Sabtu, 20 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Mulai Menampakkan Diri, Begini Wajah “The Invisible Raill” di TN. Aketajawe Lolobata

Sofifi, 8 Februari 2019. The Invisible Raill, begitulah penyebutan burung dengan nama Indonesia Mandar Gendang ini. Dahulu burung endemik Pulau Halmahera ini disebut dengan Drummer rail namun karena catatannya sedikit dan sangat sulit untuk dijumpai menjadikan ”The Invisible Raill” menjadi nama populernya sekarang. Burung ini pernah menjadi artis perangko Pos Indonesia pada tahun 2012. Disebut Mandar Gendang, karena memiliki suara yang serupa dengan tabuhan genderang dengan iringan suara lainnya seperti bebek. Suara tersebut sangat keras dan riuh, sehingga bisa terdengar dengan mudah oleh pengamat burung. Mandar Gendang memiliki paruh dan kaki berwarna jingga (orange), selebihnya warna hitam menyelimuti seluruh bagian tubuhnya. Akhirnya burung dengan status Rentan (IUCN) ini terdokumentasi oleh petugas Resort Ake Jawi (dulu Resort Binagara) untuk ke-dua kalinya setelah tahun 2017 lalu. Berawal dari kegiatan rutin petugas Resort yang mendapatkan informasi dari pemandu wisata yang melewati jalur pengamatan Bidadari Halmahera, bahwa mereka beberapa kali mendengar suara Mandar Gendang pada jalur tersebut. Maka diputuskan untuk menunggu burung misterius ini di jalur sesuai info tersebut. Hari Selasa, 5 Februari 2019, setelah beberapa jam menunggu sambil mengamati Paok Maluku Utara, keluarga Red bellied Pitta, sekitar pukul 11.00 WIT David, Adriel, dan Alim mendengar suara Mandar Gendang. Bergegaslah membuat tempat bersembunyi agar tidak terlihat dan dapat mengambil dokumentasi burung yang sensitive dan pemalu ini. Walaupun melintasi semak-semak dengan jarak pandang yang cukup jauh, burung endemik tersebut berhasil didokumentasikan oleh petugas resort yang juga seorang Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Petugas resort sangat senang sekali. “Subhanallah keren banged Drieeeel”, seru David. Keesokan harinya hujan mengguyur kawasan Resort Ake Jawi, maka kegiatan pengamatan ditunda pada hari berikutnya. Hari Kamis, pengamatan burung dengan nama latin Habroptila wallacii kembali dilakukan, kali ini tenaga teknis konservasi juga ikut untuk mendokumentasikannya berupa video. Akhirnya Sang Mandar kembali dijumpai pada tempat yang sama sebanyak 2 (dua) ekor. “Kita tidak boleh meninggalkan Mandar, ini kesempatan agar dia bisa teramati di jalur ini dan selalu bisa dijumpai Om Dave”, kata Adriel kepada David. Sampai berita ini di tulis, petugas Resort Ake Jawi, Adriel, dan Mahroji masih melakukan monitoring Mandar Gendang. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polisi Kehutanan Balai TN. Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Ekspedisi Baladewa Temukan 17 Genus Anggrek di Bawean

Sidoarjo, 8 Februari 2019. Ekspedisi Baladewa – Kelompok Pecinta Alam Biolaska - UIN Yogyakarta, 14 - 28 Januari 2019 yang lalu ternyata cukup mampu menggali sebagian kekayaan Pulau Bawean, utamanya kawasan konservasi. Selama di Bawean, tim eksplorasi Anggrek melakukan inventarisasi di dalam kawasan cagar alam dan suaka margasatwa. Namun demikian tidak keseluruhan kawasan dijelajahi, hanya beberapa lokasi saja yang diambil sebagai samplingnya. Adalah Gunung Balumbung, Gunung Nangka, dan Gunung Gadung, yang sebagian besar berada di Blok Gunung Besar. Pada lokasi-lokasi tersebut tim eksplorasi berhasil menemukan setidaknya 28 jenis anggrek. Dari jenis anggrek tersebut masuk ke dalam 17 genus. Pada genus Nervilia didapatkan tiga jenis spesies diantaranya Nervilia plicata, Nervilia punctata, dan Nervilia aragoana. Kemudian genus yang lain diantaranya Bulbophylum, Dendrobium, Eria, Rhincostylis, Vanda, Malaxis, Kingidium, Polidhota, Peristylus, Cymbidium, Phalaenopsis, Geodorum, dan Disperis. Sedangkan berdasarkan tipe pertumbuhannya, 17 jenis yang hidup dengan epifit yaitu menempel pada inang, dan 11 jenis merupakan anggrek teresterial (anggrek tanah). Dengan lokasi sampling yang hanya pada satu blok saja, maka eksplorasi terhadap keanekaragaman anggrek di kawasan konservasi Pulau Bawean hanya beberapa persen saja yang tergali. Kedepan diharapkan adanya eksplorasi-eksplorasi lain yang akan lebih menggali kekayaan flora di Pulau Bawean. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Ini Jenis Serangga Hasil Presentasi WNA di TN Aketajawe Lolobata

