Minggu, 26 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

TaNa Bentarum Jadi Cagar Biosfer Baru, Ajak Masyarakat Kreasi Desain Logo

Putussibau, 23 Mei 2019. Menindaklanjuti pengukuhan Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum menjadi cagar biosfer baru pada Sidang ICC-MAB UNESCO Ke 30 di Palembang 26 Juli 2018 lalu. Bupati mengajak Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum), Dinas Lingkungan Hidup Perumahan Rakyat dan Pemukiman, Bappeda dan FORCLIME untuk menindaklanjuti beberapa langkah yang perlu dilakukan sebagai nilai tambah setelah peresmian di Kantor Bupati Kapuas Hulu. Kepala Balai Besar TaNa Bentarum, Ir. Arief Mahmud, M.Si menyampaikan langkah yang dapat dilakukan dalam menindaklanjuti penetapan status Cagar Biosfer (CB) di Kabupaten Kapuas Hulu dengan core kawasan TaNa Bentarum perlu dilakukan Study Banding yang dilaksanakan 17-21 Juli, 15-22 Juni dan 23-28 Juni 2019 ini oleh Unsur pemerintah daerah, NGO dan Masyarakat Kapuas Hulu Ke Cagar Biosfer di Cibodas - Jawa Barat, Paris dan Jerman untuk penguatan dan penyamaan persepsi tentang Cagar Biosfer. Untuk kegiatan lanjutan yang sedang berjalan yaitu Penetapan logo. Dalam pembuatan Logo Cagar Biosfer Tim mengajak masyarakat ikut serta ambil alih dalam mengkreasikan design logo. Design logo yang di fasilitasi oleh Forclime ini direspon positif oleh Bupati Kapuas Hulu “Logo sangat bagus untuk itu perlu disiapkan garis besar pendesainan logo dengan memunculkan karakteristik khas Kapuas hulu, dengan begitu mampu mempresentasikan potensi dari Kapuas hulu” jelas A.M Nasir, S.H. Arief juga menambahkan perlunya pembentukan forum komunikasi untuk memperkuat posisi tawar dalam pembangunan daerah Kapuas hulu seperti Forum Cagar Biosfer, Forum Kabupaten Konservasi, dan Forum Perbatasan. Dengan begitu memperkuat kapasitas sumber daya manusia dengan melampirkan kelengkapan administrasi yang perlu disesuaikan dengan peraturan yang belaku. Dalam mendukung kelancaran dan mempercepat kegiatan ini akan digunakan mekanisme jalur KLHK yang mungkin dapat mengkawal keberhasilan tindaklajut Cagar Biosfer. (23/5) Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) Info lebih lanjut : 082158794140 (Call Center Bentarum)
Baca Berita

Patroli Siaga Kebakaran Hutan dan Lahan di TN Matalawa

Waingapu, 22 Mei 2019. Ancaman kebakaran hutan semakin nyata seiring mengeringnya rerumputan di padang savana di kawasan Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa). Hembusan angin yang cukup kencang juga semakin meningkatkan resiko terbentuknya api. Kondisi cuaca yang panas tidak menyurutkan semangat para petugas Resort Tanah Daru untuk terus melakukan upaya pencegahan kebakaran hutan. Dengan dipimpin oleh Djilik Ay sebagai Kepala Resort, anggota resort, serta masyarakat mitra Polhut (MMP) menyisir kawasan rawan kebakaran. Selain melakukan patrol kebakaran, para petugas juga melakukan pencegahan terhadap perburuan liar. Resort Tanah Daru merupakan daerah yang rawan kebakaran serta perburuan karena sebagian kawasan ini didominasi oleh rumput yang menjadi habitat rusa timor (Cervus timorensis). Dalam perjalanannya, petugas juga turut mensosialisasikan program-program pencegahan serta dampak negatif akibat kebakaran hutan kepada masyarakat yang tinggal di pinggir kawasan TN. Patroli yang dilakukan sejak pukul 09.00 WITA hingga pukul 17.00 WITA tidak menunjukkan adanya titik api dalam kawasan TN Matalawa. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Kunjungan Sahabat Konservasi di Pagi Hari

