Kamis, 23 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Tertarik Dengan Ekowisata, Balai TN. Aketajawe Lolobata Kunjungi Cengkeh Afo

Sofifi, 25 Januari 2019. Adalah Kris Syamsudin, pakar ekowisata sekaligus pendiri tempat ekowisata berbasis masyarakat yang pertama di Maluku Utara. Kawasan ekowisata di Ternate tersebut dinamai Cengkeh Afo. Cerita proses pembuatan dan kesuksesan mendatangkan wisatawan yang berdampak meningkatnya ekonomi masyarakat sekitar menjadikan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) tertarik untuk mengundang Pria inspiratif yang penuh semangat tersebut untuk menjadi nara sumber dalam kegiatan pembentukan kelompok wisata di Desa Ake Jawi, Kecamatan Wasile Selatan, Kabupaten Halmahera Timur, wilayah kerja Resort Binagara. Konsep ekowisata yang ditawarkan sangat ramah lingkungan dan sesuai dengan pengelolaan kawasan konservasi. Berawal dari konsep tersebut, pada tanggal 21 Januari 2019 setelah kegiatan rapat Rencana Pemulihan Ekosistem, Balai TNAL mengunjungi ekowisata Cengkeh Afo. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih 20 menit dari pusat kota Ternate. Sampai di lokasi, rombongan Balai TNAL disambut dengan pintu gerbang dan ornamen-ornamen yang terbuat dari bambu dan tidak terdapat ornamen yang bahan plastik. Selain itu, rombongan yang antusias ini juga disambut oleh ibu-ibu dengan pakaian adatnya. Setelah melihat beberapa saung dan tempat istirahat yang semuanya berbahan baku dari alam, yaitu bambu, rombongan pun dipersilahkan masuk ke saung makan untuk menikmati menu tradisional desa Tongole. Menu yang disajikan adalah ikan dan ayam organik. Ikan tersebut dimasak di dalam bambu di dapur yang berbahan bakar kayu, menjadikan citarasa masakan kian membawa imajinasi rombongan Balai TNAL ke masa lalu. “Menu rumahan yang sederhana ini sangat nikmat, rasanya sampai kembali ke masa lalu”, kata Raduan, Kepala SPTN Wilayah I Weda. Pada waktu bersamaan Pak Kris menceritakan tentang alasan kenapa memilih menu tersebut dan bagaimana cara memasak dan menyajikannya. Pak Kris juga sangat berharap kepada taman nasional agar terus mendampingi dan mendukung kelompok wisata terutama di Resort Binagara. “Saya sangat berharap agar kelompok di Desa Ake Jawi bisa mengembangkan konsep ekowisata dan menjadi destinasi unggulan di Halmahera Timur”, harapan Pak Kris. “Saya juga tidak mau setengah-setengah dalam mendampinginya”, tutup Beliau. Akhirnya, Kepala Balai beserta rombongan diantarkan menuju cengkeh tertua di dunia, yaitu Cengkeh Afo. Cengkeh tersebut merupakan peninggalan jaman Belanda yang masih tersisa sampai sekarang dan telah berumur sekitar 300 tahunan. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polisi Kehutanan Balai TN. Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Burung Garuda Masih Menari di Langit Cianjur

