Jumat, 24 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Antara Batu Koplak dan Batu Reok, Patimuan Gn. Gede dan Bukit Manangel

Badak, harimau dan banteng, sudah lenyap dari kawasan hutan Gn. Gede Pangrango. Saat ini pecuk ular, rangkong dan beberapa jenis burung migran, sepertinya juga tak sabar untuk ikut jejak tiga jenis satwa pendahulunya. Kawasan ini memang “ba’ pulau ekosistem di tengah lautan pembangunan” terisolasi dari areal hutan konservasi lainnya, lalu-lintas satwa dari dan ke kompleks hutan Gn. Gede Pangrango sangat terbatas, dengan resiko laju kepunahan satwa cenderung lebih tinggi. Wajar, kalau sejak tahun 1993 sudah diwacanakan pembuatan koridor satwa. Ancaman Serius Ekosistem hutan di kompleks Gn. Gede dan Pangrango benar-benar merupakan pulau ekosistem di tengah lautan pembangunan yang semakin mengganas. Padahal menurut para akhli, laju kepunahan jenis (species) hayati akan lebih dipercepat dengan terpisah-pisah (terpragmentasi) nya habitat eksositem. Untuk menjamin kelestarian satwa liar, diperlukan penghubung dengan ekositem esensial disekitarnya, karena pagar eksositem kawasan ini semakin hebat. Jalan raya yang mengelilingi kawasan ini semakin ramai. Jalan tol akan membentang mulai Ciawi sampai Sukabumi. Perumahan semakin padat, toko, hotel dan pabrik terus menjamur. Aktifitas gunung api meruapakan jenis ancamana lainnya. Riwayatnya menunjukkan, bila Gn. Gede istirahat 32 tahun, letusan selanjutnya terjadi dengan dahsyat. Saat ini Gn. Gede sudah istirahat selama 60 tahun. Banyangkan, akibatnya bila satwa tidak bisa mengungsi. Di kawasan TNGGP tercatat hidup lebih dari 100 jenis mamalia, lebih dari 260 jenis burung (aves), lebih dari 300 jenis serangga (insekta), lebih dari 20 jenis amfibia, sekiar 70 jenis reftilia, lebih dari 10 jenis ikan (piskes), belum lagi jenis-jenis molusca, jasad renik dan lain-lain. Semua asset ini perlu kita amankan. Babi Dibidik Macan Jadi Korban Paling tidak tercatat dua peristiwa macan tutul mati terjerat di Blok Batu Reok dan Batu Koplak, pinggir Sungai Cisarongge, tidak jauh dari jembatan Cibeureum jalan nasional (KM 8,1 Cianjur). Diduga dua macan tutul tersebut bermaksud hijrah dari kawasan taman nasional ke hutan yang berada di seberang jalan raya Cipanas-Cianjur, melalui sungai Cisarongge yang bermuara di sungai Cibeureum. Sungai Cibeureum mengalir dari Bukit Manangel (kompleks hutan lindung Gn. Geulis , Gn. Kasur). Masuk akal memang bila orang menduga macan muda yang melintas di daerah ini berasal dari TNGGP menuju bukit Manangel di sebelah utara G. Gede. Peristiwa pertama tercatat pada tahun 1990, dengan ditemukannya bangkai macan tutul dewasa di blok Batu Koplak, dalam kondisi sudah membusuk, langsung dikubur. Tahun 2010 muncul laporan tentang penemuan bangkai macan tutul di blok batu Reok (tidak jauh blok Batu Koplak), juga terevakuasi sudah membusuk. Masyarakat menduga, matinya macan tutul di atas, karena masuk jerat yang dipasang untuk menangkap satwa hama yaitu babi hutan. Di Sungai Cisarongge memang sering dilaporkan adanya kunjungan satwa liar, terutama babi hutan. Di sekitar Batu Reok juga masih ditemukan elang jawa bersarang di pinggiran sungai Cibeureum. Berbagai dugaan muncul, macan tutul turun gunung karena mengikuti babi hutan yang turun ke kebun. Namun karena tidak ada laporan babi hutan kena jerat, muncul dugaan lain, bahwa macan tutul turun untuk mencari daerah baru di luar daerah (home range) tetuanya. Hal ini diperkuat dengan macan yang mati di blok Batu Reok termasuk berumur muda. Sigung Bingung Monyet Terseret “Melintaslah di jalan raya Puncak perbatasan Bogor Cianjur, pasti akan melihat bangkai Sigung atau Ganggarangan korban kekejaman pembangunan”, demikian celoteh seorang Bapak tua di angkot Cipanas-Cimacan, di awal tahun 80-an. Memang sampai awal dekade ini, di blok Seger Alam, Puncak, hampir bisa dipastikan ada saja satwa liar yang menyebrang jalan terlindas kendaraaan. Namun seiring dengan semakin intensifnya pemanfaatan lahan di wilayah Puncak, korban kecelakaan lalu-lintaspun terus berkurang. Diduga karena pepohonan sepanjang lereng Pasir Sumbul, banyak ditebang, lahan diolah menjadi kebun. Sampai awal tahun 2000-an, di wilayah ini masih ditemukan satwa terlindas mobil, seperti sigung, musang, atau ganggarangan, terkadang monyet. Mereka tertabrak mobil saat menyeberang jalan dari arah Gn. Gede ke Talagawarna atau sebaliknya. Saat ini paling hanya monyet yang sedang “bernostalgia” yang masih sering jadi korban lalu lintas di sekitar Blok Seger Alam. Koridor Pasir Sumbul – Seger Alam ini menghubungkan ekosistem TNGGP dengan Cagar Alam Talagawarna dan Taman Wisata Jember serta Hutan Lindung Megamendung. Ayam Selamat Macan Tersekap Hari sudah malam (sekitar jam 23.30 WIB), Hendi Suhendi alias Goci (53 tahun) seorang warga Kampung Perbawati dibangunkan oleh bau Sigung yang menyengat dan suara ayam yang berisik. Saat keluar rumah (untuk memeriksa lingkungan), kesan pertama yang dirasakan Goci ada sesuatu yang lari, kabur ke arah hutan, ayam berhamburan dari kolong rumah. Beberapa saat kemudian lampu senternya menumbuk sesuatu yang ternyata seekor anak macan tutul (Panthera pardus melas) yang langsung lari ke kolong rumah dan terjebak di sana. Setelah bermalam dikeremangan kolong rumah orang, sekitar jam 12.15 WIB,”calon penguasa rimba” itu berhasil dievakuasi. Setelah melalui berbagai pemeriksaan dan diskusi panjang, akhirnya “calon pesaing sang ayah” ini diantar pulang pada jam 23.35 WIB. Tiga bulan berlalu, si “dede matul” tidak kelihatan batang hidungnya, padahal di sekitar tempat pelepasan sudah dipasang beberapa kamera trap. Kabar baik datang dari beberapa warga yang melapor pernah melihat macan tutul melintas pinggiran sungai Cipada. Dilihat dari jejaknya kemungkinan si “dede” dikawal “bundanya” kembali ke rumah asal di Blok Baru Benteng lewat koridor berupa sungai sejauh lebih kurang 5 km dari tempat pelepasan. Si tutul masuk kampung Perbawati kali ini (paling tidak) merupakan lawatan keempat. Sebenarnya si penguasa rimba ini tidak bermasud menyatroni perkampungan, mereka hanya ingin lintas saja dari taman nasional ke hutan di Blok Baru Benteng (milik PT Perkebunan Nusantara VIII Goalpara). Namun karena dipinggiran habitatnya ada sesuatu yang menarik maka dengan terpaksa mampir, sekedar untuk mencicipi kambing atau ayam. Akhir-akhir ini muncul desas-desus bahwa kebun teh akan berubah menjadi tempat wisata karena HGU oleh PT Perkebunan Nusantara VIII menjelang habis. Sebagian penduduk menghkhawatirkan koridor Cipada ini kedepan akan hilang atau rusak sehubungan dengan perubahan pengunaan lahan. Optimislah Saudaraku ! Melihat peristiwa diatas mungkinkah jalur-jalur tersebut bisa berfungsi sebagai koridor satwa antar ekosistem ? Mungkinkah bisa berperan sebagai pembuka isolasi pergerakan satwa dengan aman dan nyaman ? Banyak orang optimis bisa diwujudkan. Ada juga orang yang berpendapat susah untuk mewujudkannya karena terkait kepemilikan lahan oleh banyak pihak. Dengan penuh semangat, kelompok optimis mengatakan, “susah atau mudah koridor hidupan liar itu tetap harus diusahakan”. Sehingga kegiatan yang sudah diwacanakan Konsorsium Gede Pahala sejak tahun 1993 ini bisa terwujud. Tahun 2006, TNGGP berhasil menginventarir ekosistem esensial yang berdekatan. Di wilayah Bogor ada Leuweung Larangan, Hutan Lindung Megamendung, dan Cagar Alam Talagawarna. Di wilayah Cianjur ada Taman Wisata Jember dan Hutan Lindung Gunung Kasur/Gunung Geulis. Di arah selatan (Sukabumi) ada Hutan Pendidikan Gunung Walat. Tahun 2017 telah dilakukan pembinaan daerah penyangga untuk Pertimbangan Habitat Satwa Sebagai Koridor. Kegiatan ini dimaksudkan untuk sosialisasi dan pembinaan masyarakat di daerah penyangga tentang ekosistem yang memiliki nilai konservasi tinggi dan kemungkinan sebagai koridor habitat satwa tertentu. Sumber: Dadang Sonandar (Polhut Pelaksana) dan Agus Mulyana - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Exit Strategi di Lembah Jari dan Kuta Jaya

