Sabtu, 25 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Evakuasi Kucing Hutan Dari Rumah Warga

Stabat, 5 April 2019. Bermula dari informasi warga yang disampaikan kepada Sekretaris Camat Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, dan diteruskan kepada petugas Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, tentang ditemukannya 1 (satu) individu satwa liar yang memasuki rumah salah seorang warga, pada Jumat 29 Maret 2019. Informasi ini kemudian ditindaklanjuti dengan menurunkan tim gabungan, terdiri dari petugas Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, dokter hewan dari Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit, Kepala lingkungan, Sekretaris Camat Kecamatan Stabat serta lembaga mitra kerjasama Balai Besar KSDA Sumut Yayasan Scorpion Indonesia, pada keesokan harinya Sabtu 30 Maret 2019. Di lokasi, tepatnya di Lingkungan IV Lubuk Dalam Kelurahan Dendang, Kecamatan Stabat, team menemukan keberadaan 1 (satu) individu Kucing Hutan (Felis bengalensis) di rumah seorang warga, Evi Susanti. Menurut penjelasannya, pada Kamis 28 Maret, ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumahnya. Evi Susanti menduga bahwa kucing hutan tersebut lepas dan keluar dari dalam mobil, kemudian memasuki halaman rumahnya dan dikejar anjing peliharaannya sampai memasuki rumahnya. Proses evakuasi yang cukup alot akhirnya berhasil menangkap kucing hutan tersebut. Setelah menyelesaikan proses administrasi berupa penandatanganan Berita Acara Penyerahan, selanjutnya tim Seksi Konservasi Wilayah II Stabat dan dokter hewan Fatimah Sari mengevakuasi kucing hutan tersebut ke PPS Sibolangit untuk perawatan dan proses rehabilitasi sebelum nantinya dilepasliarkan. Tidak lupa petugas Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Adi Maulana, menyampaikan terima kasih kepada aparat Kecamatan Stabat dan warga yang telah memberikan informasi. Adi Maulana juga menghimbau warga, bila ada menemukan kembali satwa liar yang dilindungi baik itu kucing hutan maupun satwa liar lainnya, janganlah melakukan tindakan yang mencederai dan melukai satwa tersebut, tetapi segeralah laporkan kepada petugas agar dilakukan tindakan penanganan. Sumber : Adi Maulana - Polhut Balai Besar KSDA Sumatera Utara Kucing Akar yang di Evakuasi
Baca Berita

Balai KSDA Bali Sambut Hangat Kunjungan Balai KSDA Kalimantan Selatan

Denpasar, 8 April 2019. Balai KSDA Kalimantan Selatan melaksanakan studi banding ke Balai KSDA Bali pada tanggal 30 Maret 2019 sampai dengan 2 April 2019 terkait Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS). Kegiatan ini diawali dengan kunjungan rombongan Balai KSDA Kalimantan Selatan ke KPHK Bedugul-Sangeh yang kantornya berada di Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, kemudian dilanjutkan menuju ke Taman Wisata Alam (TWA) Danau Buyan-Danau Tamblingan. Adapun kegiatannya meliputi diskusi terkait KPHK dan tugas-tugas di Resort kawasan konservasi bersama dengan petugas KPHK Bedugul-Sangeh beserta petugas Resort KSDA TWA Danau Buyan-Danau Tamblingan, dan pertugas Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I yang melaksanakan piket tiap akhir pekan di Bumi Perkemahan (Buper) Buyan I. Keesokan harinya, rombongan Balai KSDA Kalimantan Selatan menuju Danau Tamblingan dan wahana swafoto di Desa Wanagiri untuk melihat pengelolaan wisata alam serta pemberdayaan masyarakat sekitar yang akan dituangkan dalam PKS. Perjalanan kemudian dilanjutkan ke TWA Sangeh yang berlokasi di Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung. Rombongan Balai KSDA Kalimantan Selatan juga berdiskusi di kantor Balai KSDA Bali bersama dengan Kepala Balai KSDA Bali, Kasubbag Tata Usaha, Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I, serta Koordinator Urusan teknis dan non teknis mengenai pengelolaan kawasan konservasi di masing-masing UPT serta proses dan kegiatan terkait PKS di Balai KSDA Bali. Adanya kunjungan dari Balai KSDA Kalimantan Selatan semoga dapat menambah wawasan dan ide bagi masing-masing pimpinan dan staf terkait pengelolaan kawasan konservasi pada umumnya, serta menjalin tali silaturahmi antar sesama UPT Ditjen KSDAE. Sumber : Balai KSDA Bali Call Center Balai KSDA Bali : 081246966767 Penanggung jawab berita : Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai KSDA Bali I Ketut Catur Marbawa, S.Hut., M.Si. - 08123963008 Informasi lebih lanjut hubungi : Budhy Kurniawan S.Hut. (Kepala Balai KSDA Bali) - 081236090739
Baca Berita

Balai TN Gunung Merapi Berperan Serta Dalam Peringatan Hari Bumi 2019 di SM Paliyan

Gunungkidul, 5 April 2019. Dalam rangka memperingati Hari Bumi 2019, Unit Pelaksana Teknis (UPT) KLHK lingkup D.I Yogyakarta, yaitu Dinas LHK DIY, melaksanakan kegiatan penanaman yang diselenggarakan pada hari Jumat, 5 April 2019. Penanaman ini dilaksanakan di Petak 136 Suaka Margasatwa (SM) Paliyan, Gunungkidul, D.I Yogyakarta. Dalam kesempatan ini, Balai Taman Nasional Gunung Merapi hadir bersama perwakilan dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) lingkup D.I Yogyakarta, Dinas LHK D.I Yogyakarta, Dodiklatpur, Mitsui Sumitomo Inc. Indonesian Hotel General Manager (IHGMA) Chapter Yogyakarta. Muspika Paliyan, Muspika Saptosari, Kelompok Tani Hutan, Kader Konservasi, dan Pelajar SMA 1 Semin. Sejumlah 1000 bibit native karst ditanam di lokasi SM Paliyan pada kesempatan tersebut, jenisnya yaitu 110 bibit Terbelo pusuh, 335 bibit Mojo, 150 bibit Elo, 75 bibit Pulai, 80 bibit Ipik, 80 bibit Bulu, 20 bibit Kepuh dan 150 bibit Talok. Jenis ini sesuai dengan tipe habitat SM Paliyan yang batu bertanah, sehingga besar harapan bibit-bibit tersebut dapat tumbuh dengan baik. Sumber : Titin Septiana - Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Berita

