Sabtu, 25 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Kasus Jual Beli TSL di Medsos Disidangkan di PN Medan

Medan, 26 April 2019. Sidang kasus perdagangan satwa liar dilindungi melalui akun media sosial facebook dengan terdakwa Arbain alias Bain (25), warga Dusun III, Desa Paluh Manan, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, digelar di Pengadilan Negeri (PN) Medan. Sebagaimana yang pernah diberitakan (Red., 10 Januari 2019), terdakwa diciduk petugas Ditreskrimsus Polda Sumut bersama dengan Balai Besar KSDA Sumatera Utara dirumahnya, pada Rabu, 9 Januari 2019, sekira pukul 21.30 wib. Dari penangkapan itu, petugas berhasil mengamankan barang bukti berupa 3 (tiga) individu anak Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus), 1 (satu) individu Kucing Akar (Prionailurus bengalensis) dan 3 (tiga) individu anak Lutung Emas (Trachypitecus auratus). Penjualan satwa ini dilakukan terdakwa melalui akun media sosial facebook bernama Keyla Safitrie. Akibat perbuatannya tersebut, terdakwa harus menghadapi “kursi panas” persidangan di Pengadilan Negeri Medan. Agenda sidang pada Kamis, 25 April 2019, adalah mendengarkan Keterangan Ahli dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Dede Tanjung, SP., pejabat Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang memberikan keterangan setelah sebelumnya diambil sumpah oleh majelis hakim PN Medan. Dalam keterangannya, Dede Tanjung menjelaskan bahwa ketiga jenis satwa yang merupakan barang bukti benar merupakan satwa yang dilindungi sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7/1990 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar jo. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.92 tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi. “Terdakwa Sdr. Arbain tidak memiliki izin apapun serta tidak sedang mengurus izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Oleh karena itu yang bersangkutan melanggar Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dalam pasal 40 ayat (2) jo. Pasal 1 ayat (2) huruf a, dan diancam pidana penjara 5 tahun dan denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah),” ujar Dede Tanjung Pada sidang perdana, Kamis 4 April 2019, Jaksa Penuntut Umum, Sri Wahyuni, menyatakan bahwa perbuatan terdakwa melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam Pasal 21 ayat (2) huruf a jo Pasal 40 ayat (2) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Setelah mendengar Keterangan Ahli, keterangan saksi dan memeriksa terdakwa, Majelis Hakim PN Medan yang diketuai Jarihat Simarmata, SH., menunda sidang selama sepekan untuk mendengarkan Tuntutan Jaksa Penuntut Umum. Sumber : Evan - Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dede Tanjung, SP., bersama dengan saksi dari Polda Sumut saat memberikan Keterangan Ahli (gambar kiri), dan terdakwa Arbain (gambar kanan)
Baca Berita

BKSDA Kalsel ikut Sadar Bencana Lingkup UPT KLHK Kalsel

Banjarbaru, 26 April 2019. Dalam rangka melaksanakan Surat Edaran dari Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: SE.7/Setjen/Roum/Set.0/3/2019, diadakan Kegiatan Latihan Evakuasi Mandiri Bencana diseluruh UPT KLHK. Lingkup Provinsi Kalsel bertempat di Kantor BPKH Wilayah V Banjarbaru, masing-masing UPT mengirim minimal 10 orang staf. Balai KSDA Kalimantan Selatan mengambil peran dengan dipimpin oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Bapak Suwandi , S.Hut, M.A,. bersama dengan 10 staf Balai KSDA Kalimantan Selatan lainnya. Pemberian materi ke peserta difokuskan pada materi terkait dengan teknis penanganan bencana, juga kegiatan simulasi penanganan kebakaran gedung. Pemilihan materi ini disesuaikan dengan jenis bencana yang rawan terjadi di wilayah Kalimantan Selatan. Materi disampaikan oleh Tim Daops Manggala Agni Kab. Banjar., yaitu antara lain oleh Bp. Fahrin dan Bp. Citra. Pelatihan ini memang dilaksanakan secara serentak di seluruh kantor Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion dan Unit Pelaksana Teknis Lingkup Kementerian Linngkungan Hidup dan Kehutanan. Diharapkan melalui pelatihan ini, staf UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Provinsi Kalimantan Selatan memiliki kesadaran dan kewaspadaan yang tinggi dalam mengghadapi bencana, tidak hanya dalam lingkungan kerja namun juga dalam kehidupan sehari-hari. Sumber : Jarot Jaka Mulyono, S.Hut, M.Sc Doc by : Usman,S.Hut
Baca Berita

