Sabtu, 25 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Kenali Status Waspada Merapi dan Potensi Kehati TNGM di Pertemuan Rutin WCF Yogyakarta

Yogyakarta, 15 April 2019. Selama ini banyak komunitas pemerhati lingkungan serta hidupan liar (wildlife conservation) yang muncul dan bersinergi di lingkup D.I Yogyakarta. Diantaranya para dosen maupun mahasiswa universitas di lingkup D.I Yogyakarta, serta para citizen scientist yang tertarik dan kerap melakukan penelitian di bidang konservasi, lingkup D.I Yogyakarta dan sekitarnya. Kemudian muncullah ide untuk menjadikannya sebagai ajang bertukar informasi dan belajar bersama tentang konservasi, terutama terkait dengan hidupan liar (wildlife conservation). Sehingga hadir forum yang dinamakan Wildlife Conservation Forum (WCF) Yogyakarta. Forum ini mengadakan pertemuan sebulan sekali, diawali pada bulan November 2018, melalui pertemuan awal di kampus Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta. Pertemuan selanjutnya di BKSDA DIY, WRC, Bioteknologi Universitas Atmajaya, dan Biologi UIN Sunan Kalijaga. Kemudian untuk pertemuan April, bertempat di BTN Gunung Merapi. Pada hari Sabtu, 13 April 2019, dilaksanakan pertemuan rutin WCF di Joglosemar, Kalikuning Park, Kecamatan Cangkringan. Dalam kesempatan ini, hadir sekitar 40 orang pemerhati konservasi dan hidupan liar dari berbagai komunitas. Pertemuan dibuka langsung oleh Ibu Kepala Balai TN Gunung Merapi, Ir. Pujiati, sekaligus berkenalan langsung dengan seluruh anggota forum. Pada kesempatan kali ini, disampaikan materi tentang Setahun Status Waspada Merapi oleh Agus Budi Santosa, Kepala Seksi Gunung Merapi, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). Disampaikan bahwa status waspada Merapi hampir setahun berlalu, sejak Mei 2018, freatik kemudian diikuti pembentukan kubah lava pada 18 Agt.2018, walau supply akibat desakan magma kecil, namun kegempaan internal masih ada sehingga statusnya masih waspada. Periode letusan kali ini mengikuti periode tahun 1872 karena mempunyai magnitude yang sama. Setelah terjadi freatik dan terbentuk kubah lava, erupsi bersifat efusif. Disampaikan pula bahwa erupsi kali ini tidak membahayakan, bahkan bisa menjadi potensi wisata yang menarik, yaitu hunting foto lava pijar pada malam hari. Diinfokan juga bahwa terdapat 5 pos pengamatan Merapi yang bernilai historis untuk edukasi kegunungapian Merapi. Kemudian sesi kedua disampaikan materi tentang Pengelolaan Kehati TNGM oleh Irwan Yuniatmoko, PEH BTNGM. Disampaikan data-data yang terkait dengan jenis Elang Jawa, burung pemangsa (raptor) lainnya, Lutung Jawa, serta perjumpaannya dalam kurun waktu 3 tahun terakhir. Juga disampaikan adanya bukti keberadaan Macan Tutul dari cakaran juga faesesnya, namun belum dapat terdeteksi oleh camera trap yang dipasang pihak BTNGM. Disampaikan juga tentang keberadaan dan keanekaragaman jenis satwa liar yang ada di TNGM. Untuk menutup acara, dilaksanakan diskusi intern terkait pengelolaan dan manajemen WCF untuk beberapa waktu ke depan, diantaranya pelaksanaan pertemuan rutin bulan selanjutnya, serta agenda lainnya yang terkait. *** Sumber : Titin Septiana - Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Berita

Trenggiling Masuk Lopo Diserahkan ke Balai TN Batang Gadis

Panyabungan, 15 April 2019. Seekor satwa Trenggiling diserahkan kepada pihak Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) oleh Afiz Rao seorang warga yang berdinas di Kompi Senapan B 123 Mangga Dua, Panyabungan Mandailing Natal (14/04/2019).Trenggiling ini ditemukan setelah masuk kedalam lopo (warung) masyarakat desa Sibanggor Julu pada hari sabtu tanggal 13 April 2019. Serah terima satwa ini berlangsung dikantor Balai TN Batang Gadis oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha Bapak Bobby Nopandry. Pihak Balai TNBG menyambut baik niat warga yang berinisiatif menyerahkan satwa dan mengucapkan terimakasih kepada saudara Afiz Rao sebagai orang yang berjasa dalam hal perlindungan satwa. Satwa Trenggiling saat ini sudah dilepasliarkan pihak Balai TNBG ke wilayah Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) III Muarasoma untuk kembali habitat aslinya. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Target Pemulihan Ekosistem Seluas 20 Ha, Balai Besar KSDA Papua Barat Libatkan Masyarakat Melalui Kemitraan Konservasi

