Kamis, 23 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Penyu Sisik dan Kucing Hutan Dilepasliarkan BKSDA Bali

Denpasar, 10 Januari 2018. Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Bali bekerjasama dengan Turtle Conservation Education Center (TCEC) salah satu kelompok pelestari penyu binaan BKSDA Bali melepasliarkan 1 ekor Penyu Sisik (10/1). Penyu ini sehari sebelumnya secara tidak sengaja tersangkut jaring nelayan yang kemudian oleh nelayan tersebut diserahkan ke TCEC. Oleh TCEC setelah dilaporkan ke BKSDA Bali, penyu tersebut diperiksa kesehatannya oleh Dokter Hewan dibantu para volunteer. Penyu dibersihkan dari tempelan Karang /tritip, lumut dan parasit lainnya. Penyu tersebut sebelum dilepasliarkan dipasang tanda/tagging sebagai ciri bahwa satwa tersebut telah dilepas oleh pihak pemerintah dan pemerhati satwa dan lingkungan, sehingga harapannya disamping untuk kepentingan kajian ilmiah, manakala suatu saat masyarakat menemukan satwa ini dan kondisinya sehat agar dilepasliarkan kembali ke habitat. Atas rekomendasi Dokter Hewan, BKSDA Bali dengan TCEC kemudian hari ini melepasliarkan penyu tersebut di di perairan Desa Serangan Kota Denpasar disaksikan sejumlah Media. Harapan semua pihak, semoga penyu tersebut bisa meneruskan hidupnya dan berkembang biak di alam. Pelepasliaran ini telah dilingkup dengan Berita Acara Pelepasan. Pada saat ini di TCEC terdapat sekitar 3 ekor Penyu yang juga tersangkut jaring nelayan yang rencananya akan direlease menunggu pulihnya kesehatan penyu2 tersebut akibat luka tersangkut jaring nelayan. Pada hari yang sama di tempat yang berbeda, bekerja sama dengan Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Bali, BKSDA Bali juga melepasliarkan 2 ekor Kucing Hutan hasil penyerahan masyarakat di Hutan Batukahu di sekitar lokasi Pura Luhur Batukahu. Kucing hutan ini sebelumnya telah dirawat dan setelah dirasa siap secara medis diliarkan, barulah satwa ini dilepaliarkan. Sebelum dilakukan pelepasan dilakukan persembahyangan di lokasi pura untuk memohon restu-Nya sehingga satwa berkembang biak sesuai harapan di alam liar. Sumber : Balai KSDA Bali
Baca Berita

Ini Lho Manfaat Jamur Kayu

Kuningan, 8 Januari 2018. Apa itu jamur "ganoderma" atau jamur kayu? Jamur yang dikenal dengan nama "lingzhi" atau jamur obat punya fungsi sebagai bahan obat. Konon juga digunakan untuk olahan menu makan istimewa para raja karena khasiat yang luar biasa dari jamur ini. Jamur ini sebagian hidup pada kayu yang sudah mati. Sebagian lainnya tumbuh pada kayu yang masih hidup dan dedaunan yang sudah gugur serta sisa tumbuhan. Sebagai “pathogen” tumbuhan, jamur kayu dapat menyebabkan pembusukan akar dan batang sehingga menyebabkan kematian. Sedangkan sebagai "saprofit", jamur ini telah lama digunakan sebagai bahan obat bagi manusia. Jamur kayu yang telah diolah menjadi obat punya banyak khasiat seperti meredakan nyeri rematik, menurunkan tekanan darah hingga membantu pengobatan kanker. Adanya peran ganda tersebut membuat jamur kayu menjadi bahan menarik diteliti untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dasar maupun terapan dengan tujuan "bioprospecting". Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dengan luas 14.841,30 hektar mempunyai keanekaragaman hayati yang melimpah. Salah satunya jamur. Nah, melalui eksplorasi tematik manajemen bersama masyarakat, keanekaragaman jenis jamur kayu di satu sudut gunung Ciremai, Kuningan terekam (12/2018). Tim menemukan tiga jenis jamur kayu dan beberapa jamur lainnya. Ketiga jamur kayu tersebut yakni "Ganoderma lucidium", "Ganoderma applantum" dan "Ganoderma atrum". Penemuan ketiga jamur ini menandakan kondisi keanekaragaman hayati di kawasan tersebut dalam kondisi seimbang. Jamur Ganoderma di TNGC harapannya tetap lestari. Sehingga fungsi jamur ini memberikan nilai tambah bagi ekosistem dan masyarakat. Untuk budidaya jamur ini tentu masih memerlukan informasi yang lebih banyak serta harus sesuai kaidah pemanfaatan di kawasan konservasi [Teks & Foto © Mendry T - BTNGC | 012019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Pengamanan Hutan BKSDA Kalsel Bersama PT. Arutmin Indonesia Site Senakin

