Minggu, 21 Jun 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Tana Bentarum Gelar Implementasi SMART dan Peningkatan Kapasitas Walidata

Putussibau, 26 Februari 2019. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) bersama Direktorat Kawasan Konservasi menggelar kegiatan Implementasi SMART-RBM dan Peningkatan Kapasitas Walidata di ruang aula Balai Besar Tana Bentarum. Spatial Monitoring and Reporting Tools (SMART)-RBM merupakan suatu sistem pengelolaan data kegiatan lapangan yang dikembangkan berdasarkan pengalaman praktis dan dirancang untuk membantu management kawasan konservasi dalam mengambil keputusan. Kegiatan ini bertujuan memaksimalkan proses implementasi di tingkat tapak hingga proses penyusunan database di tingkat nasional melalui database online, serta membuat sistem tata kelola data yang khas dan spesifik yang sesuai dengan tipologi dan potensi TaNa Bentarum. SMART-RBM mengelola data dan informasi secara lebih ringkas dan efisien, data yang dikelola dengan SMART-RBM akan memudahkan pimpinan dalam merumuskan strategi dalam menangani masalah dengan lebih akurat. Sistem basis data SMART-RBM direkomendasikan sebagai salah satu skema dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan, ketersediaan kompilasi seluruh data tingkat tapak berpusat di kantor balai. Kementerian LHK dalam hal ini Dirjen KSDAE melalui surat edaran Dirjen KSDAE NO. SE.14/KSDAE/KK/KSA.1/11/2018 tgl 6 November 2018 telah menginstruksikan agar dalam peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi perlu mengimplementasikan SMART-RBM. arahan lebih lanjut mengenai implementasi SMART-RBM disampaikan oleh Direktur Kawasan Konservasi melalui surat Nomor:S 42/KK/PPKK.1/KSA.1/1/2019 tgl 28 Januari 2019. Kegiatan Implementasi Smart dan peningkatan kapasitas wali data Balai Besar TNBKDS ini terdiri dari 5 tahapan kegiatan, yaitu (1) Evaluasi Implementasi Smart TNBKDS dan (2) Pengembangan Aplikasi Smart TNBKDS yang dilakukan di Putussibau tanggal 26 Februari 2019. (3) Inventarisasi dan Ekstraksi data laporan dan (4) Peningkatan Kapasitas Wali Data Smart BBTNBKDS di Resort Tekenang, TNDS serta (5) Explorasi Langur Borneo (presbytis chrysomelas cruciger) selama 5 hari. Peserta terdiri dari staf fungsional serta narasumber yang membantu dalam kegiatan ini adalah dari kelompok kerja Smart-RBM, yaitu perwakilan dari Direktorat Kawasan Konservasi sebanyak 2 orang dan dari POKJA SMART-RBM 1 orang. Dian Risdianto, Narasumber dari Direktorat KK menyampaikan apresiasinya “saya sangat mengapresiasi Balai Besar Tana Bentarum gerak cepat dalam merespon surat edaran tentang implementasi RBM”, ujarnya. Balai Besar TNBKDS semenjak tahun 2011 sebenarnya sudah mulai mengimplementasi Resort Base Management (RBM) yang sekarang ini disempurnakan aplikasinya menjadi SMART-RBM. Kemudian dilakukan kegiatan Pelatihan SMART-RBM bekerjasama dengan Asian Development Bank (ADB). Uji coba juga dilakukan berupa pengambilan data keanekaragaman hayati dan data perlindungan pengamanan kawasan. Namun pelaksanaan kegiatan SMART-RBM ini masih belum berjalan dengan efektif dan berkelanjutan karena masih lemahnya sistem pengelolaan database SMART-RBM dan dukungan pendanaan dalam operasional pengambilan data lapangan. Di sela-sela membuka acara, Arief Mahmud, Kepala Balai Besar menyampaikan “Pengelolaan kawasan konservasi memerlukan basis data yang kuat mulai dari perencanaan kegiatan lapangan hingga menyusun strategi pengelolaan kawasan”, imbuh Arief. Belajar dari pengalaman sebelumnya, sebagai bagian dari upaya membangun implementasi SMART-RBM di BBTNBKDS, maka perlu adanya proses monitoring evaluasi dari beberapa kegiatan yang sudah terlaksana untuk kemudian menyusun kembali strategi yang tepat dengan kondisi lapangan serta ketersediaan sumber daya yang ada. Untuk itu dibutuhkan kegiatan implementasi SMART-RBM dan peningkatan kapasitas walidata Balai Besar TNBKDS. Keunggulan basis data SMART-RBM diantaranya :menyajikan data riil, akurasi data spasial, otomasi analisis dan ringkasan data, integrasi data, user friendly serta data terstandardisasi dan lengkap. Sumber : Balai Besar Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Tempuh Antar Kota Antar Provinsi Demi Rehabilitasi Bayi Klempiau