12 Siswa SMK Kehutanan Pekanbaru Tetap Bertahan selama Tersesat dan Menginap di Hutan Bukit Tiga Puluh

Rengat, 10 April 2019. Simulasi patroli pengamanan hutan yang merupakan salah satu materi dalam Praktek Industri siswa/siswi SMK Kehutanan Pekanbaru menimbulkan sedikit keributan (2/4). Dua belas siswa/siswi dan satu orang pendamping dari personil Polisi Kehutanan (Polhut) Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) sempat hilang kontak selama 21 jam. Sebagaimana diketahui SMK Kehutanan Pekanbaru mengutus sebanyak 34 orang siswa/siswi untuk melakukan Praktek Industri selama 1 (satu) bulan sejak 11 Maret 2019 di Camp Granit TNBT dengan materi praktek meliputi Pembinaan Hutan, Perlindungan Hutan dan Pengukuran Hutan. Ketiga materi ini terdiri dari teori dan praktek dengan dipandu oleh petugas fungsional yang berkompeten dari unsur PEH, Polhut dan Penyuluh. Empat orang petugas pendamping tetap ditunjuk untuk mengawasi dan mendampingi aktivitas siswa-siswi selama praktek dilaksanakan. Selasa, 2 April 2019 praktek perlindungan hutan berupa patroli pengamanan hutan diikuti seluruh siswa/siswi sebanyak 34 orang. Peserta dibagi menjadi 2 regu, Regu 1 berjumlah 14 orang didampingi 2 orang Polisi Kehutanan, Regu 2 berjumlah 20 orang didampingi 2 Polhut dan 1 Pembina SMK Kehutanan Pekanbaru. Saat pelaksanaan di lapangan, Regu 2 terbagi lagi dalam dua grup, grup A berjalan terlebih dahulu di depan sebanyak 12 siswa/siswi dengan pendamping 1 orang Polisi Kehutanan, dan grup B sisanya tertinggal di belakang. Merasa tertinggal jauh, grup B memutuskan untuk kembali ke Camp Granit mengingat 1 orang personil Polhut yang mendampingi belum menguasai medan. Hasil wawancara dengan personil Polhut yang mendampingi grup A, diketahui bahwa mereka telah menunggu Grup B selama 2 jam dan karena tidak juga muncul maka grup A memutuskan untuk meneruskan perjalanan menuju target. Hari mulai gelap pada pukul 18.30 ternyata perjalanan mereka belum sampai lokasi target, dan pendamping memutuskan untuk menghentikan perjalanan demi menjaga keamanan karena keterbatasan peralatan penerangan, mengingat untuk mencapai target dan menuju Camp Granit diperlukan waktu 3 jam lagi. Memperoleh informasi terdapat siswa/siswi dan pendamping yang belum kembali ke Camp Granit, personil Polhut yang stand by berusaha melakukan penyisiran hingga pukul 21.30 dan belum berhasil. Informasi ini juga diteruskan ke kantor Balai dan tim evakuasi dari personil PEH, Polhut, Mitra Kerja Yayasan Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatera (PKHS) serta Mitra Polhut mulai bergerak. Upaya pencarian dilakukan dan dikomando langsung oleh Kepala Balai TNBT dan dipimpin Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan Kepala Seksi Pengelolaan Taman nasional (SPTN) Wilayah 2, dengan membagi menjadi 3 Tim evakuasi. Tepat jam 23.30 tim dari kantor Balai berjumlah 9 orang, langsung mencari ke areal target dan menyusuri lokasi pisah terakhir tim A dengan tim B. Sampai dengan pukul 04.00 WIB upaya ini belum membuahkan hasil. Tim evakuasi diterjunkan kembali sebanyak 10 orang personil berangkat jam 06.00 WIB dan tepat pukul 08.30 WIB petugas yang tersesat dapat terhubung. Lokasi dimana tim tersesat memang relatif susah sinyal sehingga petugas sulit berkomunikasi. Tepat pukul 09.12 WIB tim evakuasi dapat bertemu dengan Tim dalam kondisi sehat dan formasi lengkap. Tim evakuasi menjemput para siswa dan membawakan logistik untuk memulihkan tenaga yang hilang. Sembari pulang menuju Camp Granit, para siswa tetap berjalan semangat sembari menyanyikan lagu Mars Rimbawan. Jiwa rimbawan telah tertanam kokoh dalam raga mereka. Apresiasi kepada para pihak yang terlibat, khususnya seluruh petugas Polhut dan PEH TNBT yang mengerahkan tenaganya melakukan pencarian, mitra Yayasan PKHS, Tim SAR Pekanbaru yang telah menurunkan bantuan personil sebanyak 10 orang dan 2 armada, Tim SAR Jambi sebanyak 6 personil, Kapolres Inhu dan Kapolsek Batang Gansal yang telah mengerahkan 20 personil anggota dan Masyarakat Mitra Polhut. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh
Baca Berita

Ngopi PWI Riau dan KLHK di Graha Pena Pekanbaru

Pekanbaru, 8 April 2019. Ngopi (Ngobrol pintar) PWI Riau dan KemenLHK tentang Perlindungan Ekosistem Gambut dan Pengendalian Karhutla dilaksanakan di Gedung Graha Pena, Riau. Peserta ngopi lebih dari seratus orang dari berbagai unsur yang sebagian besar para awak media cukup memadati ruang Kaliandra di gedung tersebut. Tata kelola ekosistem gambut Indonesia menuju ekosistem gambut berkelanjutan menjadi tema ngopi pagi ini. Dengan nara sumber, Sekjen KLHK : DR. Ir. Bambang Hendroyono, MM., Direktur Pengendalian Karhutla KLHK, DR. Ir. Raffles B. Panjaitan, M. Sc., Guru Besar IPB Prof. Bambang Hero Saharjo, acara berlangsung cukup interaktif. Potensi gambut di Prov. Riau termasuk sangat luas dengan kubah kubah gambut dalam di beberapa wilayah, sehingga dengan keadaan demikian menjadi potensi besar terjadinya kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau apabila tidak dikelola dengan baik. Dalam kesempatan ini Sekjen KLHK sebagai narasumber menyampaikan kebijakan dan correctif action terkait pengelolaan ekosistem gambut. Kebijakan pemerintah untuk memperbaiki pengelolaan ekosistem gambut, dimulai dengan terbitnya PP 71 Tahun 2014, PP 57 Tahun 2016 serta beberapa Peraturan Menteri LHK tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. Sedangkan Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, KLHK, menyampaikan upaya upaya yang telah dilakukan untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Upaya penting yang dilakukan adalah deteksi dini, patroli, dan pemadaman kebakaran. Sementara narasumber atau saksi ahli dari IPB, yaitu Prof. Bambang Hero menyampaikan terkait penggunaan teknologi dalam pemantauan kebakaran yang terjadi, termasuk pengalaman beliau menjadi saksi ahli dalam kasus kebakaran di Prov. Riau. Disampaikan bahwa masalah kebakaran ini menjadi tanggungjawab bersama termasuk pemda setempat, walaupun regulasi karhutla tersebut berada di pusat. Untuk masalah penanganan karhutla ini diperlukan sinergitas pemerintah pusat, pemda setempat, TNI, POLRI dan para pemegang konsesi dalam satu koordinasi. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Pembinaan Pegawai KLHK Sumut