Pekanbaru, 21 Mei 2019. Pagi menjelang siang, Balai Besar KSDA Riau dikunjungi kawan kawan dari Forum Harimau Kita (FHK) dan Tiger Heart (TH) Pekanbaru. Kepala Balai Besar KSDA Riau, bapak Suharyono dan beberapa pejabat Struktural serta fungsional menyambut langsung kunjungan sobat konservasi tersebut. Tak lupa rombongan yang dipimpin oleh Irfan Prasetio dan Eko Jadmiko mampir ke kandang transit satwa Balai Besar KSDA Riau setelah sebelumnya berdiskusi dan berfoto bersama. Semoga kecintaan kalian pada satwa dapat menular pada generasi muda lainnya ya... Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Penyegaran Kelompok Pemanfaat HHBK TN Matalawa

Waingapu, 21 Mei 2019. Prinsip 3 P dalam pengelolaan kawasan konservasi yaitu perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan menjadi dasar bagi seluruh pengelola kawasan Taman Nasional termasuk Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa). Dalam hal pemanfaatan, Balai TN Matalawa bekerjasama dengan masyarakat sekitar yang tinggal di pinggir kawasan untuk dapat memanfaatkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang tumbuh di dalam kawasan Taman Nasional. Untuk itu, demi lebih mempererat kerjasama kedua belah pihak, Balai TN. Matalawa melakukan pertemuan dalam rangka pembinaan kelompok pemanfaat HHBK pada 5 desa penyangga. Pada kegiatan ini, TN Matalawa mengundang 5 Desa yang tahun lalu telah dilakukan Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Balai TN. MaTalawa diantaranya Desa Maradesa Selatan, Desa Kambata Wundut, Desa Watumbelar, Desa Umamanu dan Desa Lailunggi untuk melakukan evaluasi terkait kegiatan pemungutan HHBK pada zona tradisional. Pertemuan dalam rangka penyegaran kelompok pemanfaataan HHBK ini dibuka langsung oleh Kepala Balai TN. Matalawa dan dihadiri oleh 50 orang peserta yg berasal dari unsur masyarakat, Forum Jamatada dan Balai TN. Matalawa. Narasumber yang turut terlibat dalam pertemuan ini diantaranya adalah Kasubag Tata Usaha, Hastoto Alifianto, S.Hut, M.Sc dan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III, Judy Aries Mulik, STP serta mitra konservasi Forum Jamatada. Pertemuan ini mensiratkan bahwa kegiatan pemungutan HHBK yang dilakukan sudah berjalan cukup baik serta memberi dampak positif yaitu peningkatan ekononi masyarakat khususnya di Desa Kambata Wundut. Di desa ini, masyarakat sudah mampu mengolah kunyit, temulawak, dan jahe menjadi bahan siap jual berupa jamu. Dalam pertemuan tersebut Kepala Balai TN. Matalawa Ir. Memen Suparman, M.M juga memberikan motivasi kepada kelompok agar dapat melakukan inovasi untuk memanfaatkan HHBK dari dalam kawasan. Kerjasama aktif masyarakat juga diperlukan untuk menjaga kawasan hutan dari illegal logging serta kebakaran hutan yang pada tahun ini dicanangkan sebagai tahun zero burning atau tahun bebas keabakaran. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Langkah Awal Menangani Konflik Harimau Sumatera di Desa Siraisan, Padang Lawas