Pontianak, 25 Februari 2019. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang, Balai KSDA Kalbar bersama Yayasan IAR Indonesia berangkat menuju BKSDA Kalimantan Tengah membawa seekor bayi klempiau hasil serahan masyarakat untuk selanjutnya diserahkan ke Yayasan Kalaweit Indonesia pada hari Sabtu (23/2). Acol (8 bulan) merupakan bayi klempiau yang diserahkan oleh Sdr. Pendi warga Desa Sutera, Kabupaten Kayong Utara kepada tim patroli Balai Taman Nasional Gunung Palung (12/2/2019). Setelah diserahkan, Acol yang telah dipelihara oleh Sdr. Pendi selama 8 bulan kemudian diserahkan ke BKSDA Kalbar. Bayi Acol kemudian dicek kesehatannya oleh tim dokter hewan dan dinyatakan sehat namun memerlukan proses rehabilitasi mengingat umur dan kondisinya yang tanpa induk. Koordinasi pun dilakukan dengan BKSDA Kalteng dan Yayasan Kalaweit Indonesia untuk proses rehabilitasi Acol. Minggu (24/2/2019) Acol tiba di Palangkaraya dan diterima oleh Dokter hewan BKSDA Kalteng. Selayaknya bayi manusia, bayi klempiau atau hewan lainnya pasti memerlukan induknya untuk dapat bertahan hidup. “Kasian” atau “lucu” seringkali menjadi alasan seseorang untuk memisahkan anak dari induknya. Entah dipisahkan dengan cara membunuh induknya atau sengaja diambil dari sarangnya langsung. Kesadaran konservasi dan rasa empati yang minim membuat masih banyaknya masyarakat yang memburu serta memelihara satwa liar, dengan berbagai alasan. “Jaga dan Lestarikan Satwa Liar di Habitat Aslinya, Jangan Biarkan Mereka Punah dan Hanya Menjadi Sebuah Cerita.” Sumber : Tim WRU SKW I Ketapang, Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Launching Program Ekolabel Swadeklarasi Madu Hutan Panen Lestari; Madu APDS Paling Siap

Putussibau, 25 Februari 2019. Pusat Standarisasi Lingkungan dan Kehutanan (Pustanlinghut) bersama dengan Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) serta Jaringan Madu Hutan Indonesia menggelar Bimbingan Teknis dan Launching program Ekolabel Swadeklarasi Madu Hutan di Aula Balai Besar Tana Bentarum. Madu hutan merupakan salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang sangat potensial untuk dipasarkan baik pasar lokal, nasional dan luar negeri. Madu hutan yang berasal dari kawasan hutan konservasi dan hutan-hutan lainnya memiliki ciri khas yang khusus berupa kandungan nutrisi yang tinggi, karena sumber-sumber nectar yang diambil oleh lebah madu hutan dihasilkan dari lokasi/habitat terbebas dari polusi. Pengelolaan madu hutan yang telah di panen juga sangat penting untuk menjadi perhatian dimana hal ini sangat berpengaruh kepada kualitas dan kebersihan madu hutan tersebut. Sehingga penanganan setelah pemananen madu ini harus mempertimbangkan aspek kualitas produk yang bersih dan higienis sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Dalam rangka untuk menjamin mutu produk, sumber madu, dan kelestarian hutan, Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI) telah mengembangkan praktek panen dan paska panen madu hutan secara higienis dan lestari. Praktek ini dituangkan dalam Pedoman Panen dan Paska Panen Madu Hutan yang ditetapkan bersama dengan anggota JMHI. Pustanlinghut KLHK menjemput praktek tersebut dan mengawal dengan instrumen standardisasi dengan SNI 8664:2018 Madu dan Skema Ekolabel Swadeklarasi. Skema Ekolabel Swadeklarasi adalah skema pengakuan terhadap upaya pengelolaan lingkungan dalam kegiatan produksi ramah lingkungan melalui penilaian oleh pihak ketiga dalam hal ini adalah Lembaga Verifikasi Ekolabel (LVE). LVE yang dapat melakukan verifikasi adalah lembaga independen yang telah memenuhi syarat dan telah terdaftar di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), saat ini Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI) telah dikukuhkan menjadi LVE. Program ini juga dimaksudkan untuk mengangkat produk unggulan lokal, menggalang partisipasi petani madu hutan dan mempromosikan pemanfaatan madu secara luas dengan sasaran meningkatkan kesejahteraan petani madu sekaligus menjaga kelestarian hutan. Dalam sambutannya Kepala Balai Besar meminta agar stakeholders bahu-membahu sesuai dengan kapasitasnya untuk mengangkat, mempromosikan dan memasarkan madu hutan organik Kapuas Hulu. “Kami juga berharap asosiasi madu yang ada di kapuas hulu baik di dalam maupun di luar Taman Nasional, kedepan juga mendapat giliran untuk diverifikasi supaya menambah nilai produk. Tentunya asosiasi-asosiasi tersebut harus mempersiapkan diri sejak dini, seperti kelembagaan, proses panen, pasca panen dan proses mengolah madu”, ujarnya. Kegiatan Verifikasi Asosiasi Madu Hutan di APDS ini merupakan yang pertama di Indonesia. Pada tanggal 22 – 24 Februari 2019 kemarin, Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI) yang didampingi oleh Pusat Standardisasi Lingkungan dan Kehutanan (Pustanlinghut) memverifikasi APDS untuk mendapatkan Ekolabel Swadeklarasi Klaim panen lestari madu hutan dari Kementerian LHK. Kenapa APDS? Karena dinilai oleh JMHI dan Pustanlinghut, APDS lebih siap dari pada yang lain (madu ada, musim panen periode 2018 – 2019 mencapai 23 ton; kelembagaan; proses panen dan pasca sudah berjalan dengan baik). Sebagai informasi, sebelumnya di tahun 2007, madu hasil produksi APDS juga telah mendapatkan sertifikasi Biocert, SNI 01-6729-2002 dan mutu produk madu. Pemberian sertifikat organik bagi produk madu hutan APDS juga merupakan yang pertama di Indonesia. Di sela-sela wawancara Kepala Pustanlinghut KLHK, Noer Adi Wardojo menyampaikan harapannya “Madu hutan indonesia dimulai dari Danau Sentarum Kapuas Hulu menjadi produk unggulan yang dinyatakan ramah lingkungan dan lestari yang dapat dikenalkan ke semua konsumen yang ada di Indonesia dan juga internasional”, imbuh Noer. Acara Swadeklarasi Madu Hutan ini dihadiri pihak terkait seperti Kepala Pustanlinghut KLHK, Lembaga Verifikasi Ekolabel JMHI, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalimantan Barat, Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Kalimantan Barat, Bappeda Provinsi Kalimantan Barat, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalimantan Barat, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kapuas Hulu, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Kapuas Hulu, Petani Madu Hutan, NGO, Asosiasi Sub Sentra Koperasi Madu Hutan Kapuas Hulu, Direktur PT. Uncak Kapuas. Sumber : Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Dokter Hewan BKSDA Aceh Training Animal Health and Their Welfare di Lampung

