Minggu, 26 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Seru, Kemah Konservasi Taman Nasional Taka Bonerate 2019

Pulau Tinabo - Taman Nasional Taka Bonerate, 3 Mei 2019. Kemah Konservasi Balai Taman Nasional Taka Bonerate (TNTBR) kembali digelar (30 April s.d 1 Mei 2019), kali ini di dua tempat yakni di Pulau Tinabo dan Pulau Latondu kawasan TN Taka Bonerate. Kegiatan dipusatkan di P. Tinabo sebagai lokasi perkemahan. Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini mengangkat tema Bangkitkan Jiwa Konservasi Generasi Jaman Now. Dengan harapan generasi muda dapat berperan sebagai pelopor serta penggerak dalam upaya konservasi alam dan lingkungan hidup. Menjadi motivator dan dinamisator dalam aksi-aksi konservasi di tengah-tengah masyarakat. Perkemahan diikuti Saka Wana Bakti Selayar, Masyarakat Mitra Polhut, Kelompok Model Desa Konservasi, karang taruna, Himpunan Pramuwisata Indonesia Cab.Selayar, Mitra WCS-IP, komunitas selam Sileya Scuba Divers, SMA I Benteng, masyarakat binaan TN Bantimurung Bulusaraung dan Balai Besar KSDA Sulsel, pelajar dalam kawasan TNTBR, media Kompas, fotografer, bloger, dll. Kegiatan ini juga dihadiri Afni Zulkifli (Tenaga Ahli Menteri LHK Bid. Komunikasi Digital dan Media Sosial Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan), Prof. Ngakan Putu Oka (Dosen Fakultas Kehutanan Unhas), Julianti Siregar (Kasubdit Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam), Datu (Pengelola Kampung Penyu), Bu Novie (Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Kodim 1415 Selayar). Selain berbagi pengetahuan tentang lingkungan, sharing tentang konservasi, ekowisata, jurnalistik dan fotografi, peranan media sosial dalam konservasi, pemilihan Duta Karang 2019, penanaman cemara laut, release tukik di Bungin Tinabo, transplantasi karang, penampilan seni budaya, jelajah Pulau Latondu, serta tak ketinggalan kegiatan snorkeling sambil bersih-bersih dan pengenalan singkat tentang dunia selam. Selain kegiatan-kegiatan yang padat tersebut disemarakkan dengan game-game edukasi konservasi seru yang dipandu oleh Dianika Ariatami dari Kelas Inspirasi Selayar. "Terima kasih saya ucapkan kepada semua undangan, masyarakat, adik-adik pelajar yang telah hadir dan ikut berpartisipasi, juga para panitia yang telah bekerja keras dalam menyukseskan kegiatan Kemah Konservasi ini." Ucap Faat Rudhianto Kepala Balai TN Taka Bonerate diacara penutupan "Selamat kepada Duta Karang 2019 yang terpilih, selamat mengemban tugas dan tanggung jawab. Nantinya akan diikutkan dalam kegiatan Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam di Bali tahun ini" tambahnya Sampai jumpa di event Kemah konservasi tahun depan dan event-event yang akan diselenggarakan tahun ini. Salam Konservasi, Salam Lestari....!!! Sumber teks & foto : Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Balai TN Matalawa Melakukan Percepatan Kinerja Roda Organisasi

Waingapu. 3 Mei 2019. Bertempat di ruang kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Waibakul Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa), telah dilaksanakan pertemuan yang melibatkan seluruh pejabat struktural, para Kepala Resort, Koordinator masing-masing urusan dan para ketua pelaksana kegiatan. Pertemuan dipimpin langsung Kepala Balai TN Matalawa, Ir. Memen Suparman, M.M., ada beberapa hal yang menjadi isu utama dalam pembahasan pertemuan ini diantaranya adalah kesepakatan untuk membentuk kelompok kerja (pokja) khusus penanganan penyelesaian masalah batas kawasan terutama di kawasan hutan bagian selatan hutan Laiwangi Wanggameti, selain itu mendorong percepatan pelaksanan kegiatan teknis selama dua bulan kedepan yaitu bulan Mei dan Juni. Pertemuan yang di moderatori Kepala Seksi Wilayah 1 Waibakul, Abdul Basit Nasrianto S.Hut., M.Sc ini digelar sangat hangat dan penuh dengan rasa kekeluargaan, satu persatu para Kepala Resort, Kepala Seksi Wilayah dan Koordinator urusan mengevaluasi pelaksanaan kegiatan yang telah dilaksanakan di bulan sebelumnya dan pemaparan rencana pelaksanaan kegiatan dua bulan kedepan. Diakhir pertemuan ini Kepala Balai TN Matalawa mengajak kepada seluruh jajaran yang ada di lapangan untuk selalu siap siaga dalam mengantisipasi datangnya musim kemarau yang berdampak terhadap kebakaran, selain itu Kepala Balai juga akan membagikan peralatan dan perlengkapan kebakaran kepada masing-masing Seksi Wilayah yang ada di TN Matalawa. Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Cagar Alam Pulau Berkey dengan Konsultasi Publik

