Kamis, 23 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Dalam Tiga Hari, Sejumlah Satwa Liar Dilindungi Diserahkan Masyarakat Ke BBKSDA Jawa Barat

Bandung – 22 Februari 2019, Dalam tiga hari berturut-turut tepatnya di tanggal 19 hingga 21 Februari 2019, Balai Besar KSDA Jawa Barat menerima penyerahan sejumlah satwa liar dilindungi dari masyarakat. Pada tanggal 19 Februari 2019, Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL Tasikmalaya, menerima seekor buaya muara dari Sartika, seorang warga Desa Kaduela Kecamatan Pasawahan Kabupaten Kuningan. Dari penuturannya satwa yang bernama latin Crocodylus porosus masuk ke dalam jaring, saat suaminya menangkap ikan di sungai. Masih dihari yang sama, seorang warga Desa Kujang, Kecamatan Cikoneng Kabupaten Ciamis, bernama Joko Pujianto menyerahkan seekor elang hitam (Ictinaetus malainensis) yang diterimanya dari masyarakat 4 hari yang lalu. Pemandangan yang miris terlihat saat petugas menerima salah satu Raptor tersebut dalam kondisi bulu sayap dan ekor banyak yang patah dan mengalami kekurangan nutrisi. Saat ini, kedua satwa tersebut berada di Kantor Bidang KSDA Wilayah III Ciamis dan selanjutnya akan dititiprawatkan ke lembaga konservasi. Pada hari selanjutnya, tepat di tanggal 20 Februari 2019, Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL Soreang menerima 1 (satu) ekor bangau tongtong (Leptoptilos javanicus) dan 1 (satu) ekor bangau bluwok (Mycteria cinerea) dari H. Moeh Dadang Mulyadi seorang warga Kelurahan Langensari, Kabupaten Bandung. Berdasarkan penuturan H. Dadang, satwa tersebut diperoleh dari masyarakat yang menyerahkannya kepada yang bersangkutan. Mengetahui bahwa kedua satwa merupakan satwa yang dilindungi, segera saja yang bersangkutan menyerahkan kedua satwa liar tersebut kepada Tim Gugus Tugas. Saat ini kedua bangau yang dalam keadaan sehat dan tidak dalam status proses hokum tersebut telah dititiprawatkan pada Taman Satwa Cikembulan Garut. Di tempat lain, pada tanggal 21 Februari 2019, Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL Serang menerima satu ekor elang laut (Haliaetetus leucogastus) dari seorang warga Desa Cikedung, Kabupaten Serang bernama Sandy Lutan. Satwa yang gagah di udara tersebut diserahkan Sandy setelah melalui proses edukasi secara persuasif kepada yang bersangkutan terlebih dahulu. Selanjutnya, dengan penuh kesadaran satwa tersebut akhirnya diserahkan kepada petugas dan dievakuasi ke kantor Seksi Konservasi Wiayah I Serang. Semoga semakin banyak masyarakat yang menyadari bahwa memelihara satwa dilindungi secara illegal akan menimbulkan konsekuensi ekologis maupun konsekuensi hukum. Dengan demikian, diharapkan masyarakat yang memiliki/memelihara satwa liar dilindungi segera menyerahkannya kepada Negara secara sukarela dan berpikir berkali-kali lipat sebelum berniat memelihara satwa liar dilindungi. (HUMAS BBKSDA JABAR)
Baca Berita

Pendidikan Konservasi dalam Rangka Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional

Wakatobi, 21 Februari 2019. Sampah plastik telah menjadi salah satu ancaman bagi kelestarian ekosistem perairan, tak dapat dipungkiri bahwa peningkatan kesadaran masyarakat akan hal ini sangat diperlukan. Utamanya bagi masyarakat yang berada di kawasan konservasi, seperti di Taman Nasional Wakatobi. Berdasar pada hal tersebut, maka Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I TN Wakatobi melaksanakan kegiatan Pendidikan Konservasi dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2019 di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mola Selatan. Sekolah ini berada di perkampungan Suku Bajo atau yang biasa disebut dengan suku laut. Suku bajo merupakan salah satu dari beberapa suku yang mendiami kawasan TN Wakatobi dan mayoritas melaksanakan aktivitas kehidupannya di atas laut. Dalam pelaksanaan kegiatan disampaikan beberapa materi antara lain pengenalan tentang Taman Nasional Wakatobi, jenis biota laut yang dilindungi, ancaman sampah plastik, serta cara untuk mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menggunakan jargon “Kami Sahabat Lingkungan”, diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran peduli lingkungan bagi generasi penerus di Taman Nasional Wakatobi. Sumber : Balai Taman Nasional Wakatobi
Baca Berita

Kodok dan Katak, Apa Bedanya?

