Kamis, 23 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Sambut Hari Peduli Sampah Nasional, BBKSDA Jabar Gelar Aksi Bersih-Bersih di TWA Gunung Tangkuban Parahu

Bandung - 19 Februari 2019, Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh setiap tanggal 21 Februari, BBKSDA Jabar menggelar Aksi Bersih-Bersih Taman Wisata Alam (TWA). Kali ini, TWA yang menjadi sasaran aksi bersih-bersih ini adalah TWA Tangkuban Parahu, sebuah lokasi wisata yang terletak di Bandung Utara. Kegiatan yang digelar pada tanggal 18 Februari 2019 ini melibatkan berbagai pihak di antaranya PT Graha Rani Putra Persada sebagai pemegang IUPSWA TWA Gunung Tangkuban Parahu, volunteer, guide, pedagang, dan juga masyarakat setempat. Acara yang dipimpin secara langsung oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Purwakarta, Ir. Hawal Widodo ini diawali dengan apel, kemudian dilanjutkan dengan operasi bersih TWA Gunung Tangkuban Parahu. Pada kegiatan tersebut, berhasil dikumpulkan sebanyak 7 (tujuh) crashbag sampah. Di sela-sela operasi bersih, dilakukan juga penyuluhan kepada para pengunjung agar mereka senantiasa menjagai kebersihan lingkungan di sekitar lokasi TWA Gunung Tangkuban Parahu. Melalui aksi bersih-bersih yang dilakukan ini, diharapkan agar setiap pelaku wisata maupun para wisatawan memiliki kesadartahuan yang tinggi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sehingga tercipta kawasan TWA Gunung Tangkuban Parahu sebagai tempat rekreasi yang sehat, bersih, aman dan nyaman. (HUMAS BBKSDA JAWA BARAT)
Baca Berita

Kopi Mangrove, Buah Menjaga Keutuhan Mangrove di Pamekasan

Pamekasan, 19 Februari 2019. Hasil hutan Bukan kayu memang semakin tenar belakangan ini, sebagai contohnya Madu, Kopi, Malam, Minyak Kayu Putih serta produk lainya. Berbagai olahan makanan dan minuman dari Buah-buahan di hutan juga mulai banyak dikembangkan oleh masyarakat khususnya kelompok tani yang ada disekitar kawasan hutan atau lebih dikenal dengan Kelomok Tani Hutan. Mangrove Coffee atau Kopi Mangrove, merupakan salah satu hasil olahan dari Kelompok Tani Hutan Sabuk Hijau di Desa Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Sumenep. Tidak sesuai dengan namanya, Kopi Mangrove bukan berasal dari biji kopi, tapi hitam seperti kopi. Minuman unik tersebut dibuat dari bahan utama buah mangrove yaitu jenis Rhizopora stylosa yang banyak ditemui dipesisir Desa Lembung. Pembuatan Kopi Mangrove dimulai dengan pengumpulan buah dari hutan mangrove yang dilakukan oleh anggota kelompok tani, selanjutnya buah dikeringkan dengan cara jemur atau di oven sampai benar-benar kering atau remah saat digenggam. Setelah kering barulah buah mangrove disangrai sampai berwarna kehitaman yang selanjutnya di giling hingga halus menyerupai bubuk kopi. Untuk menambah aroma dan manfaat ditambahkan sedikit Jahe dan Cabe Jamu. Minuman yang juga dikenal dengan Kopi Malam Jum’at ini memiliki warna seperti kopi, dari segi aroma mirip dengan Kopi Jahe khas Madura namun sedikit ada aroma jamunya. Saat diteguk rasanya agak berbeda dengan kopi pada umumnya karena lebih terasa pahit jamu. Kopi Mangrove telah mengantongi sertifikasi Pangan Industri Rumah Tangga dari Dinas Kesehatan setempat sehingga dipastikan Aman untuk dikonsumsi. Kopi ini hanya dipasarkan ketika ada pesanan saja. Setiap bulannya tak kurang 15 – 50 kg kopi mampu dijual oleh Kelompok Tani Sabuk Hijau. Secara rutin kopi juga dikirim ke Jawa Barat dan diekspor ke Jepang melalui OISCA (Organization for Industrial and Cultural Advancement). Menurut ketua kelompok tani, Salaman, yang juga merupakan Kader Konservasi Jawa Timur, Kopi mangrove diproduksi sejak tahun 2010. Namun produksi skala lebih besar baru dimulai pada tahun 2012 hingga sekarang. Selain Kopi Mangrove produk lain dari hutan mangrove di Desa Lembung adalah madu hutan mangrove. Kesadaran masyarakat untuk menjaga mangrove kini membuahkan hasil, yang dahulu kayunya ditebang untuk kayu bakar, kini masyarakat berbondong-bondong untuk turut serta menanami kembali hutan mangrove yang dahulu dirusak. Selain karena ada hasil olahan yang sudah mampu diproduksi dan dijua,l alasan lainya yaitu hutan mangrove menjadi pelindung Desa Lembung dari ancaman ombak. (Didik Sutrisno, Penyuluh Kehutanan pada Seksi Konservasi Wilayah IV Pamekasan). Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Zonasi Baru Taman Nasional Taka Bonerate

