Minggu, 26 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

ECOPRINT Ekplorasi Keindahan Cetakan Alam

Bontang, 30 April 2019. Balai TN Kutai bersama Mitra TNK kembali melaksanakan pelatihan peningkatan kapasitas bagi masyarakat sekitar. Mengambil tema pelatihan pembuatan ecoprint, Balai TN Kutai dan Mitra TN Kutai selaku pihak panitia penyelenggara mengundang masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan TN Kutai untuk ikut serta dalam kegiatan ini. Acara pelatihan dibuka oleh Kepala Balai TN Kutai, yang dalam sambutannya menyampaikan pesan bahwa setiap ilmu yang dipelajari pasti ada manfaatnya dan rejeki dari setiap orang tidak akan pernah tertukar, bergantung dari implementasi dari masing-masing peserta setelah mengikuti pelatihan, apakah akan ditekuni atau hanya sekedar angin lalu saja. Ecoprint sendiri adalah teknik memberi pola pada bahan atau kain dengan menggunakan bahan alami seperti daun dan bunga. Kain yang baik untuk dijadikan bahan pembuatan ecoprint biasanya berjenis katun dan sutera. Narasumber kegiatan ini adalah Ibu Misrita seorang dosen dari Universitas Palangkaraya Kalimantan Tengah dan juga komunitas penggiat ecoprint. Dalam paparannya beliau menjelaskan bahwa Ecoprint memiliki perbedaan dengan batik, dimana untuk membuat sebuah batik kita harus membuat gambar polanya terlebih dahulu dan pola ini cenderung bisa sama satu dengan yang lainnya, sedangkan pada ecoprint polanya sangat bergantung pada teknik menyusun daun dan bunga pada kain menjadi sebuah pola / corak yang indah. Uniknya nih corak-corak tersebut pasti akan berbeda satu sama lain bergantung imajinasi si pembuat. So...menarik kan Pada kegiatan kali ini, teknik yang diajarkan ada 2, yaitu : Pada teknik ini langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencelupkan kain ke dalam air tawar hingga basah, kemudian untuk daun atau bunga yang akan dijadikan pola, dicelupkan juga ke dalam air yang telah diberi 'tunjung' atau karat besi. Langkah selanjutnya adalah menyusun daun dan bunga ke atas kain kemudian di pounding atau dipukul - pukul sekedarnya saja. Fungsi dari pukulan pada teknik ini hanya untuk memastikan daun atau bunga menempel dan tidak bergeser pada kain sebelum dilakukan proses pengikatan. Setelah diikat dengan kuat, kain dikukus selama kurang lebih 1,5 jam. Tujuan dari pengukusan ini adalah untuk mengeluarkan corak dan warna dari daun dan bunga yang telah kita susun. Setelah dikukus kain kemudian dijemur ditempat yang teduh dan tidak boleh terkena matahari langsung. Untuk aplikasi teknik ini, masing-masing peserta diberi kain 1 lembar kaos polos berwarna putih, bahan yang akan digunakan berupa daun atau bunga terlebih dahulu dicelup ke dalam air yang telah diberi tunjung, kemudian disusun diatas bahan yang telah dibagikan. Daun dan bunga tersebut lalu dipukul-pukul menggunakan palu karet maupun alat pukul lainnya, tujuan pemukulan pada teknik ini adalah untuk mengeluarkan corak dan warna daun dan bunga yang kita gunakan agar menempel pada kain yang kemudian dibiarkan selama 1 minggu. Langkah terakhir dari teknik ini adalah mencelupkan kain / kaos tersebut ke dalam air yang berisi tawas selama 5 menit hingga benar - benar terendam. Yang harus diingat, pada kedua teknik ecoprint ini adalah kain atau bahan kain katun yang akan digunakan harus diberi perlakuan terlebih dahulu berupa perebusan dengan menggunakan tawas atau yang lebih dikenal dengan proses mordan selama 2 jam, didinginkan semalaman kemudian dikeringkan. Sedangkan untuk kain sutera bisa langsung digunakan tanpa perlakuan. Setelah selesai mengaplikasikan kedua teknik tersebut, masing-masing peserta menampilkan hasil karya mereka. Tampaklah warna dan corak indah cetakan alam tersebut, sebagai bukti keagungan Tuhan sebagai sebuah karya seni bernilai jual tinggi. Sumber: Balai TN Kutai
Baca Berita

Dampak Pendakian Minim Persiapan Fisik dan Mental : Sehari, 7 Pendaki Tumbang di Gunung Merbabu