Workshop Pembahasan Rencana Perjanjian Kerjasama

Pekanbaru, 24 April 2019. Workshop pembahasan rencana perjanjian kerjasama PT Chevron Pasific Indonesia dengan Balai Besar KSDA Riau dalam rangka penguatan fungsi kawasan di kawasan konservasi di wilayah SM Balai Raja, TWA Sungai Dumai dan SM PLG Sebanga Riau.Kegiatan Workshop dilaksanakan di Novotel Jl. Riau Provinsi Riau Sumber: Balai Besar KSDA Riau #kemenklhk #ditjenksdae #humasklhk #sobathijau
Baca Berita

Diklat Lanjutan OPA Bekisar di Trans BandeSuka TN Meru Betiri

Jember, 25 April 2019. Mahasiswa yang tergabung dalam organisasi pecinta alam (OPA) Bekisar Politenik Negeri Jember melakukan diklat lanjutan di Taman Nasional Meru Betiri. Diklat ini berlangsung selama tiga hari dua malam mulai tanggal 18 s/d 20 April 2019. Kegiatan yang melewati Trans Bandesuka dimulai dari Bandealit menuju Sukamade, didampingi oleh seorang Polhut TN MerBeti dan seorang MMP (Masyarakat Mitra Polhut) Resort Bandealit. Rangkaian kegiatan yang dilakukan mencakup: pengamatan burung, plot, navigasi hingga penyeberangan basah. Peserta diklat menemukan jejak banteng di sekitar kali PA dan kali lanang. Tak melewatkan kesempatan, peserta diklat membuat plater cast jejak banteng dengan menggunakan gypsum. Saat perjalanan yang menempuh Jalur Sumber Gadung hingga Teluk Meru serta Teluk Permisan dilalui tanpa kendala. Sedangkan saat menempuh jalur dari Teluk Permisan sampai Puncak Marlboro ditemukan bahwa jalur lama tertutup. Dikarenakan banyaknya pohon roboh karena tumbang secara alami. Namun demikian perjalanan dapat berlanjut hingga Sukamade. Peserta selamat dan sehat tanpa kekurangan suatu apapun saat penutupan diklatjut di Sukamade. Sumber: Balai TN Meru Betiri
Baca Berita

Tim Jelajah 54 TN Indonesia Memasuki TN Gunung Merbabu

Boyolali, 26 April 2019. Sebagai salah satu bentuk hutan konservasi, taman nasional memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Taman nasional Indonesia merupakan fragmen atau cuplikan dari alam yang pernah menutupi kawasan nusantara. Melindungi keanekaragaman ekosistem. Mewakili sifat paling berharga Indonesia. Di sana sejak puluhan dan bahkan ratusan tahun lalu telah hidup harmonis dan berkembang antara alam, manusia dan budayanya. Direktur Jenderal KSDAE, Wiratno mengatakan pentingnya peranan masyarakat desa-desa di pinggir taman nasional untuk ikut bersama-sama menjaga kawasan yang akhirnya juga mendapatkan manfaat dari taman nasional tersebut. Di sini, kita bisa bersantai melepas penat menikmati alam dengan segala pesonanya. Namun, bukan hanya itu. Di dalam taman nasional kita bisa melakukan berbagai kegiatan, seperti: mendaki gunung, menyelam, arung jeram, berfoto, udara segar dan lainnya. Berbagai wisata minat khusus dapat dilakukan dalam taman nasional. Sejatinya kegiatan di taman nasional bukanlah wisata biasa. Di sini, setiap orang dapat belajar langsung tentang flora dan fauna asli serta bagaimana cara hidup mereka yang saling bergantung satu sama lain. Termasuk hubungannya dengan kita sebagai manusia tentunya. Di dalam taman nasional pula kita dapat belajar bagaimana cara hidup manusia pada masa lampau. Berbagai situs bersejarah yang juga tersebar di dalam taman nasional dapat membantu kita mempelajari itu semua. Namun, dalam melakukan semua kegiatan di atas tersebut ada satu hal yang mutlak tidak boleh dilanggar yaitu menerabas batas pelestarian alam. Taman nasional dikelola menggunakan zonasi. Setiap zona dalam taman nasional hanya dapat dikunjungi sesuai dengan fungsi, tujuan dan aturannya. Pertanyaannya, sudahkah kita merasakan atau mendapatkan pengalaman nyata atau “real experiences” selama berkunjung ke taman nasional? Nah, melalui program Jelajah 54 Taman Nasional Indonesia inilah para pejalan atau explorer dan “influencer” seperti Medina Kamil, Chintya Tengens, Tyo Survival dan Harley B. Sastha beserta tim dengan dukungan penuh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) mengajak kita semua untuk menjelajahi 54 taman nasional di Indonesia dan bagaimana merasakan langsung pengalaman nyata tersebut. Mendapatlkan cerita bagaimana taman nasional dengan bentang alam, sejarah, mitos, masyarakat dan kearifan lokal, serta berbagai macam jenis flora dan fauna saling terkait. Setelah beberapa waktu lalu tim melakukan kegiatan di Bukit 1000 Bintang-Taman Nasional Gunung Ciremai, hari ini Kamis, 25 April 2019, tim Jelajah 54 Taman Nasional Indonesia akan melakukan penjelajahan di Taman Nasional Gunung Merbabu hingga 29 April 2019. "Saya berharap dengan adanya kegiatan ini dapat meningkatkan kesadartahuan para pendaki tehadap lingkungan dan mematuhi aturan. Merencanakan dengan baik pendakian" ujar Junita Parjanti-PLT Kepala Balai TN Gunung Merbabu di kantor Resort Selo. Sedangkan Plh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb), Johan Setiawan berharap program Jelajah 54 TN Indonesia dapat mensosialisaikan dan memperkenalkan pendaftaran online serta sistem Radio Frekuensi Identifikation (RFID) yang diterapkan untuk para pendaki dengan fungsi utamanya untuk mengidentifikasi chekin dan chekout di TN Gunung Merbabu. Agar data pendaki valid dan terverifikasi. Disini nanti para pendaki mengenakan gelang yang dilengkapi chip RFID. Penasaran apa yang akan dilakukan mereka selama 5 hari tersebut? Tenang saja kalian bisa kepoin mereka terus juga di web dan media sosial KSDAE. Ayo ke taman nasional. Bersama kita rawat dan jaga kelestariannya. Jangan sampai kita kehilangan kekayaan alam kita yang sesuangguhnya. Perdalam terus wawasan pengetahuan kita tentang keragaman flora dan fauna serta budaya yang hidup di sekitar taman nasional. Kenali, jelajahi, cintai dan lestarikan. Sumber : Tim Jelajah 54 Taman Nasional Indonesia & Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Berita