Cibodas, 25 Januari 2019. Kedudukannya berada di puncak rantai makanan (top predator) dalam sebuah ekosistem, memiliki peran penting sebagai pengendali populasi satwa lain yang menjadi mangsanya dan menjaga keseimbangan ekosistem. Berfungsi pula sebagai indikator kondisi suatu lingkungan yang baik karena jenis ini sangat peka terhadap kerusakan lingkungan. Itulah elang Jawa (Nisaetus bartelsi, Stresemann 1924) yang merupakan salah satu burung pemangsa (raptor) penting di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Keadaan lingkungan yang terganggu diperkirakan bisa menyebabkan elang jawa bisa mengalami kepunahan sehingga keseimbangan alam pun akan terganggu. Namun tidak usah khawatir dengan kehidupan “sang Garuda” ini di ekosistem hutan hujan tropis pegunungan yang satu ini. Berdasarkan hasil monitoring populasi Elang Jawa yang dilaksanakan pada tahun 2018 di 4 (empat) lokasi di Bidang PTN Wilayah I Cianjur: (1) Blok Geger Bentang; (2) Blok Danau Mandalawangi; (3) Blok Ciheulang, dan (4) Blok Citatah diketahui bahwa jumlah perjumpaan Elang Jawa selama pengamatan sebanyak 17 kali dengan total perkiraan individu yang teramati pada saat monitoring adalah 6 individu. Aktivitas Elang Jawa yang banyak dijumpai selama pengamatan adalah terbang memutar (soaring) dan bertengger (perching). Aktivitas ini banyak dijumpai sekitar pukul 09.00 - 12.00 WIB dan diduga Elang Jawa tersebut keluar dari sarangnya untuk mencari mangsa. Selain itu, terdapat juga aktivitas lain seperti terbang melintas (display) dan diprediksi perilaku kawin. Nilai kelimpahan total yang diperoleh dari hasil perjumpaan di lokasi pengamatan adalah 0,34 kali/ jam dan masuk dalam skala urutan “tidak umum” dengan nilai kelimpahan 2 karena berada pada selang nilai kategori kelimpahan 0,1 – 2,0. Kategori tidak umum ini dapat diartikan bahwa jenis Elang Jawa merupakan spesies yang jarang dijumpai di lokasi pengamatan dengan sebaran waktu sepanjang hari, namun masih memungkinkan untuk dijumpai atau keberadaannya masih memungkinkan untuk ditemukan di kawasan TNGGP khususnya di lokasi pengamatan. Selain itu, jika dilihat pola persebaran Elang Jawa berdasarkan penghitungan Indeks Morisita (Id), dapat dikategorikan pola sebaran Elang Jawa pada lokasi pengamatan termasuk kategori pola sebaran mengelompok (aggregate) karena memiliki nilai Id > 1 yaitu 1,600. Adapun nilai kepadatan Elang Jawa adalah 0,065 individu/Km2 atau sekitar 1 individu Elang Jawa pada luasan ± 15,358 Km2 (1 individu/15,358 Km2). Pendugaan (estimasi) populasi Elang Jawa diperoleh dengan cara mengalikan jumlah lokasi konsentrasi dengan jumlah ukuran populasi pada lokasi konsentrasi tersebut. Jumlah lokasi konsentrasi 4 lokasi, sedangkan jumlah total ukuran populasi pada lokasi konsentrasi pada keseluruhan monitoring adalah 3. Sehingga diperoleh nilai pendugaan populasi pada lokasi pengamatan adalah ± 12 individu. Jika dibandingkan tahun 2017, estimasi populasi Elang Jawa tahun 2018 mengalami penurunan dari ± 20 individu di tahun 2017, menjadi ± 12 individu di tahun 2018, hal ini kemungkinan disebabkan antara lain oleh: (1) Peluang Perjumpaan. Peluang perjumpaan secara langsung dengan Elang Jawa berbeda-beda setiap monitoring, salah satu faktor utama yang berpengaruh di lapangan adalah cuaca. Ketika cuaca mendung atau hujan, perjumpaan dengan Elang Jawa menjadi nihil atau nol. Perjumpaan nihil atau nol diartikan belum tentu tidak ada Elang Jawa, namun Elang Jawa tidak beraktifitas saat itu, sehingga keberadaannya tidak terdeteksi oleh tim di lapangan; (2) Adanya aktifitas perburuan burung. Tidak menutup kemungkinan adanya aktivitas illegal perburuan burung Elang Jawa, dan termasuk satwa mangsa (prey-nya); (3) Penggunaan pestisida yang berlebihan pada lahan pertanian yang berbatasan dengan habitat Elang Jawa. Dimana Elang Jawa merupakan top predator bagi fauna yang berada dibawahnya. Tidak jarang Elang Jawa juga memangsa hewan besar seperti tikus, ayam, tupai, kelelawar, katak, ular, musang, dan sebagainya. Hewan buruan ini yang secara tidak langsung memakan pestisida. Tentu racun pestisida ini menjadi berbahaya bagi Elang Jawa yang dapat menyebabkan kematian. Dari segi jumlah makanannya, ketersediaan hewan buruan juga akan makin menipis apabila rantai makanan ini terganggu dan Elang Jawa tentu akan kesulitan dalam mencari mangsa; (4) Elang Jawa memiliki sistem reproduksi yang lambat. Rata-rata burung pemangsa memang jarang bertelur dan jumlah anaknya pun sangat sedikit. Elang Jawa berkembang biak setiap 2 tahun sekali dengan jumlah anak umumnya 1 ekor saja. Elang Jawa ini biasanya hanya kawin dengan satu pasangan yang sama seumur hidupnya. Umur Elang Jawa yang siap berkembang biak pada umur 3-4 tahun dengan masa eram 44-48 hari. Setelah anak Elang Jawa menetas, selama 1 1/2 tahun anak Elang Jawa itu akan dibesarkan induknya. Bandingkan dengan burung merpati, umur 5 bulan saja sudah siap kawin. Telurnya pun bisa dierami 2 sekaligus. Sungguh fakta Elang Jawa berkembangbiak lambat. Menurut IUCN status Elang Jawa adalah endangered species atau terancam punah dan diramalkan akan punah pada tahun 2025. Sampai saat ini Elang Jawa masih sering terlihat menari di langit Cianjur. Maka terbanglah dengan gagah Garuda ku, menarilah di langit biru Gede Pangrango. Semoga ramalan akan kepunahanmu itu tidak terjadi. SEMOGA. Sumber: Pengendali Ekosistem Hutan Bidang PTN Wilayah I Cianjur – Balai Besar TNGGP
Baca Berita

Cuaca Buruk mengakibatkan 13 pohon tumbang dijalur Senduro menuju Ranu Pani

Malang, 24 Januari 2019. Sebanyak 13 batang pohon tumbang dijalur kali cilik Senduro sampai dengan Bantengan Ranu Pani berhasil di bersihkan oleh Tim berjumlah 55 orang yang terdiri dari unsur TNBTS dibantu dengan tim BPBD Kabupaten Lumajang, Polsek, Koramil dan Kecamatan Senduro, Komunitas Truck Senduro Ranupani dan masyarakat lainnya. "Khaerul Saleh" selaku Kepala Resort PTN Senduro menyampaikan bahwa kejadian 13 pohon tumbang terjadi akibat cuaca yang tidak kondusif berupa angin kencang. Cuaca buruk memang sering terjadi di awal-awal tahun yang mengakibatkan beberapa pohon tumbang dan mengganggu aktivitas jalur Senduro Ranu Pani. Alhamdulillah dengan dibantu relawan dan pembersihan jalur dari pohon tumbang dapat di selesaikan sehingga jalur tersebut dapat di lalui roda 2 dan roda 4 kembali. Ke 13 pohon tumbang tersebut dari jenis acasia 2 pohon, cemara gunung 1 pohon, danglu 4 pohon, pasang 5 pohon dan jara'an 1 pohon. Lebih lanjut khaerul berpesan kepada para pengunjung atau warga yang menggunakan jalur tersebut agar berhati-hati dan waspada mengingat cuaca buruk dan angin kencang diprediksikan akan berlangsung sampau 1 atau 2 bulan kedepan. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Tidak Sekedar Temu Kangen “Balad TNGGP”

