luas kepada khalayak pentingnya menjaga warisan budaya manusia yang belum mengenal baca tulis ini. Begitupun dengan sejumlah pertanyaan terlontarkan seperti seberapa besar sumbangsi industri termasuk tambang, perilaku manusia hingga kelembapan dan intensitas cahaya matahari mempengaruhi laju kerusakan. Jalannnya diskusi berujung pada kesimpulan bahwa perilaku manusia memberikan cukup dampak yang signifikan terhadap laju kerusakan. Terutama gua prasejarah yang terbuka untuk aktivitas wisata. Sentuhan ataupun gesekan langsung dari manusia memberi efek langung kepada lukisan pada dinding gua. Namun tak dapat dikesampingkan faktor alam terutama kelembapan, karenanya butuh waktu untuk mengamatinya. Lebih lanjutnya narasumber menanggapi tentang aktivitas penambangan. “Saat ini kami belum menemukan cukup data tentang sumbangsi laju kerusakan seperti akibat penggunaan dinamit yang menimbulkan getaran hingga ke situs prasejarah,” terang Rustan. Hingga pada akhirnya peserta diskusi kelompok terfokus menyepakati pentingnya menjaga lukisan manusia prasejarah melalui peran masing-masing pihak. Melalui pertemuan ini mereka berharap ke depan Kawasan Karst Maros Pangkep kelak menjadi pusat konservasi lukisan prasejarah di Indonesia. Sumber: Taufiq Ismail – Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Berbagai Kerusakan Akibat Gelombang Tinggi di TN. Taka Bonerate

Taman Nasional Taka Bonerate, Kepulauan Selayar, 27 Desember 2018. Berdasarkan informasi dari petugas yang berada di pos jaga masing-masing resort, berikut data dan informasi kerusakan yang diakibatkan oleh gelombang tinggi, angin kencang dan hujan deras di Taman Nasional Taka Bonerate : Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tarupa : 1. Rajuni Desa: 2 joloro rusak berat (tdk bisa lagi digunakan) a.n. Darja dan Jufri, rusak ringan ada belasan joloro/balapan. 2. Rajuni Bakka, ada sekira 12 joloro rusak ringan. 3. Latondu, tidak ada joloro/balapan yang rusak, sudah ada antisipasi nelayan setempat. 4. Tarupa, tidak ada perahu masyarakat yang mengalami kerusakan. Kantor resor/pos/bangunan aman. 5. Tinabo, tidak ada perahu/speedboat dan sarpras lainnya yang rusak Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Jinato : 1. Pasitallu Timur, tidak ada kerusakan perahu nelayan, serta pos jaga dan sapras aman 2. Pasitallu Tengah, kondisi kapal nelayan ada sekira 5 unit kapal yg rusak. Pos jaga dan sarpras lainnya aman. 3. Jinato kapal nelayan yang terdampak kejadian perahu rusak berat 49 unit, rusak ringan 50 unit, keramba apung 2 unit rusak berat, sampan fiber 4 unit. Pos jaga dan sarpras lainnya kondisi aman. Dari data dan informasi yang masuk, yang mengalami kerusakan parah adalah Pulau Jinato. Sumber : Petugas Tiap Resort TN. Taka Bonerate di lapangan Editor : Asri - PEH Balai TN. Taka Bonerate
Baca Berita

