Kamis, 23 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Pahangga Kekei, Oleh-Oleh Desa Ekowisata Ilomata

Gorontalo, 3 Februari 2019. Desa Ilomata, jangan ditanya secantik apa desa yang berada di pinggiran Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, yang setiap sudutnya adalah keindahan. Warga desa telah bersepakat untuk memajukan desanya dengan pendekatan pariwisata, bahkan mereka telah menganggarkan dana desanya untuk kepentingan ini. Bagaimana desa terpencil ini disulap menjadi desa yang nyaman dan layak dikunjungi oleh wisatawan, termasuk yang datang dari mancanegara. Ada beberapa hal yang harus dikembangkan, seperti potensi budaya beserta alamnya yang masih sangat asri. Kebun-kebun warga yang masih menyimpan keanekagaman hayati berlimpah, burung, kuskus beruang, tarsius, hingga ular dan biawak. Namun, tak elok jika sudah berkunjung disini tidak membawa oleh-oleh. Inilah yang menjadi ciri khas buah tangan dari desa ini, pahangga kekei. Pahangga kekei seperti gula merah dalam kemasan mungil, yang disain untuk menjadi buah tangan bagi wisatawan yang datang ke desa nan sejuk ini. “Gula merah ini berbahan baku air nira aren, yang disadap dari kebun-kebun warga setiap hari,” kata Shoman Usman, Ayahanda Desa Ilomata, Ayahanda adalah sebutan Kepala Desa dalam bahasa Gorontalo, Sabtu (2/2/2019). Untuk membedakan dengan gula merah dari luar adalah kemasannya. Di desa ini bentuknya dibuat mungil, segenggaman orang dewasa. Gula ini pun dibungkus dalam daun woka kering (livistona) yang artistik, sehingga enak dilihat, klasik dan mudah dibawa. “Saat ini belum skala komersial, hanya sebagai oleh-oleh gratis bagi pengunjung ke sini. Nantinya kami akan kembangkan skala komersial,” kata Shoman Usman. Tradisi membuat gula aren ini, ternyata diwarisi leluhur mereka yang juga hidup di dalam kawasan penyangga, mereka memanfaatkan air nira yang berlimpah untuk dibuat gula dan dijual di pasar tradisional setiap hari Kamis di ibukota kecamatan, Tapa. Pahangga di Desa Ilomata ini diproduksi kelompok oleh masyarakayt Anoa, yang dibina oleh Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dengan pendampingan dari Enhancing the Protected Area System in Sulawesi for Biodiversity Conservation (E-PASS) atau Proyek Peningkatan Sistem Kawasan Konservasi di Sulawesi untuk Konservasi Keanekaragaman Hayati (E-PASS). Sumber : Diah Ayu Lestari - Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone dan genpi.co
Baca Berita

Akhir Pekan Berkesan Bersama Warga Desa Pejarakan

Banyuwedang, 3 Februari 2019. Akhir pekan merupakan waktu yang berharga untuk melakukan kegiatan santai tetapi bermakna bersama keluarga, kolega, dan teman serta tetangga. Seperti minggu pagi ini (3/2), kami (Kepala SPTN Wilayah III Labuan Lalang dan staf) bersama warga Desa Pejarakan melakukan kegiatan penanaman pohon di kanan-kiri jalan dari pertigaan Banyuwedang menuju Pelabuhan Penyebrangan Banyumandi. Selain itu, warga juga melakukan aksi bersih lingkungan dengan memunguti sampah plastik dan botol yang terlihat di beberapa titik di sepanjang jalan. Jalan tersebut berbatasan langsung dengan zona pemanfaatan Taman Nasional Bali Barat yang merupakan areal Ijin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) PT. Trimbawan Swastama Sejati (TSS). Kegiatan di akhir pekan ini diinisiasi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pejarakan yang didukung penuh Desa Dinas dan Pakraman Pejarakan, Balai Taman Nasional Bali Barat, PT. TSS dan Biosphere Foundation. Sekitar seratus orang Warga Desa Pejarakan hadir dan terlibat yang merupakan perwakilan staf Kecamatan Gerokgak, perangkat desa, Karang Taruna, Trash Hero, NCF Putri Menjangan, Biosphere Foundation, Prajuru Desa Pakraman, Resort Teluk Terima, dan Babinkamtibmas serta pelaku wisata, antara lain Pokmasta, Hotspring Banyuwedang, Menjangan Dinasty Resort, Naya Gawana, Mimpi Resort, The Menjangan, Plataran Menjangan, Banana Life, Tuke Menjangan, Yuda Menjangan dan Hobbit House. Pohon yang ditanam sebanyak 650 batang terdiri dari jenis intaran, sawo kecik, dan mahoni. Bibit pohon tersebut merupakan bantuan dari Pemerintah Kabupaten Buleleng, PT. TSS dan kelompok masyarakat. Sebelum penanaman, Gst Ngurah Suranggana (Pendamping Desa, SPTN Wilayah III Labuan Lalang) memberikan pengarahan kepada warga bahwa bibit yang ditanam di dalam kawasan TNBB harus jenis asli, yaitu intaran dan sawo kecik. Sedangkan jenis mahoni dan kedua jenis lainnya diarahkan untuk ditanam di sisi kanan jalan yang berada di luar kawasan TNBB. Sementara itu, sampah plastik dan botol yang berhasil dikumpulkan sebanyak tiga karung ukuran besar. Hasil sampah tersebut terbilang sedikit, karena di wilayah Banyuwedang dan sekitarnya telah dilakukan aksi bersih pengumpulan sampah plastik secara rutin. Setiap hari minggu, Truna Truni Desa Pejarakan yang dikordinir oleh Trash Hero Indonesia melakukan aksi bersih. Sementara itu, Karang Taruna Kusuma Yudha bersama elemen masyarakat lainnya melakukan aksi bersih setiap minggu pertama dan minggu ketiga setiap bulannya. Aksi tersebut juga sekaligus mengajak masyarakat Desa Pejarakan untuk melakukan Gertak PSN (Gerakan Serentak Pemberantasan Sarang Nyamuk). Perbekel Desa Pejarakan (Made Astawa) yang memimpin langsung kegiatan ini, memberikan apresiasi tinggi kepada warga yang terlibat dan para pihak atas terlaksananya kegiatan penanaman dan aksi bersih. Made Astawa juga menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan gerakan masyarakat menuju Desa Pejarakan yang HIAS (Hijau, Indah, Aman, dan Sejuk). Sementara itu, inisiator kegiatan (Ketut Sarka, Ketua Pokdarwis Pejarakan) menyatakan bahwa kegiatan ini penting dilakukan untuk penataan lingkungan menuju obyek daya tarik wisata di area Banyuwedang dan sekitarnya. Selain itu, Ketut Sarka juga menekankan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian para pemangku kepentingan dalam peningkatan citra pariwisata di wilayah ini yang merupakan salah satu pintu masuk menuju Pulau Menjangan. (htg) Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Cerita Arya Kamuning Di Kaki Gunung Ciremai