Cibodas, 23 Januari 2019. Berawal dari pertemuan lewat media sosial WhatsApp group “Balad TNGGP” wadah komunikasi dan silaturahim para pegawai Balai Besar TNGGP yang masih aktif/ pernah bertugas di TNGGP, hingga tergerak hati untuk bertemu kembali sehingga tercetus ide dari para “Balad TNGGP” untuk mengadakan acara reuni agar silaturahim tetap terjalin. Kepala Balai Besar TNGGP, Wahju Rudianto dalam sambutannya mengucapkan selamat datang dan ucapan terimakasih pada kehadiran para “Balad TNGGP” pada acara temu kangen. Pada acara ini hadir alumni pegawai TNGGP mulai tahun 1979 s/d 2018, termasuk mantan Kepala Balai yaitu, Wahjudi Wardojo (1992-1997); Sunaryo (1997-2000); Novianto Bambang W. (2000-2003), Harjanto Wahyu Sukotjo (2003-2007); Herry Subagiadi (2012-1016); dan Suyatno Sukandar (2016). Satu per satu mantan Kepala Balai berbagi kisah dan pengalaman selama tugas di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Suatu kehormatan, Direktur Jenderal KSDAE menyempatkan hadir dalam acara temu kangen “Balad TNGGP”. Beliau menyampaikan pesan, agar tetap jalin silaturahim bukan hanya melalui media sosial saja. Pada acara temu kangen ditampilkan slide foto-foto nostalgia masa-masa di Taman Nasional Gede Pangrango. Foto-foto tersebut bukti sejarah yang tak lekang waktu. Rasa haru dan gelak tawa menyelimuti para undangan yang melihatnya sambil mengenang kembali pada masa-masa aktif di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Tidak sekedar untuk mengobati rindu antar “Balad TNGGP”, namun yang utama menjalin tali silaturahim dan saling bertukar informasi, karena sudah tidak pernah atau jarang ketemu lagi. Mengenang masa lalu yang sehat dan positif, karena ini terapi hati dan pikiran yang positif. Bisa terbebas dari sakit, makin rileks dan menciptakan gelak ketawa. Mengembalikan eksistensi dan kembali belajar, karena setiap orang punya eksistensi dan potensi dalam diri. Kita dapat belajar dari para senior “Balad TNGGP” maupun teman sejawat. Meningkatkan rasa solidaritas karena merasa mempunyai pengalaman bersama. Memperpanjang usia, karena kita bisa mengurangi stres. Kehidupan sosial yang lebih baik menciptakan suasana yang harmonis. Semoga silaturahim antar “Balad TNGGP” tetap terjalin dengan baik. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Ini Hasil Road Show Pejabat Struktural Balai TN Aketajawe Lolobata di Awal Tahun 2019

Sofifi, 24 Januari 2019. Menindak lanjuti kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat berupa pembentukan kelompok usaha ekonomi produktif dan kerjasama antar pihak pada tahun 2018, Kepala Balai beserta pejabat struktural Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) mengadakan road show ke Kabupaten Halmahera Tengah, Kabupaten Halmahera Timur dan Kota Tidore Kepulauan. Ketiga kabupaten dan kota tersebut masuk dalam wilayah Administrasi Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Kegiatan ini juga mengikutsertakan pejabat fungsional Penyuluh Kehutanan. Dalam kunjungan ke Halmahera Tengah, Kepala Sub Bagian Tata Usaha beserta rombongannya mengunjungi kelompok binaan TNAL di desa Kobe untuk mendapatkan informasi terkait perkembangan kelompok. Kepala Desa Kobe yang telah difasilitasi bersama ketua kelompok untuk studi banding di Taman Nasional Gunung Cermai ini sangat antusias untuk membina dan mendukung kelompok binaan TNAL di Desanya. Pada kesempatan terpisah, dilakukan kunjungan ke Kabupaten Halmahera Timur. Pada kesempatan tersebut beberapa Kepala Dinas di undang langsung oleh Kepala Balai TNAL untuk menghadiri pertemuan di kantor SPTN Wilayah II Maba. Pertemuan tersebut menghasilkan beberapa kebijakan di bidang pemberdayaan masyarakat, antara lain sinergitas dan kolaborasi kegiatan antar penyuluh kehutanan dan penyuluh pertanian serta dukungan pihak Pemerintah Daerah kepada Balai TNAL melalui instansi teknisnya antara lain pembangunan jalan wisata (jalur tracking) pengamatan burung Bidadari Halmahera di Desa Ake Jawi. Pada kesempatan tersebut, Kepala Balai menyempatkan bersilahturahmi ke Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur dan di terima oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Haltim karena Bupati sedang dinas luar. Selanjutnya Kepala Balai dan Pejabat Struktural juga mengunjungi kelompok binaan di Desa Lolobata dan Desa Ake Jawi. Hasil dari kunjungan di Desa Lolobata yang juga merupakan Ibu Kota Kecamatan Wasile Selatan adalah dipinjamkannya bangunan bekas kantor PNPM yang masih layak pakai untuk Balai TNAL agar dapat digunakan sebagai kantor Resort Lolobata wilayah kerja SPTN III Subaim. Pihak Kecamatan akan memberikan lahan kepada Balai TNAL agar dapat membangun kantor resort di wilayah Wasile Tengah. Sedangkan kunjungan ke kelompok binaan di Desa Ake Jawi adalah mendengarkan penyampaian ketua kelompok tentang rencana kerja kelompok wisata yang akan di dampingi oleh mitra Balai TNAL yaitu Cengkeh Afo dari Ternate. Sumber : Balai TN Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Banteng Kalimantan, Spesies Baru?