Batulicin, 8 Jauari 2019 – Tepat pukul 07. 30 WITA dua tim patroli pengamanan hutan Cagar Alam Teluk Kelumpang berangkat menuju lokasi Cagar Alam Teluk Kelumpang. Tim pertama dipimpin oleh Achmad Nabawi selaku Kepala Resort Cagar alam Teluk Kelumpang beranggotakan Supriyadi, Hairani, Arsi Badaruddin, dan Eddy Kurniawan Astanto. Selanjutnya tim kedua dipimpin oleh Fakhruraji Selaku koordinator Polhut Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin beranggotakan Yofi Azhar, Agung Reynanto Rizal, Suriansyah, dan Heri Sofian. Sesuai arahan Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc tim melaksanakan patroli simpatik di awal Tahun 2019 di kawasan sekaligus menjalin silaturahmi dengan perangkat-perangkat desa sekitar kawasan agar terjalin komunikasi yang baik serta memudahkan koordinasi nantinya. Kegiatan patroli ini hasil kerja sama kolaborasi dengan PT. Arutmin Indonesia site Senakin untuk melaksanakan patroli pengamanan hutan Cagar Alam Teluk Kelumpang di wilayah kerja Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Pertanian Sehat Desa Penyangga Jaga Ekosistem Gunung Ciremai

Kuningan, 8 Januari 2018. Bertempat di De Jehans Boutique Hotel, Senin, 7 Januari 2019, Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) mengundang para pihak dalam "Workshop" dan Sosialisasi Pengembangan Pertanian Sehat Desa-Desa Penyangga. TNGC sebagai sebuah kawasan pelestarian alam diperuntukan untuk memberi manfaat bagi peningkatan kualitas kehidupan masyarakat yang dapat dinikmati secara berkelanjutan jika kelestarian ekosistem kawasan hutan gunung Ciremai tetap terjaga. Ternyata kelestarian dan kesehatan ekosistem hutan gunung Ciremai tidak hanya dipengaruhi oleh aktifitas makhluk hidup di dalam hutan. Namun juga perilaku dari masyarakat yang berada di wilayah penyangga kawasan yang mayoritas mata pencahariannya dari aktifitas pertanian dan perkebunan. Hasil produksi pertanian dan perkebunan yang berlimpah merupakan tujuan utama yang diwujudkan dengan berbagai usaha. Salah satunya penggunaan bahan-bahan kimia buatan dalam bentuk pupuk, "insektisida" dan "fungisida". Terkadang bahan-bahan tersebut digunakan dalam jumlah melebihi kadarnya dan berpotensi mencemari lingkungan, termasuk kawasan TNGC yang hampir seluruh wilayahnya berbatasan langsung dengan lahan pertanian dan perkebunan. Pertanian sehat, sebuah "role model" dari TNGC yang digagas bukan oleh sebuah lembaga pertanian. Namun berfalsafah bagaimana sumber daya alam hayati yang ada di TNGC dapat dieksplorasi, diteliti, serta diaplikasikan dalam pertanian atau perkebunan yang sehat dan alami untuk menjaga kesehatan ekosistem. Nah kesehatan ekosistem dapat menjaga manfaat yang sehat bagi masyarakat sebagai salah satu syarat untuk mewujudkan peningkatan kualitas kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Sambutan Kepala Balai TNGC perihal hubungan pertanian sehat mendukung kesehatan eksosistem TNGC membuka "Workshop dan sosialisasi pertanian sehat dihadiri Puja Utama, Kepala Sub Direktorat Pengawetan Jenis, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, perwakilan Direktorat Jenderal KSDAE dengan "stakeholder" lain Pemerintah Daerah kabupaten Kuningan dan Majalengka, akademisi perguruan tinggi Kuningan, Majalengka dan Cirebon, kelompok masyarakat dan lembaga swadaya masyarakat setempat. "Workshop" juga dihadiri T.O. Suprapto, pembina Joglo Tani Yogyakarta yang gaung keberhasilannya sebagai guru tani tidak hanya di Indonesia tapi juga mancanegara. Kehadiran beliau semakin menambah bobot dari acara itu dalam menjadikan pertanian sehat sebagai salah satu solusi meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan kesehatan ekosistem gunung Ciremai. Falsafah pertanian sehat disampaikan oleh Padmo Wiyoso, penggagas "Role Model" Pertanian Sehat TNGC, dilanjutkan pemaparan kegiatan yang telah dilaksanakan dalam mendukung falsafah tersebut oleh Idin Abidin, Pengendali Ekosistem Hutan. Pandangan kerangka ilmiah dalam membangun pertanian sehat dari taman nasional dan pengembangannya di masa depan dipaparkan oleh Suryo Wiyono, dosen Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Beliau menjelaskan bahwa produksi hasil pertanian dapat maksimal dan berkelanjutan jika didukung lingkungan yang sehat. Ekosistem sehat tercipta dari pola kehidupan kita yang ramah terhadap lingkungan salah satunya lewat pertanian sehat. Mari kita kurangi dan tinggalkan penggunaan pupuk kimia buatan yang menimbulkan permasalahan lingkungan demi manfaat lebih besar di masa depan [Teks © Robi, Foto © Koezky & Adit-BTNGC| 012019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Tim Rescue Balai Besar KSDA Riau Berhasil Mengevakuasi Dan Melepasliarkan Buaya Sinyulong