Kuningan, 2 Februari 2019. Pernah dengar nama Arya Kamuning? Mari kita simak ceritanya. Sunan Gunung Jati melantik Suranggajaya alias Bratawijaya atau Arya Kamuning untuk memerintah Kuningan dengan gelar Sang Adipati pada 1 September 1478. “Jumenengan” Adipati Kuningan berlangsung di Gunung Jati, Cirebon. Sebab saat itu Kuningan berada dalam tampuk kekuasaan Keraton Pakungwati pimpinan Susuhunan Gunung Jati. Proses penyatuan Kuningan ke dalam wilayah Kesultanan Pakungwati berjalan damai. Karena Sunan Gunung Jati menerapkan strategi politik kekerabatan. Arya Kamuning, anak Ki Gedeng Luragung, penguasa Kuningan diangkat anak oleh Sunan Gunung Jati. Selepas menuntaskan urusan pelantikan, Arya Kamuning bergegas menuju ibu kota kerajaannya di Luragung. Beliau meneruskan tahta ayahnya dengan meluncurkan program pembangunan bidang pertanian terutama sawah padi. Saat itu sawah padi merupakan hal baru bagi masyarakat Sunda agraris. Sebelumnya, orang Sunda hanya mengenal "Huma" yakni padi yang ditanam di ladang. Sawah padi dikenalkan oleh Kesultanan Mataram saat mereka melakukan perluasan wilayah kekuasaan ke bagian barat Jawa. Singkat cerita, gagasan program pertanian Sang Adipati cukup sukses. Hasil panen padi melimpah sehingga rakyat tak lagi kesulitan pangan. Sejak saat itu lahirlah budaya pemuliaan terhadap Dewi Sri atau Nyi Pohaci. Rupanya kabar panen raya tersebut terdengar sampai ke telinga Kumpeni. Selang beberapa saat, bala tentara Kumpeni mendatangi “Leuit” (lumbung padi, red) milik warga. Awalnya Kumpeni ingin membeli padi dari petani tapi dengan harga yang sangat murah. Kontan saja para petani menolaknya. Mengetahui tawarannya ditolak warga, Kumpeni langsung berbuat kejam dengan menghambil paksa hasil panen dari lumbung padi. Nasib nahas bagi mereka yang tak menuruti kemauan penjajah. Sebab Kumpeni tak segan menarik pelatuk senapannya. Kemudian rakyat mengadu kepada Arya Kamuning karena persediaan bahan pangan mereka ludes dirampas penjajah. Sang Adipati sedih dengan kondisi rakyat yang kembali kesulitan pangan. Keesokan harinya, Sang Adipati mencari solusi atas permasalahan rakyatnya. Beliau pergi ke suatu tempat di kaki gunung Ciremai yang saat ini dikenal sebagai Lembah Cilengkrang. Di bawah rimbun pepohonan, beliau duduk bersila dan bermunajat kepada Yang Maha Kuasa. “Petilasan Arya Kamuning ini adalah tempat bersemedi beliau selama 40 hari 40 malam”, ungkap Basir, warga desa Pajambon, Kramatmulya, Kuningan, Jawa Barat (30/01). “Selepas bertapa, beliau turun gunung dengan membawa seikat akar”, lanjut Basir meneruskan ceritanya. Lalu Sang Adipati memerintahkan kepada rakyatnya untuk menanam “areuy” atau tumbuhan yang merambat itu di sawah. Konon, “areuy” inilah cikal bakal Boled atau Ubi Jalar yang kini banyak ditanam petani di Kuningan. Sejak saat itu Boled menjadi bahan pangan selain beras. Tumbuhan ini memang mengandung banyak "karbohidrat" yang bisa mengganjal perut. Kini, Boled Kuningan telah naik kelas menjadi aneka camilan seperti keripik, kecemplung dan getuk. Olahan kuliner umbi tersebut banyak tersedia di toko oleh-oleh dan menjadi buruan buah tangan para wisatawan. Benar atau tidaknya cerita tadi memang masih perlu penelusuran mendalam. Tapi yang jelas, Arya Kamuning ialah pemimpin yang sangat peduli dengan nasib rakyatnya. Tentu sikap Sang Adipati Kuningan tersebut mesti kita teladani. So, mari kenali kearifan lokal untuk mendukung pembangunan negeri [Teks © Tim Admin, Foto © Rudi - BTNGC | 022019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Gerakan Penghijauan Bukit Perawan Tanggulasih