Padangsidimpuan, 22 Mei 2019. Pada Jumat, 17 Mei 2019, sekitar pukul 11.00 Wib Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan mendapat laporan dari Kepolisian Sektor (Polsek) Sibuhuan, melalui Kasat Intel, bahwa telah terjadi konflik satwa dan masyarakat Desa Siraisan, Kecamatan Ulu Barumun, Kabupaten Padang Lawas, yang memakan korban, Abdul Sali Hasibuan, 61 Tahun, laki-laki, warga Desa Siraisan. Menindak lanjuti laporan tersebut, Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang di wakili oleh Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan menuju Desa Siraisan. Setelah sampai di Desa Siraisan, tim melakukan koordinasi dengan Kepala Desa serta Koramil 08 Sibuhuan dan Polsek Barumun. Setelah berkoordinasi, tim mendapat informasi bahwa korban di serang oleh binatang buas yang diduga adalah seekor Harimau Sumatera. Kemudian tim berkoordinasi dengan pimpinan terkait informasi tersebut, dan tim mendapatkan arahan dari pimpinan bahwasanya menyetujui adanya tindakan pemasangan perangkap, dengan syarat tidak melukai serta ketika satwa tersebut sudah masuk dalam perangkap agar sesegera mungkin melaporkannya ke pihak Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Minggu, 19 Mei 2019, tim kembali ke desa untuk melakukan patroli di sekitaran areal perkebunan masyarakat serta sekitar pinggiran sungai Desa Siraisan. Patroli ini di harapkan mampu menghalau Harimau Sumatera Utara kembali ke habitatnya. Senin, 20 Mei 2018 tim BKSDA kembali melakukan patroli ke lokasi2 yang lebih luas untuk memastikan kondisi lapangan, dan juga melihat posisi kamera penjebak yang dipasang. Rencana kamera penjebak akan dipasang agak lama (1 bulan) supaya dapat merekam apabila ada aktifitas Harimau Sumatera di lokasi tersebut. Hasil patroli tidak ditemukan jejak keberadaan Harimau Sumatera. Kamera penjebak yang sudah terpasang 3 hari juga tidak menangkap/memotret adanya aktivitas Harimau Sumatera di lokasi itu. Untuk sementara tim menyampaikan bahwa tidak ditemukan keberadaan Harimau Sumatera di sekitar wilayah pemukiman dan perkebunan masyarakat Desa Siraisan. Diperkirakan HS masuk ke kawasan SM Barumun. Sumber : Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan - Balai Besar KSDA Sumatera Utara Bantuan Masyarakat ingin membantu upaya penanganan Konflik Harimau Sumatera Pemasangan Camera Trap Oleh Petugas Bidang Wilayah III Padangsidimpuan
Baca Berita

Talk Show dan Opini Hari Keanekaragaman Hayati Dunia 2019

Banjarbaru, 21 Mei 2019 – Dalam memeriahkan Hari Keanekaragaman Hayati Dunia yang jatuh pada tanggal 22 Mei, Kapala Balai KSDA Kalsel Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc ambil peran dengan mengisi talk show di Radio Nirwana FM Banjarbaru. Dipandu penyiar Radio Nirwana, Adam Subayu, perbincangan seputar konservasi keanekaragaman hayati khususnya di Kalsel berlangsung cukup menarik. Ini merupakan momen yang cukup tepat untuk mensosialisasikan konservasi kepada khalayak luas. Tema untuk tahun 2019 ini “Our Biodiversity, our food, and our health”. Dalam penjelasannya, Mahrus menyampaikan bahwa kita harus banyak-banyak bersyukur kepada Allah Ta’ala, karena Tuhan telah memberikan megabiodiversity terhadap Indonesia yang luar biasa. “Ini harus kita lindungi bersama, terutama anak-anak muda kaum milenial yang hidup saat ini, agar semuanya bermanfaat tapi tetap lestari”, imbuhnya. Kegiatan konservasi merupakan kegiatan bersama, bukan milik satu atau dua gelintir pihak, dan tentu perlu pelibatan banyak pihak. Inilah hal penting yang diungkapkan Mahrus, yaitu keterlibatan masyarakat. “Konsep kita adalah pendekatan tapak. Masyarakat sebagai pelaku utama, melalui pemberdayaan masyarakat kita kembangkan potensi sesuai dengan kondisi alamnya. Hal yang paling penting adalah meminimalisir konflik. Alam ini milik kita bersama, ayo kita jaga bersama”, begitu disampaikan Mahrus. Ada harapan besar yang disampaikan Mahrus terhadap generasi milenial ini yaitu bahwa generasi milenial yang merupakan penerus kehidupan di dunia ini diharapkan mempunyai pegetahuan, pemahaman dan perilaku terhadap keanekaragaman hayati, mampu bertanggung jawab dan bertanggung gugat atas apa yang dilakukan, berusaha keras untuk kehidupan yang lebih baik, serta mampu menjalankan fungsi sebagai Khalifah yang bertugas melindungi, mengawasi dan memanfaatkan keanekaragaman hayati dengan bijaksana. Selain talk show di radio secara langsung dan rekaman, Kepala Balai KSDA Kalsel juga menulis opini di Harian Banjarmasin Post dengan judul: Konservasi Keanekaragaman Hayati Ala Milenial yang terbit tanggal 21 Mei 2019. Pokok tulisan penting mengutip pendapat Bapak Wiratno (Dirjen KSDAE) bahwa “setiap tindakan yang berbuat salah terhadap alam akan menyebabkan reaksi yang lebih hebat dari alam. Begitu sebaliknya, tindakan yang merawat alam akan diganjar oleh alam itu sendiri berupa manfaat yang lebih besar”. (jrz) Sumber : Titik Sundari, S.Hut - PEH Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Pemusnahan Tanaman Sawit di SM Giam Siak Kecil

