Minggu, 26 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

42 Petugas Terima Penghargaan Dari KSDAE

Surabaya, 24 Mei 2019. Sebanyak 42 petugas dari berbagai instansi menerima piagam penghargaan dari Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem petang tadi. Pemberian penghargaan tersebut langsung diberikan oleh Dirjen KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc di Hotel Vasa. Penghargaan tersebut diberikan karena yang bersangkutan telah berhasil mengungkap perdagangan illegal tumbuhan dan satwa liar di Jawa Timur. Ke 42 petugas tersebut berasal dari Kepolisian Daerah Jawa Timur sebanyak 14 orang, Ditpolair Polda Jawa Timur sebanyak 14 orang, Polres KPPP Tanjung Perak sebanyak 8 orang, serta Balai Karantina Ikan dan PM Surabaya II sebanyak 8 orang. Dalam sambutannya, Wiratno menyampaikan apresiasi atas peran serta aparat penegak hukum dan stake holder dalam upaya penanganan tindak pidana perdagangan illegal satwa liar yang dilindungi undang-undang. “Karena keanekaragaman hayati yang kita miliki adalah National Treasure,” imbuhnya. Acara yang dihadiri oleh Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Dr. Nandang Prihadi, S.Hut, M.Sc. dan Direskrimsus Polda Jatim, Kombes Pol Akhmad Yusep Gunawan, SH, SIK, MH. tersebut dirangkai dengan buka bersama. Sumber: Agus Irwanto - Balai Besar KSDAE Jawa Timur
Baca Berita

Kembali Balai Besar KSDA Riau Musnahkan Tanaman Sawit di Dalam Kawasan

PEKANBARU - Sebanyak 28 personil Bidang KSDA Wilayah II Balai Besar KSDA Riau melanjutkan kembali kegiatan patrolinya pada tanggal 21-22 Mei 2019. Kali ini lokasi kegiatan berada di Taman Nasional Zamrud, Kampung Dayun, Kec. Dayun, Kab. Siak. Kegiatan dipimpin Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Dumai, bapak M. Zanir. Sasaran kegiatan patroli adalah pemusnahan tanaman sawit yang tumbuh di kawasan TN Zamrud. Perlu kawan kawan ketahui, tanaman sawit yang tumbuh di kawasan tersebut bukan akibat aktivitas perambahan tetapi adanya aktivitas nelayan tradisional yang memanfaatkan buah sawit sebagai umpan makanan ikan yang diletakkan dalam bubu/alat perangkap ikan, sehingga keberadaan tanaman sawit umumnya tersebar di tepian sungai atau parit. Umur tanaman sawit bervariatif dari anakan sampai 15 tahun. Berdasarkan data inventarisasi tahun 2019 tercatat sebanyak 45 nelayan tradisional memanfaatkan danau dan sungai yang berada di Zaman Nasional Zamrud. Agar kebiasaan nelayan untuk memanfaatkan buah sawit dapat dihentikan, saat ini petugas melakukan sosialisasi dengan membuat umpan buatan dari campuran ampas kelapa dan ikan busuk. Perkiraan saat ini seluas 10 hektar areal taman nasional sudah terpapar penyebaran tanaman sawit. Pemusnahan tanaman sawit dimaksudkan untuk menghentikan perkembangan penyebaran tanaman sawit dan menutup adanya klaim dari pihak tertentu di masa yang akan datang. Pada kesempatan ini petugas berhasil memusnahkan tanaman sawit sebanyak kurang lebih 120 batang. Kepala Balai Besar KSDA Riau, bapak Suharyono, menyatakan bahwa taman nasional adalah suatu kawasan yang memiliki ekosistem asli sehingga dalam pengelolaannya harus memperhatikan keaslian ekosistem. Keberadaan tanaman eksotik termasuk tanaman sawit akan menggangu ekosistem dan secara langsung akan menggangu keseimbangan ekologis taman nasional, termasuk akan mematikan atau menghilangkan tumbuhan endemik atau asli setempat sehingga harus dimusnahkan. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Penggagalan Pengangkutan Tanduk Rusa oleh Balai KSDA Sumatera Barat

Padang, 26 Mai 2019. Balai KSDA Sumatera Barat melalui Polisi Kehutanan yang bertugas di Bandara Internasional Minangkabau berhasil menggagalkan pengangkutan bagian satwa yang dilindungi berupa jenis tanduk rusa yang akan dibawa oleh penumpang maskapai Lion Air, hal ini dilakukan atas kerja sama dengan pihak bandara dan Balai Karantina. Barang bukti yang akan dibawa ke Jakarta tersebut saat ini telah diamankan di Resort Konservasi Wilayah Padang. Rusa Sambar adalah satwa yang dilindungi menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan no. P20 tahun 2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Sumber: Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Berita

