Sabtu, 25 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Sambut Peserta Teka Tambora 2019, Balai TN Tambora Canangkan Pendakian Zero Waste

Penyambutan Peserta Teka Tambora dan Pencanangan Zero Waste di Jalur Pendakian Taman Nasional Tambora Kawinda Toi, 10 April 2019. Salah satu rangkaian Festival Pesona Tambora 2019 ialah pendakian bersama Teka Tambora 2019 di Jalur Pendakian Kawinda Toi, Taman Nasional (TN) Tambora. Acara serupa sudah sukses juga diselenggarakan pada tahun 2018 yang lalu. Muhammad Putra Feryandi, S.IP sebagai ketua acara melepas para peserta pada tanggal 8 April 2019 yang lalu didampingi Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I KORE Balai TN Tambora dan Camat Tambora. Total pendaki yang ikut dalam acara Teka Tambora 2019 sejumlah 114 orang yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan pendaki asal Jerman. Pendaki pada tanggal 10 April 2019 sudah turun dari puncak dan sampai di pintu gerbang pendakian Jalur Kawinda Toi pada siang dalam keadaan sehat dan aman. Dalam penyambutan para pendaki tersebut hadir pula Wakil Bupati Kabupaten Bima Drs. Dahlan M Noor, Kepala SPTN I KORE TN Tambora, Kepala Dinas LHK Prov. NTB, Camat Tambora dan jajaran Kepala Dinas Lingkup Pemda Kabupaten Bima. Momentum tersebut juga dikampanyekan pendakian Zero Waste di seluruh Jalur Pendakian Taman Nasional Tambora, program tersebut juga sejalan dengan arahan Gubernur Nusa Tenggara Barat mengenai Zero Waste. Mendukung program zero waste tersebut BTN Tambora memfasilitasi semua peserta pendaki dengan kantong sampah. Sebagai apresiasi terkait sampah panitia juga memberikan penghargaan kepada peserta yang paling banyak membawa sampah turun. Turut hadir juga pendaki senior yang sudah malang melintang di dunia pendaki gunung indonesia dan luar negeri yaitu Djukardi "Bongkeng" Adriana. "ini kali kedua saya mendaki Gunung Tambora, sebelumnya saya mendaki melalui Jalur Pendakian Pancasila. Jalur ini sangat bagus dengan kombinasi vegetasi yang masih rapat dan jalur yang menantang, saya pernah mendaki Gunung Kilimanjaro dan Jalur Kawinda Toi ini menurut saya mirip sekali dengan Jalur pendakian di Gunung Kilimanjaro. Bisa saya katakan Gunung Tambora khususnya Jalur Pendakian Kawinda Toi merupakan kilimanjaronya indonesia", ujar bapak yang lebih terkenal dengan sebutan Uwak Bongkeng ini. Acara Teka Tambora 2019 ini berjalan dengan sangat lancar, semua pendaki berhasil mencapai puncak dan kembali dengan selamat. Harapannya event ini masih ada di tahun-tahun berikutnya. Sumber : Balai Taman Nasional Tambora
Baca Berita

Balai TN Bukit Baka Bukit Raya Laksanakan Pembentukan dan Penyegaran Masyarakat Mitra Polhut

Sintang, 5 April 2019. Tugas perlindungan dan pengamanan hutan di kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya bukan hanya merupakan tugas dari Polisi Kehutanan, akan tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat khususnya yang tinggal di sekitar kawasan. Melalui upaya perlindungan dan pengamanan hutan partisipatif dengan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan diharapkan dapat membantu proses terjaganya kelestarian sumberdaya hutan, mengurangi dan mencegah perambahan, pencurian, penebangan tanpa izin dan penambangan illegal. Agar peran serta masyarakat dalam bidang perlindungan dan pengamanan hutan dapat menyelesaikan permasalahan yang ada sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku dan sebagai wujud implementasi dalam upaya perlindungan dan pengamanan hutan dari gangguan dan ancaman yang berpotensi merusak kawasan TNBBBR, maka perlu dibentuk kelompok perlindungan dan pengamanan yang berbasis masyarakat yaitu Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP). Dengan adanya Pembentukan dan Penyegaran Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan ini kiranya dapat membantu tugas-tugas Polisi Kehutanan dan aparat terkait lainnya dalam upaya perlindungan dan pengamanan hutan sehingga dapat berjalan dengan optimal demi kelestarian kawasan. Untuk itu Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya telah menyelenggarakan Kegiatan Pembentukan dan Penyegaran Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan (MMP) yang dilaksanakan di Resort Rantau Malam wilayah kerja SPTN Wilayah I Nanga Pinoh, yang dilaksanakan pada tanggal 3 s/d 4 April 2019 bertempat di Dusun Minjai Permai, Desa Rantau Malam, Kecamatan Serawai, Kabupaten Sintang. Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan, meningkatkan peran dan partisipasi masyarakat dalam upaya perlindungan dan pengamanan hutan serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan. Acara ini dibuka langsung oleh Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Bapak Agung Nugroho, S.Si., M.A., dimana dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa “Dengan dibentuknya Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan ini diharapkan dukungannya dan dapat membantu Balai dalam kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan hutan secara partisipatif agar fungsi kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya sebagai kawasan perlindungan sistem penyangga kehidupan dapat terjaga kelestariannya. Acara ini dihadiri pula pembukaan tersebut juga dihadiri oleh Kepala Kepolisian Sektor Serawai, Kepala SPTN Wilayah I Nanga Pinoh, Kepala Desa Rantau Malam beserta perangkatnya dan Kepala Resort Rantau Malam. Materi-materi yang disampaikan pada kegiatan ini adalah sebagai berikut : Perlindungan dan Pengamanan Hutan oleh Bapak Ipda. Rahmad Kartono, S.H., M.H (Kapolsek Serawai), Standar Operasional Prosedur MMP oleh Bapak Andhi Jumhadi Adji Saroyo, S.Sos (Kepala Resort Rantau Malam/POLHUT Balai TN Bukit Baka Bukit Raya), Search And Rescue (SAR) oleh Bapak Dudy Kurniawan, S.Hut., M.Sc. (Staf Balai TN Bukit Baka Bukit Raya) serta Pengumpulan Data dan Pengenalan alat Navigasi GPS oleh Bapak Dodi Marsaidi (PEH BTNBBBR), dilanjutkan dengan praktek dari materi-materi tersebut meliputi Kesamaptaan, SAR, Pengumpulan Data dan Pengenalan Alat Navigasi GPS serta Pembuatan Laporan Kejadian. Dalam Kegiatan Pembentukan dan Penyegaran Masyarakat Mitra Polisi Kehutanan TN Bukit Baka Bukit Raya ini, para peserta sepakat membentuk Kelompok yang diberi nama Kelompok MMP JORIBAN DARUNG dengan anggota sebanyak 30 (tiga puluh) orang yang dibagi menjadi 3 (tiga) regu, yaitu Regu Bohuang Syarun, Regu Kulih Daan dan Regu Horomaung yang beranggotakan 10 (sepuluh) orang untuk setiap regunya. Sumber : Ivonne B. Panggabean, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan) dan Dodi Marsaidi, S.Hut. (Pengendali Ekosistem Hutan) pada Balai TN Bukit Baka Bukit Raya. Humas Dan Publikasi Balai TN Bukit Baka Bukit Raya - Contact Person : Dudy Kurniawan Call Centre : 082158564609 - e-mail : bukitbakabukitraya@gmail.com
Baca Berita