Malinau, 24 Januari 2019. Banteng merupakan salah satu hewan asli Asia tenggara, dan salah satu mamalia besar Indonesia yang memiliki status dilindungi berdasarkan P.92/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan Dan Satwa Yang Dilindungi. Bahkan oleh IUCN Redlist mengkategorikan Banteng sebagai satwa yang terancam punah atau Endagered. Terdapat 2 sub spesies banteng yang ada di Indonesia, yakni Bos javanicus javanicus dengan sebaran di Pulau Jawa dan Bos javanicus lowi yang sebarannya ada di Kalimantan, tepatnya di Taman Nasional Kutai, Taman Nasional Kayan Mentarang serta di Blantikan, Kabupaten Lamandau Kalimantan Tengah. Titik sebaran banteng di Taman Nasional Kayan Mentarang berada di Padang penggembalaan Long Tua SPTN II Long Alango. di kawasan tersebut banteng menjadi obyek konservasi dengan target peningkatan populasi sebesar 2% setiap tahunnya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah, Apakah benar banteng di padang Long Tua murni Banteng Borneo (Bos javanicus lowi) atau jenis banteng baru? Berikut ulasan hasil analisis genetic banteng di padang rumput Long Tua. Pada Tahun 1979, Padang Long Tua masih menjadi pemukiman masyarakat Dayak, dan banteng dinyatakan hidup secara bersama dengan sapi peliharaan pada masa itu. Bahkan tumpang tindih habitat masih terlihat hingga tahun 1990-an, dimana Taman Nasional Kayan Mentarang kala itu masih berstatus Cagar Alam. Tidak hanya di Long Tua, fenomena tumpang tindih habitat antara banteng dan sapi juga terjadi di wilayah lain. Seperti yang terjadi di Kamboja, antara banteng (Bos javanicus) dengan Zebu (Bos Taurus) yang telah menurunkan jenis hybrid yang di kenal sebagai Kouprey (Bos sauveli). Melihat pengalaman tersebut, terdapat kekhawatiran terjadinya introgressi sapi peliharaan yang di alami oleh Banteng di Long Tua. Oleh karena itu Balai Taman Nasional Kayan Mentarang melakukan Analisis Genetic terhadap banteng yang ada di padang penggembalaan Long Tua, yang bekerjasama dengan Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPBPTH) Yogyakarta. Dalam pelaksanaannya Analisis Genetik banteng di Long Tua menggunakan 4 Metode, yakni Pengumpulan Sampel, Ekstraksi DNA, Amplifikasi DNA dan terakhir Analisis Data. Untuk pengumpulan sampel materi genetik selain di ambil di alam, juga di ambil dari pemukiman untuk mewakili krakteristik genetic sapi peliharaan. Yang kemudian di kelola oleh BBPBPTH guna penelitian di laboratorium genetika molekuler. Berdasarkan hasil ekstrak DNA dari feses hanya ada 16 sampel yang dapat diukur konsentrasi kemurniannya dengan rasio kemurnian yang bervariasi, yakni berkisar antara 1,973 – 2,575. Sementara kisaran rasio optimal untuk kemurnian DNA adalah 1,8-2,0 (Sambrook & Russel, 2001). Dari keseluruhan hasil ektraksi DNA, hanya 3 sampel yang memiliki kemurnian DNA yang masuk dalam rasio optimal. Sementara sampel lainnya memiliki rasio lebih dari 2,0 meskipun tidak terlalu banyak selisihnya. Namun demikian, seluruh DNA tetap dianalisis lanjut sampai ketahap amplifikasi. Kemurnian DNA yang rendah diduga terkait ekstraksi DNA menggunakan QiaAmp Stool MiniKit QIAGEN dengan protocol yang telah dimodifikasi oleh Sekiguchi (2013). Karena dalam penelitian ini yang di gunakan adalah sampel feses, sehingga jenis pakan, tingkat kebaruan sampel, cara preservasi dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas DNA. Sementara itu, pada proses amplifikasi DNA yang menggunakan penanda DNA mitokondria yang dilakukan di daerah cytocrome B pada DNA mitokondria tersebut menunjukan hasil dari seluruh sampel yang terukur kuantitas dan kualitasnya, dapat teramplifikasi dengan cukup baik. Selain itu, terdapat 190 titik pembeda antara banteng yang terdapat di padang Long Tua dengan jenis lain pada kelompok Bos. Baik banteng dari jawa dan Birma maupun Kerbau. Namun titik polimorfik berkurang menjadi 62 titik jika banteng dari Long Tua dibandingkan dengan banteng Jawa maupun B.j lowi yang berasal dari Sabah, Malaysia. berdasarkan karakter genetic (haplotipe), banteng di padang penggembalaan long tua memiliki 5 (lima) karakter genetic yang berbeda berdasarkan pada DNA mitokondria bagian cytochrome B. demikian pula dengan jumlah haplotipe banteng Jawa. Sementara banteng lowi yang dijumpai di Sabah, Malaysia memiliki haplotipe lebih tinggi, yaitu 6 (enam) haplotipe. Hasil yang telah di capai pada tahap ini masih cukup bagus, kendati memiliki jumlah haplotipe yang sama dengan banteng Jawa, mengingat sampel yang terkumpul pada kegiatan analisis genetic banteng ini hanya terbatas pada padang penggembalaan Long Tua, SPTN II Long Alango di Taman Nasional Kayan Mentarang. Di sisi yang sama juga tampak hasil analisis filogenetik yang menunjukan bahwa banteng di Long Tua berada dalam kelompok terpisah dengan banteng Jawa dan banteng Birma. Namun lebih dekat dengan gaur atau Gayal (B. gaurus). Dan tanda-tanda menunjukan bahwa banteng di Long Tua adalah Banteng Kalimantan (Bos javanicus lowi). Mari kita mendalaminya lagi…! Secara morfologi, warna tubuh banteng lowi jantan sama dengan gaur, sehingga memicu adanya kedekatan genetic antara banteng lowi di long tua dengan Gaur. Namun, dari warna tubuh betina dewasa, ukuran tubuh maupun bentuk tanduk sangat berbeda, sehingga dugaan tersebut menjadi lemah. Tidak hanya itu, adapun dugaan lainnya bahwa leluhur banteng lowi mendapatkan genom mitokondria dari gaur melalui introgressi. Seperti yang terjadi pada Bos jenis Kouprey (B. sauveli) yang merupakan hasil kawin silang antara B. javanicus dan B. frontalis. Pada sub spesies banteng, jarak genetic banteng lowi dan banteng jawa adalah 0,37, angka tersebut lebih jauh dibandingkan dengan banteng Birma dengan rata-rata jarak 0,35. Yang berarti banteng lowi memiliki perbedaan sebanyak 37% dari banteng Jawa dan 35% dari banteng Birma. Lalu bagaimana dengan status kemurnian genetic banteng lowi yang sempat hidup secara simpatrik dengan sapi peliharaan ? Saat ini keberadaan sapi di padang Long Tua sudah tidak bisa di deteksi lagi. Berdasarkan hasil filogenetik dan jarak genetiknya, benteng lowi terpisah dari kelompok sapi peliharaan yang sampelnya juga di ambil dari Malinau. Dengan kata lain, banteng di padang penggembalaan Long Tua merupakan murni Banteng Borneo atau Banteng Kalimantan (Bos javanicus lowi) berdasarkan buku laporan analisis genetic banteng BTNKM 2018. Upaya konservasi Banteng Borneo di TNKM terus dilaksanakan dari tahun ke tahun. Di samping itu hasil analisis ini juga masuk dalam daftar saran agar dilanjutkan dengan kajian-kajian lain. Terutama melalui analisis DNA dengan menggunakan DNA inti sel sebagai dasar penyusunan rekomendasi untuk strategi konservasi banteng yang lebih lengkap kedepannya. Sumber : Balai TN Kayan Mentarang
Baca Berita