Kuningan, 22 Februari 2019. Pasti tidak asing dengan “amphibi” kan?. Hewan yang menjadi indikator lingkungan ini mempunyai rupa dan bentuknya terkesan buruk. Tubuhnya dipenuhi tonjolan, warnanya kurang menarik, dan tubuh berlendir. Bahkan jenis tertentu punya bau yang menyengat. Belum lagi mitos air seninya yang dapat menyebabkan kebutaan. Oleh karenanya, satwa ini kurang menarik bagi kebanyakan orang. Apalagi kaum hawa, baru mendengar namanya saja sudah menjerit atau lari karena merasa geli atau jijik. Masyarakat awam masih menganggap sama antara Kodok “toads” dan katak “frog”. Mereka memang satu bangsa “Anura”, tapi kedua hewan ini berbeda loh sobat. Lalu bagaimana kita membedakan keduanya?. Kodok bertubuh lebar dan besar, kulit kering, tebal dan kasar dan kaki relatif pendek. Saat melompat kodok tidak terlalu jauh. Biasanya berasal dari keluarga “Bufonidae” dan mudah dijumpai dimana saja. Mulai dari pemukiman warga, perkotaan, sungai dengan kondisi air yang jernih sampai dengan sangat kotor sekalipun. Bahkan dapat ditemukan hingga ketinggian tertentu. Bisa dikatakan hewan ini mudah beradaptasi dan tahan terhadap “disturbansi” sekitarnya. Jenis kodok yang sering kita jumpai yakni Kodok buduk “Bufo melanostictus” dan Kodok puru-besar “Bufo asper”. Berbeda dengan kodok, katak bertubuh langsing dengan kulit basah atau lembab, berlendir, tipis dan halus. Katak juga mempunyai kaki lebih panjang, sehingga dapat melompat lebih jauh. Selain itu, kaki belakangnya berselaput jelas sehingga beberapa jenis adalah perenang ulung. Katak memiliki banyak jenis yang mendiami habitat tertentu. Misalnya Katak sawah “Fejervarya cancrivora” mendiami habitat sawah berlumpur. Ataupun Katak pohon “Polypedates leucomystax” yang mendiami batang-batang pohon tinggi. Kerapkali juga bersembunyi dibalik kulit pohon ataupun dedaunan. Ada pula Bangkong tuli “Limnonectes kuhlii”, kita hanya menjumpai di sela-sela bebatuan pada sungai yang bersih dan tidak tercemar di pegunungan. Dan satu lagi Katak serasah “Leptobrachium hasseltii” yang habitatnya di lantai hutan. Biasanya bersembunyi di lubang-lubang kayu yang lapuk dan serasah kering. Sudah tahu kan perbedaan antara kodok dan katak. Selain penampakan, ternyata ada pula amphibi yang hidup di habitat tertentu yang tidak tercemar. Berhubung hari ini adalah Hari Peduli Sampah Nasional, yuk kita jaga lingkungan kita dari sampah terutama sampah plastik. So mari kenali dan jaga satwa beserta habitatnya dengan baik dan benar. Teks & Foto: © Azis Abdul Kholik Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Hari Peduli Sampah Nasional Tahun 2019 pada BBKSDA NTT

Kupang, 22 Februari 2019. Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang jatuh pada tanggal 21 Februari, Balai Besar KSDA NTT melaksanakan beberapa kegiatan aksi bersih sampah. Kegiatan tersebut berlokasi baik di Pulau Flores maupun Pulau Timor. Sasaran lokasinya adalah taman wisata alam (darat dan laut). RKW TWAL Tujuh Belas Pulau, CA Riung, dan CA Wolo Tadho telah melakukan bersih pantai di kawasan TWAL Tujuh Belas Pulau pada tanggal 19 Februari 2019 dengan melibatkan siswa sekolah. Aksi ini dimaksudkan untuk memperingati HPSN 2019 sekaligus memperkenalkan generasi muda pada konservasi TWAL Tujuh Belas Pulau. Tidak ketinggalan, pada tanggal 21 Februari 2019 SKW IV Maumere juga berpartisipasi dalam HPSN 2019 melalui pembersihan sampah di salah satu desa penyangga TWAL Teluk Maumere, yakni di pesisir pantai Wairterang. Sampah yang berhasil dikumpulkan adalah sebanyak 9 (sembilan) karung.. Pada hari Jumat, tanggal 22 Februari 2019 dimulai pukul 07.30 WITA, Balai Besar KSDA NTT bersama UPT Kementerian LHK di Kupang : Balai Penelitian dan Pengembangan LHK Kupang, Balai Pendidikan dan Pelatihan LHK Kupang, Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah XIV Kupang, Balai Pengelolaan DASHL Benain Noelmina, serta Lurah setempat melakukan aksi bersih-bersih sampah di pesisir pantai Ketapang Satu yang berbatasan langsung dengan TWAL Teluk Kupang. Jumlah petugas yang terlibat 75 orang. Perkiraan Sampah yang berhasil dikumpulkan adalah 200 kg sampah plastik, 400 kg sampah kayu dan sampah lain-lain 100 kg. Sampah-sampah ini selanjutnya dikumpulkan dan dibuang ke TPS. Menyusul pada hari Minggu, tanggal 24 Februari 2019 Balai Besar KSDA NTT akan mengajak Pramuka Saka Wanabakti untuk melakukan bakti lingkungan berupa pemungutan sampah anorganik di TWA Camplong, Kabupaten Kupang. Keseluruhan acara untuk memperingati HPSN 2019 lingkup Balai Besar KSDA NTT diadakan pada taman wisata alam tersebut sejalan dengan upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan, menyampaikan pesan kepada masyarakat umum agar peduli terhadap kebersihan dan keindahan alam, serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengendalian sampah anorganik. Harapan dari adanya kegiatan ini adalah dapat meningkatkan kepedulian semua rimbawan dan masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan. Mari Kita Kendalikan Sampah. Mari kita wujudkan Indonesia Bersih. Mari kita kelola sampah untuk hidup bersih, sehat, dan bernilai. Sumber : Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur
Baca Berita

