Sabtu, 25 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Begini Meriahnya Pareresan, Warisan Budaya Situ Sangiang

Kuningan, 1 April 2019. Alunan kecapi mengiringi "Pareresan" pagi ini (1/4). Acara yang menjadi hajat tahunan tersebut rutin diselenggarakan di wilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Majalengka Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Hajat ini merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan terhadap panen hasil bumi. Ini adalah bentuk budaya masyarakat agraris sekitar lokasi wisata alam situ Sangiang, desa Sangiang, Banjaran, Majalengka, Jawa Barat. Budaya turun temurun ini sudah menjadi tradisi sejak lama. Tahun ini, tercatat 12 desa sekitar situ Sangiang mengikuti pesta panen ini. Bahkan datang pula tokoh nasional, T.B. Hasanudin, wakil bupati Majalengka, Tarsono D Mardian, Dinas Pariwisata Majalengka, dan unsur pemerintah daerah Majalengka lainnya. Lebih dari 2000 orang mengikuti pesta ini. Tidak hanya menyaksikan, masyarakat juga membawa hasil buminya yang dirangkai sedemikian rupa, mirip "grebeg maulud" pada budaya Jawa. "Pesta rakyat ini diawali dengan berziarah dan berdoa bersama di makam Sunan Parung, penyebar agama Islam di wilayah situ Sangiang. Ini sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur yang membangun kawasan tersebut", ungkap Jaja Suharja, Kepala SPTN Wilayah II Majalengka. Setelah berziarah kemudian iring-iringan acara menuju ke situ. Di sini peserta pesta, mencuci kaki dan tangan serta membasuh muka. Selain itu, pengunjung juga memberi makan ikan dan membawa air telaga. Konon hal itu dapat menambah keberkahan dan keselamatan. Pareresan adalah pesta rakyat yang menjadi warisan budaya tanah Pasundan sekitar kaki gunung Ciremai. So, sebagai generasi muda kita wajib meneruskan dan melestarikannya [Teks & Foto © Tim Admin, Foto-BTNGC | 032019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Induk dan Bayi Orangutan Berhasil Diselamatkan

Bontang, 28 Maret 2019. Balai TN Kutai kembali melakukan kegiatan penyelamatan satwa dilindungi orangutan (Pongo pygmaeus morio). Pada tanggal 25 Maret, pukul 16.15 WITA Balai Taman Nasional Kutai mendapat laporan dari masyarakat kelurahan Guntung Kota Bontang perihal adanya orangutan yang berada di kebun masyarakat dekat pemukiman. Tim WRU Balai Taman Nasional Kutai menuju ke lokasi konflik untuk melakukan pengecekan lokasi konflik didampingi dengan warga setempat. Dari hasil pengecekan, tim menemukan keberadaan 2 individu orangutan yakni induk dan anak yang masih digendong. Setelah orangutan diamati dan dipastikan tidak berpindah sarang lagi, pukul 20.30 WITA tim WRU Balai Taman Nasional Kutai segera melaporkan hasil pengecekan lokasi konflik kepada Kepala Balai Taman Nasional Kutai dan berkoordinasi dengan BKSDA Kalimantan Timur. Tim BKSDA Kalimantan Timur merespon cepat dan langsung berangkat ke Bontang. Pukul 02.00 WITA Tim WRU BKSDA Kalimantan Timur sampai di Kota Bontang dan menurut informasi, BKSDA Kalimantan Timur telah menindak lanjuti laporan tersebut dan hasil koordinasi dengan dokter hewan BKSDA Kaltim merekomendasikan Tim BOS-F dalam penanganan orangutan tersebut. Pukul 04.30 WITA Tim WRU Balai TN Kutai dan Tim WRU BKSDA Kaltim melakukan pemantauan orangutan tersebut sebelum Tim BOSF tiba agar dalam kegiatan penyelamatan dapat berjalan dengan baik. Pukul 21.00 WITA Tim BOS-F sampai di Kota Bontang dan langsung ke lokasi konflik satwa untuk melakukan pengamatan. Dikarekanan hari sudah malam, maka Tim BOSF merekomendasikan untuk penanganan evakuasi satwa dilaksanakan besok harinya (27 Maret 2019). Pada tanggal 27 Maret 2019 pukul 04.45 WITA Tim WRU Balai TN Kutai, tim WRU BKSDA Kaltim dan tim BOSF sudah berada di lokasi dan memulai dengan persiapan evakuasi satwa. Pukul 10.43 WITA induk orangutan telah berhasil dievakuasi, adapun anak orangutan berhasil memisahkan diri dari induknya. Ketiga tim berhasil menyelamatkan induk orangutan yang berumur ± 20 tahun, namun terdapat luka-luka baru dan lama di beberapa bagian tubuh seperti di bagian tubuh, leher, tangan, jari dan kaki yang diperkirakan dari benda tajam. Untuk pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut maka orangutan akan dibawa ke Klinik Yayasan BOSF Samboja. Adapun anak dalam keadaan sehat dan diperkirakan berumur ± 3 tahun. Sumber: Balai TN Kutai
Baca Berita

Diskusi Media, Wadah Balai KSDA Maluku Bertemu Rekan Media Membahas Isu Lingkungan dan Konservasi

Ambon, 30 Maret 2019. didukung oleh Burung Indonesia, Kepala Balai KSDA Maluku berkesempatan berdiskusi dengan para wartawan media lokal di Propinsi Maluku baik cetak, radio, maupun elektronik. Isu-isu mengenai konservasi SDA dan lingkungan dibahas dalam acara ini. Turut hadir dalam diskusi adalah Kepala Balai TN Manusela, Ibu Yanthi dari Burung Indonesia, Bapak Een Irawan dari Rekam Nusantara, dan Bapak Ridzki Sigit dari Mongabay Indonesia. Saat ini, berita terkait isu lingkungan, kehutanan, sampai dengan konflik satwa liar sering menjadi viral di masyarakat. Penyampaian informasi yang tepat dan terbuka didukung narasumber, data, serta riset yang komprehensif diharapkan dapat menjadi informasi yang akurat untuk masyarakat. Acara diskusi ini menjadi tempat untuk transfer knowledge dan sharing pengalaman bagi para peserta. Media menjadi bagian yang penting untuk menjembatani informasi dari setiap isu di dunia konservasi dan lingkungan untuk sampai pada khalayak luas. Bahkan di beberapa kasus, rekan media dapat mengungkap kejahatan-kejahatan lingkungan yang terjadi di Indonesia. Sumber: Balai KSDA Maluku
Baca Berita

Lagi, Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango Bersama Mitra Tanam 2.000 Pohon

