Sabtu, 25 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Polhut Balai TN Bukit Tiga Puluh Berantas Sawit Sampai Seakar-akarnya

Rengat, 29 April 2019. Petugas Polisi Kehutanan (Polhut) pada 18 sampai dengan 24 April 2019 lalu, melakukan pencabutan tanaman sawit masyarakat yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) di wilayah kerja Resort Lahai. Resort Lahai berada di Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Belilas Riau Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Sebelum pencabutan sawit, tim telah berkoordinasi dengan kepala desa setempat dan melakukan upaya persuasif berupa pendekatan personal dengan pemilik yang ternyata berasal dari luar wilayah Kabupaten Indragiri Hulu. Polhut TNBT bahu membahu dengan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) mencabut sawit yang terlanjur ditanam tersebut. Lokasi pembersihan atau pencabutan tanaman sawit ini berada di 2 (dua) lokasi dengan estimasi luasan 10 Ha. Petugas menggunakan alat dodos dan parang untuk mempermudah pencabutan tanaman sawit yang rata-rata berumur setahun. Secara umum kegiatan berjalan lancar dan aman. Adapun areal yang telah dibersihkan akan dilakukan rehabilitasi dengan tanaman kehutanan dan tanaman hutan (buah-buahan) yang bermanfaat bagi masyarakat setempat (sekitar kawasan TNBT). Selain itu patroli pengamanan hutan akan diperketat dan mengoptimalkan peran serta MMP binaan Balai TNBT. Kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) memiliki aksesibilitas yang relatif tinggi. Lokasinya yang cukup dekat dengan jalan lintas timur Sumatera cukup besar memberi pengaruh terhadap ancaman dan gangguan kawasan. Semakin banyak masyarakat pendatang yang melakukan imigrasi dan mengelola lahan, yang mana tanaman sawit masih dianggap primadona. Rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat pendatang akan kawasan TNBT menjadikan mereka asal saja mengelola kebun. Hal ini yang menyebabkan munculnya keterlanjuran tanaman sawit di dalam kawasan TNBT. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh
Baca Berita

Sigap Bencana Balai TN Matalawa

Waingapu, 27 April 2019. Setahun belakangan ini gempa bumi menjadi bencana yang sering mengguncang hampir di seluruh Indonesia termasuk pulau Sumba. Banyaknya korban dalam bencana tersebut, salah satunya diakibatkan oleh kurangnya pemahaman masyarakat dalam menghadapi bencana. Sehingga untuk itu diperlukan kegiatan latihan dan simulasi evakuasi mandiri bencana gempa bumi sejak dini. Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa), kemarin (26/04/19) melakukan latihan simulasi evakuasi mandiri bencana gempa bumi sebagai bentuk kesiapsiagaan dalam menghadapi gempa bumi di Pulau Sumba. Kegiatan latihan siaga bencana ini dilakukan di lingkup kantor Balai TN Matalawa bekerjasama dengan BASARNAS yang diikuti oleh seluruh pegawai TN Matalawa, KPH Sumba Timur dan Dinas Lingkungan Hidup Sumba Timur. Kegiatan ini berjalan lancar dan penuh antusias. Keseriusan dan keaktifan pegawai saat simulasi menjadi indikator bahwa para pegawai TN Matalawa beserta instansi pemerintah setempat sigap dan siap menghadapi bencana gempa bumi di kemudian hari. Sumber : Tim PIH Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Tanam 1000 Pohon Selamatkan Bumi Melayu

Pekanbaru, 28 April 2019. Bertempat di penyangga Suaka Margasatwa Balai Raja, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis yang berdekatan dengan Hutan Talang dilaksanakan penanaman pohon untuk memperingati Hari Bumi 2019. Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) dan Balai Besar KSDA Riau melakukan kegiatan penanaman dengan tema "1000 Pohon Selamatkan Bumi di Tanah Melayu" pada tanggal 27 April 2019. Sekitar 300 orang berhasil melakukan aksi penanaman 1000 batang pohon. Semangat selalu pak Hutajulu dan kawan kawan Tanam terus....Tanam lagi dan lagi.... "Menanam pohon hari ini untuk membuat bumi hidup lebih lama lagi." Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

BBKSDA Riau Gelar Latihan Evakuasi Bencana Kebakaran di Gedung Bertingkat

Pekanbaru, 28 April 2019. Latihan Evakuasi Mandiri Bencana dilakukan Balai Besar KSDA Riau melalui simulasi bencana kebakaran gedung bertingkat pada hari Jum'at, 26 April 2019. Sehari sebelum pelaksanaan kegiatan tersebut, diadakan sosialisasi cara penanggulangan bencana yang disampaikan oleh Kepala Bagian Tata Usaha, bapak Hartono dan Kepala Sub Bag Umum, bapak Eko Herry Satrio Utomo serta diikuti seluruh staf Balai Besar KSDA Riau yang berada di Pekanbaru. Materi meliputi evakuasi bencana dan cara evakuasi mandiri jika terjadi suatu bencana. Pemilihan simulasi bencana kebakaran gedung bertingkat berdasarkan pada bencana yang mungkin terjadi di Balai Besar KSDA Riau. Kegiatan diikuti oleh seluruh staf Balai Besar KSDA Riau yang ada di Pekanbaru dan diramaikan oleh staf Balai Diklat LHK Pekanbaru. Lokasi kegiatan dilakukan di kantor Balai Besar KSDA Riau, Jl. HR. Soebrantas Km. 8,5 Pekanbaru. Dalam simulasi tersebut seolah-olah terjadi bencana kebakaran dan asap membumbung di segala penjuru, kepanikan terjadi, semua segera berlari ke satu titik kumpul di lapangan depan kantor Balai Besar KSDA Riau. Terdapat 2 korban dengan luka luka lecet di bagian tangan dan benturan di bagian kepala. Keduanya digendong untuk keluar gedung dan langsung dilakukan pertolongan oleh dokter dan tim medis. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

