Sabtu, 25 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Tim Patroli SPTN II Baserah BTN Tesso Nilo Sosialisasi Maklumat Tentang Karhutla

Baserah, 5 April 2019 – Tim petugas Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Baserah Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) melaksanakan patroli bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Desa Gunung Melintang di kawasan Resort Onangan Nilo pada wilayah batas hutan tersisa Resort Onangan Nilo daerah kuala renangan dan doli. Patroli dilaksanakan o2 Orang Polhut, 1 Orang PEH, 1 Orang Tenaga Kontrak dan 2 Orang MMP Desa Gunung Melintang. Tim patroli juga menyusuri kawasan hutan tersisa dengan berjalan kaki disekitar pos PAM SPTN II. Pada saat kegiatan patroli dilaksanakan, di lokasi tim petugas SPTN Wilayah II Baserah menemukan beberapa titik bekas illegal logging berupa sisa-sisa pengolahan kayu namun tidak menemukan pelaku, diduga sudah meninggalkan kawasan sebelum petugas sampai di lokasi. Menurut keterangan Kepala Resort Onangan Nilo, Bapak Joni Putra Siregar, Disela-sela kegiatan tim menyempatkan mensosialisasikan himbauan/maklumat Bupati Pelalawan Nomor : 364/BPBD/II/2018/47 tentang penanggulangan karlahut di Kabupaten Pelalawan yang isinya merupakan larangan pembakaran hutan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan kepada 40 Kepala Keluarga (KK) masyarakat perambah dan 8 Warung yang berada didalam kawasan TN.Tesso Nilo Resort Onangan Nilo wilayah SPTN Wil II Baserah. Selain sosialisasi dan himbauan/maklumat bupati kepada masyarakat, Tim juga berkunjung ke Desa Gunung Melintang untuk menyerahkan 15 tabloit Gading Tesso Nilo dan 15 tabloid Media Informasi desa ke para perangkat desa dan tokoh adat desa gunung melintang. “Selama pelaksanaan kegiatan patroli, tim tidak menemukan titik2 HS/FS (kebakaran) di jalur yg dilewati, kita juga menyempatkan diri dalam kegiatan patrol kali ini untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat sekitar kawasan tentang penanggulangan karlahut di Kabupaten Pelalawan, harapannya selain patrol rutin yang kita laksanakan, masyarakat dapat menjadi mitra kita dalam mencegah dan menanggulangi karhutla” terang Kepala Resort Onangan Nilo, Joni Putra Siregar. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Sekolah Alam Belajar Konservasi di TWA Sibolangit

Sibolangit, 4 April 2019. Pengenalan sejak dini tentang alam, khususnya hutan sangat penting diketahui dan dipahami oleh generasi muda penerus bangsa. Berangkat dari itulah siswa/i Sekolah Alam Semangat Bangsa Medan yang tergabung dari Sekolah Tingkat PAUD dan SD berjumlah 65 orang siswa/i serta didampingi 16 guru dan kepala sekolah melakukan kunjungan pembelajaran Konservasi Alam ke Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit (2/4). TWA Sibolangit sebagai salah satu hutan konservasi yang dikelola Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara, memiliki luas 24,85 ha merupakan kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, menjadi pilihan Sekolah Alam Semangat Bangsa dalam pengenalan alam lebih dekat. “TWA Sibolangit memiliki keragaman potensi serta keunikan-keunikan yang menarik untuk menjadi materi pembelajaran alam, menjadi alasan sekaligus pertimbangan kami dalam mengunjungi kawasan ini, dan ini sesuai dengan Visi Sekolah Alam Semangat Bangsa yaitu Menciptakan sikap anak yang mencintai alam dan lingkungan, mandiri, ber-etika, berani, dan memiliki daya juang yang tinggi,” ujar H. Ahmad Zulfan, Kepala Sekolah PAUD. Selain itu, lanjut H. Ahmad Zulfan, sekolah yang beralamat Jl. Karya Jaya No. 75 Pangkalan Manshur, Medan Johor menjatuhkan pilihan kunjungan ke TWA Sibolangit mengingat lokasi ini relatif mudah serta fasilitas yang cukup tersedia, disamping juga TWA Sibolangit telah menjalankan sosialisasi dan promosi Role Model Program Edukasi Konservasi dan Lingkungan (Ekoling) ke sekolah sekolah sejak tahun 2018 lalu. Rangkaian kegiatan Sekolah Alam Semangat Bangsa Medan di TWA Sibolangit, adalah filedtrip ke dalam Kawasan TWA Sibolangit sepanjang 2 km dipandu langsung Kepala Resort CA/TWA Sibolangit Samuel Siahaan, SP. dan dibantu staf. Petugas pemandu mengenalkan kepada siswa/i tentang ekosistem hutan, tumbuhan pepohonan, pengenalan lantai hutan, paparan fungsi dan manfaat hutan. Khusus di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit yang berada di dalam kawasan TWA, siswa-siswi yang dipandu langsung oleh dokter hewan Tia Zalia Batubara, mengenalkan berbagai satwa liar yang dilindungi penghuni PPS, serta upaya-upaya konservasi penyelamatannya. Sebelum kegiatan berakhir, Petugas Resort mengadakan Kuis Konservasi Alam dan mengajak siswa menceritakan pengalamannya setelah berkunjung ke TWA Sibolangit. Kuis Konservasi dimaksudkan untuk menguji kemampuan siswa/i sejauh mana pemahamannya tentang alam dan lingkungan. Setiap kuis yang berhasil dijawab, oleh petugas resort diberikan hadiah untuk memotivasi semangat siswa/i. Pada akhir acara, Kepala Resort TWA/CA. Sibolangit menyerahkan cenderamata kepada Kepala Sekolah Dasar (SD), Ibu Dwi Febryani SS., berupa poster Satwa Dilindungi, poster satwa yang dapat dimanfaatkan di Sumatera Utara, brosur, stiker, video kawasan konservasi, Buletin Beo Nias berbagai edisi, serta Buku Panduan Wisata Edukasi Konservasi dan Lingkungan TWA Sibolangit. Semua bahan-bahan tersebut untuk koleksi perpustakaan di sekolah. Kepala Sekolah PAUD merasa senang dan puas atas kunjungan perdana ini, dan berjanji akan merencanakan kembali kunjungan Sekolah Alam Semangat Bangsa Medan ke TWA Sibolangit berikutnya. Ayo Belajar Konservasi Alam di TWA Sibolangit. Belajar mencintai dan menjaga alam agar lestari. Salam Konservasi yang dijawab siswa/i dengan jawaban yel –yel Huha huha huha menjadi penutup kegiatan. Sumber : Samuel Siahaan, SP. - PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara Penyerahan hadiah Kuis Konservasi kepada salah satu siswa (gambar kiri) dan penyerahan poster Satwa Dilindungi, poster satwa yang dapat dimanfaatkan, brosur, stiker, Video Kawasan Konservasi, dan Buku-buku Konservasi kepada Kepala Sekolah Dasar Sekolah Alam Semangat Bangsa Medan
Baca Berita