Jambore Pecinta Alam Kabupaten Blitar

Mohon ijin Bapak menyampaikan. laporan kegiatan sosialiasasi konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya Blitar, 22 Desember 2018. Eksploitasi sumber daya alam semakin menurunkan kualitas lingkungan hidup, hal ini juga dirasakan masyarakat Kabupaten Blitar, sehingga untuk meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap sumber daya alam dan lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup mengadakan kegiatan jambore pecinta alam se-Kabupaten Blitar. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari sabtu, tgl 22 Desember 2018 bertempat di Wana Wisata KALOKA Perhutani KPH Blitar Ds.Jegu Kec.Sutojayan Kab.Blitar. Peserta jambore berasal dari organisasi masyarakat Pecinta Alam dan kelompok Pecinta Alam tingkat SMA dan SMK Kabupaten Blitar. Kegiatan dibuka Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Blitar Ir.Krisna Triatmanto, M.Si, kemudian dilanjutkan materi bidang konservasi sumber daya alam dan ekosistem (KSDAE) tentang peningkatan kesadaran generasi muda dalam upaya konservasi pelestarian SDA Flora dan Fauna yang disampaikan Kepala Seksi Konservasi (SKW) I Kediri. Dalam pemaparannya dijelaskan mengenai prinsip dasar konservasi, perlindungan dan pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar serta peran generasi muda dalam kegiatan konservasi. Pertanyaan yang muncul seputar satwa dilindungi, kawasan konservasi, dan pemanfaatan kawasan konservasi. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, dapat meningkatkan kepedulian dan peran aktif generasi muda dalam bidang konservasi. Diakhir acara, Kepala SKW I menyampaikan agar peserta yang hadir untuk menyampaikan hasil sosialisasi kepada masyarakat di wilayah kabupaten Blitar lainnya. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Wahana Wisata Baru TN Danau Sentarum Sita Perhatian Pengunjung Pada Musim Libur Natal dan Akhir Tahun

Putussibau, 26 Desember 2018. Menjelang musim liburan natal 2018 dan tahun 2019 Balai Besar TNBKDS membuat terobosan baru bagi wisatawan yang akan menghabiskan waktu liburnya di dalam kawasan TN Danau Sentarum. Berbagai fasilitas wisata dibangun untuk meningkatkan jumlah kunjungan dalam kawasan konservasi ini. Salah satu wahana yang menarik perhatian pengunjung adalah sarpras wisata yang ada di Pulau Sepandan dan Bukit Tekenang. Pembangunan fasilitas wisata di Pulau Sepandan seperti trail wisata sepanjang 500 meter, 3 unit Shelter, 4 unit selfie spot, Dermaga dan guest house. Sedangkan untuk lokasi wisata di Bukit Tekenang juga telah dibangun dermaga dan berbagai fasilitas umum lainnya seperti toilet umum dan renovasi guest house. Sejalan dengan visi pengelolaan kawasan TN Danau Sentarum untuk mewujudkan konservasi keanekaragaman hayati di Ramsar Site dan destinasi wisata unggulan di Jantung Borneo (HoB), maka Balai Besar TNBKDS terus berbenah untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas fasilitas wisata. Kepala Balai Besar TNBKDS, Arief Mahmud menyatakan bahwa sejak dibukanya fasilitas wisata di lokasi Pulau Sepandan dan Bukit Tekenang, maka telah terjadi peningkatan jumlah kunjungan ke dalam kawasan TN Danau Sentarum. “Intensitas kunjungan ini akan semakin meningkat biasanya terjadi pada pergantian tahun, disiapkannya berbagai fasilitas wisata ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas dari ODTWA yang ada di kawasan konservasi ini sehingga wisatawan akan merasa puas dan ini memacu untuk menjadi kawasan wisata unggulan di Kabupaten Kapuas Hulu”, jelas Arief. Senada dengan Arief, Kepala Resort Tekenang, Lulu Sutrisno juga mengakui adanya peningkatan kunjungan wisatawan dalam beberapa hari terakhir ini. “Sejak masuk musim liburan natal tanggal 22-25 Desember 2018 terjadi peningkatan jumlah kunjungan di kawasan ini, walaupun belum membludak tapi tren nya semakin meningkat dari hari ke hari. Biasanya peningkatan yang paling signifikan terjadi pada tanggal 31 Desember 2018 – 1 Januari 2019, dimana jumlah pengunjung bisa mencapai ribuan orang”, tegas Lulu. Untuk mengantisipasi meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan dan menjaga fasilitas yang ada, maka Balai Besar TNBKDS telah membentuk tim yang bertugas selama musim liburan ini. Kepala Resort Sepandan, Alexander Melat menyatakan bahwa setiap hari ditugaskan 7-8 personil yang berjaga dan melayani pengunjung yang akan masuk ke lokasi wisata di Pulau Sepandan. “Untuk mengatasi keterbatasan SDM yang ada di resort, maka kami juga melibatkan teman-teman dari Saka Wanabakti untuk membantu petugas resort dalam melayani pengunjung di lokasi wisata, termasuk juga keterlibatan kelompok pemuda yang ada di sekitar kawasan TN Danau Sentarum", jelas Alexander Melat. Berdasarkan data dari Balai Besar TNBKDS bahwa sejak tahun 2016 sampai dengan 2018 telah terjadi peningkatan jumlah kunjungan ke kawasan TN Danau Sentarum. Tahun 2016 terdapat 1890 pengunjung, tahun 2017 terdapat 2925 pengunjung, dan tahun 2018 sampai dengan akhir bulan November terdapat 5701 pengunjung. Positifnya trend kunjungan wisata dari tahun ke tahun ini menjadi peluang potensial bagi Balai Besar TNBKDS untuk meningkatkan PNBP dari sektor wisata. Selain itu juga sebagai stimulan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui keterlibatan dalam pengelolaan wisata alam berbasis kawasan konservasi. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Penyelundupan Satwa Lewat Laut Digagalkan Balai KSDA Maluku