Pekanbaru, 6 Januari 2019. Call Center Balai Besar KSDA Riau mendapat informasi dari masyarakat Kec. Seberida-Belilas blok A, bahwa ada salah seorang masyarakat di daerah tersebut bernama Sunaryo (75 th) yang akan menyerahkan secara sukarela satu ekor Buaya Sinyulong (Tomistoma schlegelii). Kabid Wilayah I, Mulyo Hutomo segera memerintahkan Resort Pekan Heran melalui Kasi Wilayah I Pkl. Kerinci, Laskar Jaya Permana untuk melakukan pengecekan ke lokasi tersebut. Setelah dipastikan kebenarannya, maka berdasarkan perintah Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono pada hari dan tanggal yang sama Tim Rescue menuju lokasi dan langsung menemui masyarakat yang ingin menyerahkan satwa dilindungi tersebut. Berdasarkan informasi yang diperoleh, Buaya Sinyulong dengan panjang sekitar 3 m berkelamin jantan, telah dipelihara Sdr. Sunaryo selama kurang lebih 10 tahun. Disamping melakukan pengecekan, Tim juga melakukan sosiasialisasi kepada masyarakat sekitar terkait satwa liar yang dilindungi. Senin, 7 Januari 2019, Tim mengevakuasi Buaya Sinyulong tersebut dan membawanya ke kantor Bidang Wilayah I di Rengat untuk dilakukan observasi terlebih dahulu sebelum dilepasliarkan. Segera setelah pengecekan dilakukan, dengan dipimpin Kepala Resort Pekan Heran Zulkifli, Buaya tersebut dibawa ke kawasan konservasi yang merupakan habitatnya untuk dilepasliarkan. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Keruing Gunung, Pohon Langka Yang Terancam Punah

Kuningan, 5 Januari 2018. Keruing Gunung (Dipterocarpus retusus) adalah salah satu jenis kayu khas dari daerah tropis. Tumbuhan ini menyebar dari India, Burma, Vietnam sampai Indonesia. Di negeri ini dapat ditemukan di Aceh, Bali, Lombok, Sumbawa dan Jawa bagian barat. Keruing umumnya berupa pohon berukuran sedang sampai besar. Pohon dengan nama lokal Palahlar ini tumbuh dalam hutan primer ketinggian 800 - 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Ketinggian tajuk dapat mencapai 65 meter. Sedangkan batangnya berbentuk lurus dan bulat gilig dengan gemang mencapai lebih dari 150 hingga 260 sentimeter. Apabila kita melukai batang dan rantingnya, keruing akan mengeluarkan resin yang acapkali amat berlimpah. Keruing gunung merupakan pohon yang sangat langka, bahkan bisa dikatakan terancam punah. Di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), kayu ini dapat ditemukan di sebuah punggung bukit dengan populasi sangat minim. Kayu dari marga "Dipterocarpaceae" ini terkenal pada industri pengolahan kayu. Biasanya industri tersebut membutuhkan sebagai bahan bangunan rumah, perahu ataupun perabotan rumah tangga. Alasannya palahlar mempunyai kelas awet yang tinggi. Popularitas dan nilai jual kayu ini pun cukup baik di pasaran. Namun hal ini juga yang membuatnya sulit ditemukan di alam. Palahlar bermanfaat yakni sebagai tanaman obat (anti bakteri). Kita dapat memanfaatkan bagian kulit kayu dan daunnya. Manfaat sebagai tanaman obat ini menunjukan bahwa Keruing Gunung merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu potensial sebagai sumber biofarmaka. TNGC sebagai kawasan konservasi yang mempunyai potensi sumber daya alam yang tinggi sangat dibutuhkan keberadaannya untuk kelangsungan hidup masyarakat setempat. Selain sebagai penyangga kehidupan manusia, TNGC bisa dijadikan tempat menimba ilmu untuk ilmu pengetahuan berharga tentang kehidupan. Begitu pula pohon Palahlar di TNGC yang terancam punah diperlukan usaha agar pohon tersebut bisa lestari. Mari jaga Palahlar tetap eksis sehingga kita dapat memanfaatkannya secara bijak [Teks © Ahmad Fuad ; Foto © PEH BTNGC | 012019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Kapolres Langsa Serahkan Kucing Batu