BBTN Bentarum Gelar Latihan dan Simulasi Evakuasi Mandiri Bencana

Semitau, 26 April 2019. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TN Bentarum) mengadakan Latihan dan Simulasi Evakuasi Mandiri Bencana. Latihan ini dilaksanakan di Brigadir Pengendalian Kebakaran (BrigDalKar) TN Bentarum Kecamatan Semitau selama satu hari. Latihan dan simulasi ini merupakan salah satu latihan kesiapsiagaan dalam bentuk latihan koordinasi, komunikasi dan evakuasi dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah maupun masyarakat umum. Kepala Balai Besar TN Bentarum, Ir. Arief Mahmud M.Si menjelaskan Dalam latihan dan simulasi mengambil dua kegiatan yaitu Evakuasi mandiri banjir dan Evakuasi mandiri kebakaran. Evakuasi mandiri adalah tindakan individu/masyarakat secara mandiri, cepat, tepat, dan terarah berdasarkan langkah-langkah kerja dalam melakukan penyelamatan diri dari bencana baik bencana alam maupun non alam. Latihan dan simulasi ini melibatkan 91 orang peserta yang terdiri dari TNI, POLRI, SATPOL-PP, masyarakat dan TN Bentarum. Untuk simulasi kegiatan kebakaran Peserta melakukan simulasi berupa upaya penyelamatan masyarakat yang terjebak dalam kebakaran dan brigdalkar berperan sebagai penolong korban kebakaran. Sedangkan untuk simulasi bencana banjir dengan simulasi Upaya Penyelamatan Korban Banjir dengan adanya masyarakat yang tenggelam dan cedera kemudian diselamatkan oleh Tim PolHut, BrigDalKar, TNI, POLRI dan SatPol PP. Dalam Latihan dan Simulasi ini juga kesiapsiagaan peralatan, petugas serta koordinasi dengan Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) dan pihak lainnya menjadi penilaian dalam penerapan Evakuasi Mandiri Bencana, tambah Areif Mahmud. Peralatan seperti Monilog, Speed, alat pemadam kebakaran, alat komunikasi dan pelampung sangat penting dalam mendukung tugas penyelamatan. Hasil pelatihan tentang SAR dari Pusat Keteknikan KLHK akan dipresentasi oleh bapak Atep Ugan selaku PolHut TN Bentarum. Untuk itu diharapkan dengan adanya latihan dan simulasi ini tidak hanya bisa dalam bertindak namun bisa mengoperasikan perlengkapan yang dibutuhkan sesuai bencana yang dihadapi dalam keadaan darurat sekalipun. (26/5) Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TN Bentarum)
Baca Berita

Antisipasi El Nino 2019, Brigdalkarhut BBTN Bentarum Gelar Latihan Tanggap Darurat Perkebunan Sawit

Semitau, 25 April 2019. Guna meningkatkan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dalam upaya mengantisipasi El Nino Tahun 2019, Manggala Agni Brigdalkarhut Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TN Bentarum) bersama dengan PT. Kapuasindo Palm Industry Region Empanang, PT. Buana Tunas Sejahtera dan PT. Sentra Karya Manunggal Region Badau Kencana Group menggelar Pelatihan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan bagi Regu Tanggap Darurat Perkebunan Sawit. Kegiatan pelatihan pengendalian kebakaran hutan dan lahan bagi regu tanggap darurat perkebunan diawali di PT. Kapuasindo Palm Industry Region Empanang selama dua hari terhitung dari tanggal 22 s/d 23 April 2019 dengan jumlah peserta pelatihan sebanyak 120 orang. Kegiatan dilanjutkan di PT. Buana Tunas Sejahtera dan PT. Sentra Karya Manunggal Region Badau Kencana Group selama dua hari terhitung dari tanggal 24 s/d 25 April 2019 dengan jumlah 90 orang. Ruang lingkup kegiatan Pelatihan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan bagi Regu Tanggap Darurat Perkebunan baik Region Empanang maupun Region Badau terdiri dari Materi kelas yang meliputi “Kebijakan dan Strategi Pengendalian Karhutla”, “Dasar-Dasar Kebakaran Hutan dan Lahan”, “Manajemen Pencegahan Karhutla, Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) Melalui Cuka Kayu, Deteksi Dini”, Teknik dan Strategi Pemadaman Karhutla” dan materi praktek “Sistem Komando dan Pemadaman Gabungan”serta Simulasi Pemadaman Kebakaran. Simulasi pemadaman yang dimaksudkan untuk mengimplementasikan semua materi teori dan praktek yang terdapat selama pelatihan. Dalam simulasi, peserta dibagi ke dalam beberapa regu kemudian dilakukan penanggulangan kebakaran dengan tahapan melakukan size up, pemadaman mandiri, pemadaman gabungan dan melakukan moping up. Selain pelatihan pengendalian kebakaran hutan dan lahan, pada kegiatan ini dilakukan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dengan sasarannya adalah tokoh-tokoh masyarakat yang meliputi Tumenggung, Patih, Kepala Adat Desa maupun Dusun, Kepala Desa, Kepala Dusun, serta Muspika Lingkup Kecamatan Empanang dan Kecamatan Badau. Narasumber dan instruktur berasal dari Manggala Agni Brigdalkarhut TN Bentarum. Kepala Brigdalkarhut TN Bentarum Ade Arief menuturkan bahwa dengan dilaksanakannya kegiatan Pelatihan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan, kemampun dan keahlian Regu Tanggap Darurat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Perkebunan Sawit menjadi meningkat dan lebih siap di dalam upaya pananggulangan kebakaran hutan dan lahan di wilayah kerjanya. serta meningkatkan pengetahuan bagi masyarakat maupun tokoh masyarakat bahwa dalam hal pembukaan lahan terdapat alternatif pembukaan lahan yang ramah lingkungan melalui Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) dengan Cuka Kayu. Menurut Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah III Lanjak Gunawan Budi Hartono, S.Hut, M.Si, kegiatan pelatihan pengendalian kebakaran hutan dan lahan bagi regu tanggap pengendalian kebakaran hutan dan lahan perkebunan sawit merupakan langkah nyata yang dilakukan oleh Manggala Agni Brigdalkarhut TN Bentarum dalam meningkatkan kerjasama dengan para pihak terutama pihak swasta dan masyarakat dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan sebagai upaya kesiapsiagaan dalam mengantisipasi El Nino Tahun 2019. Kedepannya akan terus ditingkatkan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan oleh Manggala Agni Brigdalkarhut TN Bentarum baik melalui peningkatan kapasitas SDM Pengendalian Karhutla, Peningkatan deteksi dini, penyebarluasan infomasi karhutla serta peningkatan patroli dilapangan. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TN Bentarum)
Baca Berita

