Kamis, 23 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Pelepasliaran Trenggiling (Manis javanica)

Pontianak, 30 Januari 2019. Bertempat di sekitar Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura melepasliarkan 2 (dua) ekor satwa trenggiling (Manis javanica). Satwa tersebut merupakan titipan dari pihak Kepolisian Sektor Kuala Mandor B tanggal 28 Januari 2019. Satwa tersebut berhasil diamankan pihak kepolisian sector Kuala Mandor B saat patrol pengamanan peredaran tumbuhan dan satwa liar dilindungi tanggal 21 Januari 2019 dari tangan tersangka LKT. Saat ini kasusnya sedang ditangani oleh pihak Polsek Kuala Mandor B. Kondisi satwa saat diamankan dalam kondisi liar dan setelah dilakukan pemeriksaan dinyatakan sehat oleh tim Dokter hewan. Mempertimbangkan kondisi yang sehat dan animal welfare satwa tersebut, tim pelepasliaran yang terdiri dari pihak Kepolisian Sektor Kuala Mandor B, Balai KSDA Kalimantan Barat, Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan serta Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura memutuskan untuk segera melepasliarkan satwa tersebut. Trenggiling (Manis javanica) merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi oleh Undang-undang yaitu Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan TSL dan lampiran perubahan Permen LHK No. 92/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018 tentang TSL yang dilindungi. Sudah seharusnya kita tidak memelihara apalagi memperjualbelikan satwa dilindungi dengan alasan apapun. Jaga dan lestarikan alam berikut tumbuhan dan satwanya, agar kelak anak cucu kita masih dapat menjumpai tumbuhan dan satwa di habitat aslinya. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Wajah Baru TWA Talaga Bodas

Garut, 31 Januari 2019. Perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih menjadikan dunia tiada berbatas. Segala aktivitas manusia dapat dipantau secara real-time di manapun dan kapanpun, melalui ketersediaan jaringan internet yang telah menjangkau segala lini kehidupan masyarakat. Gadget dengan segala fitur yang terdapat di dalamnya telah mengubah sebagian perilaku manusia. Apalagi dengan semakin membanjirnya aplikasi media sosial yang telah memicu manusia untuk serba eksis di dunia maya. Keberadaan mereka di suatu tempat, utamanya di tempat-tempat dengan view yang indah atau situs-situs terkenal, ingin secepatnya diunggah melalui media sosial hanya sekadar untuk mendapatkan like ataupun comment dari para netizen. Nah, kecenderungan inilah yang ditangkap oleh para pengelola lokasi wisata sebagai peluang sehingga mereka berlomba-lomba menyediakan berbagai fasilitas, terutama spot selfie dengan harapan dapat lebih banyak menarik pengunjung. Demikian pula halnya dengan Balai Besar KSDA Jawa Barat yang menjadi pengelola TWA Talaga Bodas. Pada tahun 2018, Balai Besar KSDA Jawa Barat melakukan perubahan besar-besaran terhadap fasilitas wisata di TWA Talaga Bodas. Beberapa fasilitas yang sebelumnya tampak sudah kurang nyaman digunakan seperti shelter dan gazebo, dipermak ulang menjadi lebih cantik. Saat ini, setidaknya terdapat 5 (lima) shelter dan 2 (dua) gazebo yang siap digunakan oleh para wisatawan di TWA Talaga Bodas sebagai bentuk pelayanan prima dari Balai Besar KSDA Jawa Barat. Di samping itu, keberadaan panel surya di lokasi ini, telah sedikit mengatasi permasalahan ketiadaan sumber energi listrik sehingga wisatawan dapat ikut juga mengecas baterai handphone. Jadi, pengunjung tidak usah terlalu khawatir kehabisan baterai handphone saat mengabadikan aktivitas di TWA Talaga Bodas. Yang paling penting, fasilitas untuk para wisatawan kekinian yang ‘doyan’ selfie dan mengunggah foto mereka di media sosial telah tersedia saat ini. Bukti keberadaan mereka di TWA Talaga Bodas akan dengan sangat mudah diakui karena di depan Kawah Talaga Bodas telah terpampang sebuah tulisan “Talaga Bodas” berukuran besar dengan warna merah. Para wisatawan tidak hanya dapat memotret dari bawah saja, tetapi juga dapat mengabadikan momen mereka dari atas bangunan yang memang dikhususkan untuk memoto Kawah Talaga Bodas dari ketinggian. Metamorfosis dari TWA Talaga Bodas telah menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan, terutama bagi wisatawan yang berasal dari luar Garut. Banyak wisatawan yang datang ke TWA Talaga Bodas setelah melihat foto unggahan wisatawan yang telah berkunjung ke obyek wisata ini. Kondisi ini menjadi bukti bahwa “the power of viral” di media sosial ternyata telah menjadi bentuk promosi tersendiri ke khalayak ramai. Tentunya hal tersebut menjadi sesuatu yang positif bagi Balai Besar KSDA Jawa Barat karena semakin banyak wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata ini. Semoga dengan semakin banyaknya pengunjung tidak lantas membuat TWA Talaga Bodas malah menjadi turun kelas karena perilaku pengunjungnya yang tidak cerdas bersikap terhadap lingkungan. Mari kita jaga dan lestarikan TWA Talaga Bodas sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh anak cucu kita. Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Berita

