Senin, 25 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Balai TN Ujung Kulon Cepat Tanggap Evakuasi Kru Kapal Terdampar Akibat Cuaca Ekstrem

Ujung Kulon, 2 Februari 2025. Cuaca ekstrem yang masih berlangsung menjadi salah satu faktor penyebab tingginya risiko kecelakaan di perairan laut terutama pada jalur pelayaran yang berdekatan dengan kawasan TN Ujung Kulon. Seperti yang terjadi pada Sabtu, 1 Februari 2025 dini hari, kapal tugboat Daya 28 dan tongkang DBS 3028 terdampar di perairan pantai selatan kawasan TN Ujung Kulon tepatnya di Alor Bau Blok Karang Ranjang Seksi PTN Wilayah II Pulau Handeuleum, saat dalam perjalanan dari Pelabuhan Ratu-Sukabumi menuju Bojonegara-Cilegon. Seluruh kru kapal yang berjumlah 11 orang berhasil selamat dengan bantuan para nelayan yang kebetulan berada di sekitar Lokasi Kejadian. Para Nelayan juga membantu mengantar kru kapal untuk melaporkan kejadian kepada Kantor Balai TN Ujung Kulon terdekat Resor Legon Pakis pada tanggal 2 Februari 2025 pukul 10.30 WIB. Setelah kejadian, PT. Nawasena Samudera Indonesia selaku pemilik kapal telah melaporkan kejadian terdamparnya kapal tugboat dan tongkang tersebut kepada Kantor Syahbandar-Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Labuan sebagai instansi yang memiliki kewenangan melaksanakan fungsi keselamatan dan kemananan pelayaran termasuk melakukan pemeriksaan kecelakaan kapal sebagaimana tertuang dalam UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran. Pada Senin, 3 Januari 2025, Menindaklanjuti laporan yang diterima melalui Kepala Resor legon Pakis, selanjutnya Kepala Seksi PTN Wilayah II Ujang Acep, S.Hut mengerahkan petugas lapangan untuk melakukan pengecekan lokasi kejadian dan hasilnya telah dituangkan dalam Laporan Kejadian. Berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, tidak terdapat tumpahan batu bara karena tongkang berlayar tanpa muatan. Petugas Balai TN Ujung Kulon kemudian mengevakuasi para kru ke Kantor Seksi PTN Wilayah II Handeuleum di Desa Ujungjaya. Kapten (Nahkoda) Kapal, Mus Mulyadi menyampaikan terima kasih kepada Balai TN Ujung Kulon atas bantuan dan kesediannya menampung kru kapal di Kantor Seksi. Kepala Balai TN Ujung Kulon, Ardi Andono, S.TP., M.Sc mengimbau peningkatan kesiapsiagaan dan kesiapan pihak yang berwenang dalam menyikapi peristiwa terdamparnya kapal tugboat dan tongkang yang sudah berulang kali terjadi di kawasan perairan TN Ujung Kulon, dan berharap kapal tugboat dan tongkang yang terdampar tersebut dapat segera dikeluarkan dari kawasan perairan TN Ujung Kulon. Hal ini erat kaitannya dengan upaya menjaga dan melindungi habitat badak jawa dari kegiatan selain upaya konservasi sumber daya alam dan ekosistem di TN Ujung Kulon. Salam Lestari! Sumber: Balai TN Ujung Kulon
Baca Berita

Kader Konservasi Alam, Perwakilan GRAS dan Sispala Hadiri Launcing Cashless Payment di TWA Sibolangit

Nurhabli Ridwan, Kader Konservasi Alam menerapkan cashless payment saat memasuki kawasan TWA Sibolangit Sibolangit – 3 Februari 2025. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melakukan launching penerapan pembayaran non tunai untuk masuk kawasan konservasi dipusatkan di Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit yang dihadiri oleh Kepala Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Kepala Resort CA/TWA Sibolangit, Staf Resort, Kadaops Manggala Agni Sibolangit, Perwakilan BNI Cabang Simpang Limun Medan, Founder Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS), Sispala PALH SMAN 2 Medan, Green Ambassador Green Youth Movement (GYM) Sumatera Utara, Alumni Green Leadership Indonesia (GLI) dan Kader Konservasi Alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, pada Jumat (30/1). Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar KSDA Sumatera Utara Elvina Rosinta Dewi, S.Hut., M.I.L mengatakan pengelolaan wisata di 5 kawasan Taman Wisata Alam (TWA) lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara, yaitu :TWA Sibolangit, TWA Lau Debuk-debuk, TWA Sicike-cike, TWA Dolok Tinggi Raja dan TWA Holiday Resort efektif terhitung tanggal 1 Februari 2025, menerapkan kebijakan baru terkait pembayaran tiket tidak lagi dilakukan dengan tunai atau cashless payment. Kegiatan yang dilakukan di kawasan TWA Sibolangit merupakan launching yang penerapannya akan berlaku secara serentak di 4 kawasan TWA lainnya. Dengan penerapan cashless payment maka wisatawan yang berkunjung ke 5 kawasan TWA tersebut wajib melakukan pembayaran dengan menggunakan sistem Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) Penerapan cashless payment ini sebagaimana arahan Menteri Kehutanan Republik Indonesia terkait Pembayaran Non Tunai / Cashless Payment di kawasan konservasi, serta memperhatikan Memorandum Direktur Jenderal KSDAE Nomor M.73/KSDAE/PJLKK/ KSA.3/11/2024 tanggal 13 November 2024 tentang Pembayaran Cashless Payment di KSA , KPA dan TB, dan Memorandum Direktur Jenderal KSDAE Nomor M.2/KSDAE/PJLKK/ KSA.3/1/2025 tanggal 10 Januari 2025 tentang Tenggat Waktu Penerapan Pembayaran Non Tunai (Cashless Payment) untuk kunjungan wisata di KSA , KPA dan TB. Balai Besar KSDA Sumatera Utara bekerjasama dengan BNI Cabang Simpang Limun Medan, melakukan uji coba pembayaran non tunai melalui QRIS, mobile banking maupun dompet digital seperti, OVO, Gopay, Shoope Pay dan lainnya. Kepala Resort CA/TWA Sibolangit, Suparman, SP. menjelaskan Tata Cara Pembayaran Non Tunai / Cashless Payment mulai dari saat pengunjung tiba di lokasi TWA Sibolangit, melaporkan kepada petugas tentang tujuan serta jumlah rombongan, selanjutnya memindai kode QRIS dengan memastikan nominal pembayaran telah sesuai dan menunjukkan bukti pembayaran kepada petugas, barulah kemudian petugas memberikan tiket kepada pengunjung untuk masuk ke kawasan TWA Sibolangit. “Tarif tiket masuk kawasan Taman Wisata Alam untuk wisatawan nusantara di jam kerja Rp.10.000 , wisatawan nusantara di hari libur Rp.15.000 , wisatawan mancanegara Rp.150.000 , kendaraan roda dua Rp.5.000 , kendaraan roda empat Rp.10.000. TWA Sibolangit buka setiap hari mulai pukul 07.00 pagi hingga 17.00 sore, dengan jam terakhir masuk pukul 16.00. Penting untuk memperhatikan jam operasional ini agar pengunjung dapat menikmati keindahan alamnya tanpa terburu-buru,” ujar Suparman. Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Bobby Nopandry, S.Hut., M.A. mengatakan, TWA Sibolangit merupakan salah satu kawasan wisata alam di Sumatera Utara yang berpotensi paling besar penyumbang pendapatan wisata alam, sehingga TWA Sibolangit kelak bisa menjadi barometer. QRIS merupakan kemajuan teknologi saat ini yang juga diterapkan oleh Kementerian Kehutanan. Oleh karena itu pengelolaan TWA Sibolangit harus terus berbenah agar kawasan ini dengan segala potensi serta keunikan yang ada di dalamnya, didukung dengan pelayanan yang prima menjadikannya sebagai daerah tujuan wisata alam prioritas di Sumatera Utara. Founder Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) Nurhabli Ridwan yang juga kader konservasi alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, mencoba menerapkan pembayaran masuk ke TWA Sibolangit menggunakan QRIS. Nurhabli merasakan bahwa pengunaan QRIS untuk masuk ke kawasan TWA lebih praktis dan efesien, cashless payment juga mendukung untuk transparansi dan akuntabilitas dalam bertransaksi. Sumber : Nurhabli Ridwan (GRAS/Kader Konservasi Alam ) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Alarm Perdagangan Satwa Liar: Ribuan Burung Diselundupkan, Puluhan Spesies Dilindungi Berhasil Diselamatkan