Selo, 2 Mei 2019. Suasana pos registrasi pendakian dan kantor Resort Selo Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) terlihat cukup sibuk di malam yang baru saja beranjak naik. Kesibukan terlihat saat mendata para pendaki yang baru turun dan akan naik dari dan menuju puncak Gunung Merbabu. Maklum, hari itu, Minggu (28/04/2019) merupakan “weekend” terakhir sebelum memasuki bulan Ramadhan. Jadi, tidak heran kalau cukup banyak pendaki yang datang untuk mendaki sejak sehari sebelumnya. Kumandang adzan maghrib belum lama berlalu, saat tiba-tiba petugas Balai TN Gunung Merbabu Resort Selo mendapat informasi kalau ada dua pendaki wanita yang mengalami hipotermia (penurunan suhu tubuh secara drastis, hingga dibawah 35 derajat celcius). Terpapar cuaca dingin yang cukup lama, hujan, angin dan ditambah kondisi tubuh letih serta asupan gizi yang kurang merupakan salah satu pemicu pendaki dapat terjangkit hipotermia. Juga Termasuk persiapan dan perlengkapan yang manajemennya kurang baik dan kurang tepat. Saat itu kedua korban sudah mulai menunjukkan gejala penurunan kesadaran, yakni seperti orang yang kesurupan. Dengan sigap petugas taman nasional, relawan dan tim Jelajah 54 Taman Nasional Indonesia yang saat itu masih berada di kantor Resort Selo segera merespon membantu penanganan korban dengan cepat. Dengan membawanya ke dalam ruangan kantor yang lebih hangat. Seluruh pakaian korban yang basah kami tanggalkan dan kemudian kami ganti dengan yang kering. Ditambah lagi dengan memakaikan jaket, “thermal blanket” dan “sleeping bag” serta air hangat yang dimasukkan dalam “hot pack” untuk menghangatkan tubuh korban. Kedua korban juga kami sugesti agar tenang dan membimbingnya dengan berdoa dan membaca beberapa ayat suci Alquran hingga keduanya sadar kembali. Kami bergantian berupaya menjaga korban tetap sadar dengan mengajak korban untuk berbicara, memanggil namanya dan memberikan motivasi serta memberikan ketenangan. Tidak berapa lama setelah kedua korban tersadarkan dan kembali ke “basecamp” pendakian untuk makan serta beristirahat, kami kembali mendapat kabar serupa, bahwa ada lagi pendaki wanita dengan gejala yang sama. Kemudian berturut-turut ada lagi informasi, tiga korban yang semuanya juga wanita. Satu pendaki lagi terkena gejala “asthma”. Sedangkan dua pendaki lainnya terserang hipotermia hingga penurunan kesadaran, berhalusinasi dan mengalami histeria. Korban bicaranya melantur, teriak-teriak, berontak, lalu mengancam ingin telanjang membuka bajunya sendiri dan kemudian tubuh menegang. Seolah-olah bukan dirinya sendiri. Salah satu korban terjangkit hipotermia bernama Yola, dievakuasi dari HM 6 atau sekitar 600 meter dari kantor Resort Selo. Yola terus meracau, teriak-teriak, tertawa dan berontak saat dievakuasi. Sedangkan Vindy jatuh pingsan begitu tiba di depan pos registrasi pendakian, sebelum kemudian sadar, berteriak histeris dan meracau. Korban yang bernama Vindi dan Yola ini cukup lama kami tangani. Sekitar 3-4 jam sejak korban kami evakuasi ke dalam ruang kantor Resort Selo. Setidaknya hingga pukul setengah satu dini hari. Yola akhirnya sadarkan diri dan dapat kembali mengenali rekan sependakiannya dan bisa makan. Sedangkan Vindi yang sudah sadar lebih dulu telah diantar pulang ke tempat tinggalnya di daerah Boyolali oleh Agung dari Balai TN Gunung Merbabu dan dua anggota tim Jelajah 54 TN Indonesia. Untuk korban yang terjangkit “asthma”, alhamdulillah juga dapat tertangani dengan baik. Jika ditambah dengan korban sehari sebelumnya (27/04/2019), pendaki pria bertubuh tambun dengan berat sekitar 120 kg yang kakinya terkilir hingga harus ditandu karena sulit untuk melanjutkan kembali perjalanan turun dari Sabana 1 dan pendaki wanita yang terjangkit “ashma”, total mencapai 9 orang pendaki dengan 3 kasus: kaki terkilir hingga sulit berjalan, “asthma” dan hipotermia. Setelah kami bicara dengan teman korban, sejak siang kawasan sekitar puncak Gunung Merbabu gerimis dan berkabut. Kemudian turun hujan cukup besar. Setidaknya hujan turun terus menerus dari pos 3 hingga ke bawah. Asupan makanan dan minuman kurang. Fisik sudah mulai lelah. Ditambah pakaian ganti korban yang berada dalam ransel semuanya basah kehujanan. Melihat kejadian di Gunung Mebabu, saat dihubungi melalui telpon, dokter M. Iqbal El Mubarak, Ketua Bidang K3 “Mountaineering” (Kesehatan, Keamanan dan Keselamatan) “Federasi Mountaineering Indonesia” (FMI) mengatakan penanganan sehari-hari di tempat tersebut harus terbiasa (handling emergency cases for the day to day must be good ). Perlunya komunitas yang sudah terbiasa atau terlatih dengan sebuah pertolongan pertama yang terpadu. Dibuatnya “emergency plan” dalam kasus pertolongan baik dengan jumlah sedikit dan banyak. Masyarakat, pengelola wisata gunung dan petugas kesehatan yang tinggal di area wisata pegunungan perlu mempelajari penanganan kegawatdaruratan yang terpadu. Sedangkan Plh Kepala Balai TN Gunung Merbabu, Johan Setiawan menghimbau kepada calon pendaki untuk mampu mengukur diri sendiri sebelum pendakian, apakah dalam keadaan fit atau tidak. Jangan memaksakan diri jika memang tidak fit. Pendaki harus mempersiapkan fisik, logistik dan perlengkapan yg menjamin safety pendaki itu sendiri. Jadi, untuk sobat jelajah dan konservasi, ayo jadi pendaki gunung yang cerdas, baik dan benar serta bertanggung jawab. Persiapkan perlengkapan, perbekalan, mental dan fisik dengan baik sebelum mendaki. Cek dan ricek kembali semua perlengkapan. Ukur kemampuan diri dalam pendakian. Bila sudah merasa kurang mampu, jangan paksakan melanjutkan pendakian ke puncak. Ingat, bahwa masih diperlukan energi untuk perjalanan turun. Lakukan riset atau cari informasi tentang gunung yang akan didaki dan pelajari semuanya. Jaga kelesetarian alam dan tidak menerabas batas pelestariannya. Gunakan selalu jalur resmi, khususnya dalam kawasan konservasi seperti taman nasional dan taman wisata alam. Sumber : Tim Jelajah 54 TN Indonesia dan Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Berita