Kepulauan Selayar, 18 Februari 2019. Taman Nasional Taka Bonerate merupakan kawasan pelestarian alam yang secara geografis terletak di Laut Flores pada 06° 17’ 15” – 07° 06’ 45” LS dan 120° 53’ 30” – 121° 25’ 00” BT. Kawasan ini ditetapkan sebagai TN. Laut Taka Bonerate dengan SK Menteri Kehutanan Nomor 92/KPTS-II/2001 tanggal 15 Maret 2001 dengan luas kawasan 530.765 Ha. merupakan karang atoll terbesar ketiga di dunia (luasan mencapai 220.000 Ha) setelah Atol Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Atol Suvadiva di Maldive, serta memiliki keanekaragaman biota laut yang tinggi dan habitat bagi berbagai spesies satwa laut yang langka dan dilindungi. Secara administratif kawasan Taman Nasional Taka Bonerate berada dalam wilayah Kecamatan Taka Bonerate, Kabupaten Kepulauan Selayar. Secara fisik kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, disebelah Utara berbatasan dengan Sulawesi Selatan, sebelah Timur berbatasan dengan Laut Banda, sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Flores, dan sebelah Barat berbatasan dengan Laut Jawa. Pengelolaan kawasan Taman Nasional Taka Bonerate dilaksanakan dengan sistem zonasi. Penetapan zonasi dalam kawasan TN Taka Bonerate didasarkan pada Keputusan Direktorat Jenderal PHKA Nomor : SK. 150/IV-SET/2012 tanggal 17 September 2012 tentang Zonasi Taman Nasional Taka Bonerate dalam kawasan TN Taka Bonerate terdiri dari 4 zona yaitu Zona Inti (8.341 Ha), Zona Perlindungan Bahari (21.188 Ha), Zona Pemanfaatan (500.879 Ha) dan Zona Khusus (357 Ha). Kemudian pada tahun 2018 dilakukan review Zonasi dengan surat Keputusan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor : SK.23/KSDAE/SET/KSA.0/1/2019, Tanggal 23 Januari 2019 yang terdiri dari 7 zona yaitu Zona Inti (10.046 Ha), Zona Perlindungan Bahari (25.875 Ha), Zona Pemanfaatan (9.491 Ha) dan Zona Khusus (270 Ha), Zona Tradisional (481.334 Ha), Zona Religi, Budaya dan Sejarah (3.279Ha) dan Zona Rehabilitasi (472 Ha). Dengan terbitnnya penetapan Surat Keputusan baru ini maka surat keputusan SK. 150/IV-SET/2012 tanggal 17 September 2012 tidak berlaku lagi. Sumber : Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Sambut HPSN, Balai TN Bali Barat Clean Up di Tiga Tempat

Cekik, 18 Februari 2019. Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) dan kegiatan Bali's Biggest Clean Up, Balai Taman Nasional Bali Barat (TNBB) melaksanakan aksi bersih serentak di tiga kawasan TNBB dengan lokasi di Pantai Cekik serta obyek wisata Karangsewu dan Pulau Menjangan, bahkan aksi bersih di Pantai Cekik diikuti 50 orang pegawai Balai TNBB. Aksi bersih merupakan kegiatan rutin Balai TNBB setiap hari jum'at dengan tajuk 'Jumpa Berlian: Jum'at Pagi Bersih Lingkungan'. Jumlah sampah yang dikumpulkan dari Pantai Cekik saja mencapai 8 karung sampah an-organik seberat 276 kg yang terdiri dari bungkus makanan, sterofoam, sandal, tali, dan pakaian bekas. Selain itu, dilakukan juga pembersihan pantai dari sampah bawaan arus laut berupa kayu, bambu dan dedaunan. Kegiatan ini memicu kesadaran masyarakat untuk mengurangi jumlah pemakaian sampah plastik. Selain itu, aksi ini juga dapat meningkatkan kepedulian dan jalinan ikatan komunitas masyarakat serta pelaku jasa wisata dalam pengelolaan obyek wisata di TNBB, khususnya menjaga kebersihan dan kenyamanan obyek wisata. Aksi bersih di obyek wisata Karangsewu yang dilaksanakan pada hari ini (18/2) diikuti 80 orang, terdiri dari pegawai Balai TNBB serta siswa/i SMP Negeri 4 Melaya dan kelompok masyarakat di sekitar Karangsewu. Aksi bersih berlangsung selama dua jam mulai pukul 07.00 s/d 09.00 Wita dengan hasil 15 karung sampah an-organik seberat 467 Kg berupa kemasan makanan, kertas nasi, kresek, pampers, pakaian, botol kaca, dan botol minuman. Di Pulau Menjangan, aksi bersih dilaksanakan di tiga lokasi konsentrasi sampah plastik, yaitu area mangrove Gilikencana, pantai dan mangrove Pos 1 serta pantai utara Pulau Menjangan. Peserta aksi yang terlibat sebanyak 150 orang, terdiri atas komunitas masyarakat pelaku jasa wisata di sekitar Pulau Menjangan dan Trash Hero Indonesia yang didampingi oleh 15 orang petugas Balai TNBB. Aksi bersih di Pulau Menjangan merupakan kegiatan yang diinisiasi oleh Clean Menjangan Island (CMI), Friend of Menjangan, NCF Putri Menjangan, Pokmasta Pejarakan, Kelompok Pemandu TNBB, Kelompok Nelayan Banyumandi, Kelompok Nelayan Wana Segara dan Pokdarwis Segara Indah serta SPTN Wilayah III Labuan Lalang, Balai TNBB yang tergabung dalam Konsorsium Komunitas Guardian of Menjangan. Dalam aksi ini, peserta diberikan target mengumpulkan sampah plastik Satu Orang Satu Karung di lokasi yang telah ditentukan. Setelah dilakukan penimbangan, sampah plastik serta berbagai jenis botol dan sampah lainnya yang berhasil dikumpulkan hari ini sebanyak 915 Kg. Selain itu, dilakukan juga pengambilan sampah bawah laut (underwater clean up) oleh personil NCF Putri Menjangan dan Biosphere Foundation dengan hasil sebanyak 10 Kg. Apabila ditambah dengan sampah plastik yang dalam tiga minggu terakhir dikumpulkan oleh Petugas Resort Pulau Menjangan di area Pos 1 sebanyak 250 Kg, maka total sampah yang dikeluarkan dari Pulau Menjangan pada hari ini sebanyak 1.175 Kg. Sampah tersebut kemudian dibawa menuju Labuan Lalang dan selanjutnya diangkut dengan dua unit truk ke Tempat Pengolahan Akhir (TPA) di Desa Pejarakan. Konsentrasi sampah di Pulau Menjangan merupakan sampah kiriman yang terbawa arus laut Selat Bali dan Laut Utara Bali yang tersangkut di area mangrove dan terdampar di pantai. Kepala Balai TNBB (Drh. Agus Ngurah Krisna K., M.Si) dalam persiapan pelaksanaan kegiatan berpesan bahwa untuk meningkatkan jejaring kerjasama dengan para pihak, baik instansi pemerintah maupun komunitas masyarakat dalam pengendalian sampah di kawasan TNBB. Sementara itu, Arif Rahman (Kordinator CMI) mewakili Guardian of Menjangan, menyambut baik dilaksanakannya aksi bersih ini dan CMI bersama komunitas lainnya akan terus mendukung Balai TNBB dalam menciptakan Pulau Menjangan sebagai obyek wisata yang aman, nyaman dan penuh kenangan. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Elang Flores: Sang Rajawali penguasa langit Flores

