Kamis, 23 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Latihan Monitoring Kawasan Dengan Penginderaan Jauh & Perhitungan Laju Deforestasi

Sungai Penuh, 19 Februari 2019. Dengan luas kawasan lebih dari 1,3 juta hektar (lebih dari 20 kali lipat luas provinsi DKI Jakarta) serta adanya keterbatasan jumlah personil dan anggaran yang tersedia, kegiatan monitoring kawasan hutan menjadi tantangan tersendiri bagi pihak Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) dalam melakukan pemantauan dan pengelolaan kawasannya. Berangkat dari hal tersebut, melalui dukungan penuh proyek Sumatran Tiger, BBTNKS bekerjasama dengan Fauna & Flora International – Indonesia Programme (FFI-IP) mengadakan pelatihan monitoring kawasan hutan menggunakan data penginderaan jauh dan perhitungan laju deforestasi. Pelatihan dilaksanakan selama dua hari dari tanggal 18 – 19 Februari 2019. Peserta yang hadir tidak hanya petugas yang berasal dari lingkup BBTNKS, melainkan juga turut hadir beberapa peserta dari instansi lain yang memiliki wilayah kerja yang berbatasan dengan kawasan TNKS, seperti KPHP Kerinci, KPHP UNIT II Bungo, KPHP Limau Unit VII Hulu Sarolangun, KPHP Merangin dan BKSDA JAMBI. Total sebanyak 18 orang peserta mengikuti jalannya kegiatan pelatihan dengan antusias. Narasumber dalam kegiatan ini adalah Fazlurrahman Shomat, GIS Specialist Fauna & Flora International – Indonesia Programme. Dalam sambutannya, Kepala Bidang Teknis Konservasi BBTNKS Ir. Rusman menyampaikan harapan agar seluruh peserta yang hadir dapat mengikuti jalannya kegiatan pelatihan dengan seksama mengingat pengetahuan yang akan diperoleh sangat relevan dan berguna dalam meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan hutan. “Kita berharap sepulangnya dari pelatihan ini, setiap peserta sudah memiliki keahlian dan kemampuan untuk dapat menganalisis dan melakukan perhitungan data yang berkaitan dengan kehilangan maupun penambahan areal berhutan di masing–masing wilayah kerja” terangnya. Sehingga kedepannya kegiatan monitoring habitat dan kawasan hutan akan semakin efektif dari sisi waktu, anggaran, data dan informasi yang diperoleh”. Sumber : Widho - Humas Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat
Baca Berita

Peningkatan Kapasitas Kelompok Sakura Putih Binaan Taman Nasional Gunung Palung

Kayong Utara, 20 Februari 2019. Balai Taman Nasional Gunung Palung pada tanggal 15 – 17 Februari 2019 melakukan kegiatan peningkatan kapasitas kelompok Sakura Putih di dusun Tanjung Gunung Desa Sejahtera berupa pelatihan penggunaan alat-alat modern untuk pengembangan usaha keripik, baik keripik singkong, keripik pisang maupun keripik rebung. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengembangan usaha ekonomi kelompok yang produktif guna peningkatan kualitas hidup masyarakat serta meningkatkan kemampuan dan keterampilan anggota kelompok agar mampu mengembangkan diri melalui alat-alat inovasi-inovasi berorientasi pada kebutuhan kelompok usaha masyarakat. Kegiatan ini dilakukan oleh Balai Taman Nasional Gunung Palung bersama dengan Tropenbost. Kelompok Sakura Putih sudah berdiri sejak tahun 2015 yang lebih berfokus pada kegiatan kesenian rebana. Pada awal tahun 2018 kelompok Sakura Putih mulai melakukan usaha pembuatan keripik secara manual. Akhir tahun 2018, kelompok Sakura Putih mendapatkan bantuan berupa alat-alat produksi keripik Dan perlengkapan pentas Rebana dari Badan Restorasi Gambut (BRG) yang bekerjasama dengan TNGP. Alat inilah yang dimanfaatkan kelompok sakura putih untuk mengembangkan usaha mereka. Diharapkan kelompok Sakura Putih dapat memproduksi keripik secara optimal setelah adanya pelatihan ini. Sumber : Rahmi Ananta W.K - Balai Taman Nasional Gunung Palung
Baca Berita

Penguatan Fungsi TN Bunaken Dengan Menanam 2000 Bibit Mangrove Bersama Stakeholder

Manado, 19 Februari 2019. Grand Luley Hotel Manado sebagai salah satu mitra kerja sama penguatan fungsi pengelolaan Taman Nasional Bunaken melaksanakan penanaman mangrove dengan melibatkan Kelompok Tani Tunas Baru Bahowo, bersama Balai Taman Nasional Bunaken yang berlokasi di sekitar dermaga Grand Luley, Kelurahan Tongkaina, Kota Manado. Penanaman sebanyak 2.000 bibit mangrove dengan jenis antara lain Rhizopora Sp., Ceriops tagal dan Bruguirea Sp. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka pelaksanaan program kerja tahunan kerjasama antara Grand Luley dengan Balai Taman Nasional Bunaken dalam rangka Penguatan Fungsi Kawasan Taman Nasional Bunaken. Pada kesempatan tersebut, Manager dive Grand Luley Anwar Pataria menyampaikan dipilihnya kegiatan penanaman mangrove ini sebagai upaya peningkatan jasa lingkungan penyerapan karbon, karena vegetasi mangrove terkenal memiliki serapan karbon yang tinggi. “Harapannya, kegiatan ini dapat diikuti oleh perusahaan lain agar kondisi pesisir sekitar Kota Manado ini menjadi lebih baik. Kegiatan penanaman mangrove yang diikuti oleh Kelompok Tani Tunas Baru Bahowo karenakan telah memiliki pengetahuan pengelolaan mangrove dalam Mangrove Park Bahowo. “Untuk itu pelibatan dilakukan sejak penyiapan bibit, penanaman, hingga pemeliharaan ke depan ujar Anwar Pataria. Kelompok Tani Tunas Bahowo Novanti Loho sendiri menyampaikan sangat antusias dalam kegiatan penanaman mangrove ini. Karena dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan manfaat mangrove. Selain itu, Novanti juga berharap mangrove yang ditanam dapat tumbuh dengan baik agar kawasan menjadi lebih lestari. Sumber : Adi Tri Utomo, S.Hut - PEH pada Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Elang Hitam Diserahkan Masyarakat Bosar Maligas, Simalungun