Bagan siapi-api, 30 April 2019. Konsultasi publik Rencana Pengelolaan Cagar Alam (CA) Pulau Berkey dilakukan guna memberikan informasi, panduan dan promosi upaya pengelolaan CA Pulau Berkey. Acara konsultasi Publik Rencana Pengelolaan CA Pulau Berkey dilaksanakan di Hotel Amarosa, Bagansiapiapi, Rokan Hilir. Kegiatan dibuka oleh Kepala Bidang Teknis Balai Besar KSDA Riau, M. Mahfud, S.Hut., M.Sc. mewakili Kepala Balai Besar KSDA Riau, dengan narasumber dari Bappeda Kabupaten Rokan Hilir dan Tim Penyusun Dokumen Rencana Pengelolaan. Kegiatan ini dihadiri oleh tim penyusun dokumen Rencana Pengelolaan CA Pulau Berkey, Bappeda, Dinas pada Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir, Kecamatan, Desa, dan Kepenghuluan Sekitar kawasan CA Pulau Berkey, KPH, dan Perguruan Tinggi. Hasil konsultasi publik tertuang pada Berita Acara Konsultasi Publik Rencana Pengelolaan CA Pulau Berkey. Tindak lanjut dari konsultasi Publik di daerah ini adalah perbaikan draft rencana pengelolaan untuk selanjutnya dilakukan konsultasi publik kembali di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Cagar Alam (CA) Pulau Berkey merupakan salah satu kawasan konservasi yang dikelola oleh Balai Besar KSDA Riau. Berada di wilayah kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir, keberadaan CA Pulau Berkey berperan penting sebagai penahan abrasi bagi daratan Bagansiapiapi dan pendukung kegiatan perikanan di daerah tersebut. Cagar Alam (CA) Pulau Berkey merupakan Kawasan Suaka Alam yang ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 13/3/1968. Luasan CA Pulau Berkey telah ditegaskan melalui surat Setditjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan Nomor S.1076/SETDIT/PRODEV/HMS8/8/2018. Pentingnya peran CA Pulau Berkey ini tentu saja membutuhkan pengelolaan kawasan dengan baik. Keberadaan dokumen Rencana Pengelolaan menjadi hal yang krusial guna mendukung pengelolaan CA Pulau Berkey. Hal tersebut sesuai dengan peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.35/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2016 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pengelolaan pada Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Wetland and Us

Lampung Timur, 2 Mei 2019. Hari lahan basah sedunia setiap tahunnya diperingati setiap tanggal 2 Februari, peringatan ini bertujuan untuk mendorong aksi konservasi dan pemanfataan lahan basah secara bijaksana (wise use) melalui aksi nasional dan kerjasama internasional untuk mewujudkan pembangunan secara berkelanjutan (sustainable development). Direktorat Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial Ditjen KSDAE selaku National Focal Point (NFP) Konvensi Ramsar di Indonesia melaksanakan peringatan hari lahan basah sedunia tahun 2019 di lokasi calon Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Mangrove Labuhan Maringgai, Lampung Timur dengan melibatkan UPT KLHK di Provinsi Lampung, Pemda Provinsi Lampung, Pemda Kabupaten Lampung Timur, Mitra, Perguruan Tinggi serta masyarakat sekitar. Kawasan mangrove ini berada di Desa Sriminosari dan Margasari, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur. Tema yang diangkat pada peringatan ini adalah “Wetland and Us” dimaksudkan untuk mengingatkan dan menegaskan kembali peran penting eksistensi lahan basah bagi kepentingan manusia, yang antara lain berfungsi sebagai pusat kekayaan hayati, sumber makanan, perikanan, pendukung pertanian, pengendali banjir dan bencana alam lainnya, dan mitigasi perubahan iklim. Masyarakat yang berada di Desa Margasari dan Sriminosari telah merasakan arti penting lahan basah khususnya mangrove bagi kehidupan mereka. Pada tahun 1990an, pesisir Labuhan Maringgai diterjang abrasi hebat, hal ini antara lain disebabkan pembukaan Kawasan mangrove untuk lahan tambak. Sejak tahun 2005, masyarakat sekitar mulai melakukan kegiatan rehabilitasi mangrove bekerjasama dengan stakeholder terkait. Kegiatan rehabilitasi yang diprakarsai oleh masyarakat ini telah berhasil mengembalikan keberadaan hutan mangrove di dua desa tersebut seluas 900 Hektar. Keberhasilan kegiatan rehabilitasi tersebut pada saat ini menjadikan Kawasan tersebut sebagai habitat berbagai jenis burung air dan burung migran. Salah satu yang menjadi icon adalah Burung Bluwok/Mycteria Cineria yang populasinya diseluruh dunia hanya sekitar 1500 individu. Peringatan Hari lahan basah tahun 2019 dilaksanakan melalui beberapa kegiatan yaitu penyadartahuan kepada pelajar, lomba menggambar dan mewarnai, penyerahan apresiasi Mangrove Hero, kegiatan penanaman mangrove, dan kunjungan lapangan ke Kawasan mangrove serta habitat burung air. Sebagai tindak lanjut dari kegiatan perayaan hari basah ini diharapkan Pemerintah Daerah Lampung Timur menetapkan kawasan mangrove tersebut sebagai Kawasan Ekosistem Esensial Mangrove sehingga dapat memperkuat status perlindungan untuk menjaga kepentingan masyarakat terhadap eksistensi lahan basah sebagai penyangga kehidupan. Sumber : Direktorat Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial - Ditjen KSDAE
Baca Berita

Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Bahas Illegal Fishing Dan Illegal Loging

Ampana, 3 Mei 2019. Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (BTNKT) beserta Bupati Tojo Una-una menyelenggarakan rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FORKOPIMDA), di ruang rapat kantor Bupati Tojo Una-Una (3/5). Rapat dibuka dan dipimpin oleh Bupati Tojo Una-Una yang diwakili Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat SETDAKAB Tojo Una-Una serta dihadiri oleh FORKOPIMDA bersama stakeholder lainya. Ir. Bustang (Kepala Balai TNKT) dalam paparanya menjelaskan mengenai permasalaahan dalam penanganan kawasan TNKT yang berkaitan dengan Illegal Fishing dan Illegal Loging. Kegiatan illegal tersebut sudah berjalan dari tahun ke tahun. Kegiatan penanganan sudah dilakukan oleh pihak TNKT dengan melaksanakan patroli rutin baik yang bersifat represif non yustisi, preemtif maupun persuasif, tetapi kesadaran atau efek jera dari kegiatan perusakan alam belum di miliki oleh oknum masyarakat sekitar atau pelaku perusakan alam sehingga kegiatan Illegal Fishing dan Illegal Loging di kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean masih ada. Hal ini yang mendorong di bentuknya rapat FORKOPIMDA mengenai illegal fishing dan illegal loging. Kegiatan yang telah dilaksanakan menghasilkan kesimpulan sebagai berikut: 1. Pembentukan Satuan tugas guna melakukan pengawasan dan edukasi kepada masyarakat; 2. Melakukan tindakan penegakan hukum secara kongkrit terhadap oknum masyarakat yang melakukan tindakan illegal loging dan illegal fishing; 3. Mencari solusi dan kontribusi semua pihak dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi melalui pemberdayaan masyarakat sehingga masyarakat sekitar tidak melakukan perusakan alam; 4. Memaksimalkan tugas dan fungsi Organisasi Perangkat Daerah terkait guna penanggulangan illegal fishing dan illegal loging; 5. Menyamakan persepsi dan kerjasama pihak Balai TNKT dan stakeholder, terkait penanggulangan Illegal Fishing dan Illegal Loging. Adanya penguatan anggaran dan tahapan penanganan guna mendukung kegiatan penanggulangan illegal fishing dan illegal loging baik jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang akan memberikan dampak positif bagi keberlangsungan kawasan. Sumber : Arsyad Nurrahman S.Hut - Balai Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Berita

Sosialisasi Program Kelompok Pengelola Pariwisata Desa Bungan Jaya dan Desa Tanjung Lokang, Kabupaten Kapuas Hulu.

Putussibau, 02 Mei 2019. Bertempat di Aula Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum), Komunitas Pariwisata Kapuas Hulu (KOMPAKH) Bersama dengan Balai Besar TaNa Bentarum menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Program Kelompok kelompok pengelola pariwisata desa bungan jaya dan desa tanjung lokang, kabupaten kapuas hulu (2/5). Kegiatan ini dihadiri 30 orang peserta yang terdiri dari unsur Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, Balai Besar TaNa Bentarum, kelompok pengelola wisata Desa Bungan Jaya dan Desa Tanjung Lokang. Dalam sambutan pada saat membuka acara tersebut, Kepala Balai Besar TaNa Bentarum, Arief Mahmud menyampaikan kegiatan ini bisa mendukung dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat serta mampu meningkatkan ekonomi masyarakat di desa bungan dan lokang itu sendiri. Pada tahap awal akan dilakukan pembangunan sarana dan prasarana wisata yang prioritas, serta melakukan peningkatan kapasitas kelompok pengelola pariwisata prioritas. Hadi, Kepala Adat Komplek Tanjung Lokang yang hadir dalam acara ini menyambut baik kegiatan ini. “Kami Masyarakat Adat Desa Tanjung Lokang berharap agar kegiatan ini bias meningkatkan kesejahteraan kami. Desa kami terletak sangat jauh di dalam hutan, sekarang sudah mulai dibuka jalan lintas Kalimantan yang melewati dekat desa kami, sehingga kami kedepan berharap agar akses yang dulunya sulit menjadi mudah sehingga wisata juga semakin banyak ke desa kami” imbuh Hadi. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Pesona Julang Emas

