Minggu, 26 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Sosialisasi Penyakit Zoonosis Virus Nipah

Sibolangit, 6 Mei 2019. Penyakit Nipah adalah jenis gangguan pada otak yang disebabkan virus Nipah. Virus ini masuk ke dalam tubuh melalui perantara hewan seperti kelelawar dan babi, ujar Kepala Bidang KSDA Wilayah I Mustafa Imran Lubis, SP., saat membuka Sosialisasi Penyakit Zoonosis, dihadapan aparat desa dan masyarakat penjual Kalong di Desa Pertampilan Kec. Pancurbatu dan Desa Bingkawan Kec. Sibolangit tanggal 2 Mei 2019. Virus Nipah atau Henipavirus adalah genus dari keluarga Paramyxoviridae, ordo Mononegavirales, mempunyai 2 anggota yaitu Hendravirus dan Nipahvirus. Virus Nipah, secara alami hidup di dalam tubuh dari kelelawar jenis kalong atau Pteropus sp. Meski hidup di dalam tubuh kalong, virus Nipah berada pada kondisi tidur dan tidak membunuh kelelawar. Virus Nipah baru menyebar saat kelelawar stres akibat perubahan ekosistemnya. Pada kondisi ini virus bisa menjadi aktif dan masuk ke saluran eksresi dan juga kelenjar liur. Setelah virus aktif, kotoran dari kelelawar yang jatuh akan berisi virus Nipah. Hal yang sama juga terjadi pada buah-buahan yang dimakan oleh kelelawar. Saat buah jatuh atau kotoran berada di tanah termakan oleh hewan seperti babi, virus akan masuk. Babi akan menjadi perantara sebelum menular ke manusia melalui kontak langsung dan udara. Selain melalui babi, virus Nipah juga bisa langsung menular dari kelelawar ke manusia, demikian penjelasan tambahan Dokter Hewan Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit Tia Zalia Batubara didampingi oleh Zakia Sheila Faradillah S.KH dan Samuel Siahaan,SP., yang turut juga dihadiri Lembaga ISCP bersama Volunteernya. Sosialisasi selain dihadiri aparat desa, Kepala Dusun Desa Rambung Baru dan Desa Bingkawan, juga masyarakat Penjual Kalong di Desa Bingkawan dan Rambung Baru. Tujuannya agar masyarakat mengetahui dan ikut mencegah bahaya Penyakit Zoonosis yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya. Para penjual kalong bisa saja terkena apabila tidak ada alat pelindung diri. Hampir setiap hari mereka berinterkasi dengan kalong ketika saat memberi makan, membersihkan kandang dan bahkan memegang Kalong ketika akan dijual kepada pembeli. Oleh karena kalong merupakan salah satu satwa liar, maka Balai Besar KSDA Sumatera Utara berkewajiban mensosialisaskan Zoonosis kepada masyarakat agar terhindar dari Virus Nipah dimasa mendatang. Kelelawar atau Kalong mengeluarkan Virus Nipah kedalam eksresi dan sekresi seperti : air liur, urin (kencing) dan kotorannya. Virus Nipah memiliki masa inkubasi selama 4-18 hari dengan gejala klinis antara lain radang saluran pernafasan dan batuk menyerupai influenza, demam tinggi yang mendadak dan nyeri otot. Kalau kondisi sudah semakin parah, penderita akan mengalami peradangan otak (encephalitis) dengan disertai pusing, mual dan muntah, disorientasi, dan konvulsi. Tanda-tanda dan gejala dapat berkembang menjadi koma dalam waktu 24-48 jam. Sebanyak 50% kasus infeksi klinis virus Nipah berakhir dengan kematian. Selama wabah penyakit Nipah pada tahun 1998-1999, sebanyak 265 orang telah terinfeksi virus Nipah dan sekitar 40% dari pasien yang masuk rumah sakit dengan penyakit saraf serius telah meninggal dunia. Penyakit Zoonosis ini ini bisa dicegah, ucap Dokter Hewan Tia Zalia, dengan cara:menghindari hewan yang diketahui atau dicurigai terinfeksi atau berpotensi terinfeksi virus Nipah, menggunakan alat pelindung saat berinteraksi dengan hewan yang berpotensi menularkan penyakit, tidak sembarangan makan buah yang jatuh ke tanah karena buah biasanya jatuh ke tanah setelah dimakan oleh kelelawar, sehingga kemungkinan liurnya menempel cukup besar. Tidak kontak langsung dengan kalong/kelelawar baik itu yang liar atau yang dipelihara. Kemungkinan penularan melalui sentuhan atau melalui cipratan urine dan juga kotoran sangat mungkin terjadi. Bagi yang memiliki ternak khususnya babi, waspadalah dengan apa yang dimakan, jangan biarkan babi makan buah yang jatuh karena ada kemungkinan terkena liur dari kelelawar. Kalau ada babi yang terinfeksi, sebisa mungkin untuk di isolasi (dipisahkan) agar virus tidak menyebar. Pada Kesempatan Sosialisasi Zoonosis ini, masyarakat berterima kasih atas waktu yang diberikan Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wialayh I dan berharap untuk rutin mensosialisasikan kemasyarakat serta bermohon agar dibantu dengan alat pelindung diri seperti masker dan sarung tangan. Sumber: Samuel Siahaan, SP. (PEH Pertama) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Kebakaran di SM Barumun Berhasil Dipadamkan

