Minggu, 26 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Keren, Ada Mikroba Asal TN Gunung Ciremai Bikin Hidup Sehat Dengan Makanan

Jakarta, 29 Mei 2019. Hidup sehat kini terus menjadi gaya hidup masyarakat dunia. Termasuk di Indonesa. Bukan hanya di perkotaan, bahkan hingga pedesaan. Salah satunya makanan dan minuman yang kita konsumsi sehari-hari. Kalau bicara makanan, seringnya sih kita gak tahu perjalanan asal-usulnya. Terkadang tahunya udah tersedia di meja makan atau kita beli di rumah makan atau restoran. Kalau sedang jalan-jalan ke daerah pegunungan, selain udara segar dan pemandangan indah, kita pasti melihat berbagai tanaman buah-buahan, sayur-sayuran, kopi, teh dan lainnya. Nah, itulah awal perjalanan dari makanan dan minuman yang kita konsumsi. Jadi, pegununngan menjadi rumah penyedia air tawar, energi dan makanan untuk semuanya. Bukan hanya menyediakan makanan dan kesejahteraan bagi ratusan juta masyarakat dunia yang tinggal di pegunungan itu sendiri, tetapi secara tidak langsung juga memberi manfaat miliaran orang yang hidup hingga ke hilir. Menurut data dari “Food and Agriculture Organization” (FAO), 60-80 persen air tawar dunia bersumber dari pegunungan. Diinfokan juga jika pertanian gunung telah menjadi model untuk pembangunan berkelanjutan selama berbad-abad dan inheren “hijau” berkat karakter skala kecil dan jejak karbon yang rendah. Menurut Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), ancaman bagi ekosistem pegunungan di Jawa dan hampir seluruh Indonesia ada dua: “mass tourism” dan “vegetable based farming”. Sebagian besar pertanian sayuran dan buah-buahan seperti kol dan tomat itu mengandung pestisda semua. Tanahnya juga terkontaminasi. “Penggunaan pupuk kimia buatan dan pestisida tersebut telah menyebabkan hilangnya serangga dan burung. Akibatnya penyerbukanpun gagal,” papar Wiratno saat “media briefing” di ruang “media center”, gedung Manggala Wanabakti, KLHK, Senin (27/05/2019) sore. Wiratno kemudian menjelaskan mengenai ditemukannya salah satu jenis mikroba asal Taman Nasional Gunung Ciremai yang teryata mampu memberikan solusi untuk pertanian gunung yang sehat dan menyehatkan lingkungan tentunya. Mikroba tersebut mampu mempercepat pertumbuhan akar tanaman. Berfungsis seperti penyubur, potensial menggantikan peran pupuk kimia buatan. Penggunanna juga diyakini dapat mengurangi kerusakan air tanah. “Temuan ini merupakan hal yang luar biasa. Ini menjadi bukti bawa betapa pentingnya kawasan konservasi itu. Jadi bukan hanya terkait dengan wisata alam, habitat satwa, perubahan iklim dan air saja. Tetapi lebih dari itu,” ujar Wiratno. Wiratno juga mengatakan bahwa kawasan konservasi seperti taman nasional juga merupakan gudangnya pengembangan pertanian sehat dimasa depan. Salah satu sumbangan kawasan konservasi yang sangat penting. Masa depan kita adalah “bioprospecting” (bioprospeksi) – proses penemuan dan komersialisasi produk-produk baru berdasarkan sumber daya hayati. Menjadi penting dan berguna di banyak bidang. Termasuk untuk obat-obatan dan pertanian. Kementerian LHK, dalam hal ini Balai TN Gunung Ciremai bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), sejak 2017 tengah mengembangkan “bioprospecting” mikroba yang berguna sebagai