Rangkaian Kegiatan Road To HKAN 2019 Dimulai

Pekanbaru, 5 April 2019. Kegiatan awal Road To HKAN 2019 sudah dimulai lho kawan kawan!!! Wanabakti Batam Green Warrior 2019 dibuka di Taman Wisata Alam Muka Kuning, Kota Batam. Kegiatan akan dilaksanakan sampai dengan tanggal 7 April mendatang dan diikuti sebanyak 12 (Dua Belas) Gugus Depan dari SMA/K sederajat, dengan jumlah peserta sebanyak 192 orang, pendamping Gudep sebanyak 24 orang, personil kesehatan dari SMK Putra Jaya Batam 10 orang, panitia Saka Wanabakti Batam 40 orang, MMP sebanyak 3 orang, dan Seksi Konservasi Wilayah II Batam sebanyak 9 orang. Wah....seru juga ya kawan kawan... Kegiatan Kepramukaan ini adalah kali kedua dilaksanakan oleh Balai Besar KSDA Riau, dan tema yang diambil adalah "Lestarikan Alam, Lindungi Hutan dan Selamatkan Masa Depan." Tentunya dengan berbagai macam kegiatan, yaitu Green Journey (Jelajah Hutan), Green Buster (Keterampilan Outbond : V Bridge, Two Line Bridge, Flying Fox, Single Rope, Kayak, dan lari menuju puncak), Kebersihan dan Kerapian Tenda, Pembuatan Bivak, Menyalakan Api, Tari Tradisional, dan Perkusi. Seluruh lomba mendapatkan piala lho....dan penilaian seluruh skoring akan memperebutkan Piala Bergilir Balai Besar KSDA Riau. Menarik sekali kan? Ok kawan kawan, sampai ketemu di kegiatan kegiatan Road to HKAN 2019 selanjutnya yang pastinya tak kalah menarik ya... "Salam lestari, salam konservasi..." Sumber: Balai Besar KSDA Riau #kemenlhk #ditjenksdae #humasklhk #sobathijau
Baca Berita

April Lahir di Bulan April

Gianyar, 01 April 2019. Seekor gajah sumatra berhasil lahir dengan selamat di lembaga konservasi PT. Wisata Reksa Gajah Perdana, Gianyar tepat pukul 23.10 WITA. Anak gajah yang sementara diberi nama April, lahir dengan kondisi sehat dengan berat badan 80 kg, tinggi badan 80 cm, lingkar dada 100 cm dan panjang badan 100 cm. April merupakan anak dari indukan bernama Ryan (19 tahun) dan Rizki (10 tahun). Kelahiran April senin lalu, merupakan kelahiran kelima yang terjadi di lembaga konservasi ini. Rizki sang induk, merupakan salah satu keberhasilan breeding di lembaga konservasi ini sekitar 10 tahun lalu. PT. Wisata Reksa Gajah Perdana atau yang dikenal dengan Taro Elephant Safari Park merupakan salah satu lembaga konservasi berbentuk taman satwa khusus gajah yang berlokasi di Desa Taro, Ubud, Kab. Gianyar, Provinsi Bali. Lembaga Konservasi mempunyai fungsi utama pengembangbiakan terkontrol dan/atau penyelamatan tumbuhan dan satwa dengan tetap mempertahankan kemurnian jenisnya. PT. Wisata Reksa Gajah Perdana bersama Balai KSDA Bali bekerjasama mendukung upaya konservasi terhadap tumbuhan dan satwa liar. Ke depannya diharapkan upaya breeding gajah bisa berhasil dilakukan lagi di lembaga konservasi ini. SALAM LESTARI..!! Sumber: I Ketut Catur Marbawa, S. Hut., M.Si. - Balai KSDA Bali
Baca Berita

