Kamis, 23 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Cegah Konflik dengan Manusia, Ular Pyton dan Kera Ekor Panjang Diserahkan Masyarakat ke BKSDA Kalteng

Palangka Raya, 23 Januari 2019. Pada tanggal 21 Januari 2019, 2 satwa liar tidak dilindungi telah diserahkan masyarakat pada Tim WRU SKW I – BKSDA Kalteng. Satwa pertama yang diserahkan adalah Ular phyton (Malayopython reticulatus) berumur ± 2 tahun. Ular tersebut diserahkan oleh Bapak Arian, warga Desa Kalampangan Kota Palangka Raya. Menurut Bapak Arian, ular tersebut ditangkap karena telah memakan ayam peliharaan. Satwa lainnya yang diserahkan masyarakat adalah kera ekor panjang (Macaca fascicularis). Kera ini diserahkan oleh Bapak Tomi, anggota Emergency Response Kota Palangka Raya. Kera berkelamin jantan dengan usia 2,5 tahun itu mendatangi rumah warga dengan luka bekas senapan angin ditubuhnya. Diduga hewan tersebut merupakan hewan peliharaan warga. Saat ini kedua Satwa tersebut telah diamankan di Kantor SKW I untuk dilakukan pengecekan kesehatan, untuk selanjutnya dirilis. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Dari Gersang ke Hijau, Sebuah Nama untuk Hijaukan Tinabo

Kepulauan Selayar, 22 Januari 2019. Awalnya adalah kegiatan parsial oleh teman-teman lapangan tahun 2006, Pulau Tinabo pada saat itu masih didominasi tumbuhan semak belukar. Kegiatan ini didahului pemahaman bahwa pengetahuan kita (petugas) dasarnya adalah kehutanan, tetapi kenapa lingkungan disekitar kita gersang, padahal penguasaan tanam-menanam pohon kita kuasai. "Kemudian pada tahun-tahun selanjutnya dimasukkan dalam kegiatan kedipaan oleh saudara Irawan Asaad yang pada waktu itu koordinator fungsional PEH (Pengendali Ekosistem Hutan)", jelas @saleh.rahman.904 koordinator PEH saat ini. Jenis pohon yang ditanam awalnya adalah Ketapang, namun perkembangannya kurang baik maka diganti dengan jenis Cemara Laut. Kemudian berkembang pemikiran bagaimana semua orang yang datang berkunjung ke Pulau Tinabo bisa terlibat dalam giat ini. Setiap pengunjung ditawarkan, menanam dan menuliskan namanya di papan yang disediakan oleh teman-teman di Tinabo. Awal dicetuskan kegiatan ini namanya adalah sebuah nama untuk sejuta pohon, sejak 2017 keberhasilan penanaman pohon mulai terlihat dan programnya/tagnya kita ubah menjadi sebuah nama untuk hijaukan tinabo. Asa tetap ada bahwa suatu saat ketersediaan air tanah yang tawar sepanjang tahun terealisasi di pulau tinabo melalui gerakan penanaman pohon bersama. Sekarang pulau Tinabo makin tahun makin hijau, sejuk tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. "Kami ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah menanam pohon selama ini, melalui giat ini", ucap Faat Rudhianto Kepala Balai TN Taka Bonerate. Mari berbuat baik kepada alam kita, HIJAUKAN BUMI KITA. Sumber : Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Balai TN Aketajawe Lolobata Adakan Rapat Sinergitas Pemberdayaan Masyarakat Tingkat Provinsi Maluku Utara