Cikereteg, 30 Maret 2019. Ini dia, wujud implementasi program konservasi keanekaragaman hayati (Kehati) berbasis masyarakat di Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango. Kerjasama dengan PT. Tirta Fresindo Jaya (PT. TFJ) – Plant Cimande (Mayora Group) yang dimulai tahun 2017, kembali menggeliat. Di awal tahun ini, 2.000 batang pohon berhasil ditanam di zona rehabilitasi Blok Cikereteg Resort PTN Tapos, Seksi PTN Wilayah VI Tapos, Bidang PTN Wilayah III Bogor. Pada lahan seluas 4 Ha telah ditanam berbagai jenis pohon asli seperti seperti janitri, rasamala, puspa, salam, manglid, dan kilame. Kegiatan ini dimulai dengan acara seremonial pada hari Sabtu, 30 Maret 2019 ini sekaligus memperingati Hari Hutan Internasional tanggal 21 Maret dan Hari Air Sedunia tanggal 22 Maret, yang pada tahun 2019 ini bertemakan “Learn to Love Forest and Leaving No One Behind”. Kepala Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango, Wahju Rudianto yang diwakili Dadang Suryana (Kepala Bidang PTN Wilayah III Bogor) menekankan bahwa hutan adalah masa depan milik bangsa Indonesia. Oleh karena itu, perlu kepedulian semua pihak untuk menjaga lingkungan, hutan, dan kehati. Secara khusus kegiatan penanaman ini diharapkan dapat menjaga kesinambungan debit air yang dihasilkan kawasan hutan TN Gunung Gede Pangrango sebagai daerah tangkapan air bagi wilayah di bawahnya. Kepala Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango juga mengapresiasi kontribusi PT. TFJ – Plant Cimande (Mayora Group) dan masyarakat Desa Bojong Murni, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor serta seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini. Terlebih keterlibatan masyarakat eks penggarap dan masyarakat sekitar Blok Cikereteg dalam pelaksanaan kegiatan ini dari mulai persiapan lapangan, penanaman hingga pasca penanaman. Kedepan, secara berkala terhadap bibit pohon yang telah ditanam akan dilakukan pemeliharaan tanaman serta monitoring evaluasi. Para pihak yang hadir pada kegiatan penanaman ini: Head M3 PT. TFJ, Factory Manager PT. TFJ Plant Cimande, CSR Manager PT. TFJ Plant Cimande, perwakilan Kecamatan Megamendung dan Ciawi, Danramil Cisarua - Megamendung, Danramil Ciawi – Caringin, Babinmas, Polsek Ciawi, Polsek Megamendung, Kepala Desa Bojong Murnia, tokoh keagamaan, tokoh masyarakat setempat, Masyarakat Mitra Polhut (MMP), pejabat Eselon III dan IV, serta staf Bidang PTN Wilayah III Bogor - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango. Selain sebagai bentuk pemulihan ekosistem, kegiatan ini merupakan langkah konkret sebagai usaha penyadaran untuk pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan. semoga. Sumber : Andie Martien Kurnia – PEH Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Peresmian dan Penyerahan Bantuan MCK dari BBTNLL di Lokasi Obyek Wisata Maima Desa Lawua

Sigi, 29 Maret 2019. Masyarakat sebagai subyek dalam pengelolaan merupakan salah satu poin dalam sepuluh cara baru kelola Kawasan konservasi. Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) sebagai pengelola kawasan konservasi Taman Nasional Lore Lindu selalu berupaya mengedepankan pengelolaan Kawasan yang melibatkan masyarakat di sekitar Kawasan sebagai subjek dalam pengelolaan kolaboratif. Salah satu perwujudan hal tersebut tercermin dalam hadirnya Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu dalam memfasilitasi berkembangnya obyek wisata yang diinisiasi oleh masyarakat dan pemerintah desa disekitar Kawasan TNLL salah satunya di Desa Lawua, Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi. Bertempat di Kawasan obyek wisata pemandian alam maima Desa Lawua, dilaksanakan acara peresmian dan penyerahan bantuan fasilitas berupa MCK. Jumat (28/3) Acara peresmian dan penyerahan bantuan ini dihadiri langsung oleh Kepala Balai Besar TNLL Ir. Jusman beserta Ibu Ketua DWP UPT KLHK Sulteng, Camat Kulawi Selatan, Pemerintah Desa Lawua,Kepala BPTNW I Saluki, Kepala BPTNW III Poso, dan personil lingkup SPTNW II Gimpu. Untuk mencapai lokasi acara peresmian dan penyerahan bantuan ini, terlebih dahulu harus melalui jalur tracking yang pembuatannya difasilitasi oleh pemerintah desa setempat. Motor menjadi alat transportasi yang digunakan untuk ke lokasi obyek wisata tersebut dan pengendaranya adalah masyarakat setempat yang tergabung dalam kelompok sadar wisata, ini merupakan salah satu komoditi dalam hal pemberdayaan masyarakat. Jalur menuju lokasi obyek wisata maima juga menyuguhkan pemandangan pedesaan dan kawasan hutan yang enak dipandang mata. Obyek wisata pemandian alam maima merupakan salah satu obyek wisata yang khas dimana air terjun di lokasi obyek wisata tersebut juga mengeluarkan air panas, hal inilah yang menjadi salah satu daya tarik obyek wisata yang lokasinya berdampingan dengan Kawasan TNLL tersebut. “Obyek wisata maima memiliki spesifikasi objek wisata yang khas dan jarang terdapat di tempat lain yaitu air terjun panas “ ujar Camat Kulawi Selatan Rudolf Djiloy dalam sambutannya. Beliau menambahkan “tetapi perlu kita ingat bukan hanya obyek wisatanya saja tetapi kesinambungan dan keberlanjutan sumberdaya alamnya perlu kita jaga. Melalui Kelompok Sadar Wisata yang telah pembentukannya difasilitasi dan dibina oleh BBTNLL harus memperhatikan beberapa hal penting seperti menjaga kelestarian sumberdaya alam, kepercayaan dan keamanan pengunjung”. Camat Kulawi Selatan yang hadir dalam acara kali ini juga menyampaikan Ucapan terimakasih kepada BBTNLL atas inovasi dan pemikiran yang membangun demi kemajuan wisata lestari di Desa Lawua ini. Masyarakat dan pemerintah desa lawua telah memulai membangun obyek wisata pemandian alam maima ini demi mewujudkan masayarakat yang sejahtera serta hutan yang lestari, untuk mewujudkan dan menyambut hal positif tersebut Balai Besar TNLL berupaya untuk memfasilitasi dan mengawal niat baik tersebut. Sejalan dengan hal tersebut Kepala Desa Lawua Rudy S. Lologau dalam sambutannya menyampaikan “kami telah berupaya meramu Peraturan Desa Lawua yang telah mendapat respon positif dari pemerintah Kabupaten Sigi. Pada kesempatan ini kami telah memulai tahap demi tahap dan melibatkan BBTNLL dalam proses pembangunan obyek wisata ini. Selaku pemdes Lawua kami mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada BBTNLL yang telah memfasilitasi kami dalam program ini demi menjaga kelestarian hutan di Desa Lawua yang berbatasan dengan Kawasan TNLL” ujarnya. Pihak BBTNLL yang pertama kali berinisiatif memfasilitasi kami membangun obyek wisata ini dan kami merasa bangga akan hal itu. Kedepannya kami akan terus bekerjasama dengan pihak BBTNLL untuk menjaga kelestarian Kawasan di sekitar Desa Lawua dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya” ujar Rudy. Sebuah obyek wisata juga harus terus berkembang memperhatikan kondisi serta tren wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Perencanaan yang matang juga penting bagi obyek wisata agar terus bertahan dan berkembang, attraction, accesable, amenities, serta ancillary adalah empat hal penting dalam konsep kepariwisataan. Kepala Balai Besar TNLL Ir. Jusman dalam sambutannya menyampaikan bahwa prinsip 4A harus kita miliki terutama bagi kelompok sadar wisata di sini termasuk masyarakat di Desa Lawua ini yaitu : Setelah sambutan dari Ir. Jusman acara dilanjutkan dengan penandatanganan prasasti oleh beliau yang disaksikan oleh Camat Kulawi Selatan, Kelompok Sadar Wisata Desa Lawua dan Masyarakat yang hadir di tempat yang berbahagia itu. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

