Kamis, 23 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Penyerahan Kelempiau (Hylobates albibarbis) oleh Masyarakat ke Balai Taman Nasional Gunung Palung

Sukadana, 12 Februari 2019. Masyarakat menyerahkan salah satu satwa yang dilindungi yaitu Kelempiau (Hylobates albibarbis) ke Balai Taman Nasional Gunung Palung. Penyerahan ini dilakukan oleh Saudara Pendi dari Desa Harapan Mulia, Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara. Berdasarkan keterangan Pendi, ia menemukan kelempiau yang masih bayi ini saat musim buah raya pada bulan Desember lalu. Bayi kelempiau ini kemungkinan tertinggal dari induknya atau mungkin terjatuh saat induknya mencoba lari ketika memasuki kebun masyarakat dan melihat manusia. “Saat itu saya mau melihat kondisi kebun, kemudian saya menemukan hewan ini. Saya kasihan karena hewan ini masih kecil dan mungkin saja terpisah dari induknya waktu mereka memasuki kebun saya, karena kondisi disini sedang banyak buah jadi hewan banyak yang datang ke sini. Saya tidak tahu bahwa ini adalah hewan yang dilindungi, karena itu saya pelihara saja”, ujar Pendi. Mengetahui informasi tersebut, pihak Balai TNGP melalui Kepala RPTN Sedahan meminta Pendi untuk menyerahkan hewan ini karena termasuk dilindungi berdasarkan PermenLHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Suasana haru cukup terasa pada saat penyerahan kelempiau ini berlangsung, mengingat kelempiau ini sudah cukup lama dipelihara dan dirawat oleh keluarga Pendi. Setelah diserahkan ke Balai TNGP, kelempiau ini kemudian diserahkan ke BKSDA Kalimantan Barat melalui SKW I Ketapang. Penyerahan ke BKSDA dilakukan di Kantor SPTN Wilayah I Sukadana. Salah seorang Polisi Kehutanan dari Balai TNGP yaitu Sapuri mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk melestarikan jenis hewan yang dilindungi. “Ini merupakan salah satu antisipasi agar masyarakat tidak memelihara hewan-hewan yang dilindungi. Dampak positif dari kegiatan ini dapat menyadarkan masyarakat lain yang masih memelihara hewan yang dilindungi agar dapat menyerahkan hewan tersebut ke pihak yang berwajib. Ini juga merupakan suatu momen dimana kami sebagai petugas lapangan harus mampu mensosialisasikan peraturan-peraturan terbaru mengenai tumbuhan dan hewan yang dilindungi kepada masyarakat setempat.” Sumber : Sapuri Polisi Kehutanan - Balai Taman Nasional Gunung Palung
Baca Berita

Sikep Madu Asia Catatan Pertama Raptor Migran di TN Bromo Tengger Semeru

Jabung, 12 Februari 2019. Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus) sebagai raptor migran tercatat pada site pengamatan Elang Jawa di Resort PTN Jabung, Kec. Jabung, Kab. Malang dengan aktivitas soaring yang cukup lama. Perjumpaan ini merupakan yang pertama kali di kawasan TN Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Mahmudin salah satu petugas TNBTS menjelaskan “raptor jenis ini berasal dari Siberia, tetapi ketika memasuki musim dingin akan bermigrasi ke selatan, Indonesia tercatat sebagai Negara terakhir yang menjadi persinggahan kemudian pada musim panas akan kembali ke Siberia untuk berbiak.” Jika dilihat dari gaya terbangnya memang ciri – ciri burung sikep madu asia ini lebih dekat dengan layang-layang. Jenis burung pemangsa ini memiliki bagian leher yang panjang dengan kepala kecil (menyerupai merpati), serta rentang sayapnya datar. Jika diamati dari segi penampilannya, sikep madu tidak tampak seperti halnya binatang pemburu lainnya. Sikep madu asia ini memiliki ekor yang panjang dan puncak kepala pendek. Sumber pakan khususnya dari larva dan sarang tawon, selain itu, jenis burung karnivora ini juga akan memakan mangsa serangga kecil lainnya seperti jangkrik, belalang, dan lain-lain. (Red) Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Foto : @mahmudin tnbts
Baca Berita

