Jumat, 24 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

BKSDA Kalsel Tingkatkan Peran Serta Para Pihak Melalui PKS

Banjarbaru, 27 Februari 2019 – Sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementerian LHK di Provinsi Kalimantan Selatan, Balai KSDA Kalimantan Selatan mempunyai tugas mengelola Kawasan Konservasi baik berupa Cagar Alam (CA), Suaka Margasatwa (SM), maupun Taman Wisata Alam (TWA). Dalam pelaksanaan tugas tersebut Balai KSDA Kalimantan Selatan mendapat banyak dukungan dari berbagai pihak, salah satunya melalui sarana Perjanjian Kerja Sama (PKS). Pada akhir Bulan Februari ini Balai KSDA Kalimantan Selatan mendapat kunjungan dari PT. Antang Gunung Meratus dan Distrik Navigasi Kelas II Banjarmasin untuk membicarakan terkait PKS. Kunjungan pertama dilakukan oleh pihak PT. AGM diwakili oleh Bapak Alfi S. didampingi tim dari IPB yaitu Bapak Endro R., kunjungan ini bertujuan membahas lebih lanjut terkait kerja sama untuk konservasi flora dan fauna di Provinsi Kalimantan Selatan serta konservasi bekantan dan burung migran di Kabupaten Tapin sekitar areal PT. AGM. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc sangat mengapresiasi niat baik dari PT. AGM dalam melindungi satwa endemik Kalimantan Selatan yang hampir punah yaitu bekantan. “Melalui sarana PKS penguatan fungsi, PT. AGM turut berperan serta dalam pelestarian bekantan. Semoga dengan peran serta PT. AGM, juga akan menumbuhkan kesadaran pihak lainnya tentang pentingnya menjaga kelestarian flora dan fauna khususnya Bekantan”, tambah Mahrus. Selanjutnya, Balai KSDA Kalimantan Selatan menerima kunjungan dari Distrik Navigasi Kelas II Banjarmasin yang diwakili oleh Bapak Mahin, S.Sos., M.M dan Bapak Ansyari, untuk pembahasan draft PKS. Kerja sama dengan Distrik Navigasi Kelas II Banjarmasin merupakan kerja sama pembangunan strategis yang tidak dapat dielakkan tentang pemanfaatan bangunan navigasi eksisting di SM Kuala Lupak. “Kerja sama ini telah mendapatkan persetujuan dari Dirjen KSDAE yang penandatanganannya akan didelegasikan kepada Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan”, tutur Mahrus. “Penandatanganan juga dapat dilaksanakan di Kantor Distrik Navigasi Kelas II Banjarmasin sekalian silaturahmi”, tambah Mahrus. (jrz)
Baca Berita

Sumpah Janji PNS Pegawai TN Matalawa

Waingapu, 28 Februari 2019. Bertempat di Aula Kantor Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa), telah digelar acara sumpah Pegawai Negeri Sipil (PNS) Lingkup Balai TN Matalawa dengan Pejabat Pengambil Sumpah Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE Ir. Herry Subagiadi M.Sc dan disaksikan oleh Kepala Balai TN Matalawa terdahulu Maman Surahman, S.Hut., M.Si, Kepala Balai terlantik Ir. Memen Suparman MM dan Kepala Bagian Kepegawaian Organisasi Tata Laksana KSDAE Munarto Bsc.F SP MM. Pengambilan sumpah /janji pegawai ini agar para aparatur negara ini mempunyai kesetiaan dan ketaatan terhadap Pancasila, UUD 1945, Negara dan pemerintah serta bermental baik, bersih, jujur, berdaya guna dan penuh tanggung jawab terhadap tugasnya . Adapun jumlah PNS yang di ambil sumpah berjumlah 7 orang, merupakan pegawai TN Matalawa yang belum diambil sumpah. Pelaksanaan pengambilan sumpah/janji PNS berjalan lancar. Harapan Ir. Memen Suparman MM selaku Kepala Balai TN Matalawa, berharap pegawai yang diambil sumpah memiliki karakter yang menjunjung tinggi komitmen, integritas dan tanggung jawab, dan menjadi pegawai yang profesional dan dapat di andalkan. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Acara Pisah Sambut Kepala Balai TN Matalawa

Waingapu, 27 Februari 2019. Bertempat di Gedung Nasional Umbu Tipuk Marisi- Waingapu Sumba Timur, telah selesai di gelar acara pisah sambut Kepala Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) antara Maman Surahman S.Hut., M.Si selaku Kepala Balai TN Matalawa terdahulu dengan Ir. Memen Suparman, MM selaku Kepala Balai TN Matalawa terlantik. Acara yang digelar cukup meriah dan terasa padat dihadiri oleh para tamu undangan, acara tersebut dihadiri oleh Bupati Sumba Timur dan unsur Forkompinda, beserta pimpinan OPD Sumba Timur, selain itu juga dihadiri oleh Kepala Bagian Kepegawaian Ortala KSDAE, Pimpinan Instansi vertikal, BUMN, Lembaga Swadaya Masyarakat dan para Tokoh agama dan Tokoh masyarakat. Rangkaian kegiatan inti dari acara pisah sambut ini dibagi menjadi tiga sesi yang pertama adalah sambutan, baik sambutan dari Kepala Balai TN Matalawa, Sekertaris Direktorat Jendral KSDAE dan sambutan dari Bupati Sumba Timur, selanjutnya acara inti yang kedua berupa penyerahan bantuan kepada 10 Desa Penyangga yang ada di TN Matalawa, tercatat ada 8 jenis bantuan yang diberikan kepada perwakilan Desa penyangga, diantaranya adalah bantuan bahan persemaian agroforestry, alat roaster kopi, mesin tempel perahu, alat pengolahan pandan, alat pengolahan kunyit, alat pengolahan kopi, alat pengolahan cengkeh dan 1500 itik beserta kandangnya. Secara keseluruhan acara pisah sambut Kepala Balai TN Matalawa berjalan dengan lancar dan diakhiri dengan photo bersama dan ramah tamah dari semua tamu undangan, para pegawai. Kegiatan pisah sambut ini merupakan suatu simbolis estafet kepemimpinan dalam pengelolaan Taman Nasional Matalawa. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Sekitar 120 Partisipan Akan Ikuti Ijen Rijik

