Sabtu, 25 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Kolaborasi untuk Lingkungan, CCAI Gelar City Clean Up di TN Way Kambas

Labuhan Ratu, 24 Maret 2019, Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) bersama dengan Taman Nasional Way Kambas dan Rumah Inspirasi Sahabat Gajah menggelar aksi lingkungan CITY CLEAN UP @ TNWK 2019. Rangkaian kegiatan yang digelar pada hari Minggu 24 Maret 2019 terdiri dari Gowes Amatil, Aksi Pembersihan dan Pemilahan Sampah, Pemasangan Tempat Sampah Edukasi di Seputar Kawasan, Penyerahan Bantuan sarana kebersihan lingkungan untuk Masyarakat Sekitar Perbatasan Taman Nasional Way Kambas, Penanaman Bibit Tanaman Pakan Gajah dilanjutkan dengan diskusi lingkungan yang bertajuk mengembangkan gagasan wisata konservasi berbasis lingkungan dan masyarakat. Way Kambas di Lampung Timur kali ini menjadi salah satu tempat dimulainya kolaborasi gerakan bersama untuk lingkungan melibatkan CSR Forum Lampung sebagai lokomotif kegiatan sustaunability, Persatuan Sarjana Kehutanan ( Persaki ), IHGMA DPD Lampung, WWF Indonesia , Forum Pendidik Sukanegara, Karang Taruna, Pemuda Pelopor, Yayasan Peduli Generasi Lampung, IKA Kimia MIPA Unila, Bionila, Universitas Bandar Lampung ( UBL ), AIESEC Unila. Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas Subakir,SH. MH, menyampaikan sangat mendukung dan mengapresiasi aksi lingkungan City Clean Up @ Way Kambas yang diinisiasi oleh Coca cola Amatil Indonesia dan diikuti oleh berbagai stakeholder di propinsi Lampung ini. “Semoga aksi lingkungan hari ini menjadikan Taman Nasional Way Kambas sebagai destinasi wisata utama di propinsi Lampung dan tentu menjadi kebanggaan masyarakat Lampung” kata Subakir, SH. MH. Beliau menambahkan gajah sebagai ikon Lampung harus bisa mendunia, tidak hanya dikenal di Indonesia. Kami berharap para stakeholder yang hadir pada hari ini dapat bersama-sama membangun Way Kambas untuk lebih baik lagi, CSR Forum bisa berkontribusi terhadap upaya konservasi satwa dilindungi. Konservasi bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat. Masyarakat sekitar TNWK harus sejahtera, ekonominya meningkat. Konsep ekowisata harus dibangun dengan melibatkan masyarakat sekitar sebagai pelaku usaha. Banyak potensi yang belum tergali di TNWK ini. PLG Way Kambas saat ini terdapat 67 ekor gajah dan 15 ekor diantaranya gajah balita yang lucu-lucu. Selain PLG, di TNWK juga terdapat penangkaran badak semi in-situ; Suaka Rhino Sumatra (SRS) dan satu-satunya penangkaran di Asia yang berhasil mengembangbiakkan Badak sumatra. Way Kambas terkenal dengan The Big Five mammals yaitu: Gajah, Badak, Harimau, Tapir dan Beruang Madu. Way Kambas adalah benteng terakhir spesies kunci di Propinsi Lampung, imbuh Kepala Balai. Dalam perspektif kepentingan dunia, hutan kita diposisikan sebagai penyangga kehidupan yang sangat penting bagi keberlanjutan bumi, hutan memiliki peran strategis untuk menopang kehidupan satwa dan sumberdaya lingkungan yang ada di dalamnya perlu upaya penataan hutan, berwawasan lingkungan, yang berdampak pada terjadinya keseimbangan antara konservasi dan ekonomi untuk mendorong kemandiriannya serta menekan resiko sosial. Menurut Yayan Sopian CA Regional Wests Indonesia; Konservasi menjadi penting dengan melibatkan masyarakat, untuk menjaga keberlangsungan kehidupan di bumi ini menjaga kelestarian lingkungan merupakan salah satu pilar keberlanjutan perusahaan kami. Oleh karena itu, sejak Coca-Cola Amatil memasuki pasar Indonesia pada tahun 1992, berbagai kegiatan terkait lingkungan telah dilakukan di seluruh wilayah Indonesia. Dalam akhir acara, perwakilan Garuda Indonesia menyampaikan bahwa Way Kambas dan gajahnya masuk dalam tulisan di majalah udaranya edisi Maret 2019. Dengan memasukkan tulisan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Lampung dan khususnya ke TN. Way Kambas. Para stakeholder lain mulai dari para chef sampai dengan para Manager dan Direktur siap untuk bekerjasama memajukan wisata di Way Kambas untuk kesejahteraan masyarakat Lampung. Bahkan Direktur RS. Advent Bandar Lampung siap untuk melakukan cek kesehatan dan pengobatan gratis kepada para pekerja konservasi agar yang satwa dan lingkungan yang dijaga dan dikelolanya juga sehat. Sehingga para wisatawanpun tidak kawatir tertular penyakit jika berwisata ke TN. Way Kambas. Terima kasih CCAI, terima kasih semuanya yang sudah berkolaborasi bersama membangun Way Kambas demi kesejahteraan masyarakat. Sumber: Humas BTN. Way Kambas
Baca Berita