upaya untuk meningkatkan produktifitas pertanian sehat tanpa pupuk kimia buatan dan pestisida. Pengembangan kegiatan ini sendiri salah satunya didorong atas keprihatinan Balai TNGC terhadap pertanian di 54 desa penyangga yang telah bertahun-tahun menggunakan bahan kimia buatan sebagai penyubur tanaman dan pembasmi hama. Tentu sangat menkhatirkan mengganggu keseimbangan ekosistem alam, baik itu di luar maupun di dalam kawasan. Menariknya ternyata ide awal dari eksplorasi mikroba justru muncul ketika terjadi kebakaran hutan di sekitar puncak gunung Ciremai tahun 2015. Ternyata setahun pasca kebakaran, tempat tersebut telah kembali pada kondisi seperti semula. Melihat hal tersebut, Pengendali Ekosisten Hutan (PEH) TNGC berkesimpulan ada sesuatu yang bernilai tinggi di sana. Penelitian yang dipimpin langsung Dr. Suryo Wiyono dari Laboratorium Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB. Sebanyak 37 sampel dikumpulkan dari tanah, akar-akaran, dan daun dari berbagai tanaman di kawasan TNGC untuk mendapatkan mikroba berguna. "Dari hasil isolasi, uji hemolysis, dan uji hipersensitif, terdapat tiga kelompok mikroba yang berguna bagi tanaman: cendawan patogen serangga hama, khususnya kelompok wereng dan kutu-kutuan, yaitu cendawan Hirsutella sp dan Lecanicillium sp. Kemudian isolat bakteri pemacu pertumbuhan “plant growth promoting rhizobacteria” (PGPR) yang mampu meningkatkan panjang akar bibit tomat 42,35 persen dan membuat tomat lebih tahan penyakit bercak daun. Dan meningkatkan daya kecambah 178 persen. Terakhir, bakteri yang paling efektif dalam menekan dampak “frost” bagi tanaman, PGMJ 1 (asal Kemlandingan Gunung), dan A1 (asal Anggrek Vanda sp),” papar Suryo Wiyono. Sejak Agustus 2018 telah dilakukan uji coba pada tanaman cabe rawit, tomat, dan terong ungu di Seksi Pengolahan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Kuningan, Desa Bandorasa Kulon, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan dan pada demplot tanaman padi dan kentang yang masuk SPTN Wilayah II Majalengka di Desa Bantaragung, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka. Hasilnya, kedua-duanya positif. Mikorba berguna (PGPR) dapat meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas dan menyehatkan tanaman. Fakta lainnya di lapangan membuktikan mikroba bermanfaat (PGPR) asal TNGC mampu meningkatkan pertumbuhan dan menyehatkan tanaman. Hanya dalam kurun waktu 5 bulan ketika diterapkan pada tanaman pemulihan ekosistem hutan, pertumbuhannya menjadi lebih cepat. Mendengar itu semua, makin yakin kita, kedepan hasil pertanian yang kita konsumsi akan semakin baik dan sehat. Demikian juga alamnya, desa tempat bertani juga sehat, penggunaan bahan kimia buatan baik itu untuk pupuk dan pembasmi hama digantikan oleh mikroba alami yang diperoleh dari hutan alam. Saling berpengaruh positif antara desa-desa pertanian dengan hutan konservasi yang disangganya. Dan makin bangga dengan kawasan konservasi kita. Selain memang alamnya sangat indah. Beragam flora dan faunanya. Ternyata juga menyimpan berbagai mikroba dan bakteri yang juga sangat bermanfaat untuk kehidupan manusia yang lebih baik. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Ciremai & Tim Jelajah 54 TN Indonesia
Baca Berita