Aceh, 25 Februari 2019. Training Animal Health and Their Welfare diselenggarakan oleh Perhimpunan Kebun Binatang se-Indonesia (PKBSI) bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan, Perhimpunan Dokter Satwa Indonesia (PDHI), Shotheast Asian Zoo dan Aquariums Association (SEAZA), Wild Welfare The University of Edinburgh UK, Institute Pertanian Bogor, serta Taman Satwa Lembah Hijau. Pelatihan diadakan di Lampung pada tanggal 20 s/d 24 Februari 2019. Pelatihan ini bertujuan sebagai komitmen yang kuat dalam kesejahteraan satwa dalam seluruh aspek pemeliharaan dan perawatan satwa di Lembaga Konservasi. Peserta yang hadir meliputi Dokter Hewan, Paramedik, Tenaga Laboratorium diagnosis dan keeper yang membantu kesehatan satwa, semua peserta dibekali untuk memberikan standar internasional layanan kesehatan yang mengutamakan kesejahteraan satwa mereka. Tak hanya materi, praktek ke lapangan juga diberikan di Pusat Latihan Gajah (PLG), Suaka Rhino Sumatera dan Taman Satwa Lembah Hijau. Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh
Baca Berita

Menginspirasi SISPALA Candu Menulis

Medan, 25 Februari 2019. Anggota kelompok pencinta alam, baik siswa pencinta alam (Sispala) maupun mahasiswa pencinta alam (Mapala), kerap melakukan berbagai kegiatan/aktivitas dibidang konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup, namun sangat sedikit (terbatas) diantara mereka yang menuangkan pengalaman, pengetahuan serta aktivitasnya tersebut dalam bentuk laporan tertulis. Seolah-olah pengalaman yang didapatkan itu cukup hanya untuk konsumsi (kepentingan) diri sendiri. Kalaupun ada yang mau berbagi biasanya hanya sebatas retorika (cerita secara lisan). Padahal daya ingat manusia itu sangat terbatas, sehingga cerita pengalaman hari ini belum tentu akan diingat pada lima atau sepuluh tahun kedepan. Sementara materi dari pengalaman itu sebenarnya sangat bermanfaat/berguna. Melihat hal ini, Evansus Renandi Manalu, Analis Data pada Sub Bagian Data, Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, berinisiatif mencoba membangun inspirasi khususnya siswa pencinta alam (Sispala) untuk mulai menumbuhkan minat pada kegiatan tulis menulis. Langkah awalnya dengan mengunjungi kelompok Sispala Go Green SMP Negeri 2 Sunggal di Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, pada Sabtu 23 Februari 2019. Suasana bincang-bincang santai dengan anggota Sispala Go Green, digelar di halaman sekolah yang asri, sehingga jauh dari kesan pertemuan formil. Siswa/siswi diajak berdialog, bertukar pikiran dan berbagi pengalaman. Responnya sangat antusias, beberapa diantara peserta, yang berjumlah 30 orang ini, berebut mengajukan pertanyaan serta mohon saran berkaitan dengan aktivitas tulis menulis. Dari awal saat memulai perbincangan, Evansus memberikan pemahaman kepada siswa bahwa kunjungannya ke Sispala Go Green SMP Negeri 2 Sunggal tidak bermaksud mengedukasi (mengajari), tetapi lebih ingin memotivasi dan menginspirasi agar anggota Sispala Go Green, mulai mencoba menggeluti aktivitas menulis dengan menuangkan segala pengalaman, pengetahuan dan aktivitasnya dalam bentuk tulisan. Bahwa kemudian berkembang ada keinginan untuk menjadi seorang penulis, hal itu merupakan proses alami yang harus dilalui dengan terus belajar dan terus mengembangkan kreatifitas. Menjadi penulis, apalagi penulis yang profesional, bukanlah sesuatu yang instan, melainkan ada perjalanan yang panjang, yang membutuhkan kesabaran, ketekunan dan kerja keras, ujar Evansus dihadapan peserta. “Ada filosofi dalam dunia tulis menulis, yaitu Scribo er Gesum, yang artinya “Aku Ada Karena Aku Menulis”. Hal ini mengandung arti, bahwa keberadaan seseorang di muka bumi (dunia) ditunjukkan/dibuktikan dengan karya tulisnya. Oleh karena itu, sejatinya karya tulis merupakan sebuah keabadian, yang membuktikan bahwa olah pikir (pemikiran) penulisnya tetap abadi dan bermanfaat, meskipun secara fisik orang tersebut sudah wafat (meninggal),” ujar Evansus menyemangati peserta. Sispala Go Green SMP Negeri 2 dipilih sebagai lokasi bincang-bincang, mengingat kelompok ini merupakan salah satu sispala binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Kelompok yang berdiri sekitar 10 tahun yang lalu (tepatnya tanggal 17 Juli 2008), memiliki banyak aktifitas dan juga prestasi. Tercatat sebanyak 2 (dua) kali Sispala Go Green meraih penghargaan sebagai Juara III penilaian dan pemberian penghargaan atas peranserta masyarakat dalam upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara (yaitu tahun 2012 dan tahun 2018) dan Juara II Lomba Kreasi Daur Ulang Sampah dalam rangka Promosi Wisata TWA Sibolangit pada tanggal 25 Mei 2018 di TWA Sibolangit. Selain itu, Sispala Go Green juga menjadi ujung tombak keberhasilan SMP Negeri 2 Sunggal meraih prestasi penghargaan bergengsi Sekolah Adiwiyata Mandiri (Sekolah Berbudaya Lingkungan), pada tahun 2013. Begitu banyaknya prestasi yang diraih, tentunya akan menjadi catatan dokumen sejarah yang sangat penting untuk selalu dikenang dan menjadi inspiasi dan motivasi kedepannya. Sehingga sayang bila moment-moment bersejarah tersebut dibiarkan berlalu tanpa ada catatannya. Kegiatan bincang-bincang dan dialog ini didukung sepenuhnya oleh Kepala SMP Negeri 2 Sunggal, Armanto, S.Pd., serta pembina Sispala Go Green, Makder Pakpahan, S.Pd. dan Hanfnizar, S.Pd., yang juga adalah kader konservasi alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Sumber : Nofri Yeni, SP. - PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara Foto bersama usai bincang-bincang
Baca Berita

