Sabtu, 25 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Balai KSDA Sulawesi Tengah Bahas Evaluasi Efektifitas Pelaksanaan PKS dengan Mitra Konservasi

Palu, 28 Maret 2019. Balai KSDA Sulawesi Tengah melaksanakan rapat dengan para mitra konservasi. Peserta rapat merupakan mitra yang telah dalam proses administrasi dengan Balai KSDA Sulawesi Tengah, antara lain : Rapat tersebut dimaksudkan untuk mengevaluasi efektifitas pelaksanaan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Balai KSDA Sulawesi Tengah dengan Mitra Konservasi antara lain membahas kendala-kendala kegiatan dalam pelaksanaan PKS selanjutnya disepakati solusi yang akan ditempuh, sehingga menghasilkan kesimpulan antara lain : Sumber: Balai KSDAE Sulawesi Tengah
Baca Berita

Seribu Pohon Untuk Balai Raja

Riau – 28 Maret 2019, Peringati Hari Hutan Internasional, tanggal 23 sampai 24 Maret 2019 Rimba Satwa Foundation (RSF) dengan dukungan Balai Besar KSDA Riau dan Belantara Foundation mengadakan acara "Camping Asyik" di Hutan Talang, SM Balai Raja. Kegiatan diikuti sekitar 50 peserta Komunitas Pencinta Alam dan Satwa di Riau tersebut sangat seru loh.....Dari diskusi tentang penyelamatan hutan dan lingkungan, pembelajaran dan pemutaran film konservasi satwa, penanaman seribu pohon sampai pada deklarasi selamatkan Hutan Talang. Kepala Seksi Konservadi Wilayah 3, MB Hutajulu menyerahkan bibit kepada para peserta sekaligus membuka acara dan memberikan materi. Tujuan kegiatan ini agar generasi muda mampu berkontribusi langsung terhadap lingkungan sekitar dan memberdayakan alam sebagai mana fungsi keseimbangan alam. Dengan bertambahnya tanaman teduhan, diharapkan mampu menjaga kelestarian Hutan Talang serta memberikan ruang bagi satwa Gajah Sumatera yang merupakan salah satu satwa kebanggaan Indonesia... Yuuk kita sama sama lestarikan satwa dan hutan kita yang tersisa... Sumber: BBKSDA Riau
Baca Berita

Kecap Majalengka, Buah Tangan Pelancong Wisata Alam Gunung Ciremai

Kuningan, 28 Maret 2019. Kecap Majalengka telah melegenda karena cita rasa yang khas. Usianya telah puluhan tahun. Selain itu, kecap ini terkenal karena tetap mempertahankan cara pembuatan yang tradisional. Ada dua merek kecap yang melegenda di Majalengka. Merek tersebut yakni cap Maja Menjangan (MM) dan Segi Tiga. Keduanya buatan asli Majalengka dan diproduksi secara rumahan. Kecap cap Maja Menjangan (MM) merupakan kecap tertua di Majalengka. Sejak 1940 kecap ini telah ada. Melalui tangan H. Saad, kecap Maja Menjangan (MM) hingga kini masih bertahan dan disukai lidah masyarakat. Sementara kecap cap Segi Tiga mulai diproduksi pada 1958. Ketika itu ada tiga orang pemrakarsa terciptanya kecap cap Segi Tiga. Mereka adalah H. Lukman, Endek, dan Aman. Dari tiga orang itulah kemudian tercetus merek Segi Tiga. Dua merek kecap tersebut menawarkan rasa yang sama. Ada kecap asin, manis sedang, dan kecap manis. Pada tiga rasa itu, cita rasa kedelai hitamnya benar-benar terasa. Selain rasa kedelai yang kental, dua merek kecap ini tahan lama. Bahkan bisa bertahan sampai dua tahun. Padahal, dua merek kecap itu dibuat tanpa bahan pengawet. Agar kecap bisa bertahan lama, sang produsen memiliki cara tradisional. Bukannya mencampurkan bahan pengawet kimia, namun mencampurkan garam dalam jumlah banyak pada olahan kecap saat proses fermentasi. Garam dalam jumlah banyak saat fermentasi mampu menjadi bahan pengawet agar kecap tak mudah basi. Karena masih tradisional, proses pembuatan dua merek kecap ini dilakukan secara manual. Tidak ada mesin yang membantu, hanya tangan para pegawai yang berperan. Bahkan untuk memasaknya pun masih menggunakan kayu bakar. Begitu juga wadah tempat kecap telah jadi maupun saat penyaringan dan fermentasi. Wadah terbuat dari kayu jati yang dibentuk menyerupai ember. Sementara untuk mengeringkan kedelai, sinar matahari merupakan andalan. Tak heran, cuaca sangat menentukan produksi kecap di Majalengka. Sebab jika mendung atau hujan, penjemuran kedelai akan memakan waktu. Akhirnya proses produksi memakan waktu lebih lama. Dua merek kecap ini bisa ditemui dengan mudah di sentra oleh-oleh atau pasar-pasar tradisional dan kios di Majalengka. Biasanya dikemas dengan botol berbagai ukuran. Ada isi 140, 250, 300, 500 dan 600 mililiter (ml). Harga yang ditawarkan bervariasi, mulai 3.400 hingga 11.000 rupiah per botol. Kecap Majalengka adalah salah satu buah tangan yang bisa sobat bawa dan nikmati. So, bila sobat berwisata alam di gunung Ciremai jangan lupa ya dengan kecap Majalengka [Teks & foto © Gandi-BTNGC | 032019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Menuju Manado Menjadi Kota Peraih Adipura