Srikandi Penjinak Api

Pekanbaru, 6 April 2019. Para srikandi penjinak api Balai Besar KSDA Riau turut serta melakukan pemadaman yang dilakukan Manggala Agni KemenLHK Wilayah Sumatera Daops Dumai. Kali ini kebakaran terjadi di Jln. Datuk Manan, Kel. Teluk Makmur, Kec. Medang Kampai, Kota Dumai. Areal gambut yang terbakar cukup luas lho kawan kawan...sekitar kurang lebih 5 ha. Dengan semangat 45, para srikandi ini hadir diantara anggota Manggala Agni yang tengah berpeluh melakukan pemadaman. Tanpa ragu mereka menyusuri areal gambut dan menyemprotkan air ke areal yang terbakar. Sejenak senda gurau menjadi selingan tersendiri bagi para pemadam. Angin yang bertiup kencang dengan cuaca cerah makin menguatkan api yang membakar. Untungnya para pemadam sigap dan berupaya memblok area yang belum terbakar agar api tidak menjalar dan bertambah luas, karena tidak menutup kemungkinan api akan naik kembali. Senang rasanya bisa bekerjasama dengan para pahlawan penjinak api, semoga api segera padam ya kawan kawan... Salam tangguh untuk kalian semua anggota Manggala Agni Indonesia, pantang pulang bila api belum padam.... Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Sisnergitas Pengelolaan TN MataLawa Dalam Menyongsong Tantangan di Masa yang Akan Datang

Waingapu. 05 April 2019. Bertempat di Gedung Information Center, Lewa Sumba Timur, Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN MataLawa) menggelar pertemuan dengan para pejabat struktural dengan para Kepala Resort dan Koordinator Urusan. Pertemuan ini di pimpin langsung oleh Kepala Balai TN Matalawa Ir. Memen Suparman MM, adapun pertemuan ini membahas terkait evaluasi pelaksanaan kegiatan dan membahas pelaksanaan kegiatan di bulan berikutnya. Pertemuan ini merupakan kali pertama bagi Kepala Balai untuk menggelar rapat evaluasi dan perencanaan kegiatan bersama yang melibatkan seluruh Kepala Resort dan Koordinator Urusan. Masing-masing Resort dan Koordinator urusan memaparkan materi yang sudah dipersiapkan sebelumnya, pertemuan tersebut terasa sangat hidup dan banyak menghasilkan kebijakan perubahan dalam rangka Pengelolaan Taman Nasional di masa yang akan datang. Selain membahas kegiatan tenis di lapangan, pertemuan ini juga membahas terkait arah dan kebijakan pengelolaan kios-kios pemasaran yang terbangun di tiga tempat. Kios ini sedianya merupakan garda terdepan sebagai tempat pemasaran produk-produk ungulan dari masyarakat penyangga Taman Nasional, selain itu pada kesempatan yang sama pertemuan ini membahas terkait arah program kegiatan Urusan Promosi dan Informasi TN Matalwa di masa yang akan datang, mengingat Promosi dan Informasi memegang peranan penting dalam upaya promosi TN Matalawa pada khalayak umum. Kepala Balai TN MataLawa Ir. Memen Suparman MM, menyebutkan bahwa upaya pertemuan ini diharapkan mampu menjembatani pengelolaan di tingkat lapang dan kebutuhan pengelolaan pada tingkat Balai, sehingga upaya pengelolaan Taman Nasional Matalawa mampu bersinergi dengan baik, dan pertemuan semacam ini akan terus dilaksanakan secara rutin setiap bulannya secara bergilirian di masing-masing seksi wilayah, karena pertemuan seperti ini memberikan nilai positif yaitu terjalinnya tali silaturahmi antar pegawai TN Matalawa. Sumber : Balai TN Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

TN MataLawa Terus Mendorong Efektifitas Pengelolaan Kawasan Berbasis Resort

Waingapu. 05 April 2019. Bertempat di Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) wilayah II Lewa. Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN MataLawa). Telah dilaksanankan penyerahan perangkat elektronik berupa Gadget kepada seluruh Kepala Resort (8 Resort) yang ada di TN MataLawa, penyerahan Gadget ini merupakan upaya Taman Nasional dalam rangka meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi. Penyerahan Gadget ini merupakan kali kedua yang di lakukan oleh Balai TN MataLawa, sebagai usulan dari tingkat tapak akan kebutuhan gadget baru guna penginputan data lapangan secara real time di tingkat tapak, mengingat perangkat keras yang lama hampir sebagian besar dalam kondisi sudah tidak layak di gunakan. Upaya peremajaan ini merupakan wujud respon cepat dari Balai dalam rangka mendorong secara penuh upaya pengelolaan berbasis Resort yang efektif dan ditunjang dengan penyempurnaan penggunaan aplikasi “Resmi” yang terus ditingkatkan. Kepala Balai Taman Nasional MataLawa Ir. Memen Suparman MM, selaku Kepala Balai menyatakan bahwa dengan semakin majunya teknologi informasi dan ditunjang dengan semakin canggihnya perangkat keras yang ada, diharapkan upaya yang telah dilakukan bersama mampu meningkatkan kelancaran dalam pengiriman data dari lapangan ke Balai maupun sebaliknya, sehingga mampu meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi di masa yang akan datang. Sumber: Balai TN Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Relokasi Paus Bryde yang Terdampar di Kampung Timika Pantai