Serah Terima Jabatan Jajaran Eselon 4 Balai TN Taka Bonerate

Selayar, 27 Mei 2019. Bertempat di pelataran Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Benteng-Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, hari ini telah berlangsung serah terima jabatan (sertijab) pejabat struktural Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala SPTN Wil. I Tarupa dan Kepala SPTN Wil. II Jinato. Sertijab ini dipimpin oleh Kepala Balai dan dihadiri para komandan resort, kelompok kerja dan seluruh staf Balai Taman Nasional Taka Bonerate. Kepala balai Faat Rudhianto menyampaikan sambutannya sekaligus membuka acara Sertijab. Beliau menyatakan bahwa serah terima dalam hal ini adalah prosedur yang lazim pada birokrasi pemerintahan. Kepala balai juga menyampaikan selamat bertugas pejabat yang baru semoga bisa on fire, dapat segera menginternalisasikan supporting unitnya masing-masing, bisa membantu saya membangun Balai Taman Nasional Taka Bonerate. Selain sertijab, dilangsungkan acara perpisahan bagi staf yang mendapat promosi jabatan di tempat yang baru. Adapun pejabat yang serah terima hari ini adalah Nur Aisyah Amnur jabatan baru Kepala SPTN Wilayah II Jinato TNTBR, Muhammad Hasan jabatan baru Kepala Seksi Wilayah I pada Bidang KSDA Wilayah I Balai Besar KSDA SulSel, Usman jabatan baru Kepala Subag Tata Usaha Balai TNTBR, Raduan Kepala SPTN Wilayah I Tarupa TNTBR, Imam Talkah jabatan baru Kepala SPTN Wilayah I pada bidang pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Balai Besar TN Lore Lindu di Palu. Giat ini disertakan serah terima dan penandatanganan memori jabatan dari pejabat yang baru ke pejabat yang lama. Dengan komposisi pejabat yang baru ini diharapkan pengelolaan balai Taman Nasional Taka Bonerate kedepan lebih baik. Sumber: Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Bakti Sosial MyCorps Malaysia di Taman Nasional Danau Sentarum

Putussibau, 23 Mei 2019. Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum), Arief Mahmud menerima tamu Tim Mycorps Asia Tenggara Malaysia. Mycorps merupakan perkumpulan volunteer dari muda mudi Malaysia di bawah naungan Kementerian Belia dan Sukan Malaysia. Program Mycorps Asia Tenggara Malaysia untuk melatih pemuda Malaysia, memupuk semangat kemanusiaan, kesadaran masyarakat, hak dan tanggungjawab demi membina negara berperkhidmatan. Tujuannya antara lain; Mempererat silaturahmi diantara tim sukarelawan dengan masyarakat di desa, Membantu serta memperbaiki dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh pihak masyarakat desa, memupuk dan membina semangat kepemimpinan dan kerjasama dalam masyarakat. Kegiatan ini rencananya akan berlangsung selama 1 bulan pada bulan Juni 2019 di Dusun Batu Rawan, Desa Nanga Leboyan, Taman Nasional Danau Sentarum. Secara terpisah, Erni, Yayasan Dian Tama menyampaikan bahwa Yayasan Dian Tama digandeng untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan bakti sosial di Indonesia. Dipilihnya Desa di dalam Kawasan TNDS adalah karena mereka melihat Kapuas Hulu ada TNDS, selanjutnya ingin melihat langsung desa-desa dalam kawasan sekaligus melakukan sesuatu disitu. Selain di TNDS kegiatan Mycorps di Kapuas Hulu berada di Desa Semerantau Kecamatan Kalis dengan program utamanya dibidang pertanian. Ketua Tim Mycorps, Muhammad Zaiful Ezzwan, menceritakan bahwa kami ber-enam sebelum terjun ke lapangan, terlebih dahulu di training selama 1 bulan oleh Kementerian Belia dan Sukan. Kami memiliki latar pendidikan yang berbeda-beda, seperti Psikologi, Pendidikan, Mekanik, Agriculture dan Umum. Kegiatan yang akan dilaksanakan antara lain; Mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris, Basa Arab/Al Quran dan Matematika di sekolah-sekolahan, memasang panel surya di mushola atau masjid dengan membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada dilapangan. Kami mengucapkan terimakasih atas kunjungan dari Mycorps dan kami akan memfasilitasi keperluan untuk menunjang kegiatan Mycorps dilapangan pungkas Arief. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Ngopi "Ngobrol Pintar" Biro Humas KLHK di Medan