Rangkaian Kegiatan Hari Bumi BKSDA Sulteng

Palu, 2 Mei 2019. Balai KSDA Sulawesi Tengah pada hari Rabu tanggal 24 April 2019 melakukan kegiatan pembinaan pelestarian satwa yang dilakukan oleh beberapa mitra diantaranya PT. Dongi Senoro LNG, PT. Panca Amara Utama dan PT. Pertamina EP MGDP. Dalam kegiatan pembinaan tersebut dilakukan pula pelepasliaran satwa (burung maleo) sebanyak 17 ekor yang merupakan hasil kelola beberapa mitra tersebut, di Kabupaten Banggai - Sulawesi Tengah. Selanjutnya pada tanggal 25 April 2019 Kepala Balai KSDA Sulawesi Tengah juga melakukan kunjungan / koordinasi kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai dalam hal ini Bupati Banggai (H. Herwin Yatim yang didampingi Asisten I), dan Kapolres Banggai (AKBP Moh. Saleh) serta Wakil Bupati Banggai Laut (Ibu Hj. Tuti). Pertemuan tersebut membahas mengenai upaya penertiban pengelolaan kawasan konservasi dalam hal ini penyelesaian penyerobotan lahan / perambahan di kawasan SM. Lombuyan serta penanganan peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar di wilayah Kab. Banggai dan Banggai Laut. Setelah kunjungan tersebut kemudian dilanjutkan dengan pengecekan kebun kelapa sawit (yang dikelola oleh PT. Kurnia Luwuk Sejati) yang masuk dalam kawasan SM. Bakiriang. Dalam kunjungan ini dilakukan penandatanganan bersama pengecekan administrasi dan lapangan serta permasalahan kawasan SM. Bakiriang antara Pihak Balai KSDA Sulawesi Tengah dan Pihak PT. Kurnia Luwuk Sejati. Serangkaian kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April 2019 kemarin. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

BBKSDA Sumut Apresiasi Keberhasilan Bea Cukai Kualanamu dan AVSEC Angkasa Pura II Gagalkan Penyelundupan Sisik Trenggiling

Medan, 1 Mei 2019. Tim Penindakan Bea Cukai Kualanamu bekerjasama dengan Aviation Security (AVSEC) Angkasa Pura II berhasil menggagalkan upaya penyelundupan bagian-bagian tubuh dari satwa dilindungi, yaitu sisik kulit trenggiling yang tidak dilengkapi dengan dokumen yang sah dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pada Sabtu 20 April 2019, di terminal keberangkatan Internasional Bandara Kuala Namu. Sisik kulit trenggiling sebanyak 44 (empat puluh empat) keping dibawa oleh 2 (dua) orang penumpang dengan inisial Sdr. XY (28) dan Sdr. FP (33) yang akan berangkat ke Guangzhou melalui Malaysia, paparan Bagus Nugroho Tamtomo Putro, Kepala Kantor KPPBC Tipe Madya Pabean B Kualanamu, dalam Press Conference pada Senin, 29 April 2019. Penggagalan ini berhasil dilakukan, lanjut Bagus Nugroho, bermula pada saat pemeriksaan barang bawaan kedua penumpang tersebut dengan menggunakan mesin pemindai X-ray di Main Gate Terminal keberangkatan Internasional Bandara Kuala Namu oleh AVSEC Angkasa Pura II. Atas pemeriksaan tersebut AVSEC Angkasa Pura II melakukan koordinasi dengan Tim Penindakan Bea Cukai Kuala Namu untuk dilakukan pemeriksaan mendalam secara bersama. “Pelaku bila terbukti benar, maka melakukan pelanggaran tindak pidana pasal 102A huruf (e) Undang-undang No. 17 Tahun 2006 tentang Kepabeanan dan pasal 21 ayat (2) huruf d jo. Pasal 40 ayat (2) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya,” ujar Bagus Nugroho. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, yang diwakili Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan, Suyono, SH., menyambut baik dan mengapresiasi keberhasilan Tim Penindakan Bea Cukai Kuala Namu bersama AVSEC Angkasa Pura II menggagalkan upaya penyelundupan bagian-bagian tubuh dari satwa dilindungi, yaitu 44 sisik kulit trenggiling. Selanjutnya untuk proses penegakan hukumnya akan dilakukan oleh teman-teman kami dari Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum LHK Wilayah Sumatera, ujar Suyono. Press Conference ini dihadiri pihak-pihak terkait, seperti : Kanwil Direktorat Bea dan Cukai Sumatera Utara, AVSEC Angkasa Pura II, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum LHK Wilayah Sumatera, Polda Sumatera Utara dan wartawan/jurnalis dari berbagai media baik media cetak, elektronik maupun media on-line. Sumber : Nofri Yeni, SP. - PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara Barang bukti 44 keping sisik kulit trenggiling (gambar kiri) dan 2 pelaku penyeludupan warga negara asing
Baca Berita

Monev Internal Resort Untuk Optimalisasi RBM

Banjarbaru, 29 April 2019 – Bertempat di ruang rapat Balai KSDA Kalimantan Selatan telah dilaksanakan kegiatan FGD kegiatan Resort dalam rangka penguatan fungsi Resort Based Management (RBM) dimana petugas resort menjaga kawasan menerapkan sistem aplikasi RBM sebagai dasar untuk menerapkan perencanaan dan pelaksanaan di lapangan. FGD ini langsung dipimpin oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc didampingi Bagian Perencanaan dan Evaluasi, dan dihadiri oleh seluruh Kepala Resort Lingkup BKSDA Kalimantan Selatan. Kegiatan ini sebagai ajang silaturahmi antar kepala resort dan saling belajar yang dilaksanakan setiap 4 (empat) bulan. Dalam pertemuan ini membahas terkait Konflik dan permasalahan di kawasan konservasi beserta upaya dan solusi penyelesaiannya, Kemitraan Konservasi dan hasil kegiatan resort periode Januari – April 2019. Seluruh Kepala Resort mewakili resortnya dengan antusias memaparkan permasalahan di kawasan masing-masing yang kemudian diberikan arahan dan masukan oleh Kepala Balai terkait penyelesaian masalah. Selain itu Kepala Balai juga menekankan upaya penyelesaian konflik dengan masyarakat melalui skema Kemitraan Konservasi khususnya terkait konflik lahan sesuai dengan Perdirjen No 6 tentang Petunjuk Teknis Kemitraan Konservasi di Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Permasalahan perambahan hutan yang melibatkan aktor intelektual akan ditempuh sesuai jalur hukum dengan melibatkan para pihak seperti Gakkum dan Kepolisian. Hal ini sebagai implementasi dari Tagline KSDAE 2019 dan arahan Dirjen KSDAE Bapak Ir. Wiratno, M.Sc. Perencanaan dan kebutuhan resort dalam menjalankan tugasnya juga dibahas di pertemuan ini sehingga dapat diusulkan didalam anggaran tahun berikutnya. Anggaran untuk kegiatan dan kebutuhan resort sangat diperlukan dalam mendukung dan meningkatkan kinerja resort. Selain itu diharapkan setiap resort ada petugas yang berasal dari warga setempat di dalam mendukung terkait informasi kawasan dan pendekatan kepada masyarakat. Pada akhir pertemuan Kepala Balai KSDA Kalsel menghimbau agar menjadikan resort sebagai basik dari perencanaan kegiatan. Selain itu petugas resort sebagai ujung tombak terdepan di dalam pengelolaan kawasan konservasi harus meningkatkan kemampuan dan kapasitas SDM dalam menangani permasalahan yag terjadi di lapangan. Kegiatan evaluasi resort lingkup Balai KSDA Kalsel ini diagendakan per 4 bulan sekali dan diharapkan didapat data terkait kondisi terkini (Updating data) di wilayah kerja masing-masing resort. (ryn) Sumber : Akhmad Fauzan, S.Hut - Penyuluh SKW I Pelaihari Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Pembinaan Penangkar Rusa Sambar di SKW 1 Pelaihari