Batang Onang, 6 Mei 2019. Berawal pada Rabu, 3 Mei 2019, sekitar pukul 11.35 Wib, petugas Resort SM. Barumun II Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan, menerima laporan dari Manggala Agni DAOPS Labuhan Batu tentang terjadinya kebakaran hutan di wilayah SM. Barumun. Laporan ini ditindaklanjuti dengan turun langsung ke lokasi bersama-sama dengan petugas Koramil 07 Sosopan serta petugas Manggala Agni DAOPS Labuhan Batu. Informasi di lapangan yang dikumpulkan Tim, bahwa asal mula kebakaran terjadi di wilayah Barumun Nagary Wildlife Sanctuary, yang berbatasan langsung dengan kawasan SM. Barumun. Namun kemudian api merembet hingga masuk ke dalam kawasan SM. Barumun. Penyebab pasti kebakaran belum diketahui. Lahan yang ditumbuhi alang-alang serta angin yang cukup kencang menjadi faktor mempercepat api merembet dan juga menyebabkan Tim kesulitan dalam memadamkan api. Namun dengan semangat kebersamaan yang tinggi, meskipun dengan menggunakan alat-alat sederhana (gepyok), Tim berhasil memutus jalur api sehingga kebakaran tidak menjalar lebih luas lagi. Perlu waktu sekitar 5 jam untuk memadamkan api. Beruntung kondisi cuaca yang kemudian mendung dan turun hujan sehingga api dapat dipadamkan dengan sempurna. Lokasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan berada pada titik koordinat : N : 1º 21’ 40” , E : 99 º 24’ 11”, berada dekat dengan lokasi penanaman SM Barumun tahun 2018. Diperkirakan luas areal yang terbakar sekitar ± 50 Ha. Selanjutnya Tim memberikan penyuluhan dan menghimbau masyarakat agar tidak melakukan aktifitas membakar di lahan kebunnya dengan sembarangan, karena akan berdampak merambat ke kawasan. Tim juga memantau kondisi kawasan pasca kebakaran untuk mengantisipasi kegiatan-kegiatan illegal, seperti : perburuan satwa liar yang dilindungi. Menjadi komitmen Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan untuk terus menjaga dan menjalin hubungan baik dengan pihak Koramil serta Manggala Agni DAOPS Labuhan Batu, agar kedepannya upaya mencegah dan menangani permasalahan kebakaran hutan dan lahan lebih baik lagi. Sumber : Darmawan, S.Hut., M.Sc. - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Mandi Balimau Bersama Gajah di Tepian Sungai Nilo

Lubuk Kembang Bunga, 4 Mei 2019. Pada Kamis s.d Jumat, 02-03 Mei 2019 menyambut bulan suci Ramadhan, masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga bersama dengan mitra dan Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) gelar mandi balimau bersama gajah di tepian sungai Nilo Desa Lubuk Kembang Bunga. Acara satu kali dalam satu tahun tersebut dilaksanakan dengan berbagai rangkaian acara selama dua hari penuh dengan berbagai rangkaian acara . Mandi balimau merupakan tradisi masyarakat desa penyangga TN.Tesso Nilo yang dilaksanakan dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan dengan mensucikan diri di tepian sungai Nilo. Seluruh masyarakat berkumpul ditepian sungai menyaksikan pagelaran acara dan turun bersama-sama mandi disungai. Dalam mandi disungai gajah Flying Squad Balai TN.Tesso Nilo juga diikut sertakan dengan turun kesungai mandi bersama masyarakat. Pada hari pertama, kamis 02 Mei 2019 acara yang dipanitiai oleh Batin Muncak Rantau ini di isi dengan rangkaian acara pacu sampan yang diikuti oleh warga desa setempat di sungai nilo. Hari kedua, Jumat, 03 Mei 2019 Mandi Balimau dibuka resmi dengan pertunjukan tarian tradisional dan silat pangean. Pembukaan acara dihadiri oleh semua tokoh masyarakat Desa serta dihadiri juga oleh Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo Mewakili, Kepala SPTN I LKB Bapak Taufiq Haryadi, SP, Pihak kecamatan Ukui, Babinsa Desa LKB, Kapolsek Ukui, RAPP dan tokoh adat. Acara mandi belimau juga menyuguhkan tausiah agama oleh pemuka agama yang didatangkan dari Pekanbaru. Puncak dari acara mandi balimau bersama gajah adalah masyarakat yang turun bersama sama mandi kesungai dan menyaksikan gajah-gajah yang ikut dimandikan. air yang digunkan adalah air khusus yang sudah diberi potongan potongan jeruk dan bahan ramuan lainnya. Ramuan mandi tersebut merupakan ramuan yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat secara turun temurun untuk mandi menyambut bulan suci ramadhan . Menurut Kepala SPTN I LKB, TN.Tesso Nilo sangat mengapresiasi antusias masyarakat yang hadir ke gelaran mandi balimau bersama gajah, “acara mandi balimau ini disokong TN.Tesso Nilo untuk dilaksanakan setiap tahunnya demi melestarikan budaya masyarakat tempatan, harapannya pelestarian budaya ini sejalan dengan lestarinya hutan TN.Tesso Nilo yang merupakan hulu dari sungai nilo” terang Kepala SPTN I LKN Taufiq Haryadi. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Balai TN Tesso Nilo Kembali Laksanakan Pelatihan Keterampilan Masyarakat Desa Binaan

Lubuk Batu Tinggal, 5 Mei 2019. Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) melaksanakan Pelatihan Keterampilan Masyarakat Desa Binaan TN Tesso Nilo. Pelatihan diikuti oleh Kelompok Mitra Sejahtera - Desa Lubuk Batu Tinggal dilaksanakan di Balai Desa Lubuk Batu Tinggal. Pelatihan dilakukan dalam rangka membangun kemandirian masyarakat dan pemberdayaan masyarakat melalui penciptaan usaha ekonomi berupa Produksi Bibit tanaman kehutanan dan MPTS dalam rangka mendukung pemulihan ekosistem di zona rehabilitasi kawasan TN Tesso Nilo. Pelatihan dilaksanakan bersama dengan pegajar atau narasumber dari Balai TN.Tesso Nilo Bapak Fauzan Kahfi, S.Hut, M.IL dan BPDASHL Indragiri Rokan Bapak Sudarto , SP. Pelatihan diikuti oleh 30 peserta dari Kelompok Mitra Sejahtera. “Pelatihan produksi bibit tanaman hutan dan MPTS yang kita laksanakan selain membangun kemandirian masyarakat semoga dapat mendukung pemulihan ekosistem di zona rehabilitasi kawan TN.Tesso Nilo” ungkap pengajar pelatihan dari TN.Tesso Nilo Fauzan Kahfi, S.Hut, M.IL Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Langkah Awal Kembangkan Wisata Desa Bonto Masunggu

