Kamis, 23 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Surga kecil di timur Morotai

12 Januari 2019. Pulau tabailenge adalah salah satu pulau tak berpenghuni di Morotai. Berlokasi di sisi timur Morotai, Pulau Tabailenge adalah sebuah destinasi wisata di Morotai yang sangat mempesona. Pulau ini membuat jatuh cinta pada pandangan pertama. Pulau Tabailenge sangat indah. Hampir semua jejeran Pulau yang ada di Morotai sangat indah, namun tak seindah dan semenawan Tabailenge. Pulau ini memang sangat unik dan memiliki kekhasan tersendiri serta benar benar masih perawan dan tetap terjaga sampai saat ini. Hamparan pantai berpasir putih yang menawan, dihiasi dengan lebatnya tegakan pepohonan hijau dan bentangan air laut berwarna biru jernih seakan menghipnotis untuk tidak beranjak dari surga kecil ini. Pulau ini, memiliki daya tarik tersendiri, membuat siapa saja yang mengunjungi Pulau ini pasti betah dan takjub akan keindahannya. Tak ada yang tidak menarik dari setiap sudut di Pulau ini. Keindahan dan keaslian pulau ini membuat makin bergairah untuk berburu foto dan video disetiap sudut Pulau ini. Tabailenge menyimpan panorama alam yang begitu mempesona, Pulau ini layak disebut sebagai "Surga kecil di timur Morotai". Untuk menggelilingi Pulau ini, hanya memakan waktu sekitar 15 - 20 menit. Terdapat sebuah dermaga kecil tempat kapal bersandar serta sebuah gazebo. Menurut masyarakat sekitar di sekitar Pulau, juga memiliki potensi ikan yang melimpah bahkan menjadi spot mancing favorit bagi masyarakat sekitar. Jernih dan birunya air laut, seakan mengoda saya untuk melompat kelaut dan ikut merasakan serunya berendam merasakan segarnya air laut dari samudera Pulau surga tak berpenghuni. Untuk mencapai Pulau Tabailenge, Anda bisa berangkat dari Desa Bere-Bere dengan menyewa long boat warga. Jarak Pulau Tabailenge dengan Desa Bere-Bere cukup dekat, hanya sekitar 20 - 25 menit. Bila anda ingin mengunjungi Surga kecil ini. Rencanakan trip anda sebaik mungkin dan siapkan segala perlengkapan camping dan logistik anda secukupnya. Minimal 2 atau 3 hari camping disini. Keindahan dan keunikan Tabailenge pasti membuat anda betah dan nyaman untuk menghabiskan waktu anda di Pulau ini. Indonesia adalah Negeri yang indah. Negeri yang menyimpan berjuta pesona. Keindahan alam dan kekayaan budayanya merupakan aset yang sangat berharga. Pulau Tabailenge adalah secuil kisah dari timur jauh Indonesia. Sumber : Sofyan Ansar - Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Komunitas Bhayangkara Motor Adventure, Baksos di Desa Indra Ramai dan Kunjungi Suaq Belimbing

Tapaktuan, 12 Januari 2019. Komunitas Bhayangkara Motor Adventure (BMA) Aceh Selatan yang di Ketuai KAPOLRES Aceh Selatan, AKBP Dedi Sadsono, ST kembali melakukan kegiatan Bhakti Sosial di Desa yang berdampingan dengan Kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL). Komunitas BMA menggunakan sepeda motor trail dalam melakukan aktifitas tournya. Kali ini medan yang ditempuh yakni jalur Suaq Belimbing yang memiliki medan menantang dan menggugah adrenalin. Sebelum menuju ke Suaq Belimbing, Komunitas BMA melakukan Baksos di Desa Indra Damai, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan dengan memberikan bantuan pembangunan Masjid berupa semen sebanyak 100 sak. Desa ini merupakan jalur darat menuju kawasan Stasiun Penelitian Suaq Belimbing yang dikelola TNGL bersama Mitra SOCP-YEL. Sesekali anggota komunitas BMA kesulitan melewati medan yang berlumpur. Medan pegunungan berbukit yang menantang dan menegangkan menjadi daya tarik tersendiri bagi anggota komunitas BMA Aceh Selatan. Setibanya di Suaq Belimbing, Komunitas BMA berjumpa dengan petugas TNGL dan beberapa peneliti asing yang sedang melakukan aktifitas penelitian orangutan. Menurut Arif Saifudin, S.Si selaku Kepala Stasiun Penelitian Suaq Belimbing, terdapat 2 orang peneliti asing yang berasal dari Belanda dan New Zealand dengan nama Larissa Josephina dan Natalie Oliver Caldwell. Lanjutnya, kedua peneliti tersebut akan melakukan penelitian selama 6 bulan (Larrisa) dan 1 tahun (Natalie). Kedua peneliti tersebut sedang melakukan penelitian terkait aktifitas sosial yang dilakukan orangutan sumatera (Pongo abelii) di Suaq Belimbing, tutupnya. Setelah istirahat dan diskusi kurang lebih 2 jam di Suaq Belimbing, Komunitas BMA Aceh Selaatan kembali melanjutkan tournya ke Kawasan Pantai Pasie Raja sebelum akhirnya kembali ke Tapaktuan. Bapak Dedi Sadsono selaku Ketua Komunitas BMA Aceh Selatan yang juga merupakan KAPOLRES Aceh Selatan mengatakan “Kegiatan ini dilakukan dalam rangka menjalin silaturahmi antara Komunitas BMA dengan masyarakat Aceh Selatan dan Pemantauan terhadap Aktifitas Peneliti Asing yang melakukan penelitian di Wilayah Kabupaten Aceh Selatan”. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser
Baca Berita