Tanah Laut, 30 April 2019 – Penangkaran Rusa Sambar di wilayah kerja BKSDA Kalimantan Selatan lumayan banyak. Hingga tahun 2018, ada 10 penangkar termasuk Tahura Sultan Adam. Khusus di SKW 1 wilayah Tanah Laut ada 3 penangkar yang sudah berjalan selama ini. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc bersama tim KKH melakukan kegiatan pembinaan dan evaluasi penangkaran Rusa Sambar (Cervus unicolor) di wilayah kerja SKW I Pelaihari. Dalam kegiatan ini juga didampingi oleh Kepala SKW I Pelaihari Mirta Sari, S.Hut, MP dan Kepala Resort Jorong Akhmad Fauzan, S.Hut beserta tim. Pembinaan dan evaluasi yang dilakukan diantaranya berupa pengecekan kewajiban administrasi terkait perizinan penangkaran, serta dicek kondisi dan jumlah rusa apakah sesuai dengan laporan rutin yang disampaikan oleh penangkar. Selain itu juga mendiskusikan permasalahan yang dialami oleh para penangkar. Melalui penangkaran Rusa Sambar ini Kepala Balai KSDA Kalsel mengharapkan dapat mendukung upaya pelestarian satwa yang dilindungi undang-undang dimana populasinya di alam mulai menurun. Rusa Sambar merupakan jenis yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1//6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang dilindungi. Berdasarkan pengelolaannya penangkaran di wilayah SKW I Pelaihari terbagi menjadi 2 (dua) yaitu Perorangan dan Badan Usaha (Korporasi). Dalam kesempatan ini ada 3 lokasi yang dikunjungi oleh Kepala Balai dan tim diantaranya Penangkaran Rusa Hajjah Mariana (Perorangan), Penangkaran PT. Arutmin Indonesia Site Asam-asam dan PT. PLTU Asam-asam (Korporasi). Lebih jauh untuk pengembangan kedepan, Kepala Balai menggali permasalahan apa saja yang dihadapi oleh pihak pengelola. Secara umum permasalahan yang dialami para penangkar Rusa Sambar yaitu belum seluruhnya rusa dilakukan tagging (penandaan) dan terbatasnya dokter hewan dalam melakukan tindakan kesehatan. Terkait permasalahan ini BKSDA Kalsel akan berkoordinasi dengan Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan, sehingga diharapkan dapat membantu dalam tagging (penandaan) dan ketika kondisi Rusa Sambar sedang sakit ataupun mati bisa segera ditangani dan diketahui penyebabnya. Kepala Balai mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi kepada para pengelola penangkaran atas upayanya dalam melestarikan Rusa Sambar dalam bentuk konservasi ex situ (penangkaran). BKSDA Kalsel siap membantu dan mendukung khususnya bagi para penangkar dari badan usaha yang tertib administrasi dan pelaporan dalam meningkatkan proper perusahaan terkait lingkungan dan konservasi alam. Kegiatan Pembinaan dan Evaluasi penangkar ini diagendakan per satu tahun sekali langsung oleh Kepala Balai dan akan dimonitoring setiap 3 bulan oleh Kepala SKW I Pelaihari dan Kepala Resort. (jrz) Sumber : Akhmad Fauzan, S.Hut - Kepala Resort Jorong SKW I Pelaihari Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Pemeliharaan Hasil Transplantasi Terumbu Karang Di Zona Rehabilitasi SPTN Wilayah III Popolii Balai TN Kepulauan Togean

Ampana, 2 Mei 2019. Balai Taman Nasional Kepulauan Togean melakukan pemeliharaan hasil transplantasi terumbu karang di Zona Rehabilitasi Reef Lumpatan yang berada di bagian utara Kecamatan Walea Kepulauan, SPTN Wilayah III Popolii. Kegiatan pemeliharaan tersebut dilaksanakan selama empat hari mulai tanggal 21 – 24 April 2019 oleh personil SPTN Wilayah III Popolii dibantu oleh beberapa orang Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, diketahui bahwa hasil transplantasi yang ditanam pada tahun 2017 mengalami pertumbuhan yang kurang baik dan tidak sedikit dari bibit karang yang ditanam mengalami kematian. Hal tersebut disinyalir akibat kedalaman lokasi penanaman yang kurang tepat, sehingga bibit karang tidak mendapatkan arus yang cukup. Sebagaimana diketahui, arus sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan terumbu karang, karena memberikan supply makanan bagi bibit karang. Upaya yang dilakukan dalam kegiatan pemeliharaan hasil transplantasi diawali dengan pemindahan substrat ke lokasi dengan kedalaman yang lebih dangkal, kemudian setelah semua substrat terkumpul di lokasi baru, tim melanjutkan dengan pembersihan substrat dari lumut maupun sponges yang tumbuh di bagian besi substrat, sementara sebagian anggota tim lainnya mencari bibit untuk penyulaman. Proses penyulaman diperlukan untuk mengganti bibit mati dengan bibit baru. Menurut data Taman Nasional Kepulauan Togean, jumlah fragmen karang ditanam pada tahun 2017 di Reef Lumpatan adalah sebanyak 1.680 bibit (105 substrat). Sementara pada kegiatan ini sebanyak ±400 bibit karang baru digunakan untuk penyulaman 30 substrat. Diketahui, sebesar ±23,81% bibit mengalami kematian, sedangkan sisanya tumbuh dengan baik. Transplantasi terumbu karang tidak serta merta selesai setelah bibit ditanam di substrat dan disusun di dasar laut. Diperlukan upaya monitoring dan pemeliharaan hasil transplantasi terumbu karang guna memantau pertumbuhan terumbu karang, sehingga upaya pemulihan ekosistem terumbu karang dapat dipastikan berhasil di kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean. Sumber: Irvan Dali - Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Berita