Lutung “Merah” Ditemukan di Coban Trisula TN Bromo Tengger Semeru

Coban Trisula, 11 Februari 2019. Lutung jawa (Trachypithecus auratus) unik ditemukan di Resort PTN Coban Trisula TN Bromo Tengger Semeru (TNBTS) pada kegiatan Inventarisasi Potensi Kawasan khususnya Tumbuhan dan Satwa Liar yang dilindungi pada akhir Januari 2019. Lutung yang biasanya mempunyai warna khas hitam, di lokasi tersebut mempunyai warna merah menyala. ‘Siti Maya’ salah satu Pengendali Ekosistem Hutan TNBTS menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan hal yang biasa tapi bagi orang awam mungkin luar biasa. Lutung jawa tersebut berwarna merah karena masih remaja, nanti jika sudah dewasa akan berubah menjadi hitam untuk lutung jantan dan hitam keperakan di kelaminnya untuk lutung betina. “Selain itu lutung jawa merupakan salah satu jenis primata di Indonesia yang dilindungi undang-undang yaitu Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor P.92 tahun 2018. IUCN pun menetapkan lutung jawa sebagai primata rentan (Vulnerable) terhadap gangguan habitat yang terus terdesak oleh kepentingan manusia”, Siti Maya menambahkan. Lutung jawa yang di temukan Resort PTN Coban Trisula ada sebanyak 4 kelompok dengan individu yang bervariasi dari 3 individu sampai dengan 27 individu per kelompok. Jumlah total populasi lutung jawa adalah 36 ekor berdasarkan hasil monitoring lutung tahun 2018. Siti maya Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Terperangkap di Pintu Air, Warga Desa Punggur Kapuas dan BKSDA Kalbar Selamatkan Seekor Buaya

Pontianak, 11 Februari 2019. Seekor buaya muara berukuran ±2 meter diamankan warga RT 003/002 Dusun Betutu Raya Desa Punggur Kapuas, Kubu Raya. Buaya tersebut ditemukan warga sedang terperangkap di pintu air sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Warga kemudian menangkap buaya tersebut menggunakan jerat dan mengamankannya di kolam ikan kantor Desa Punggur Kapuas. Mengetahui bahwa buaya termasuk satwa dilindungi, warga kemudian melaporkan ke BKSDA Kalbar untuk menyerahkan satwa tersebut. Buaya berukuran ±2 meter tersebut merupakan buaya yang kerap muncul beberapa waktu terakhir di parit Dusun Betutu Raya. Keberadaannya sangat meresahkan warga, karena parit tersebut masih digunakan warga untuk keperluan sehari-hari seperti mandi cuci kakus (MCK). Awal Januari melalui call center BKSDA Kalbar telah menerima laporan tentang keberadaan seekor buaya di parit Dusun Betutu Raya tersebut. Tim WRU BKSDA Kalbar kemudian turun untuk melakukan penyuluhan dan pemasangan himbauan untuk mengurangi aktifitas di sekitar parit. Buaya tersebut saat ini telah diamankan BKSDA Kalbar dan dititiprawatkan di lembaga konservasi Sinka Zoo. Sadtata N Adirahmanta selaku Kepala BKSDA Kalbar menjelaskan, “Dalam beberapa bulan terakhir, pihak BKSDA Kalbar telah menerima laporan kemunculan buaya muara di sekitar pemukiman warga. Berbagai upaya telah dilakukan, diantaranya penyuluhan dan pemasangan papan himbauan untuk mengurangi aktifitas di sekitar parit dan tidak membuang sampah berupa bangkai binatang ke parit.” Beliau juga menambahkan “tidak dapat dipungkiri, berkurangnya habitat serta tingkat polusi sungai yang semakin tinggi membuat buaya mencari habitat yang lebih nyaman, salah satunya parit sekitar pemukiman warga. Selain kondisi parit yang relatif lebih bersih dari pencemaran air, kebiasaan warga membuang bangkai hewan ke parit turut memicu kemunculan buaya di sekitar pemukiman warga.” Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

TN Tesso Nilo Laksanakan Penilaian Dan Evaluasi Penanaman 125 Ha Lahan

Pelalawan, 11 Februari 2019. Jumat s.d Senin tanggal 08 – 11 Februari 2019, TN Tesso Nilo melaksanakan penilaian dan evaluasi penanaman lahan di Resort Air Hitam. Penilaian dan evaluasi dilaksanakan terkait telah dilaksanakannya penanaman seluas 125 ha dikawasan hutan TN Tesso Nilo pada tahun 2018. Kegiatan penilaian dan evaluasi penanaman 125 ha tersebut dilaksanakan oleh tim yang terdiri dari 2 orang petugas SPW I LKB, 2 orang dari Yayasan TN Tesso Nilo dan 2 orang utusan dari pemerintahan desa, serta disaksikan oleh kelompok tani pelaksana kegiatan. Penilaian dan evaluasi dikerjakan dengan penilaian tanaman diareal kerja pada Petak Ukur (PU) yang sudah ditentukan dengan metode kerja menggunakan Intensitas Sampling (IS). Berdasarkan keterangan dari Kepala Resort Air Hitam Ahmad Gunawan, S.Hut yang juga ikut serta, Pada hari pertama tim melakukan penilaian sebanyak 5 Petak Ukur (PU), Hari kedua, berhasil menyelesaikan 3 PU dan Hari Ketiga, sudah menyeselesaikan 15 PU. “Kami telah menyelesaikan penilaian dan evaluasi penanaman lahan 125 ha tersebut. Kami dan mitra berharap hasil penanaman ini mampu merehabilitasi kawasan TN Tesso Nilo dan memberi dampak baik kepada masyarakat sekitar. Selain itu kami juga berharap setelah proses penilaian ini ada perbaikan yang serius, mulai perbaikan pada teknis lapangan sampai perbaikan komitmen semua pihak”, terang Kepala Resort Air Hitam Ahmad Gunawan, S.Hut. Sumber : Balai TN Tesso Nilo
Baca Berita