BKSDA Kalsel Gelar Apel dan Halal Bihalal

Banjarbaru, 10 Juni 2019 – Balai KSDA Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) menggelar apel dan halal bihalal bersama dengan Aparat Sipil Negara (ASN), dan tenaga honor, Senin (10/6/2019). Apel hari pertama masuk kerja usai libur panjang Idul Fitri 1440 H itu dipimpim langsung oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr.Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. Juga turut menghadiri apel, KSBTU, Kepala SKW II Banjarbaru, para ASN dan tenaga honorer di lingkungan BKSDA Kalsel. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr.Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc dalam sambutannya mengucapkan selamat hari raya idul fitri dan mengucapkan permohonan maaf kepada seluruh ASN dan tenaga honor yang hadir di halaman kantor BKSDA Kalsel. Bagi yang sudah mudik dari kampung halaman semoga silaturahminya membawa keberkahan bagi bangsa dan negara. Ada salam dari Dirjen KSDAE Bapak Ir. Wiratno, M.Sc. untuk kita semua, kita doakan beliau selalu diberi kesehatan dan keberkahan. “Hari pertama masuk kerja dan apel ini kita merasa puas karena dapat dihadiri ASN lebih banyak. Tingkat kehadiran hari ini memberikan gambaran kesungguhan kita dalam mengabdi. Diharapkan mulai hari ini dan kedepannya kinerja ASN dapat lebih ditingkatkan lagi”, kata Mahrus. Semangat puasa menjadikan dorongan spritual untuk bekerja lebih keras, cerdas dan tuntas. Kekompakan tim dimulai dari resort hingga balai harus solid untuk mencapai tujuan organisasi dan kemaslahatan. Selain itu Mahrus berpesan agar seluruh pegawai di lingkungan BKSDA Kalsel menjaga kesehatan dalam keadaan cuaca seperti sekarang ini. Selesai apel pagi dilanjutkan salam-salaman saling memaafkan dan mendoakan. (jrz) Sumber : Jauhari Arifin, S.Kom - Staf Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Kepedulian Terhadap Cycloop Terus Bergulir

Jayapura, 31 Mei 2019. Balai Besar KSDA Papua berpartisipasi dalam kegiatan penanaman pohon yang diinisiasi oleh GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) pusat. Kegiatan berlangsung pada Jumat, 31 Mei 2019. Sejumlah pihak yang hadir antara lain ketua umum GMKI pusat dan daerah, Kepala Resort Sentani Balai Besar KSDA Papua, Eddy Sam Lau, anggota Masyarakat Mitra Polhut Holorowa, Kepala Kampung Sereh, ondoafi, masyarakat adat, dan tokoh agama setempat. Keseluruhan peserta yang terlibat dalam kegiatan penanaman ini berjumlah 50 orang. Titik lokasi penanaman berada pada sekitar koordinat 2'32,41,304"S 240'30'58.53"E, yang merupakan kawasan penyangga Cagar Alam Pegunungan Cycloop di Kampung Sereh. Adapun bibit yang ditanam berjumlah 200, terdiri atas bibit buah dan sejumlah kayu keras. Eddy Sam Lau menyebutkan rincian bibit sebagai berikut: 42 bibit nangka, 10 bibit durian, 84 bibit rambutan, 27 bibit pinang, 35 bibit genemo, 21 bibit kasuarina, 41 bibit merbau, dan 20 bibit bambu. Pada kesempatan yang sama Eddy menyampaikan, “Kegiatan ini sangat positif sebagai bentuk kepedulian terhadap kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Ke depannya, saya berharap ada kerja sama dan koordinasi yang lebih baik lagi antara GMKI dan Balai Besar KSDA Papua sebagai pemangku kawasan, supaya kegiatan penanaman bisa lebih terarah dan terukur.” Pada kesempatan yang sama, ketua GMKI pusat menyampaikan bahwa kegiatan penanaman ini merupakan bentuk kepedulian GMKI terhadap pelestarian kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, terutama dalam proses pemulihan ekosistem pascabencana. Kedatangannya ke Jayapura, selain melakukan kegiatan penanaman pohon, adalah menghadiri rapat perencanaan pembangunan infrastruktur pascabencana dan persiapan PON ke-20 di kantor bupati Kabupaten Jayapura. [] Sumber : Balai Besar KSDA Papua Call Center : 0823-9802-9978
Baca Berita

