Minggu, 26 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Nilai Efetifitas Pengelolaan TaNa Bentarum Meningkat, Bukti Pengelolaan Berjalan Efektif dan Efisien

Putussibau, 16 Mei 2019. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTN Bentarum) menyelenggarakan kegiatan Management Effectiveness Tracking Tools (METT) selama 2 hari berturut-turut mulai tanggal 15 – 16 Mei 2019. Penilaian evaluasi ini dilaksanakan guna mengetahui keefektivitasan pengelolaan kawasan konservasi di kedua Taman Nasional setiap dua tahun sekali untuk melihat peningkatan pengelolaan. Kegiatan yang dihadiri oleh 54 orang terdiri dari internal Tana Bentarum, Pemerintah daerah Kabupaten Kapuas Hulu, serta Para Mitra / NGO yang bergerak di bidang Konservasi turut menjadi peserta Evaluasi Pengelolaan TNBK dan TNDS. Kegiatan yang dipimpim oleh fasilitator nasional Dr. Ismet Khaeruddin dan Albertus Tjiu, M.Hut menyampaikan dalam mendukung tercapainya keefektivitasan Pengelolaan Taman Nasional pegawai harus lebih memperhatikan beberapa data yang harus diverifikasi baik berupa data pegawai maupun data peralatan lapangan baik rusak maupun yang masih bisa digunakan yang telah disebarkan ke masing-masing TN. Camat Suhaid, Joko, menyampaikan ikut senang berpartisipasi dalam kegiatan penilaian METT dan mengucapkan Terima kasih atas pemberdayaan masyarakat yang telah diberikan dan harapannya akan lebih meningkat setiap tahunnya khususnya untuk Kecamatan Suhaid. Dari hasil evaluasi tersebut, nilai indeks METT TNBK menghasilkan nilai efektivitas sebesar 76% nilai ini meningkat dari tahun 2017 yang hanya sebesar 69 %. Sedangkan penilaian METT TNDS menghasilkan nilai efektivitas sebesar 82 % nilai ini juga meningkat dari tahun 2017 yaitu sebesar 74 %. Meski nilainya melebihi target yang sudah ditetapkan yaitu 70% namun ada beberapa rekomendasi yang perlu diperhatikan seperti: Perlu perencanaan antisipasi pencemaran air dari kebun sawit, sedimentasi yang berlebihan di sungai inlet TNDS, Perencanaan komprehensif terkait adaptasi dan mitigasi pembangunan jalan parallel di TNBK, Peningkatan kerjasama dengan para pihak untuk meminimalisir dampak pembangunan jalan, dan ancaman ikutannya (penambangan, perburuan liar, perambahan hutan), dan peningkatan penelitian terutama satwa mandate dan biota air. (16/5) Sumber : Balai Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Kemah Konservasi Balai TN Kelimutu di Bumi Perkemahan Boelanboong

Ende, 18 Mei 2019. Mensinergikan pengembangan Destinasi Ekowisata Kelimutu oleh para pihak dilaksanakan melalui acara kemah konservasi yang dipadukan dengan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) pada hari Jumat 17-18 Mei 2019 di Bumi Perkemahan Boelanboong, Desa Wologai Tengah, Kecamatan Detusoko, Ende. Acara ini diinisiasi oleh Balai Taman Nasional Kelimutu dan DMO Flores diikuti juga oleh perwakilan kelompok kemitraan masyarakat desa penyangga sekeliling Kelimutu, HPI Ende, ASITTA Ende, Tour and Travel operator di Ende, Decotourism dan para pelaku wisata Moni. Boolanboeng merupakan bumi perkemahan yang dikembangkan bersama oleh Balai TN Kelimutu dengan kelompok masyarakat SPKP Desa Wologai Tengah. Dalam kegiatan yang diawali dengan arahan Kepala Balai TN Kelimutu ini dilakukan koordinasi dan penjelasan penyiapan destinasi ekowisata terpadu di sekeliling TN Kelimutu terkait interkoneksi, pemahaman produk, penguatan kelembagaan, kemampuan mengemas produk dan kecerdasan memasarkan produk. Pengembangan ekowisata Kelimutu yang tidak hanya danau Tiga Warna, tapi dengan banyak objek wisata lain yg tersebar di beberapa wilayah penyangganya yang dapat disatukan menjadi keutuhan dan kekuatan bersama yaitu Destinasi Ekowisata Kelimutu. Dalam FGD ini disepakati wadah komunikasi bersama tersebut yang diberi nama Forum Ekowisata Kelimutu (FekoLi) yang juga memiliki arti suara seruling dalam bahasa Lio yang akan dikoordinir oleh Bpk Yanto (Moni) dan Bpk Nando (Decotourism). Tak lupa juga dilakukan acara buka puasa dan sahur bersama untuk meningkatkan keakraban. Semoga dari acara ini terjalin kesepahaman yang terus berkembang menjadi kekuatan besar dalam pengelolaan Destinasi Ekowisata Kelimutu dikemudian hari. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Penggalian Masalah Partisipatif untuk Pengelolaan Adaptif di TN Kepulauan Seribu

Jakarta, 17 Mei 2019. Tahun 2019 menjadi tahun penting dalam pengelolaan Taman Nasional Kepulauan Seribu. Tahun ini tidak hanya kedatangan Kepala Balai baru, yaitu Ibu Badi'ah, tapi juga merupakan tahun berakhirnya Rencana Pengelolaan TN Kepulauan Seribu periode 2010-2019 sehigga menandai kebutuhan penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) TN Kepulauan Seribu periode 2020-2029. Penyusunan RPJP ini dilakukan berdasarkan aspirasi yang diperoleh dengan proses yang bertahap secara bottom-up dan partisipatif. Tahapan yang paling penting adalah menentukan status Nilai Penting Kawasan (NPK) TN Kepulauan Seribu. Mandat NPK TN Kepulauan Seribu mengacu pada SK Menhut no.162/Kpts-II/95 Tahun 1995 tentang Perubahan Cagar Alam Laut Kepulauan Seribu menjadi TN Laut Kep Seribu yaitu terumbu karang, penyu, mangrove dan kima (kima raksasa). Identifikasi permasalahan yang dilakukan secara partisipatif dari tingkat resort didasarkan pada kondisi awal dari nilai penting yg dibandingkan dengan kondisi saat Ini. Identifikasi masalah dilakukan menggunakan metode konsep model dan telah dilakukan sejak 26 April 2019. Pada tanggal 13 Mei 2019 dilakukan pembahasan hasil identifikasi masalah yang difasilitasi oleh Bapak Hari Kushardanto dari Lembaga RARE, yang merupakan mitra TN Kepulauan Seribu. Proses identifikasi masalah ini berlangsung dinamis dan berdasarkan local knowledge dan data monitoring. NPK TN Kepulauan Seribu saat ini mengalami tekanan akibat konflik pemanfaatan sumberdaya alam dan pencemaran. Pertumbuhan penduduk di 5 pulau pemukiman daerah penyangga TN Kep. Seribu, penetapan Kep Seribu sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan kebutuhan pemilik pulau/resort wisata telah memunculkan tuntutan pembangunan sarana prasarana. Hasil identifikasi masalah ini akan menjadi dasar dalam menentukan tujuan pengelolaan, strategi dan rencana aksi TN Kepulauan Seribu selama periode 2020-2029. Sumber : Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu
Baca Berita