Pematang Siantar, 19 Februari 2019. Minggu, 17 Februari 2019 Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang Konservasi Wilayah II Pematang Siantar kembali menerima penyerahan satwa liar dari masyarakat yang peduli terhadapa kelestarian satwa liar, khususnya yang dilindungi undang-undang, berupa 1 (satu) individu Elang Hitam (Ictinaetus malayensis). Warga yang peduli ini bernama Masiran, beralamat Desa Gunung Perak Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, dengan sukarela menyerahkan Elang Hitam tersebut kepada petugas dalam kondisi sehat. Niat awalnya Masiran ingin menyerahkan satwa tersebut ke Taman Hewan Pematangs Siantar (THPS). Sesampainya di THPS, setelah petugas melihat bahwa Elang Hitam merupakan satwa yang dilindungi, maka disarankan agar deserahkan ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Masiran yang tidak mengetahui prosedurnya, memohon kepada pihak THPS untuk dihubungkan dengan petugas Bidang Konservasi Wilayah II Pematang Siantar. Setelah dihubungi pihak THPS, petugas Bidang Konservasi Wilayah II Pematang Siantar, Boby Natalius Purba, Mendatangi THPS. Atas komunikasi dan rekomendasi dari Kepala Bidang Konservasi Wilayah II Pematang Siantar, Seno Pramudito, S.Hut., ME., maka satwa tersebut dititipkan di Taman Hewan Pematang Siantar untuk mendapatkan perawatan medis, dengan terlebih dahulu melakukan proses administrasi berupa penyerahan dari Sdr. Masiran kepada petugas Bidang Konservasi Wilayah II Pematang Siantar, dan selanjutnya penitipan dari Bidang Wilayah II Pematang Siantar kepada THPS. Sebagai burung pemangsa, Elang Hitam menduduki puncak rantai makanan dalam ekosistemnya. Elang Hitam dilindungi undang-undang RI, akibat perburuan liar, populasi Elang Hitam dihabitatnya kian hari semakin menurun. Untuk itu diharapkan semakin banyak masyarakat yang menyadari akan pentingnya kelestarian kehidupag liar satwa, terutama satwa-satwa yang dilindungi. Sumber : Lisbeth Manurung - Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Dua Tahun Berjalan, BTNGP dan ASRI Telah Menerima 97 Chainsaw dari Masyarakat

Kayong Utara, 20 Februari 2019. Balai Taman Nasional Gunung Palung (BTNGP) dalam menyelesaikan permasalahan gangguan kawasan bermitra dengan para pihak. Salah satu mitra BTNGP adalah Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI). ASRI bekerja sama dengan Balai TNGP salah satunya melalui program Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang dimulai sejak Januari 2017. Dalam program UMKM ini, masyarakat yang menyerahkan chainsaw-nya kepada ASRI akan mendapatkan modal usaha untuk kegiatan bisnis bersama. Bisnis bersama tersebut akan menjadi alternatif mata pencaharian bagi mantan pelaku penebang liar sebagai upaya menanggulangi penebangan liar di kawasan TNGP. Penyerahan chainsaw tukar putus ke-95 dan 96 dari masyarakat kepada BTNGP dan ASRI dilakukan pada Kamis, (14/2) dan ke-97 pada Selasa, (19/2). Maksud tukar putus adalah chainsaw ditukar dengan uang tiga juta rupiah dan dibelanjakan bersama-sama. Adalah Pak Harsumo (29 tahun), Pak Udin (53 tahun) dan Pak Samsu Rahmani (43 tahun), masyarakat ke-95, 96 dan 97 yang telah menyerahkan chainsaw-nya kepada BTNGP dan ASRI. Harsumo yang berasal dari Dusun Air Pauh Desa Pangkalan Buton menukarkan chainsaw-nya dengan modal usaha dagang keliling meraih sayur dari Ketapang. Kemudian Udin yang berasal dari Dusun Semanjak Desa Benawai Agung menukarkan chainsaw-nya untuk modal usaha pertanian. Sementara itu Samsu yang berasal dari Dusun Nirmala Desa Gunung Sembilan menukarkan chainsaw-nya untuk usaha pertanian. Saat ditanya alasan berhenti, Harsumo mengatakan bahwa dirinya sudah takut menebang (liar) karena kawan-kawan sesama penebang liarnya sudah dipenjara beberapa waktu lalu. Sedangkan Udin merasa dirinya sudah tidak mampu menggunakan chainsaw lagi, sehingga ingin mencari mata pencaharian lain. Yayasan ASRI yang diwakili oleh Agus, mengatakan bahwa Berdasarkan survey yang dilakukan pada tahun 2017 ada sekitar 150 orang penebang liar, dan pada tahun 2019 ini kami berencana untuk melalukan survey kembali, karna faktanya penjualan chainsaw masih tinggi. Harapan saya semoga lebih banyak lagi penebang liar yang beralih profesi, meskipun pendapatannya tinggi tapi pekerjaan tersebut beresiko tinggi.” Salah seorang Polisi Kehutanan dari BTNGP berharap masyarakat bisa lebih sejahtera dan berharap kegiatan penebangan liar dapat semakin berkurang. “Semoga masyarakat yang sudah menyerahkan chainsawnya bisa lebih sejahtera dibandingkan sebelumnya. Dan semoga masyarakat yang belum menyerahkan bisa segera mengikuti jejak yang lain, dalam arti kata yang sudah menyerahkan chainsawnya. Tentunya saya juga berharap kegiatan penebangan liar di TNGP bisa sangat berkurang bahkan tidak ada lagi penebangan liar di TNGP.” Sumber : Yusuf Muhammad, Balai Taman Nasional Gunung Palung
Baca Berita