Sidoarjo, 27 Februari 2019. Seperti diketahui bersama, bahwa dimulai 1 Maret 2019 besok, BBKSDA Jatim akan melakukan penutupan kawasan Taman Wisata Alam Kawah Ijen pada hari Jum’at pertama di setiap bulannya. Pada hari itu akan dilakukan bersih-bersih kawasan atau yang disebut Ijen Rijik. Untuk mempersiapkan gong pertama kegiatan tersebut, Resort Konservasi Wilayah (RKW) 18 Kawah Ijen telah melakukan koordinasi bersama stakeholder terkait di Kantor Seksi Konservasi Wilayah V Banyuwangi pada 26 Februari 2019 kemarin. Tak kurang 120 partisipan telah sanggup untuk bergabung dalam kegiatan bersih-bersih ini. Mereka adalah kelompok-kelompok yang berasal sekitar Banyuwangi, seperti KPA. Poliwangi, KPA. Untag, KPA. Uniba, Saka Wanabakti, Banyuwangi Excent Guard, PT. Candi Ngrimbi, Pemegang IUJWA, Banyuwangi SAR Independen, dan pemerhati lingkungan. Menurut Sigit Haribowo, Kepala RKW 18, untuk kegiatan tanggal 1 Maret besok berupa aksi bersih-bersih di lokasi Paltuding hingga Pondok Bunder. Sedangkan untuk lokasi lain akan dilakukan pada bulan berikutnya, karena akan dibutuhkan peralatan tambahan untuk membersihkan sampah yang berada di tebing-tebing. “Utamanya daerah Pondok Bunder hingga puncak, kita akan turun tebing untuk membersihkan sampahnya”, imbuh Sigit. Selain kegiatan bersih-bersih, kedepannya juga akan dilakukan edukasi, penyuluhan terkait sampah, dan pembibitan tanaman endemik seperti Cemara Gunung. (Agus Irwanto) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Finalis Pemilihan Duta Peduli Sampah, Bersih sampah di TN Kutai

Bontang, 26 Februari 2019. Tanggal 22 Februari 2019 silam, rangkaian peringatan hari peduli sampah (HPSN) di Taman nasional Kutai diselenggarakan di Mangrove Bontang Park (BMP) Kota Bontang. Sehari sebelumnya bertepatan dengan HPSN 2019, Balai TN Kutai melaksanakan aksi bersih sampah di Wisata Alam “Sangkima Junggle Park” Kabupaten Kutai Timur. Aksi bersih sampah di Bontang mangrove park diikuti oleh lebih dari 100 warga personil yang terdiri dari pegawai TN Kutai, Masyarakat sekitar BMP, paguyuban parkir, Pokdarwis Bontang Kuala dan Bontang Baru, Kader Konservasi, Laskar Taman Nasional Kutai. Pada saat yang bersamaan 12 finalis Duta Peduli Sampah Kota Bontang Tahun 2019 dan Duta peduli sampah Tahun 2018 hadir melakukan aksi bersih sampah di Bontang Mangrove Park. Finalis Duta Peduli Sampah Tahun 2019 didampingi oleh tim juri dan panitia penyelenggara pemilihan Duta Peduli Sampah Kota Bontang Tahun 2019. Pembersihan sampah di Bontang Mangrove Park dilakukan di sepanjang jalur wisata (Boardwalk) sejauh 2.5 km, di setiap selter/gazebo dan pada areal perkemahan Bontang Mangrove Park. Pembersihan areal perkemahan dilakukan sekaligus untuk mempersiapkan kegiatan kemah pramuka Kwarcab Bontang dalam rangka penyelenggaraan “Bontang Scout Competition”. Kehadiran Finalis Duta peduli sampah Kota Bontang Tahun 2019 di Bontang Mangrove Park memberikan nuansa yang berbeda dalam pelaksanaan kegiatan aksi bersih sampah. Menjadikan Taman Nasional Kutai sebagai bagian dari rangkaian pemilihan duta sampah serta kegiatan “Bontang scout competition” semakin memperkuat peranan Taman Nasional sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat disekitar kawasan Taman Nasional Kutai. Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung Turut Meriahkan Hari Jadi Pangkep ke-59