UPT KLHK Lingkup Sulawesi Tengah Menggelar Latihan Evakuasi Bencana Gempa Bumi

Palu. 26 April 2019. Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) melaksanakan latihan evakuasi mandiri bencana di Kantor BBTNLL. Kegiatan diawali dengan briefing oleh Kepala BBTNLL selaku koordinator wilayah UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan lingkup provinsi Sulawesi Tengah, Ir. Jusman di ruang rapat terhadap seluruh Kepala UPT KLHK Lingkup Sulawesi Tengah. Pada briefing ini Ir. Jusman menjelaskan bahwa Sulawesi Tengah merupakan lokasi yang rawan bencana, diperlukan pengetahuan dasar untuk menghadapi bencana. Pada briefing awal ini Kepala BBTNLL juga menyerahkan modul Pelatihan Dasar Penanggulangan Bencana kepada Kepala Balai UPT KLHK Lingkup Sulawesi Tengah. Peserta terdiri dari seluruh staf BBTNLL, BKSDA Sulawesi Tengah, BPDASHL Palu Poso, BPHP Wil. XII Palu, BPKH XVI Palu, BTN Kepulauan Togean dan Balai Penegakan Hukum Sulawesi. Total peserta pada pelatihan ini mencapai 85 orang. Latihan dilaksanakan atas dasar arahan Presiden RI pada Rakornas Penanggulangan Bencana Tahun 2019 di Surabaya “agar edukasi kebencanaan harus dimulai tahun ini, terutama di daerah rawan bencana, kepada sekolah melalui guru dan kepada masyarakat melalui para pemuka agama serta melaksanakan latihan simulasi penanganan bencana secara berkala dan berkesinambungan". Berdasarkan hal tersebut, dikeluarkan Surat Edaran Menteri LHK Nomor SE.7/Setjen/Roumm/Set.0/3/2019 tanggal 19 Maret 2019 tentang Latihan Evakuasi Mandiri Bencana, menghimbau untuk mengadakan latihan evakuasi mandiri bencana serentak pada tanggal 26 April 2019 pada jam 10.00-12.00 waktu setempat, di masing-masing/kantor dan UPT Lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Latihan ini dipimpin langsung oleh Kababes TNLL dan dimulai dengan membunyikan alarm sebagai tanda peringatan dini terjadi gempa bumi. Setiap peserta baik yang berada di dalam ruangan ataupun di luar ruangan selanjutnya berkumpul di tempat berkumpul darurat (assembly point) dengan mengikuti jalur evakuasi yang telah ada. Setelah semua berkumpul, Kababes TNLL memberikan pengarahan kepada semua peserta. “Kegiatan ini bukan hanya simulasi, tetapi merupakan bentuk kewaspadaan menghadapi ancaman bencana di Palu yang merupakan lokasi rawan bencana” ujar Jusman. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