Pembinaan Pengelolaan Anggaran, Balai TN. Taka Bonerate Undang Kepala KPPN Benteng

Benteng - Kepulauan Selayar, 11 Januari 2019. Meningkatkan komitmen dan kompetensi perencanaan pengelolaan keuangan Balai TN. Taka Bonerate adakan pembinaan pengelolaan keuangan dengan narasumber Kepala KPPN Benteng, Ikhwan Mahmud di ruang pertemuan Balai. Kegiatan dibuka Kepala Balai Faat Rudhianto dan dihadiri para Pejabat Struktural, pengelola DIPA Balai TN. Taka Bonerate, Koordinator Fungsional. "Masalah yang ada sekarang yakni adanya beberapa saldo yang tidak normal serta terdapat selisih transfer masuk dan keluar pada pengelolaan anggaran kami" Jelas Faat Rudhianto membuka pertemuan. Selain sharing kendala-kendala yang terjadi dalam pengelolaan keuangan, dalam pertemuan ini juga dilakukan evaluasi pelaksanaan anggaran 2018 dan upaya percepatan pelaksanaan anggaran 2019. "Perolehan IKPA 2018 Balai TN. Taka Bonerate sebesar 97,91%, ini sudah nilai yang bagus dalam dari semua satker di Kepulauan Selayar ini, nilai ini adalah nilai yang dihasilkan oleh sistem" Ucap Ikhwan Mahmud memulai pemaparannya Namun dalam tingkat satker IKPA (Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran) seluruh Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, belum tentu nilai perolehannya bagus, tambahnya. Kegiatan semacam ini sangat membantu bagi pengelola anggaran untuk meningkatkan mutu pengelolaan anggaran kedepannya. "Jika ada kendala-kendala yang terjadi dalam proses pelaksanaan pengelolaan anggaran, kantor kami selalu terbuka" ucap Ikhwan Mahmud mengakhiri pemaparan materinya Selain pemaparan evaluasi, pertemuan ini juga dilakukan komunikasi dua arah, ada sesi tanya jawab secara interaktif. "Saya mewakili Balai TN Taka Bonerate mengucapkan banyak-banyak terima kasih Pak Ikhwan dan kawan-kawan dari KPPN Benteng" ucap Faat Rudhianto sembari menutup kegiatan. Sumber : Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Balai TN Matalawa Hijaukan Jalan Utama Sumba Bersama Pemda

Waingapu. 11 Januari 2019. Sepanjang jalan poros utama Waingapu -Waikabubak, Balai Taman Nasional Manupeu Tanah daru dan Laiwangi Wanggameti bersama dengan Instansi Pemerintah Daerah Sumba Timur menggelar acara penanaman anakan perindang jalan. Beberapa instansi yang hadir diantaranya Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Perhubungan, Dinas Sosial, Dinas Pendidikan dan Dinas Pertanian dan Taman Nasional Matalawa, adapun jenis yang digunakan untuk perindang jalan merupakan jenis tanaman angsana (Pterocarpus indicu) dan trembesi (Albizia saman). Upaya penanaman pohon ini merupakan kegiatan yang cukup penting dalam menyeimbangkan ekosistem yang ada di sepanjang jalan, karena selain menambah nilai estetika jalan, juga pohon mampu menyerap kandungan CO2 dan timbal yang dihasilkan asap kendaraan bermotor sekaligus pohon mampu memproduksi oksigen sehingga udara disepanjang jalan terasa sejuk dan segar. Rimba Bintoro S.Hut selaku koordinator pelaksanaan kegiatan penanaman perindang jalan menyebutkan, upaya ini selain dapat menjalin silaturahmi antara Taman Nasional dengan Instansi Pemerintah daerah Sumba Timur juga merupakan upaya nyata Taman Nasional dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang ada di sepanjang ruas jalan yang menghubungkan Sumba Timur dengan Sumba Barat. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Konsolidasi Internal Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu Tahun 2019

Palu, 11 Januari 2019. Di awal tahun 2019 ini, dengan semangat Baru Balai besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) mengadakan rapat kerja yang diikuti segenap pejabat eselon III, IV, Kepala Resort dan pegawai di lingkup BBTNLL serta staff Project EPASS (10/1). Rapat internal ini langsung dipimpin Kepala BBTNLL, Ir. Jusman yang membahas mengenai evaluasi kinerja yang telah dilaksanakan selama tahun 2018 lalu dan perencanaan pelaksanaan kegiatan tahun 2019. Diselenggarakannya rapat kerja ini untuk konsolidasi internal dalam hal pencapaian kinerja pengelolaan Taman Nasional Lore Lindu di tahun 2019 yang lebih baik. Dalam rapat ini, disampaikan pula oleh Ir. Jusman terkait arahan dari Dirjen KSDAE bahwa dalam pengelolaan kawasan konservasi utamanya pengelolaan Taman Nasional Lore Lindu harus mengacu pada 10 cara baru kelola kawasan konservasi di Indonesia dan menerapkan konsep Putting Spirit Into Your Work dalam melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing . Beberapa hal utama lainnya yang didiskusikan pada rapat ini diantaranya pengelolaan Cagar Biosfer Lore Lindu, penyelesaian tentang aplikasi Sistem Informasi Manajemen Lore Lindu (SIMRELI), Rencana Umum Pengadaan (RUP) Barang dan Jasa, penilaian Sasaran Kerja Pegawai (SKP), konsolidasi dengan mitra kerja (EPASS, FP-III, GIZ), penyesuaian zonasi wilayah kerja TNLL dan tindak lanjut Laporan Hasil Audit (LHA). Jalannya rapat kerja ini cukup dinamis dengan munculnya pertanyaan dan tanggapan yang diajukan peserta rapat. Ini menunjukkan adanya perhatian dan kepedulian dari segenap pegawai dalam meningkatkan pengelolaan TNLL. Di ujung rapat kerja ini, semuanya yang hadir berkomitmen untuk membawa Taman Nasional Lore Lindu mencapai Center of Exellent. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