Bantimurung, 27 Februari 2019. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung turut memeriahkan pameran pembangunan dalam rangka HUT ke 59 Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Pameran ini berlangsung di lapangan Minasate’ne selama tiga hari: 21 s/d 23 Februari 2018. Warga pangkep bersukacita peringati hari jadi kota tercintanya. Tak terkecuali warga Kecamatan Minasate’ne, kali ini didaulat menjadi tuan rumah puncak perhelatan peringatan HUT Pangkep yang ke 59. Gelaran hari jadi mengangkat tema "Dengan memperingati hari jadi Pangkep kita tingkatkan semangat kerja, bersama menuju Pangkep yang maju, inovatif dan kolaboratif." Gubernur Sulawesi Selatan, H. M. Nurdin Abdullah, didampingi istrinya, Liestiaty F. Nurdin, turut hadir peringatan tahunan ini. Tampak Bupati Pangkep, H. Syamsuddin A. Hamid dan Wakil Bupati Pangkep, H. Syahban Sammana, beserta seluruh pimpinan SKPD pusat dan daerah juga hadir dalam pembukaan perhelatan. Pameran pembangunan mempersembahkan sejumlah capaian terbaik dari semua sektor pembangunan. Menyajikan cerita sukses dari berbagai lini. Menampilkan berbagai hasil inovasi dan program setiap pengunjung yang mendatangi setiap stand SKPD. Juga turut berpartisipasi beberapa kantor perbankan dengan tawaran menggiurkan. Taman Nasional Bulusaraung Bulusaraung tak ketinggalan ikut andil dengan menampilkan beragam potensi. Beberapa di antaranya: potensi wisata alam, site pengamatan satwa endemik, dan hasil pemberdayaan masyarakat. Kesemuanya ada hasil kerja tata kelola resort, unit terkecil taman nasional. Petugas stand membagikan sejumlah buah tangan bagi pengunjung stan pameran. Buku literasi taman nasional: buku metamorfosa kupu kupu dan buku karst, menjadi hadiah bagi pengunjung yang bersedia mengunggah foto mereka di media sosial. Selain itu pengunjung juga akan memperoleh bibit pohon gratis. Pada moment yang berbahagia itu, Gubernur Sulawesi Selatan memberikan kado spesial berupa satu unit ambulance laut ke rumah sakit umum Pangkep yang diterima langsung Bupati Pangkep. Selamat hari jadi Kabupaten Pangkep tercinta yang ke-59. Ayo kita bersama-sama membangun Pangkep yang lebih maju, inovatif, dan kolaboratif. Semoga semakin bersih, unggul, dan nyaman bagi warganya. Sumber: Aswadi dan Ramli – PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Transplantasi Karang Bersama Masyarakat

Ampana, 27 Februari 2019. Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) wilayah I Wakai Balai TN Kepulauan Togean telah melaksanakan Kegiatan Transplantasi terumbu karang pada tanggal 11-16 Februari 2019 dan 18-23 Februari 2019. Kegiatan ini dilaksanakan anggota SPTN I bersama dengan masyarakat yang berada disekitar lokus kegiatan. Lokasi pelaksanaan kegiatan transplantasi karang dilakukan pada dua titik, yaitu (1) di Sebelah Utara Pulau Siatu dengan kondisi perairan yang jernih; (2) Desa Una-Una, Muara Bandeng dengan kondisi perairan agak keruh karena lokasi dekat dengan mangrove dan pemukiman penduduk. Ardi selaku ketua tim kegiatan menyatakan bahwa alasan pemilihan lokasi tersebut dikarenakan masuk kedalam salah satu zona rehabilitasi di kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean, khususnya di SPTN wilayah I Wakai, ujarnya. Penanaman fragmen karang pada substrat dilakukan dengan menggunakan metode spider web dimana dalam satu substrat terdapat 19 fragmen karang. Dalam kegiatan kali ini, secara keseluruhan, substrat yang ditanam di dasar laut sebanyak 240 substrat dengan total jumlah bibit karang sebanyak 4560 bibit. Ukuran subtrat untuk p x l x t adalah 55 cm x 35 cm x 35 cm. Perkiraan rata-rata persentase tumbuh kegiatan transplantasi karang yang telah dilaksanakan semenjak tahun 2017 di SPTN I Wakai adalah 78,63%. Tingkat keberlangsungan hidupnya tergolong sedang. Hal ini dikarenakan adanya tantangan dan hambatan dalam pelaksanaan kegiatan transplantasi karang di SPTN I Wakai diantaranya adalah faktor alam dan faktor manusia, faktor alam karena adanya cuaca yang ekstrim dan kurang bersahabat, sedangkan faktor manusia karena adanya penolakan dari sebagian masyarakat di kawasan SPTN I Wakai terhadap program yang telah dan akan dilaksanakan oleh tim. Menurut Iksan Tengkow, SH selaku Kepala SPTN I, “Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan konservasi alam dalam rangka merehabilitasi dan memulihkan kawasan yang mengalami kerusakan akibat kegiatan illegal fishing dengan cara meningkatkan keutuhan koloni karang yang masih tersisa”. Desa Siatu akan dijadikan role model dalam pelaksanaan kegiatan rehabilitasi berupa transplantasi karang di SPTN Wilayah I Wakai, ujarnya. Tidak lupa, Dalam kegiatan kali ini Balai TNKT juga melibatkan sejumlah masyarakat Desa di sekitar lokasi transplantasi karang. Diharapkan dengan adanya partisipasi masyarakat dalam kegiatan kali ini, kedepannya masyarakat dapat ikut serta dalam menjaga dan memelihara karang hasil transplantasi tersebut. Sumber : Mega Putri Armanesa - Penyuluh Muda Balai Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Berita