Bimtek SPIP Serta Sosialisasi LHKPN dan LHKASN

Medan, 19 Pebruari 2019. Mencermati dan mengevaluasi pelaksanaan Satuan Pengendalian Interen Pemerintah (SPIP) tahun 2018 pada satuan kerja lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Sumatera Utara, Inspektorat Jenderal Kementerian LHK memandang perlu dilakukan bimbingan teknis (BIMTEK). Bertempat di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara (koordinator wilayah UPT lingkup Kementerian LHK Provinsi Sumatera Utara), pada Jumat 15 Pebruari 2019, dilaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis Penyempurnaan Desain Penyelenggaraan SPIP sekaligus Sosialisasi LHKPN dan LHKASN pada Satker Lingkup Kementerian LHK Provinsi Sumatera Utara. Bimbingan Teknis dan sosialisasi ini dilakukan oleh Sekretaris Inspektorat Jenderal (Setitjen) Kementerian LHK, Dr. Murdiyono, dan dihadiri seluruh pimpinan UPT lingkup Kementerian LHK Provinsi Sumatera Utara. Dalam arahannya, Setitjen mengingatkan akan 3 hal yang krusial kenapa SPIP penting diperhatikan, yaitu : (1) bahwa SPIP adalah amanat undang-undang, (2) kelemahan efektivitas pengendalian intern selalu menjadi temuan berulang audit BPK RI dari tahun ke tahun yang mempengaruhi pemberian opini LK, dan (3) SPIP telah menjadi isu penting dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPR-RI dengan BPK, BPKP dan seluruh Inspektorat Jenderal kementerian/lembaga.
Baca Berita

Jaga Fungsi Hutan, Solusi Cegah Bencana Banjir

Maros, 19 Februari 2019. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung hadiri workshop lingkungan hidup dan tanggap bencana yang digagas Ukhuwah Fondation. Workshop sehari ini berlangsung Minggu (17/02/2019) di Auditorium Prof. Dr. Ibrahim Marwan, Maros. Bencana banjir bandang yang menimpa beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan akhir Januari lalu menjadi tema perbincangan. "Bencana Ekologi, Di Antara Maksiat dan Kejahilan Generasi," adalah tema bahasan. Sebanyak enam orang delegasi wakili Balai Taman Nasional hadiri workshop lingkungan hidup ini. Panitia berhasil mendatangkan anggota DPR RI dari Komisi VII yang membidangi lingkungan hidup serta beberapa narasumber ekologi untuk memaparkan materinya. Suara merdu santri Darul Istiqomah, melantunkan ayat suci Al Quran membuka acara. Sekda Maros mewakili Bupati Maros menyampaikan sambutan, sekaligus membuka acara workshop secara resmi. Sekda menyatakan banjir yang terjadi akibat cuaca ekstrem dan rusaknya ekosistem. Kerusakan akibat penebangan oleh oknum masyarakat sekitar hutan. Mereka yang kurang menyadari fungsi dan manfaat hutan tersebut. Sambutan Bupati Maros secara tertulis, mengapresiasi atas terselenggaranya workshop ini. Memberikan pengetahuan dan meningkatkan persatuan masyarakat serta aparat pemerintah. Bersinergi melaksanakan tugas dan fungsinya dalam menjaga lingkungan. Berharap peserta workshop menjadi contoh dalam menjaga lingkungan kepada masyarakat di hulu dan hilir sungai, termasuk menjaga hutan mangrove. "Sulawesi Selatan mengalami krisis air dan banjir yang disebabkan adanya penebangan hutan secara berlebihan,” pungkas Dr. Andi Yuliana Faris, anggotaKomisi VII DPR RI dalam sambutannya. Yuliana juga menyoroti perubahan alih fungsi lahan hutan menjadi pemukiman dan perladangan menyebabkan bagian hulu sungai rusak. Akbitanya air hujan yang turun langsung menuju hilir dengan cepat. Ia juga memerhatikan Sungai Marusu Baru, pada musim kemarau penuh dengan sampah plastik. Menumpuk hingga kemudian memberi sumbangsi terjadinya banjir. “Kami himbau kepada ibu-ibu untuk mengganti kresek plastik dengan tas kain saat berbelanja. Pada sekolah-sekolah, guru dan siswa kami bagikan tumbler. Termasuk memberikan bantuan berupa energi terbarukan ‘tenaga surya’ pada desa yang belum masuk listrik. Membagikan motor sampah hingga mengajarkan anak TK tentang lingkungan, adalah program-program yang saat ini kami jalankan di Komisi VII,” terang Yuliana. “Saat ini, komisi kami juga sedang merancang undang undang energi terbarukan,” tambahnya. “Untuk krisis air di Sulawesi Selatan solusinya: menanam pohon sebanyak-banyaknya, bukan dengan membuat sumur sumur bor yang menelan biaya ratusan juta rupiah,” Yuliana memberi pencerahan. Paparan materi workshop menampikan tiga narasumber. Tamsil Linrung, selaku Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, menyampaikan bahwa terjadi alih fungsi areal berhutan menjadi perumahan dan industri antara tahun 2003 hingga 2013. Karenanya sangat tak dapat dipungkiri bahwa bencana alam yang terjadi adalah ulah tangan manusia itu sendiri. Prof. Dr. Ing. Fahmi Amhar, Sekertaris Tim Geospasial Antisipasi Bencana Bakorsurtanal, memaparkan tentang bencana ekologi. Mendendangkan secara gamblang tipe-tipe bencana, manajemen penanganann hingga pemetaan resiko bencana. Menariknya, bahwa semua jenis bencana ada di Indonesia hingga layak disebut supermarket bencana. Fahmi juga megungkapkan bahwa dalam sejarah banjir bandang besar yang melanda Maros selama 23 jam adalah yang pertama kalinya dalam sejarah. Narasumber terakhir, Dr. Syahrir Nuhun, pakar hadits dan lulusan Al-Azhar Mesir. “Bencana yang melanda bumi sudah menjadi kehendak Allah SWT., di mana semua itu atas campur tangan manusia. Apabila manusia sudah melakukan kemaksiatan maka bencana akan melanda sebagaimana termaktub dalam kitab suci Al Quran dan Hadist Nabi Muhammad SAW,” terang Syahrir. Salah satu kawasan hutan yang masih tersisa di Sulawesi Selatan adalah kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Taman nasional ini berada di wilayah Kabupaten Maros dan Pangkep dengan luas 43.750 ha. “Keberadaan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memberi manfaat dengan tutupan hutannya yang masih menghijau. Semoga ke depan masyarakat sekitar hutan memahami fungsi hutan, termasuk di dalamnya mencegah banjir,” pungkas Yusak Mangetan, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, saat kami temui. Kesimpulan yang dapat dipetik dari workshop ini, perlunya peran semua lapisan masyarakat untuk membantu pemerintah. Menjaga keberadaan kawasan hutan sebagai penampung air sementara. Menjaga air hujan tidak langsung menuju hilir dengan cepat. Dengan begitu bencana banjir dapat terhindarkan. Sumber: Ramli – PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Kepala Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru Klarifikasi Erupsi di G. Bromo