Tim Patroli TN. Komodo Berhasil Menangkap Nelayan Pengguna Pancing Rawai

Manggarai Barat, 23 Maret 2019.Tim patroli Resort Loh Wenci Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Pulau Komodo berhasil mengamankan satu orang nelayan dan sebuah kapal serta alat tangkap pancing rawai (set long line) saat melakukan patroli perairan pada Selasa malam pukul 20.00 WITA. Tim patroli yang terdiri dari tiga orang petugas (ranger) Pos Jaga Loh Wenci mendapati nelayan yang berasal dari Sape NTB tersebut saat akan mengambil hasil laut dengan menggunakan pancing rawai di zona perlindungan bahari. Zona perlindungan bahari merupakan zona non-ekstraktif dan hanya diperbolehkan untuk pemantauan, penelitian dan wisata alam secara terbatas. Pancing rawai sendiri, adalah salah satu alat tangkap yang dilarang penggunaannya di dalam kawasan TN. Komodo. Jun Kleden, ranger yang memimpin tim patroli ini mengungkapkan cara kerja pancing rawai yang berpotensi merusak. “pancing rawai adalah rawai dimana salah satu ujungnya diberi pemberat sehingga tidak hanyut, sedangkan ujung lainnya diikat pada pelampung. Saat dioperasikan dapat berpotensi merusak terumbu karang dan dapat menjerat ikan-ikan besar seperti hiu”. Dari nelayan tersebut, tim patroli menyita pancing rawai dan nelayan yang bersangkutan dibawa ke Pos Jaga Loh wenci untuk diberikan pembinaan. Sumber: Balai TN Komodo
Baca Berita

Upaya Pemasaran Produk Minuman Herbal Kelompok King Betiri

Jember, 28 Maret 2019. Ini adalah kunjungan perdana Maman Surahman, S.Hut, M.Si sebagai Kepala Balai TN Meru Betiri (MerBeti) di Kelompok Toga King Betiri. Kelompok ini berada di Desa Andongrejo di bawah binaan Resort Andongrejo, SPTNW II Ambulu. Pada tahun 2018, kelompok ini menjadi role model TN MerBeti “Pengembangan Daerah Penyangga Berbasis Tumbuhan Obat”. Selain untuk mengenal kelompok King Betiri, Tim dari Balai bertujuan untuk Pemantauan dan Evaluasi perkembangan kelompok. Hasilnya King Betiri telah melakukan pengembangan kemasan dan produk dengan menggunakan bantuan peralatan dari TN MerBeti tahun 2018. Anggota King Betiri yang semula 20 orang bertambah menjadi 25 orang. Pada kesempatan ini, Kabalai mencicipi produk minuman herbal King Betiri sambil berdiskusi dengan anggota kelompok. Kendala yang dihadapi yaitu pemasaran. “Kemasan produk menjadi salah faktor penting dalam pemasaran. Kemasan yang bagus akan menarik konsumen untuk membeli produk kita.” terang Kabalai. Pihak TN MerBeti berjanji akan membantu pemasaran produk King Betiri serta produk-produk hasil pemberdayaan masyarakat lainnya. Kesan kunjungan kali ini yaitu bahwa kegiatan pemberdayaan masyarakat di TN MerBeti sudah cukup berkembang. Namun diperlukan adanya sinergitas, kerjasama, dan koordinasi dengan pihak terkait agar lebih mampu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar TN MerBeti. Masyarakat sejahtera, Hutan lestari. Sumber: Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Pemkab Batola Dukung TWA Pulau Bakut

BARITO KUALA, 26 Maret 2019 – Pemerintah Kabupaten Barito Kuala telah merealisasikan dukungannya terhadap pengembangan pariwisata alam di TWA Pulau Bakut, sebagai hasil koordinasi dengan BKSDA Kalimantan Selatan ditahun 2018 dan saat soft launching awal 2019. Bupati Barito Kuala Hj. Noormiliyani A.S.,SH pada hari Selasa 26 Maret 2019 telah menyerahkan bantuan 2 buah klotok kepada Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Desa Beringin Kacamatan Alalak dan Desa Marabahan Baru Kecamatan Anjir Muara yang dihadiri undangan dari unsur SKPD Kabupaten Barito Kuala, BKSDA Kalimantan Selatan, Camat Alalak, Camat Anjir Muara, PT. Adaro Indonesia, Kepala Desa Alalak, Kepala Desa Marabahan Baru dan masyarakat. Dalam sambutannya Bupati berharap agar keberaadan kelotok ini dapat membantu meningkakan pelayanan terhadap pengunjung yang akan berwisata ke TWA Pulau Bakut khususnya maupun wisata susur sungai lainnya sehingga dapat meningkatkan pendapatan ekonomi bagi kelompok masyarakat maupun peningkatan PAD bagi pemerintah desa. Lebih lanjut Bupati berpesan agar dalam mengoperasionalkan klotok lebih memperhatikan keselamatan penumpang dengan tidak melebihi kapasitas klotok yang bisa memuat pengunjung sebanyak 20 orang itu. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr.Ir.Mahrus Aryadi, M.Sc menyambut baik bantuan klotok tersebut dan berterima kasih kepada Bupati Barito Kuala dan jajaranya yang telah mendukung kegiatan pariwisata alam di TWA Pulau Bakut dengan menyediakan sarana angkutan penyeberangan tersebut. Menurut Kepala Balai, Kelompok Sadar Wisata (POKDAWIS) bentukan Dinas Pariwisata Kabupaten Batola juga merupakan Masyarakat Mitra Pariwisata yang telah dibentuk oleh BKSDA Kalimantan Selatan yang akan menjadi mitra dalam pengelolaan pariwisata alam di TWA Pulau Bakut. Dengan telah diserahkanya bantuan klotok tersebut maka Kepala Balai berharap agar kualitas pelayanan jasa angkutan air di TWA Pulau Bakut lebih baik lagi. Rencananya klotok tersebut akan didekorasi agar menjadi lebih menarik dengan dukungan dari PT. Adaro Indonesia. (jrz) Sumber: Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Upaya Konservasi Elang Flores Melalui Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi

Mataram, 29 Maret 2019. Siapa sangka bahwa Elang Flores (Nisaetus floris) adalah salah satu dari 10 species dunia yang terancam punah. Burung ini memiliki persebaran yang terbatas hanya di wilayah Nusa Tenggara mulai dari Pulau Lombok, Pulau Sumbawa, Pulau Flores, Pulau Alor dan Pulau Timor. Menurut Raharjaningtrah dan Rahman menyebutkan bahwa populasi Elang Flores berkisar 100-200 individu, bahkan yang tersisa saat ini kurang dari 100 pasang. Pada saat itu, Raharjaningtrah dan Rahman memperkirakan populasi pada 73-75 pasang, berdasarkan ekstrapolasi dari kisaran wilayah jelajahnya sekitar 38,5 km². Atas pertimbangan itu, kemungkinan ada 10 pasang di Lombok, 38 pasang di Sumbawa, dan 27 pasang di Flores. Secara nasional elang flores termasuk jenis yang dilindungi oleh pemerintah, sesuai Peraturan Pemerintah PP No. 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, sebagaimana lampirannya telah diubah melalui PermenLHK No. 20 tahun 2018, untuk selanjutnya diubah lagi melalui PermenLHK No.92 tahun 2018. Secara global IUCN (International Union for the Conservation of Nature) menetapkan elang flores dalam daftar merah dengan status keterancamannya dikategorikan sebagai Kritis (Critically Endangered) sejak tahun 2009. (BirdLife International, 2017). Status ini mengindikasikan bahwa elang flores menghadapi resiko kepunahan dalam waktu dekat, bila tidak ada intervensi dengan tindakan aksi konservasi. Sementara itu berdasarkan konvensi perdagangan internasional tumbuhan dan satwa liar jenis-jenis yang terancam punah (Convention on International Trade of the Endangered Species, CITES), elang flores termasuk dalam appendix I artinya tidak boleh diperdagangkan secara internasional. IUCN telah meningkatkan status elang ini menjadi “Kritis-Critically Endangered” dalam daftar merah species (Red List) tahun 2009 (IUCN 2009a; IUCN 2009b). IUCN meyakini bahwa secara umum spesies elang ini terancam punah. (IUCN 2009b) Menyikapi kondisi tersebut beberapa lembaga yang peduli terhadap kelangsungan hidup satwa liar seperti : Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI), Raptor Indonesia (Rain), Burung Indonesia, Birds Conservation Society (BSC), mengundang jajaran di lingkup Ditjen KSDAE meliputi : Direktorat KKH, BTN Gunung Rinjani, BKSDA-NTB, BTN Tambora, BTN Kelimutu, BBKSDA NTT serta BTN Komodo pada tanggal 21 Desember 2018 bergerak cepat melakukan upaya konservasi yang diawali dengan menyelenggarakan workshop Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Elang flores yang berhasil merancang tim penyusun SRAK dan Isu Strategis Elang Flores. SRAK merupakan sebuah dokumen yang dapat menjadi acuan dalam membangun suatu kesepahaman dan kesepakan bersama antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, para peneliti/ahli serta pemerhati burung raptor, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam konservasi burung, masyarakat setempat, serta stakeholders terkait lainnya dalam upaya aksi konservasi elang flores ini. Semangat yang diusung dalam penyusunan dokumen ini adalah semangat kemitraan, membangun sinerginas untuk tujuan pelestarian elang flores beserta hutan sebagai habitat utamanya secara partisipatif Berkat komunikasi aktif secara itensif, pada tanggal 9 s/d 11 Februari 2019 terlaksana kegiatan Bimtek Metodelogi Survey dan Analisis Data Elang Flores serta Workshop Konservasi Elang Flores dan Habitatnya di Nusa Tenggara Barat. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan serupa di Kupang Nusa Tenggara Timur pada tanggal 15-17 Februari 2019. Sebagai lanjutan upaya penyempurnaan Draf Dokumen SRAK Elang Flores. Perjalanan panjang dalam tempo yang singkat akhirnya membuahkan hasil, tepatnya di Taman Nasional Kelimutu Kabupaten Ende Prov. Nusa Tenggara Timur Finalisasi Draf SRAK Elang Flores di serahkan kepada Bpk. Dirjen KSDAE. Dalam kegiatan Workshop Konservasi Elang Flores di Ende Diawali dengan fieltrip ke Desa Wolojita yang di gadang-gadang menjadi salah satu desa pelopor Pelindung Elang Flores dibawah komunisa Saomlaki/JATABARA. Di sana kami melihat bahwa masyarakat sudah sangat sadar akan pentingnya nilai konservasi khususnya Elang Flores, dimana komunitas adat telah berkomitmen untuk menjaga habitat elang flores yang berada di kawasan hutan adat. Kerja Cerdas, Cepat dan Tepat adalh moto tim Penyusun Dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Elang Flores dalam merampungkan SRAK Elang Flores, dimana proses dimulai dari bulan Desember 2018 dan selesai pada bulan April 2019 dan di rencanakan akan launching pada tanggal 11 April 2019 bertepatan dengan acara Festival Pesona Tambora. Bisa dikatakan penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Elang Flores adalah tercepat di bandingkan penyusunan SRAK spescies prioritas lainnya. Adapun beberapa isu strategis yang diangkat dalam upaya konservasi elang flores ini adalah : Dari 4 (empat) isu strategis tersebut akan dijabarkan lebih detail dalam capaian kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan oleh semua pihak dalam kurun waktu 2019 sampai dengan 2028, dimana semua pihak baik pemerintah, NGO, swata dan masyarakat, memiliki peran sesuai kapasitasnya untuk berkonstribusi melestarikan Elang Flores yang menitip beratkan indikator keberhasilan pada peningkatan populasi sebesar 10%. Dalam acara Workshop Konservasi Elang Flores di Taman Nasional Kelimutu yang dipusatkan di Pasangrahan Danau 3 warna di hadiri oleh Bpk. Ir. Wiratno selaku Dirjen KSDAE yang didampingi oleh Bpk. Direktur BPEE, Wakil Bupati Ende dan dihadiri pula oleh Kepala UPT KSDAE sewilayah Nusra, Kadis LHK Prov.NTT, Dandim Kab. Ende, Kapolres Ende, serta para mitra Balai TN Kelimutu. Dalam acara tersebut diakhiri dengan deklarasi JATABARA untuk konservasi Elang Flores. Sumber: Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Belajar Pengelolaan Satwa Liar Exitu di Sumatera Barat