Medan, 23 Mei 2019. Agenda rutin bulanan Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan adalah menggelar acara Ngopi (Ngobrol Pintar). Biasanya acara ini dilaksanakan di Manggala Wanabakti, pusatnya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ngopi dijadikan sebagai forum atau media untuk memperbincangkan dan membahas isu-isu menarik seputar permasalahan dibidang LHK dengan berbagai pihak. Namun kali ini sedikit berbeda, acara Ngopi dilaksanakan di Kota Medan, tepatnya di Hotel Madani, pada Selasa, 21 Mei 2019. Isu yang diangkat pun merupakan topik yang sedang hangat diperbincangankan saat ini yaitu : Strategi dan Kebijakan Pengelolaan Sampah. Bertindak sebagai narasumber, masing-masing : Kepala Biro Humas Kementerian LHK, Ir, Djati Wicaksono Hadi, M.Si., dari Direktorat Pengelolaan Sampah Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, Ujang Solihin Sidik, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For., dan Kepala UPT Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara, Hendro Sibagariang. Kepala Biro Humas Kementerian LHK dalam paparannya menguraikan tentang Langkah-langkah Korektif Kementerian LHK difokuskan dalam 3 hal, yaitu : kelembagaan, pokok-pokok koreksi dan snapshots. Khusus untuk pokok-pokok koreksi, berkaitan dengan Kebijakan alokasi sumberdaya hutan, instrumen-instrumen serta law-enforcement. Sedangkan Snapshots Program, meliputi : reforma agraria dan hutan, hutan sosial, penanganan kebakaran hutan dan lahan, tata kelola gambut, moratorium sawit, penanganan sampah, pengendalian pencemaran, reklamasi dan rehabilitasi lahan/hutan, pengendalian merkuri dan penegakan hukum. Sementara itu, dari Direktorat Pengelolaan Sampah Ditjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, memaparkan data-data hasil survey dan riset sampah plastik, yaitu : jumlah pemakaian kantong belanja plastik (KBP) di ritel modern anggota Aprindo (32 ribu gerai) pada 2015 sebesar 9, 85 milyar lembar/tahun. Pada 2018 jumlah gerai 40 ribu, ada kenaikan penggunaan KBP 870 juta lembar. Data lain, sampah plastik merupakan sampah yang dominan dihasilkan di destinasi wisata seperti Taman Nasional (TN) Bromo-Tengger-Semeru sebesar 56 %, sedangkan sampah organik hanya 14 %. Oleh karena itu, langkah pengurangan sampah tingkat individu dan komunitas, menurut Ujang Solihin Sidik, dapat menggunakan 3 R, yaitu Reduce(mengurangi atau membatasi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya sampah), Reuse (menggunakan kembali sampah secara langsung, baik untuk fungsi yang sama maupun untuk fungsi yang lain) serta Recycle (memanfaatkan kembali sampah sebagai produk baru setelah menjalani proses pengolahan). Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara memaparkan beberapa upaya-upaya Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam menangani permasalahan sampah, diantaranya : melaksanakan kegiatan aksi bersih dan pungut sampah di beberapa kawasan Taman Wisata Alam seperti : TWA. Sibolangit (yang telah berlangsung selama 3 tahun berturut-turut), TWA. Lau Debuk-debuk, TWA. Danau Sicike-cike dan TWA Dolok Tinggi Raja, melaksanakan kegiatan peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2019, serta mewajibkan seluruh pegawai lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk menggunakan tumbler sebagai media tempat minum sehari-hari guna mengurangi penggunaan/pemakaian minuman kemasan plastik. “Kami menerapkan prinsip-prinsip pengurangan penggunaan/pemakaian sampah dengan memulai dari diri sendiri dan dimulai dari hal-hal yang kecil/sederhana,” ujar Hotmauli. Terakhir, dari Kepala UPT Pengelolaan Sampah Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara, menguraikan tentang isu strategis lingkungan hidup di Provinsi Sumatera Utara salah satunya adalah terkait dengan sampah yang menjadi permasalahan dari tahun ke tahun. Untuk itu perlu komitmen bersama dan partisipasi semua pihak dalam pengelolaan sampah untuk mewujudkan masyarakat Sumut yang bermartabat dalam lingkungan. Acara Ngopi Biro Humas KLHK, yang dihadiri para Kepala UPT lingkup Kementerian LHK Propinsi Sumatera Utara, Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara, Dinas Lingkungan Hidup Propinsi Sumatera Utara, lembaga mitra kerjasama Balai Besar KSDA Sumatera dan kelompok-kelompok pencinta alam Sumatera Utara, mendapat sambutan dan antusias dari peserta yang tercermin dalam sesi diskusi, dimana banyak masukan dan pendapat yang bermanfaat yang dilontarkan para peserta. Sumber : Nofri Yeni, SP., - PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara Foto bersama narasumber dan peserta “Ngopi” Biro Humas Kementerian LHK
Baca Berita