Surabaya, 3 Februari 2025. Indonesia kembali dihadapkan pada ancaman besar terhadap keanekaragamanhayatinya. Dalam dua operasi terpisah, ribuan burung liar nyaris lenyap dari alam akibat penyelundupan besar-besaran yang berhasil digagalkan. Dari truk yang dihentikan di Banyuwangi hingga kapal yang dicegat di Pelabuhan Tanjung Perak, jaringan perdagangan ilegal terus beroperasi dengan cara yang semakin licik. Ribuan Burung Liar Diselamatkan di Banyuwangi Banyuwangi (2/2/25) Sebuah truk Fuso yang membawa 6.860 burung dari Lombok menuju Malang dan Pasuruan. Upaya penyelundupan ini digagalkan oleh tim gabungan Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur Satpel Banyuwangi dan Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi. Burung-burung ini, yang terdiri dari Manyar jambul dan Pipit zebra, dikemas dalam 134 boks tanpa ventilasi yang memadai. Akibatnya, 579 ekor ditemukan mati dalam perjalanan. Sementara ribuan lainnya akan menjalani karantina sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya di Lombok. Menariknya, modus operandi penyelundupan ini telah berubah. Jika sebelumnya burung dikirim menggunakan bus antar provinsi, kini pelaku beralih menggunakan truk untuk menghindari deteksi. Pergeseran metode ini mengindikasikan bahwa jaringan perdagangan satwa liar terus beradaptasi untuk menghindari pantauan petugas, membuat upaya pemberantasan semakin menantang. Burung Dilindungi Diselamatkan di Pelabuhan Tanjung Perak Sementara itu, di Surabaya, (1/2/25) tim Matawali Seksi KSDA Wilayah (SKW) 3 Surabaya, Polres Pelabuhan Laut Tanjung Perak, dan Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur Satpel Tanjung Perak, kembali menggagalkan upaya penyelundupan puluhan burung, termasuk spesies dilindungi yang diangkut dengan kapal dari Samarinda. Sebanyak 112 ekor burung berhasil diamankan dari KM Dharma Ferry V, yang terdiri dari Cica Daun Besar (Chloropsis sonnerati) sebanyak 43 ekor hidup dan Tiong Emas (Gracula religiosa) sebanyak 44 ekor hidup, 1 ekor mati. Sedangkan sisanya merupakan jenis yang tidak dilindungi undang-undang yaitu Jingjing petulak (Tephrodornis virgatus) 17 ekor hidup, 1 ekor mati, dan Kapas tembak (Pycnonotus plumosus) 6 ekor hidup. Dua tersangka kini telah diamankan untuk menjalani proses hukum, sementara burung-burung yang selamat dievakuasi ke fasilitas perawatan untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan sebelum dilepasliarkan kembali. Tindak Lanjut: Pemulihan dan Pelepasliaran Satwa Setelah berhasil diselamatkan, burung-burung ini tidak serta-merta langsung dapat dilepasliarkan. Proses pemulihan menjadi langkah penting dalam memastikan mereka memiliki kondisi fisik dan perilaku yang siap untuk kembali ke alam. Untuk kasus di Banyuwangi, sebanyak 6.281 burung yang masih hidup akan menjalani masa karantina dan pemeriksaan kesehatan di Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur sebelum dikembalikan ke habitat aslinya di Lombok. Setelah dinyatakan sehat dan mampu bertahan di alam, mereka akan dilepasliarkan di lokasi yang telah ditentukan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat. Sementara itu, burung-burung dilindungi yang diamankan di Surabaya, seperti Tiong Emas dan Cica Daun Besar, telah dievakuasi ke Kandang Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar KSDA Jawa Timur. Di sana, mereka akan mendapatkan perawatan intensif, termasuk pemulihan gizi, pemantauan kesehatan, serta penyesuaian dengan lingkungan semi-alami sebelum dipertimbangkan untuk pelepasliaran. Proses ini bisa memakan waktu berbulan-bulan tergantung pada kondisi fisik dan psikologis burung-burung tersebut. Bagi satwa yang mengalami cedera atau terlalu lama berada dalam kondisi penangkaran ilegal, rehabilitasi lebih lanjut di pusat konservasi atau suaka margasatwa mungkin menjadi opsi terbaik untuk memastikan kesejahteraan mereka. Ancaman Serius bagi Keanekaragaman Hayati Perdagangan burung liar bukan hanya sekedar bisnis ilegal, tetapi juga ancaman nyata bagi keseimbangan ekosistem. Burung memiliki peran penting dalam penyebaran biji-bijian dan pengendalian populasi serangga. Jika eksploitasi terus berlangsung tanpa pengawasan, dampaknya akan merusak rantai kehidupan yang lebih luas. Kasus-kasus ini menjadi peringatan bahwa perlindungan satwa liar harus diperketat. Tidak cukup hanya dengan penindakan hukum, tetapi juga dengan edukasi masyarakat untuk menghentikan permintaan terhadap burung tangkapan liar. Jika kita tidak segera bertindak, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya akan mengenal burung-burung ini dari gambar dan cerita belaka. Bersama, kita jaga keanekaragaman hayati Indonesia. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Muda Balai Besar KSDA Jatim
Baca Berita

Peringati Hari Lahan Basah Sedunia di TWA. Gunung Baung: Tanam Pohon, Berbagi Kehidupan untuk Masa Depan Hijau