Tim Rescue SKW I BKSDA Sulawesi Tenggara Evakuasi Buaya Muara di Desa Lawele , Lasalimu - Buton

Kendari, 2 Mei 2019. Tim Rescue Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Balai KSDA Sulawesi Tenggara evakuasi buaya Muara (Crocodylus porosus) hasil konflik satwa dengan manusia di Desa Lawele Kecamatan Lasalimu Kabupten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara. Sebelumnya Tim Rescue SKW I BKSDA Sulawesi Tenggara mendapatkan laporan dari anggota polri yang bertugas di pos polisi Lawele tentang adanya buaya muara yang terjerat jaring masyarakat disekitar pinggir sungai/muara Lawele. Tim selanjutnya menuju ke lokasi tempat kejadian untuk melakukan upaya evakuasi. Setibanya di lokasi, tim mendapatkan informasi bahwa buaya muara tersebut terjerat jaring warga pada hari senin tanggal 29 April 2019 jam 12.00 WIB dengan panjang 290 cm dan lebar 40 cm berjenis kelamin betina. Kemudian tim melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait (pihak Kepolisian, aparat desa dan masyarakat sekitar) dalam upaya penanganan konflik ini. Buaya muara tersebut rencananya akan di lepasliarkan kembali ke sungai yang tidak jauh dari lokasi kejadian, namun banyak warga masyarakat tidak menyetujui untuk dilepasliarkan di sungai tersebut karena khawatir buaya muara akan muncul kembali dan mengancam keselamatan warga. Tim kemudian melaporkan hasil koordinasi kepada Kepala SKW I dan akhirnya diputuskan buaya muara tersebut di evakuasi menuju Kendari menggunakan mobil selanjutnya dititip rawatkan di penangkaran buaya di Kelurahan Lapulu Kota Kendari. Selain melakukan evakuasi, tim memberikan informasi tentang habitat buaya yang semakin berkurang bahkan sudah rusak akibat dari ulah tangan manusia seperti pembalakan liar didaerah sungai atau muara sehingga mengganggu buaya-buaya yang hidup di sekitarnya. Tim juga mengajak masyarakat untuk menjaga habitat buaya karena buaya merupakan salah satu jenis satwa yang dilindungi berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999. Jika kita tidak mengganggu habitat buaya pasti buaya pun tidak akan mengganggu kita. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tenggara
Baca Berita

Rimbawan Muda PKL di TN Bukit Barisan Selatan

Kota Agung, Jumat(26/4). Sebanyak 25 orang siswa SMK Kehutanan Negeri Kadipaten jurusan Konservasi telah selesai melaksanakan kegiatan PKL di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. PKL dilaksanakan selama kurang lebih 2 (dua) bulan dari tanggal 26 Februari s.d tanggal 26 April 2019. Selama PKL para siswa melaksanakan beberapa kegiatan yaitu di BPTN I Semaka kegiatan pemeliharaan ekosistem yang diisi dengan kegiatan pembibitan di Kantor BPTN I Semaka, mengeksplorasi potensi wisata Air Terjun Sukaraja di Resort Sukaraja, melakukan pengamatan Rafflesia arnoldi di Rhino Camp. Kegiatan lain dilaksanakan di Pusat Penelitian Way Canguk yaitu Fenologi, pengamatan Siamang, Inventarisasi Satwa dan Tumbuhan, Navigasi darat, Iktiofauna, Pengamatan burung, memasang kamera trap, dan analisis vegetasi. Di BPTN II Liwa para siswa melaksanakan beberapa kegiatan yaitu di Resort Balik Bukit para siswa mengidentifikasi jejak satwa, Patroli Pengamanan Hutan, Identifikasi potensi wisata, pengamatan burung, dan tagging pohon damar. Di resort lombok para siwa mengeksplor Danau Ranau yang merupakan salah satu potensi ekowisata yang ada di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Di Resort Suoh para siswa mengeksplor potensi wisata yaitu Danau Asam, Kawah keramikan, dan kawah Nirwana. Pada acara penutupan PKL para siswa mempresentasikan hasil dari kegiatan dan mempersembahkan 3 (tiga) lagu ciptaan para siswa yang berjudul Way Canguk, Suoh, dan Kubuperahu. Tiga lagu tersebut menggambarkan kegiatan para siswa selama PKL. Kepala BBTNBS Ir. Agus Wahyudiyono menyampaikan,”Jiwa korsa yang dibentuk selama pendidikan di SKMA menjadi bekal di dunia kerja”. Kepala BPTN I Semaka Ibu Siti Muksidah, S.Hut., M.Sc. mengapresiasi kemandirian para siwa selama PKL, mereka selama PKL tidak didampingi oleh pembina dari SMK tetapi mereka bisa melaksanakan PKL dengan tertib. Alifa Diah Ayu Sekar Kumala salah satu siswi SMK Kehutanan menyampiakan kesannya,”seru, menyenangkan, banyak hal baru yang dieksplor oleh kami terutama yang terkait dengan bidang kehutanan”. Dalam menghasilkan para rimbawan muda yang mampu menghadapi tantangan dunia kerja di masa yang akan datang para siswa SMK Kehutanan Negeri Kadipaten diberi kebebasan yang bertanggung jawab, hal tersebut bertujuan untuk melatih rasa tanggung jawab para siswa di suatu pekerjaan, hal tersebut disampiakan oleh Bapak Tocin selaku pembina siswa SMK Kehutanan Negeri Kadipaten. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