Kolaborasi Dalam Upaya Konservasi Ketam Kenari di Kabupaten Raja Ampat

Sobat, sudah kenal dengan Ketam Kenari? Ya, Ketam Kenari (Birgus latro) biasa juga dikenal dengan Kepiting Kenari. Satwa yang satu ini merupakan jenis averterbrata yang dilindungi sesuai Peraturan Menteri LHK nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Ketam Kenari dilindungi karena berbagai alasan diantaranya karena persebaran jenis satwa ini sangat terbatas. Kita hanya akan menjumpai Ketam Kenari di Indonesia bagian timur dari selat Makassar hingga ke Papua. Selain itu kehidupan satwa ini sangat menarik. Pertumbuhannya amat lambat dan mengalami siklus hidup yang unik. Pada fase "glaucothoe" atau fase kelomang dapat dilalui selama 2.5 tahun. Setiap berganti kulit, ketam kenari akan mencari cangkang yang sesuai dengan pertambahan ukuran tubuhnya. Cangkang gastropoda yang kosong akan dipilih untuk tempat tubuhnya.Ketam Kenari juga menjadi salah satu komoditas ekonomi. Akibatnya masyarakat menangkap arthopoda ini untuk menambah penghasilan mereka. Beberapa lokasi penangkapan Ketam Kenari ternyata berada di Kabupaten Raja Ampat. Berangkat dari alasan tersebut, Balai Besar KSDA Papua Barat (BBKSDA PapBar) bersama Conservation International (CI) Raja Ampat dan BLUD Konservasi Kawasan laut berkolaborasi dalam upaya konservasi Ketam kenari. Salah satunya melalui Sosialisasi Peraturan Tumbuhan dan Satwa Liar dilindungi di Kampung Fam, Saukabu, dan Saupapir Kepulauan Fam, Kabupaten Raja Ampat (20-22/3/2019) Kegiatan ini sebagai langkah awal dalam upaya perlindungan Ketam Kenari. Sosialisasi yang dilakukan diharapkan mampu merubah pemahaman masyarakat tentang Ketam Kenari. Kedepan perlu strategi untuk menggantikan nilai ekonomi Si Ketam Kenari. Salah satunya berupa penangkaran berbasis kelompok masyarakat, mengingat tidak semua warga Kepulauan Fam mempunyai lahan. Melalui penangkaran, masyarakat tidak hanya fokus pada produksi, tetapi memunculkan diversifikasi produk, contohnya atraksi wisata. Pengunjung berkesempatan untuk "release" ketam kenari dengan sistem adopsi. Nantinya atraksi ini bisa diintegrasikan pula dengan wisata lain yang ada disekitar kampung yang terkenal seperti "Geosite Park Pyanemo". Akan tetapi, penangkaran juga memerlukan indukan yang akan ditangkar. Mau tidak mau indukan Ketam kenari tetap diambil dari alam. Oleh karena itu perlu adanya pengusulan Ketam Kenari sebagai satwa buru sehingga dapat diambil dengan batasan tertentu. Tentu dalam proses ini pengawasan dan monitoring dari pihak-pihak terkait harus berjalan seiring dengan pengembangan stragegi yang dilaksanan. (R.K) Sumber : BBKSDA Papua Barat
Baca Berita

Penutup Rangkaian Kegiatan Peringatan Hari Bakti Rimbawan Tahun 2019

Mataram 21 Maret 2019. Dalam rangka Peringatan Hari Bakti Rimbawan ke-36 Tahun 2019 sekaligus Kegiatan GERBANG MAS (Gerakan Anak Bangsa Menanam Serentak), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB mengadakan Acara yang berlokasi di KHDTK (Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus) Rarung, Desa Pemepek Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah dengan agenda Penanaman dan Kunjungan Pengelolaan Bambu Lestari yang dihadiri oleh Gubernur NTB, Bapak Dr. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc. Acara dihadiri oleh langsung oleh Bapak Gubernur beserta OPD di NTB, Perangkat Desa, Masyarakat dan UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di NTB yakni BKSDA NTB, BPDAS HL Dodokan Moyosari, Balai TN Gunung Rinjani, Balai TN Tambora, GAKKUM Provinsi NTB, Balai KPH, Kapolsek Pringgarata, Saka Wanabakti NTB serta siswa-siswi dari SMK Kehutaran Qamarul Huda NTB. Dalam Kegiatan, Bapak Gubernur NTB menyempatkan untuk melakukan penanaman secara simbolis bersama dengan Perangkat OPD, Dinas dan UPT Pusat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dengan penanaman secara simbolis ini, total telah ditaman sebanyak 1250 pohon menyambung dari kegiatan GERBANG MAS (Gerakan Anak Bangsa Menanam Serentak) beberapa hari sebelumnya. Selepas Penanaman, Bapak Gubernur NTB kembali melanjutkan ke lokasi Penanaman dan Pengembangan Bambu lestari yang didampingi oleh Kepala BPTHHBK Mataram beserta Ibu Dr. Ir. P K Diah Kencana MS, Peneliti Bambu dari Universitas Udayana, Bali. Dalam Presentasi dihadapan Bapak Gubernur, Ibu Diah menyampaikan bahwa Bambu Tabah merupakan jenis yang cocok untuk iklim di NTB. Selain batang bambunya yang bisa dimanfaatkan, Rebung Bambu Tabah ini juga bisa dimanfaatkan untuk Industri Pangan. Berlanjut ke lokasi Acara Puncak, Dalam Sambutan Bapak Gubernur NTB, beliau menyampaikan pentingnya keberadaan hutan bagi kelangsungan hidup umat manusia dan Pemerintah Provinsi NTB sangat serius dalam menghadapi permasalahan lingkungan hidup dan kehutanan di NTB. Salah satu bentuk keseriusan ini, Pemerintah Provinsi NTB memberikan beasiswa bagi 50 siswa SMK Kehutanan Qomarul Huda, Kecamatan Nermada, Kabupaten Lombok Barat. Bapak Gubernur bermaksud memberikan beasiswa kepada siswa tersebut untuk memotivasi mereka agar belajar tentang kehutanan dan mencintainya. Tidak hanya di Lombok, siswa SMK Kehutanan yang ada di Pulau Sumbawa juga akan dberikan beasiswa yang sama. Sebagai informasi, “Gerbang Mas” (Gerakan Anak Bangsa Menanam Serentak) merupakan kegiatan yang dilaksanakan dalam rangkaian peringatan hari Bakti Rimbawan ke-36 tahun 2019. Gerbang Mas merupakan gerakan yang digagas oleh para rimbawan dan rimbawati seluruh Indonesia yang diharapkan dapat menjadikan penyemangat untuk terus menularkan kebaikan bagi lingkungan sekaligus menumbuhkan kesadaran kepada masyarakat luas untuk mulai memulihkan, menjaga dan melestarikan lingkungan. Sumber: Balai KSDA NTB
Baca Berita