Sorong, 12 April 2019. Sebagai bentuk tindak lanjut dari kajian rencana pemulihan ekosistem yang telah dilaksanakan pada tahun anggaran 2018, BBKSDA Papua Barat menargetkan untuk melaksanakan pemulihan ekosistem kawasan konservasi di Papua Barat seluas 20 hektar. Luasan tersebut terbagi dalam 3 wilayah yaitu di blok rehabilitasi TWA Sorong, TWA Beriat dan TWA Gunung Meja. Dalam rangka merealisasikan target tersebut, BBKSDA Papua Barat selama 4 hari sejak tanggal 9 hingga 12 April 2019 melaksanakan penyusunan dan penandatanganan perjanjian kerja sama penetapan area kemitraan melalui skema kemitraan konservasi untuk pemulihan ekosistem. Sebagai bentuk pelaksanaan Peraturan Direktur Jenderal KSDAE Nomor 6 tahun 2018 tentang Petunjuk Teknis Kemitraan Konservasi Pada Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam serta sebagai salah satu wujud dari aktualisasi 10 cara baru kelola kawasan konservasi dengan menjadikan masyarakat sebagai subyek, BBKSDA Papua Barat melibatkan masyarakat pada daerah penyangga kawasan konservasi yang akan dipulihkan ekosistemnya secara bersama-sama dan setara melaksanakan musyawarah untuk pelaksanaan pemulihan ekosistem dari proses yang paling awal berupa penyusunan naskah perjanjian kerja sama. Kegiatan yang dihadiri oleh perwakilan Kelompok Tani Hutan (KTH) Matoa Kota Sorong, KTH Matoa Kabupaten Manokwari dan Pemerintah Kampung Wehali Kabupaten Sorong Selatan ini, dibuka oleh Kepala Balai Besar KSDA Papua Barat yang diwakili oleh Kabid Teknis KSDA pada Selasa pagi, 9 April 2019. Pada kesempatan tersebut, Kepala Balai Besar memberikan arahan kebijakan dan penekanan bahwa pegelolaan kawasan konservasi saat ini sudah selayaknya turut melibatkan masyarakat sebagai subyek demi tercapainya keadilan dan kebermanfaatan sumber daya hutan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dalam kegiatan tersebut turut melibatkan Kepala Bidang KSDA Wilayah I, Kepala Bidang KSDA Wilayah II, pejabat struktural eselon IV dan staf lingkup BBKSDA Papua Barat. Sebelum penyusunan naskah dilakukan, seluruh peserta kegiatan diberikan pengantar terkait arah kebijakan kemitraan konservasi, rencana pemulihan ekosistem, dan pedoman penanaman dan pengkayaan jenis dalam kegiatan pemulihan ekosistem. Diharapkan, melalui pengantar yang diberikan, musyawarah dalam rangka penyusunan naskah perjanjian kerja sama dapat lebih terarah sesuai dengan konteks sosial dan tetap dalam koridor kebijakan peraturan perundangan yang berlaku. Penyusunan naskah perjanjian kerja sama berlangsung selama 4 hari dengan secara bergantian melakukan pembahasan naskah untuk masing-masing kelompok masyarakat dari 3 lokasi yang telah ditentukan. Secara umum pembahasan meliputi latar belakang, identitas kedua belah pihak, tujuan, ruang lingkup, lokasi, hak dan kewajiban, jangka waktu, penyelesaian sengketa hingga rincian pembiayaan, tata waktu dan rencana teknis pelaksanaan yang seluruhnya saling mendapat klarifikasi dan konfirmasi oleh kedua belah pihak melalui musyawarah mufakat. Kegiatan yang menyepakati rencana pelaksanaan pembibitan dan penanaman di TWA Sorong, TWA Gunung Meja dan TWA Beriat ini diakhiri dengan penandatanganan naskah perjanjian kerja sama oleh kedua belah pihak. Kolaborasi dan trust antara masyarakat dengan BBKSDA Papua Barat menjadi kunci utama keberhasilan dalam merealisasikan kerja sama yang telah disepakati dalam rangka memulihkan ekosistem kawasan konservasi yang mengalami kerusakan. Kegiatan pemulihan ekosistem berbasis kemitraan konservasi ini merupakan kegiatan untuk pertama kalinya yang dilaksanakan oleh BBKSDA Papua Barat. Masyarakat cukup antusias dan menyambut baik langkah-langkah BBKSDA Papua Barat dalam melibatkan masyarakat pada setiap kegiatan-kegiatannya. Diharapkan melalui kolaborasi yang baik antara masyarakat dan pemerintah sebagaimana telah dilakukan oleh BBKSDA Papua Barat, dapat menjadi modal utama pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan di wilayah Papua Barat yang sukses, lestari, berkeadilan dan memberikan kemakmuran bagi seluruh lapisan masyarakat. Sumber: Balai Besar KSDA Papua Barat
Baca Berita

Rumah Sanggar Tenun di Desa Penyangga Taman Nasional Kelimutu

Ende, 15 April 2019. Geliat pemberdayaan masyarakat mulai berdetak di Desa Woloara, desa penyangga Taman Nasional Kelimutu Resort Kelimutu, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I Moni Balai Taman Nasional Kelimutu. Warga Woloara menerima bantuan berupa pembangunan Rumah Sanggar Tenun khususnya kepada kelompok Masyarakat Nuaone pada tahun 2018. Rumah tenun ini dimaksudkan untuk memfasilitasi aktifitas dan tempat menenun masyarakat Desa Woloara agar cukup nyaman untuk beraktifitas dan juga diharapkan dapat menjadi salah satu objek wisata budaya untuk memicu berjalannya Jalur Wisata Tenun Ikat yang saat ini tengah dikembangkan Taman Nasional Kelimutu bersama mitra. Di rumah tenun ini wisatawan bisa melihat proses pembuatan tenun ikat, belajar menenun dan juga membeli souvenir hasil tenunan baik berupa kain, juga kalung dan gelang. Semoga rumah tenun ini bisa terus berkembang baik untuk kemaslahatan masyarakat, wisatawan dan kawasan TN Kelimutu. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Hasil Evaluasi Publikasi TN Gunung Gede Pangrango

Cibodas, 13 April 2019. Dunia mengakui, salah satu kelemahan warga di NKRI adalah kurangnya minat membaca terlebih menulis, termasuk warga yang bernaung di bawah bendera Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Menjawab “pengakuan dunia” tersebut di Balai Besar TNGGP telah disediakan berbagai media untuk memotivasi warga agar gemar membaca dan rajin menulis. Media yang sudah disediakan adalah perpustakaan, Bulletin Edelweis, instagram (IG), twitter, facebook (FB), world wide web (web). Semangat warga untuk menulis pun meningkat terus, malah terjadi peningkataan yang drastis di tahun 2019, di triwulan I saja sudah terpublikasikan 23 judul, 60 % diantaranya sumbangan dari Bidang PTN Wilyah III Bogor. Selengkapnya hasil evaluasi publikasi di Balai Besar TNGGP disajikan pada grafik di bawah ini. Hasil Monitoring Publikasi Online Balai Besar TNGGP Per Bagian Per Jabatan Bentuk Publikasi Media Tema SELAMAT untuk BIDANG PTN WILAYAH III BOGOR yang semakin semangat menulis, mudah-mudahan teman-teman dari eselon III lainnya juga gak surut. Ingat, ada manfaat pada angka kredit bagi pejabat fungsional tertentu. Pokoknya tetap semangat ! Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