Membangun Spirit untuk Kembali Ke Lapangan

Kalibaru, 17 Mei 2019. Selama 2 (dua) hari sejak tanggal 16 s/d 17 Mei, Kepala Balai TN Meru Betiri (MerBeti), Maman Surahman bersama Kepala SPTN Wilayah III Kalibaru, Sulistrianto serta para kepala resort, tenaga THL dan MMP SPTN Wilayah III Kalibaru melakukan patroli bersama. Di tengah-tengah dahaga menahan haus dan lapar menjalankan ibadah puasa tak menyurutkan petugas untuk melaksanakan kewajibannya mengamankan dan melindungi kawasan konservasi yang berada di pinggiran pantai selatan Pulau Jawa bagian timur ini. Banyak potensi yang dijumpai di TN MerBeti diantaranya elang jawa (Nisaetus bartelsi), merak (Pavo muticus), dan jejak kaki banteng (Bos javanicus). Walaupun target yang menjadi sasaran kegiatan patroli kali ini yaitu pelanggar hutan tidak dijumpai. Dalam kesempatan patroli bersama tersebut malam hari dimanfaatkan oleh Kepala Balai untuk bersilaturahmi dan berdiskusi sekaligus memberikan spirit tentang pentingnya kerja kembali ke lapangan sebagai esensi dari pengejewantahan resort based management (RBM). RBM merupakan tools/ alat untuk menginput data dari resort secara berjenjang, dikirim ke tingkat seksi dan dianalisis untuk kemudian dikirim ke balai sebagai bahan penentuan program konkrit yang akan dikembalikan ke resort dalam bentuk kegiatan yang dibutuhkan. Selain itu, Kabalai TN MerBeti menegaskan bahwa dengan RBM pengelola dapat menentukan tipologi di masing-masing resort sehingga akan berkaitan dengan alokasi SDM, anggaran maupun program kegiatan yang akan dilakukan. Sumber: Balai TN Meru Betiri
Baca Berita