Malang, 2 Februari 2019. Sinergitas Balai Besa KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dengan institusi dan lembaga pemerhati lingkungan semakin solid, hal ini terbukti dengan adanya kegiatan Penanaman yang melibatkan Profauna, BBKSDA Jawa Timur, Perhutani KPH Malang, Masyarakat KTH Maju Mapan dan Muspika Sumbermanjing Wetan (2/2) di Lokasi di Bukit Perawan Tanggulasih, Dusun Tamban, Desa Tambakrejo, Kecematan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Bibit yang akan ditanam adalah tanaman pohon buah dan pohon hutan yang disumbang sepenuhnya oleh Petungsewu Adventure. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

CA Sungai Lulan dan Sungai Bulan Giatkan Kemitraan Konservasi

Kotabaru, 1 Februari 2019 – CA Sungai Lulan dan Sungai Bulan (CA SLSB) mempunyai luasan 3.017,53 ha, sesuai SK Menhut Nomor : SK.6000/Menhut-VII/KUH/2014, tersebar di Kecamatan Pulau Laut Selatan dan Kecamatan Pulau Laut Timur. Pos Resort CA SLSB berada di Desa Tanjung Seloka Utara, sejak awal tahun 2019 agar lebih dekat dengan kawasan. Kepala Balai KSDA Kalsel, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., didampingi Kepala Seksi Wilayah III Batulicin, Nikmat Pasaribu, S.P., M.Sc di awal bulan Februari 2019 telah mengunjungi sekaligus meresmikan kantor terluar paling selatan di bagian Pulau Laut (Kabupaten Kotabaru). Pada saat kunjungan ke Desa Tanjung Serudung, didampingi Kepala Resort CA SLSB, Suriansyah, S.Hut., mengadakan diskusi dengan Kepala Desa Tanjung Serudung, Hasmuddin Noor dan Sekdes Noviansyah tentang prospek pengembangan desa berbasis konservasi. Secara sejarah, Desa Tanjung Serudung sudah ada sejak tahun 1942, dimana desa tersebut merupakan desa tertua yang ada di Kecamatan Pulau Laut Selatan, namun berdasarkan Permenhutbun Nomor : 453/Kpts-II/1999 bahwa kedudukan Desa Tanjung Serudung yang berada pada Pulau Serudung hanya sebagian pulau yang menjadi Kawasan Konservasi, setelah terbit SK Menhut Nomor : SK.435/Menhut-II/2009 terjadi penambahan luas di kawasan CA SLSB dimana Keseluruhan Pulau Serudung secara keseluruhan menjadi Kawasan Konservasi. Dalam rangka memelihara harmonisasi dengan masyarakat setempat, maka program Kemitraan Konservasi secara terbatas masih dapat dilaksanakan. Tahun 2019 ini direncanakan kegiatan pengembangan pakan lebah madu tanaman Kaliandra Merah sekitar 5 ha. Kayu Kaliandra diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif bagi masyarakat setempat. Melaksanakan 10 Cara Baru dari Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc., masyarakat setempat sebagai subjek kegiatan, maka BKSDA Kalsel mendorong Bumdes Tanjung Serudung untuk mengambil peran aktif dalam Mitra Konservasi ini. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Pembelajaran Konservasi Bagi Generasi Milenial

Kotabaru, 1 Februari 2019 – BKSDA Kalsel di awal Februari ini telah melaksanakan visit to school di sekitar kawasan CA Teluk Kelumpang, tepatnya di SMP Negeri 1 Cantung Kecamatan Kelumpang Hulu Kabupaten Kotabaru. Hadir Kepala Sekolah Bapak Abdurrahman, S.Pd., yang didampingi oleh para guru beserta anak didik mewakili kelas VII hingga kelas IX sebanyak 60 orang. Sedangkan dari BKSDA Kalsel dihadiri Kepala Balai KSDA Kalsel, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc, KSBTU Suwandi, S.Hut., MA, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin, Nikmat Pasaribu, S.P, M.Sc., Kepala Resort Teluk Kelumpang, Nabawi serta tim teknis lainnya. Kepala Sekolah dalam sambutannya berharap kegiatan ini dapat membuka pikiran anak didik terhadap flora dan fauna dan tempat hidupnya. Perubahan paradigma akan dapat mengubah prilaku anak didik menjadi lebih sayang kepada hutan dan isinya. Dr. Mahrus pada visit to school ini menjelaskan tentang fungsi-fungsi hutan, khususnya hutan konservasi. Dijelaskan bahwa hutan konservasi meliputi kegiatan perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan yang lestari. Hutan konservasi berperan untuk menjaga rantai makanan dalam sebuah ekosistem dan genetika flora dan fauna. Dibagian akhir dijelaskan bahwa melindungi flora dan fauna merupakan bagian dari ibadah, karena memberikan manfaat terhadap makhluk Tuhan lainnya termasuk makhluk gaib yang tidak terlihat. BKSDA Kalsel telah menyerahkan Buku tentang Primata dan Burung di Kalsel, Peta Kawasan Resort Teluk Kelumpang dan Bibit Buah-buahan untuk ditanam di sekitar sekolah. Dr. Mahrus berharap anak didik bisa menjadi kader-kader konservasi yang handal dengan prinsip bekerja ikhlas, keras, cerdas, dan tuntas. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Cuaca Ekstrim, Beberapa Fasilitas di Pulau Tinabo TN Taka Bonerate Rusak