Teluk Pangpang Menuju Verified Conservation Area

Surabaya, 24 Mei 2019. Balai Besar KSDA Jawa Timur mengadakan Forum Discussion Group (FGD) Pemantapan Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Mangrove Teluk Pangpang di Hotel Aston - Banyuwangi, 23 Mei 2019. Teluk Pangpang merupakan salah satu dari 4 Kawasan Ekosistem Esensial yang diusulkan untuk mendapat sertitifikasi Verified Conservation Area (VCA). Dr. Nandang Prihadi, S.Hut, M.Sc, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, membuka acara yang berisi beberapa sesi diskusi panel. Ada 3 topik bahasan dalam diskusi ini, yakni Sosialisasi Pengelolaan Kawasan Ekosistem Esensial oleh Direktorat BPEE - KLHK, Posisi Teluk Pangpang dalam RTRW Kabupaten Banyuwangi oleh Bappeda Kabupaten Banyuwangi, serta Pengelolaan KEE Teluk Pangpang oleh BBKSDA Jawa Timur. Dua hal yang menjadi pokok bahasan utama dalam FGD dimaksud, mengenai pembahasan kesepakatan batas deliniasi KEE Mangrove Teluk Pangpang dan revisi Surat Keputusan Forum Pengelolaan KEE Mangrove Teluk Pangpang. Harapannya dengan adanya Forum discussion group ini, dapat diperoleh sebuah rumusan atau rekomendasi yang dapat digunakan dalam pengelolaan KEE Mangrove Teluk Pangpang, sehingga kedepannya layak memperoleh sertifikasi VCA. Sumber : Bagus Suseno - PEH Pertama Balai Bssar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Balai Besar KSDA Sumatera Utara Peringati Hari Keanekaragaman Hayati 2019

Sibolangit, 23 Mei 2019. Momentum peringatan Hari Keanekaragaman Hayati 2019, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melaksanakan serangkaian kegiatan, pada Rabu 22 Mei 2019, di Taman Wisata Alam Sibolangit. Meliputi seremoni penyerahan satwa dan pelepasliaran satwa yang dilindungi Undang-undang. Penyerahan satwa liar burung jenis Julang Emas (Rhyticeros undulatus) sebanyak 1 (satu) individu ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara, merupakan hasil kegiatan patroli Tumbuhan dan Satwa Liar Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) yang disita dari masyarakat. Penyerahan satwa ini dilaksanakan oleh Tomin, staf pada Balai Besar TNGL dan diterima langsung Koordinator Pusat Penyelamatan Satwa(PPS) Sibolangit Fatimah Sari, S.KH., disaksikan Kepala Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe Mustafa Imran Lubis, SP mewakili Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, Tuahman Raya, S.Sos dan Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Herbert BP. Aritonang, S,Sos, MH. Pada kesempatan itu Kepala Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe menyambut baik penyerahan ini sebagai bagian dari penyelamatan keanekaragaman hayati jenis satwa liar. Usai acara seremoni dilanjutkan dengan penandatangan Berita Acara dan kemudian menitipkannya ke PPS Sibolangit untuk penanganan oleh tim medis mengingat satwa ini masih anakan dan perlu perawatan lebih lanjut sebelum dilepasliarkan kembali ke alam. Acara seremoni ini dihadiri juga Staf Resort CA/TWA Sibolangit, Staf Resort TWA Lau Debuk debuk dan Deleng Lancuk, Staf BBTNGL, Pihak SMECO (Sumatera Eco Project) Supriadi, Kader Konservasi Habibullah Nasution dan lembaga mitra kerjasama Balai Besar KSDA Sumatera Utara Yayasan Program Konservasi Species Indonesia Rudianto Sembiring dan Staf. Sore harin tepat pukul 18.30 bertempat di Taman Wisata Alam Sibolangit juga dilepasliarkan satwa liar dilindungi jenis Binturong (Arctictis binturong) sebanyak 1 (satu) individu, yang selama ini dirawat di PPS Sibolangit, hasil sitaan dari masyarakat oleh tim Poldasu sejak 31 Januari 2018, dan 1 individu Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) merupakanpenitipan di Kandang Edukasi Lembaga YPSI yang diserahkan masyarakat Kecamatan Sibolangit Desa Salabulan pada tanggal 7 Februari 2019 lalu. Pelepasliaran dipimpin oleh Kepala Resort CA/TWA Sibolangit Samuel Siahaan, SP bersama Koordinator PPS dan tim YPSI. Masih dalam rangkaian peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Tahun 2019, pada tanggal 24 Mei 2019 akan dilakukan pelepasliaran 2 individu Elang Bondol (Haliartus indus) dan 2 Ekor Elang Laut Perut Putih ( Halieaeetus leuogaster) ke habitatnya yaitu Suaka Margasatwa Langkat Timur Laut dan Karang Gading. Satwa yang dilepasliarkan tersebut bagian dari mempertahankan keberadaan satwa liar di habitatnya. Seluruh Elang ini merupakan penyerahan dari masyarakat Kota Medan sebagai hasil Operasi Patroli Pengendendalian Tumbuhan dan Satwa Liar Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan Balai Gakum Wilayah Sumatera tahun 2017-2018. Sumber : Samuel Siahaan - PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara Binturong (gambar kiri) dan Kukang Sumatera (gambar Kanan) yang dilepasliarkan di TWA Sibolangit
Baca Berita