Pontianak, 3 Mei 2019. Yuk mari berkenalan dengan Maskot Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Melintang, Si Julang Emas. Julang Emas jantan berbulu kepala coklat muda dan terdapat bulu halus kemerahan pada tengkuknya. Dan yang menjadi ciri khasnya, kantong leher bergaris hitam di bawah paruhnya. Ketika muda kantong ini berwarna pucat dan akan berubah menjadi kuning seiring umur. Yang betina berbulu kepala hitam dan kantong udaranya berwarna biru. Ada juga garis di kantong udara tersebut. Paruh Julang Emas berwarna coklat terang dan terkesan pucat saat masih muda. Julang emas muda akan memiliki garis hitam di atas paruh/gadingnya. Maksimal garis berjumlah delapan dengan tonjolan gading yang semakin kentara. Lebih cantik dengan lentiknya bulu mata. Ini berfungsi untuk menghindari masuknya benda asing ke mata. Burung ini memakan biji, buah, kepiting dan kodok. Hidupnya di dataran rendah sampai di perbukitan. Di Indonesia, jenis ini dapat dijumpai di Kalimantan, Sumatera, Jawa dan Bali. Silakan kunjungi TWA Gunung Melintang untuk dapat menikmati kepakan sayapnya. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Nelayan Pasang Papan Wisata ke Sempu, BBKSDA Jatim Bertindak

Malang, 3 Mei 2019. Resort Konservasi Wilayah (RKW) 21 Pulau Sempu Balai Besar KSDA Jawa Timur melakukan pemantauan dan sosialisasi kepada penambang perahu di Tempat Pelelangan Ikan (TPI), 23 April 2019. Hal ini dilakukan setelah mendapatkan informasi adanya pemasangan papan petunjuk baru untuk antar jemput ke Pulau Sempu di sekitar TPI Pondok dadap Sendang Biru - Kabupaten Malang yang di kelola Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jatim. Petugas RKW 21 selanjutnya berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan - Sendang Biru sebagai pengelola TPI Pondok Dadap terkait adanya pemasangan papan petunjuk antar jemput ke Pulau Sempu tersebut. Juga dengan adanya beberapa perahu nelayan yang sandar dan melakukan docking perahu di pantai goa macan dan pantai gebang Pulau Sempu. Dinas Kelautan dan Perikanan - Sendang biru sepakat untuk membantu sosialisasi kepada nelayan dan penambang terkait larangan mengantar pengunjung untuk berwisata di Pulau Sempu. Juga akan mengundang pihak BBKSDA Jatim untuk menjadi Narasumber dalam rangka sosialisasi kepada nelayan di Sendang biru. Selain itu, BBKSDA Jatim akan berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Timur di Surabaya terkait keberadaan Cagar Alam Pulau Sempu, dan situasi yang terjadi di TPI Pondok Dadap Sendang Biru. Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Pelepasliaran Penyu Morowali

Morowali, 2 Mei 2019. Balai KSDA Sulawesi Tengah bersama-sama dengan PSKDKP dan Polairud Polda Sulawesi Tengah melakukan operasi gabungan pada hari Minggu tanggal 21 April 2019 di Desa Padabale Kecmatan Bungku Selatan Kabupaten Morowali. Dari hasil operasi tersebut ditemukan satwa berjenis penyu sisik sebanyak 2 ekor dan penyu hijau sebanyak 4 ekor. Satwa-satwa tersebut disita dari 2 orang tersangka yang masing-masing berinisial NT dan N yang saat ini berada dalam penanganan Polairud Polda Sulawesi Tengah. Setelah melalui masa habituasi selama kurang lebih 7 hari, maka pada tangal 29 April 2019 Pukul 09.00 waktu setempat, satwa-satwa tersebut akan dilepasliarkan setelah sebelumnya dilaksanakan pemeriksaan kesehatan dan kondisi satwa penyu. Pelepasliaran dilakukan di perairan Teluk Palu dengan menggunakan kapal POLAIRUD Mabes Polri KP. KUTILANG yang dipimpin langsung oleh Dir. Polairud Polda Sulteng bersama Balai KSDA Sulawesi Tengah. Kegiatan ini juga dihadiri oleh instansi lain yaitu : PSDKP Bitung, BPSPL Wilker Palu, Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Sulteng serta media cetak dan media elektronik. Sumber : Balai KSDA Sulawesi Tengah
Baca Berita

Transplantasi Terumbu Karang Di Zona Rehabilitasi SPTN Wilayah III Popolii Balai TN Kepulauan Togean