Penanganan Gajah Liar di Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru

Pekanbaru, 3 Juni 2019. Tiada henti untuk bertugas bagi petugas lapangan Balai Besar KSDA Riau, terutama petugas Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas. Di saat yang lain sibuk mempersiapkan lebaran, mereka justru masih harus berjibaku melakukan penanganan Gajah liar yang masuk perkebunan masyarakat di Kelurahan Rantau Panjang dan Kelurahan Agrowisata, Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru. Sejak tanggal 30 Mei sampai 3 Juni 2019, tercatat 11 ekor Gajah liar masuk ke perkebunan dan merusak beberapa batang sawit dan pondok dalam areal perkebunan. Kawanan Gajah liar ini sering disebut Kelompok Sebelas karena kerap masuk areal perkebunan di Kecamatan Minas, Rumbai dan Tapung. Meningkatnya aktivitas Gajah liar di areal perkebunan setiap tahun pada saat menjelang lebaran disebabkan karena pada saat seperti ini banyak areal kebun yang ditinggalkan oleh penunggu atau buruh kebun untuk pulang ke kampung halamannya dalam rangka hari raya. Sehingga dengan keadaan demikian, Gajah liar merasa bebas dan tidak terganggu melakukan aktivitasnya. Kehadiran petugas dalam menangani Gajah liar sangat dirasakan oleh masyarakat. Petugas dengan menggunakan petasan terus menghalau satwa liar dilindungi tersebut menuju areal aman yaitu Tahura Minas. Disamping itu petugas terus melakukan monitoring pergerakan satwa dimaksud. Semoga upaya yang dilakukan petugas segera dapat diatasi ya, sehingga para petugas dapat kembali ke rumahnya masing masing untuk merayakan lebaran bersama keluarganya. Tetap semangat kawan, semoga apa yang kalian lakukan dengan penuh keikhlasan menjadikan nilai ibadah tersendiri untuk kalian.... Sumber: Balai Besar KSDA Riau #kemenlhk #ditjenksdae #balaibesarksdariau #humasklhk #humasksdariau #sobathijau
Baca Berita

Meski Cuti Lebaran, Sang Monster Tetap Dipioritaskan

Botang, 2 Juni 2019. Meskipun sudah memasuki libur cuti Hari Raya Idul Fitri, petugas di Balai Taman Nasional Kutai selalu siap sedia menangani laporan dari masyarakat. Minggu pagi, pukul 10.00, Balai Taman Nasional Kutai kembali mendapatkan laporan dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bontang bahwa mereka akan menyerahkan seekor buaya yang telah tertangkap oleh masyarakat. Buaya muara (Crocodylus porosus) berukuran besar dengan panjang 4,05 meter yang meresahkan masyarakat tersebut tertangkap di Jl. Setya Lencana 1 RT 09 Nyerakat, Kelurahan Bontang Lestari, Kecamatan Bontang Selatan, Kota Bontang. Drs. Anas Taneng selaku Kepala Seksi Penyelamatan dan Investigasi beserta petugas dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bontang menyerahkan satwa liar tersebut ke Balai Taman Nasional Kutai dan diterima oleh tim Wildlife Rescue Unit (WRU). Meskipun terdapat luka-luka ringan bekas jerat, namun buaya dalam kondisi sehat, terlihat dari gerakan merontanya yang masih sangat kuat. Perlindungan terhadap satwa liar menjadi tugas Balai Taman Nasional Kutai. Sehingga penanganan terhadap satwa liar yang terlibat konflik dengan manusia menjadi prioritas yang harus diselesaikan dengan sebaik-baiknya, dengan tetap menjaga keselamatan satwa. Begitu juga dengan monster perairan tersebut yang harus segera diselamatkan. Setelah proses serah terima dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bontang ke Balai Taman Nasional Kutai selesai dilaksanakan, tim WRU segera berkoordinasi dengan BKSDA Kalimantan Timur di Samarinda. Satwa ini pun segera dibawa ke BKSDA untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Bagaimanapun, liburan tidak menyurutkan para petugas Balai Taman Nasional Kutai untuk tetap menjalankan tugas yang telah diamanahkan oleh negara. Sumber: Balai TN Kutai
Baca Berita