Sofifi, 22 Januari 2019. Demi menyelaraskan dan mensinergikan kegiatan pemberdayaan masyarakat di desa penyangga kawasan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), maka Balai TNAL mengadakan kegiatan rapat Sinergitas Pemberdayaan Masyarakat Multi Pihak Provinsi Maluku Utara. Kegiatan ini dilaksanakan di Ternate pada tanggal 20 Januari 2019. Balai TNAL mengundang beberapa SKPD Provinsi Maluku Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Kabupaten Halmahera Timur, dan Kota Tidore Kepulauan. Beberapa SKPD yang hadir adalah Kepala Dinasnya. Selain itu beberapa LSM, civitas akademika dan perwakilan masing-masing kelompok binaan taman nasional juga turut hadir. Kepala Balai TNAL, Wahyudi, dalam sambutannya mengatakan bahwa saat ini masyarakat harus disejahterakan dahulu kemudian akan berdampak hutan akan lestari. Selain itu Wahyudi juga menyampaikan tentang 10 cara baru dalam mengelola kawasan konservasi, dimana masyarakat harus diikutsertakan dalam setiap kegiatan. Materi pertama disampaikan oleh Ikhlas Pambudi, selaku Penyuluh Kehutanan. Dalam paparannya mengatakan bahwa di desa penyangga terdapat 9 (sembilan) kelompok usaha produktif binaan TNAL. Tiga diantaranya merupakan kelompok yang bergerak dibidang pariwisata. Materi kedua disampaikan oleh Kris Syamsudin, pendiri ekowisata Cengkeh Afo. Beliau menyebutkan bahwa Maluku Utara ini memiliki banyak potensi wisata alam. Pembangunan ekowisata memang memerlukan waktu dan usaha yang keras. “Ekowisata adalah investasi keringat, karena diawal pembangunannya memerlukan kerja keras yang ikhlas dan hasilnya akan terbayar nanti”, kata Kris Syamsudin. Pada sesi diskusi beberapa SKPD yang diwakili Kepala Dinasnya menyatakan dukungan dan bahkan memberikan bantuan kepada kelompok binaan Taman Nasional Aketajawe Lolobata pada tahun 2019 ini. Kepala Bappeda Kota Tidore Kepulauan memberikan dukungan dengan telah membuat perencaan pembangunan jalan masuk kawasan wisata di Resort Tayawi dan akan dikerjakan pada tahun ini. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Timur telah menganggarkan pembuatan embung bagi kelompok tani di Desa Dorolamo, sedangkan Kepala Dinas Pariwisata juga akan memberikan bantuan berupa pembangunan jalan wisata pengamatan Bidadari Halmahera di Resort Binagara. Tak hanya itu, Kepala Bidang Bappeda Kabupaten Halmahera Tengah juga memberikan bantuan berupa pinjaman tanpa bunga pada kelompok tani senilai 25 juta rupiah. “Kami telah membuat perencanaan pada tahun ini untuk membuat embung pada kelompok tani binaan TNAL di Desa Dorolamo”, kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Timur. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Bergerak Bersama Tutaskan Sampah Kiriman di Pulau Menjangan

Pulau Menjangan, 17 Januari 2019. Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) bersama para pihak dan pemangku kepentingan pengelolaan wisata melakukan kegiatan aksi bersih (clean up) di Obyek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) Pulau Menjangan. Kegiatan ini merupakan gerakan sosial dalam penanganan sampah kiriman yang volumenya meningkat pada saat musim hujan. Selain itu, aksi bersih juga dilakukan sebagai ajang kampanye penyadaran kepada para wisatawan, pengunjung pura (pemedek) dan masyarakat tentang pentingnya menjaga kawasan Pulau Menjangan dan perairannya dari permasalahan sampah plastik. Para pihak yang terlibat dalam aksi bersih ini terdiri atas komunitas dan kelompok masyarakat di sekitar Pulau Menjangan, antara lain Kelompok Pemandu, Friends of Menjangan-Biosphere Foundation, Pokdarwis Segara Indah, NCF Putri Menjangan, Kelompok Nelayan Banyumandi, Badan Pengelola Labuan Lalang, Pesona Bahari Banyuwangi, Clean Menjangan Island, Pengempon Pura, Bank Sampah Nusa Menjangan serta Bali Trash Hero dan Bali Yoga Master. Aksi bersih diawali dengan sambutan dan penjelasan kegiatan oleh Kepala SPTN Wilayah III Labuan Lalang (Hendra Gunawan) bertempat di Pelabuhan Penyebrangan Labuhan Lalang. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pembacaan pernyataan bersama penanganan sampah plastik di Pulau Menjangan oleh tujuh orang perwakilan kelompok masyarakat. Pernyataan tersebut terdiri atas tujuh poin kesepahaman bersama dalam upaya penanganan sampah plastik di Pulau Menjangan. Dalam pesan sambutannya, Hendra Gunawan menyampaikan ucapan terima kasih kepada para pihak yang tetap semangat dan peduli dalam upaya konservasi, khususnya menjaga kebersihan Pulau Menjangan dari sampah plastik. Hal ini sejalan juga dengan arahan Kepala Balai TNBB (Drh. Agus Ngurah Krisna K, M.Si) dalam berbagai kesempatan bahwa upaya penanganan sampah plastik di TNBB merupakan tanggung jawab bersama, terlebih Pulau Menjangan merupakan destinasi wisata dan religi yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat di sekitarnya. Peserta aksi bersih yang berjumlah sekitar 100 orang selanjutnya bergerak bersama menuju Pos 2 Pulau Menjangan dengan menggunakan 8 unit kapal kayu. Terdapat lima lokasi yang sebelumnya telah diidentifikasi menjadi target pengambilan sampah, yaitu area pantai Pos 2, area Pura Klinting Sari, area Pura Segara Giri, kawasan mangrove di area Pura Gili Kencana dan Pantai di Pos 1 Pulau Menjangan. Sampah plastik yang dapat dikumpulkan dan dikeluarkan pada aksi bersih kali ini sebanyak 1.079 Kg dengan rincian area Pura Klentingsari dan Segara Giri (140 Kg), pesisir pantai Pos 2 (108 Kg), mangrove area Pura Gili Kencana (691 Kg), dan pantai Pos 1 (70 Kg) serta ditambah sampah plastik yang telah dikumpulkan oleh petugas Resort Pulau Menjangan dalam tiga bulan terakhir sebanyak 117 karung. Hasil aksi bersih tersebut dibawa ke Labuan Lalang, sampah yang berupa plastik dan botol yang dapat didaur ulang disimpan sebagai tabungan kelompok di Bank Sampah Nusa Menjangan, sementara residunya langsung dibawa ke TPA. Atas perolehan aksi bersih tersebut, Ajna Mukti dari Bali Yoga Master memberikan apresiasi dan berharap di waktu yang akan datang dapat berpartisipasi lagi, terutama dalam kegiatan edukasi kepada pengunjung Pulau Menjangan. Sementara Gede Progi dari Bali Trash Hero, menyampaikan pesan agar pada musim hujan ini sering-sering melakukan kegiatan clean up di Pulau Menjangan dan perairannya. Selain itu, Gede Progi juga memberikan semangat kepada kita semua untuk pantang menyerah walaupun lelah dalam penanganan sampah plastik. (htg) Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Menanti Sang

