Sabtu, 25 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Upaya penyelamatan Penyu di TN Meru Betiri

Banyuwangi, 2 April 2019. Kepala Balai TN Meru Betiri melakukan kegiatan pembinaan pegawai kepada personil SPTN Wilayah I Sarongan di Resort Sukamade. Kepala Balai (Maman Surahman Maman Surahman, S.Hut, M. Si,) menyampaikan ucapan terima kasih kepada para THL dan MMP yang telah bersedia bergabung dengan TN. MerBeti. Fungsi dari THL dan MMP di TN. MerBeti adalah untuk membantu ASN dalam mengelola kawasan di TN MerBeti. Dan diharapkan dengan adanya THL dan MMP, ASN TN. MerBeti lebih semangat lagi dalam melaksanakan tupoksinya. Saat berkunjung ke Resort Sukamade, Kepala Balai TN. MerBeti (Meru Betiri) mengikuti kegiatan pengamatan penyu (Chelonioidea) dilapangan dan berhasil menemukan satu ekor Penyu Hijau yang bertelur dengan jumlah telur sebanyak 98 butir. Karena Kepala Balai melihat tidak tersedianya tempat untuk pengunjung berkumpul di pantai, serta petugas TN. MerBeti yang hilir-mudik sepanjang pantai untuk melihat penyu bertelur. Maka Kepala Balai TN.MerBeti berencana membangun menara pantau penyu setinggi kurang lebih 5 meter lengkap dengan teropong infrarednya, dan bagian bawahnya akan dibangun tempat yang nyaman untuk pengunjung menunggu proses penyu bertelur. Fungsi dari teropong tersebut adalah untuk memantau penyu yang mendarat di Pantai Sukamade. Pagi harinya sebelum turun dari Resort Sukamade, Kepala Balai beserta tim dari Kantor Balai TN. MerBeti melakukan pelasan 100 ekor tukik ke laut. Kepala Balai berpesan "Sebenarnya potensi TN. MerBeti sangat luar biasa disini kita bisa melihat dengan mudah Ayam Hutan Hijau, Burung Kangkerang yang sedang bertengger, Merak yang berjalan santai diseberang jalan, Lutung yang sedang berayun, Penyu bertelur, Rusa dan masih banyak yang lain. Tinggal bagaimana kita mengemasnya menjadi suatu atraksi wisata yang menarik" Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Dua Pemburu Liar Bersenjata Gejluk Ditangkap Tim Patroli TN Way Kambas

Labuhan Ratu, 3 April 2019. Tim Patroli yang terdiri dari anggota Polhut dan Rhino Protection Unit (RPU) Balai TN Way Kambas, sekitar pukul 05.30 melakukan penangkapan 2 orang pelaku perburuan liar yang terjadi di Resort Rawa Bunder Seksi PTN Wilayah I Way Kanan. Dalam penangkapan ini turut diamankan beberapa Barang Bukti hasil perburuan antara lain 4 (empat) ekor Napu (Tragulus napu) dan 4 (empat) ekor kijang (muntiacus muntjak) serta peralatan berburu berupa : Penangkapan ini berawal dari laporan masyarakat pada tanggal 2 April 2019 sekitar pukul 17.30 melihat dua orang yang akan melakukan perburuan liar di Kawasan Taman Nasional Way Kambas, tim gabungan operasi pengamanan hutan segara melakukan persiapan dan pada pukul 22.00 WIB tim menuju lokasi TKP. Pada pukul 24.00 WIB tim tiba di TKP langsung melakukan pemantauan di sekitar Rawa Kerek Wilayah Resort Rawa Bunder, pada hari Rabu 03 April 2019 pukul 05.30 WIB tim melakukan penyergapan terhadap 2 pelaku dan melakukan pemeriksaan di sekitar TKP. Tim menemukan 1 karung yang berisi 2 (dua) ekor Kijang yang sudah dipotong-potong dan 1 (satu) ekor Napo serta beberapa peralatan berburu. Selanjutnya tim membawa pelaku beserta barang bukti ke kantor Balai Taman Nasional Way Kambas untuk dilakukan penyidikan. TN. Way Kambas bekerjasama dengan tim Penyidik Gakkum Palembang serta Polres Lampung Timur melakukan penyidikan terhadap para tersangka. Pelaku diduga melanggar Pasal 21 Ayat (2) huruf a, dan Pasal 33 ayat (3) Jo Pasal 40 ayat (2) Undang-Undang RI No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dengan ancaman hukuman pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Kepala Balai, Subakir SH. MH. Menyampaikan bahwa petugas TN. Way Kambas tidak akan mentolerir siapa saja yang melakukan kegiatan perburuan di kawasan TN. Way Kambas. “Siapa saja yang terlibat akan kami proses hukum, tidak ada toleransi bagi para pelanggar hukum, apalagi ini perburuan satwa dilindungi”, tegas Kepala Balai. Kepala Balai juga mengucapkan banyak terima kasih dan memberi apresiasi kepada masyarakat sekitar yang sudah peduli dengan melaporkan kegiatan perburuan ini. Tanpa kepedulian dan kerjasama masyarakat sekitar kawasan TN. Way Kambas, petugas TN. Way Kambas tidak mungkin mampu bekerja sendiri. Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada Kepala Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera (Balai PPHLHK Wilayah Sumatera) dan Kapolres Lampung Timur yang sudah membantu dalam penyidikan kasus ini. Kepala Balai juga berharap para tersangka bisa dijatuhi hukuman maksimal agar ada efek jera bagi para pelaku kejahatan perburuan satwa liar dilindungi. Sumber: Humas Balai TN Way Kambas
Baca Berita