Pulau Tinabo - Kepulauan Selayar (Jum'at, 01 Februari 2019). Cuaca ekstrim yang melanda dan menyebabkan kerusakan di beberapa wilayah Indonesia hingga saat ini. Fasilitas milik Balai TN Taka Bonerate, utamanya di Pulau Tinabo pun tak luput mengalami kerusakan. "Beberapa laporan dari teman-teman di lapangan, fasilitas yang ada di resort mengalami kerusakan akibat angin kencang. Puji dyukur semua personil dalam keadaan aman dan sehat walafiat" ucap Kepala Balai Faat Rudhianto Kerusakan tersebut diakibatkan oleh angin kencang dan ketinggian gelombang hingga 5 meter. Seperti yang telah dirilis BMKG peringatan dini pertanggal 22 Januari 2018 melalui portal website dan sosial media. Isinya, potensi hujan lebat, angin kencang dan ombak tinggi yang melanda beberapa wilayah di Indonesia, terutama Sulawesi Selatan. Bahkan perairan Kepulauan Selayar diprediksi potensi gelombang tinggi dari 4 s.d 6 meter. "Tahun ini imbas cuaca ekstrim terparah. Hingga menghancurkan atap pos jaga, fasilitas wisata guest house dan kantin Pulau Tinabo" Ucap Muhammad Hasan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tarupa. Selama rentang waktu itu, personil TN Taka Bonerate tidak punya pilihan lain. Mereka bertahan di Pulau Tinabo hingga cuaca ekstrim mereda. Ada beberapa fasilitas wisata yang rampung tahun lalu dilaporkan personil di lapangan masih utuh dan tidak terdapat kerusakan. "Secepatnya akan dilakukan perbaikan jika cuaca sudah mulai membaik, kemungkinan butuh waktu 1-2 bulan dan untuk saat ini kunjungan wisata ke TN Taka Bonerate kami tutup untuk sementara, tetapi kami tetap menempatkan personil di pos resort masing-masing karena justru pada kondisi begini terjadi peningkatan destructive fishing. Kami berharap badai segera berlalu" ucap Faat Rudhianto Sumber Asri - PEH Balai TN. Taka Bonerate Foto : Ajadin Anhar - Polhut Balai TN. Taka Bonerate
Baca Berita

Perjalanan Javan Gibbon Center Bodogol

Cibodas, 1 Februri 2019. Owa jawa termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. 92 tahun 2018. Terancamnya kelestarian Owa jawa baik disebabkan kehilangan habitat maupun praktek perburuan, perdagangan untuk dijadikan satwa peliharaan menyebabkan satwa endemik Pulau Jawa ini memerlukan upaya konservasi yang bermanfaat bagi pelestarian populasinya di alam. Salah satu upaya tersebut dapat dilakukan dengan merehabilitasi Owa jawa bekas peliharaan dan melepasliarkan melalui program reintroduksi ke habitat alaminya. Rehabilitasi merupakan langkah penyelamatan satwa liar dari perdagangan ilegal serta menyediakan kondisi yang sesuai bagi satwa tersebut, sehingga memiliki kesempatan untuk dapat dikembalikan ke habitat alaminya. Reintroduksi merupakan upaya mengembalikan satwa hasil penangkaran maupun rehabilitasi ke daerah asal spesies tersebut. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) bekerjasama dengan Yayasan Owa Jawa, Conservation International Indonesia, dan Universitas Indonesia membentuk konsorsium untuk melaksanakan upaya penyelamatan dan rehabilitasi Owa jawa tersebut. Lokasi penyelamatan dan rehabilitasi owa jawa disebut sebagai Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa atau sering disebut Javan Gibbon Center (JGC) yang posisinya berada di areal perluasan wilayah kerja Resort Bodogol, Seksi PTN Wilayah V, Bidang PTN Wilayah III Bogor, Balai Besar TNGGP. Sejak dibentuknya JGC pada tahun 2006 sampai dengan tahun 2018 sekarang, JGC telah melakukan 7 kali pelepasliaran, dilakukan pertama kali tahun 2009 di Blok Patiwel TNGGP sejumlah 2 individu Owa jawa. Kemudian selama rentang waktu tahun 2013 sampai 2018 telah dilakukan 6 kali pelepasliaran di Hutan Lindung Gunung Puntang, Bandung Selatan sebanyak 24 individu. Sampai akhir Desember 2018 ini total owa jawa yang ada di JGC sebanyak 18 individu. Ketika semakin sedikit owa jawa yang direhabilitasi di JGC dan tempat rehabilitasi lainnya maka seharusnya semakin sedikit pula Owa jawa yang dijadikan hewan peliharaan sehingga semakin sedikit pula perburuan yang dilakukan terhadap satwa ini di alam liar. Biarkanlah Owa jawa hidup secara bebas di alam untuk menjalakan tugas dan fungsinya yang melekat sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Sumber : Tangguh Triprajawan, S.Hut. – Pengendali Ekosistem Hutan Balai Besar TNGGP Selengkapnya : Perjalanan Javan Gibbon Center Bodogol
Baca Berita