Lagi, Puluhan Mahasiswa Tertangkap Hendak Masuki Pulau Sempu

Surabaya - 25 Maret 2019, Pulau Sempu yang terletak di sebelah selatan Kabupaten Malang, sejatinya merupakan cagar alam (CA) yang tidak boleh dikunjungi kecuali untuk pendidikan dan penelitian. Itupun harus mengantongi terlebih dahulu Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) dari Balai Besar KSDA Jawa Timur. Namun, berulang-ulang pula satuan Polisi Kehutanan Resort Konservasi Wilayah 21 Pulau Sempu menangkap masyarakat yang hendak memasukinya tanpa SIMAKSI. Seperti yang terjadi pada hari Minggu tanggal 24 Maret 2019 kemarin. Saat itu petugas sedang melakukan patroli rutin dan menangkap 9 orang yang mengaku sebagai mahasiswa ITN Malang di Teluk Semut CA. Pulau Sempu. Selanjutnya kesembilan mahasiswa tersebut beserta pemilik perahu diberikan pengarahan dan sosialisasi mengenai CA. Pulau Sempu, yang tak boleh dikunjungi apalagi untuk berwisata. Kemudian petugas meminta mereka semua kembali ke Sendang biru. Masih di hari yang sama, petugas juga menjumpai 12 orang yang mengaku mahasiswa di Kampung Inggris - Pare, Kediri yang hendak menyeberang ke Pulau Sempu melalui Tambangan Barat atau Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Setelah dikumpulkan, petugas kembali memberikan sosialisasi dan pengarahan terkait larangan untuk berkunjung ke Pulau Sempu. Petugas menyarankan untuk mengunjungi pantai-pantai yang tersebar di sekitar Sendang Biru dan bukan kawasan konservasi. Petugas juga mengajak para mahasiswa untuk ikut menjaga kawasan CA. Pulau Sempu, karena mereka adalah agen perubahan dan masa depan bangsa ini. Sumber: BBKSDA Jawa Timur
Baca Berita

Uji Kompetensi Pejabat Fungsional di Makassar Berlangsung Semarak

Maros, 25 Maret 2019. Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia melakukan uji kompetensi pejabat fungsional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) di Makassar. Uji kompetensi ini berlangsung di SMK Kehutanan Negeri Makassar. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari: 21 s.d 23 Maret 2019. Sebanyak 119 ASN fungsional tertentu yang berasal dari UPT Kementerian LHK wilayah Sulawesi dan Maluku. Lima orang pejabat fungsional Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung mengikuti uji kompetensi ini. Pejabat fungsional binaan Kementerian LHK ini terdiri dari Polisi Kehutanan (Polhut), Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) dan Penyuluh Kehutanan. Setiap pejabat fungsional diwajibkan memiliki kompetensi sesuai bidang dan keahliannya. Uji Kompetensi menjadi salah satu syarat setiap ASN yang akan menduduki suatu jabatan fungsional tertentu. Begitu pun untuk naik jenjang jabatan setingkat di atasnya. Pelaksana uji komptensi adalah Pusrenbang SDM LHK melalui LPS-LUK SDM, aparatur yang telah mendapatkan lisensi dari BNSP. Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregien Sulawesi Maluku (P3E Suma) selaku Korwil lingkup UPT LHK Sulawesi membuka acara secara resmi. Ia memotivasi peserta untuk bekerja cerdas. Memberikan pemahaman kepada masyarakat agar mampu memanfaatkan sumber daya yang ada di dalam hutan guna meningkatkan perekonomiannya. Dan tentunya tetap menjaga kelestariannya. "Manusia itu bisa maju dan berkembang dengan dua hal: pertama, diuji agar meningkat. Seperti tangga, kita tidak akan bisa naik jika tidak ada tangga sebagai perantara. Hal kedua adalah karakter," terang Dr. Darmansyah, Kepala P3E Suma. "Kompetensi adalah tangga untuk naik ke atas sedangkan karakter adalah pondasi di mana tangga itu berpijak,"tambahnya. Beberapa hal yang menjadi pokok penilaian yaitu kelengkapan portofolio, kemampuan teknis, kemampuan manajerial, wawancara, dan studi kasus atau kesemaptaan bagi Polhut. Pada hari pertama, penguji memeriksa kelengkapan berkas portofolio. Selanjutnya ujian tertulis secara online dilaksanakan di Laboratorium GIS SMK Kehutanan NegeriMakassar. Asesor melakukan ujicoba pengujian secara online. Hari berikutnya tes lisan. Setiap asesi menghadap satu persatu ke asesor untuk penilaian bukti kegiatannya melalui wawancara. Pada hari terakhir ujian kesamaptaan bagi Polhut. Tes fisik: lari santai, sprint, lari zigzak, sit up, dan push up. Sementara itu, PEH dan Penyuluh Kehutanan melakukan studi kasus dan demo sesuai keahliannya. Tim asesor kemudian mengumumkan hasil ujian pada hari terakhir. Perasaan deg-degan meliputi peserta tes, menunggu hasil uji kompetensinya. Selanjutnya untuk menjamin kerahasiaan hasil uji kompetensi, asesor memberikan hasil ujian kepada peserta satu per satu. Menyatakan setiap asesi: kompeten atau tidak kompeten. Melalui ujian ini pejabat fungsional lingkup KLHK diharapkan memiliki kompetensi yang mumpuni dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Selanjutnya mereka mampu memberikan masukan dalam rencana tata kelolakawasan di UPT masing-masing. Sumber : Ramli – PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Longsor di Kawasan TN MerBeti Akibat Curah Hujan Tinggi