Bersama Kelompok MER, Membangun Ekowisata di Rajegwesi

Rabu 3 April 2019. Kepala Balai TN. Meru Betiri (Maman Surahman) berkunjung ke Dusun Rajegwesi Resort Rajegwesi SPTN I Sarongan, untuk bertemu dengan ketua Masyarakat Ekowisata Rajegwesi (Mat Sujak) beserta anggota. MER atau Masyarakat Ekowisata Rajegwesi merupakan masyarakat binaan TN. MerBeti yang dibentuk tahun 2011, yang bergerak dibidang pariwisata dan saat ini beranggotakan 160 masyarakat nelayan. Kendala yang dihadapi MER saat ini adalah akses jalan yang rusak serta sarpras yang belum memadai di Teluk Hijau. Kepala Balai TN. Meru Betiri (MerBeti) menyampaikan bahwa "Perlunya membangun kelembagaan yang kuat terlebih dahulu di MER, sehingga kesadaran dan kerjasama yang solid antar anggota akan terjalin. Sedangkan untuk sarpras, Kami akan membangunnya secara bertahap". Kepala Balai TN. MerBeti juga menyampaikan bahwa "Saat ini yang lebih mendesak untuk diselesaikan oleh MER adalah pengajuna IUPJWA kelompok. Sehingga jika ijin tersebut telah terbit, dapat dijadikan dasar oleh MER dalam memungut jasa pelayanan wisata dikawasan Rajegwesi dan Teluk Hijau melalui pencetakan tiket. Dan saya minta agar petugas TN. MerBeti mengawal proses ini hingga selesai". Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Nuri Kepala Hitam Selamat dari Tindak Ilegal

Jayapura, 2 April 2019. Pasar Hamadi, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, masih hiruk pikuk pada pukul 14.30 WIT di hari Senin (1/4). Dua karung putih berlubang yang diikat dengan tali rafia mencuri perhatian tim patroli dari Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV Sarmi. Saat pemilik karung menyadari kehadiran tim patroli, ia serta merta meletakkan dua karung yang dibawanya berlari ke arah permukiman warga. Tim patroli melakukan pengejaran, namun kehilangan jejak sehingga yang tersisa hanyalah barang bukti. Tonci T. Aibini, Kepala SKW IV Sarmi, segera memeriksa isi karung dan menemukan lima ekor satwa khas Papua yang dilindungi, yang selanjutnya dijadikan barang bukti. Sebagaimana tercantum dalam Laporan Kejadian, barang bukti tersebut berupa seekor cenderawasih mati kawat (Seleucidis melanoleucus), seekor julang Papua (Rhyticerus plicatus), seekor nuri kepala hitam (Lorius lory), dan dua ekor nuri cokelat (Chalcopsitta duivenbodei). Dugaan kuat kelima ekor burung tersebut akan diperdagangkan di Pasar Hamadi. Tonci menyatakan keprihatinan atas temuan ini. “Ini masuk kategori tindak memperniagakan atau memperjualbelikan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup tanpa izin pejabat yang berwenang. Sangat disayangkan masih terjadi kasus semacam ini,” ungkapnya. Tonci bersama tim patroli telah menyerahkan barang bukti kepada petugas kandang transit Balai Besar KSDA Papua, untuk selanjutnya mendapatkan penanganan dari drh. Widya selaku dokter hewan di Balai Besar KSDA Papua. Melihat kejadian ini, Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si. menyampaikan apresiasi atas kinerja tim patroli dari Seksi Konservasi Wilayah IV Sarmi. Edward Sembiring menyatakan, “Harapan saya ke depan, sama seperti harapan kita semua, semoga kejadian seperti ini tidak terulang. Masyarakat harus didampingi secara baik dan terus-menerus, supaya mendapatkan kesadaran tentang bersikap menjaga, dan mengerti bahwa satwa-satwa ini dilindungi demi kepentingan alam semesta.” Sumber: Balai Besar KSDA Papua
Baca Berita