Sofifi, 6 Februari 2019. Hampir satu minggu melakukan kegiatan di Resort Tayawi, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), dua pengunjung dari Amerika dan satu pengunjung dari Australia mendokumentasikan beberapa jenis serangga. Dalam presentasinya di kantor Balai TNAL pada tanggal 1 Februari 2019, ketiga wisatawan tersebut mengatakan bahwa masih banyak jenis lebah di TNAL yang belum teridentifikasi. Mereka mengelompokkan jenis foto serangga berdasarkan keluarga, antara lain lebah, semut, kupu-kupu, belalang, dan lainnya. “Kami yakin masih terdapat banyak jenis serangga yang masih belum teridentifikasi”, kata Clay, salah satu pengunjung (terjemahan). Clay juga menyebutkan bahwa kawasan TNAL yang berada dalam garis Wallacea merupakan tempat yang kaya akan keanekaragaman hayati dan sangat diminati oleh peneliti-peneliti di Eropa dan Australia. Pemaparan tersebut dihadiri oleh Kepala Balai beserta pejabat struktural dan pejabat fungsional. Peserta pemaparan sangat antusias, karena kunjungan dan dokumentasi jenis lebah dan serangga lainnya di dalam kawasan TNAL merupakan suatu hal yang baru. Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah kapan waktu yang tepat untuk melihat serangga dan mendapatkan foto yang bagus. Clay menjawab dengan semangat bahwa, waktu yang baik untuk melihat serangga adalah pada waktu pagi dan sore, jika ingin mendapatkan foto yang bagus dapat dilakukan pada waktu tersebut atau pada saat malam hari dengan pencahayaan yang cukup. Setelah melakukan presentasi hasil, Clay yang merupakan memberikan ulasan sedikit tentang fotografi serangga kepada peserta. Oleh: Akhmad David Kurnia Putra – Polisi Kehutanan Balai TN. Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Asiknya Arisan Dharma Wanita Balai TN Aketajawe Lolobata

Sofifi, 6 Februari 2019. Mengawali awal bulan dengan liburan keluarga memang mengasikan. Begitulah kegiatan yang dilakukan Ibu-Ibu Dharma Wanita Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) di Ternate pada tanggal 2 Februari 2019. Kegiatan rutin arisan bulanan kali ini dikemas dengan menarik yaitu dengan kegiatan family gathering yang didalamnya terdapat permainan-permainan bagi seluruh keluarga, tak terkecuali anak-anak. Keluarga yang bertempat tinggal di Sofifi berangkat bersama ke Ternate pukul 07.30 WIT menggunakan speed boat. Sampai di Ternate, seluruh keluarga Dharma Wanita berangkat ke tempat wisata pantai Tobololo menggunakan bus milik Dinas Perhubungan. Kurang lebih 30 menit, rombongan 2 (dua) bus tersebut sampai di pantai yang memiliki pemandangan yang indah. Sebelum acara inti di mulai, anak-anak Dharma Wanita diberikan permainan yang seru, salah satunya adalah lari estafet balon. Setelah acara lomba, anak-anak mulai bermain dan berenang di pantai. Ibu-ibu Dharma Wanitapun mulai mengocok arisan. Penutupan acara arisan dan penyerahan hadiah lomba dilaksanakan di tempat wisata Batu Angus. Sembari makan buah durian, hadiah lomba diserahkan langsung oleh Ibu Kepala Balai sebagai Ketua Dharma Wanita Balai TNAL. “Kapan-kapan acara seperti ini kita lakukan di Jawa ya”, seru beberapa Ibu-ibu Dharma Wanita. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polisi Kehutanan Balai TN. Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Keanekaragaman Hayati Tersembunyi Lembah Cilengkrang