Perbedaan Menyatu di TN Kelimutu

Ende, 24 Mei 2019. Balai Taman Nasional Kelimutu berupaya mengangkat tagline Harmoni Alam dan Budaya sebagai wujud menghargai perbedaan (Bahasa, Suku, Ras, Agama, dll). Taman Nasional Kelimutu dengan bentang alam danau tiga warna menyatukan berbagai pengunjung yang datang dari berbagai etnis budaya. Semua menikmati indahnya alam ciptaan Tuhan dengan mengenakan Kain Tenun lokal yang khas Ende/Lio yang dibuat dan dijual sebagai souvenir di areal wisata sambil memberikan senyuman yang manis. Mengangkat wisata budaya termasuk aktifitas produksi budaya kain tenun khas lokal merupakan upaya Balai Taman Nasional Kelimutu sehingga menjadi daya tarik alternatif ekowisata di Taman Nasional Kelimutu yang akan memberi kesan dan ikatan yang lebih mendalam terhadap para wisatawan yang berkunjung. Selamat menikmati harmoni alam dan budaya di Kelimutu. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu Foto : by Endenesia
Baca Berita

Peringati Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia, BTN Kutai Lakukan On Air Dan Goes To School

Bontang, 23 Mei 2019. Tanggal 22 Mei ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa sebagai Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia. Dan tahun ini mengangkat tema our biodiversity, our food and our health. Guna meningkatkan pengetahuan dan menyebarkan kesadaran tentang ketergantungan sistem pangan, nutrisi, dan kesehatan kita pada keanekaragaman hayati dan ekosistem yang sehat, Balai Taman Nasional Kutai (TN Kutai) yang di dukung oleh Mitra TN Kutai mengadakan talkshow di Radio Mps FM dan kunjungan ke sekolah-sekolah yang berada disekitar penyangga. Setidaknya ada 4 (empat) sekolah yang menjadi sasaran roadshow, yaitu SMPN 1 dan SMPN 2 Teluk Pandan, SMPN 4 Bontang dan SMAN 1 Teluk Pandan. Balai TN Kutai bersama dengan laskar/srikandi nya mengajak siswa dan siswi usia sekolah untuk mengenal lebih dekat makna RUMAH dan ikut menjaga kelestarian "RUMAH KITA" yaituTaman Nasional Kutai. Support PT.KNI sebagai salah satu anggota Mitra TNK sungguh berarti dalam kegiatan ini. Ditambah "greget" lagi dengan gaya yang berbeda dalam pemberian materi oleh pendiri Bumi Edukasi. Mengapa kelestarian Taman Nasional Kutai harus tetap terjaga? Kawasan Konservasi TN Kutai merupakan perwakilan ekosistem hutan hujan tropis dataran rendah di Indonesia dan menjadi satu-satunya Taman Nasional yang terdapat di propinsi Kalimantan Timur. Diibaratkan sebagai sebuah RUMAH yang kaya akan keragaman jenis tumbuhan mulai dari Ulin, Meranti, Kapur dan jenis Dipterocarpaceae, selain itu TN Kutai juga menjadi RUMAH bagi jenis jenis satwa endemik yang terancam punah seperti Orangutan morio (pongo pygmaeus morio), Bekantan (Nasalis larvatus) dan Beruang Madu (Helarctos malayanus). Terganggunya siklus sebuah kawasan konservasi TN Kutai akan menyebabkan alam kehilangan keseimbangannya, yang itu berarti akan berdampak kepada hilangnya sumber pangan, sumber nutrisi dan sumber lingkungan yang sehat bagi kehidupan di masa yang akan datang. Melestarikan TN Kutai, berarti ikut menjaga kelestarian keanekaragaman hayati di dalamnya, karena Taman Nasional Kutai bukan warisan, tetapi titipan dari Tuhan untuk generasi yang akan datang. Selamat memperingati hari Keanekaragaman Hayati Sedunia "Our Biodiversity, Our Food, Our Health" Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Berita

Peringati Hari Keanekaragaman Hayati, BKSDA Kalteng dan OF-UK Indonesia Gelar Lokakarya Pengelolaan Satwa Liar di Luar Kawasan Konservasi