Pasuruan, 1 Februari 2025. Di tengah dinamika perubahan iklim dan urbanisasi yang semakin pesat, langkah nyata untuk menyelamatkan alam menjadi sangat penting. Inilah mengapa pada 31 Januari – 1 Februari 2025, Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Baung menjadi panggung aksi inspiratif dalam rangka merayakan Hari Lahan Basah Sedunia yang bertajuk "Tanam Pohon, Berbagi Kehidupan". Acara ini wujud sinergi antara inovasi, kepedulian, dan kolaborasi lintas sektor. Diprakarsai oleh Mahasiswa Pecinta Alam MAPALIPMA - Institut Pertanian Malang (IPM) serta dukungan penuh dari Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim), PT. Multi Agroforestindo, Javan Langur Center serta Yayasan Gajah Sumatera (YAGASU). Kegiatan ini mengumpulkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh masyarakat Desa Kertosari, organisasi pecinta alam (SISPALA dan MAPALA), serta Kader Konservasi binaan BBKSDA Jatim yang tergabung dalam Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jawa Timur. Kehangatan acara dimulai tepat pukul 19.00 WIB pada malam (31/01/25). Dengan sambutan penuh semangat dari Mamat Ruhimat, S.H., Kepala Seksi KSDA Wilayah VI Probolinggo, sebagai perwakilan dari Balai Besar KSDA Jawa Timur. Energi positif semakin terasa dengan kehadiran Dr. Ir. Siti Farida, M.P., Rektor Institut Pertanian Malang, yang mengajak semua pihak untuk berpadu dalam menciptakan solusi berkelanjutan bagi lingkungan. Tak hanya seremonial, acara ini juga menghadirkan sarasehan interaktif oleh para pemantik diskusi dari BBKSDA Jatim, Himpunan Alumni IPM, serta dari Yayasan Gajah Sumatera yang menyajikan perspektif segar mengenai peran vital pohon dan lahan basah dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Diskusi ini menggarisbawahi betapa pentingnya nilai pohon dan lahan basah. Pohon dan lahan basah serta kawasan konservasi khususnya TWA. Gunung Baung secara umum tidak hanya berperan sebagai habitat bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga sebagai penyangga sosial-ekonomi melalui penyediaan air bersih, pengendalian banjir, dan dukungan terhadap kehidupan masyarakat sekitar. Sebagai aksi nyata, Sabtu (01/02/25) dilakukan penanaman 295 bibit pohon yang terdiri dari jenis Bambu, Kesambi, Beringin, Kenitu, dan Nangka di tiga lokasi strategis. Pada area Blok rehabilitasi TWA. Gunung Baung, Areal batas konsesi IUPSWA PT. Multi Agroforestindo, serta jalan akses desa menuju TWA. Gunung Baung. Semangat “Tanam Pohon, Berbagi Kehidupan” ini tak hanya terpancar dari penanaman pohon, melainkan juga dari pengakuan mendalam terhadap nilai lahan basah. Seiring perayaan Hari Lahan Basah Sedunia yang jatuh pada tanggal 2 Februari yang mengangkat tema "Lahan Basah dan Manusia", kita diingatkan bahwa lahan basah adalah sumber kehidupan, penyedia habitat, sumber air, dan benteng alami terhadap perubahan iklim. Di era di mana inovasi dan aksi nyata harus berjalan beriringan, kegiatan ini menginspirasi kita untuk berpikir dan bertindak lebih hijau. Mari bersama-sama membangun masa depan yang berkelanjutan dengan menanam pohon, melestarikan lahan basah, dan menyebarkan semangat konservasi yang modern dan inklusif. Bersama kita bisa menciptakan bumi yang lebih hijau, lebih asri, dan penuh kehidupan. Tanam pohon, rawat lahan basah, berbagi kehidupan untuk semua. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Warga Simalungun Serahkan Kucing Kuwuk

Aldi Wansyah menyerahkan Kucing Kuwuk ke petugas Medan, 31 Januari 2025. Siang menjelang sore, pada Kamis (30/1), Aldi Wansyah, warga Huta III Lingga, Desa Lingga, kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun, menyambangi kantor Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Kehadirannya untuk menyerahkan 1 (satu) ekor satwa liar dilindungi jenis Kucing Kuwuk (Prionailurus bengalensis). Dalam keterangannya kepada petugas, Aldi Wansyah menjelaskan bahwa satwa tersebut ditemukan pada Minggu (26/1) di areal kebun sawit PT. Perkebunan Nusantara IV Laras, saat mencari jamur. Aldi menemukan Kucing Kuwuk dalam keadaan gigi tersangkut di tanaman menjalar, dan dalam kondisi lemah. Kemudian ia mencoba memberi makan, namun satwa tersebut tidak bernafsu memakannya. Timbul keinginan Aldi untuk melepasliarkannya, namun karena melihat kondisi lemah akhirnya niatnya diurungkan dan berencana untuk membawanya ke Medan guna merawat Kucing Kuwuk tersebut. Ketika bertemu dengan temannya, Aldi diingatkan bahwa satwa tersebut merupakan jenis yang dilindungi undang-undang, sehingga ia berusaha mencari tahu melalui internet tentang satwa Kucing Kuwuk, dan menemukan informasi bahwa Balai Besar KSDA Sumatera Utara adalah instansi pemerintah yang menangani masalah satwa-satwa liar dilindungi. Atas dasar informasi itulah Aldi Wansyah kemudian mendatangi kantor Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk maksud menyerahkannya. Kucing Kuwuk yang diserahkan Aldi Wansyah Kedatangan Aldi Wansyah disambut baik oleh petugas. Tindakan medis segera dilakukan dengan pemeriksaan kondisi fisik dari Kucing Kuwuk oleh dokter hewan, dan hasilnya satwa terlihat dalam keadaan sehat, diperkirakan berumur sekitar 3 bulan dengan jenis kelamin betina. Untuk proses perawatan dan rehabilitasi sebelum nantinya dilepasliarkan, Kucing Kuwuk dievakuasi ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit. Apresiasi dan terima kasih tentunya disampaikan kepada Aldi Wansyah, sebagai warga yang sudah menunjukkan kepeduliannya dalam melindungi dan menyelamatkan Kucing Kuwuk. Semoga ini menjadi contoh dan inspirasi bagi warga lainnya untuk ikut peduli dalam penyelamatan dan pelestarian satwa liar. Sumber : Ani, SP. (Polhut Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Calon Dokter Hewan UNAIR Pelajari Penanganan Satwa Hasil Penyelamatan di WRU BBKSDA Jawa Timur