TN Gunung Gede Pangrango Jadi Kawah Candradimuka Lagi

Cibodas, 13 April 2019. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), khususnya Bidang PTN Wilayah III Bogor kembali menjadi tuan rumah praktek lapangan kegiatan Pelatihan Penjenjangan Fungsional Polhut Tingkat Ahli Jenjang Madya Tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Pusat Diklat SDM Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Tujuan dari dilaksanakannya pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kapasitas pejabat fungsional Polisi Kehutanan (Polhut) KLHK dan Pemerintah Daerah. Peserta berjumlah 40 orang berasal dari beberapa instansi kehutanan seluruh Indonesia. Pembukaan praktek lapangan dilaksanakan Senin, 8 April 2019 dibuka secara resmi oleh penanggungjawab program yaitu Bapak Novianto Bambang W. dan dihadiri oleh pejabat eselon III dan IV serta Kepala Resort lingkup Bidang PTN Wilayah III Bogor. Pada kesempatan ini Kepala Bidang III PTN Wilayah III Bogor, Dadang Suryana memaparkan tentang perlindungan dan pengamanan hutan, kemitraan konservasi pemberdayaan masyarakat, dan potensi wisata alam. Untuk memenuhi mata diklat penyusunan rancangan kebijakan, evaluasi kebijakan, penyusunan program kerja serta konsultasi dan koordinasi maka pada Selasa, 9 April 2019 dilaksanakan kegiatan praktek lapangan yang berlokasi di Resort PTN Bodogol, Seksi Wilayah V, Bidang PTN Wilayah III Bogor. Dengan didampingi Widyaiswara dan petugas dari taman nasional para peserta melaksanakan praktek dengan tema penanganan kasus pada lokasi Batukarut – Desa Pasir Buncir; kerawanan kawasan akibat aktivitas masyarakat di daerah penyangga – Blok Ciwaluh Desa Watesjaya; pemanfaatan jasling tentang air – Desa Naggerang; dan pemanfaatan HHBK Lingkup Bidang PTN Wilayah III – KTH Wangun Jaya Desa Pasir Buncir. Dari hasil praktek ditemukan fakta yang sangat bermanfaat dalam analisa untuk penentuan kebijakan pengelolaan. Mendiskusikan dan menindaklanjuti hasil temuan kegiatan praktek lapangan tersebut maka dilaksanakan acara Focus Group Disscussion (FGD) pada hari Rabu, 10 April 2019. Kegiatan ini mengundang pejabat eselon III, IV, dan Kepala Resort lingkup Bidang III TNGGP, Kapolsek Caringin, Danramil 2122 Ciawi Caringin, Danramil 2123 Cigombong Cijeruk, Camat Caringin, Camat Cicurug, Kades Pasir Buncir, Kades Watesjaya, Kades Wangunjaya, Ketua KTH Ciwaluh, ketua KTH Wangunjaya, dan Solahudin (Ketua Kader Konservasi). Praktek lapangan pelatihan ini diakhiri pada Rabu, 11 April 2019 dan peserta kembali ke Pusat Diklat SDM Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menyelesaikan kegiatan pembelajaran yang lainnya. Semoga dengan adanya kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, dan sikap untuk dapat melaksanakan tugas jabatannya secara profesional dengan dilandasi kepribadian dan etika ASN sesuai dengan kompetensi jabatannya. Selain itu diharapkan peserta mampu memantapkan sikap dan semangat pengabdian yang berorientasi pada pelayanan, pengayoman, dan pemberdayaan masyarakat. Jayalah Polhut Indonesia dan salam lestari!!! Sumber : Rina Wulandari – Polisi Kehutanan Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Cerita Kawah Gunung Ciremai

