Kamis, 23 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Ini Jenis Serangga Hasil Presentasi WNA di TN Aketajawe Lolobata

Sofifi, 6 Februari 2019. Hampir satu minggu melakukan kegiatan di Resort Tayawi, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), dua pengunjung dari Amerika dan satu pengunjung dari Australia mendokumentasikan beberapa jenis serangga. Dalam presentasinya di kantor Balai TNAL pada tanggal 1 Februari 2019, ketiga wisatawan tersebut mengatakan bahwa masih banyak jenis lebah di TNAL yang belum teridentifikasi. Mereka mengelompokkan jenis foto serangga berdasarkan keluarga, antara lain lebah, semut, kupu-kupu, belalang, dan lainnya. “Kami yakin masih terdapat banyak jenis serangga yang masih belum teridentifikasi”, kata Clay, salah satu pengunjung (terjemahan). Clay juga menyebutkan bahwa kawasan TNAL yang berada dalam garis Wallacea merupakan tempat yang kaya akan keanekaragaman hayati dan sangat diminati oleh peneliti-peneliti di Eropa dan Australia. Pemaparan tersebut dihadiri oleh Kepala Balai beserta pejabat struktural dan pejabat fungsional. Peserta pemaparan sangat antusias, karena kunjungan dan dokumentasi jenis lebah dan serangga lainnya di dalam kawasan TNAL merupakan suatu hal yang baru. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah kapan waktu yang tepat untuk melihat serangga dan mendapatkan foto yang bagus. Clay menjawab dengan semangat bahwa, waktu yang baik untuk melihat serangga adalah pada waktu pagi dan sore, jika ingin mendapatkan foto yang bagus dapat dilakukan pada waktu tersebut atau pada saat malam hari dengan pencahayaan yang cukup. Setelah melakukan presentasi hasil, Clay yang merupakan memberikan ulasan sedikit tentang fotografi serangga kepada peserta. Oleh: Akhmad David Kurnia Putra – Polisi Kehutanan Balai TN. Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Asiknya Arisan Dharma Wanita Balai TN Aketajawe Lolobata

Sofifi, 6 Februari 2019. Mengawali awal bulan dengan liburan keluarga memang mengasikan. Begitulah kegiatan yang dilakukan Ibu-Ibu Dharma Wanita Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) di Ternate pada tanggal 2 Februari 2019. Kegiatan rutin arisan bulanan kali ini dikemas dengan menarik yaitu dengan kegiatan family gathering yang didalamnya terdapat permainan-permainan bagi seluruh keluarga, tak terkecuali anak-anak. Keluarga yang bertempat tinggal di Sofifi berangkat bersama ke Ternate pukul 07.30 WIT menggunakan speed boat. Sampai di Ternate, seluruh keluarga Dharma Wanita berangkat ke tempat wisata pantai Tobololo menggunakan bus milik Dinas Perhubungan. Kurang lebih 30 menit, rombongan 2 (dua) bus tersebut sampai di pantai yang memiliki pemandangan yang indah. Sebelum acara inti di mulai, anak-anak Dharma Wanita diberikan permainan yang seru, salah satunya adalah lari estafet balon. Setelah acara lomba, anak-anak mulai bermain dan berenang di pantai. Ibu-ibu Dharma Wanitapun mulai mengocok arisan. Penutupan acara arisan dan penyerahan hadiah lomba dilaksanakan di tempat wisata Batu Angus. Sembari makan buah durian, hadiah lomba diserahkan langsung oleh Ibu Kepala Balai sebagai Ketua Dharma Wanita Balai TNAL. “Kapan-kapan acara seperti ini kita lakukan di Jawa ya”, seru beberapa Ibu-ibu Dharma Wanita. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polisi Kehutanan Balai TN. Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Keanekaragaman Hayati Tersembunyi Lembah Cilengkrang