Ambon, 21 Desember 2018. BKSDA Maluku menggagalkan upaya penyelundupan satwa dilindungi dan merupakan kasus kedua minggu ini. Bekerja sama dengan Polsek KP3 Pelabuhan Yos Sudarso, Ambon, petugas mengamankan 12 burung Nuri Kepala Hitam (Lorius lory). Pengungkapan kasus ini berawal dari informasi masyarakat lewat Call Center BKSDA. Informasi awal mengungkapkan bahwa terdapat burung dilindungi di dalam sebuah kapal perusahaan pelayaran barang yang sedang singgah di Ambon. Setelah diperiksa, petugas mendapati seorang ABK kapal menyembunyikan burung di dek kapal bagian bawah. Dari keterangan awal, burung tersebut didapat dari Papua dan akan dijual setibanya di Surabaya. Untuk saat ini ABK yang diduga membawa satwa diinsungi tersebut telah diamankan di Kantor Polsek KP3 Ambon untuk diproses lebih lanjut. Permintaan yang tinggi jenis Nuri dan Kakatua dari Pulau Jawa memang menjadi salah satu penyebab terjadinya aksi penyelundupan burung dari Timur Indonesia. Nuri Kepala Hitam masuk ke dalam jenis burung dilindungi lewat Peraturan Menteri LHK Nomor P.92 tahun 2018. Aksi perdagangan ilegal jenis Nuri dan Kakatua biasa dilakukan lewat jalur laut dengan kapal-kapal barang maupun penumpang. Dan kota Ambon menjadi pintu terakhir jalur laut di Indonesia Timur sebelum mereka berlayar ke arah barat. Sumber : Balai KSDA Maluku
Baca Berita