Mengenal Command Center 112 Surabaya

Surabaya, 10 April 2019. Cuaca di sekitar Bandara Juanda cerah dan sangat sejuk saat 2 ekor Sanca Batik (Python reticulatus) diserahkan Command Center (CC) 112 Kota Surabaya ke Balai Besar KSDA Jawa Timur. Menurut Arif Sunandar, Kasubdit Kedaruratan CC112, ular-ular tersebut diamankan dari taman di sekitar Gelora 10 November dan sebuah toko peralatan outdoor. Arif menuturkan, sejak sering mendapatkan laporan terkait ular, tim CC112 telah dilatih untuk menangani ular, sebelum diserahkan ke Balai Besar KSDA Jawa Timur. Dalam beberapa kasus, penanganan ular dapat melibatkan tim rescue dari Damkar. Seperti penanganan ular yang masuk ke atas loteng sebuah rumah kosong beberapa waktu yang lalu. "Ada sekitar 700 personil dari Linmas yang telah kami sebar ke seluruh wilayah Kota Surabaya, dan banyak dari mereka telah dilatih untuk menangani ular", imbuhnya. Hanya saja ia masih sedikit kesulitan untuk menangani Monyet ekor-panjang, karena selalu berpindah-pindah tempat dan agresif. Untuk kasus yang seperti ini biasanya CC112 akan bekerjasama dengan isntansi terkait dalam penanganannya. Seperti penanganan Monyet ekor-panjang di Surabaya pada tahun 2018 yang melibatkan pihak Balai Besar KSDA Jawa Timur dan Kebun Binatang Surabaya. Bukan hanya laporan masyarakat terkait satwa liar saja yang ditangani CC112, namun satwa-satwa peliharaan seperti kucing, anjing, bahkan kambing. Meski begitu, CC112 tetap menindaklanjuti laporan masyarakat itu. Kebanyakan laporan tersebut berupa tindakan penyelamatan, seperti kucing terjebak di gorong-gorong. Masalah yang tertinggal adalah penanganan lanjutan bagi bukan satwa liar, seperti Kucing dan Anjing. “Kalau satwa liar, sudah jelas akan kami serahkan ke Balai Besar KSDA Jawa Timur”, Ujar pria asli Bojonegoro ini. Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Balai TN Kepulauan Togean Pelihara Terumbu Karang CSR Pertamina MOR VII

Ampana, 9 April 2019. Pertamina MOR VII bersama Balai Taman Nasional Kepulauan Togean telah melakukan transplantasi terumbu karang pada Agustus 2018 di perairan Reef California, Desa Tongkabo, Kecamatan Togean. Sebanyak 280 substrat (media tumbuh) telah dipasang dengan menanam 5.600 bibit karang. Program ini mencakup tidak hanya pembuatan substrat tumbuh dan penanaman, tetapi juga perawatan, pemantauan perkembangan dan kesehatan terumbu karang. Kawasan penanaman nantinya diharapkan dapat menjadi taman bibit karang, sehingga pada kegiatan rehabilitasi karang berikutnya tidak lagi mengambil dari ekosistem hidup. Pada pemantauan kondisi terumbu karang yang dilaksanakan tanggal 7 April 2019, keberhasilan hidup mencapai kisaran 82%, 13% memutih (bleaching) dan 5% mati tertutup oleh alga. Karang yang berhasil hidup telah membentuk koloni besar dan telah bersatu dengan substrat (media tumbuh). Pada kondisi yang seperti ini anakan karang dapat bertahan hidup lebih baik di lingkungan yang dinamis maupun terhadap gangguan biota. Pada anakan karang memutih (bleaching) merupakan tanda kematian awal anakan karang, namun kondisi ini masih memungkinkan anakan karang untuk hidup jika tidak ada pemangsa hewan karang dan kondisi perairan membaik, karena itu sangat penting melakukan perawatan dan pembersihan substrat pada fase ini. Selain itu juga dilakukan perawatan dengan mengganti bibit karang yang telah mati atau tertutupi alga. Hal ini dilakukan untuk memastikan keselurahan bibit karang yang ada dapat tumbuh dengan baik. Ketua Tim Pemeliharaan Transplantasi karang, Suhabrianto menyatakan bahwa pada sekitar area transplantasi telah ditemukan biota yang berasosiasi dengan koloni anakan karang yang telah berhasil tumbuh. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya ikan-ikan karang yang berada pada area transplantasi. Adapun ikan-ikan yang ditemukan seperti Dascyllus reticulatus, Pomacentrus moluccensis, Parupeneus barberinus, Scarus rivulatus, Chaetodon vagabundus, Pterocaesio tile, Platax teira, Thalassoma lunare, Labroides dimidiatus dan Lethrinus harak. Sebagian besar ikan tersebut merupakan ikan yang berasosiasi langsung dengan terumbu karang untuk mencari makan, berlindung dari pemangsa ataupun untuk memijah, sehingga hadirnya transplantasi terumbu karang ini telah berhasil menjadi habitat baru pada perairan tersebut. “Rehabilitasi merupakan salah satu upaya untuk mengembalikan kualitas lingkungan, namun menjaga ekosistem alami yang sudah ada menjadi hal terpenting,” tutup Suhabrianto. Sumber : Fahri Angriawan - Calon Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Berita