Kuningan, 6 Februari 2019. Udara dingin dan kabut tipis yang mulai tersibak sinar mentari perlahan memudar. Kami memulai perjalanan pagi itu (30/01) dengan napas sedikit terengah-engah menjejak jalan yang licin berbatu. Ya, kami menuju lembah di lereng timur gunung Ciremai yakni Lembah Cilengkrang. Lembah Cilengkrang memiliki karunia dengan ragam pesona. Mulai dari pemandangan alam yang indah, curug yang menakjubkan, dan kolam air panas yang memanjakan pengunjung. Konon ceritanya, air panas Lembah Cilengkrang dapat memulihkan rasa capek, pegal, lelah dan lesu serta dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit karena mengandung campuran sulfur dan belerang. Selain pesona tersebut, Lembah Cilengkrang memiliki keanekaragaman hayati baik flora dan fauna. Sobat akan menemui fauna seperti lutung, surili, kupu-kupu, capung, dan burung termasuk sang maskot kita, elang Jawa. Tidak hanya itu, ceritanya ular besar juga masih menghuni lembah ini. Itu berdasarkan penuturan Basir, anggota kelompok Kompepar Pajambon yang telah menjaga Lembah Cilengkrang selama hampir dua dekade. Sobat tidak perlu khawatir terkait itu. Sudah sewajarnya di alam kita akan menemui satwa-satwa tersebut. Justru akan menarik bila kita mampu bertemu. Intinya selama kita tidak mengganggu, kita juga tidak akan diganggu. Selain fauna, sobat juga dapat melihat flora di sini sebagai penambah khazanah keindahan alam. Pengunjung dapat menyaksikan beragam jenis jamur, pinus, puspa, peutag, lame dan jenis lainnya. Untuk pohon Pulai (Lame, red) dapat dijumpai pada jalan setapak tidak jauh dari pintu masuk objek wisata ini. Sobat mesti sudah mafhum wayang golek?. Nah, pohon inilah bahan yang pengrajin gunakan dalam membuatnya. Lembah Cilengkrang tidak hanya alamnya yang indah. Kehidupan fauna dan flora juga menjadi bagian menarik untuk disaksikan. Berkunjunglah ke Lembah Cilengkrang sebagai pengisi kebutuhan liburan. Jangan lupa ya sobat, jadilah pengunjung yang bertanggungjawab bagi alam [Teks & Foto © Gandi, Oman Depe, Awan, Aswad, Adit - BTNGC | 022019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Tingkatkan Kerjasama Pengelolaan, BBTN Lore Lindu Terima Kunjungan Mitra

Palu, 4 Februari 2018. Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) sebagai pengelola kawasan konservasi Taman Nasional Lore Lindu saat ini mengedepankan model pengelolaan kawasannya secara kolaboratif dengan berbagai pihak. Model pengelolaan secara kolaboratif ini seyogyanya perlu didukung dengan upaya peningkatan kerjasama dengan berbagai pihak mulai masyarakat desa/tokoh adat, lembaga swadaya masyarakat dan stakeholder terkait. Untuk itu BBTNLL menerima kunjungan beberapa mitra lembaga masyarakat yaitu Shadiq (Perkumpulan Imunitas), Edy (Yayasan Merah Putih), Joko (Yayasan Pusaka Indonesia) dan Thasia Paulina Ginting (Non-Timber Forest Products Exchange Programme Indonesia/NTFP-EP Indonesia) yang langsung diterima oleh Kepala BBTNLL, Ir. Jusman dan beberapa eselon III dan IV lingkup BBTNLL (4/1). Dalam pertemuan ini disampaikan tujuan dari beberapa lembaga masyarakat ini datang ke TNLL yaitu untuk mensinergikan kegiatan-kegiatannya berupa pemulihan kondisi dan peningkatan kapasitas masyarakat paska gempa bumi di Bulan September lalu di wilayah-wilayah yang bersinggungan dengan kawasan TNLL seperti Desa Salua, Namo dan Bolapopu (Perkumpulan Imunitas, Yayasan Merah Putih, Yayasan Pusaka Indonesia). Juga disampaikan terkait akan dilakukannya riset hasil hutan bukan kayu yang dimanfaatkan oleh masyarakat melalui metode TEBB (The Economic of Ecosystem and Biodiversity) di 8 (delapan) desa sekitar kawasan taman nasional yang pada akhirnya sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan pengelolaan kawasan (NTFP-EP Indonesia). Pada kesempatan ini pula, BBTNLL mempresentasikan revisi zonasi pengelolaan TN Lore Lindu Kabupaten Sigi dan Poso tahun 2018 yang didalamnya telah mengakomodir perkembangan dan dinamika yang ada di masyarakat dan instansi-instansi yang berkepentingan terhadap perkembangan wilayahnya dengan adanya zona tradisional dan zona khusus di dalam kawasan TNLL. Selain itu, menurut Jusman saat ini dalam pengelolaan taman nasional harus lebih adaptif (revisi zonasi) dan memberikan kemanfaatan yang lebih besar untuk lingkungan dan masyarakat sekitar kawasan dengan salah satu upayanya melalui mekanisme kemitraan konservasi. Akhirnya dalam pertemuan ini, Kababes (Jusman) menegaskan mendukung program-program yang akan dilaksanakan oleh pihak-pihak lain dalam membantu peningkatan pengelolaan kawasan TNLL. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