Tahun 2019, Dua Buku Informasi BBKSDA Sulsel Diluncurkan Dirjen KSDAE

Jakarta, 10 Januari 2019. Sambut 2019, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) meluncurkan dua buku informasi yaitu Buku Profil Wisata Alam Sulawesi Selatan dan Taman buru Ko’mara “Mengembalikan Sejarah perburuan di kawasan hutan Ko’Mara” pada tanggal 10 Januari 2019. Adapun kedua buku informasi tersebut dalam peluncurannya di tandatangani langsung oleh Direktur jenderal KSDAE Ir.Wiratno, M.Sc dan Direktur PJLHK Ir. Dody Wahyu Karyanto, M.M. di Gedung Manggala Wanabakti Blok 1 LT 8, Jakarta Pusat. Turut hadir ke dua belas kepala Resort Lingkup BBKSDA Sulsel didampingi Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Ir.Thomas Nifinluri,M.Sc dimana kepala Balai menjelaskan bahwa kepala resort yang hadir disini adalah narasumber dan tim penyusun buku sehingga ke dua buku informasi ini bisa diluncurkan. Wiratno dalam salah satu kata pengantarnya yaitu Taman Buru Ko’mara mengatakan, “Dari 13 kawasan konservasi taman buru yang ada di Indonesia, diketahui semuanya masih belum berfungsi secara Optimal sebagaimana mestinya, terutama fungsi utamanya sebagai kawasan wisata berburu secara teratur, Termasuk kawasan konservasi Taman Buru Komara di Provinsi Sulawesi Selatan ini. Pengembangan pengelolaan suatu kawasan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, potensi konflik kepentingan akan muncul apabila tidak ditangani dengan baik. Saya berharap kedepan Taman Buru Ko’mara akan menjadi destinasi wisata unggulan dan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar kawasan tersebut. Akan tetapi untuk menuju kearah sana, Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan harus dapat merangkul seluruh para pihak/stakeholder (tanpa terkecuali) untuk berkolaborasi, bersinergi dan berkomitmen” Terakhir Kepala Balai KSDA Sulsel Ir.Thomas Nifinluri,M.Sc mengatakan, “Salah satu buku kami yaitu wisata alam di sulawesi selatan merupakan informasi potensi di sebelas lokasi kawasan konservasi lingkup KSDA Sulsel mulai info letak kawasan, Spot wisata yang menarik, aktifitas apa yang bisa dilakukan, bagaimana sarprasnya, Aksebilitas dan informasi tambahan lainnya.” Beliau berharap dengan terbitnya buku ini bisa menjadi upaya promosi wisata alam di Sulsel sehingga calon pengunjung mendapatkan informasi awal yang cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya sebelum melakukan kunjungan ke kawasan konservasi (awn). Sumber : Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan
Baca Berita