Partisipasi BTN Batang Gadis pada Hari Kesiapsiagaan Kebangsaan

Panyabungan, 26 April 2019. Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) mengadakan latihan evakuasi mandiri bencana yang dilaksanakan di Area kantor Balai TN Batang Gadis. Narasumber dan Instruktur berasal dari BPPD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Mandailing Natal. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Kebangsaan Tahun 2019 . Peserta mendapatkan materi berupa teori dan praktek tentang mitigasi bencana, menginisiasi rencana kontigensi dan simulasi evakuasi mandiri. partisipan yang ikut dalam HKB ini antara lain seluruh staf Balai TN Batang Gadis , Masyarakat sekitar kantor Balai TNBG, Polsek Kota Panyabungan, Danramil 13 Panyabungan, KPH Wil VIII Panyabungan. KPH Kph Wilayah IX Panyabungan ,dan Kecamatan sekitar desa Penyangga. Kegiatan ini bertujuan untuk mengkampanyekan siaga bencana dan cepat tanggap bencana untuk mengurangi resiko terhadap bencana yang terjadi. Sumber : Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Berita

Pelatihan Membatik Dengan Pewarna Alami Bagi Masyarakat di Sekitar TN Kutai

Bontang, 25 April 2019. Balai Taman Nasional Kutai bekerjasama dengan Mitra TN Kutai melakukan pelatihan membatik menggunakan pewarna alami dari buah mangrove (Rhizophora dan Xylocarpus) serta Ulin (Eusideroxylon zwageri). Kegiatan ini dilaksanakan untuk peningkatan kapasitas masyarakat yang berada di sekitar kawasan TN Kutai selama 2 hari (24 dan 25 April 2019) diikuti oleh 20 peserta yang berasal dari RT. 09 Kelurahan Bontang Baru, RT. 13 Kelurahan Bontang Kuala, Desa Sangkima dan 15 orang Dharma Wanita TN Kutai. Instruktur dalam pelatihan ini juga berasal dari masyarakat sekitar TN Kutai. Kegiatan dibuka pada tanggal 24 April oleh Kepala Balai TN Kutai Bapak Nur Patria Kurniawan, S. Hut., M.Sc. dihadiri anggota Mitra TN Kutai, Kepala Desa Sangkima, Ketua RT. 13 Bontang Kuala dan Bumi Edukasi Bogor. Hari pertama pelatihan diisi dengan materi singkat dan dilanjutkan dengan praktek membatik. Dengan antusias peserta mengikuti pelatihan dari awal hingga akhir. Dari ketiga pewarna alam yang digunakan tersebut dapat dihasilkan berbagai macam warna yang sangat menarik. Pada hari kedua dilanjutkan dengan kegiatan praktek, evaluasi dan penutupan oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TN Kutai Bapak Siswadi, S.Hut., M.Ec.Dev., MA. Dalam evaluasi, peserta cukup paham dengan proses membatik karena peserta mempraktekkan sendiri proses membatik hingga menjadi satu produk batik. Selain itu peserta sangat mengharapkan adanya pelatihan lanjutan sehingga peserta semakin mahir dalam membatik. Semoga dengan adanya pelatihan ini, masyarakat bisa tertarik untuk menekuni dunia batik dengan menggunakan pewarna alam yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Penggunaan pewarna alam yang ada di TN Kutai untuk membatik ini merupakan salah satu bukti bahwa adanya TN Kutai dapat memberi manfaat bagi masyarakat. Semoga masyarakat sejahtera dan TN Kutai tetap lestari. Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Tim Jelajah 54 TN Indonesia Bantu Petugas BTN Gunung Merbabu Evakuasi Pendaki