Harimau Sumatera Nampak Oleh Warga Sibolangit

Sibolangit, 26 April 2019. Bermula dari Informasi yang disampaikan warga, Ramona Ginting, saat ketika sedang menempuh perjalanan melewati kawasan hutan dengan mengendarai sepeda motor bersama ayahnya dari Desa Suka Makmur Kec. Kutalimbaru menuju Desa Durin Serugun Kecamatan Sibolangit pada Sabtu tanggal 13 April 2019, sekitar pukul 16.00 WIB. Warga ini tiba-tiba berhenti sejenak ketika melihat sosok besar yang diduga satu ekor Harimau Sumatera sedang melintas dihadapannya, dan kemudian melompat ke dalam hutan hingga menghilang tidak terlihat lagi. Hal yang sama juga dialami oleh warga lainnya dari Desa Pasar 10 Kec. Kutalimbaru pada saat perjalanan pulangdari Desa Durin Serugun menuju Pasar 10, pada hari yang sama ditempat tidak jauh dari lokasi yang penampakan pertama oleh Ramona Ginting. Penampakan Harimau Sumatera ini menyebabkan warga merasa resah, sehingga pada tanggal 18 April 2019 warga menginformasikannya kepada salah seorang staff SPORC (Satuan Polhut Reaksi Cepat) Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum LHK Wilayah Sumatera, Hendra Ginting, yang kemudian meneruskan informasi tersebut kepada Kepala Resort CA/TWA Sibolangit untuk dapat segera direspon. Mendapat informasi ini, Kepala Resort CA/TWA Sibolangit langsung berkoordinasi dengan Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, yang memberikan arahan agar tim Resort CA/TWA Sibolangit langsung bergerak ke lokasi penampakan Harimau Sumatera. Tim yang dipimpin Kepala Resort CA/TWA Sibolangit, Samuel Siahaan, di lokasi berkoordinasi dengan Kepala Desa Durin Serugun, Kecamatan Sibolangit, Ngamanken Ginting. Dengan didampingi kepala desa, staf pemerintahan desa dan masyarakat yang menjadi saksi penampakan langsung Harimau Sumatera, tim melakukan pengececekan di lapangan dan menemukan jejak berukuran 15 cm yang diduga jejak Harimau Sumatera. Bentuk jejak tidak begitu jelas terlihat, hanya terdapat lubang berisi daun bambu kering dan juga lubang tanah yang bercampur serasah. Kemudian tim mengambil masing-masing koordinat GPS di setiap lokasi di temukannya jejak Harimau Sumatera. Dari hasil plotting ketiga titik koordinat tersebut, dua titik koordinat jejaknya berada di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan dan satu titik koordinat berada di kawasan hutan produksi. Selain pengecekan lapangan, tim juga menyampaikan edukasi teknis mitigasi gangguan Harimau Sumatera kepada seluruh aparat pemerintah desa serta masyarakat. Dan mengimbau kepada warga agar tidak melakukan hal-hal yang dapat membunuh maupun melukai satwa, seperti berburu dan memasang jerat. Demi keamanan, masyarakat disarankan juga tidak pergi ke ladang sendirian dan selalu bersama-sama, menghindari bepergian di waktu subuh, senja dan malam hari, dimana biasanya harimau aktif beraktivitas diwaktu waktu tersebut. Sumber: Samuel Siahaan, SP./ PEH Pertama - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Penilaian Management Effectiveness Tracking Tool 2019 Balai Taman Nasional Taka Bonerate