Cibodas, 22 Januari 2019. Masih ingat kisah bayi Owa jawa di Bodogol yang lahir di alam pada pertengahan tahun 2017? Alhamdulillah keberadaannya masih bisa teramati kembali pada kegiatan monitoring diakhir tahun 2018. Saat pengamatan sang bayi terlihat asyik dalam gendongan induknya. Kami menyebut keluarga Owa jawa ini adalah “keluarga Owa Rasamala” karena memang selalu dijumpai di areal hutan Blok Rasamala di Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol (PPKAB). Owa jawa masih dikategorikan “bayi” pada usia 0 - 2 tahun dan selalu dalam gendongan induknya. Usia “anak” berkisar antara usia 2 - 4 tahun dan biasanya sang anak sudah mulai berjalan sendiri namun masih dalam pantauan induknya. Berarti sekitar pertengahan tahun 2019, “Owa jawa junior” Bodogol ini sudah mulai siap berjalan sendiri. Lalu kapan dia punya adik? Menurut Geissmann 1991 dalam Rahmudin 2009 menyatakan bahwa interval kelahiran Owa jawa berkisar antara 3 – 4 tahun. Itu artinya dengan asumsi kondisi ekosistem masih tetap baik dan tidak ada gangguan lain, adiknya dapat diprediksi akan lahir pada tahun 2020 atau 2021. Semoga akan terus lahir para penerus primata endemik jawa ini. Sang pejuang “restorasi” hutan tanpa pamrih dengan cara menebar biji pohon di hutan-hutan belantara. Salam Lestari! Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks : Agung Gunawan - PEH Balai Besar TNGGP Foto Owa 2017 : Iyan Sopian – PEH Balai Besar TNGGP Foto Owa 2018 : Ayi Rustiadi - PEH Balai Besar TNGGP
Baca Berita

Patroli Pengamanan Kawasan Hutan Di Seksi PTN Wilayah V Bodogol – Bidang PTN Wilayah III Bogor

Cibodas, 22 Januari 2019. Kegiatan perlindungan dan pengamanan hutan merupakan kegiatan yang rutin dilaksanakan sebagai upaya untuk mencegah dan membatasi ruang gerak tindak pelaku pengrusakan kawasan hutan. Sebagai bentuk upaya perlindungan dan pengamanan kawasan hutan, dilaksanakan rutin kegiatan patroli di tingkat resort yang ada di Seksi PTN Wilayah V Bodogol. Patroli ini merupakan kegiatan preventif yang dilaksanakan untuk mencegah terjadinya gangguan keamanan kawasan hutan dan mencegah terjadinya tindak pidana kehutanan guna menjaga keutuhan kawasan hutan. Sepanjang Tahun 2018 telah dilaksanakan kegiatan patroli gangguan kawasan tingkat resort bersama masyarakat, di Resort PTN Bodogol dan Resort PTN Cimande sebanyak 4 (empat) kali pada bulan Maret, Juli, September, dan November 2018. Dari hasil kegiatan patroli terdapat gangguan keamanan kawasan hutan seperti: Sumber : Ade Frima Nurcahya Intan – Polisi Kehutanan Balai Besar TNGGP
Baca Berita