Festival Hammock dihelat Lagi di TWA Buluhcina

Pekanbaru, 25 Februari 2019. Kegiatan menarik berwisata di Buluhcina makin mempesona. Kali ini even Festival Hammock di TWA Buluhcina 2019 diselenggarakan bersama Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Kampar, Bengkel Seni Rantau Kampar Kiri, Laskar Penggiat Ekowisata Riau dan pengelola kawasan Balai Besar KSDA Riau. Beranekaragam kegiatan ditampilkan dari budaya, kuliner sampai wisata alam, pacu jalur, lomba memasak, lomba mewarnai, pembacaan puisi dan seni, pendidikan konservasi serta aksi perang sampah. Acara star pertama pacu sampan dilakukan pada hari Jum'at dibuka oleh Kadis Pariwisata Kab. Kampar, Zulia Dharma. Pada hari kedua diadakan lomba memasak asam podeh, makanan khas daerah Melayu dengan peserta 13 regu. Acara dibuka oleh Kadis Pariwisata Provinsi Riau, Zulfahmi Usman. Lomba memasak dibarengi dengan lomba mewarnai untuk TK dengan tema "hammock" diiringi musik tradisional dan nyanyian melayu dari atas panggung. Suasana sangat meriah. Setelah selesai memasak, semua yang hadir makan bersama. Kemudian acara pacu sampan dilanjutkan. Kemeriahan acara bertambah dengan datangnya 3 unit carnaval boat hias yang mengarungi sungai Kampar dari Pulau Cinta, Teluk Jering berbarengan dengan datangnya peserta hammock yang berjumlah sekitar 40 orang via darat. Para peserta nampak bersemangat memasuki Taman Wisata Alam (TWA) Buluhcina dimana hammock sudah bergelantungan siap untuk dipergunakan. Malamnya para peserta disuguhi perhelatan seni dan budaya dengan panggung di atas Danau Tanjung Putus. Pagi hari, para peserta diberikan pendidikan konservasi oleh bapak Isbanu dari Balai Besar KSDA Riau sebelum melakukan jungle tracking untuk melihat keindahan alam tujuh danau serta keeksotisan pepohonan yang berada di dalam kawasan TWA Buluhcina. Sebelum acara berakhir, peserta diajak untuk menyaksikan final pacu sampan dan acara ditutup dengan aksi perang sampah secara bersama sama oleh peserta dan panitia. Sahabat konservasi ayo kita lestarikan kawasan konservasi kita... mari berwisata ke TWA Buluhcina... CONSERVATION #everyonecandoit Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Lokalatih Da'i Konservasi

Pekanbaru, 25 Februari 2019. Mewujudkan kelestarian kawasan konservasi tidak dapat berdiri sendiri, perlu keterlibatan para pihak termasuk masyarakat. Upaya menempatkan masyarakat sebagai subjek dalam pengelolaan kawasan adalah langkah strategis yang perlu terus didorong dan diwujudkan dengan penuh kesadaran dan keyakinan yang kuat. Peningkatan kesadaran masyarakat akan arti pentingnya menjaga kelestarian guna mewujudkan keseimbangan ekosistem dapat dilakukan dari dan oleh masyarakat. Salah satu langkah dalam mewujudkan hal tersebut adalah dengan mendorong alim ulama/da'i, para imam dan khotib masjid serta tokoh masyarakat yang berada di tengah-tengah masyarakat sebagai bagian dari pihak yang menyuarakan nilai pentingnya pelestarian dan perlindungan kawasan hutan. Menyamakan pandangan dan menggali pengetahuan bahwa upaya pelestarian/konservasi kawasan hutan dan perlindungan tumbuhan dan satwa yang ada di dalamnya adalah hal yang sejalan dengan prinsip, nilai dan ajaran agama dan sekaligus merupakan perintah mulia yang tersurat dalam kitabullah. CONSERVATION #everyonecandoit Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Penindakan Pemilik Satwa Liar Illegal