Benteng - Kepulauan Selayar, 26 April 2019. Pelaksanaan kegiatan Management Effectiveness Tracking Tool (METT) tahun 2019 Balai Taman Nasional Taka Bonerate (TNTBR) yang difasilitasi Mitra WCS_IP berlangsung selama dua hari 24 s.d 25 April 2019 di Gedung Pertemuan Rayhan Square. Peserta yang hadir dari berbagai unsur pemerintah desa dalam kawasan seperti TNI, Polri, tokoh masyarakat, MMP, Masyarakat Desa Konservasi, dinas kelautan dan perikanan, Dispar, Bapelitbangda, Dinas perhubungan dan para Komandan Resort TNTBR. Tak kalah penting pemateri yang dihadirkanpun berasal dari Universitas Hasanuddin, Prof.Ir. Ngakan Putu Oka, M.Sc. (Fakultas Kehutanan), Dr.Ir. Alfa Nelwan, M.Si. (Fakultas Kelautan dan Perikanan), dan Kepala Balai Faat Rudhianto, serta moderator Saleh Rahman (PEH Balai TN Taka Bonerate). Dalam pemaparannya Faat Rudhianto mengatakan Kebijakan pengelolaan TN Taka Bonerate dibagi ke dalam zona untuk menjamin keberlanjutan ekologi, ekonomi dan sosial budaya. "KSDAE mutlak diperlukan untuk mencegah kepunahan dan menjamin ketersediaan sumberdaya alam hari ini, esok dan yang akan datang. Tanggung jawab bersama" ucap Prof. Oka dalam penyampaian materinya. Alfa Nelwan sebagai pemateri terakhir menyampaikan "Manfaatkan SDA dengan sebesar-besarnya, tidak ada pembatasan pemanfaatan, namun harus sesuai dengan aturan pengelolaan perikanan tangkap yang bertanggung jawab." Lebih lanjut beliau mengatakan "sesungguhnya ikan di lautan tidak pernah menyatakan perang terhadap manusia, tetapi kenapa kita membom dan membius mereka. Pergunakan alat tangkap yang sesuai dengan karakteristik lokasi di dalam kawasan. Sehingga dapat dipastikan masih tersisa stok yang akan tumbuh dan berkembang biak untuk perikanan yang berkelanjutan." Usai pemaparan materi dilanjutkan dengan kegiatan inti, yaitu penilaian METT yang difasilitatori oleh Wenda dan Yohanes dari Direktorat Kawasan Konservasi Ditjen KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. "Sebagai hasil sementara nilai METT bersama stakeholder adalah 88%. Namun ini belum merupakan nilai akhir, bisa saja mengalami penurunan ataupun kenaikan. Kita akan menunggu verifikasi dari tingkat pusat dalam hal ini Direktorat Kawasan Konservasi" Jelas Wenda fasilitator Acara yang berlangsung hingga sore (25/04) ini ditutup langsung oleh Faat Rudhianto. Beliau mengucapkan banyak terima kasih kepada semua stakeholder atas kehadiran dan pertisipasi nyata untuk kemajuan pengelolaan TN Taka Bonerate kedepan yang lebih baik. Sumber : Asri - PEH Penyelia Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Kelompok Tani Hutan sebagai Mitra Strategis TN Matalawa

Waingapu, 25 April 2019. Kelompok Tani Hutan (KTH) merupakan salah satu mitra masyarakat Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) dalam melestarikan kawasan. Untuk itu, peran KTH pada tiap desa yang berbatasan dengan kawasan Taman Nasional sangat penting. Inisiasi pembentukan KTH pada desa-desa yang belum memilikinya juga terus ditingkatkan oleh Balai TN Matalawa bersama aparat desa setempat. Bertempat di rumah salah satu warga Desa Manurara, Kecamatan Katikutana Selatan, Kabupaten Sumba Tengah, telah dilakukan pertemuan kelompok Tani Hutan “Dewa Nauna”. Pertemuan yang dihadiri oleh anggota kelompok, Camat Katikutana Selatan, Kepala SPTN Wil. I Waibakul Balai TN Matalawa (bersama Penyuluh Kehutanan dan PEH) serta Kepala Desa Manurara, secara resmi menyerahkan Surat Keputusan Pembentukan KTH Dewa Nauna. Camat Katikutana Selatan dalam sambutannya menyampaikan bahwa aparat Kecamatan siap mendukung program-program yang mengoptimalkan lahan-lahan warga dengan mengembangkan pertanian lahan kering di sekitarnya. Abdul Basit Nasriyanto, S.Hut, M.Sc manambahkan bahwa pembentukan KTH selain bergerak pada bidang pertanian juga dapat mengembangkan usahanya pada usaha Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dan pariwisata alam. Kegiatan diakhiri dengan kunjungan di lokasi pertanian yang sudah dikembangkan oleh KTH Dewa Nauna, yaitu kegiatan pertanian (budidaya Jagung, kedelai, singkong, dll), peternakan (kambing, ayam, perikanan, sapi, dll), pengolahan limbah ternak untuk biogas, pupuk Kering, pupuk cair, dan bahan pakan ternak yang diproduksi sendiri. Sumber: Balai TN Matalawa
Baca Berita