Bengkalis, 21 Mei 2019. Personil Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II Balai Besar KSDA Riau melakukan kegiatan patroli pengamanan kawasan di Suaka Margasatwa (SM) Giam Siak Kecil, tepatnya di Desa Bukit Kerikil, Kec. Bandar Laksamana, Kab. Bengkalis pada tanggal 15 s.d 18 Mei 2019. Kegiatan dikomandoi langsung oleh Kepala Bidang Wilayah II, bapak Heru Sutmantoro dengan upaya pemusnahan tanaman sawit pada lahan perambahan di areal yang dikuasai oleh terdakwa Sudigdo. Sekedar mengingatkan bahwa pada bulan Desember 2018, telah ditangkap seorang perambah di kawasan SM Giam Siak Kecil atas nama Sudigdo oleh tim gabungan KLHK, Polri dan TNI dimana kasusnya sudah sampai proses pengadilan. Pada saat itu, telah dilakukan penanaman sawit di areal perambahan. Kegiatan patroli berhasil memusnahkan tanaman sawit sebanyak kurang lebih 500 batang dengan umur tanaman antara 5 bulan sampai 2 tahun pada lahan seluas 6 hektar. Kepala Balai Besar KSDA Riau, bapak Suharyono, berkomitmen untuk terus menjaga keutuhan SM Giam Siak Kecil yang juga merupakan kawasan areal inti Cagar Biosfer Giam Siak Kecil Bukit Batu dari aktivitas perambahan dan gangguan hutan lainnya. Yuuuk kita sama sama mengamankan kawasan hutan yang tersisa agar Indonesia sebagai paru paru dunia tak hanya tinggal cerita belaka. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Melepas Eretmochelys imbricata ke Samudera

Ketapang, 16 Mei 2019. Desiran lembut riak air laut mengantarkan tukik-tukik itu menuju ketengah laut. Puluhan tukik seakan berlomba-lomba secepat mungkin menuju garis finish ketika mereka terlepas dari telapak tangan secara bersamaan. Ya,... Sore itu di Desa Pelang kecamatan Benua Kayong Kab. Ketapang, 93 ekor anak Penyu sisik (Eretmochelys imbricata) mulai menjalani kehidupan nyata ke laut lepas. Tukik-tukik ini merupakan hasil penetasan yang dilakukan oleh Rusni, salah satu warga desa tesebut. Singkat cerita ketika itu tanpa sengaja Rusni menemukan Penyu Sisik yang sedang bertelur di pantai dekat desanya. Tanpa pikir panjang Rusni ingin menyelamatkan telur² tersebut agar tidak di buru predator alam. Rusni kemudian menetaskan telur² tersebut di rumahnya. Bersama BKSDA Kalbar SKW I ketapang, LSM, Perangkat Desa serta masyarakat menyaksikan langsung sebuah kerja nyata konservasi dari seorang Rusni. Sebuah penghargaan tertinggi patut kita berikan kepadanya. Semoga ini menjadi contoh bagi kita semua untuk senantiasa mencintai dan melindungi satwa. Bravo Konservasi! Sumber: Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Hari Kebangkitan Nasional Ke 111 Provinsi Riau