Kuningan, 6 Februari 2019. Udara dingin dan kabut tipis yang mulai tersibak sinar mentari perlahan memudar. Kami memulai perjalanan pagi itu (30/01) dengan napas sedikit terengah-engah menjejak jalan yang licin berbatu. Ya, kami menuju lembah di lereng timur gunung Ciremai yakni Lembah Cilengkrang. Lembah Cilengkrang memiliki karunia dengan ragam pesona. Mulai dari pemandangan alam yang indah, curug yang menakjubkan, dan kolam air panas yang memanjakan pengunjung. Konon ceritanya, air panas Lembah Cilengkrang dapat memulihkan rasa capek, pegal, lelah dan lesu serta dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit karena mengandung campuran sulfur dan belerang. Selain pesona tersebut, Lembah Cilengkrang memiliki keanekaragaman hayati baik flora dan fauna. Sobat akan menemui fauna seperti lutung, surili, kupu-kupu, capung, dan burung termasuk sang maskot kita, elang Jawa. Tidak hanya itu, ceritanya ular besar juga masih menghuni lembah ini. Itu berdasarkan penuturan Basir, anggota kelompok Kompepar Pajambon yang telah menjaga Lembah Cilengkrang selama hampir dua dekade. Sobat tidak perlu khawatir terkait itu. Sudah sewajarnya di alam kita akan menemui satwa-satwa tersebut. Justru akan menarik bila kita mampu bertemu. Intinya selama kita tidak mengganggu, kita juga tidak akan diganggu. Selain fauna, sobat juga dapat melihat flora di sini sebagai penambah khazanah keindahan alam. Pengunjung dapat menyaksikan beragam jenis jamur, pinus, puspa, peutag, lame dan jenis lainnya. Untuk pohon Pulai (Lame, red) dapat dijumpai pada jalan setapak tidak jauh dari pintu masuk objek wisata ini. Sobat mesti sudah mafhum wayang golek?. Nah, pohon inilah bahan yang pengrajin gunakan dalam membuatnya. Lembah Cilengkrang tidak hanya alamnya yang indah. Kehidupan fauna dan flora juga menjadi bagian menarik untuk disaksikan. Berkunjunglah ke Lembah Cilengkrang sebagai pengisi kebutuhan liburan. Jangan lupa ya sobat, jadilah pengunjung yang bertanggungjawab bagi alam [Teks & Foto © Gandi, Oman Depe, Awan, Aswad, Adit - BTNGC | 022019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Tingkatkan Kerjasama Pengelolaan, BBTN Lore Lindu Terima Kunjungan Mitra

Palu, 4 Februari 2018. Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) sebagai pengelola kawasan konservasi Taman Nasional Lore Lindu saat ini mengedepankan model pengelolaan kawasannya secara kolaboratif dengan berbagai pihak. Model pengelolaan secara kolaboratif ini seyogyanya perlu didukung dengan upaya peningkatan kerjasama dengan berbagai pihak mulai masyarakat desa/tokoh adat, lembaga swadaya masyarakat dan stakeholder terkait. Untuk itu BBTNLL menerima kunjungan beberapa mitra lembaga masyarakat yaitu Shadiq (Perkumpulan Imunitas), Edy (Yayasan Merah Putih), Joko (Yayasan Pusaka Indonesia) dan Thasia Paulina Ginting (Non-Timber Forest Products Exchange Programme Indonesia/NTFP-EP Indonesia) yang langsung diterima oleh Kepala BBTNLL, Ir. Jusman dan beberapa eselon III dan IV lingkup BBTNLL (4/1). Dalam pertemuan ini disampaikan tujuan dari beberapa lembaga masyarakat ini datang ke TNLL yaitu untuk mensinergikan kegiatan-kegiatannya berupa pemulihan kondisi dan peningkatan kapasitas masyarakat paska gempa bumi di Bulan September lalu di wilayah-wilayah yang bersinggungan dengan kawasan TNLL seperti Desa Salua, Namo dan Bolapopu (Perkumpulan Imunitas, Yayasan Merah Putih, Yayasan Pusaka Indonesia). Juga disampaikan terkait akan dilakukannya riset hasil hutan bukan kayu yang dimanfaatkan oleh masyarakat melalui metode TEBB (The Economic of Ecosystem and Biodiversity) di 8 (delapan) desa sekitar kawasan taman nasional yang pada akhirnya sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan pengelolaan kawasan (NTFP-EP Indonesia). Pada kesempatan ini pula, BBTNLL mempresentasikan revisi zonasi pengelolaan TN Lore Lindu Kabupaten Sigi dan Poso tahun 2018 yang didalamnya telah mengakomodir perkembangan dan dinamika yang ada di masyarakat dan instansi-instansi yang berkepentingan terhadap perkembangan wilayahnya dengan adanya zona tradisional dan zona khusus di dalam kawasan TNLL. Selain itu, menurut Jusman saat ini dalam pengelolaan taman nasional harus lebih adaptif (revisi zonasi) dan memberikan kemanfaatan yang lebih besar untuk lingkungan dan masyarakat sekitar kawasan dengan salah satu upayanya melalui mekanisme kemitraan konservasi. Akhirnya dalam pertemuan ini, Kababes (Jusman) menegaskan mendukung program-program yang akan dilaksanakan oleh pihak-pihak lain dalam membantu peningkatan pengelolaan kawasan TNLL. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