Learning by Doing, Mengolah Nira Kolaborasi Bersama Masyarakat

Benua Martinus, 10 Januari 2018. Berlokasi di rumah produksi Enauku di Dusun Bukung, Kecamatan Embaloh Hulu, kedatangan staf TNBKDS dari Bidang PTNW I Mataso disambut hangat oleh salah satu pengelolanya, Pak Simeon. Kesediaan Pak Meon untuk berbagi pengetahuannya kepada tim dari TNBKDS sungguh tak disangka karena bagi kami hal ini merupakan satu pelajaran yang sangat berharga namun bisa kami dapatkan dengan cuma-cuma. Rumah produksi yang kini dikelola oleh Pak Simeon dan seorang temannya tampak sepi dengan beberapa tungku kosong yang tak digunakan. Hanya dua tungku yang menyala pada saat itu satu tungku dinyalakan untuk memasak nira dan tungku lainnya untuk menyalai (memanasi gula yang sudah dicetak). Pria kerap dipanggil pak meon ini mengungkapkan bahwa penghasilannya yang dianggap kurang mencukupi, membuat enam orang temannya yang dulu menjadi rekan kerjanya hengkang dari tempat produksi tersebut. Kedatangan staf Bidang PTNW I Mataso seperti Prabowo, Rizki dan Ahmad supriyadi ke tempat produksi tersebut bertujuan belajar secara langsung mengenai pembuatan gula aren yang masih menggunakan cara dan bahan tradisional. Hal tersebut dinilai sebagai bahan pembelajaran teknis dan prospek bisnis dari gula aren untuk memotivasi masyarakat lain disekitarnya terutama di daerah penyangga kawasan BPTNW I yang tentu saja mempunyai kultur yang tidak jauh berbeda. Pelatihan dan pemberian bibit unggul dari tomohon pernah dilakukan oleh Bidang PTNW I Mataso untuk daerah penyangga yaitu Desa Sadap yang jaraknya tidak jauh dari Desa Benua Martinus. Keahlian membuat gula aren di Suku Tamambaloh di Desa Martinus, Kecamatan Embaloh Hulu ini sudah dimiliki oleh nenek moyang mereka dan diwariskan secara turun temurun. Bahan-bahan pengolahannya pun masih sederhana dan modifikasi hanya dilakukan pada tungku pembakaran dan pengemasan siap jualnya saja sedangkan resep-resep dan alat produksi masih bersifat tradisional. Misalnya, mereka masih menggunakan lilin madu (lilin yang dibuat dari sarang lebah yang sudah ditinggalkan oleh koloninya) sebagai bahan campuran, kemudian menggunakan cetakan terbuat dari bambu, menggunakan kulit labu untuk wadah pembagi adonan gula, pemasakan menggunakan tungku berbahan bakar kayu, penumbuk untuk gula semut yang terbuat dari kayu dan teknis lainnya yang menjadi resep rahasia pengolahan gula aren mereka. Pak meon sendiri sudah sejak usia 9 tahun mengolah Enau menjadi gula. Berbekal pengalaman dan pengetahuan secara turun temurun dari orang tuanya, dirinya mempelajari teknik pembuatan gula aren secara tradisional. Hingga sekarang beberapa modifikasi telah dilakukan namun tidak meninggalkan resep-resep yang diturunkan dari orang tuanya. Pak Meon juga mempunyai kepiawaian untuk menakar keasaman air Enau tanpa formulasi khusus sehingga gula aren yang dibuatnya mempunyai kualitas yang terjaga. Walaupun Pak Meon bisa mengolah gula aren sendiri namun Pak Meon juga mempunyai mimpi untuk membesarkan usaha ini sehingga dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat di Dusun Bukung. Hal inilah yang membuatnya bertahan di tempat produksi ini, meskipun penghasilan yang menurutnya pas-pasan namun dia berharap dengan membesarkan nama produk gula arenEnauku suatu saat akan menjadi salah satu entitas dusunnya dan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat di dusunnya. Pohon aren (arena pinata) yang tumbuh subur di daerah penyangga kawasan TNBKDS khususnya Bidang PTNW I Mataso selama ini lebih sering dimanfaatkan untuk pembuatan arak / laru yang bukan hanya untuk dikonsumsi sendiri namun juga menjadi buah tangan untuk kerabat dan sanak saudara yang berkunjung ke rumahnya. Sebagai bentuk keramahan dan sambutan hangat sudah menjadi budaya bagi mereka untuk menyuguhkan minuman arak / laru tersebut. Sedangkan di setiap acara hajatan adat menyediakan arak termasuk hal wajib bagi masyarakat di sekitar kawasan DAS Embaloh ini. Pengenalan produk alternatif seperti ini akan terus disemarakkan terutama bagi masyarakat desa penyangga guna peningkatan taraf hidup mereka sehingga interaksi dengan kawasan pun semakin berkurang. “Kami sudah membuat langkah awal ke arah produk alternatif gula aren melalui bantuan bibit PohonEnau unggul dari Tomohon untuk selanjutnya kami akan lebih mendalami lagi teknisnya guna menjaga kualitas produk yang akan dikembangkan nantinya. Harapan kami produk ini dapat menjadi salah satu produk unggulan binaan BBTNBKDS yang bisa dikolaborasikan dengan pemanfaatan biogas”, tegas Junaidi selaku Kepala Bidang PTNW I Mataso di BBTNBKDS. Sumber: Balai BTN Betung Kerihun dan Danau Setarum
Baca Berita

Mahasiswa Bandung Serahkan Satwa Dilindungi

Bandung - 9 Januari 2019, Geliat masyarakat untuk menyerahkan satwa liar dilindungi secara sukarela kepada BBKSDA Jawa Barat terus berlanjut. Kali ini, sebanyak 1 (satu) ekor Lutung (Trachypithecus sp.) diserahkan oleh seorang mahasiswa asal Bandung. Adalah Rizky Yanuar Dwi (22 tahun), warga Kel. Desa Melatiwangi, Kec. Cilengkrang, Kab. Bandung yang telah menyerahkan secara sukarela satwa liar dilindungi tersebut pada hari Selasa 8 Januari 2019 kepada Petugas Balai Besar KSDA Jawa Barat. Menurut pengakuan yang bersangkutan, satwa tersebut didapat di daerah Cikalong Pangandaran. Namun, sosialisasi mengenai satwa dilindungi yang dilakukan petugas BBKSDA Jawa Barat, ternyata menggugah kesadaran yang bersangkutan sehingga pada akhirnya satwa tersebut diserahkan kepada Petugas BBKSDA Jawa Barat secara sukarela. Saat ini, satwa liar yang diserahkan dalam kondisi sehat tersebut telah dititiprawatkan ke lembaga konservasi khusus, yaitu The Aspinall Foundation untuk menjalani serangkaian proses rehabilitasi, sebelum dilepasliarkan di habitat aslinya. Apa yang sudah dilakukan oleh Rizky Yanuar Dwi ini sekali lagi menunjukkan bahwa kesadartahuan masyarakat untuk menjaga kelestarian satwa liar semakin meningkat. Semoga semakin banyak masyarakat yang tergerak hatinya untuk menyerahkan secara sukarela satwa-satwa liar dilindungi yang mereka miliki/pelihara kepada BBKSDA Jawa Barat.\ Sumber: Humas BBKSDA Jawa Barat
Baca Berita