BBKSDA Jabar Dan Yayasan IARI Gelar Sosialisasi Pencegahan Perburuan Satwa Liar

Sebagai salah satu negara Mega Biodiversity, Indonesia memiliki 40 spesies primata dunia, 12% spesies mamalia, 16% amphibi dan reptil, 17% spesies burung, 33 % spesies serangga, 24% spesies fungi dan 10 % varietas tanaman dunia. Tentunya, keragaman hayati tersebut harus terus dilestarikan. Berkaitan dengan hal tersebut, Balai Besar KSDA Jawa Barat bersama-sama dengan Yayasan IAR Indonesia sebagai salah satu mitra yang bergerak di bidang konservasi satwa, pada jum’at tanggal 1 Februari 2019 lalu melakukan kegiatan Sosialisasi Pencegahan Perburuan Satwa Liar. Sosialisasi yang yang juga melibatkan Ditjen Gakkum dan Kader Konservasi Ciamis ini, selain untuk mempublikasikan hasil kerja yang telah dicapai selama kurun waktu 4 tahun kepada masyarakat sekitar Suaka Margasatwa Gunung Sawal, juga ditujukan untuk menggugah kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk berperan aktif dalam membantu pencegahan perburuan. Bertempat di Balai Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis, sosialisasi ini juga mengundang Kepala Desa Ciomas, Kepala Dusun dan Tokoh Masyarakat serta Penggiat Pelestarian alam dan konservasi setempat. Dihadiri sebanyak 35 orang peserta yang merupakan penduduk desa tersebut, sosialisasi menyajikan tiga materi utama di antaranya mengenai Potensi Keragaman Hayati di Wilayah Penyangga Kawasan Konservasi yang disampaikan dari Yayasan IAR Indonesia. Materi kedua mengenai Upaya Konservasi Kawasan SM Gunung Sawal yang disampaikan oleh Didin Syarifudin,S.Sos. selaku Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI. Serta materi terakhir mengenai Penertiban aktifitas masyarakat dalam upaya konservasi yang disampaikan oleh Babinmas Kecamatan Panjalu. Penyampaian materi juga dirangkai dengan sesi diskusi dan Tanya jawab. Diakhir acara Pihak Yayasan IAR Indonesia menyerahkan Papan Himbauan Kawasan SM Gunung Sawal kepada Kepala Desa Ciomas yang nantinya secara bersama-sama dipasang di batas kawasan. Semoga dengan kegiatan ini semakin banyak masyarakat sekitar kawasan yang mengerti arti penting pelestarian satwa liar sehingga turut membantu pencegahan perburuan satwa liar di kasawan konservasi. (HUMAS BBKSDA JABAR)
Baca Berita

Penyelamatan Satwa Ungko di Desa Bandur Picak, Kab Kampar

Pekanbaru, 6 Februari 2019. Kepala Resort Kampar, Salman Yasir beserta anggota atas perintah Kepala Balai Besar KSDA Riau melalui Kepala Bidang KSDA Wilayah II, Heru Sutmantoro melakukan upaya penyelamatan terhadap satwa dilindungi yaitu seekor Ungko (Hylobates agilis). Pada pukul 15.00 WIB, rombongan tiba di kantor Desa Bandur Picak. Tim langsung berkoordinasi dengan perangkat desa dan didampingi Sekretaris Desa menuju lokasi rumah warga yang memelihara satwa ungko tersebut. Tim melakukan penyelamatan dibantu warga setempat, dengan cara dilakukan penggiringan ke kandang. Berdasarkan informasi, Ungko telah dipelihara Sdr. Yusman kurang lebih 9 tahun. Kondisi satwa sehat, berumur sekitar 9 tahun dan memiliki jenis kelamin jantan. Sebelumnya dilaporkan bahwa satwa yang masih berumur 2 tahun sempat menggigit lengan anak tetangga pemelihara. Kondisi korban saat ini telah diberikan pengobatan. Kejadian ini menjadi perhatian serius Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono yang menghimbau kepada warga masyarakat yang gemar memelihara satwa liar untuk segera menyerahkan kepada Balai Besar KSDA Riau. Saat ini satwa telah berada di kandang transit satwa Balai Besar KSDA Riau untuk dilakukan observasi sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Peningkatan Kapasitas Kelompok Masyarakat Pengorganisasian dan Administrasi di Resort 2 Lumban Dolok Seksi PTN Wilayah I Siabu