Aksi Generasi Millenial di Kota Dumai

Salam konservasi sahabat..... Pagi ini mimin punya cerita menarik dari generasi millenial di kota Dumai. Kawan kawan yang tergabung di Umah Pumpun, Lembaga Pariwisata dan Pencinta Alam Mahasiswa Islam (Lepami) serta Pecinta Alam Bahari (PAB) giat melakukan pemungutan sampah plastik. Hal ini dilakukan rutin karena mereka sangat memperhatikan dan mencintai lingkungan. Hebatnya mereka adalah generasi muda yang tanpa sungkan dan gengsi dengan kesadaran diri langsung memunguti sampah plastik yang berserakan di areal Hutan Bakau senja itu..... Waduh....sungguh pemandangan yang mengharukan sekaligus membanggakan ya.... Coba jika kesadaran itu tumbuh dari dalam jiwa setiap generasi muda... Yuuuk...kita jangan sampai kalah sama mereka... Sumber: Balai Besar KSDA Riau #kemenlhk #ditjenksdae #humasklhk
Baca Berita

Evaluasi dan Persiapan Exit Strategy Program Restorasi Ekosistem TN Matalawa

Waingapu, 1 April 2019. Restorasi kawasan di Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) pada tahun ini merupakan tahun terakhir atau tahun penyerahan proyek yang telah dilakukan selama ± 5 tahun. TN Matalawa sebagai pengelola kawasan akan berupaya melanjutkan program-program yang telah dikerjakan Japan International Cooperation System (JICS) untuk merawat tanaman seluas 261 ha, pemberdayaan dan pendampingan masyarakat, school visit, dan lain-lain sehingga cita-cita restorasi kawasan hutan lestari masyarakat sejahtera dapat tercapai. Dalam rangka prosesi penyerahan yang akan dilaksanakan akhir tahun ini, penanggung jawab lapangan JICS memaparkan sejumlah kemajuan proyek kepada Kepala Balai TN Matalawa dan para pegawai teknis terkait. Paparan yang disampaikan oleh field manager, Arya, menjelaskan beberapa hal, yaitu, kondisi tanaman pada 4 lokasi restorasi dengan persen tumbuh sekitar 81-89 %, program pemberdayaan masyarakat di 4 desa, serta pendidikan lingkungan pada beberapa sekolah dasar di sekitar kawasan restorasi. Khusus pada kegiatan pendampingan masyarakat dalam bidang pertanian telah menghasilkan komoditi unggulan dg kuantitas yg menunjukan tingginya produktifitas lahan. Kepala Balai TN Matalawa, Ir. Memen Suparman, M.M, memberikan apresiasi kepada JICS yang telah membantu TN Matalawa melakukan restorasi kawasan. Hasil paparan dengan progress baik menunjukkan bahwa di daerah kering pun restorasi kawasan bisa dilakukan. Balai TN Matalawa akan melanjutkan program-program yang telah dikerjakan sehingga ekosistem kawasan TN Matalawa yang direstorasi menjadi hutan seperti sedia kala.(lry/mtlw) Sumber: Balai Taman Nasional Matalawa
Baca Berita