Kuningan, 11 April 2019. Bagi kalian yang sering mendaki, ada yang tahu berapa jumlah kawah gunung Ciremai? Ternyata gunung Ciremai punya dua kawah ganda pada bagian puncaknya yakni kawah Barat dan kawah Timur. Pertama, kawah Barat berbentuk setengah lingkaran dan terpotong oleh kawah Timur. Pada tepi bagian barat ini terdapat bukit "lava" yang biasa disebut Sunan Cirebon pada ketinggian 3078 meter di atas permukaan laut (mdpl). Inilah titik tertinggi gunung Ciremai. Masih pada bagian barat, ada satu lagi titik tertinggi ke dua yakni Pangeran Talaga dengan ketinggian 3058 mdpl. Menurut catatan yang ada di buku pendakian gunung Ciremai, kawah Barat terbentuk pada 1698. Sementara kawah Timur terbentuk pada 1924. Kedua, kawah Timur yang usianya lebih muda ini berbentuk bulat. Kawah inilah yang menjadi pusat aktivitas "vulkanologi" saat ini. Ada dua bukit "lava" di sini yaitu Lawang Gede dan Sunan Mataram pada ketinggian 3046 mdpl. Diameter terpanjang gabungan dua kawah tadi mencapai 841 meter. Jarak terdekat dari dinding kawah atas hingga ke dasar kawah mencapai 600 meter. Bila sudut bibir atas ke dasar kawah 45,5 derajat dan sudut sebaliknya 44,5 derajat. Berarti kedalaman kawah setidaknya mencapai 427,9 meter. Cobalah dihitung sendiri pakai rumus "Pythagoras" Keliling kawah panjangnya dua kilometer dengan waktu tempuh satu hingga dua jam dari titik awal. Lebar bibir kawah hanya satu hingga empat meter saja. Sebagian besar berupa jalan setapak yang amat sempit. Jadi, sobat mesti waspada saat berada di bibir kawah ya. Apalagi bila angin berhembus kencang. Nah, kawah gunung Ciremai tidak menampakkan letupan lahar, melainkan pasir dan batu saja yang terlihat. Dapur "magma" gunung Ciremai mungkin terdapat di bagian dalam tubuhnya yang tak tampak. Pada musim kemarau, kawah gunung Ciremai biasanya kering tak ada air. Sering terlihat kepulan tipis asap belerang dengan bau "amoniak" yang menyengat mirip bau sesuatu. "You know what I mean!". Di dasar kawah terdapat sebuah lubang yang tak terlalu besar. Lubang apa itu?. Entahlah!. Di musim penghujan, kawah gunung Ciremai biasanya terisi air hingga sepersepuluhnya. Air tersebut sering terlihat berwarna hijau kebiru-biruan. Belum diketahui mengapa memiliki warna demikian. Entah karena pantulan warna langit yang biru atau mungkin terdapat ganggang yang hidup dalam airnya?. Selain dua kawah ganda tadi, ada lagi struktur kawah yang berada di lereng barat gunung api Ciremai yakni Goa Walet. Goa Walet yang berada pada ketinggian 2950 mdpl ini terbentuk karena terjadi "erupsi" samping pada 1917. "Stalaktit" dan "stalakmit" dalam goa Walet meneteskan air. Tapi airnya jangan dikonsumsi ya sobat. Karena disinyalir mengandung zat belerang yang berbahaya bagi tubuh kita. Ada juga kawah burung yang bentuknya unik, menarik, dan terkesan mistis. Terkait kawah burung, sobat bisa baca pada posting kami beberapa bulan lalu atau klik tautan http://tngciremai.com/2018/12/misteri-kawah-burung-gunung-ciremai/#.XK2u87s3q8A. Puncak dan kawah ialah "ending" dari perjalanan pendakian. Di sana mata kalian akan dimanjakan dengan panorama luar biasa dari ketinggian. Cukup nikmati dan abadikan pemandangannya. Jangan turun ke dasar kawah karena sangat berbahaya. So, jadilah pendaki cerdas yang "never ending adventure". [Teks © Tim Admin & Harley B. Sastha, Image © Tim Admin-BTNGC | 042019] Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai
Baca Berita

Call Center Balai Besar KSDA Riau Terima Laporan Dari Kasi Rescue Damkar Pekanbaru

Pekanbaru-Call center Balai Besar KSDA Riau pada tanggal 10 April 2019, sekira pkl. 17.00 WIB menerima informasi dari Kasi Rescue Damkar Pekanbaru, bapak Ibas Sembiring. bahwa ada masyarakat yang menangkap Buaya di sungai Siak dan menyerahkan satwa tersebut ke kantor Damkar Pekanbaru. Tentu saja demi keselamatan satwa tersebut, bapak Suharyono Kepala Balai Besar KSDA Riau segera memerintahkan Tim Rescue melakukan penjemputan di kantor Damkar Pekanbaru. Kondisi satwa saat itu masih terikat dan ditutupi kain pada bagian kepalanya. Sekira pkl. 22.00 WIB satwa tiba di kandang transit Balai Besar KSDA Riau dan segera dilepaskan dari ikatannya serta dilakukan cek kesehatan oleh dokter hewan. Buaya tersebut adalah jenis Buaya Muara, dengan panjang kurang lebih 1,3 meter dan usia diperkirakan 2,5 tahun dengan kondisi yang masih memerlukan pemulihan. Sehubungan dengan keterbatasan sarana dan prasarana untuk Buaya di kandang transit Balai Besar KSDA Riau, maka satwa tersebut sementara dititipkan di LK Kasang Kulim untuk proses pemulihan. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Warga Sampit Serahkan Kukang ke BKSDA Kalimantan Tengah

Palangkaraya, 12 April 2019. Pada hari Rabu, tanggal 10 April 2019 Pukul 14.00 WIB silam, Pos Penjagaan Bandara dan Pelabuhan Sampit - Balai KSDA Kalimantan Tengah telah menerima penyerahan satwa liar yang dilindungi yaitu 1 ekor Kukang. Bermula dari laporan via WA dari Bapak Andriansyah (pegawai PMI Kab.KOTIM) tentang keinginan tetangganya An. Nurmawati menyerahkan 1 ekor Kukang. Setelah mendapatkan informasi, Tim WRU SKW II menuju lokasi serah terima yaitu di Jln. Jend.Sudirman Km.5, Perum Aryaga Estate, Sampit. Dari Keterangan Ibu Nurmawati, Kukang ditemukan di samping rumah dekat parkiran motor. Kukang tersebut sempat di rawat selama 2 minggu sebelum diserahkan ke BKSDA Kalimantan Tengah atas saran/himbauan Bapak Andriansyah. Di Indonesia kukang sudah dilindungi sejak tahun 1973 dengan Keputusan Menteri Pertanian tanggal 14 Februari 1973 No.66/ Kpts/Um/2/1973. Perlindungan ini dipertegas lagi dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, yang memasukan kukang dalam lampiran jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Selain itu, Menurut Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya pasal 21 ayat 2, perdagangan dan pemeliharaan satwa dilindungi termasuk kukang adalah dilarang. Pelanggar dari ketentuan ini dapat dikenakan hukuman pidana penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta. Sementara itu badan konservasi dunia International Union for Conservation of Nature (IUCN), memasukan kukang dalam kategori Vulnerable (rentan), yang artinya memiliki peluang untuk punah 10% dalam waktu 100 tahun. Sedangkan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) memasukkan kukang ke dalam golongan Apendiks I, yang berarti seluruh spesies flora maupun fauna liar yang dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Eksistensi Kupu-kupu di Taman Nasional Gunung Merbabu