Jember, 24 Maret 2019. Saat melakukan patroli darat, petugas Resort Andongrejo, SPTN Wilayah II Ambulu menjumpai adanya tanah longsor di jalur Andongrejo-Bandealit. Jalur ini merupakan akses satu-satunya menuju ke Bandealit. Longsor yang diperkirakan terjadi tadi malam akibat curah hujan yang cukup tinggi. Longsor terjadi di dua titik. Pertama di Blok kandang montor pada koordinat 0802313/9068268, diperkirakan panjang longsor 15 m danjalan utama terjadi longsor kira-kira 0.5 m. Kedua di bawah tumpak gesing pada koordinat 0802228/9066345, diperkirakan panjang longsor 12 m dan lebar 10 m. Namun saat ini jalan sudah berfungsi normal. Bagi pengendara yang ingin melewati jalan Andongrejo-Bandealit dihimbau untuk berhati-hati dan waspada. Sumber: Bahno (polhut pelaksana lanjutan TN MerBeti)
Baca Berita

Peresmian Kantor Pengelola Wisata Bidang KSDA Wilayah II

Pematangsiantar, 25 Maret 2019. Rabu, 20 Maret 2019, menjadi moment penting bagi Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar dengan diresmikannya Kantor Pengelola Wisata Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For. Peresmian ini turut dihadiri Kepala Balai Pendidikan dan Latihan (Diklat) LHK Pematangsiantar dan jajarannya, Kepala KPH UPT Wilayah II Pematangsiantar dan jajarannya, pejabat struktural lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara beserta Staf serta mitra yang ada di wilayah kerja Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar. Acara diawali dengan laporan dari Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Seno Pramudito, S.Hut, ME, dilanjutkan sambutan dari Kepala Balai Diklat LHK Pematangsiantar, M. Simangunsong, S.Hut.T, M.Sc., dan diakhiri dengan sambutan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For. Dalam sambutannya Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyampaikan, bahwa kantor Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar merupakan Blessing in Disguise namun pembangunan kantor ini tidak akan terwujud tanpa kerjasama yang baik dengan Balai Diklat LHK Pematangsiantar yang pada waktu itu dikomandoi Bapak Kamaruddin, S.Hut.T sebagai Kepala Balai. Tidak hanya itu, Kepala Badan P2SDM juga memberikan respon yang positif, sehingga Balai Besar KSDA Sumatera Utara pada akhirnya mendapatkan ijin pinjam/pakai lahan Balai Diklat LHK Pematangsiantar untuk pembangunan Kantor Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar. “Semoga kantor ini bisa memotivasi dan menambah semangat kerja bagi rekan-rekan Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar. Bersyukur sudah punya kantor sendiri namun jangan lupa untuk merawatnya. Karena membangun kantor jauh lebih mudah bila dibandingkan dengan merawat serta memeliharanya untuk terus dalam kondisi baik” ujar Hotmauli mengakhiri sambutan. Usai memberi sambutan, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara memberikan plakat penghargaan kepada Kepala Balai Diklat LHK sebagai tanda terimakasih atas lahan yang dipinjam/pakaikan untuk pembangunan Kantor Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar. Selanjutnya, komplek Kantor Pengelola Wisata Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar diresmikan dengan penandatanganan Prasasti sekaligus pengguntingan pita oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan dilanjutkan dengan seremonial penanaman pohon. Di akhir acara, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara berkesempatan memberikan kenang-kenangan (tali kasih) kepada 3 (tiga) orang pegawai/ASN Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar yang Purnabakti. Sumber : Lisbeth Manurung - Penyuluh kehutanan Balai Besar KSDA Sumatera Utara Penanaman Pohon oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Penanaman Pohon oleh Kepala Balai Diklat LHK Pematangsiantar
Baca Berita