Pelepasliaran Penyu Hijau (Chelonia mydas) di Pantai Desa Swarangan SM Pelaihari

Pelaihari, 1 April 2019 – Balai KSDA Kalimantan Selatan, pada hari ini Senin, 1 April 2019 menerima penyerahan satu ekor satwa liar dilindungi undang-undang yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas) jenis kelamin betina dengan panjang 83 Cm, lebar 70 Cm dan berat 70 Kg dari masyarakat melalui perwakilan Sekretaris Desa Swarangan Bapak Hamdani. Satwa ini ditemukan di laut Desa Swarangan Kec. Jorong Kab. Tanah Laut oleh nelayan pada hari Sabtu, 30 maret 2019 sekitar pukul 17.00 WITA dalam kondisi sakit, para nelayan kemudian berinisiatif menyerahkan kepada Sekretaris Desa Swarangan yang kemudian mengamankan dan merawat sebelum dilepasliarkan. Kemudian Bapak Hamdani (Sekdes) meminta ketua kelompok binaan Balai KSDA Kalimantan Selatan (Laksamana Bahari) Bapak Taibani, berkoordinasi ke Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari dan Resort Jorong. Petugas Resort Jorong melaksanakan perintah dan arahan dari Kepala Seksi Wilayah I Pelaihari Ibu Mirta Sari, S.Hut., M.P untuk melakukan observasi. Hasil dari observasi dilapangan, kondisi fisik satwa yang masih cedera berupa luka kecil pada bagian tungkai depan kanan, akhirnya satwa tersebut dirawat satu malam oleh kelompok masyarakat (Laksamana Bahari) binaan Balai KSDA Kalimantan Selatan tersebut. Pada hari Senin, 1 April 2019 pukul 15.30 WITA melakukan pelepasliaran oleh tim Seksi Wilayah I Pelaihari Resort Jorong (Tarjuani, Noer Vana Dwi P dan Mustafa) bersama aparat Desa Swarangan di Pantai Swarangan dengan koordinat yang telah ditetapkan. Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari menyampaikan ucapan terimakasih kepada Bapak Hamdani (Sekdes Swarangan) dan warganya yang telah berpartisifasi aktif dalam penyelamatan satwa jenis Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Anggota Resort Jorong yang bertindak cepat dalam penanganannya. Kepada masyarakat, Kepala Balai KSDA Kalimatan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc juga terus mengajak dan menghimbau agar tidak memelihara satwa liar yang dilindungi undang-undang dan akan lebih baik dan bijaksana membiarkan satwa liar tersebut bebas berkembang biak di alamnya demi kesinambungan lingkungan. (jrz) Sumber : Noer Vana Dwi Prasetyo - PEH SKW I Pelaihari Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Pemetaan Lokasi Strategis Bersama Para Penyintas Banjir Bandang di Bagian Utara Pegunungan Cycloop

Jayapura, 31 Maret 2019. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si. bersama Kepala Bagian Tata Usaha, Abdul Azis Bakry, S.Pi., M.Si., melakukan kunjungan ke wilayah kerja Resort Tepera Yewena Yosu dan Ravenirara, yang terkena dampak bencana banjir bandang. Hadir pula dalam kunjungan tersebut Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Papua, Ketua Dewan Adat Suku Tepera Yewena Yosu, Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Sarmi, staf BBKSDA Papua dan BPKH Wilayah X Jayapura, Kepala Resort Ravenirara, dan Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Kunjungan terfokus di tiga kampung, yaitu Kampung Yongsu Desoyo di wilayah kerja Resort Tepera, serta Kampung Ormu Wari dan Nachatawa yang menjadi wilayah kerja Resort Ravenirara. Berdasarkan investigasi di lapangan yang dilakukan tim Resort Ravenirara bersama MMP, tidak terdapat korban jiwa dalam tragedi banjir bandang pada 18 Maret lalu. Masyarakat dapat mengantisipasi dengan segera meninggalkan perkampungan, mencari tempat-tempat yang aman dari jalur air bah dan luapan sungai. Namun kerusakan sarana dan prasarana dapat dikatakan sangat parah. Selain rumah-rumah warga yang hanyut terbawa arus air, fasilitas umum berupa balai kampung, puskesmas, dan pos yandu juga mengalami kerusakan sangat berat. Edward Sembiring menyatakan, “Kunjungan ini untuk membangun diskusi bersama masyarakat yang terkena dampak banjir, salah satunya terkait pemetaan lokasi strategis agar ke depannya masyarakat dapat membangun hunian di lokasi-lokasi yang aman dari berbagai bentuk gejala alam. Contohnya banjir bandang seperti ini. Kalau masyarakat bermukim di lokasi-lokasi aman, tentu tidak akan terkena dampak, atau paling tidak dampak itu dapat diminimalkan.” Pada kunjungan tersebut, Balai Besar KSDA Papua memberikan bantuan berupa peralatan memasak untuk para penyintas, sebagai barang yang mereka perlukan secara mendesak. Mengingat kampung-kampung yang menjadi target kunjungan ini terletak di balik Pegunungan Cycloop bagian utara, akses masyarakat ke dunia luar cukup rumit dalam kondisi sekarang. Satu-satunya alat transportasi yang dapat mereka gunakan untuk menjangkau pasar dan berbagai fasilitas lainnya adalah perahu atau speed boat. Mereka harus menerobos garangnya ombak Samudera Pasifik selama kurang lebih dua jam untuk mencapai Kota Jayapura. Namun saat ini masyarakat belum dapat beraktivitas senormal bisanya, meski harapan untuk segera bangkit tampak jelas di mata mereka. [] Sumber : Balai Besar KSDA Papua Call Center : 0823-9802-9978
Baca Berita