Medan, 5 April 2019. Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi Sekretariat Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir. Abdul Hakim, M.For.ST bersama Kepala Bagian Perencanaan Pengawasan, Ir. Abdul Bakar Assegaf, M.Si., menyambangi Provinsi Sumatera Utara untuk melakukan pembinaan pegawai lingkup UPT Kementerian LHK, pada Jumat 29 Maret 2019, di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Pada pembinaan kepegawaian kali ini, Kepala Biro menyampaikan UU. No.5/2014 tentang Aparatur Sipil Negara, PP No. 11 tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil dan PP No. 49 tahun 2018 tentang manajemen Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kontrak (PPPK). Dalam paparannya beliau menyampaikan penting Reformasi Birokrasi. Birokrasi yang bebas KKN, lebih baik, bersih dan melayani (publik). Kepala Biro juga mengingatkan tentang potret masa depan aparatur sipil negara (ASN), yatu beretika/berintegritas, berfikir strategis, berkolaborasi/kerjasama, berkeputusan tegas, berinovasi, serta berkinerja/bekerja keras tuntas dan ikhlas. Inti/Core dari Program Reformasi Birokrasi adalah Revolusi Mental yaitu gerakan seluruh masyarakat (pemerintah dan rakyat) dengan cara yang cepat untuk mengangkat kembali nilai-nilai strategis yang diperlukan oleh BANGSA dan negara agar mampu menciptakan ketertiban dan kesejahteraan rakyat sehingga dapat memenangkan persaingan di era globalisasi/DIGITAL/4.0 RI. “Oleh karena itu, ASN khususnya lingkup Kementerian LHK perlu melakukan manajemen perubahan, yaitu perubahan pola pikir (mind set) dan budaya kerja (cultur set) menjadi lebih baik lagi kedepannya,” ujar Abdul Hakim. Terkait dengan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kontrak (P3K), Kepala Biro menjelaskan, bahwa P3K sesuai dengan peraturan diangkat dengan perjanjian kerja menurut kebutuhan instansi, dapat diberikan Nomor Induk Pegawai Perjanjian Kerja, menduduki jabatan fungsional dan jabatan pelaksana tertentu (non-struktural) yang ditetapkan Menteri, dapat menduduki jabatan pimpinan tinggi madya dan utama pemerintahan, diangkat pada usia paling rendah 20 tahun dan paling tinggi 1 tahun batas usia pada jabatan yang akan dilamar sesuai ketentuan perundang-undangan, gaji dan tunjangan serta perlindungan sesuai ketentuan peraturan perundangan yang berlaku bagi ASN. Di akhir paparannya beliau menekankan bahwa apakah kita sudah berbuat yang terbaik, dengan fasilitas yang diterima oleh ASN. You are a leader yourself. Baik buruknya tergantung anda semua. “Heart of Change” by John Kotter, 70% transformasi yang pernah dilakukan gagal, karena hanya menggunakan Kepala tanpa Hati. Pemimpin yang berhasil dalam melakukan transformasi adalah mereka yang melibatkan aspek HATI. Melanjutkan penjelasan Kepala Biro, Kepala Bagian Perencanaan Pengawasan Biro Kepegawaian dan Organisasi, Ir. Abu Bakar Assegaf, M.Si., menambahkan bahwa saat ini sedang disusun jabatan apa yang dapat diisi PPPK. Dari 121 jabatan, hanya 26 diantaranya yang memungkinkan diisi di lingkup Kementerian LHK. “Beberapa jabatan harus diisi dengan pendidikan diploma ke atas, seperti Jabatan Fungsional Tertentu. Untuk itu disarankan tenaga kontrak yang ada sekarang meneruskan jenjang pendidikannya,” ujar Abu Bakar. Pembinaan pegawai diisi dengan diskusi menyangkut berbagai permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh beberapa UPT berkaitan dengan kepegawaian. Acara yang penuh keakraban ini dihadiri oleh Kepala-kepala UPT lingkup Kementerian LHK Provinsi Sumatera Utara, pejabat eselon III dan IV, beserta staf . Sumber : Nofri Yeni - PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara Kepala Bagian Perencanaan Pengawasan, Ir. Abdul Bakar Assegaf, M.Si, memberikan penjelasan (gambar kiri), dan peserta pembinaan pegawai (gambar kanan)
Baca Berita

Kunjungan Dirjen KSDAE ke Taman Nasional Gunung Palung

Ketapang, 8 April 2019 – Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Bapak Ir.Wiratno M.Sc pada kesempatan ini berkunjung ke Balai Taman Nasional Gunung Palung pada hari jumat, 5 april 2019. Kunjungan ini merupakan kunjungan pertama oleh DIRJEN KSDAE sejak Taman Nasional Gunung Palung (TANAGUPA) dibentuk. Salah satu tujuan kunjungan bapak DIRJEN KSDAE ke Ketapang adalah memberikan pembinaan kepada pegawai TANAGUPA. Dalam kunjungan kerjanya, Dirjen KSDAE didampingi oleh Kasubag TU Balai KSDA Kalbar Ibu Lidia Lilly S.Hut., M.P , Kasubdit Pemanfaatan Kawasan Strategis PIKA, Bapak Toni Anwar S.Hut., M.T, dan Kasubag Evaluasi dan Pelaporan DITJEN KSDAE, Bapak Iskandar S.Hut. Selain memberikan pembinaan kepada pegawai TANAGUPA, Bapak Ir. Wiratno M.Sc juga menyempatkan diri untuk berkunjung ke Yasasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) yang berlokasi di Desa Sei Awan, Kabupaten Ketapang, disambut hangat dengan tarian selamat datang dan berkesempatan untuk berkeliling melihat fasilitas rehabilitasi orangutan, selain itu beliau juga melakukan penanaman pohon. Tidak hanya berkunjung ke YIARI, perjalanan dilanjutkan menuju ke Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) di Kabupaten Kayong Utara. Yayasan ASRI memiliki Klinik ASRI yang didirikan oleh dr. Kinari Webb. Berbeda dgn klinik yang lain, dimana warga yang tidak mampu membayar pengobatannya dapat membayar dengan bibit pohon. Tidak hanya sebatas berkunjung, bapak Ir. Wiratno M.Sc juga melakukan pertemuan dengan SAGUPA (Sahabat Gunung Palung) bertempat di aula Klinik Asri. Dilanjutkan dengan acara penutup adalah pertemuan ramah tamah dengan Bupati Kabupaten Kayong Utara, Bapak Drs. Citra Duani dan Komandan Korem 121/ABW. Bapak DIRJEN KSDAE mengaku sangat senang dengan kunjungannya ke Taman Nasional Gunung Palung dan betemu dengan para mitra yang telah membantu dalam hal pengelolaan kawasan konservasi, beliau menyampaikan saran dan arahan, semoga dengan adanya kunjungan beliau dapat memberikan semangat bagi kita untuk tetap menjaga Taman Nasional Gunung Palung. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Palung
Baca Berita