Sidoarjo, 30 Januari 2025. Bertempat di Aula Balai Besar KSDA Jawa Timur, lima mahasiswa semester 3 dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH-Unair) telah menyelesaikan program magang selama dua minggu di Kandang Transit Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar KSDA Jawa Timur, 30 Januari 2025. Dalam presentasinya, mereka mendapatkan pengalaman langsung dalam menangani satwa liar hasil penyelamatan, mulai dari pemeriksaan kesehatan hingga translokasi satwa. Di tengah kompleksitas dunia konservasi, memahami aspek medis, etika, serta kesejahteraan satwa menjadi kunci utama dalam menangani satwa liar. Program ini membuka wawasan bagi calon dokter hewan tentang bagaimana satwa yang diselamatkan harus dikelola dengan prosedur yang tepat sebelum mereka bisa dikembalikan ke alam atau ditempatkan di lembaga konservasi. Mengasah Keterampilan: Dari Pemeriksaan Kesehatan hingga Manajemen Stres Satwa Selama magang, mahasiswa terlibat langsung dalam berbagai kegiatan krusial yang menjadi bagian dari tugas rutin WRU, di antaranya: Pelajaran Berharga dari Lapangan: Menangani Satwa Liar Butuh Ketelitian dan Etika Hari Purnomo, Polisi Kehutanan Madya sekaligus sebagai Kapokja Perencanaan Perlindungan dan Pengelolaan Kawasan Konservasi serta Penyelamatan TSL BBKSDA Jawa Timur, menekankan bahwa semua kegiatan magang ini adalah bagian dari rutinitas yang dilakukan di kandang transit WRU. Magang ini menjadi ajang pembelajaran yang sangat bermanfaat bagi calon dokter hewan untuk memahami tahapan administratif serta prosedur medis dalam menangani satwa liar hasil penyelamatan. “Menangani satwa liar bukan hanya soal keahlian teknis, tetapi juga tentang memahami perilaku satwa dan berpikir secara luas,” ujarnya. “Setiap jenis satwa memiliki karakteristik unik, sehingga pendekatan dalam penanganannya juga harus disesuaikan,” imbuh Syam Hendrawan, Koordinator Kandang Transit WRU. Ia juga menambahkan bahwa di masa depan kegiatan magang seperti ini diharapkan dapat semakin berfokus pada identifikasi potensi penyakit pada satwa hasil sitaan, sehingga langkah penanganannya bisa lebih tepat dan efektif. Refleksi Mahasiswa: Dari Teori ke Realitas Bagi para mahasiswa yang mengikuti program ini, pengalaman di WRU memberikan perspektif baru tentang dunia konservasi satwa liar. Mereka menyadari bahwa penyelesaian masalah di lapangan tidak semudah yang dikaji dalam teori. Ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam menangani satwa, mulai dari aspek medis hingga regulasi dan kesejahteraan satwa itu sendiri. Magang ini bukan hanya tentang mendapatkan ilmu baru, tetapi juga tentang membangun kesadaran dan kepedulian terhadap satwa liar yang terus menghadapi ancaman perdagangan ilegal, perburuan, serta kerusakan habitat. Dengan semakin banyaknya calon dokter hewan yang memiliki pengalaman langsung di lapangan, diharapkan masa depan konservasi satwa liar di Indonesia bisa lebih terjaga. Kegiatan ini bukan hanya sekadar magang, tetapi juga langkah awal bagi generasi baru dokter hewan untuk memahami bahwa konservasi satwa liar membutuhkan lebih dari sekadar teori, diperlukan dedikasi, keterampilan, dan kepedulian untuk benar-benar melindungi mereka. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Seksi KSDA Wilayah I Kediri BBKSDA Jatim Selamatkan 42 Satwa Selama 2024

Kediri, 31 Januari 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur memiliki program dalam penyelamatan satwa liar, yaitu MATAWALI. MATAWALI merupakan program penyelamatan satwa liar ilegal melalui kolaborasi multipihak yang dimiliki oleh BBKSDA Jawa Timur. Program perlindungan satwa liar ini telah berhasil menyelamatkan ribuan satwa liar yang telah ditangkap dan diperdagangkan yang masuk di wilayah Jawa Timur. Satwa-satwa tersebut didapatkan melalui kegiatan patroli bersama, penyerahan dari pihak terkait seperti TNI, Polri, dan Karantina, hingga penyerahan sukarela yang dilakukan oleh masyarakat. Program ini mendapatkan penghargaan dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada bulan Agustus 2024 lalu sebagai kategori penyelamatan satwa liar terbanyak Unit Pelaksana Teknis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Meskipun berbagai cara pencegahan telah dilakukan, kegiatan perburuan dan perdagangan satwa liar yang dilindungi pemerintah melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi masih marak. Menurut (Jepson, 2010) bahwa satu dari tiga keluarga di enam kota, yaitu Jakarta, Bandung, Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan Denpasar memelihara burung, bahkan dua dari tiga keluarga tersebut pernah memelihara burung dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Perdagangan satwa liar tersebut 95% berasal dari perburuan liar atau ditangkap dari alam, bukan dari hasil penangkaran yang legal (Fauna, 2010). Satwa liar, terutama jenis-jenis avifauna dijual antara Rp400.000-Rp500.000 di pedesaan dan menjadi Rp500.000-5.000.000 jika dijual di perkotaan (Iskandar, 2014) atau berkisar Rp1.000.000-Rp7.000.000 (Utami, Malona, Aulia, Rahayu, & Kuntjoro, 2021). Sebagai bagian dari BBKSDA Jawa Timur sekaligus pemangku wilayah yang memiliki tugas melakukan kegiatan perlindungan dan pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar, Seksi KSDA Wilayah I Kediri telah melakukan upaya penyelamatan flora dan fauna dengan baik. Seksi KSDA Wilayah I Kediri turut menjadi penyumbang kegiatan evakuasi satwa liar dalam program MATAWALI. Jumlah satwa liar yang dievakuasi atau diselamatkan semakin meningkat setiap tahunnya. Dari tahun 2020 hingga Oktober 2024 sebanyak 136 individu. Jenis yang paling banyak adalah jenis dari kelas mamalia, yaitu 60 individu (lihat Tabel). Satwa liar tersebut didapatkan melalui kegiatan evakuasi maupun penyerahan secara sukarela dari masyarakat sekitar. Banyaknya satwa hasil evakuasi tersebut tak lepas dari kegiatan-kegiatan kampanye pelestarian yang telah dilakukan seperti dialog di radio, unggahan media sosial, pendidikan lingkungan sejak dini, dan lainnya. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polhut Ahli Pertama pada Seksi KSDA Wilayah I Kediri
Baca Berita

Era Baru Wisata Konservasi: Balai Besar KSDA Jawa Timur Resmi Terapkan Cashless Payment