Langsa, 2 Januari 2019. Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1 Lhokseumawe Dedi Irvansyah, SP didampingi Kepala Resor Konservasi Wilayah Aceh Timur Azharuddin menerima penyerahan satwa liar yang dilindungi jumlah 2 (dua) individu jenis Kucing Batu dalam bahasa inggris Marbled Cat dari suku Felidae dengan nama latin Pardofelis marmorata dari Kepala Kepolisian Resor Langsa AKBP Andi Hermawan SIK M.Sc di Mapolres Langsa. Pada kesempatan tersebut Bapak Kapolres Langsa juga mengutarakan keinginannya kepada Bapak Kepala Seksi Konservasi I Lhokseumawe agar dapat dipertimbangkan satwa yang diserahkan tersebut untuk ditempatkan di Lembaga Konservasi Hutan Kota Langsa sebagai edukasi bagi masyarakat yang berkunjung ke lokasi tersebut. Kucing Batu dikenal juga dengan nama lain Kucing Bulu; Macan Tandang atau Bekul merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi dari Kelompok Burung Mamalia Famili Felidae berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.92/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi. Deskripsi singkat satwa liar yang dilindungi tersebut warna tubuh kecoklatan dengan bercak-bercak hitam, mirip pola warna macan dahan (Neofelis nebulosa), tetapi bercak bertepi hitam pada sisi-sisi tubuh kurang jelas dan bintik hitam pada kaki lebih banyak. Tubuh dari hidung sampai ekor berpola garis hitam. Panjang badan sekitar 465-490 mm dengan panjang ekor 480-495 mm, panjang telapak kaki belakang 118-122 mm dan berat sekitar 2-2,5 kg. Hidup arboreal dan teresterial dan aktif di malam hari, Habitat Hutam primer dan sekunder dan Distribusi Sumatera dan Kalimantan. Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh
Baca Berita

Perpisahan Pegawai Purna Tugas Balai TN Meru Betiri

Jember, 2 Januari 2019. Balai TN Meru Betiri mengadakan acara perpisahan pegawai purna tugas yang telah mengabdi dan berkarya di Balai TN Meru Betiri. Pegawai yang purna tugas di periode 2018 yaitu 8 orang ASN, 3 orang MMP (Masyarakat Mitra Polhut), 2 orang THL (Tenaga Harian Lepas). Acara ini dihadiri oleh pegawai TN Meru Betiri, perwakilan dari SPTN dan Resort serta ibu-ibu dharma wanita TNMB. Dalam sambutannya, Kepala Balai, Ir. Kholid Indarto menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada pegawai purna tugas atas segala daya upaya selama melaksanakan tugas yang diamanahkan di TN Meru Betiri. Semoga yang telah dilakukan bernilai ibadah dan diterima Allah subhanallahu wa ta’ala, bisa tetap bersilaturahmi dan beraktivitas serta lebih berbahagia bersama keluarga. Disampaikan pula, permohonan maaf atas salah dan khilaf apabila ada yang tidak berkenan dalam melaksanakan tugas. Pada kesempatan ini Widi Riantoko mewakili ASN dan Abdul Rosyied mewakili MMP menyampaikan pesan dan kesan selama bertugas di TN Meru Betiri. Kebersamaan, kekompakan dan kekeluargaan dalam sama-sama menjalankan tugas menjaga hutan dan memajukan TN Meru Betiri. Semoga TN Meru Betiri pada tahun 2019 menjadi lebih baik lagi. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Translokasi Orangutan Di Penghujung Tahun 2018