Manado - 27 Maret 2019, Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 (PSLB3) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengadakan sosialisasi mengurangi sampah plastik dengan tema Let's Have Fun and Beat Plastic Pollution. Kegiatan yang dipusatkan di kawasan megamas Manado di mulai sejak pukul 08.00 wita. Sejak pagi para peserta mulai memadati lokasi acara di pesisir pantai Megamas. Panitia memberikan starter kit berupa botol tumbler, plastik dan sarung tangan untuk aksi bersih-bersih sampah di sekitar lokasi. Bintang tamu Bass Gilano memeriahkan pembukaan acara ini, yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ibu Vivien dari Dirjen PSLB3. Beliau menghimbau peserta untuk mengurangi sampah plastik dengan langkah praktis berupa tidak memakai sedotan plastik, membawa tas ketika berbelanja dan membawa tumbler daripada membeli minum dgn kemasan plastik. Dalam sambutannya Ibu Rosavivien Ratnawati menyampaikan bahwa sampah plastik membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk terurai. Hampir setiap orang per hari menghasilkan 0,7 kg sampah, jika penduduk Manado kurang lebih 500.000 jiwa berarti sampah yg dihasilkan oleh masyarakat manado sekitar 350.000 kg sampah. Bisa dibayangkan berapa sampah plastik yang dapat dikurangi apabila setiap orang berinisiatif melakukan langkah praktis "diet" sampah plastik. Kita harap kepada generasi mellenial khususnya peserta mahasiswa untuk lebih aktif dalam aksi pengurangan dan pengelolaan sampah plastik, tutur Vivien. Di lain pihak Bapak Bara Hasibuan selaku Anggota Komisi VII DPR RI, yang turut hadir dalam acara Sosialisasi, mendukung dan menghimbau pengurangan sampah plastik dalam rangka melestarikan lingkungan. Sampah plastik masih menjadi permasalahan serius, perlu kesadaran penuh dari diri sendiri untuk mengurangi sampah dan memperbaiki kualitas lingkungan hidup. Tidak menggunakan plastik adalah sesuatu yang cool dan keren. Studi kasus dalam pengurangan sampah plastik dilakukan melalui manajemen Bank Sampah. Dalam kesempatan Sosialisasi hadir pengelola Bank Sampah Watutumou II. Jamie Makasalah yang menjabat sebagai Direktur Bank Sampah Watutumou II Kabupaten Minahasa Utara menyampaikan bahwa sampah plastik merupakan berkah. Bagi kami sampah tersebut dikelola untuk dijadikan hasil karya yang indah dan menarik seperti kursi dari botol plastik dan hiasan bunga. Setelah acara sosialisasi kemudian dilanjutkan dengan aksi pungut sampah di sekitar lokasi acara. Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan pemikiran masyarakat tentang sampah plastik dapat diubah, sehingga sampah di kota Manado khususnya sampah plastik dapat dikurangi dan dikelola untuk Manado menuju Kota Adipura. ----------------------- Penulis : Stella Mustika Ayu Puteri, S.Pi, Calon Penyuluh Kehutanan pada Balai TN Bunaken
Baca Berita

Bunga Bangkai Tumbuh di Batangtoru

Batangtoru, 27 Maret 2019. Bunga bangkai jenis Suweg Raksasa (Amorphophallus titanum) yang dilindungi berdasarkan peraturan Menteri LHK No. 106 Tahun 2018 kembali ditemukan. Kali ini lokasi mekarnya teridentifikasi di lokasi areal konsesi PT. North Sumatera Hydro Energy (NSHE) yaitu perusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru. Informasi pertama kali diterima dari petugas PT. NSHE, dan ditindaklanjuti oleh staf Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok Balai Besar KSDA Sumatera Utara dengan meninjau lokasi pada Sabtu, 23 Maret 2019. Letak lokasi berada pada ketinggian 372 mdpl dengan titik koordinat N 01° 33’ 13.4”, E 099° 08’ 55.2” . Pada saat ditemukan, tinggi bunga 290 cm, tinggi batang bunga 160 cm, keliling 18 cm, keliling kelopak bunga 42 cm, dan kondisinya sudah mulai layu. Sedangkan yang satu lagi ditemukan pada areal yang bersamaan dengan titik koordinat N 01° 30’ 51.0”, E 099° 07’ 38.4”. Upaya yang dilakukan petugas Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok dibantu oleh pihak PT NSHE, dengan memasang batas police line disekitar tumbuhnya bunga bangkai, agar lokasi ini tidak diganggu. Fenomena tumbuh dan mekarnya bunga bangkai yang dilindungi undang-undang ini tentu menarik perhatian, namun diharapkan lokasi (habitat) tumbuhnya bunga bangkai ini dapat juga dijaga kelestariannya. Sumber : Nasir & Harianja - Balai Besar KSDA Sumatera Utara Bunga bangkai bangkai dalam kondisi layuPeta lokasi ditemukannya kedua bunga bangkai
Baca Berita