Pangkalan Bun, 22 Mei 2019. Hari Keanekaragaman Hayati yang diperingati setiap tanggal 22 Mei, merupakan saat yang tepat bagi para penggiat konservasi, pemerintah, swasta, dan organisasi non pemerintah untuk merenungkan dan membangkitkan kembali peran masing-masing dalam pelestarian keanekaragaman hayati. Pengelolaan satwa liar sebagai salah satu upaya dalam pelestarian keanekaragaman hayati menjadi sesuatu yang perlu dipahami oleh para pihak yang peduli, baik dari sisi teori maupun praktiknya di lapangan. Oleh karena itu untuk meningkatkan pemahaman para pihak tersebut, OF-UK Indonesia bersama Balai KSDA Kalimantan Tengah menyelenggarakan Lokakarya Pengelolaan Satwa Liar Dilindungi di Kawasan Hutan Produksi dan Hutan Lindung tanggal 22 Mei 2019 serta Pertemuan Forum Perkebunan Sawit Peduli Orangutan (PSPO) tanggal 23 Mei 2019. Pada akhir sesi pembukaan, Kepala Balai KSDA Kalimantan Tengah Adib Gunawan, secara simbolis menyerahkan buku Pengenalan Tumbuhan dan Satwa Liar dilindungi kepada perwakilan peserta. Kegiatan ini bertujuan untuk berbagi informasi, pengetahuan dan pengalaman di antara pemangku kepentingan dalam pengelolaan satwa liar dilindungi guna mewujudkan Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) serta Pengelolaan Perkebunan Sawit yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Kepala Balai KSDA Kalimantan Tengah Adib Gunawan dalam sambutannya menyatakan, berdasarkan hasil orangutan Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2016, lebih dari 70 % populasi orangutan berada di luar kawasan konservasi. "Karena itulah perlindungan orangutan dan habitatnya serta satwa liar dilindungi lainnya tidak hanya dilakukan di kawasan konservasi, namun juga diluar kawasan tersebut, seperti di hutan produksi dan hutan lindung serta area konsesi kebun sawit," jelas Adib. Dengan tugasnya sebagai unit pelaksana teknis Kementerian LHK menurut Adib, Balai KSDA memiliki tugas pokok yang salah satunya melakukan kegiatan perlindungan tumbuhan dan satwa liar dilindungi secara insitu dan eksitu. Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Avilla Pangkalan Bun dengan narasumber dari Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH), Ditjend KSDAE-Kementerian LHK, Forum Orangutan Kalimantan Tengah (Forkah), Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah, OF-UK Indonesia, Korindo Group, Wilmar Group, dan Balai KSDA Kalimantan Tengah. Kegiatan ini dihadiri 30 orang peserta yang merupakan perwakilan intansi terkait di zona barat pembangunan Kalimantan Tengah, yaitu Dinas Lingkungan Hidup dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Sukamara, Lamandau, dan Seruyan serta perwakilan perusahaan perkebunan sawit dan konsesi HPH. Country Head OF-UK Indonesia Hendra Gunawan, mengungkapkan kegiatan ini diselenggarakan untuk memfasilitasi para pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan satwa liar, khususnya orangutan di luar kawasan konservasi. Menurut Hendra, harapannya hasil lokakarya ini dapat mencapai kesepahaman dan kolaborasi berbagai pihak dalam pengelolaan satwa liar dilindungi di kawasan hutan produksi dan hutan lindung serta di area konsesi kebun sawit dan sekitarnya. "Selain itu juga, tersedianya dukungan dan komitmen para pihak dalam pengelolaan satwa liar dilindungi dan habitatnya di kawasan hutan produksi dan hutan lindung serta di area konsesi kebun sawit dan sekitarnya. Serta terpenting, tercapainya kesepakatan untuk menerapkan Best Management Practice (BMP) pengelolaan satwa liar dilindungi, khususnya Orangutan dalam unit manajemen di wilayah KPHP dan area HGU," jelasnya. Pada akhir lokakarya, dilakukan diskusi terfokus yang dipandu oleh fasilitator dari Direktorat KKH Dr. Ade Soeharso, selanjutnya para peserta sepakat untuk menandatangani komitmen bersama yang menekankan bahwa BMP merupakan dokumen penting dalam pengelolaan satwa liar dilindungi, baik di Hutan Produksi maupun Hutan Lindung serta area konsesi kebun sawit dan sekitarnya. Selain itu, KPHP dan Unit manajemen serta pengelola HGU juga sepakat untuk membuat dokumen BMP pengelolaan satwa liar dilindungi dengan dukungan dari pemerintah, NGO dan stakeholder lainnya. (HTG) Sumber : Balai KSDA Kalimantan Tengah dan OF-UK Indonesia
Baca Berita

Panen Perdana Tanaman Kol Hasil Pemberdayaan Masyarakat TN Kelimutu

Ende, 22 Mei 2019. Program Kemitraan Balai Taman Nasional Kelimutu kembali memetik hasil yaitu panen perdana tanaman kol, kali ini dilakukan di Desa Nduaria, Kecamatan Kelimutu, Ende. Pemanenan dilaksanakan bersama Kelompok Tani Rimbawan, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah 1 Moni, Kepala Desa Nduaria, serta petugas Resort Nduaria. Pemanenan ini merupakan hasil dari bantuan pemberdayaan masyarakat Taman Nasional Kelimutu tahun 2018 berupa pelatihan dan alat serta bahan pembuatan pupuk cair dan herbisida organik yang mengolah limbah dari pemberantasan gulma hutan Kirinyuh dalam kawasan taman nasional. Dari hasil penanaman dalam demplot melalui 100 bibit tanaman sayur kol ini menghasilkan 135 kg sayuran kol "organik' yang nilainya jualnya lebih tinggi dari kol bahan kimia biasa yang saat ini berkisar Rp.8.000/kg. Sebelumnya produk olahan pupuk organik Kemitraan Taman Nasional Kelimutu ini juga telah berhasil pada tanaman bawang merah di Desa Wiwipemo yang merupakan desa penyangga di dataran rendah tanpa menggunakan pupuk kimia. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Ular Sanca Kembang di Kantor Damkar Kota Makassar