Semangat Berbagi dengan Masyarakat Sekitar

Gunung Putri, 29 Mei 2019. Kalo lagi Ramadhan, kamu biasa mengisi waktu bagaimana? Apa kamu punya kegiatan khusus di bulan Ramadhan? Kali ini, ada agenda spesial dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila ke-74 di Resort Gunung Putri - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) melaksanakan bakti sosial. Sebagai wujud kepedulian dan tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility) Unit Layanan Kesehatan (ULK) Edelweis TNGGP dan masyarakat yang tergabung dalam Forum Ekowisata Gunung Putri pada hari Kamis, tanggal 29 Mei 2019 telah melaksanakan kegiatan bakti sosial berupa pemberian santunan kepada anak yatim dan pengecekan serta pengobatan gratis kepada 100 orang masyarakat yang memerlukan di Desa Sukatani. Kegiatan bakti sosial ini merupakan kerja bersama Forum Ekowisata Gunung Putri, petugas Resort Gunung Putri, dan ULK Edelweis TNGGP – KPRI Edelweis. Acaranya di mana, siapa saja yang hadir, dan siapa yang bertugas? Kegiatan ini dilaksanakan di MTs Al-Ikhlas Gunung Putri, Desa Sukatani yang letaknya di sekitar dengan pintu masuk pendakian. Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan dari TNGGP yang diwakili oleh Kepala Resort dan seluruh petugas Resort Gunung Putri; turut hadir pula tokoh agama dan masyarakat Desa Sukatani; unsur Tripides Sukatani (perwakilan aparat desa, Babinsa, Bhaninkamtibmas); dan seluruh anggota Forum Ekowisata Gunung Putri. Apa aja sih, keuntungan pemeriksaan medis itu buat masyarakat? Dalam kegiatan ini masyarakat bisa memeriksakan diri dan berkonsultasi kesehatan kepada tim medis ULK Edelweis yang dipimpin oleh dr. Herdiansyah Kusuma selaku dokter penanggung jawab di ULK Edelweis, sehingga pencegahan dan penanggulan kondisi kesehatan sedini mungkin dapat segera dilakukan, bagi masyarakat yang terdeteksi kurang sehat langsung dilakukan penanganan dan diberikan obat-obatan secara gratis. Selesai dzuhur, acara dilanjutkan dengan sambutan, tauziah ramadhan, dan pembagian santunan untuk anak yatim. Dalam sambutan perwakilan dari Balai Besar TNGGP dalam hal ini diwakili oleh Kepala Resort Cibodas menyampaikan bahwa hubungan TNGGP dan masyarakat adalah saling membutuhkan, sehingga perlu adanya kebersamaan untuk mewujudkan “leuweung hejo masyarakat ngejo” kawasan hutan yang lestari dan masyarakat yang sejahtera apalagi bertepatan dengan Ramadhan dan semangat lahirnya Pancasila. Sebagaimana juga yang disampaikan dalam tauziah Ramadhan oleh Ustadz Dudus bahwa kegiatan santunan kepada anak yatim akan memberikan rahmat dari Allah kepada kampung dan masyarakat Gunung Putri serta menghindarkannya dari musibah dan bencana. Dalam kegiatan ini terdapat 40 anak-anak yang mendapatkan santunan. Melalui kegiatan ini, kita semua dapat mengetahui bahwa kerjasama antara Balai Besar TNGGP dengan masyarakat bisa melahirkan kebaikan untuk masyarakat sekitar. Harapannya, kerjasama dan kebaikan ini dapat dilaksanakan secara kontinyu dan terus berkembang sehingga kawasan TNGGP dapat terus lestari saat ini dan masa yang akan datang. Sumber: Latifa Nur Artiningsih – Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Kita Indonesia Kita Pancasila

Cibodas, 01 Juni 2019. bertempat halaman kantor di Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP), telah dilaksanakan upacara dalam rangka memperingati “Hari Lahir Pancasila” dengan berbalut busana daerah/ batik. Tema “Kita Indonesia Kita Pancasila”. Bertindak sebagai Pembina Upacara adalah Kepala Balai Besar TNGGP (Wahju Rudianto). Upacara ini dihadiri oleh Pejabat Struktural dan para pegawai lingkup BBTNGGP. Semoga dengan memperingati Hari Lahir Pancasila dapat meningkatkan dan mengkokohkan kembali Jiwa Nasionalisme dan Patriotisme. Kita Indonesia Kita Pancasila. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Sosialisasi Penegakan Hukum di SPTN Wilayah II, Balai TN MerBeti