Satria Rimbawan Lembah Cilengkrang

Kuningan, 31 Januari 2019. Bagi Mulyadi (58), Basir (60), dan 11 kawannya, tak ada terik panas maupun udara dingin untuk menyambangi Lembah Cilengkrang. Saban hari mereka bergiliran menyusuri jalan dari rumah menuju pos tiket hingga ke curug (air terjun, red). Rutinitas ini mereka tekuni bertahun-tahun. Jasmani mereka tak pernah letih merawat wisata alam yang punya "track" hampir sepanjang dua kilometer itu. "Seingat saya sejak 2002 mulai merintis tempat ini", kenang Basir menerawang kejadian penting itu di desa Pajambon, Kramatmulya, Kuningan, Jawa Barat (30/01). "Peresmian wisata alam Lembah Cilengkrang oleh Menteri Kehutanan pada 2005", lanjut Basir, Bendahara Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Pajambon saat berbincang siang itu. Pada peristiwa 15 tahun silam itu sekaligus ada penandatanganan 'akta kelahiran' Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) di sebuah prasasti. Lembah Cilengkrang ialah satu dari segelintir pionir wisata alam kaki gunung tertinggi di Jawa bagian barat ini. Kini satu setengah dekade berlalu, Mulyadi dan kawanannya masih setia mengelola Lembah Cilengkrang. Meski pasang surut kunjungan wisata kerap terjadi akibat persaingan dengan destinasi lain, tapi Kompepar ini tak bergeming. Masih menurut Basir, selain mengelola wisata air panas alami dan panorama, mereka pun konsisten terhadap pemanfaatan alam secara lestari. Misalnya dengan menanam tumbuhan lokal gunung Ciremai seperti Jamuju (Dacrycarpus imbricatus). Kebersihan lokasi wisata selalu mereka rawat sehingga setiap sudut Cilengkrang seperti curug, sungai, dan kolam air panasnya terbebas dari sampah plastik. Tak ketinggalan, mereka pun aktif dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada musim kemarau. Manakala terjadi karhutla, mereka siap bergabung dengan pengelola wisata lainnya untuk membantu pemadaman. Sikap para kesatria ini mesti kita ikuti sesuai dengan petuah yang tersurat dalam bait lagu Satria Rimbawan. "Satria Rimbawan siap siaga mempertahankan ekosistem, hutan, dan lingkungan demi lestarinya kehidupan". Lagunya saja ada di Youtube di chanel Taman Nasional Gunung Ciremai. Mari berperilaku sebagai satria yang punya andil membangun negeri dari pinggiran hutan sesuai dengan kemampuan masing-masing [Teks © ISO, Foto © Rudi & Robi - BTNGC | 012019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Seekor Paus Mengapung di Pantai Lhouk Keutapang, Aceh Selatan

Tapaktuan, 31 Januari 2019. Seekor paus mengapung di bibir pantai Gampoeng Lhouk Keutapang, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan pada Kamis, (31/1/19). Ikan paus berukuran sekitar 4,6 meter dengan bobot 1 ton ini terdampar sekitar jam delapan pagi. Sejauh ini belum diketahui jenis dan penyebab kematiannya. Informasi terdamparnya ikan paus ini sempat menyedot perhatian warga Aceh Selatan. Masyarakat berbondong – bondong menghampiri lokasi kejadian untuk menyaksikan langsung insiden yang tak lazim tersebut. Koordinasi dilakukan Dinas Perikanan dan Kelautan, Kapolres Aceh Selatan, Danramil 01 Aceh Selatan, Kabag Humas Setdakab, Camat Tapaktuan, Kapolsek Tapaktuan, Kepala Resort Konservasi Wilayah 15 Tapaktuan dan petugas TN. Gunung Leuser. Pukul 14.30 wib, ikan paus dikubur dengan menggunakan alat berat di sekitar pantai. Sumber : Balai Besar TN Gunung Leuser
Baca Berita