Cisarua, 19 Maret 2019. Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Bogor Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memberikan bantuan 11 ekor ternak domba kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Lembah Jari dan Kuta Jaya. Bantuan ini merupakan hasil dari kegiatan pemanfaatan HHBK di tahun 2018 di zona tradisional Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Resort PTN Cisarua. Pemberian bantuan ini merupakan “triger” (pemantik) dalam rangka “exit strategi” dengan mempersiapkan mata pencaharian alternatif, sehingga diharapankan dapat menjadi sumber pendapatan utama bagi anggota KTH yang sementara ini diberi akses pe,manfaatan HHBK di Resort PTN Cisarua, Seksi PTN Wilayah VI Tapos, Bidang Pengelolaan PTN Wilayah III Bogor. Kepala Desa Sukagalih, Sekretaris Desa Kuta, Anggota KTH Lembah Jari dan Kuta Jaya, pejabat struktural dan staf di lingkup Bidang PTN III Bogor, hadir dalam acara penyerahan bantuan bibit domba yang dilaksanakan di halaman Kantor Resort PTN Cisarua. Kades Sukagalih, dalam sambutannya menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak BBTNGGP yang telah memberikan bantuan ternak domba kepada warganya. Beliau juga mengharapkan agar enam bulan kedepan dilanjut dengan monitoring dan evaluasi terhadap program tersebut. Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Bidang PTN Wilayah III, "agar monitoring dapat dilaksanakan untuk memastikan keberlanjutan bantuan sehingga mampu menopang ekonomi alternatif bagi masyarakat di sekitar kawasan". Dengan kegiatan ini, mudah-mudahan visi KLHK "Hutan Lestari, Masyarakat Sejahtera" dapat segera terwujud. Semoga. Sumber : Fahmi Ardian Afif - PPNPN Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Pelestarian Burung Endemik, Balai TN Matalawa Bahas Kerjasama dengan Burung Indonesia