Si “Don’t Touch Me” Yang Banyak Khasiat

Kuningan, 27 Februari 2018. Sudah tidak asing kan dengan tumbuhan merambat ini. Jenis yang merupakan gulma "invasif" ini tumbuh subur di daerah terbuka ataupun lokasi teduh dan tidak terganggu. Tumbuhan ini merupakan jenis perdu. Berukuran pendek termasuk anggota suku polong-polongan. Bunganya ungu sedikit merah jambu. Kita mudah mengenali saat melihatnya. Tanaman ini punya keunikan. Saat tersentuh ataupun tertiup akan langsung menutup. Tumbuhan dengan nama latin "Mimosa pudica" memang sangat sensitif. Tanaman ini kerapkali disebut juga tanaman mengantuk, tanaman tindakan, dan yang keren dijuluki tumbuhan “don’t touch me”. Kebiasaan unik ini terjadi karena perubahan tekanan "turgor" pada tulang daun. Rangsang tersebut juga berpengaruh terhadap daun lain yang tidak ikut tersentuh. Gerak ini terkenal dengan "seismonasti". Fenomena gerak tersebut tidak berdiri sendiri loh. Rangsang sentuhan "tigmonasti" juga berpengaruh. Sebagai contoh, putri malu menguncup saat matahari terbenam dan merekah kembali setelah matahari terbit. Selain itu, tumbuhan ini juga menutupkan daun saat melindungi diri. Ketika ada hewan pemakan tumbuhan "herbivora" yang ingin memakannya. Sebab lain hewan tidak memakannya karena warna daun bagian bawah putri malu warna pucat. Sehingga mengurangi selera makan hewan. Tidak hanya unik, putri malu juga bermanfaat sebagai bahan obat. Karena punya sifat anti-bakteri, anti-inflamasi, anti biotik, anti mikrobial, anti-kuman, penenang organ tubuh, ekspektoran dan kontraseptif. Walaupun namanya pemalu, manfaat tumbuhan ini tidak memalukan. Tumbuhan ini dipercaya dapat meningkatkan stamina bagi pria. Bagian yang diolah adalah daunnya. Selain itu, khasiat lainnya juga telah tercatat. Manfaat tersebut yakni untuk mengobati diabetes, menghentikan pendarahan dan mencegah infeksi, mengobati demam, meredakan nyeri. Juga dipercaya mampu mengobati rematik, melancarkan saluran kemih, meredakan disentri, mengobati lepra (kusta), wasir, dan penyakit kuning. Ada pula yang memanfaatkan sebagai obat asma, mengatasi nyeri organ kewanitaan dan rahim, melawan peradangan, mengatasi kelelahan, leucoderma, dan penyakit yang berkaitan dengan darah. Kerapkali kita tidak menyadari tumbuhan di sekitar punya manfaat lebih. Seperti putri malu ini, terlihat tanpa ada nilainya. Tapi ternyata menyimpan segudang manfaat bagi kesehatan manusia. So mari tetap kenali tumbuhan sekitar kita dengan benar. Ayo jaga kelestarian lingkungan dimulai dari diri kita sendiri ya [Teks & Foto © Ahmad Fuad-BTNGC | 022019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Peran Media dan Swasta dalam Pengembangan Kawasan Konservasi di Lombok

Mataram, 26 Februari 2019 - Bertempat di Gedung Serbaguna TWA Kerandangan, Senggigi, Balai KSDA NTB menjadi tuan rumah sekaligus narasumber untuk kegiatan Siaran bersama Radio Republik Indonesia (RRI) Mataram yakni Dialog Pagi Siaran Berjaringan Radio Wisata dengan tema "Peran Media dan Swasta dalam Pengembangan Kawasan Konservasi di Lombok". Dialog disiarkan secara langsung oleh RRI Mataram, RRI Bima, RRI Denpasar dan RRI Singaraja pada hari Selasa 26 Februari 2019 mulai pukul 09.00 WITA hingga selesai.. Turut hadir sebagai Narasumber yakni : Ir. Ari Subiantoro, M.P., Kepala Balai KSDA NTB, I Nengah Sudiarta, S.H. Koordinator Polisi Kehutanan BKSDA NTB, Budi Soemardi, S.P., Balai TN Gunung Rinjani, H. Agus Talino, Pimpinan Redaksi Surat Kabar "Suara NTB", Drs. Aep Karman Djajasasmita, M.M, Kepala Stasiun RRI Mataram dan Dian Hermansyah mewakili Operation Head PT. Pertamina Terminal BBM Ampenan. Kegiatan dialog membahas mengenai pengelolaan TWA Kerandangan serta kawasan konservasi yang ada di NTB, khususnya Lombok serta bentuk dukungan media dan para stakeholder untuk kemajuan kawasan konservasi. "Saat in kita tengah berbenah untuk sarana dan prasana di kawasan konservasi. TWA Kerandangan ini adalah salah satu dari TWA andalan dan prioritas BKSDA NTB", lanjutnya. "Jumlah total 17 kawasan konservasi yang menjadi Wilayah Kerja kami di NTB yakni 11 Taman Wisata Alam, 3 Cagar Alam, 2 Kawasan Suaka Alam dan 1 Taman Buru. Dengan total luas wilayah yang hampir 50.000 hektar, menurut saya ini adalah tanggung jawab bersama. Kami BSKDA NTB, sangat siap menerima setiap dukungan dalam bentuk apapun baik dari Rekan Media, BUMN maupun Swasta dalam hal Pengembangan Kawasan Konservasi dan Keanekaragaman Hayati. Akan sangat kami apresiasi, terlebih jika dukungan itu datang dari masyarakat sekitar kawasan konservasi", jelas Ir. Ari Subiantoro, M.P., Kepala Balai KSDA NTB. Senada dengan ucapan Bapak Kepala BKSDA NTB, H. Agus Talino juga menambahkan, "Kita harus sadar bahwa konservasi bukan tanggung jawab orang per orang tetapi tanggung jawab bersama" Dalam sesi lain, Para penyiar juga mencoba mewawancarai para pengunjung dan petugas dalam melakukan kegiatan patroli pengamanan TWA Kerandangan oleh Kepala Resort Kerandangan Bapak Wayan Minggir (Polhut BKSDA NTB), pengalaman dan tips menangkarkan kupu-kupu oleh Bapak Usman (Polhut BKSDA NTB) serta potensi jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang ada di Kerandangan oleh Bapak Shohibul Lutfi (PEH BKSDA NTB). Dalam dialog pagi ini juga, BKSDA NTB menyerahkan piagam penghargaan kepada para stakeholder / narasumber sebagai bentuk apresiasi telah ikut serta dan berkomitmen dalam mendukung upaya konservasi di NTB. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Karo Kepegawaian Sosialisasikan P3K, SKMA Kadipaten Praktek Lapangan