Lagi, Dua Ekor Satwa Liar Dilindungi Diserahkan Masyarakat

Bandung - 9 Januari 2019, Keberadaan Call Centre BBKSDA Jawa Barat telah menjadi sarana yang tepat bagi masyarakat untuk menyampaikan informasi mengenai peredaran dan perdagangan TSL. Terbukti, berkat informasi yang disampaikan masyarakat melalui Call Center BBKSDA Jawa Barat, pada hari Rabu tanggal 9 Januari 2019 Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW VI Tasikmalaya berhasil menyelamatkan dan mengevakuasi 2 (dua) ekor satwa liar dilindungi di dua tempat berbeda. Di Ciamis, seorang warga Desa Ciberem Kecamatan Sukamantri Kabupaten Ciamis bernama Itang Taryana menyerahkan seekor kucing hutan (Prionailurus bengalensis). Itang mengungkapkan bahwa satwa liar dilindungi tersebut diperoleh dari masyarakat 2 (dua) hari yang lalu. Kemudian, atas kesadarannya sendiri satwa karnivora tersebut diserahkan kepada Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW VI Tasikmalaya, Bidang KSDA Wil. III Ciamis, BBKSDA Jawa Barat. Saat ini satwa tersebut diamankan di kantor Seksi Konservasi Wilayah VI Tasikmalaya, untuk selanjutnya dititiprawatkan di lembaga konservasi untuk menjalani serangkaian proses rehabilitasi, sebelum pada akhirnya dilepasliarkan ke habitat aslinya. Di Kuningan, seekor buaya irian (Crocodylus novaeguineae) diserahkan secara sukarela oleh seorang warga Desa Ciputat Kecamatan Ciawigebang Kabupaten Kuningan bernama Engkus Kusnadi. Engkus yang juga merupakan anggota Polsek Ciawigebang menyatakan bahwa reptil dilindungi tersebut merupakan cinderamata saat pulang bertugas di Papua sekitar 4 tahun yang lalu. Untuk sementara satwa tersebut diamankan di kandang transit Resor Cirebon dan akan dievakuasi ke kantor Bidang KSDA Wilayah III Ciamis. Selanjutnya, akan dititiprawatkan ke lembaga konservasi Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPCS) Sukabumi. Sumber: Humas BBKSDA Jawa Barat
Baca Berita

Evaluasi 2018 dan Persiapan 2019, BBKSDA Gelar Rapat

Medan, 10 Januari 2019. Memulai awal tahun 2019, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melakukan Rapat Evaluasi pelaksanaan kegiatan sepanjang tahun anggaran 2018 dan juga persiapan pelaksanaan kegiatan untuk tahun anggaran 2019, pada Senin 7 Januari 2018, di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For., dalam arahannya mengapresiasi kinerja seluruh jajaran lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara, yang pada tahun anggaran 2018 berhasil mencapai realisasi anggaran sebesar 98,13 %, yang berarti meningkat dari tahun anggaran 2017 sebesar 91,97 %. “Keberhasilan mencapai realisasi anggaran sebesar 98,13 % ini merupakan hasil kerja keras. Tanpa kerjasama yang baik belum tentu realisasi tersebut tercapai. Oleh karena itu saya mengapresiasi dan menyampaikan terima kasih kepada seluruh pegawai lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan berharap agar kinerja yang baik ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan di tahun 2019,” ujar Hotmauli. Sebelum menyampaikan materi rapat, Kepala Balai Besar juga menyampaikan 2 (dua) tulisan sebagai pesan dari Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Ir. Wiratno, M.Sc., yaitu 10 Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi dan “Putting Spirit into Your Work” agar menjadi inspirasi dalam bekerja. 10 cara baru kelola kawasan konservasi adalah (1) masyarakat sebagai subyek pengelolaan, (2) penghormatan pada HAM, (3) kerjasama lintas eselon I KLHK, (4) kerjasama lintas kementerian, (5) penghormatan nilai budaya dan adat, (6) multilevel leadership, (7) scientific based decision support system, (8) resort (field) based managemen, (9) reward and mentorship dan (10) learning organization. Tulisan lain yang menginspirasi kita dalam bekerja nantinya adalah “Putting Spirit into Your Work”. Dalam tulisan ini menekankan kepada 4 hal yang harus mendasari dalam melaksanakan tugas, yaitu : menetapkan niat dan sikap ikhlas (kerja ikhlas), suatu pekerjaan dikerjakan dengan sebaik-baiknya dan dengan segala kemampuan yang dimiliki (kerja cerdas), dilakukan dengan kerja keras, dan tahap akhir kerja pasrah, yaitu memasrahkan kerja kita kepada Tuhan. Rapat ini diikuti oleh pejabat eselon III dan eselon IV serta seluruh staf pengelola DIPA dan staf Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara A
Baca Berita