Semarak Peringatan HPSN Di TWA Pananjung Pangandaran Dan TWA Linggarjati

Bandung – 21 Februari 2019, Dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), Balai Besar KSDA Jawa Barat kembali gelar Aksi Bersih-Bersih Taman WIsata Alam (TWA). Kali ini, TWA yang menjadi sasaran aksi adalah TWA Pananjung Pangandaran dan TWA Linggarjati. Aksi bersih-bersih di TWA Pananjung Pangandaran dimotori oleh Resor Pangandaran, SKW VI Tasikmalaya, Bidang KSDA Wilayah III Ciamis. Acara yang dilaksanakan pada tanggal 21 Februari 2019 ini melibatkan banyak pihak di antaranya Dinas Kebudayaan, Dinas Lingkungan Hidup, Kepolisian, TNI, HNSI, Politeknik, siswa-siswi SMK, ibu-ibu klub senam, Kecamatan Pangandaran dan Perum Perhutani. Pada acara yang dilaksanakan cukup semarak ini berhasil dikumpulkan sebanyak 9 karung sampah plastic. Di TWA Linggarjati, aksi bersih-bersih juga tidak kalah semaraknya. Acara yang dinisiasi oleh Resor Cirebon, SKW VI Tasikmalaya, Bidang KSDA Wilayah III Ciamis ini juga melibatkan pihak pihak lain seperti pimpinan dan karyawan PT Linggarjati Wigena serta para pedagang yang berada di sekitar TWA Linggarjati. Pada kegiatan yang juga dilaksanakan pada tanggal 21 Februari 2019 ini berhasil dikumpulkan sampah plastik sebanyak 3 karung berukuran 50 kg yang lansung diangkut ke tempat pembuangan sampah Kabupaten Kuningan. Sementara untuk sampah organik ditimbun ke dalam bak dengan ukuran 2,8 x 2,3 x 1,5 M. Rencananya kegiatan Hari Peduli Sampah Nasional di TWA Linggarjati dilanjutkan pada hari jum’at dengan membersihkan aliran sungai dan bangunan objek wisata. Melalui aksi bersih-bersih yang dilakukan ini, diharapkan agar setiap pelaku wisata maupun para wisatawan memiliki kesadartahuan yang tinggi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sehingga tercipta kawasan TWA Pananjung Pangandaran maupun TWA Linggarjati sebagai tempat rekreasi yang sehat, bersih, aman dan nyaman. (HUMAS BBKSDA JABAR)
Baca Berita

Delapan Kasuari Gelambir Ganda Pulang ke Rumahnya

Mimika, 20 Februari 2019. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua (Ditjen KSDAE Kementerian LHK) bekerjasama dengan Jakarta Animal Aid Network (JAAN), PT. Freeport Indonesia, Multi Stakeholder Forum (MSF) Kabupaten Mimika, Usaid Lestari, Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika serta Masyarakat setempat telah berhasil melepasliarkan delapan Kasuari Gelambir Ganda (Casuarius casuarius) ke habitatnya dalam keadaan baik dan lancar. Ke-8 Kasuari Gelambir Ganda (C. casuarius) tersebut merupakan hasil sitaan Balai Penegakan Hukum Jawa Timur dan Balai Besar KSDA Jawa Timur serta unsur terkait lainnya di Bandara Juanda Surabaya – Jawa Timur pada Bulan November 2017. Pada bulan Agustus 2018 satwa liar tersebut diserahkan ke pihak Balai Besar KSDA Papua untuk dilakukan habituasi di Isyo Hills Kampung Rhepang Muaif Nimbokrang Kabupaten Jayapura. Selama kurang lebih enam (6) bulan, ke-8 Kasuari Gelambir Ganda (C. casuarius) tersebut dalam keadaan sehat karena mendapat perawatan yang baik yang dilakukan oleh Bapak Alex Waisimon yang merupakan sosok pemenang Kalpataru tahun 2017. Dalam sambutan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem yang diwakili oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Drh. Indra Exploitasia, M.Si, menyampaikan bahwa kegiatan pelepasliaran Kasuari Gelambir Ganda (C. casuarius) ke alam diharapkan dapat meningkatkan populasi kasuari di Tanah Papua. Selain itu pula disampaikan bahwa pelepasliaran ini menjadikan momen yang penting dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat dalam upaya pelestarian kasuari di Tanah Papua sehingga kegiatan ini patut di apresiasi. Pada kesempatan yang sama Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si, menyampaikan juga bahwa lokasi pemilihan pelepasliaran ke-8 Kasuari Gelambir Ganda (C. casuarius) yang dilaksanakan di Hutan Iwawa Kampung Nayaro Kabupaten Mimika, adalah wilayah sakral bagi masyarakat Adat Kampung Nayaro. Sehingga lokasi ini sangat tepat untuk dilakukan pelepasliaran karena aman dari gangguan ataupun kegiatan lainnya seperti misalnya kegiatan perburuan satwa liar. Disisi lain dalam sambutan Bupati Mimika yang di wakili oleh Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Mimika Drs. Christian Karubaba menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Mimika menyambut baik dan mendukung sepenuhnya upaya konservasi kasuari yang dilaksanakan oleh Balai Besar KSDA Papua bekerjasama dengan Jakarta Animal Aid Network (JAAN), PT. Freeport Indonesia, Multi Stakeholder Forum (MSF) Kabupaten Mimika dan Usaid Lestari. Kasuari Gelambir Ganda (C. casuarius) ini merupakan jenis burung yang memiliki keunikan tersendiri karena memiliki badannya yang besar yang dapat mencapai ketinggian 170 cm dan hanya dapat ditemukan di Papua dan Benua Australia bagian Timur Laut. Keunikan lain Kasuari Gelambir Ganda (C. casuarius) juga merupakan salah satu jenis dari kelas Aves yang tidak mampu terbang sebagaimana jenis yang lainnya. Oleh karena itu satwa ini merupakan satwa endemik yang dilindungi undang-undang. Dengan kembalinya ke-8 Kasuari Gelambir Ganda (C. casuarius) tersebut ke tempat asalnya (habitat), adalah sebagai bentuk kegiatan dalam upaya penyelamatkan keanekaragaman hayati yang dilimiki oleh masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat Papua pada khususnya sehingga diharapkan kelestarian Kasuari Gelambir Ganda (C. casuarius) dapat terjaga selamanya. Sumber : Balai Besar KSDA Papua Call Center : 082398029978
Baca Berita