Mengubah Masalah Menjadi Berkah

Kuningan, 9 April 2019. Desa Pasawahan, Pasawahan, Kuningan merupakan daerah yang rawan dan sering terjadi kebakaran setiap tahunnya di karenakan lokasinya berupa semak belukar dan bebatuan. Apabila musim kemarau, semak belukar mudah terbakar. Dulu masyakarat yang sering membuang sampah sembarangan ke dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). Nah, sejak 2018 sampai 2019 petugas Balai TNGC khususnya Polisi Kehutanan (Polhut) melakukan pendekatan terhadap masyarakat desa Pasawahan untuk merubah perilaku mereka. Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. Dulu masyarakat setempat sangat antipati terhadap TNGC. Lantas dengan berbagai upaya yang dilakukan petugas, kondisi tersebut berubah. Bahkan masyarakat sekarang sangat mendukung dan ikut serta bersama-sama menjaga kawasan hutan gunung Ciremai. Kini kesadaran masyarakat terus meningkat. Hal ini terbukti dari keikutsertaan masyarakat dalam partisipasi menjaga dan melestarikan kawasan TNGC. Terbukti dengan telah melakukan kegiatan penanaman pohon secara swadaya yang dilakukan oleh masyarakat desa Pasawahan baik generasi tua maupun muda. Mereka bahu membahu ikut melestarikan hutan dan membersihkan tumpukan sampah yang di buang ke dalam kawasan TNGC. Masyarakat desa Pasawahan sampai saat ini sudah membentuk Kelompok Binaan TNGC. di antaranya MPA Mandiri desa Pasawahan, Kelompok Usaha Wanita Mandiri, dan Kelompok Wisata Cibugar. Selain itu Polisi Kehutanan juga ikut mendorong dalam peningkatan ekonomi masyarakat sehingga mereka mandiri dan merasakan manfaat adanya TNGC. Misalnya dengan membangun wisata alam Bukit Kahiyangan. Secara swadaya masyarakat bergotong royong mewujudkan wisata alam Bukit Kahiyangan yang dahulunya daerah ini merupakan sumber masalah. Kini masyarakat akan mewujudkan kedaulatan rakyat dengan siap launching lokasi wisata alam tersebut. Apa saja atraksi Bukit Kahiyangan?. Pantengin terus media sosial kami ya!. Sumber : Dadan - Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Mau Lifestyle Pecinta Alam: Begini Pesan Keren untuk Generasi Jaman Now