Waingapu 20 Maret 2019. Bertempat di Ruang Rapat Kantor Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa), rapat pembahasan antara TN Matalawa dengan Burung Indonesia merupakan upaya tindak lanjut kerjasama dalam penguatan fungsi pelestarian burung endemik di kawasan (TN Matalawa) selama periode tahun 2018 s.d. 2022. Agenda pertemuan membahas evaluasi pelaksanaan program tahun 2018 serta pembahasan Rencana Kerja Tahun (RKT) tahun 2019. Acara ini di hadiri perwakilan Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (Yohanis B. Djawarai dan Anna Reuleaux) serta Kepala Balai TN Matalawa (Ir. Memen Suparman, MM.) beserta staf TN Matalawa. Kepala Balai TN Matalawa menyampaikan bahwa kawasan TN Matalawa merupakan surga bagi burung dikawasan Wallacea, keberadaannya menjadikan TN Matalawa daerah penting sebaran burung endemik (EBA dan IBA) di wilayah Wallacea. Tercatat kurang lebih 215 Jenis burung hidup didalamnya dan 12 jenis diantaranya merupakan endemik Sumba. Yohanis B. Djawarai menyampaikan hasil pelaksanaan program yang telah dilaksanakan dalam rangka pelestarian burung di kawasan TN Matalawa dan di Pulau Sumba secara umum. Progress pelaksanaan program menjadi salah satu bahan evaluasi bagi pengelola kawasan dalam rangka pelaksanaan kerjasama penguatan fungsi tersebut, selain itu pada tahun 2019 terdapat beberapa program yang akan dilaksanakan baik dilaksanakan oleh Burung Indonesia (BI) maupun bersama-sama dengan pengelola kawasan TN Matalawa. Program kerja tersebut akan tertuang pada Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang akan disusun dan disahkan oleh kedua belah pihak dalam waktu dekat. Kepala Balai TN Matalawa diakhir rapat, kembali mengingatkan pentingnya partisipasi mitra dalam upaya pelestarian potensi SDA di kawasan TN Matalawa khususnya konservasi burung-burung endemik Sumba. Tidak hanya mengajak untuk berpartisipasi dalam upaya pelestarian, namun juga memberikan pemahaman terhadap masyarakat secara luas akan pentingnya upaya konservasi satwa secara luas. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

3.413 lebih Satwa Burung Terbang Bebas di TWA Kerandangan

Mataram, 18 Maret 2019 - Melanjutkan Penyitaan di Pelabuhan Lembar yang dilakukan BKSDA NTB bersama TNI angkatan laut, Polsek KP3 dan Karantina Pertanian pada Sabtu (16/3) malam lalu, hari Senin (18/3) dilaksanakan Press release oleh Kehumasan BKSDA NTB. Dalam press release Singkat yang digelar di Kantor BSKDA NTB, Kepala BKSDA NTB, Ir. Ari Subiantoro M.P mengatakan "Setelah Truk diperiksa di Karantina Pertanian Lembar, malam itu juga satwa langsung diserahkan dan diamankan di Kantor BKSDA NTB". Berdasarkan pengecekan bersama Karantina Pertanian Lembar, KP3 dan Lanal saat itu, berhasil diidentifikasi sebanyak 3.413 ekor burung hasil Pengamanan. Meski tidak dilindungi, beberapa satwa diantaranya 30 burung Manyar, 40 burung Kopi Cabe, 40 burung Cabe, 30 burung Opior, 2.100 burung Kecial, 90 burung Kepodang, dan 5 burung Srigunting. Turut hadir dalam Press release yang juga turut dalam pelepasliaran di TWA Kerandangan yakni Kepala Balai TN Gunung Rinjani, Ir. Sudiyono, MSi. Kepala Balai TN Tambora, Ibu Murlan, S Hut, MSi. Kepala Balai DAS HL Dodokan, Moyosari, Jarot, S Hut, MSi. Kepala Balai BPHHBK Bintarto, S Hut, MSi., serta Wartawan dari Harian Kompas, Jawa Post, Lombok Post dan TVRI. Tak lupa para petugas PASOPS LANAL Mataram Kapten Laut(P) Franky Arta Wijaya. Aparat dari Polsek Kawasan Pelabuhan Lembar Bripka Komang Palguna Artha, SH. Aparat dari Karantina Pertanian Lembar. Bapak Ir. Ari Subiantoro M.P juga menambahkan "Ini adalah bentuk nyata dari kerjasama lintas Kementerian. Balai KSDA NTB mengucapkan terima kasih atas kerja sama Karantina Pertanian Lembar, TNI AL, Kepolisian dan UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB sehingga memaksimalkan upaya pengawasan peredaran tumbuhan dan satwa liar di Provinsi NTB," Usai Press Release, Rombongan bergegas berangkat menuju TWA Kerandangan beserta Satwa sitaan untuk dilakukan pelepasliaran. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Balai KSDA Sulawesi Tenggara Bantu Evakuasi Korban Konflik Satwa Buaya di Sungai Lahombuti