Semangat KTH Hejo Cipruk Di Awal Tahun 2019

Cianjur, 21 Januari 2019. Mengawali tahun 2019 pada hari Rabu, 16 Januari 2019, KTH Hejo Cipruk mengadakan pertemuan di sekretariat kelompok yaitu di Kampung Tabrik, Desa Gekbrong, Kabupaten Cianjur. Pertemuan yang dihadiri oleh Kepala Resort PTN Tegallega, Penyuluh Kehutanan Bidang PTN Wilayah I Cianjur - TNGGP, pengurus, dan anggota kelompok. Tujuan pertemuan kali ini adalah untuk melakukan evaluasi kegiatan kelompok tahun 2017 s.d 2018, membahas rencana kegiatan kelompok tahun 2019, serta penataan kembali kepengurusan kelompok. Pertemuan di mulai pukul 14.20 WIB dengan pembahasan pertama yaitu evaluasi kegiatan tahun 2017 sampai 2018. Penyuluh Kehutan Bidang PTN Wilayah I Cianjur - TNGGP selaku salah satu pendamping KTH membagikan kuisioner evaluasi ke seluruh anggota yang hadir. Dari hasil evaluasi melalui kuisioner dapat diketahui bahwa pada umumnya masyarakat tergabung dalam KTH Hejo Cipruk sejak tahun 2016 tersebut telah banyak mendapatkan manfaat. Beberapa manfaat yang diperoleh yaitu, selain meningkatnya pengetahuan dan kesadaran para anggota dalam menjaga kelestarian kawasan TNGGP juga meningkatnya keterampilan serta pendapatan anggota. Sehingga hal tersebut memotivasi mereka untuk aktif berperan serta dalam kegiatan konservasi. Pertemuan dilanjutkan dengan pembahasan rencana kegiatan KTH Hejo Cipruk tahun 2019. Terkait rencana kegiatan 2019, telah ada bahan acuan yaitu Rencana Lima Tahun (RPL) Kelompok Tani Hutan Hejo Cipruk Desa Gekbrong Periode 2016 – 2020. Rencananya pada tahun 2019, selain pertemuan rutin kelompok terdapat kegiatan lainnya yaitu memperluas network dengan cara menjalin kemitraan dengan pihak-pihak terkait (Pemerintah Daerah, swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan pihak lainnya); pelatihan pemberdayaan masyarakat (pembuatan pupuk hidroponik); pelatihan/ kursus tani pemberdayaan masyarakat (pembuatan bubuk paprika); pengembangan kegiatan alternatif ekonomi berupa pengembangan sarana dan prasarana pemasaran produk; pembentukan koperasi; dan pelatihan/ kursus tani pemberdayaan masyarakat bidang konservasi. Selain itu, di luar rencana yang ada di dalam RPL, KTH Hejo Cipruk berencana akan melaksanakan kegiatan bakti sosial pasca panen dan pembuatan paket wisata berbasis masyarakat. Kemudian terkait penataan kepengurusan kelompok, sebagaimana agenda pertemuan, disepakati bahwa susunan kepengurusan KTH Hejo Cipruk terdiri dari Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Bendahara, Koordinator Program, Koordinator Humas, Koordinator Budidaya, dan Koordinator Simpan Pinjam. Adanya perubahan nama ketua KTH yang awalnya dijabat oleh Uden Suherlan, mulai periode tahun 2019 diganti ketua terpilih yaitu Sayo Sydaryo. Ketua KTH Hejo Cipruk yang baru menyampaikan bahwa seluruh anggota agar meningkatkan kerjasama dan kekompakan dalam mengembangkan kelompok, memperluas penyebaran informasi ke masyarakat Desa Gekbrong untuk tergabung dalam kelompok, dan memperluas informasi terkait kelestarian kawasan TNGGP. Dalam arahannya mewakili Bidang PTN Wilayah I Cianjur, Agus Suprayogi selaku Kepala Resort PTN Tegalega menyampaikan bahwa agar kelompok selalu melakukan komunikasi dan koordinasi dengan Balai Besar TNGGP dalam hal ini melalui Resort PTN Tegallega dan juga dengan Pemerintah Desa. Selain itu diharapkan KTH Hejo Cipruk dapat meningkatkan peran dalam upaya konservasi, serta memperluas penyebaran informasi terkait kelestarian TNGGP. Sumber : Febriyani, S.Hut. – Penyuluh Kehutanan pada Bidang PTN Wilayah I, Balai Besar TNGGP
Baca Berita

Bersinergi dalam Menjaga Marwah CA Gunung Nyiut

Landak, 15 Januari 2018. Bertempat di Pendopo Rumah Dinas Bupati Landak di Ngabang, Balai KSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan Planet Indonesia (YPI) berkesempatan bertemu dan berkoordinasi terkait pengelolaan CA Gunung Nyiut dengan Bupati Landak, dr.Karolin Margaret Natasa. Ibu Bupati menyambut baik kehadiran BKSDA dan YPI yang membawa visi misi pengelolaan Cagar Alam Gunung Nyiut melalui pemberdayaan masyarakat di sekitar daerah penyangga CA Gunung Nyiut. CA Gunung Nyiut merupakan salah satu kawasan konservasi yang berada di tiga wilayah administratif, yaitu Kabupaten Landak, Kabupaten Bengkayang dan Kabupaten Sanggau. Pada kesempatan ini, Ibu Bupati berpesan agar kita dapat mewujudkan bersama-sama pemerataan pembangunan pada masyarakat sekitar kawasan hutan konservasi tanpa mengesampingkan konservasi itu sendiri. “Bersinergi dengan banyak pihak adalah kunci keberhasilan dalam pengelolaan kawasan dan saat ini kita harus benar-benar memperhatikan masyarakat yang ada di perbatasan kawasan hutan”, sambung beliau. Pada pertemuan ini, disampaikan program-program kerjasama antara BKSDA dengan YPI terkait pengelolaan CA Gunung Nyiut dengan melibatkan masyarakat sekitar kawasan. Mempromosikan dan mengangkat kearifan lokal berlandaskan keuntungan lestari melalui Pelayanan Usaha Masyarakat Konservasi (PUMK) untuk menurunkan ketergantungan masyarakat terhadap CA Gunung Nyiut. Dalam waktu dekat Ibu bupati juga akan mengagendakan kunjungan dengan mendaki CA Gunung Nyiut, beliau akan membawa youtuber dan vloger untuk mendorong pengelolaan CA Gunung Nyiut dengan konsep penelitian dan edukasi. Menjadi catatan Ibu bupati melalui Sekretaris Daerah, semua desa-desa target PUMK akan diberikan bantuan yang dapat mendorong ekonomi masyarakat, dengan didampingi oleh BKSDA dan YPI dan program kesehatan serta literasi menjadi target beliau. Beliau juga menyarankan BKSDA dan YPI menunjuk 1 desa menjadi desa percontohan yang semua KK punya jamban sehingga kesehatan warga desanya terjaga dengan adanya sanitasi dan MCK yang baik.(YS) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Bidang PTN Wilayah III Bogor TNGGP Goes To Campus IPB 2018