Kotaagung, 26 Februari 2019. Kepala Biro Kepegawaian Dan Organisasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ir. Abdul Hakim, M Forest mengunjungi Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) guna mensosialisasikan PP 49 Tahun 2018 tentang Manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), Selasa 26 Februari 2019, di Kantor Balai Besar TNBBS Kotaagung. “Peraturan Pemerintah ini baru dikeluarkan Bulan November 2018 lalu, dan kewajiban kita mensosialisasikannya sampai pada tingkat Satker”, ujar Ir. Abdul Hakim, M. Forest di hadapan seluruh pegawai Balai Besar TNBBS. Sebelum pemaparan PP 49 Tahun 2018 oleh Bapak Kepala Biro, Heru Rudiharto, S.Si.,M.P selaku Plh. Kepala Balai Besar TNBBS menyampaikan jumlah pegawai lingkup Balai Besar TNBBS. “Saat ini kami memiliki 112 PNS dan 5 Calon PNS, serta dibantu dengan Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNPN) sejumlah 43 orang, keseluruhan PPNPN telah mengisi SIMPEG Kementerian LHK”, papar Heru. Setelah menyampaikan materi tentang PP 49 Tahun 2018 yang diselingi dengan siraman rohani untuk meningkatkan etos kerja pegawai Balai Besar TNBBS, Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi menyampaikan pesan agar seluruh pegawai dapat bekerja keras, cerdas dan ihklas. “Untuk waktu mendatang tidak ada lagi PPNPN di Balai Besar TNBBS. PPNPN akan disalurkan menjadi P3K, dengan mempertimbangkan etos kerja dan prasyarat pendukung lainnya, serta ijazah pendidikan terakhir yang dimiliki. Bagi PPNPN Balai Besar TNBBS agar meningkatkan semangat kerja serta bekerja ihklas dan mensyukuri apa yang telah dimiliki”, kata Abdul Hakim. Di hari yang sama, Balai Besar TNBBS mendapatkan kepercayaan dari SMK Kehutanan Negeri Kadipaten dengan menitipkan 25 siswa didiknya Kelas XI untuk melakukan Praktik Kerja Lapangan selama 2 bulan, 26 Februari 2019 s.d. 26 April 2019. Adapun tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kompetensi Siswa SMK Kehutanan Negeri Kadipaten, memberikan pengalaman kerja langsung (real) dalam rangka menanamkan iklim kerja yang positif, dan mengaktualisasikan salah satu bentuk aktifitas dalam penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) antara SMK dan institusi pasangan DU/DI. Dengan kegiatan ini, diharapkan Siswa SMK Kehutanan Negeri Kadipaten dapat mengenal lebih jauh dunia kerja pada DU dan DI sebagai representasi dunia kerja yang akan dimasuki setelah lulus dalam menempuh pendidikan. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

Siswa/i SMKKN Makassar Magang di TN Kutai

Bontang, 26 Februari 2019. Hari Senin tanggal 25 Februari 2019,Taman Nasional Kutai kembali kedatangan tamu yang akan melaksanakan magang di TN Kutai. Siswa-siswi SMKKN Makassar sebanyak 33 peserta disertai pendamping tiba di Bontang pada malam hari tanggal 24 Februari 2019 dan langsung di sambut oleh Tim TN Kutai di Kantor Balai TN Kutai. Pelaksanaan magang kali ini, merupakan tahun kedua pelaksanaan magang SMKKN Makassar di TN Kutai. Secara keseluruhan kegiatan akan berlangsung selama 60 hari sampai tanggal 24 April 2019. Kegiatan magang bagi siswa SMKK Makassar merupakan kegiatan yang wajib untuk diikuti. Selain untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, dan keterampilan, juga dapat memberikan pengalaman nyata tentang implementasi ilmu di lapangan. Tujuan utama dari kegiatan tersebut adalah meningkatkan kompetensi dalam bidang inventarisasi keanekaragaman hayati, pembinaan habitat dan pegelolaan ekowisata. Untuk memudahkan peserta magang dalam mendapatkan informasi dan pengalaman lapangan, peserta dibagi dalam 6 kelompok dan ditempatkan pada 6 resort yang ada di TN Kutai yaitu Resort Teluk Pandan, Resort Sangkima, Resort Sangatta, Resort Rantau Pulung, Resort Menamang Sebulu dan Resort Benu Harapan. Pada masing-masing resort para peserta melakukan praktek menyesuaikan dengan potensi resort dan mengikuti kegiatan-kegiatan terkait yang sedang berlangsung pada masing-masing resort. Untuk mendapatkan peluang yang sama bagi setiap peserta, setiap kelompok akan mendiami setiap resort selama 8 hari, kemudian berpindah ke resort yang lain, sampai selesai dan akan kembali ke kantor Balai TN Kutai di Bontang untuk mempresentasikan hasil pelaksanaan kegiatan di lapangan. Karakteristik resort yang berbeda-beda memubngkinkan peserta untuk memperoleh pengalaman yang lebih banyak dan lebih bervariasi. Misalnya: di Resort Sangkima, mereka dapat melaksanakan kegiatan inventarisasi jenis tumbuhan yang dilakukan pada PUP Balai TN Kutai, pengelolaan wisata dan pengendalian kebakaran hutan, karena kantor Resort Sangkima, bersebelahan dengan Markas DAOP Manggala Agni. Di Resort Sangatta, peserta dapat mempraktekkan kegiatan inventarisasi orangutan yang dapat dilakukan pada site monitoring populasi orangutan, pengelolaan wisata terbatas dan kegiatan pemulihan ekosistem dalam rangka pembinaan habitat orangutan. Demikian pula pada keempat resort yang lain. Sebelum terjun langsung ke lapangan, peserta magang diberi pembekalan berupa pengenalan TN Kutai dan potensi yang ada, jenis-jenis kegiatan yag dilakukan dalam pengelolaan TN Kutai da informasi lain yang dapat mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan. Selama pelaksanaan magang, peserta akan dibimbing oleh kepala resort dan staf lapangan yang terdapat pada masing-masing resort. Setelah pelaksanaan magang, akan dilakukan presentasi hasil pelaksanaan kegiatan magang oleh masing-masing kelompok. Selain untuk berbagi pengalaman, hasil kegiatan magang dapat menjadi bahan masukan dan evaluasi bagi pengelolaan Taman nasional Kutai. Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Aksi Bersih Sampah di Kawasan BBKSDA Sumut Pada HPSN 2019