BBKSDA Jabar Dan Yayasan IARI Gelar Sosialisasi Pencegahan Perburuan Satwa Liar

Sebagai salah satu negara Mega Biodiversity, Indonesia memiliki 40 spesies primata dunia, 12% spesies mamalia, 16% amphibi dan reptil, 17% spesies burung, 33 % spesies serangga, 24% spesies fungi dan 10 % varietas tanaman dunia. Tentunya, keragaman hayati tersebut harus terus dilestarikan. Berkaitan dengan hal tersebut, Balai Besar KSDA Jawa Barat bersama-sama dengan Yayasan IAR Indonesia sebagai salah satu mitra yang bergerak di bidang konservasi satwa, pada jum’at tanggal 1 Februari 2019 lalu melakukan kegiatan Sosialisasi Pencegahan Perburuan Satwa Liar. Sosialisasi yang yang juga melibatkan Ditjen Gakkum dan Kader Konservasi Ciamis ini, selain untuk mempublikasikan hasil kerja yang telah dicapai selama kurun waktu 4 tahun kepada masyarakat sekitar Suaka Margasatwa Gunung Sawal, juga ditujukan untuk menggugah kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk berperan aktif dalam membantu pencegahan perburuan. Bertempat di Balai Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu Kabupaten Ciamis, sosialisasi ini juga mengundang Kepala Desa Ciomas, Kepala Dusun dan Tokoh Masyarakat serta Penggiat Pelestarian alam dan konservasi setempat. Dihadiri sebanyak 35 orang peserta yang merupakan penduduk desa tersebut, sosialisasi menyajikan tiga materi utama di antaranya mengenai Potensi Keragaman Hayati di Wilayah Penyangga Kawasan Konservasi yang disampaikan dari Yayasan IAR Indonesia. Materi kedua mengenai Upaya Konservasi Kawasan SM Gunung Sawal yang disampaikan oleh Didin Syarifudin,S.Sos. selaku Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI. Serta materi terakhir mengenai Penertiban aktifitas masyarakat dalam upaya konservasi yang disampaikan oleh Babinmas Kecamatan Panjalu. Penyampaian materi juga dirangkai dengan sesi diskusi dan Tanya jawab. Diakhir acara Pihak Yayasan IAR Indonesia menyerahkan Papan Himbauan Kawasan SM Gunung Sawal kepada Kepala Desa Ciomas yang nantinya secara bersama-sama dipasang di batas kawasan. Semoga dengan kegiatan ini semakin banyak masyarakat sekitar kawasan yang mengerti arti penting pelestarian satwa liar sehingga turut membantu pencegahan perburuan satwa liar di kasawan konservasi. (HUMAS BBKSDA JABAR)
Baca Berita