Masyarakat Serahkan Kucing Kuwuk ke BBKSDA Sumut

Barumun, 4 April 2019. Pada Senin, 1 April 2019, seorang warga, Helwa Barokah Siregar, dari Desa Aek Goti, Dusun Aek Gapuk, Kecamatan Silangkitang, Kabupaten Labuhan Batu Selatan, melaporkan kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara tentang ditemukannya 1 (satu) individu satwa liar. Menindaklanjuti laporan tersebut, sekitar pukul 12:00 wib di hari yang sama, Tim dari Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan langsung menuju ke lokasi. Sesampainya di lokasi, Tim menemui pelapor, Helwa Barokah Siregar. Dari identifikasi diketahui bahwa satwa liar dimaksud adalah jenis Kucing Kuwuk (Prionailurus bengalensis). Selanjutnya setelah menandatangani Berita Acara Serah Terima, Tim menyampaikan terima kasih kepada pelapor dan segera membawa satwa dimaksud. Ke-esokan harinya, Selasa 02 April 2019, Tim melakukan pengecekan kondisi kesehatan Kucing Kuwuk ke tim medis Barumun Nagari Wildlife Sanctuary (BNWS). Hasil pengecekan yang dilakukan oleh drh. Evi (tenaga medis BNWS) disebutkan bahwa kondisi satwa dalam keadaan baik dan masih memiliki sifat liar (sangat agresif). Atas rekomendasi tim medis, selanjutnya tim Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan melakukan pelepasliaran (release) Kucing Kuwuk tersebut di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Barumun, pada pukul 11:35 wib. SM. Barumun dipilih sebagai lokasi pelpasliaran mengingat kawasan konservasi ini termasuk habitat dari Kucing Kuwuk. Sumber : Darmawan, S.Hut., M.Sc. - Balai Besar KSDA Sumatera Utara Pelepasliaran Kucing Kuwuk di kawasan SM. Barumun
Baca Berita

Teka Tambora Dalam Balutan Festival Pesona Tambora 2019

Bima, 8 April 2019. Sekelompok orang tengah ramai mempersiapkan perlengkapannya untuk mengikuti kegiatan Teka Tambora. Sehari sebelumnya perjalanan panjang selama 4 jam berkendaraan dari Kantor Bupati Bima menuju lokasi start di kaki Gunung Tambora cukup menguras tenaga, tapi mereka terlihat gembira sesekali muncul candaan di antara sesamanya. Ini bukti bahwa mereka datang dengan mental yang sudah terlatih untuk menaklukan ketinggian di puncak kaldera Gunung Tambora pada 2.479 Mdpl. Dari timur matahari telah tinggi sejengkal tapi kabut masih menyelimuti kawasan wisata Taman Nasional Tambora di Oi Marai Desa Kawinda Toi Kecamatan Tambora Kabupaten Bima Prov. Nusa Tenggara Barat, lokasi ini merupakan meeting point bagi peserta pendakian Teka Tambora. Disisi lain dari pojok tenda orange berdiri 5 orang pemandu lokal, terlontar kata dari bibir salah satu dari mereka “untung hari ini cuaca bersahabat dengan kita “ begituh tegas pernyataan mereka hingga menarik perhatian beberapa orang pengunjung dan menoleh kearahnya dengan menunjukan senyum persahabatan . Bagaimana tidak bahwa beberapa minggu yang lalu curah hujan yang sangat tinggi melanda kawasan ini, bahkan di beberapa titik terjadi banjir yang merusak beberapa fasilitas umum, misalnya cek dam yang berada tak jauh dari lokasi itu telah hancur diterjang oleh aliran air pada tahun lalu. Seakan tidak mau terpuruk dalam musibah tersebut, Pemerintah Kabupaten Bima segera bangkit mempersiapkan diri menyongsong agenda pariwsata nasional yang dikenal sebagai kalender pariwisata dikenal dengan Festival Pesona Tambora. Agenda ini bertujuan untuk menunjukan kepada dunia bahwa Tambora dengan nilai sejarah yang sangat dasyat dan terkenal itu memiliki keindahan alam yang sangat mempesona membuat takjub setiap orang yang berkunjung ke Tambora. Festival Pesona Tambora sebagai agenda tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Propinsi NTB rutin di bulan April untuk mengenang kehebatan letusan Gunung Tambora pada tahun 1815, tepatnya tanggal 11 april 1815 sekitar 2 abad silam. Festival Tambora bertujuan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya pada zaman lampau yang telah terkubur bersama 3 (tiga) kesultanan dan dikemas untuk memajukan pariwisata di pulau Sumbawa khusunya di lingkar tambora. Berbagai acara di selenggarakan dalam Festival Pesona Tambora 2019 mulai dari Pawai Adat, Sedekah Bumi, Pentas/hiburan Rakyat, Rinjani – Tambora Trip Adventure, Festival Geopark dan Teka Tambora yang dilaksanakan di jalur pendakian Kawinda Toi Kec. Tambora Kab. Bima. Acara yang didukung oleh Pemprov. NTB, Pemda Kab. Bima, Polres Bima beserta Balai Taman Nasional Tambora Direktorat Jenderal KSDAE. Acara ini adalah acara yang paling unik dan menarik di bandingkan kegiatan lainnya, dengan melibatkan sejumlah 107 orang pendaki, dan salah satu peserta pendakian merupakan warga negara asing berasal dari Jerman. Selain itu terdapat juga pendaki yang berasal dari luar NTB diantara dating dari Aceh, Kalimantan dan Sulawesi Tenggara. Dalam Tim Teka Tambora terdapat 8 orang petugas dari Balai TN Tambora dan 3 orang Anggota BASARNAS yang akan memantau dan mengawal selama pendakian. Dalam amanantnya Bapak Camat Tambora menyampaikan bahwa penyelenggara Teka Tambora 2019 ini mengemban tugas mengibarkan bendera beberapa Negara yang pernah terdampak letusan gunung tambora pada tahun 1815. Kegiatan Teka Tambora dilaksanakan selama 4 (empat) hari mulai tanggal 7 s/d 10 April 2019. Selain kegiatan pendakian yang di rencanakan selama 3 (tiga) hari mulai tanggal 8 s/10 April 2019, panitia penyelenggara acara Teka Tambora menyelingi kegiatan produktif lainnya seperti talkshow pengembangan pariwisata di Kawinda Toi, display produk ekonomi kreatif lokal dan pencanangan wisata zero waste yang akan memberikan hadiah kepada pendaki yang membawa pulang sampah paling banyak. Meski tak semeriah Teka Tambora 2018 lalu, agenda Teka Tambora tahun ini memiliki nilai penting dalam upaya menyadarkan dan membangkitkan semangat kerjasama semua pihak baik pemerintah propinsi, pemerintah daerah, Balai Taman Nasional Tambora serta masyarakat di sekitar gunung tambora bahwa di sekitar mereka terdapat kawasan dengan nilai penting yang perlu dijaga dan dikembangkan untuk mendukung kemajuan daerah dari sector pariwisata, ekologi, pendidikan dan budaya. Inilah Tambora kawasan yang masih memendam sejarah besar kehidupan kerjaan pada masa silam. Salam Lestari Sumber: Adi Kurniawan PEH - Balai TN Tambora
Baca Berita