Selayar Dilanda Banjir, Balai TN Taka Bonerate Serahkan Bantuan

Benteng - Kepulauan Selayar, 24 Januari 2019. Cuaca ekstrim melanda Sulawesi Selatan, hujan lebat disertai angin kencang dan gelombang tinggi. Hampir seluruh kabupaten terdampak banjir, tak terkecuali di beberapa wilayah di Kabupaten Kepulauan Selayar pun mengalaminya. Salah satu titik terparah yakni di Kampung Balang Sembo, Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar. Bertempat di Kantor TN.Taka Bonerate, kemarin (23/01) bantuan tersebut diserahkan oleh Humas TN Taka Bonerate melalui Tim ORARI Selayar yang merupakan salah satu relawan bencana banjir Selayar. Merekalah yang nantinya akan menyalurkan bantuan ke beberapa titik tempat pengungsian. "Kami menyerahkan sedikit bantuan kiranya dapat membantu dan meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak bencana banjir", ucap Faat Rudhianto Kepala Balai TN Taka Bonerate Sampai hari ini cuaca terpantau masih cukup ekstrim. Kebanyakan pengungsi masih tetap memilih berada di tempat pengungsian hingga cuaca kembali normal dan kondusif untuk kembali ke rumah masing-masing. Menurut prediksi pihak BMKG melalui press releasenya, cuaca ekstrem ini berlangsung hingga beberapa hari kedepan. Sumber : Asri - PEH Balai TN. Taka Bonerate
Baca Berita

Hasil Penyusunan Rencana Pemulihan Ekosistem TN. Aketajawe Lolobata Bersama PT Antam, Tbk

Sofifi, 24 Januari 2019. Di awal tahun ini, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) melanjutkan penyusunan Rencana Pemulihan Ekosistem (RPE). Rapat penyusunan RPE yang dilaksanakan di Ternate pada tanggal 21 Januari 2019 ini, melibatkan pihak yang bekerjasama dengan Balai TNAL dalam pemulihan ekosistem dalam kawasan TNAL. Hadir dalam pertemuan tersebut Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara yang di wakili Sekretaris Dinas Kehutanan Provinsi, Kepala Balai PDASHL Akemalamo yang diwakili Kasubag TU serta pihak PT Antam, Tbk yaitu Bapak Muhammad Rusdan selaku. Vice President (VP) Post Mining and Non Productive Assets Management dan Bapak Radyan Prasetyo selaku Mine Closure Senior Specialist dari PT.Antam Tbk pusat. Sedangkan dari PT.Antam Tbk UPBN Maluku Utara hadir Bapak Agustinus Toko Susetio selaku Vice President (VP) HC CSR & Finance. Pada sambutannya, Kepala Balai TNAL mengatakan bahwa kegiatan pemulilan ekosistem dalam kawasan TNAL dilakukan oleh pihak PT. Antam Tbk dan Balai PDASHL Akemalamo dengan luasan sesuai target yang dilaksanakan di Desa Sidanga, Desa Kobe, dan Desa Dodaga. Tanggapan BPDASHL Ake Malamo dan PT Antam, Tbk bahwa, mereka akan terus mendukung dan bekerja sama dalam menyelesaikan kegiatan pemulihan ekosistem. Diakhir acara dilakukan penandatanganan RPP dan RKT antara Balai TNAL dengan PT Antam, Tbk yang merupakan penjabaran dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) kedua belah pihak yang telah disetujui bersama beberapa waktu sebelumnya. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polisi Kehutanan Balai TN. Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Rapat persiapan kegiatan Workshop penyusunan SRAK Elang Flores ( Nisaetus floris ) di NTB