Medan, 22 Februari 2019. Bermula dari informasi yang disampaikan oleh petugas Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara, pada Rabu 20 Februari 2019, sekitar pukul 10.00 wib, tentang dugaan pelanggaran tindak pidana dibidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berupa kepemilikan satwa liar yang diduga dilindungi undang-undang oleh seorang warga, berinisial R, beralamat di Jalan Yos Sudarso Gang Tower Kelurahan Mabar Kecamatan Medan Deli, Kota Medan. Menindaklanjutinya, Tim dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama-sama dengan Tim Reskrimsus Polda Sumut, sekitar pukul 13.00 wib, melakukan pengecekan langsung ke lokasi dan menemukan beberapa jenis satwa yang dilindungi undang-undang, seperti : 5 (lima) individu Kakatua Raja, 5 (lima) individu Kesturi Raja, 1 (satu) individu Rangkong, 1 (satu) individu Kakatua Maluku, 1 (satu) individu Kakatua Jambul Kuning dan 3 (tiga) indvidu anak Kasuari. Kemudian Tim Gabungan mengamankan ke 16 (enambelas) individu satwa tersebut bersama pemiliknya (R), karena tidak dapat menunjukkan dokumen atau izin penangkaran satwa dilindungi tersebut. Pelaku dan beberapa orang saksi dibawa ke Mapolda Sumut untuk dimintai keterangannya. Operasi bersama (gabungan) penertiban pemeliharaan/pemilikan dan perdagangan satwa liar dilindungi undang-undang secara illegal, yang digelar oleh Polda Sumut dan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, merupakan yang kesekian kalinya dilakukan. Kedepan kerjasama yang baik ini sangat diharapkan utamanya dalam menertibkan dan menegakan aturan hukum dibidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Sumber : M. Ali Iqbal Nasution - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Mitra TN Kutai, Mendukung Program Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar TN Kutai

Bontang, 25 Februari 2019. 25 tahun menjadi partner Balai Taman Nasional Kutai dalam mengelola kawasa, bukanlah waktu yang singkat. Mitra TN Kutai bermula pada tanggal 30 April Tahun 1994 atas dasar MoU yang ditandatangani oleh Dirjen PHPA dan perwakilan dari 6 perusahaan yaitu PT. Pertamina, PT. Badak NGL, PT. Porodisa, PT. Kiani Lestari, PT. Surya Hutani Jaya, dan PT. Kaltim Prima coal dan pada tanggal 29 Juni 1995 ditindaklanjuti dengan Surat Keputusan Dirjen PHPA No. 121/Kpts/DJ-VI/1995 dengan membentuk Panitia Pengarah (Steering Committee) dan Panitia Pelaksana (Operating Committee) Mitra TN Kutai, serta penambahan 2 anggota menjadi 8 Perusahaan yaitu PT. Indominco Mandiri dan PT. Pupuk Kaltim. Dalam perjalanan selama 25 tahun, terjadi dinamika keanggotaan dimana terdapat beberapa perusahaan yang keluar dan bergabung hingga saat ini jumlah anggota mitra TN Kutai menjadi 10 perusahaan yaitu PT. Pertamina EP Asset 5 Sangatta Field, PT. Surya Hutani Jaya, PT. Kaltim Prima Coal, PT. Badak NGL., PT. Pupuk Kaltim, PT. Indominco Mandiri, PT. PAMAPERSADA NUSANTARA site INDO, PT. PAMAPERSADA NUSANTARA Site KPCS, PT. Kaltim Methanol Industri dan PT. Kaltim Nitrate Indonesia. Mitra TN Kutai yang memiliki slogan “Bangga menjadi Mitra” tidak pernah terputus dalam memberikan dukungan pengelolaan Taman Nasional Kutai. Selama perjalanan 25 tahun, berbagai program telah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan TN Kutai dengan dukungan utama berupa pembangunan sarana prasarana wisata dan pendidikan lingkungan, pemberdayaan masyarakat dan kampanye. Selain kegiatan tersebut, Mitra TN Kutai juga melakukan rehabilitasi hutan mangrove dan beberapa kegiatan penanaman pohon dalam rangka bulan menanam dan pemulihan ekosistem. Tahun 2019, Mitra TN Kutai merencanakan program utama berupa peningkatan kapasitas masyarakat di sekitar kawasan melalui pelatihan membatik dengan pewarna asli dari mangrove, ecoprint serta pelatihan pengolahan pangan alternative dari hutan mangrove. Pelatihan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan peluang dan pilihan usaha bagi masyarakat sekitar untuk dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Kegiatan kampanye dan pendidikan lingkungan melalui pencetakan merchandise dan bahan informasi, Kutai Wana Rally, kunjungan regular sekolah serta pembinaan Laskar Taman Nasional Kutai. Pembangunan sarana prasarana wisata juga direncanakan untuk mendukung peningkatan kualitas wisata alam di Prevab, yang merupakan pusat penelitian orangutan serta wisata pengamatan satwa liar dengan konserp wisata alam terbatas serta dukungan sarana prasarana pada objek-objek wisata lainnya di TN Kutai. Secara keseluruhan program kegiatan Mitra TN Kutai di susun dalam sebuah Rencana Strategis lima tahunan yang didetailkan dalam rencana tahunan yang ditandatangani oleh seluruh perwakilan Mitra TN Kutai dalam forum rapat tahunan Mitra TN Kutai. Program mitra TN Kutai tidak hanya terbatas pada apa yang direncanakan pada setiap tahun anggaran. Namun secara insidentil terdapat beberapa kegiatan yang didukung oleh anggota mitra secara in kind sesuai dengan kebutuhan pengelolaan Taman Nasional Kutai. Sehingga peran mitra sangat penting dalam memperkuat kelembagaan Taman Nasional Kutai. Semoga dukungan tersebut terus terjaga dan senantiasa “Bangga menjadi Mitra.” Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Bontang Scout Competition (BSC) 2019 di Gelar di TN Kutai