Tampilkan Pengembangan Ekowisata Terestrial Berbasis Masyarakat, Balai Besar KSDA Papua Barat Pertahankan Gelar Juara I Pameran NasIonal Indogreen 2019

Sorong, 8 April 2019. Balai Besar KSDA Papua Barat kembali dapat mempertahankan Juara I stand terbaik lingkup KSDAE dalam ajang pameran Indogreen Environment and Forestry Expo 2019 (IEFE), yang merupakan pameran Kehutanan dan lingkungan terbesar di Indonesia sejak tahun 2009, yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bekerjasama dengan PT. Wahyu Promo Citra. Pameran ini diselenggarakan di Celebes Convention Center, Makassar pada tanggal 4 - 7 April 2019 dan melibatkan hampir 100-an peserta baik dari instansi pemerintah pusat, instansi pemerintah daerah, perusahaan BUMN, BUMD, Perusahaan Swasta yang seluruhnya bergerak dibidang lingkungan hidup dan kehutanan. Pada pelaksanaan INDOGREEN ENVIRONMENT & FORESTRY EXPO YANG KE 11 dengan konsep INDOGREEN ROAD SHOW TO YOUR CITY, Stand Balai Besar KSDA Papua Barat menampilkan berbagai informasi dan atraksi antara lain Sosialisasi dan informasi terkait tupoksi Balai Besar KSDA Papua Barat terkait Perlindungan, Pengawetan, dan Pemanfaatan Kawasan Konservasi; Potensi Taman Wisata Alam yang menjadi destinasi wisata khusus dan potensi jasa lingkungan kawasan konservasi; Pengembangan Ekowisata Terestrial berbasis masyarakat; Upaya pemberdayaan masyarakat dan penguatan budaya lokal dalam mendukung realisasi pengelolaan hutan konservasi; Promosi produk budaya lokal masyarakat desa penyangga kawasan konservasi; dan Atraksi tarian adat tentang kearifan lokal masyarakat adat suku Moi dalam mengelola hutan dan sumber daya alam yang dimiliki. Dalam 4 (empat) hari kegiatan pameran hampir 2000 pengunjung yang tercatat mengunjungi stand Balai Besar KSDA Papua Barat. Antusias pengunjung terhadap stand Balai Besar KSDA Papua Barat terlihat dari ramainya kunjungan serta ajakan berswafoto ria bersama di stand Balai Besar KSDA Papua Barat. Atraksi tarian adat kearifan lokal masyarakat suku Moi juga menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Sumber : Balai Besar KSDA Papua Barat
Baca Berita

Pelepasliaran Kura-Kura Moncong Babi Untuk Keseimbangan Ekosistem

Boven Digoel, 6 April 2019. Sebanyak 2140 ekor kura-kura moncong babi (Carettochelys insculpta) dilepasliarkan di Sungai Digoel, Kampung Sohokanggo, Distrik Mandobo, Kabupaten Boven Digoel. Pelepasliaran dilakukan oleh penyidik Polres Merauke dan disaksikan Kepala Bidang KSDA Wilayah I Merauke Balai Besar KSDA Papua. Hadir pula Jaksa Penuntut Umum dari Kejaksaan Negeri Merauke, Bupati dan Wakil Bupati Boven Digoel, Kapolres Boven Digoel, Dandim 1711/BVD, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan, Kepala CDK, Ketua Umum Lima Suku Besar LMA, Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Merauke (KIPM), OPD Kabupaten Boven Digoel terkait, WWF Indonesia, dan masyarakat adat Auyu, Kampung Sohokanggo. Kura-kura moncong babi tersebut merupakan barang bukti tindak pidana Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Pada Kamis, 14 Maret 2019 lalu Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan Laut Polres Merauke telah menangkap pelaku yang memiliki dan membawa kura-kura moncong babi (C. insculpta) tanpa izin yang sah, dari Asmat ke Merauke menggunakan KM. Tatamailau. Irwan Efendi, S.Pi., M.Sc., Kepala Bidang KSDA Wilayah I Merauke BBKSDA Papua menyatakan, “Atas pertimbangan kesejahteraan satwa jenis kura-kura moncong babi (C. insculpta) dan referensi habitat penyebarannya, Sungai Digoel di Kampung Sohokanggo ini dipilih sebagai tempat pelepasliarannya.” Pada kesempatan tersebut, Bupati Boven Digoel, Benediktus Tambonop, menyampaikan sambutan yang berisi apresiasi terhadap kegiatan tersebut. Ia menyatakan rasa hormat dan terima kasih kepada semua pihak, terutama Balau Besar KSDA Papua, yang telah berupaya menyelamatkan salah satu spesies penting asli Boven Dogoel. Terdapat dua hal menarik di dalam kegiatan pelepasliaran kali ini. Pertama, masyarakat adat Auyu melakukan ritual sebagai permohonan izin kepada leluhur, bahwa akan ada ribuan kura-kura moncong babi dilepasliarkan. Di dalamnya terdapat harapan agar sekawanan satwa liar yang dikembalikan ke alam itu mendapatkan perlindungan sehingga dapat berkembang biak sebagaimana mestinya. Kedua, di antara suasana pelepasliaran itu tampak kehadiran anak-anak dari masyarakat adat Auyu antusias menyaksikan semua prosesi yang berlangsung. Sangat besar kemungkinan peristiwa ini akan lekat di dalam ingatan mereka hingga kelak. Hal ini diharapkan mampu menjadi salah satu sarana pembelajaran mengenai konservasi kepada anak-anak sejak dini. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si. menghimbau masyarakat agar lebih peka terhadap kondisi satwa liar yang memiliki peran penting di dalam satu kesatuan ekosistem. Harapannya kasus-kasus ilegal terkait satwa liar dilindungi tidak akan terjadi lagi. Edward menyatakan, “Pada prinsipnya satwa liar yang dilindungi, termasuk kura-kura moncong babi dapat dimanfaatkan, asalkan memperhatikan etika kelestarian, dan berdasarkan peraturan atau undang-udang yang berlaku.” [] Sumber: Balai Besar KSDA Papua Call Center BBKSDA Papua: 0823-9802-9978
Baca Berita