Asian Waterbird Census di Probolinggo

Probolinggo, 1 Februari 2019. Seksi Konservasi Wilayah (SKW) VI, Balai Besar KSDA Jatim, turut berpartisipasi dalam rangka Asian Waterbird Census (AWC) atau Sensus Burung Air Asia di Desa Penambangan, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, 1 - 2 Februari 2019. Di desa ini terdapat habitat burung air berupa berupa tambak dan hutan mangrove seluas 25 ha. Asian Waterbird Census adalah kegiatan penghitungan burung air yang menjadi bagian dari International Waterbird Census (IWC). Sensus ini dilakukan secara berkala karena burung air menjadi indikator keseimbangan ekosistem lahan basah. Dan, lahan basah sendiri dapat menyediakan habitat mencari makan, bertengger, dan tempat istirahat. Kegiatan Sensus Burung Air Asia ini dapat dijadikan momentum untuk mendorong masyarakat menjadi citizen scientist. Karena, sensus ini merupakan bagian dari International Waterbird Census yang melibatkan jaringan kerja masyarakat secara suka rela di seluruh dunia. Meski sedikit terlambat, karena Asian Waterbird Census dilaksanakan pada minggu kedua dan ketiga Januari 2019, staf SKW IV – Probolinggo sangat bersemangat melakukan pengamatan burung air ini. Tak kurang ada 6 jenis burung yang berhasil diidentifikasi hingga tulisan ini diturunkan. Yakni, Kuntul Kecil 8 ekor, Cerek Kernyut 82 ekor, Kuntul Besar 7 ekor, Bangau Bluwok 2 ekor, Pecuk Padi 11 ekor, dan Kuntul Perak 3 ekor. Mangrove yang menjadi tempat pengamatan ini merupakan milik seorang tokoh masyarakat setempat yang ditanam secara bertahap dengan harapan dapat menjadi habitat yang baik bagi burung-burung air. Selain itu penanaman mangrove juga diharapkan menjadi penahan erosi air laut dan abrasi pantai ketika terjadi ombak besar. Sehingga pemukiman yang tidak jauh dari lokasi tersebut dapat terhindar dari bencana. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

PT Aqua Berperan Serta Dalam Pelestarian Anggrek Merapi Di Taman Nasional Gunung Merapi

Sleman, 27 Januari 2019, Pengelolaan Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) memperhatikan jenis flora yang hidup secara endemik di dalam kawasan, serta kelimpahannya. Oleh karena itu, pengembalian ke alam jenis flora endemik menjadi penting bagi pengelolaan TNGM, hingga berapa program dilaksanakan sejak 2012 hingga 2019 saat ini. Di antaranya adalah pengembalian ke alam Anggrek Merapi dan Program Adopsi Anggrek Merapi tahap I. PT Tirta Investama (Aqua) Klaten sebagai salah satu mitra yang bekerja sama dengan TNGM, berinisiatif untuk ikut berpartisipasi dalam pelestarian Anggrek Merapi melalui Program Adopsi Anggrek Merapi tahap II (2019-2020), sebagai bukti kongkret kepedulian ke alam sekaligus bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR). Dalam kesempatan tersebut, Stakeholder Relation Manager Aqua Klaten Rama Zakaria menyatakan, kegiatan dilakukan selama dua hari. Pada hari pertama mereka belajar di penangkaran anggrek milik Musimin di Turgo, Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Setelah bermalam di kawasan hutan, mereka melakukan penanaman anggrek pada tumbuhan inang, di dalam hutan Turgo, kawasan konservasi TNGM, dipandu oleh Musimin, dan para petugas dari TNGM, yaitu Teguh Wardaya, Bettyningsih Linggartanti, Widya Kridaningsih dan Haryanto. Dalam kesempatan ini, ada 6 (enam) individu anggrek yang diadopsi, yaitu jenis Vanda tricolor, sebagai jenis lokal dan ikon Gunung Merapi dan 2 jenis lainnya yaitu Cymbidum bicolor dan Pholidota ventricosa. Saat ini, keberadaan anggrek tersebut merupakan salah satu siklus biologi yang penting untuk rantai kehidupan. Tokoh pelestari anggrek Merapi, Musimin mengatakan, hingga saat ini ada sebanyak 28 bibit anggrek yang telah diadopsi. Sebanyak 22 diadopsi pada saat launching program adopsi anggrek pada tahun 2015 silam. Hingga kali ini, adopsi anggrek masih berlanjut meski dengan berbagai kendala dan pembenahan. Selama ini, setelah direlokasi ke inang di habitat hutan, anggrek adopsi secara berkala dimonitoring, dan setiap satu semester benar-benar didata pertumbuhan dan perkembangannya meliputi akar, daun, batang atau bunga dan buahnya. Setiap pekembangan itu dilaporkan kepada adopter. Widya Kridaningsih selaku Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) TNGM mengatakan, pada tahun 2017 TNGM melakukan kegiatan pengembalian anggrek ke alam di tiga lokasi. Yakni di Turgo sebanyak 10 bibit, di Tritis sebanyak 50 bibit, dan di Turi sebanyak 20 bibit. (titinsept_BTN_Gn_Merapi) ***
Baca Berita

BBKSDA Jatim Bersama Haji Puadi Motori Penanaman Mangrove untuk Pelestarian Burung Air