Palangkaraya, 4 Januari 2018. Menutup Tahun 2018, tepatnya di hari Minggu, tanggal 30 Desember 2018 pukul 11.00 WIB, Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah bersama Orangutan Foundation International dan Balai Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) melaksanakan Translokasi 1 Individu Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting. Orangutan Jantan seberat 69.5 Kg berusia 30 tahun tersebut telah direscue dari Desa Asam Baru Kec. Danau Seluluk Kab. Seruyan Kalimantan Tengah pada hari Jum’at tanggal 28 Desember 2018. Penyelamatan orangutan ini berdasarkan laporan dari Bapak Sabrin, warga Desa Asam Baru yang menyampaikan adanya gangguan orangutan yang merusak kebun durian milik warga Desa Asam Baru, dan sudah berada di kebun tersebut selama ± 1 bulan. Setelah menempuh perjalanan darat selama 3 jam dari Pangkalan Bun menuju Desa Asam Baru, kemudian dilanjutkan dengan transportasi air (kelotok) menuju kebun selama 30 menit, Tim WRU SKW II – BKSDA Kalimantan Tengah bersama OFI tiba dilokasi dan menemukan orangutan di dalam sarang pada ketinggian ± 25 meter. Selanjutnya Tim berusaha membuat orangutan keluar dari sarang dengan memukul2 batang pohon tempat orangutan bersarang, merasa terganggu orangutan keluar sarang dan berpindah pohon, saat berpindah pohon tim menembakan obat bius. Saat ditemukan di lokasi pada koordinat S -2°25'37 E112°9'56", Individu orangutan tersebut dalam kondisi sehat dan liar. Setelah di lakukan pengecekan kesehatan di OCCQ Pangkalan Bun selama 2 hari, Individu Orangutan tersebut akhirnya dilepaskan di Taman Nasional Tanjung Puting. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Mengawali Kegiatan 2019, Balai TN Kayan Mentarang Gelar Rapat Internal

Malinau, 3 Januari 2018. Pertemuan pasca pergantian tahun ini dilaksanakan di ruang rapat Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), yang hadiri 40 orang ASN di lingkup kerja Balai Taman Nasional Kayan Mentarang. Kegiatan ini bertujuan untuk pembinaan pegawai, pengarahan persiapan kegiatan serta tugas dan fungsi di tahun 2019 serta review terhadap pelaksanaan kegiatan, tugas dan fungsi yang telah di laksanakan sepanjang tahun 2018 dalam rangka meningkatkan kinerja pada tahun 2019 ini. Ada beberapa hal yang menjadi fokus pembahasan dalam rapat tersebut yang di sampaikan oleh Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang Johnny Lagawurin. Di antaranya ialah perlunya menempatkan semangat dan disiplin dalam bekerja , meningkatkan responsibility terhadap fenomena dan dinamika di lapangan serta mengerahkan segala kapasitas Intelektual Scientific yang ada dengan menghasilkan kreatifitas-kreatifitas dari hasil kerja dalam bentuk tulisan tulisan yg ilmiah yang bermanfaat untuk data dan informasi guna memperkuat baseline Balai TNKM. “Saya ingin kawan-kawan ini tetap solid sepanjang tahun, tanamkan semangat dalam bekerja, kita tingkatkan respon terhadap fenomena di lapangan, apa yang di butuhkan dan apa yang harus di lakukan, laksanakan semuanya dengan jelas, focus, bekerja dengan hati dan penuh keikhlasan.” Ungkap Johnny Tidak hanya itu, ia juga menambahkan dalam pengelolaan Taman Nasional Kayan Mentarang selama ini disadari belum maksimal, ada beberapa parsial wilayah kerja dalam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang yang belum terjamah dalam konteks identifikasi maupun survei survei Kehati, karena begitu luasnya wilayah kawasan yang menjadi tanggung jawab tata kelola Balai TNKM, serta aksesibilitas yg sulit utk menjangkaunya. Namun Balai TNKM berupaya dengan alokasi anggaran yg tersedia pada 2019 ini daerah tersebut dapat di upayakan untuk di arahkan ke wilayah dimaksud melalui kegiatan yang terakomodir dalam DIPA BTNKM baik berupa kegiatan patroli maupun survey. “Tahun 2019 ini saya minta kegiatan Patroli dilaksanakan di kawasan TNKM yang belum pernah kita lakukan kegiatan. begitu juga dengan survey kehati, lakukan inventarisasi di kawasan TNKM yang belum pernah kita datangi. Hasil kegiatannya nanti agar menjadi input untuk membangun data base yang lebih baik di samping kewajiban membuat Laporan pertanggunjawabannya. Saya yakin kawan-kawan mampu melaksanakannya dengan baik.” Tutup Johnny. Belum lama ini telah didistribusikan sebuah tulisan dari Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Bapak Wiratno, yang berjudul “Putting Spirit Into Your Work” melalui grup media sosial lingkup Balai Taman Nasional Kayan Mentarang. tulisan tersebut di distribusikan sendiri oleh Kepala Balai TNKM Johnny Lagawurin agar dapat dibaca, dipahami dan dihayati agar terbangun semangat dalam bekerja dengan berbagai persoalan yang di temukan di lapangan. Untuk itu Johnny Lagawurin memberikan pengarahan kepada seluruh Staf untuk lebih meningkatkan kerja-kerja yang berlandaskan semangat, keikhlasan untuk membangun Passion yang ada pada kapasitas masing-masing personil. Sumber : Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Rapat Awal 2019, Refleksi Balai TN. Taka Bonerate Tahun 2018