Langka, Penyu Bertelur Siang Hari

Banyuwangi, 24 maret 2019. Minggu pagi, moment langka ini terjadi. Peristiwa ini disaksikan juga oleh 2 (dua) WNA dari Perancis yang sedang berkunjung. Penyu Kesiangan Bertelur. Biasanya penyu bertelur pada malam hari, ini menjadi salah satu atraksi wisata yang bisa kita nikmati di Pantai Sukamade, Banyuwangi, di bawah pengelolaan Unit Konsevasi Penyu (UKP), Resort Sukamade, SPTN Wilayah I Sarongan, TN Meru Betiri (MerBeti). Moment ini dijumpai saat sebagian anggota Resort Sukamade melakukan patroli di Pantai pada pukul 06.15 WIB. Penyu mendarat ke Pantai, menggali sarang dan bertelur. Kemudian menutup sarang telurnya dan kembali ke laut. Dari sarang itu petugas berhasil mengamankan 94 butir telur penyu. Telur ini kemudian dipindahkan ke bak penetasan di UKP, tempat konservasi penyu semi alami TN MerBeti. Telur segera diamankan dari predator alam yang mengintai, seperti biawak, babi hutan dan lainnya serta pencurian telur oleh manusia secara illegal. Menanggapi moment langka ini, Eko Setyo Budi, S.H. Kepala SPTNW I Sarongan berpesan kepada petugas Resort Sukamade untuk meningkatkan giat patroli dan meningkatkan kewaspadaan agar konservasi penyu berjalan baik, telur penyu aman dari pencurian dan kondisi aman terkendali. Sumber: Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Mendiagnosa Penyakit TN Meru Betiri dan Mencari Obatnya

Senin, 01 April 2019. Bertempat di Perpustakaan Kantor Balai TN Meru Betiri (MerBeti) berlangsung rapat pembahasan tindak lanjut PKS antara TN MerBeti dengan Universitas Jember (UNEJ). Perjanjian kerjasama ini tentang Penguatan Fungsi di Bidang Pemulihan Ekosistem (PE), Pemberdayaan Masyakat dan Penelitian dengan Nomor: PKS. 958/T.15/TU/KSK/12/2017 dan Nomor 19197/UN25/KS/2017 berlaku sejak tanggal 07 Desember 2017. Rapat dihadiri oleh kabalai, KSBTU, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) TN MerBeti, dan Drs. Wachju Subchan, MS., PhD. selaku Wakil Rektor II UNEJ serta dosen/ tim UNEJ. Dari kerjasama ini diharapkan dapat mendiagnosa “penyakit-penyakit” yang diderita MerBeti dan mencarikan obatnya. Konsep pengelolaan zona rehabilitasi: alih profesi, alih komoditi dan alih lokasi. “Ini salah satu upaya yang baik untuk penyelesaian permasalahan kawasan baik PE, pemberdayaan masyarakat maupun kegiatan penelitian. Hal ini sejalan dengan konsep 10 cara baru kelola KK yaitu membangun kerjasama lintas kementerian dan scientific based dalam menentukan kebijakan.” Kata Maman Surahman, S.Hut, M.Si. Sumber: Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Kunjungan Kerja Kepala Balai TN Matalawa Ke Kawasan Hutan Laiwangi Wanggameti

Waingapu, 1 April 2019. Ir. Memen Suparman MM selaku kepala Balai TN Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) melakukan kunjungan pertamanya setelah resmi dilantik menjadi Kepala Balai Baru. Didampingi oleh Plt KSBTU Hastoto Alifianto S.Hut., M.Si dan beberapa staf, melakukan kunjungan kerja selama tiga hari ke beberapa tempat mulai dari Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) wilayah III Matawai Lapau, Kantor Resort Tandulajangga , Kantor Resort Tawui, hingga kantor Resort Praingkareha. Kunjungan kerja kali ini dikhususkan ke wilayah kerja hutan Laiwangi Wanggameti, yang termasuk kedalam wilayah kerja SPTN III Matawai Lapau dan sebagaian masuk kedalam SPTN II Lewa. Kunjungan ini sekaligus melakukan pembinaan Kepala Balai ke para petugas yang bertugas di lapangan. Suasana penuh keakraban dan kekeluargaan tercipta tiap kali kunjungan. Di sela-sela perjalannya, Kepala Balai tak kenal lelah melakukan pemantauan kondisi lapangan diantaranya pengamatan lokasi Makam Raja Nggongi, Air Terjun Laputi sekaligus memantau PLTMH Laputi, selain itu juga Kepala Balai mengunjungi kawasan hutan Billa sebagai spot surganya burung yang merupakan tempat favorit para Birdwatcher. Kepala Balai TN Matalwa dalam sela-sela kunjungannya menyampaikan bahwa upaya pengelolaan Kawasan Konservasi khusunya di kawasan Taman Nasional Matalawa tentunya tidak bisa terlepas dari upaya kolaborasi berbagai pihak juga peranan dari masyarakat penyangga sendiri. Upaya Pelestarian hutan sumba yang tersisa sebagai benteng terakhir Eksosistem Pula Sumba akan menjadi bermakna dan syarat manfaat apabila sama-sama merasakan betapa pentingnya keberadaan hutan itu sendiri. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Balai TN Matalawa Terus Galakkan Pemulihan Ekosistem