Pentingnya “Bercengkrama” Dengan Akademisi Masalah-masalah lingkungan berakar dari karakteristik manusia dan ketidakmampuan dalam mengembangkan satu sistem nilai sosial dan gaya hidup sehingga tidak mampu hidup serasi dengan lingkungan. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) merupakan kawasan konservasi yang menjadi salah satu obyek penting dalam lingkungan, karena keberadaanya sangat berpengaruh bagi kehidupan manusia baik yang berada di sekitarnya maupun masyarakat secara global. Pendidikan merupakan salah satu bagian dari upaya dalam penyelamatan lingkungan diharapkan dapat membentuk karakter masyarakat agar lebih perduli dan pada akhirnya mau turut serta dalam pelestarian kawasan TNGGP. Untuk itu, TNGGP secara rutin melaksanakan kegiatan pendidikan lingkungan dimana obyeknya kalangan mahasiswa di perguruan tinggi sekitar TNGGP. Kami menyebutnya dengan “GOES TO CAMPUS”. “GOES TO CAMPUS” Kali ini lebih spesial Goes To Campus tahun 2018 dilaksanakan pada tanggal 25 September di Depertamen Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata (DKSHE) Fakultas Kehutanan - Institut Pertanian Bogor (IPB). Goes to Campus kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya, kami tidak hanya sekedar membawa “misi” memberikan informasi terkini tentang Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Namun lebih dari itu, kami punya harapan besar akan ada rencana aksi setelah kegiatan ini. Hubungan yang sudah lama terjalin agar kembali semakin “mesra”. Pengelolaan TN tidak bisa sendirian, perlu adanya kolaborasi antar institusi. Mengingat perlunya pengelolaan yang berbasis keilmuan, maka sangat pas jika kita bergandengan tangan dengan perguruan tinggi sekitar. Kegiatan ini langsung dihadiri oleh Ketua DKSHE Fakultas Kehutanan IPB beserta para dosen, dan perwakilan mahasiswa. Pihak kampus menyambut baik kegiatan ini, harapannya kedepan terjalin kerjasama yang lebih erat lagi. Mengingat jurusan konservasi sangat cocok berkegiatan langsung di kawasan konservasi khususnya TNGGP. Materi ini yang disampaikan adalah sekilas TNGGP, program yang ada di PPKAB sebagai role model, serta regulasi kerjasama. Kami berharap pihak kampus semakin terbuka dan memahami aturan yang bisa ditempuh dan peluang apa saja yang bisa dikolaborasikan. Ada beberapa masukan yang membuat kami merasa tidak “sendirian” dalam menjaga kelestarian TNGGP. IPB khususnya DKSHE bersedia membantu penguatan pengelolaan TNGGP dalam bentuk penelitian dan pendidikan. Hal ini sejalan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Selain itu, salah satu mahasiswa membuka “jalan” bahwa kegiatan Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata (Himakova) selalu melaksanakan ekspedisi besar setiap tahunnya di kawasan konservasi. Hal ini bisa kedepan akan dilaksanakan di TNGGP. Sumber : Agung Gunawan, S.Hut. – PEH Balai Besar TNGGP
Baca Berita

Balai TN Bunaken Serahkan Bantuan Ekonomi Kreatif Kelompok Masyarakat di Pulau Nain