Boyolali, 12 April 2019. Di dunia terdapat lebih kurang 20.000 spesies kupu- kupu, dengan Brasil sebagai pemilik keragaman jenis terbanyak. Maklum, Brasil punya hutan hujan tropis Amazon yang memang luar biasa kandungan flora dan faunanya. Namun, Indonesia sebenarnya tidak kalah. Justru karena terdiri lebih dari 17.000 pulau lebih, ada pemisahan habitat kupu- kupu sehingga makin tinggi ragamnya, sekitar 2.500 spesies. Data di Buku Statistik 2017 menunjukkan 7 jenis Kupu-kupu yang dijumpai di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb). Kemudian setelah dilakukan penggalian data foto dokumentasi lapangan yang dilakukan oleh petugas PEH (Sdr Jarot Wahyudi, S.Hut) selama bertugas di wilayah Resort Wonolelo tahun 2013 – 2016, ternyata ditemukan 19 jenis baru Kupu-kupu yang belum tercantum di Statistik 2017 tersebut. 18 jenis kupu-kupu termasuk dalam 5 famili yaitu Lycaenidae (1), Nymphalidae (13), Papilionidae (3), Pieridae (1), dan Riodinidae (1). Sehingga referensi perjumpaan 19 jenis ini dimasukan ke dalam Buku Statistik 2018 yang menambah koleksi jenis Kupu-kupu di kawasan TNGMb menjadi 25 jenis. Selengkapanya klik : Eksistensi Kupu - Kupu di TN Gunung Merbabu Sumber : Jarot Wahyudi, S.Hut - PEH Pertama Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Berita

BKSDA Kalteng Cek Keberadaan Orangutan Di Kumai Hulu

Palangkaraya, 12 April 2019. Menindaklanjuti laporan warga Kumai An. Saptiyono terkait perjumpaan satwa liar dilindungi berjenis Orangutan di daerah kumai hulu, arah pelabuhan kalap kec. Kumai, pada hari Sabtu, 6 April 2019 silam, Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Balai KSDA Kalimantan Tengah telah melaksanakan groundcheck ke lokasi tersebut. Lokasi perjumpaan satwa berupa vegetasi tumbuhan akasia dan semak belukar serta terdapat danau bekas galian pasir. Saat melaksanakan ground check ditemukan 3 buah sarang orangutan yang masih baru dan saat itu orangutan sempat terlihat oleh petugas, namun kemudian tim kehilangan jejak dikarenakan orangutan tersebut bersembunyi ke dalam hutan. Diperkirakan orangutan tersebut masih remaja. Tim WRU SKW II yang melakukan pemantauan kemudian menghimbau kepada pelapor untuk segera menghubungi petugas apabila orangutan tersebut kembali terlihat serta memantau orangutan tersebut agat tidak kehilangan jejak. Orangutan sebagai satwa terancam punah punya peran penting dalam menjaga kelangsungan ekosistem hutan, Pembukaan lahan dan ekspansi tanpa batas membuat habitat mereka terancam. Kerjasama seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan demi menjaga kelestarian orangutan serta ekosistem hutan untuk kehidupan manusia yang lebih baik. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Tersesat, Mencari Si Putih Di Besowo

Kediri, 10 April 2019. Dengan berbekal tekad dan nekad, tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 03 menerobos gerimis menyusuri jalur batas Cagar Alam Besowo Gadungan untuk menunaikan tugas patroli. Sepanjang perjalanan, kami membersihkan liana yang membelit pal batas agar batas kawasan dapat dilihat dengan jelas. Selain pal batas, semai semai beberapa jenis pohon juga kami bersihkan dari lilitan liana, agar dapat tumbuh dengan baik. Sampai di bagian selatan kawasan, senyum kami mengembang seiring dengan meningginya semai Kemiri (Aleuritas molluccana), Bendo (Artocarpus elasticus) dan Kadutan diluar batas kawasan yang kami tanam akhir musim kemarau lalu. Saat itu, kami melaporkan penggarap hutan lindung di Selatan kawasan karena membakar sebuah Pohon Bendo yang berjarak 5 meter dari pal 12. Koordinasi dengan Perum Perhutani membuahkan hasil, kurang lebih 5 meter lahan menjadi kawasan penyangga. Di lahan penyangga itu kami sengaja membenamkan beberapa biji bijian untuk menggantikan tegakan pohon yang hilang. Disiram air hujan, biji biji tersebut berhasil berkecambah dan tumbuh menjadi semai, semoga dapat melewati masa pancang, tiang untuk akhirnya menjadi pohon yang perkasa. Saat memasuki kawasan kami disambut beberapa Pohon Cembirit (Tabernaemontana sphaerocarpa) yang sedang berbuah, Iles Iles, Buah Suson yang menjuntai dan beberapa jenis jamur di lantai hutan. Setelah membersihkan liana dari semai yang tumbuh di selatan kawasan, kami meneruskan langkah memasuki kawasan, demi menjumpai si putih yang cantik, anggrek tanah, Calanthe triplicata. Beberapa meter berjalan, kami tiba di habitatnya dan tak kami jumpai bunga Calanthe triplicata yang sedang mekar. Namun banyaknya individu Calanthe yang kami jumpai, menjadi obat yang cukup manjur untuk mengembangkan senyum kembali. Kamipun segera menandai perjumpaan tersebut di GPS dan mengambil beberapa foto sebagai dokumentasi kegiatan. Setelah dirasa cukup, kami segera bergegas keluar dari kawasan. Sempat tersesat mencari jalan keluar, tapi akhirnya kami berhasil meninggalkan cagar alam sebelum hujan deras mendera kawasan tersebut. Sumber: Siti Nurlaili (Pengendali Ekosistem Hutan) - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Sarasehan Pemanfaatan Zona Tradisonal Resort Mentatai Balai TN Bukit Baka Bukit Raya