Labuan Bajo, 18 Februari 2019. Nama Elang Flores hampir tidak diketahui oleh sebagian besar masyarakat Flores pada umumnya. Hanya segelintir orang yang disebut peneliti, atau pemandu wisata alam yang mengetahui keberadaan Elang Flores di daratan Flores. Dibeberapa tempat elang Flores disebut sebagai burung Rajawali yang membedakan jenis elang ini dengan jenis elang lainnya. Elang Flores (Nisaetus floris) merupakan jenis elang endemik yang menghuni wilayah Sunda kecil dengan sebaran terbatas pada tiga pulau yaitu Lombok, Sumbawa dan Flores serta beberapa pulau kecil lainnya termasuk Komodo dan Rinca. Saat ini populasi elang Flores di alam diperkirakan hanya 250 ekor. Oleh IUCN, spesies ini dikategorikan dalam daftar Sangat Terancam Punah (critically endangered) akibat ukuran populasi yang sangat kecil. Dalam rangka menyebarkan informasi konservasi Elang Flores kepada masyarakat, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati melalui Balai Taman Nasional Komodo dan Balai Besar KSDA NTT bekerjasama dengan Raptor Indonesia menginisiasi dan mengadakan workshop tentang “Potensi Elang Flores sebagai Obyek Wisata Ekologi Berbasis Raptor di NTT”. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 13 – 14 Februari 2019, diikuti oleh peserta dari berbagai instansi pemerintah daerah, masyarakat dan pelaku wisata. Kegiatan ini juga bertujuan untuk menggali informasi dalam rangka menyusun strategi dan rencana aksi konservasi Elang Flores dan habitatnya. Dalam kegiatan ini peserta melakukan survei Elang Flores ke dua lokasi yaitu Taman Nasional Komodo dan Cagar Alam Wae Wuul. Pengamatan di CA Wae Wuul menemukan dua individu Elang Flores sedang beraktivitas soaring (terbang) di wilayah perbatasan hutan dan perkebunan masyarakat. Selain Elang Flores, jenis elang yang dijumpai antara lain Sikep madu Asia (Eastern honey-buzzard) dan baza hitam (black baza) yang sedang bermigrasi melewati Flores. Pengamatan di TN Komodo tidak menemukan jenis Elang Flores namun jenis elang migran teramati dalam jumlah yang relatif lebih banyak. Elang Flores memiliki ukuran tubuh sedang (±50 cm), warna tubuh coklat kehitam-hitaman, dada dan perut berwarna putih keabuan dengan corak tipis berwarna coklat kemerahan, serta terdapat enam garis (strip) coklat pada ekor yang merupakan ciri pembeda dengan jenis elang lainnya. Hal pembeda yang paling menonjol adalah adanya bagian tepi dalam sayap yang transparan, terlihat berkilauan ketika terkena sinar matahari. Pengalaman pengamatan Elang Flores menjadi pengalaman yang menarik dan mengasyikkan bagi semua peserta. Harapannya kelestarian Elang Flores dapat terus terjaga, untuk hutan yang lestari dan masyarakat yang sejahtera. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo
Baca Berita

Bahagia, Saat Bisa Hidup Bebas di Alam

Pontianak, 18 Februari 2019. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang bekerja sama dengan International Animal Rescue (IAR) Indonesia, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Nanga Pinoh – Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Anggota Koramil dan Anggota Kapolsek Menukung kembali melakukan pelepasliaran Orangutan sebanyak 6 individu. Pelepasan dilakukan di Kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) tepatnya di Kawasan Resort Mentatai Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, Kamis (14/2/19). Orangutan yang dilepasliar bernama Zoya (Betina,± 2,5 tahun), Obi (Jantan,±8 tahun), Muria (Betina,±8,5 tahun), Lady (Betina,±9 tahun), Osin (Betina,±1,5 tahun) dan Maili ( Betina ±10 tahun). Orangutan tersebut berhasil diselamatkan tim wildlife Rescue Unit (WRU) SKW I Ketapang bekerjasama dengan YIARI dan setelah melalui proses rehabilitasi, tim dokter hewan menyatakan keenam individu orangutan layak untuk dilepasliarkan. Zoya merupakan bayi orangutan yang di temukan tim Yiari pada tanggal 26 November 2017 di Gunung tarak. Pada saat ditemukan, zoya tergeletak di tanah di tinggalkan induknya. Hal ini diketahui setelah tim menunggu beberapa saat sebelum membawanya ke Yiari. Obi merupakan Orangutan jantan yang di temukan oleh pekerja diladang yang bernama Pak Sumbing dan kemudian memeliharanya selama ±10 bulan. Selama di pelihara, Obi beberapa kali mengalami demam dan diare. Muria merupakan Orangutan yang di pelihara oleh Pak Sumur di desa Sumberejo, selama kurang lebih 3 tahun. Muria di pelihara setelah beberapa kali mencoba masuk ke warung Pak Sumur setelah beberapa kali juga Pak Sumur berusaha untuk mengembalikan Muria ke habitatnya. Lady merupakan Orangutan hasil pembelian perusahaan (PT Harita) dari masyarakat lokal. Pihak perusahaan kemudian menghubungi pihak BKSDA untuk menyerahkan Lady. Maili merupakan Orangutan yang di pelihara bapak Yusuf selama ±6 tahun, maili didapatkan dengan cara di beli dari pekerja kapal dengan harga 800 rb. Selama proses rehabilitasi, Maili melahirkan Osin tanggal 10 Mei 2017. Maili dan Osin sudah dilepasliarkan sebelumnya pada tanggal 10 Juli 2018 kemudian pada tanggal 17 Agustus 2018 Maili dibawa kembali dari gunung tarak ke pusat rehabilitasi karena Maili terlihat lemas, tidak ada nafsu makan dan tidak aktif. Sadtata N Adirahmanta selaku Kepala BKSDA Kalbar mengungkapkan “Orangutan yang berhasil dilepasliarkan sampai dengan bulan Februari ini sebanyak 10 individu. Sebelum dilepasliarkan, Orangutan memerlukan waktu yang cukup panjang untuk mengembalikan sifat liarnya terutama setelah dipelihara dan berinteraksi dengan manusia. Hal ini karena mereka terbiasa hidup dan berperilaku seperti manusia, misal memakan makanan yang dimakan manusia seperti nasi, merupakan makanan yang tidak akan ditemukan orangutan di alam”. Beliau juga menambahkan “pentingnya kesadaran masyarakat untuk tidak memelihara apalagi memperjualbelikan baik tumbuhan maupun satwa dilindungi. Mari bersama kita jaga dan lestarikan tumbuhan dan satwa di habitat aslinya, jika bukan kita siapa lagi.” Sumber : Tim WRU SKW I Ketapang, Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Mengapa Menteri LHK Bersihkan Pantai Pelabuhan Cirebon?