Penyelamatan Satwa Ungko di Desa Bandur Picak, Kab Kampar

Pekanbaru, 6 Februari 2019. Kepala Resort Kampar, Salman Yasir beserta anggota atas perintah Kepala Balai Besar KSDA Riau melalui Kepala Bidang KSDA Wilayah II, Heru Sutmantoro melakukan upaya penyelamatan terhadap satwa dilindungi yaitu seekor Ungko (Hylobates agilis). Pada pukul 15.00 WIB, rombongan tiba di kantor Desa Bandur Picak. Tim langsung berkoordinasi dengan perangkat desa dan didampingi Sekretaris Desa menuju lokasi rumah warga yang memelihara satwa ungko tersebut. Tim melakukan penyelamatan dibantu warga setempat, dengan cara dilakukan penggiringan ke kandang. Berdasarkan informasi, Ungko telah dipelihara Sdr. Yusman kurang lebih 9 tahun. Kondisi satwa sehat, berumur sekitar 9 tahun dan memiliki jenis kelamin jantan. Sebelumnya dilaporkan bahwa satwa yang masih berumur 2 tahun sempat menggigit lengan anak tetangga pemelihara. Kondisi korban saat ini telah diberikan pengobatan. Kejadian ini menjadi perhatian serius Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono yang menghimbau kepada warga masyarakat yang gemar memelihara satwa liar untuk segera menyerahkan kepada Balai Besar KSDA Riau. Saat ini satwa telah berada di kandang transit satwa Balai Besar KSDA Riau untuk dilakukan observasi sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Peningkatan Kapasitas Kelompok Masyarakat Pengorganisasian dan Administrasi di Resort 2 Lumban Dolok Seksi PTN Wilayah I Siabu

Siabu, 6 Februari 2019. Peningkatan kualitas sumber daya manusia petani menjadi faktor penting. Dalam suatu organisasi diperlukan fokus dalam peningkatan kapasitas institusi petani khususnya seputar peningkatan kesehatan institusi petani yang menyangkut manajemen (administrasi, keuangan dan kader tani) serta fungsi (sarana produksi, pengelolaan budidaya dan pemasaran). Pelatihan kelompok masyarakat berorientasi pada peningkatan kapasitas yang mampu meningkatkan pendapatan sehingga mereka (masyarakat) mampu menjangkau (akses) terhadap sumber daya, permodalan, teknologi, pasar, serta informasi lain yang diperlukan dalam upaya mewujudkan kemandirian dan kesejahteraannya. Pelatihan ini juga memberikan pemahaman tentang fungsi , tugas dan tanggung jawab dalam berkelompok serta membahas permasalahan yang sering dihadapi kelompok. Dengan kegiatan ini diharapkan kelompok lebih kuat, mandiri serta efektif dalam menjalankan fungsinya sehingga dapat meningkat kesejahteraannya dan hidup harmonis dengan kawasan konservasi dan alam sekitarnya. Sumber: Balai TN Batang gadis
Baca Berita

Dua Tersangka Perdagangan Satli Illegal Berhasil Diamankan BBKSDA Jatim

Surabaya, 6 Februari 2019. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Tim Seksi Konservasi Wilayah III Surabaya bersama Direktorat Polisi Air (Ditpolair) Polda Jatim berhasil mengamankan dua orang tersangka perdagangan satwa liar illegal dengan jenis satwa burung. Berdasarkan keterangan, sejumlah satwa tersebut berasal dari Papua dan Makassar yang diangkut menggunakan KMP Sinabung. Tim melakukan pemantauan sejak pukul 23.00 WIB (5/2) sampai kapal bersandar pada pukul 06.30 WIB (6/2) dengan penyisiran disetiap sudut ruangan kapal. Setelah dilakukan penyisiran sampai penumpang didalam kapal habis, Tim menangkap tangan seorang portir kapal sedang membawa 3 tas plastik yang mencurigakan, setelah dilakukan pemeriksaan terhadap isi tas ternyata isinya berupa satwa burung dari berbagai jenis. Saat ini, satwa burung dititipkan di kandang transit BBKSDA Jatim. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Konservasi Species Anggrek Lokal di SM Pelaihari