Maros, 6 Mei 2019. Personil Resort Tondong Tallasa Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusarung (TN Babul) melakukan kegiatan pembinaan kelompok pengelola ekowisata (KPE) Lamassua. Pembinaan ini berlangsung di kantor Desa Bonto Masunggu, Tellu Limpoe, Bone, pada Jumat (3/5/2019). Desa Bonto Masunggu memiliki potensi wisata yang layak untuk dikembangkan. Desa ini memiliki keindahan air terjun dan pemandangan alam yang menawan. Karenanya Balai TN Bantimurung Bulusaraung memotivasi dan terus mendukung kelompok pengelola untuk menggalakkan peran serta masyarakat mengembangkan wilayahnya. Anggota KPE Lamassua beserta tokoh masyarakat antusias mengikuti pembinaan. Hadir juga Kepala SPTN I Balocci, Kepala Desa Bonto Masunggu Babinkamtibmas Bonto Masunggu, serta pemerhati wisata alam. Kepala Desa Bonto Masunggu selaku pembina kelompok mengapresiasi kegiatan ini. Ia juga berharap agar seluruh anggota dapat bersinergi dalam melaksanakan tugas. "Pada berbagai kesempatan baik formal maupun informal kami selalu mempromosikan Desa Bonto Masunggu sebagai desa wisata penyangga taman nasional," terang Iqbal Abadi Rasjid, Kepala SPTN Wilayah I Balocci, dalam sambutannya. Rangkaian pembinaan ini juga melakukan pemilihan ketua kelompok. Adalah Yanci, ST., terpilih sebagai Ketua KPE Lamassua. Hasil lainnya: rencana pembangunan jalan tani menuju air terjun Lamassua akan dilaksanakan tahun ini dengan menggunakan anggaran desa. Pada kesempatan yang sama Bank Indonesia perwakilan Sulawesi Selatan juga menggelar lintas alam di Desa Bonto Masunggu. Kelompok pengelola ekowisata bertindak sebagai pemandu, menunjukkan keindahan alam pegunungan desanya, termasuk tujuh air terjunnya. Event jelajah alam ini merupakan langkah awal pengembangan wisata desa ini kepada khalayak. Besar harapan akan seperti wisata Rammang-rammang di mana Bank Indonesia juga turut andil pada awal pengembangannya. Kepala SPTN Wilayah I dalam diskusi dengan pimpian Bank Indonesia berharap ke depan ada kolaborasi lanjutan antara Bank Indonesia, TN Bantimurung Bulusaraung, pemerintah desa, dan tentunya masyarakat Bonto Masunggu dalam pengembangan wisata desa ini. "Kami sampaikan terima kasih kepada Direktur Bank Indonesia perwakilan Sulawesi Selatan atas kunjungan dan rencana pengembangan fasilitas umum desa kami berupa pembangunan musala (tempa beribadah) dan kolam ikan," ungkap Najamuddin, Kepala Desa Bonto Masunggu. Semoga dengan kegiatan pembinaan kelompok serta kunjungan Bank Indonesia perwakilan Sulawesi Selatan menjadi langkah awal pengembangan wisata di Desa Bonto Masunggu. Sumber: Ramli – PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Pembahasan Rencana Teknis Pelaksanaan Rehabilitasi Das di TN Tesso Nilo

Pekanbaru, 30 April 2019 Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) adakan rapat pembahasan rencana teknis pelaksanaan rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) TN. Tesso Nilo di Pekanbaru. Kegiatan rapat pembahasan ini dipimpin langsung oleh Kepala Balai TN. Tesso Nilo, Bapak Ir. Halasan Tulus Hutauruk serta dihadiri oleh mitra dan rekan yaitu: Kepala Balai PDAS Indragiri Rokan beserta tim, dan EMP Malacca Strait SA. Dalam rapat ini dibahas percepatan proses rehabilitasi DAS yang dilaksanakan EMP Malacca Strait di kawasan TN. Tesso Nilo seluas 592 Ha. Balai TN.Tesso Nilo dan BPDASHL Indragiri Rokan juga sepakat dan siap mendukung sepenuhnya kegiatan rehabilitasi. Pada rapat pembahasan juga telah disepakati bahwa proses rehabilitasi dilakukan oleh masyarakat, dan masyarakat akan dilibatkan dalam proses kegiatan rehabilitasi dari awal. “Dalam pembahasan kita sudah bahas apa saja langkah selanjutnya dan apa saja kendala yang dihadapi, pihak Balai TN.Tesso Nilo berharap pembahan rehabilitasi tersebut dalam dilaksanakan sesuai dengan yang sudah TN.Tesso Nilo dan mitra susun” jelas Kepala Balai TN.Tesso Nilo Bapak Ir. Halasan Tulus. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Ngopi Sejak Dini di PPKAB