Kendari, 19 Maret 2019. Tim Rescue BKSDA Sulawesi Tenggara bantu evakuasi korban konflik satwa buaya di sungai Lahombuti Kelurahan Unaaha Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara. Sebelumnya BKSDA Sulawesi Tenggara mendapatkan laporan dari masyarakat yang masuk melalui call center tentang adanya korban akibat konflik satwa buaya dengan manusia yang terjadi di sungai Lahombuti Kelurahan Unaaha Kabupaten Konawe. Kepala Balai KSDA Sulawesi Tenggara kemudian memerintahkan tim untuk menindak lanjuti laporan tersebut. Tim selanjutnya menuju ke lokasi tempat kejadian untuk melakukan upaya evakuasi. Setibanya di lokasi, tim melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait (Basarnas, Polsek dan masyarakat sekitar) dalam upaya penanganan konflik ini. Saat di temukan oleh tim, korban sudah dalam kondisi meninggal dunia. Korban yang meninggal tersebut bernama (Bpk Melkias, 52 Thn). Selanjutnya korban dievakuasi ke BLUD Konawe selanjutnya diserahkan kepada pihak keluarga kemudian di bawa menuju rumah duka. Selain melakukan evakuasi, tim memberikan informasi tentang habitat buaya yang semakin berkurang bahkan sudah rusak akibat dari ulah tangan manusia seperti pembalakan liar didaerah sungai atau muara sehingga mengganggu buaya-buaya yang hidup di sekitarnya. Tim juga mengajak masyarakat untuk menjaga habitat buaya karena buaya merupakan salah satu jenis satwa yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 jika kita tidak mengganggu habitat buaya pasti buaya pun tidak akan mengganggu kita. Sumber: Balai KSDA Sulawesi Tenggara
Baca Berita

Kematian Hiu Secara Mendadak di Kolam Pemeliharaan, Perairan Pulau Menjangan Besar

Semarang, 19 Maret 2019. Pada hari Selasa, tanggal 12 Maret 2019, pihak Balai Taman Nasional Karimunjawa menerima informasi terkait adanya kematian hiu secara mendadak yang terdapat di kolam pemeliharaan hiu di perairan Pulau Menjangan Besar, zona budidaya bahari Taman Nasional Karimunjawa. Setelah menerima informasi tentang kematian hiu tersebut, pihak Taman Nasional Karimunjawa melakukan pengecekan langsung di lokasi. Sesampainya di lokasi ternyata tidak dijumpai keberadaan hiu mati, namun terdapat sepuluh (10) ekor hiu hidup yang ada di dua keramba/kolam yang dibatasi jaring. Menurut Agus Hermawan, penjaga kolam hiu di Menjangan Besar, bahwa kejadian kematian hiu secara mendadak sebenarnya terjadi pada hari Kamis tanggal 7 Maret 2019 sekitar pukul 05.30 WIB. Agus menambahkan bahwa jumlah hiu yang dijumpai mati didasar kolam sebanyak 40-45 ekor dan 2 ekor masih bisa diselamatkan dengan memindahkan ke keramba lainnya. Kematian tidak hanya dialami oleh hiu saja, ikan jenis lain seperti badong, kerapu dan jenis lain yang terdapat di kolam bersama hiu juga mengalami nasib serupa. Air pada dua kolam dimana hiu mati berwarna kekuningan. Kejadian tersebut dilaporkannya kepada pemilik kolam yakni saudara Minarno lebih akrab dipanggil Cun Ming. Pemilik telah melaporkan kejadian tersebut kepihak Polsek Karimunjawa. Untuk memastikan penyebab kematian telah dilakukan pengambilan sampel oleh Agus atas perintah Cun Ming, sebanyak 4 potong daging hiu dan 2 botol air dalam kolam serta 2 botol di luar kolam. Sedangkan hiu dan ikan lainnya yang mati dimusnahkan dengan cara dibakar. Keberadaan kolam ini pada mulanya adalah keramba untuk budidaya ikan seperti jenis kerapu, badong, dan lainnya. Pemilik juga memelihara beberapa ekor hiu. Terdapat dua jenis hiu yang dipelihara pada kolam pemeliharaan yaitu Hiu karang hitam Carcharinus melanopterus dan Hiu karang putih Triaenodon obesus. Kedua jenis hiu tersebut tidak termasuk jenis ikan yang dilindungi. Seiring dengan meningkatnya jumlah wisatawan maka keramba ini menjadi salah satu destinasi dan atraksi wisata yang diminati wisatawan sehingga keramba dipugar menjadi kolam pemeliharaan sekaligus untuk kegiatan wisata yang tidak dilengkapi dengan perijinan sebagaimana mestinya. Atraksi wisata yang ditawarkan adalah berenang dengan hiu. Atraksi ini menyebabkan adanya korban yakni pada tanggal 13 Maret 2016, seorang pengunjung bernama Nur Madina asal Yogyakarta mengalami gigitan pada saat berenang dengan hiu. Pada tanggal 8 Juni 2018 melalui surat Kepala Balai nomor S.182/T.34/TU/GKM/6/2018 memerintahkan agar Sdr. Minarno alias Cun Ming untuk menghentikan kegiatan wisata alam di lokasi tersebut. BTNKj telah berkordinasi melalui audiensi Bupati Jepara yang diwakili oleh asisten dua dan dihadiri dinas terkait lingkup Kabupaten Jepara serta Sdr. Minarno. Dalam audiensi tersebut BTNKj menegaskan kembali kebijakan penghentian kegiatan wisata hiu tersebut. Perhatian besar dari masyarakat terhadap kematian hiu merupakan reaksi positif yang menunjukkan kepedulian terhadap Taman Nasional Karimunjawa. Saat ini kejadian tersebut sedang ditangani dengan melibatkan pihak – pihak terkait. Sumber : Balai Taman Nasional Karimunjawa Call Center Balai Taman Nasional Karimunjawa : 08112799111
Baca Berita