Giat Rimbawan Lorentz di Hari Bakti Rimbawan 2019

Wamena, 16 Maret 2019. Balai Taman Nasional Lorentz telah melaksanakanberbagai kegiatan dalam rangka Peringatan Hari BaktiRimbawan ke-36 dengan lancar dan sukses. Terdapat beberapa agenda penting yang dilaksanakan oleh BalaiTN Lorentz sejak 15 Maret 2019 sampai dengan 16 Maret 2019 diantaranya Apel dalam rangka memperingati Hari BaktiRimbawan yang ke 36 tahun 2019, dan bertindak sebagaiPembina Apel adalah Kepala Balai TN Lorentz menyampaikanPidato sambutan Ibu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanandan juga beberapa pesan agar kita sesama rimbawan lebihmeningkatkan Jiwa Korsa sesama rimbawan. Pada Apel Bersama ini dihadiri oleh Pimpinan dan Staff Balai TN Lorentz, KPH Jayawijaya dan Perwakilan dari KPH Lanni Jaya. Peringatan Hari Bakti Rimbawan yang ke 36 juga dilaksanakanbeberapa kegiatan seperti Senam bersama, Kebersihan Kantor Balai TN dan KPH Jayawijaya serta Penanaman serentak yang merupakan wujud dari Kegiatan GERBANG MAS (Gerakan Anak Bangsa Menanam Serentak) yang diprakarsai oleh IKA SKMA, adapun beberapa jenis Pohon yang ditanam antara lain Gravelia ropusta, Mercusii sp, araucaria sp dan biscopiajavanica yang merupakan jenis tanaman yang cocok di daerahketinggian. Selain kegiatan Apel dan Penanaman ada jugabeberapa kegiatan lomba yang dilaksanakan antara lain LombaBola Volley, Joget Futsal, lomba makan kerupuk lomba larikelereng, lomba gaplek, lomba ludo, lomba tarik tambang danlomba Karaoke Rimbawan Idol. Puncak dari Kegiatan Hari Bakti Rimbawan Tahun 2019 adalahmalam keakraban rimbawan yang dilaksanakan di Aula BalaiTN Lorentz dengan rangkaian kegiatan penyerahan HadiahLomba dan makan malam bersama, pada kesempatan ini jugahadir salah satu tokoh pendiri kota Wamena yaitu Bapak Saroyyang menyampaikan apresiasi yang luar biasa kepadakebersamaan rimbawan yang berada di kota Wamena danberpesan agar Jiwa Korsa Rimbawan ini harus dipertahankandan lebih ditingkatkan. Sumber : Balai Taman Nasional Lorentz
Baca Berita

Evakuasi Penyu Hasil Penelusuran Akun Facebook

Palu, 24 Maret 2019. Staf Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Balai KSDA Sulawesi Tengah pada tanggal 23 Maret 2019 lalu bersama Tim POLAIRUD menindaklanjuti postingan warga Talas Kecamatan Labobo Kabupaten Banggai Laut An. Siti Ithi yang viral di media sosial Facebook. Di akun tersebut terdapat postingan 2 (dua) ekor penyu yang menurut pemilik akun merupakan buah tangan dari seseorang. Balai KSDA Sulawesi Tengah langsung melakukan koordinasi dengan PSDKB Banggai Kepulauan dan Banggai Laut, Balai Karantina Ikan Banggai Laut, Babinsa Bangkurung, dan pemerintah desa setempat untuk menghadirkan pemilik akun ini. Selanjutnya pada hari itu juga ke-2 ekor penyu tersebut langsung dilepasliarkan oleh tim terpadu bersama aparat Desa dan Tokoh Masyarakat di pinggir laut Desa Talas yang disaksikan oleh Masyarakat Desa Talas dan sekitarnya. Terhadap pemilik akun Siti Ithi diberikan tindakan pembinaan dan menandatangani surat pernyataan untuk tidak mengulangi kembali perbuatannya tersebut. Pelepasliaran yang disaksikan warga Desa Talas ini sekaligus merupakan ajang sosialisasi kepada penduduk setempat bahwa satwa tersebut dilindungi dan harus dikembalikan ke habitatnya aslinya. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Ngopi Espresso di PPKAB TN Gunung Gede Pangrango