Goro dan Sosialisasi Petugas Resort Bukit Batu Balai Besar KSDA Riau

Pekanbaru, 22 Februari 2019. Di cuaca yang cerah petugas Resort Bukit Batu bersama sama melakukan gotong royong (goro) di seputar desa di kantor Resort tersebut. Disamping melakukan goro para petugas juga melakukan soliasasi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Bukit Batu dan Kec. Bandar Laksamana untuk tidak membakar lahan mengingat cuaca yang ekstrim dan panas. Tak lupa petugas juga menghimbau kepada masyarakat setempat agar berhati-hati dan waspada dalam melakukan kegiatan sehari hari di areal kebunnya mengingat satwa liar dapat sewaktu waktu muncul walaupun untuk saat ini masih dalam kondisi kondusif. Mencegah lebih baik daripada menanggulangi kan sobat konservasi? Semangat kawan kawan dengan kerja kalian yang nyata!!! CONSERVATION #everyonecandoit Selengkapnya : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Peringati HPSN TN Bali Barat Aksi Bersih Bersama Pramuka MIN 6 Jembrana dan Masyarakat

Gilimanuk, 22 Februari 2019. Bertempat di obyek wisata Karangsewu, TN Bali Barat, sekelompok siswa yang tergabung dalam pramuka siaga Madrasah Ibtidayah Negeri 6 Jembrana, Gilimanuk, bersama Kelompok Nelayan Karangsewu, Kelompok Nelayan Segara Merta, Bank Sampah, Kelompok Penangkaran Curik Bali, yang tergabung dalam Forum Komunikasi Kelompok Swadaya masyarakat Gilimanuk (FKK-SMG) dan didukung oleh personil Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Jembrana, Balai Taman Nasional Bali Barat, melakukan aksi bersih (clean up) di Objek Wisata Karangsewu. Kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun 2019 dengan tema "Kelola Sampah Untuk Hidup Sehat, Bersih dan Bernilai". Aksi bersih dilakukan dengan cara memungut dan mengumpulkan sampah anorganik khususnya sampah plastik di sepanjang Pantai Karangsewu. Kegiatan clean up ini selain sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap lingkungan juga dimaksudkan untuk memberikan contoh kepada pengunjung agar tidak membuang sampah sembarangan. Bagi anak-anak siswa sekolah, kegiatan ini bermanfaat untuk menanamkan kesadaran sejak dini dan memupuk jiwa cinta lingkungan. Kesadaran masyarakat sekitar objek wisata Karangsewu terlihat dengan ikut berperan sertanya masyarakat secara aktif dalam melakukan kegiatan clean up bersama. Dalam kegiatan ini sampah yang berhasil dikumpulkan sebanyak 83 kilogram terdiri dari sampah plastik, kaca, karet, dan styrofoam. Dengan munculnya kesadaran dari masyarakat tentang makna kebersihan khususnya di obyek wisata, merupakan wujud dari kesinambungan dan upaya terus-menerus yang dilakukan oleh petugas TNBB dalam pendampingan masyarakat. Pendampingan memberikan posisi yang jelas bagi masyarakat, yaitu masyarakat sebagai subyek dalam pengelolaan kawasan konservasi. Semoga dengan kesadaran yang muncul, akan memberikan dampak yang baik bagi pengelolaan TN Bali Barat dan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan, sehingga dapat memberikan manfaat berupa penguatan ekonomi bagi masyarakat. Sumber : Balai Taman Nasional Bali Barat
Baca Berita

Belajar Konservasi Ikan Semah di Tatar Sunda

Bogor, 22 Februari 2019. Taman Nasional Danau Sentarum merupakan kawasan lahan basah yang penting bagi dunia (Ramsar site) dan merupakan habitat dari hampir 266 (Dua ratus enam puluh enam) jenis ikan air tawar, sedangkan Taman Nasional Betung Kerihun merupakan habitat alami ikan semah (Tor spp). Populasi ikan Semah di alam semakin menurun karena penangkapan yang berlebihan dan perusakan habitat menyebabkan harga semah di pasaran sangat tinggi. Langkah kongkrit sebagai upaya serius dari Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) dalam rangka peningkatan populasi berbagai jenis ikan endemik dan langka yang berada di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum .Tana Bentarum melakukan studi banding budidaya ikan Semah (Tor sp) di Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat dan Balai Riset Perikanan Budidaya Ikan Tawar dan Penyuluhan Kehutanan.Kegiatan yang dilaksanakan selama 4 (empat) hari mulai dari tanggal 19-22 Februari 2019 yang diikuti oleh 5 orang dan dipimpin langsung oleh Kepala Balai Besar Tana Bentarum. Dalam kunjungannya Kepala Balai Besar, Arief Mahmud menyampaikan “ikan Semah jenis (Tor tombroides) merupakan jenis ikan endemik Taman Nasional Betung Kerihun yang menurun populasinya di alam, sehingga diperlukan upaya konservasi yang lebih nyata, tentunya bekerjasama dengan para ahli dan praktisi yang sudah berhasil”. Selain itu, ikan semah memiliki nilai ekonomis yang tinggi dan bisa dikembangkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat. Studi banding ini dilakukan di tempat budidaya ikan Semah binaan UPTD P2HH (Pelayanan Pengolahan Hasil Hutan) sekaligus merupakan anggota dari PPIMI (Perkumpulan Pengusaha Ikan Mahseer Indonesia). Kolam citalaga merupakan contoh inovasi budidaya ikan semah yang menciptakan habitat asli ikan semah, sehingga mendukung dalam proses pemijahan, pendederan maupun pembesaran. Setra Yuhana, praktisi budidaya ikan semah menjelaskan bahwa Ikan Semah ini bisa dibudidayakan dengan baik dengan menciptakan kondisi habitat yang membuat ikan menjadi happy sehingga bisa berkembang dan bertumbuh besar. Kaitannya dengan prospek pemasaran, permintaan ikan ini banyak dari malaysia maupun singapura dengan harga berkisar antara 700 RM setara 2,1 juta per kilo. “Saya akan bantu untuk mendesign pengembangan ikan semah di dalam kawasan Taman Nasional Betung Kerihun bila diperlukan, dan bisa berhasil dengan sistem pengembangan dan kelembagaan masyarakat yang kuat”, ujar ketua PPIMI yang pernah berkunjung ke Taman Nasional Danau 3 kali ini. Dalam upaya peningkatan populasi jenis ikan di Taman Nasional Danau Sentarum, Tana Bentarum juga menjajaki upaya kerjasama dengan Balai Riset Perikanan Budidaya Ikan Tawar dan Penyuluhan Kehutanan (BRPBITPK). Dayat selaku Kepala Balai BRPBITPK meyambut baik upaya tersebut dan berharap bisa memberikan kontribusi peningkatan populasi ikan langka di wilayah Kalimantan. Kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan ke Cijeruk Bogor untuk melihat proses budidaya ikan Semah. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum Sentarum
Baca Berita