Benteng - Kepulauan Selayar, 3 Januari 2019. Rapat awal 2019 ini dipimpin Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate (TNTBR) Faat Rudhianto serta dihadiri pejabat struktural, fungsional dan staf Balai TN. Taka Bonerate. Pertemuan besar pertama di tahun 2019 ini membahas kinerja di tahun 2018 dan mempersiapkan kegiatan-kegiatan tahun 2019 di ruang aula rapat Balai TN. Taka Bonerate (3/1) "Pertemuan pertama ini adalah merefleksi kegiatan tahun 2018 dan mempersiapkan kegiatan-kegiatan tahun 2019 lebih baik" ucap Faat Rudhianto membuka rapat. Selain merefleksi capaian kinerja 2018, tahun 2019 direncanakan penataan kembali penempatan personil dengan menitik beratkan pada penguatan tim resort dan seksi pengelolaan Taman nasional (SPTN) dilapangan. Tahun 2019 kinerja Balai TN. Taka Bonerate lebih baik dengan kerja bersama, kerja tim dan meningkatkan disiplin setiap individu ASN Balai TN. Taka Bonerate. Kerja Ikhlas, Kerja Keras, Kerja Cerdas Salam Konservasi..Hu,Ha,Hu,Ha!!! Sumber : Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Warga Gampoeng Lhok Aman Serahkan Trenggiling Secara Sukarela

Meukek, 3 Januari 2018. Safrijal (30) tahun, salah seorang warga asal Gampoeng Lhok Aman, Kecamatan Meukek, menyerahkan seekor Trenggiling (Manis javanica) ke petugas Taman Nasional Gunung Leuser Kamis, (3/1/19). Hewan bersisik keras ini masuk kedalam rumah warga yaitu selasa malam sekitar pukul, 20.00 WIB. Setelah berhasil ditangkap, maka selanjutnya hewan liar tersebut diserahkan ke petugas TN. Gunung Leuser secara sukarela untuk dilepasliarkan kembali kehabitat alaminya. Prosesi penyerahterimaan berlangsung pada pukul, 09.00 WIB pagi, di Gampoeng Lhouk Aman, Kecamatan Meukek, Kabupaten Aceh Selatan. Anggota Resort Krueng Baro, Herman Juanda menyatakan bahwa, hewan yang gemar memakan rayap ini sering ditemukan warga turun ke pemukiman penduduk dan bahkan lajim masuk rumah. Beruntung masyarakat di daerah tersebut paham akan ketentuan hukum yang mengatur tentang keberadaan satwa lindung di alam. Setiap temuan satwa liar yang dilindungi Undang – undang Kehutanan, pasti diserahkan warga kepetugas tegasnya. Lanjutnya atas kerjasama yang baik dari masyarakat ini tentunya sangat membantu kami dalam menjalankan tugas penyelamatan satwa lindung dilapangan. Sumber : Efa W. dan Foto. Musrizal - Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser
Baca Berita