Siabu, 6 Februari 2019. Peningkatan kualitas sumber daya manusia petani menjadi faktor penting. Dalam suatu organisasi diperlukan fokus dalam peningkatan kapasitas institusi petani khususnya seputar peningkatan kesehatan institusi petani yang menyangkut manajemen (administrasi, keuangan dan kader tani) serta fungsi (sarana produksi, pengelolaan budidaya dan pemasaran). Pelatihan kelompok masyarakat berorientasi pada peningkatan kapasitas yang mampu meningkatkan pendapatan sehingga mereka (masyarakat) mampu menjangkau (akses) terhadap sumber daya, permodalan, teknologi, pasar, serta informasi lain yang diperlukan dalam upaya mewujudkan kemandirian dan kesejahteraannya. Pelatihan ini juga memberikan pemahaman tentang fungsi , tugas dan tanggung jawab dalam berkelompok serta membahas permasalahan yang sering dihadapi kelompok. Dengan kegiatan ini diharapkan kelompok lebih kuat, mandiri serta efektif dalam menjalankan fungsinya sehingga dapat meningkat kesejahteraannya dan hidup harmonis dengan kawasan konservasi dan alam sekitarnya. Sumber: Balai TN Batang gadis
Baca Berita

Dua Tersangka Perdagangan Satli Illegal Berhasil Diamankan BBKSDA Jatim

Surabaya, 6 Februari 2019. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Tim Seksi Konservasi Wilayah III Surabaya bersama Direktorat Polisi Air (Ditpolair) Polda Jatim berhasil mengamankan dua orang tersangka perdagangan satwa liar illegal dengan jenis satwa burung. Berdasarkan keterangan, sejumlah satwa tersebut berasal dari Papua dan Makassar yang diangkut menggunakan KMP Sinabung. Tim melakukan pemantauan sejak pukul 23.00 WIB (5/2) sampai kapal bersandar pada pukul 06.30 WIB (6/2) dengan penyisiran disetiap sudut ruangan kapal. Setelah dilakukan penyisiran sampai penumpang didalam kapal habis, Tim menangkap tangan seorang portir kapal sedang membawa 3 tas plastik yang mencurigakan, setelah dilakukan pemeriksaan terhadap isi tas ternyata isinya berupa satwa burung dari berbagai jenis. Saat ini, satwa burung dititipkan di kandang transit BBKSDA Jatim. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Konservasi Species Anggrek Lokal di SM Pelaihari

Pelaihari, 2 Februari 2019 – Usaha merealisasikan rencana pengembangan anggrek lokal, maka telah dilaksanakan pertemuan rutin para pejuang konservasi anggrek “Kelompok Amabilis Lestari” di Kabupaten Tanah Laut. Pertemuan ini sebagai sarana silaturahmi dan berbagi informasi serta pengetahuan terkait budidaya anggrek lokal. Kelompok yang dibentuk Nopember 2018 ini juga membahas program-program kerja kelompok terkait pelestarian anggrek. Pada pertemuan ini, Kelompok Amabilis Lestari yang berada di bawah naungan dan binaan Balai KSDA Kalimantan Selatan lebih memfokuskan pada penguatan kelembagaan serta aturan kelompok. Susunan pengurus yang terdiri dari ketua: Hermanto, sekretaris: Suliyo, dan bendahara: Syarnidah, kemudian ditambah dan dipilih seksi humas: Patnur dan seksi penelitian dan pengembangan: Noor Ipansyah untuk membantu kelompok dalam menjalankan dan mengembangkan program kerja. Hermanto selaku ketua Kelompok Amabilis Lestari juga menyampaikan harapannya melalui kelompok ini dapat mengembalikan dan mengembangkan populasi Anggrek Bulan Pelaihari (Phalaenopsis amabilis) yang keberadaannya langka untuk bisa menjadi spesies yang mudah ditemui di wilayah Tanah Laut. Kemudian juga dukungan penuh Balai KSDA Kalimantan Selatan sangat diharapkan dalam upaya pelestarian Anggrek Bulan Pelaihari (Phalaenopsis amabilis) dan Anggrek Spesies Meratus yang merupakan misi utama Kelompok Amabilis Lestari. Pertemuan kelompok Amabilis Lestari juga dihadiri petugas dari Balai KSDA Kalimantan Selatan, Akhmad Fauzan, S.Hut selaku Kepala Resort SM Pelaihari. Pada kesempatan ini disampaikan arahan dan harapan Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc tekait upaya pelestarian dan konservasi anggrek yang dilakukan oleh kelompok ini. Kepala Balai sangat mendukung upaya yang telah dilakukan oleh penggiat konservasi anggrek yang tergabung dalam kelompok Amabilis Lestari dimana peranannya sangat diharapkan dalam pelestarian Anggrek Bulan Pelaihari (Phalaenopsis amabilis) dan Anggrek Spesies Meratus Kalimantan Selatan. Peran parapihak dan instansi terkait sangat penting untuk dilibatkan dalam kegiatan ini. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