Peringati HPSN 2019, TN Matalawa Ajak Mitra dan Milenial Peduli Kebersihan

Waingapu, 21 Februari 2019. Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2019 di Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) diikuti oleh sejumlah ratusan peserta yang terdiri dari anggota Saka Wanabakti Laiwangi Wanggameti, pelajar SMK, masyarakat sekitar kawasan, dan mitra-mitra terkait lainnya. Dua kegiatan dalam memperingati HPSN ini dilangsungkan di Waingapu pada tanggal 17 Februari dan di Hutan Tanah Daru tanggal 21 Februari. Pada kegiatan peringatan HPSN pada tanggal 17 Februari, anggota baru Saka Wanabakti Laiwangi Wanggameti melakukan operasi bersih sampah di Lapangan Matawai, Kota Waingapu. Kegiatan bersih sampah ini berhasil mengumpulkan 9 karung sampah untuk kemudian dibawa ke TPS terdekat. Selain melakukan kegiatan bersih sampah, kegiatan ini dilanjutkan dengan pelantikan para anggota baru dan Dewan Saka di Taman Sandalwood oleh Kak Hezron Manafe yang bertindak sebagai Sekretaris Mabi Saka. Puncak peringatan HPSN dilaksanakan di Hutan Tanah Daru kawasan TN Matalawa pada 21 Februari. Selain seluruh pegawai, kegiatan ini juga diikuti oleh para siswa SMK Peternakan Umbu Ratu Nggay, masyarakat sekitar, dan mitra kerja TN Matalawa. Hutan Tanah Daru merupakan tempat peristirahatan bagi para pengendara ketika mereka melakukan perjalanan dari Sumba Barat ke Sumba Timur ataupun sebaliknya. Para pengunjung yang beristirahat ini acap kali membuang sampahnya di lokasi ini sehingga membuat kawasan terlihat kotor. Para peserta yang melakukan giat bersih sampah di Hutan Tanah Daru berhasil mengumpulkan lebih dari 20 karung sampah untuk kemudian dibawa ke tempat pembuangan. (aat&dpn/mtlw) Sumber : Balai TN Matalawa
Baca Berita

Balai Taman Nasional Gunung Merapi Berupaya Mengelola Sampah dengan Lebih Bijak

Yogyakarta, 21 Februari 2019. Sampah tidak bisa kita hindari dalam kehidupan sehari-hari, namun hanya bisa kita minimalisir penggunaannya. Itulah yang sebaiknya kita lakukan, selain reuse, reduce dan recycling barang-barang yang kita pergunakan sehari-hari. 21 Februari telah dicanangkan sebagai Hari Peduli Sampah Nasional, juga di tahun 2019 ini. Sebagai salah satu lembaga yang mengelola kawasan konservasi, pengelolaan sampah juga perlu menjadi perhatian bersama. Sebagai upaya menggalakkan eco-office, berbagai upaya dilaksanakan, diantaranya dengan menyajikan makanan dan kudapan dengan bungkus yang ramah lingkungan, menyajikan gelas untuk minuman para karyawan, menggunakan botol minuman yang dapat dipakai ulang dalam kegiatan sehari-hari, menggunakan kertas bekas sebagai sarana untuk mencetak draft surat maupun berkas lainnya, menggunakan kembali (reuse) barang-barang yang dapat digunakan kembali, serta mengurangi penggunaan barang yang tidak diperlukan (reduce). Selain itu, sebagai kawasan wisata alam, beberapa lokasi juga perlu diperhatikan pengelolaan sampahnya. Dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional 2019 yang mengangkat tema “Kelola Sampah untuk Hidup Bersih, Sehat dan Bernilai”, seluruh karyawan-karyawati Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) melakukan kerja bakti membersihkan tempat kerjanya masing-masing, juga tempat wisata di lingkup TNGM. Dalam kesempatan ini, telah dibersihkan kawasan wisata, yaitu OWA Tlogo Muncar, OWA Tlogo Nirmolo, OWA Plunyon, OWA Kalikuning Park, OWA Deles Indah, dan terkumpul 13,8 kg sampah organik, yang berasal dari seresah daun, pangkasan rumput, sisa makanan, yang kesemuanya ditimbun. Sedangkan 46 kg sampah anorganik yang berasal dari tempat wisata alam berasal dari botol plastik, kemasan makanan, yang kemudian dijual ke para pengepul barang daur ulang, maupun dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Sedangkan dari kantor SPTN 1, SPTN 2 maupun ketujuh RPTN, terkumpul sampah organic 29,7 kg yang berasal dari seresah daun, pangkasan rumput, sisa makanan, yang kesemuanya juga ditimbun. Juga terkumpul 29 kg kertas bekas yang disetorkan ke para pengepul barang bekas, dengan sebelumnya dicacah dulu, untuk menghindari terbacanya dokumen-dokumen penting. Sedangkan sampah anorganik yang terkumpul 13 kg berupa ban bekas, 14,93 kg sampah anorganik berupa botol plastik, kemasan makanan, plastik, styrafoam, barang-barang rusak, yang kemudian dijual ke para pengepul barang daur ulang, maupun dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Sampah-sampah ini terkumpul rata-rata dalam 1 pekan, sejak pekan lalu. Banyaknya sampah yang dikumpulkan, menjadi perhatian bersama, ternyata kita memang tidak dapat lepas dari sampah, yang bisa dilakukan hanya mengurangi penggunaan sampah, menggunakan bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan. Mari kita mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, serta mulai dari sekarang (tsr). Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Berita

Sudahkah Anda Kurangi Pencemaran Lingkungan Sampah Plastik?