Merespon Konflik Warga Dengan Beruang Madu di Padangsidimpuan

Padanglawas, 8 April 2019. Selasa, 2 April 2019, Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan menerima laporan dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Padanglawas melalui Camat Kecamatan Sosa tentang terjadinya konflik warga dengan satwa beruang di Desa Siborna Bunut, Kecamatan Sosa, Kabupaten Padanglawas. Pada hari Rabu, 3 April 2019, setelah melakukan persiapan yang matang, Tim Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan menuju lokasi dan berkoordinasi dengan Camat Kecamatan Sosa serta Kepala Desa Siborna Bunut. Tim melakukan pengecekan lokasi lahan sekitar Desa Siborna Bunut yang dirusak oleh satwa beruang. Tim juga melakukan pengamatan di areal lainnya dan menemukan sarang beruang yang sudah ditinggal sekitar satu minggu, bekas jalur lintasan beruang, bekas cakaran beruang pada tanaman kelapa sawit, waru, pinang, pisang dan tanah. Berdasarkan keterangan warga yang pernah berjumpa langsung dengan satwa beruang, jumlah satwa yang berkeliaran di perkebunan masyarakat Desa Siborna Bunut berjumlah ± 5 (lima) individu, terdiri dari 2 pasang (jantan dan betina), 1 pasang diketahui bersama anak beruang. Kondisi lahan perkebunan masyarakat (sawit, karet, kelapa, pinang, dan lain-lain) terlihat sangat semak dan tidak terawat, sehingga mengundang satwa beruang untuk mencari makan dan bersarang di areal perkebunan tersebut. Lokasi kebun warga ini berbatasan dengan Hutan Produksi (HP). Melihat fenomena seperti ini, Tim BBKSDA Sumatera utara melalui Bidang Wilayah III KSDA Padangsidimpuan melakukan edukasi konservasi satwa liar kepada warga setempat. Tim menghimbau untuk membersihkan dan merawat ladang mereka agar tidak dijadikan sarang beruang. Selain itu warga diharap untuk tidak beraktivitas pada malam hari, dan tidak mengganggu (melukai/membunuh) beruang. Terakhir kepada warga apabila terdapat kejadian serupa agar segera melapor kembali kepada BBKSDA Sumatera Utara. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

8 Box Daging Penyu Gagal Diselundupkan

Denpasar, 8 April 2019. Upaya peredaran ilegal satwa liar yang dilindungi Undang- Undang berhasil digagalkan Balai KSDA Bali bersama dengan Polsek Kawasan Laut Padangbai, Balai Karantina Ikan dan Balai Karantina Pertanian pada Sabtu, 6 April 2019 pukul 16.00 Wita. Kejadian bermula saat Anggota piket Polsek Kawasan Laut Padangbai melakukan pemeriksaan terhadap truk berukuran sedang dengan nomor polisi DK 8665 J (plat lama DK 9539 AY) di Pos 2 pelabuhan laut Padangbai. Truk tersebut mengangkut ikan kerapu sebagaimana tercatat dalam dokumen angkut. Selanjutnya oleh petugas piket diserahkan ke petugas Karantina Ikan Padangbai untuk pemeriksaan lebih lanjut. Saat petugas Karantina Ikan melakukan pemeriksaan, ditemukan kelebihan kemasan sebanyak 8 box (280 kg) yang dikemas dalam sterefom tanpa dokumen. Dalam box tersebut petugas memastikan bahwa barang yang ada di dalam box tersebut bukan ikan kerapu, melainkan diduga daging penyu. Selanjutnya Petugas karantina ikan segera melakukan koordinasi dengan petugas Resort KSDA Padangbai. Petugas Balai KSDA Bali segera melakuka identifikasi daging tersebut dan memastikan dapat bahwa daging tersebut adalah daging penyu. Setelah melakukan koordinasi dan meminta keterangan pelaku KKL yang berasal Sumba Barat NTT, didapatkan informasi bahwa barang tersebut dimuat dari pelabuhan penyeberangan Sape, Bima pada hari Rabu, 3 April 2019 sekira pukul 22.00 Wita. Mengangkut muatan ikan dengan tujuan Mataram sebanyak 60 box, dan dengan tujuan Padang Galak (Denpasar) sebanyak 31 box. Truk tersebut disewa dengan harga Rp. 2.500.000,- dan pelaku tidak mengetahui ada daging penyu di dalam box tersebut. Atas kejadian ini kemudian bersama petugas Karantina Ikan, Balai KSDA Bali menyerahkan ke Polsek Kawasan Laut Padangbai untuk dilakukan proses penyidikan lebih lanjut. Sedangkan barang bukti hasil sitaan, hari ini Senin, 08 April 2019 diserahkan Polsek Kawasan Laut Padangbai kepada Balai KSDA Bali disaksikan Balai Karantina Ikan dan Balai Karantina Pertanian. Sumber : Balai KSDA Bali Call Center Balai KSDA Bali : 081246966767 Penanggung jawab berita : Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai KSDA Bali I Ketut Catur Marbawa, S.Hut., M.Si. - 08123963008 Informasi lebih lanjut hubungi : Budhy Kurniawan S.Hut. (Kepala Balai KSDA Bali) - 081236090739
Baca Berita

Studi Lapangan SMAN 3 Tebing Tinggi ke TWA Sibolangit

Sibolangit, 4 April 2019. Pengetahuan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya secara insitu (dihabitat alam) bagi pelajar sangatlah diperlukan. Hutan menjadi salah satu wahana tempat pendidikan, budidaya, penelitian dan pembelajaran bagi siswa/i, seperti yang dilakukan SMAN Negeri 3 Tebing Tinggi ketika melaksanakan Studi Lapangan di Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit, pada Rabu 3 April 2019, dipimpin Barita Tarigan, SPd serta 2 guru pendamping, dengan 67 orang siswa. Para siswa dilapangan dibagi menjadi 3 kelompok dan dipandu langung oleh petugas Resort CA/TWA Sibolangit. Siswa/i dipandu memasuki kawasan Taman Wisata Alam Sibolangit untuk pengenalan keragaman tumbuhan, dari tingkat bawah sampai pohon serta manfaatnya. Setiap siswa diberi kesempatan untuk bertanya, mencatat, memphoto berbagai keragaman jenis tumbuhan yang ada di sepanjang jalur interpretasi, untuk bahan presentase nantinya di sekolah. Kegiatan pengamatan ini dimaksudkan untuk mengetahui taksonomi dari masing-masing jenis tumbuhan. Studi lapangan sudah menjadi agenda tetap setiap tahunnya yang dilaksanakan oleh SMAN 3 Tebing Tinggi di TWA Sibolangit. Melalui kegiatan pembelajaran konservasi alam ini, setiap siswa dapat langsung merasakan hawa alam yang nyata, keragaman tumbuhan, keunikan alam yang dapat bisa langsung dilihat serta disini pulalah seluruh proses suksesi alam dipelajari. Sumber : Samuel Siahaan, SP - PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara Photo bersama usai kegiatan Studi Lapangan
Baca Berita