Mataram, 24 Januari 2019. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mengadakan rapat persiapan kegiatan workshop penyusunan SRAK (Strategi dan Rencana Aksi Konservasi) Elang Flores pada hari Rabu tanggal 23 Januari 2019 bertempat di Ruang Kepala Balai TNGR di Mataram. Hadir dalam rapat tersebut Kepala Balai TNGR, KSBTU, Kepala SPW I dan II, Fungsional PEH dan perwakilan dari RAIN (Raptor Indonesia). Pada rapat tersebut membahas tentang persiapan pelaksanaan workshop yang nantinya merupakan kerjasama antara UPT Ditjen KSDAE kementerian LHK Provinsi NTB (BKSDA NTB, BTNGR,BTN Gunung Tambora) Pemda Provinsi NTB, Yayasan PILI dan Raptor Indonesia. Tujuan kegiatan ini akan membahas penyusunan SRAK Elang Flores dengan harapan bahwa dalam pelaksanaan perlindungan dan kelestarian Elang Flores di NTB dibutuhkan kesepahaman dan kesepakatan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah (PEMDA), LSM / Komunitas dan Masyarakat sekitar. Dalam rapat ini juga membahas tentang teknis pelaksanaan workshop seperti stakeholder yang akan dilibatkan, penetapan lokasi workshop, identifikasi kebutuhan, serta koordinasi dengan PEMDA. Adapun rencana kegiatan workshop akan dilaksanakan pada minggu ke 2 bulan Pebruari 2019. Lebih lanjut dalam rapat juga membahas tentang pelaksanaan BIMTEK yang rencananya akan dilaksanakan selama 2 hari sebelum workshop dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas peserta tentang identifikasi, teknik metodologi, teknik analisa data, kajian sosial ekonomi dan publikasi sehingga peserta bisa mengaplikasikan metodologi dalam kegiatan penelitian nantinya. Selain itu, BIMTEK ini akan melibatkan para pelaku wisata (guide) dan pelajar tingkat SMA sebagai bentuk pembelajaran dan pengetahuan tentang spesies elang flores sehingga ada kepedulian dalam pelestarian elang flores adapun pemateri berasal dari KKH (Ditjen KSDAE), RAIN (Raptor Indonesia) dan Raptor Conservation Society yang pelaksanaannya di kelas dan lapangan. Sebagai informasi Elang Flores merupakan burung raptor endemic di nusa tenggara yang keberadaanya terancam punah (Critically Endangered) lantaran populasinya diperkirakan tidak melebihi 250 ekor sehingga masuk dalam daftar merah (IUCN Redlist). Sumber : Balai TN Gunung Rinjani
Baca Berita

Munculnya Sang Buaya, BKSDA Jambi Siaga

Jambi, 18 Januari 2019. Tim penanganan konflik satwa seksi konservasi wilayah 3 BKSDA Jambi bekerjasama dengan Balai Taman Nasional Berbak Sembilang dan Zoological Society of London telah melakukan pelepasliaran 2 (dua) ekor buaya muara (Crocodilus porosus) yang berjenis kelamin betina denggan ukuran berat badan 1 ekor ± 100 kg dan memiliki panjang 2 meter yang usianya diperkirakan beranjak remaja dan satunya lagi memiliki berat badan ± 5kg dan memiliki panjang 2 meter yang berusia masih kecil. Buaya- buaya tersebut merupakan satwa yang dilindungi dan termasuk ke dalam kategori Appendiks II di dalam CITES. Buaya muara hidup di sungai-sungai dan di dekat laut. Jenis buaya ini tersebar di seluruh perairan dataran rendah dan perairan pantai di daerah tropis Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Australia. Makanan buaya muara merupakan hewan-hewan bertulang belakang sepert bangsa ikan, reptile, dan mamalia. Informasi kemunculan buaya yang beranjak remaja berasal dari Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang merupakan wilayah kerja Seksi III Balai KSDA Jambi, diperoleh dari Kepala Ds. Tanjung Senjulang Kec. Bram Itam. Beliau mengatakan, ada beberapa warga yang sedang melintas di jalan pedesaan dekat dengan dengan parit melihat ada buaya dan buaya tersebut mencoba mengejar warga tersebut. Sedangkan buaya yang masih kecil diperoleh dari pengiriman kargo di Bandara Jambi yang akan dikirim dari jambi ke Sulawesi. Saat ini buaya-buaya tersebut telah dilepasliarkan di daerah Kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang. Kepala Balai KSDA Jambi tetap menghimbau “agar masyarakat selalu waspada dan tidak mendekati lokasi-lokasi perairan yang dekat dengan habitat buaya”. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Istana Karang Campaka, Wisata Baru di Gunung Ciremai

Kuningan, 23 Januari 2019. Bukti peduli Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) pada kedaulatan rakyat di desa penyangga, salah satunya dengan memfasilitasi semangat kelompok masyarakat Cibuntu, Pasawahan, Kuningan, Jawa Barat pada upaya pengembangan wisata alam. Potensi luar biasa sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dapat berdaya guna meningkatkan perekonomian masyarakat. Resor Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Kuningan tak henti mendampingi, terutama dalam penataan Objek Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) Istana Karang Campaka. Dengan modal swadaya, kelompok masyarakat wisata alam Cibuntu memberikan nuansa baru pada lokasi ini. Dorongan Kepala Desa Cibuntu menjadi kunci utama membangun semangat dalam membentuk ODTWA Istana Karang Campaka ini, dengan terlebih dahulu mengusulkan perizinan kepada Balai TNGC. Istana Karang Campaka menyajikan nuansa hamparan bukit karang berbatu yang ada di Cibuntu. Hamparan batu-batuan vulkanik ini kerap menjadi lokasi kebakaran, sehingga ke depan lokasi ini dapat terpantau 24 jam oleh pengelola wisata alam. Ini juga merupakan bentuk tanggung jawab moral masyarakat Cibuntu akan perlindungan dan pengamanan kawasan TNGC. angan berpikir semakin banyak wisata alam di TNGC, pengelola akan abai dengan dampak negatif yang timbul seperti sampah dan terganggunya ekologi satwa oleh aktivitas manusia. Tentu ada rambu-rambu bagi para pengelola agar aktivitas wisata alam berbanding lurus dan sinergi dengan peningkatan kualitas ekologi gunung Ciremai. Ekologi, ekonomi dan sosial akan tumbuh dan berkembang bersama dan tidak saling tumpang tindih. [Teks © Mendry & Sirod, Foto ©Sirod - BTNGC | 012019] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Begonia, Kawan Para Survivor