Selo, 28 April 2019. Tim Jelajah 54 TN Indonesia, tanggal 26-27 April 2019 melakukan pendakian di Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) melalui jalur Selo (Genting) untuk melihat trend berlomba mendaki mencapai puncak-puncak gunung. Sekaligus pembuktian pembenahan pengelolaan pendakian setelah viralnya video “kemacetan” jalur pendakian TNGMb di media sosial beberapa saat lalu. Diantaranya juga persiapan pemakaian “chip” oleh para pendaki ke Gunung Merbabu. Aktifitas pendakian ini merupakan salah satu hal yang menjadi konsen Tim Jelajah 54 TN untuk dikupas. Selain tentunya untuk melihat bentang alam gunung Merbabu yang memang sangat cantik dengan padang sabana dan panorama alam sekitarnya. Semua aktifitas Tim didampingi langsung oleh petugas Balai TN Gunung Merbabu. Saat turun menuju Pos 3 dari camp Sabana Dua, 27 April sekitar tengah hari, tepat di jalur terjal, petugas Balai TN Gunung Merbabu dan tim Jelajah 54 TN Indonesia, mendapat kabar kalau ada pendaki yang mengalami kaki terkilir cukup parah sehingga sulit untuk melanjutkan perjalanan turun. Korban seorang pria bertubuh tambun yang ditinggal rekan-rekannya yang telah turun lebih dulu. Petugas Balai TN Gunung Merbabu, relawan dan tim Jelajah 54 TN Indonesia pun dengan sigap segera menolong korban. Setelah penanganan awal, kemudian korban ditandu turun menuju kantor Resort Selo. Medan pendakian yang cukup terjal dan sempit pada beberapa bagian serta beratnya korban, sedikit menyulitkan tim evakuasi. Alhamdulillah, berkat kerjasama tim evakuasi yang baik, sebelum gelap, korban berhasil dievakuasi hingga tiba di kantor Resort Selo untuk kemudian dibawa oleh unit tim patroli Balai TN Gunung Merbabu menuju unit pelayanan kesehatan terdekat. Kemudian rekan sependakian korban diberi nasihat oleh Kepala Resort Selo, Sutopo, yang juga ikut mengevakuasi korban. "Ini merupakan rekor terberat di pendakian TN Gunung Merbabu, dengan berat korban mencapai 120 kg. Memikul korbannya sangat berat", ujar pak Sutopo di ruang kantor Resort Selo. Menurut Sutopo, apapun alasannya, tidak boleh meninggalkan rekan sepedenkian. Seharusnya, tim harus tahu keadaan semua anggotanya. "Setiap tim mendaki gunung, harus ada jiwa korsa yang diterapkan. Jangan sampai teman sakit ditinggal. Jadi kalau ada anggota tim yang sakit, salah satu atau dua yang turun melapor ke petugas. Selebihnya menemani korban sampai tim evakuasi tiba. Lebih bagus kalau anggota tim yang lain dapat memberi pertolongan pertama", lanjut pak Sutopo. Sekitar pukul 20:30 WIB, tiba-tiba kantor Resort Selo didatangi serombongan tim pendaki yang menggendong rekanya, seorang wanita berusia 19 tahun yang tidak sadarkan diri. Korban langsung dibawa ke ruangan. Medina Kamil dan Diana dari tim Jelajah 54 TN Indonesia dan petugas Balai TN Gunung Merbabu langsung menangani korban. Alhamdulillah, beberapa saat kemudian, korban sadar. Namun, masih mengalami sedikit sesak napas. Kemudian diberikan oksigen hingga korban merasa lebih lega untuk bernafas. Diketahui, ternyata korban mempunyai riwayat penyakit asma dan typus. Dan saat memulai pendakakian kondisinya kurang fit. Dan menurut rekannya, sebelum mendaki, korban hanya makan sedikit roti. "Sebelum mendaki gunung, sebaiknya pendaki harus perhatikan kondisi tubuhnya. Pastikan fisik dalam kondisi baik saat mendaki. Hindari mendaki malam hari, karena medan pendakian tidak terlihat. Butuh konsentrasi lebih. Oksigen juga lebih tipis, dimana saat malam hari tumbuhan biasanya mengeluarkan gas karbondioksida," ujar Medina Kamil di kantor Resor Selo. Ayo jadi pendaki gunung yang cerdas, bertanggung jawab, baik dan benar. Utamakan keamanan dan keselamatan serta ikuti aturan yag berlaku, baik lisan maupun tulisan saat hendak mendaki gunung. Gunakan jalur resmi pendakakian dan tidak menerabas batas pelestarian alam. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Merbabu dan Tim Jelajah 54 TN Indonesia
Baca Berita