TNGGP Terus Tingkatkan Pelayanan Pengunjung

Cibodas, 26 Desember 2018. Pada tahun 2018, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BB TNGGP) sedikitnya mendapat empat gelar terbaik tingkat nasional, yaitu PEH (terampil) berprestasi, peserta Pameran terbaik, inovasi pelayanan publik, dan Satker terbaik pelaksanaan SBSN 2018. Pada tanggal 16 Maret, Menteri LHK berkenan menyerahkan SINOLINGHUT AWARD, kepada Kepala BB TNGGP sebagai pemenang terbaik tiga di ajang Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik lingkup Kementerian LHK. Pada acara peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2018 yang diselenggakan di Sulawesi Utara pada Bulan Agustus, BB TNGGP dinobatkan sebagai peserta pameran terbaik sekaligus mendapat penghargaan untuk PEH tingkat terampil terbaik. Pada Bulan ini kembali, Kepala BB TNGGP menerima penghargaan untuk katagori “Satker Terbaik Pelaksanaan SBSN 2018” yang diserahkan Menteri Keuangan. Sebagai taman nasional yang paling dekat dengan Ibu Kota RI dan tidak jauh dari Ibu Kota Propinsi Jabar serta mudah dijangkau dari tiga Ibu Kota Kabupaten (Kab. Bogor, Sukabumi dan Cianjur), sudah tentu banyak dituntut untuk terus meningkatkan pelayanan publik, terutama untuk kegiatan wisata alam. Untuk itu BB TNGGP berusaha menjawab tuntutan tersebut, pelayanan Simaksi (Surat Ijin Memasuki Kawasan Konservasi) sudah memakai sistem on-line (meskipun baru duduk diperingkat tiga namun sudah masuk kelompok terbaik, lho!). Untuk pelayanan wisata harian dan berkemah, telah dibangun berbagai fasilitas, salah satunya dibiayai dari sumber dana SBSN yang digunakan untuk membenahi ODTWA di Situgunung, Selabintana, dan Mandalawangi Cibodas. Hasilnya cukup memuaskan dan mendapat penghargaan “Satker Terbaik Pelaksanaan SBSN 2018”. Saat ini di kompleks ODTWA Situgunung telah tersedia tempat parkir yang represintatif, para pedagang bisa menempati banguan / kios yang memadai, bagi mereka yang ingin menunaikan Sholat disediakan Masjid “Al-Ikhlas” dengan ukuran yang memadai (12 x 10 m2), information centre cukup luas sehingga bisa menyajikan berbagai informasi yang diperlukan. Penasaran? Bagaimana tidak penasaran, saat ini pengunjung ke kompleks Situgunung melonjak, naik sampai lima kali lipat dari tahun sebelumnya. Demikian pula kondisi tetangga sekitar, hotel-hotel di Sukabumi selalu full booked pada setiap hari libur. Ini salah satu out come-nya, ya? Di Selabintana BB TNGGP sudah siap menyambut tamu yang ingin bermalam di rumah kabin (tersedia sebanyak empat unit), information centre terlihat megah dan mewah dengan ukuran yang luas, tempat parkir sudah cukup luas, mushola sudah “jreng”, tampilan kantor resort beda dari resort-resort lainnya. Pingin lihat? Kompleks Mandalawangi Cibodas sudah menyediakan kolam renang bagi mereka yang suka berenang di air dingin, mushola sudah nunggu mereka yang akan memakmurkannya, warung sudah ditertibkan dengan disediakannya kios resmi. Tengoklah! Keberhasilan ini bukan tanpa perjuangan, sejak awal, program yang dibiayai dari SBSN ini dikawal dengan ketat, mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai selesainya pekerjaan diawasi dan terus dievaluasi, dengan maksud agar biaya yang cukup besar ini bisa menghasilkan produk yang bermanfaat untuk pelayanan publik. Semoga. Sumber: Balai Besar Taman Naional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

BKSDA Sumsel Tertibkan Kepemilikan Opsetan Macan Dahan dan Kepala Rusa Sambar

Lahat, 20 Desember 2018. Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat, Balai Konservasi Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) berhasil menertibkan opsetan satwa liar dilindungi yaitu 1 opsetan Macan Dahan (Neofelis nebulosa) dan 1 opsetan Kepala Rusa Sambar (Cervus unicolor) saat melakukan patroli eksitu di Kota Lahat. Melalui pengamatan intensif pada beberapa lokasi yang dicurigai memiliki opsetan satwa liar dilindungi yang ditindaklanjuti dengan penajaman informasi dan penyadartahuan kepada pemilik membuahkan hasil dengan berhasil ditertibkannya opsetan Macan Dahan (Neofelis nebulosa) dan Kepala Rusa Sambar (Cervus unicolor) tersebut. Pemilik bersedia menyerahkan karena menyadari bahwa kepemilikan satwa liar dilindungi melanggar peraturan. Hal ini juga menunjukkan keberhasilan dalam upaya penyadartahuan kepada pemilik yang dilakukan oleh SKW II Lahat BKSDA Sumsel. Penertiban kepemilikan satwa liar dilindungi baik dalam keadaan hidup maupun mati berupa opsetan menjadi target SKW II Lahat BKSDA Sumsel. Upaya penertiban melalui patroli eksitu rutin dilakukan selain untuk menyelamatkan satwa liar dilindungi juga untuk lebih menyadartahukan masyarakat bahwa kepemilikan satwa liar dilindungi baik dalam keadaan hidup maupun mati berupa opsetan melanggar peraturan. Harapannya akan semakin meningkat kesadaran masyarakat untuk tidak memiliki satwa liar dilindungi baik dalam keadaan hidup maupun berupa opsetan. Sumber : Wahid Nurrudin-PEH BKSDA Sumatera Selatan

Menampilkan 6.369–6.384 dari 11.140 publikasi