Cibodas, 4 Mei 2019. Tanggal 2 Mei 2019 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Pusat Pendidikan Konservasi Alam Bodogol (PPKAB) menjadi tempat “ngopi” (ngobrol pintar) dalam kegiatan “School Visit”. Ini dilakukan secara rutin setiap tahun dengan target sekolah yang berbeda-beda. Target kali ini adalah SDN Babakan Kencana yang merupakan salah satu Sekolah Dasar yang berada dekat dengan kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) khususnya di Resort PTN Bodogol. Siswa Sekolah Dasar tersebut menjadi salah satu target pendidikan konservasi untuk usia dini pada kegiatan dalam "ngopi" kali ini. Siswa yang ikut “ngopi” berjumlah 34 orang (perwakilan dari kelas 4, 5, dan 6), didampingi oleh para mentor yang terdiri dari petugas TNGGP, Conservation International (CI), dan Forum Interpreter PPKAB. Kegiatan diawali dengan “sharing” selayang pandang TNGGP dan sekilas tentang sejarah PPKAB di information center. Hal ini dilakukan mengingat sebagian besar dari siswa hanya mengetahui dan mengartikan kawasan taman nasional dengan sebutan “gunung”. Untuk itu, perlunya pemahaman tentang arti dari taman nasional dan fungsinya. Terlebih siswa tersebut bertempat tinggal dekat dengan kawasan yang mempunyai peranan penting untuk ikut serta menjaga dan memelihara kawasan. Masih di information centre, para mentor juga menginterpretasikan foto dan display tentang keanekaragaman hayati yang ada di TNGGP. Tidak hanya sampai disitu, mereka juga dibuat penasaran untuk melihat langsung satwa-satwa di jalur interpretasi. Sepanjang jalur menuju canopy trail, para mentor menjelaskan tentang keanekaragaman, keunikan, dan manfaat tumbuhan, dan satwa yang dijumpai. Menjelang canopy trail peserta sempat dibuat takjub dan senang saat menjumpai jenis elang ular bido yang sedang terbang dan satu kelompok owa jawa yang sedang makan. Diakhir kegiatan, peserta kemudian diajak untuk merefleksikan kembali tentang materi yang sudah didapatnya. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penyadartahuan yang dilakukan oleh Balai Besar TNGGP, disamping melalui sosialisasi kepada masyarakat, pemberdayaan masyarakat serta pelibatan masyarakat dalam upaya perlindungan kawasan. Pendidikan konservasi usia dini merupakan salah satu upaya untuk dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang akan arti pentingnya konservasi sejak usia dini. Karena diharapkan dari usia dini inilah mereka mulai tertanam perilaku kebiasaan hidup yang mengutamakan prinsip-prinsip kelestarian sumber daya alam dan lingkungan serta dapat menularkan gaya hidup yang sadar konservasi kepada teman-temannya dan lingkungan lainnya. Salam Konservasi! Selamat Hari Pendidikan Nasional! Jayalah Pendidikan Indonesia! Sumber: Nidia Opinta, A.Md. – Polisi Kehutanan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Pidana Penjara Pelaku Perdagangan Satwa Liar Melalui Medsos

Medan, 3 Mei 2019. Sidang kasus perdagangan satwa liar dilindungi melalui akun media sosial facebook akhirnya mencapai puncaknya. Pada Kamis, 2 Mei 2019, di ruang sidang Cakra 7 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Majelis Hakim menjatuhkan vonis (putusan) pidana penjara 1 tahun 6 bulan terhadap terdakwa Arbain alias Bain (25), warga Dusun III, Desa Paluh Manan, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang. Selain itu, terdakwa juga dikenakan hukuman denda sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah), dan apabila terdakwa tidak mampu membayar denda tersebut, maka diganti (subsider) dengan 3 bulan kurungan. Majelis hakim berpendapat, bahwa terdakwa Arbain terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan kegiatan perdagangan satwa liar, berupa : 3 (tiga) individu anak Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus), 1 (satu) individu Kucing Akar (Prionailurus bengalensis) dan 3 (tiga) individu anak Lutung Emas (Trachypitecus auratus), melalui media sosial, dan perbuatan tersebut melanggar ketentuan pasal 21 ayat (2) huruf a jo. Pasal 40 ayat (2) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Hal yang memberatkan menurut majelis hakim, perbuatan terdakwa menghambat dan tidak mendukung program pemerintah, yaitu konservasi satwa liar. Sedangkan yang meringankan, terdakwa mengaku bersalah, sangat menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi kembali perbuatannya. Sedangkan terhadap barang bukti berupa 3 (tiga) individu anak Elang Brontok, 1 (satu) individu Kucing Akar dan 3 (tiga) individu anak Lutung Emas, majelis hakim memutuskan agar dikembalikan ke habitatnya melalui Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Putusan Majelis Hakim PN Medan ini lebih ringan 6 bulan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Sri Wahyuni, SH., yang menuntut terdakwa 2 tahun penjara dan denda Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) subsider 6 bulan kurungan. Tuntutan dibacakan sebelum putusan, pada hari yang sama, kamis 2 Mei 2019. Vonis ini tentunya patut disambut baik, sebagai bentuk apresiasi atas kinerja jajaran Kepolisian Daerah Sumatera Utara yang bekerjasama dengan Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam mengungkap kasus-kasus perdagangan satwa liar. Harapannya kedepan dalam kasus yang lain, putusan majelis hakim dapat lebih meningkat lagi. Sumber : Evan - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Temuan Gua Karst Hunian Manusia Prasejarah