Menggapai Puncak Gunung Merbabu bersama Tim Jelajah 54 Taman Nasional, bagian #2

Prolog Tugas mendampingi Tim Jelajah 54 TN (Medina Kamil, Harley Sastha dan tim) untuk Menggapai Puncak Gunung Merbabu terus berlanjut. Bersama kami tim pendamping TNGMb (Jarot, Sukimin, Sutopo, Agung, Indri, Ayu, Jupri dan Salim). Target pertama untuk mengenal satwa endemik TNGMb Rek-rekan pun telah tercapai dengan 2 kali perjumpaan di HM.27 dan HM.31. Target selanjutnya adalah mencoba sistem pelaporan korban berbasis hotspot di Tower CCTV Sabana 1, grebek pendaki milenial dan menikmati perjuangan menggapai Puncak Gunung Merbabu di Trianggulasi dan Kenteng Songo. Tabel Informasi Jarak dan Waktu Tempuh (normal) sampai Puncak Trianggulasi No Rute Pendakian Jarak Waktu mdpl 1 Pos III Batu Tulis – Pos 4 Sabana 1 atau HM.33 s/d HM.39 0,6 km 40 menit 2.765 2 Pos 4 Sabana 1 – Pos 5 Sabana 2 atau HM.39 s/d HM.46 0,7 km 45 menit 2.844 3 Pos 5 Sabana 2 – Puncak Trianggulasi atau HM.46 s/d HM.54 0,8 km 55 menit 3.142 Perjalanan ke Pos 4 / Sabana 1 Pos 4 atau Sabana 1 berada pada patok HM.39 artinya perlu perjalanan 600 meter atau 40 menit dari Pos 3 (HM.33) dan rentang ketinggian 2500 – 2800 mdpl. Sepanjang jalur pendakian yang dilalui termasuk topografi curam dan bebatuan, tumbuhan yang dijumpai didominasi hamparan eidelweiss dan sebagian manisrejo. Tim telah istirahat dan makan siang di Pos 3 Batu Tulis, kemudian melanjutkan perjalanan pukul 12.30. Tim sampai di HM.35 berada di badan pereng/bukit yang curam. Di area ini ternyata banyak rumpun anggrek Habenaria multipartita, lalu Tim Jelajah TN mendekat kami mengamati flora tersebut, sedangkan jenis eidelweiss belum musim bunga. Perjalanan kami lanjutkan dengan cuaca berkabut menghalau pemandangan megahnya Gunung Merapi di belakang perjalanan ke Sabana 1. Melewati HM.38 Tim sudah dapat melihat hamparan ekosistem savana yang mengitari lokasi Pos 4 arah depan. Jarot melihat kupu-kupu sedang hinggap di semak sisi kanan jalur dan sesekali burung Anis gunung (pendaki biasa menyebutnya jalak lawu) melewati kami. Tim berhenti di tengah Pos 4 untuk beristirahat dan menikmati pemandangan arah puncak Gunung Merbabu yang cukup cerah dan terik. Sepuluh menit kemudian Tim menuju tower CCTV yang berjarak 100 meter dari titik istirahat, di lokasi tower sudah menunggu Ronikus (staf IT dan sistem aplikasi Merbabu Beautiful). Ronikus bersama Tim Jelajah memulai liputan terkait lapor darurat (emergency report) pendaki yang mengalami musibah (jatuh, hypo, dan lainny). Pendaki (diperankan oleh Harley) menggukan HP android (telepon genggam) dapat melaporkan kejadian tersebut ke kantor Balai TNGMb dan Resort Selo dengan cepat menggunakan aplikasi khusus dan jaringan wifi di tower CCTV tersebut. Penanganan korban dapat segera dilakukan berdasar laporan pendaki, hal ini meminimalisir kondisi korban dan pencegahan lebih dini pada kondisi lanjut. Selain memiliki fungsi utama lapor darurat, tower CCTW juga selama ini telah dimanfaatkan untuk memantau kondisi cuaca di sekitar Sabana 1 dan arah puncak Gunung Merbabu, situasi pendaki yang melewati dan berada di lokasi tersebut, serta pengawasan saat penutupan pendakian yang bisa diakses di kantor Balai TNGMb dan Resort Selo. Perjalanan ke Pos 5 Sabana 2 Medan ke Pos 5 atau Sabana 2 memiliki rentang ketinggian 2800 – 2900 mdpl berupa curam dan datar, menempuh jarak 700 meter dari Pos 4 atau dari HM.39 sampai HM.46, dan waktu tempuh normal 45 menit. Kondisi ekosistem di perjalanan dapat dijumpai kemlandingan gunung, manisrejo, eidelweiss, savana, anggrek dan asam-asaman. Perjalanan sampai HM.40 terasa ringan karena badan jalur pendakian yang datar dengan hamparan savana. Tim mulai berjalan menanjak (curam) menuju Pos 5, sampai di HM.44 berjumpa dengan pendaki yang tergabung dalam pecinta alam Salatiga melalukan bersih gunung dari Pos 5 ke Pos 4. Tim Jelajah memulai liputan dan dialog dengan kelompok tersebut, bersih gunung merupakan kegiatan positif dan menjadi filter bagi pendaki untuk bijak terhadap sampahnya. Tim Jelajah dan Pendamping TNGMb sampai di HM.46 dalam kondisi sehat dan terkendali. Semua Tim telah menyelesaikan tugas liputan pada hari ini dan mulai bersiap untuk istirahat dan bermalam di Sabana 2. Kegiatan saat istirahat ini diisi dengan diskusi dan sharing pengalaman antar tim sampai semua terlelap di tenda masing-masing. Perjalanan akan dilanjutkan besuk jam 4 pagi menuju puncak Gunung Merbabu dan menikmati matahari terbit. Perjalanan ke puncak Gunung Merbabu Medan ke puncak Gunung Merbabu memiliki rentang ketinggian 2900 – 3200 mdpl berupa topografi curam dan datar, menempuh jarak 800 meter dari Pos 5 atau dari HM.46 sampai HM.54, dan waktu tempuh normal 55 menit. Kondisi ekosistem di perjalanan dapat dijumpai kemlandingan gunung, manisrejo, eidelweiss, dan savana. Perjalanan dimulai 4.20 dini hari yang dibagi menjadi 3 regu. Masing-masing regu membawa misi berbeda, meliput pemandangan sunrise, suasana pendaki menuju puncak, dan meliput aktivitas puncak Gunung Merbabu. Rute ke puncak ada 2 pilihan jalur setapak yaitu jalur lama dan jalur baru (sebelah baratnya). Tim Medina, Jarot dan Jupri mencoba jalur baru tersebut. Selama perjalanan kami ditemani sepasang anis gunung ikut melangkah sembari mencari makan. Kami mendapatkan pemandangan yang menawan dengan view Gunung Merapi dan hamparan savana ke arah selatan. 3 regu telah sampai di puncak pertama Gunung Merbabu, yaitu Trianggulasi. Menikmati sejuknya pagi hari disertai pemandangan 360 derajat berupa lanskap pegungungan mengitari kami, seperti Gunung Merapi, Gunung Andong, Gunung Telomoyo, dan kejauhan tampak Gunung Lawu, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Liputan pertama disini adalah filosofi Gunung Merbabu dengan daya tariknya mendatangkan pendaki nusantara dan mancanegara. Liputan dari udara pun diambil menggunakan pesawat drone bersama para pendaki untuk bersyukur atas pencapaian telah “Menggapai Puncak Merbabu”. Liputan kedua menuju puncak Kenteng Songo berjarak 200 meter arah timur. Spot liputan ini menggali sejarah budaya masyarakat terdahulu yang menjadi sebab adanya 9 buah kenteng, semacam alat masak tradisional saat itu. Tepat pukul 8 pagi, semua aktivitas liputan di puncak Gunung Merbabu selesai. Semua Tim kembali ke Sabana 2 untuk menyelesaikan liputan grebek tenda dan pembinaan pendaki oleh petugas TN. Liputan ini memberikan sosialisasi kepada pendaki untuk menjadi pendaki yang bijak dan milenial yaitu paham aturan (SOP), peduli sampah, peduli sesama pendaki, dan taat aturan (tiketing/PNBP, jalur resmi, vandalisme, dll). Tim kembali ke kantor Resort Selo untuk persiapan agenda selanjutanya (budaya Sadranan desa Selo penyangga Taman Nasional Gunung Merbabu). Kesimpulan akhir Target pertama untuk mengenal satwa endemik TNGMb Rek-rekan pun tercapai dengan 2 kali perjumpaan di HM.27 dan HM.31 dan Target kedua adalah mencoba sistem pelaporan korban berbasis hotspot di Tower CCTV Sabana 1, grebek pendaki milenial dan menikmati perjuangan menggapai Puncak Gunung Merbabu di Trianggulasi dan Kenteng Songo pun tercapai. Lengkap sudah liputan selama 2 hari ini, melimpah pengalaman dan pengetahuan baru bagi Tim Jelajah 54 TN dan khususnya bagi kami petugas TN dalam membagikan keunikan, biodiversitas, dan potensi wisata pendakian yang menjadi icon wisata Taman Nasional Gunung Merbabu. Hasil perjalanan ini, telah dan terus menjadi daya tarik tersendiri bagi Jalur pendakian Selo wilayah Resort Selo memiliki potensi ODTW yang dapat dinikmati antara lain : Menikmati sunrise & sunset di Pos 4, Pos 5 dan puncak Merbabu. Selengkapnya klik : Menggapai Puncak Merbabu - Bagian 2 Sumber : Jarot Wahyudi, S.Hut, M.URP - PEH Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Berita

Meski Puasa, Penjagaan Kami Belum Surut di Pelabuhan Soetta

Makassar, 16 Mei 2019. Meski bulan Ramadhan semangat Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan tidak surut. Menjelang tengah malam tepatnya pukul 22.35 Wita,16 Mei 2019, TIM WRU Balai Seksi Pelabuhan Sukarno Hatta Makassar menyelamatkan 4 Ekor Red lory dan 2 Ekor Papua dari KM Tidar yang baru berlabuh. Kondisi satwa saat ini diamankan dalam keadaan memprihatinkan karena berada di dalam kandang botol air mineral kemasan.Pemilik satwa liar ini berhasil melarikan diri dan sedang dalam proses penyidikan. Herman selaku Polhut WRU Balai Seksi Pelabuhan dalam keterangannya "Modus Burung di dalam air mineral kemasan ini memang sedang ramai belakangan ini, terakhir kami juga mengamankan dengan modus serupa di Bandara Hassanuddin Makassar" Terang Herman. Selanjutnya Satwa liar ini akan kami amankan di Transit Cage kantor Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan satwa dan tindakan selanjutnya. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: Kepala Subag Data, Evlap dan Humas Edi Sarwana - 0821-3431-9222
Baca Berita