Banyuwangi, 31 Januari 2025. Tepat tengah malam, pukul 00.00 WIB, Jumat (31/1/2025), sebuah langkah besar dalam modernisasi pengelolaan kawasan konservasi resmi dimulai. Bertempat di Pal Tuding, Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Nur Patria Kurniawan, secara simbolis meluncurkan sistem pembayaran digital atau Cashless Payment untuk tiket masuk kawasan konservasi di wilayahnya. Peluncuran ini tidak sekadar seremoni, tetapi menjadi bagian dari transformasi sistem pengelolaan wisata alam berbasis digital di Indonesia. Hadir dalam acara ini berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pelaku wisata lokal, seperti penyedia jasa UMKM, pemandu wisata, pengelola troli Ijen, hingga pedagang asongan, yang selama ini berperan penting dalam ekosistem wisata Kawah Ijen. Penyalaan sirine menjadi simbol dimulainya era baru transaksi nontunai di kawasan konservasi. Transformasi Digital Wisata Alam Kebijakan Cashless Payment ini merupakan implementasi dari regulasi nasional yang mewajibkan seluruh Taman Nasional (TN) dan Taman Wisata Alam (TWA) serta beberapa kawasan Suaka Margasatwa di Indonesia untuk beralih ke sistem pembayaran digital paling lambat 31 Januari 2025. Dalam implementasinya, BBKSDA Jawa Timur, secara bertahap telah memastikan kesiapan penuh dalam penerapan kebijakan ini. Implementasi ini akan diberlakukan di 3 kawasan Taman Wisata Alam (TWA) yaitu TWA. Gunung Baung, TWA. Tretes, dan TWA. Kawah Ijen serta sebuah kawasan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang. Untuk memastikan kelancaran transisi ini, BBKSDA Jawa Timur telah melakukan serangkaian langkah strategis, termasuk penyediaan infrastruktur digital, peningkatan kapasitas SDM, serta bimbingan teknis dan sosialisasi bagi pengelola kawasan, yang dilakukan bekerja sama dengan Bank Mandiri Jawa Timur. Manfaat Cashless Payment bagi Wisata Konservasi Transformasi menuju cashless tourism di kawasan konservasi membawa sejumlah manfaat, di antaranya: Meningkatkan Efisiensi, proses transaksi menjadi lebih cepat dan praktis, mengurangi antrean panjang di pintu masuk. Transparansi dan Akuntabilitas, sistem digital mengurangi potensi kebocoran pendapatan serta meningkatkan transparansi pengelolaan keuangan. Keamanan dan Kenyamanan, mengurangi risiko peredaran uang tunai dan meningkatkan pengalaman wisata yang lebih modern. Mendukung Konservasi, mengurangi penggunaan kertas dalam transaksi tiket, sejalan dengan prinsip ramah lingkungan. Dengan penerapan sistem pembayaran digital ini, BBKSDA Jatim optimistis dapat menciptakan wisata konservasi yang lebih profesional, adaptif, dan berkelanjutan. Masyarakat dan wisatawan diharapkan mendukung penuh kebijakan ini sebagai bagian dari evolusi pengelolaan wisata alam di Indonesia. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Beasiswa Untuk Penelitian Orangutan

Orangutan dan habitatnya menjadi objek penelitian Medan, 30 Januari 2025. Balai Besar KSDA Sumatera Utara mengikat kerja sama dengan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari (YOSL) sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Kerja Sama Nomor : PKS.366/K.3/TU/PK/1/2022 dan Nomor : 05/PKS/ YOSL/I/2022 tanggal 24 Januari 2022 tentang Penguatan Fungsi Konservasi Keanekaragaman Hayati Melalui Dukungan Program Konservasi Orangutan dan Habitatnya, Primata Dilindungi, dan Beruang Madu di Wilayah Kerja Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara Dalam pelaksanaannya, kegiatan-kegiatan tahunan yang dirumuskan serta disepakati tertuang di Rencana Kerja Tahunan (RKT). Pada RKT III Tahun 2024, ada serangkaian kegiatan yang direncanakan dan sudah direalisasikan, salah satunya adalah Program Beasiswa Peduli Orangutan yang diberikan kepada 5 (lima) orang mahasiswa sebagai penerima beasiswa. Kelima mahasiswa ini berasal dari berbagai universitas (perguruan tinggi) yang melakukan penelitian (riset) tentang orangutan dan habitatnya di wilayah kerja Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Adapun kelima mahasiswa tersebut adalah, mahasiswa Biologi Universitas Syiah Kuala, Aceh, sebanyak 1 (satu) orang, melakukan penelitian tentang Perilaku Orangutan di Orangutan Heaven. Kemudian mahasiswa Biologi Universitas Negeri Medan (Unimed) sebanyak 2 (dua) orang, melakukan penelitian tentang Sarang Orangutan Pada Habitat Terisolasi di Batang Serangan, Kabupaten Langkat serta tentang Bakteri Selulotik Dari Feses Orangutan di SRA Bukit Mas dan Orangutan Heaven. Berikutnya mahasiswa Biologi Universitas Sumatera Utara (USU) sebanyak 1 (satu) orang, yang melakukan penelitian tentang Enterobacteriaceae Dari Feses Orangutan di SRA Bukit Mas. Dan terakhir, mahasiswa Biologi Universitas Medan Area (UMA) sebanyak 1 (satu) orang dengan penelitian tentang Animal Welfare di Orangutan Heaven. Selain itu, dalam Program Beasiswa Penelitian Orangutan Tapanuli, juga telah diberikan kepada 7 (tujuh) orang mahasiswa yang melakukan penelitian tentang Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) dan Habitatnya di Ekosistem Batang Toru. Ketujuh mahasiswa tersebut, masing-masing 1 (satu) orang mahasiswa Biologi Universitas Riau (UNRI) melakukan penelitian tentang Pakan Orangutan Tapanuli di Dusun Sitandiang, Kecamatan Sipirok. 1 (satu) orang mahasiswa Teknik Pertambangan Universitas Syiah Kuala melakukan penelitian tentang Analisis Spasial Habitat Orangutan Tapanuli. 2 (dua) orang mahasiswa Biologi Universitas Padang (UNP) Sumatera Barat melakukan penelitian tentang Pengembangan E-booklet Pembelajaran Biologi Bermuatan Konservasi Orangutan Tapanuli dan tentang Perilaku Sosial Orangutan Tapanuli di Hutan Batang Toru. Kemudian, 1 (satu) orang mahasiswa Biologi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) melakukan penelitian tentang Pengembangan Modul Biologi Berbasis Konservasi Orangutan Tapanuli. 1 (satu) orang mahasiswa Biologi Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Sriwigama melakukan penelitian tentang Karakteristik Habitat Sarang Orangutan Tapanuli, dan 1 (satu) orang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Pemerintahan Universitas Sumatera Utara (Fisip USU) melakukan penelitian tentang Peran Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dalam Penanganan Konflik Manusia dan Orangutan Tapanuli. Pemberian beasiswa ini sudah melalui proses tahapan penilaian sebelumnya oleh tim juri yang berasal dari berbagai unsur baik birokrat, akademisi maupun praktisi. Respon yang luar biasa dari peserta yang mengikuti mengindikasikan besarnya minat khususnya kalangan generasi muda yang ingin mempelajari dan mendalami kehidupan satwa liar Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Pemberian beasiswa ini juga tentunya memberi manfaat yang cukup signifikan dalam mengembangkan pengetahuan tentang orangutan dari berbagai perspektif, sehingga memperkaya wawasan informasi dan referensi. Selain itu, beasiswa juga menjadi motivasi dan inspirasi bagi peneliti-peneliti yang berasal dari kalangan generasi muda akademisi untuk terus mencari dan menggali hal-hal yang baru tentang orangutan. Melalui penelitian yang dilakukan oleh para peneliti muda tentunya menawarkan bukan hanya pengetahuan tetapi juga rekomendasi-rekomendasi penting dalam upaya penyelamatan dan pelestarian orangutan, dengan kata lain hasil penelitian berguna menjadi rujukan (referensi) dalam pengambilan keputusan oleh pengambil kebijakan. Melihat program ini sangat bermanfaat dan berdampak positif, maka ekspektasinya kedepan program ini dapat terus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan. Sinergitas dan kolaborasi Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama lembaga mitra Yayasan Orangutan Sumatera Lestari - Orangutan Information Centre (YOSL-OIC) bisa menjadikan penelitian (riset) sebagai role model dalam pengembangan pengetahuan serta upaya penyelamatan dan pelestarian Orangutan Sumatera dan Orangutan Tapanuli beserta habitatnya agar tetap lestari. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Soft launching Cashless Payment Diikuti Aksi Bersih Sampah