Maros, 3 Mei 2019. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) menemukan gua prasejarah di Resor Pattunuang. Lokasi gua berada di Dusun Pattunuang, Desa Samangki, Simbang, Maros. Temuan ini bermula saat tim Pemetaan Alur Hidrologi Endokarst melakukan survey lanjutan pada akhir Januari 2019 lalu. Taman nasional ini memiliki wilayah dengan ekosistem karst yang cukup luas. Pada wilayah inilah teridentifikasi manusia prasejarah telah menghuni pada ribuan hingga puluhan ribu tahun yang lalu. Memanfaatkan gua-gua alam sebagai tempat tinggal mereka. Sejumlah lukisan dan tinggalan berupa alat batu dan sampah dapur sebagai buktinya. Tim pemetaan alur hidrologi menemukan sejumlah gambar di dinding gua. Hasil identifikasi menyimpulkan bahwa gambar tersebut merupakan gambar yang dilukis oleh manusia prasejarah. Temuan gambar berupa lukisan telapak tangan berwarna merah kehitaman. Balai TN Babul kemudian berkoordinasi dengan instansi terkait: Balai Arkeologi Sulawesi Selatan dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan. Balai Arkeologi Sulawesi Selatan kemudian menanggapi temuan ini dengan melakukan survey pendahuluan. Melakukan identifikasi tinggalan lainnya serta memetakan situasi gua prasejarah. Survey ini berlangsung pada Selasa, 30 April 2019. Lukisan tangan berada di sisi kiri gua pada ketinggian tujuh meter dari permukaan dasar gua. Lukisan prasejarah terdiri dari empat panel. Hanya dua gambar tapak tangan yang utuh dan tampak jelas. Mulut gua sendiri berada pada ketinggian 50 meter pada dinding karst. Ornamen gua ini cukup beragam. Stalaktit, stalakmit, flowstone, pilar hingga kanopi bisa dijumpai gua ini. Tim survey Balai Arkeologi Sulawesi Selatan mengamati secara saksama kondisi gua yang belum memiliki nama ini. “Sepertinya gua ini tak lama dihuni oleh manusia prasejarah. Tak banyak temuan sisa sampah dapur yang bisa kami temukan di permukaan. Begitupun alat batu, nihil. Hanya beberapa kerang yang kami temukan. Bisa jadi gua ini hanya menjadi persinggahan saat mereka berburu di wilayah hutan batuan karst ini,” analisis Amrullah, anggota tim survey Balai Arkeologi Sulawesi Selatan. Semoga ke depan gua ini bisa menjadi bahan penelitian lebih lanjut untuk mengungkap misteri yang terpendam. Sumber: Taufiq Ismail – Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Pelatihan Inovasi Gahkarhutla Bagi MPA Di Pasuruan

Pasuruan, 3 Mei 2019. Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama BPPI Karhutla wilayah Jawa Bali Nusra bekerjasama melaksanakan Pengembangan Inovasi Gahkarhutla Dalam Upaya Adaptasi Perubahan Iklim Pada Masyarakat Peduli Api (MPA), 2 Mei 2019 di Randuwana – Kertosari, Pasuruan. Anggota MPA yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 30 orang yang terdiri dari perwakilan MPA Singo Baung – Desa Cowek, Gunung Krikil – Desa Kertosari, Sumber Baung – Desa Lebakrejo, Gunung Abang Lestari – Desa Kedungpengaron, dan Gunung Abang – Desa Sapulante, Desa Ampelsari. Adapun materi yang diberikan dari Balai Besar KSDA Jawa Timur berupa pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Pada materi tersebut di paparkan terkait konsep segitiga api yang terdiri dari bahan bakar, cuaca dan topografi, tipe sekat bakar, SPBK, pengenalan alat damkarhutla, perilaku api, teknik pemadaman kebakaran. Selanjutnya pada pemaparan materi gambaran perubahan iklim dijabarkan terkait adaptasi, mitigasi dan proklim (program kampung iklim) dan tips gaya hidup rendah karbon. Serta kegiatan- kegiatan dalam program kampung iklim, seperti pemilahan sampah organik dan organik, bank sampah, penghematan air, penanaman, patroli karhutla, sistem pola tanam, irigasi, penanaman toga, pengendalian penyakit terkait iklim, sanitasi, reklamasi pantai, dan membersihkan selokan. Disamping itu kelompok MPA juga diarahkan untuk mendokumentasikan setiap kegiatan MPA dalam rangka keikutsertaan sebagai desa proklim. Di akhir kegiatan diberikan praktek pembuatan briket dari arang kayu. Sumber : Veve Ivana Pramesti - Penyuluh Kehutanan pada Seksi Konservasi Wilayah VI Probolinggo Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Evakuasi Buaya Muara di SKW 1 BKSDA Kalsel

Barabai, 30 April 2019 – Buaya Muara (Crocodylus porosus) yang menjadi peliharaan warga Jl. Sarigading, Barabai, Kab. HST, pada tanggal 30 April 2019, sekitar pukul 17.45 WITA sudah berhasil dievakuasi oleh Tim BKSDA Kalsel. Buaya tersebut sempat terlepas dari kandang dan meresahkan warga . Informasi tentang keberadaan buaya muara sempat menjadi perbincangan di sosial media. Buaya muara dengan panjang 1 meter dan umur 3 tahun itu sudah dipelihara warga (Syamsuri) sejak dari kecil. Berdasarkan pengakuannya, buaya tersebut berasal dari Kalimantan Timur. Menurut Kepala Balai BKSDA Kal-Sel Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., Buaya Muara merupakan satwa dilindungi Undang-undang. Dihimbau kepada masyarakat yang memelihara satwa yang dilindungi untuk menyerahkan ke BKSDA Kalsel agar dapat dilepasliarkan atau dipelihara di Lembaga Konservasi, imbuhnya. Buaya selanjutnya akan dititipkan ke Lembaga Konservasi Satwa binaan BKSDA Kalsel di Tanah Bumbu. Harapannya buaya tersebut mampu beradaptasi dan berkembangbiak di lokasi barunya, di Lembaga Konservasi yang telah dikelola secara profesional. (jrz) Sumber : Jarot Jaka Mulyono S.Hut, M.Sc - PEH Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Produk Konservasi Desa Nibung

Pontianak, 3 Mei 2019. Desa Nibung berada di sekitar Taman Wisata Alam (TWA) Tanjung Belimbing, TWA Sungai Liku dan TWA Gunung Melintang. Sebuah desa beruntung menjaga beberapa kawasan konservasi. Masyarakat Desa Nibung berkumpul dan menamai dirinya sebagai Kelompok Tani Tanjung Berembang. Bersama mewujudkan HUTAN LESTARI MASYARAKAT SEJAHTERA. Sedikit suntikan stimulus menjadikan masyarakat ini berdaya. Kali ini kepiting, tengkuyung dan madu kelulut dari Balai KSDA Kalimantan Barat (BKSDA Kalbar) menjadi obyek perjuangannya. Perjuangan menuju Desa Wisata Konservasi Nibung. Konsumsi madu kelulut untuk Dukung Desa Nibung menjadi Desa Wisata Konservasi. Pemesanan produk : Regenda (0852 5200 0820) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Menggapai Puncak Gunung Merbabu bersama Tim Jelajah 54 Taman Nasional (Bagian #1)