Timika, 3 April 2019. Di Pelabuhan Pomako, telah ditemukan bangkai ikan paus yang terdampar pada Selasa (2/4). Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Timika Balai Besar KSDA Papua, Bambang H. Lakuy, bersama tim segera menuju lokasi terdamparnya bangkai ikan paus tersebut. Tim terdiri atas dua orang dari SKW II Timika BBKSDA Papua, satu orang dari Taman Nasional Liorentz, satau orang dari Polair Mimika, satu orang dari USAID Lestari, tiga orang dari PT. Freeport Indonesia, dan satu orang pewarta. Identifikasi yang berhasil dihimpun dari lapangan, bahwa paus tersebut berjenis bryde (Bryde’s whale complex). Paus yang menyukai perairan tropis dan hangat ini diduga mati terjerat jaring, karena pada saat ditemukan terdapat jaring berwarna hijau membalut tubuhnya. Paus bryde, dalam berbagai artikel ilmiah yang dirilis para peneliti, dinyatakan sebagai paus dengan ukuran lebih kecil dibandingkan jenis-jenis paus lainnya. Si bryde yang terdampar di Timika Pantai ini memiliki panjang 10.40 meter dan lingkar badan 5.40 meter, namun tidak terdapat laporan mengenai berat dalam kilo gram. Dalam daftar spesies akuatik dilindungi nasional, paus bryde yang memiliki nama spesies Balaenoptera bryde, dilindungi dengan regulasi PP 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Keberadaan paus yang terdampar ini cukup mengundang perhatian masyarakat. Sementara kondisinya mulai membusuk dan menguarkan aroma yang tidak sedap. Tim SKW II Timika Balai Besar KSDA Papua bersama PSDKP (Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan) Mimika, Kasat Polair Mimika, Kasat KPPL, dan masyarakat setempat kemudian merelokasi bangkai ikan paus tersebut menggunakan speed boat agar jauh dari permukiman warga, karena tidak memungkinkan menguburnya. Sumber : BBKSDA Papua Call Center : 0823-9802-9978
Baca Berita

Ular Sanca, Kobra, Kukang dan Alap-alap Dilepasliarkan Oleh Balai KSDA Kalmantan Tengah

Lamandau, 5 April 2019. Pada pukul 08.30, Tim WRU SKW II telah menerima penyerahan satwa liar berjenis Ular Sanca Batik (Malayopython reticulatus) sebanyak 3 ekor dan ular kobra (Naja sp)sebanyak 2 ekor. Satwa tersebut merupakan hasil rescue yang dilakukan Tim Kesiapsiagaan Damkar Kab. Kotawaringin Barat. Selanjutnya ular tersebut dilepasliarkan di Suaka Margasatwa Lamandau bersamaan dengan satwa lain yang berada di SKW II yaitu Alap-alap (Falco sp) sebanyak 1 ekor yang merupakan serahan masyarakat di Sampit pada tanggal 16 Maret 2019 dan Kukang (Nycticebus coucang) yang merupakan serahan dari masyakarat Pangkalan Bun pada tanggal 3 April 2019. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Meregenerasikan Pencinta Lingkungan yang Paham Literatur, UU dan Kultur Budaya Masyarakat

Selamat pagi sahabat konservasi! Dumai, 2 April 2019. Mimin bersama kawan kawan dari Balai Besar KSDA Riau berkunjung ke Bandar Bakau Dumai. Suatu Destinasi wisata unggulan Hutan Bakau di tengah kota Dumai yang dirintis bapak Darwis sejak tahun 2001 dengan luas 12,6 ha. Beliau juga salah satu kader konservasi Balai Besar KSDA Riau yang pernah menjadi juara 2 lomba konservasi Tahun 2014 yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sekaligus Ketua NGO Pecinta Alam Bahari (PAB)lho.... Kegiatan yang dilakukan PAB adalah sekolah alam dengan tujuan meregenarasi pecinta lingkungan yg paham literatur, UU dan kultur budaya untuk menghidupkan dan mencintai bakau, bank mangrove, yaitu suatu pusat budidaya mangrove untuk masyarakat, kemudian beliau juga mengelola destinasi wisata Hutan Bakau yang dijadikan tempat riset Bakau bagi perguruan tinggi dan sekolah lainnya. Asyiknya lagi, pak Darwis tinggal di areal Hutan Bakau tersebut yang sekaligus dijadikannya sebagai Perpustakaan, sehingga bagi siapapun yang datang dapat berdiskusi dengan beliau seperti Mimin dan teman teman senja itu. Kami berdiskusi di tepi laut Dumai diantara sepoi sepoi angin dan rimbunnya pohon Bakau sambil menyaksikan anak anak muda mellineal binaan pak Darwis memunguti sampah plastik ditepi lautan. Untuk tahun ini, PAB merencanakan akan menanam mangrove sebanyak 60 ribu pohon dan sampai saat ini telah tertanam 10 ribu mangrove. Yuuuk kita belajar dari pak Darwis yang sangat peduli dan mencintai lingkungannya. Pokoknya CONSERVATION#everyonecandoit deh.... Sumber: Balai Besar KSDA Riau #kemenlhk #ditjenksdae #humasklhk #sobathijau
Baca Berita