Pemegang Konsesi Diajak Untuk Berpartisipasi Melindungi Gajah Melalui Penerapan BMP

Pekanbaru, 11 Februari 2019. Secara Ekologis, kondisi habitat Gajah Sumatera di Provinsi Riau mengkhawatirkan, walaupun ada indikasi penurunan kematian dan peningkatan populasi. Degradasi habitat, perburuan dan kebakaran hutan dan lahan adalah beberapa sebab terjadinya penurunan kualitas kondisi habitat itu. Pemerintah terus berusaha melakukan perlindungan terhadap Gajah Sumatera diantaranya dengan menetapkan beberapa kawasan konservasi sebagai kawasan perlindungan Gajah. Namun ruang jelajah Gajah yang luas dan kurangnya ketersediaan pakan di kawasan konservasi mengakibatkan Gajah berada di luar kawasan konservasi. Hal ini tak jarang menimbulkan konflik yang dapat merugikan kedua belah pihak baik Gajah maupun manusia dan sumber-sumber ekonomi. Wilayah di luar kawasan konservasi dikelola oleh pemegang hak, baik itu kehutanan, perkebunan maupun tambang selain negara dan masyarakat. Untuk itu diperlukan keterlibatan aktif para pemegang hak tersebut untuk berperan dalam melindungi Gajah. Beberapa perusahaan secara partial sudah melakukan kegiatan-kegiatan untuk melindungi Gajah secara langsung ataupun tidak langsung. Tuntutan regulasi dan kebijakan sertifikasi juga mengharuskan para pemegang hak tersebut untuk melakukan kegiatan konservasi. Mereka melakukan kegiatan perlindungan habitat, patroli, pengkayaan habitat dan mitigasi konflik. Namun beberapa perusahaan lain belum menunjukkan inisiatif dan aktifitas yang sama. Atas dasar itu maka Balai Besar KSDA Riau bersama Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo dan WWF Indonesia dengan dukungan pendanaan dari TFCA Sumatera memfasilitasi perusahaan-perusahaan pemegang hak untuk menerapkan BMP (Better Management Practice) Konservasi Gajah. Ada serangkaian kegiatan yang dilakukan, dimulai dari penyamaan persepsi dan peningkatan kapasitas terhadap pengertian BMP dan prakteknya, mambangun komitmen dan melegalkan komitmen itu melalui penandatanganan komitmen bersama. Penandatanganan komitmen itu dilakukan pada hari Jumat tanggal 8 Februari 2019 di Kantor Balai Besar KSDA Riau. Ada 7 perusahaan yang menandatangani komitmen untuk melaksanakan BMP dalam bentuk : (1) Pengkayaan pakan gajah di kawasan lindung di konsesi; (2) Pembuatan dan atau pengelolaan koridor gajah; (3) Patroli perlindungan gajah; (4) Mitigasi Konflik gajah dan manusia. Perusahaan juga bersedia memberikan informasi untuk menyusun design dari praktek-praktek pengelolaan terbaik itu, melakukan implementasi serta bersama-sama memantau perkembangan BMP yang diterapkan. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Menuju Gerakan NTB Zero Waste Province 2023