Upaya Zero burning TN Matalawa

Waingapu, 15 Mei 2019. Peralihan musim dari musim hujan menjadi kemarau sudah mulai terasa di kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) sejak beberapa hari yang lalu. Tingkat kerawanan kebakaran hutan dan lahan pun ikut meningkat seiring mengeringnya padang savana pada beberapa bagian blok hutan di TN Matalawa. Kepala Balai TN Matalawa dalam rapat sebelumnya mencanangkan bahwa pada tahun 2019 ini kawasan TN Matalawa harus sudah ‘zero burning’. Segala upaya wajib ditempuh untuk mewujudkan target ini terutama dalam hal pencegahan. Resort dengan tingkat kerawanan kebakaran yang tinggi, yaitu Resort Taman Mas, Tanah Daru, Kambatawundut, dan Tawui sudah mulai bergerak melakukan komunikasi dengan masyarakat yang tinggal di pinggir kawasan. Para Kepala Resort yang bertugas di masing-masing resort yaitu Djilik Ay (Tanah Daru), Gaudencio (Taman Mas), Kristoforus (Kambatawundut), dan Suyatno (Tawui) mengajak seluruh anggotanya untuk turun ke dusun dan berkomunikasi dengan tokoh masyarakat. Selain itu, mereka juga turun ke lapangan untuk melakukan pemutakhiran data lokasi rawan kebakaran. Sumber: Balai TN Matalawa
Baca Berita

Pembahasan Draft Perjanjian Kerja Sama Enam Desa di Lembah Besoa

Hanggira, 13 Mei 2019. Kolaborasi pengelolaan Taman Nasional Lore Lindu berbasis masyarakat desa merupakan Role model Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) dalam mewujudkan hutan lestari dan masyarakat yang sejahtera. BBTNLL Sebagai pengelola kawasan konservasi Taman Nasional Lore Lindu saat ini berupaya mengedepankan pengelolaan Kawasan yang melibatkan masyarakat di sekitar Kawasan sebagai subjek dalam pengelolaan kolaboratif. Pengelolaan kolaboratif dimana masyarakat ikut berperan dalam menjaga, melestarikan, memanfaatkan dan mengelola Kawasan hutan mereka bersama Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu serta stakeholder lainnya perlu didukung dengan skema kemitraan konservasi antara Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu dengan masyarakat termasuk masyarakat di lembah Besoa. Bertempat di Balai desa Hanggira, Baliura, Talabosa, Betue, Torire, dan Rompo Masyarakat di enam desa di Lembah Besoa, Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah melakukan pertemuan pembahasan draft Perjanjian Kerjasama (PKS) kemitraan konservasi dengan BBTNLL dan sosialisasi program Epass yang difasilitasi oleh mitra BBTNLL yaitu Epass ( Enchancing the Protected Area System in Sulawesi ) sebagai perwujudan keseriusan dan komitmen dalam menjaga dan melestarikan Kawasan konservasi di wilayah itu. Pembahasan draft PKS antara enam kepala desa di Lembah Besoa yaitu Desa Hanggira, Desa Baliura, Desa Talabosa, Desa Betue, dan Desa Rompo disambut baik oleh perangkat desa maupun masyarakat setempat. “Masyarakat menyambut dengan baik program yang dibawa oleh BBTNLL, agar pemanfaatan hasil hutan menjadi mudah, sesuai aturan dan lebih terorganisir” ujar Kades Hanggira. Dukungan dari masyarakat dan desa dalam mewujudkan PKS yang dapat menjadi wadah bagi terwujudnya kelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat termasuk peraturan-peraturan baik dari Peraturan Desa maupun Peraturan Adat yang telah berlaku dalam mendukung misi konservasi. “ Peraturan Desa yang mendukung pemanfaatan dan perindungan kawasan menjadi modal utama dalam rangka menjalin PKS” ujar Kepala Bidang Teknis Konservasi BBTNLL Dedy Asriady dalam sambutannya pada pembukaan acara di Desa Hanggira. Kegiatan pembahasan draft PKS di enam desa di lembah Besoa ini juga dirangkaikan dengan sosialisasi program EPASS kepada masyarakat yang bertujuan untuk menginternalisasi program-program BBTNLL yang didukung oleh EPASS termasuk program pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan yang menjadi salah satu poin dalam proyek EPASS. “ memperkuat kapasitas institusi dalam pengelolaan kawasan konservasi dalam hal ini BBTNLL, menjamin keberlangsungan pendanaan kawasan, dan menurunkan ancaman dikawasan konservasi salah satunya dengan program pemberdayaan masyarakat merupakan tiga poin tujuan kami dalam project ini” seperti yang disampaikan oleh Ilfianti selaku Field Coordinator EPASS pada sosialisasi. Dalam project pemberdayaan setelah PKS disahkan maka kelompok LPKD yang dibentuk disetiap desa akan diberikan bantuan berupa small grand modal usaha pengembangan ekonomi sebagai stimulus untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat disekitar kawasan TNLL. Draft Perjanjian Kerjasama yang dibahas diharapkan mampu melahirkan poin-poin kesepakatan yang memuat hak dan kewajiban serta hal lain yang mampu mengakomodir kebutuhan masyarakat, TNLL, dan pihak terkait lainnya termasuk pemanfaatan zona tradisional di kawasan TNLL. “ kita semua berharap PKS akan melegalkan akses masyarakat dalam memanfaatkan hasil hutan yang lestari karena sudah ada payung hukumnya, untuk itu momentum ini dapat dimanfaatkan Bersama menuju masyarakat yang sejahtera dan alam lestari” ujar Dedy Asriady dalam arahannya di Desa Hanggira. Kedepannya semua pihak mengharapkan pemberdayaan masyarakat yang kontinyu dan berkesinambungan serta makin “mesranya” kerjasama antara Desa di Lembah Besoa dengan BBTNLL. “kita harus sepakat bagaimana bantuan yang diberikan dan difasilitasi oleh EPASS ini dapat menggerakkan masyarakat hingga tahun-tahun berikutnya demi ekonomi yang berkelanjutan” ujar Kepala Seksi P3 dalam arahan beliau di Desa Baliura. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