Prolog Wisata pendakian di Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) sangat favorit bagi pendaki yang berasal dari : Yogyakarta, Solo, Semarang, Boyolali, Klaten, Bandung, Jakarta, Bekasi, Ciamis, Banten, Surabaya, dan lainnya, bahkan wisatawan mancanegara seperti Australia, Singapura, Malaysia, dan Eropa. Ada tiga event tahunan bagi para pendaki Gunung Merbabu, yaitu HUT RI 17 Agustus, Tahun Baru Hijriyah (1432 H)/1 Suro dan Tahun Baru Masehi. Jalur Pendakian Selo via dusun Genting (kantor Resort Selo) tak hanya menjadi salah satu pintu masuk pendakian resmi di TNGMb tapi menjadi jalur favorit pendaki. Secara administratif jalur pendakian Selo terletak di Dusun Genting, Desa Tarubatang, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Panjang jalur sampai ke puncak sepanjang 5,6 km dengan kondisi jalur yang cukup baik dan relatif landai. Inilah yang menjadi salah satu keinginan Tim Jelajah 54 TN Indonesia untuk Menggapai Puncak Gunung Merbabu melewati Jalur Selo. Delapan petugas Balai TNGMb (kantor balai dan Resort Selo) akan mendampingi Tim Jelajah 54 TN Indonesia yang digawangi Medina Kamil, Harley Sastha dan tim yang berjumlah 8 orang. Perjalanan Menggapai Puncak Gunung Merbabu dimulai tanggal 25 s.d 29 April 2019. Perjalanan ke Pos 1 – 26 April 2019 Sebelum perjalanan ke Pos 1, Tim terlebih dahulu melakukan briefing Menggapai Puncak Gunung Merbabu pada tanggal 25 April 2019. Jarak tempuh Pos Registrasi / kantor Resort Selo ke Pos 1 adalah 17 hm atau 1,7 km dan akan ditempuh sekitar 50 menit dengan rentang ketinggian 1800 – 2200 mdpl. Beberapa poin of interest yang beragam dijumpai diantaranya, HM.2 hamparan rumput di zona tradisional dengan naungan pohon Bintami dan Puspa yang menjulang tinggi serta sapaan nyanyian burung terdengar dengan merdu seperti Bentet kelabu, Tekukur biasa dan Sikatan mugimaki. Perjalanan dari HM.2 hingga HM.7 dirasakan dengan langkah agak berat karena medan cenderung menanjak (agak curam) tetapi terbayarkan dengan rimbunnya pepohonan Puspa (Schima walichii) dan ramainya kawanan burung berwarna orange Sepah gunung. Menjelang HM.12 tim menjumpai sekelompok Monyet ekor panjang yang sedang mencari makan di pohon akasia (saat ini musim berbuah). Biasanya monyet jantan turun ke permukaan jalur pendakian, hal ini membuat sebagian pendaki kaget dan merasa was-was akan makanan yang dibawanya. Tapi jika kita tidak mengganggu kawanan monyet tersebut, mereka juga tidak akan merebut apa yang kita (pendaki) bawa selama melewati jalur pendakian ini. Tim tiba di Pos 1 Dok Malang pada HM.17, rehat sejenak dan bincang kecil tentang apa yang telah dirasakan selama perjalanan tadi. Host Jejak 54 TN, bang Harley dan Medina Kamil bertanya kepada kami Tim Pendamping TN “bagaimana peluang ketemu dengan satwa endemik TNGMb, si Rek-rekan ??!”. Saya menyahut : peluang cukup baik hari ini karena cuaca cerah dan sinar matahari masih bertahan menghangatkan hutan Gunung Merbabu ini. Perjalanan ke Pos 2 Pos 2 Pandean berada pada patok HM.28 artinya perlu perjalanan 1100 meter atau 40 menit dari Pos 1 (HM.17) dan rentang ketinggian 2200 – 2400 mdpl. 300 meter dari Pos 1 memasuki area pepohonan cukup lebat berupa jenis Kesowo, Pampung dan Sengiran. Berdasar pengalaman petugas pada area ini cukup mudah dijumpai primata jenis Lutung budeng dan Rek-rekan. Tim sudah melewati HM.20 area pepohonan lebat tersebut, tetapi belum menjumpai seekor pun satwa tersebut. Tim sampai di HM.21 mendekati Simpang Macan, petugas Balai TNGMb (Jarot dan Jupri) melihat primata dengan morfologi tubuh semua gelap/hitam sedang bergelantungan di tajuk pohon Sengiran dan Kesowo sisi kiri jalur. Kemudian Tim Jelajah TN mendekat, kurang dari 1 menit mengamati perilaku primata tersebut, petugas Balai TNGMb dapat mengidentifikasi jenisnya yaitu Lutung budeng (Trachypithecus auratus). Sesi liputan dan dialog alam pun dimulai, host Harley mengawali perbincangan dan tim film sudah sibuk dengan dokumentasi videonya. Sembari liputan, petugas Balai TNGMb (Jarot) melihat lutung yang berwarna orange-coklat tidak jauh dari lutung dewasa. Si orange ini adalah bayi lutung, warna yang khas saat mereka masih bayi (baca: infant). Interaksi lutung infant ini menarik perhatian host Medina, perbincangan langsung mulai dengan Jarot selaku petugas Balai TNGMb yang cakap menguasai seluk beluk satwa liar di kawasan hutan TNGMb. Puas selama 10 menit berinteraksi dengan kelompok Lutung budeng (6 ekor) di HM.21 ini Tim