Celebes Convention Center - Makassar, 09 April 2019. Indogreen Environment & Forestry Expo 2019 kembali diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Pameran kehutanan terbesar di Indonesia ini digelar empat hari mulai 4-7 April 2019 di “Celebes Convention Center” (CCC), Makassar, Sulawesi Selatan. Selain diisi booth dari beberapa Taman Nasional di Indonesia, Unit Pelaksana Teknis (UPT) KLHK, perwakilan Pemerintah Daerah, mitra KLHK dan lainnya. Pameran juga dimeriahkan dengan adanya pagelaran seni budaya, kuis berhadiah dan “talkshow” Salah satu “talkshow” yang menarik perhatian pengunjung adalah yang bertema ”Jelajah Taman Nasional dan Peran Generasi Jaman Now terhadap Konservasi”. “Talkshow” dipandu oleh Darhamsyah Jamaluddin, Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Sulawesi Maluku - KLHK. Hadir sebagai narasumber berturut-turut: Herry Subagiadi, Sekretaris Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Sekditjen KSDAE); Harley Bayu Sastha, pegiat alam bebas, penulis buku pendakian gunung, vlogger, blogger; Yusak Mangetan, Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung; Faat Rudhianto, Kepala Balai TN Taka Bonerate; dan Kuswandono, Kepala Balai TN Gunung Ciremai. Herry, selain menyampaikan “keynote” dari Direktur Jenderal KSDAE, juga menekankan, “Indonesia memiliki kawasan hutan konservasi yang luas, terbagi dalam berbagai status. Saat ini ada 54 taman nasional yang tersebar luas di seluruh pelosok. Kebanyakan gunung yang kalian daki adalah taman nasional. Ada beberapa diantaranya juga memiliki status intetnasional, seperti Cagar Biosfer, Warisan Dunia, ‘Asean Heritage Park’ dan lainnya. Itu merupakan kebanggaan kita sekaligus tanggung jawab kita untuk mengelola & menjaganya dengan benar.” Harley mengemukakan bahwa kegiatan cinta alam sudah menjadi gaya hidup generasi jaman now. “Namun semua itu mesti dilakukan dengan cerdas dan bertanggung jawab,” lanjut Harley. “Kami bersama rekan-rekan seperti Medina Kamil, Chintya Tengens, Tyo Survival dan beberapa rekan lain baru akan memulai bikin video ‘Jelajah 54 Taman Nasional Indonesia’ bekerja sama dengan Ditjen KSDAE. Ini merupakan tindak lanjut program “”’Ayo ke Taman Nasional’ yang sudah dicanangkan KLHK beberapa tahun lalu. Kami kemas secara ‘fun’ dan populer agar mudah dicerna oleh pemirsa untuk lebih mengenali dan mencintai taman nasional dan akhirnya ikut melestarikan dengan cara keseharian kita.” “TN Bantimurung Bulusaraung sebagai TN terdekat dari kota Makassar juga kami kelola untuk menjadi tempat pembelajaran yang baik bagi generasi milenial jaman now. Bisa mengenal kawasan karst yang luar biasa, bisa belajar mengenal keanekaragaman hayati kupu-kupu,” ujar Yusak Mangetan, Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung. Faat Rudhianto, Kepala Balai TN Taka Bonerate menambahkan, “TN Taka Bonerate yang merupakan yang relatif dekat dengan Makassar, juga bisa menjadi tempat berkegiatan alam bebas yang menyenangkan dan mendidik. Terutama untuk mengenal kawasan laut, keanekaragaman biota laut. Kami undang mahasiswa dan pelajar untuk magang dan penelitian di tempat kami. ‘Babby shark’ merupakan sawta laut primadona saat ini.” Setelah 2 taman nasional dari provinsi Sulawesi Selatan, saatnya diperkenalkan taman nasional dari Jawa Barat yang berdiri sejak tahun 2004, yaitu Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC). “TNGC ini unik, karena sebelum menjadi TN adalah merupakan hutan produksi dan pernah juga menjadi hutan lindung. Perlu ada upaya lebih dari pengelola TNGC untuk mencari solusi agar masyarakat yang telah lama berinteraksi dengan hutan gunung Ciremai tetap bisa memperoleh manfaat namun masih sesuai dengan peraturan perundangan di mana gunung Ciremai telah berstatus menjadi TN,” ungkap Kuswandono, Kepala Balai TN Gunung Ciremai. Tak puas dengan itu, Darhamsyah sebagai moderator menanyakan lebih lanjut bagaimana tantangan mengajak generasi jaman now untuk terlibat dalam mengelola Hutan Konservasi TN Gunung Ciremai yang dikrlola untuk “kedaulatan rakyat”, serta bagaimana cara generasi muda jaman now berkontribusi dalam hal tersebut? “ Tidak susah, generasi jaman now bisa menjadikan kegiatan alam bebas menjadi ‘lifebstyle’, namun harus bertanggung jawab. Sebagai pendaki gunung mesti juga cerdas dan bertanggung jawab. Mulai dari diri kita masing-masing, minimalkan membawa sesuatu yang bisa menimbulkan sampah, apalagi sampah plastik. Kita biasakan selalu membawa botol minum isi ulang ketimbang membeli air mineral dengan kemasan botol plastik sekali pakai. Biasakan juga menggunakan sedotan bukan sekali pakai,” Kuswandono mencontohkan. “Mungkin tanpa rekan-rekan sadari ketika berpetualang di alam bebas atau mendaki gunung, sebenarnya rekan-rekan juga tengah membantu pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal. Biasakan berbelanja di pasar lokal sebagai perbekalan berpetualang.” Tema menarik, pembicara yang asyik ditambah ada banyak hadiah yang sudah disiapkan sudah pasti membuat para pengunjung antusias mengikutinya. Apalagi ada sebuah sepeda gunung sebagai hadiah utama menanti untuk pengunjung yang beruntung. Selain bertambah ilmu pengetahuan, pengunjung juga kebanjiran hadiah. Nah, sahabat milenial yang masih penasaran, manfaatkan waktu mudamu, segera berkunjung, Ayo ke Taman Nasional [ Teks © Asri - BTN Taka Bonerate, foto © @asritntbr BTNTBR @yotrin - Ditjen KSDAE @kuswandono_ts BTNGC @Mustaritepu - P3E Sulawesi - Maluku | 042019 ]. Sumber : Direktorat Jenderal KSDAE (Balai TN Taka Bonerate, Balai TN Gunung Ciremai) dan P3E Sulawesi - Maluku
Baca Berita

Meriahkan Indogreen Environment and Forestry Expo 2019, BKSDA Kalsel Bawa Maskot Kalsel Bekantan ke Makassar

Makassar, 7 April 2019 – Bertempat di Celebes Convention HallMakassar, 11th Indogreen Environment and Forestry Expo 2019 digelar dari tanggal 4-7 April 2019. Event tahunan pameran lingkungan hidup dan kehutanan ini dibuka oleh Sekjen KemenLHK, Dr. Bambang Hendroyono. BKSDA Kalsel ikut ambil peran dengan membawa sekelompok boneka bekantan yang dipajang bergelantungan di stand gabungan UPT KLHK Lingkup Kalimantan Selatan. Disponsori oleh PT. Adaro Indonesia, BKSDA Kalsel menampilkan materi seputar TWA Pulau Bakut sebagai Santuari Bekantan Riparian. Dengan nama latin Nasalis larvatus, satwa endemik Pulau Borneo ini menjadi maskot Kalimantan Selatan yang habitatnya semakin tergerus oleh perkembangan peradaban. Salah satu usaha BKSDA Kalsel dengan skema Kawasan Ekosistem Esensial (KEE), karena pada kenyataaanya Bekantan masih banyak hidup di luar kawasan konservasi. Suasana semakin meriah saat Pak Sekjen berkunjung ke stand yang didampingi oleh Sekditjen KSDAE dan dipandu oleh Kepala BKSDA Kalsel Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. menjelaskan ragam pajangan yang disuguhkan UPT Lingkup Kalimantan Selatan. Pada kesempatan tersebut, Kepala BKSDA Kalsel, berkesempatan menyerahkan boneka bekantan kepada Sekjen dan Sekditjen sebagai kenang-kenangan dari Kalimantan Selatan. Penutupan pameran dilakukan oleh Kepala P3E Sulawesi Maluku, Dr. Darhamsyah, yang menyampaikan pesan edukasi sampah untuk masyarakat. Saat penutupan, tak sia-sia stand Kalimantan Selatan meraih juara 3 kategori UPT KLHK. Bravo KLHK !!! (jrz) Sumber : Titik Sundari, S.Hut - PEH Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Obat Malaria Hutan Tesso Nilo