Padangsidimpuan, 29 Maret 2019, Sejak diresmikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Dr. Ir. Bambang Hendroyono, MM., yang mewakili Menteri LHK pada 23 Nopember 2016, keberadaan Sanctuary Harimau Sumatera-Barumun atau Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS), yang dikelola bersama oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara dengan Yayasan Bodhicitta Mandala, sampai saat ini masih terus berlangsung. Sebagai referensi dan rujukan dalam pengembangan BNWS ke depan, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, melalui Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan, mencoba menimba ilmu dengan melaksanakan Kunjungan Lapangan Pengelolaan Satwa Liar Exsitu ke wilayah kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Barat, pada tanggal 4 s.d 8 Maret 2019. Tim Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan yang berjumlah 6 orang dan dipimpin Kepala Bidang, Gunawan Alza, S.Hut., diterima dengan baik oleh Kepala Balai KSDA Sumatera Barat, Dr. Erly Sukrismanto, S.Hut., M.Sc., beserta jajarannya. Atas arahan dari Kepala Balai, tim direkomendasikan untuk studi lapangan ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD) yang berada di Jorong Sungai Betung, Desa Lubuk Besar, Kecamatan Asam Jujuhan, Kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat. PRHSD diresmikan pada tanggal 29 Juli 2017 oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dengan luas lahan 10 ha, saat ini sedang melakukan rehabilitasi terhadap 3 (tiga) individu Harimau Sumatera. Sebelumnya, PRHSD juga sudah melakukan rehabilitasi dan release (pelepasliaran) terhadap 1 (satu) individu Harimau Sumatera, Sopi Rantang, kelamin betina, berumur 4 tahun, ke kawasan SM. Rimbang Baling, pada tanggal 1 Juli 2018. PRHSD dilengkapi dengn kandang enclosure (miniatur habitat alami yang terdiri dari gua buatan, semak belukar, sungai, dll) sebanyak 2 kandang, kandang perawatan 2 kandang, klinik satwa lengkap dengan berbagai peralatan dan obat-obatan, serta tim (tenaga) pengelola sebanyak 5 orang dibidang management, 12 orang Tim Wanadiaksa (yaitu satuan khusus mengelola kegiatan hutan konservasi) dan 11 orang tim pengaman yang melibatkan POM TNI. Salah satu Harimau Sumatera berada di kandang enclosure Banyak pelajaran dan pengalaman yang didapatkan dari PRHSD untuk menjadi motivasi dalam pengelolaan dan pengembangan BNWS. Menjadi catatan penting bahwa dibutuhkan komitmen dan keseriusan/kesungguhan dari berbagai pihak baik ditingkat pusat maupun daerah, agar BNWS bisa setara dengan PRHSD dalam kegiatan rehabilitasi dan release satwa Harimau Sumatera. PRHSD yang memiliki motto 3 R : Rescue – Rehab – Release, juga menyatakan siap bekerjasama dengan Balai Besar KSDA Sumatera, dalam hal membantu membawa Harimau Sumatera yang terkena konflik agar di rehabilitasi di PRHSD apabila di wilayah Sumatera Utara sudah tidak mampu untuk kegiatan rehablitasi dan lepasliar. Kegiatan Kunjungan Lapangan Pengelolaan Satwa Liar Exsitu, diakhiri di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan, yang berada di Kota Bukit Tinggi. Berbagai pengalaman selama 5 (lima) hari perjalanan menjadi catatan berharga bagi Tim. Terima kasih dan penghargaan tentunya layak disampaikan kepada Kepala Balai KSDA Sumbar, Dr. Erly Sukrismanto, S.Hut., M.Sc., beserta jajarannya, PRHSD serta pengelola Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. (M. Hatta, S.Hut.) Sumber: BBKSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Pemberdayaan Berbasis Gender di TN Taka Bonerate