Balai TN Gunung Palung Tanam 1000 Batang Pohon

Ketapang, 18 Maret 2019. Memperingati Hari Bakti Rimbawan yang ke-36, Balai Taman Nasional Gunung Palung melaksanakan kegiatan penanaman 1000 batang pohon di Blok Masela Pangkal Tapang TN. Gunung Palung, Desa laman Satong, Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang pada 16 Maret 2019. Bersama dengan 98 personil para Mitra yang tergabung dalam Forum Sahabat Gunung Palung (SAGUPA) yang terdiri dari perwakilan PEMDA Kab. Ketapang dan Kayong Utara, Manggala Agni Ketapang, FFI Indonesia Programme, Yayasan ASRI, YIARI, Yayasan palung, Tropenbos Indonesia, Sindikat,PT.KAL, PT.CMI, PT.Sun Palung, Pokdarwis Beringin, dan Masyarakat Desa Laman Satong. Hari Bakti Rimbawan diperingati setiap tanggal 16 Maret. Tema tahun ini adalah “Hutan untuk Kesejahteraan Rakyat dan Lingkungan Sehat” . Kegiatan ini diharapkan menjadi sebuah budaya menanam dan merawat bagi masyarakat untuk kesehatan rakyat dan lingkungan yang sehat. Kepala Balai TN. Gunung Palung, M. Ari Wibawanto menyampaikan alasannya memilih desa Laman Satong sebagai lokasi untuk melakukan penanaman pohon “Lokasi ini dulunya adalah lokasi ilegal logging dan pernah terkena dampak kebakaran hutan 2015 dan 2016 sehingga butuh segera direhabilitasi dan juga lokasinya sangat terbuka. Sesuai dengan tema hari ini, kita telah menanam lebih kurang 1000 pohon yang terdiri dari 5 jenis pohon asli setempat Kegiatan penanaman pohon juga diikuti oleh ibu Septi Eka Wardhani, S.Hut., M.P, Kasubag Administrasi Jabatan Fungsional KSDAE. Beliau mengungkapkan kekagumannya terhadap pemandangan alam yang ada di kawasan sekitar Tn. Gunung Palung “ Saya lihat jenis-jenis pohon yang ditanam memiliki tujuan tertentu, semoga hasilnya nanti bisa sesuai dengan yang diharapkan, dan juga saya sangat menikmati keindahan alam TNGP dan TNGP itu sangat menarik bagi saya baik ekosistemnya maupun satwa liarnya”. Puncak acara peringatan Hari Bakti Rimbawan 2019 dilaksanakan pada hari Senin, 18 Maret 2019, dilakukan berbagai kegiatan, seperti kegiatan apel dan lomba-lomba antar resort di TNGP, yang berjumlah 7 resort. Kegiatan berjalan dengan lancar dan penuh kegembiraan. Lomba-lomba tersebut diharapkan dapat menambah keakraban dan kekompakan dalam kerja sama seluruh staf BTNGP. ”Salam Rimbawan !” Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Palung
Baca Berita

Wisma Cinta Alam Gunung Gede Pangrango

Cibodas, 18 Maret 2019. Sesuai dengan namanya “Wisma Cinta Alam” (WCA), tempat ini didominasi kegiatan pendidikan cinta alam atau diistilahkan sebagai “Dikoling” (Pendidikan Konservasi Lingkungan Hidup) oleh anak-anak gaul. Dari 5.040 orang pengunjung WCA pada tahun 2018, sekitar 64 % adalah peserta Dikoling, dengan frekuensi 33 kali. Pelaksanaannya sekitar tiga kali per bulan dengan jumlah peserta rata-rata 300 orang. Sebenarnya hampir semua kegiatan pengunjung di WCA berorientasi pada pendidikan konservasi, disamping tentunya kegiatan khusus Dikoling. Hal ini sudah sesuai dengan visi pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango “Taman Nasional Gunung Gede Pangrango menjadi pusat pendidikan konservasi kelas dunia”. Pada saat ini pelayanan perijinan wisata alam yang dilakukan WCA adalah pelayanan Surat ijin memasuki kawasan konservasi (SIMAKSI) untuk pendakian melalui pintu Cibodas. Sedangkan untuk mereka yang masuk lewat Gunung Putri dan Selabintana dilayani di masing-masing pintu masuk. Di samping pelayanan ijin pendakian sudah dilayani di setiap pintu masuk, sistem pelayanan sudah on-line (booking on-line). Dengan demikian jumlah wisatawan yang masuk ke WCA semakin berkurang. Konsekwensi perpindahan palayanan perijinan ke pintu masuk, tentunya pusat-pusat informasi (Information Centre) harus mengambil alih sebagian tugas WCA terutama dalam pelayanan informasi. Personil fungsional PEH bisa digilir untuk bertugas memberikan informasi (mengiterpretasikan materi display) kepada pengunjung di pusat informasi. Dengan demikian diharapkan setiap pengunjung bisa mendapatkan informasi yang memadai. Selengkapnya silahkan klik link dibawah ini : http://www.gedepangrango.org/wisma-cinta-alam-mestinya-buka-atau-tutup-pada-hari-hari-libur/ Wisma Cinta Alam Gunung Gede Pangrango Sumber : Wita Puspita Ningrum dan Agus Mulyana - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Donor Darah Rimbawan Sumut Untuk Kemanusiaan