Balai TN Aketajawe Lolobata Ikuti Sosialisasi Perijinan Penelitian Asing

Sofifi, 27 Maret 2019. Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) yang didampingi oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha melakukan kunjungan ke Fakultas Pertanian Universitas Khairun (Unkhair) di Ternate kemarin (26/03). Kepala Balai TNAL disambut oleh Wakil Dekan I Bidang Akademik dan Ketua Jurusan Pertanian di Ruang Kerja Dekan. Pada pertemuan tersebut Kepala Balai menyatakan menyambut baik kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Unkhair di kawasan TNAL yang telah berjalan dengan baik. Pada kesempatan tersebut, kedua pihak menyepakati akan melakukan pertemuan bersama beberapa universitas lainnya dan pihak terkait untuk menyusun roadmap penelitian pada kawasan TNAL, sehingga kegiatan-kegiatan penelitian dapat dilakukan secara sinergi. Selain itu Universitas Khairun juga menjadwalkan akan mengundang Kepala Balai TNAL beserta pejabat fungsional. Kepala Balai diundang untuk memberikan kuliah umum, sedangkan Pejabat Fungsional diundang untuk memberikan pembekalan kepada mahasiswa Unkhair sebelum melaksanakan kegiatan PKL atau magang di kawasan taman nasional. Kegiatan magang mahasiswa Universitas Khairun seperti kegiatan pengabdian masyarakat nantinya akan dilaksanakan di desa-desa di sekitar kawasan TNAL yang memiliki konflik tenurial. Selain pembahasan beberapa kegiatan diatas, Balai TNAL dan Universitas Khairun Ternate juga akan melakukan perpanjangan Perjanjian Kerja Sama. Setelah melakukan koordinasi dengan Fakultas Pertanian, Rombongan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata menghadiri kegiatan Sosialisasi Perijinan Penelitia Asing yang juga dilaksanakan di Unkhair Ternate. Acara tersebut di buka langsung oleh Rektor Unkhair dan Direktur Pengelolaan Kekayaan Intelektual Kemenristekdikti. Narasumber yang mengisi acara tersebut antara lain, Subdit Perijinan Penelitian Kemenristekdikti, Kemenkum HAM Kota Ternate, LIPI,dan Direktorat KKH Kementerian LHK. Pada sesi diskusi, Kepala Balai TNAL menyampaikan informasi dan masukan atas beberapa kejadian adanya indikasi penyalahgunaan visa oleh orang asing terkait lebah raksasa Wallace untuk sama-sama berbenah dan bersinergi serta menjadikan peristiwa ini sebagai dorongan dalam melakukan penelitian bersama-sama. Selesai acara, Balai TNAL memberikan buku terbarunya yang berjudul “Biodiversity of Halmahera” kepada seluruh peserta kegiatan sosialisasi dan buku “10 Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi” kepada Dekan Fakultas Pertanian. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Jamur Tiram dan Sayur Hidroponik Binaan Balai Besar KSDA Sumut

Pematangsiantar, 27 Maret 2019. Setelah meresmikan penggunaan kantor Bidang Konservasi Wilayah II Pematangsiantar, pada Rabu 20 Maret 2019, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara melanjutkan kunjungan kerja ke kelompok masyarakat yang menjadi sasaran kegiatan pemberdayaan masyarakat desa penyangga kawasan konservasi di bidang Konservasi Wilayah II Pematangsiantar, pada Kamis 21 Maret 2019. Diawali dengan mengunjungi kelompok hidroponik yaitu Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Lestari Dongan Desa Lobu Rappa, Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan. Pengembangan usaha ekonomi budidaya tanaman sayuran-sayuran dan buah oleh kelompok ini dimulai pada bulan Oktober 2018. Setelah mendapat pelatihan tentang hidroponik, hasilnya cukup lumayan bahkan permintaan sayuran terutama jenis kangkung dan selada sangat tinggi, sampai-sampai kelompok kewalahan untuk memenuhinya. Tidak hanya itu, hidroponik KSM. Lestari Dongan beberapa kali mendapat kunjungan dari Kecamatan Aek Songsongan dan Desa Lobu Rappa. Hidroponik KSM. Lestari Dongan telah menginsipirasi Kecamatan Aek Songsongan untuk membuat demplot hidroponik. Demplot hidroponik KSM. Lestari Dongan ternyata juga satu-satunya yang ada di Kecamatan Aek Songsongan dan sekitarnya. Tidak jauh dari demplot hidroponik KSM. Lestari Dongan, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara melanjutkan kunjungan ke Kelompok Budidaya Jamur Tiram yang diusahai oleh Kelompok Tani Dos Roha Desa Meranti Timur, Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Kabupaten Toba Samosir. Hasil dari jamur tiram ini cukup lumayan hanya saja terkendala dalam pemasarannya, sehingga akhirnya jamur tersebut terpaksa dipanen dan diberikan sebagai makanan ternak. Kelompok Tani Dos Roha sudah mencoba untuk memasarkannya ke pasar tradisional Balige, memang ada peminat, hanya saja berat diongkos kirim. Dari Kelompok Tani Dos Roha, selanjutnya Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara mengunjungi Kelompok Tani Lammaju di Desa Lumban Pinasa, Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba Samosir. Bentuk pemberdayaan kelompok ini adalah budidaya lebah madu. Budidaya lebah madu ini belum menghasilkan, namun Kelompok Tani Lammaju tetap berkomunikasi dengan Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar dan masih berusaha mencoba beberapa treatment. Kunjungan terakhir Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara di lakukan ke Kelompok Simardasar Desa Lumban Pinasa Saroha, Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba Samosir yaitu budidaya Bebek. Usaha ternak bebek ini terlihat kurang berjalan efektif, sepertinya bebek-bebek tersebut tidak dapat beradaptasi dengan udara dingin di lokasi tersebut. Setelah mengunjungi keempat Kelompok Pemberdayaan Masyarakat di Wilayah Kerja Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara berpesan untuk tetap semangat dalam menjalankan dan mengembangkan usaha produktifnya masing-masing, Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar diminta untuk selalu selalu mendampingi. Sumber : Lisbeth Manurung - Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Masyarakat Mitra Polhut CA Teluk Pamukan Perkuat Silaturahmi dan Pengamanan Kawasan