Selayar, 29 Maret 2019. Keberhasilan pembangunan kawasan konservasi sangat ditentukan oleh sejauh mana tingkat partisipasi masyarakat dalam pelestariannya. Untuk mendorong dan meningkatkan partisipasi tersebut dilakukan pemberdayaan masyarakat yang terkait dengan pelestarian fungsi kawasan konservasi ke arah kemandirian. Pemberdayaan masyarakat ini ditujukan bukan sekedar untuk mengamankan kawasan konservasi dari kerusakan, melainkan bertujuan untuk terus menerus menumbuh-kembangkan kesadaran dan meningkatkan kemampuan/kapasitas masyarakat agar berpartisipasi dalam pembangunan kawasan konservasi secara lestari tanpa melupakan sisi kesejahteraan masyarakat. Partisipasi dalam pembangunan kawasan konservasi khususnya di TN Taka Bonerate bukan hanya menyasar kepada kelompok laki-laki nelayan. Perempuan juga merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam pembangunan kawasan konservasi. Kehidupan nelayan yang lekat dengan keterbatasan ekonomi dan ketidakpastian penghasilan mendorong para istri dan anak perempuan nelayan untuk turut berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi rumah tangga mereka, khususnya pada aktivitas pasca penangkapan. Oleh karena itu dibutuhkan statergi pemberdayaan yang tepat sasaran untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, tidak hanya laki-laki tetapi juga kaum perempuan. Salah satu bentuk pemberdayaan masyarakat yang dilakukan di TN Taka Bonerate adalah dengan melalui pembentukan kelompok yang memiliki arti/nilai ekonomi bagi kelompok masyarakat sehingga mereka sadar akan pentingnya kelestarian lingkungan kawasan TN Taka Bonerate sebagai sumber pendapatan mereka, dan pada akhirnya diharapkan akan memberi dampak kepada masyarakat lain di sekitarnya untuk turut serta menjaga kelestarian lingkungan. Sejak tahun 2012, Balai TN Taka Bonerate membentuk dan melakukan pendampingan serta pembinaan kepada kelompok masyarakat berbasis gender, yaitu para perempuan / istri nelayan. Mereka diberikan pelatihan dan dibina untuk membentuk dan mengembangkan Kelompok Usaha Produktif (KUP). Salah satu Kelompok yang menjadi binaan Balai TN Taka Bonerate adalah KUP Melati Desa Tambuna. Kelompok ini memanfaatkan ikan hasil tangkapan nelayan lokal untuk diolah menjadi produk makanan hasil perikanan yang awet dan tahan lama, yaitu kerupuk ikan. Pada tanggal 26 Maret 2019, Penyuluh Kehutanan Balai TN Taka Bonerate kembali melakukan pendampingan dan pembinaan kelompok kepada KUP Melati Desa Tambuna. Kelompok yang saat ini beranggotakan 12 orang istri nelayan ini telah mampu memproduksi hingga ribuan bungkus/kemasan kerupuk dalam 1 (satu) bulan. Ibu H. Khalifah sebagai ketua kelompok menuturkan bahwa dia dan kelompok nya mampu mengolah rata-rata 10 kg ikan menjadi 200 bungkus/kemasan kerupuk dalam sehari. Kerupuk-kerupuk ini tidak hanya dipasarkan di tingkat lokal (Desa Tambuna, Desa Pasitallu, Kayuadi, Jampea, dan kota Benteng – Selayar), tetapi juga mengirim pesanan hingga kota Makassar dan NTT. Dari usaha kelompok ini pula, ibu H. Khalifah mampu membantu membiayai kuliah anaknya hingga ke universitas di kota Makassar. Kendala yang saat ini dihadapi adalah bahan baku ikan yang tidak selalu tersedia dalam jumlah banyak dan mudah busuk. Oleh karena itu, kelompok membutuhkan freezer untuk menyimpan bahan baku ikan yang mudah rusak/busuk. Selain itu kelompok juga berencana untuk melakukan pengembangan pengemasan serta perluasan pemasaran. Untuk merealisasikan rencana tersebut, kelompok dalam waktu dekat akan mengajukan bantuan permodalan untuk pengembangan usahanya. Diharapkan dengan adanya tambahan permodalan, kendala ketersediaan bahan ikan segar dapat diatasi dan keuntungan dari hasil usaha dapat meningkat sehingga dapat membantu peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya anggota kelompok. Sumber: Asep Pranajaya, S.Pi (Penyuluh Kehutanan Muda) - Balai TN Takabonerate
Baca Berita

Yuks Guys... Jadi Pendaki Cerdas

Sobat Gepang, disadari atau tidak, saat ini mendaki gunung sudah berkembang menjadi suatu trend. Disamping untuk menjaga kebugaran tubuh, refreshing, kawula muda juga mulai sadar betapa indahnya panorama negeri nan elok ini, mulai laut, pantai sampai gunung. Bagi para pendaki, mengeksplore tempat-tempat pendakian yang belum pernah dikunjungi, merupakan kepuasan tersendiri. Semakin banyak puncak gunung ditaklukkan, kebanggan dan “gengsi” semakin tinggi. Masa muda memang masanya untuk selalu “eksis” dan mencari jati diri, puncak gunung adalah salah satu medianya. Ingat Sobat Gepang!, mendaki gunung memang sangat positif untuk olah raga, menjaga kesehatan, disamping menikmati keindahan alam, refreshing, dan uji mental. Namun tentunya kita harus membekali diri dengan pengetahuan tentang tatacara melakukan aktivitas di alam bebas dan mematuhi aturan pendakian terutama di kawasan konservasi seperti Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Mendaki akan lebih menyenangkan, apabila kita menjadi pendaki cerdas, yaitu pendaki yang peduli terhadap diri, kawan, dan lingkungan serta patuh akan aturan yang ada dan menghormati petugas di lapangan. Bagi Sobat Gepang yang ingin mendaki di kawasan konservasi, khususnya taman nasional harus punya komitmen untuk menjaga kelestarian alam. Kawasan konservasi mempunyai fungsi yang vital bagi kelangsungan kehidupan umat manusia, untuk itu kita perlu menjaga keharmonisan flora, fauna, dan ekosistemnya. Disinilah pentingnya kawan-kawan, menjadi “Pendaki Cerdas”. Sekedar mengingatkan kembali ya Guys..., kawasan konservasi taman nasional bukan hanya “surga” untuk kita manusia saja melainkan juga “surga” bagi flora dan fauna yang ada di dalamnya. Nah, sekarang di tangan kalianlah “keutuhan, keaslian, kealamian, kenyamanan, dan kelestarian” Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Masih ingatkah tentang aturan, yang mesti kita ikuti untuk melakukan pendakian di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango? Yuks kita intip lagi apa saja sih yang harus diperhatikan saat melakukan pendakian di kawasan konservasi taman nasional: Jadilah pendaki gunung yang cerdas… pendaki yang peduli diri, kawan, dan lingkungan serta patuh terhadap aturan dan menghormati petugas. Itu tidak akan mengurangi keseruan petualangan kita kok Guys.... Dengan sikap yang tepat, alam raya di TNGGP akan menyambut kita dengan tangan terbuka. Selamat mendaki gunung Sobat Gepang.... Ouh ya Sobat Gepang, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango akan mengadakan “Kampanye Pendaki Cerdas” saat acara Car Free Day (CFD) di Bundaran HI, Minggu tanggal 7 April 2019, dengan rute Plaza BCA (Jl. Thamrin) dekat Bundaran Hotel Indonesia - Ratu Plaza - Plaza BCA. Silahkan para Sobat Gepang yang mau gabung dalam acara tersebut...ditunggu ya partisipasinya.... Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Memperingati HUT UNIKA De La Salle dan TNI AU Ke-73 Lakukan Tanam Mangrove di TN BUNAKEN