Wawasan Konservasi untuk Para Pewarta di Jayapura

Jayapura, 3 April 2019. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si., memberikan materi kepada para pewarta di Jayapura pada Selasa (2/4). Bertempat di Hotel Horex, Sentani, Kabupaten Jayapura, kegiatan tersebut mengusung tema besar “Pengelolaan Hutan Cycloop Mengatasi Ancaman dan Menyelamatkan Sumber Air Kabupaten dan Kota”. Secara khusus, Edward Sembiring memberikan materi tentang Cagar Alam Pegunungan Cycloop kepada peserta yang berjumlah 32 orang. “Setidaknya ada tujuh isu penting di dalam kawasan Penyangga dan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, dan ini perlu kita telaah bersama, kemudian menyikapinya secara bijak bersama-sama pula,” ungkap Edward. Dapat disebutkan isu-isu tersebut adalah tekanan permukiman di kawasan penyangga, perambahan dan perburuan, ruang kelola kawasan penyangga terhadap tata ruang Kota dan Kabupaten Jayapura, aktivitas wisata pendakian di dalam kawasan, sumber mata air yang mengering, banjir ketika musim hujan, dan degradasi ekosistem. Dalam penyampaian materinya, tampak Edward Sembiring menekankan mengenai terwujudnya kemakmuran dan kesejahteraan, juga peningkatan kapasitas ekonomi dan sosial budaya masyarakat di sekitar kawasan. Lebih lanjut, Edward menyatakan bahwa Cagar Alam Pegunungan Cycloop dapat dimanfaatkan untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, juga pendidikan dan kesadaran masyarakat tentang konservasi alam. Hal ini sesuai dengan tiga pilar pengelolaan cagar alam, yaitu perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan. Materi tersebut dilengkapi juga dengan wawasan mengenai Resort Based Management (RBM) yang belum terlalu familiar di kalangan para pewarta di Jayapura. Terbukti, di akhir tahun 2018 masih banyak pewarta di Jayapura yang mempertanyakan, misalnya, benarkah Balai Besar KSDA Papua mendirikan lima resort di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop? Resort seperti apa yang dimaksud? Sejak berbagai pertanyaan mengenai resort itu muncul, Balai Besar KSDA Papua lebih aktif mengeluarkan siaran pers tentang resort, dan semakin lengkap dengan paparan materi Kepala Balai Besar KSDA Papua dalam kegiatan yang berlangsung satu hari tersebut. Diharapkan, pada waktu-waktu mendatang para pewarta di Jayapura dapat mendukung dan menyiarkan berita-berita konservasi di Papua secara bijaksana, baik, dan tepat sasaran bagi seluruh masyarakat di Kota dan Kabupaten Jayapura, dan di Papua secara umum. Sumber : Balai Besar KSDA Papua Call Center : 0823-9802-9978
Baca Berita

Balai KSDA Sumatera Barat Bersama Polisi Amankan Skelet Kepala Badak

Agam, 4 April 2019.Balai KSDA Sumatera Barat bersama dengan aparat Polres Agam amankan Skelet (tengkorak) kepala Badak Sumatera (Dicerorhinus sumtrensis) dari tangan Pelaku pedagang barang-barang antik. Pelaku diamankan di Pasar Inpres Lubuk Basung Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada hari Kamis sekitar pukul 08.30 WIB. Selain kepala Badak Sumatera, tim gabungan juga mengamankan 4 kepala Kambing Hutan, 2 kepala Rusa Sambar, 1 Kepala Buaya Sinyulong serta belasan potongan kulit Kambing Hutan. Tim BKSDA Sumbar yang terdiri dari PEH dan Polhut dibawah pimpinan Plt. Kepala SKW I, Martias, SP langsung melakukan identifikasi terhadap barang bukti yang ada dengan menggunakan pendekatan metode anatomi skelet (rangka) bagian-bagian satwa tersebut dan memastikan bahwa barang bukti tersebut adalah bagian-bagian dari tubuh satwa dilindungi. Pelaku berinisial BS dan SW beserta barang bukti saat ini telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh penyidik Polres Agam. Perbuatan pelaku dikenakan Pasal 21 ayat (2) huruf d jo Pasal 40 ayat (2) Undang-undanf Nomor 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Sumber: Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Berita

Kepala Karantina Pertanian Kelas II Wilayah Kerja Sampit Gagalkan Pengiriman Burung Cucak Hijau ke Pulau Jawa