Pelaihari, 2 Februari 2019 – Usaha merealisasikan rencana pengembangan anggrek lokal, maka telah dilaksanakan pertemuan rutin para pejuang konservasi anggrek “Kelompok Amabilis Lestari” di Kabupaten Tanah Laut. Pertemuan ini sebagai sarana silaturahmi dan berbagi informasi serta pengetahuan terkait budidaya anggrek lokal. Kelompok yang dibentuk Nopember 2018 ini juga membahas program-program kerja kelompok terkait pelestarian anggrek. Pada pertemuan ini, Kelompok Amabilis Lestari yang berada di bawah naungan dan binaan Balai KSDA Kalimantan Selatan lebih memfokuskan pada penguatan kelembagaan serta aturan kelompok. Susunan pengurus yang terdiri dari ketua: Hermanto, sekretaris: Suliyo, dan bendahara: Syarnidah, kemudian ditambah dan dipilih seksi humas: Patnur dan seksi penelitian dan pengembangan: Noor Ipansyah untuk membantu kelompok dalam menjalankan dan mengembangkan program kerja. Hermanto selaku ketua Kelompok Amabilis Lestari juga menyampaikan harapannya melalui kelompok ini dapat mengembalikan dan mengembangkan populasi Anggrek Bulan Pelaihari (Phalaenopsis amabilis) yang keberadaannya langka untuk bisa menjadi spesies yang mudah ditemui di wilayah Tanah Laut. Kemudian juga dukungan penuh Balai KSDA Kalimantan Selatan sangat diharapkan dalam upaya pelestarian Anggrek Bulan Pelaihari (Phalaenopsis amabilis) dan Anggrek Spesies Meratus yang merupakan misi utama Kelompok Amabilis Lestari. Pertemuan kelompok Amabilis Lestari juga dihadiri petugas dari Balai KSDA Kalimantan Selatan, Akhmad Fauzan, S.Hut selaku Kepala Resort SM Pelaihari. Pada kesempatan ini disampaikan arahan dan harapan Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc tekait upaya pelestarian dan konservasi anggrek yang dilakukan oleh kelompok ini. Kepala Balai sangat mendukung upaya yang telah dilakukan oleh penggiat konservasi anggrek yang tergabung dalam kelompok Amabilis Lestari dimana peranannya sangat diharapkan dalam pelestarian Anggrek Bulan Pelaihari (Phalaenopsis amabilis) dan Anggrek Spesies Meratus Kalimantan Selatan. Peran parapihak dan instansi terkait sangat penting untuk dilibatkan dalam kegiatan ini. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

BBKSDA Sumut Entry Meeting BPK RI

Medan, 4 Februari 2019. Tim Audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI direncanakan akan melakukan pemeriksaan keuangan di jajaran lingkup satker UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Propinsi Sumatera Utara, beserta dengan Dinas Kehutanan dan Dinas Lingkungan Hidup Propinsi Sumatera Utara. Sebelum pemeriksaan, dilakukan entry meeting, pada Senin, 4 Februari 2019, bertempat di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara, selaku koordinator wilayah UPT lingkup Kementerian LHK Propinsi Sumatera Utara. Entry meeting oleh Tim Audit BPK RI dihadiri Inspektur Wilayah I Itjen KLHK, Sekretaris Direktorat Jenderal Penegakan Hukum KLHK, Sekretaris Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan KLHK, Sekretaris Direktorat Jenderal PHPL KLHK, para Kepala Satker UPT Kementerian LHK lingkup Propinsi Sumatera Utara, Kepala Bidang Pengusahaan Hutan Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara dan Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Propinsi Sumatera Utara. Inspektur Wilayah I Itjen KLHK, Irmansyah, dalam arahannya menyampaikan bahwa Tim Audit BPK RI akan melakukan uji petik terkait pemeriksaan keuangan di wilayah Sumatera Utara, oleh karena itu diharapkan seluruh satker UPT lingkup Kementerian LHK Propinsi Sumatera Utara agar kooperatif, sehingga pemeriksaan berjalan dengan lancar. Sementara itu, Ketua Tim BPK RI, Eden Muharamsyah, dalam pengantarnya menguraikan tugas pokok dan fungsi BPK RI. Dan tujuan utama kedatangan Tim Auditor adalah dalam rangka penilaian untuk pemberian Opini Keuangan tahun 2018, dimana pada tahun 2017 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mendapat penilaian Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), jelas Eden “Dengan menjunjung tinggi integritas, independent dan profesionalisme, mari bantu kami Tim Audit BPK RI dalam proses pemeriksaan ini, sehingga berjalan dengan baik dan sesuai dengan jadwal yang ditentukan,” ujar Eden. Kegiatan pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK RI akan berlangsung dari tanggal 3 s.d 16 Februari 2019. (Evan). Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Sang Perawat Satwa pun Tak Lupa Mengajari Anaknya Menanam