Pelalawan, 9 April 2019. Berdasarkan survei yang dilakukan LIPI kawasan hutan tesso nilo merupakan kawasan hutan yang memiliki keanekaragaman yang tinggi. Kenaekaragaman tersebut diantaranya adalah kekayaan jenis tumbuhan yang tinggi. Beberapa diantaranya bahkan digunakan oleh masyarakat sebagai tumbuhan obat. Tumbuhan obat tersebut digunakan oleh masyarakat untuk pengobatan dan pemeliharaan kesehatan. Penggunaan tumbuhan obat tersebut digunakan masyarakat karena perolehannya yang cikup mudah, berkhasiat dan tidak memelukan biaya yang mahal. Masyarakat di sekitar kawasan tesso nilo memiliki kearifan lokal dan tradisi turun temurun dalam memanfaatkan tumbuhan obat. Beberapa diantaranya adalah tumbuhan yang digunakan untuk mengobati penyakit malaria. Tumbuhan-tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat untuk mengobati penyakit malaria diantaranya : Selengkapnya klik Obat Malari Hutan Tesso Nilo Sumber : Andi Kusumo, S.Si, M.Si - PEH Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Sosialisasi Pengelolaan TSL di Areal Perkebunan

Medan, 9 April 2019. Secara faktual sebaran tumbuhan dan satwa liar tidak hanya berada di kawasan hutan, tetapi juga diketemukan di berbagai fungsi lahan termasuk perkebunan. Pentingnya menjaga dan mengelola kanekaragaman hayati (TSL) di luar kawasan hutan tetapi masih berada di habitat alaminya, BBKSDA Sumatera Utara menginisiasi kegiatan sosialisasi TSL di areal perkebunan atau pemegang ijin perkebunan. Sosialisasi pengelolaan TSL di areal perkebunan sudah dilaksanakan 2 (dua) kali. Tanggal 19-20 Maret 2019 di Kabupaten Serdang Bedagai berlokasi di areal perkebunan Group Paya Pinang (PT. P.D. Paya Pinang) dan pada tanggal 5-6 April 2019 bersama Group SIPEF (PT Eastern Sumatera Indonesia – Bukit Maradja Estate). Kegiatan ini merupakan implementasi salah satu fungsi BBKSDA Sumatera Utara. Selain itu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan adalah Otoritas Pengelola (Management Authority) Konservasi Tumbuhan dan Satwa Liar sesuai pasal 65 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1999 tentang Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar. Kegiatan sosialisasi ini sejalan dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 11/Permentan/OT.140/3/2015 tentang Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil Certification System/ISPO), telah ditetapkan prinsip dan kriteria, indikator dan panduan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia yang antara lain menyatakan bahwa Perusahaan Perkebunan berkewajiban untuk melaksanakan upaya pelestarian keanekaragaman hayati pada areal yang dikelola antara lain dengan melakukan pengelolaan habitat dan populasi khususnya tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi dan melaporkannya kepada BKSDA setempat. Secara rutin, Balai Besar KSDA Sumatera Utara telah menerima laporan tertulis mengenai Areal Konservasi Bernilai Tinggi (high conservation value) khususnya mengenai keberadaan tumbuhan dan satwa liar di areal pemegang konsesi perkebunan dan sampai dengan saat ini, kurang lebih 80 perusahaan perkebunan telah mengirimkan laporan terkait pengelolaan Tumbuhan dan satwa liar di arealnya masing-masing. Harapannya kegiatan sosialisasi ini mampu memberikan masukan bagi pengelola perkebunan dalam penyelenggaraan konservasi tumbuhan dan satwa liar insitu selain juga merekomendasikan kegiatan pengelolaan Tumbuhan dan Satwa Liar yang tepat untuk dilakukan pada areal perkebunan demi kelestarian tumbuhan dan satwa langka di habitat alaminya. Sampai dengan saat ini, beberapa perusahaan perkebunan telah bekerjasama dengan Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk menyelenggarakan sosialisasi. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi Sosialisasi Peraturan Perundangan terkait Konservasi Tumbuhan dan Satwa Liar, pemberian Materi tentang dalam Pengelolaan Tumbuhan dan Satwa Liar di areal perkebunan, Praktek Identifikasi Tumbuhan dan Satwa Liar serta Pembinaan Habitat dan ditutup dengan penyusunan format Laporan Pengelolaan TSL di Areal Perkebunan. Selain materi kegiatan ini juga diiringi dengan praktek. Umumnya, perusahaan perkebunan yang telah mengikuti pelatihan ini antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan sesuai dengan tujuan awal Balai Besar KSDA Sumatera Utara yakni menjadikan konservasi sebagai bagian dari gaya hidup perusahaan perkebunan. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Bupati Merangin Bersama Masyarakat dan Mitra Konservasi Lepasliarkan Satwa ke Habitat