Mataram, 10 Februari 2019. Bertepatan dengan kegiatan Car Free Day Kota Mataram di Jalan Udayana, Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik Provinsi NTB menyelenggarakan Inspiratif Expo 2019 yang mengusung tema "Menuju NTB Bebas Sampah Tahun 2023." Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB serta Perwakilan UPT Pusat yang hadir yakni dari Balai KSDA NTB, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani dan BPDAS HL Dodokan Moyosari. Insipratif Expo 2019 dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur NTB Ibu Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd dan Sekretaris Daerah NTB Bapak Ir. H. Rosiady H. Sayuti, M. Sc, Ph.D. Kegiatan juga bertepatan dengan perayaan Ulang Tahun Badan POM yang ke-18. Dalam Sambutan, Ibu Wakil Gubernur kembali menekankan, “Jika kita mau tidak ada banjir, tidak ada longsor, mari menjaga dan mencintai lingkungan, mudah-mudahan kesadaran kita menjaga lingkungan bisa tumbuh dari diri kita sendiri. Mudah-mudahan masyarakat NTB makin sehat dan rajin berolahraga, mari kita sukseskan Zero Waste di NTB”. Sebagai bagian dari rangkaian acara, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB turut mengadakan Lomba Pungut Sampah disekitar lokasi acara yang diikuti oleh Masyarakat Umum serta rekan-rekan dari Saka Wanabakti NTB. Masing-masing peserta mendapat satu Kantong Plastik dan Sarung Tangan untuk kemudian peserta disebar dan mengumpulkan sampah sebanyak mungkin. Peserta yang kembali dengan membawa sampah terberat mendapat doorprize di akhir acara. Disaat bersamaan, BKSDA NTB selaku UPT Pusat turut hadir sebagai bentuk pemberian dukungan serta ajang sosialisasi mengenai kawasan konservasi dan pengamanan TSL kepada masyarakat. Kegiatan Sosialisasi juga dibantu melalui Pembagian souvenir kepada masyarakat berupa kalender, gantungan kunci, topi, dan lain-lain. Sebagai informasi bahwa terdapat 4 Gerakan Utama dari "Menuju NTB Bebas Sampah Tahun 2023" yakni "Kantor Bebas Sampah", "1 Desa 1 Bank Sampah", "Sekolah Bebas Sampah", dan "Kantor Tanpa Kertas (Paperless Office)". Launching Program Zero Waste Province 2013 ini ditandai oleh Ibu Wakil Gubernur dengan pelepasan burung merpati yang didampingi oleh Kepala OPD yang hadir. Selain lomba, kegiatan juga termasuk pembagian hadiah dan voucher, pembacaan puisi oleh mahasiswi Universitas Mataram, Pentas musik dan lainnya. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Penyelundupan Belangkas Berhasil Digagalkan

Medan, 8 Februari 2019. TNI Angkatan Laut Eskorta Koarmada I KRI Kapitan Pattimura-371, dalam operasi rutinnya pada Kamis, 24 Januari 2019, berhasil menggagalkan penyelundupan 7000 (tujuh ribu) individu Belangkas (Tachypleus gigas) yang merupakan satwa dilindungi undang-undang di perairan Aceh. Ke 7000 individu Belangkas tersebut ditemukan di KM Lumba-lumba, dan diduga akan diselundupkan ke wilayah Thailand. Dari hasil penyelidikan oleh team pemeriksa terhadap muatan maupun kelengkapan surat atau dokumen KM Lumba-lumba tersebut diketahui bahwa kapal membawa muatan tidak sesuai dengan dokumen (terdapat satwa Belangkas) dan patut diduga seluruh dokumen kapal palsu. Selanjutnya Komandan KRI Kapitan Pattimura-371 setelah berkoordinasi dengan komando atas (Guspurla Koarmada-I), menggiring KM Lumba-lumba ke Lantamal I Belawan untuk diserahkan guna proses penyidikan lebih lanjut. Pada Senin, 4 Februari 2019, barang bukti Belangkas sebanyak 7000 individu diserahkan oleh pihak TNI Angkatan Laut ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Penyidik Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum LHK Wilayah Sumatera bersama Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Setelah melihat kondisi barang bukti Belangkas dalam keadaan mati, maka saat itu juga diputuskan untuk dimusnahkan. Penandatanganan serahterima Belangkas oleh Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan (a) dan Pengawetan Balai Besar KSDA Sumut dengan pihak TNI Angkatan Laut (gambar kiri), Belangkas yang siap dimusnahkan dengan cara ditanam/dikubur (gambar kanan) (b). Pemusnahan dengan cara dikubur/ditanam, dilakukan di halaman Kantor Seksi Wilayah I Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Wilayah Sumatera, turut disaksikan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, TNI Angkatan Laut dan beberapa media. Sedangkan proses penyidikan terhadap para pelaku dilakukan secara bersama oleh Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Wilayah Sumatera dan TNI Angkatan Laut. (Ani) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Ciptakan Jiwa Rimbawan Milenial, TN Matalawa Ajak Pelajar Peduli Lingkungan

Waingapu, 9 Februari 2019. Hari Bakti Rimbawan yang diperingati setiap tanggal 15 Maret sudah mulai terasa gaungnya di kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa). Rangkaian kegiatan telah mulai dilakukan untuk menyambut hari akbar para rimbawan tersebut. Dua kegiatan telah dilakukan pada tanggal 9 Februari di dua tempat yang berbeda, yaitu di Waingapu dan Manurara. Di Waingapu, 76 orang anggota Saka Wanabakti beserta pamong (instruktur) hadir dalam kegiatan penanaman bertajuk Bakti Penghijauan ke-XII. 200 bibit jenis gmelina dan lobung ditanam di sekitar Tugu Patung Kuda Kota Waingapu. Tak kalah ramai, JAGAFOPPTA (Japan’s Grant Aid for the Forest Preservation Programme) bersama TN Matalawa mengadakan Lomba Kreatif Konservasi yang terdiri dari lomba puisi, mozaik, dan animal race. Lomba ini diikuti oleh 80 orang siswa dari 10 Sekolah Dasar yang ada di sekitar kawasan TN. Peran generasi milenial sangat penting dalam pelestarian hutan karena mereka akan menjadi influencer di lingkungannya masing-masing untuk menumbuhkan gerakan sadar dan peduli terhadap kawasan hutan serta kegiatan konservasi. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Balai TN Matalawa, Maman Surahman, S.Hut, M.Si saat memberikan pesan untuk 2 kegiatan tersebut. Sumber : Balai Taman Naasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Penyerahan Orangutan Sumatera di Sawang Aceh Selatan