Dukungan Pemda Tanah Laut untuk TWA Pelaihari

Pelaihari, 29 Januari 2019 – Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc melakukan kunjungan kerja ke Pemerintah Kabupaten Tanah Laut. Kunjungan tersebut diterima oleh Wakil Bupati Tanah Laut, Abdi Rahman beserta Kepala Dinas Pariwisata Kab. Tanah Laut, Ir.H. Akhmad Hairin, MP. Maksud dan tujuan kunjungan kerja ini adalah dalam rangka silaturahmi dan diskusi terkait pengelolaan Kawasan Konservasi TWA Pelaihari Pantai Batakan. Sektor pariwisata di kawasan konservasi penting mendukung program Nasional dan Provinsi Kalimantan Selatan yang berfokus pada pariwisata berbasis alam, maka potensi-potensi pariwisata di daerah harus digalakkan kembali, tidak terkecuali TWA Pelaihari Pantai Batakan yang memiliki potensi yang sangat besar di Kabupaten Tanah Laut namun kurang berkembang karena permasalahan konflik kepentingan sehingga tidak terkelola dengan baik. “Dukungan dari Pemerintah Daerah Tanah Laut sangat dibutuhkan untuk mendorong kemajuan wisata di TWA Pelaihari Pantai Batakan yang dapat berdampak positif pada pariwisata Kabupaten Tanah Laut”, tutur Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. Dalam kunjungan kerja ini, Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan menawarkan kerja sama pembangunan strategis kepada Pemerintah Daerah Tanah Laut untuk bersama-sama membangun dan mengelola TWA Pelaihari Pantai Batakan. Wakil Bupati Tanah Laut menyambut baik dan sangat mengapresiasi tawaran kerja sama dari Balai KSDA Kalimantan Selatan. Wakil Bupati Kabupaten Tanah Laut, Abdi Rahman berharap secepatnya TWA Pelaihari Pantai Batakan dapat segera berkembang kembali, ikon TWA Pelaihari Pantai Batakan sebagai destinasi wisata dapat terangkat kembali dan juga tidak kalah penting yaitu pendapatan ekonomi masyarakat sekitar TWA Pelaihari Pantai Batakan dapat meningkat. Pemerintah Kabupaten Tanah Laut juga akan menawarkan kepada parapihak untuk berinvestasi di TWA Pelaihari Pantai Batakan sebagai langkah percepatan dalam pembangunan infrastruktur. Kepala Dinas Pariwisata Kab. Tanah Laut Ir.H. Akhmad Hairin, MP menambahkan bahwa selain wisata pantai dan panorama alam, juga terdapat destinasi wisata baru yaitu “The Bottom of Borneo” yaitu titik terendah di Pulau Kalimantan yang berada di sekitar TWA Batakan dan juga dapat dicapai melalui TWA Pelaihari Pantai Batakan. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Kepala BBKSDA Riau Terima Serahan Seekor Anak Beruang Madu

Pekanbaru, 31 Januari 2019. Seekor anak Beruang Madu berumur sekitar 5 bulan diserahkan secara sukarela oleh seorang aparat penegak hukum bernama Aiptu Subagiyo kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau yang diwakili anggota Tim Rescue, Selasa 29 Januari 2019. Penyerahan ini dilakukan setelah yang bersangkutan mendapat anak Beruang dari seorang sahabatnya. Beliau menitipkan satwa tersebut dengan harapan agar Balai Besar KSDA Riau dapat segera membantu pelepasliaran di habitatnya. Saat ini satwa berada dalam kandang transit satwa untuk dilakukan observasi setelah sebelumnya dilakukan pemeriksaan kesehatan awal dan menunggu saatnya anak Beruang dapat dilepasliarkan kembali ke alam bebas. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono menyampaikan terima kasih kepada Aiptu Subagiyo atas kesadaran dan upaya konservasi yang dilakukannya. #CONSERVATION everyonecandoit Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Sinkronisasi Arahan, Kebijakan dan Pengelolaan, Balai Besar TN Lore Lindu Audiensi ke Bupati Poso

Watutau, 18 Januari 2019. Dalam pelaksanaan tugas dan fungsi konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistem Taman Nasional Lore Lindu yang kawasannya antara lain berada di wilayah administrasi Kabupaten Poso, Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) melakukan kegiatan audiensi Bupati Poso di Kantor Bupati Poso-Provinsi Sulawesi Tengah (17/1). Kegiatan audiensi ini bertujuan guna sinkronisasi arahan, kebijakan dan program pengelolaan BBTNLL dengan Pemerintah Kab. Poso. Audiensi langsung dipimpin oleh Kepala BBTNLL , Ir. Jusman dan didampingi oleh Kepala BPTNW III Poso, Ir. Hasmuni Hasmar dan beberapa staf. Audiensi ini pun langsung diterima oleh Bupati Poso, Kol. Mar (Purn) Darmin A. Sigilipu didampingi Wakil Bupati, Ir. Samsuri, M.Si serta sejumlah Kepala OPD terkait di ruang kerjanya. Hal pokok yang disampaikan oleh Kepala BBTNLL dalam audiensi ini menekankan bahwa BBTNLL mendukung pembangunan Kab. Poso untuk pembangunan wilayah Poso yang masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL). Pembangunan strategis yang dimaksud saat ini telah dalam proses seperti peningkatan kapasitas jalan Doda-Lelio dan pembangunan menara komunikasi di Desa Sedoa, juga TNLL memiliki 3 fungsi (perlindungan, pengawetan, pemanfaatan) dan pemberdayaan masyarakat. Khusus akses pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan pengembangan wisata alam, ujar Jusman menambahkan. Selanjutnya Bupati Poso juga menyampaikan beberapa hal kepada Kepala BBTNLL diantaranya bahwa di sekitar TNLL akan terbentuk Kabupaten Konservasi (Tampo Lore) dan Pemerintah Daerah Kabupaten Poso mendukung pembentukan Kabupaten tersebut, lokasi-lokasi yang memiliki potensi wisata di TNLL yang masuk ke wilayah Kab. Poso perlu dikelola bersama antara BBTNLL dan Pemerintah Daerah Kab. Poso melalui mekanisme kerja sama. Pengelolaan bersama lokasi wisata ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan asli daerah Kab. Poso dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat. Juga tidak lupa disampaikan mengenai pembangunan jalan dari Doda-Lelio masuk ke dalam kawasan TNLL yang akan menghemat waktu tempuh dan menghubungkan Kecamatan Lore Tengah dan Lore Barat. Selain itu Darmin A. Sigilipu mengungkapkan salah satu potensi wisata yang penting di Poso yang juga masuk dalam TNLL adalah megalith. Oleh karenanya perlu duduk bersama antara pihak-pihak terkait untuk merancang bersama pengembangan wisata di Poso, mengoptimalkan peran tenaga ahli atau konsultan di bidang wisata sangat penting serta pengembangan wisata harus didukung oleh infrastruktur, ujar Darmin menambahkan dalam suasana yang penuh keakraban. Di akhir audiensi ini, BBTNLL sepakat untuk mendukung dan bekerjasama dalam rangka pembangunan Kab. Poso khususnya pembangunan strategis dan pengelolaan wiasata alam serta kedepannya BBTNLL akan diundang oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Poso pada Musrenbang Kabupaten Poso. Sumber : Balai Besar TN Lore Lindu
Baca Berita

Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu Launching Aplikasi SIMRELI

Tambing, 31 Januari 2019. Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) akhirnya launching Aplikasi SIMRELI (Sistem Informasi Manajemen Lore Lindu). SIMRELI merupakan aplikasi berbasis web dan mobile yang dikembangkan khusus untuk membantu pengelolaan data konservasi BBTNLL. Sistem dan aplikasi ini membantu petugas BBTNLL dalam proses pengumpulan data aktivitas illegal, flora dan fauna, monitoring kondisi habitat dan acamannya serta informasi penting lainnya. SIMRELI ini dibiayai oleh dana hibah luar negeri (HLN) kerja sama Pemerintah Indonesia-Jerman melalui Forest Program III (KFW). Launching dilaksanakan di Pusat Informasi Destinasi Kalimpaa (Danau Tambing) TNLL (31/1). Launching SIMRELI dilaksanakan langsung oleh Thierry Kuehn (BMS) dan Jusman (Kababes TNLL) serta disaksikan oleh perwakilan KFW, GIZ, BAPPENAS dan Direktorat PIKA-Kemen LHK. Pada kesempatan ini Georg (GIZ) menyampaikan bahwa SIMRELI akan sangat membantu pengelolaan data konservasi di TNLL sebagaimana aplikasi-aplikasi sebelumnya seperti MIST (Management Information system) dan SMART (Spatial Monitoring and ReportingTools). Sebelum pelaksanaan launching di Tambing, dilakukan simulasi penggunaan SIMRELI oleh Rafiq (anggota Resort Kadidia) BBTNLL di Desa Karunia. Pada simulasi ini Rafiq memperagakan pengambilan data menggunakan SIMRELI dan juga memperlihatkan hasil/report data yang telah diambil. Rafiq juga menjelaskan beberapa kelebihan dan kemudahan menggunakan SIMRELI seperti dapat beroperasi dalam kondisi tanpa signal (offline) serta dapat langsung menghasilkan satu format pelaporan singkat dalam setiap kegiatan. Pada prosesnya, SIMRELI telah didesign semudah mungkin untuk dioperasikan dan memberikan laporan secara langsung on-line reporting berdasarkan kondisi lapangan (Real Time) dalam bentuk digital sehingga data langsung tersimpan di Bank Data Lore Lindu. Data-data tersebut selanjutya dapat ditampilkan dalam bentuk laporan, peta, grafik ataupun tabulasi sehingga membantu manajemen pada proses pengambilan keputusan (Decision Supports System - DSS) secara efektif dan efisien. Sumber : Balai Besar TN Lore Lindu
Baca Berita