melanjutkan perjalanan ke Pos 2. Melewati HM.23 (Simpang Macan) Tim kembali berjumpa satwa primata di HM.25. Blususkan ke pepohonan Kesowo dan Sengiran kami lakukan untuk mengetahui jenis primata ini, petugas TN dan host akhirnya mendapati 1 ekor sedang tengger di pohon Kesowo dan teridentifikasi jenis Lutung budeng lagi. Rasa lelah dan penasaran kami hampir merasuk semua ke jejak yang terus dilewati. Saat yang ditunggu pun tiba, di HM.27 petugas Balai TNGMb (Jarot) melihat satu kelompok primata sedang berkerumun di satu pohon seberang jurang lokasi Tim. Jarot mengamati seksama dan didapat jenis Rek-rekan (Presbytis fredericae) sejumlah 7 ekor. Hal ini menjadi kabar gembira untuk kami semua, bahwa perjumpaan Rek-rekan akhirnya terwujud di HM.27 ini. Kembali, sesi liputan dan interaksi antar tim terjadi cukup lama disini. Mengamati dan mengenal lebih rinci perkembangan populasi dan site monitoring Rek-rekan yang menjadi satwa prioritas TNGMb dilakukan disini. Jempol untuk semua, kata host Harley. Semua Tim telah sampai di shelter Pos 2 Pandean dengan energi semangat yang bangkit setelah target pertama berjumpa dengan satwa endemik TNGMb Rek-rekan terwujud. Sesaat perjalanan dilanjutkan, Jarot pun menambahkan harapan semangat ke Tim, di area Pos 2 Pandean sampai sebelum Pos 3 biasanya petugas TN saat kegiatan monitoring/survei satwa juga menemukan kawanan Rek-rekan. Perjalanan ke Pos 3 Medan ke Pos 3 Batu Tulis memiliki rentang ketinggian 2400 – 2600 mdpl berupa datar sampai curam, menempuh jarak 500 meter dari Pos 2 atau dari HM.28 sampai HM.33, dan waktu tempuh normal 25 menit. Kondisi ekosistem di perjalanan dapat dijumpai Kemlandingan gunung yang meranggas, semak, arbei gunung, eidelweiss, dan asam-asaman. Di HM.29 petugas Balai TNGMb (Sukimin) menunjukan pada Tim untuk mencicipi buah arbei gunung yang cukup melimpah, mereka pun berebutan memetiknya dan langsung memasukan ke dalam mulut, senang dan enak rasanya (kata Tim Jelajah TN). Perjalanan berlanjut sampai di badan jalur pendakian yang agak curam sebelum HM.31, Jarot melihat jauh di depan 2 ekor primata sedang duduk di cabang pohon kemlandingan, setelah di zoom kamera diketahui jenis Rek-rekan. Tim Jelajah TN mendekat dan Jarot menghentikan mereka sembari berkata “Stop, ayo tebak di area ini kita dapat melihat Rek-rekan ??!, silahkan dibuktikan (setiap orang memulai tengak-tengok dimanakah satwa tersebut”. Jarot, jarot.... saya tidak menemukan (kata Medina), begitu juga Tim Jelajah dan petugas TN lainnya “kami tidak lihat ...”. Selama 5 menit pencarian dan “menyerah”, Jarot kemudian memberikan petunjuk arah posisi keberadaan Rek-rekan, “disana teman-teman, sambil menunjuk ke arah Rek-rekan”. Wah mantap nih Jarot bisa peka akan keberadaan satwa, bahkan dari perjalanan dari Pos 1 tadi sering berjumpa satwa duluan, burung, lutung, dan rek-rekan (kata host Medina Kamil dan Harley Sastha). Tim Jelajah TN mulai melakukan pengambilan gambar dan moment ini dimanfaatkan menerbangkan drone untuk lebih dekat ke Rek-rekan dengan cuaca yang cerah dan berkabut. Tim tiba di Pos 3 Batu Tulis, istirahat dan menyantap makan siang bersama. Kesimpulan bagian #1 Waktu menunjukkan angka 12.15, kami berada di Pos 3 Batu Tulis dengan kondisi sehat dan aman semua. Kami memulai perjalanan dari Pusat Informasi Pendaki di HM.2 atas Pos Registrasi/Kantor Resort Selo pada angka 08.05. Waktu tempuh sampai Pos 3 Batu Tulis ini sudah kami lalui selama 4 jam 10 menit. Target pertama untuk mengenal satwa endemik TNGMb Rek-rekan pun tercapai dengan 2 kali perjumpaan di HM.27 dan HM.31. Target selanjutnya adalah mencoba sistem pelaporan korban berbasis hotspot di Tower CCTV Sabana 1, grebek pendaki milenial dan menikmati perjuangan menggapai Puncak Gunung Merbabu di Trianggulasi dan Kenteng Songo. Tabel Informasi Jarak dan Waktu Tempuh (normal) sampai Pos 3 Batu Tulis No Rute Pendakian Jarak Waktu mdpl 1 Pos Registrasi (Gerbang) – Pos I Dok Malang atau HM.01 s/d HM.17 1,7 km 50 menit 2.185 2 Pos I Dok Malang – Pos II Pandean atau HM.17 s/d HM.28 1,1 km 40 menit 2.412 3 Pos II Pandean – Pos III Batu Tulis atau HM.28 s/d HM.33 0,5 km 25 menit 2.582 Pengalaman-pengalaman perjalanan berikutnya tetap berlanjut dan akan dituangkan pada tulisan bagian #2. Tunggu ya ...... pasti seru dan tentu saja masih bersama Tim Jelajah 54 TN, Medina Kamil dan Harley Sastha. Sumber : Jarot Wahyudi, S.Hut, M.URP - PEH Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Berita