BBKSDA Sumut Entry Meeting BPK RI

Medan, 4 Februari 2019. Tim Audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI direncanakan akan melakukan pemeriksaan keuangan di jajaran lingkup satker UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Propinsi Sumatera Utara, beserta dengan Dinas Kehutanan dan Dinas Lingkungan Hidup Propinsi Sumatera Utara. Sebelum pemeriksaan, dilakukan entry meeting, pada Senin, 4 Februari 2019, bertempat di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara, selaku koordinator wilayah UPT lingkup Kementerian LHK Propinsi Sumatera Utara. Entry meeting oleh Tim Audit BPK RI dihadiri Inspektur Wilayah I Itjen KLHK, Sekretaris Direktorat Jenderal Penegakan Hukum KLHK, Sekretaris Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan KLHK, Sekretaris Direktorat Jenderal PHPL KLHK, para Kepala Satker UPT Kementerian LHK lingkup Propinsi Sumatera Utara, Kepala Bidang Pengusahaan Hutan Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara dan Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Propinsi Sumatera Utara. Inspektur Wilayah I Itjen KLHK, Irmansyah, dalam arahannya menyampaikan bahwa Tim Audit BPK RI akan melakukan uji petik terkait pemeriksaan keuangan di wilayah Sumatera Utara, oleh karena itu diharapkan seluruh satker UPT lingkup Kementerian LHK Propinsi Sumatera Utara agar kooperatif, sehingga pemeriksaan berjalan dengan lancar. Sementara itu, Ketua Tim BPK RI, Eden Muharamsyah, dalam pengantarnya menguraikan tugas pokok dan fungsi BPK RI. Dan tujuan utama kedatangan Tim Auditor adalah dalam rangka penilaian untuk pemberian Opini Keuangan tahun 2018, dimana pada tahun 2017 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mendapat penilaian Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), jelas Eden “Dengan menjunjung tinggi integritas, independent dan profesionalisme, mari bantu kami Tim Audit BPK RI dalam proses pemeriksaan ini, sehingga berjalan dengan baik dan sesuai dengan jadwal yang ditentukan,” ujar Eden. Kegiatan pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK RI akan berlangsung dari tanggal 3 s.d 16 Februari 2019. (Evan). Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Sang Perawat Satwa pun Tak Lupa Mengajari Anaknya Menanam

Pekanbaru, 4 Februari 2019. Bagi seorang Mahout atau biasa dikenal perawat satwa, tiada hari libur untuk mengangon satwanya. Begitu juga perawat satwa Gajah Sumatera di PLG Duri Sebanga, Kab. Bengkalis. Disela kesibukannya Sang Perawat satwa masih punya waktu untuk mengajari anak-anak mereka menanam pohon di sekeliling lingkungan tempat tinggalnya. Sabtu, 2 Februari 2019 di cuaca yang cerah, anak-anak antusias ikut menanam pohon untuk penghijauan. Dengan semboyan ONE MAN ONE HUNDRED TREE mereka menanam pohon kayu Pulai dan Mahoni. Mari sahabat konservasi, jangan kalah kita dengan mereka. Yuk kita mulai tanam sebanyak yang kita bisa! Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Riangnya Pramuka Berkemah Di TWA Buluh Cina