BBKSDA Sumut Gagalkan Perdagangan Online Satwa

Medan, 10 Januari 2019. Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama dengan Direktorat Reserse dan Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumatera Utara berhasil menggagalkan perdagangan on-line satwa liar, pada Selasa malam, 8 Januari 2019, di Dusun III Desa Paluh Manan, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang. Berawal dari petugas Unit 3 Tipiter Ditreskrimsus Polda Sumut yang berhasil memancing, KS salah satu pelaku, melalui akun Face Book (FB)nya untuk melakukan transaksi jual beli 3 individu Lutung Emas (Trachypithecus auratus) dengan cara COD diseputaran Kecamatan Marelan Medan. Selanjutnya petugas Ditreskrimsus Polda Sumut berkoordinasi dengan Balai Besar KSDA guna menangkap pelaku. Sesuai dengan kesepakatan, petugas yang menyamar sebagai driver ojek on-linedan penumpang, sekitar pukul 20.30 wib, melakukan transaksi dengan pelaku. Pada saat pelaku memperlihatkan satwa yang diperdagangkan, petugas gabungan langsung menyergap dan menangkapnya. Setelah diinterogasi petugas, KS pun akhirnya mengaku masih menyimpan beberapa satwa liar lainnya, di rumahnya di Desa Paluh Manan, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, yaitu 3 individu anak Elang Brontok serta 1 individu Macan Akar. Satwa liar tersebut dilindungi berdasarkan peraturan Menteri LHK No.P92/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018. Hasil penelusuran petugas di rumah pelaku, ditemukan ada banyak satwa, namun untuk jenis yang dilindungi hanya tinggal 3 individu anak Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) dan 1 individu Macan/Kucing Akar (Prionailurus bengalensis). Sekitar pukul 24.00 Wib, tim gabungan mendapat informasi tambahan dari handphone pelaku, bahwa ada 2 transaksi jual beli yang sudah dilakukan pelaku sebelumnya dengan 2 pembeli yang berbeda masing-masing berada di daerah Komplek Johor Indah Permai I yaitu 2 individu anak Macan Akar, serta di daerah Deli Tua yaitu 1 individu anak Lutung Emas. Atas pendekatan petugas, 2 individu anak Macan Akar yang diperjualbelikan akhirnya dikembalikan dan diserahkan pembelinya kepada petugas, sedangkan pembeli yang satu lagi sampai dinihari, belum ditemukan dan masih dalam pengembangan petugas Unit 3 Tipiter Ditreskrimsus Polda Sumut. Berdasarkan hasil pengembangan penyelidikan barang bukti yang ditemukan adalah 3 individu macan akar, 3 individu anak elang brontok dan 3 individu lutung emas. Satwa liar yang digagalkan dan diamankan petugas dalam perdagangan on-lineini kemudian pada pukul 02.00 wib dinihari, Rabu 9 Januari 2019, dievakuasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) TWA Sibolangit untuk perawatan dan rehabilitasi. Sumber : M. Ali Iqbal Nasution - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Awal 2019, BBKSDA Sumut Dapat Penyerahan Satwa

Medan, 10 Januari 2019. Penyerahan satwa liar Elang oleh masyarakat menjadi kegiatan BBKSDA Sumut di awal Tahun 2019. Bermula dari informasi masyarakat yang disampaikan melalui call center 085376699066 tentang pemeliharaan satu individu satwa liar dilindungi jenis Elang Brontok oleh warga jalan Ekasurya, Kecamatan Medan Johor, Kota Medan. Team Respon Reaksi Cepat (TRRC) Balai Besar KSDA Sumatera Utara bergerak dengan menyambangi rumah yang diinformasikan tersebut, pada Senin 7 Januari 2019. Hasilnya, ditemukan satu individu Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) yang dipelihara oleh Ahmad Hasibuan. Menurut keterangannya, elang tersebut didapatkan di salah satu daerah di Kabupaten Simalungun pada saat melakukan pekerjaan pemeliharaan tower listrik, dan lebih kurang 7 tahun satwa ini dipeliharanya. Setelah didapata penjelasan dari petugas TRRC Balai Besar KSDA Sumatera Utara tentang status Elang Brontok yang dilindungi undang-undang, Ahmad Hasibuan pun kemudian dengan sukarela menyerahkan satwa peliharaannya tersebut kepada petugas untuk dievakuasi. Pada hari itu juga, petugas TRRC mengevakuasi Elang Brontok yang terlihat dalam kondisi baik/sehat, dan menitipkannya ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) TWA Sibolangit untuk pemeriksaan kondisi kesehatan serta proses rehabilitasi. Mengingat satwa ini sudah 7 tahun dipelihara, tentunya butuh waktu yang lama untuk proses rehabilitasi agar kembali memiliki sifat liar sebelum nantinya direlease/dilepasliarkan. Sumber : M. Ali Iqbal Nasution - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Akselerasi Balai TN Matalawa di Awal Tahun

Waingapu, 10 Januari 2019. Suasana kerja di Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) pada awal minggu pertama di 2019 memang terasa kurang bergairah karena mayoritas pegawai masih melaksanakan cuti tahunan. Namun, pada minggu kedua ini, Kepala Balai TN Matalawa, Maman Surahman, S.Hut, M.Si, langsung berakselerasi dengan mengadakan pertemuan yang dihadiri oleh seluruh Kepala Seksi Wilayah dan koordinator lingkup kantor balai. Pertemuan ini untuk melakukan evaluasi kegiatan tahun sebelumnya serta menyusun rencana operasional untuk tahun 2019. Kepala Balai menyatakan bahwa secara umum kegiatan tahun 2018 yang telah dilaksanakan telah berjalan baik dan penyerapan anggarannya juga telah dilaksanakan dengan tertib. Untuk itu, Kepala Balai mengharapkan di tahun 2019, kita dapat lebih meningkatkan performa dalam menyelesaikan seluruh kegiatan yang telah dianggarkan. Kepala Balai secara simbolis menyerahkan DIPA kepada Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan seluruh Kepala Seksi Wilayah sebagai pedoman kerja di tahun 2019 ini. Kepala Balai menambahkan bahwa hal pertama yang harus dilakukan adalah menyusun Laporan Kinerja dan Laporan Capaian Rencana Kerja yang saat ini dalam tahap penyelesaian. Dan selanjutnya adalah menyusun time schedule seluruh kegiatan di tahun 2019. Kepala Balai optimis bahwa di tahun 2019 ini, TN Matalawa dapat memperoleh posisi 5 besar di Direktorat KSDAE dalam penyerapan anggaran yang juga harus dilakukan dengan cara-cara sesuai prosedur yang berlaku. (dpn/mtlw) Sumber: Balai TN Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Rapat Kerja Forum Konservasi Flora Fauna Kalsel