Probolinggo, 1 Februari 2019. Sejak bulan April tahun 2018 teridentifikasi adanya satwa jenis burung pesisir yang datang ke kawasan pantai Desa Penambangan, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo. Pengendali Ekosistem Hutan bersama Polisi Kehutanan yang dipimpin langsung Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI Probolinggo (Mamat Ruhimat, S.H.) Balai Besar KSDA Jawa Timur kembali melakukan Pengamatan burung air pada lokasi yang sama (1/2). Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka Asian Waterbird Census (AWC) di Seksi Konservasi Wilayah VI. AWC adalah bagian dari kegiatan International Waterbird Cencus (IWC) yang dikoordinir Kementerian LHK bekerjasama dengan mitra Wetland International Indonesia. Pengamatan dilakukan di area tambak dan hutan mangrove seluas 25 ha. Pengamatan dilakukan di pagi hari mengingat aktifitas burung yang tinggi di pagi hari. Hasil Pengamatan di lapangan teramati 6 Jenis Burung yaitu Kuntul Kecil 8 ekor, Cerek Kernyut 82 ekor, Kuntul Besar 7 ekor, Bangau Bluwok 2 ekor, Pecuk Padi 11 ekor, Kuntul Perak 3 Ekor. Keberadaan berbagai jenis burung air tersebut mengindikasikan bahwa kawasan Desa Penambangan dapat menjadi habitat yang baik bagi burung Dengan adanya satwa burung air ini menggugah kepedulian masyarakat sekitar terhadap konservasi Mangrove. Upaya yang telah dilakukan dengan penanaman mangrove yang dimotori oleh Haji Puadi (Tokoh Masyarakat), dengan adanya mangrove yang terjaga, maka burung air yang berada disini akan betah dan keberadaannya tetap lestari, Mangrove ditanam secara bertahap dengan harapan dapat menjadi habitat yang baik bagi burung-burung air dan burung endemik serta dapat menjadi daerah persinggahan burung burung migran, tutur haji puadi. Selain itu penanaman mangrove juga diharapkan menjadi penahan erosi air laut dan abrasi pantai ketika terjadi ombak besar, Sehingga pemukiman yang tidak jauh dari lokasi tersebut dapat terhindar dari bencana, lanjutnya. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur .
Baca Berita

Budidaya Ikan Nila oleh KTH Tunas Harapan

Cibodas, 1 Februari 2019. KTH (Kelompok Tani Hutan) Tunas Harapan berada di Kampung Wangun Jaya, Desa Pasir Buncir, Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor. KTH ini dibentuk pada tanggal 3 Maret 2017 beranggotakan 15 orang, dikukuhkan oleh Kepala Desa Pasir Buncir pada tanggal 9 Maret 2017. Kegiatan KTH yang sudah dilaksanakan adalah melakukan penanaman pohon dan pemeliharaan pohon di Blok Ciruntah bersama Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrangro (TNGGP) dan Conservation International (CI). Penanaman pohon di Blok Ciruntah merupakan program adopsi pohon dari Multi Bintang Indonesi (MBI) yang difasilitasi oleh CI. Sebagai salah satu alternatif mata pencaharian anggota KTH yang dulunya bertani, CI dan TNGGP melaksanakan program pemberdayaan masyarakat. Kegiatan yang diinginkan oleh anggota KTH adalah bubidaya ikan lele. Pada bulan April 2017 KTH Tunas Harapan mendapatkan bantuan bibit ikan lele dari CI. Hasil yang didapatkan dari panen lele belum maksimal dan kelompok sepakat mengganti ikan lele dengan ikan nila. Pada bulan November 2017 KTH Tunas Harapan menjadi salah satu peserta dalam pelatihan Business Plan yang dilakukan oleh Balai Besar TNGGP dengan narasumber dari RARE. Pada kesempatan ini KTH Tunas Harapan membuat rencana bisnis budidaya ikan nila. Dalam rencana bisnis ini KTH diminta untuk mencantumkan Rencana Anggaran Biaya (RAB), modal usaha, dan gambaran penghasilan. Pada bulan Desember tahun 2017 berdasarkan hasil dari Pelatihan Business Plan, KTH Tunas Harapan mendapatkan dukungan usaha ekonomi alternatif dari anggaran DIPA Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Tahun 2017 berupa pembuatan kolam, bibit ikan nila, dan pakan ikan. Dari dukungan usaha tersebut kelompok membuat kolam berukuran 6 m x 11 m. Pada tahun 2018 KTH Tunas Harapan mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas kelompok, yaitu magang perikanan di Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Tunas Mina Lestari di Ciparay Bandung selama 4 (empat) hari. Materi yang didapatkan antara lain pelatihan wirausaha perikanan, budidaya ikan mas, nila, dan lele serta pengolahan hasil perikanan. Dengan mengikuti magang ini diharapkan anggota kelompok bertambah wawasannya tentang budidaya ikan nila. Pada bulan Juni 2018 KTH Tunas Harapan mendapatkan kesempatan dari Pusat Penyuluhan (PUSLUH) untuk peningkatan kelas KTH. Dengan kegiatan ini anggota KTH melaksanakan beberapa kegiatan yang meliputi kelola kelembagaan, kelola kawasan, dan kelola usaha, antara lain: pembuatan saung untuk sekretariat kelompok, penanaman pohon Multy Purpose Tree Species (MPTS), penyekatan kolam, pembelian bibit ikan, dan pakan ikan. Pembagian tugas KTH Tunas Harapan dengan kelompok membuat jadwal penanggung jawab pemberi pakan dan petugas jaga malam untuk mengawasi dan menjaga kolam. Hal ini untuk mengantisipasi serangan hama sero (sejenis musang) dan pencuri. Saat ini masih proses pembesaran ikan dan belum panen. Sumber : Maria Nugrahani, S.Hut. – Penyuluh Kehutanan Balai Besar TNGGP
Baca Berita