Manado, 21 Januari 2019. Tiga kelompok masyarakat di Pulau Nain yakni Kelompok Sinar Bahari dari Desa Nain, Kelompok Sinar Sentosa dari Desa Tatampi dan Kelompok Doa Ibu (kelompok Ibu-Ibu dalam pengolahan produk perikanan) dari Desa Nain I, menerima bantuan ekonomi kreatif dari Balai Taman Nasional Bunaken. Masing-masing paket bantuan tersebut diserahkan oleh Kepala Balai Taman Nasional Bunaken (Dr. Farianna Prabandari, S.Hut, M.Si) langsung kepada Ketua Kelompok Sinar bahari Bapak Sabri Boro, Kelompok Sinar Sentosa Bapak Robert Tarome dan Kelompok Doa Ibu, Ulin Nendey dengan disaksikan oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan Aspotmar Lantamal VIII, Kol. Laut Rumpoko. Dalam sambutannya, Kepala Balai menyampaikan kami bercita-cita Pulau Nain akan menjadi salah satu destinasi wisata yang berkembang dengan sektor perikanan dan rumput laut sebagai unggulannya. Dengan masyarakat Bajo yang tinggal di atas air, merupakan daya tarik tersendiri bagi wisatawan, harapannya akan menjadi Pulau warna-warni untuk bagian destinasi utama pulau tersebut. Banyak hal yang bisa ditawarkan antara lain wisata keliling kampung, wisata kuliner, wisata edukasi, wisata kegiatan nelayan tradisional, wisata bertanam rumput laut dan dengan dipaketkan dalam wisata pasir timbul (bungin) yang sudah tersohor. Dalam hal ini kita akan mengajak Lantamal VIII sebagai mitra dalam pembinaan potensi maritim untuk dapat membantu dalam pembinaan pengembangan masyarakat di Pulau Nain. Aspotmar Lantamal VIII, Kol.Laut Rumpoko menambahkan, potensi-potensi masyarakat yang ada di Pulau Nain sangat luar biasa, apalagi rumput laut menjadi andalan, usahakan hasilnya tidak hanya langsung dijual, tetapi diolah sehingga memberikan nilai lebih. Salah satu perwakilan kelompok, Sabri Boro menyampaikan, memang kendala kami adalah belum mendapatkannya perhatian dari Pemerintah, dalam 1 blok pertanian rumput laut terdapat 75 res tali dan 1 res tali sama dengan 75 depa (100 m). Kami bersyukur bantuan insentif ini akan menjadi modal awal pengembangan usaha kami, sehingga berharap dapat meningkatkan usaha dan kesejahteraan bagi anggota kelompok, tutup Sabri. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Atasi Persoalan Sampah, Balai Taman Nasional Bunaken Serahkan Bantuan Armada Motor Tiga Roda pada Desa Arakan

Manado, 21 Januari 2019. Bertempat di kantor Balai Taman Nasional Bunaken bantuan motor tiga roda (Viar) diberikan kepada kelompok sampah "Sama Senang" dari Desa Arakan, Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan. Desa Arakan merupakan salah satu Desa Penyangga di bagian selatan Taman Nasional Bunaken. Desa dengan masyarakat yang bermukim Suku Bajo menjadi salah satu desa sentra utama perikanan di Kabupaten Minahasa Selatan. Bantuan motor sebagai armada sampah Desa Arakan bukan tanpa alasan. Pada tahun 2014 Desa Arakan merupakan desa project climate change CTI-CFF dimana dalam program tersebut merupakan proses awal Desa Arakan sebagai Desa Percontohan dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas. Kemudian Penetapan Desa Wisata Di Kabupaten Minahasa Selatan berdasarkan Peraturan Bupati Minahasa Selatan Nomor 7 Tahun 2017, serta terdapat pula Pos TNI AL yang berfungsi pula sebagai pembinaan potensi maritim masyarakat pesisir. Selanjutnya pada Bulan Nopember 2017 Balai TN Bunaken bersama Lantamal VIII menyelenggarakan festival kerakyatan dalam Karnaval Katinting untuk mempromosikan desa ekowisata bahari. Penyerahan bantuan motor 3 roda armada sampah diserahkan langsung oleh Kepala Balai Taman Nasional Bunaken dan diterima oleh Ketua Kelompok Sama Senang Ibu Yasaluna Adi, dengan disaksikan oleh Aspotmar Lantamal VIII Kol. Laut Rumpoko dan Hukum Tua Arakan Ibrahim Musa. Dr. Farianna Prabandari dalam sambutannya menyampaikan bahwa motor sampah ini harap dioptimalkan dan diberdayagunakan sebagaimana mestinya, tidak hanya untuk Desa Arakan saja, tetapi desa-desa penyangga lainnya di kawasan selatan Kecamatan Tatapaan. "Selain sebagai armada sampah, motor ini juga fungsional bisa sebagai angkutan wisata berkeliling desa, dengan perawatan dan dijaga kebersihan motornya", tutur Kepala Balai. Disisi lain Asisten Pembinaan Potensi Maritim Lantamal VIII, Kol. Laut Rumpoko sangat mengapresiasi langkah Balai Taman Nasional Bunaken, ini baru pertama kalinya sejak kami mengupayakan adanya pembinaan masyarakat di wilayah pesisir kemudian mendapatkan fasilitas armada pengangkut sampah. Akan kami cek penggunaannya dan kami bantu mengawasi implementasinya dilapangan, karena kebetulan di Desa Arakan terdapat Pos TNI AL. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