Banjarbaru, 10 Januari 2019 – Balai KSDA Kalimantan Selatan bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan membentuk Forum Konservasi Flora Fauna Kalimantan Selatan yang bertempat di Ruang Rapat Rimbawan I Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan. Forum ini dibentuk dalam rangka untuk meningkatkan komunikasi dan informasi seluruh stakeholder serta para pegiat yang sangat konsen terhadap flora dan fauna termasuk habitatnya. Para pihak itu antara lain akademisi, LSM, mahasiswa, pegiat flora fauna, perusahaan, termasuk juga perorangan. Forum Konservasi Flora Fauna Kalimantan Selatan diketuai oleh Zulfa Asma, ST, MT salah satu anggota DPRD Kalimantan Selatan yang juga merupakan Pemerhati Lingkungan Kalimantan Selatan. Kepala Dinas Kehutanan Kalimantan Selatan, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut, M.P dalam pembukaan menyampaikan keberadaan Forum Konservasi Flora Fauna Kalimantan Selatan sangat penting dalam pembangunan kehutanan di Kalimantan Selatan. “Kita sangat perlu melindungi dan mengkonservasi flora dan fauna khususnya bekantan dan tanaman buah lokal seperti kasturi dan anggrek lokal”, tutur Hanif. Pembentukan forum ini juga dalam rangka membantu pemerintah untuk mengkonservasi flora dan fauna di Kalimantan Selatan. Dalam kegiatan ini juga membahas rencana kerja di Tahun 2019 dan rencana kerja dalam jangka waktu lima tahun. Dalam forum ini Kepala BKSDA Kalimantan Selatan, Dr. Mahrus Aryadi, M.Sc menjabat sebagai Pengarah memberikan arahan kepada peserta rapat bahwa rencana kerja sebaiknya tidak terlalu banyak tetapi lebih fokus dan mendalam, misalnya bagaimana percepatan kegiatan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) dalam rangka untuk perlindungan bekantan kemudian juga dalam rangka perlindungan kasturi, anggrek, maupun buah-buah lokal yang ada di Kalimantan Selatan. “Keberadaan forum ini mendorong peningkatan peran serta para pihak, sehingga kegiatan menjadi lebih banyak yang terlibat namun tetap fokus”, tutur Mahrus. Mahrus menambahkan, “Balai KSDA Kalimantan Selatan berkomitmen untuk membantu keberadaan forum ini seperti membantu di dalam pengakuan terhadap Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) yang ada di Kalimantan Selatan”. (jrz) Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan
Baca Berita

Balai KSDA Yogyakarta Siap Laksanakan Kegiatan 2019

Yogyakarta, 10 Januari 2019, Jajaran struktural dan seluruh pegawai Balai KSDA Yogyakarta berbaur bersama di Aula Balai KSDA Yogyakarta Jl. Dr. Rajiman Tridadi Sleman. Agenda hari ini ditujukan untuk pembinaan pegawai dalam kerangka menyatukan langkah dan menyamakan presepsi dalam melaksanakan tugas yang diemban Balai KSDA Yogyakarta. Kegiatan pembinaan pegawai dimulai pukul 08.30 WIB dan diikuti seluruh pegawai yang berjumlah 92 orang. Sebagai pembuka disampaikan siraman rohani oleh Ust. Didik Purwodarsono untuk memotivasi semangat kerja para pegawai BKSDA Yogyakarta. Selanjutnya seluruh pegawai diajak untuk merefleksikan kinerja organisasi selama tahun 2018 dan bersiap-siap menghadapi tahun 2019. Sebagai inti kegiatan pembinaan pegawai, Kasubag TU BKSDA Yogyakarta, Ir. Thomas Suryo Utomo mencoba memaparkan arahan Dirjen KSDAE "putting spirit into your work" sebagai bentuk implementasi pelaksanaan Reormasi Birokrasi. Dengan membangun kesadaran untuk meningkatkan kualitas kinerja pegawai, diharapkan kedepan pelaksanaan kinerja lingkup BKSDA Yogyakarta dapat berjalan dengan lebih baik. Dalam kesempatan ini juga dilakukan pembacaan SK Kepala Balai terkait penempatan personil Balai KSDA Yogyakarta. Penempatan personil ini setiap tahun mengalami perubahan dengan mempertimbangkan antara kebutuhan personil di lapangan dan kompetensi yang dimiliki pegawai Balai KSDA Yogyakarta. Dalam arahannya, Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Ir. Junita Parjanti, MT menyampaikan bahwa tahun ini Balai KSDA Yogyakarta masih melaksanakan konsep Resort Based Management (RBM) yang didukung dengan penempatan personil hingga ke tingkat tapak. Dengan demikian diharapkan para pelaksana kegiatan sudah terbiasa lebih dekat dengan kawasan dan masyarakat sehingga kegiatan Balai KSDA Yogyakarta tahun 2019 dapat berjalan dengan lebih baik. Untuk mendukung kebijakan tersebut diperlukan adanya kerjasama dan komitmen yang kuat dari seluruh pegawai Balai KSDA Yogyakarta untuk bahu membahu melaksanakan tugas di tahun 2019 ini. Sumber : Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Refleksi Kegiatan AWC di Indonesia dan Informasi Pelaksanaan Tahun 2019