Bontang, 25 Februari 2019. Bontang Scout Competition 2019 yang diselenggarakan oleh pramuka Kwarcab Bontang terlaksana cukup seru dan meriah. Perhelatan akbar yang melibatkan lebih dari 500 peserta diselenggarakan di bumi perkemahan, Bontang Mangrove Park (BMP) Taman Nasional Kutai. BSC 2019 merupakan salah satu upaya untuk menanamkan dan membangun nilai-nilai karakter bangsa bagi kalangan generasi muda. Kegiatan yang berlangsung tanggal 22-24 Februari 2019 merupakan event tahunan yang merupakan ajang kompetisi para siaga dan penggalang se-Kota Bontang. Event BSC 2019, diisi dengan berbagai kegiatan lomba antara lain Tali Temali, Sandi Morse dan Semaphore, baris berbaris, hasta karya, pentas seni dan berbagai kegiatan lomba lainnya. Melalui lomba diharapkan dapat memperkuat persatuan dan kesatuan di antara para anggota pramuka, meningkatkan solidaritas, dan meningkatkan wawasan pengetahuan, serta semangat kebangsaan. Pelaksanaan kegiatan di kawasan konservasi diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan tentang peran penting lingkungan hidup serta kawasan konservasi bagi kehidupan manusia Selain kegiatan lomba bagi pramuka siaga dan penggalang, diselenggarakan juga malam renungan dalam rangka memperingati hari lahirnya Lord Bodden Powell, pencetus berdirinya gerakan pramuka sedunia yang di peringati setiap tanggal 22 Februari dan tahun 2019 merupakan peringatan yang ke 162. Kepala Balai TN Kutai sangat mendukung kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di Bontang Mangrove Park. Pada awal tahun 2019 berbagai kegiatan dari berbagai kelompok kategorial telah dilaksanakan di BMP. Bahkan minat untuk menjadikan MP sebagai tempat pelaksanaan kegiatan semakin tinggi. Untuk menyelenggarakan event besar, harus “indent” satu sampai dua bulan sebelumnya karena jadwal pemesanan dan penggunaan tempat yang sangat padat. Hal ini semakin memotivasi Balai TN Kutai untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sarana prasarana BMP serta meningkatkan kualitas pelayanan dengan menjadi tuan rumah yang baik. Penyelenggaraan kegiatan BSC 2019 sangat sesuai dengan semangat awal dalam membangun Bontang Mangrove Park untuk mendukung kegiatan pendidikan melalui sarana perkemahan, tidak hanya di lingkup Kota Bontang dan sekitarnya. Target jangka panjang adalah menjadikan Bontang Mangrove Park sebagai tempat penyelenggaraan event regional bahkan nasional, sehingga event BSC 2019 merupakan salah satu sarana dalam mengevaluasi pengelolaan Bontang Mangrove Park dalam mendukung pelaksanaan kegiatan perkemahan dan kegiatan lainnya. Semoga kehadiran Bontang Mangrove Park dapat semakin meningkatkan upaya pembangunan generasi muda di Bontang dan Kalimantan Timur pada umumnya. Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Menyulap Bukit Sulap TN Kerinci Seblat Kembali Bersih

Lubuk Linggau, 24 Februari 2019. Sebagai lanjutan kegiatan dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2019, pada hari Minggu tanggal 24 Februari 2019, Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) kembali melaksanakan kegiatan aksi bersih sampah didalam kawasan TNKS. Kali ini staf Resor Musi Rawas, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah V Lubuk Linggau, bersama kurang lebih 100 orang dari Gabungan Pecinta Alam Lubuk Linggau mengadakan kegiatan Aksi Bersih Sampah Bukit Sulap TNKS. Pada kegiatan aksi bersih sampah ini telah berhasil mengumpulkan sebanyak kurang lebih 198,8 kg sampah di Bukit Sulap. Semoga dengan kegiatan ini bisa menjaga kebersihan Bukit Sulap serta menumbuhkan kesadaran bagi generasi muda maupun masyarakat untuk selalu aktif menjaga alam, lingkungan dan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Sumber : Humas Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat Photo : Asep Sunarya 2019
Baca Berita