Evakuasi Dan Translokasi Orangutan Sumatera di Aceh Tamiang

Aceh Tamiang, 15 Mei 2019. Personil Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh Resot Konservasi Wilayah 12 Langsa bersama Tim Orangutan Information Center (OIC) dibantu oleh masyarakat pada hari selasa tanggal 14 Mei 2019 melakukan evakuasi terhadap Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) yang masuk ke Kebun Durian milik masyarakat di Desa Alur Selelas Kecamatan Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang. Orangutan Sumatera yang berhasil diselamatkan 1ekor induk berjenis kelamin betina dan seekor orangutan jantan berjenis kelamin jantan yang merupakan anak (masih dalam pelukan saat proses penyelamatan) dari induk orangutan sumatera tersebut. Hasil pemeriksaan kondisi kesehatan terhadap kedua orangutan sumatera tersebut yang dilakukan oleh Tim Dokter Hewan OIC dinyatakan sehat dan layak untuk dilepasaliarkan kembali. Maka tim (Personil BKSDA Aceh dan OIC) melakukan translokasi pada hari yang sama di Desa Tenggulun Kabupaten Aceh Tamiang. Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi dari Kelompok Mamalia Famili Hominidae berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.92/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi. Dalam katergori IUCN Orangutan Sumatera (Pongo pigmeus abelii) berstatus kritis/critically endangered dengan penyebaran/distribusi meliputi Pulau Sumatera dengan Distribusi populasi terbesar mulai dari Provinsi Aceh meliputi Kabupaten Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Tamiang, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Aceh Singkil dan Kota Subuluusalam. Jumlah Orangutan Sumatera sendiri di alam untuk saat ini diperkirakan berjumlah ± 13.846 individu dengan luasan habitat ± 16.775 km2. Penyelamatan Orangutan Sumatera yang terisolir dilaksanakan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh berpedoman kepada Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.53/MENHUT-II/2014 Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.48/MENHUT-II/2008 Tentang Pedoman Penanganan Konflik Antara Manusia Dan Satwa Liar dalam upaya mewujudkan tujuan dan target yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.53/MENHUT-IV/2007 Rencana Aksi Orangutan Indonesia Tahun 2007-2017. Sumber : Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh
Baca Berita

Kunjungan Direktorat KK untuk Kemitraan Konservasi TN. Aketajawe Lolobata

Sofifi, 16 Mei 2019. Kemitraan Konservasi merupakan salah satu program Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kegiatan tersebut bertujuan memberikan akses kepada masyarakat terhadap Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di dalam kawasan konservasi, seperti pada Zona Tradisional di kawasan taman nasional dengan dokumen Perjanjian Kerja Sama (PKS). Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) telah melaksanakan Perjanjian Kerjasama dengan masyarakat sekitar kawasan. Diantaranya adalah dengan kelompok petani damar di Desa Bukit durian dan Desa Gosale. Potensi HHBK berupa getah damar dari pohon Agathis di dalam kawasan TNAL telah menjadi tambahan penghasilan bagi masyarakat ke dua desa tersebut. Kemarin (15/05), Direktorat Kawasan Konservasi melakukan bimbingan teknis kemitraan konservasi terhadap para penyuluh kehutanan dan pejabat fungsional lainnya di Ruang Rapat Balai TNAL, di Sofifi. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi tambahan terkait pelaksanaan teknis kemitraan konservasi bagi petugas lapangan Balai TNAL. Kegiatan ini juga menjadi bahan informasi bagi Direktorat Kawasan Konservasi tentang tantangan yang dihadapi oleh petugas TNAL selama melaksanakan kemitraan konservasi bersama masyarakat. “Kami senang bisa diskusi dengan penyuluh dan petugas lapangan lainnya tentang kemitraan konservasi ini, karena dengan pertemuan seperti ini kami jadi mengetahui kendala dan tantangan petugas lapangan”, tutur Ibu Sri Lestari Indriani, Kepala Seksi Bina Zona Pemanfaatan Tradisional. Sampai berita ini di tulis (16/05), Ibu Cici, sapaan Ibu Sri Lestari Indriani dan Bapak Aswan masih melakukan diskusi bersama kedua kelompok petani getah damar di ruang rapat Balai TNAL. Diskusi tersebut didampingi oleh penyuluh kehutanan Balai TNAL dan dihadiri oleh Kepala Balai TNAL dan Kepala Sub Bagian Tata Usaha. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Audiensi Balai TN. Aketajawe Lolobata dengan Pemda Halmahera Tengah

Sofifi, 16 Mei 2019. Setelah kegiatan dialog bersama di Pemerintah Kota Tidore Kepulauan dilaksanakan, selanjutnya kegiatan yang sama juga telah dilaksanakan di Kabupaten Halmahera Tengah (13/05). Audiensi ini bertujuan untuk melakukan sinergitas program kegiatan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) bersama Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Halmahera Tengah (Halteng) khususnya pada wilayah Resort Akejira. Audiensi ini dilaksanakan di Ruang Rapat Kantor Bupati Halteng dan di pimpin langsung oleh Saiful Samad, selaku Sekretaris Daerah. Peserta audiensi antara lain beberapa Kepala Dinas, Burung Indonesia dan Balai TNAL yang diwakili oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Weda, Raduan dan Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Lilian Komaling. Balai TNAL melakukan paparan pertama. Paparan tersebut menjelaskan tentang tupoksi taman nasional, dasar hukum, penunjukan dan penetapan, zonasi, serta program kegiatan pemberdayaan masyarakat pada wilayah kerja Resort Akejira. Raduan juga menyebutkan bahwa terdapat rencana aksi jangka pendek yang akan dilaksanakan oleh SPTN Wilayah I Weda pada wilayah kerjanya. Setelah paparan dari Balai TNAL, paparan dilanjutkan oleh Vivin Widyasari dari Burung Indonesia. Vivin menyebutkan bahwa fokus kerja Burung Indonesia berada pada kawasan Wallacea. Hal ini dikarenakan kawasan Wallacea memiliki keragaman endemis yang tinggi. Setelah paparan tersebut dilakukan dialog bersama. Hasil dari audiensi tersebut salah satunya adalah mengetahui model pengelolaan bersama dalam mengembangkan desa-desa penyangga kawasan TNAL beik berupa pemberdayaan masyarakat maupun pengembangan potensi wisata alamnya. Pemda Halmahera Tengah dalam diskusinya mendukung setiap kegiatan Balai TNAL dalam melakukan pemberdayaan masyarakat di wilayah Halmahera Tengah. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra – Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Kelanjutan Tindak Lanjut Mitigasi di Cagar Alam Pegunungan Cycloop