Waingapu, 1 April 2019. Berada di Kawasan Hutan Tana Modu, Resort Taman Mas Wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) 1 Waibakul, Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa). Gaudencio Gabriel selaku kepala resort sekaligus penanggung jawab lapang kegiatan Pemulihan Ekosistem sedang melakukan pengawasan dalam pelaksanaan pemeliharaan tanaman yang telah di tanam akhir tahun 2018. Kondisi tanaman saat ini terlihat cukup segar dan nampak banyak percabangan dan daun baru telah muncul di tiap anakan yang ditanam. Tanah yang ada terasa cukup basah mengingat intensitas hujan cukup tinggi ditempat tersebut. Serangkaian kegiatan pemeliharaan tanaman di lakukan mulai dari pembersihan gulma tanaman hingga mengecek kondisi pagar yang terpasang apakah terjadi kerusakan atau tidak. mengingat lokasi ini cukup rawan dari gangguan hewan ternak dan sekaligus melakukan penyulaman tanaman bagi tanaman yang mati. Upaya pemulihan ekosistem ini merupakan kegiatan penting dari Taman Nasional Matalawa mengingat peranan dan fungsi dalam menjaga keseimbangan Ekosistem Pulau Sumba serta mendukung Rencana Pengelolaan Jangka Menengah (RPJM) Direktorat Jendral KSDAE Tahun 2015-2019, yang termuat dalam Keputusan Dirjen KSDAE No:SK.18/KSDAE/KK/KSDAE.1/1/2016 tentang Penetapan Lokasi Pemulihan Ekosistem Pada Kawasan Konsevasi yang Terdegradasi seluas 100.000ha. Ir. Memen Suparman MM selaku Kepala Balai TN Matalawa menyambut gembira upaya pemulihan ekosistem yang telah dilaksanakan oleh TN Matalawa hingga saat ini, semoga upaya yang telah kita kerjakan mampu memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat serta mampu menjaga keseimbangan ekosistem Pulau Sumba. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Pelepasliaran Beruang Madu, Paddington Berlari Menuju Hutan SM Lamandau

SM Lamandau, 26 Maret 2019. Balai KSDA Kalimantan Tengah bersama Orangutan Foundation (OF-UK) Indonesia melakukan pelepasliaran satu individu beruang madu di Suaka Margasatwa (SM) Lamandau. Beruang tersebut merupakan hasil penyerahan warga Desa Bukit Makmur, Kotawaringin Timur pada tanggal 12 September 2017 yang lalu. Oleh pemiliknya, beruang jantan ini dijadikan sebagai hewan peliharaan dan saat diserahkan masih berusia sekitar 2-3 tahun. Beruang ini kemudian diberi nama Paddington. Saat diserahkan, Paddington masih memiliki sifat liar dan tidak jinak. Kemungkinan pemiliknya masih belum lama memeliharanya. Hanya saja, kondisi Paddington tampak agak kurus dan gigi taringnya tidak ada. Sehingga, beruang ini memerlukan waktu untuk memulihkan kondisi tubuh dan gigi taringnya kembali agar dapat bertahan hidup di hutan. Paddington kemudian ditranslokasi ke Camp Gemini, SM Lamandau pada tanggal 29 Oktober 2017 untuk dirawat dan dipulihkan kondisinya. Selama perawatan, Paddington diberikan pakan buah dan rayap yang terdapat di batang-batang kayu lapuk. Setelah lebih dari 1 tahun menjalani perawatan dan pemulihan, kondisi Paddington menjadi lebih sehat dan pergerakannya lincah. Gigi taringnya sudah tumbuh normal dan dapat digunakan dengan baik untuk mencari rayap di batang kayu lapuk yang kami sediakan di kandangnya. Dengan sifat liarnya yang masih terlihat dan kondisi kesehatannya yang baik, maka Paddington siap untuk dilepasliarkan kembali ke hutan. Tim membawa Paddington dengan kandang angkut ke lokasi pelepasliarannya di area Camp Gemini, SM Lamandau. Sesaat setelah pintu kandang dibuka, Paddington langsung berlari menuju ke dalam hutan dengan cepat, sampai akhirnya beruang Paddington menghilang dari pandangan. Semoga beruang madu Paddington sehat dan kerasan di Hutan SM Lamandau yang sejatinya merupakan rumah bagi Paddington dan teman-temannya. (BKSDA Kalteng-OF UK Indonesia) Sumber: BKSDA Kalteng - OF UK Indonesia
Baca Berita