Peduli Peran Generasi Usia Dini Melalui Pendidikan Konservasi

Indragiri Hulu, 22 Februari 2019. Anak-anak merupakan bagian elemen masyarakat yang terkadang terabaikan. Padahal merekalah generasi penerus dan memegang kunci masa depan dalam pengelolaan sumber daya alam di masa mendatang. Dalam rangka menstimulasi dan meningkatkan peran generasi ini, Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh menggelar acara Pendidikan Konservasi bagi murid-murid yang bersekolah di sekitar penyangga TNBT. Adalah SD Negeri 005 Siambul yang menjadi sasaran giat kali ini. Sekolah ini berada di Desa Siambul, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu .Kenapa memilih sekolah ini ?karena Desa Siambul merupakan salah satu desa penyangga yang berbatasan langsung dengan kawasan TNBT dimana masyarakatnya masih banyak yang berinteraksi langsung dengan kawasan TNBT. Sebanyak 50 murid dan beberapa guru mendapatkan pelajaran tentang konservasi dan pengenalan hutan, jenis flora dan fauna yang dilindungi di TNBT. Materi disampaikan oleh petugas penyuluh Fonda Amelia Sarah dan Polhut Rifki Lestari, dibantu oleh mahasiswa -mahasiswi peserta magang dari Universitas Riau. Menggunakan metode pedagogik yang menyenangkan sehingga mampu menarik antusiasme peserta. Agar acara lebih menyenangkan, sesi kedua dilakukan pemutaran film dokumenter TNBT dan video hasil tangkapan kamera trap. Suasana semakin meriah tatkala petugas memutarkan video Harimau Sumatera. Mereka sangat terkesan. Karena baru kali ini melihat langsung gambarnya dari dekat. Sesi ketiga, diberikan materi tentang pengelolaan sampah. Hal ini diberikan karena pada tanggal 21 Februari bertepatan dengan Hari Peduli sampah Nasional. Anak-anak diajak untuk larut dalam video yang cukup menarik bagaimana sampah dikelola dengan baik dan juga apa saja yang terjadi jika kita tidak peduli terhadap sampah yang ada di lingkungan sekitar kita. Pada setiap akhir sesi diberikan kuis untuk anak-anak yang kemudian diberikan bingkisan menarik dari Panitia. Pihak Sekolah berterima kasih atas kesediaan waktu untuk berbagi ilmu dengan anak didik mereka dan diharapkan kegiatan ini lebih sering atau rutin untuk dapat dilaksanakan disekolahnya. Sebelum acara ditutup anak-anak dan seluruh peserta yang hadir diminta untuk mengumpulkan sampah yang ada di sekitar dan dibuang pada tempatnya. Semoga dengan adanya kegiatan pendidikan konservasi dan lingkungan ini, generasi penerus semakin peduli dan perannya kian nyata dalam pengelolaan lingkungan di masa kini dan nanti. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh
Baca Berita

BBTN Lore Lindu Bersih Lingkungan di sekitar Objek Wisata Telaga Tambing

Tambing, 22 Pebruari 2019. Dua puluh orang petugas Balai Besar Taman Nasional Lore (BBTNLL) yang terdiri atas unsur Masyarakat Mitra Polhut (MMP), Tenaga Pengamanan Hutan Lainnya (TPHL), Kepala Resort Tongoa (Asdi Saiyong), dan Plh. Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Tongoa (Daniel Manda) melaksanakan kegiatan bersih-bersih sampah (khususnya plastik) yang banyak dijumpai di sepanjang pinggiran jalan raya di sekitar Objek Wisata Telaga Tambing, Jumat (22/2). Pada kesempatan tersebut, turut bergabung Kepala BBTNLL (Jusman), untuk berpartisipasi dalam kegiatan bersih-bersih lingkungan dimaksud. Meskipun kegiatan ini merupakan kegiatan yang rutin dilaksanakan oleh personil lingkup Resort Tongoa yang mewilayahi Telaga Tambing, tetapi kegiatan hari ini merupakan kegiatan yang spesial karena momentumnya masih dalam suasana Hari Peduli Sampah Nasional tanggal 21 Pebruari 2019. Selain kegiatan bersih-bersih sampah, petugas juga sekaligus melakukan sosialisasi terkait tata tertib kunjungan ke kawasan destinasi Objek Wisata Telaga Tambing, termasuk pentingnya pengelolaan sampah melalui 3R (Reduse, Reuse, Recycle). Pada akhir kegiatan, Jusman mengambil kesempatan untuk memberikan arahan pembinaan kepada seluruh personil. Harapannya agar setiap personil dapat memahami tugas dan tanggungjawab selaku petugas yang mendapatkan amanah dari Pemerintah untuk menjaga alam agar lestari serta dapat memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat luas. Selanjutnya Jusman, juga mengingatkan bahwa saat ini telah banyak perubahan, termasuk permasalahan, karakter dan harapan masyarakat. Cara-cara lama dalam penyelesaian permasalahan di bidang lingkungan hidup dan kehutanan, mulai terasa tidak efektif. Oleh karenanya penerapan 10 (Sepuluh) Cara Baru yang dikenalkan oleh Dirjen KSDAE agar dipedomani oleh setiap personil dalam pelaksanaan tugas. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