Pekanbaru, 20 Mei 2019. Upacara Hari Kebangkitan Nasional ke 111 lingkup UPT Kemen LHK di Provinsi Riau dilaksanakan di halaman kantor Balai Besar KSDA Riau (20/5). "Dengan semangat persatuan dan kesatuan kita bangkit menjadi bangsa yang maju dan semakin baik." Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Konservasi Sabun Kakatua

Sumenep, 20 Mei 2019. Kakatua jambul-kuning anak jenis abbotti (Cacatua sulphurea abbotti) menjadi jenis satwa endemik yang sebaran habitatnya di Pulau Masakambing – Masalembu. Masyarakat Masakambing dan Kakatua abbotti telah hidup berdampingan selama puluhan tahun. Pulau Masakambing merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Masalembu yang terletak dalam wilayah administrasi Desa Masakambing, Kecamatan Masalembu Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur. Keberadaan vegetasi mangrove yang mengelilingi pulau juga memberikan potensi melimpahnya jenis ikan dan kepiting bakau yang bernilai jual tinggi. Pun demikian dengan tanaman kelapa yang banyak tersebar di pulau ini. Tanaman kelapa menjadi pohon yang bernilai penting bagi kakatua. Mereka memanfaatkan kelapa sebagai salah satu sumber pakan dan minum serta pohon tidur. Sedangkan masyarakat mengolah buah kelapa untuk dijadikan kopra dan minyak kelapa, atau terkadang menebang tanaman kelapa untuk dijual batangnya saat membutuhkan biaya hidup. Hilangnya satu pohon bernilai penting bagi kakatua dan akan mengganggu kehidupan kakatua, karena karakter mereka yang hidup berkelompok. Upaya pelestarian telah dilaksanakan Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama pihak terkait berupa monitoring populasi, pembinaan habitat, perlindungan dan pengamanan kakatua jambul kuning, serta pemberdayaan masyarakat. Merancang sebuah program kegiatan pemberdayaan hendaknya berbasis pada potensi sumber daya alam dan sumber daya manusianya. Berbagai produk dari potensi alam telah dimanfaatkan dan bernilai jual, salah satunya minyak kelapa. Namun pemasarannya terbatas di wilayah Kecamatan Masalembu saja. Pembuatan minyak kelapa secara tradisional membuat minyak hanya dapat dimanfaatkan dalam jangka waktu kurang dari satu tahun. Prospek! itulah kemudian munculah ide membuat sabun dengan ikon kakatua. Kami yakin dengan produk yang tepat dan pemasaran yang bagus, pengembangan usaha ekonomi berbasis konservasi ini akan berhasil. Minyak kelapa yang merupakan bahan utama untuk pembuatan sabun natural berbentuk ikon kakatua ini tersedia melimpah di Pulau Masakambing. Sabun minyak kelapa berdampak lebih baik pada lingkungan dan jauh lebih aman dibandingkan sabun jenis lain yang punya kandungan SLS. Sabun ini dapat menjadi produk yang ramah lingkungan dengan penambahan unsur herbal dan pengemasan yang eco friendly, tidak memakai kemasan plastik. Bentuk yang unik dan kemasan yang menarik menjadi langkah awal sabun ikon kakatua dapat diterima di pasar. Pemanfaatan potensi alam menjadi produk bernilai ekonomi, diharapkan membuat penghasilan masyarakat juga turut meningkat. Sehingga kedepan masyarakat tidak lagi menebang pohon-pohon penting bagi Kakatua jambul-kuning. Besar harapan kami, Kakatua Masakambing tetap lestari sampai masa yang akan datang. Sumber: Dini Suryandari E.S, S. Hut, (PEH) dan Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Safari Ramadhan bersama SPTN III Kalibaru TN MerBeti