Pendidikan Konservasi SMP Islam Ambulu, Sambangi Resort Bandealit TN Meru Betiri

Jember, 29 April 2019. SMP Islam Ambulu mengadakan pendidikan konservasi di Resort Bandealit, Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) selama 3 (tiga) hari 2 (dua) malam. Kegiatan yang dimulai pada tanggal 27 s/d 29 April ini diikuti oleh 41 siswa dan didampingi 16 guru. Tujuannya untuk membentuk kepedulian lingkungan kemandirian dan empati peserta didik. Para peserta didik belajar langsung di alam, mulai dari pengenalan tentang kawasan konservasi TN MerBeti khususnya Bandealit, pengamatan burung hingga penanaman pohon. Selama kegiatan mereka didamping oleh Petugas TN MerBeti yaitu Budi SP dan Pak Hafid. Pada hari terakhir para peserta melakukan penanaman pohon sebanyak 50 bibit nyamplung dan 50bibit kayu lo (ficus variegata). Bibit ini berasal dari swadaya SMP Islam Ambulu ditambah dari TN MerBeti. Kegiatan berjalan dengan lancar. Di SMP Islam Ambulu ada program Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dan setahun sekali akan mengadakan kegiatan serupa di TN MerBeti. Sumber: Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan Mencetak Generasi Emas

Kota Agung, 10 April 2019. Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS) Ir. Agus Wahyudiyono membuka Pelatihan Penguatan Kompetensi Teknis Bidang Tugas (PKTBT) bagi CPNS baru formasi tahun 2019 di BBTNBBS pada hari selasa 2 April 2019. Pelakanaan PKTBT berlandakan pada SK Kepala Pusat Diklat SPM LHK Nomor: SK.56/Dik/PEPE/Dik-2/3/2019, dan berpedoman pada pedoman teknis penyelenggaraan PKTBT CPNS KLHK Tahun 2019 yang disusun oleh Pusat Diklat SDM LHK dan Biro Kepegawaian dan Organisasi. Pada Tahun 2019 ini BBTNBBS mendapat 7 (tujuh) CPNS baru Fungsional tertentu terdiri dari 1 orang Polhut Ahli (Taufiq Hidayat, S.Hut.), 1 orang Polhut Trampil (Dian Widiantoro), 1 orang Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama (Intan Nurhajah, S.Hut.), dan 4 orang Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama (Nadya Suhada, S.Hut., Yusuf Fajar Pratama, S.Hut., Wenny Saptalisa, S.Si., Btari Amalia Setyani, S.Hut.). Berdasarkan SK terdapat 3 CPNS yang ditugaskan di Bidang Teknis Konservasi TNBBS dan 4 orang CPNS di tugaskan di Kantor Bidang Pengelolaaan TN Wilayah I Semaka. Kepala Balai Besar TNBBS menyampaikan pelaksanaan PKTBT yang kegiatanya baru dilaksanakan di tahun 2019 ini, diharapkan dapat menciptakan generasi emas yang unggul dalam pengelolaan BBTNBBS kedepanya. Memiliki integritas moral, kejujuran semangat dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul, bertanggung jawab dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi bidang teknisnya. Sebelum menutup presentasinya Kepala Balai TNBBS juga menyampaikan hendaknya CPNS yang baru dapat menerapkan ilmu pisang, yaitu janganlah pernah berhenti berkarya sebelum karya tersebut dapat dirasakan manfaatnya. Pada hari pertama CPNS mendapatkan materi organisasi dan tata kerja UPT Taman Nasional yang disampaikan oleh Kepala Bagian Tata Usaha BBTNBBS Bapak Heru Rudiharto, S.Si., M.P. Materi penyelenggaraan Pelatihan PKTBT berdasarkan pedoman yang disusun oleh Pusat Diklat SDM LHK dan Biro Kepegawaian dan Organisasi. Terdapat dua kompetensi teknis yang harus dikuasai oleh CPNS, yaitu kompetensi teknis administratif dan kompetensi teknis subtantif. Diadakanya kegiatan PKTBT ini diharapkan dapat menciptakan generasi emas dalam pengelolaan BBTNBBS kedepanya, sehingga terwujudnya pengelolaan hutan yang lestari masyarakat sejahtera. Selamat datang dan bergabung bersama keluarga besar BBTNBBS, mari berkarya bersama mengukir sejarah untuk hutan yang lestari. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

Kukang Akhirnya Bisa Menghirup Udara Bebas

Kota Agung, 4 April 2019. Pelepasanliaran kukang Sumatera (Nycticebus coucang) baru saja dilakukan di Kawasan Hutan Resor Way Nipah, SPTN Wilayah I Sukaraja, Bidang Pengelolaan TN Wilayah I Semaka Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Kegiatan ini bertahap dilaksanakan mulai dari tanggal 20 Maret sampai dengan 5 April 2019. Terdapat 16 individu kukang Sumatera yang dilepaskan adalah Jumat, Sunnah, Kamal, Ucil, Burik, Sandi, Jungle, Romi, Anis, Wana, Sani, Dela, Tenon, Bungsu, Adele, dan T2 yang terdiri dari 8 individu jantan dan 8 individu betina. Kukang-kukang yang akan dilepasliarkan ini merupakan korban dari penyelundupan di Pelabuhan Merak, Banten pada 2013 lalu. Dan beberapa individu lain merupakan kukang yang diserahkan secara sukarela oleh masyarakat yang sadar bahwa kukang sejatinya hidup di alam kepada BKSDA. Sebelum dilepasliarkan, para Kukang telah menjalani masa habituasi satwa pada Pusat Rehabilitasi Satwa IAR Bogor guna mengembalikan sifat liat alaminya. Setelah diamati perilaku selama di kandang habituasi, Kukang-kukang ini sudah dapat beradaptasi dengan baik di alam dan siap untuk menghirup udara bebas. Primata pemalu dan berbisa ini adalah satwa yang dilindungi oleh Undang-undang No. 5 tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999. Kukang termasuk dalam Apendiks I oleh CITES (Convention International on Trade of Endangered Species) yang berarti perdagangannya dilarang dalam segala dilarang dalam segala bentuk. Semua butuh ‘rumah’, bahkan satwa sekali pun. Semua butuh kebebasan, bahkan kukang sekali pun. Sumber: Humas Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