Sintang, 11 April 2019 - Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BTNBBBR-red.) telah menjalin kemitraan dalam pemberdayaan masyarakat dan pengelolaan zona tradisional di Desa Mawang Mentatai dengan 2 (dua) kelompok yaitu Kelompok Tani Batu Lintang dan Kelompok Tani Teluk Kebali serta di Desa Nusa Poring dengan 2 (dua) kelompok yakni Kelompok Tani Tungku Sengkumang dan Kelompok Tani Sekujang Permai pada tanggal 26 s.d. 29 Maret 2019. Masing-masing Desa diikuti 60 (enam puluh) orang peserta yang merupakan masyarakat anggota kelompok tani mitra, tokoh masyarakat serta perwakilan dari perangkat desa di kedua desa tersebut. Kedua desa tersebut merupakan desa penyangga yang berada di wilayah kerja Resort Mentatai Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Nanga Pinoh. Sarasehan Pemberdayaan Masyarakat Dan Pengelolaan Zona Tradisional digelar untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengelolaan zona tradisional dengan titik berat pada pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) sekaligus menghimpun berbagai informasi dan data dari masyarakat perihal pengelolaan zona tradisional serta berbagai aspirasi yang timbul untuk meningkatkan kualitas kemitraan yang terjalin antara BTNBBBR dengan kelompok-kelompok masyarakat yang ada di Desa Mawang Mentatai dan Desa Nusa Poring. Dalam sarasehan tersebut turut hadir 3 (tiga) Orang narasumber yang memiliki kompetensi dalam kaitannya dengan pengelolaan zona tradisional. Bapak Purwadi, S.Hut., M.P. selaku Kepala SPTN Wilayah I Nanga Pinoh sebagai narasumber dalam materi Pengelolaan Zona Tradisional TNBBBR; Bapak Deman Huri, S.Hut. selaku Direktur Institut Pengolahan Hasil Hutan (INTAN) dalam materi Pengolahan HHBK Tengkawang dan Bapak Dartius S.Sos selaku Kepala Seksi Pelayanan Umum Kecamatan Menukung dalam materi Dukungan Pemerintah Daerah dalam Pengelolaan Zona Tradisional. Kepala Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Bapak Agung Nugroho, S.Si., M.A. berkenan turut mengawal jalannya agenda sarasehan sekaligus meninjau usaha masyarakat anggota kelompok mitra pengelolaan zona tradisional TNBBBR. Dalam kesempatan yang sama Kepala Balai juga mengunjungi beberapa warga masyarakat yang menjadi pelaku usaha kerajinan anyaman rotan dan menyempatkan diri melakukan peliputan pada aktifitas masyarakat di Desa Mawang Mentatai dan Desa Nusa Poring. Masyarakat menyambut baik kedatangan Kepala Balai, petugas pada Resor Mentatai beserta tim pelaksana kegiatan sarasehan. Beberapa simpulan sarasehan berhasil dihimpun dan ditarik kesimpulan bahwa masyarakat sangat antusisas dengan upaya pengelolaan zona tradisional khususnya pada wilayah kerja Resor Mentatai, masyarakat anggota kelompok tani mitra menyambut baik kegiatan sarasehan yang dilaksanakan dengan menyampaikan masukan dalam intensifikasi pemanfaatan HHBK pada zona tradisional serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam pengolahan HHBK khususnya Tengkawang dilakukan melalui pemaparan oleh Bapak Deman Huri, S.Hut. selaku Direktur Yayasan INTAN. Masyarakat mengharapkan agar kegiatan-kegiatan pertemuan serupa dapat lebih diintensifkan untuk memperkuat kolaborasi pengelolaan pada zona tradisional. Implementasi kemitraan pengelolaan zona tradisional menjadi salah satu bagian penting dalam upaya pengelolaan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR-red.). Sejalan dengan cara baru kelola kawasan konservasi yang mengedepankan pengarusutamaan Masyarakat sebagai Subyek, Penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia dan Penghormatan Nilai Budaya dan Adat, Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya mengadopsi nilai-nilai tersebut sebagai pilar kolaborasi pengelolaan kawasan bersama masyarakat. Dengan berfokus pada upaya pengelolaan sumberdaya hutan pada area kelola masyarakat kelompok mitra di dalam zona tradisional, diharapkan aktifitas pemanfaatan HHBK oleh masyarakat dapat meningkatkan nilai tambah bagi upaya penguatan keberdayaan masyarakat. Sejalan dengan upaya tersebut pengelolaan sumberdaya hutan dalam zona tradisional diharapkan juga dapat mendorong terbentuknya suatu skema pengelolaan kawasan yang dapat menjembatani aspirasi masyarakat dalam pemanfaatan HHBK sesuai dengan konteks zonasi kawasan. Sumber : Helmy Adhi Kusuma - Penyuluh Balai TN Bukit Baka Bukit Raya Humas Dan Publikasi Balai TN Bukit Baka Bukit Raya Contact Person : Dudy Kurniawan Call Centre : 082158564609 e-mail : bukitbakabukitraya@gmail.com
Baca Berita