Ampana, 2 Mei 2019. Balai Taman Nasional Kepulauan Togean, melalui Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Popolii kembali melakukan giat pemulihan ekosistem terumbu karang. Pemulihan ekosistem terumbu karang dilakukan melalui transplantasi terumbu karang pada tanggal 25 – 30 April 2019, di zona rehabilitasi Reef Lumpatan pada koordinat 122,19030 BT; -0,19240 LS. Jumlah substrat yang digunakan dalam kegiatan ini berjumlah 120 unit, dengan fragmen karang ditanam per substrat sebanyak 15 bibit, sehingga diketahui sebanyak 1800 bibit karang ditanam dalam kegiatan ini. Selain sebagai upaya pemulihan ekosistem sebagaimana tertuang dalam Dokumen Rencana Pemulihan Ekosistem Taman Nasional Kepulauan Togean, kegiatan transplantasi terumbu karang juga merupakan suatu bentuk kegiatan penyadartahuan masyarakat sekaligus sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat karena dalam setiap pelaksanaan transplantasi terumbu karang, Taman Nasional Kepulauan Togean senantiasa aktif melibatkan peran serta masyarakat. Sebanyak 12 personil tim transplantasi terumbu karang dibantu oleh ± 40 orang masyarakat yang berasal dari empat desa penyangga taman nasional, yang terdiri dari Desa Popolii, Desa Dolong, Desa Kolami dan Desa Luok bekerja sama dalam setiap tahapan transplantasi, dimulai dari proses pengambilan bibit, proses pengikatan fragmen karang di substrat, labelling sample pengamatan pertumbuhan terumbu karang, distribusi substrat ke lokasi penanaman hingga proses penyusunan substrat di dasar laut. Hariadi Siswantoro, selaku Kepala SPTN Wilayah III Popolii menyampaikan bahwa salah satu tugas Taman Nasional Kepulauan Togean khususnya di kawasan perairan adalah mencegah kerusakan terumbu karang akibat aktivitas illegal fishing melalui kegiatan pengamanan kawasan dan juga memperbaiki terumbu karang yang telah mengalami kerusakan melalui kegiatan transplantasi terumbu karang. Sumber: Irvan Dali - Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Berita

Menambah Penghasilan Masyarakat Sekitar TN Kutai Melalui Pelatihan Pembuatan Sirup Mangrove

Bontang, 27 April 2019. Mangrove sudah sangat dikenal sebagai penahan ombak dan abrasi pantai yang efektif, selain itu hutan mangrove juga dikenal sebagai sumber ketahanan pangan nasional. Telah banyak kelompok masyarakat terutama yang tinggal di daerah pesisir pantai memanfaatkan mangrove, mulai dari pemanfaatan batang, daun maupun buah mangrove. Untuk meningkatkan kapasitas masyarakat sekitar hutan, Balai TN Kutai bekerjasama dengan Mitra TNK melaksanakan kegiatan pelatihan pembuatan sirup mangrove. Kegiatan ini dilakukan di pusat studi konservasi mangrove, dengan narasumber masyarakat kelompok tani hutan (KTH) Daun Harum Kota Bontang. Peserta tidak hanya melihat proses pembuatan sirupnya saja tetapi juga diajak untuk melihat langsung keasrian pengelolaan kawasan mangrove oleh masyarakat. Bahan baku pembuatan sirup adalah buah mangrove dari jenis Sonneratia ovata yang telah matang dengan ciri-ciri telah mengeluarkan aroma harum dan daging buahnya empuk. Pemilihan bahan baku akan berpengaruh terhadap sirup yang dihasilkan. Buah yang kurang matang akan menimbulkan rasa "sepet", berbeda dengan buah yang telah matang, daging buahnya akan berasa manis-manis asam dengan tekstur lembut. Peserta pelatihan diajak untuk mempraktekkan sendiri proses pembuatan sirup mangrove, mulai dari pemilihan buah, pengupasan, cara mencuci buah, memasak hingga mengemas sirup sehingga siap dipasarkan. Dalam proses pemasakan sirup menggunakan perbandingan 1 kg buah ovata yang sudah dikupas dan dibersihkan, 2 kg gula pasir dan 2 liter air, yang dimasak selama 4 jam. Selama proses pemasakan jangan lupa untuk terus mengaduk. Hal ini dilakukan agar hasil rebusan tidak membentuk gumpalan karamel yang akan mempengaruhi kualitas sirup. Antusiasme peserta dalam praktek pembuatan sirup mangrove cukup tinggi, terutama setelah mereka mendengar sendiri (testimoni), dari ketua kelompok tani terkait peluang usaha dan nilai rupiah yang di dapat dari pembuatan sirup mangrove. Dari 1 kg buah dapat menghasilkan 5 botol sirup mangrove ukuran 500 ml yang dipasarkan seharga Rp. 40.000,- per botol. Keuntungan yang di dapat setelah dikurangi modal usaha adalah sekitar Rp. 110.000,- per kg buah. Pembuatan sirup mangrove dapat menjadi sebuah alternatif kegiatan pemberdayaan masyarakat untuk menambah penghasilan masyarakat mengingat bahan-bahan untuk membuatnya mudah di dapat di alam, proses pembuatannya relatif mudah dan mudah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga seluruh peserta yang telah mengikuti pelatihan pembuatan sirup mangrove ini, dapat mengaplikasikan ilmu yang telah di dapat, minimal melakukan getok tular kepada anggota kelompok atau kelompok masyarakat lainnya. Sehingga nilai manfaat dari pengetahuan tersebut dapat dirasakan oleh seluruh masyakat. Sumber: Balai TN Kutai
Baca Berita