Sukabumi, 23 Maret 2019. Ingin merasakan sensasi menyatu dengan hutan hujan pegunungan tropis? PPKAB (Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol) lah tempatnya. Di tempat yang berada di Resort Bodogol TNGGP (Taman Nasional Gunung Gede Pangrango) ini, kita bisa “Ngopi” (Ngobrol Pintar) lebih banyak mengenai konservasi alam. Penasaran ? tentu ! dan memang banyak yang penasaran dan melepas kepenasarannya dengan ikut “Ngopi” di PPKAB. Kali ini giliran Sekolah Alam Indonesia Meruyung, Depok sebanyak 45 orang (12-15 Maret 2019) dan D'Royal Moroco (Moslem Revolution Community) Integrative Islamic Jakarta sebanyak 40 orang (21-22 Maret 2019) yang mampir di PPKAB untuk ikut “Ngopi Espresso” (Ngobrol Pintar sambil Eksplorasi bersama Sekolah). Pada acara Ngopi ini, mereka melakukan banyak aktivitas seperti susur sungai (sekaligus pengamatan biota air), safari malam, dan eksplorasi keanekaragaman hayati. Tentunya kegiatan tersebut dibalut secara “EPIC” (Educative, Professional, Imaginative, Communicative) ala Forum Interpreter PPKAB. Mereka berkesempatan langsung melihat atraksi primata endemik jawa seperti owa jawa dan surili. Puncak antusias mereka terjadi saat kegiatan safari malam, dengan suasana menantang di malam hari, mereka terpesona menemukan berbagai macam jenis amfibi di jalur pengamatan. Selesai Ngopi, Sekolah Alam Indonesia Meruyung melakukan kegiatan sharing dan bakti sosial berupa pemberian 100 paket alat tulis untuk siswa di SDN Babakan Kencana yang merupakan salah satu sekolah dasar terdekat dari PPKAB. Masjid di Kampung Bodogol dan Mushola PPKAB pun tak luput dari perhatian mereka dengan memberikan karpet dan mukena. Semoga apa yang mereka lakukan membawa keberkahan bagi alam dan masyarakat. Selesai sampai disitu? Ternyata mereka tidak hanya puas mengeksplorasi hutan, paket “Bodogol Kampung Hoya” menjadi sasaran berikutnya. Paket ini berhasil mengobati kepenasaranan mereka, melalui aneka kegiatan tradisional, semua pengunjung aktif memberikan pakan ternak, membuat wayang dari tangkai daung singkong, praktek cara membudidayakan sang “hoya”, tumbuhan “penyerap polutan” yang menjadi “icon” Kampung Bodogol. Tentunya dengan bibingan para pemandu yang sudah terasah dan berpengalaman. Sebagai souvenir, hasil praktek masing-masing itu dibawa pulang. “Ngopi Espresso” adalah cara menikmati alam dengan bijak, memahami konservasi dengan hati tanpa alam tersakiti. Siapa Pemberani lainnya yang mau “Ngopi” di PPKAB? Sumber: Agung & Nidia - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Evakuasi Orangutan Dalam Koper di Bandara Ngurah Rai

Denpasar, 23 Maret 2019. Upaya penyelundupan satwa langka dilindungi Orangutan (Pongo pygmaeus) berhasil digagalkan petugas Bandara Ngurah Rai. Pada hari Jumat, 22 Maret 2019 petugas Aiport Security Screening Bandara Ngurah Rai sekitar pukul 23.00 Wita melakukan penangkapan penumpang pesawat yang membawa Orangutan. Modus penyelundupan Orangutan dengan keranjang dimasukkan ke dalam koper penumpang dan terdeteksi di Pre Screening X-Ray No 3 Terminal Keberangkatan Internasional Bandara Ngurah Rai. Penumpang ini teridentifikasi atas nama Zhestkov Andrei (Warga Negara Rusia) No Passport 723054892 merupakan penumpang pesawat Garuda Indonesia GA 870 transit di Seoul dengan tujuan akhir Vladivostok (Rusia). Orangutan jenis kelamin jantan (perkiraan umur 2 Tahun-an) diduga diberi obat jenis Chlorpheniramine (CTM) karena ditemukan sejumlah pil CTM di Koper yang menyebabkan Orangutan tersebut tertidur selama di dalam koper. Selain Orangutan, dalam koper juga ditemukan satwa tidak dilindungi berupa 2 (dua) Tokek dan 4 (empat) Kadal/Bunglon. Selanjutnya pada pukul 01.15 Wita oleh Airport Securuty Screening Section Bandara Ngurah Rai Bandara, pelaku dan Barang Bukti diserahkan ke pihak Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar di Bandara untuk selanjutnya diserahkan ke Balai KSDA Bali dan Polsek Kesatuan Pelaksanaan Pengamanan Pelabuhan (KP3) untuk penanganan lebih lanjut. Dari pengakuan awal pelaku, Orangutan diberikan oleh teman pelaku (Warga Negara Rusia) yang telah lebih dahulu berangkat ke Rusia. Dalam pengakuannya juga Orangutan tersebut dibeli di Jawa pada Street Market (pengakuan pelaku) seharga US $3.000. Orangutan sendiri termasuk hewan dilindungi seperti yang tercantum dalam Lampiran Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Terhadap pelaku sesuai ketentuan UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem terancam pidana penjara maksimal 5 (lima) tahun dan denda maksimal Rp. 100.000.00,- (seratus juta) Rupiah. Saat ini Orangutan diamankan ke kantor Balai KSDA Bali untuk penanganan lebih lanjut dan terhadap proses hukum pelaku ditangani pihak Polsek KP3 Bandara Ngurah Rai. Sesuai dengan arahan langsung Direktur Jenderal KSDAE satwa Orangutan tersebut untuk secepatnya dipulihkan kesehatannya dan akan dipulangkan dan dilepasliarkan ke habitat alaminya di Pulau Kalimantan. Pihak Direktorat Jendreal KSDAE mengapresiasi dan mengucapkan terima kasih terhadap partisipasi aktif dari instansi terkait baik dari Airport Security Bandara, Balai Karantina Pertanian, maupun Polsek KP3 Bandara Ngurah Rai sehingga upaya penyelundupan ini berhasil digagalkan. Sumber : Balai KSDA Bali Penanggung Jawab Berita : I Ketut Catur Marbawa,S.Hut.,M.Si Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai KSDA Bali
Baca Berita

Kenapa Kepala Lapas Kuningan Tanam Pohon Di Gunung Ciremai?