SMKKN Samarinda Masih Menjadi Idola Pelajar Kapuas Hulu

Putussibau, 29 April 2019. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) menyelenggarakan Test masuk SMKKN (Sekolah Menengah Kejuruan Kehutanan Negeri) Samarinda tahun ajaran 2019-2020. Penerimaan siswa-siswi SMKKN ini diadakan rutin tiap tahunnya setelah usai Ujian Nasional dan Ujian Sekolah usai. Test masuk SMKKN ini merupakan pelaksanaan ke Empat kalinya yang diadakan di Kantor BBTNBKDS dengan Tahapan Test Fisik yang dilaksanakan di Kodim 1206 Pts, Test Kesehatan dilaksanakan di R.S Ahmad Diponegoro, Test Wawancara dan Test Tertulis diadakan di BBTNBKDS yang berjalan lancar selama tiga hari berturut mulai tanggal 28 April sampai 30 April 2019. Oleh karena Kapuas Hulu termasuk dalam daerah konservasi ,Tana Bentarum yang bekerja sama dengan pemerintah daerah beserta Bupati Kapuas Hulu memberi peluang anak daerah untuk mengembangkan ilmu kehutanan dalam menjaga, membangun dan mengembangkan daerahnya sendiri. Natalis selaku orang tua dari salah satu peserta test SMKKN sangat mengharapkan anaknya bisa menjadi bagian dari siswa SMKKN. “masuk ke SMKKN ini merupakan keinginan dari anak saya sendiri, kami selaku orang tua sangat mendukung apalagi jurusan ini sangat cocok bagi kami yang dekat dengan kawasan hutan’’ ungkap natalis. Tahun ini ada 52 peserta yang lulus Administrasi, 3 peserta mengundurkan diri dan 1 peserta lainnya mengikuti test di Pontianak sisanya 48 peserta yang terdiri dari 28 peserta laki-laki dan 20 peserta perempuan mengikuti test penerimaan yang sedang berlangsung. Semua peserta berasal dari berbagai desa yang berada di Kapuas Hulu. Banyaknya peminat menjadi respon baik dalam penyelenggaraan Test. Menariknya lulusan SMKKN yang terakreditasi A ini akan mendapatkan beberapa peluang beasiswa melanjutkan kuliah di Universitas Gajah Mada, Universitas Mulawarman dan Universitas Fakuda Jepang apabila mendapatkan Ranking 1-5 dengan nilai terbaik. Sumber: Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

ADB Mission Apresiasi Pembangunan Fasilitas Wisata di Taman Nasional Danau Sentarum

Putussibau, 29 April 2019. Kegiatan Forest Investment Program I (FIP-1) yang telah berjalan selama dua tahun di Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) mendapat perhatian serius dari ADB Mission dengan mendatangi lokasi kegiatan dan berdialog langsung dengan masyarakat di dalam Kawasan TNDS. Kunjungan ADB Mission dari Kantor Pusat Manila ini diikuti oleh Thierry Liabastre selaku Mission Leader ADB, Srinivasan Ancha selaku Principal Climate Change Specialist ADB, dan Karen L. Chua. Kunjungan yang dilakukan selama tiga hari digunakan oleh tim ADB untuk memantau kegiatan-kegiatan pembangunan fasilitas wisata yang bersumber dari anggaran FIP-1 di dalam Kawasan TNDS. Tim juga melakukan pertemuan dan dialog dengan masyarakat yang menjadi lokus kegiatan FIP-1 yaitu di Desa Pulau Majang. Thierry Liabastre selaku Mission Leader ADB dalam kesempatan ini menyatakan,”Tema proyek FIP 1 adalah Community-Focused Invesments to Address Deforestation and Forest Degradation yang bertujuan mengatasi emisi Gas Rumah Kaca (GRK), Deforestasi dan Degradasi Hutan. FIP 1 memiliki dana hibah dari ADB sebesar USD 17,000,000 dengan durasi waktu 5 tahun (2017-2021) yang akan mengintervensi 12 Desa di Kabupaten Kapuas Hulu dan 5 desa di Kabupaten Sintang”. Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) yang diwakili oleh Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III, Gunawan Budi Hartono menjelaskan, “Kegiatan FIP-1 di BBTN Bentarum difokuskan pada kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan pengembangan wisata di dalam Kawasan konservasi TaNa Bentarum. Terdapat 4 desa yang menjadi target dari proyek ini, yaitu Desa Bungan Jaya dan Desa Tanjung Lokang di TNBK, serta Desa Vega dan Desa Pulau Majang di TNDS”, tambah Gunawan. Dalam kunjungannya di Pulau Sepandan dan Tekenang tim ADB Mission memberikan apresiasi terhadap progres pelaksanaan kegiatan di TaNa Bentarum, terutama pembangunan fasilitas wisata seperti guest house, shelter, selfie spots, trail wisata, dermaga, toilet umum dan Kapal Wisata Bandong. Tim berharap bahwa pembangunan fasilitas wisata akan dapat memberikan dampak bagi pengembangan wisata di TNDS. Kepala Resort Sepandan, Efiyati menjelaskan ” Semenjak dibangun fasilitas wisata di Sepandan, terdapat peningkatan jumlah pengunjung baik domestik maupun mancanegara terutama pengunjung dari Malaysia. Sejak dibuka dari bulan Januari 2019 hingga pertengahan bulan April ini sudah terdata sekitar 1.114 pengunjung yang datang berwisata ke sini,” jelas Efi. Kunjungan tim ADB Mission ini juga menyambangi masyarakat di Desa Pulau Majang, yang merupakan salah satu desa yang mendapat intervensi dari proyek FIP-1. Dilakukan dialog dengan masyarakat untuk mendapatkan informasi dan masukan bagi keberhasilan proyek. Dalam sambutannya Kepala Desa Pulau Majang, Mus Mulyadi menyatakan, “Kami sangat berterima kasih dengan kegiatan FIP-1 di Pulau Majang karena melalui proyek FIP-1 ini kami sudah mendapat bantuan alat pemadam kebakaran bagi MPA (Masyarakat Peduli Api) termasuk pelatihan pengendalian kebakaran. Kami berharap ke depan jika terjadi kebakaran akan dapat kami tanggulangi secara mandiri. Banyak juga kegiatan lainnya yang sudah dilakukan di desa kami seperti pelatihan kepemimpinan untuk perempuan dan peningkatan kapasitas bagi kelompok masyarakat” papar Mulyadi. Dalam diskusi dengan masyarakat Principal Climate Change Specialist ADB, Srinivasan Ancha menyatakan, “Dengan intensifikasi kegiatan pencegahan kebakaran hutan berbasis masyarakat dan pengembangan wisata alam diharapkan akan memberikan dampak terhadap konservasi kawasan untuk mendukung mengatasi masalah deforestasi dan degradasi hutan. Selain itu juga diharapkan dapat memberikan alternatif peningkatan pendapatan bagi masyarakat melalui pengelolaan wisata alam” tutup Ancha. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Capacity Building Personel UPT Pelaksana Kemitraan Konservasi