KLHK Provinsi Papua Bersiaga

Jayapura, 26 April 2019. Balai Besar KSDA Papua bersama UPT KLHK Provinsi Papua, yang terdiri dari BPHP Wilayah XV Jayapura, BPKH Wilayah X Jayapura, BPDAS Memberamo, dan Seksi Wilayah III Gakkum Jayapura, melaksanakan kegiatan Latihan Evakuasi Mandiri Bencana pada Jumat (26/4). Peserta kegiatan terdiri atas karyawan dan karyawati UPT KLHK Provinsi Papua dan Saka Wanabhakti. Adapun instruktur adalah ahli dari Badan Nasional Penanggunalangan Bencana Papua Provinsi Papua. Pelaksanaan kegiatan ini didasarkan pada Surat Edaran Sekretariat Jenderal KLHK Nomor: SE.7/Setjen/Roum?Set.0/3/2019 tentang Latihan Evakuasi Mandiri Bencana. Tujuannya membangun kesadaran dan kewaspadaan jajaran Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup KLHK terhadap bencana. Dalam surat edaran tersebut diterakan lima jenis latihan evakuasi bencana, yang pelaksanaannya ditentukan berdasarkan kerawanan di wilayah masing-masing P3E dan UPT KLHK. Dalam hal ini, UPT KLHK Provinsi Papua melaksanakan latihan evakuasi mandiri untuk bencana gempa bumi, mengingat beberapa waktu ini Papua, khususnya Kota Jayapura, termasuk rawan terjadi gempa bumi, meskipun dalam skala kecil. Dalam situs Riset Pascasarjana ITB, sebuah tulisan yang dirilis pada 19 Januari 2017 menyatakan, Papua merupakan daerah dengan kondisi geologi yang rumit akibat pertemuan beberapa lempeng. Setidaknya terdapat empat lempeng yang saling berinteraksi hingga saat ini, yaitu Lempeng Pasifik, Eurasia, Filipina, dan Australia. Hal ini membuat Papua rentan terhadap gempa. Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar KSDA Papua, Abdul Azis Bakry, S. Hut., M. Si., mengatakan, "Latihan evakuasi bencana ini penting, mengingat Papua cukup rentan terhadap bencana. Kita di lingkup UPT KLHK dan masyarakat umum wajib memiliki pengetahuan yang baik terhadap bencana, memahami praktik evakuasi, juga langkah-langkah mitigasinya." Peserta kegiatan terdiri atas karyawan dan karyawati UPT KLHK Provinsi Papua dan Saka Wanabhakti. Adapun instruktur kegiatan adalah ahli mitigasi bencana dari Badan Nasional Penanggunalangan Bencana Papua Provinsi Papua. Di akhir kegiatan, semua peserta melakukan deklarasi yang dipimpin Kepala BPHP wilayah XV. "Kita ingin selamat. Kita jaga alam, alam jaga kita. Seluruh karyawan dan karyawati UPT KLHK Provinsi Papua bersiaga. Kitorang siap untuk selamat." Sumber : Balai Besar KSDA Papua Call Center Balai Besar KSDA Papua : 0823 - 9802 - 9978
Baca Berita

Supervisi Kepala Balai TN Matalawa di Tiga Desa Penyangga

Waingapu 27 April 2019. Guna meningkatkan perekonomian masyarakat desa penyangga, Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) terus melakukan inovasi dan kolaborasi dengan berbagai stakeholder salah satunya dengan masyarakat. keberhasilan Balai TN Matalawa dalam meningkatkan perekonomian masyarakat didukung oleh pendampingan secara intensif ke kelompok masyarakat melalui pemberian pelatihan dan serangkaian kegiatan peningkatan usaha ekonomi produktif dengan mengusung potensi yang di miliki Desa tersebut. Kali ini Kepala Balai TN Matalawa Ir. Memen Suparman, MM melakukan kunjungan kerja sekaligus melakukan supervisi kegiatan pemberdayaan masyarakat di wilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional II Lewa. Kunjungan ini difokuskan di tiga desa, diantaranya: Padiratana, Kambata Wundut dan Bidipraing. Kunjungan ini didampingi oleh kepala SPTN 2 Lewa Judy Aries Mulik, STP serta beberapa petugas Balai TN Matalawa. Adapun bentuk usaha ekonomi produktif yang berhasil dikembangkan hingga saat ini, diantaranya adalah usaha ternak itik petelur di Desa Padiratana, pembuatan jamu tradisional di Desa Kambata Wundut, pembuatan aneka keripik di Desa Bidipraing. Program pemberdayaan ini mendapat perhatian khusus dari Balai TN Matalawa mengingat tekad yang kuat dari Balai akan peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Penyangga . Pada kunjungan kerjanya Kepala Balai berdiskusi secara langsung dengan kelompok masyarakat terhadap capaian usaha dan rencana pengembangan kedepan dan memberi motivasi kepada kelompok agar terus aktif dalam membangun usaha yang telah dicapai saat ini dan Kepala Balai akan terus mendukung pengembangan usaha-usaha turunannya, baik melalui pendampingan dan membantu dalam pemasaran produk-produk hasil olahan masyarakat. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanahdaru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Peringatan Hari Bumi 2019, Balai TN Gunung Rinjani Resmikan Penangkaran Rusa