Aceh Selatan, 9 Februari 2019. Personil BKSDA Aceh Seksi Konservasi Wilayah 2 Subulussalam Resor 15 Tapaktuan dipimpin oleh Kepala Resor Wirli bersama Direktur YOSL-OIC Mitra Kerja BKSDA Aceh Panut Hadisiwoyo menerima penyerahan secara sukarela seekor Orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang dipelihara dari seorang masyarakat yang difasiliatasi oleh Komandan Komando Rayon Militer 04 Sawang Komando Militer 0107/Aceh Selatan Kapten Inf Ambri Umari. Orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang diserahkan tersebut diperkirakan berusia ± 4 (Empat) tahun berjenis kelamin jantan yang selanjutnya akan dilakukan rehabilitasi terhadap Orangutan Sumatera yang diserahkan tersebut di Pusat Karantina-Rehabilitasi Orangutan Sumatera YEL-SOCP Batu Mbelin Sibolangit Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Provinsi Sumatera Utara sebelum nantinya akan dilepasliarkan ke habitat alaminya Penyerahan Orangutan Sumatera tersebut diserahkan oleh masyarakat Kantor Komandan Komando Rayon Militer 04 Sawang Komando Militer 0107/Aceh Selatan di Desa Blang Gelanggang Kecamatan Sawang Kabupaten Aceh Selatan Provinsi Aceh disaksikan oleh masyarakat sekitar dan diliput oleh Media Elektronik BBC Inggris dan BBC Indonesia. Penyerahan Orangutan ini merupakan bentuk kepedulian yang bersangkutan terhadap upaya pelestarian Orangutan Sumatera dan upaya mengedukasi bagi masyarakat lainnya untuk dapat menyerahkan Orangutan Sumatera apabila masih memeliharanya. Orangutan Sumatera (Pongo abelii) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi dari Kelompok Mamalia Famili Hominidae berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Kedua Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi jo Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.92/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi. Dalam katergori IUCN Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) berstatus kritis/critically endangered dengan penyebaran/distribusi meliputi Pulau Sumatera dengan Distribusi populasi terbesar mulai dari Provinsi Aceh meliputi Kabupaten Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Tamiang, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Kota Subuluusalam. Jumlah Orangutan Sumatera sendiri di alam untuk saat ini diperkirakan berjumlah ± 13.846 individu dengan luasan habitat ± 16.775 km2. Kami berharap apa yang telah dilakukan oleh Kapten Inf Ambri Umari dengan memfasilitasi penyerahan orangutan oleh masyarakat diwilayah kerjanya dapat diikuti oleh aparatur negara lainnya demi keberlanjutan Upaya Konservasi Keanekaragaman Hayati bagi di Provinsi Aceh khususnya dan di Seluruh Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia pada umumnya. Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh
Baca Berita