Makassar, 23 Mei 2019. Pukul 19:15 Wita Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan mendapatkan laporan dari masyarakat atas nama Pak Gono yang sekaligus Petugas Damkar Kota Makassar tentang keberadaan ular sanca di kantornya dan minta bantuan untuk di evakuasi. Setelah mendapat laporan Tim WRU Seksi IV bergerak menuju lokasi dan didampingi langsung oleh Kepala Seksi Wilayah 4 (Santiago) dan Kepala Seksi Wilayah 3(Benny). Sesampainya di lokasi, pihak Damkar (Pak Gono) menjelaskan bahwa satwa tersebut diamankan dan dibawa oleh masyarakat ke kantornya karena mengancam keselamatan masyarakat, “lokasi penangkapan ular di jl. Manuruki 2 Kota Makassar” Terang Gono, Ular tersebut memiliki panjang diperkirakan 4-5 meter. Dari jenisnya ular ini adalah Sanca Kembang (Python reticulatus) .Setelah serah terima dari Pihak Damkar Kota Makassar, Tim WRU mengamankan satwa tersebut dan membawa ke Transit Cage BBKSDA Sulsel untuk penanganan selanjutnya. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: Kepala Subag Data, Evlap dan Humas Edi Sarwana - 0821-3431-9222
Baca Berita

Sidang Keterangan Ahli Pada Kasus Pemilikan Burung Dilindungi

Medan, 23 Mei 2019. Sidang pemilikan burung dilindungi kembali digelar di ruang sidang Kartika di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa, 21 Mei 2019. Kali ini agenda sidang adalah mendengarkan keterangan Ahli dan memeriksa terdakwa. Bertindak sebagai Ahli adalah Dede Syahputra Tanjung, SP., Pejabat Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Pertama pada Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Dalam keterangannya, Ahli menjelaskan bahwa ada 16 individu burung dilindungi yang disita oleh petugas dan menjadi barang bukti, yaitu : 5 (lima) individu Burung Kakatua Raja (Probosciger aterrimus), 5 (lima) individu Burung Kesturi Raja/Nuri Kabare (Psittrichas fulgidus), 1 (satu) individu Burung Rangkong Papan/Enggang Papan (Buceros bicornis), 1 (satu) individu Burung Kakatua Maluku (Cacatua moluccensis), 1 (satu) individu Burung Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulpurea) dan 3 (tiga) individu Juvenil Burung Kasuari Klambir Ganda (Casuarius casuarius). “Ke-16 individu burung tersebut dikategorikan jenis dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar jo. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi,” ujar Dede S. Tanjung. Ahli juga menerangkan jenis-jenis satwa tersebut kepada Majelis Hakim dan Jaksa Penuntut Umum melalui gambar/foto-foto yang terdapat di Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Menjawab pertanyaan salah seorang anggota majelis hakim tentang upaya apa yang dilakukan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam mensosialisasikan peraturan perundang-undangan berkaitan dengan perlindungan satwa liar, Ahli secara gamblang menjelaskan bahwa Balai Besar KSDA Sumatera Utara secara rutin menyebarluaskan informasi-informasi tersebut kepada berbagai pihak, baik pemerintahan daerah kabupaten/kota, komunitas pencinta burung, maupun masyarakat lainnya, dengan menggunakan berbagai media/sarana termasuk melalui media sosial. Sedangkan terdakwa Aidil Aulia, dalam keterangannya mengakui bahwa ke 16 individu burung dilindungi tersebut adalah milik Sdr. Robby, yang saat ini statusnya DPO (Daftar Pencarian Orang) pihak Polda Sumut. Namun terdakwa tidak mengetahui darimana asal usul burung-burung tersebut. “Saya hanya sebagai pekerja pemberi makan dan membersihkan kandang burung saja, pak hakim. Untuk pekerjaan tersebut saya digaji oleh Sdr. Robby sebesar Rp. 1.200.000,- per bulan. Pekerjaan ini baru 3 bulan saya lakukan terhitung bulan Desember 2018, sampai akhirnya saya ditangkap team gabungan Polda Sumut dan Balai Besar KSDA Sumut,” ujar Aidil Aulia dalam keterangannnya kepada majelis hakim. Untuk mendengarkan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum, majelis hakim menunda sidang selama sepekan. (Evan) Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur Ahli dalam penjelasannya kepada majelis hakim, jaksa penuntut umum dan terdakwa tentang ke 16 individu burung dilindungi melalui foto yang tertera pada BAP
Baca Berita