Mataram, 25 April 2019.- Kegiatan peringatan Hari Bumi 2019 bersamaan dengan peresmian penangkaran rusa didakan di desa Bebidas Kecamatan Wanasaba Kabupaten Lombok Timur pada hari Rabu tanggal 24 April 2019, hadir dalam acara tersebut Kepala Balai TNGR, Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH), Kepala BPDAS Dodokan Moyosari, Ketua DPH Geopark Rinjani, BLM DPS Kemendes, Universitas Mataram, BKSDA NTB, Dinas Kabupaten Lombok Timur dan Provinsi NTB, Polsek Wanasaba, Danramil, BTN Tambora, KPH Rinjani Timur, Balai Promosi Pariwisata Daerah NTB, kalangan masyarakat sekitar serta Instansi terkait. Kegiatan berlangsung mulai pukul 11.00 Wita bertempat di lokasi penangkaran rusa, Pada acara ini dilakukan peresmian penangkaran rusa, pembagian bibit buah untuk masyarakat dan pelepasan satwa liar ke alam bebas. Peresmian penangkaran rusa ditandai dengan penyerahan izin penangkaran yang diberikan oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Drh. Indra Eksploitasia kepada pengurus penangkaran rusa sekaligus secara simbolis melakukan pelepasan 3 ekor rusa ke dalam kandang penangkaran. Pada kegiatan tersebut Kepala Balai TNGR Ir. Sudiyono, M.Si, menyampaikan tentang pentingnya menjaga satwa khususnya rusa yang ada di pulau Lombok dimana semakin kedepan jika tidak dijaga maka akan terjadi kepunahan dan generasi yang akan datang tidak akan mengenal rusa secara langsung. Dijelaskan lebih lanjut bahwa pemilihan rusa untuk penangkaran dikarenakan hewan tersebut merupakan lambang Taman Nasional Gunung Rinjani sekaligus menjadi lambang provinsi NTB oleh karenanya keberadaannya harus tetap dipertahankan. Rusa menjadi hewan populasi yang umum di jumpai pada medio 80-an masyarakat menjadikannya sebagai dendeng untuk diperjual belikan dan sebagai oleh-oleh bagi orang yang berkunjung ke pulau Lombok pada saat itu. Pemanfaatan rusa dimaksudkan untuk konservasi dan pemberdayaan masyarakat sekitar, masyarakat sekitar yang mempunyai hewan ternak berupa sapi sudah mengarah pada sisi kekayaan bukan lagi sebagai penghidupan untuk kebutuhan pokok, semakin banyak sapi yang dimiliki maka kebutuhan rumput untuk pakan ternak semakin banyak dengan demikian kemungkinan perambahan areal penanaman rumput semakin luas. Jika masyarakat beternak rusa maka areal penanaman rumput bisa dikurangi, dari sisi ekonomis pun rusa memiliki daya jual tinggi dikarenakan kandungan gizi dan protein didalamnya. Manfaat lainnya, penangkaran rusa akan meningkatkan populasinya yang bisa dimanfaatkan sebagai supply untuk taman buru di Pulau Moyo, Nusa Tenggara Barat. Namun demikian terdapat beberapa kendala dari sisi pengaturan pemasarannya terutama untuk membedakan rusa hasil penangkaran dengan rusa liar yang masih asli. Pada kesempatan yang sama BPDAS Dodokan Moyosari memberikan bantuan bibit MPTS ( multi purpose tree species ) berupa 350 srikaya, 350 alpokat dan 300 sukun yang diberikan kepada masyarakat kelompok sadar lingkungan Bebidas Lestari dan kelompok sadar Wisata Rinjani, bantuan tersebut langsung diserahkan oleh kepala BPDAS Dodokan Moyosari Ir. Djarot Prihambodo, M.Si kepada perwakilan kelompok masyarakat sadar lingkungan dengan bantuan tersebut diharapkan akan memberikan dampak positif baik dari segi ekonomi maupun kelestarian lingkungan. Kegiatan terakhir dari serangkaian acara yaitu melakukan pelepasliaran satwa kedalam hutan bertempat di Kawasan pemandian air panas Sebau, adapun jenis satwa yang dilepas terdiri dari 3 ekor Musang Rinjani (Paradoxsurus Hermaproditus Rinjanicus), 2 burung Nuri Dada Merah (Eclectus Roratus ) dan 20 burung Kacamata Gunung (Zoosterops Montanus) dilepas dari sangkarnya untuk dikembalikan pada habitat aslinya ke dalam hutan. Pada saat dilepas burung tersebut langsung terbang ke pohon begitupun musang telah menemukan habitat aslinya. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Berita