Monitoring Babirusa Togean di SPTN Wilayah 1 Wakai Balai TN Kepulauan Togean

Ampana, 30 April 2019. Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) wilayah I Wakai TN Kepulauan Togean telah melaksanakan Kegiatan Monitoring Babirusa pada tanggal 16-19 April 2019. Kegiatan ini dilaksanakan oleh anggota SPTN I Wakai bersama dengan masyarakat yang berada disekitar lokus kegiatan. Lokasi pelaksanaan kegiatan tersebut dilakukan di Pulau Batudaka khususnya Desa Taningkola, Kecamatan Una-Una tepatnya di hutan Bone-bone dan Kafufu yang merupakan side monitoring yang telah ditetapkan oleh Balai TN. Kepulauan Togean. Pelaksanaan kegiatan monitoring dilakukan dengan menggunakan metode terkonsentrasi dan pengamatan dibantu dengan menggunakan kamera trap sebanyak 6 (enam) buah. Pemasangan kamera trap dilakukan di sekitar kubangan air atau jalur yang diduga sering dilewati oleh babirusa. Kendala yang dihadapi selama pelaksanaan kegiatan monitoring babirusa diantaranya sedikitnya jejak baru yang ditemukan pada kubangan dan jalur jelajah yang diduga sering dilewati oleh babi rusa. Hal ini diakibatkan adanya pengaruh cuaca yang mengakibatkan keringnya kubangan dan jalur jelajah. Keberadaan satwa yang dianggap sebagai hama oleh beberapa masyarakat sekitar juga menjadi permasalahan tersendiri serta home range babirusa yang telah berkurang diduga juga menyebabkan populasi babi rusa yang mulai berpindah. Beberapa masyarakat sekitar juga kurang mengetahui bahwa babi rusa merupakan hewan endemik yang dilindungi. Menurut Iksan Tengkow, SH selaku Kepala SPTN I Wakai, “Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan monitoring dalam rangka mengetahui jumlah populasi dan habitat babirusa yang bertujuan untuk mengetahui jumlah populasi babirusa yang ada di Pulau Batudaka”. Diharapkan dengan adanya monitoring babi rusa, kedepannya jumlah populasi babirusa dapat meningkat sehingga tidak punah, ujarnya. Sumber : Khoirum Min Alfiyani - Calon Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Berita

Visitor Center TN Matalawa Miniatur Pendidikan Konservasi Pulau Sumba

Waikabubak, 30 April 2019. Bertempat di Gedung Visitor Center Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) telah dilaksanakan serangkaian kegiatan dalam rangka memperingati hari Bumi yang jatuh pada tanggal 22 April. Kegiatan ini di selenggarakan dengan melibatkan sekolah-sekolah yang ada di Waikabubak baik tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). acara ini digelar selama tiga hari mulai tanggal 29 April 2019 hingga 1 Mei 2019, dengan jumlah total yang hadir berjumlah 120 orang. Rangkaian kegiatan diawali dengan dilaksanakannya permainan outdoor, dengan maksud membangun kreatifitas, kekompakan, konsentrasi dan kebugaran para siswa, dilanjutkan dengan kegiatan indoor berupa pemberian materi dengan tema penyadaran lingkungan dan diakhiri dengan pemutaran film dokumenter tentang Bumi di salah satu ruangan visitor center berupa fasilitas bioskop, ruang bioskop ini merupakan satu-satunya yang ada di Pulau Sumba. Pada hari pertama kegiatan ini di ikuti oleh anak sekolah tingkat SMA dilanjutkan bergantian SMP hingga anak SD pada hari-hari berikutnya. Antusiasme para pelajar SD, SMP maupun SMA yang hadir nampak tergambar secara jelas pada raut muka masing-masing para pelajar, rangkaian kegiatan yang di suguhkan sangat menarik dan menggugah kesadaran pada masing-masing para siswa sekaligus pengalaman pertama mereka menyaksikan bioskop, diakhir acara tersebut dilakukan pemberian sedotan stainless stell yang dapat digunakan berulang kali serta pemberian bibit tanaman perindang kepada seluruh siswa SD, SMP maupun SMA. Kepala Balai TN Matalawa Ir. Memen Suparman, MM mengapresiasi kegiatan yang telah dilaksanakan, harapan dari kegiatan ini, semoga mampu menumbuhkan kesadaran kepada seluruh siswa yang hadir terhadap pentingnya menjaga bumi sebagai tempat tinggal seluruh mahluk hidup, dan juga Kepala Balai berharap fasilitas yang ada di Gedung Visitor Center dapat dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak terutama sebagai miniatur pusat pendidikan kawasan konservasi di Pulau Sumba. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti
Baca Berita