Sampit, 2 April 2019. Pos Sampit telah melaksanakan kegiatan serah terima satwa liar yg dilindungi dari Kepala karantina Pertanian Kelas II Wilayah Kerja Sampit berupa 29 ekor Burung Cucak hijau. Berawal dari informasi Kepala Karantina Pertanian Wilker Sampit tentang adanya kegiatan penyitaan TSL yg dilindungi di Pelabuhan Sampit. Selanjutnya Petugas Pos Sampit langsung menuju Pelabuhan utk mengecek TSL yg telah disita pihak Karantina tersebut yaitu 29 ekor Burung Cucak Hijau. Petugas pos Sampit dan Karantina memberikan pengarahan/memberikan penjelasan tentang aturan TSL yg dilindungi UU kepada Sopir Fuso yang mengangkut satwa tersebut. Kemudian satwa sitaan tersebut diserahkan kepada petugas Balai KSDA Kalimantan tengah dan untuk selanjutnya dilepasliarkan bersama Pihak Karantina di Areal Kebun Raya Sampit di Jalan Jenderal Sudirman Km. 30, Sampit. Cucak hijau atau Cucak daun besar (Chloropsis sonnerati) merupakan salah satu burung yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Owa yang Telah Dipelihara Selama 3 Tahun, Diserahkan ke Balai KSDA Kalimantan Tengah

Sampit, 30 Maret 2019. Balai KSDA Kalimantan Tengah kembali menerima serahan satwa dilindungi yaitu owa (Hylobates albibarbis). Serahan ini berawal dari informasi anggota Polres Kotawaringin Timur tentang satwa yang terlepas dari kandangnya di sekitar Perumahan Bumi Ayu, pada hari Sabtu. Setelah dilakukan pengecekan, Petugas Balai KSDA Kalimantan Tengah menemukan seekor owa yang dipelihara oleh warga An. Winanto sempat terlepas namun berhasil ditangkap kembali. Kemudian petugas memberikan penjelasan tentang bahaya memelihara satwa liar (bisa tertular/menularkan penyakit, mengganas saat fase birahi) dan sanksi hukumnya kepada Pak Winanto sekeluarga. Akhirnya, pada hari Selasa tanggal 02 April 2019 pukul 12.20 WIB, Owa tersebut diserahkan kepada petugas. Dari keterangan Pak Winanto, Owa tersebut telah dirawatnya sekitar 3 tahun. Owa tersebut didapat di sekitar wilayah Semekto, Kec. Baamang, Sampit-Kalimantan Tengah. Saat ditemukan, Owa-Owa di kejar Anjing, dan saat di dekati Owa-Owa tersebut langsung memeluk Winanto. Di perkirakaan, Owa-Owa tersebut sebelum dipelihara Winanto, sempat dipelihara orang lain. Setelah diamankan petugas, selanjutnya Owa tersebut dititipkan di Yayasan Kalaweit untuk dilakukan proses rehabilitasi untuk mengembalikan sifat liarnya dan sampai siap untuk kembali ke Hutan. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Kepala Desa dan Camat di Daerah Penyangga Sekitar TN Gunung Merapi Menyepakati Kemitraan Konservasi

Yogyakarta, 2 April 2019. Kemitraan menjadi unsur penting dalam pengelolaan kawasan konservasi. Dengan kemitraan konservasi, maka diharapkan pengelolaan kawasan konservasi akan lebih optimal, terutama untuk wilayah konservasi Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Prasyarat utama keberhasilan kemitraan konservasi adalah rasa saling percaya (mutual trust) dan rasa saling menghormati (mutual respect) antara pengelola TNGM dengan masyarakat. Langkah pertama membangun kemitraan konservasi yang dilakukan oleh pengelola TNGM adalah kontrak sosial dengan masyarakat dilanjutkan identifikasi kondisi tapak areal kemitraan konservasi dengan melakukan pemetaan lapangan secara partisipatif. Dengan tujuan tersebut, maka pada hari Selasa, 2 April 2019 dilaksanakan Rapat Koordinasi Kemitraan Konservasi Bersama Mitra TNGM dengan tema “Desa Mawa Cara, Negara Mawa Tata”, di Sleman. Rapat koordinasi bertujuan meningkatkan modal sosial (trust, norm, network) pengelolaan TNGM. Sedangkan tujuan secara khusus agar kemitraan konservasi tersosialisasikan dengan baik, teridentifikasinya usulan masyarakat dalam hal kemitraan konservasi dan teridentifikasinya rancangan kerja pelaksanaan kemitraan konservasi. Dalam kesempatan tersebut, hadir Mas Kliwon Suraksosihono (Juru kunci Gunung Merapi), Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Kepala Balai TNGM serta Kasubbag TU, KSPTN I dan KSPTN II, Camat di desa penyangga (9 kecamatan), Lurah Desa di daerah penyangga TNGM (32 desa), Kepala Resort PTN (7 RPTN) serta tim kemitraan konservasi, dengan jumlah peserta total 57 orang. Hasil rapat koordinasi ini, bahwa kawasan TNGM memiliki potensi sumber daya alam yang telah lama dimanfaatkan oleh warga masyarakat di sekitar kawasan. Pemanfaatan sumber daya oleh masyarakat perlu dilakukan dengan bijaksana, dengan mengedepankan prinsip kemitraan konservasi untuk kelestarian manfaat sumber daya bagi masyarakat. Kemudian Rapat Koordinasi ini menghasilkan beberapa kesepakatan, yang pertama Mas Kliwon Suraksosihono (Juru kunci Gunung Merapi) mendukung pengelolaan TNGM dan menekankan pentingnya kelestarian Gunung Merapi bagi masyarakat di lereng Merapi. Selain itu, Mas Kliwon menekankan tentang pentingnya kerjasama antara TNGM dengan seluruh komponen masyarakat. Kedua, seluruh Kepala Desa dan Camat yang hadir mendukung pengelolaan TNGM dan mengajukan usulan hal-hal yang berkaitan dengan akses masyarakat terhadap akses sumber daya alam di dalam kawasan TNGM (zona pemanfaatan dan zona tradisional). Usulan-usulan tersebut sebagian besar berupa akses terhadap wisata alam terbatas, sumber daya rumput, pemanfaatan air, dan pengelolaan tanah vonis yang saat ini dikelola masyarakat. Ketiga, terdapat usulan review Zonasi TNGM 2015 dikarenakan perkembangan dinamika hutan Merapi dan sosiokultural masyarakat, dan yang terakhir adalah adanya kegiatan inventarisasi dan verifikasi usulan-usulan masyarakat tersebut untuk menjadi bahan kemitraan konservasi sebagai langkah kerja berikutnya. Sumber: Balai TN Gunung Merapi
Baca Berita