Kotabaru, 27 Maret 2019 – Balai KSDA Kalimantan Selatan melaksanakan kegiatan pembentukan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) di sekitar CA Teluk Pamukan pada hari ini (27/03/2019) sebagai salah satu wujud pengelolaan partisipatif bersama masyarakat yang dilaksanakan di Desa Gunung Batu Besar, Kecamatan Sampanahan Kabupaten Kotabaru. Acara dihadiri Camat Sampanahan Rakhmansyah, S.Pd, MM, Kapolsek, Danramil, Kepala Desa sekitar kawasan seperti Desa Sepapah, Sungai Betung, Gunung Batu Besar, Papa’an, Rampa Manunggul, Basuang, dan Sakalimau, serta tokoh masyarakat. Peserta sebanyak 30 orang sebagai perwakilan masing-masing desa. Dibuka oleh Kepala BKSDA Kalsel Dr.Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc, yang didampingi Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Nikmat Hakim Pasaribu, S.P, M.Sc. dan Kepala Resort CA Teluk Pamukan Agung Reynanto Rizal, S.Hut serta tim Polhut BKSDA Kalsel. Kepala Balai menyampaikan bahwa pembentukan MMP ini sebagai wujud kebersamaan dengan masyarakat setempat sekaligus ajang silahturahmi serta membangun kesepahaman dan kebersamaan dalam pengelolaan CA Teluk Pamukan bersama masyarakat sekitar. Output dari kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan rasa kepedulian kepada masyarakat untuk berinisiatif menjaga sumber daya alam dan ekosistem CA Teluk Pamukan. Sesi diskusi menghangat ketika salah satu tokoh masyarakat Desa Sepapah Bapak Supriyadi yang mengeluhkan tidak bisa membuat sertifikat di dalam kawasan CA dan tidak ada bantuan dari pemerintah. Menanggapi keluhan tersebut, Mahrus menjelaskan tentang skema Perhutanan Sosial, khususnya Perdirjen KSDAE Nomor 6 tahun 2018 tentang Kemitraan Konservasi. Setidaknya ada 2 desa yang keseluruhan wilayahnya masuk CA, secara sejarah ada sebelum ditetapkan menjadi Cagar Alam. Kami akan meminta petunjuk Dirjen KSDAE untuk kawasan Cagar Alam yang masyarakatnya siap untuk ikut skema Kemitraan Konservasi. Camat Sampanahan, Rakhmansyah berharap ada solusi untuk desa-desa yang berada di dalam kawasan CA, masyarakat merasa dianaktirikan karena bantuan pemerintah tidak bisa maksimal. Pemerintah Kecamatan Sampanahan siap mendukung kegiatan Kemitraan Konservasi dan berharap bisa segera dilaksanakan untuk mengurangi konflik dan percepatan pembangunan. Rakhmansyah juga sangat mengapresiasi keberadaan MMP di wilayah kerjanya, karena memudahkan komunikasi dan koordinasi. (jrz) Sumber : Agung Reynanto Rizal, S.Hut - Kepala Resort CA Teluk Pamukan, SKW III Batulicin
Baca Berita

Evakuasi 5.247 Kura-Kura Moncong Babi di Timika

Timika, 27 Maret 2019. Tim gabungan, yang terdiri dari Seksi Konservasi Wilayah II Timika Balai Besar KSDA Papua, Reskrim Polda Papua, Reskrim Polres Timika, dan Departemen Enviromental PT. Freeport Indonesia, berhasil melakukan evakuasi 5.247 kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta) pada Selasa (26/3). Satwa endemik Papua yang dilindungi itu dikemas dalam 10 kotak sterofoam, lima kotak plastik, dan tiga ember plastik. Tempat Kejadian Perkara berada di Jl. Irigasi, Gg. Durian, Timika, Papua. Sekitar pukul 12.45 WIT Tim Reskrim Polda Papua dan Polres Timika mengamankan dua tersangka, yang telah menjadi target sebagai pengumpul kura-kura moncong babi tanpa dokumen. Mereka adalah ALH (49 tahun) warga Distrik Agats, Kabupaten Asmat, dan AT (34 tahun) warga Kelurahan Emnam, Distrik Suwator, Kabupaten Asmat. Saat ini barang bukti ribuan kura-kura moncong babi telah diserahkan kepada pihak Balai Besar KSDA Papua. Selanjutnya akan dilakukan pelepasliaran kehabitatnya. Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Timika, Bambang H. Lakuy menyatakan, “Kami sudah berkoordinasi mengenai pelepasliaran ini. Kemudian atas pertimbangan kesejahteraan satwa, akses dan jarak, juga pembiayaan, kami bersepakat lokasi yang direkomendasikan sebagai tempat pelepasliaran adalah Sungai Minajerwi, Kampung Nayaro. Pertimbangan penting lainnya, Sungai itu merupakan wilayah keramat masyarakat adat Kampung Nayaro. Jadi masyarakat tidak mungkin mengambil satwa sembarang di sana. Selain itu, sudah terbentuk Masyarakat Mitra Polhut (MMP), jadi bisa mendukung tugas pengawasan dan perlindungan TSL.” Selanjutnya Bambang menjelaskan bahwa pelepasliaran akan dilakukan dalam waktu dekat. Menanggapi hal ini, Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si. menyatakan sikap tegas, bahwa tidak terdapat kuota untuk kura-kura moncong babi di tahun 2018 dan 2019. “Segala bentuk pemanfaatan terhadap kura-kura moncong babi bisa dilakukan sepanjang sesuai dengan ketentuan perundangan. Dengan begitu, pelanggaran terkait satwa ini harus ditindak sesuai prosedur dan undang-undang,” ungkapnya. [] Sumber : Balai Besar KSDA Papua Call Center : 0823-9802-9978
Baca Berita