Kuningan, 22 Maret 2019. Suara elang ular bido dan ayam hutan merah menyambut penanaman pohon tadi pagi (22/03). Penanaman ini adalah kolaborasi Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) bersama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIa Kuningan. Acara yang menjadi rangkaian peringatan hari bakti rimbawan ke 36 dan hari bakti kemasyarakatan ke 55 ini berlokasi di wisata alam Lambosir, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Kuningan. Acara ini menyediakan 300 bibit pohon untuk ditanam dengan melibatkan 60 orang lebih termasuk warga binaan. Jenis pohon yang ditanam yakni "ficus", ki putih, hantap, cangkudu, pingku, dan peutag. "Semoga pohon yang ditanam bermanfaat bagi kehidupan", ungkap Samsul Hidayat, Kepala Lapas saat apel sebelum penanaman. Hal senada pun diutarakan San Andre Jatmiko, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Kuningan yang mewakili Kepala Balai TNGC, "Penanaman ini semoga bermanfaat bagi dunia dan akhirat. Selain itu, harapannya kegiatan ini menjadi awal kolaborasi antar dua instansi". Menanam pohon akan bermanfaat bagi kehidupan kita loh sobat. So mari kita tanam pohon, demi hijaunya lingkungan [Teks & image © Tim Admin-BTNGC | 032019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Elang Flores di Bumi Kelimutu

Ende, 22 Maret 2019. Di situs Pesanggrahan Belanda areal wisata Taman Nasional Kelimutu pada hari Kamis 21/3 diadakan acara peluncuran Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Elang Flores sebagai puncak dari rangkaian Workshop Elang Flores. Acara ini dihadiri Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Ir. Wiratno, MSc, Staf Ahli Bupati Ende, Direktur BPEE KLHK, Kepala KSDA dan Taman Nasional wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), Kodim 1602 Ende, Polres Ende, Kejari Ende, SKPD dan jajaran Pemda lingkup Kabupaten Ende, mitra LSM Rain, PILI, Burung Indonesia, serta organisasi dan tokoh masyarakat. Pada acara ini juga dilakukan pencanangan Kelompok Kerja (Pokja) Elang Flores, pengukuhan kelompok masyarakat peduli elang flores Jatabara dan deklarasi bersama konservasi elang flores dan habitatnya dan launching dua buku (dwilogi) Kelimutu. Semoga Elang Flores tetap lestari dengan kerjasama tindakan dan kepedulian masyarakat. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Festival Kolaborasi TNGGP dengan Masyarakat sekitar Kawasan

Cibodas, 22 Maret 2019. Peringatan Hari Bakti Rimbawan ke-36 dan Hari Ulang Tahun Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) ke-39, dan Hari Hutan Sedunia, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) menyelenggarakan “Festival Kolaborasi TNGGP dengan Masyarakat sekitar Kawasan” mengambil tema “Hutan untuk Kesejahteraan Rakyat dan Lingkungan Sehat (Leuweung Hejo, Masyarakat Ngejo)” yang diselenggarakan pada Hari Jum’at, 22 Maret 2019 di Kantor Balai Besar TNGGP – Cibodas. Bagi Balai Besar TNGGP bulan Maret merupakan bulan istimewa, pada tanggal 06 Maret 2019 Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) berulang tahun yang ke-39. Sepuluh hari kemudian tepatnya tanggal 16 Maret 2019 merupakan “Hari Bhakti Rimbawan” yang Ke-36. Tanggal 21 Maret diperingati sebagai “Hari Hutan Sedunia”. Dalam rangka memeriahkan peringatan hari-hari istimewa tersebut, Balai Besar TNGGP melaksanakan festival kolaborasi dengan masyarakat sekitar. Selain untuk memeriahkan acara ulang tahun dan hari bhakti rimbawan, festival ini dilaksanakan sebagai sosialisasi tentang pentingnya keberadaan dan kelestarian kawasan konservasi untuk mejamin kelangsungan dan kesejahteraaan masyarakat. Masyarakat sekitar yang merasakan langsung manfaat keberadaan TNGGP harus memiliki kepedulian dan rasa memiliki serta tanggungjawab dengan keberadaan kawasan konservasi ini. Agenda kegiatan festival masih seperti biasanya yaitu, pameran produk masyarakat dan Kelompok Tani Hutan (KTH) binaan TNGGP dan Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP); Pembagian bibit tanaman dan bor biofori kepada masyarakat (bersama BP DAS Citarum Ciliwung); Pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat (PT Kimia Farna dan Unit Layan Kesehatan KPRI Edelweis); Donor darah (bersama PMI); Khitanan massal (bersama Sedekah Rombongan). Meskipun agenda kegiatan masih sama dengan tahun-tahun lalu, namun festival kali ini agak istimewa, lain dengan acara tahun-tahun sebelumnya. Acara yang selalu dimeriahkan dengan musik tradisional “angklung” oleh para pelajar SD sekitar Cibodas dan musisi jalanan ini dihadiri Menteri LHK beserta jajaran. Disamping itu hadir pula Bupati Kabupaten Cianjur, Muspida, mitra perusahaan swasta, Volunteer TNGGP, serta kelompok masyarkat penggerak wisata (Kompepar) Cibodas. Pada acara kali ini juga dilaksanakan penandatanganan “Deklarasi Peduli Lingkungan dan Kawasan Hutan” oleh para pihak. Pada sambutannya Menteri LHK menyampaikan penghargaan atas pengelolaan TNGGP, termasuk cara penyampaian informasi melalui kilas balik, sesuai dengan era informasi di millennium II, bakhan akan dijadikan standar nasional bagi taman nasional lain di Indonesia. Pengelolaan sudah mengakomodir kebutuhan masyarakat dan menjadi pedorong pembangunan ekonomi dengan tidak mengabaikan prinsif konservasi. Pada kesempatan ini Menteri LHK juga mengharapakan agar hutan kota di Cianjur menjadi percontohan hutan kota se Indonesia dan jadi contoh hut kota se NKRI dan harus jadi spot edukasi. Sementara itu Bupati Cianjur menyampaikan ucapan terimakasih atas pembangunan TNGGP yang mendorong perekonomian Kabupaten Cianjur. Dengan adanya Taman Nasional ini, pendapatan asli daerah meningkat, dan suplay air minum untuk masyatakat Kabupaten Cianjur terjamin. Beliaun juga menyampaikan terimaksih kepada Meneteri LHK yang telah berkenan berkun jung ke destinasi wisata Pongpok Landak, karena kunjungan Menteri LHK, jumlah pengunjung naik drastis. Dalam kesempatan ini telah dibagikan pula pohon buah-buahan kepada masyarakat sebanyak 40.000 batang, dan bor bifori sebanyak 200 buah. Dari kelompok sunatan masal tercatat ada lima anak yang berhasil disunat, serta dari kelompok donor darah tercatat sebanyak 16 orang pendonor dari kalangan pegawai TNGGP, volunteer, dan pelajar PKL. Dalam stand pemeriksan dan pengobatan gratis tercatar 54 orang sempat diperiksa, tapi hanya sebagian kecil yang perlu diobati. Selamat ulang tahun TNGGP, sukses selalu ! Hari jadi TNGGP ditetapkan berdasarkan tanggal diumumkannya kawasan konservasi ini menjadi Taman Nasional yang pertama di Indonesia (bersama empat Taman Nasional lainnya), oleh Menteri Pertanian. Sebelumnya kawasan konservasi di kompleks Gn. Gede Pangrango berstatus sebagai cagar alam tertua di Indonesia, ditetapkan berdasarkan Besluit van den Gouverneur General van Nederlandsch Indie pada tanggal 17 Mei 1889. Sumber : Agus Mulyana dan Andie Martien Kurnia - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Foto :Randi - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Inventarisasi Akses Masyarakat BKSDA Sultra