Kalibaru, 20 Mei 2019. Rangkaian safari ramadhan oleh Kepala Balai TN Meru Betiri (MerBeti), Maman Surahman dilaksanakan pada tanggal 16 s/d 17 Mei 2019. Kamis, 16 Mei 2019 Kabalai TN MerBeti didampingi oleh Kepala SPTN Wilayah III Kalibaru, Sulistrianto melakukan koordinasi di kantor PTPN XII Perkebunan Malangsari. Kedatangan pihak TN MerBeti disambut hangat oleh Jaenuri selaku manager. Dalam kesempatan ini, dibahas mengenai kerjasama terkait pengamanan kawasan TN MerBeti yang berdampingan dengan Perkebunan Malangsari sehingga sehingga perlu penyamaan persepsi terkait pengamanan kawasan. Selain itu, dibahas juga mengenai pemberdayaan masyarakat Malangsari yang merupakan daerah penyangga TN MerBeti berupa budidaya ikan air tawar. Dengan adanya koordinasi antara dua pucuk pimpinan ini diharapkan bisa membuat kegiatan konkrit untuk pengamanan dan pemberdayaan masyarakat di TN MerBeti. Sore harinya dilakukan buka bersama di Malangsari yang dihadiri juga oleh ASN, Tenaga Harian Lepas (THL), dan MMP (Masyarakat Mitra Polhut) SPTN Wilayah III Kalibaru. Malam harinya, dilakukan pengamanan hutan dengan cara menyanggong (menjaga) akses masyarakat keluar masuk kawasan TN MerBeti. Hasilnya tak ditemukan adanya pelanggaran tipihut. Jumat, 17 Mei 2019 Kabalai TN MerBeti mengunjungi kawasan Blok Sengkareng Malangsari. Akses kesana tak bisa ditempuh dengan kendaraa roda 4, sehingga dilanjutkan dengan menggunakan sepeda motor. Kabalai bangga dengan kondisi hutan TN MerBeti yang terlihat masih utuh dibanding kawasan hutan di sekitarnya. Dalam perjalanan ini MMP merasa puas dan gembira atas kehadiran Kabalai. Semangat petugas lapangan terbarui kembali. Menutup perjalanan ini, Kabalai berpesan “Jaga kekompakan dan kebersamaan, dipastikan kerja kita menjadi ringan.” Sejahterakan masyarakat, Hutan lestari. Sumber: Balai TN Meru Betiri
Baca Berita

Balai Besar TaNa Bentarum Peringati Hari Kebangkitan Nasional

Putussibau, 20 Mei 2019. Hari Kebangkitan Nasional (HarKitNas) merupakan perayaan guna mengajak seluruh rakyat Indonesia memelihara, menumbuhkan dan menguatkan jiwa nasionalisme kebangsaan kita yang jatuh setiap tanggal 20 Mei. HarKitNas ini pertama kali diperingati pada tahun 1948 pada era pemerintahan presiden Soekarno. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BB TaNa Bentarum) menggelar upacara Hari Kebangkitan Nasional yang ke-111 dengan tema “Bangkit Untuk Bersatu”. Upacara dilaksanakan di halaman Kantor Balai Besar TNBKDS yang dihadiri segenap Pegawai BBTaNa Bentarum. Kepala Balai Besar TaNa Bentarum yang diwakili Kepala Bagian Tata Usaha, Agus Yulianto, S.Si., M.IDS., M.Eng selaku Inspektur upacara mengutip Pidato dari Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia bahwa “Bulan suci ini menuntun kita untuk mengejar pahala dengan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT seperti permusuhan dan kebencian, apalagi penyebaran kebohongan dan fitnah yang sedang maraknya pasca pesta demokrasi”. Dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional ke-111, agar kita semua sebagai sesama anak bangsa memperbaharui semangat gotong royong dan kolaborasi sebagai warisan kearifan lokal yang akan membawa kita menuju kejayaan dipentas global, imbuh Agus dalam sambutannya. Upacara ini dilanjutkan dengan Penganugerahan Tanda Penghormatan SATYALANCANA KARYA SATYA Lingkup Balai Besar TNBKDS. Penganugerahan ini diberikan kepada 10 Aparatur Sipil Negara sebagai penghargaan kepada PNS yang telah bekerja dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia 1945, negara dan pemerintah serta dengan penuh pengabdian, kejujuran, kecakapan, dan disiplin secara terus menerus paling singkat 10 - 30 tahun. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Balai Besar KSDA Jawa Timur dan ProFauna Dokumentasikan Burung Pulau Sempu