Cuaca Ekstrem, Membuat Beberapa Pohon Tumbang Di Owa Tlogo Muncar Kaliurang

Sleman, 31 Januari 2019. Curah hujan yang tinggi serta derasnya angin pada musim hujan belakangan ini perlu menjadi perhatian ekstra, terlebih di kawasan konservasi yang tinggi resikonya. Seperti halnya yang terjadi di Obyek Wisata Alam (OWA) Tlogo Muncar, Kaliurang, Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Seperti halnya kawasan konservasi lainnya, kawasan OWA ini juga terbuka, dengan pepohonan yang rindang. Beberapa pepohonan adalah pepohonan yang sudah tua, bahkan sisa pepohonan yang kena imbas erupsi Merapi 2010, sehingga rapuh dan rawan. Pada hari Kamis (31/01) pukul 07.15 WIB, ditemukan beberapa pohon tumbang di OWA Tlogo Muncar, yang disebabkan hujan badai dan angin kencang yang terjadi sejak Rabu sore hari hingga malam. Pohon tumbang tersebut terdiri dari 1 (satu) pohon Flamboyan (Delonix regia) yang berdiameter 46 cm, tinggi 23 meter, 1 (satu) pohon Bawangan (Dysoxylum sp.) yang berdiameter 30 cm, tinggi 16 meter, 1 (satu) pohon Kemadohan (Laportea sinuate) berdiameter 25 cm, tinggi 14 meter, dan 1 (satu) pohon Pakis (Cyathe junghuniana) berdiameter 20 cm, tinggi 14 meter. Kejadian pohon tumbang ini juga mengakibatkan kerusakan pada bangunan gedung Pusat Informasi karena bagian pucuk pohon yang menimpa bagian atap bangunan. Upaya yang telah dilaksanakan adalah pembersihan pohon tumbang dari badan jalan setapak, alur sungai dan bangunan dengan cara memotong-motong bagian pohon tumbang bekerjasama dengan pihak SARLINMAS Kaliurang dan MMP Resort Pakem Turi. Selanjutnya OWA Tlogo Muncar tetap dibuka untuk umum, dengan peringatan kepada para pengunjung agar lebih berhati-hati. (tsr) Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Berita

Kantor Resort Akejira TN Aketajawe Lolobata Resmi Bisa Beroperasi

Sofifi, 31 Januari 2019. Setelah pembangunan kantor Resort Akejira, SPTN Wilayah I Weda yang berada di Desa Kobe, Kecamatan Weda Tengah, Kabupaten Halmahera Tengah pada tahun 2018 lalu, pada hari Rabu 30 Januari 2019 Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) yang didampingi oleh pejabat struktural dan beberapa pegawai melakukan peresmian kantor tersebut. Rombongan Kepala Balai TNAL di sambut dengan tarian-tarian adat oleh masyarakat yang merupakan inisiatif dari warga Desa Kobe. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada masyarakat, Wahyudi selaku Kepala Balai mengikuti gerakan tarian adat yaitu tarian cakalele bersama Kepala SPTN Wilayah I Weda, Raduan. Masyarakat tampak senang dengan adanya kantor Resort Akejira sebagai kantor perwakilan Balai TNAL. Kepala Desa, tetua adat dan perwakilan dari Burung Indonesia turut hadir dalam acara tersebut. Dalam sambutannya, Wahyudi menyampaikan bahwa berdirinya kantor Resort Akejira diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Kobe dan kerja sama antara Desa Kobe dengan Balai TNAL semakin baik. “Saya bersyukur dan berterima kasih kepada seluruh lapisan masyarakat dan para tetua adat bahwa akhirnya Bapak Ibu bisa menerima keberadaan Balai TNAL dengan baik”, kata Wahyudi kepada masyarakat yang hadir. Wahyudi juga mengatakan bahwa sejak Taman Nasional berdiri tahun 2007 masyarakat Desa Kobe masih menolak keberadaan TNAL namun sejak akhir tahun 2018 kemarin sudah bisa menerima TNAL dan saat ini bisa bersama-sama meresmikan kantor resort. “Kantor Resort ini juga bisa dimanfaatkan bersama-sama masyarakat untuk kepentingan bersama dan bisa dimanfaatkan salah satu ruangannya sebagai taman baca bagi anak usia sekolah dan saat ini bukunya sedang dipersiapkan”, tambahnya. Acara peresmian ditutup dengan acara syukuran tahun baru 2019 di malam harinya oleh seluruh masyarakat desa Kobe dan Balai TNAL. Kepala Balai berharap kegiatan ini menjadi tonggak baru sinergitas pengelolaan Taman Nasional Aketajawe Lolobata bersama masyarakat Desa Kobe. Kepala Balai juga mengatakan bahwa, "Pada beberapa resort pengelolaan TNAL yang membawahi desa yang memiliki sejarah konflik dengan TNAL akan kita angkat Kepala Resort yang memiliki kualifikasi pendidikan S2 agar bisa lebih membangun kerja sama dengan masyarakat salah satunya di Resort Akejira ini. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polisi Kehutanan Balai TN. Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Begini Kronologis Dugaan Konflik Harimau di Bahorok