BBKSDA Papua Barat Inisiasi Pembentukan Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat

Sorong, 26 Maret 2019. Satu dari 10 cara baru kelola kawasan konservasi di Indonesia yang dicanangkan oleh Direktur Jenderal KSDAE adalah “Masyarakat Sebagai Subyek”, dimana harapannya masyarakat menjadi pelaku utama dalam berbagai model pengelolaan kawasan konservasi. Dibandingkan luas wilayah kawasan konservasi yang berada di wilayah kerja Balai Besar KSDA Papua Barat mencapai 1.753.184,98 ha dengan jumlah desa penyangga sebanyak 377 desa dan Penyuluh Kehutanan yang ada hanya berjumlah 6 orang, peran masyarakat yang disekitar kawasan konservasi sangat penting untuk mendukung kinerja penyuluhan kehutanan dalam menjawab berbagai tantangan pengelolaan kawasan konservasi di wilayah Papua Barat. Melihat potensi masyarakat yang ada di sekitar kawasan konservasi, Balai Besar KSDA Papua Barat menginisiasi pembentukan Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) yang dilaksanakan selama dua hari (25-26/3/2019) di Hotel M Kyriad Sorong. Peserta PKSM berjumlah 25 orang yang berasal dari 7 (tujuh) kampung yang berada di daerah penyangga kawasan konservasi di Papua Barat. PKSM yang dibentuk merupakan penyuluh kehutanan dari unsur masyarakat pertama di wilayah Papua Barat. Kegiatan pembentukan PKSM resmi dibuka oleh Kepala Balai Besar KSDA Papua Barat pada tanggal 25 Maret 2019 yang memberikan arahan bahwa pengelolaan kawasan konservasi di Papua Barat kedepannya harus dapat meningkatkan partisipasi masyarakat daerah penyangga sehingga mampu untuk menjaga kelestarian hutan dan mampu meningkatkan kesejahteraan berdasarkan potensi dan kearifan lokal yang dimiliki. Diharapkan kegiatan penyuluhan kehutanan yang berlangsung di lingkup wilayah kerja Balai Besar KSDA Papua Barat dapat berjalan semakin efektif dengan keberadaan PKSM mengingat keterbatasan SDM Penyuluh Kehutanan PNS yang dimiliki Balai Besar KSDA Papua Barat saat ini. Hadir sebagai narasumber Kepala Balai Besar KSDA Papua Barat, Ir. Basar Manullang, M.M yang memberikan arahan terkait kebijakan KSDAE dalam pembinaan daerah penyangga di lingkup wilayah kerja Balai Besar KSDA Papua Barat. Hadir pula Owner Baloeran Ecolodge, Muhammad Nurdin Razak, M.Sc yang membagikan berbagai pengalamannya dalam melakukan pengembangan masyarakat berbasis ekowisata yang dengan kerja kerasnya telah mampu mengenalkan dan mengembangkan ekowisata di daerahnya ke kancah internasional sekaligus mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat disekitarnya. Pembekalan diberikan juga oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sorong, Kepala Bidang Teknis Balai Besar KSDA Papua Barat, Flora Fauna Internasional dan praktisi pemberdayaan masyarakat di Papua Barat yang keseluruhannya diharapkan mampu menjadi bekal awal dalam memberikan gambaran terkait aplikasi kegiatan penyuluhan kehutanan untuk pengembangan masyarakat. Hari kedua pembekalan para peserta juga dibekali berbagai regulasi, teknik dan metode penyuluhan kehutanan yang diberikan oleh para fasilitator dari tim penyuluh kehutanan Balai Besar KSDA Papua Barat dengan melakukan simulasi dan praktik langsung secara partisipatif, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan profesionalitas PKSM. Adanya PKSM diharapkan dapat meningkatkan kinerja penyuluhan kehutanan di daerah penyangga kawasan konservasi. Sumber: BBKSDA Papua
Baca Berita