Sibolangit, 25 Februari 2019. Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam rangka Hari Peduli Sampah Nasioanl (HPSN) Tahun 2019 melaksanakankegiatan aksi pungut sampah serempak di tiga Lokasi Taman Wisata Alam (TWA) berbeda secara serentak. HPSN setiap tahunnya diperingati pada tanggal 21 Februari, dan tahun ini mengusung tema Kelola Sampah Untuk Hidup Bersih, Sehat dan Bernilai. Adapun lokasi aksi bersih pungut sampah yang dilaksanakan secara serentak pada tanggal 21 Februari 2019 adalah di kawasan TWA Sibolangit, TWA Lau Debuk debuk dan TWA Danau Sicike cike. Lokasi ini dipilih menjadi aksi bersih sampah karena ketiga lokasi ini merupakan Taman Wisata Alam yang sering dikunjungi oleh wisatawan. Harapannya tentunya, dengan bersihnya kawasan akan memberikan kenyamanan kepada pengunjung. Kegiatan pungut sampah di kawasan TWA Sibolangit dihadiri oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Herbert BP. Aritonang, S.Sos, MH dan bersama seluruh petugas Resort CA/TWA Sibolangit. Dari hasil aksi ini terkumpul 3 kantong plastik besar (ukuran75 Kg) sampah plastik yang nantinya di tempatkan TPA, sedangkan bahan organik seperti daun terkumpul sebanyak 4 kantong plastik besar (ukuran 20 kg) di kumpulkan di bak penampungan tanah yang nantinya akan dijadikan pupuk kompos. Selain itu, sampah kemasan sisa air minum mineral terkumpul sebanyak 1 karung goni plastik (ukuran 4 kg) yang nantinya dimanfaatkan kembali dengan “Ecobrick” yaitu mengemas sampah plastik ke dalam botol plastik hingga padat. Botol plastik yang telah terisi tersebut dapat dibuat menjadi aneka barang yang berguna seperti kursi dan meja. Pada Kawasan TWA Lau Debuk debuk yang menjadi lokasi kedua aksi bersih sampah, dihadiri langsung Kepala Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe, Mustafa Imran Lubis, SP beserta Staf Resort TWA Lau Debuk-debuk. Disini aksi pungut sampah berupa sampah organik jenis batok kelapa sebanyak 2 tong ( sekitar 50 kg) yang nantinya digunakan menjadi arang untuk memasak, sampah plastik berupa sisa botol minum kemasan sebanyak 40 botol dijadikan menjadi tempat belerang, serta sampah plastik lainnya sebanyak 1 tong (sekitar 10 Kg) dibuang di TPA. Sedangkan di TWA Danau Sicike cike, aksi pungut sampah dilakukan di dalam kawasan, pintu gerbang masuk kawasan dan Kantor Seksi Konservasi Wiayah I Sidikalang, yang dipimpin langsung Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang Tuahman Raya, S.Sos beserta staf Resort TWA Danau Sicike-cike, staf Seksi dan dibantu Tenaga Pengaman Hutan Lainnya. Hasilnya diperoleh masing-masing satu kantong plastik terkumpul di masing-masing lokasi untuk selanjutnya di buang Ke TPA. Sumber : Samuel Siahaan - Balai Besar KSDA Sumatera Utara Pengangkutan Sampah Plastik dari Kawasan TWA Sibolangit Aksi Bersih Sampah Di TWA Lau Debuk-Debuk Aksi bersih di TWA Sicike-Cike
Baca Berita

Diskusi Panel Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dalam Memperingati 73 Tahun Hari Merah Putih Sulawesi Utara