Masyarakat Mitra Polhut SM Kuala Lupak sebagai Media Komunikasi Produktif

Kuala Lupak, 24 APRIL 2019 – Pengelolaan kawasan konservasi khususnya Suaka Margasatwa (SM) Kuala Lupak tentunya tidak terlepas dari peran serta masyarakat di sekitar kawasan hutan tersebut. Salah satu bentuk upaya perlindungan dan pelestarian kawasan adalah Pembentukan Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Kegiatan ini adalah wujud keseriusan Balai KSDA Kalimantan Selatan terhadap masyarakat desa sekitar kawasan konservasi khususnya Desa Kuala Lupak untuk bersama-sama melindungi dan mengelola kawasan SM Kuala Lupak. Kegiatan Pembentukan Masyarakat Mitra Polhut diikuti oleh 30 orang calon anggota MMP yang berasal dari Desa Kuala Lupak. Dasar pembentukan MMP ini, selain UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang KSDAE, tertera pada pasal 4 dan pasal 37 terkait keterlibatan masyarakat dalam konservasi KSDAE. Juga merujuk pada Permenhut 56 Tahun 2014 tentang Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Fungsi dan tugasnya adalah melaksanakan perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan pada kawasan konservasi khususnya SM Kuala Lupak. Acara pembukaan dihadiri oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr.Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc, yang didampingi Kepala SKW II Banjarbaru, M. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si dan Kepala Resort SM Kuala Lupak dan SM Pulau Kaget Ahmad Barkati, serta Tim Panitia Balai KSDA Kalimantan Selatan. Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Danramil 1005-11 Tabunganen, Peltu A. F. Tony Gais beserta Babinsa Desa Kuala Lupak, Bahruddin serta perwakilan masyarakat desa. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan sendiri, sejauh ini terus mendorong pelibatkan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi membantu dalam pengelolaan kawasan. Hal ini mengingat pentingnya kawasan konservasi sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan dan sebagai habitat bagi satwa liar terutama satwa liar yang dilindungi undang-undang. Selain perlindungan kehidupan, kawasan konservasi juga memberikan sumber genetik atau plasma nutfah yang berlimpah serta dapat dikembangkan untuk kesejahteraan dan kelangsungan hidup umat manusia. Dalam perjalanannya kawasan konservasi juga memberikan manfaat bagi manusia secara umum, khususnya masyarakat Desa Kuala Lupak. Manfaat yang dapat diambil antara lain adalah hasil hutan bukan kayu dan jasa ekowisata. Kepala Desa Kuala Lupak, Junaidi, sangat menyambut baik dan sangat mendukung kegiatan-kegiatan dalam upaya perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi sesuai peraturan perundangan yang berlaku dengan pelibatan masyarakat. Peranan desa dan masyarakatnya sangat penting dalam upaya pelestarian kawasan konservasi karena desa dan masyarakat yang berdekatan akan selalu kontak langsung dengan kawasan konservasi. Kegiatan lanjutan adalah pembentukan dan pemilihan ketua dan sekretaris MMP SM Kuala Lupak. Terpilih sebagai ketua adalah Abdullah dan Suhardi sebagai sekretaris. Kepengurusan ini dikukuhkan langsung oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan dengan harapan MMP ini dapat membantu upaya pelestarian kawasan SM Kuala Lupak dan memberikan pengetahuan dan informasi tentang fungsi dan tujuan pelestarian kawasan konservasi. MMP menjadi media komunikasi produktif antara BKSDA dengan masyarakat setempat untuk perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan konservasi. Hal ini juga sejalan dengan arahan Dirjen KSDAE Bapak Ir. Wiratno, M.Sc pada Tagline KSDAE 2019 yang salah satunya adalah bekerja bersama masyarakat setempat. (jrz) Sumber : Cecep Budiarto, S.Hut - Penyuluh Kehutanan SKW II Banjarbaru Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Kunjungan Tim Karantina Pertanian Belawan ke TWA Sibolangit

Medan, 24 April 2019. Tim dokter hewan Karantina Pertanian Belawan mengunjungi TWA Sibolangit guna melaksanakan pemerikasaan kesehatan dan pemantauan kondisi 28 individu burung dilindungi yang dititipkan di PPS Sibolangit, pada Selasa 16 April 2019. Sebagaimana yang telah diberitakan sebelumnya (Red., 16 April 2019), bahwa 28 (dua puluh delapan) individu burung dilindungi, yaitu : 23 (dua puluh tiga) individu burung Nuri Ambon (Alisterus amboinensis) termasuk dalam Appendix II CITES, 1 (satu) individu Burung Nuri Kepala Hitam (Lorius lory)termasuk dalam Appencix II CITES serta 4 (empat) individu burung Kakaktua Jambul Kuning (Cacatua sulohurea) tercantum dalam Appendix I CITES, berhasil diselamatkan oleh Tim Patroli Laut KPP Bea Cukai Belawan pada saat melakukan patroli rutin pengawasan antar pulau atas barang tertentu di wilayah perairan Belawan, pada Sabtu 13 April 2019, sekitar pukul 22.30 WIB. Dalam Press Release Kepala Kantor Pelayanan Bea Cukai Belawan, Haryo Limanseto, yang didampingi Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For., dan Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Belawan, Drh. Bambang Haryanto, MM., pada Kamis 15 April 2019, di Aula KPP Bea Cukai Tipe Madya Pabean Belawan, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dihadapan tamu dan undangan dari TNI, POLRI, Balai Pengamanan dan Gakkum LHK Wilayah Sumatera, Kejaksaan Negeri Belawan, media cetak, media elektronik dan media online, menyampaikan bahwa ke 28 individu burung dilindungi tersebut dibawa ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) di TWA Sibolangit untuk mendapatkan perawatan serta rehabilitasi sebelum dilepasliarkan. Nantinya burung-burung tersebut akan ditranslokasi dan di lepasliarkan ke habitat alaminya di wilayah Timur Indonesia. Kehadiran Tim dokter hewan karantina Pertanian Belawan di PPS Sibolangit adalah dalam rangka melakukan pemeriksaan kesehatan serta pengambilan sampel untuk keperluan pemeriksaan laboratorium guna menjamin kondisi kesehatan satwa serta memastikan bahwa ke 28 burung dilindungi tersebut bebas dari penyakit, sehingga tidak mengganggu satwa-satwa lainnya yang ada di PPS Sibolangit. Selama di lokasi PPS Sibolangit, Tim dokter hewan Karantina Pertanian Belawan didampingi tim dokter PPS Sibolangit serta staf Resort Konservasi CA./TWA. Sibolangit. Sumber : Ade Yunita - Balai Besar KSDA Sumatera Utara Press Release Penyelamatan Satwa Dilindungi Tim Dokter Karantina dan Dokter Hewan PPS Sibolangit
Baca Berita

Latihan Evakuasi Mandiri Bencana Balai Taman Nasional Karimunjawa “SIAP SELAMAT”