Puncak Peringatan Hari Bhakti Rimbawan Ke 36 Provinsi Jawa Timur 26 Maret 2019

Pacet, 26 Maret 2019. Segenap Warga Rimbawan Jawa Timur dengan didukung berbagai stakeholder terkait menyelenggarakan puncak acara peringatan hari bhakti rimbawan ke 36 tahun 2019. Bumi perkemahan claket pacet kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo dipilih sebagai tempat penyelenggaraan acara. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Ikatan Rimbawan Jawa Timur dan dihadiri oleh unsur rimbawan Dinas Kehutanan Prov. Jawa Timur, rimbawan UPT Kementerian LHK Prov Jawa Timur, Perhutani lingkup Divisi Regional Jawa Timur, Himpunan Pensiunan Kehutanan Jawa Timur, Saka Wana Bhakti, Mitra Kehutanan, Kelompok Pecinta Alam dan stakeholder lainnya. Peringatan hari bhakti rimbawan prov jawa timur dimulai pada tanggal 16 maret 2019 dengan kegiatan penanaman, dilanjutkan pada tanggal 22 Maret 2019 dengan kegiatan jalan sehat, donor darah dan bhakti sosial dan puncak acara pada tanggal 26 Maret 2019 dengan kegiatan Pameran Sektor Kehutanan, penanaman, pelepasliaran satwa burung jenis jalak putih sebanyak 16 ekor, pelepasliaran 3 ekor berang-berang dan peresmian unit penangkaran rusa timor (Rusa timorensis). Kegiatan puncak acara hari bhakti rimbawan ke 36 tahun 2019 kali ini juga dihadiri oleh asisten bidang perekonomian dan pembanguan sekretariat daerah Provinsi Jawa Timur Dr. Wahid Hamidi (rencana dihadiri Gubernur Prov. Jawa Timur). Sebelum melaksanakan pelepasliaran satwa burung, wahid hamidi menyampaikan dalam sambutannya bahwa hutan mempunyai dua peran penting yakni menjaga lingkungan dan memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. "Menghasilkan produk makanan, hasil kayu dan obat. Semua dihasilkan dari lingkungan hutan," Sehingga kiprah rimbawan sangat luar biasa dalam menjaga lingkungan yang sehat. Hutan di Jawa Timur memiliki luas cukup besar yakni 2.247.027 hektare, 41 persen daratan Jawa Timur berupa hutan. "Diakui dunia jika paru-paru dunia ada di Indonesia. Hutan memiliki peran penting. Peringatan hari bhakti rimbawan ini mempunyai makna strategis untuk menjaga hutan agar lingkungan terjaga dengan sehat. Rimbawan sendiri adalah semua orang yang terlibat menjaga kelestarian hutan," terangnya. Wahid juga mengatakan, kawasan hutan tidak hanya dikelola swasta, tapi juga masyarakat yakni kehutanan sosial. Perjanjian kerja sama dengan Divre Perhutani Jatim seluas 541 hektar, namun sudah ditanam bawang putih seluas 42 hektar. Dalam kesempatan ini pula, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Dr. Nandang Prihadi juga menyerahkan buku hasil penelitian tumbuhan obat di Kawasan Cagar Alam Gunung Sigogor Kab. Ponorogo dan dari Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya (P2KTKR) LIPI menyerahkan buku hasil penelitian dengan judul Keanekaragaman tumbuhan pulau sempu dan ekosistemnya. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan hutan di provinsi jawa timur merupakan kawasan yang kaya akan biodeversitas dan genetik. Pelepasliaran satwa yang dilaksanakan pada puncak hari bhakti rimbawan ke 36 tahun 2019 di motori langsung oleh BALAI BESAR KSDA JAWA TIMUR. Jalak Putih atau dengan nama ilmiah Acridothres melanopterus termasuk dalam salah satu jenis satwa dilindungi dan Berang-berang cakar-kecil atau dengan nama ilimiah Aonyx cinereus yang belum termasuk jenis satwa dilindungi merupakan jenis satwa asli Indonesia. Meskipun menyandang status yang berbeda, trend populasi kedua jenis satwa tersebut di alam mengalami nasib yang sama yaitu terjadinya penurunan populasi di alam sebagai akibat dari perburuan liar dan fragmentasi habitat. Kondisi terparah dialami satwa jenis Jalak Putih. Meskipun ada peningkatan jumlah populasi yang signifikan di penangkaran, namun kondisi populasi di habitat alaminya mengalami penurunan yang cukup tajam, sehingga kemungkinan terjadi kepunahan terhadap populasi tersebut di habitat alaminya di Pulau Jawa sehingga berdasarkan hal tersebut Jalak Putih masuk dalam kategori Criticaly Endangered / CR (Kritis) atau dua langkah menuju punah berdasarkan kriteria IUCN Redlist Ver. 2018. Salah satu unit penangkaran Berang-berang Cakar Kecil (Aonyx cinereus) di wilayah kerja Balai Besar KSDA Jawa Timur dan merupakan penangkaran berang-berang yang pertama kali di Indonesia, PT Kayu Alam Jaya berkomitmen dengan menyerahkan 10 % hasil penangkarannya kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur, untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya. Sedangkan Jalak putih (Acridoteres melanopterus) yang dilepasliaran berasal dari hasil penyerahan masyarakat kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur yang dititipkan sementara untuk di rehabilitasi di Penangkaran Andi Sinantara Wijaya, Malang dan Lembaga Konservasi PD. Obyek Wisata Umbul Madiun. Sebelum dilepasliarkan ke habitat alaminya di Kawasan Tahura Raden Soerjo, kedua jenis satwa tersebut telah melalui tahapan pelepasliaran sesuai dengan Panduan IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) untuk Re-introduksi, mulai dari Pemeriksaan Medis, Penilaian Spesies (Rehabilitasi dan Habituasi), Pelepasliaran dan Pemantauan Pasca Pelepasliaran menjadi sebuah rangkaian kegiatan yang terkait antara satu dengan yang lainnya. Kegiatan pelepasliaran yang dilaksanakan, dengan tujuan untuk : 1. Meningkatkan potensi konservasi jangka panjang terhadap spesies dan kawasan 2. Mengembalikan peran dan fungsi ekologis dan biologis satwa yang dilepasliarkan 3. Pertanggungjawaban terhadap nasib satwa hasil operasi penertiban maupun penyerahan sukarela serta pemenuhan kewajiban penangkaran, dan 4. Media penyadartahuan kepada masyarakat terkait dengan konservasi satwa liar dan habitatnya. Dengan rangkaian kegiatan peringatan hari bhakti rimbawan ke 36 tahun 2019 ini diharapkan dapat menjadi media untuk mempererat jiwa korsa rimbawan, sosialisasi pentingnya hutan dan peran tumbuhan dan satwa dalam keseimbangan ekosistem. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Menumbuhkan Jiwa Konservasi Sejak Dini Di Batas Kawasan TN MerBeti