Sinergitas Pengelolaan Pariwisata Alam TN Matalawa di Pulau Sumba

Waikabubak. 3 Mei 2019. Kepala Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) Ir. Memen Suparman, M.M. melakukan kunjungan kerja ke Kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Sumba Barat, dalam kunjungannya Kepala Balai TN Matalawa disambut hangat oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sumba Barat, Charles H Weru S.Sos. Kunjungan kali ini guna membangun komunikasi terkait pengembangan wisata di Pulau Sumba dengan instansi terkait sehingga tercipta sinergitas pengelolaan pariwisata alam di pulau Sumba. Salah satu pembahasan utama mengenai penataan jalur wisata yang ada di Pulau Sumba khususnya lingkup Kabupaten Sumba Barat, yaitu penataan jalur wisata yang menghubungkan objek wisata di luar menuju objek wisata yang ada di dalam kawasan Taman Nasional dan sebaliknya, visi-misi dan cita-cita kedua Instansi Pemerintah ini menjadi penyemangat pada pertemuan tersebut. Diakhir pertemuan, selain membahas terkait wisata alam kedua belah pihak juga sepakat untuk mempromosikan lebih jauh budaya asli Sumba agar eksistensi budaya sumba tetap terjaga, di tengah derasnya arus budaya luar yang masuk ke Pulau sumba. Di akhir pertemuan, Kepala Balai TN Matalawa direncanakan akan mengadakan pertemuan yang lebih luas lagi dengan mengundang Bupati Sumba Barat dan stakeholder sehingga sinergitas pengelolaan Pariwisataan alam semakin baik, selain itu Kepala Balai TN Matalawa juga memberikan buku informasi terkait kekayaan flora-fauna endemik Pulau Sumba Sumber : Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Studi Lapangan FKIP UNEJ di TN MerBeti

Jember, 01 Mei 2019. Petugas Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN Merbeti) melakukan pendampingan studi lapangan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Jember (UNEJ). Kegiatan ini diikuti oleh 90 orang mahasiswa Prodi Biologi. Lokasi yang dikunjungi di Resort Wonoasri TN MerBeti yaitu di Blok Pletes dan Bonangan. Para Mahasiswa melakukan pendataan jenis tanaman pokok serta potensi flora fauna yang dijumpai di tiap blok serta mendapat tambahan penjelasan dari Dosen pembimbing mata kuliah Biokonservasi, Kasi SPTN II Ambulu, ketua LMDHK dan ketua kelompok tani. Diharapkan dari studi lapangan tersebut mahasiswa mampu memberikan solusi pemecahan masalah konservasi terkini. Kemudian kegiatan dilanjutkan ke kelompok usaha bersama Batik Kehati Meru Betiri milik Ibu Submini. Batik ini menggunakan pewarna alami dengan motif flora fauna TN MerBeti. Dan kunjungan terakhir di unit usaha pengelolaan pupuk organik dan budidaya ternak kambing etawa milik kelompok Lembah Meru. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

Balai TN Matalawa Genjot Upaya Kerjasama Menekan Tingkat Kerawanan Kawasan

Waingapu, 3 Mei 2019. Gedung Visitor Center Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) menjadi saksi Penandatanganan Nota Kesepahaman terkait pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di zona tradisonal oleh Ir. Memen Suparman, M.M. selaku Kepala Balai Taman Nasional Matalawa dengan Dominikus DS Mara selaku ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Dewa Nauna. Kepala Balai TN Matalawa menyebutkan bahwa dengan adanya Perjanjian Kerjasama (PKS), nantinya diharapkan mampu menekan tingkat kerawanan kawasan terhadap kebakaran yang sering terjadi pada wilayah tersebut serta secara legal formal memberikan akses masyarakat untuk memanen Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), dan hal tersebut secara langsung mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Manurara tersebut. Kelompok Tani ini merupakan kelompok tani yang tinggal dan berdampingan langsung dengan kawasan hutan TN Matalawa khususnya pada blok hutan Manurara. Secara maraton dilanjutkan dengan pembahasan Perjanjian Kerjasama (PKS) dan Rencana Pelaksanaan Program (RPP). Pertemuan ini di hadiri oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional I Waibakul Abdul Basit Nasrianto, S.Hut.,M.Sc, Andi Arya Fajar Art C., S.Si selaku manager Lapang JAGAFOPPTA dan perwakilan KTH Dewa Nuna berjumlah 6 orang. Berdasarkan history-nya, tingkat ketergantungan masyarakat pada kawasan hutan Manurara cukuplah tinggi, hal tersebut dapat terlihat dengan mudah dijumpai masyarakat Desa Manurara memanfaatkan sumber daya alam terutama HHBK seperti alang-alang, kunyit, sarang semut dan umbi-umbian yang diambil dari dalam Kawasan Taman Nasional. Disisi lain aspek kerawanan kawasan pada kawasan tersebut cukup tinggi terutama kerawanan terhadap kebakaran. oleh karenanya Balai Taman Nasional Matalawa melalui Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Waibakul Abdul Basit Nasrianto S.Hut., M.Sc melakukan pendekatan kepada masyarakat dengan menggandeng JAGAFOPPTA sebagai mitra Taman Nasional memfasiltasi terbentuknya Kelompok Tani Hutan, dengan mengacu pada Perdirjen No 6 Tahun 2018 tentang Juknis Kemitraan Konservasi pada Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA) dibentuklah kemitraan konservasi, disebutkan kemitraan konservasi dalam rangka pemberdayaan masyarakat dapat diakomodir pada zona tradisonal dan disebutkan mitra konservasi berhak atas akses pemanenan HHBK. Dalam rangka mengatur kemitraan konservasi maka segala kewenangan dan kewajiban Kelompok Tani akan dituangkan dalam Perjanjian Kerjasama (PKS). Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)

Menampilkan 5.649–5.664 dari 11.140 publikasi