Pekanbaru, 4 Februari 2019. Bagi seorang Mahout atau biasa dikenal perawat satwa, tiada hari libur untuk mengangon satwanya. Begitu juga perawat satwa Gajah Sumatera di PLG Duri Sebanga, Kab. Bengkalis. Disela kesibukannya Sang Perawat satwa masih punya waktu untuk mengajari anak-anak mereka menanam pohon di sekeliling lingkungan tempat tinggalnya. Sabtu, 2 Februari 2019 di cuaca yang cerah, anak-anak antusias ikut menanam pohon untuk penghijauan. Dengan semboyan ONE MAN ONE HUNDRED TREE mereka menanam pohon kayu Pulai dan Mahoni. Mari sahabat konservasi, jangan kalah kita dengan mereka. Yuk kita mulai tanam sebanyak yang kita bisa! Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Riangnya Pramuka Berkemah Di TWA Buluh Cina

Pekanbaru, 4 Februari 2019. Selama tiga hari yaitu hari Jum'at sampai Minggu, tanggal 1 sampai dengan tanggal 3 Februari 2019, TWA Buluh Cina ramai dengan kehadiran para Pramuka SMP Advent Pasir Putih yang tengah melakukan kegiatan Perkemahan Pramuka Pathfinder. Sekitar 200 orang yang hadir sangat antusias melakukan kegiatan dengan suguhan tujuh danau, pepohonan rindang dan lukisan alam yang menawan serta kearifan lokal yang sangat menakjubkan. Banyak kegiatan dilakukan, disamping pembelajaran Kepramukaan dan penelusuran kawasan, Kepala Resort TWA Buluh Cina, M. Hendri terlebih dahulu memberikan pelajaran konservasi dan memperkenalkan jenis jenis satwa yang dilindungi. Mengajak anak-anak muda sebagai generasi penerus bangsa untuk mencintai dan melestarikan hutan sebagai paru-paru dunia. Para peserta yang hadir sangat antusias dengan mengajukan banyak pertanyaan. Semoga ini menjadi harapan untuk menyakinkan kepada generasi muda akan pentingnya peran mereka dalam konservasi dan pelestarian alam ya. Yuuk kita ramai ramai ke TWA Buluh Cina.... CONSERVATION... everyone can do it!!! Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Evakuasi dan Release Lumba Lumba