Barito Kuala, 29 Januari 2025 – Balai KSDA Kalimantan Selatan melaksanakan Launching Cashless Payment Tiket Masuk Wisata dan clean up bersama di Taman Wisata Alam (TWA) P. Kembang. Kegiatan dipimpin oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, dihadiri oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kab. Barito Kuala, Sekdis Dinas Kepemudaan Olahraga Budaya dan Pariwisata Kab. Barito Kuala, Kepala Satuan Polairud Polres Barito Kuala, Camat Alalak, Kepala Desa Pulau Alalak dan Masyarakat Mitra Pariwisata TWA Pulau Kembang. Metode Cashless Payment secara resmi diimplementasikan diseluruh Taman Nasional (TN) dan Taman Wisata Alam (TWA) di Indonesia paling lambat mulai tanggal 31 Januari 2025. Di wilayah BKSDA Kalimantan Selatan sendiri terdapat 4 TWA yang siap untuk menerapkan Cashless Payment bagi pengunjung wisata. Kesiapan ini terdiri dari penyediaan sarpras dan juga kesiapan SDM dimana sebelumnya telah dilakukan bimtek dan sosialisasi berkolaborasi dengan pihak BRI. Launching yang dilanjutkan dengan aksi bersih sampah bersama seluruh tamu undangan bertujuan untuk mengkampanyekan sikap peduli terhadap kawasan konservasi khususnya kebersihan kawasan wisata alam. “Sebelum tanggal 31 Januari 2025 cashless payment harus sudah jalan dan sebelum tenggat waktu yang ditentukan, seluruh TWA di BKSDA Kalimantan Selatan telah berhasil mengimplementasikannya. Disaat yang bersamaan kita juga harus memperhatikan unsur keamanan dan kenyamanan pengunjung. Aksi bersih sampah menjadi momen untuk menguatkan kebersamaan kita dalam mengelola sampah. Setelah momen ini kita tidak bisa berhenti sampai disini, perlu kolaborasi dan dukungan dari semua pihak dalam menyusun dan mengimplementasikan rancangan pengelolaan sampah sehingga menjadikan Kawasan wisata yang bersih dari sampah” ujar Agus Ngurah Krisna K. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kab. Barito Kuala, Abdi Maulana, dalam sambutannya menyampaikan “Salah satu focus pemerintah salah satunya adalah pengelolaan sampah, sampah akan selalu ada selama ada aktivitas manusia dan akan menjadi permasalahan apabila tidak terkelola dengan baik. Dengan adanya kegiatan aksi bersih sampah bersama sebagai bukti kepedulian kita terhadap permasalahan sampah khususnya pada Kawasan TWA Pulau Kembang”. Lebih lanjut disampaikan bahwa “TWA Pulau Kembang yang dikelilingi oleh perairan, maka dilarang untuk membuang sampah ke air dan juga dilarang membakar kecuali dengan peralatan yang cukup karena pembakaran dibawah suhu 900 °C akan berdampak buruk bagi lingkungan maupun masyarakat yang ada di sekitar. Sehingga perlu dilakukan diskusi lebih lanjut terkait pengelolaan sampah khususnya di TWA Pulau Kembang. Langkah awal yang dapat dilakukan dalam mengelola sampah yaitu menyediakan tempat pembuangan sampah dan memasang baliho guna meningkatkan kesadaran pengunjung akan pentingnya menjaga kebersihan lokasi wisata dari sampah. Semoga momen kali ini dapat menjadi pemicu untuk mengelola lingkungan lebih baik lagi”. Dalam rangka meningkatkan pengelolaan wisata, kedepannya diharapkan dapat melibatkan pihak terkait seperti dukungan dari Dinas Pariwisata Kab. Barito Kuala sehingga tercipta inovasi-inovasi baru yang mampu mendukung kemajuan wisata khususnya di Kabupaten Barito Kuala dan juga dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup Kab. Barito Kuala terkait dengan pengelolaan sampah dari kunjungan wisata. Tidak luput diucapkan terimakasih kepada Satuan Polairud Polres Barito Kuala yang telah melakukan pengamanan keselamatan terhadap wisatawan yang sedang menikmati liburan di TWA Pulau Kembang. Mari bijak dalam berwisata alam dengan tidak meninggalkan dan membuang sampah sembarangan, dan nikmati kemudahan pembayaran melalui metode pembayaran digital yang praktis !!! (Ryn) Sumber: Siti Sofiatun Nafiah, S.Hut. - Penyuluh SKW II dan Riyan Susilo Adji, S.Kom - Prakom BKSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

66 Ekor Burung Kiriman dari Bali Dikembalikan ke Habitat Alami di Gunung Ijen

Banyuwangi, 25 Januari 2025. Upaya pelestarian satwa liar kembali membuahkan hasil. Tim Penyelamatan Satwa Liar (Matawali) dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 13 Banyuwangi -Situbondo Bondowoso dan Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi Balai Besar KSDA Jawa Timur, berhasil mengamankan kiriman burung liar yang diselundupkan dari Bali menuju Jember menggunakan bus, Sabtu (25/1). Laporan pengiriman illegal ini diterima dari Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur Satpel Ketapang, Banyuwangi. Setelah dilakukan identifikasi oleh tim di lokasi, ditemukan total 72 ekor burung liar yang terdiri dari Merbah Cerukcuk sebanyak 68 ekor dan Sikatan Rimba Dada Coklat sebanyak 4 ekor. Sayangnya, enam ekor burung ditemukan dalam kondisi mati, sementara 66 lainnya masih hidup dan disimpan dalam lima kotak pengangkut. "Rencananya, seluruh burung yang berhasil diselamatkan ini akan diserahkan ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur. Setelah itu, kami bersama tim BKHIT akan melakukan proses pelepasliaran di kawasan konservasi Gunung Ijen," ungkap Dwi Putro Sugiarto, Kepala Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi. Kasus ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan terhadap peredaran satwa liar illegal serta perlunya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian ekosistem. Proses pelepasliaran ini diharapkan dapat membantu populasi satwa liar kembali stabil di habitat alaminya. BBKSDA Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus menjaga kelestarian sumber daya alam hayati dengan langkah tegas terhadap upaya peredaran illegal satwa liar. Gunung Ijen dipilih sebagai lokasi pelepasliaran karena dianggap memiliki ekosistem yang sesuai untuk mendukung kelangsungan hidup burung-burung tersebut. Kepada masyarakat, diimbau untuk melaporkan aktivitas mencurigakan yang terkait perdagangan satwa liar ke pihak berwenang demi menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati Indonesia. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Beruang Kucing Alias Binturong Diserahkan Warga Malang