BBTN Bentarum Gelar Lokakarya Metodologi dan Penilaian Keakuratan Peta

Putussibau, 25 April 2019. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTN Bentarum) memfasilitasi pertemuan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kapuas Hulu dengan Direktorat Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari membahas mengenai Lokakarya Metodologi dan Penilaian Keakuratan Peta. Rapat dibuka Kepala BBTN Bentarum Ir. Arief Mahmud, M.Si. KPH memiliki peranan penting sebagai penyelenggara pengelolaan hutan di tingkat tapak, yang berkewajiban menjamin bahwa pengelolaan hutan dilakukan secara lestari sesuai dengan fungsinya. Dalam praktiknya, penyelenggaraan pengelolaan hutan pada tingkat tapak oleh KPH adalah melaksanakan kegiatan pengelolaan di wilayah kerjanya terkait perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian serta membuka peluang investasi guna mendukung tercapainya tujuan pengelolaan hutan. Pertemuan dihadiri 20 orang peserta yang terdiri dari KPH Kapuas Hulu Utara sebanyak 7 orang, KPH Kapuas Hulu Selatan sebanyak 7 orang, KPH Kapuas Hulu Timur sebanyak 6 orang dan Staf Teknis sebanyak 3 orang membahas mengenai pemanfaatan dan penilaian pengelolaan hutan. Dalam pemanfaatan fokus pada pengembangan usaha produktif berbasis masyarakat lokal di wilayah KPH dan menerapkan strategi multibisnis, multi komoditas dan multi stakeholder serta dapat mendorong kecepatan kemitraan masyarakat dalam pemanfaatan Hutan. Sehingga “ Harapannya jika KPH sudah mandiri dengan mengembangkan potensi HHBK HHK JASLING kedepan ditahun 2020 KPH dapat mendukung operasional dengan menggunakan dana DAK untuk pembangunan sehingga tidak bergantung pada APBD dan APBN lagi” jelas Subdit Penataan Direktorat KPHP Bambang Dwi Nugrohodjati, S.Hut. Dalam pengelolaan pengelolaan hutan produksi , Bambang Dwi memaparkan 2 cara pengelolaan yang bisa dilakukan yaitu yang pertama dengan Rekayasa Sosial mulai dari akses usaha korporasi ke akses usaha masyarakat dan yang kedua dengan Kelola tapak dari orientasi kayu (HHK) ke HHBK dan jasa lingkungan. Dengan begitu pengelolaan akan efektif dan efisien. Program ini merupakan investasi khusus berbasis masyarakat untuk mengatasi deforestasi dan degradasi hutan. Program ini diharapkan dapat mendukung Pemerintah Indonesia (via KLHK) dan masyarakat adat serta masyarakat lokal untuk mengelola hutan secara berkelanjutan dan mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dengan meningkatkan kapasitas teknis dan penghidupan masyarakat lokal. Dengan lokakarya ini diharapkan kedepan tenaga ahli pemetaan dapat menyajikan data spasial yang lebih akurat, konsisten sesuai dengan kaidah dan prinsip-prinsip pemetaan. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TN Bentarum)
Baca Berita

Langkah Awal Rencana Pengelolaan Jangka Panjang TN Kerinci Seblat

Jambi, 25 April 2019. Rapat I penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (RPJP BBTNKS) periode 2020-2029 telah dilaksanakan di Hotel Aston, Jambi pada tanggal 23-24 April 2019. Rapat ini merupakan salah satu tahapan dalam rangka pengumpulan data dan informasi nilai penting kawasan yang dihadiri oleh Kepala Balai Besar TNKS, seluruh pejabat Eselon III dan IV, serta perwakilan pejabat fungsional (Polhut, PEH dan Penyuluh Kehutanan), dan tim kerja penyusunan RPJP BBTNKS. Kemudian turut hadir dari Direktorat KK, KKH, Inventarisasi dan Pemantauan Sumberdaya Hutan, Kepala Balai KSDA Jambi, Kepala Balai Gakkum Wilayah Sumatera. Kemudian unsur pemerintah daerah, perguruan tinggi (UNAND, UNIB, UGM, UNJA, UNSRI), LIPI, tenaga ahli, dan mitra TNKS (FP2, TFCA, FFI-IP, KKI Warsi, Sumatran Tiger Project). Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat menambah validitas data dan informasi tentang Taman Nasional Kerinci Seblat (, sehingga penyusunan RPJP akan sesuai dengan ketentuan yang berlaku demi pengelolaan dan manajemen kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang lebih baik. Sumber : Humas Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat Photo : Wahyudi Santoso
Baca Berita