Operasi Bersih Gunung, Wujud Kepedulian Mitra Terhadap TN Gunung Gede Pangrango

Cibodas, 30 Maret 2019. Operasi bersih (opsih) gunung, tentunya sudah menjadi agenda rutin Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango. Demikian juga dengan opsih yang diselenggarakan pada tanggal 29 sampai 30 Maret 2019. Opsih kali ini dilakukan dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) ke-39, Hari Bhakti Rimbawan ke-36, dan Hari Hutan Internasional ke-7. Rute opsih masih seperti biasa, yaitu jalur pendakian Gunung Putri dan Cibodas yang pelaksanaanya melibatkan mitra dan masyarakat. Selain itu aksi ini dilakukan dalam rangka persiapan pembukaan pendakian tanggal 1 April 2019. Kegiatan ini didukung oleh mitra TNGGP, antara lain Masyarakat Mitra Polhut (MMP), Volunteer (Montana dan GPO), komunitas pencinta alam, anggota Forum Ekowisata GP, serta masyarakat sekitar kawasan dengan jumlah total peserta sebanyak 170 orang. Pelaksanaan opsih dengan para pihak ini sudah sesuai dengan tujuan dari kegiatan ini, yaitu mengajak dan meningkatkan kepedulian dan partisipasi masyarakat terhadap upaya pelestarian TNGGP yaitu dengan cara membersihkan sampah pada jalur pendakian. Tim Operasi Bersih Gunung dilepas secara ceremonial oleh Kepala Balai Besar TNGGP yang diwakili oleh Kepala Bidang Teknis di pintu masuk Cibodas pada Hari Jum'at, 29 Maret 2019. Beliau berpesan dalam sambutannya, mengajak mitra yang terlibat dalam Operasi Bersih Gunung sebagai perpanjangtanganan TNGGP dalam mensosialisasikan Peduli Bersih Gunung kepada masyarakat yang lebih luas lagi. Rute pelaksanaan aksi bersih untuk jalur pendakian pintu masuk Cibodas: Panyancangan - Air Panas - Kandang Badak - Puncak Gede dan Gunung Pangrango, sedangkan untuk jalur pendakian pintu masuk Gunung Putri, dengan rute: Pusat Informasi - Pos Lama - Legok leunca - Buntut Lutung - Simpang Maleber - Alun Alun Surya Kencana - Puncak Gumuruh/ Torowongan (Jalur Ziarah) - Alun Alun Timur - Alun Alun Barat - Puncak Gede. Kegiatan Operasi Bersih Gunung kali ini menghasilkan sampah sebanyak 565 kg, dengan rincian 334 kg sampah yang berasal dari jalur pendakian Gunung Putri dan 231 kg sampah yang berasal dari jalur pendakian Cibodas. Berdasarkan hasil pemilahan jumlah sampah dari kedua jalur pendakian tersebut: botol air mineral (Air Mineral Dalam Kemasan) 145 Kg, B3 (kaleng gas) 104 Kg, tisu basah/ kering 80 Kg, sampah plastik 127 Kg, dan sampah lain-lain 109 kg. Kegiatan Operasi Bersih Gunung di TNGGP dilaksanakan secara rutin 2 kali dalam setahun yaitu di Bulan Maret dan Agustus pada saat dilakukan penutupan pendakian untuk umum. Balai Besar TNGGP dalam pengelolaan pendakian sudah melakukan langkah-langkah mengatasi masalah sampah ini melalui penyuluhan oleh petugas pada pintu masuk pendakian, pemeriksaan, dan pendataan barang bawaan termasuk barang bawaan yang menghasilkan sampah pada saat masuk dan ke luar pendakian, pemasangan papan peringatan sampah, dan saat ini BBTNGGP sedang mensosialisasikan program Pendaki Cerdas, yaitu program pendaki gunung yang peduli diri, kawan, dan lingkungan serta taat aturan dan menghormati petugas. Dengan adanya program ini diharapkan juga memberikan dampak terhadap pengurangan sampah yang dihasilkan dari aktifitas pendakian dengan meningkatnya kesadaran dari para calon pendaki. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Mengenalkan Taman Nasional dan Konservasi Orangutan kepada Milenial