TWA Tampomas dan TB Masigit Kareumbi Jadi Rumah Baru Bagi 65 Kukang Jawa

Bandung, 21 Januari 2019. Pasca digagalkannya penyelundupan 79 Kukang Jawa dari Kabupaten Majalengka ke Surabaya yang rencananya akan dikirim ke Shanghai China, hari minggu kemarin tanggal 20 Januari 2019 sebanyak 65 satwa dilindungi tersebut dikembalikan ke habitatnya. TWA Tampomas dan Taman Buru Masigit Kareumbi dipilih menjadi rumah baru bagi mereka karena berdasarkan identifikasi vegetasi dan ketersediaan pakan, kedua kawasan konservasi tersebut layak menjadi habitat satwa yang dijuluki malu-malu ini. Seperti diberitakan sebelumnya, 11 kukang lainnya saat ini menjalani proses rehabilitasi oleh Yayasan IAR Indonesia, sedangkan 3 kukang lainnya mati dalam masa perawatan. Pelepasliaran kukang jawa yang merupakan titipan barang bukti Polres Majalengka berdasarkan surat Penetapan Pengadilan Negeri Majalegka No. 1/Pen.Pid/2019/PN Mjl tanggal 17 Januari 2019 ini dilakukan Balai Besar KSDA Jawa Barat bersama-sama dengan Polres Majalengka, Perwakilan Kejaksaan Majalengka, dan juga Yayasan IAR Indonesia. Di TWA Tampomas, Kapolres Majalengka turut langsung melepaskan ke 34 ekor Kukang Jawa yang terdiri dari 15 Jantan dan 19 betina. Turut hadir pada kesempatan tersebut Kepala Bidang KSDA Wil. II Soreang, Ir. Memen Suparman, MM dan Kepala SKW VI Tasikmalaya, Didin Syafrudin, S.Sos. Sebagai jembatan edukasi, anggota Bhayangkari Kepolisian Resort Majalengka diajak untuk menyaksikan pelepasliaran kukang jawa tersebut. Pada hari yang sama, sebanyak 31 ekor kukang jawa lainnya yang terdiri dari 17 ekor jantan dan 14 ekor betina dilepasliarkan di TB. Masigit Kareumbi. Pelepasliaran dipimpin langsung oleh Kepala SKW III Soreang, Didik Sudjianto, SH, MH beserta petugas resort Masigit Kareumbi Barat. Total kukang jawa yang dilepasliarkan pada kedua kawasan konservasi tersebut sebanyak 65 ekor yang terdiri dari 32 ekor jantan dan 33 ekor betina. Selanjutnya, kukang yang dilepaskan akan dimonitor dan diamati perilaku kesehariannya oleh petugas resort dan Yayasan IAR Indonesia. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Terjerat Jaring, Penyu Cacat Berjenis Sisik diserahkan Ke Balai TN Taka Bonerate

Benteng - Kepulauan Selayar, 21 Januari 2019. Salah seorang warga Benteng, Supriadi menyerahkan seekor biota laut dilindungi yaitu Penyu Sisik yang terjerat di jaringnya saat melaut (pukat). "Penyunya terjerat pukat saya, karena saya liat kondisinya kurang sehat dan cacat jadi saya bawa ke sini", jelas Supriadi salah seorang nelayan. Penyu ini terjerat di sekitar Pantai Bonea, Kecamatan Benteng Kabupaten Kepulauan Selayar, kejadiannya pagi ini (19/01) sekitar pukul 07.45 WITA. Kondisi penyu lemah, kurus dan cacat tanpa kaki depan sebelah kanan. Untuk pemulihan kondisi, saat ini dilakukan habituasi dititip di Kampung Penyu. "Segera lakukan pemulihan kondisi dan habituasi, titipkan di Pak Datu Kampung Penyu", perintah Faat Rudhianto Kepala Balai TN Taka Bonerate. Di Kampung Penyu dilakukan kembali pemeriksaan kondisi fisik dan pengukuran karapas (panjang 32 cm, lebar 28 cm). Setelah itu dimasukkan ke kolam penampungan. "Pada umumnya penyu yang terdampar memiliki kondisi yang tidak stabil, tidak dapat berenang dengan baik dan cenderung mengapung saja. Hal tersebut berlangsung selama 2-3 hari", jelas pak Datu selaku pengelola Kampung Penyu. Kepala Balai Faat Rudhianto mengucapkan terima kasih kepada pak Supriadi dan pak Datu atas kepeduliannya terhadap kelestarian biota laut dilindungi ini. Diharapkan jika ada warga yang menemukan jenis biota laut dilindungi bisa menghubungi Call Center kami di 0811-418-481. Sumber : Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate Selengkapnya : Terjerat Jaring, Penyu Cacat Jenis Sisik Diserahkan Ke Balai TN. Taka Bonerate
Baca Berita