Jember, 27 Maret 2019. Resort Baban, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah (SPTN) Wilayah III Kalibaru Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) telah melaksanakan Pendidikan Lingkungan di Sekolah MI Raudhlatul Jannah (RadJa). Kegiatan ini dilaksanakan oleh kepala Resort Baban, M.Andik Boediono, SH dan Jumadiawan anggota resort. MI Radja berada di wilayah (Perhutani) Blok Dung Segoro, Dsn.Batu Ampar, Ds.Mulyorejo, Kec.Silo, Kab. Jember (koordinat : 813201, 9074487). Letaknya sekitar 700 meter dari pinggir batas kawasan TN MerBeti. Jauh dari keramaian kota, untuk menuju ke sana perlu melewati jalan tanah berlumpur. Bangunan sekolah terdiri dari 4 ruangan yang digunakan sebagai tiga ruang kelas dan ruang guru. Jumlah siswa sebanyak 27 orang dengan 4 orang pengajar/ guru. Keberadaan yang berdampingan dengan kawasan hutan, menjadikan pentingnya menumbuhkan jiwa konservasi sejak dini pada siswa-siswi MI ini. Melalui pendidikan lingkungan ini siswa-siswi diberikan pemahaman tentang lingkungan dan kehutanan. Kegiatan ini diikuti oleh 16 siswa yang hadir dari kelas 1 s/d kelas 6. Mereka didampingi Pak Azis, Guru MI Radja. Selain pemberian materi tentang fungsi hutan, kekayaan flora dan fauna di TN MerBeti, kegiatan ini diselingi dengan games. Para siswa menikmati games yang dimainkan selama kegiatan berlangsung. Dari kegiatan ini diharapkan timbul kesadaran tentang lingkungan dan kepedulian terhadap hutan sebagai paru-paru dunia. Sumber: Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Kalibaru - Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Tana Bentarum Tampilkan Anjungan Konsultasi dan Pameran Pencanangan Revitalisasi Gerakan Penyelamatan Danau

Jakarta, 27 Maret 2019. Berlokasi di Gedung Kementerian LHK, Manggala Wanabakti, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) bersama dengan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas turut mengisi Anjungan Konsultasi (coaching desk) dan Pameran Danau. Kegiatan ini bergandengan dengan acara Pencanangan Revitalisasi Gerakan Penyelamatan Danau dan Rapat Koordinasi Pengelolaan Danau Prioritas Nasional. Pada momen ini ditampilkan berbagai informasi mengenai keunikan, potensi, dan keindahan Taman Nasional Danau Sentarum. Tak lupa pengelolaan serta daya tarik Danau Sentarum pun turut disampaikan kepada pengunjung. Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung, IB Putera Parthama, Ph.D. dan Bupati Kapuas, A.M. Nasir, S.H. yang hadir pada rakor turut pula mengunjungi anjungan Danau Sentarum-BPDAS Kapuas. Ratusan pengunjung sejak 25-26 Maret 2019 nampak antusias menyaksikan penjelasan mengenai film-film tentang daya tarik wisata, potensi kehati, HHBK madu hutan, serta pengelolaan kawasan yang merupakan 1 (dari ) 15 (lima belas) danau prioritas nasional ini. Pengunjung juga dimanjakan dengan pelayanan ramah dan beberapa souvenir gratis khas Tana Bentarum. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum)
Baca Berita

Membangkitkan Spirit Pengelolaan balai TN MerBeti Melalui Mentorship

Jember, 27 Maret 2019. Bertempat di ruangan Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti), koordinator setiap urusan dan Kepala Suba Bagian Tata Usaha (SBTU) mendapatkan arahan dan mentorship dari Maman Surahman, S.Hut, M.Si (Kepala Balai TN MerBeti) terkait pengelolan TN MerBeti khususnya dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat (PM). Dalam arahannya Kabalai menyampaikan bahwa kegiatan PM merupakan potensi yang sangat besar untuk mendukung kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistem (sdahe) di TN MerBeti dan nilai positifnya kegiatan di TN MerBeti sudah berjalan. Artinya kegiatan PM tidak dimulai dari nol, selain itu kegiatan sangat bervariasi mulai dari produk makanan, minuman, batik, jamu bahkan es krim juga sudah dilakukan. Kegiatan PM yang sudah ada ini hendaknya dilakukan pengawalan secara intensif oleh pihak terkait khususnya dari petugas Balai TN MerBeti baik penyuluh, PEH, polhut ataupun staff teknis lainnya dengan harapan agar negara benar-benar hadir di tengah masyarakat dan bisa memahami apa maksud dan keinginan dari masyarakat yang berada di sekitar kawasan TN MerBeti. Sumber: Alif Aulia Ananda, S.Hut - PEH Muda Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti)
Baca Berita