Kembali, Masyarakat Serahkan Kucing Kuwuk ke Balai Besar KSDA Sumut

Padangsidimpuan, 9 April 2019. Kali ini penyerahan 1 (satu) individu Kucing Kuwuk (Prionailurus bengalensis) oleh seorang warga, Mulyadi Siregar, 35 tahun, wiraswasta, beralamat di Desa Bonan Dolok, Kecamatan Padangsidimpuan Utara, Kota Padangsidimpuan, kepada petugas dilaksanakan di Kantor Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan, jalan Dr. Pinayungan, Kelurahan Tano Bato,Kecamatan Padangsidimpuan Utara, Kota Padangsidimpuan, pada Senin 8 April 2019. Awalnya petugas Bidang Konservasi Wilayah III menerima informasi dari masyarakat tentang adanya warga yang memelihara satwa dilindungi undang-undang. Menerima laporan, Kepala Bidang Konservasi Wilayah III segera menugaskan Tim untuk menindaklanjutinya. Dengan berbekal informasi tersebut, Tim menuju lokasi dan menemukan adanya 1 (satu) individu Kucing Kuwuk yang berada dalam sebuah kandang di rumah salah seorang warga. Menurut penjelasan/keterangan Mulyadi Siregar (pemilik/pemelihara), Kucing Kuwuk ini sebelumnya mendatangi rumahnya tanpa diketahui darimana asalnya. Lalu oleh Mulyadi, satwa ini diamankan dalam sebuah kandang. Mulyadi Siregar tidak mengetahui bahwa satwa tersebut ternyata merupakan satwa liar yang dilindungi. Setelah mendengar penjelasan dari Tim, akhirnya Mulyadi Siregar dengan sadar dan sukarela menyerahkan Kucing Kuwuk tersebut kepada petugas. Setelah menyelesaikan administrasi berupa Berita Acara Penyerahan, kemudian Tim membawa dan mengamankan satwa dimaksud untuk sementara waktu ke Kantor Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan untuk pemeriksaan kondisi kesehatannya sebelum dilepasliarkan/direlease. Sumber : Hardi Hutabarat dan Fahmi - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Eksotisme Anggrek Thrixspermum subulatum di Taman Nasional MerBeti

Jember, 9 April 2019. Salah satu bunga anggrek hasil domestikasi Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) mekar. Kemarin, anggrek jenis Thrixspermum subulatum pada batang pohon bungur di halaman kantor Balai TN MerBeti ditemukan sedang mekar sebanyak 3 (tiga) kuntum bunga. Thrixspermum subulatum merupakan jenis anggrek epifit, dengan batang biasanya panjangnya sekitar 1 (satu) m, dan kadang-kadang lebih panjang, dapat mencapai dua kali ukuran panjang biasanya, menjuntai dari batang-batang pohon. Anggrek ini mempunyai akar aerial yang muncul dari batang. Daun ± 9 x 1,5 cm, tebal, dan berdaging. Jumlah bunga 3-7 kuntum, pada umumnya mekar bersamaan. Bunga lebar 1,8 cm, berwarna kuning muda dengan oranye muda pada bagian bibir, wangi (Nurfadilah, 2008). Keindahan bunga anggrek yang mekar ini hanya dapat dinikmati selama satu hari. Saat ditemukan hari ini, bunga sudah mulai layu. Anggrek Thrixspermum subulatum penyebarannya di Resort Bandealit TN MerBeti. Selain anggrek jenis ini, Menurut Puspaningtyas (2007) di Resort Bandealit pada ketinggian di bawah 100 m dpl., terdapat juga 25 jenis anggrek yang tercakup dalam 20 marga. Berdasarkan habitusnya kurang lebih ada 20 jenis anggrek epifit dan 5 jenis lainnya anggrek tanah. Kemelimpahan Thrixspermum subulatum di Resort Bandealit sebesar 3,23 %. Thrixspermum subulatum memiliki beberapa pohon inang antara lain Bungur (Lagerstroemia speciosa), Jati (Tectona grandis), Mangga (Mangifera indica), dan Puspa (Schima wallichii). Anggrek cenderung hanya memilih jenis inang yang berkulit kasar sehingga dapat menahan serasah lebih banyak dibanding pohon yang berkulit licin. Umumnya kulit kayu yang berongga dan empuk dengan permukaan yang kasar akan menahan air lebih baik, dan adanya celah-celah/ rongga-rongga memungkinkan biji anggrek mudah tersangkut. Kehadiran jenis-jenis pohon tersebut di kawasan Resort Bandealit, TN MerBeti sangat penting bagi kelestarian populasi anggrek yang berasosiasi dengan pohon tersebut. Penulis : Puput P Widiyatmanto dan Iva Tri Lindasari Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Manfaat Ekonomi Wisata Pendakian Bagi Masyarakat Lokal dan Kelestarian Taman Nasional Gunung Merbabu