Semarang, 26 April 2019. Balai Taman Nasional Karimunjawa (TNKj) mengadakan latihan evakuasi mandiri bencana yang dilaksanakan di Ballroom Ramayana Hotel Patrajasa, Semarang. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Balai TNKj Agus Prabowo, S.H., M.Si. Pada kesempatan ini, Kepala balai menyampaikan bahwa kegiatan yang baru pertama kali dilaksanakan dalam rangka hari kesiapsiagaan bencana Tahun 2019 mengharapkan peserta bisa membagikan ilmunya dan selalu siap siaga terhadap bencana yang setiap saat bisa terjadi, meskipun pada kenyataannya kita semua tidak pernah berharap akan terjadi bencana. Narasumber dan Instruktur berasal dari Forum Peduli Bencana dan BPPD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kota Semarang. Adapun peserta latihan adalah seluruh staf Balai TNKj baik Struktural, Non Struktural, Polhut, PEH dan Penyuluh Kehutanan, yang berjumlah lebih kurang 80 orang. Sedangkan peserta dari luar TNKj adalah WCS, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jateng serta BPHLHK Wilayah Jabalnusra. Latihan ini dilaksanakan atas dasar arahan Presiden Republik Indonesia pada Rakornas Penanggulangan Bencana TA 2019 di Surabaya “agar edukasi kebencanaan harus dimulai tahun ini, terutama di daerah rawan bencana, kepada sekolah melalui guru dan kepada masyarakat melalui para pemuka agama serta melaksanakan latihan simulasi penanganan bencana secara berkala dan berkesinambungan". Atas dasar hal tersebut, melalui Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor SE.7/Setjen/Roumm/Set.0/3/2019 tanggal 19 Maret 2019 tentang Latihan Evakuasi Mandiri Bencana, menghimbau untuk mengadakan latihan evakuasi mandiri bencana serentak pada tanggal 26 April 2019 pada jam 10.00-12.00 waktu setempat, ditempat masing-masing/kantor dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Peserta mendapatkan materi berupa teori dan praktek tentang mitigasi bencana, menginisiasi rencana kontigensi dan simulasi evakuasi mandiri. Pemaparan materi teori dilengkapi dengan video simulasi bagaimana menyelamatkan diri ketika terjadi bencana. Simulasi evakuasi mandiri bencana ini menjadi seru ketika dipraktekkan seolah-olah terjadi bencana. Para peserta terlihat bersemangat mengikuti materi baik teori maupun praktek. Dengan terlaksananya latihan evakuasi mendiri bencana ini, diharapkan dapat membangun awarenes/kesadaran dan kewaspadaan seluruh pegawai lingkup Balai Taman Nasional Karimunjawa terhadap bencana. “SIAP UNTUK SELAMAT.” Sumber : Balai Taman Nasional Karimunjawa - 2019
Baca Berita

Latihan Evakuasi Mandiri Bencana KLHK Sumatera Utara

Medan, 26 April 2019.Sehubungan dengan Surat Edaran Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : SE. 7/Setjen/Roum/Set.0/3/2019 tanggal 19 Maret 2019 tentang Latihan Evakuasi Mandiri Bencana, pada Jumat 26 April 2019, bertempat di halaman Balai Besar KSDA Sumatera Utara dilaksanakan kegiatan Latihan Evakuasi Mandiri Bencana untuk UPT lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Propinsi Sumatera Utara. Kegiatan ini mengacu pada UU No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dimana paradigma penanggulangan bencana telah berubah dari perspektif responsif ke preventif. Kegiatan diikuti oleh 40 orang pegawai yang berasal dari UPT lingkup Kementerian LHK Propinsi Sumatera Utara, diantaranya : Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung Wampu Sei Ular, Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Wilayah Sumatera, Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum LHK Wilayah Sumatera, dan Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah I Medan, dengan narasumber berasal dari Dinas Pencegahan dan Pemadaman Kebakaran Pemko Medan. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara selaku Koordinator Wilayah UPT lingkup Kementerian LHK Propinsi Sumatera Utara, diwakili Kepala Bagian Tata Usaha, Teguh Setiawan, S.Hut., dalam arahannya menyampaikan bahwa sesuai dengan petunjuk Sekretaris Jenderal Kementerian LHK agar seluruh UPT lingkup Kementerian LHK melaksanakan kegiatan latihan evakuasi mandiri bencana ditempat masing-masing, yang dilaksanakan secara serentak pada tanggal 26 April 2019, dan khusus untuk Propinsi Sumatera Utara mengangkat tema Evakuasi Mandiri Bencana Kebakaran. “Kegiatan ini sebagai edukasi dan untuk membangun awarenes/kesadaran dan kewaspadaan jajaran UPT Lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan terhadap bencana,” ujar Teguh Setiawan. Latihan evakuasi mandiri bencana kebakaran dibagi 2 sesi. Sesi pertama adalah materi tentang kebakaran yang sering terjadi di perkatoran, pemukiman disampaikan oleh Kepala Sub Bagian Perencanaan, GEMA. H.I.S.A., ST. Sesi kedua adalah simulasi pencegahan dan pemadaman kebakaran oleh Tim dari Dinas Pencegahan Pemadaman Kebakaran Pemko Medan. Simulasi pemadaman yang dilakukan adalah pemadaman api dengan karung goni, APAR (alat pemadam api ringan) dan air (mobil pemadam kebakaran). Disampaikan juga cara-cara bagaimana mengahadapi tabung gas yang terbakar. Intinya bahwa mencegah terjadinya kabakaran lebih baik daripada memadamkan, karena akan meminimalisir korban dan kerugian. Sumber: Evan - Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 5.713–5.728 dari 11.140 publikasi