Malang, 20 Februari 2019. Erupsi G. Bromo yang sempat jadi viral dibantah langsung oleh ‘John Kenedie’ Kepala Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Kondisi G. Bromo di lapangan saat ini dalam kondisi kondusif seperti hari-hari biasa. Informasi dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana dan Gunung Api (PVMBG) Pos pengamatan G. Bromo menyebutkan bahwa aktivitas G. Bromo berada di level II atau tingkat waspada. ‘John Kenedie’ dalam penjelasannya menyatakan bahwa “Saya sempat kaget ketika banyak pihak menanyakan kondisi G. Bromo yang katanya erupsi, kemudian saya langsung kontak dengan temen-temen di lapangan dan PVMBG, dan pantauan dilapangan tidak terjadi erupsi dengan cuaca mendung berawan, kawah G. Bromo teramati mengeluarkan asap putih coklat yang bertekanan lemah dengan ketinggian 50-700 m.” “Jadi saya himbau masyarakat dan pengunjung tetap tenang, dan mematuhi semua arahan dari petugas TNBTS dan PVMBG”, John Kenedie menegaskan. Berdasarkan data dan kondisi tersebut, secara umum situasi G. Bromo masih kondusif dengan beberapa potensi yang harus ditingkatkan yaitu kewaspadaan dan mematuhi intruksi pengelola TNBTS dan PVMBG. (Red) foto @teguh bromo lover Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Baca Berita

Kunjungan Kerja Komisi IV DPR-RI ke Sumatera Utara

Medan, 19 Februari 2019. Dalam rangka Reses Masa Persidangan III Tahun Sidang 2018-2019, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) melalui Komisi IV (Bidang Pertanian, Kehutanan, Kelautan dan Perikanan, Perum Bulog dan Dewan Kelautan Indonesia) melakukan Kunjungan Kerja ke Propinsi Sumatera Utara, pada Kamis, 14 Februari 2019. Dalam agenda kerjanya Tim Komisi IV ini melakukan kunjungan ke beberapa tempat/lokasi, seperti launching sistem xray karantina pertanian di bandara Kuala Namu, stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan di Belawan, dan Gudang Bulog di Medan. Seyogianya, Tim Komisi IV juga menjadwalkan kunjungan ke Lembaga Konservasi binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara Rahmat Galery untuk melihat hasil tangkapan kulit harimau dan macan dahan di lembaga konservasi tersebut. Namun mengingat waktu yang sangat terbatas kunjungan tersebut dibatalkan. Atas inisatif Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc. For., yang turut mendampingi Tim Komisi IV, kulit Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan kulit Macan Dahan (Neofis diardi) hasil tangkapan dari operasi gabungan Polda Sumut dan Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang diperjualbelikan/ diperdagangkan secara on-line, dibawa ke lokasi kunjungan anggota dewan di Gudang Bulog Pulo Brayan Darat I Sub Divre Medan, untuk diperlihatkan. Ketua Tim rombongan Komisi IV DPR-RI, Drs. H. Roem Kono, yang juga sebagai Wakil Ketua Komisi IV DPR-RI , dalam sambutannya mengatakan, bahwa masalah yang sering terjadi saat ini adalah penjarahan satwa liar di bidang kehutanan dan kelautan, termasuk memperjualbelikan satwa sampai bertriliun. “Untuk itu jangan sampai kekayaan alam kita dibuang begitu saja, dan kami dari Komisi IV DPR-RI mendorong semua instansi pemerintah terkait agar mengikuti perkembangan teknologi termasuk yang terbaru. Jangan segan-segan mengeluarkan uang untuk mengefektifkan dan memaksimalkan pengawasan seluruh kawasan yang begitu luas,” ujar Roem Kono. Harapannya kedepan tidak ada lagi kehilangan kekayaan keanekaragaman hayati kita baik dihutan maupun di laut, imbuhnya. Tim Komisi IV DPR RI yang berjumlah 4 (empat) orang, berasal dari beberapa fraksi di DPR RI, seperti Fraksi Partai Golkar, Fraksi PKS dan Fraksi Hanura. Tim ini didampingi pejabat eselon I Kementerian LHK, Ir. Laksmi Dhewanti, MA., Staf Ahli Menteri LHK Bidang Industri dan Perdagangan dan dari Kesekretariatan DPR RI. Sumber : Nofri Yeni - PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara Kulit Harimau Sumatera dan Kulit Macan Dahan
Baca Berita

Siap Menjadi yang Terdepan, BKSDA Kalbar Benchmarking ke TN Bromo Tengger Semeru

Malang, 20 Februari 2019. BKSDA Kalbar diwakili Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Singkawang Dani Arief Wahyudi serta beberapa orang staf melakukan benchmarking pengelolaan wisata di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Malang, Jawa Timur. TNBTS merupakan salah satu Taman Nasional yang mampu mengelola kawasan konservasi berbasis masyarakat lokal, serta mampu memberikan PNBP yang besar bagi negara dari sektor pariwisata alam. BKSDA Kalimantan Barat saat ini bersiap untuk mempromosikan beberapa taman wisata alam (TWA) sebagai destinasi wisata dan edukasi kepada masyarakat umum. Dari 7 (tujuh) TWA yang dikelola yaitu TWA Gunung Dungan, TWA Gunung Melintang, TWA Gunung Asuansang, TWA Baning, TWA Sungai Liku, TWA Tanjung Belimbing dan TWA Gunung Kelam, 2 (dua) diantaranya yaitu TWA Tanjung Belimbing yang juga merupakan Sanctuary/Suaka Penyu di Paloh dan TWA Gunung Kelam, destinasi untuk menguji adrenalin hanya bagi yang berani dan suka tantangan, berlokasi di Sintang merupakan TWA prioritas/unggulan yang sedang dibenahi dan dikembangkan. Kesempatan ini tentu saja digunakan sebaik mungkin dengan harapan dapat diadopsi/diaplikasikan di wilayah kerja BKSDA Kalbar, terutama dalam hal manajemen pengelolaan wisata alam. Kepala Balai KSDA Kalbar Sadtata Noor Adirahmanta berharap, hasil dari benchmarking ini dapat dipresentasikan di hadapan staf lainnya sebagai bahan pertimbangan dan diskusi dalam perencanaan promosi wisata alam terutama dalam hal manajemen pengelolaan wisata alam. Work Fun, Stay Productive... Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Lewati Kepulauan Maluku, Jalur Migrasi Burung Langka ini Berhasil Dipetakan