Jember, 31 Mei 2019. Resort Wonoasri Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) mengadakan kegiatan sosialisasi penegakan hukum terhadap pelaku perempesan tanaman pokok yang berada di areal rehabilitasi. Sebelumnya, Senin 27 Mei 2019 bertempat di kantor Resort Wonoasri diadakan pertemuan kelompok tani LMDHK “Wono Mulyo”. Selain untuk sosialisasi, tujuan pertemuan ini juga untuk mempererat tali silaturahmi dan persiapan menghadapi musim kemarau. Dihadiri oleh Kepala SPTN Wilayah II Ambulu, Kepala Desa Wonoasri, Ketua BPD Desa Wonoasri, Kapolpos, Bhabinkamtibmas Desa Wonoasri, Ketua LMDHK "Wono Mulyo", para ketua kelompok petani Rehabilitasi, staf dan MMP RPTN Wonoasri. Dalam sambutannya, Kepala SPTN Wilayah II Ambulu, Ir. Agust Dwiandono mengajak para petani rehab bersama petugas TN MerBeti berperan aktif dalam mengamankan lahan miliknya, dan tidak menggantungkan sepenuhnya kepada petugas. Yang dihadapi petani saat ini, adanya perempesan daun nangka, sehingga pohon tak menghasilkan buah. Daun nangka biasanya digunakan sebagai pakan tenak. Untuk meminimalisir perempesan ini, TN MerBeti bersinergi dengan Pemerintah Desa Wonoasri dan perangkatnya untuk mensosialisasikan penegakan hukum terhadap pelaku perempesan tanaman pokok melalui pemasangan banner. Kepala Desa Wonoasri dan perangkatnya sangat mendukung program TN MerBeti. Kepala SPTN Wilayah II Ambulu juga menghimbau agar petani menyisihkan sebagian hasil panennya untuk dibelikan bibit tanaman hutan dan tanaman MPTS jenis unggul sehingga hasilnya bisa memuaskan. Puncak sosialiasi penegakan hukum terhadap pelaku perempesan tanaman pokok yang berada di areal rehabilitasi berupa pemasangan 10 banner di semua akses masuk menuju lahan rehabilitasi. Pemasangan ini diikuti oleh Kepala Resort Wonoasri, Kepala SPTN Wilayah II Ambulu, Pemdes Wonoasri dan perangkatnya, Bhabinkamtibmas dan Babinsa Desa Wonoasri. Adapun tujuan pemasangan banner tersebut adalah untuk meminimalisir pencurian rempesan daun nangka yang ada di kawasan rehabilitasi TN MerBeti, sehingga diharapkan tanaman pokok petani utamanya pohon nangka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik serta menghasilkan buah sesuai dengan yang diharapkan. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri (MerBeti)
Baca Berita