Medan, 31 Januari 2019. Petugas Balai Besar TNGL wilayah Resort Bohorok mendapat informasi dari masyarakat Dusun Tegapen, Desa Batu Jongjong bahwa telah terjadi konflik satwa harimau di luar batas kawasan Blok Hutan Sei Kelam wilayah Kerja Resort Bohorok pada tanggal 23 Januari 2019. Esoknya Kamis (24/1), petugas bersama tim WRU-WCS berangkat untuk memverifikasi informasi tersebut dan melakukan pengecekan ke TKP. Iman, warga setempat membenarkan bahwa 3 (tiga) ekor ternak kambingnya telah dimangsa harimau pada Kamis (17/1) di kebun karet miliknya. Hasil pengecekan ke TKP, ada dua tempat ditemukannya bagian-bagian tulang kambing yang tertinggal sementara satu ekor lainnya menurut pengakuan yang bersangkutan diseret ke dalam hutan kawasan TNGL. Sebagai antisipasi telah diperintahkan petugas resort yang dilengkapi senjata api untuk mengamankan TKP dan menjaga agar masyarakat tidak beraktivitas di seputaran TKP. Sabtu (26/1), petugas kembali mendapat laporan konflik harimau dengan anjing piaraan di Blok Hutan Sei Berkail Resort Bukit Lawang. Minggu (27/1) pagi, petugas melakukan pengecekan ke TKP dan bertemu langsung dengan pemilik anjing, Iyan. Iyan mendapati tiga ekor anjingnya sudah tewas di seputaran gubuk lapangan pada Senin (21/1) sekitar jam 08.30 wib. Sebagian dari tubuh anjing tersebut telah hilang dan sebagian masih ada di TKP. Menurut Iyan, anjingnya telah dimangsa oleh harimau. Iyan meninggalkan TKP, saat kembali pukul 16.00 WIB ia mendapati sebagian tubuh anjing yang awalnya masih ada di TKP, telah hilang (habis). Pada lokasi ini, petugas tidak dapat memastikan atau membenarkan bahwa kejadian tersebut merupakan konflik harimau dengan anjing karena tidak dijumpai tanda-tanda sang 'nenek' di sekitar TKP baik itu jejak, cakaran, bulu atau pun kotoran. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser
Baca Berita

Resort Based Management Ujung Tombak Kelola Kawasan Konservasi

Banjarbaru, 29 Januari 2019 – Bertempat di Aula BKSDA Kalsel dilaksanakan Rapat Kerja dengan tema “Peran Serta Parapihak Mewujudkan Resort Base Management (RBM) Kuat”. Dihadiri seluruh eselon 4, kepala resort, koordinator urusan, seluruh PNS, dan PPNPN lingkup BKSDA Kalsel. Dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Seruan Rimba, dilanjutkan sambutan ketua pelaksana oleh Suwandi, S.Hut, MA. Suwandi menyampaikan bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk memperkuat komitmen mendukung RBM dan menggali permasalahan yang dihadapi. Acara pokok disampaikan oleh Kepala Balai KSDA Kalsel Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc yang menjelaskan secara detail tentang maksud dan tujuan keberadaan RBM. RBM bukan sekedar tempat pengumpulan data, tapi juga menganalisis data, sebagai tempat komunikasi dengan masyarakat setempat, membangun mutual respect, trust, dan benefits dengan parapihak. Mahrus menegaskan, menjadi kepala resort itu sebagai pekerjaan yang mulia dan hanya orang yang terpilih saja yang bisa menjadi kepala resort. Meski keterbatasan dana dan sarana, kita harus optimis keberhasilan RBM yang didukung parapihak. Untuk menjadikan RBM kuat, maka 10 paradigma baru kelola konservasi harus jadi landasan bekerja. Mengutip arahan Dirjen KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc., bekerja di konservasi harus ikhlas, keras, dan tuntas. Acara diakhiri dengan doa dan ucapan selamat kepada Kepala BKSDA Kalsel yang bertepatan dengan hari kelahiran. Saat acara ucapan selamat dihadiri oleh Kepala UPT lingkup KLHK di Kalimantan Selatan dan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Warga Serahkan Burung Alap - Alap

Medan, 30 Januari 2019. Setelah membaca berita tentang penyerahan 3 individu burung elang dan 1 individu buaya muara oleh seorang warga kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara, pada Rabu, 23 Januari 2019, mendorong M. Ikhwan, penduduk Helvetia Medan, untuk menyerahkan 1 (satu) individu burung Alap-alap (Accipitridae) yang dipeliharanya kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara, pada Senin 28 Januari 2019. Dalam keterangan/penjelasan M. Ikhwan, burung Alap-alap ini dibelinya dari seseorang, sekitar setahun yang lalu, dan saat itu masih anakan. Burung ini kemudian dirawat dengan baik di rumahnya. Dia tidak mengetahui jika jenis burung ini dilindungi undang-undang, sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 dan telah diperbaharui dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.92/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018 tanggal 30 Agustus 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi. Setelah mengetahui bahwa burung Elang termasuk jenis yang dilindungi seperti yang diberitakan media, segera dia mencari informasi tentang keberadaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, melalui call center, guna menyerahkan satwa yang dipeliharanya tersebut. Kondisi burung saat diserahkan terlihat sehat. Selanjutnya pada hari itu juga burung Alap-alap ini dibawa ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) TWA Sibolangit guna mendapatkan perawatan dan rehabilitasi sebelum pelepasliaran. Butuh waktu untuk merehabilitasi mengingat burung ini sudah jinak selama dipelihara oleh pemiliknya. Sumber : M. Ali Iqbal Nasution - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Membangun Paradigma Kemitraan Konservasi di Kelimutu