Komisi IV DPR RI Lakukan Kunjungan Kerja Ke Provinsi Riau

Pekanbaru, 18 Januari 2019. Komisi IV DPR RI tiba di Bandara Internasional Sultan Syarif Khasim ll Pekanbaru, Rombongan dipimpin Wakil Ketua Komisi IV, Daniel Johan selaku Ketua Tim dengan 4 anggota dewan yang lain yaitu Dr Hermanto SE MM, FPKS; KH Asep Ahmad Moushul Affandi, FPPP; Drs Muchtar Lutfy A.Mutty MSi FNasdem; dan Ir. Efendy Sianipar FPDI serta Sekretaris Komisi IV, Tenaga ahli dan TV parlemen media pemberitaan DPR RI . Kunjungan Kimisi IV ini didampingi oleh Kementerian LHK dalam hal ini diwakili Direktur Jenderal KSDAE, Wiratno. Kedatangan tamu yang terhormat disambut oleh Gubernur Riau diwakili Kepala Dinas LHK Provinsi Riau (Ervin Rizaldi), Kepala Balai Besar KSDA Riau (Suharyono), Kepala P3ES Regional Sumatera selaku Korwil UPT KLHK (Amral Ferry), Polri dan TNI serta instansi terkait. Usai rehat dan berbincang di ruang VVIP Lancang Kuning, rombongan langsung melakukan kunjungan lapangan ke lokasi PT. Salamah Arwana Lestari di Kec. Rumbai kota Pekanbaru. Anggota Dewan sangat antusias berkeliling lokasi penangkaran Ikan Arwana dan bertanya hal hal lain yang terkait dengan usaha penangkaran tersebut. Dalam kunjungan kerja ini, Komisi IV DPR RI ingin mendapatkan informasi dan mendengar langsung berbagai hal yang terkait dengan kegiatan konservasi ex-situ melalui usaha penangkaran ikan Arwana. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Green House Penjemuran Kopi Desa Pagar Gunung sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat desa Penyangga TN Batang Gadis

Mandailing Natal - 17 Januari 2019 , Pembangunan Green House Penjemuran kopi di desa Pagar Gunung Penyagga TN Batang Gadis merupakan bentuk keseriusan TN Batang Gadis dalam pemberdayaan masyarakat desa penyangga. Desa Pagar Gunung berada pada ketinggian di atas 1.100 mdpl dengan curah hujan lumayan tinggi. Green house penjemuran kopi dengan ukuran 10m x 5m dg type bangunan singel span yaitu kombinasi type tunnel dengan piggy back,,menggunakan plastik UV protector, kandungan zat additif 6 % dg tebal 200 mikron, light transmission 90 % ,dilengkapi dengan exhause fan untuk sirkulasi udara,,cocok utk penjemuran kopi di daerah dg curah hujan tinggi (tujuan utk meningkatkan kualitas green been ), penjemuran kopi juga dikenal dengan DOME penjemuran kopi. Sumber : Riki Susandra ( Kepala Resort 3 Desa Pagar Gunung ) - Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

3 Kompresor Disita Balai TN. Taka Bonerate

TN. Taka Bonerate - Kepulauan Selayar (Kamis, 16 Januari 2019). Menindaklanjuti Informasi dari masyarakat Balai TN Taka Bonerate melakukan patroli fungsional. Berhasil mengamankan 3 unit kompresor sebagai alat bantu menangkap ikan yang beroperasi dalam kawasan TN. Taka Bonerate Kabupaten Kepulauan Selayar pada tanggal 12 dan 13 Januari 2019. Walaupun cuaca belum kondusif, tim tetap melaksanakan patroli ini. Tim terdiri dari 4 org petugas resort Jinato dan 1 anggota dari Kodim 1415 Selayar babinsa Jinato. "Ada tiga unit kompresor kami sita dan diamankan di Benteng, ini hasil patroli teman-teman di resor Jinato" Tutur Kepala Balai Faat Rudhianto Tim patroli menyisir ke timur dari Taka Kayubulan, Taka Salo sampai ke Taka Gama dan mendapati tiga kapal nelayan yang menggunakan kompresor sebagai alat bantu menangkap ikan. Diduga melanggar pasal 40 ayat 2 subs pasal 33 ayat 3 Undang-undang no. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo pasal 84 Jo pasal 85 undang-undang RI nomor 45 tahun 2009 tentang perubahan Undang-undang RI no.32 tahun 2004 tentang Perikanan Jo pasal 55 KUH Pidana "Selain patroli teman-teman juga melakukan sosialisasi tentang surat pengumuman tentang larangan membeli ikan hasil bom dan bius di TN. Taka Bonerate" jelas Faat Rudhianto Penindakan ini masih dalam tingkat pembinaan, pelaku didata identitasnya, barang bukti disita dan jika dikemudian hari terbukti melanggar lagi makan akan ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku. Ini demi memutus mata rantai dan menekan tindak pidana perikanan atau destruktif fishing yang terjadi di dalam kawasan TN Taka Bonerate Sumber : Asri - PEH Balai TN. Taka Bonerate

Menampilkan 6.305–6.320 dari 11.140 publikasi