Komodo di Luar Taman Nasional Komodo Terancam

Jakarta, 28 Mei 2019. Komodo itu seperti panda di China. Merupakan satwa langka dunia dan hanya ada di Indonesia. Demikian dikatakan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidupa dan Kehutanan (KLHK), Senin (27/05/2019) sore di ruang Media Center, Gedung Manggala Wanabakti, KLHK, Jakarta. Namun, berbeda dengan panda. Mendengar kata Komodo, yang akan terlintas di benak kita adalah satwa besar yang menakjubkan sekaligus mengerikan dan menakutkan. Predikat yang membuat namanya terkenal seantero dunia. Tetapi, reputasi itu pulalah yang membuatnya menjadi salah satu satwa langka dilindungi yang keberadaannya makin terancam dan kerap menjadi buruan orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Selain juga termasuk hewan purba yang masih bertahan hidup di jaman milenial ini. “Sudah dapat dipastikan dari hasil uji DNA yang dilakukan tenaga ahli LIPI, enam ekor anak Komodo yang akan dijual ke luar negeri secara illegal dan berhasil digagalkan beberapa waktu lalu tersebut, bukan dari Taman Nasional Komodo (TNK)”, tegas Wiratno. Jadi, menurut Wiratno, semuanya betina. Asalnya dari daratan Flores. Para pelakunya kini sedang dalam proses hukum. Hal ini diamini Evi Arinda, peneliti bidang zoologi dan reptil dari LIPI yang turut memberikan keterangan. Secara alami Komodo hidup menyebar di kawasan TN Komodo dan daratan Flores. Sebaran jumlah Komodo di lima pulau besar berdasarkan hasil monitoring tahun 2018 di TN Komodo terdapat 2.987 ekor Komodo: Pulau Komodo (1.727), Pulau Rinca (1.049), Pulau Gilimotang (58), Pulau Nusa Kode (57) dan Pulau Padar (6). Untuk di luar TN Komodo, dari hasil pengamatan kamera trap Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur (NTT) diketahui: 4-14 individu di Cagar Alam (CA) Wae Wuul (2013-2018), 2-6 individu di Pulau Ontoleo Taman Wisata Alam (TWA) Riung 17 Pulau (2016-2018), dan 11 indvidu di Pulau Longos (2016). “Di lapangan, kita menjaganya agar tidak lagi terjadi perburuan Komodo pada wilayah hutan lindung. Jadi, ekosistem Komodo di luar TN Komodo harus dijaga bersama. Pemerintah pusat, propvinsi, kabupaten, Balai Besar KSDA NTT, hingga masyarakat. Kalau perlu wilayah di luar taman nasional tersebut kita akan jadikan wilayah esensial yaitu wilayah diluar kawasan konservasi yang nilai biodiversitynya tinggi ,” ujar Wiratno. Menurut Wiratno, enam individu anak Komodo tersebut akan secepatnya dilepasliarkan kembali. Rencananya di TWA Riung 17 Pulau. “Ini (Komodo) barang bukti di kejaksaan. Kita akan minta untuk segera bisa dilepas-liarkan kembali. Kalau boleh sebelum putusan sudah bisa,” lanjut Wiratno. Dalam kesempatan tersebut, Wiratno juga memastikan bahwa TN Komodo tidak akan ditutup. Menurutnya justru satwa (Komodo) akan aman di dalam sana. Sedangkan wilayah di luar kawasan, penjagaannya memang harus diperketat. “Nanti akan kita imbangi dengan pembenahan TN Komodo. Termasuk dari sisi pariwisatanya. Akan ada kajian pengelolaan, harga tiket pengunjung dan bagaimana pengelolaan TN Komodo dapat memberikan kontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan. Sangat ironis, jika tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat.” tegas Wiratno. Menurut Wiratno lagi, setelah lebaran akan ada tim para pakar, praktsi dari LSM dan beberapa unsur Kementerian LHK yang akan turun ke lapangan untuk melakukan kajian tentang bagaimana meningkatkan efektifitas pengelolaan TN Komodo, melalui pendekatan-pendekatan pengembangan wisata minat khusus. Sumber : Direktorat Jenderal KSDAE dan Tim Jelajah 54 TN Indonesia
Baca Berita

Kepala Balai TN Tesso Nilo Sidak Posko Dalkarhut dan Monitoring Menjelang Libur Lebaran 2019

Pangkalan Kerinci, Mei 2019 - Walaupun pada hari libur tgl 30 Mei 2019, Kepala Balai TN.Tesso Nilo melakukan sidak kesiapan Posko Dalkarhut TN.Tesso Nilo dan monitoring piket menjelang libur panjang. Kegiatan lainnya, Kepala Balai juga memberi arahan, pembinaan, dan motivasi kepada Brigade Dalkarhut BTN.Tesso Nilo sehingga tetap solid dan siaga menghadapi musim kemarau. Dalam kunjungan tersebut Kepala Balai TN.Tesso Nilo juga melihat persiapan Program Pemulihan Ekosistem dengan kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan 2019 seluas 1000 ha di Resort Air Hitam Bagan Limau. Pada saat ini telah disiapkan bibit tanaman antara lain Pulai, Durian, jengkol, cempedak, dan lainnya. Dalam kesempatan tersebut Kepala Balai TN.Tesso Nilo juga berkoordinasi dan berdiskusi dengan Kepala Desa Air Hitam Kegiatan lainnya yang dilaksankaan oleh Kepala Balai adalah juga tetap memantau piket pengamanan gangguan kawasan di kantor Balai TN.Tesso Nilo pada hari Jumat tgl 31 Mei 2019. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Rapat Evaluasi Mitra Kerja Balai TN Bukit Tiga Puluh Digelar