Potensi Wisata Avitourism di TN Gunung Merbabu

Potensi satwa burung di TNGMb Keanerakagaman burung di Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) termasuk kategori tinggi dengan persebaran individu merata dari perbatasan hutan sampai ke puncak Gunung Merbabu, terdiri atas 81 jenis yang tergolong dalam 27 famili yang ditemukan. Jenis burung dilindungi dan endemik antara lain Elang jawa, Elang hitam, Alap-alap sapi, Kipasan ekor merah, Cekakak jawa, Kerak kerbau, dan Opior jawa (Aditya, 2018). Kegiatan monitoring potensi dalam sistem Grid oleh Balai TNGMb selaku pengelola taman nasional selama tahun 2018 dijumpai sebanyak 58 jenis burung yang tersebar sebagian besar di lereng selatan Gunung Merbabu. Kegiatan ini menghasilkan tambahan jenis langka yaitu Celepuk jawa, Bondol hijau dada-merah, dan Anis kuning. Gambar 1. Kegiatan monitoring Raptor Kelompok elang dan alap-alap (Raptor) di TNGMb berperan sebagai top predator dalam rantai makanan yang memiliki peran penting dalam keseimbangan ekosistem hutan. Burung berperan penting dalam membantu regenerasi hutan secara alami seperti penyebar biji, penyerbuk bunga, dan pengontrol serangga hama (Oktiana & Antono, 2015). Raptor mempunyai jenis mangsa (sumber pakan) yang beragam mulai dari mamalia, reptil dan burung. Jenis pakan tersebut, antara lain: Tikus, Tupai, Kadal, Ayam hutan, Tekukur biasa, Dederuk jawa dan Gemak loreng (Balai TNGMb, 2015). Syarat kegiatan Avitourism Avitourism adalah bentuk konservasi burung yang dikemas dalam paket wisata pengamatan _watching burung _bird (disebut birdwatching) di habitat aslinya atau on the spot. Avitourism selain berfungsi sebagai sarana edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya kehadiran burung di alam juga bermanfaat untuk pertumbuhan ekonomi sekitar kawasan konservasi tersebut. Referensi yang mendukung seperti negara Amerika Serikat, Avitourism menciptakan 1 milyar pekerjaan di tahun 2001. Selama satu tahun, seorang birdwatcher (pengamat burung) dapat menghabiskan $ 32 juta untuk melihat burung meliputi makanan, penginapan, transportasi, bahan bakar, alat-alat outdoor, buku panduan lapang, tour guide dan peralatan fotografi (Caciki & Harman, 2007) Ada 3 kriteria burung yang dapat dijadikan sebagai objek daya tarik avitourism. Pertama adalah burung endemik yaitu burung yang persebaranya terbatas dalam suatu tempat sehingga kecenderungan wisatawan asing dan luar daerah tertarik untuk melihat burung tersebut. Kedua adalah burung migran (melakukan migrasi antar benua/negara) merupakan ‘satwa milik bersama’ dari wilayah yang dilalui burung selama hidupnya yang merupakan lintas negara. Ketiga adalah burung berstatus konservasi tinggi yaitu yang dilindungi oleh otoritas terkait (Peraturan Pemerintah RI No. 7 Tahun 1999, Peraturan Menteri LHK No. 92 Tahun 2018, RedList IUCN dan Appendix CITES). Namun dari segi daya tarik, burung langka terkadang menarik bagi turis untuk mencari tahu, karena jarang ditemukan. Daya tarik wisata Avitourism di TNGMb Raptor termasuk jenis burung yang karismatik dengan morfologi yang menarik. Kelompok elang biasanya digunakan sebagai simbol kekuatan, keberanian dan kebebasan serta sering muncul dalam bendera, dunia militer dan logo instansi sehingga menjadikan kesan bagus untuk dunia Avitoursm. Elang jawa memiliki status konservasi yang tinggi yaitu Endangered IUCN RedList, jenis endemik di pulau Jawa, dan termasuk burung yang dilindungi Pemerintah RI, serta dapat menjadi maskot hutan Gunung Merbabu. Elang Jawa merupakan burung langka dan menarik sebagai objek daya tarik Avitourism karena memiliki status