BKSDA Yogyakarta Tanam 1000 Pohon Native Spesies Karst di Suaka Margasatwa Paliyan

Paliyan, 5 April 2019 – Sebanyak 1000 bibit native spesies akan ditanam di Suaka Margasatwa (SM) Paliyan, Gunungkidul. Gelaran ini merupakan road peringatan hari bumi tahun 2019 yang dilaksanakan Balai KSDA Yogyakarta. Kegiatan penanaman ini, Balai KSDA Yogyakarta mendapat dengan dukungan banyak pihak seperti UPT Kementrian Lingkungan Hidup Kehutanan lingkup (KLHK) DIY ,Dinas LHK D.I.Yogyakarta, Dodiklatpur, Mitsui Sumitomo Inc. dan Indonesian Hotel General Manager (IHGMA) Chapter Yogyakarta. Mupika Paliyan dan Saptosari, Kelompok Tani Hutan, Kader Konservasi, dan Pelajar SMA 1 Semin dengan total personil sebanyak 200 orang. Penanaman ini difokuskan di petak 136 pada blok rehabilitasi SM Paliyan. Jenis tanaman yang ditanam terdiri dari Terbelo Pusuh, Mojo, Elo, Bulu, Kepuh, Talok , Ipik, dan Pulai. Kepala Balai KSDA Yogyakarta, Ir. Junita Parjanti, MT mengatakan "Peringatan Hari Bumi dilaksanakan sebagai salah satu gerakan peduli lingkungan modern, munculnya banyak gerakan masyarakat baik melalui komunitas maupun individu dalam mengkampanyekan gerakan cinta alam dan lingkungan hidup". Dimana gerakan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap Bumi yang telah memberikan kehidupan bagi makhluk hidup di dalamnya selama jutaan tahun. Selain itu, tujuan kegiatan ini sebagai upaya pemulihan ekosistem dengan native species karst di SM Paliyan. Lebih Lanjut Ir. Junita Parjanti, MT mengatakan bahwa kegiatan seperti ini perlu dilakukan rutin setiap tahun supaya SM Paliyan kembali menjadi hutan yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar maupun menjadi habitat bagi satwa liar. Mari kita bersama-sama menjaga Suaka Margasatwa Paliyan, Hutan dan Lingkungan hidup agar terwujud Kelestarian demi kepentingan bersama. Ayo Nandur Urip.. Sumber : Andie Chandra Herwanto - PEH Balai KSDA Yogyakarta
Baca Berita