Manado, 26 Februari 2019. Bertempat di Hutan Raya Gunung Tumpa H.V. Worang dilaksanakan diskusi panel pemberdayaan masyarakat pesisir dalam rangka memperingati 73 tahun Hari Merah Putih Sulawesi Utara, yang diselenggarakan oleh Forum Masyarakat Pesisir. Peserta diskusi berasal dari para pendeta GMIM di Kab. Minahasa Utara, Kab. Minahasa, Kota Bitung dan Kota Manado. Kegiatan diskusi yang dibuka oleh Kepala Biro Protokol Pemprov Sulawesi Utara yang mewakili Gubernur Sulawesi Utara serta dihadiri oleh Kepala Dinas Kehutanan Daerah Prov. Sulawesi Utara, Kepala Tahura Gunung Tumpa H.V Worang, Kepala KPH Unit IV beserta jajarannya dan Ketua Forum Rimbawan Sulut : Bapak Heri Rotinsulu. Isu yang diangkat dalam panel diskusi pemberdayaan masyarakat pesisir adalah upaya pengentasan kemiskinan masyarakat pesisir, dengan bagaimana mendapatkan akses informasi dan pendampingan serta meningkatkan kualitas sumber daya manusianya agar dapat berdaya bersaing secara sehat, unggul dan mampu memanfaatkan potensi yang ada dengan meminimalisir dampak lingkungan. Dalam sambutannya Sekretaris Sinode GMIM Pdt. Evert Tangel menyampaikan bagaimana peran para pendeta untuk dapat menjadi pelopor dan penggerak jemaat dalam mengaplikasikan apa yg menjadi ide pemikiran dan praktek langsung di lapangan. Pemateri panel diskusi diisi oleh Kepala Dinas Kehutanan Prov. Sulawesi Utara Bapak James Hutagaol yang menyampaikan perananan pemanfaatan Tahura Gunung Tumpa H.V Worang sebagai kawasan konservasi dan pengembangan wisata alam. Demikian pula Kabid Destinasi Disparda Prov. Sulawesi Utara Bapak Jhon Panaeruman tentang program pengembangan destinasi wisata Sulawesi Utara. Selanjutnya dari DLH Prov. Sulawesi Utara Pak Bertie Karow tentang upaya pengembangan Bank Sampah Masyarakat, dan DKP Prov. Sulawesi Utara terkait pemberdayaan masyarakat pesisir serta Perda tentang RZWP3K Sulawesi Utara. Dari Dinas Pertanian Daerah Prov. Sulawesi Utara menyampaikan pentingnya pengembangan kelapa dan prospektif pemberdayaan masyarakat petani. Adapun Balai Taman Nasional Bunaken program pemberdayaan masyarakat melalui Role Model pengembangan ekowisata di zona tradisional bersama masyarakat. Role model diterapkan di Desa Popareng, Kec. Tatapaan Kab. Minahasa Selatan dan Desa Poopoh, Kec. Tombariri, Kab. Minahasa. Pelibatan masyarakat merupakan cara baru dalam pengelolaan kawasan konservasi dimana masyarakat sebagai subjek utama pengelolaan. Program ini dapat replikasi dan diadopsi dalam pemberdayaan masyarakat untuk pengembangan ekowisata dan wisata desa, karena tujuan utamanya adalah menumbuhkan partisipasi dalam perlindungan kawasan dan komitmen dalam pemanfaatan kawasan secara tradisional dan tidak eksploitatif. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Lepasliar Trenggiling dari Warga Balige

Parsoburan, 25 Februari 2019. Bermula dari informasi yang diterima Balai Besar KSDA Sumatera Utara dari seorang warga Balige, Kabupaten Toba Samosir, tentang kepemilikan satwa Trenggiling yang akan diserahkan kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Menindaklanjutinya, Bidang Konservasi Wilayah II Pematangsiantar menugaskan Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung untuk menghubungi warga Balige dimaksud. Setelah bertemu dengan pemiliknya, Aslina Siahaan, 51 tahun, profesi wiraswasta, pada Sabtu, 23 Februari 2019, petugas Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung menerima 1 (satu) individu satwa Trenggiling (Manis javanica) dalam kondisi baik dan sehat. Si pemilik dengan sukarela menyerahkan satwa dimaksud setelah mengetahui bahwa trenggiling termasuk jenis satwa yang dilindungi undang-undang. Selanjutnya, pada hari itu juga petugas segera membawa satwa tersebut ke kawasan Suaka Margasatwa (SM). Dolok Surungan, di Desa Parsoburan, Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba Samosir, yang merupakan habitat dari trenggiling, untuk dilepasliarkan. Sumber : Timbul Pardosi - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Tana Bentarum Gelar Implementasi SMART dan Peningkatan Kapasitas Walidata