konservasi yang tinggi tersebut dan sebagai lambang negara Indonesia (Keppres No. 4 Tahun 1993 dalam Prawiradilaga, 2006). Perilaku jenis Elang dan Alap-alap sangat menarik dan mempunyai beberapa manuver dalam terbang, seperti soaring, gliding, coursing dan hovering. Terbang bertahan (melayang) saat angin berhembus kencang dan posisi sayap terbentang tanpa kepakan (disebut hovering) sering dilakukan oleh Alap-alap sapi. Selain itu, terdapat 7 jenis burung migran yang sudah tercatat di TNGMb yaitu Sikep-madu Asia, Elang-alap Cina, Elang-alap Nipon, Kangkok ranting, Sikatan mugimaki, Kicuit batu dan Anis Siberia. Perjumpaan yang menarik perhatian pemerhati burung regional Jawa adalah Bondol hijau dada-merah dan Celepuk jawa, kedua jenis ini menjadikan tambahan jenis baru juga di wilayah pulau Jawa yang sebelumnya minim data atau informasi perjumpaan. Pengembangan Avitourism di TNGMb Wisata pengamatan burung memiliki tantangan dan nilai konservasi cukup tinggi bagi kawasan TNGMb maupun masyarakat sekitara hutan. Potensi kegiatan Avitourism sangat potensial dikembangkan di TNGMb yang didukung oleh potensi satwa burung yang tinggi dan sebagian besar memenuhi 3 kriteria yang disyaratkan di Avitourism tersebut. Beberapa ide lapangan dalam pengembangan Avitourism di TNGMb antara lain : Paket pengamatan sarang Raptor seperti Elang hitam dan Elang jawa, wisatawan dapat mengamati perkembangan dan perilaku burung di sarangnya secara langsung. Paket penjelajahan burung malam (nokturnal) seperti Celepuk jawa dan Serak jawa. Paket pengamatan burung khas penghuni habitat basah (dekat sumber air) seperti Kicuit batu, Sepah gunung, Sikatan ninon, dan lainnya. Paket pengamatan burung khas penghuni perbatasan hutan dan kebun seperti Kerak kerbau, Elang hitam, Sikep madu asia, Kapasan kemiri, Ayam hutan hijau dan Kepudang kuduk hitam. Paket pengamatan burung khas spot jalur pendakian seperti Anis gunung, Anis sisik dan Ciung batu kecil sunda. Dokumentasi jenis-jenis Burung di TNGMb yang dapat mendukung wisata Avitourism Gambar 2. Raptor Elang hitam dan Sikep-madu asia di lereng selatan Gunung Merbabu Gambar 3. Temuan baru di lereng timur Gunung Merbabu (Celepuk jawa dan Bondol dada merah) Gambar 4. Anis kuning dan Ciung batu kecil sunda di lereng selatan Gunung Merbabu Gambar 5. Kepudang kuduk hitam dan Kapasan Kemiri di perbatasa hutan Gunung Merbabu Gambar 6. Ayam hutan hijau (betina) dan Kicuit batu di sumber air Tuk Pakis Gunung Merbabu Sumber: Jarot Wahyudi, S.Hut (Pengendali Ekosistem Hutan TNGMb) - Balai TN Gunung Merbabu Referensi: Aditya, 2018. Keanekaragaman Burung di Taman Nasional Gunung Merbabu Jawa Tengah. Laporan penelitian KMM UNS. Surakarta. Balai TNGMb, 2015. Monitoring Elang Jawa di Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. Laporan kegiatan Balai TNGMb. Boyolali. Caciki, A.C. and S.Harman. 2007. Importance of Destination Attributes Affecting Destination Choice of Turkish Birdwatchers. Journal of Commerce & Tourism Education Faculty, 1(1):113-145. Oktiana, D., dan W. Antono. 2015. Keanekaragaman burung di lingkungan Unit Pembangkit Indonesia Power (UP IP) Tambak Lorok, Semarang. Pros Sem Nas Masy Biodiv Indon, 1(5): 1045-1049. Prawiradilaga, D. M. 2006. Ecology and conservation of endangered Javan Hawk-eagle Spizaetus bartelsi. Ornithological Science, 5(2), 177-186. Wahyudi, Jarot. 2018. Menilik biodiversitas Burung di wilayah Resort Selo Taman Nasional Gunung Merbabu. Berita website KSDAE-KLHK. http://ksdae.menlhk.go.id/berita/4878/menilik-biodiversitas-burung-di-wilayah-resort-selo.html

Menampilkan 5.825–5.840 dari 11.140 publikasi