Jambi, 4 April 2019. Balai KSDA Jambi bersama dengan Bupati Merangin yang diwakilkan oleh Asisten 1 Bupati Bpk. H. Syafri, Mitra Konservasi dan Masyarakat melakukan pelepasliaran terhadap 4 satwa liar diantaranya Tapir (Tapirus indicus), Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus), Ungko (Hylobate sagilis) dan Kukang (Nycticebus coucang) di Hutan Desa Durian Rambun Kecamatan Muara Siau Kabupaten Merangin. Satwa-satwa yang dilepasliarkan ini merupakan hasil serahan warga secara sukarela kepada Balai KSDA Jambi. Tapir diterima oleh Balai KSDA Jambi pada tahun lalu setelah menerima adanya laporan bahwa salah seorang warga Suku Anak Dalam (SAD) yang menjual anak tapir dipinggir jalan dikota Bangko. Petugas Balai KSDA langsung mendatangi lokasi dan menemukan benar adanya salah seorang warga Suku Anak Dalam yang mencoba menjual tapir. Setelah melakukan negoisasi dan memberitahu bahwa tapir merupakan satwa dilindungi, warga Suku Anak Dalam tersebut pun akhirnya mau menyerahkan satwa Tapir. Tapir dirawat kurang lebih selama satu tahun lamanya dan dilepasliarkan melihat kondisi Tapir yang sudah siap kembali ke alam liar. Elang Brontok, Ungko dan Kukang didapatkan Balai KSDA Jambi dari serahan warga di Kota Jambi secara sukarela. Satwa yang diperoleh dititipkan terlebih dahulu ke Kebun Binatang Taman Rimba sebagai Lembaga Konservasi yang ada di Kota Jambi. Kegiatan dilanjutkan dengan melakukan penanaman pohon secara bersama di Hutan Desa Durian Rambun dan di lingkungan sekitar desa. Upaya penanaman pohon bersama ini dilakukan untuk mencegah perubahan iklim (climate change) dan melestarikan kembali lingkungan. Setelah melakukan pelepasliaran dan penanaman pohon secara bersama, kegiatan dilanjutkan dengan melakukan penandatanganan Deklarasi Penyelamatan dan Pelestarian Satwa Liar Dilindungi yang ditandatangani oleh semua pihak yang ikut dalam rangkaian kegiatan. Deklarasi ini bertujuan untuk bersama sama menjaga dan melestarikan satwa liar dilindungi yang ada di Jambi. Kepala Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh menyatakan bahwa “Kepemilikan satwa liar adalah suatu hal yang tidak dibenarkan menurut undang-undang juga interaksi satwa liar dan manusia dapat menimbulkan masalah kesehatan terhadap manusia dan hal itu bukanlah suatu kebanggaan, mari kita sama-sama memakmurkan dan melestarikan ekosistem yang ada”. Kepada seluruh masyarakat agar melaporkan kepada Balai KSDA Jambi melalui Call Center Balai KSDA Jambi di Nomor Whatsapp 0823 7779 2384 dan Nomor Telepon 0813 7337 2732 jika mengetahui adanya praktek perdagangan satwa liar di Provinsi Jambi. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

BKSDA Bali Sepakati Perjanjian Kerja Sama dengan Desa Pakraman Wanagiri

Denpasar, 8 April 2019. Bertempat di Pura Desa Wanagiri, Kec. Sukasada, Kab. Buleleng telah dilaksanakan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kepala Balai KSDA Bali dengan Kelian Desa Pakraman Wanagiri tentang Penguatan Fungsi untuk Pengembangan Wisata Alam Melalui Penyediaan Sarana Prasarana Wisata Alam di Blok Pemanfataan TWA Danau Buyan-Danau Tamblingan, Kab. Buleleng, Prov. Bali (5/4). Ruang lingkup PKS tersebut adalah pemanfaatan tapak berupa ruang publik dalam blok pemanfaatan TWA Danau Buyan-Danau Tamblingan untuk penyediaan sarana prasarana wisata (swa-foto, pondok makan minum, toilet, dan pos trekking) serta pemberdayaan masyarakat Desa Pakraman Wanagiri melalui kegiatan wisata alam. Areal kerja sama dimaksud terdiri dari 8 lokasi dengan total luas 1,375 (satu koma tiga tujuh lima) Hektar. Melalui PKS ini, masyarakat Desa Pakraman Wanagiri diharapkan makin berperan aktif dalam membantu program-program pengelolaan kawasan TWA Danau Buyan-Danau Tamblingan, dengan kegiatan perlindungan kawasan, pengawetan sumberdaya alam, dan pemanfaatan secara lestari. Setalah ditandatanganinya PKS ini, Desa Pakraman Wanagiri akan menerapkan awig-awig dan pararem (aturan desa pakraman) dalam membantu upaya-upaya konservasi kawasan TWA Danau Buyan-Danau Tamblingan. Sumber : Balai KSDA Bali Call Center Balai KSDA Bali : 081246966767 Informasi lebih lanjut hubungi : Budhy Kurniawan S.Hut. (Kepala Balai KSDA Bali) - 081236090739
Baca Berita