Kisaran, 4 Februari 2019. Pada Minggu, 27 Januari 2019, Balai Besar KSDA Sumatera Utara mendapat informasi munculnya 2 (dua) individu lumba-lumba di Sungai Kualuh, tepatnya di Dusun Ramean Desa Kuala Beringin Kecamatan Kualuh Hulu Kabupaten Labuhanbatu Utara. Menindaklanjuti informasi tersebut, petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang Konservasi Wilayah II Pematangsiantar segera melakukan peninjauan lapangan guna pengumpulan data dan keterangan. Dari hasil identifikasi Tim Bidang Konservasi Wilayah II Pematangsiantar diketahuilah bahwa jenis lumba-lumba tersebut adalah Lumba-lumba Bongkok Indo-Pasifik (Sousa chinensis), dan titik ditemukannya berada pada posisi N 02.50344? dan E 099.52361?. Selanjutnya Balai Besar KSDA Sumatera Utara berkoordinasi dengan lembaga JAAN (Jakarta Animal Aid Network) dan Dolphin Project guna membantu proses penanganan dan penyelamatan lumba-lumba tersebut. Pada Selasa, 29 Januari 2019, tersiar informasi bahwa 1 (satu) dari 2 individu lumba-lumba tersebut sudah tidak kelihatan (tidak muncul lagi). Informasi ini kemudian direspon oleh Tim Gabungan dari Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, JAAN, Dolphin Project, Unit KPH Wilayah V Aek Kanopan, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang dan Satker Medan, Satuan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Asahan Tanjung Balai, Dinas Pertanian Labuhanbatu Utara, serta beberapa instansi lainnya dengan menyusun rencana dan strategi penanganan lumba-lumba tersebut. Hari Rabu, 30 Januari 2019, sekitar pukul 18.00 WIB, Tim mendapat informasi warga menemukan lumba-lumba yang hilang dalam kondisi mati, dengan posisi sekitar 1 km ke arah hilir dari lokasi lumba-lumba yang masih hidup. Selanjutnya Tim segera melakukan evakuasi terhadap bangkai lumba-lumba tersebut dengan menggunakan perahu boat dan membawanya ke darat. Hasil pemeriksaan medis dari Dolphin Project, ditemukan luka-luka di sekujur tubuh bangkai lumba-lumba dan terdapat luka traumatik di bagian blowhole. Evakuasi dilanjutkan dengan membawa dan menguburkan bangkai lumba-lumba tersebut di halaman Kantor Unit KPH Wilayah V Aek Kanopan, setelah sebelumnya dilakukan nekropsi dengan membedah perut lumba-lumba. Sedangkan terhadap lumba-lumba yang masih hidup, dilaksanakan pada keesokan harinya, Kamis 31 Januari 2019. Proses evakuasi dimulai pukul 14.30 wib dengan cara digiring menggunakan jaring menuju ke area dangkal. Sekitar pukul 16.15 wib, setelah 18 kali percobaan, akhirnya lumba-lumba bisa ditangkap dengan jaring tanpa melukai tubuhnya. Dengan menggunakan kapal kecil, Tim mengevakuasi lumba-lumba ke darat, untuk kemudian membawanya ke lokasi perkantoran Bupati dengan kendaraan mobil pick-up. Lokasi perkantoran Bupati dipilih untuk menghindari kerumunan massa dan agar lumba-lumba juga tidak stress. Setelah mendapatkan tindakan medis, tim medis/vet merekomendasikan agar segera dirilis di perairan payau, mengingat lumba-lumba sudah terlalu lama di air tawar serta untuk memudahkan proses adaptasi kembali dengan habitat aslinya. Pukul 20.00 wib, Tim menuju lokasi release di Muara Tanjung Balai yang berjarak tempuh 3 jam. Pertimbangan lokasi rilis, dalam 2 minggu terakhir sering tampak rombongan lumba-lumba jenis ini di perairan Muara Tanjung Balai dan Muara Kualuh, sehingga diharapkan lumba-lumba bisa segera bertemu dengan kelompoknya. Pelepasliaran 1 (satu) individu lumba-lumba jenis Sousa chinensisberukuran 159 Cm berkelamin jantan di Muara Tanjung Balai, tengah malam Kamis, 31 Januari 2019. Selanjutnya pasca release, tim masih akan terus melakukan monitoring sampai beberapa hari kedepan untuk memantau dan memastikan lumba-lumba tersebut selamat dan survive.(Presli dan Tim JAAN) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Si Sisik Terjerat Jaring, Rudi : Saya Temukan Di Belakang Rumah

Dusun Tile-tile - Kepulauan Selayar, 04 Februari 2019. Rudi staf balai TN. Taka Bonerate yang sekaligus warga dusun Tile-tile, desa Patikarya Kecamatan Bontosiku Kabupaten Kepulauan Selayar, menemukan Penyu jenis sisik yang terjerat oleh jaring di pantai belakang rumahnya (02/02). "Saya temukan di belakang rumah terjerat jaring, sekitar jam 2 siang tadi, kondisinya sehat" jelas Rudi via WhatsApp Call Center (0811-418-481) Rudi membantu melepaskan penyu dari jeratan jaring dan melakukan pengukuran karapas (punggung), dengan panjang 32 cm lebar 30 cm. Setelah itu, penyu dilepaskannya kembali ke habitat (laut). Sekedar informasi bahwa penyu sisik ini dilindungi oleh undang-undang dan masuk dalam bioata laut yang terancam punah. Berdasarkan ketentuan CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna), semua jenis penyu laut telah dimasukan dalam appendix I yang artinya perdagangan internasional penyu untuk tujuan komersil juga dilarang. Badan Konservasi dunia IUCN memasukan penyu sisik ke dalam daftar spesies yang sangat terancam punah. Sedangkan penyu hijau , penyu lekang, dan penyu tempayan digolongkan sebagai terancam punah. Pemanfaatan jenis satwa dilindungi hanya diperbolehkan untuk kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan dan penyelamatan jenis satwa yang bersangkutan. Jika menemukan biota atau jenis satwa yang dilindungi, bisa menghubungi call center kami. Sumber : Asri - PEH Balai TN. Taka Bonerate Foto : Rudi - Staf Balai TN. Taka Bonerate

Menampilkan 6.209–6.224 dari 11.142 publikasi