Ayo Jaga Sang Garuda

Kuningan, 1 Februari 2019. Gunung Ciremai merupakan habitat ideal bagi elang Jawa (Nisaetus bartelsi). Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) telah memonitor elang ini di sepuluh lokasi pengamatan. Di penghujung tahun 2018, lahir satu individu di Lembah Cilengkrang, sehingga total individu yang tercatat sebanyak 25 ekor. Hadirnya individu elang jawa itu menambah gairah pegawai TNGC dan pengelola wisata Lembah Cilengkrang. Kerja ekstra keras bagi elang ini menjadi prioritas. Tidak menunggu lama, upaya melalui patroli pengamanan pun secara otomatis berjalan demi sang garuda tetap aman disarangnya. Pengamanan habitat dan populasi elang jawa ini bertujuan menjamin dan melindungi habitat dan elang jawa dari aktivitas yang menganggu. Salah satunya pengamanan pohon sarang dari penebangan liar dan aktivitas manusia seperti kebisingan dan hilir mudik di sekitar sarang. Harapannya harian elang jawa tidak terganggu sehingga induk mengasuh serta memberi makan anak di sarang berlangsung normal. Selain itu, kegiatan ini akan meminimalkan kegiatan yang tidak bertanggung jawab yakni perburuan liar. Elang jawa adalah satwa langka dan terancam punah. Populasinya di alam hanya tersebar di tempat tertentu termasuk Gunung Ciremai. So, mari kita jaga elang jawa agar tetap lestari di alam [Teks © Fuad, Foto © Hetty - BTNGC | 022019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Kunjungan Balai TN Meru Betiri ke Kawasan Konservasi TN Gunung Merapi

Sleman, 30 Januari 2019. Belajar dapat dilaksanakan dimanapun, kapanpun dan dari siapapun, demikian juga antar maupun intern Taman Nasional. Pada umumnya, pengelola Taman Nasional biasanya sharing pengalaman dengan pengelola Taman Nasional lainnya, juga dengan mitra kerja lainnya. Oleh karena itu, pada hari Rabu, 30 Januari 2019, Balai Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) yang dipimpin Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Ir. Khairun Nisa, berkunjung ke kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), demi ingin sharing pengalaman tentang demplot Anggrek, adopsi Anggrek yang diselenggarakan oleh TNGM selama ini, dengan harapan dapat diadopsi idenya, bahkan jika memungkinkan dapat dilaksanakan di TNMB di kemudian hari. Rombongan TNMB diterima di kantor Balai TNGM, untuk mendapatkan presentasi gambaran umum kawasan TNGM serta program demplot dan adopsi Anggrek yang selama ini dilaksanakan. Dalam kesempatan ini, rombongan diantar oleh 4 (empat) Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), yaitu Dhani Suryawan, Budi Utomo, Widya Kridaningsih serta Titin Septiana. Selanjutnya, rombongan TNMB melihat langsung demplot Anggrek yang ada di halaman kantor Balai TNGM, dilanjutkan berkunjung ke Blok Turgo, desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, untuk melihat lokasi adopsi Anggrek. Adopsi Anggrek dilaksanakan pada tahun 2015, yang berjalan selama 2 tahun dengan 22 adopter, selanjutnya pada tahun 2019 bertambah 6 jenis baru yang diadopsi. Selain itu, rombongan juga dapat mengamati jenis Anggrek yang direlokasi sejak tahun 2012 hingga 2018 di kawasan tersebut. Sambil mengamati, dilakukan diskusi dan sharing antar pengelola adopsi Anggrek dengan rombongan TNMB. Kemudian sebagai penutup rombongan TNMB juga berkunjung ke Kalikuning Park, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, untuk melihat kondisi destinasi wisata yang dikembangkan bersama dengan kelompok masyarakat sekitar kawasan. Dalam kesempatan ini, juga didiskusikan cara pengelolaan kawasan Kalikuning Park, bersama dengan Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Cangkringan. Sumber: Balai TN Gunung Merapi
Baca Berita

Kegiatan Pembinaan ASN Lingkup BPTNW III Poso BBTNLL dan Penyerahan SK Personil Kegiatan Tahun 2019