Kuningan, 21 Februari 2019. Makin hari bumi kita dipenuhi dengan populasi manusia yang semakin meningkat. Tentu saja berdampak terhadap ketersediaan kebutuhan jasmani, seperti sandang, pangan dan papan. Pangan menjadi kebutuhan pokok yang tidak dapat tergantikan dengan apapun. Namun realitanya, pangan tidak hanya dikemas ramah lingkungan. Namun mayoritas dikemas plastik yang tidak dapat terurai selama ratusan tahun. Di lain sisi memang tidak ada pilihan lagi bagi produsen untuk menyediakan pangan yang aman tanpa kemasan plastik terutama makanan ringan. Perlu biaya produksi tinggi yang tentu akan berdampak pada harga jual pangan tersebut. Namun yang perlu dilakukan adalah bagaimana penanganan sampah plastik ini ke depan. Tidak dapat dipungkiri kesadaran masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik masih rendah. Dari usia, latar belakang, bahkan pendidikan belum tentu berbanding lurus dengan kesadaran untuk mengurangi penggunaan plastik. Oleh karenanya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menetapkan Hari Peduli Sampah Nasional pada 21 Februari 2019 sampai tiga bulan berikutnya. Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) merintis pengurangan sampah plastik yakni menyediakan beberapa "dispenser" sehingga pegawai diwajibkan membawa "tumbler" atau tempat minum. Kami memiliki 64 lokasi wisata alam yang tentu berdampak pada banyaknya sampah plastik. Kami bersama mitra pengelola perlu menangani masalah ini. Karena sudah menjadi kewajiban bagi kelompok masyarakat pengelola wisata alam untuk menjaga kebersihan diantaranya dengan "ecobrick". "Ecobrick" adalah mengemas sampah plastik ke dalam botol plastik hingga padat. Botol plastik yang telah terisi tersebut dapat dibuat menjadi aneka barang yang berguna seperti kursi dan meja. Pastinya benda-benda tersebut punya nilai ekonomis yang dapat mendukung kegiatan wisata alam. Selaras dengan apa yang dikerjakan para suami, Dharma Wanita Persatuan Balai TNGC yang merupakan wadah perkumpulan istri pegawai juga turut andil dengan mengumpulkan sampah plastik untuk "ecobrick". Dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka juga akan membuat unit usaha Bank Sampah. Satu botol "ecobrick" ukuran 600 mililiter dapat menampung 0,2 hingga 0,5 kilogram plastik. Dapat dibayangkan berapa banyak sampah plastik yang akan berkurang di lingkungan kita. Hal lain yang dapat dilakukan adalah membawa tas belanja sendiri bila ke "supermarket" atau pasar. Kalau bukan kita siapa lagi yang mencintai kebersihan lingkungan. Bila kita masih berpikir sampah adalah masalah yang tidak krusial, maka jangan sampai bencana datang baru sadar. So, alam dan segala isinya tercipta bukan untuk dicemari ya [ Teks © Nisa, Foto © Dwi S-BTNGC | 022019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Satu Abad Tata Kelola Bantimurung