Pertemuan Kelompok Tani Resort Wonoasri TN Meru Betiri

Jember, 24 April 2019. Resort Wonoasri mengadakan pertemuan kelompok tani di Blok D10. Dihadiri oleh Kepala SPTN Wilayah II Ambulu, Kepala Resort Wonoasri dan anggotanya, Bapak Legiman (ketua kelompok tani) dan beberapa petani. Pada kesempatan ini turut mengundang Nuril Anwar selaku ketua IKM Jember. Pada pertemuan ini diketahui salah satu kesulitan petani yaitu pemasaran produk hasil pertanian. Solusinya, Nuril Anwar bersedia membantu memasarkan produk petani seperti buah nangka, mengkudu, mangga dan lainnya. Caranya dengan membeli produk para petani dengan syarat mereka mau menjaga dan merawat tanaman mereka dengan baik sehingga buah yang dihasilkan bagus dan dapat terjual dengan harga yang layak. Dalam kesempatan ini, Petugas TN MerBeti memberikan pesan kepada para petani agar memasuki bulan kemarau tidak melakukan pembersihan lahan dengan cara membakar, dan tanaman pokok mereka dirawat. Sedangkan untuk mengatasi konflik satwa cara mengatasinya dilakukan dengan cara menghalau, dan tidak diperbolehkan dengan menembak atau cara lain yang menyebabkan kematian pada satwa. Sumber: Balai TN Meru Betiri
Baca Berita

Balai KSDA Sulawesi Tenggara Tampilkan Kawasan Ekosistem Essensial Foobula Dalam Pameran Halo Sultra ke 55 di Kendari

Kendari, 24 April 2019. Stand Kehutanan yang terdiri dari Dinas Kehutanan, BKSDA Sulawesi Tenggara, BTN Rawa Aopa Watumohai, BTN Wakatobi, BPKH wilayah XXII Kendari, KPH Lingkup Sulawesi Tenggara dan Manggala Agni Daops Tinanggea, berpartisipasi dalam pameran/Expo tingkat provinsi Sulawesi Tenggara di Kendari. Setiap tahun dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Provinsi Sulawesi Tenggara yaitu tanggal 27 April, diadakan Pemeran yang bertajuk “Halo Sultra”. Pameran di ikuti oleh semua SKPD dan Kabupaten se Provinsi Sulawesi Tenggara, Perguruan Tinggi dan Pihak Swasta berjumlah ± 95 instansi yang berlangsung dari tanggal 23 sampai dengan 27 April 2019 bertempat di area tugu ex MTQ Kota Kendari. Tema yang di usung BKSDA Sulawesi Tenggara dalam pameran ini yaitu “Kawasan Ekosistem Essensial (KEE) Foobula”. Yang mana KEE ini merupakan koridor dari satwa Monyet Hitam Sulawesi (Macaca ochreata), Anoa (Bubalus sp) dan Tarsius (Tarsius sp). Disamping itu, di tampilkan juga beberapa poster, leaflet dan booklet jenis satwa yang dilindungi diantaranya buaya muara (Crocodylus porosus), ular sanca (Python reticulatus), tarsius (Tarsius sp), maleo (Macrocephalon maleo), kus-kus (Ailurops), monyet hitam sulawesi (Macaca ochreata), dan anoa (Bubalus sp) dengan maksud agar pengunjung lebih mengetahui jenis-jenis satwa dilindungi dan aktif berperan dalam menjaga dan melindungi satwa-satwa tersebut. Selain itu diberikan pula doorprize/hadiah bagi pengunjung yang berhasil dalam permainan (game) yang ada. Sampai hari ke-2 sekitar kurang lebih 350 orang pengunjung yang berkunjung dan berfoto di stand BKSDA Sultra dan semua pengunjung sangat antusias saat berkunjung ke stand pameran. Sumber: Balai KSDA Sulawesi Tenggara
Baca Berita

Ekspose Pengelolaan Resort TN Meru Betiri

Jember, 23 April 2019. Balai Taman Nasional Meru Betiri menggelar acara ekspose pengelolaan resort. Acara ini yang dipimpin langsung oleh Kepala Balai TN MerBeti dihadiri Kepala SPTN Wilayah I, II dan III, 10 orang Kepala Resort, dan kepala urusan di Balai TN MerBeti. Tujuan ekspose ini untuk menemukenali permasalahan di lapangan sehingga dapat merumuskan kebijakan pengelolaan berdasarkan data dan fakta di lapangan untuk menyelesaikan permasalahan di lapangan. Ekspose diisi dengan pemaparan pengelolaan di 10 resort mengenai potensi kawasan, kegiatan pengelolaan hingga kendala yang dihadapi. kepala balai dalam acara tersebut memberikan arahan agar pengelolaan resort based management dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat tapak yaitu resort, seksi sampai di level balai. Kepala Balai siap memberikan dukungan sarana dan prasarana bagi petugas lapangan khususnya yang ada di resort, agar keberadan resort sebagai ujung tombak pengelolaan kawasn konservasi dapat berjalan secara maksimal. Sumber: Balai Taman Nasinal Meru Betiri
Baca Berita