Watutau, 28 Januari 2019, Menindaklanjuti kesepahaman Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu dengan Pemerintah Kabupaten Poso, Masyarakat Adat Pekurehua Tawailia, Masyarakat adat Behoa dan Masyarakat Adat Bada yang berbatasan langsung dengan Kawasan Taman Nasional Lore Lindu yang digagas oleh Kepala Bidang Pengelolaan TNLL Wilayah III Poso dalam hal ini Ir. H. Hasmuni Hasmar, M.Si pada tahun 2018, maka pada tanggal 17 Januari 2019 Bupati Poso Darmin Agustinus Sigilipu didampingi Wakil Bupati Ir. Samsuri, M.Si serta sejumlah kepala OPD terkait diruang kerja bupati poso menerima Kepala Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu Ir. Jusman didampingi Kabid PTNW III Poso Ir. H. Hasmuni Hasmar, M.Si bersama 3 orang staf untuk melaporkan kepada Bupati sejumlah rencana program kegiatan yang akan dilaksanakan oleh TNLL di wilayah administrasi Kabupaten Poso yang meliputi perlindungan Taman Nasional, penyiapan data-data kawasan, penyiapan jasa lingkungan, pemberdayaan masyarakat, rencana peningkatan jalan wisata Lelio-Doda, dengan harapan mempermudah akses masyarakat, memperlancar perekonomian serta seluruh obyek wisata di Kabupaten Poso akan lebih terintegrasi satu sama lain khususnya di sekitar TNLL, yakni destinasi wisata 1000 megalit termasuk kerjasama pemanfaatan danau Tambing sebagai obyek wisata yang dikelola bersama. Berkaitan dengan hal tersebut di atas bidang PTNW III Poso menindaklanjuti dengan upaya meningkatkan kinerja pengelolaan TNLL tahun 2019, melalui kegiatan pembinaan ASN lingkup BPTNW III Poso pada tanggal 28 Januari 2019 dan penyerahan SK personil kegiatan tahun 2019 termasuk pramu bakti MMP dan MPA yang dihadiri oleh Kepala Balai Besar TNLL Ir. Jusman didampingi ibu Ketua Darma Wanita BBTNLL Ny. Sri Endang dan Ketua Dewan Adat Pekurehua Tawailia Drs. Hary S. Kabi yang mewakili masyarakat adat lembah Napu, masyarakat adat Behoa dan masyarakat adat Bada yang berbatasan langsung dengan Kawasan TNLL. Dalam sambutan Kepala Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu menegaskan bahwa : Dilain pihak ketua Dewan Adat Pekurehua – Tawaelia yang mewakili seluruh Dewan Adat di wilayah Napu, Bada dan Behoa yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Lore Lindu di wilayah Kabupaten Poso dalam sambutannya mengucapkan terimakasih yang setinggi tingginya kepada Bapak Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M. Si yang telah berkunjung ke lembah Napu dan telah menempatkan petugasnya di wilayah ini yang konsisten menghargai masyarakat adat, tokoh agama, dan pemerintah setempat dalam pengelolaan TNLL yang intinya masyarakat sebagai subyek, menghormati pada HAM melalui pemberlakuan sanksi adat sebelum pendekatan penegakan hukum, sinergitas kegiatan semua sektor dilapangan termasuk prasarana jalan wisata yang direncanakan oleh pemerintah Kabupaten Poso, penghormatan nilai budaya dan adat, kerjasama para pihak, konsekuen dalam pengelolaan secara terbuka melalui resort serta merespon secara cepat dan memberikan penghargaan upaya konservasi dengan melibatkan seluruh Sarjana baik itu S1 Kehutanan maupun sarjana lainnya, yang berdomisili disekitar kawasan Taman Nasional Lore Lindu sebagai pramubakti dalam pengelolaan TNLL. Ketua Dewan Adat Pekurehua-Tawaelia, juga menegaskan bahwa kegiatan multipihak yang diterapkan dalam pengelolaan TNLL Wilayah III Poso, telah terbukti keampuhannya hal ini ditandai sejak penandatanganan kesepahaman antara BBTNLL dengan masyarakat adat, pemerintah Kabupaten, LSM dan pihak lainnya, tidak pernah terjadi pelanggaran terhadap kawasan TNLL di wilayah Kabupaten Poso khususnya diwilayah adat Pekurehua - Tawaelia, Behoa dan Lembah Bada, mudah-mudahan ditempat lain juga diterapkan demikian demi NKRI dan kesejahteraan masyarakat. Sumber : Ir. H. Hasmuni Hasmar, M.Si - Bidang Pengelolaan TNW III Poso BBTNLL di Watutau
Baca Berita

Presentasi Rencana Penelitian Mahasiswa Fahutan UGM di TN Gunung Merapi

Yogyakarta, 31 Januari 2019. Taman Nasional selama ini digunakan sebagai laboratorium alam, sebagai obyek penelitian bagi mahasiswa baik untuk materi Praktek Lapangan, Magang, Skripsi maupun penelitian lanjutan Pascasarjana. Demikian juga yang terjadi di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), sebagai laboratorium alam bagi mahasiswa/i di sekitarnya. Oleh karena itu, dalam rangka peningkatan kompetensi mahasiswa dalam hal pengelolaan areal konservasi, sebanyak 10 (sepuluh) mahasiswa Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, akan melaksanakan Praktek Konservasi Sumber Daya Hutan, 31 Januari s.d 3 Maret 2019. Sebelum mendapatkan Surat Izin Memasuki Kawasan Konservasi (SIMAKSI), maka para pengaju izin diwajibkan mempresentasikan proposal rencana kegiatannya. Dalam kesempatan ini, dilaksanakan presentasi proposal kegiatan oleh Lidya Octaviani Putri, dan kawan-kawan. Kemudian agar memudahkan pelaksanaan rekan-rekan mahasiswa ini, maka dibagi ke dua kawasan, yaitu Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I dan Wilayah II, dengan beberapa sub tema yang berbeda. Untuk SPTN I dilaksanakan di Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Srumbung dan RPTN Dukun. Di SPTN I mereka mengkaji tentang wisata, jalur interpretasi, analisis stakeholder, strategi pengelolaan konservasi, keragaman jenis burung serta erosi di tegakan kopi. Sedangkan SPTN II dilaksanakan di RPTN Kemalang, RPTN Musuk Cepogo, dan RPTN Selo. Pengambilan sub tema untuk di wilayah SPTN II diantaranya efek penutupan jalur pendakian, keragaman jenis burung, obyek wisata Gobumi, pengarangan di Balerante, serta arahan solusi konflik Macaca fascicularis di Musuk Cepogo. Banyak masukan yang diberikan oleh para fungsional TNGM, yang juga bertugas di RPTN yang disebutkan di atas. Hal ini menjadi landasan pelaksanaan Praktek selama kurang lebih sebulan yang akan datang. (titinsept) Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merapi

Menampilkan 6.225–6.240 dari 11.140 publikasi