Menteri Pariwisata Kunker ke Kepulauan Selayar

Benteng - Kepulauan Selayar, 27 Maret 2019. Menteri Pariwisata Bapak Arief Yahya melakukan kunjungan kerja bersama rombongan ke Kabupaten Kepulauan Selayar (26/3). Kunjungan tersebut dalam rangka "Kick Off" Perencanaan Pengembangan KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Pariwisata Kab. Kepulauan Selayar. Setibanya di Bandar Udara Aroeppala Bapak Menteri disambut langsung Bupati Kepulauan Selayar Basli Ali bersama sejumlah pejabat dan Forkopimda. Masyarakat pun turut antusias menyambut kedatangan Bapak Menteri. Penyambutan Menteri tidak hanya sampai disitu. Setibanya di rumah jabatan Bupati Kep. Selayar, beliau disambut dengan prosesi Angngaru dan suguhan tarian tradisional oleh Sanggar Seni Tana Doang. Dalam penyambutan tersebut juga dihadirkan pameran mini di halaman Rujab Bupati, pemutaran video wisata dan buku-buku Pesona Taman Nasional Taka Bonerate, foto booth, pemberian cinderamata, dan lain - lain. Saat menyampaikan sambutannya Basli Ali memberi gambaran umum potensi yang dimiliki oleh Kepulauan Selayar, dilanjutkan dengan arahan menteri Pariwisata Arief Yahya. Dalam arahannya, Menteri Arief yahya menyampaikan syarat jadi wisata kelas dunia melalui Atraksi, ada Taman Nasional Taka Bonerate yang juga merupakan Cagar Biosfer Dunia yang artinya kepulauan Selayar memiliki sertifikat internasional dan memudahkan untuk menjadi daerah pariwisata dunia, potensinya tidak kalah dengan Wakatobi. Yang kedua ada Akses, bandara harus berkualitas Internasional, harus ada seaplane (untuk high class), harus ada marina dan yang terakhir ada Amenitas (akomodasi), melalui KEK lebih cepat, tidak terkendala perijinan karena menggunakan pelayanan satu pintu. Arif Yahya juga menambahkan bahwa keunggulan KEK Pariwista adalah pemerintah akan lebih memperhatikan : jalan, air, listrik, internet. Setelah penyampaian arahan, beliau berkunjung ke booth-booth pameran. Pada booth Balai Taman Nasional Taka Bonerate disambut langsung oleh Kepala Balai Faat Rudhianto yang menjelaskan pesona keindahan, potensi alam Taman Nasional Taka Bonerate dan memberikan cenderamata. Sumber teks & foto : Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Si Belang Kembali Berhasil Diselamatkan

Pelalawan, 24 Maret 2019. Tim Rescue Balai Besar KSDA Riau, dengan dibantu dokter dari Yayasan Arsari Dharmasraya kembali berhasil mengevakuasi seekor Harimau Sumatera yang terjerat di hutan restorasi PT. Gemilang Cipta Nusantara(GCN) pada hari Minggu. Dengan bantuan personil PT tersebut akhirnya Tim dapat mencapai lokasi yang dituju. Upaya yang dilalui Tim cukup berat loh..., melewati darat selama 5 jam dilanjutkan naik perahu mesin dan harus terbang dengan menggunakan heli. Belum lagi masih harus berjalan kaki menyusuri lebatnya hutan Sumatera selama 2 km. Kebayang kan kalo ternyata masih ada Harimau lain yang mengintai.... Tepat pukul 10.55 WIB, Tim berhasil membius satwa dilindungi tersebut. Harimau berjenis kelamin jantan dengan berat lebih dari 90 kg segera diangkut dengan menggunakan tandu untuk dipindahkan ke perahu mesin. Dengan tanpa kandang kurang lebih selama 1 jam Tim yang terdiri dari drh. Rini Deswita, drh. Andita Septiandini, drh. Dheni Rahmadani, drh. Simamora dan beberapa petugas membawa Harimau terbius tersebut menuju boat untuk dimasukkan ke kandang evakuasi.Segera Tim melakukan observasi kesehatan lanjutan untuk mengobati kaki satwa yang menunjukan sudah terinfeksi. Tidak lupa diberikan asupan cairan agar menghindari dehidrasi. Saat ini Harimau Sumatera telah dibawa ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya di Sumatera Barat. Kepala Balai Besar KSDA Riau mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu evakuasi penyelamatan satwa liar yang dilindungi tersebut. Dan berharap untuk ke depannya upaya konservasi dapat dilaksanakan secara bersama sama oleh semua pihak. Sumber: Balai Besar KSDA Riau #Kemenlhk #ditjenksdae #humasklhk

Menampilkan 5.873–5.888 dari 11.140 publikasi