Kuningan, 23 Januari 2019. Begonia adalah "genus" dalam keluarga tanaman berbunga "Begoniaceae" dan merupakan nama umum serta nama generik untuk semua anggota "genus". Nama "genus" Begonia sendiri diciptakan Charles Plimier, pelindung Perancis botani. Di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Begonia banyak di jumpai dari hutan dataran rendah sampai hutan sub pegunungan. Jenis tumbuhan ini dikenal oleh masyarakat Sunda dengan sebutan “hariang”. Flora ini termasuk tumbuhan semak dan biasanya menyukai habitat yang lembab. Tumbuhan Begonia mudah dikenali yaitu dari bentuk daun yang "asimetris" sehingga jika dilipat tidak akan sama ukurannya. Begonia di kawasan TNGC berbentuk menjari dengan ujung daun meruncing, batang berwarna kemerahan. Bagi kalangan pendaki gunung, Begonia sangat terkenal karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Biasanya digunakan oleh "survivor" atau orang yang sedang mempertahankan diri dari keadaan yang buruk di hutan seperti tersesat dan kehabisan makanan. Bagian begonia yang dimakan yaitu batangnya dengan cara mengupas kulit batang terlebih dahulu dengan hati-hati supaya tidak kotor. Kemudian apabila sudah dikupas boleh dimakan. Rasa dari batang Begonia sendiri terasa asam dan banyak mengandung air. Selain itu, Begonia atau hariang juga bermanfaat untuk tanaman hias dan juga sebagai tanaman obat. Khasiat tumbuhan ini yakni untuk mengobati bisul, obat pusing, demam, dan penghilang dahak. Bagian yang digunakan yaitu daun dan batang. Bagi masyarakat Sunda zaman dahulu, hariang juga biasa digunakan untuk pengganti bumbu asam dalam membuat sayuran. Sobat, flora sekitar kita memang punya banyak manfaat. Oleh karenanya kita mesti belajar tentang hal itu. So, kenali dan cintai flora nusantara untuk kebaikan bersama. [Teks © Andri Wahyu & Silvia Lucyanti, Foto © Andri Wahyu & Robi - BTNGC | 012019] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Polisi Kehutanan Milenial

Kuningan, 23 Januari 2019. Sekarang ini, Polisi Kehutanan (Polhut) tidak hanya sekedar bekerja rutinitas tugas dan fungsi (tusi) sehari-hari. Menyiapkan, melaksanakan, mengembangkan, memantau, dan mengevaluasi serta melaporkan kegiatan perlindungan dan pengamanan hutan serta pengawasan peredaran hasil hutan adalah tusi yang biasa. Terus kira-kira apa yang tidak biasa ya sobat? Siang itu (20/01/19), Polhut Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) Pasawahan Kuningan bekerja tidak biasa. Mereka sedang Ngariung Cerdas (Ngacer) bersama 50 orang siswa SMA Negeri Mandirancan Kab. Kuningan. Obrolannya tentu tentang konservasi. Sudah bukan rahasia umum apabila generasi milenial lebih memilih ke Mall daripada ke hutan. Nah kegiatan ini menjawab fenomena tersebut. Tujuan besarnya mencetak generasi ini agar mengenal hutan, isi dan manfaat yang terkandung di dalamnya. Kelak dikemudian hari akan tercipta generasi-generasi konservasi yang dapat memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana dan berkesinambungan. Sehingga tindak pidana dan pelanggaran di bidang kehutanan tidak akan terjadi lagi. Pola kegiatan ini ternyata banyak generasi muda yang tertarik dengan hutan dan isinya. Terbukti selain telah melakukan penanaman pohon jenis Peutag sebanyak 100 pohon di sekitar sumber mata air Bukit Kahiyangan. Selain itu, pihak sekolah meminta kepada Polisi Kehutanan TNGC untuk melakukan bimbingan tentang pendidikan Lingkungan sekolah mereka. Sebagai generasi "milenial" yang sedang mencari jati diri sudah semestinya kita menyerap ilmu yang bermanfaat. So, mari kita bangun negeri dari pinggiran hutan. [Teks & Foto © Dadan - BTNGC | 012019] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Tim WRU SKW II BKSDA Kalteng Rescue Induk Orangutan beserta Anaknya dari Kebun Masyarakat di Desa Lada Mandala Jaya

Palangka Raya, 23 Januari 2018. 1 Individu orangutan beserta anaknya di rescue oleh Tim WRU SKW II BKSDA Kalimantan Tengah pada hari Sabtu tanggal 19 Januari 2019. Bersama-sama dengan OFI (Orangutan Foundation International), Tim berhasil menyelamatkan orangutan tersebut dari kebun karet milik masyarakat di Desa Lada Mandala Jaya, Kec. Pangkalan Lada, Kab. Kotawaringin Barat pada titik koordinat: -2.52555, 111.78565. Induk orangutan diperkirakan berumur 30 tahun dengan berat 38 Kg, sedangkan anaknya berkelamin betina, berumur 3 tahun dengan berat 5 Kg. Saat diselamatkan kedua orangutan tersebut dalam keadaan sehat. Selanjutnya bersama-sama OFI dan Balai TNTP, TIM WRU SKW II - BKSDA Kalteng mentranslokasi kedua orangutan tersebut di Taman Nasional Tanjung Puting pada tanggal 21 Januari 2019. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Pendampingan dan Monitoring Kelompok Nelayan TN Taka Bonerate