Wisata pendakian Gunung Merbabu sangat menarik bagi para calon pendaki (penunjung) yang berasal dari berbagai daerah di Pulau Jawa, antara lain: Klaten, Solo, Semarang, Yogyakarta, Boyolali, Bandung, Jakarta, Bekasi, Ciamis, Banten dan sekitarnya, bahkan wisatawan mancanegara seperti Australia, Singapura, Malaysia, dan Eropa. Salah satu pintu masuk pendakian yang resmi di TN Gunung Merbabu (TNGMb) adalah jalur pendakian Selo via dusun Genting desa Tarubatang Kecamatan Selo Boyolali dengan gerbang masuk berada di lokasi kantor Resort Selo. Secara umum kegiatan wisata di Jalur pendakian Selo telah memberikan dampak ekonomi kepada masyarakat lokal (sekitar kawasan TNGMb) yaitu Dusun Genting Desa Tarubatang. Dampak ekonomi ini terjadi karena adanya perputaran uang antara pengunjung, unit usaha yang tersedia, dan tenaga kerja. Semakin banyak kunjungan pendakian akan memberikan dampak berupa pendapatan yang lebih banyak kepada unit usaha yang tersedia. Unit usaha masyarakat yang berkembang dan memberikan aliran ekonomi sebagai berikut : Gambar 1. Kondisi Kampoeng Basecamp dusun Genting Desa Tarubatang Obyek dan daya tarik utama yang menjadi minat wisata pendakian Jalur Pendakian Selo antara lain tujuh pos pendakian sebagai lokasi berkemah, sarana jalur setapak, tanjakan sabana 1 dan 2, ekosistem eidelweiss, perbukitan batu tulis, pengamatan satwa liar (primata), pengamatan burung (avitourism), melihat sunrise/sunset, dan lain-lain. No Rute Pendakian Jarak Waktu mdpl 1. Pos Tiket – Pos I: Dok Malang 1,7 km 40 menit 1836 2. Dok Malang – Pos II: Pandean 1 km 35 menit 2185 3. Pandean – Pos III: Watu Tulis 0,6 km 20 menit 2412 4. Watu Tulis – Pos IV: Savana 1 0,6 km 60 menit 2577 5. Savana 1 – Pos V: Savana 2 0,4 km 40 menit 2765 6. Savana 2 – Puncak Triangulasi 0,9 km 80 menit 2844 7. Tiangulasi – Puncak Kenteng Songo 100 m 5 menit 3145 Jumlah 5,3 km 4 jam 40 menit Tabel 1. Jarak Tempuh Jalur Pendakian Selo, TN Gunung Merbabu. Pendaki wajib lapor dan membeli tiket PNBP (tiket resmi pemerintah berdasarkan PP No. 12 Tahun 2014) di Pos Tiket/Registrasi yang berada di sebelah barat kantor Resort Selo. Tiket yang dibeli (katagori wisatawan nusantara/lokal) terdiri dari 3 macam, yaitu: Tiket masuk kawasan (Rp. 5.000,-/orang), Tiket kegiatan mendaki/hiking (Rp. 5.000,-/orang) dan Asuransi jiwa (Rp. 1.000,-/orang), sedangkan tiket untuk pengunjung mancanegara berbeda pada kegiatan mendaki/hiking Rp. 150.000,-/orang. Hasil tiket ini disetorkan langsung ke Kementerian Keuangan RI melalui bendahara PNBP Balai TNGMb. Gambar 2. Pos Tiket/Retribusi Resmi Jalur Pendakian Selo No. Bulan 2018 2017 2016 2015 2014 1. Januari 56.000.000 27.000.000 30.000.000 30.650.000 1.500.000 2. Pebruari - 18.600.000 30.000.000 18.750.000 2.550.000 3. Maret 55.605.000 17.900.000 36.000.000 24.000.000 - 4. April 82.695.000 77.635.000 45.000.000 31.000.000 5.100.000 5. Mei 111.360.000 50.140.000 90.000.000 18.000.000 1.650.000 6. Juni 84.625.000 7.755.000 29.500.000 27.000.000 5.700.000 7. Juli 101.450.000 56.000.000 35.250.000 13.000.000 600.000 8. Agustus 135.517.500 64.935.000 35.000.000 51.850.000 21.467.000 9. September 106.225.000 52.562.500 32.000.000 - 16.650.000 10. Oktober 36.450.000 35.332.500 21.570.000 - 21.800.000 11. Nopember 46.600.000 26.345.000 12.000.000 - 16.850.000 12. Desember 70.635.000 44.290.000 48.300.000 20.000.000 16.650.000 Jumlah 887.162.500 483.260.000 444.620.000 234.250.000 110.517.000 Tabel 2. Total pemasukan dari tiket PNBP terhadap negara untuk kegiatan wisata Jalur pendakian Selo selama 5 tahun terakhir. Tabel diatas menunjukkan betapa besarnya pemasukan negara (melalui PNBP) selama 5 tahun terakhir. Kemudian “nilai pendapatan” tersebut kembali ke kawasan TNGMb melalui anggaran DIPA pada tahun berikutnya dan diterjemahkan kedalam program-kegiatan teknis dan fisik di seluruh TNGMb, seperti pemberdayaan masyarakat, bantuan ekonomi wisata (sarpras, pelatihan dll), pengembangan obyek wisata, pemeliharaan sarana wisata, dan peningkatan SDM pengelola wisata di setiap obyek wisata yang mendukung kelestarian hutan TNGMb. Gambar 3. Grafik Alasan Berwisata Pendakian di Jalur pendakian Selo Faktor-faktor yang berpengaruh (positif) keberhasilan pengelolaan pendakian di TNGMb terdiri dari: SDM kelompok; dukungan dan partisipasi warga sekitar; promosi wisata oleh para pendaki dan tour travel; kegiatan Balai TNGMb melibatkan kelompok; potensi hutan dan lanskap TNGMb terjaga dengan baik; sarpras wisata pendakian memadai; jalur pendakian berada di zona pemanfaatan TNGMb; dukungan dari Balai TNGMb dan Pemerintah Desa. Gambar 4. Pemandangan Gunung Merapi dan Kemeriahan Upacara HUT RI Kegiatan wisata pendakian yang dikelola masyarakat lokal (Dusun Genting Desa Tarubatang) memiliki dampak langsung terhadap ekonomi lokal berupa peningkatan taraf hidup masyarakat sekitar hutan melalui aliran barang dan jasa. Serta bagi kelestarian hutan TNGMb melalui kegiatan teknis dan fisik kawasan dari aliran dana PNBP (feedback), yang telah memberikan income negara sebesar Rp. 887.162.500,- pada tahun 2018. Sumber: Jarot Wahyudi, S.Hut - Balai TN Merbabu Referensi, Balai TNGMb (2014). Zonasi Taman Nasional Gunung Merbabu (Dokumen Revisi Zonasi 2014). Boyolali: Balai TNGMb. Balai TNGMb (2017). Laporan Daya Dukung Jalur pendakian Selo Program PKL Mahasiswa Kehutanan UGM. Yogyakarta. Balai TNGMb (2018). Statistik Balai Taman Nasional Gunung Merbabu 2018. Boyolali Fandeli, Chafid. dan Muhammad Nurdin. (2005). Pengembangan Ekowisata Berbasis Konservasi di Taman Nasional. Fakultas Kehutanan-PUSPAR UGM. Yogyakarta. Soekadijo, R.G., (1996). Anatomi Pariwisata, Memahami Pariwisata sebagai Sistem Linkage. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Wahyudi, Jarot (2018). Perkembangan Pengelolaan Wisata Alam Oleh Masyarakat Lokal di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Krogowanan Taman Nasional Gunung Merbabu Kabupaten Magelang. Fakultas Teknik-UGM. Yogyakarta. Wijaya, R. (1993). Dampak Fisik Kegiatan Pariwisata, Kasus Pengamatan Bali. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota ITB, IV (7), 40-49. Bandung. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 tentang Pengelolaan KSA dan KPA Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2014 tentang Tarif PNBP di Kementerian KLHK

Menampilkan 5.777–5.792 dari 11.140 publikasi