Taklukan Ego dan Kesombongan Diri Jadilah Pendaki Cerdas

Jakarta, 7 April 2019. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) bersama mitra menggelar “Kampanye Pendaki Cerdas” pada acara Car Free Day (CFD), dengan rute Plaza BCA (Jl. Teluk Betung/ Thamrin) - berputar dibundaran HI kecil - Ratu Plaza - Finish di Plaza BCA. Diah V. Qurani Kristina (Kepala Bidang PTN Wilayah I Cianjur), sebagai komandan pada acara ini, menyatakan bahwa Balai Besar TNGGP mengadakan kampanye ini untuk mensosialisasikan ketentuan pendakian Gunung Gede Pangrango dan mengajak masyarakat khususnya para pendaki untuk menjadi “Pendaki Cerdas”, yaitu pendaki yang peduli diri, kawan, dan lingkungan. Lebih lanjut Diah berharap, pesan ini dapat tersampaikan kepada masyarakat luas, bukan sekedar seremonial. Cara menyampaikan pesan “Pendaki Cerdas” ini dengan gaya milenial baik bahasa maupun cara penyampaiannya. “Kampanye Pendaki Cerdas” ini melibatkan partisipasi berbagai pihak, antara lain MNC Land, EIGER, ITTO, CONSINA, Pristine, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, CV. Wisata Cibodas, Volunteer BBTNGGP, dan Sobat Gepang lainnya. Hadir dalam acara ini Wakil Direktur Utama MNC Land Lido, Budi Rustanto (MNC Land selalu mendukung program pelestarian alam, salah satunya melalui Program Pendaki Cerdas). Tak ketinggalan perwakilan dari Eiger-pun, Tomy ikut hadir untuk memeriahkan kampanye ini. Upaya-upaya untuk mensosialisasikan peraturan tentang pendakian di TNGGP sudah dimulai sejak Desember 2015, diantaranya melalui lomba bersih gunung, lomba foto, dan lomba film dokumenter tentang cara mendaki yang benar sesuai prinsip-prinsip mendaki. Untuk mengurangi polusi sampah di kawasan taman nasional ini, pada akhir tahun 2016, lahir aturan tentang larangan membawa Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK), tisu basah, dan styrofoam, yang disosialisasikan melalui media sosial, penyebaran poster, dan penjelasan langsung oleh petugas di pintu pintu masuk pendakian. Kesadaran masyarakat tentang konservasi berkembang pesat beberapa tahun belakangan ini, namun masih banyak masyarakat yang harus disadartahukan. Budaya dan gaya hidup ramah lingkungan (antara lain Pendaki Cerdas) masih harus terus ditanamkan di masyarakat, karena kenyataannya masih banyak pendaki yang belum memahami arti dan makna sesungguhnya dari mendaki gunung dengan cara yang cerdas. Setiap pendaki wajib membawa SIMAKSI (Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi) dan pengurusan SIMAKSI ini sudah dipermudah dengan sistem online melalui booking.gedepangrango.org., namun masih banyak lho, yang mengaku cinta alam tapi memilih mendaki gunung tanpa SIMAKSI. Nah, supaya informasi tentang SIMAKSI ini bisa tersebar semakin luas, perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat luas tentang pemahaman pendaki cerdas. Kampanye Pendaki Cerdas adalah salah satu wahananya. Lebih dari 100 orang ikut memeriahkan acara pawai, terdiri dari berbagai elemen masyarakat, terutama para pencinta alam sekitar Jabodetabek. Pawai/ jalan sehat dimulai dan berakhir di Plaza BCA, acara kemudian dilanjutkan dengan bincang-bincang santai terkait pendaki cerdas dan dimeriahkan dengan tampilan mini booth untuk berselfie dan door prize menarik bagi yang beruntung. Ahmad (32) merupakan partisipan pawai dari tempat terjauh. Dia yang berasal dari Pemalang ini ikut berpartisipasi di barisan depan pawai. Wong Pemalang ini berpendapat, "Pendaki cerdas itu safety untuk diri dan kawan serta peduli lingkungan". Rendy (28) yang datang bersama istrinya Intan (32) Depok, merupakan perwakilan pendaki yang secara rutin setiap tahun mendaki ke Gunung Gede Pangrango sejak 2007 - 2014, bahkan mereka dipersatukan di Puncak Gede Pangrango, "Kita sangat cinta dengan Gunung Gede Pangrango dan hubungan kita dipertemukan saat mendaki Gede Pangrango", tuturnya. Gak hanya kawula muda yang ikut berpartisi, Mercy (65) dari Jakarta yang sudah mendaki Gede Pangrango lebih dari 10 kali sejak 1974, berpesan agar para pendaki muda sebagai penerusnya, menjadi pendaki cerdas harus melestarikan alam dan membawa kembali sampah keluar kawasan Taman Nasional. Oke Sobat Gepang....Ingat-ingat ya..., ketika melangkahkan kaki menuju alam rimba, pastikan kita memiliki pemahaman yang benar tentang kegiatan naik gunung di kawasan konservasi khususnya di taman nasional. Kita tidak hanya menaklukan puncak gunung, yang kita taklukan di sana adalah ego dan kesombongan diri kita sendiri. Perjalanan menuju puncak, adalah pencarian jati diri dengan kesabaran dan membangun ikatan kuat antara diri dengan kawan dan alam. Di puncak gunung nanti, kita adalah bagian yang tidak terpisahkan dengan alam. Meski kamu tidak bisa hadir dalam acara ini, kamu bisa turut berperan sebagai “Pendaki Cerdas” yang peduli diri, peduli kawan, dan peduli lingkungan serta taat aturan dan menghormati petugas. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Pendampingan dan Pengamanan Labuhan Merapi di Zona Religi Taman Nasional Gunung Merapi

Sleman, 8 April 2019. Labuhan Merapi merupakan agenda rutin tahunan, yang dilaksanakan setiap 30 Rajab (kalender Jawa) di Kinahrejo, desa Umbulharjo, Kec. Cangkringan. Untuk tahun ini, dilaksanakan 2 hari, yaitu pada hari Sabtu – Minggu, 6 – 7 April 2019. Upacara ini merupakan tradisi pengetan jumenengan atau peringatan bertahtanya Sultan Hamengkubuwono X sebagai raja. Sebelum pelaksanaan Labuhan Merapi ini, telah dilaksanakan beberapa kali rapat koordinasi dalam rangka persiapan dengan instansi terkait. Juga dilaksanakan pembersihan Jalur Labuhan bersama dengan masyarakat. Jalur Labuhan terletak di resort Cangkringan, dan merupakan Zona Religi. Sehingga pengamanan perlu dilaksanakan oleh pihak Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM), di jalur labuhan. Pengamanan ini juga dibantu oleh Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Kecamatan Cangkringan, dan berlangsung 2 hari, 6 – 7 April 2019. Kegiatan hari pertama adalah pasrah tampi uborampe (serah terima perlengkapan) yang diawali dari abdi dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ke Camat Cangkringan. Kemudian rombongan abdi dalem, rombongan Camat dan rombongan masyarakat Cangkringan membawa uborampe menggunakan jeep, kirab menuju ke Pendopo Kinahrejo. Dalam kesempatan ini, pihak BTNGM juga ikut dalam prosesi kirab dengan mengirimkan 3 buah mobil patroli untuk membawa gunungan serta uborampe serta tenaga pengamanannya. Sesampainya di Pendopo Kinahrejo, uborampe diterima oleh Mas Kliwon Suraksosihono (Juru Kunci Merapi, yang lebih dikenal dengan nama Mbah Asih). Dalam acara serah terima di pendopo Kinahrejo ini dimeriahkan dengan sendratari (drama tari) yang menceritakan asal mula Labuhan Merapi, diperankan oleh Kelompok Kesenian dari Desa Umbulharjo. Kemudian malam harinya dilaksanakan kenduri dan pagelaran wayang kulit di Pendopo Kinahrejo. Pukul 06.00 hari Minggu, 7 April 2019 ubarampe dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang semalaman berada di Pendopo Kinahrejo diberangkatkan ke Srimanganti, untuk selanjutnya dilaksanakan prosesi prosesi ritual pembacaan layang labuhan dari Keraton Yogyakarta dan doa yang dipimpin oleh Juru Kunci Gunung Merapi. Prosesi Labuhan Merapi ini menarik minat wisata budaya dari masyarakat Yogyakarta pada umumnya. Ratusan masyarakat turut mengikuti prosesi hingga Sri Menganti. Dalam rangka mendukung kegiatan ini pihak BTNGM juga mengeluarkan SIMAKSI dan dikenakan PNBP 0 rupiah. Dikarenakan kegiatan Labuhan Merapi ini berada di Zona Religi, maka pihak BTNGM beserta MMP ikut berperan melakukan pengamanan, selama acara berlangsung, hingga selesai menjelang siang hari. Sumber : Balai Taman Nasional Merapi
Baca Berita