Di Penghujung 2018, Tim Gugus Tugas Tetap Siaga Selamatkan Satwa Liar Dilindungi

Kuningan, 2 Januari 2018. Menjelang akhir tahun 2018 kinerja Tim Gugus Tugas Penyelamatan dan Evakuasi Tumbuhan dan Satwa Liar BBKSDA Jabar ternyata tetap semangat pada komitmen untuk memberantas kepemilikan illegal satwa diindungi. Buktinya, pekan terakhir di penghujung tahun 2018 tepatnya pada Jum’at 28 Desember lalu, Call Center Tim Gugus Tugas Penyelamatan dan Evakuasi TSL SKW VI Tasikmalaya menerima informasi terkait kepemilikan satwa jenis Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) yang berada di Kabupaten Majalengka dan seekor Elang Bondol (Haliastur indus) di Kabupaten Kuningan. Segera saja seluruh anggota tim penyelamatan dan evakuasi di kedua wilayah kerja tersebut melakukan pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket). Setelah mengetahui bahwa informasi tersebut benar, pada tanggal 31 Desember 2018, Tim Gugus Tugas segera berangkat ke lokasi. Seorang anggota Polsek Cigasong, Kab. Majalengka memang memelihara seekor Kukang Jawa. Berdasarkan penuturannya, satwa dilindungi tersebut didapat dari seorang warga yang sebelumnya menemukan satwa tersebut di perkebunan bambu miliknya. Kukang dengan ukuran dewasa diterima Tim dalam keadaan sehat, walaupun ada sedikit bekas luka di atas pelipis mata sebelah kirinya. Beralih ke Kabupaten Kuningan di hari yang sama, Tim Gugus Tugas berhasil menyelamatkan seekor Elang Bondol dari seorang warga Desa Pancalang, Kab. Kuningan bernama Euis Setiawati. Menurut penuturan Euis, satwa yang diperkirakan berumur sekitar 4 bulan tersebut ditemukan dalam keadaan terjatuh dari sarangnya di kebun dekat tempat tinggalnya sejak masih piyek (anakan). Masih di tanggal yang sama, Tim Gugus Tugas Penyelamatan dan Evakuasi TSL SKW VI Tasikmalaya juga menerima penyerahan satwa liar dilindungi yang berasal dari seorang warga Kampung Babakan Sirna Desa Cikadongdong Kecamatan Singaparna Kabupaten Tasikmalaya bernama Dede Kuswandi. Menurut pengakuannya, satwa liar dari jenis Kukang Jawa tersebut diperoleh 2 hari yang lalu di sekitar rumahnya, kemudian satwa tersebut diserahkan secara sukarela kepada Tim Gugus Tugas dan Penyelamatan TSL SKW VI Tasikmalaya Bidang KSDA Wilayah III Ciamis, BBKSDA Jawa Barat. Tidak kalah dengan Tim Gugus Tugas Penyelamatan dan Evakuasi TSL SKW VI Tasikmalaya, Tim Gugus Tugas Penyelamatan dan Evakuasi TSL SKW II Bogor pada tanggal 31 Desember 2018 juga menerima penyerahan secara sukarela seekor elang ular bido. Satwa liar dilindungi tersebut diserahkan oleh seorang warga Sukabumi. Selain kesiapsiagaan Tim Gugus Tugas dalam penyelamatan dan evakuasi TSL, Tim ini juga berhasil menyampaikan pesan yang terkandung di dalam No. 5 Tahun 1990 kepada masyarakat bahwa menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup merupakan salah satu tindakan terlarang yang memiliki ketentuan pidana. Pesan inilah yang diharapkan semakin menggugah masyarakat untuk berhenti memiliki satwa liar dilindungi secara illegal. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Hadiah Terindah 2019 dari TN Gunung Ciremai

Kuningan, 2 Januari. Elang Jawa di Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) kembali bertambah. Minggu (29/12), Dwi Suryana melakukan monitoring di salah satu site pengamatan elang Jawa. Beliau berhasil mendokumentasikan gambar seekor anakan elang Jawa di sarangnya. "Umur anakan elang Jawa tersebut diperkirakan baru empat hari menetas", ujar Dwi. Sehari sebelumnya, Dwi telah melakukan monitoring. Namun tidak mendapatkan gambar yang bagus dan tidak melihat adanya anakan di sarang tersebut. Rasa penasaran membuat dia kembali pada esok harinya. Setelah lama menunggu dan sudah akan pulang, tiba-tiba terlihat benda kecil putih bergerak. Satu jam kemudian datang sang induk membawa makanan untuk sang bayi yang baru menetas. Menariknya anakan elang Jawa biasanya hanya seekor dan menetas setiap dua tahun sekali. Namun menurut Iwan Sunandi, petugas Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) di TNGC ada satu site pengamatan yang menetas setiap tahun. Pertumbuhan elang Jawa sangat menarik untuk diamati. Pada awal kelahirannya, anakan berbulu putih bersih dengan paruh warna hitam. Setiap minggu bulu anakan akan berubah menjadi warna kuning bercampur warna hitam. Tapi warna putih tetap ada pada beberapa bagian setelah elang Jawa tumbuh dewasa. Elang Jawa merupakan salah satu satwa kunci dalam ekosistem pulau Jawa. Satwa ini merupakan jenis yang sudah langka keberadaannya. Selain itu populasi elang ini kian menurun. Penyebaran "raptor" ini terbatas hanya di Jawa saja. Lebih tepatnya di kantung-kantung kawasan konservasi. Salah satu kantung tersebut adalah TNGC. Elang Jawa begitu penting bagi ekosistem TNGC. Sebab elang Jawa sebagai "predator" atau pemangsa sehingga berperan besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem gunung Ciremai. Selain sebagai kawasan pelestarian alam dengan status taman nasional, gunung Ciremai juga termasuk kawasan penting bagi burung dan merupakan kawasan endemik bagi burung yang ada di pulau Jawa. Menjaga dan melestarikan kawasan yang begitu penting bagi burung ini. Menjaga rumahnya akan membuat elang Jawa terus berkembang biak sesuai jalan hidupnya [teks © ISO, foto © Dwi S - BTNGC | 012019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Perayaan Pergantian Tahun di Wisata Gunung Ciremai Berlangsung Aman