Kuningan, 16 Februari 2019. Langit berawan mewarnai pagi ini di pantai pelabuhan Cirebon (16/2). Hiruk pikuk panitia dan peserta "Coastal Clean Up" menyambut Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) yang datang bersama rombongan. Ya, hari ini Menteri Siti akan memimpin bersih-bersih pantai utara Jawa (Pantura) itu. Turut hadir pula Walikota Cirebon dan Bupati Indramayu serta "stakeholder" yakni Pertamina EP VI Balongan, Indonesian Power, Pelindo, pelajar, aktivis lingkungan, dan Pramuka. Harapannya, acara ini bisa memberikan kesempatan kepada para pihak tersebut agar aktif dalam pengendalian pencemaran pesisir dan pantai. Bahkan lebih luas lagi agar dapat mengurangi pencemaran ke tengah laut. Sehingga tidak ada lagi ikan besar yang mati karena memakan sampah plastik. Acara bersih pantai tidak hanya kali ini, momen seperti ini telah berjalan sejak tahun 2015. Bahkan secara global pun telah dilakukan. Menurut Siti, "Sampah laut sebagian besar berasal darat yang terbawa dari aliran sungai dan kawasan pesisir". Nah, sobat ini perlu diperhatikan ya. Kita jangan membuang sampah di sungai!. "Oleh karenanya kita harus menyelesaikan masalah sampah dengan membangun dan bekerja sama-sama", tutupnya. Siti juga mengajak momen ini bukan menjadi awal dan akhir penanganan sampah. Pemerintah daerah, aktivis dan masyarakat maupun "stakeholder" lain harus turut serta dalam menjaga lingkungan. Dengan bersenjatakan sapu, pengki, dan karung bersama seribuan peserta, Siti ikut memunguti sampah di Pantura. Tak kurang satu jam telah terkumpul sampah plastik sebanyak ratusan kilogram. Sampah menjadi masalah serius saat ini di gunung, pantai dan di mana pun. Tapi sampah akan berdaya guna apabila kita mengolahnya dengan benar. Misalnya dengan mendaur ulang kantong plastik menjadi tas. So, mari kita kurangi sampah plastik dengan beralih ke bahan ramah lingkungan. Biasakan buang sampah pada tempat yang tersedia. Jangan di sungai ya [Teks © Dwi S-BTNGC ; foto © Aditya | 022019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Pelatihan SMART Balai KSDA Jambi

Jambi, 12 Februari 2019. Balai KSDA Jambi bersama mitra ZSL Indonesia melakukan kegiatan Pelatihan Penggunaan Perangkat Lunak SMART (Spatial Monitoring And Reporting Tool). Pelatihan dilaksanakan pada tanggal 12 hingga 14 Februari 2019 bertempat di hotel Odua Weston Kota Jambi dengan waktu selama tidak kurang dari 7 jam setiap harinya. Kegiatan pelatihan ini melibatkan Setditjen KSDAE dalam rangka harmonisasi dengan Sistem Data Konservasi (SIDAK), serta dengan Direktorat Kawasan Konservasi untuk teknis penjelasan tentang pentingnya aplikasi SMART dalam membantu dokumentasi data serta pemaparan tentang aplikasi SMART yang telah diterapkan oleh UPT di wilayah lain. Sedangkan untuk pengisi materi pelatihan penggunaan SMART dilakukan oleh SMART trainer dari ZSL Indonesia. Kegiatan hari pertama diisi dengan pemaparan dari Setditjen KSDAE tentang Sistem Data Konservasi (SIDAK), kemudian pemaparan dari Direktorat Kawasan Konservasi tentang pentingnya sistem pencatatan dan penyimpanan data untuk proses pengambilan kebijakan. Kegiatan hari kedua diisi dengan simulasi pengambilan data menggunakan aplikasi Cybertracker yang dipasang di setiap telepon seluler milik petugas BKSDA Jambi yang menjadi peserta pelatihan dan disimulasikan menjalankan kegiatan rutin BKSDA Jambi seperti patroli kawasan, patroli TSL dan penanggulangan konflik manusia dan satwa liar. Setelah simulasi pengambilan data di lapangan, kegiatan dilanjutkan dengan pengolahan data dari aplikasi Cybertracker di telepon seluler tersebut ke aplikasi SMART yang telah terpasang di setiap komputer jinjing milik petugas BKSDA Jambi yang menjadi peserta pelatihan. Kegiatan hari ketiga diisi dengan simulasi pelaporan menggunakan aplikasi SMART. Contoh data yang telah didapatkan dari hari kedua, ditambah dengan beberapa data yang telah dimiliki oleh masing-masing petugas BKSDA Jambi disimulasikan dengan sistem pelaporan SMART. Staf-staf ditingkat resort mengumpulkan data lapangan seperti patroli kawasan, patroli TSL dan kegiatan penanggulangan konflik manusia dan satwa liar. Data-data tersebut kemudian dikumpulkan di tingkat operator seksi. Selanjutnya, data-data yang telah terkumpul dari setiap seksi diserahkan kepada administrator yang berada di balai untuk selanjutnya diproses untuk agar bisa ditampilkan dalam bentuk laporan bagi pimpinan untuk pertimbangan dalam pengambilan kebijakan. “Aplikasi SMART ini nanti nya akan membantu kinerja kita. Nanti nya aplikasi ini akan berujung pada perencanaan kegiatan Balai KSDA Jambi karena kita akan mengetahui kegiatan apa yang perlu dilakukan setelah mendapatkan data-data yang terkumpul dari lapangan” tutup Kepala Balai KSDA Jambi Rahmad Saleh. Para peserta juga memberikan saran dan masukan terhadap pelatihan yang digelar selama 3 hari ini. Kedepannya pelatihan ini akan berlanjut dengan tujuan memperdalam kemampuan peserta terhadap aplikasi SMART. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Meretas Mimpi Melalui Kemitraan Konservasi