Medan, 19 Maret 2019. Masih dalam rangkaian peringatan Hari Bhakti Rimbawan Ke 36 Tahun 2019, sebanyak 101 orang rimbawan Provinsi Sumatera Utara melakukan kegiatan bakti sosial aksi donor darah, di kompleks Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, jalan Sisingamangaraja Medan, pada Senin 18 Maret 2019. Donor darah merupakan suatu kegiatan menyumbangkan darah yang dilakukan secara sukarela untuk tujuan transfusi darah bagi pasien yang membutuhkan, sebagaimana dijelaskan dr. Eka Syafrida, penanggung jawab kegiatan Aksi Donor Darah dari Palang Merah Indonesia (PMI). Untuk menjadi seorang pendonor darah, masih menurut dr. Eka Syafrida, harus memenuhi persyaratan-persyaratan, seperti : usia minimal 17 tahun, denyut nadi saat donor 50-100 kali per menit dan teratur, suhu tubuh diantara 36,5 – 37,5 °C, tekanan darah 90-160 mmHg (sistolik) dan 60-100 mmHg (diastolik), tidak sedang mengkonsumsi obat antibiotik, analgetik dan antipretik, tidur malam harus cukup sebelum donor darah, bukan pecandu alkohol dan narkoba, ibu hamil dan menyusui tidak diperkenankan donor darah, serta beberapa persyaratan lainnya. “Donor darah ini besar manfaatnya bagi si pendonor, yaitu : menjadi lebih sehat karena darah terganti secara teratur, memperlancar peredaran darah dalam tubuh, kesehatan terkontrol setiap bulan, menghilangkan pegal dan kaku di pundak, menurunkan berat badan serta mengurangi resiko hypertensi, penyakit jantung, strok dan kolesterol,” ujar Eka. Antusiasme rimbawan dalam kegiatan aksi donor darah tahun ini sungguh luar biasa dan membuat pihak PMI kewalahan. Melihat banyaknya rimbawan yang ingin menyumbangkan darahnya serta mempertimbangkan keterbatasan sarana prasarana serta SDM PMI, akhirnya Panitia Donor Darah dan pihak PMI sepakat untuk menutup pendaftaran pendonor pada jumlah 101 orang. Beberapa diantara calon pendonor terlihat kecewa, namun setelah diberi penjelasan oleh Panitia dan PMI, mereka dapat mengerti dan memakluminya. Pelaksanaan kegiatan donor darah berlangsung sekitar 5 (lima) jam, dari pukul 09.30 wib s.d 14.30 wib. Dari jumlah 101 orang, terkumpullah sebanyak 72 kantong darah. Beberapa pendonor darah yang telah mendaftar, namun belum dapat (layak) mendonorkan darahnya disebabkan beberapa faktor dan pada umumnya kondisi fisik yang belum stabil, khususnya calon pendonor dari lapangan (daerah) yang kelelahan akibat melakukan perjalanan panjang ke lokasi kegiatan donor. Dengan terkumpulnya 72 kantong darah hasil kegiatan donor darah, membuktikan bahwa rimbawan Sumatera Utara juga peduli terhadap kegiatan sosial dan kemanusiaan. Harapannya darah yang terkumpul nantinya dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang membutuhkan, sehingga Rimbawan Sumatera Utara ikut mendukung program Palang Merah Indonesia “DARAH UNTUK KEHIDUPAN”. (Evan) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Ir. Halen Purba, MM., Kepala Bidang Konservasi Wilayah I Kabanjahe BBKSDA Sumut, Mustafa Imran Lubis, SP., Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Wampu Sei Ular, Ir. Heru Wiranto, Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNGL, Joko Iswanto, SP., Kepala Seksi Kemitraan Lingkungan Balai PSKL, Ujang B., S.Hut., M.Sc.,dan Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai Gakum Wilayah Sumatera, Suhut Hesakhi, S;Hut., M.Si. terlihat diantara para pendonor.
Baca Berita

Donor Darah Sebagai Penutup Hari Bakti Rimbawan Riau

Pekanbaru, 19 Maret 2019. Puncak acara peringatan Hari Bhakti Rimbawan di Prov. Riau diselenggarakan pada Senin, 18 Maret 2019. Setelah beberapa hari sebelumnya digelar berbagai acara untuk memeriahkan hari besar rimbawan ke 36 tersebut. Upacara Hari Bhakti Rimbawan menjadi rangkaian awal Senin pagi itu dan dilanjutkan dengan lomba tumpeng, pengumuman pemenang dan pembagian hadiah bagi peserta lomba. Sebagai penutup acara dilakukan kegiatan donor darah dari para Rimbawan yang berjumlah 66 orang. Keseluruhan donor tersebut diserahkan ke PMI Kota Pekanbaru. Selamat Hari Bhakti Rimbawan untuk para Rimbawan seluruh Indonesia. Sebaik baiknya hidup adalah memberi manfaat bagi sekelilingnya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Rimbawan Riau Upacara Hari Bhakti Rimbawan 2019

Pekanbaru, 19 Maret 2019. Puncak acara peringatan Hari Bhakti Rimbawan di Prov. Riau berlangsung Senin, 18 Maret 2019. Setelah beberapa hari sebelumnya digelar berbagai acara untuk memeriahkan hari besar rimbawan ke 36 tersebut. Berbagai kegiatan yang diselenggarakan adalah lomba bola volly, lomba tarik tambang, senam bersama, bhakti sosial di panti asuhan, kegiatan menanam serta pembagian bibit bersama Gubernur Riau dan Bupati Kampar. Sebagai kegiatan penutup pada hari Senin dilakukan Upacara Hari Bhakti Rimbawan yang dilanjutkan dengan serangkaian kegiatan yaitu lomba tumpeng, pengumuman pemenang dan pembagian hadiah bagi peserta lomba serta ditutup dengan kegiatan donor darah dari para Rimbawan yang berjumlah 66 orang. Selamat Hari Bhakti Rimbawan untuk para Rimbawan seluruh Indonesia. Rimbawan patriot, keberanian dan dedikasi dalam menjaga lingkungan dan hutan kira sunguh sangat bermakna demi masa depan negara dan bangsa Indonesia. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa meridhoi segala upaya dan langkah kita bersama. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Penyerahan Satwa di Hari Bahkti Rimbawan 2019