Sumbermanjing, 17 Mei 2019. Tak kurang 30 jenis burung terdokumentasikan saat kegiatan patroli dan pengamatan burung pada 13 – 17 Mei 2019 di Cagar Alam Pulau Sempu. Kegiatan tersebut bersama-sama dilaksanakan Resort Konservasi Wilayah 21 Pulau Sempu dengan Profauna Indonesia. Meski tim tidak berhasil berjumpa dengan Elang Jawa (Niaetus bertelsi), namun tim mendokumentasikan keberadaan Elang Ular Bido (Spilornis cheela) dan Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster). Juga, Kokokan Laut, Julang Emas, Kangkareng Perut Putih, Pelatuk Ayam, Raja Udang Meninting, Takur Tenggeret, Cekakak Australia, Cica Daun Besar, Asi Topi Sisik, Cangak Merah, Cucak Keling, dan lain masih banyak lagi. Dengan anggota berjumlah 6 personil, kegiatan patroli dan pengamatan burung tersebut dilakukan di 4 lokasi, yakni Blok Waru-Waru hingga Blok Telaga Lele, lalu Telaga Lele hingga Telaga Sat-Telaga Panjang, Telaga Lele sampai Semut Belehan, dan Blok Waru-waru sampai dengan Teluk Semut. Pengamatan burung yang dilaksanakan selama 5 hari ini dalam rangka pengumpulan data base dan rencana penyusunan Buku tentang jenis burung di Cagar Alam Pulau Sempu. (Hari Purnomo, Sp., MSc., Kepala Resort Konservasi Wilayah 21Pulau Sempu) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Hari Keanekaragaman Hayati Dunia Tahun 2019.

Halo Sobat Konservasi! Mau tau bagaimana peran keanekaragaman hayati Indonesia dalam menunjang sumber makanan dan kesehatan kita sehari-hari? Nah, jangan lupa hari Senin tanggal 20 Mei 2019 akan ada Talkshow bertemakan “Sustainable Use of Biodiversity For Our Food And Our Health” dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Dunia Tahun 2019. Selain Talkshow, ada juga loh lomba kreatifitas dalam bentuk Vlog, Blog, dan Comic Strip dengan tema keanekaragaman hayati Indonesia. Cocok banget kan dengan hobi anak millennial sekarang! Acara terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Tunggu apa lagi, yuk ikut meriahkan acaranya! #biodiversity #foodandhealth #sustainability #conservation #forestry #environment #kementerianlhk #klhk #ksdae info lebih lanjut: disini Sumber: Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati
Baca Berita

Hasil Audiensi TN Aketajawe Lolobata dengan Pemda Halmahera Timur

Sofifi, 16 Mei 2019. Setelah beberapa hari lalu audiensi dengan Pemda Kota Tidore Kepulauan dan Pemda Kabupaten Halmahera Tengah, Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) juga telah melakukan audiensi dan dialog ke Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Halmahera Timur (15/05). Audiensi Balai TNAL bersama Burung Indonesia ini dilaksanakan di Ruang Rapat Eselon Kabupaten Halmahera Timur dengan di pimpin langsung oleh staf ahli Bupati dan dihadiri beberapa perwakilan dinas terkait. Balai TNAL dan Burung Indonesia masing-masing memaparkan tugas pokok dan fungsinya. Taman nasional yang diwakili oleh Birawa (Kepala SPTN Wilayah II) dan Junesly (Kepala SPTN Wilayah III) memberikan peta pengelolaan Taman Nasional Aketajawe Lolobata seusai acara. Selesai pemaparan, Pemda Haltim melakukan diskusi terkait kolaborasi pengelolaan khususnya bidang pemberdayaan masyarakat. Seperti telah diketahui bahwa beberapa desa pada wilayah Haltim telah diberikan pelatihan dan kegiatan pemberdayaan lainnya oleh Balai TNAL. Desa tersebut antara lain Desa Dorolamo di bidang pertanian, Desa Miaf dan Desa Lolobata di bidang perikanan, dan Desa Ake Jawi di bidang pariwisata alam. Pemberdayaan dan peningkatan ekonomi masyarakat pada ke empat desa tersebut sangat di dukung oleh dinas terkait. Dinas Pertanian akan membuatkan embung, Dinas Perikanan akan memberikan pendampingan dan kepastian hukum, dan Dinas Pariwisata Halmahera Timur sedang melakukan proses pembuatan jalan wisata yang akan dilanjutkan di tahun-tahun berikutnya. Hasil audiensi tersubul menghasilkan salah stu point penting yang akan diteruskan oleh Staf Ahli kepada Bupati Halmahera Timur adalah membuat Perda atau SK pelarangan penangkapan dan perdagangan burung paruh bengkok diwilayah Halmahera Timur. Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur berharap Taman Nasional, Burung Indonesia dan Dinas Terkait dapat lebih sering mengadakan kegiatan serupa dalam meningkatkan sinergitas berbagai instansi dalam upaya mensejahterakan masyarakat Kabupaten Halmahera Timur. Sumber: Akhmad David Kurnia Putra – Polisi Kehutanan Balai TN. Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Berbagi Cerita Kemitraan Konservasi Dengan Perwakilan Pemerintah Kabupaten Se -Sulawesi Utara