Ende, 30 Januari 2019. Balai TN Kelimutu bersama Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) tentang Menumbuhkan Paradigma Kemitraan Konservasi sebagai bagian dari implementasi Perdirjen KSDAE No. P.6/KSDAE/SET/Kum.1/6/2018 tentang Petunjuk Teknis Kemitraan Konservasi Pada Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Kegiatan ini didukung oleh USAID's Build Indonesia to Take Care of Nature for Sustainability project (or Bangun Indonesia untuk Jaga Alam demi Keberlanjutan - BIJAK). FGD ini diselenggarakan pada tanggal 28 s.d 29 Januari 2019 di Kantor Balai Taman Nasional Kelimutu Ende, yang diikuti oleh perwakilan aparat pemerintah desa dan kelompok masyarakat dari Desa Wologai Tengah, Desa Niowula, Desa Saga, Desa Waturaka dan Desa Niowula, perwakilan dari KPH Ende, Dinas Lingkungan Hidup Kab. Ende, Yayasan Tananua, Agrarian Resource Center (ARC), AMAN Nusa Bunga, Universitas Flores, STPM St. Ursula, Forum Mosalaki. Dari pihak BTN Kelimutu dihadiri langsung oleh Kepala Balai TN Kelimutu. KSBTU, Kepala seksi dan perwakilan 4 resort. Dalam kegiatan ini, dibahas terkait dengan situasi perkembangan calon kemitraan konservasi di TN Kelimutu yang telah dikunjungi oleh pihak LATIN dan BIJAK selama 7 hari sebelumnya di Desa Saga, Niowula, Wologai, Nduaria dan Waturaka yang terkait dengan pelaksaan Perdirjen KSDAE Nomor P. 6 tahun 2018. Melalui kegiatan ini dapat diperoleh gambaran kemitraan yang ada yang dapat mendorong perubahan perilaku dan keberdayaan masyarakat dalam kaitannya dengan pelestarian kawasan TN Kelimutu. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Menelusuri Sang Ular Langka dari “Tanah Pasundan”

Cibodas, 30 Januari 2019. Ular merupakan salah satu jenis satwa dari kelas reptil yang oleh kebanyakan orang dipandang sebagai satwa yang menakutkan. Padahal dengan ketiadaan mereka akan menimbulkan hal yang lebih menakutkan lagi. Mengingat ular merupakan predator alami satwa di bawahnya salah satunya adalah tikus. Bisa dibayangkan jika tikus merajalela tanpa ada predator alaminya. Di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) terdapat jenis ular yang untuk menjumpainya langsung di alam sangatlah sulit, sama sulitnya seperti menelusuri “jejak digitalnya”. Ular tersebut memiliki nama ilmiah Pseudoxenodon inornatus (Boie in: Boie, 1827) atau dalam bahasa inggris disebut juga Dull Bamboo Snakes atau False Cobra. Sekilas ular ini hampir mirip dengan ular kobra jika sedang bersiaga yaitu saat melebarkan lehernya. Sekilas catatan Abad 20 Menurut Rahadian & Das 2013 menyebutkan bahwa catatan terakhir mengenai ular ini disampaikan oleh L.D Brongersma pada tahun 1950 yang meninjau data sebelumnya berupa spesies yang berasal dari Cihanjawar, kaki Gunung Pangrango, Jawa Barat. Sejak itu hampir tidak pernah ada lagi update tentang ular ini. Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh Boie pada tahun 1827 sebagai Xenodon inornatus dari Jawa tapi tidak disebutkan lokasi detilnya. Sekilas catatan Abad 21 yang menggembirakan di TNGGP Setelah sekian lama mencari keberadaan jenis ular ini akhirnya pada tanggal 14 April 2012, Volunteer “Panthera” TNGGP menemukan kembali jenis ini di TNGGP, tepatnya di Resort Selabintana, Sukabumi pada ketinggian 1.200 mdpl, dan berhasil diabadikan oleh Firmansyah (Volunteer “Panthera”). Sedikit “modal” itulah yang menjadi bahan identifikasi bahwa benar itu merupakan dari spesies Pseudoxenodon inornatus. Temuan yang menggembirakan tersebut telah ditulis pada jurnal internasional oleh Rudy Rahadian (Sioux-Lembaga Studi Ular Indonesia) dan Indraneil Das (Institute of Biodiversity and Environmental Conservation, Universiti Malaysia Sarawak). Informasi lain menyebutkan bahwa jenis ular “kobra palsu” ini dijumpai juga di Gunung Salak (Wallach et al, 2014). Tahun 2016, Robi (PEH TNGGP) berhasil menemukan kambali yang diduga kuat “kobra palsu” tersebut di ketinggial 1.600 mdpl (Resort Bodogol), namun sayang tidak berhasil diabadikan melalui kamera. Selanjutnya tahun 2017 dan 2018 spesies ini telah ditemukan kembali dan berhasil terpotret. Tahun 2017, Iyan (PEH TNGGP) dan Mukti (Kader Konservasi TNGGP) berhasil mengabadikan sang ular langka ini di wilayah Resort Cimande, Bogor di ketinggian 1.400 mdpl. Dan pada akhir tahun 2018 di lokasi yang berbeda yaitu di wilayah Resort Cimungkad, Sukabumi telah ditemukan kembali oleh tim inventarisasi keanekaragaman hayati TNGGP dan berhasil diabadikan oleh Boby (PEH TNGGP) dan Robi (PEH TNGGP) di ketinggian 1.280 mdpl dan 1.520 mdpl. Hasil-hasil temuan tersebut merupakan “pintu gerbang” untuk lebih membuka kembali tabir mengenai jenis ular tersebut. Mengingat sangat sedikit sekali yang membahas lebih rinci tentang jenis ini. Dan kami membuka pintu lebar-lebar untuk para pihak yang ingin berkontribusi dari aspek penelitian jenis ini ataupun keanekaragaman hayati lainnya di TNGGP. “Jadikan Biodiversitas Sebagai Panglima” Salam Konservasi! Sumber : Agung Gunawan dan Boby Darmawan (PEH Balai Besar TNGGP) Dokumentasi: Boby Darmawan, Iyan Sopian, Robi Rizki Zatnika (PEH Balai Besar TNGGP), dan Firmansyah (Volunteer Panthera TNGGP) Selengkapnya : https://goo.gl/cr1x2T
Baca Berita