Pelaihari, 13 Februari 2019 – Suaka Margasatwa (SM) Pelaihari Tanah Laut memiliki luasan 6.745 Ha sesuai SK.5149/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 16 Juli 2014 tentang SK Penetapan Suaka Margasatwa Pelaihari. Tipe ekosistem hutan meliputi hutan pantai, hutan mangrove, hutan rawa air tawar dan hutan dataran rendah yang tersebar di dua kecamatan dan lima desa yaitu Desa Swarangan, Desa Alur, Desa Sabuhur dan Desa Kandangan Lama. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc didampingi KSBTU, Suwandi, S.Hut, MA, Kepala Seksi Wilayah I Pelaihari, Mirtha Sari S.Hut, MP dan Kepala Resort Jorong, Akhmad Fauzan, S.Hut serta tim teknis mengunjungi pemukiman di Muara Sabuhur yang juga merupakan bagian dari Desa Sabuhur. Pada kunjungan ini Kepala Balai dan tim mengadakan diskusi dengan beberapa tokoh masyarakat yang berada di Muara Sabuhur tentang prospek pengembangan wisata alam terbatas di Suaka Margasatwa (SM) Pelaihari dengan pelibatan masyarakat yang berada di dalam kawasan Suaka Margasatwa (SM) Pelaihari pada blok khusus melalui Kemitraan Konservasi. Menurut Mirtha, “Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mensosialisasikan skema Kemitraan Konservasi dan identifikasi masyarakat dan potensi peluang kemitraan”. Salah satu tokoh Desa Sabuhur, Bapak Nurdin menyampaikan bahwa masyarakat sudah mengetahui SM Pelaihari merupakan kawasan konservasi, sehingga mereka tidak berani beraktivitas karena berada di dalam kawasan. Adanya skema Kemitraan Konservasi dari KemenLHK merupakan kabar baik bagi masyarakat sehingga mimpi untuk sejahtera bisa terwujud. Banyak potensi yang bisa dikembangkan seperti panorama pantai, kolam air tawar dan pemancingan. “Kami siap mendukung program BKSDA Kalsel demi kesejahteraan dan kelestarian” pungkas Nurdin. Dalam diskusi Kepala Balai menyampaikan bahwa pengembangan wisata terbatas di Muara Sebuhur ini selain memiliki keanekaragaman ekosistem dan keindahan panorama pantai juga tidak terlepas dari sejarah berdirinya Desa Sabuhur yang awalnya berada di Muara Sabuhur. Melalui program Kemitraan Konservasi diharapkan masyarakat sekitar kawasan mendapatkan manfaat melalui pengembangan wisata terbatas di Suaka Margastawa (SM) Pelaihari. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Percepatan RPP dan RKT BKSDA Kalsel dengan PT. Adaro Indonesia

Banjarbaru, 15 Februari 2019 – Ruang rapat Balai KSDA Kalimantan Selatan kedatangan tim PT. Adaro Indonesia, tak hanya berkunjung dan bersilaturahmi tim PT. Adaro Indonesia sekaligus membahas RPP dan RKT untuk Perjanjian Kerjasama (PKS) “Penguatan Fungsi Pengelolaan TWA Pulau Bakut di Kalimantan Selatan”. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc beserta jajaran staf sangat menyambut baik kedatangan dan mengapresiasi PT. Adaro Indonesia yang bersedia meluangkan waktu hadir di Balai KSDA Kalimantan Selatan. “Pertemuan kali ini sebagai langkah percepatan untuk penyelesaian RPP dan RKT agar segera dilaksanakan penandatanganan”, tutur Rusdi Husin dari PT. Adaro Indonesia Jakarta. Sektor pariwisata di kawasan konservasi penting mendukung program Nasional dan Provinsi Kalimantan Selatan yang berfokus pada pariwisata berbasis alam. Potensi-potensi pariwisata alam di daerah harus dikembangkan, apalagi TWA Pulau Bakut memiliki potensi yang sangat besar baik dari sisi geografi, aksesibilitas maupun alam. Nilai tambah dari TWA Pulau Bakut adalah karena merupakan habitat alami satwa endemik Kalimantan Selatan yang terancam punah yaitu bekantan. “Selain sebagai Taman Wisata Alam, Pulau Bakut juga sebagai Santuari Bekantan Riparian yang bertujuan untuk menjaga, merawat dan melestarikan populasi bekantan”, tutur Mahrus. Balai KSDA Kalimantan Selatan mendapat dukungan penuh dari PT. Adaro Indonesia untuk pengelolaan TWA Pulau Bakut berupa kegiatan pengawetan flora dan fauna, pengembangan sarana dan prasarana, pemulihan habitat bekantan, pusat rehabilitasi bekantan, pusat edukasi konservasi bekantan, pemberdayaan masyarakat serta promosi dan publikasi skala regional, nasional dan internasional. Dalam kesempatan ini, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc juga menyampaikan bahwa berdasarkan pertemuan dengan Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut, M.P, pada bulan Maret 2019 mendatang TWA Pulau Bakut berkesempatan menjadi salah satu destinasi wisata di Kalimantan Selatan yang akan dikunjungi oleh Duta Besar Finlandia dan rombongan, sehingga momen tersebut harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya sebagai sarana promosi dalam skala internasional. Kunjungan PT. Adaro Indonesia dilanjutkan ke TWA Pulau Bakut yang didampingi oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, KSBTU, Kepala Seksi II Banjarbaru beserta tim. Sebelum berangkat, Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan bersama Perwakilan PT. Adaro Indonesia di Kalsel, Bapak Rizki telah menandatangani Berita Acara hasil pertemuan. Juga telah memberikan cinderamata berupa boneka bekantan untuk PT. Adaro Indonesia sebagai tanda terima kasih karena telah bersedia berkunjung ke Balai KSDA Kalimantan Selatan. (jrz) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Gema Gandang Dewata