Pekanbaru, 4 Februari 2019. Selama tiga hari yaitu hari Jum'at sampai Minggu, tanggal 1 sampai dengan tanggal 3 Februari 2019, TWA Buluh Cina ramai dengan kehadiran para Pramuka SMP Advent Pasir Putih yang tengah melakukan kegiatan Perkemahan Pramuka Pathfinder. Sekitar 200 orang yang hadir sangat antusias melakukan kegiatan dengan suguhan tujuh danau, pepohonan rindang dan lukisan alam yang menawan serta kearifan lokal yang sangat menakjubkan. Banyak kegiatan dilakukan, disamping pembelajaran Kepramukaan dan penelusuran kawasan, Kepala Resort TWA Buluh Cina, M. Hendri terlebih dahulu memberikan pelajaran konservasi dan memperkenalkan jenis jenis satwa yang dilindungi. Mengajak anak-anak muda sebagai generasi penerus bangsa untuk mencintai dan melestarikan hutan sebagai paru-paru dunia. Para peserta yang hadir sangat antusias dengan mengajukan banyak pertanyaan. Semoga ini menjadi harapan untuk menyakinkan kepada generasi muda akan pentingnya peran mereka dalam konservasi dan pelestarian alam ya. Yuuk kita ramai ramai ke TWA Buluh Cina.... CONSERVATION... everyone can do it!!! Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Evakuasi dan Release Lumba Lumba

Kisaran, 4 Februari 2019. Pada Minggu, 27 Januari 2019, Balai Besar KSDA Sumatera Utara mendapat informasi munculnya 2 (dua) individu lumba-lumba di Sungai Kualuh, tepatnya di Dusun Ramean Desa Kuala Beringin Kecamatan Kualuh Hulu Kabupaten Labuhanbatu Utara. Menindaklanjuti informasi tersebut, petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang Konservasi Wilayah II Pematangsiantar segera melakukan peninjauan lapangan guna pengumpulan data dan keterangan. Dari hasil identifikasi Tim Bidang Konservasi Wilayah II Pematangsiantar diketahuilah bahwa jenis lumba-lumba tersebut adalah Lumba-lumba Bongkok Indo-Pasifik (Sousa chinensis), dan titik ditemukannya berada pada posisi N 02.50344? dan E 099.52361?. Selanjutnya Balai Besar KSDA Sumatera Utara berkoordinasi dengan lembaga JAAN (Jakarta Animal Aid Network) dan Dolphin Project guna membantu proses penanganan dan penyelamatan lumba-lumba tersebut. Pada Selasa, 29 Januari 2019, tersiar informasi bahwa 1 (satu) dari 2 individu lumba-lumba tersebut sudah tidak kelihatan (tidak muncul lagi). Informasi ini kemudian direspon oleh Tim Gabungan dari Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, JAAN, Dolphin Project, Unit KPH Wilayah V Aek Kanopan, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang dan Satker Medan, Satuan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Asahan Tanjung Balai, Dinas Pertanian Labuhanbatu Utara, serta beberapa instansi lainnya dengan menyusun rencana dan strategi penanganan lumba-lumba tersebut. Hari Rabu, 30 Januari 2019, sekitar pukul 18.00 WIB, Tim mendapat informasi warga menemukan lumba-lumba yang hilang dalam kondisi mati, dengan posisi sekitar 1 km ke arah hilir dari lokasi lumba-lumba yang masih hidup. Selanjutnya Tim segera melakukan evakuasi terhadap bangkai lumba-lumba tersebut dengan menggunakan perahu boat dan membawanya ke darat. Hasil pemeriksaan medis dari Dolphin Project, ditemukan luka-luka di sekujur tubuh bangkai lumba-lumba dan terdapat luka traumatik di bagian blowhole. Evakuasi dilanjutkan dengan membawa dan menguburkan bangkai lumba-lumba tersebut di halaman Kantor Unit KPH Wilayah V Aek Kanopan, setelah sebelumnya dilakukan nekropsi dengan membedah perut lumba-lumba. Sedangkan terhadap lumba-lumba yang masih hidup, dilaksanakan pada keesokan harinya, Kamis 31 Januari 2019. Proses evakuasi dimulai pukul 14.30 wib dengan cara digiring menggunakan jaring menuju ke area dangkal. Sekitar pukul 16.15 wib, setelah 18 kali percobaan, akhirnya lumba-lumba bisa ditangkap dengan jaring tanpa melukai tubuhnya. Dengan menggunakan kapal kecil, Tim mengevakuasi lumba-lumba ke darat, untuk kemudian membawanya ke lokasi perkantoran Bupati dengan kendaraan mobil pick-up. Lokasi perkantoran Bupati dipilih untuk menghindari kerumunan massa dan agar lumba-lumba juga tidak stress. Setelah mendapatkan tindakan medis, tim medis/vet merekomendasikan agar segera dirilis di perairan payau, mengingat lumba-lumba sudah terlalu lama di air tawar serta untuk memudahkan proses adaptasi kembali dengan habitat aslinya. Pukul 20.00 wib, Tim menuju lokasi release di Muara Tanjung Balai yang berjarak tempuh 3 jam. Pertimbangan lokasi rilis, dalam 2 minggu terakhir sering tampak rombongan lumba-lumba jenis ini di perairan Muara Tanjung Balai dan Muara Kualuh, sehingga diharapkan lumba-lumba bisa segera bertemu dengan kelompoknya. Pelepasliaran 1 (satu) individu lumba-lumba jenis Sousa chinensisberukuran 159 Cm berkelamin jantan di Muara Tanjung Balai, tengah malam Kamis, 31 Januari 2019. Selanjutnya pasca release, tim masih akan terus melakukan monitoring sampai beberapa hari kedepan untuk memantau dan memastikan lumba-lumba tersebut selamat dan survive.(Presli dan Tim JAAN) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Si Sisik Terjerat Jaring, Rudi : Saya Temukan Di Belakang Rumah