Pengembangan Destinasi Wisata Ranu Pani Mendapat Dukungan Pemerintah Daerah Kab Lumajang

Malang, 30 Januari 2019. Pemerintah Kabupaten Lumajang berencana memperkuat destinasi wisata Ranu Pani yang merupakan desa Enclave TNBTS agar lebih menarik dan mendatangkan banyak wisatawan sehingga mampu meningkatkan taraf sosial ekonomi dan budaya masyarakat desa Ranu Pani. Keseriusan Dukungan tersebut disampaikan dalam rapat yang diselenggarakan Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang di Pendopo Kabupaten yang dihadiri oleh SKPD terkait dan Kepala Bidang PTN II Lumajang. Rapat yang dilaksanakan 29 Januari 2019 dan dipimpin langsung oleh Bupati Lumajang didampingi oleh wakil Bupati Lumajang tersebut bertekad menjalin kolaborasi untuk penataan dan pengelolaan Ranu Pani menjadi lebih baik dan menarik lagi dari kondisi saat ini. Agar dukungan tersebut dapat terwujud maka Pemkab Lumajang di tahun 2019 ini akan menyusun perencanaan pengembangan Destinasi Wisata di wilayah Lumajang untuk memperkuat objek wisata dan sekaligus meningkatkan pertumbuhan perekonomian di tingkat lokal. Diharapkan destinasi wisata yang akan dikembangkan bisa menjadi icon wisata kabupaten Lumajang. Dalam rapat disampaikan oleh Kepala Bidang PTN II TNBTS bahwa salah satu icon Ranu (Danau) Pani saat ini terjadi sedimentasi dan juga ancaman penutupan permukaan danau oleh Salvinia Molesta atau Ki Ambang yang beberapa bulan terakhir banyak menyita perhatian penanganannya dan sudah bisa diatasi. Selain itu pola pertanian yang kurang memperhatikan konservasi, penanganan sampah dari pendakian dan sampah dari rumah tangga yang masih perlu ditata lagi, pengaturan drainase yang baik juga menjadi pokok bahasan dalam rapat tersebut. Pada tahap awal Pemkab Lumajang berkeinginan melengkapi infrastruktur, atau sarana prasarana dengan membentuk paguyuban atau organisasi pelaku wisata pendakian (porter dan evakuasi) untuk ditingkatkan kapasitas dan kemampuannya sehingga dapat optimal dalam memberikan pelayanan wisata. Selain itu untuk meminimalisir permasalahan tata batas kawasan TNBTS dengan Desa Enclave akan dilakukan inventarisir batas-batas lahan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru sehingga tidak terjadi adanya bangunan bangunan yang tidak legal berdiri di atas tanah Taman Nasional. Selanjutnya dengan diinisiasi oleh Pemkab Lumajang akan segera dibentuk Forum perencanaan pengembangan destinasi wisata yang diharapkan dalam waktu 2-3 bulan sudah dapat menyusun perencanaan pengembangan destinasi wisata di Kabupaten Lumajang. Diharapkan Forum rapat yang dihadiri oleh Asisten Pemerintahan; Kepala Bappeda Kab Lumajang; Kadin lingkungan hidup Lumajang; Kepala Bidang PTN Wil.II BBTNBTS; Adm. Perhutani Probolinggo; Kepala BPN lumajang; Kepala Cabang Dinas Kehutanan lumajang; Kadin Pariwisata dan kebudayan Lumajang; Kadin Pertanian Lumajang; Kepala bagian perekonomian ESDA Setda; BPBD Lumajang; Kepala bagian administrasi Setda; Kadin PU dan Cipta karya tersebut dapat di realisasikan sehingga Desa Ranu Pani dapat berkembang dan menjadi wisata andalan di Kab Lumajang sekaligus mampu mendukung kelestarian TNBTS. Sumber : Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru

Menampilkan 6.241–6.256 dari 11.140 publikasi