Medan, 19 Maret 2019. Peringatan Hari Bhakti Rimbawan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Disaat rimbawan Sumatera Utara sedang merayakan hari bhaktinya, ada beberapa warga yang datang dan secara sukarela menyerahkan satwa liar peliharaannya kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Ini tentunya menjadi berkah tersendiri. Berawal Balqis Sabilla, seorang mahasiswi, yang beralamat di jalan Belat Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan, menyambangi kantor Balai Besar KSDA Sumatera Utara, pada Senin, 18 Maret 2019, dengan membawa 1 (satu) individu Kukang Sumatera (Nycticebus caucang), berusia ± 6 bulan. Menurut penjelasan Balqis Sabilla, satwa tersebut merupakan pemberian dari temannya dan telah dirawat selama 3 bulan. Keinginan untuk menyerahkan satwa yang dilindungi undang-undang ini, disambut baik oleh TRRC Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Berlanjut, pada Selasa 19 Maret 2019, giliran Reza Fahmi, S.Sos., wiraswasta, yang beralamat di jalan Gatot Subroto Gg. Damai Kelurahan Sei Sikambing, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan, yang datang untuk menyerahkan 1 (satu) individu Kucing Akar (Felis bengalensis), kepada TRRC Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Kedua satwa liar yang diserahkan kepada TRRC Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam kondisi baik dan sehat, selanjutnya dititipkan pada Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit untuk mendapatkan perawatan medis serta proses rehabilitasi sebelum nantinya dilepasliarkan. (M. Ali Iqbal Nasution) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara Balqis Sabilla menyerahkan satu individu Kukang kepada TRRC Balai Besar KSDA Sumut
Baca Berita

Reward dan Mentorship, Semangat Bersama Mengejar Mimpi Membangun MerBeti

Jember, 19 Maret 2019. Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) Maman Surahman, S. Hut, M.Si pada hari ini (19/3/19) melakukan pembinaan pegawai di Kantor Balai TN. MerBeti. Maman yang belum genap satu bulan menjabat sebagai Kepala Balai TN MerBeti memberikan lima arahan dan semangat baru untuk seluruh pegawai. Adapun lima arahan Kepala Balai TN MerBeti adalah 1) bekerja keras, cerdas dan ikhlas; (2) bekerja bergandengan tangan, saling mengisi sesuai tusi dan kemampuan masing - masing; (3) keluarkan segala ide, gagasan dan inovasi untuk mengembangkan TN MerBeti; (4) selesaikan semua permasalahan secara internal dengan musyawarah karena tidak ada masalah yang tidak diselesaikan dan (5) reward atas pegawai yang berkinerja bagus minimal dalam bentuk fasilitasi sarpras yang diperlukan. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Patroli Gabungan Peredaran TSL Illegal BBKSDA Papua Barat

Sorong, 13 Maret 2019. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua Barat (BBKSDA Papbar) melaksanakan Patroli Gabungan Penertiban Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar Illegal. Patroli dilaksanakan selama 3 hari (13-15/3/2019) di wilayah Kota Sorong dan Kabupaten Sorong yang dipimpin Kepala Bidang KSDA Wilayah I BBKSDA Papua Barat. Tim Patroli Gabungan terdiri dari Polhut BBKSDA Papua Barat, POM AD , POM AL setaPolres Sorong Kota Patroli Gabungan ini dilakukan karena melihat banyaknya masyarakat yang melakukan penangkapan serta pemeliharaan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL), baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi Undang-undang. Banyak alasan yang dijadikan sebagai pembenaran atas perilaku ini antara lain adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selain untuk dikormersilkan alasan lain masyarakat memelihara TSL sebagai kesenangan (hobby) yang dituding sebagai penyebab utama tingginya penangkapan TSL dari habitat aslinya. Adapun jenis Satwa yang umumnya yang sering diperjualbelikan adalah jenis burung paruh bengkok misalnya jenis Nuri dan Kakatua. Hal ini sangat bertentangan dan merupakan pelanggaran terhadap Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Tim patroli melaksanakan koordinasi dengan instasi yang terlibat dalam kegiatan tersebut untuk mengumpulkan informasi lokasi target patroli. Selain itu tim juga mendapatkan beberapa informasi secara lisan dari masyarakat sekitar. Metode Pelaksanaan Operasi Penertiban dan Peredaran TSL ini yaitu patroli kendaraan roda empat di jalan-jalan sekitar lokasi target dan metode berjalan kaki untuk pengecekan langsung ke tempat-tempat yang dianggap rawan atau diindikasi terdapat TSL Ilegal. Hasil Patroli Gabungan tim berhasil mengamankan beberapa jenis satwa Unggas (burung) dilindungi antara lain yang berjumlah 2 (dua) ekor Nuri Kepala Hitam (Lorius lorry), 2 (dua) ekor Kakatua Jambul Kuning (Cacatua galerita), 1 (satu) ekor Perkici (Trichoglossus haematolus) dan 1 (satu) ekor Nuri Bayan Merah (Ecletus roratus) . Tim Operasi penertiban TSL belum menemukan indikasi satwa-satwa ini diperjualbelikan. Pemilik unggas menyerahkan secara sukarela satwa-satwa tersebut dan berjanji tidak mengulangi lagi yang dibuktikan dengan menandatangani surat pernyataan. Selanjutnya Burung-burung dilindungi tersebut dimasukkan ke dalam Kandang Transit BBKSDA Papua Barat untuk dirawat dan diliarkan kembali sebelum dilakukan pelepasliaran ke habitat aslinya. (D.N) Sumber : Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua Barat
Baca Berita