Jayapura, 15 Mei 2019. Balai Besar KSDA Papua bersama Pemerintah daerah Kabupaten Jayapura dalam hal ini Bupati Jayapura melakukan pertemuan untuk membahas tindak lanjut MITIGASI Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, Kawasan Penyangga dan Kawasan Danau Sentani dengan berlokasi di Kantor Bupati Kabupaten Jayapura. Dengan dipimpin langsung oleh Bupati Kabupaten Jayapura, Matius Awoitauw, S.E, M.Si pertemuan ini melibatkan stakeholders lainnya diantaranya OPD terkait Pemda Kabupaten Jayapura, Dinas Kehutanan Provinsi, BBKSDA Papua, BPDASHL Mamberamo, Perwakilan Lanud Silas Papare, Kapolres Jayapura, Perwakilan Kodim 1701 Jayapura, Perwakilan BNPB, Kepala Distrik Ravenirara, Kepala Distrik Depapre, Ondoafi Kampung Sereh, Ondoafi Kampung Neicheibe dan masyarakat adat. Poin penting yang menjadi bahan diskusi pada rapat tersebut adalah pada peranan masyarakat adat dalam hal menjaga ulayat mereka (5 dewan adat suku), dan terfokus pada daerah Sentani dan daerah Pesisir bagian selatan Kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop yang termasuk di dalamnya Ravenirara dan Depapre. Matius menyampaikan bahwa ‘masing-masing masyarakat adat di kedua Ulayat tersebut menyatakan sikap dan aksi atas komitmen untuk kesepakatan melindungi dan menjaga Cagar Alam Pegunungan Cycloop’. Selain itu, Kepala Distrik Depapre, Ganefo, membacakan hasil rapat yang menyatakan bahwa masyarakat adat di wilayahnya pada prinsipnya mendukung program Pemerintah Daerah Kabupaten Jayapura dan Pemangku Kawasan dalam menjaga CA. Pegunungan Cycloop. Sikap ini dipertegas dengan menyerahkan hasil rapat pernyataan sikap tersebut yang telah ditandatangani oleh Tokoh Adat dan Agama kepada Bupati Kabupaten Jayapura. Berikut, dari Dewan Suku Moy pun membacakan pernyatakan sikap bahwa suku Moy akan berkomitmen untuk menjaga kawasan CA. Pegunungan Cycloop dan penyangga dari segala bentuk ancaman atau gangguan seperti perambahan, perburuan liar, galian C dan lain-lain. Sama halnya dengan yang dilakukan Kepala Distrik Depapre, pernyataan sikap dari masyarakat Suku Moy pun ditandatangani oleh beberapa Tokoh Adat dan Agama untuk kemudian diserahkan kepada Bupati Kabupaten Jayapura. Dari hasil Rapat tersebut diatas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : Pada prinsipnya masyarakat di Kabupaten Jayapura, khususnya masyarakat adat di sekitar CA. Pegunungan Cycloop sangat menyadari arti penting keberadaan gunung Cycloop bagi kehidupan mereka dan hal ini yang menjadi pendorong semangat untuk terus ingin menjaga dan melindungi gunung cycloop demi keberlangsungan kehidupan mereka dimasa mendatang. Sumber : Balai Besar KSDA Papua Call Center BBKSDA Papua: 0823-9802-9978
Baca Berita

Balai Besar Tana Bentarum Laksanakan Penilaian METT

Putussibau, 15 Mei 2019. Bertempat di Aula Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum), Balai Besar TaNa Bentarum melaksanakan penilaian efektivitas pengelolaan Taman Nasional dengan menggunakan metode Management Effectiveness Tracking Tools (METT). Dihadiri sebanyak 54 orang berasal dari internal Balai Besar TaNa Bentarum dan para stakeholders baik dari OPD kab Kapuas Hulu maupun para NGO yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu. Kegiatan ini dibuka Direktur Kawasan Konservasi Direktorat Jenderal KSDAE Dyah Murtiningsih. Dalam sambutannya Dyah Murtiningsih menyampaikan “METT dapat digunakan sebagai salah satu indikator kinerja utama KLHK dan dipakai untuk mendiagnosis pengelolaan kawasan konservasi.” Lebih lanjut Dyah menyampaikan bahwa rekomendasi dan tindak lanjut berdasarkan scientific base management, pengelolaan harus mempertimbangkan nilai-nilai penting kawasan dan kondisi sosek, memperkuat sistem perlindungan dan meningkatkan komunikasi dengan masyarakat sekitar melalui pendekatan lanskap. Dalam kesempatan yang sama Kepala Balai Besar TaNa Bentarum Arief Mahmud menyampaikan “Pada Tahun 2017, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun Dan Danau Sentarum Telah Melaksanakan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi Di 2 (Dua) Taman Nasional Yaitu TNBK Dan TNDS, Yang Dilakukan Setiap 2 (Dua) Tahun Sekali. Nilai Indeks METT Untuk Kawasan TNBK Sebesar 69%, Dan Untuk Penilaian Di Kawasan TNDS Memiliki Nilai Indeks METT Sebesar 75%.” Penilaian METT pertama dilakukan pada tahun 2015 dan dilaksanakan secara periodik setiap 2 tahun. “Semoga Nilai Indeks Penilai Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi di TNBK dan TNDS pada Tahun 2019 ini dapat meningkat dari tahun 2017. Sehingga dapat mendukung pencapai IKK Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Dan Ekosistem dalam rangka peningkatan efektivitas pengelolaannya dengan Nilai Indeks METT Minimal 70% pada 260 Unit Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam Dan Taman Buru.” Imbuh Arief dalam sambutannya. METT adalah suatu perangkat yang digunakan untuk melakukan pengkajian tingkat efektivitas pengelolaan sesuai dengan visi, misi dan tujuan pengelolaan yang telah ditentukan sebelumnya. METT telah diimplementasikan di lebih dari 100 (Seratus) negara dan 2.000 kawasan konservasi di Dunia. METT dipilih karena metode ini dibuat untuk menilai kawasan konservasi pada level tapak/lokal/lapangan, sehingga memungkinkan staf/petugas dari suatu kawasan konservasi menjawab pertanyaan – pertanyaan pada METT. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Patroli RBM Mendeteksi Kehadiran Musang Sulawesi di Bogani Nani Wartabone