Gelar yang Membawa Bencana, Bunga Abadi Dari Pegunungan Tinggi

Akhirnya diturunkanlah volunteer perempuan, karena Bapak-bapak Polhut tidak tega untuk menggeledah seorang remaja putri yang menyimpan bunga edelweis ditempat paling pribadinya. Inilah penyimpanan edelweis yang diketahui paling ekstrim, sampai saat. Tersebutlah seorang pendaki perempuan berhasil sampai di Alun-alun Suryakancana dan memetik bunga edelweis. Karena informasi dari sesama pendaki bahwa dipintu keluar biasa dilakukan pemeriksaan dan penggeledahan, dia berusaha menyimpannya pada tempat yang menurut perkiraannya tidak akan tergeledah Polhut. Sampai sebegitu menarikah bunga edelweis ? Why ? Dengan Pengabdiannya Pantas Dapat Gelar Tidak ditemukan kecuali di puncak-puncak gunung tinggi, sehingga edelweis termasuk penghuni pegunungan tinggi, “endemik” sub alpin.Di Jawa Barat, orang menemukannya di Gunung Papandayan, Gunung Gede Pangrango, Gunung Salak dan Gunung Ceremai. Mereka hidup pada ketinggian 2.400 m sampai 3.000 m dari permukaan laut. Ingat teman-teman... tumbuhan endemik mempunyai daerah penyebaran yang sempit, sehingga rentan kepunahan. Jangan ganggu mereka, yaa! Edelweis memang ”pionir”, mampu hidup didaerah yang kering dan ekstrim, di puncak gunung pada bebatuan berpasir. Ukuran daun yang kecil dan ditumbuhi bulu-bulu tebal warna putih mengkilap efektif mengatasi suhu yang ekstrim dan udara yang kering. Di bebatuan berpasir yang miskin hara, mereka bersimbiosa dengan jamur tanah membentuk mikoriza. Disamping untuk kenyaman mereka yang bersimbiosa, pembentukan mikoriza ini juga efektif memperluas kawasan yang dapat dimanfaatkan tumbuhan lain. Tugas dan pengabdian “sang pionir” selesai saat kondisi lingkungan membaik, mereka mengalah dan memberikan tempat tumbuhnya kepada jenis penerusnya, seperti cantigi, kitanduk dan rhododendron. Kawan … mari kita hargai perjuangan berat dan pengorbanan sang pionir, jangan buang sampah, mendirikan tenda atau api unggun di tempat hidup mereka, yaa! Mengapa bunga dan daun edelweis tak pernah layu, sehingga diberi gelar “bunga abadi” ? Mereka hidup ditempat yang kering, sehingga kadar air dalam tumbuhan ini pun rendah, jadi meskipun kekurangan air atau tidak ada suplay air (bila dipetik) tidak terlalu banyak penurunan kadar air sehingga seolah-olah tidak apa perubahan (tidak layu). Namun Guy”s… yang jelas fotonya emang tidak pernah layu. “Lambang keberhasilan pendakian gunung”, pun syah-syah saja disematkan pada jenis bunga ini, karena mereka hanya tumbuh di puncak-puncak gunung yang tinggi (diatas 2.400 m dpl). Jadi tidak akan bisa mengelus dan berselfi dengan bunga edelweis bila tidak mampu menaklukan puncak gunung yang tinggi dengan berbagai rintangannya. Bukan begitu, sobat muda... ? Teman-teman, sepertinya wajar juga ya…, bila “sang kekasih”, menerima persembahan kecantikan edelweiss, sebagai bukti kesetiaan. Betapa tidak, susahnya perjuangan mendaki puncak gunung (yang penuh tantangan dan bahaya), ditempuh demi sang kekasih… ehm. Tapi karena bunga “lambang kesetiaan”, tersebut sekarang sudah dilindungi, jadi man-teman hanya boleh mempersembahkan keindahan edelweiss dalam foto saja, ya… ! Sobat konservasi, bunga yang satu ini juga, berstatus sebagain ”tumbuhan langka”. Habitat yang sangat terbatas (endemik) dan pupulasinya cenderung menurun (banyak mengalami gangguan), tidak heran mereka semakin sulit ditemukan. Di tempat tumbuh yang ekstrim jenis-jenis hayati sangat rentan dan populasinya cenderung menurun. Sobat, tugas kita saat ini adalah merubah status ”langka” menjadi ”umum”, atau kalau bisa ganti status menjadi ”melimpah”. Saudaraku, status langka ini tidak jarang dibantu dengan pengrusakan habitat dan pengambilan bunga oleh para pendaki gunung, sehingga harus ”dilindungi”. Mulai tanggal 29 Juni 2018, edelweis jawa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Hati-hati ya... ! jangan sampai kena sanksi, lho ... ! Semakin Dilindungi Semakin Menarik Untuk Diburu Di tatar Pasundan, edelweis tumbuh rukun dengan dua saudara semarganya yaitu sembung gunung (A. longifolia dan A. Maxima) yang termasuk kepada keluarga aster-asteran (Asteraceae). A. javanica mempunyai tampilan yang paling indah diantara saudara-saudaranya, sehinga pantas mendapat gelar “ratunya bunga edelweiss” Bila kawan-kawan, sempat mendaki ke Gunung Gede atau Pangrango, saksikan sendiri keindahan padang edelweiss di alun-alun Mandalawangi Gn. Pangrango, sekitar kawah Gn. Gede dan Alun-alun Suryakencana. Alun-alun Suryakancana Gn. Gede malah pernah termasuk salah satu padang edelweis terindah di Indonesia. Saat booming, sekitar bulan Juli-Agustus, sejauh mata memandang hanya hamparan bunga edelweis yang putih kekuning-kuningan, menghampar pada areal datar seluas ± 50 ha. Namun sayang, banyak para pendaki yang masih tergoda keindahan dan berbagai gelar sang edelweis, sehingga “sang primadona” harus mengalami penderitaan malah harus mau berkorban sampai mati. Para ”predator” ini adalah saudara kita yang belum sadar dan tidak peduli dengan kelestarian alam, mereka malah berpendapat ”semakin langka, semakin menantang untuk dibawa”, “semakin surut semakin layak untuk diburu”. Yang “dilindungi” menarik untuk dimiliki. Jeritan lain datang dari habitat edelweiss, mereka menderita karena pemasangan tenda dan pembuatan api unggun. Belum lagi sampah, anakan edelweiss banyak yang mati karena tertutup sampah plasik. Puntung rokok atau bekas api unggun (yang tidak benar-benar padam), jauh lebih berbahaya, sudah terbukti sering menimbulkan kebakaran hutan. Oleh karena itu, Guy’s… jangan segan-segan, peringatkan mereka yang sedang “bermain api”, terutama pada saat musim kemarau. Suksesi dilawan? Jangan, itu kan proses alami. Cuma saja, karena tumbuhan pionir tidak tahan naungan, jadi kalau habitat sudah mulai membaik dan pepohonan mulai tumbuh, edelweis akan kalah bersaing untuk mendapatkan sinar matahari. Ya… paling dikendalikan saja, supaya edelweis tetap lestari. Setuju kan Guy’s ? Sobat muda… ancaman alami lainnya datang dari (kemungkinan) letusan gunung api, ini merupakan ancaman serius terhadap kelangsungan kehidupan alam hayati, terutama yang bersifat endemik dan langka, termasuk jenis bunga yang satu ini. Bagaimana menurut sobat-sobat, apakah kita perlu membuat stok bibit ditempat yang aman, untuk kemungkinan restorasi kawasan? Sobat Gepang pasti masih ingat, pada tahun lalu pernah terjadi penurunan suhu yang sangat tinggi, sampai-sampai air selokan di tengah Alun-alun Suryakencana membeku jadi es, uap air membeku jadi salju. Kemungkinan karena cairan dalam sel-sel tumbuhan juga membeku, dan sel pecah sehingga edelweis banyak yang mati. Upaya Konservasi Agar Lestari Keindahan padang edelweis Suryakancana, merupakan ”titipan” Sang Pencipta untuk dikelola dan dimanfaatan secara lestari. Untuk itu, mari kita dukung upaya pelestarian jenis tumbuhan liar ini. Sobat Gepang... kita perlu tahu bahwa di Tanal Gepang (Taman Nasional Gunung Gede Poangrango) pelestarian edelweis dilakukan melalui empat pendekatan, yaitu pendekatan al, kepolisian, ekosistem serta pendekatan ekonomi masyarakat. Pendekatan sosial intensif dipintu-pintu masuk, melalui penerangan tentang tatacara memasuki kawasan konservasi, dan sosialisasi Permen LHK No. P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Mengawal upaya secara sosial, dilakukan operasi kepolisian berupa patroli pengawasan dan penjagaan, agar pengunjung tidak masuk ke zona inti dan tidak buang sampah dalam kawasan. Pemeriksaan bawaan pengunjung di pintu keluar merupakan antisipasi adanya bunga edelweis yang terbawa oleh para pendaki. Bersinergis dengan upaya lainnya, dari sisi ekosistem dilakukan operasi pembersihan sampah di habitat edelweis, dan monitoring populasi edelweis di Alun-alun Suryakancana. Upaya perbanyakan melalui biji dan stek batang serta stek pucuk telah pula dicoba. Perbanyakan dari biji lebih mudah dilakukan dan telah berhasil ditanam untuk restorasi habitat edelweis yang terdegrasai akibat pemasangan tenda masuk di zona inti, serta akibat suhu yang sangat dingin. Rekan Pendaki … setiap dari kita diharapkan bisa membantu upaya pelestarian bunga edelweis antara lain dengan tidak mengambil bunga dan tidak merusak habitat edelweis. Angkat bicara bila ditemukan ada yang merusak habitat atau mengambil tumbuhan ini; Melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwenang (Polhut atau Polri). Bagaimana Re… ada saran dan masukan ? Sumber: Agus Mulyana dan Asep Hasbillah - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango

Menampilkan 5.809–5.824 dari 11.140 publikasi