Maros, 21 Februari 2019. Bantimurung adalah kawasan wisata bersejarah. Sejak zaman kolonial Hindia Belanda, wilayah ini telah mendapat perhatian dari pemerintah saat itu. Bersama beberapa kawasan konservasi lainnya, Bantimurung ditetapkan menjadi monumen alam sejak tahun 1919. Lembaran Negara Hindia Belanda Nomor 90, tertanggal 21 Februari 1919 adalah titah resminya. Menunjuk air terjun Bantimurung sebagai monumen alam “Natuurmonument Bantimoeroeng Waterval” seluas 10 hektar. Pada 1915, Marinus Cornelius Piepers, ahli entomologi Belanda, menulis surat kepada Sijfert Hendrik Koorders. Kutipan suratnya: “Hutan khas mengelilingi air terjun Bantimurung, tidak ditemukan di tempat lain di Hindia Belanda. Kekayaan kupu-kupunya luar biasa, bertebaran di tepi pasir di bawah air terjun. Seperti Wallace sebutkan dan juga Ribbe. Ribuan kupu-kupu unik di Sulawesi ini berkumpul di perbatasan antara wilayah Indo-Malaya dan Australia-Malaya. Sangat disayangkan jika ini punah. Oleh karena itu, saya mengajak Anda untuk menyelamatkannya.” Saat itu Koorders menjabat sebagai ketua sekaligus pendiri Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda. Ia pelopor konservasi alam di Indonesia. Carl Ribbe adalah seorang penjelajah dan ahli entomologi Jerman. Alfred Russel Wallace sendiri adalah naturalis berkebangsaan Inggris. Alasan perlindungan saat itu: terdapat beberapa wilayah yang memiliki nilai ilmiah atau estetika yang khas. Karenanya untuk melindungi wilayah tersebut dari kerusakan dan kehancuran, pemerintah hadir untuk melindunginya. Belanda memiliki istilah natuurmonument atau monumen alam atau cagar alam untuk istilah saat ini. Lebih lanjut, Koorders melalui siaran persnya pada koran Belanda: De Preanger-bode edisi 4 Maret 1919, menuturkan bahwa perlindungan monumen alam ini tak hanya dikenal secara nasional tapi juga internasional. Olehnya putusan penetapannya sangat penting, patut disiarkan secara luas. Upaya Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu telah menempatkan Belanda dalam daftar negara dengan capain tertinggi konservasi monumen alam. Negara-negara tersebut di antaranya: Amerika, Jerman, Swiss, Belanda, Swedia, Norwegia, Denmark, Inggris, Prancis, dan Australia. Koorders juga menambahkan bahwa bukan hanya karena banyaknya jumlah situs yang dikonservasikan sebagai monumen alam, tetapi karena nilai ilmiah yang sangat penting dari beberapa situs. Putusan tertanggal 21 Februari 1919 tersebut mengantarkan Hindia Belanda menjadi garis terdepan di kalangan negara-negara tropis dalam hal perlindungan alam. Air terjun Bantimurung semakin menjadi primadona untuk menikmati keindahan alam. Berkunjung untuk menikmati keindahan air terjun dan alam sekitarnya. Tak hanya itu, sejumlah naturalis juga rela datang jauh-jauh untuk menelisik lebih jauh kupu-kupu yang mendiami wilayah ini. Status tata kelola Bantimurung mengalami perubahan pada tahun 1981. Perubahannya melalui surat keputusan Menteri Pertanian Nomor 237/Kpts/Um/3/1981, tertanggal 30 Maret 1981. Merubah status Cagar Alam Bantimurung seluas 18 hektar menjadi taman wisata. Pertimbangan perubahan status ini karena Bantimurung telah mengalami perubahan dan memiliki pemandangan alam yang indah. Memiliki air terjun yang bertingkat serta bermacam-macam kupu-kupu yang indah. Karenanya perlu dimanfaatkan untuk kepentingan rekreasi, pariwisata, pendidikan, dan kebudayaan. Selanjutnya tahun 2004, tata kelola Bantimurung mengalami perubahan. Bersama kawasan konservasi lain di sekitarnya ditunjuk menjadi bagian dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Gugusan karst dan kupu-kupu menjadi ikon taman nasional. Hingga sampai saat ini riuh kupu-kupu masih dapat dijumpai di Bantimurung. Pada tataran tata kelola spesies, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung telah melakukan sejumlah upaya melestarikan kupu-kupu. Identifikasi kupu-kupu, pemetaan sebaran habitat, identifikasi pakan, hingga monitoring populasi. Tak hanya itu upaya lainnya: pembinaan habitat, penyadartahuan masyarakat, mendirikan sanctuary kupu-kupu hingga masyarakat turut serta membangun penangkaran kupu-kupu. Saat ini taman nasional telah berhasil mengidentifikasi kupu-kupu sebanyak 247 jenis kupu-kupu. Sebanyak 25 jenis di antaranya telah berhasil dikembangbiakkan secara rutin di sanctuary kupu-kupu. “Setelah seratus tahun tata kelolanya, Bantimurung telah memberikan ragam manfaat. Manfaat pendidikan dan ilmu pengetahuan, wisata, hingga jasa air. Memberikan kemakmuran bagi masyarakat sekitar, pemerintah daerah hingga penerimaan PNBP bagi negara. Kita berharap agar keasliannya tetap terjaga hingga terus memberikan manfaat,” ujar Yusak Mangetan, kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, saat kami temui. Moga ke depan tata kelola Bantimurung terus eksis dengan tetap menjaga kelestariannya. Termasuk kupu-kupu yang menghuninya terus memamerkan sayap indahnya. Sumber: Taufiq Ismail dan Kama Jaya Shagir – PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Foto : Indra Pradana
Baca Berita

Perkemahan Akbar Tingkat Penegak Jilid 4 Tahun 2019 (Kembara#4) STAI Tafaqquh Fiddin Dumai di TWA Sungai Dumai

Pekanbaru, 21 Februari 2019. Kemeriahan dan keceriaan tergambar di Taman Wisata Alam (TWA) Sungai Dumai pada hari Sabtu dan Minggu, tanggal 16 dan17 Februari 2019. Sebanyak 120 orang mahasiswa/i STAI Tafaqquh Fiddin Dumai mengikuti kegiatan Kepramukaan di TWA yang berada dalam pengelolaan Balai Besar KSDA Riau tersebut. Selama dua hari para peserta melakukan kegiatan hiking, pembelajaran konservasi, penanaman pohon, dan kegiatan kepramukaan lainnya. Kegiatan Hiking dimulai dari Kampus STAI Tafaqquh Fiddin Dumai sampai ke halaman Kantor Seksi Konservasi Wilayah lV yang memang berada di dalam TWA Sungai Dumai tersebut. Selanjutnya diberikan pembelajaran konservasi dengan melakukan pengenalan TWA Sungai Dumai oleh petugas dari Seksi Konservasi Wilayah IV yang diwakili oleh kak Titin. Tak lupa dalam kegiatan tersebut dilakukan penanaman beberapa pohon Ketapang Kencana di dalan kawasan konservasi TWA Sungai Dumai sebagai wujud kepedulian anak bangsa akan penghijauan. Suasana makin meriah karena adanya berbagai permainan bersama para peserta yang membangun keberanian, kekompakan, kerjasama, dan kepemimpinan. Ayo generasi muda, kita tingkatkan kesadaran konservasi demi kelestarian kawasan dan hutan kita. Tentu saja dengan CONSERVATION #everyonecandoit, siapapun bisa melakukannya... Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Peringati Hari Peduli Sampah, Balai TN Kutai Gelar Aksi Bersih “Sangkima Jungle Park”