Legenda Tahu Lamping Di Kaki Gunung Ciremai

Kuningan, 9 Februari 2019. Ekspedisi damai Laksamana Cheng Ho dari dataran Yunan ke nusantara pada abad ke 15 membawa pengaruh cukup besar. Cheng Ho datang bersama ribuan pria Tiongkok dalam rombongannya. Anehnya tak ada satupun wanita ikut dalam pelayaran itu. Konon banyak anak buah Cheng Ho yang tak kembali ke negerinya. Sebagian dari mereka malah menikah dengan penduduk nusantara. Nah, sejak saat itu nusantara mendapat ‘sentuhan’ Tiongkok seperti teknologi, sosial dan budaya termasuk kulier. Pada 1405, armada Cheng Ho berlabuh di Muara Jati, salah satu pelabuhan internasional Kerajaan Pajajaran. Mereka membuang jangkar di Cirebon untuk mengisi persediaan air bersih. Rupanya butuh waktu cukup lama untuk mengisi tanki air kapal Cheng Ho yang besar dan banyak jumlahnya itu. Oleh karenanya, ada sebagian anggota rombongan yang memilih menetap di sana dan menyebar ke Indramayu dan Kuningan. “Menurut cerita leluhur kami, memang rombongan Cheng Ho pernah datang ke sini”, ungkap Supriadi, warga desa Cibuntu, Pasawahan, Kuningan, Jawa Barat menunjukkan sebuah batu petilasan (01/02). Menurut kabar angin, Huang Lam Ping, seorang pria yang berkeluarga dengan penduduk lokal memilih pindah ke kaki gunung Ciremai. Dia melakukan itu karena ingin bertani layaknya di negerinya dulu. Dia menanam tumbuhan pertanian seperti padi, palawija dan sayuran. Singkat cerita, Huang Lam Ping memperkenalkan penganan tahu kepada warga setempat sambil beratraksi Wing Chun. Tangan ajaibnya mampu memegang alat masak di atas bara api tanpa kesakitan. Makanan itu terbuat dari kedelai yang dia tanam sendiri di kebunnya. Warga setempat menyukai makanan baru yang dikenalnya itu karena rasanya yang gurih dan lezat. Ya, tahu memang sangat enak bila disantap dengan nasi dan sambal atau hanya dengan cabai dan lontong pun sudah nikmat rasanya. Proses pembuatan tahu dimulai dari merebus kedelai. Kedelai rebus kemudian ditiriskan dan digiling sampai lembut. Ampasnya berupa air setelah disaring ulang, dibuang. Sisa ampas yang tersaring akan dijadikan bahan baku "golono", panganan seperti comro. Sementara, gilingan kedelai halus kemudian dibuat tahu dengan cara cairan kedelai disimpan di dandang. Kemudian, cairan ditiriskan dan dibiarkan menggumpal. Setelah gumpalan berwarna putih terbentuk, lalu dipotong persegi empat menggunakan pisau atau lempengan besi bersih. Lalu tahu digoreng deh dengan minyak mendidih. Orang menyebut tahu ini tahu Lamping yang diambil dari nama pencetusnya. Tapi ada juga yang menyebut tahu ini dengan tahu Kopeci. Sejak saat itu, Huang Lam Ping sangat dihormati warga karena keahliannya membuat tahu. "Tahu Lamping, terasa 'krispi' di luar namun lembut di dalam. Jadi tahunya berisi ya, tidak kopong", ucap Winda, penjual tahu Lamping (01/02). Kini, tahu Lamping menjadi salah satu kuliner khas Kuningan yang kerap diburu masyarakat dan wisatawan. Tahu Lamping banyak dijajakan sepanjang jalan Kuningan menuju Cirebon. Tahu Lamping ialah camilan khas Kuningan yang tak kalah lezatnya dengan makanan modern. Ayo datang dan nikmati tahu Lamping yang murah meriah ini untuk menguatkan perkenonomian kuliner lokal [Teks © Tim Admin, Foto © Rudi & Winda - BTNGC | 022019].
Baca Berita

WRU BKSDA Kalteng Berhasil Amankan Buaya Penyerang Warga Sampit

Palangkaraya, 9 Februari 2019. Setelah selama seminggu lamanya memasang perangkap buaya, akhirnya usaha Wildlife Rescue Unit Balai Konsevasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah Seksi Konservasi Wilayah II (WRU BKSDA Kalteng SKW II) untuk menangkap buaya yang diduga menyerang warga Dusun Seranggas, Desa Lempuyang, Kec. Teluk Sampit, Kab. Kotawaringin Timur membuahkan hasil. Diawali oleh laporan terjadinya serangan buaya terhadap warga Dusun Seranggas An. Julhaidir (Laki-laki, 41 Tahun) pada tanggal 1 Februari 2019. Akibat serangan buaya yang terjadi saat Bapak Julhaidir mandi pada pukul 18.30 WIB di tepi sungai Seranggas itu, mengakibatkan tangan bagian kiri putus. Kepala SKW II BKSDA Kalteng berkesempatan membusuk dan memberikan bantuan pengobatan kepada korban saat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Murjani-Sampit. Selanjutnya Tanggal 2 Februari 2019, Wild Life Rescue Unit SKW II BKSDA Kalteng bersama-sama dengan Anggota Polair Polda Kalteng, Anggota Polsek Samuda, Staf Kecamatan Teluk Sampit dan Staf Desa Lempuyang melakukan pemasangan perangkap buaya di Sungai Seranggas, di Dusun Seranggas, Desa Lempuyang Kec. Teluk Sampit, Kab. Kotawaringin Timur. Selain memasang perangkap Tim juga menghimbau kepada warga sekitar lokasi serangan untuk berhati-hati dalam beraktivitas di sekitar sungai. Akhirnya pada hari Jum’at tanggal 8 Februari 2019 Pukul 06.00 WIB Tim WRU mendapatkan informasi dari dari Ketua RT setempat, bahwa ada buaya yang masuk dalam perangkap yang telah dipasang. Dan tanggal 9 Februari 2019, Tim WRU SKW II BKSDA kalteng menuju lokasi dan bersama-sama pihak desa, kecamatan, Pospol dan Polsek setempat untuk mengevakuasi buaya tersebut. Buaya teridentifikasi merupakan buaya muara (Crocodylus porosus) dengan panjang 3,5 meter. Saat ini buaya tersebut telah diamankan di Pos Penjagaan Bandara dan Pelabuhan Sampit-BKSDA untuk selanjutnya akan dibawa ke Kandang Transit Buaya di TWA Tangkiling. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Mengenal Cemperit, Si Perdu Yang Bermanfaat