Kotamobagu, Balai TN Bogani Nani Wartabone, 15 Mei 2019. Kegiatan monitoring satwa kunci oleh Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) berhasil mendeteksi keberadaan musang sulawesi di kawasan taman nasional ini. Musang sulawesi tertangkap kamera penjebak yang dipasang di Gunung Poniki, tercatat pada 13 April 2019 sebanyak satu kali. Sejak 2017, Balai TNBNW telah mendeteksi kehadiran musang sulawesi sebanyak 22 kali di tiga lokasi Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN), yaitu SPTN 1 Limboto sebanyak 16 kali, SPTN 2 Doloduo sebanyak lima kali dan SPTN 3 Maelang sebanyak satu kali. Catatan kehadiran musang sulawesi ini diperoleh baik menggunakan kamera penjebak, laporan masyarakat, maupun perjumpaan langsung. Kegiatan monitoring satwa kunci ini merupakan bagian dalam pengembangan kegiatan Resort Based Management (RBM) di TNBNW. Herman Lumenta, ketua tim monitoring yang bertugas saat ini menyatakan bahwa, “Kegiatan ini merupakan rangkaian monitoring secara menyeluruh dengan menggunakan kamera penjebak untuk kawasan TNBNW, namun kami memilih beberapa lokasi penting untuk mendalami keberadaan satwa kunci lebih lanjut dengan menggunakan kamera penjebak ini lebih intensif“. Musang sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii) adalah satu-satunya ordo carnivora asli Sulawesi dan tersebar terbatas hanya pada beberapa tempat di Sulawesi Utara, Tengah, dan Tenggara. Satwa pemalu ini, menurut badan konservasi dunia IUCN, berstatus rentan (Vulnarable) akibat gangguan dan perubahan habitat, serta perburuan. Rangkaian perjumpaaan di kawasan TN Bogani Nani Wartabone ini menambah catatan wilayah persebaran satwa ini yang memang terbatas informasinya. Perjumpaan kali ini kembali menegaskan bahwa TNBNW merupakan salah satu kawasan kunci dan terpenting bagi penyebaran musang sulawesi. Menanggapi perjumpaan musang sulawesi ini, Kepala Balai TNBNW, Supriyanto menyatakan bahwa “Kami mengharapkan monitoring satwa kunci dengan penggunaan kamera penjebak ini dapat dilakukan secara reguler dan mendorong penelitian-penelitian lain untuk memperdalam informasi yang telah diperoleh dari kamera penjebak tersebut. Kami juga sangat mengapresiasi kerja keras seluruh staf di tingkat Resort sampai di tingkat Balai dan dukungan Mitra dalam melaksanakan RBM ini sehingga kualitas dan kuantitas data TNBNW dapat terus ditingkatkan”. Monitoring satwa kunci dengan penggunaan kamera penjebak di kawasan TNBNW merupakan kerjasama yang dilakukan Balai dengan mitra, khususnya EPASS-project dalam pengadaan kamera penjebak ini, serta WCS-Indonesia Program dalam teknis pelaksanaannya. Saat ini telah dilakukan survei kamera penjebak di bagian timur dan barat kawasan. Dalam 2019 ini akan segera dilaksanakan survey lanjutan untuk bagian utara kawasan. Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (282.008,757 hektar) merupakan kawasan konservasi darat terluas di Sulawesi, yang berada di dua wilayah provinsi, yaitu Sulawesi Utara dan Gorontalo. Selain musang sulawesi, kawasan ini juga menjadi habitat terbaik bagi dua jenis anoa (Bubalus depressicornis dan B. quarlessi), dua jenis monyet (Macaca nigra dan M. nigrescens), babirusa sulawesi (Babyrousa celebensis), maleo (Macrocephalon maleo), julang sulawesi (Rhyticeros cassidix), dan lain-lain. Sumber : Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Mudahnya Booking Online dan Pakai Gelang Ber-Chip Saat Naik Gunung Merbabu