Putussibau, 26 Februari 2019. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) bersama Direktorat Kawasan Konservasi menggelar kegiatan Implementasi SMART-RBM dan Peningkatan Kapasitas Walidata di ruang aula Balai Besar Tana Bentarum. Spatial Monitoring and Reporting Tools (SMART)-RBM merupakan suatu sistem pengelolaan data kegiatan lapangan yang dikembangkan berdasarkan pengalaman praktis dan dirancang untuk membantu management kawasan konservasi dalam mengambil keputusan. Kegiatan ini bertujuan memaksimalkan proses implementasi di tingkat tapak hingga proses penyusunan database di tingkat nasional melalui database online, serta membuat sistem tata kelola data yang khas dan spesifik yang sesuai dengan tipologi dan potensi TaNa Bentarum. SMART-RBM mengelola data dan informasi secara lebih ringkas dan efisien, data yang dikelola dengan SMART-RBM akan memudahkan pimpinan dalam merumuskan strategi dalam menangani masalah dengan lebih akurat. Sistem basis data SMART-RBM direkomendasikan sebagai salah satu skema dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan, ketersediaan kompilasi seluruh data tingkat tapak berpusat di kantor balai. Kementerian LHK dalam hal ini Dirjen KSDAE melalui surat edaran Dirjen KSDAE NO. SE.14/KSDAE/KK/KSA.1/11/2018 tgl 6 November 2018 telah menginstruksikan agar dalam peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi perlu mengimplementasikan SMART-RBM. arahan lebih lanjut mengenai implementasi SMART-RBM disampaikan oleh Direktur Kawasan Konservasi melalui surat Nomor:S 42/KK/PPKK.1/KSA.1/1/2019 tgl 28 Januari 2019. Kegiatan Implementasi Smart dan peningkatan kapasitas wali data Balai Besar TNBKDS ini terdiri dari 5 tahapan kegiatan, yaitu (1) Evaluasi Implementasi Smart TNBKDS dan (2) Pengembangan Aplikasi Smart TNBKDS yang dilakukan di Putussibau tanggal 26 Februari 2019. (3) Inventarisasi dan Ekstraksi data laporan dan (4) Peningkatan Kapasitas Wali Data Smart BBTNBKDS di Resort Tekenang, TNDS serta (5) Explorasi Langur Borneo (presbytis chrysomelas cruciger) selama 5 hari. Peserta terdiri dari staf fungsional serta narasumber yang membantu dalam kegiatan ini adalah dari kelompok kerja Smart-RBM, yaitu perwakilan dari Direktorat Kawasan Konservasi sebanyak 2 orang dan dari POKJA SMART-RBM 1 orang. Dian Risdianto, Narasumber dari Direktorat KK menyampaikan apresiasinya “saya sangat mengapresiasi Balai Besar Tana Bentarum gerak cepat dalam merespon surat edaran tentang implementasi RBM”, ujarnya. Balai Besar TNBKDS semenjak tahun 2011 sebenarnya sudah mulai mengimplementasi Resort Base Management (RBM) yang sekarang ini disempurnakan aplikasinya menjadi SMART-RBM. Kemudian dilakukan kegiatan Pelatihan SMART-RBM bekerjasama dengan Asian Development Bank (ADB). Uji coba juga dilakukan berupa pengambilan data keanekaragaman hayati dan data perlindungan pengamanan kawasan. Namun pelaksanaan kegiatan SMART-RBM ini masih belum berjalan dengan efektif dan berkelanjutan karena masih lemahnya sistem pengelolaan database SMART-RBM dan dukungan pendanaan dalam operasional pengambilan data lapangan. Di sela-sela membuka acara, Arief Mahmud, Kepala Balai Besar menyampaikan “Pengelolaan kawasan konservasi memerlukan basis data yang kuat mulai dari perencanaan kegiatan lapangan hingga menyusun strategi pengelolaan kawasan”, imbuh Arief. Belajar dari pengalaman sebelumnya, sebagai bagian dari upaya membangun implementasi SMART-RBM di BBTNBKDS, maka perlu adanya proses monitoring evaluasi dari beberapa kegiatan yang sudah terlaksana untuk kemudian menyusun kembali strategi yang tepat dengan kondisi lapangan serta ketersediaan sumber daya yang ada. Untuk itu dibutuhkan kegiatan implementasi SMART-RBM dan peningkatan kapasitas walidata Balai Besar TNBKDS. Keunggulan basis data SMART-RBM diantaranya :menyajikan data riil, akurasi data spasial, otomasi analisis dan ringkasan data, integrasi data, user friendly serta data terstandardisasi dan lengkap. Sumber : Balai Besar Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Tempuh Antar Kota Antar Provinsi Demi Rehabilitasi Bayi Klempiau

Pontianak, 25 Februari 2019. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang, Balai KSDA Kalbar bersama Yayasan IAR Indonesia berangkat menuju BKSDA Kalimantan Tengah membawa seekor bayi klempiau hasil serahan masyarakat untuk selanjutnya diserahkan ke Yayasan Kalaweit Indonesia pada hari Sabtu (23/2). Acol (8 bulan) merupakan bayi klempiau yang diserahkan oleh Sdr. Pendi warga Desa Sutera, Kabupaten Kayong Utara kepada tim patroli Balai Taman Nasional Gunung Palung (12/2/2019). Setelah diserahkan, Acol yang telah dipelihara oleh Sdr. Pendi selama 8 bulan kemudian diserahkan ke BKSDA Kalbar. Bayi Acol kemudian dicek kesehatannya oleh tim dokter hewan dan dinyatakan sehat namun memerlukan proses rehabilitasi mengingat umur dan kondisinya yang tanpa induk. Koordinasi pun dilakukan dengan BKSDA Kalteng dan Yayasan Kalaweit Indonesia untuk proses rehabilitasi Acol. Minggu (24/2/2019) Acol tiba di Palangkaraya dan diterima oleh Dokter hewan BKSDA Kalteng. Selayaknya bayi manusia, bayi klempiau atau hewan lainnya pasti memerlukan induknya untuk dapat bertahan hidup. “Kasian” atau “lucu” seringkali menjadi alasan seseorang untuk memisahkan anak dari induknya. Entah dipisahkan dengan cara membunuh induknya atau sengaja diambil dari sarangnya langsung. Kesadaran konservasi dan rasa empati yang minim membuat masih banyaknya masyarakat yang memburu serta memelihara satwa liar, dengan berbagai alasan. “Jaga dan Lestarikan Satwa Liar di Habitat Aslinya, Jangan Biarkan Mereka Punah dan Hanya Menjadi Sebuah Cerita.” Sumber : Tim WRU SKW I Ketapang, Balai KSDA Kalimantan Barat

Menampilkan 6.097–6.112 dari 11.140 publikasi