Ambon, 20 Februari 2019. Dara Laut Cina (Thalasseus bernsteini) dan Dara Laut Jambul (Thalasseus bergii) merupakan dua dari sekian jenis burung dalam famili Sternidae yang dilindungi Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Kedua burung tersebut merupakan burung yang bermigrasi melalui Indonesia. Tahun 2018, urung-burung tersebut terpantau berada di perairan Seram Utara, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Oleh karena itu, tim gabungan dari Balai KSDA Maluku, Burung Indonesia, BirdLife International, Indonesia Bird Banding Scheme (IBBS), dan LIPI kembali melakukan pemantauan dan penandaan Burung Dara Laut tersebut. Pemantauan dan penandaan tersebut dilakukan pada 14 hingga 19 Februari 2009 bertepatan dengan musim migrasi Dara Laut Cina dari tempat berbiaknya di Cina ke tempat-tempat yang lebih hangat seperti Indonesia dan Australia. Dalam pemantauan tersebut, diketahui 1 (satu) ekor Dara Laut Cina (Thalasseus bernsteini) bersama dalam kelompok beberapa ekor Dara Laut Jambul (Thalasseus bergii). Menurut International Union for Conservation of Nature IUCN, status konservasi Dara Laut Cina tersebut yaitu critically endangered/CR atau kritis. Diperkirakan jumlah individu dewasa di dunia kurang dari 100 ekor. Pada kegiaatan tersebut, tim berhasil menandai dan memasang sattelite pada 2 (dua) ekor Dara Laut Jambul untuk mendeteksi jalur migrasinya. Tak hanya melakukan pemantauan dan penandaan Dara Laut, tim juga melakukan presentasi (20/02) di Balai KSDA Maluku yang diikuti sejumlah stakeholders seperti BAPEDA Provinsi Maluku, Dinas Kehutanan Provinsi Mauku, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Maluku, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku, sejumlah akademisi dari Universitas Pattimura dan Universitas Darussalam, serta LSM mitra. Dalam presentasi tersebut, Ferry Hasudungan, Biodiversity Conservation Specialist Burung Indonesia, memaparkan rute yang dilewati Dara Laut yang telah diamati selama 2018. "Informasi yang terpantau dari satelit memberikan data dan informasi baru untuk mengetahui pergerakan dara-laut jambul yang bergerak di sekitar wilayah Pulau Seram hingga ke Australia bagian utara," jelas Ferry. Lebih lanjut lagi, Ferry berharap, informasi tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi penting bagi konservasi Dara Laut. "Harapannya kita bisa melihat ke mana saja burung ini bermigrasi, khususnya di wilayah Indonesia, hingga ke depannya mudah-mudahan kita dapat melihat lokasi di perairan Indonesia yang penting untuk dara-laut cina," tambah Ferry. Pada akhir presentasi tersebut, Mukhtar Amin Ahmadi, Kepala Balai KSDA Maluku, menegaskan pentingnya data dalam upaya konservasi burung migran tersebut ke depan. Tak hanya itu, menurut Amin, upaya konservasi burung migran membutuhkan kemitraan dan kerja sama banyak pihak. “Upaya konservasi burung migran harus dilakukan melalui kemitraan dan kerja sama banyak pihak, karena menurut data terbaru, Dara Laut tersebut melakukan migrasi dari Seram hingga Australia dan singgah di beberapa tempat,” jelas Amin. Sumber: Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Pelepasliaran Enam Individu Orangutan di TNBBBR