Sangatta, 21 Februari 2019. Dalam rangka memperingati hari peduli sampah Indonesia, Balai Taman Nasional Kutai menggelar rangkaian aksi bersih sampah di beberapa lokasi Wisata Alam di TN Kutai. Aksi bersih sampah dimulai bertepatan dengan Hari Peduli Sampah Indonesia yaitu pada tanggal 21 Februari 2019, dengan menggelar aksi bersih sampah di Sangkima Junggle Park. Selanjutnya akan dilakukan aksi bersih sampah di objek wisata lainnya yaitu Prevab dan Bontang Mangrove Park. Aksi bersih sampah di Sangkima Junggle Park dimotori oleh Kepala SPTN wilayah I Sangatta dan Kepala Resort Sangkima, dengan melibatkan lebih dari 100 personil yang terdiri dari staf balai TN Kutai, Kader konservasi, Kelompok Sadar Wisata Eko Kabojaya-Swarga Bara, Kabupaten Kutai Timur. Kegiatan dimulai dengan apel bersama, kemudian dibagi dalam tiga tim dan melakukan pembersihan dengan menyusuri jalur wisata sepanjang 4 km dan pembersihan welcome area. Sangkima Junggle Park merupakan salah satu objek wisata alam Taman nasional Kutai dengan ikon Ulin Raksasa berdiameter 2.49 meter dan junggle trekking sepanjang 4 km. Atraksi wisata yang disediakan berupa jembatan ulin sepanjang 900 meter dan rumah pohon. Keunikan potensi wisata menjadikan tempat ini banyak dikunjungi wisatawan baik lokal Kutai Timur, maupun dari luar kabupaten, bahkan dari mancanegara. Salah satu permasalahan dalam pengelolaan wisata alam di Sangkima dan tempat wislata lainnya pada umumnya adalah manajemen sampah. Persoalan sampah menjadi tantangan tersendiri yang seringkali menjadi hambatan dan penyebab menurunnya kualitas lingkungan suatu objek wisata alam. Padahal indikator keberhasilan pengelolaan wisata alam adalah peningkatan kualitas lingkungan. Kemajuan teknologi yang menyediakan kemasan berbagai bentuk yang berbahan plastik dan sejenisnya turut mendorong peningkatan produksi sampah. Tidak dapat dipungkiri, beberapa tahun terakhir, kebiasaan menggunakan kemasan plastik untuk segala kebutuhan semakin meningkat. Hal tersebut semakin mendorong meningkatnya sampah plastik. Belum lagi pola perilaku membuang sampah pada tempat yang sesuai masih sangat kurang. Peringatan hari peduli sampah di Taman Nasional Kutai diselenggarakan tidak sekedar untuk membersihkan sampah, namun untuk membangun pemahaman dan perilaku yang baik dalam mengelola sampah. Peringatan hari peduli sampah diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran peduli lingkungan dan semakin mendorong perilaku bersih serta meminimalkan penggunaan sampah plastik. Sumber : Lita Kabangnga - Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Pemusnahan Tanaman Sawit dalam Kawasan TNGP

Ketapang, 21 Februari 2019. Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) merupakan Kawasan Konservasi yang memiliki 3 fungsi yaitu fungsi perlindungan, fungsi pengawetan dan fungsi pemanfaatan. Fungsi pertama berkaitan dengan pengamanan kawasan dari kegiatan ilegal seperti penebangan liar, perburuan liar dan perambahan kawasan untuk pertanian. Salah satu kegiatan perambahan yang dijumpai adalah penanaman sawit di dalam kawasan. Penanaman sawit ilegal di dalam kawasan berhasil diidentifikasi oleh petugas RPTN Sempurna, SPTN Wilayah II Teluk Melano. Tanaman sawit tersebut merupakan milik warga Desa Sempurna, Kec. Sungai Laur atas nama bapak Arsyad. Kepala Resort Sempurna dan staf nya kemudian melakukan koordinasi ke yang bersangkutan dan pemilik sawit bersedia untuk memusnahkan tanaman sawit miliknya. Pemusnahan kemudian dilakukan bersama-sama antara pemilik sawit, musyawarah pimpinan kecamatan (muspika) dan Balai TN Gunung Palung. Sebanyak ±100 batang sawit dalam lahan 2Ha dimusnahkan menggunakan cairan organik yang ramah lingkungan Camat Sungai Laur, Bapak Andreas Hardi menuturkan bahwa beliau sangat mendukung kegiatan ini demi melestarikan lingkungan. “Saya secara pribadi maupun kedinasan sangat mendukung kegiatan ini untuk melestarikan tumbuhan,satwa dan lingkungan. Di desa Sempurna ini dikelilingi oleh persawahan,sehingga memiliki potensi yang bisa dikembangkan.” Kades Desa Sempurna, Bapak Hamim Tades mengatakan bahwa Pak Arsyad, pemilik lahan sawit memiliki pekerjaan utama sebagai petani. “Pak Arsyad dan keluarga bekerja sebagai petani. Kami juga mengajak masyarakat yang lain untuk fokus ke pertanian, karena Desa Sempurna memiliki SDA yang melimpah.” Bapak Arif selaku Kepala Resort Sempurna - Balai TN Gunung Palung, mengatakan akan melakukan peninjauan kembali hasil kegiatan pemusnahan tersebut. “Bahan dan alat kami bawa dari Ketapang, dan cairan organik tersebut tidak langsung bereaksi, butuh waktu sekitar satu minggu, maka dari itu kami akan meninjau kembali. Jika tanaman sawit tidak mati dengan cairan tersebut, maka kami akan lakukan penebangan.” Sumber : M. Arif Pratama Putra - Balai Taman Nasional Gunung Palung

Menampilkan 6.129–6.144 dari 11.140 publikasi