Memindahkan Lamtuha ke Stasiun Reintroduksi Orangutan Sumatera Jantho Aceh Besar

Jantho, 22 Februari 2019. Lamtuha begitu nama yang disematkan kepada seekor Orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang diselamatkan oleh personil Resor Konservasi Tapaktuan Seksi Konservasi Wilayah 2 Subulussalam BKSDA Aceh dibantu oleh Tim YEL-SOCP pada tanggal 21 Februari 2019 di Desa Blang Makam Kecamatan Lamtuha Kabupaten Aceh Barat Daya. Orangutan Sumatera berjenis kelamin Jantan dengan usia ± 25 Tahun berat ± 60 Kg diselamatkan/evakuasi oleh tim dikarenakan terisolir dan berada di areal pembukaan lahan untuk Kebun Kelapa Sawit yang hanya menyisakan ± 1 (satu) Hektar Luasnya dengan upaya pembiusan. Pada tanggal 22 Februari 2019 Orangutan Sumatera yang berhasil diselamatkan tersebut ditranslokasi menuju ke Stasiun Reintroduksi Orangutan Sumatera yang berada di Taman Wisata Alam Jantho Aceh Besar untuk selanjutnya dilakukan pelepasliaran (realese) kembali ke wilayah tersebut yang dilaksanakan oleh Resor Konservasi Jantho Seksi Konservasi Wilayah 1 Lhokseumawe dibantu oleh tim dari Stasiun Reintroduksi Orangutan Sumatera Jantho. Orangutan Sumatera (Pongo abelii) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi dari Kelompok Mamalia Famili Hominidae berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Kedua Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi jo Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.92/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi. Dalam katergori IUCN Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) berstatus kritis/critically endangered dengan penyebaran/distribusi meliputi Pulau Sumatera dengan Distribusi populasi terbesar mulai dari Provinsi Aceh meliputi Kabupaten Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Tamiang, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Kota Subuluusalam. Jumlah Orangutan Sumatera sendiri di alam untuk saat ini diperkirakan berjumlah ± 13.846 individu dengan luasan habitat ± 16.775 km2. Upaya Penyelamatan Orangutan Sumatera yang terisolir dilaksanakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh berpedoman kepada Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.53/MENHUT-II/2014 Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.48/MENHUT-II/2008 Tentang Pedoman Penanganan Konflik Antara Manusia Dan Satwa Liar dalam upaya mewujudkan tujuan dan target yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.53/MENHUT-IV/2007 Rencana Aksi Orangutan Indonesia Tahun 2007-2017. Kerjasama antara BKSDA Aceh dengan Mitra Kerja YEL-SOCP dengan dukungan dari masyarakat seperti ini kami harapkan akan semakin solid kedepannya dan kami berharap lembaga-lembaga lain yang peduli akan upaya konservasi sumber daya alam dan perlindungan keanekaragaman hayati di Provinsi Aceh juga dapat mendukung dan bekerja bersama kami di tingkat tapak. Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh Penanggung Jawab Berita : Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh Sapto Aji Prabowo, S.Hut. M.Si 0812-5006-527 Kepala Seksi Konservasi Wilayah 1 Lhokseumawe BKSDA Aceh Dedi Irvansyah, SP 0811-6486-696 Kepala Seksi Konservasi Wilayah 2 Subulussalam BKSDA Aceh Hadi Sofyan, S.Si. M.Sc 0853-2789-9281 Kepala Resor Tapaktuan Seksi Konservasi Wilayah 2 Subulussalam BKSDA Aceh Wirli 0822-7648-9219 Kepala Resor Jantho Seksi Konservasi Wilayah 1 Lhokseumawe BKSDA Aceh Muhammad 0813 -6001-5495
Baca Berita

Kota Sorong Menuju Kota Bebas Sampah

Sorong, 22 Februari 2019. Memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 2019 (21/2), Balai Besar KSDA Papua Barat turut serta dalam kegiatan kampanye Peduli Sampah sekaligus pembersihan sampah dan pembagian bibit Pinang bersama dengan Community Pecinta Alam Sorong yang diikuti kurang lebih 200 orang peserta. Kegiatan ini dilakukan di sepanjang Jl. Jenderal Sudirman menuju Terminal Kota Sorong dan berakhir di Taman DEO di Jl. Basuki Rahmat Kota Sorong dengan atraksi live music dengan tema “Peduli Sampah”. Dalam kegiatan ini sebagian peserta membawa poster-poster bertuliskan kampanye peduli sampah dan sebagian lainnya memungut sampah-sampah yang ada disepanjang jalan dengan mengelompokkannya sesuai dengan jenis-jenis sampah anorganik berupa plastik dan kaca yang kemudian akan dipilah dan didaur ulang oleh Bank Sampah Sorong Raya. Selain itu beberapa peserta lainnya membagikan 200 bibit Pinang kepada masyarakat Kota Sorong. Balai Besar KSDA Papua Barat menyampaikan apresiasi terhadap kerjasama dan partisipasi peserta kegiatan dalam mengkampanyekan kepedulian terhadap sampah khususnya di Kota Sorong. Dalam kegiatan ini turut berpartisipasi Loka PSPL Sorong, Bank Sampah Sorong Raya, Kader Konservasi serta Mahasiswa dan Pelajar Pecinta Alam yang ada di Kota Sorong. Sumber: Balai Besar KSDA Papua Barat
Baca Berita

Clean Up Danau Gunung Tujuh TN Kerinci Seblat

Kerinci, 23 Februari 2019. Dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2019, Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) telah melaksanakan kegiatan bersih sampah di Danau Gunung Tujuh yang terletak diwilayah Resor Kerinci Utara, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Kerinci. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 23 Februari 2019, dan diikuti 40 orang yang terdiri dari petugas Resort Kerinci, Masyarakat Mitra Polhut (MMP), Guide, Porter dan Kelompok Pecinta Alam (KPA). Dalam kegiatan tersebut, Tim telah berhasil mengumpulkan sampah plastik dan bekas botol minuman seberat lebih kurang 500 kg. Sampah yang ada di seputaran danau Gunung Tujuh dikumpulkan dan dibuatkan lubang sampah, untuk selanjutnya dilakukan pembakaran. Sedangkan sampah yang berada di jalur pendakian dibawa ke bawah, untuk selanjutnya akan dilakukan pemusnahan dengan cara di bakar. Sumber : Humas Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat Photo : Afrisal 2019

Menampilkan 6.113–6.128 dari 11.142 publikasi