Manado, 28 Maret 2019. Bertempat di pesisir utara Tanjung Pisok Kawasan Taman Nasional Bunaken tepatnya di Kelurahan Meras, Kecamatan Bunaken, Kota Manado Fakultas Pariwisata UNIKA De La Salle Manado, TNI AU dan Balai Taman Nasional Bunaken, melakukan aksi tanam mangrove. Pelaksanaan penanaman mangrove di wilayah pesisir Tanjung Pisok dalam rangka memperingati dies natalis fakultas pariwisata yang ke 4 sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dalam pengembangan ekosistem wilayah pesisir dan HUT TNI AU yang ke -73 jatuh pada 9 April nanti, yang dirangkaikan dalam memperingati Hari Bakti Rimbawan ke 36 di kawasan Taman Nasional Bunaken. Acara dibuka oleh Ibu Jelly Angelina Walasendow selaku dosen Pariwisata UNIKA De La Salle dan Komandan Lanud Sam Ratulangi, Kolonel Nav. Insan Sanjaya S.H., M.Avn.Mgt Kolonel Nav. Insan Sanjaya S.H menyampaikan bahwa kegiatan dari TNI tidak hanya melakukan pengamanan dan tugas operasi tetapi juga turut mendukung kegiatan pelestarian alam. Senada dengan Ibu Jelly A. Walansendow dalam tanggapannya bahwa konsep sustainable tourism diperkenalkan kepada mahasiswa pariwisata untuk lebih digaungkan lagi dalam memberikan informasi destinasi wisata yang ada di Indonesia. Kepala Balai Taman Nasional Bunaken, Dr. Farianna Prabandari S.Hut, M.Si dalam sambutannya menyampaikan mangrove dapat menjadi penahan erosi dan abrasi pantai, jadi semakin luas habitat tanaman mangrove maka akan semakin besar pula perlindungan terhadap daratan pantai. Selain itu mangrove sangat penting keberadaannya untuk feeding ground ikan, dan potensi besar pengembangan pariwisata alam. Setelah acara penanaman kemudian dilanjutkan dengan talkshow singkat bersama bersama Kepala Balai Taman Nasional Bunaken, UNIKA De La Salle dan Komandan Lanud Sam Ratulangi Manado. Talkshow ini membahas tentang keadaan mangrove dan potensi pariwisata di Taman Nasional Bunaken dan peran dari TNI AU dalam mendukung setiap kegiatan kepedulian kelestarian lingkungan hidup. Sebanyak 100 bibit mangrove dari jenis Rhizophora sp ditanam di kawasan pesisir Tanjung Pisok. Kami berharap peran berbagai pihak untuk mendukung pelestarian kawasan Taman Nasional Bunaken, kepedulian ini harus hadir dari individu dan dapat memberikan efek positif kepada seluruh lapisan masyarakat. Dengan adanya kegiatan ini bisa memberikan manfaat yang besar untuk melindungi daratan pesisir di kawasan Taman Nasional Bunaken, tutup Kepala Balai. Sumber : Dadi Pratama Socenta S.Si (Calon Polhut Pertama) - Balai TN Bunaken
Baca Berita

Berburu Para Pemburu Satwa Liar Gunung Ciremai

Kuningan, 29 Maret 2019. Perburuan menjadi prioritas perlindungan dan pengamanan hutan Gunung Ciremai. Upaya patroli terus dilakukan sebagai bagian pencegahan. Selain itu, upaya sosialisasi pun berjalan sebagai usaha penyadartahuan. Bukti upaya-upaya ini terbayar (28/3). Kerja keras, pengintaian dan kerjasama dengan masyarakat akhirnya perburuan dapat disergap. Meski pelaku belum berhasil tertangkap, karena saat didekati langsung lari tunggang langgang. Selain posisi dan medan tidak memungkinkan. Akan tetapi, petugas berhasil mendokumentasikan para pelaku dan barang bukti hasil buruan berhasil diamankan. Barang bukti yang diamankan yakni seekor Babi hutan (Sus sp). Perburuan ini dilakukan di blok Sumur Desa Sayana. Kurang lebih 200 m dari batas kawasan, kaki arah di utara gunung Ciremai. Penyergapan ini bermula dari laporan adanya perburuan. Petugas pun bergegas ke lokasi perburuan dan berhasil menangkap basah perburuan. Para pemburu kerap melakukan aksi perburuan dengan alasan babi menjadi hama, padahal itu cuma alasan pembenaran semata yang jelas ini merupakan modus dalam aksi mereka, karena setelah dapat mereka kemudian menjualnya ke penampung sebagai penghasilan tambahan mereka. Babi hutan sebenarnya sensitif. Jika hewan ini mendatangi kebun, itu artinya ada penggiringan dari dalam kawasan. Bisa juga karena kondisi pakan tidak tersedia. Hewan ini jika diburu terus menerus maka akan terjadi kekurangan pasokan makanan untuk Macan tutul. Jika macan tutul sudah kelaparan maka macan tersebut akan turun ke perkampungan mencari kambing atau ayam bahkan manusia. Oleh karenanya marilah jaga hutan beserta isinya jangan terus diburu [Teks & foto © Yaya-BTNGC | 032019]. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Orangutan Panglima, Orangutan Liar Yang Diselamatkan Dari Kebun Warga