Dusun Tile-tile - Kepulauan Selayar, 04 Februari 2019. Rudi staf balai TN. Taka Bonerate yang sekaligus warga dusun Tile-tile, desa Patikarya Kecamatan Bontosiku Kabupaten Kepulauan Selayar, menemukan Penyu jenis sisik yang terjerat oleh jaring di pantai belakang rumahnya (02/02). "Saya temukan di belakang rumah terjerat jaring, sekitar jam 2 siang tadi, kondisinya sehat" jelas Rudi via WhatsApp Call Center (0811-418-481) Rudi membantu melepaskan penyu dari jeratan jaring dan melakukan pengukuran karapas (punggung), dengan panjang 32 cm lebar 30 cm. Setelah itu, penyu dilepaskannya kembali ke habitat (laut). Sekedar informasi bahwa penyu sisik ini dilindungi oleh undang-undang dan masuk dalam bioata laut yang terancam punah. Berdasarkan ketentuan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), semua jenis penyu laut telah dimasukan dalam appendix I yang artinya perdagangan internasional penyu untuk tujuan komersil juga dilarang. Badan Konservasi dunia IUCN memasukan penyu sisik ke dalam daftar spesies yang sangat terancam punah. Sedangkan penyu hijau , penyu lekang, dan penyu tempayan digolongkan sebagai terancam punah. Pemanfaatan jenis satwa dilindungi hanya diperbolehkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan dan penyelamatan jenis satwa yang bersangkutan. Jika menemukan biota atau jenis satwa yang dilindungi, bisa menghubungi call center kami. Sumber : Asri - PEH Balai TN. Taka Bonerate Foto : Rudi - Staf Balai TN. Taka Bonerate
Baca Berita