Sintang, 19 Februari 2019. Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) dan International Animal Rescue (IAR) Indonesia bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat melakukan pelepasliaran enam individu orangutan (Pongo pygmaeus) di dalam kawasan TNBBBR (14/02) Keenam individu ini semuanya merupakan orangutan hasil rehabilitasi, termasuk sepasang induk dan anak orangutan bernama Maily dan Osin. Untuk pertama kalinya, induk anak orangutan hasil rehabilitasi dilepaskan di kawasan ini. Selain mereka berdua, keempat orangutan lainnya yang juga turut dilepaskan bernama Lady, Obi, Muria dan Zoya. Maili merupakan orangutan hasil rehabiltasi IAR Indonesia yang diselamatkan dari kasus pemeliharaan satwa dilindungi pada tahun 2015 lalu di Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya. Setelah diselamatkan dari tangan pemeliharanya, Maili menjalani masa rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi dan Konservasi Orangutan IAR Indonesia di Desa Sungai Awan Kiri, Delta Pawan, Ketapang. Dalam proses rehabilitasi ini, orangutan ditempatkan di dalam pulau-pulau buatan dan dibiarkan bebas mengeksplorasi pulau untuk mensimulasikan kondisi alami seperti di habitat aslinya. Rehabilitasi ini dimaksudkan untuk mengembalikan sifat alami orangutan. Pada masa rehabilitasi ini orangutan akan belajar kemampuan dasar bertahan hidup di alam seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang. Osin merupakan anak Maili hasil dari perkawinannya dengan salah satu orangutan jantan di dalam pulau buatan yang digunakan sebagai tempat rehabilitasi. Meskipun kelahiran bayi orangutan dalam pusat rehabilitasi tidak diharapkan terjadi, perkawinan antar orangutan juga tidak bisa dihindarkan dalam kondisi semacam ini karena proses reproduksi di alam merupakan hal yang alami bagi orangutan. Lady adalah orangutan betina berusia 10 yang dulunya diselamatkan dari salah satu perusahaan tambang di Marau, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada Desember 2010. Setelah menjalani proses rehabilitasi selama lebih dari 8 tahun, Lady akhirnya dinyatakan layak untuk dikembalikan ke habitat aslinya. Obi merupakan orangutan jantan yang ditemukan oleh salah satu pekerja ladang di daerah Pulau Kumbang, Kecamatan Teluk Batang, Kabupaten kayong Utara. Obi dipelihara selama 10 bulan dan selama dipelihara, Obi sempat mengalami demam dan diare. Pada saat dipelihra, Obi diberi makan nasi yang diberi udang, kue, fanta, dan buahan sesekali. Obi tiba di pusat rehabilitasi IAR Indonesia pada Juni 2014 untuk menjalani rehabiltasi. Saat ini Obi berusia 8 tahun dan berdasarkan hasil pemantauan perilaku, Obi dinyatakan layak untuk dikembalikan ke habitat aslinya. Muria dulunya merupakan orangutan betina yang dipelihara oleh seorang petani di daerah Desa Sumber Rejo, Dusun Demit, Kec. Sandai. Muria dipelihara selama ±3 tahun. Setelah mengetahui peraturan undang-undang terkait satwa liar dilindungi, pada akhirnya pemilik menyerahkan Muria kepada BKSDA Kalbar untuk direhabilitasi di IAR Indonesia. Muria tiba di Pusat Rehabilitasi IAR Indonesia pada Juni 2014. Muria yang sudah menguasai semua kemampuan hidup di alam ini menjadi induk asuh bagi Zoya, bayi orangutan yang terpisah dari induknya pada akhir tahun 2017 lalu. Zoya merupakan bayi orangutan yang masih memerlukan induknya. Sehingga tim rehabilitasi mencarikan induk asuh untuk Zoya. Muria yang mempunyai naluri yang bagus sebagai seorang ibu menjadi kandidat kuat dan diperkenalkan dengan Zoya pada Juni 2018. Hasilnya sangat cukup menggembirakan karena keduanya menunjukkan perkembangan yang positif. Proses rehabilitasi sampai pelepasliaran ini bisa memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Saat ini IAR Indonesia menampung lebih dari 100 individu orangutan untuk direhabilitasi. Proses rehabilitasi juga tidak bisa dibilang singkat. Proses ini dapat mencapai 7-8 tahun tergantung kemampuan masing-masing individu. Tim pelepasan berangkat dari Pusat Rehabilitasi IAR di Ketapang pada tanggal 12 Februari 2019 pada pukul 06.00 pagi. Selama di perjalanan tim selalu memperhatikan kondisi orangutan yang dibawa agar tidak mengalami stress di dalam kandang mengingat jarak tempuh yang sangat jauh. Memerlukan waktu sekitar 17 jam bagi tim untuk mencapai di kantor seksi Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Nanga Pinoh. Tim beristirahat satu malam sebelum melanjutkan perjalanan ke titik pelepasan. Perjalanan dilanjutkan keesokan paginya menuju dusun terdekat dengan kawasan TNBBBR. Perjalanan darat ditempuh selama 5 dan kemudian diteruskan dengan perahu motor selama 1 jam. Tidak sampai di situ, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki memasuki kawasan hutan TNBBBR. Dalam kegiatan ini, anggota Koramil dan Polsek menukung juga turut hadir. Porter yang terdiri dari belasan warga desa sekitar TNBBBR, siap untuk memikul kandang yang beratnya antara 100 kg dan 150 kg. Perjalanan memikul kandang ini memakan waktu hingga 5 jam. Keempat orangutan ini kemudian ditempatkan di dalam kandang habituasi agar mereka bisa beristirahat dan sedikit beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Keesokan harinya tim melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki dan keempat orangutan ini dilepaskan di dua titik pelepasan yang berbeda. Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dipilih menjadi tempat pelepasliaran orangutan karena hutannya yang masih alami dan bagus. Survey dari tim IAR Indonesia juga menunjukkan jumlah pohon pakan orangutan yang berlimpah. Selain itu statusnya sebagai kawasan taman nasional akan lebih mampu menjaga orangutan ini dan habitatnya sebagai kawasan konservasi. Dari kajian yang pernah dilakukan juga oleh tim ahli dari YIARI, di lokasi TNBBBR resort Mentatai yang menjedi lokasi pelepasliaran orangutan, tidak ditemukan keberadaan orangutan dan dinyatakan orangutan wilayah ini telah punah dalam 20-30 tahun terakhir. Oleh karena itu upaya untuk pelepasan orangutan sangat penting sekali. Sampai saat ini IAR Indonesia telah melepasakan 36 orangutan sejak tahun 2016. Karena orangutan yang dilepaskan merupakan orangutan hasil rehabilitasi, IAR Indonesia menerjunkan tim monitoring untuk melakukan pemantauan perilaku dan proses adaptasi orangutan ini di lingkungan barunya. Tim monitoring yang terdiri dari warga desa penyangga kawasan TNBBBR ini akan mencatat perilaku orangutan setiap 2 menit dari orangutan bangun sampai tidur lagi setiap harinya. Proses pemantauan ini berlangsung selama 1-2 tahun untuk memastikan orangutan yang dilepaskan bisa bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungan barunya. Pernyataan Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L. Sanchez Proses rehabilitasi merupakan proses panjang yang memakan waktu, tenaga dan upaya yang tidak sedikit. Salah satu tantangan terbesar dalam proses rehabilitasi adalah tidak adanya buku panduan yang pasti bagaimana merehabilitasi orangutan dan mengembalikan perilaku serta kemampuan alaminya untuk hidup bertahan di hutan. Dalam pelepasan kali ini kami melakukan satu terobosan untuk melepasliarkan bayi orangutan dengan induk asuhnya. Zoya dan Muria saling belajar bagaimana bertahan hidup di alam. Zoya yang tidak pernah dipelihara oleh manusia menunjukan perilaku alami yang bisa dipelajari Muria, dan Muria yang protektif selalu melindungi Zoya dari berbagai ancaman yang ada di alam. Melihat kemajuan keduanya yang pesat, kami tidak ragu untuk menjadikannya sebagai kandidat pelepasliaran. Setelah pemantauan intensif selama beberapa bulan, hasilnya menunjukkan keduanya siap untuk dikembalikan ke habitat aslinya. Semoga Muria dan Zoya serta semua orangutan yang sudah dilepasliarkan bisa hidup aman di alam bebas. Pernyataan (Plt) Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Hernowo Kegiatan pelepasliaran 6 (enam) orangutan hasil rehabilitasi ini, merupakan salah satu program kerjasama TNBBBR dengan YIARI yang telah disepakati dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT) Tahun 2019 dan termasuk dalam tahap pertama pelepasliaran orangutan tahun 2019. Rencananya akan ada tiga tahapan pelepasliaran orangutan selama tahun 2019. Dan Orangutan hasil rehabilitasi ini setelah dilepasliarkan akan dimonitoring, dimana kegiatan monitoring akan dilakukan mulai dari orangutan bangun tidur sampai tidur lagi di sarang. Indikator pencapaian dari dilakukannya kegiatan pelepasliaran dan monitoring orangutan paska pelepasliaran ini adalah orangutan yang dilepasliarkan di TNBBBR dapat bertahan hidup dan beradaptasi dengan baik di habitatnya serta meningkatnya jumlah populasi dan terjaminnya keberlangsungan hidup orangutan di alam. Kerjasama TNBBBR dengan YIARI saat ini memasuki tahun ke-4 dan hingga saat ini semua program yang direncanakan pada RKT setiap tahunan secara umum dapat berjalan dengan baik dan lancar, hal ini antara lain dikarenakan padunya koordinasi dan kerjasama antara TNBBBR dengan YIARI, kawan-kawan di TNBBBR dengan YIARI saling bahu membahu dalam mensukseskan semua program reintroduksi yang telah direncanakan dan disepakati bersama. Semoga semua orangutan yang telah di lepasliarkan di TNBBBR akan dapat segera beradaptasi dengan habitat alaminya dan mereka semua dapat survive bahkan berkembang di kawasan TNBBBR. Pernyataan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat, Sadtata Noor Upaya konservasi satwa liar dari waktu ke waktu menghadapi tantangan yang semakin besar. Namun, kerja konservasi tidak boleh berhenti. Pelepasliaran orangutan kali ini merupakan salah satu pertarungan yang harus terus dilakukan dan harus dimenangkan. Terima kasih dan apresiasi untuk para mitra, khususnya IAR Indonesia, yang telah memberikan kontribusinya dalam mendukung tugas-tugas BKSDA Kalbar dalam mengemban amanah di bidang konservasi tanaman dan satwal liar di Kalimantan Barat. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya
Baca Berita