Peresmian Stasiun Penelitian dan Peluncuran Logo Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu

Bengkalis, 30 April 2019. Berlangsung rapat koordinasi pengelolaan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu di Kantor Bappeda pada tanggal 29 dan 30 April 2019, yang bertujuan untuk mensinergikan dan mengoptimalkan pengelolaan cagar biosfer oleh multi stakeholder lho... Rapat tersebut dihadiri oleh LIPI, Balai Besar KSDA Riau, Bappeda Prov. Riau, Bappeda Kab. Bengkalis, Bappeda Kab. Siak, Camat, Private Sector, Akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat dan juga kawan kawan dari media. Di acara tersebut juga hadir Presiden ICC-MAB UNESCO, Prof. Dr. Enny Sudarmonowati dan Direktur Eksekutif Komite Nasional Program MAB UNESCO, Prof. Dr. Y. Purwanto. Kegiatan rakor cukup dinamis karena sudah 10 tahun cagar biosfer ditetapkan oleh dunia internasional dan tahun ini dilakukan penilaian evaluasi pengelolaan. Dalam kesempatan acara, juga diluncurkan logo sebagai indentitas cagar biosfer dan peresmian stasiun penelitian Humus. Diharapkan pengelolaan cagar biosfer memberikan manfaat untuk pelestarian keanekaragaman hayati khususnya ekosistem gambut dan memberikan manfaat sosial, ekonomi, dan budaya bagi masyarakat di Prov. Riau. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Evakuasi Orangutan Sumatera di Desa Bunga Tanjung, Sultan Daulat Kota Subulussalam

Banda Aceh, 1 Mei 2019. Personil BKSDA Aceh Seksi Wilayah 2 Subulussalam bersama mitra WCS-IP dan OIC melakukan kegiatan evakuasi orangutan sumatera (Pongo abelii) di kebun warga tepatnya di Desa Bunga Tanjung Kecamatan Sultan Daulat Kota Subulussalam. Upaya evakuasiini bermula dari laporan Saudari Sanita menghubungi petugas BKSDA Aceh melalui telpon menyampaikan pengaduan tentang terjadinya konflik orangutan di Desa Bunga Tanjung Kecamatan Sultan Daulat Kota Subulussalam. Kemudian pada tanggal 9 Maret 2019 tim melakukan pengecekan ke lokasi dan dijumpai 1 (satu) ekor orangutan di pohon nangka serta sarang dan bekas makanan seperti pelepah daun sawit dan daun kelapa. Orangutan terisolasi di kebun sawit milik seorang warga. Menurut warga setempat orangutan tersebut dalam kondisi kurang sehat bahkan pengakuan anak-anak sekitar areal kejadian menyatakan orangutan tersebut sudah terkena alat dodos kelapa sawit bahkan anak orangutan tersebut sempat diambil dari induknya. Selanjutnya pada hari Minggu tanggal 10 Maret 2019, Tim BKSDA Aceh bersama dengan personel WCS-IP dan HOCRU-OIC turun ke lokasi ditemukannya orangutan sumatera di Kecamatan Sultan Daulat dan berhasil mengevakuasi dua individu orangutan terdiri dari anak dan induknya, dengan melakukan pembiusan terhadap induk OU. Dari pemeriksaan awal di lapangan, diketahui bahwa induk Orangutan dalam kondisi terluka parah karena benda tajam pada tangan kanan, kaki kanan serta punggung. Selain itu didapati juga kedua mata induk OU terluka parah karena tembakan senapan angin. Sedangkan bayi OU yang berumur 1 bulan, dalam kondisi kekurangan nutrisi parah dan shock berat. Tim kemudian bergegas membawa kedua orangutan tersebut ke Pusat Karantina Orangutan di Sibolangit, Sumatera Utara, yang dikelola Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) melalui Program Konservasi Orangutan Sumatera (SOCP), untuk dilakukan perawatan intensif. Namun dalam perjalanan anak orangutan mati diduga karena malnutrisi. Anak OU kemudian dikuburkan di Pusat Karantina Orangutan di Sibolangit Sumatera Utara. Induk orangutan sumatera berusia sekitar 30 tahun tersebut selanjutnya diberi nama HOPE yang berarti “HARAPAN”, dengan harapan, Hope bisa pulih dan bisa mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik. Dari hasi pemeriksaan di Pusat Karantina Orangutan, Hope memiliki berat badan 35,68 Kg, kondisi rambut kusam dan kulit bersisik dengan status dehidrasi > 10 %. Bagian mulut terlihat bengkak banyak bekas luka dan memar, mata kanan terlihat bengkak sudah mengalami kerusakan permanen (bagian mata sudah mengecil dan berwarna putih susu) kemungkinan kerusakan terjadi lebih dari 2-3 bulan yang lalu. Mata kiri rusak, dengan pendarahan dibagian kornea dan pupil, diakibatkan tembakan 3 butir peluru senapan angin. Luka lebam di seluruh tubuh, terutama bagian kedua tangan, luka sayatan terbuka di beberapa bagian: Orangutan sumatera (Pongo abelii) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi dari Kelompok Mamalia Primata Famili Hominidae berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Kedua Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/ Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi, yang saat ini dalam ancaman kepunahan. Kejadian di Subulussalam ini merupakan kejadian keempat penggunaan senapan angin untuk menyerang orangutan di wilayah Aceh, selama kurun waktu 2010 – 2019. Kejadian pertama di Aceh Tenggara, kedua di Aceh Selatan, ketiga di Aceh Timur dan terakhir di Subulussalam ini. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh mengecam keras tindakan biadab yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang menganiaya satwa liar yang dilindungi undang-undang yaitu orangutan sumatera (Pongo abelii) di Desa Bunga Tanjung Kecamatan Sultan Daulat Kota Subulussalam, sehingga orangutan terluka parah dengan 74 butir peluru senapan angin bersarang di tubuhnya, serta menyebabkan bayi orangutan mati karena kekurangan nutrisi dan shock berat. BKSDA Aceh telah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum LHK, melalui Balai Penegakan Hukum LHK Wilayah Sumatera, untuk mengusut tuntas kasus kematian bayi orangutan sumatera dan penganiayaan induknya, di Subulussalam ini. Balai Gakkum Wilayah Sumatera didukung BKSDA Aceh, berkomitmen untuk dapat mengungkap kasus ini. BKSDA juga akan berkoordinasi dengan Kapolda Aceh agar dapat dilakukan penertiban peredaran senapan angina illegal, karena dalam Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012, penggunaan senapan angina hanya untuk olah raga dan harus diliput dengan ijin. Penyadartahuan masyarakat juga akan lebih massif dilakukan, dengan melibatkan tokoh masyarakat, perangkat desa, media massa serta media social, dan juga melibatkan aparat penegak hukum. BKSDA Aceh mengucapkan terima kasih kepada seluruh mitra dan masyarakat yang membantu dalam evakuasi orangutan HOPE. Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh Sapto Aji Prabowo, S. Hut.,M.Si Hp. 0812 5006 527 Kepala Seksi Konservasi Wilayah 2 Subulussalam BKSDA Aceh Hadi Sofyan, S.Si., M.Sc Hp. 0853 2789 9281
Baca Berita