Saka Wana Bakti Selayar Peringati Hari Lahan Basah Se-Dunia

Salam Pramuka!!! Taman Mangrove - Kepulauan Selayar, 04 Februari 2019. Setiap Tanggal 02 Februari diperingati Hari Lahan Basah Se-Dunia. Timbul pertanyaan apa sih lahan basah itu?? Apakah itu penting?? Lahan basah adalah wilayah daratan yang digenangi air atau memiliki kandungan air yang tinggi, baik permanen maupun musiman. Ekosistemnya mencakup rawa, danau, sungai, hutan mangrove, hutan gambut, hutan banjir, limpasan banjir, pesisir, sawah, hingga terumbu karang. Lahan basah memiliki peran penting dalam kehidupan umat manusia. Ekosistemnya menyediakan air bersih, keanekaragaman hayati, pangan, berbagai material, mengendalikan banjir, menyimpan cadangan air tanah, dan mitigasi perubahan iklim. Karena ini penting maka pada tanggal 03/02 Pramuka binaan Balai TN. Taka Bonerate Saka Wana Bakti Cabang Kepulauan Selayar memperingatinya dengan cara melaksanakan Sosialisasi Tentang Pentingnya Ekosistem Lahan Basah, Diskusi Kelompok dan sharing pengetahuan tentang lahan basah kepada para anggota yang tergabung. Tema pun disesuaikan dengan kondisi sekarang yaitu akhir-akhir ini negeri kita sering dilanda bencana alam maka tema yang diangkat adalah "Lahan Basah yang Bersih Bagi Pengurangan Resiko Bencana" Bertempat di Taman Mangrove Matalalang, Kecamatan Bontoharu Kab. Kepulauan Selayar. Tak kurang dari 30 anggota Pramuka Saka Wana Bakti Cab. Kep. Selayar yang hadir. "Kami ucapkan banyak terima kasih kepada Balai TN. Taka Bonerate sebagai pembina kami serta pemateri hari ini, kak Imam dan kak Asep" Ucap Kak Marwan Pamong Saka. Menurutnya kedepan akan diadakan kegiatan aksi bersih pantai sambil melihat kondisi cuaca jika angin musim barat sudah redah. Dari kegiatan hari ini diharapkan adik-adik binaan akan menjadi penyambung pesan-pesan konservasi ke lingkungan sekitarnya dan penyelamat lingkungan. Sumber : Asri - PEH Balai TN. Taka Bonerate Foto : Dok. Saka Wana Bakti Kepulauan Selayar
Baca Berita

Gambar Dan Dongeng Pengantar Cinta Alam

Kuningan, 3 Februari 2019. "Sang Kancil makan sangat lahap. Dia merasa senang sekali. Karena selepas hujan, rerumputan tumbuh subur. Beda dengan musim kemarau, semua tumbuhan mengering", kata seorang anak dihadapan penonton dan juri lomba dongeng 'mencintai alam dan lingkungan' kemarin (29/01). Ujang, salah satu siswa sekolah dasar peserta lomba dongeng yang berlangsung di wisata alam Pajaten, desa Kaduela, Pasawahan, Kuningan, Jawa Barat. Dia senang ikut lomba ini karena bisa berbagi cerita dongeng dengan teman yang berbeda sekolah. Acara ini dimeriahkan juga oleh siswa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Anak PAUD mengikuti lomba menggambar pemandangan. Gunung, pepohonan, sawah, dan sungai digambarkan lucu dengan warna warni khas anak-anak. Sejak pagi peserta sudah siap tampil untuk menunjukan kemampuan terbaiknya. Mereka tampak sangat antusias mengikuti perlombaan. Wajah imut anak-anak itu begitu ceria mengikuti sesi demi sesi acara. Hampir semua peserta lomba dongeng sudah menguasai isi cerita yang dibawakan. Tak hanya itu, peserta juga melakukan gerakan dan menirukan suara tokoh dongeng "fabel" atau dongeng dunia binatang. Kancil, monyet, macan, dan buaya ialah tokoh dongeng yang sering diceritakan. "Aum..., sang raja rimba menggelegar", ujar salah satu peserta menirukan suara dan tingkah macan. Ekspresi imut semacam ini saat menirukan suara dan tingkah binatang membuat penonton tertawa dan larut dalam dongeng. Cerita dongeng yang disajikan memang ringan. Namun peserta mampu mengemas dongeng tersebut tanpa mengurangi pesan moral yang ada pada isi cerita. Kita tahu, ada banyak makna yang bisa kita ambil dari sebuah dongeng. Misalnya sifat baik seperti penolong dan jujur yang patut kita tiru. Ada pula sifat tak terpuji seperti serakah dan pembohong yang mesti kita jauhi. "Acara ini sangat bagus untuk pengenalan cinta alam sejak dini kepada siswa. Semoga tahun depan, kita mampu mengajak siswa yang lebih banyak. Mungkin semua sekolah di dua atau tiga kecamatan", kata San Andre, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Kuningan melalui Sirod, Kepala Resor Jasa Lingkungan. Nenek moyang kita menggunakan dongeng untuk menyampaikan informasi atau kejadian. Oleh karenannya, dongeng termasuk budaya bangsa kita. So, mari kita lestarikan dongeng [Teks & Foto © Oom - BTNGC | 022019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai

Menampilkan 6.209–6.224 dari 11.140 publikasi