Kuningan, 2 Januari 2018. Pergantian tahun menjadi magnet tersendiri bagi sejumlah kalangan untuk merayakan. Terutama kaum kaula muda tentunya yang antusias menyambut pergantian tahun ini di Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) Gunung Ciremai. Sebelumnya Mitra Pengelola Wisata Gunung Ciremai (MPGC) sudah bersiap diri menyambut hajatan akhir tahun ini. Pantauan tim pengamanan dan pengawasan pengunjung (wasjung) dari Balai TN Gunung Ciremai sudah bersiap sejak di penghujung tahun. Tim ini terdiri dari gabungan Polisi Kehutanan, Pengendali Ekosistem Hutan, penyuluh Kehutanan dan staf Balai TNGC. Pengamanan dan wasjung dilaksanakan 10 hari menjelang malam sampai pergantian tahun. Dari hasil pantauan pengamanan dan wasjung selama sepuluh hari terakhir situasi aman tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Khusus di malam pergantian tahun, tim sudah melakukan pengamanan dan pengawasan sejak sore hari. Berkoordinasi dengan MPGC terkait acara di beberapa ODTWA memastikan situasi aman dan tidak melanggar aturan yang berlaku. Pengamanan jalur pendakian mendapat prioritas utama, jalur pendakian Palutungan, Linggarjati dan Linggasana. Memastikan seluruh pendaki siap mendaki dan himbauan apabila terjadi cuaca ekstrim, pendakian dihentikan dulu sementara. Secara keseluruhan acara pergantian tahun di ODTWA Gunung Ciremai berlangsung kondusif. Hanya saja pengelola wisata dan pengunjung perlu mengurangi musik dalam perayaan. Mari kita lebih bijak lagi untuk perayaan tahun baru selanjutnya [Teks © Oman Depe ; Foto © Eska - BTNGC | 012019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Rahasia Kantong Semar

Kuningan, 2 Januari 2018. Banyak diantara kita yang sudah mendengar tanaman yang dikenal dengan nama Kantong Semar. Tertarik untuk mengenalnya lebih dekat?. Mari simak informasinya. Tanaman ini dapat kita jumpai di hutan hujan tropis, hutan pegunungan, hutan kerangas, gunung kapur dan padang "savanna". Kantong Semar (Nepenthes sp) merupakan tanaman yang sangat unik. Karena menggantungkan hidupnya sebagai pemakan serangga dan hewan kecil lainnya dan dikenal sebagai tanaman karnivora. Flora ini umumnya tumbuh di habitat terbuka dan miskin "hara" serta memiliki kelembaban udara yang cukup tinggi. Habitat miskin nutrisi membuat tanaman ini berevolusi dan berkembang secara unik. Kondisi lingkungan tersebut mendukung kemampuan tanaman ini menjebak dan mencerna serangga hasil tangkapannya. Ya, Kantong Semar mengkonsumsi serangga yang terdapat disekitarnya untuk bertahan hidup. Protein dan asam "nukleat" yang terkandung dalam serangga inilah yang diperlukan sebagai nutrisi. Tahukah di mana kita bisa menjumpai Kantong Semar hasil perkembangbiakan dari alam?. Tentu kita dapat menyaksikannya di plot percontohan (Demplot) anggrek bumi perkemahan Panten di Argalingga, Argapura, Majalengka dalam area Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Kantong Semar yang terdapat di lokasi ini merupakan anakan dari alam yang dikembangbiakan dari biji. Kemudian di budidayakan pada "demplot" tersebut. Bila penasaran ingin melihatnya, mari berkunjung ke sana. Ada pepatah tak kenal maka tak sayang. Ada baiknya apabila pepatah tersebut kita gunakan untuk lebih menyayangi alam sekitar kita berserta isinya. Karena setelah kita mengenalnya lebih dekat mudah-mudahan bisa menumbuhkan rasa cinta kita terhadap alam [Teks & Foto © Taufikurohman - BTNGC | 122018]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai

Menampilkan 6.353–6.368 dari 11.140 publikasi