Implementasi Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi, BB TaNa Bentarum Jajaki Kerjasama Dengan Bank Indonesia

Pontianak, 21 Mei 2019. Bertempat di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalimantan Barat Jalan Ahmad Yani No 2 Pontianak, Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) didampingi Kepala Seksi Wilayah IV memenuhi undangan pertemuan dari Kepala Perwakilan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat tentang pemetaan potensi ekonomi Taman Nasional Danau Sentarum. Prijono selaku Kepala Perwakilan mengatakan tahu informasi Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dari informasi berita media TV di CNN terkait Kemitraan Konservasi di TNDS, dan tertarik untuk memperoleh informasi tentang pemetaan ekonomi dan peluang program di TNDS. Pria yang berasal dari cirebon ini ingin sekali belajar tentang madu hutan organik di TNDS. Salah satu Tupoksi BI Kalbar antara lain mengatur stabilitas inflasi keuangan. BI Kalbar memiliki divisi pengembangan UMKM, terkait produk yang mempengaruhi inflasi seperti beras. Akan tetapi BI Kalbar juga tertarik dalam pemberdayaan masyarakat di dalam kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan TNDS. Dalam paparan dan diskusinya, Arief Mahmud memberikan gambaran peluang dan peran kerjasama dalam rangka pengembangan TNBK dan TNDS antara lain dalam hal : 1. Peningkatan ekonomi masy didalam kawasan, 2. Pengembangan madu hutan organik, 3. Pemasaran madu hutan organik, 4. Pengembangan ekowisata berbasis masyarakat, 5. Pengembangan budidaya ikan dll. Di Taman Nasional Danau Sentarum, kaya akan sumber daya alam yang dimanfaatkan oleh masyarakat baik berupa madu dan ikan. Hasil madu sebesar 15-20 ton per tahun atau senilai 2.5 - 3 milyar per tahun. Sedangkan dari ikan dapat menghasilkan 15.5 milyar per tahun (roslinda, 2014) Peluang ini akan ditindak lanjuti dengan rencana kunjungan ke Taman Nasional Danau Sentarum, dalam waktu dekat. Sesuai dengan arahan Dirjen KSDAE tentang 10 cara baru kelola kawasan konservasi, khususnya point 4. Kerjasama lintas kementerian/ lembaga terkait. Pihak Balai Besar TaNa Bentarum berharap peluang ini dapat meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Balai TN Wakatobi Peringati Hari Keanekaragaman Hayati Dengan Pelepasliaran Tukik

Tomia, 22 Mei 2019. Dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Dunia tahun 2019 (International Day For Biological Biodiversity) yang jatuh pada tanggal 22 Mei, Balai Taman Nasional Wakatobi melalui Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III melakukan pelepasliaran 236 (dua ratus tiga puluh enam) ekor tukik (anak penyu) di Pantai Huntete, Desa Kulati, Resort Tomia Timur. Tukik yang dilepasliarkan terdiri dari 196 (seratus Sembilan puluh enam) ekor jenis penyu hijau (Cheloniamydas) dan 40 (empat puluh) ekor jenis penyu sisik (Eretmochelysimbricata). Tukik tersebut merupakan hasil pengelolaan demplot penetasan semi alami spesies penyu yang terdapat di Kelurahan Waha, Resort Tomia, SPTN Wilayah III. Telur-telur yang berpotensi rusak akibat terkena air laut saat pasang maupun ancaman lainnya dipindahkan (direlokasi) dari sarang alami ke demplot untuk ditetaskan secara semi alami. Setelah telur menetas, tukik kemudian dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Sejak di bangun tahun 2011, demplot penetasan semi alami spesies penyu Balai Taman Nasional Wakatobi telah melepasliarkan sebanyak 4.559 ekor tukik, yang terdiri dari 4.088 (empat ribu delapan puluh delapan) ekor jenis penyu hijau (Cheloniamydas) dan 471 (empat ratus tujuh puluh satu) ekor jenis penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Penyu hijau dan penyu sisik merupakan 2 (dua) jenis penyu yang dapat ditemukan di Taman Nasional Wakatobi. Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (KSPTN) Wilayah III (Chris Awang) mengatakan, “peningkatan populasi penyu di Taman Nasional Wakatobi merupakan program prioritas, sehingga upaya untuk meningkatkan populasinya di alam akan terus dilakukan.” Kedepannya, Balai Taman Nasional Wakatobi akan terus melakukan kegiatan peningkatan populasi penyu, salah satunya melalui pemberdayaan masyarakat yang berada di sekitar pulau yang menjadi lokasi bertelurnya penyu. Sumber: Parulian Situmorang-Balai Taman Nasional Wakatobi.

Menampilkan 5.569–5.584 dari 11.140 publikasi