Manado, 17 Mei 2019. Bertempat di Hotel Mercure Tateli Balai Taman Nasional Bunaken dan mitra dari Kelompok Nelayan Cahaya Tatapaan berbagi cerita sebagai Narasumber tentang Kemitraan Konservasi Pemberian Akses Area Perikanan di Zona Tradisional Taman Nasional Bunaken, Perairan Desa Popareng, Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan. Acara yang bertajuk Lokakarya Penentuan Ruang Lingkup Program Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP) di Provinsi Sulawesi Utara adalah program dan kegiatan pemberdayaan masyarakat pesisir pada nelayan kecil dan tradisional. Acara ini diprakarsai oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Provinsi Sulawesi Utara dan Rare Indonesia. Seluas 320 ha zona tradisional dimitrakan pengelolaannya bersama kelompok Cahaya Tatapaan. Kepala Balai TN Bunaken Dr. Farianna Prabandari, S.Hut, M.Si dalam talkshow yang digelar pada acara tersebut menyampaikan bahwa kemitraan konservasi yang kami lakukan dengan kelompok Cahaya Tatapaan merupakan cara baru dalam pengelolaan kawasan. "Kami memandang bahwa pelibatan masyarakat dalam hal ini nelayan selaku pengakses sumber daya utama perikanan merupakan langkah nyata dalam pemberdayaan masyarakat. Paska program PAAP selesai kami tindaklanjuti dengan pengembangan role model Ekowisata dimana objeknya antara lain menyusuri mangrove, snorkelling, serta di desa dengan pengembangan homestay". Ditengah keterbatasan Balai Taman Nasional Bunaken dan Kelompok Cahaya Tatapaan, kami tetap konsisten mendampingi dan melaunching menjadi Desa Wisata, dan pada tahun 2018 mendapatkan penghargaan Indonesia Sustainable Toursm Award (ISTA) dari Kementerian Pariwisata sebagai Pamong Desa Wisata, tutur Fariana. Senada yang disampaikan oleh Ketua Kelompok Cahaya Tatapaan Djoni Sem Sambur, mengawali PAAP adalah melihat aktivitas oleh kelompok Cahaya Trans Poopoh, selanjutnya dengan bersama-sama dengan teman-teman di kampung bersepakat untuk membentuk kelompok sendiri serta melakukan pencatatan ikan untuk memonitor sumber daya. Kami mengikatkan diri dengan bermitra pada Balai Taman Nasional Bunaken, memang kami akui belum mendapatkan manfaat secara optimal dari program PAAP ini, tetapi paska program dengan pengembangan ekowisata justru kami kewalahan dengan banyaknya permintaan untuk kegiatan wisata, padahal dari sisi sarana kami mengandalkan perahu tradisional, untuk itu perlu dukungan dan perhatian dari Pemerintah Daerah, tutup Sem. Sumber : Eko Wahyu Handoyo, S.Hut - PEH Balai Tamam Nasional Bunaken

Menampilkan 5.585–5.600 dari 11.140 publikasi