Kuningan, 9 Februari 2019. Pernah melihat buah Cemperit? Mungkin tak banyak orang yang pernah melihat buah ini secara langsung. Buahnya bulat hijau muda saat masih mentah. Lalu, berubah menjadi kuning cerah dan membelah menjadi dua saat masak. Tapi sobat jangan tergiur untuk makan buah ini. Karena rasanya pahit dan menimbulkan efek mabuk. Ternyata buah ini berbeda namanya di tiap daerah. Orang Jawa mengenal buah ini dengan nama Gembirit. Sedangkan di tanah Pasundan dikenal dengan nama Hamperu badak. Tumbuhan dengan nama latin "Tabernaemontana sphaerocarpa" ini merupakan jenis tumbuhan yang dijumpai di Indonesia. Tercatat tanaman ini tersebar secara alami di pulau Jawa dan Maluku. Habitatnya menempati habitat daerah dataran rendah hingga ketinggian 500 meter di atas permukaan laut (mdpl). Cemperit merupakan tumbuhan perdu. Berbatang pendek dan tumbuh sampai ketinggian maksimal 13 hingga 15 meter. Pohon ini juga bertajuk mengerucut ke atas. Daun pohon ini berbentuk bundar telur sampai lonjong jorong. Bunga tanaman ini muncul di dekat pangkal daunnya. Berwarna kuning keputihan dan berbau harum. Kulit batang cemperit berwarna coklat. Apabila dilukai, batang akan mengeluarkan getah berwarna putih. Lalu, getah akan berubah menjadi coklat pucat saat mengering. Ternyata getah cemperit juga bisa sebagai obat keselo selain untuk penyakit kulit. Caranya, cukup mengoleskan merata di bagian yang sakit. Cemperit adalah bagian kekayaan flora gunung Ciremai. Masih banyak jenis flora lain yang belum kita telisik manfaatnya untuk kehidupan sehari hari. So, mari kita kenali kekayaan flora Indonesia [Teks & Foto © Taufikurohman - BTNGC | 022019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Penguatan Kelembagaan Forum Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Penyu di Lombok Barat

Mataram, 8 February 2019. Beberapa waktu lalu, di Kabupaten Lombok Barat telah diterbitkan Surat Keputusan Penetapan Forum Pelestari Penyu Lombok Barat dan SK penetapan Kawasan Ekosistem Esensial penyu melalui SK Bupati Lombok Barat, H. Fauzan Khalid, S.Ag., M.Si. Menindaklanjuti SK tersebut, maka dalam rangka Penguatan kelembagaan forum KEE penyu dilakukan Pembinaan dan bantuan operasional kelembagaan KEE. Pembinaan sekaligus monitoring kelegiatan Pelestarian penyu di wilayah Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Lombok, dilakukan Tim BKSDA NTB kepada pelestari penyu yang ada di wilayah Lombok Barat, diantaranya : Kelompok Kerabat Penyu Lombok, Hotel Sheraton, Hotel Holiday resort, dan Jeeva Klui. Dalam kunjungan kali ini, Tim KEE BKSDA NTB mencoba untuk kembali mengingatkan kewajiban pencatatan dan pelaporan kegiatan pelestarian Penyu, yaitu jenis Penyu, jumlah Penyu bertelur, menetas dan yg dilepaskan kembali ke Alam serta mutasi tukik setiap bulan. Dalam Pembinaan, Tim BKSDA NTB juga membagikan banner yang berisi jenis-jenis penyu dilindungi dan upaya yang harus dilakukan ketika kelihatan penyu bertelur, untuk kemudian dipasang di sekitar lokasi peneluran penyu. Sebagai informasi bahwa terdapat total 7 jenis penyu yang dilindungi di seluruh dunia, 6 jenis penyu diantaranya ada di Indonesia, dan 5 jenis Penyu tersebut bisa ditemukan di Lombok. Semoga dengan peran serta aktif forum KEE penyu Lombok Barat dapat meningkatkan populasi penyu di Lombok. Let's save sea turtles. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Mulai Menampakkan Diri, Begini Wajah “The Invisible Raill” di TN. Aketajawe Lolobata