Kendari, 22 Maret 2019. Balai KSDA Sulawesi Tenggara melakukan kegiatan Inventarisasi Akses Masyarakat di Blok Pengelolaan Taman Wisata Alam Laut (TWAL) Kepulauan Padamarang Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengetahui berbagai sumber/potensi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mendukung kegiatan kemitraan konservasi dan mempermudah dalam menyusun rencana pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan TWAL. Kepulauan Padamarang. Kepala Balai KSDA Sulawesi Tenggara menyampaikan bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi sangat tergantung dengan keberadaan sumber daya alam yang ada di lingkungan sekitarnya sebagai sumber penghidupannya sedangkan kegiatan konservasi seringkali dianggap sebagai penyebab konflik antara pihak pengelola kawasan dengan masyarakat yang tinggal disekitar kawasan konservasi karena dianggap dapat mematikan sumber penghasilan mereka. Sehingga diharapkan kegiatan inventarisasi akses masyarakat ini dapat meminimalisir konflik dan memperoleh dukungan perlindungan kawasan dari masyarakat serta memberi akses terhadap pengelolaan bersama di kawasan konservasi khususnya di TWAL. Kepulauan Padamarang dalam bentuk kemitraan konservasi. Sasaran kegiatan ini yaitu masyarakat desa penyanggga yang melakukan aktifitas ekonomi di sekitar kawasan TWAL. Kepulauan Padamarang dengan metode yang digunakan yaitu observasi lapang dan wawancara langsung dengan masyarakat menggunakan kuisioner yang telah disiapkan. Pada kesempatan ini pula, tim memberikan informasi dan pemahaman tentang TWAL. Kepulauan Padamarang yang merupakan salah satu kawasan konservasi yang harus kita jaga dan lindungi kelestariannya. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tenggara
Baca Berita

Kepala Balai TN Batang Gadis Koordinasi dan Pembinaan Wilayah Kerja

Panyabungan, 21 Maret 2019. Kepala Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) melakukan koordinasi dan pembinaan wilayah kerja pada hari rabu 20 maret 2019 ke Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Kotanopan, Kantor Resort 3 Pastap Julu , dan Kantor Resort 4 Alahan Kae. Dalam kesempatan ini, Kepala Balai TNBG memberikan arahan bahwa dalam melaksanakan tugas harus sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya guna meningkatkan kinerja yang mendukung pengelolaan Taman Nasional Batang Gadis serta memberikan arahan penataan kondisi ruangan kerja dengan meningkatkan sarana prasarana kantor SPTN II, Resort 3 dan Resort 4. Selain itu, Kepala Balai TNBG juga memberi masukan untuk pelaksanaan tugas harus mengetahui wilayah kerja seperti kondisi lapangan, potensi kawasan maupun isu-isu strategis kawasan, pembagian wilayah kerja resort meliputi potensi kawasan dan penataan desa-desa penyangga dalam pengelolaan taman nasional. Kepala Balai juga memberikan usul lokasi Parsabaan (enclave) agar direlokasi ke yang lain karena memiliki biodiversity yang tinggi dalam meningkatkan kelestarian hutan, melakukan diskusi dengan BPGC Ulu Pungkut terkait dengan pemberdayaan masyarakat dalam upaya meningkatkan pengamanan kawasan hutan seperti peningkatan budidaya Kopi Arabika dan diskusi tentang kegiatan pemberdayaan masyarakat desa penyangga dilaksanakan secara berkelanjutan dalam upaya pendampingan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis

Menampilkan 5.905–5.920 dari 11.140 publikasi