Bukan Hanya Laba “Rapat Tahunan Mitra Taman Nasional Kutai”

Bontang, 19 Februari 2019. “Bukan hanya laba” semangat inilah yang ada dalam setiap perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Mitra Taman Nasional Kutai. Disadari bahwa setiap usaha yang dilakukan oleh suatu perusahaan pasti berdampak secara ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan bagi wilayah sekitarnya. Sehingga sudah sewajarnyalah bila perusahaan tidak hanya memikirkan tentang laba atau keuntungan semata tetapi juga memikirkan tentang memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatif aktivitas perusahaannya terhadap lingkungan sekitar. Berdasar pada hal tersebut, perusahaan-perusahaan yang berada di sekitar Taman Nasional Kutai kemudian berikrar untuk mendukung pengelolaan Taman Nasional Kutai sejak tahun 1994 dan membentuk sebuah wadah yang bernama Mitra Taman Nasional Kutai pada tahun 1995. Inisiasi ini ternyata menular ke perusahaan-perusahaan lainnya sehingga yang dahulu beranggotakan 6 perusahaan sekarang telah bertambah menjadi 10 perusahaan dengan tujuan untuk mendukung pengelolaan Taman Nasional Kutai agar dapat berperan dengan baik sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Tahun 2019 ini, rupanya Mitra Taman Nasional Kutai telah genap berusia 25 tahun. Bukan waktu yang singkat bagi sebuah kemitraan di taman nasional, bahkan mungkin menjadi satu-satunya kemitraan dengan kalangan swasta yang sanggup bertahan selama itu. Sebuah prestasi yang layak dibanggakan dan sebuah komitmen sektor swasta yang tidak perlu diragukan. Pada hari Kamis dan Jumat, tanggal 14 – 15 Februari yang lalu bertempat di Jakarta berlangsunglah rapat tahunan Mitra Taman Nasional Kutai yang merupakan agenda tahunan dimana mempertemukan Steerring Committtee (SC) dan Organizing Committee (OC) yang bertujuan untuk mempertanggungjawabkan hasil pelaksanaan kegiatan tahun 2018 dan menyepakati rencana pelaksanaan kegiatan 2019. Acara ini dihadiri oleh 9 dari 10 anggota Mitra Taman Nasional Kutai dan perwakilan dari Balai Taman Nasional Kutai serta Direktorat Jenderal KSDAE. Hari pertama bertempat di Hotel Santika Premiere, Slipi diadakan rapat internal anggota Mitra Taman Nasional Kutai bersama Balai Taman Nasional Kutai yang kemudian menyepakati rencana pelaksanaan kegiatan Mitra Taman Nasional Kutai tahun 2019. Pada kesempatan ini terjadi diskusi yang menarik tentang arah pengelolaan Taman Nasional Kutai kedepan dan capaian-capaian yang didapat dalam kurun waktu 4 tahun program Mitra Taman Nasional Kutai berjalan. Berdasarkan Permenhut nomor 85/Menhut-II/2014 jo P.44/MENLHK/SETJEN/Kum.1/6/2017 tentang Penyelenggaraan Kerja Sama Penyelenggaraan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, perjanjian kerjasama yang dilakukan pada tahun 1994 harus diperbaharui sehingga dilakukan perjanjian kerjasama kembali yang ditandatangani pada tahun 2014 dengan periode 2014-2019. Agenda hari kedua dilangsungkan di Ruang Rapat Direktur Jenderal KSDAE, Gedung Manggala Wana Bhakti yang dihadiri oleh anggota Mitra Taman Nasional Kutai, Balai Taman Nasional Kutai, Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam dan Kepala Bagian Hukum dan Kerjasama Teknik, Ditjen KSDAE dan dipimpin langsung oleh Bapak Sekditjen KSDAE mewakili Dirjen KSDAE. Rapat kedua ini berupa penyampaian laporan perkembangan kegiatan Mitra Taman Nasional Kutai selama 4 (empat) tahun (2014-2018), penandatanganan komitmen dan arahan dari Dirjen KSDAE yang diwakili oleh Sekditjen KSDAE. Pada kesempatan ini pula dilakukan serah terima jabatan ketua OC yang dahulu di jabat oleh Bapak Wahyudi dari PT Pupuk Kalimantan Timur kepada Bapak Hasto Pranowo dari PT Indominco Mandiri. Pergantian pimpinan ketua OC ini dilakukan setiap tahun secara bergiliran oleh masing-masing perusahaan. Dalam sambutannya Bapak Sekditjen KSDAE menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap para mitra yang telah setia mendukung pengelolaan Taman Nasional Kutai selama 25 tahun. Beliau menilai bahwa Mitra Taman Nasional Kutai ini adalah kemitraan yang unik dan berbeda bahkan beliau juga menyampaikan mungkin di dunia hanya satu-satunya kemitraan yang seperti ini. Unik menurut beliau karena masing-masing mitra berperan secara baik, saling menghormati bahkan sangat akrab satu sama lainnya. Beliau juga melihat bahwa Mitra Taman Nasional Kutai telah memenuhi kewajibannya sebagai mitra pemerintah sesuai dengan peraturan yang berlaku sehingga kemitraan ini dapat menjadi role model dari kemitraan yang djalin oleh swasta dengan pengelola kawasan konservasi di Indonesia. Arahan Dirjen KSDAE yang disampaikan oleh Sekditjen KSDAE mengingatkan agar kemitraan ini selalu mengacu pada peraturan yang berlaku dan bermanfaat bagi masyarakat serta kawasan konservasi. Beliau juga mengapresiasi capaian-capaian yang telah didapat oleh Mitra Taman Nasional Kutai terutama peningkatan jumlah pengunjung Taman Nasional Kutai yang mencapai 292% dan peningkatan pendapatan masyarakat yang tergabung dalam kelompok Nyiur Melambai sebesar kurang lebih 1,3 milyar pertahunnya dari produksi gula aren. Capaian-capaian ini menunjukkan kinerja positif dari kemitraan ini dan layak untuk terus dilanjutkan. Dalam kerangka itu beliau mengingatkan agar Mitra Taman Nasional Kutai dapat mengurus perpanjangannya segera sebelum habis perjanjian kerjasamanya pada bulan April 2019. Diakhir arahan, beliau menyampaikan bahwa pekerjaaan pemerintah ini perlu peran para pihak termasuk masyarakat dan swasta, sehingga beliau meminta agar para anggota mitra dapat mengajak rekan usaha lainnya untuk bergabung dalam kemitraan sehingga meringankan beban pengelolaan Taman Nasional Kutai. #Edy Purwanto Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Penanganan Konflik Satwa Liar Gajah di Rumbai Bukit