Jakarta, 15 Mei 2019. Sepuluh hari sebelum memasuki bulan Ramadhan, Jumat (26/4/2019), tim Jelajah 54 Taman Nasional Indonesia, berkesempatan menjadi kelompok pendaki pertama yang mencoba sistem booking online dan menggunakan gelang berwarna orange bertuliskan Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGMb) yang sudah ditanamkan chip Radio Frekuensi Identification (RFID). Pendaftaran online sendiri salah satu tujuan utamanya agar data para pendaki lebih valid dan terverifikasi serta membatasi jumlah kuota pendaki. Sesuai hasil kajian yang sudah dilakukan, menurut plh. Kepala Balai TNGMb, Johan Setiawan, jumlah kuota pendaki yang berada di gunung, termasuk yang sedang mendaki dan turun dalam satu hari tidak boleh lebih dari 1000. “Untuk jumlah kuota ada angka persisnya. Nantinya jika sudah berlaku dan diterapkan secara resmi, seluruh chek-in dan chek-out point setiap jalur pendakian resmi: Selo, Cunthel, Thekelan, Wekas dan Suwanting akan terkoneksi secara nirkabel ke Kantor Balai TNGMb. Namun, saat ini baru jalur Selo yang sudah terkoneksi”, kata Johan Setiawan, di kantor Resort Selo. Ternyata caranya mudah banget. Selama ada koneksi internet, kita bisa lakukan dari mana saja. Saat melakukan uji coba sehari sebelumnya, tim jelajah langsung membuka situs https://tngunungmerbabu.org yang merupakan situs resmi Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb). Kemudian buka bagian booking online sampai keluar bagian form pengisian data calon pendaki. Informasi semuanya harus diisi sesuai dengan kartu identitas kita yang berlaku, tanggal serta jalur naik dan turun, nama kelompok atau organisasi, email dan nomor kontak keluarga yang dapat dihubungi. Tidak sampai disitu, dalam form tersebut juga terdapat daftar peralatan standart minimal pendakian sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) dan lainnya yang harus diisi. Jadi, menurut Johan Setiawan, jika ada peralatan dan perlengkapan lainnya yang tidak sesuai standart atau kurang, pengelola akan memberitahukannya agar melengkapinya. Menurut pak Johan Setiawan, karena di rumah atau tempat tinggal asalnya dan mempunyai banyak waktu, para calon pendaki dapat dengan tenang dan teliti mengisi datanya. Setelah form terisi lengkap dan benar serta mendapatkan balasan email dari pengelola dan nomor registrasi, kemudian kita dapat mengunduh aplikasi Merbabu Emergency Report. Dimana aplikasi ini bekerja dengan menggunakan sistem Voice over Internet Protokol (VoIP) agar pelaporan keadaan darurat dapat lebih cepat sampai dan cepat. “Sistem VoIP menggunakan jaringan nirkabel yang terhubung langsung dengan Kantor Resort Selot. Jadi setiap kelompok pendaki akan terdeteksi jika sudah melewati tower emergency report yang berada di Sabana 1. Kemudian jika terjadi keadaan darurat, pendaki dapat langsung menuju tower untuk menghubungi petugas melalui aplikasi yang sudah diunduh pada smartphonenya”, jelas Andi Ronikus, relawan yang juga mitra pengembang dari Balai TNGMb yang juga ikut serta mendampingi tim jelajah mendaki gunung Merbabu. Setelah menunjukkan kartu identitas pada chek point di Resort Selo dan data terverifikasi juga valid, kemudian tim Jelajah 54 TN Indonesia mendapatkan satu gelang orange. Menurut Johan Setiawan, sementara ini setiap kelompok pendaki (pimpinan regu) hanya akan mendapatkan satu gelang RFID dengan uang jaminan Rp 50.000 yang akan dikembalikan begitu pendaki telah turun dan melaporkan kembali kepada petugas. Dengan demikian setiap kelompok pendaki selalu menjaga kebersamaan dan keamanan anggotanya. Setelah mendaki sekitar 5 jam sambil menikmati pesona alam gunung Merbabu dan mengikuti petugas Balai TNGMb monitoring satwa dan jalur pendakian Selo, Sekitar pukul dua siang, tim Jelajah 54 TN Indonesia yang juga didampingi langsung Kepala Resort Selo, Sutopo dan beberapa rekan dari Balai TNGMb, tiba di Sabana 1. Kawasan ini merupakan salah satu camp para pendaki bermalam, selain Sabana 2 dan pos 3, sebelum pagi dini hari melanjutkan pendakian menuju puncak Merbabu atau summit attack. Sesaat setelah menikmati keindahan Sabana 1 dengan pemandangan jalur yang membelah padang sabana menuju puncak gunung Merbabu dan panorama gunung Merapi, Andi Ronikus mengajak tim jelajah menuju lokasi dimana menara Merbabu Monitoring dan Emergency Report berada. “Menara ini berfungsi sebagai sarana pengawasan keselamatan dan pengamanan di kawasan sabana 1. Dapat memonitor keadaan cuaca areal camp dan sekitar kawasan puncak secara realtime dengan menggunakan koneksi nirkabel yang terhubung langsung dengan kantor Balai TNGMb dan kantor Resort Selo. Jadi jika cuaca sekitar camp dan puncak buru, langsung dapat terpantau. Dan dapat menjadi acuan pengelola untuk menutup jalur pendakian sementara waktu”, ujar Andi Ronikus di Sabana 1. Dari menara yang sudah dilengkapi CCTV tersebut, tim Jelajah 54 TN Indonesia, juga coba menghubungi petugas di Resort Selo melalui aplikasi Merbabu Emergency Report. Terbukti tim dapat berbicara langsung dengan petugas, walaupun tanpa sinyal internet. Seperti kata pak pak Johan Setiawan sebelumnya, semuanya untuk meminimalisir dampak dari terjadinya kecelakaan saat pendakian. Sobat konservasi dan jelajah, tidak hanya itu, tim jelajah juga mendapat kesempatan melihat bagaimana posisinya dapat terpantau 3 kamera CCTV yang terpasang pada menara tersebut. Benar-benar terobosan yang keren dari Balai TNGMb. “Inovasi yang keren sih ini kalau dapat diberlakukan pada semua gunung di Indonesia. Pendaki dapat lebih aman dan terpantau. Sistem ini juga mengajarkan pendaki agar lebih tertib dan saling menjaga kerbersamaan serta bertanggungjawab akan sesama teman atau kelompoknya”, kata Medina Kamil, anggota tim Jelajah 54 TN Indonesia di Sabana 1. Hal tersebut juga diamini oleh Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Wiratno, saat bertemu dengan tim Jelajah 54 TN Indonesia dan staff Balai TNGMb di Resort Selo, Sabtu (27/4/2019) malam. Beliau menyambut baik terobosan ini dan berharap harus terus dikembangkan lebih baik lagi serta dapat diterapkan pada gunung-gunung di Indonesia, khususnya dalam kawasan konservasi, seperti taman nasional dan taman wisata alam. Prinsipnya harus “zero waste” dan “zero accident”. Nah, sobat konservasi dan jelajah, yuk jadi pendaki yang cerdas dan bertanggungjawab. Mematuhi segala prosedur yang berlaku dalam kawasan dan persiapkan segala sesuatunya dengan baik dan benar. Pastinya juga bersama-sama menjaga kelestarian kawasan serta fasiltas dan sarana yang telah disiapkan pengelola untuk kebaikan kita semua. Sumber : Tim Jelajah 54 TN Indonesia & Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Berita

Koordinasi untuk Kelestarian TN Matalawa

Waingapu, 14 Mei 2019. Koordinasi dengan pemerintah daerah serta instansi di bawahnya mutlak diperlukan oleh pengelola kawasan Taman Nasional sehingga visi dan misi yang dimiliki pengelola dapat bersinergi dengan tujuan yang ingin dicapai oleh pemerintah daerah. Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) yang terletak di 3 Kabupaten di Pulau Sumba juga terus meningkatkan kerjasama dengan para pemangku kawasan. Untuk itu, Kepala Balai TN Matalawa, Ir. Memen Suparman, M.M didampingi Kepala SPTN Wilayah I, Abdul Basit Nasriyanto, S.Hut, M.Sc, melakukan koordinasi ke Kantor Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kabupaten Sumba Tengah. Ditemui langsung oleh Kepala Dinas, Fredikus M. Nanga, Kepala Balai TN Matalawa mendiskusikan beberapa hal penting, salah satunya adalah rencana pembangunan bendungan. Kepala Balai mengungkapkan bahwa, pengelola TN agar turut dilibatkan dalam pembangunan tersebut karena Daerah Aliran Sungai (DAS) yang akan dijadikan bendungan memiliki hulu di dalam kawasan TN. Selain bendungan, Kepala Balai juga mengungkapkan rencana pengelolaan wisata berwawasan lingkungan (ekowisata). Di akhir pertemuan, Kepala Balai memberikan 2 buah buku cetakan TN Matalawa sebagai buah tangan untuk menambah khasanah pengetahuan tentang burung dan capung di Sumba. Selain berkoordinasi dengan Dinas LH, Kepala Balai juga menemui Kepala Kantor Burung Indonesia Wilayah Sumba. Yohanis Djarawali sebagai kepala kantor mengungkapkan bahwa dirinya juga menjadi pencetus lahirnya TN di kawasan Sumba. Ia juga menceritakan bagaimana kronologis penataan batas kawasan secara partisipatif sehingga menjadi batas definitif seperti sekarang. Dalam kunjungan ini juga dibahas cara-cara pengelolaan kawasan khususnya perlindungan dan pelestarian burung-burung di Pulau Sumba. Sumber: Balai TN Matalawa

Menampilkan 5.601–5.616 dari 11.140 publikasi