Sofifi, 8 Februari 2019. The Invisible Raill, begitulah penyebutan burung dengan nama Indonesia Mandar Gendang ini. Dahulu burung endemik Pulau Halmahera ini disebut dengan Drummer rail namun karena catatannya sedikit dan sangat sulit untuk dijumpai menjadikan ”The Invisible Raill” menjadi nama populernya sekarang. Burung ini pernah menjadi artis perangko Pos Indonesia pada tahun 2012. Disebut Mandar Gendang, karena memiliki suara yang serupa dengan tabuhan genderang dengan iringan suara lainnya seperti bebek. Suara tersebut sangat keras dan riuh, sehingga bisa terdengar dengan mudah oleh pengamat burung. Mandar Gendang memiliki paruh dan kaki berwarna jingga (orange), selebihnya warna hitam menyelimuti seluruh bagian tubuhnya. Akhirnya burung dengan status Rentan (IUCN) ini terdokumentasi oleh petugas Resort Ake Jawi (dulu Resort Binagara) untuk ke-dua kalinya setelah tahun 2017 lalu. Berawal dari kegiatan rutin petugas Resort yang mendapatkan informasi dari pemandu wisata yang melewati jalur pengamatan Bidadari Halmahera, bahwa mereka beberapa kali mendengar suara Mandar Gendang pada jalur tersebut. Maka diputuskan untuk menunggu burung misterius ini di jalur sesuai info tersebut. Hari Selasa, 5 Februari 2019, setelah beberapa jam menunggu sambil mengamati Paok Maluku Utara, keluarga Red bellied Pitta, sekitar pukul 11.00 WIT David, Adriel, dan Alim mendengar suara Mandar Gendang. Bergegaslah membuat tempat bersembunyi agar tidak terlihat dan dapat mengambil dokumentasi burung yang sensitive dan pemalu ini. Walaupun melintasi semak-semak dengan jarak pandang yang cukup jauh, burung endemik tersebut berhasil didokumentasikan oleh petugas resort yang juga seorang Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Petugas resort sangat senang sekali. “Subhanallah keren banged Drieeeel”, seru David. Keesokan harinya hujan mengguyur kawasan Resort Ake Jawi, maka kegiatan pengamatan ditunda pada hari berikutnya. Hari Kamis, pengamatan burung dengan nama latin Habroptila wallacii kembali dilakukan, kali ini tenaga teknis konservasi juga ikut untuk mendokumentasikannya berupa video. Akhirnya Sang Mandar kembali dijumpai pada tempat yang sama sebanyak 2 (dua) ekor. “Kita tidak boleh meninggalkan Mandar, ini kesempatan agar dia bisa teramati di jalur ini dan selalu bisa dijumpai Om Dave”, kata Adriel kepada David. Sampai berita ini di tulis, petugas Resort Ake Jawi, Adriel, dan Mahroji masih melakukan monitoring Mandar Gendang. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polisi Kehutanan Balai TN. Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Ekspedisi Baladewa Temukan 17 Genus Anggrek di Bawean

Sidoarjo, 8 Februari 2019. Ekspedisi Baladewa – Kelompok Pecinta Alam Biolaska - UIN Yogyakarta, 14 - 28 Januari 2019 yang lalu ternyata cukup mampu menggali sebagian kekayaan Pulau Bawean, utamanya kawasan konservasi. Selama di Bawean, tim eksplorasi Anggrek melakukan inventarisasi di dalam kawasan cagar alam dan suaka margasatwa. Namun demikian tidak keseluruhan kawasan dijelajahi, hanya beberapa lokasi saja yang diambil sebagai samplingnya. Adalah Gunung Balumbung, Gunung Nangka, dan Gunung Gadung, yang sebagian besar berada di Blok Gunung Besar. Pada lokasi-lokasi tersebut tim eksplorasi berhasil menemukan setidaknya 28 jenis anggrek. Dari jenis anggrek tersebut masuk ke dalam 17 genus. Pada genus Nervilia didapatkan tiga jenis spesies diantaranya Nervilia plicata, Nervilia punctata, dan Nervilia aragoana. Kemudian genus yang lain diantaranya Bulbophylum, Dendrobium, Eria, Rhincostylis, Vanda, Malaxis, Kingidium, Polidhota, Peristylus, Cymbidium, Phalaenopsis, Geodorum, dan Disperis. Sedangkan berdasarkan tipe pertumbuhannya, 17 jenis yang hidup dengan epifit yaitu menempel pada inang, dan 11 jenis merupakan anggrek teresterial (anggrek tanah). Dengan lokasi sampling yang hanya pada satu blok saja, maka eksplorasi terhadap keanekaragaman anggrek di kawasan konservasi Pulau Bawean hanya beberapa persen saja yang tergali. Kedepan diharapkan adanya eksplorasi-eksplorasi lain yang akan lebih menggali kekayaan flora di Pulau Bawean. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 6.193–6.208 dari 11.140 publikasi