Sleman, 30 April 2019. Dalam rangka penguatan jejaring kerja antar lembaga, Fakultas Kehutanan UGM dan Balai Taman Nasional Gunung Merapi menyelenggarakan kegiatan peningkatan kapasitas SDM pengelola kawasan konservasi tentang Pemetaan Partisipatif dan Membangun Kemitraan Konservasi. Peningkatan kapasitas SDM diperlukan dikarenakan pelaksanaan SK Dirjen KSDAE KLHK P.6/KSDAE/Set/Kum.1/6/2018 tentang Petunjuk Teknis Kemitraan Konservasi pada Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam masih membutuhkan pendalaman dari aspek akademik dan teknis pelaksanaan aktivitas kemitraan konervasi. Kegiatan ini dilaksanakan di Ndalem Kasuryan, Hargobinangun, Kec Pakem, Kab Sleman, pada hari Senin – Selasa, 29-30 April 2019. Selain oleh dihadiri oleh seluruh Kepala Resort dan tim kerja kemitraan konservasi Balai TN Gunung Merapi, kegiatan ini dihadiri dan perwakilan Balai TN Gunung Merbabu, Balai KSDA D.I Yogyakarta, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan D.I Yogyakarta, Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Yogyakarta dan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder. Materi pertama pelatihan ini adalah Praktek Pemetaan Penggunaan Avenza. Materi ini dilaksanakan dengan praktek beberapa kelompok, mempraktekkan penggunaan aplikasi Avenza, hingga dievaluasi dan didiskuasikan apa saja kesulitan masing-masing kelompok dengan didampingi oleh fasilitator. Materi kedua yaitu Pembuatan Profil Sosial, pada materi ini juga dilaksanakan dengan cara praktek masing-masing kelompok, melanjutkan kelompok pada materi pertama. Sedangkan materi ketiga yaitu Membangun Kemitraan Konservasi. Point penting dalam kemitraan : 1) memposisikan masyarakat sebagai subjek dalam berbagai modal pengelolaan konservasi; 2) meningkatkan koordinasi dengan pemerintah daerah, mitra dan pihak lain; 3) melibatkan unit pengelolaan terkecil dalm setiap proses dan 4) senantiasa melakukan updating dan proses rekonsiliasi terhadap data dan informasi potensi dan permasalahan kawasan. Point penting selama proses pelatihan menurut penuturan petugas lapangan adalah bahwa kegiatan kemitraan konservasi merupakan pelunasan janji moral petugas lapangan waktu penunjukkan taman nasional pada tahun 2004 yaitu janji pengelola TNGM untuk mengayomi pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam memanfaatkan askes sumber daya dalam kawasan. Sumber : Titin Septiana - Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Berita

Konsultasi Publik Draft Evaluasi Zonasi TN Matalawa

Waingapu, 29 April 2019. Salah satu aspek penting dalam pengelolaan kawasan Taman Nasional adalah sistem zonasi yaitu sistem yang membagi kawasan menjadi ruang-ruang untuk dikelola sesuai jenis tapaknya. Beberapa faktor turut mempengaruhi penetapan zonasi ini, antara lain: potensi sumber daya alam dan ekosistem; kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat sekitar; tingkat interaksi dengan masyarakat; dan kepentingan efektifitas pengelolaan. Oleh karena itu, pihak-pihak terkait perlu duduk bersama dalam merumuskan zonasi kawasan Taman Nasional. Bertempat di Hotel Padadita, Waingapu, Sumba Timur, Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Kawasan Taman Nasional Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) menyelenggarakan konsultasi publik revisi zonasi kawasan taman nasional. Acara ini dihadiri oleh seluruh pejabat eselon hingga kepala resort lingkup Balai TN Matalawa sebagai narasumber, serta dihadiri oleh Organisasi Perangkat daerah (OPD) dan Camat yang berbatasan langsung dengan kawasan TN lingkup Kabupaten Sumba Timur, Sumba Barat, dan Sumba Tengah, serta mitra Balai TN Matalawa. Dalam sambutannya Kepala Balai TN Matalawa, Ir. Memen Suparman, M.M, menyampaikan bahwa kegiatan ini penting dilakukan untuk melaporkan pemutakhiran data lapangan sebagai dasar penentuan arah kebijakan penyesuaian zonasi dalam pengelolaan kawasan. Target besar dari evaluasi dan revisi zonasi perlu adalah melakukan optimalisasi dan efektifitas pengelolaan kawasan TN untuk meningkatkan manfaat kawasan TN terhadap pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat. Rapat ini menghasilkan sebuah kesepakatan yang dituangkan dalam berita acara berisi dukungan para pihak yang hadir terhadap draft revisi zonasi TN Matalawa. Sumber: Balai TN Matalawa

Menampilkan 5.681–5.696 dari 11.140 publikasi