Malang, 23 Januari 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur kembali menunjukkan komitmennya dalam melindungi satwa liar melalui aksi evakuasi seekor Binturong (Arctictis binturong) di kawasan Sawojajar, Kota Malang. Aksi ini dilakukan setelah warga setempat, Aditya, melaporkan melalui Call Center BBKSDA Jatim 082232115200 untuk menyerahkan satwa tersebut secara sukarela. Laporan diterima pada 22 Januari 2025 oleh Kepala Seksi KSDA Wilayah VI Probolinggo yang ditindaklanjuti Tim Matawali RKW 18 Malang berkoordinasi dengan personel RKW 17 Pasuruan untuk melakukan evakuasi pada sore hari, 23 Januari 2025. Adapun lokasi penyerahan berada di Jl. Danau Batur, Sawojajar, Kota Malang. Proses evakuasi berlangsung lancar, dan saat ini satwa direhabilitasi sementara ke kandang transit di Wildlife Rescue Unit (WRU) – BBKSDA Jatim. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan satwa dan mempersiapkan proses rehabilitasi lebih lanjut sebelum dilepasliarkan ke habitat aslinya. Mengenal Binturong: Satwa Unik dan Rentan Binturong, atau dikenal juga sebagai "beruang kucing," merupakan mamalia arboreal besar yang memiliki keunikan tersendiri. Satwa ini berasal dari keluarga Viverridae dan dikenal karena ekornya yang prehensil (dapat digunakan untuk menggenggam), sehingga memungkinkannya untuk bergerak lincah di antara pepohonan. Binturong memiliki bau khas yang menyerupai popcorn mentega (Pernah mencium aroma Binturong ?), yang berasal dari kelenjar aroma di tubuhnya dan berfungsi sebagai alat komunikasi. Secara alami, Binturong tersebar di wilayah Asia Tenggara, termasuk India timur laut, Bangladesh, Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Indonesia (terutama di Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Jawa). Satwa ini menghuni hutan hujan tropis, terutama di area dengan tutupan pohon yang lebat. Namun, populasi Binturong di alam terus mengalami penurunan drastis. Berdasarkan data dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), status konservasi Binturong saat ini adalah Rentan (Vulnerable). Penurunan ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti perburuan untuk perdagangan satwa liar ilegal, kerusakan habitat akibat deforestasi, serta fragmentasi hutan sebagai habitat alaminya. Pentingnya Peran Masyarakat dalam Konservasi Tindakan sukarela masyarakat seperti yang dilakukan oleh Aditya sangat diapresiasi dan menjadi contoh nyata kontribusi dalam pelestarian satwa liar. "Kami berterima kasih atas kesadaran masyarakat yang semakin meningkat dalam menjaga kelestarian alam dan satwa liar," ujar Mamik Nugroho, Pengendali Ekosistem Hutan – BBKSDA Jatim yang melakukan evakuasi tersebut. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Kunjungan Wakil Menteri Kehutanan ke TWA Pulau Bakut

Barito Kuala, 25 Januari 2025 – Balai KSDA Kalimantan Selatan menerima kunjungan kerja Wakil Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Bapak dr. H. Sulaiman Umar, ke Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut pada hari Sabtu tanggal 25 Januari 2025. Wakil Menteri Kehutanan mengapresiasi upaya pengelolaan Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut dalam menerapkan sistem pembayaran non tunai (cashless payment) bagi pengunjung. Langkah ini tidak hanya memudahkan pengunjung dalam melakukan transaksi, tetapi juga mendukung upaya pemerintah dalam mewujudkan sistem pembayaran yang lebih efisien, transparan, dan ramah lingkungan. `x Selanjutnya wisata dimulai dengan menyusuri titian kayu ulin sepanjang 630 meter untuk melakukan pemantauan dan atraksi aktivitas satwa jenis Bekantan (Nasalius lavartus) serta melihat kondisi habitat dan keberadaan tumbuhan dan satwa liar lainnya. Kunjungan diakhiri dengan penanaman pohon ketapang kencana (Terminalia mantaly) dan penyampaian arahan dalam diskusi bersama kepala UPT Kemenhut Kalsel. Dalam arahannya Beliau menyampaikan apresiasi kepada BKSDA Kalsel yang telah berhasil meningkatkan populasi bekantan di TWA Pulau Bakut dari 50 individu pada tahun 2015 menjadi 150 individu pada tahun 2024. Selain itu juga mendorong upaya peningkatan kunjungan ke TWA Pulau Bakut melalui pengembangan wisata edukasi dan penyelenggaraan event tahunan. Ayoo sanak kita jaga bersama kelestarian hutan beserta keanekaragaman hayatinya. Wisata alam yang berkembang, akan menjadi jasa lingkungan yang menyehatkan pengunjung, memberikan manfaat ekonomi bagi negara dan masyarakat sekitarnya. (Ryn) Sumber: Riyan Susilo Adji, S.Kom - Prakom Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Tumbuhan dan Satwa Tak Bertuan di KM. Sinabung Diamankan Tim Matawali BBKSDA Jatim

Surabaya, 25 Januari 2025. Sebuah temuan mengejutkan terjadi di atas Kapal Motor (KM) Sinabung saat sandar di Pelabuhan Laut Tanjung Perak Surabaya. Berdasarkan laporan dari pihak operasional PT. PELNI, Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah III bersama sejumlah instansi terkait, melakukan pemeriksaan pada dua kardus yang diduga berisi satwa liar dan tumbuhan dilindungi, 25 Januari 2025. Hasilnya pemeriksaan mengungkapkan isi kedua kardus yang berisi spesies langka dan dilindungi. Kardus pertama ditemukan berisi dua ekor burung yang termasuk dalam daftar satwa dilindungi, yaitu burung Perkici Pelangi (Trichoglossus haematodus) dan Burung Nuri Sayap Hitam (Eos cyanogenia). Sementara itu, kardus kedua berisi 13 rumpun anggrek, terdiri dari beberapa jenis, termasuk Grammatophyllum sp. dan Dendrobium sp., yang belum bisa diidentifikasi secara lengkap karena belum berbunga. Seluruh satwa dan tumbuhan tersebut segera dievakuasi untuk mendapat perawatan lebih lanjut di Kandang Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar KSDA Jawa Timur. Proses pemeriksaan kesehatan dan identifikasi lebih lanjut akan dilakukan guna memastikan kelangsungan hidup spesies yang terancam punah ini. Keberhasilan ini menggambarkan komitmen dari berbagai pihak, termasuk Pomal Armada II, Direktorat Polairud Polda Jatim, KSOP Tanjung Perak, dan Balai Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan (BKHIT), dalam menjaga kelestarian satwa dan tumbuhan Indonesia yang terancam punah. Sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi antara lembaga pemerintah dalam menanggulangi perdagangan ilegal satwa liar. Laporan ini menjadi perhatian serius bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur untuk terus memperkuat upaya konservasi dan pengawasan terhadap kegiatan yang mengancam keberadaan flora dan fauna dilindungi di seluruh wilayah Indonesia. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Muda Pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Patah Sayap, Elang Ular Bido Diselamatkan Warga Dan Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah VI Probolinggo