Tanjung Harapan, 25 Maret 2019. Balai Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) bersama OF-UK Indonesia melakukan pendampingan kegiatan Field Trip Anggota D'NAVA (The Nature Conservation) SMA Negeri 1 Pangkalan Bun ke Taman Nasional Tanjung Puting. Kegiatan ini dilaksanakan bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Hutan Internasional yang jatuh pada tanggal 21 Maret 2019 setiap tahunnya. Kegiatan Field Trip ini sesuai dengan tema peringatan Hari Hutan Internasional 2019 di Indonesia, yaitu Rekreasi Edukasi Rimbawan Milenial. Field Trip dilaksanakan pada tanggal 23-24 Maret 2019 dengan mengunjungi berbagai lokasi, seperti Pusat Informasi Tanjung Harapan, Demplot Tumbuhan Obat dan Anggrek, Pusat Reintroduksi Orangutan, Camp Leakey dan Stasiun Penelitian Pondok Ambung. Tim OF-UK Indonesia dan Balai TNTP memberikan materi pendampingan dengan konsep Belajar sambil Berlibur, berupa pengenalan taman nasional dan flora fauna khas TNTP serta konservasi orangutan dan habitatnya. Materi diberikan selama dalam perjalanan di Klotok Wisata serta di lokasi yang dikunjungi dan Stasiun Penelitian Pondok Ambung melalui berbagi cerita, diskusi, observasi, serta quiz dan games. Dalam rangka memberikan pengalaman lapangan dalam pengamatan satwa, peserta Field Trip juga diajak melakukan pengamatan satwa di malam hari dan pengamatan burung. Sebagai bentuk kepedulian terhadap hutan dan satwa, pada akhir kegiatan Peserta Field Trip melakukan penanaman 25 pohon asli TNTP di area Stasiun Penelitian Pondok Ambung. Dalam perjalanan pulang, peserta Field Trip D'NAVA terlihat riang dan gembira yang memberikan kesan bahwa kegiatan berjalan menyenangkan serta menambah pengetahuan dan pengalaman dalam hidupnya. Sumber : Balai Taman Nasional Tanjung Puting & OF-UK Indonesia
Baca Berita

Untuk Cycloop, Telah Tersusun Nota Kesepakatan Para Pihak

Jayapura, 1 April 2019. Tertera 16 pihak telah menyusun Nota Kesepakatan dalam upaya pemulihan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, Danau Sentani, dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Sentani Tami paska banjir bandang. Nota Kesepakatan tersebut disusun di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, pada Senin (1/4) oleh pemerintah pusat dan daerah, kampus, swasta, dan organisasi gereja. Di antara para pihak yang bersepakat adalah Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Doni Monardo, yang disebut pihak pertama, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, yang disebut pihak kedua, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, M. Basuki Hadimuljono, yang disebut pihak ketiga, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional, Sofyan A. Djalil, yang disebut pihak keempat. Berikutnya, pihak kelima adalah Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe. Disusul pihak keenam dan tujuh adalah Bupati Jayapura dan Walikota Jayapura, Mathius Awoitauw dan Benhur Tomi Mano. Dari kalangan kampus yang turut menyepakati nota tersebut adalah Rektor Universitas Cenderawasih, Apolo Safanpo, yang disebut pihak kedelapan. Adapun pihak berikutnya adalah Presiden Direktur PT. Freeport Indonesia, Clayton Allen Wenas, Ketua Dewan Adat Suku Sentani, Demas Tokoro, dan Ketua Persekutuan Gereja-Gereja Papua, Pdt. MPA Maury. Nota Kesepakatan disusun dalam delapan bab dan delapan pasal sebagai pedoman bersama untuk mendukung pemulihan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, Danau Sentani, dan DAS Sentani Tami. Menanggapi Nota Kesepakatan tersebut, Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si., menyatakan, “Kita semua harus mendukung. Nota Kesepakatan ini dibuat dengan tujuan supaya para pihak dapat saling bersinergi dalam melaksanakan program-program pemulihan Cagar Alam Cycloop. Ruang lingkupnya sudah terinci. Harapan ke depan, semoga semua yang telah tercantum dalam Nota Kesepakatan ini dapat terlaksana sebaik mungkin.” Pada pasal 3 butir (2) diterakan bahwa dalam pelaksanaan Nota Kesepakatan ini, para pihak dapat mengikutsertakan pihak atau lembaga lain atas persetujuan bersama para pihak. Hal ini membuka peluang bagi lebih banyak pihak untuk mendukung dan melaksanakan langkah-langkah pemulihan Cagar Alam Cycloop, Danau Sentati, dan DAS Sentani Tami. Nota Kesepakatan berlaku selama lima tahun dan para pihak bersepakat melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkala, sekurang-kurangnya dua kali setiap tahun. Sumber: Balai Besar KSDA Papua

Menampilkan 5.841–5.856 dari 11.140 publikasi