Pekanbaru, 19 Februari 2019. Call Center menerima laporan dari Tengku Refli (Lurah Agrowisata) bahwa ada sekelompok Gajah liar yang mengganggu di Jl. Sri Sejahtera Ujung Sei Rantau Panjang RT 04 RW 05 Kelurahan Agrowisata Kec. Rumbai Bukit, Kota Pekanbaru. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Suharyono memerintahkan melalui Kepala Bidang KSDA Wilayah II, Heru Sutmantoro untuk segera mengatasi konflik tersebut. Dipimpin langsung Kepala PLG Minas, Syaiful Hendri beserta empat anggotanya bergegas ke TKP. Tim bersama aparat dan Lurah setempat, segera melakukan pengecekan ke lokasi gangguan satwa. Di lokasi dijumpai adanya pondok warga yg dirusak pada malam Senin (milik pak Azuar). Tim melakukan patroli dengan mengikuti jejak Gajah di sekitar kebun masyarakat. Tim menjumpai kawanan Gajah liar yg berada di sekitar kebun dan dilakukan penggiringan dengan cara manual. Kawanan Gajah liar berhasil dihalau menuju ke pinggiran sungai Takuana, masih di sekitar lokasi gangguan di kelurahan Agrowisata, Kec.Rumbai Bukit, Kota Pekanbaru. Sampai malam Tim tetap bergantian melakukan pengamatan terhadap pergerakan satwa dilindingi tersebut. Tetap semangat para pejuang konservasi. Do'a kami selalu menyertai. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Ladies dan Temon Kini Telah Kembali Bebas

Pekanbaru, 16 Februari 2019. Balai Besar KSDA Riau melakukan pelepasliaran satwa ke kawasan konservasi yang merupakan habitatnya. Kedua satwa tersebut adalah satu ekor satwa yang dilindungi, yaitu Beruang Madu (Helarctos malayanus) berjenis kelamin betina dan berumur 6 tahun bernama Ladies serta satu ekor satwa tidak dilindungi, yaitu Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) berjenis kelamin jantan dengan umur sekitar 6 tahun bernama Temon. Keduanya merupakan penyerahan secara sukarela dari warga di Pekanbaru. Pelepasliaran dilakukan oleh dua dokter hewan, yaitu drh. Rini Deswita, Dhanang Estu Bagyo, S.Kh. dan satu paramedis bernama Aswar Hadhibina Nasution, A.md. yang bertugas di klinik transit satwa Balai Besar KSDA Riau serta didampingi Kepala Resort Siak, Rafles Sitinjak. Kedua satwa dilepasliarkan dalam kondisi sehat, setelah menjalani observasi dan perawatan di kandang transit satwa Balai Besar KSDA Riau. Yuk sobat konservasi, kita lestarikan dan jaga bersama satwa satwa liar yang ada demi anak cucu kita dan kebanggaan bangsa.... Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Ibu dan Anak Orangutan (Pongo pygmaeus) Kembali Diselamatkan

Teluk Pandan, 14 Februari 2019. Call center Balai TN Kutai menerima laporan dari masyarakat yang berada di Desa Teluk Pandan Kecamatan Teluk Pandan Kabupaten Kutai Timur yaitu seorang penjaga kebun bernama Rustam. Rustam melaporkan bahwa sudah 3 (tiga) hari ada orangutan yang masuk ke kebun nanasnya. Mendapatkan laporan tersebut, tim WRU (Wild Rescue Unit) Balai TN Kutai langsung menuju ke lokasi untuk melakukan pemantauan. Dari hasil pemantauan yang dilakukan tampak kerusakan kebun dan buah nanas. Bersama-sama dengan tim WRU Balai TN Kutai, tim WRU BKSDA Kaltim, Yayasan Jejak Pulang dan Saudara Rustam, tim melakukan penyelamatan terhadap satwa dilindungi tersebut. Dipimpin oleh tim WRU BKSDA Kaltim, tim mengambil tindakan dengan melakukan tembak bius terhadap orangutan (Pongo pygmaeus). Setelah orangutan terbius, dilakukan pemisahan sementara antara induk dan anak orangutan serta pemberian vitamin dan perawatan oleh drh. Afwan dari Yayasan Jejak Pulang. Berdasarkan hasil pemantauan terhadap perilaku dan penampakan anatomi tubuh orangutan pasca perawatan, orangtan dinyatakan sehat sehingga ibu dan anak orangutan yang berumur kira-kira 3 tahun tersebut dilepasliarkan kembali ke alam yaitu di Objek Wisata Alam Sangkima Jungle Park Resort Sangkima SPTN Wilayah I Sangatta Taman Nasional Kutai (15/2). Dalam menangani konflik satwa liar dengan masyarakat diperlukan partisipasi dan kesadaran dari berbagai pihak sehingga tidak ada korban baik satwa liar maupun manusia itu sendiri. Sumber : Balai Taman Nasional Kutai

Menampilkan 6.145–6.160 dari 11.140 publikasi