Mamuju, 14 Februari 2019. Taman Nasional Gandang Dewata adalah taman nasional ke-53 di Indonesia yang ditetapkan Menteri LHK dengan SK No.773 tanggal 3 Oktober 2016 dengan luas 180.078 Ha dan dideklarasikan pada tanggal 5 April 2017. Kegiatan Book Launching “Gema Gandang Dewata - Merintis kelembagaan Taman Nasional Gandang Dewata” dilaksanakan tanggal 14 Maret 2019 di Hotel D’Maleo, Jalan. Yos Sudarso. No 51 Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. Dalam laporan Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan Ir. Thomas Nifinluri, M.Sc. acara Book Launcing ini adalah salah satu langkah untuk merintis terbentuknya lembaga mandiri di Taman Nasional Gandang Dewata dan Mewujudkan Destinasi Wisata Baru di region Sulawesi. Kepala Balai Besar KSDA Sulsel juga menyerahkan secara simbolis Buku “Gema Gandang Dewata” kepada ibu Wakil Gubernur Sulawesi Barat dan Tokoh Adat Mamasa. Hadir sekaligus membuka Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Hj. Enny Anggraeni dalam sambutannya menyampaikan “Saya mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini. Insya Allah, kehadiran kita semua pada kesempatan ini merupakan wujud komitmen bersama dalam rangka meningkatkan dan menguatkan dukungan serta kepedulian untuk menjaga eksistensi Hutan dan Lingkungan Sulawesi Barat.” Acara ini juga dihadiri oleh KADISHUT Provinsi Sulbar, OPD Sulbar, Tokoh adat Mamasa Bapak Ambe Daud, Akademisi, LSM, Mapala, Media, Pemerhati dan Penggiat Wisata. Dalam kegiatan Book Launcing ini menghadirkan Jurnalis dan penulis Autobiografi senior dari Fajar Group, Sili suli sebagai Pembahas Buku “Gema Gandang Dewata” dan Salah satu penulis buku Agus Suseno, S.Hut. Narasumber dari salah satu penulis buku “Gema Ganda Dewata” Agus Suseno, S.Hut yang juga PEH (Pengendali Ekosistem Hutan) dalam paparannya, buku Gema Gandang Dewata ini memiliki 5 (Lima) pokok bahasan yaitu : 1. Kearifan Lokal mengenai mitos dan To Pembumi, 2. Profil Kawasan, 3. Intervensi Kegiatan, 4. Pemangku Kepentingan dan 5. Harapan. Pembahas Bapak Sili Suli mengapresiasi buku Gema Gandang Dewata ini. Menurut beliau alasan buku ini patut diapresiasi karena, Buku pertama tentang Gandang Dewata yang menyajikan informasi paling lengkap. Diskusi dalam acara launching Buku “Gema Gandang Dewata” berlangsung interaktif dan banyak tanggapan serta opini yang muncul dari perserta launcing buku ini. Prof. Dr. Ir. Mir Alam Beddu M.Si. dari UNSULBAR mengapersiasi atas terbitnya buku ini dan ingin menggali lebih jauh kearifan lokal Taman Nasional Gandang Dewata. Lalu Kabid Pengembangan Destinasi Wisata Dispar Provinsi Sulbar, Ibu Rini menanggapi bahwa saat ini sedang digagas Festival Gandang Dewata sehingga buku ini dapat menjadi sumber informasi penting dan berharap para pihak mendukung rencana Festival ini. Acara launching buku ini diharapkan menjadi sarana promosi dan publikasi potensi wisata alam dan budaya di kawasan Taman Nasional Gandang Dewata sehingga dapat dikenal luas oleh masyarakat. Untuk lebih lanjut diharapkan buku ini dapat menjadi sumber informasi bagi para pihak dan terciptanya komunikasi dan kerjasama yang baik khususnya Pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, Pemerintah Kabupaten Mamasa, Mamuju, Mamuju Tengah, masyarakat adat, dan lembaga donor sehingga dapat mempercepat terbentuknya kelembagaan Taman Nasional Gandang Dewata. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: Analisis data pada subag Data, Evlap dan Humas (Edi Sarwana - 0821-3431-9222)
Baca Berita

Indahnya Sinergitas Pengelolaan Pariwisata TN Lore Lindu Bersama Pansus II DPRD Kabupaten Poso