Ternak Sapi Sebagai Sumber Pendapatan Jangka Panjang

Pelalawan, 8 April 2019. Masyarakar Desa Gunung Melintang yang sebagian mata pencaharian penduduknya adalah menyadap getah pohon karet, demi meningkatkan perekonomian kini mulai mengembangkan sayap dibidang lain. Desa yang secara geografis berdampingan langsung dengan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) ini membentuk kelompok ternak sapi dan menjadi binaan Balai TN Tesso Nilo. Tahun 2014, 5 (lima) ekor sapi bantuan diberikan oleh Balai TN Tesso Nilo untuk menjadi modal awal bagi kelompok untuk dibina menjadi peternak sapi. Pada tahun pertama sapi ternak yang diberikan kepada kelompok binaan Desa Gunung Melintang tersebut dirawat oleh seorang tetua desa bergelar Datuk Kobo. Desa Gunung Melintang yang masih asri khas perkampungan dengan hamparan luas rumput liar dilirik oleh Balai TN Tesso Nilo sebagai peluang besar bagi masyarakat untuk beternak. Ternak sapi yang tidak membutuhkan perawatan extra dinilai dapat dijadikan sumber pendapatan jangka panjang bagi masyarakat. Cerita Datuk Kobo pula, sapi yang dikembalakan nya tak perlu dicarikan makan rutin, sapi tersebut akan dibebas liarkan dalam jangka waktu sore hingga petang untuk mencari makan sendiri diarea pemkampungan, baru ketika petang mulai turun menggelapkan cahaya Datuk Kobo mencari dan menggiring kembali sapi yang ia lepaskan tadi menuju kandang yang sudah dibuat oleh kelompok. Beberapa dari sapi bantuan sudah berhasil dikembala dan dijual selepas layak untuk disembelih. Sebagai sebuah desa yang memiliki potensi amat besar dibidang ternak, perekonomian masyarakat desa Gunung Melintang diyakini akan meningkat seiring dengan tingginya tingkat kebutuhan. Jauh dari kota besar, ternak merupakan sebuah usaha nyata jangka panjang yang tidak akan tersingkirkan. Terlebih kebutuhan untuk konsumen maupun produsen akan daging sapi senantiasa berputar setiap harinya. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Pemeliharaan Transplantasi Karang Bersama Masyarakat Wakai TN Kepulauan Togean

Ampana, 2 April 2019. Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) wilayah I Wakai Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) telah melaksanakan Kegiatan pemeliharaan transplantasi terumbu karang pada tanggal 30-31 Maret 2019. Kegiatan ini dilaksanakan anggota SPTN I bersama dengan masyarakat yang berada disekitar lokasi kegiatan. Lokasi pelaksanaan kegiatan transplantasi karang dilakukan di Desa Siatu dengan koordinat 0°28'15,78'' S - 121°39'26,464''. Menurut Ardi selaku ketua tim perkiraan rata-rata persentase karang yang hidup pada kegiatan transplantasi karang yang telah dilaksanakan semenjak tahun 2017 di SPTN I Wakai adalah 90%. Tingkat keberlangsungan hidupnya tergolong tinggi. Namun, dilapangan masih ditemukan beberapa faktor yang menghambat tingkat keberhasilan hidup karang antara lain faktor alami berupa suhu yang tinggi, ombak dan hama lipan laut serta faktor manusia dengan melakukan kegiatan illegal. Untuk itu, pada kegiatan pemeliharaan transplantasi karang dilakukan beberapa kegiatan atara lain pembersihan media substrat dari lumut, penggantian karang yang mati dengan bibit baru, serta pembersihan di area sekitar substrat dari lipan laut. Pada kegiatan ini, TNKT juga melibatkan sejumlah masyarakat Desa siatu. Melihat antusias yang tinggi dari masyarakat Desa Siatu pada kegiatan ini, Iksan Tengkow Selaku Kepala SPTN Wilayah I Wakai berharap agar masyarakat dapat ikut serta menjaga dan memelihara karang hasil transplantasi tersebut dari kegiatan illegal fishing. Sumber : Puteri Andriani - Calon Polisi Kehutanan Pertama Balai Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Berita

Menelisik Peluang Budidaya HHBK

Pelalawan, 8 April 2019. Budidaya tanaman yang memiliki prospek pasar yang luas dan menjanjikan salah satunya rotan jernang. Untuk di wilayah Sumatera yang menjadi habitat tanaman rotan jernang (Daemonorops) ini sangat berpeluang untuk dibudidayakan dan dikembangkan. Tanaman ini merupakan tanaman yang jarang dikenal karena tanaman ini tumbuh di lebatnya hutan belantara dan pada ketinggian tertentu yang sangat jarang diperhatikan bentuk tanamannya apalagi manfaat getah pada buahnya. Rotan jernang bukanlah tanaman yang dimanfaatkan rotan/batangnya untuk dijadikan prabot dan furniture. Rotan jerenang merupakan tanaman yang dimanfaatkan getahnya yang melekat dan melapisi buah rotan terebut. Getahnya berwarna merah kehitaman yang diolah untuk berbagai keperluan obat, hingga kosmetik. Kenapa membudidayakan rotan jernang ?? Selengkapnya klik : Rotan Jernang Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo

Menampilkan 5.793–5.808 dari 11.140 publikasi