Pangkalan Bun, 29 Maret 2019. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah bersama Orangutan Foundation (OF-UK) Indonesia melakukan penyelamatan (rescue) satu individu orangutan dari kebun dekat pemukiman masyarakat. Pada hari rabu (27/03/2019), petugas Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Pangkalan Bun, BKSDA Kalimantan Tengah mendapat laporan adanya Orangutan liar di kebun buah milik warga. Pihak BKSDA Kalimantan Tengah melalui Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) berkordinasi dengan OF-UK Indonesia untuk melakukan pengecekan dan penyelamatan atas laporan tersebut. Setelah melakukan persiapan, tim rescue yang terdiri dari WRU-BKSDA Kalimantan Tengah (Muda Yulivan, Ibnu, Riki, John) bersama tim rescue OF-UK Indonesia (drh. Dimas Yuzrifar, Syahrudin) berangkat menuju lokasi di daerah Pangkalan Lima, Kelurahan Baru, Kecamatan Arut Selatan. Lokasi tersebut tidak jauh dari pusat kota Pangkalan Bun yang berjarak sekitar 40 Km dan ditempuh dalam waktu 45 menit. Di lokasi kejadian terlihat adanya dua sarang pada satu pohon, menurut informasi dari pelapor pohon tersebut merupakan tempat orangutan beristirahat. Namun pada saat tim datang, orangutan tersebut tidak diketahui keberadaannya, karena sang pelapor kehilangan jejak ketika melakukan pemantauan. Selanjutnya, tim rescue memutuskan untuk kembali ke Pangkalan Bun dan menunggu laporan jika keberadaan orangutan tersebut sudah diketahui. Pada pukul 15:30 WIB, kami mendapat laporan kembali tentang keberadaan orangutan liar tersebut. Setelah 45 menit perjalanan, tim rescue tiba di lokasi dan orangutan tersebut terlihat masih kecil yang berada sangat jauh diatas pohon. Tim langsung melakukan tindakan rescue, tetapi karena orangutan berada di luar jangkauan tembak, maka tim rescue mengalami kesulitan. Selain itu, orangutan tersebut juga seakan berpindah untuk mencari titik buta tim rescue, terutama petugas penembak bius. Dengan sangat terpaksa, tim rescue hanya memantau untuk memastikan dimana orangutan tersebut bersarang. Hari pun semakin gelap, akhirnya tim rescue memutuskan untuk pulang dan akan kembali keesokan harinya pada pagi hari saat orangutan tersebut masih di dalam sarangnya. Keesokan harinya, tim rescue berangkat dari Pangkalan Bun menuju lokasi jam 04:30 WIB. Pagi hari itu, hujan lebat turun sejak dini hari, tetapi tim rescue tetap mantap berangkat. Setelah sampai lokasi, tim rescue tetap melakukan pencarian keberadaan orangutan di bawah guyuran hujan. Sekitar pukul 06:00 WIB, tim rescue menemukan keberadaan orangutan di atas sarang pada pohon yang tidak jauh dari lokasi sebelumnya. Sebagai antisipasi terjadinya konflik antara satwa dan manusia serta mempertimbangkan lokasi keberadaan orangutan yang dekat dengan pemukiman dan area berhutannya sempit, maka tim memutuskan untuk melakukan rescue terhadap orangutan tersebut. Tim rescue segera mempersiapkan pembiusan dengan cara ditembak, dalam waktu yang singkat akhirnya orangutan dapat dibius. Kemudian salah satu anggota tim, Syahrudin memanjat pohon setinggi 10 meter untuk menjemput orangutan tersebut. Tim langsung melakukan pemeriksaan, orangutan teridentifikasi berjenis kelamin jantan, berat badan kurang lebih 15 kg dan umurnya diperkirakan 5 tahun. drh. Dimas Yufrizar melakukan tindakan medis, yaitu mengambil sampel darah orangutan guna pemeriksaan laboratorium, memberikan injeksi multivitamin dan antibiotik. Kemudian, orangutan dimasukan ke dalam kandang angkut dan dibawa ke kantor SKW II Pangkalan Bun, BKSDA Kalimantan Tengah. Program Manager OF-UK Indonesia (Hendra Gunawan), menyatakan berdasarkan arahan dari BKSDA Kalimantan Tengah, pada hari Jum’at (29/03/2019) orangutan tersebut akan ditranslokasi ke Suaka Margasatwa (SM) Lamandau. Hendra juga menyampaikan sebelum dilepasliarkan, orangutan tersebut akan diisolasi dan dihabituasi serta dipantau kondisinya oleh dokter hewan dan petugas lapangan OF-UK Indonesia. Sementara itu, Kepala Balai KSDA Kalimantan Tengah (Ir. Adib Gunawan) menerangkan terkait pilihan SM Lamandau sebagai lokasi habituasi dan pelepasliaran, menurut Adib, SM Lamandau merupakan habitat orangutan dengan kondisi hutan terjaga dan pakan alami cukup melimpah. Selain itu, Balai KSDA Kalimantan Tengah yang didukung oleh OF-UK Indonesia melakukan penjagaan dan pemantauan kawasan secara rutin dan berkelanjutan di SM Lamandau. Seperti pada umumnya, untuk memudahkan identifikasi dan pemantauan, setiap orangutan yang diselamatkan dan dilepasliarkan diberi nama. Nama yang disematkan pada orangutan tersebut adalah Panglima, nama ini dipilih karena satwa dilindungi tersebut diselamatkan dari kebun dekat pemukiman warga yang jauh dari area berhutan di daerah Pangkalan Lima. Semoga proses pemulihan orangutan Panglima melalui isolasi dan habituasi secara alami dapat berjalan lancar, sehingga orangutan Panglima segera dapat dilepasliarkan serta hidup aman dan nyaman bersama orangutan lainnya di SM Lamandau sebagai habitat aslinya. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Tengah & OF-UK Indonesia
Baca Berita

Bersinergi Menghijaukan TN. MerBeti

Kamis, 28 Maret 2019. Memasuki Triwulan Pertama Tahun 2019, Kepala Balai bersama Tim Evaluasi Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) yang didampingi oleh Kepala SPTN Wilayah II Ambulu dan Kepala Resort Sanenrejo melakukan pemantauan kegiatan pemberdayaan masyarakat di Desa Sanenrejo, Kec. Tempurejo, Kab. Jember. Pemantauan yang dilakukan berupa pertemuan dan berdiskusi bersama kelompok petani rehabilitasi Desa Sanenrejo dan Kelompok Masyarakat Peduli Hutan Konservasi (MPHK). Pertemuan ini bertujuan untuk menjalin silaturahim dengan masyarakat sekitar kawasan TN MerBeti, menjaring keinginan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan hutan khususnya zona rehabilitasi TN MerBeti, dan menyatukan visi antara TN MerBeti dengan masyarakat dalam pengelolaan hutan. Dari pertemuan ini, masyarakat yang bergabung di Kelompok petani rehabilitasi dan MPHK sepakat untuk mendukung program TN MerBeti dalam menjaga hutan dan menghijaukan kembali zona rehabilitasi. Kelompok petani rehabilitasi mendukung dengan menanam tanaman hutan dan membuat persemaian berbasis tanaman hutan seperti kemiri, kluwek, kepuh, beringin, pinang dan kedawung. Di sela-sela tanaman hutan tersebut petani dapat menanam jenis tanaman berbuah seperti durian, sirsak, alpukat dan nangka. Kelompok MPHK telah memiliki tempat usaha persemaian. Kepala Balai TN MerBeti beserta tim melakukan kunjungan ke tempat persemaian tersebut dan dilanjutkan pengecekan di lahan rehabilitasi Blok Aren. “MPHK harus menjadi pelopor dalam menerapkan petik, olah, jual hasil tanaman rehabilitasi. Kalau hanya petik dan jual, tengkulak bisa mempermainkan harga. Namun jika menjual dalam bentuk hasil pengolahan, produk tersebut bisa dipasarkan di toko, pasar dan dapat dinikmati langsung oleg konsumen, nilai jualnya pun menjadi lebih tinggi.” ujar Maman Surahman, S.Hut, M. Si, Kabalai TN MerBeti. Untuk mendukung pengolahan hasil tanaman rehabilitasi, TN MerBeti akan mencoba memfasilitasi peralatan seperti pemecah kemiri dan alat pengolah keripik gadung. Sumber: Balai TN Meru Betiri

Menampilkan 5.857–5.872 dari 11.140 publikasi