Probolinggo, 22 Januari 2025. Tim Penyelamatan Satwa Liar (Matawali) Resort Konservasi Wilayah (RKW) 16 Probolinggo-Lumajang, Seksi KSDA Wilayah VI Probolinggo, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim), melakukan kegiatan evakuasi satwa, 22 Januari 2025. Hal ini sebagai tindak lanjut adanya laporan masyarakat mengenai seekor elang yang ditemukan di area persawahan di Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo. Burung pemangsa tersebut terlihat tidak mampu terbang, sehingga mengindikasikan adanya kondisi cedera atau kelemahan fisik. Pada saat evakuasi, diidentifikasi bahwa elang tersebut berjenis Elang-ular bido (Spilornis cheela), spesies burung pemangsa yang masuk dalam daftar satwa dilindungi berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990. Yang juga disebutkan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Pemeriksaan fisik mengungkapkan adanya cedera berupa patah pada sayap kanan. Berdasarkan keterangan warga setempat, cedera ini kemungkinan besar disebabkan tersangkut jaring di area persawahan. Situasi ini menunjukkan bahwa aktivitas manusia, baik langsung maupun tidak langsung, seringkali menjadi faktor penyebab gangguan pada satwa liar, terutama pada spesies yang dilindungi. Selain evakuasi, tim juga memanfaatkan kesempatan ini untuk memberikan edukasi kepada masyarakat di sekitar lokasi. Materi edukasi mencakup pentingnya perlindungan satwa liar, implikasi ekologi dari keberadaan satwa pemangsa seperti elang, serta ancaman hukum bagi pelanggaran bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Peran Elang Elang-ular bido memiliki peran penting dalam ekosistem, terutama sebagai predator puncak dalam rantai makanan. Spesies ini membantu mengontrol populasi hewan kecil seperti tikus, ular, dan kadal, yang berpotensi menjadi hama bagi pertanian. Dengan menjaga keseimbangan populasi ini, elang berkontribusi secara langsung pada keberlanjutan ekosistem dan stabilitas ekologi. Ketidakhadiran elang atau raptor lain di alam liar dapat memicu dampak negatif yang signifikan. Populasi hama seperti tikus dapat meningkat secara tak terkendali, menyebabkan kerusakan pada lahan pertanian. Selain itu, keseimbangan rantai makanan terganggu, yang pada akhirnya dapat merusak fungsi ekosistem secara keseluruhan. Kehilangan predator puncak juga dapat mengakibatkan ledakan populasi spesies mangsa, yang pada gilirannya dapat mengubah struktur vegetasi dan mempengaruhi keanekaragaman hayati. Setelah evakuasi, Elang-ular bido yang terluka segera dititiprawatkan sementara ke lembaga konservasi Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL) Probolinggo. Lembaga ini akan memberikan perawatan medis intensif untuk memulihkan kondisinya sebelum nantinya dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya. Langkah ini menjadi contoh penting bagaimana kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga konservasi dapat berperan dalam menjaga keanekaragaman hayati. Meningkatnya kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam KSDAE akan berdampak pada upaya konservasi satwa dilindungi menjadi lebih efektif dan keseimbangan alam tetap terjaga. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Muda Pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Mencermati Habitat Rusa Bawean Dan Babi Kutil

Bawean, 23 Januari 2025. Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 10 Pulau Bawean, Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar KSDA Jawa Timur, melaksanakan kegiatan patroli pengamanan di kawasan konservasi Pulau Bawean, Kamis (23/1). Kegiatan ini dilakukan di Kawasan Langpelem Blok Gunung Besar, Suaka Margasatwa Pulau Bawean, yang secara administratif terletak di Desa Patar Selamat, Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik. Patroli yang dipimpin oleh Nursyamsi (Polhut sekaligus Kepala RKW 10 Bawean) bertujuan untuk menjaga kelestarian kawasan konservasi serta melakukan pengawasan terhadap batas kawasan konservasi. Selain patroli, pada kesempatan tersebut juga mendampingi tim peneliti dari Universitas Brawijaya Malang terkait distribusi spesies serta pengkajian vegetasi pakan alami yang mendukung habitat dua spesies endemik Pulau Bawean, yakni Rusa Bawean (Axis kuhlii) dan Babi Kutil Bawean (Sus blouchi). Patroli dalam kawasan konservasi yang dilakukan dengan berjalan kaki di sepanjang jalur yang telah ditentukan sekaligus pengumpulan data melalui plotting vegetasi dan pakan alami yang relevan untuk keberlanjutan habitat Rusa Bawean dan Babi Kutil. Temuan Fauna dan Flora Selama patroli, tim berhasil mencatat berbagai temuan penting terkait flora dan fauna yang ada di kawasan tersebut. Beberapa perjumpaan fauna yang menarik antara lain Babi Kutil Bawean sebanyak 11 ekor, yang merupakan spesies endemik Pulau Bawean dan kini tergolong dalam kategori rentan. Selain itu, ditemukan pula berbagai jenis burung, termasuk satu ekor Elang Bawean (Spilornis baweanus), yang juga merupakan spesies endemik dan terancam punah, serta beberapa jenis burung lainnya. Tak hanya itu, tim juga mencatat keberadaan bekas pakan Rusa Bawean, yang menunjukkan bahwa spesies ini masih mendiami kawasan tersebut. Rusa Bawean, merupakan ikon konservasi Pulau Bawean, memerlukan vegetasi pakan alami yang tepat untuk kelangsungan hidupnya, sehingga data terkait pakan alami menjadi kunci penting dalam penelitian ini. Di sisi flora, tim menjumpai dua rumpun Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis) yang langka, serta satu rumpun Anggrek Ekor Tupai (Rhinchostylis retusa), yang keduanya memiliki nilai konservasi tinggi. Selain itu, beberapa spesies tumbuhan dominan seperti Jati (Tectona grandis), Gondang (Ficus variegata), dan Da'u (Dracontomelon dao) ditemukan di sepanjang jalur patroli, yang menggambarkan keanekaragaman hayati yang kaya di kawasan tersebut. Selama patroli, tim tidak menemukan adanya kegiatan ilegal atau pelanggaran hukum dalam kawasan Suaka Margasatwa Pulau Bawean Blok Gunung Besar. Dengan harapan, hal tersebut menjadi indikator keberhasilan upaya pengamanan kawasan yang dilakukan oleh petugas dan mitra konservasi dalam menjaga kelestarian kawasan ini dari ancaman perusakan atau eksploitasi ilegal. Kegiatan patroli dan pendampingan penelitian ini bukan hanya bertujuan untuk menjaga dan mengamankan kawasan, tetapi juga untuk mengumpulkan data penting terkait kondisi ekosistem di Pulau Bawean. Data yang terkumpul akan menjadi bahan dasar untuk merumuskan kebijakan konservasi yang lebih efektif, khususnya untuk spesies-spesies yang terancam punah dan habitatnya yang semakin terbatas. Harapan Untuk Keberlanjutan Konservasi Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap upaya konservasi Pulau Bawean, yang dikenal sebagai salah satu kawasan dengan biodiversitas yang sangat tinggi. Penelitian dan pengamanan kawasan yang dilakukan oleh Tim RKW 10 dan Universitas Brawijaya Malang menjadi bukti nyata kolaborasi yang solid antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian alam. Dengan keberhasilan patroli ini, diharapkan kawasan konservasi Pulau Bawean dapat terus terjaga dan memberikan manfaat jangka panjang, baik bagi keberlanjutan fauna dan flora lokal maupun bagi masyarakat sekitar yang menggantungkan hidupnya pada kekayaan alam Pulau Bawean. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Muda - Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 577–592 dari 11.141 publikasi