Palu, 14 Pebruari 2018. Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) sebagai pengelola kawasan konservasi Taman Nasional Lore Lindu saat ini berupaya mengedepankan pengelolaan kawasan yang melibatkan multi stakeholder dan kolaboratif. Pengelolaan multi stakeholder perlu dukungan koordinasi dan komunikasi yang aktif antara berbagai pihak dalam setiap penyusunan rencana dan kegiatan yang berhubungan dengan Kawasan TNLL termasuk pengelolaan pariwisatanya. Untuk itu BBTNLL menerima kunjungan dari Tim Panitia Khusus (PANSUS) II DPRD Kabupaten Poso yang diketuai oleh Syarifudin Odjobulo, Dinas Pariwisata Kabupaten Poso, dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Poso, Kamis (14/1). Pertemuan kerja ini juga dihadiri Kepala Bagian Tata Usaha, Kepala BPTNW II Makmur, Kepala BPTNW III Poso, dan staff lingkup BBTNLL serta perwakilan Forest Programme III (FP III). Dalam pertemuan kerja ini Kepala Balai Besar TNLL, Ir. Jusman sebagai pemangku kawasan menyampaikan tugas pokok dan fungsi Taman Nasional Lore Lindu yaitu mulai dari pengamanan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan termasuk pemanfaatan potensi wisata di TNLL. Hal ini bagaikan gayung bersambut dengan tujuan kunjungan Tim PANSUS II DPRD Kabupaten Poso terkait pembahasan Rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Poso tentang Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Kabupaten Poso. Pada kesempatan ini, Jusman mengungkapkan harapannya agar tercipta sinergitas antara pengembangan pariwisata di TNLL dengan pengembangan pariwisata di wilayah Kabupaten Poso sehingga menciptakan konsep peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan pariwisata sebagai penyokong kelestarian Kawasan. Selanjutnya, Tim PANSUS II DPRD Kabupaten Poso menyampaikan semangat dalam mendukung dan menjalin kerjasama dengan BBTNLL khususnya mengenai pengembangan pariwisata yang berbasis masyarakat. Bend Unger dari FP III menambahkan bahwa FP III juga turut mendukung pengembangan pariwisata di Kawasan TNLL terutama di lokasi destinasi Objek Wisata Tambing yang saat ini sedang menjadi salah satu spot kunjungan para wisatawan lokal dan perlu mendapat perhatian lebih terkait pengembangannya. Sebelum menutup pertemuan, Kepala BBTNLL mempresentasikan hasil revisi zonasi pengelolaan TN Lore Lindu Kabupaten Sigi dan Poso tahun 2018 yang didalamnya telah mengakomodir perkembangan dan dinamika yang ada di masyarakat dan instansi-instansi yang berkepentingan terhadap perkembangan wilayahnya dengan adanya zona tradisional dan zona khusus di dalam kawasan TNLL. Selain itu, revisi zonasi ini dapat menciptakan ruang kemitraan baik dengan masyarakat sekitar Kawasan TNLL maupun dengan berbagai pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan Kawasan TNLL secara kolaboratif, ujar Jusman. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

5 Ekor Satwa Liar Dilepasliarkan BKSDA Jambi

Jambi, 9 Februari 2019. Balai KSDA Jambi melakukan pelepasliaran 5 ekor satwa liar diantaranya 2 ekor Elang Brontok (Nisaetus Cirrhatus) berjenis kelamin jantan dan betina dan 3 ekor Kucing Hutan (Felis Bengalensis) berjenis kelamin betina. Kelima satwa tersebut diperoleh melalui kegiatan penggagalan transaksi jual beli satwa, dan sitaan tehadap salah seorang warga kota jambi (elang brontok), sedangkan yang lainnya diperoleh dari penyerahan sukarela oleh warga (kucing hutan). Elang Brontok dan Kucing Hutan masuk dalam kategori least concern menurut IUCN, namun jika dilakukan perburuan terhadap satwa tersebut bukan tidak mungkin jumlahnya akan terus berkurang dan bisa masuk ke dalam kategori terancam. Elang Brontok dan Kucing Hutan merupakan satwa yang dilindungi di Indonesia menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.106 tentang jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang dilindungi. Pelepasliaran dilakukan di kawasan PT. REKI karena merupakan salah satu habitat burung Elang Brontok dan Kucing Hutan dan dinilai PT. REKI memiliki luasan yang cukup untuk daya jelajah satwa tersebut. Kawasan hutan PT. REKI. Diharapkan setelah dilakukan pelepasliaran, satwa tersebut dapat kembali beradaptasi dengan habitat barunya dan berkembang. Kepala Balai KSDA Jambi, Rahmad Simbolon mengungkapkan “5 ekor satwa telah dilepasliarkan oleh BKSDA Jambi terdiri dari 2 ekor Elang Brontok dan 3 ekor Kucing Hutan. Satwa telah dilepasliarkan di kawasan PT. REKI. Terimakasih untuk partisipasi masyarakat yang telah menyerahkan satwa dilindungi secara sukarela, mari kita jaga bersama kelangsungan ekosistem kita.” Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Jejak Petualang Menjejak Taman Nasional Bukit Tiga Puluh