Jakarta – 10 Januari 2019, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerjasama dengan Wetlands International Indonesia sejak tahun 1986 telah mencanangkan Asian Waterbird Census (AWC). Kegiatan ini menjadi salah satu perangkat bagi upaya konservasi burung air (dan burung air migran) serta lahan basah sebagai habitatnya. Kegiatan AWC merupakan Citizen Science yang tertua di Indonesia dan sejak pertengahan 1980-an, sukarelawan di wilayah Asia dan Australasia, termasuk Indonesia, telah mengunjungi lokasi-lokasi lahan basah dan melakukan penghitungan burung air. Prakarsa Citizen Science yang bersifat sukarela tersebut berhasil mengumpulkan rangkaian data dan informasi yang sangat masif, tidak kurang dari 2,4 juta catatan selama 23 tahun terakhir dari seluruh dunia. Selain itu, terkumpul juga informasi mengenai kondisi terkini dan ancaman yang dihadapi oleh lahan basah yang merupakan habitat burung air. Saat ini AWC menjadi bagian dari program Kemitraan Nasional Konservasi Burung Bermigrasi dan Habitatnya (KNKBBH) di Indonesia. Selain itu, Asian Waterbird Census berbasis Citizen Science telah melaksanakan konsep pengumpulan, pengolahan, dan pemanfaatan data secara bersama-sama dan terbuka. Konsep ini telah memberikan jawaban terkait kebutuhan data dan informasi untuk Indonesia yang sangat luas. Melalui Citizen Science, data dapat dikumpulkan secara real time, cakupan yang luas dan dengan prinsip kesukarelaan. Konsep ini yang selayaknya dikembangkan di negara kita. Dalam beberapa tahun terakhir, penerapan Citizen Science melalui AWC telah mengindikasikan prospek yang sangat baik dalam mendukung upaya konservasi burung air dan habitatnya di Indonesia, termasuk pada tataran penyadartahuan dan pelibatan masyarakat. Setidaknya dalam lima tahun terakhir jumlah sukarelawan/kontributor terus meningkat signifikan dari tahun ke tahun. Pada pelaksanaan AWC 2018 lalu, jumlah sukarelawan telah mencapai lebih dari 400 orang, yang terdiri dari unsur-unsur: pemerintahan, perguruan tinggi, LSM, komunitas lokal, swasta, pelajar, hingga pengamat dan peneliti individu. Sejalan dengan peningkatan jumlah sukarelawan, jumlah burung air yang teramati dan lokasi pengamatannya pun meningkat. Pada AWC tahun 2017 dan 2018 bahkan terhitung mencapai lebih dari 60 ribu individu burung air, terbanyak dalam sejarah pelaksanaan AWC di Indonesia. Jumlah tersebut mencakup lebih dari 50 % jumlah spesies burung air yang pernah tercatat di Indonesia. Hasil tersebut tercatat di lebih dari 130 lokasi pengamatan di Indonesia yang dikunjungi para sukarelawan. Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK, sebagai National Focal Point KNKBBH dan juga Kemitraan Jalur Terbang Asia Timur-Australasia, memiliki peran strategis dalam upaya konservasi burung air, yaitu melaksanakan peran koordinasi dalam pelaksanaan kegiatan di Indonesia. Kemitraan Nasional ini juga berperan dalam mengumpulkan informasi mengenai berbagai kegiatan dan inisiatif terkait dengan pelestarian burung air bermigrasi di Indonesia, dan kemudian menyampaikan informasi tersebut kepada para pemangku kepentingan yang membutuhkannya. Untuk pelaksanaan selanjutnya, kami mengajak organisasi, lembaga, institusi pendidikan, perusahaan, kelompok pencinta alam, kelompok pengamat burung dan individu yang tertarik untuk bersama-sama melakukan pengamatan burung air selama bulan Januari 2019. Ini adalah kegiatan dari kita untuk kita dan milik kita, jadi kami mengajak teman-teman untuk turut mengkampanyekan pelestarian burung air selama tahun 2019 dan mempublikasikan berbagai kegiatan tersebut di website dan media sosial. Kami akan menyediakan sebuah sertifikat digital internasional untuk setiap kontributor. Kami ucapkan terima kasih atas dukungan dan kerja sama yang baik selama ini. Sumber : Direktorat KKH -------------------- Informasi lebih lengkap mengenai pelaksanaan kegiatan AWC 2019 di Indonesia dapat diakses pada tautan berikut ini: Informasi AWC 2019 (PDF): https://indonesia.wetlands.org/download/3429/ Formulir AWC 2019 (Excel): https://indonesia.wetlands.org/download/3425/ #waterbirdscount #asianwaterbirdcensus #AWCIndonesia2019 #AWC2019 #Indonesia #Januari #KemitraanNasionalBurungMigrasi #KNKBBH2019

Menampilkan 6.337–6.352 dari 11.140 publikasi