Konsultasi Publik Penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Taman Wisata Sungai Dumai

Pekanbaru, 29 April 2019. Telah dilakukan Konsultasi Publik terkait Rencana Pengelolaan Taman Wisata Alam Sungai Dumai. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Balai Besar KSDA Riau dan dihadiri oleh Bappeda Kota Dumai, Dinas terkait Pemerintah Kota Dumai, Kecamatan dan Desa sekitar kawasan TWA Sungai Dumai, Lembaga Adat Melayu Riau Kota Dumai, STT Dumai serta LSM Pecinta Alam Bahari. Acara dibuka oleh Kepala Bidang Teknis Balai Besar KSDA Riau M. Mahfud, S.Hut., M.Sc. mewakili Kepala Balai Besar KSDA Riau, dengan narasumber dari Bappeda Kota Dumai dan Tim Penyusun Dokumen Rencana Pengelolaan.Konsultasi publik dilakukan dalam rangka mensosialisasikan dokumen rencana pengelolaan TWA Sungai Dumai yang dikelola oleh Balai Besar KSDA Riau melalui Seksi Konservasi Wilayah IV, Bidang KSDA Wilayah 2. Kegiatan ini bertujuan untuk mensinkronisasi Rencana Pengelolaan yang sudah disusun Balai Besar KSDA Riau dengan stakeholder terkait guna memperoleh masukan dan tanggapan. Masukan dan tanggapan dari berbagai pihak tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam pengelolaan TWA Sungai Dumai, hal ini sesuai dengan tujuan penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Jangka Panjang yaitu sebagai acuan kegiatan pengelolaan selama sepuluh tahun. Dokumen Rencana Pengelolaan diharapkan dapat memberi informasi, memandu dan mempromosikan upaya pengelolaan TWA Sungai Dumai. Hasil konsultasi publik tertuang pada Berita Acara Konsultasi Publik Rencana Pengelolaan TWA Sungai Dumai. Tindak lanjut dari konsultasi Publik di daerah ini adalah perbaikan draft rencana pengelolaan untuk selanjutnya dilakukan konsultasi publik kembali di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sumber: Balai Besar KSDA Riau

Menampilkan 5.665–5.680 dari 11.140 publikasi