IKA SKMA, GerbangMas dan Hari Bhakti Rimbawan di TN. Taka Bonerate

Pulau Tinabo - Taman Nasional Taka Bonerate, 18 Maret 2019. Setiap tanggal 16 Maret merupakan hari spesial buat teman-teman Rimbawan, karena pada tanggal itu dicanangkan sebagai hari Bhakti Rimbawan. Banyak agenda kegiatan yang dilaksanakan mulai dari lomba-lomba tradisional, bakti sosial seperti donor darah sampai aksi lingkungan berupa kegiatan penanaman. Tahun ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini dilaksanakan gerakan penanaman yang dilakukan oleh seluruh anggota Ikatan Alumni SKMA (Sekolah Kehutanan Menengah Atas) bersama dengan Unit Pelaksana Teknis Kementerian LHK di 34 Propinsi secara serentak pada tanggal 16 Maret. Sekedar informasi bahwa "GerbangMas" adalah akronim dari Gerakan Anak Bangsa Menanam Serentak adalah sebuah gerakan yang menjadi semangat bagi anggota IKA SKMA untuk terus menerus menorehkan kebaikan bagi lingkungan. Gerakan ini juga menjadi bukti kerja nyata IKA SKMA sebagai bagian dari Rimbawan Indonesia dalam memaknai hari Bakti Rimbawan ke 36 tahun 2019. Tak mau ketinggalan alumni SKMA yang ditempat tugaskan di Taman Nasional Taka Bonerate turut berpartisipasi dalam kegiatan ini. "Alumni SKMA yang ditempatkan di TN. Taka Bonerate berjumlah 13 orang saat ini" Jelas Saleh Rahman alumni SKMA Ujung Pandang angkatan VII. Bersama- sama dengan Kepala Balai Faat Rudhianto dan personil yang ada di Pulau Tinabo melaksanakan kegiatan penanaman serentak ini. Kegiatan ini sekaligus diintegrasikan dengan program Taman Nasional Taka Bonerate “Sebuah Nama untuk Hijaukan Tinabo” jelas Saleh Rahman. Disesuaikan dengan ekosistem pantai, bibit yang ditanam adalah jenis tanaman perintis pantai berupa cemara laut (Casuarina equisteifolia) berjumlah 20 bibit. "Terima kasih buat teman-teman di Pulau Tinabo terkhusus buat adek-adek alumni SKMA yang telah melaksanakan kegiatan ini, walaupun jumlahnya tidak seberapa tapi maknanya besar, sekali lagi terima kasih dan Sukses GerbangMas dan Selamat Hari Bhakti Rimbawan ke 36" Ucap Faat Rudhianto. Sumber Teks : Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate Foto : Saleh Rahman - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Kemeriahan Hari Bhakti Rimbawan Sumatera Utara

Medan, 19 Maret 2019. Lapangan upacara kompleks Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara dipenuhi oleh ratusan rimbawan pada Senin, 18 Maret 2019. Hari itu rimbawan Sumatera Utara memperingati dan merayakan Hari Bhakti Rimbawan Ke 36 Tahun 2019. Rimbawan-rimbawan yang tersebar di berbagai kabupaten/kota, turun gunung dan tumpah ruah di lapangan upacara. Cuaca yang cerah dan ceria seakan-akan ikut merasakan kegembiraan rimbawan Sumatera Utara. Bertindak sebagai pembina upacara Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Ir. Halen Purba, MM., sedangkan inspektur upacara Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Joko Iswanto, SP. Terlihat juga hadir Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For, dan Kepala-kepala UPT lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara serta pejabat eselon III dan eselon IV lingkup Dinas Kehutanan dan UPT Kementerian LHK Provinsi Sumatera Utara. Menteri Lingkungan Hidup danalen H Kehutanan, Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc., dalam sambutan tertulis yang dibacakan Pembina Upacara, menyampaikan bahwa peringatan Hari Bhakti Rimbawan tahun ini mengangkat tema “Hutan Untuk Kesejateraan Rakyat dan Lingkungan Sehat”, sejalan dengan semangat dan misi keberadaan serta jati diri rimbawan, dalam perjuangan pembangunan kehutanan dan lingkungan. Lebih lanjut Menteri LHK menyebutkan, pada April 2018 Presiden menegaskan untuk dilakukan reklamasi dan rehabilitasi hutan secara besar-besaran mulai tahun 2019. Harus dilakukan penanaman secara nasional di seluruh Indonesia. Rehabilitasi dan penanaman pohon diorientasikan untuk penyelamatan danau, penyelamatan dam/waduk, pemukiman, serta menjaga keindahan alam sekaligus untuk perluasan kesempatan kerja, serta penyediaan kayu rakyat dan berbagai manfaat ekonomi lainnya bagi tabungan masyarakat di masa depan. “Rimbawan harus menjadi pelopor pemersatu bangsa. Rimbawan harus menjadi pelindung segenap tumpah darah dan bangsa. Rimbawan harus menjadi putra bangsa, putra penjaga dan penyayang Ibu Pertiwi. Itu bagian-bagian yang relevan refleksi jati diri Rimbawan,” ujar Siti Nurbaya. Usai upacara, seluruh peserta mengikuti berbagai ragam kegiatan yang digelar panitia, seperti : lomba bakiak, lomba balap karung goni, pertandingan bola volley, tarik tambang, lomba masak antara Kepala Dinas Kehutanan dan Kepala UPT lingkup Kementerian LHK Provinsi Sumatera Utara, aksi sosial donor darah, dan acara hiburan. Meskipun perayaan dilaksanakan secara sederhana, namun tidak mengurangi kemeriahannya. Sayangnya kemeriahan ini hanya sehari saja… Usai semua acara, rimbawan kembali ke tempat tugasnya masing-masing. Semangat kebersamaan diharapkan menjadi energi baru untuk melaksanakan tugas dan meningkatkan kinerja rimbawan. Meskipun berpisah tapi kenangan indah tak akan lekang dalam ingatan, kunantikan pertemuan kembali di Hari Bhakti Rimbawan tahun depan…(Evan) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara Rangkaian kegiatan peringatan Hari Bhakti Rimbawan Tahun 2019, lomba balap karung goni (gbr.1), lomba bakiak (gbr.2), lomba masak antar Kepala Dinas Kehutanan dan UPT LHK lingkup Provinsi Sumatera Utara (gbr.3) dan tarik tambang (gbr.4)

Menampilkan 5.937–5.952 dari 11.140 publikasi