Kepulauan Selayar, 23 Januari 2019. Salah satu tupoksi Balai TN Taka Bonerate (TNTBR) adalah melakukan kegiatan pemberdayaan dan pembinaan kepada masyarakat dalam kawasan. Sebagai salah satu wujud dari hal tersebut, para penyuluh Balai TNTBR melakukan kegiatan monitoring dan pendampingan rutin kepada kelompok masyarakat nelayan dan kelompok binaan Balai TNTBR di desa-desa dalam kawasan TNTBR. Kegiatan ini dimulai tanggal 15 – 21 Januari 2019. Walaupun cuaca masih belum kondusif, tim tetap jalan dengan tetap memperhatikan pertimbangan cuaca dan keselamatan perjalan ke kawasan. Kegiatan dimulai dari Desa Rajuni dengan melakukan rapat rutin pendampingan kelompok MDK (Masyarakat Desa Konservasi) Tau Pulo Desa Rajuni. Rapat kelompok diawal tahun ini membahas evaluasi aktivitas kelompok selama tahun 2018 dan rencana yang akan dilakukan di tahun 2019. Salah satu poin yang dibahas adalah perlunya fasilitasi pertemuan antara kelompok MDK binaan Balai TNTBR dengan para pemilik usaha travel/perjalanan wisata yang ada di daratan Kabupaten Kepulauan Selayar sebagai salah satu upaya pengembangan kelompok. Kegiatan dilanjutkan ke Desa Jinato, dengan melakukan sosialisasi Perdirjen KSDAE No P.6/KSDAE/SET/Kum.1/6/2018 tentang Kemitraan Konservasi, kepada kelompok Nelayan Pulau Mas Tarupa serta memfasilitasi penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga kelompok nelayan tersebut. Selain itu juga menegaskan komitmen kelompok-kelompok nelayan untuk memerangi illegal fishing dan destructive fishing di dalam kawasan TNTBR. Hal yang sama juga dilakukan kepada Kelompok Nelayan Pulau Mas Jinato dan Koperasi Sumber Rezeki Jinato. Pendampingan dan monitoring kelompok juga dilakukan kepada kelompok yang telah menjalin kerjasama dengan Balai TNTBR, yaitu kelompok Forum Peduli Laut Rajuni – Latondu. Tahun 2019 adalah tahun kedua Kerjasama antara Balai TNTBR dengan Forum Peduli Laut Rajuni-Latondu. Dengan difasilitasi penyuluh Balai TNTBR, kelompok melakukan refleksi aktivitas-aktivitas yang dilakukan serta permasalahan dan dinamika yang terjadi di dalam kelompok. Selain itu Forum juga menyusun rencana untuk melakukan Musyawarah Anggota sebagaimana tercantum dalam AD/ART kelompok. Pendampingan dan pembinaan kelompok-kelompok nelayan terus digalakkan sampai tercapai kemandirian, konservasi yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat dalam kawasan TN. Taka Bonerate. Sumber : Asep Pranajaya - Penyuluh Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Taman Nasional Gunung Leuser Seksi PTN Wilayah I Blangpidie Sita Orangutan Sumatera dari Warga Gampong Paya

Blangpidie, 22 Januari 2019. Tim Gabungan yang terdiri dari BBTN Gunung Leuser – Seksi PTN Wilayah I Blangpidie, Tim HOCRU dari YOSL- OIC, BKSDA Aceh beserta Polres Aceh Barat Daya melakukan Penyitaan terhadap satu ekor satwa liar yang dilindungi, yakni seekor Orangutan sumatera (Pongo abelii) dengan jenis kelamin jantan dan diperkirakan berusia 2 tahun. Setelah melakukan koordinasi dengan Kapolres Abdya melalui Kasat Narkoba Ipda Mahdian Siregar, SE., Kapolres langsung menurunkan 3 orang personil Kepolisian ke lokasi untuk membantu Tim Gabungan untuk melakukan penyitaan orangutan dari pemiliknya. Menurut pengakuan yang bersangkutan, beliau tidak mengetahui bahwa satwa tersebut dilindungi oleh Undang-Undang. Saat penyitaan, orangutan berada di dalam kandang ayam dari salah satu warga Gampong Paya, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya. Penyitaan dilakukan sekitar pukul 12.45 WIB. Penyitaan ini berhasil lantaran laporan dari masyarakat Kepada Polhut Seksi PTN Wilayah I Blangpidie A. Suandi Selian pada hari Jumat, 19 Januari 2019, pukul 17.45 WIB. Saat itu, Petugas TNGL Seksi PTN Wilayah I Blangpidie sedang melaksanakan kegiatan Smart Patrol. Pada saat itu juga, Suadara Suandi Selian langsung berkoordinasi dengan pihak BKSDA Aceh dan Tim HOCRU-YOSL-OIC setelah sesaat sebelumnya melakukan koordinasi dan konfirmasi kepada Kepala Bidang TN Wilayah I Tapaktuan, Buana Darmansyah, S.Hut.T. Berdasarkan pemeriksaan dari Tim Medis YOSL- OIC, Orangutan harus segera direhabilitasi ke pusat Karantina Orangutan sumatera Sibolangit yang dikelola oleh YEL-SOCP di Sumatera Utara. Hal ini dilakukan karena kondisi orangutan yang jinak dan terbiasa makan makanan manusia sehingga perlu dilakukan karantina untuk mengembalikan sifat liar dan kesehatannya. Nantinya, setelah dinyatakan sehat dan kembali sifat liarnya, orangutan tersebut akan dilepasliarkan ke habitat alaminya di Propinsi Aceh. Petugas TNGL, BKSDA Aceh, YOSL-OIC dan Polres Abdya membawa orangutan sumatera untuk dilakukan rehabiltasi di pusat karantina Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser

Menampilkan 6.289–6.304 dari 11.140 publikasi