Rengat, 15 Februari 2019. Media Televisi menjadi salah satu media efektif dalam mempromosikan sebuah kawasan wisata. Berbagai program TV dengan genre petualangan dan jelajah objek wisata makin marak bermunculan. Salah satunya adalah Jejak Petualang, program petualangan yang dimiliki salah satu stasiun TV swasta di Indonesia ini. Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) mendapat kesempatan untuk diliput kru Jejak Petualang pada 8 s.d 13 Februari 2019. Kesempatan ini tak dilewatkan dan dipilih Camp Granit dan salah satu dusun yang berada di zona tradisional sebagai lokasi liputan. Camp Granit merupakan ikon wisata TNBT. Berbasis wisata minat khusus, Camp Granit menyajikan pemandangan alam yang kaya akan keanekaragaman hayati. Lokasi ini juga merupakan home range satwa langka dan dilindungi Harimau Sumatera. Spot ini dipilih menjadi salah satu setting lokasi liputan. Camp Granit berada di wilayah kerja Resort Talang Lakat, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Belilas. Alamnya yang indah mampu mewakili keindahan hutan hujan tropis dataran rendah di Sumatera.Materi liputan di Camp Granit meliputi kegiatan Perlindungan, pengamanan kawasan dan pengamatan Satwa. Adapun bentuk kegiatannya adalah : • Simulasi patroli perlindungan Kawasan TNBT (patroli pengamanan dilaksanakan bersama-sama antara Polhut TNBT dengan Masyarakat Mitra Polhut). • Simulasi pengamatan satwa khususnya Monitoring Harimau Sumatera (HS) meliputi pemasangan kamera trap, imput data dan cara pengolahan data hasil pemasangan kamera trap. Sedangkan dalam rangka mengangkat budaya dan Kehidupan Suku Talang Mamak di Zona Tradisional TNBT, adapun fokus liputannya adalah : • Mengangkat tentang kearifan lokal dan keselarasan TNBT dengan Masyarakat Talang Mamak khususnya dalam pemanfaatan HHBK untuk memenuhi kebutahan hidup sehari – hari, seperti : - Pemanfaatan Jernang; - buah – buahan (Duku, Durian, Petai dll); - cara - cara tradisional dalam berburu ikan di Sungai Batang Gansal, berburu kelelawar untuk kebutuhan protein hewani; - Pemanfaatan Bambu untuk sarana transportasi tradisional; - Pemanfaatan tanaman hutan untuk obat-obatan tradisional seperti Tanaman Pasak Bumi, kulit duku untuk obat malaria dan tanaman hutan lainnya; - Penampilan kesenian tradisional dan ritual adat Suku Talang Mamak. Adapun rencana tayang Liputan Jejak Petualang di TNBT akan disiarkan pada tanggal 26 Februari 2019 dengan host cantik Efinda Putri Andriani. Semoga dengan adanya liputan ini dan tayangnya TNBT, makin menambah minat para wisatawan untuk berkunjung ke TNBT. Ayo ke Taman Nasional ! Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh
Baca Berita

Dari Gersang ke Hijau, Sebuah Nama Untuk Hijaukan Tinabo

Pulau Tinabo, 15 Februari 2019. Awalnya adalah kegiatan parsial oleh teman-teman lapangan tahun 2006, Pulau Tinabo pada saat itu masih didominasi tumbuhan semak belukar. Kegiatan ini didahului pemahaman bahwa pengetahuan kita (petugas) dasarnya adalah kehutanan, tetapi kenapa lingkungan disekitar kita gersang, padahal penguasaan tanam-menanam pohon kita kuasai. "Kemudian pada tahun-tahun selanjutnya dimasukkan dalam kegiatan kedipaan oleh saudara Irawan Asaad yang pada waktu itu koordinator fungsional PEH (Pengendali Ekosistem Hutan)" jelas Saleh Rahman koordinator PEH saat ini. Jenis pohon yang ditanam awalnya adalah Ketapang, namun perkembangannya kurang baik maka diganti dengan jenis Cemara Laut. Kemudian berkembang pemikiran bagaimana semua orang yang datang berkunjung ke Pulau Tinabo bisa terlibat dalam giat ini. Setiap pengunjung ditawarkan, menanam dan menuliskan namanya di papan yang disediakan oleh teman-teman di Tinabo. Awal dicetuskan kegiatan ini namanya adalah "Sebuah nama untuk sejuta pohon", sejak 2017 keberhasilan penanaman pohon mulai terlihat dan programnya/tagnya kita ubah menjadi "Sebuah nama untuk hijaukan tinabo". Asa tetap ada bahwa suatu saat ketersediaan air tanah yang tawar sepanjang tahun terealisasi di pulau tinabo melalui gerakan penanaman pohon bersama. Sekarang pulau Tinabo makin tahun makin hijau, sejuk tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. "Kami ucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah menanam pohon selama ini, melalui giat ini" Ucap Faat Rudhianto Kepala Balai TN Taka Bonerate. Mari berbuat baik kepada alam kita, HIJAUKAN BUMI KITA. Sumber : Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Menghalau Harimau Sumatera di Saipar Dolok Hole

Padangsidimpuan, 13 Februari 2019. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrensis) turun ke pemukiman warga, dan kali ini tempat kejadian perkara (TKP) nya adalah Kampung Sibatang Garut Desa Batang Parsuluman, Kecamatan Saipar Dolok Hole, Kabupaten Tapanuli Selatan. Turunnya Harimau Sumatera ke pemukiman ini menyebabkan terjadinya konflik di masyarakat. Menurut laporan kepala desa, penampakan harimau pertama kali pada Selasa, 5 Februari 2019, yang memangsa 2 ekor kambing milik warga. Berlanjut, tanggal 11 Februari 2019, harimau kembali menyambangi pemukiman warga dan lagi-lagi memangsa 2 (dua) ekor kambing dari kandangnya. Harimau yang berkeliaran di perkampungan warga diperkirakan sebanyak 3 (tiga) individu, yaitu 2 dewasa dan 1 anak. Beberapa jejak kaki harimau ditemukan tepatnya pada koordinat N 01o53’18,0” dan E 099o22’17,8”. Mendapat laporan warga, Tim Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan turun langsung ke lokasi dan melakukan tindakan berupa pengumpulan keterangan dari warga, mengecek lokasi kandang kambing dan jejak kaki harimau serta keadaan/kondisi di sekitar lingkungan pemukiman warga. Selama Tim berada di lokasi, harimau tak kunjung datang/kelihatan, selanjutnya Tim memberikan pelatihan penanganan awal kepada warga apabila melihat harimau kembali, dengan cara membuat bunyi-bunyian (jenduman), serta memberikan penyuluhan dan sosialisasi kepada warga agar tetap waspada, tidak beraktivitas sendiri dan segera melaporkan kepada Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan bila harimau muncul kembali. Balai Besar KSDA Sumatera Utara berharap dukungan dan partisipasi semua pihak baik instansi pemerintah terkait, lembaga peduli konservasi satwa, dan warga masyarakat, untuk secara bersama menangani permasalahan konflik dengan satwa liar, sehingga dapat dihindari jatuhnya korban baik dari masyarakat maupun dari satwa liar. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara Kandang kambing milik warga dalam keadaan kosong setelah terjadi gangguan Harimau

Menampilkan 6.161–6.176 dari 11.140 publikasi