Restocking Arwana Banjar Red di Hari Bumi Bersama Parapihak

Riam Kanan, 23 April 2019 – Ikan Arwana, yang memiliki beberapa nama daerah seperti Siluk Kalimantan, Ikan Naga, Kelesa, Kayangan atau Tengkeleso, merupakan jenis satwa langka yang keberadaanya dilindungi undang-undang, sehingga kegiatan pemanfaatannya harus dilakukan melalui mekanisme penangkaran. Memperingati Hari Bumi, BKSDA Kalsel bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dan Kabupaten Banjar, tepatnya di Riam Kanan, Kawasan Tahura Sultan Adam, Kabupaten Banjar, telah dilakukan kegiatan pelepasliaran (restocking) arwana hasil penangkaran PT. Kresnapusaka Tirta Lestari yang selama ini menjadi mitra BKSDA Kalsel. Sebanyak 150 ekor Arwana jenis Banjar Red (Scleropages formosus) hasil penangkaran, dilepaskan kembali ke habitatnya. Restocking merupakan kegiatan yang harus dilakukan oleh penangkar yang sudah berhasil mengembangbiakkan satwa. Sebanyak 10% satwa liar hasil penangkaran, harus dikembalikan ke habitatnya. Tujuannya adalah menjaga populasi di alam agar tetap terjaga sehingga terhindar dari resiko kepunahan. Kegiatan restocking arwana ini bukanlah yang pertama kali dilakukan, tahun 2016 yang lalu sebanyak 184 ekor arwana juga sudah dikembalikan habitatnya. Sehingga sampai akhir tahun ini setidaknya akan ada 334 ekor arwana yang sudah berada di habitat alaminya lagi. Menurut Kepala BKSDA Kalsel, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., “Restocking memiliki tujuan mulia, yaitu menjaga populasi arwana di habitat asli agar selalu terjaga. Untuk itu diharapkan agar arwana yang sudah dikembalikan ke habitatnya ini jangan ditangkap lagi”. “Biarkan mereka berkembangbiak menghasilkan keturunan untuk menjaga keseimbangan ekosistem yang ada disana”, imbuhnya. “Hari Bumi harus kita maknai sebagai pengabdian manusia kepada alam yang telah memberi ruang hidup bersama makluk tuhan lainnya, untuk hidup harmonis dan saling melengkapi”. Kegiatan pelepasliaran ini merupakan bentuk sinergisitas parapihak terkait dalam menyelamatkan arwana. Parapihak yang melakukan kegiatan ini antara lain Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BKSDA Kalsel dihadiri Suwandi, S.Hut MA), selaku management authority dalam pemanfaatan arwana, bersama KKP yang dihadiri Dr.Ir. Rina M.Si (Kepala BKIPM KKP) dan Dr.Ir. Slamet Soebjakto (Dirjen Budidaya KKP) dan jajarannya, Pemerintah Kabupaten Banjar, Tahura Sultan Adam, Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel, Dinas Perikanan Provinsi Kalsel dan pihak terkait lainnya. (jrz) Sumber : Jarot Jaka Mulyono S.Hut, M.Sc - PEH Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

TN Meru Betiri turut Aksi Peduli Sempadan Sungai bersama Muspika Glenmore

Banyuwangi, 23 April 2019. Dalam rangka memperingati hari bumi 2019, Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) yang diwakili oleh 2 (dua) personil Resort dan 2 Masyarakat mitra Polhut (MMP) Resort Sumberpacet SPTN Wilayah III Kalibaru menghadiri aksi peduli sempadan sungai di Sungai Baru Glenmore. Acara ini diselenggarakan oleh Muspika Glenmore, Banyuwangi. Dihadiri oleh 70 orang peserta yang terdiri dari jajaran Muspika Glenmore, Dinas Lingkungan hidup, Dinas Pariwisata, Dinas Perikanan, PTPN XII Kalirejo, Komunitas “Glenmore Rafting”, masyarakat Desa Karangharjo dan siswa siswi SMP 1 Glenmore. Kegiatan yang dilakukan yaitu penanaman pohon di sepanjang bantaran Sungai Takir, penanaman pohon, dan pelepasan bibit ikan. Pada acara ini TN MerBeti turut menyumbangkan bibit sawo kecik. Dinas Perikanan menyumbangkan sebanyak 2.000 ekor bibit ikan nila. Selamat Hari Bumi. Ayo jaga lingkungan dan hutan agar tetap lestari. Sumber: Balai Taman Nasional Meru Betiri

Menampilkan 5.729–5.744 dari 11.140 publikasi