Rengat, 29 Mei 2019. Kawasan konservasi tidak dapat dikelola sendiri, Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) dengan segala potensi dan ancamannya membutuhkan mitra kerja untuk mengelola kawasan. Adapun mitra kerja TNBT yang berada dibawah naungan Perjanjian Kerja Sama (PKS) meliputi Yayasan Penyelamatan dan Konservasi Harimau Sumatera (PKHS), Frankfurt Zoological Society (FZS), PT. Lestari Asri Jaya (LAJ) dan Konsorsium Batabuh Tigapuluh. Hanya saja masih terdapat permasalahan dalam tahapan pelaksanaan kegiatan kemitraan. Maka dari itu, kedua pihak harus duduk bersama untuk mencari perumusan masalah dan menemukan solusinya bersama. Tepat pada Selasa 28 Mei 2019, semua mitra kerja TNBT duduk bersama melakukan rapat evaluasi. Pejabat Eselon IV Lingkup Balai TNBT, pejabat Fungsional Polhut, Penyuluh dan PEH lingkup TNBT , bersama dengan berbagai pihak terkait antara lain KPH Indragiri Hulu dan Dinas Lingkungan Hidup Kab. Indragiri Hulu turut diundang. Ruangan aula Balai TNBT terisi penuh dengan para undangan. Kepala Balai TNBT Darmanto memberikan pengantar mengenai fungsi mitra kerja dan tujuan pelaksanaan kegiatan. Rapat Evaluasi Mitra Kerja dibuka oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Indragiri Hulu Ir. Slamet, MM. Beliau berharap agar melalui rapat evaluasi ini dapat menyamakan persepsi untuk mendukung kelestarian kawasan TNBT. Kepala Sub Bagian Tata Usaha Azmardi menyampaikan gambaran umum mengenai Rencana Pengelolaan Jangka Panjang TNBT kaitannya dengan kegiatan lingkup Balai TNBT yang telah tercapai. Azmardi menyampaikan peluang mitra untuk terlibat dalam pengelolaan kawasan TNBT cukup besar dan diharapkan dapat menginisiasi kegiatan pendukung sehingga tercipta sinergitas. Selanjutnya, semua mitra kerja diberi kesempatan untuk menyampaikan masing-masing capaian kegiatan dalam bentuk diskusi panel. Masing-masing mitra berbicara dan menyampaikan hasil kegiatannya dan permasalahan yang dihadapi. Diskusi panel dimoderatori oleh Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Belilas Lukman Hery Prasetyo. Berdasarkan diskusi bersama akhirnya tersusun rumusan rapat, sebagai bentuk kesepakatan bersama terhadap tindak lanjut kerjasama kedepannya. Adapun Rumusan Rapat Evaluasi Mitra Kerja Balai TNBT adalah sebagai berikut : 1) Mitra Kerja Balai TNBT memandang penting kegiatan Rapat Evaluasi Mitra Kerja TNBT 2) Kegiatan Balai TNBT yang didukung oleh mitra kerja disesuaikan dengan tujuan yang telah ditetapkan masing-masing mitra kerja 3) Perlunya sinergisitas dalam konsep pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan 4) Perlunya sinergisitas dalam konservasi tumbuhan dan satwa liar dan ekosistemnya 5) Perlunya jaringan komunikasi di tingkat Balai sebagai penghubung bagi mitra kerja yang ditetapkan oleh Kepala Balai. Hasil Rapat Evaluasi Mitra Kerja Balai TNBT memandang penting kegiatan evaluasi dan menyepakati perlunya jejaring komunikasi antar mitra guna meningkatkan peran mitra dalam mendukung pengelolaan kawasan TNBT. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh
Baca Berita

Balai TN Merbeti Bangun Kesadaran Konservasi Generasi Milineal

Jember, 29 Mei 2019. Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) mengadakan sarasehan dalam rangka memperingati hari Keanekaragaman Hayati dengan tema “Membangun generasi milineal, kita bangun kesadaran konservasi”. Bertempat di aula kantor TN MerBeti, acara ini dihadiri oleh 30 peserta yang berasal dari Mahasiswa Universitas Jember, FK3i, SMAN 2 Jember, SMAN 1 Arjasa, GENPI Jember, serta tamu spesial dari praktisi batik, Yuniar dan duta batik Jawa Timur, Nektara. Dalam sarasehan yang dibuka oleh Kepala Balai TN MerBeti, Maman Surahman S.Hut., M.Si. ini, peserta diajak mengenal lebih dekat tentang TN MerBeti. "TN MerBeti merupakan salah satu kawasan konservasi yang menjaga keutuhan ekosistem dan keanekaragaman hayatinya. Sejak dahulu kehidupan manusia tidak bisa dipisahkan dari alam. Pemanfaatan alam bisa dilakukan dengan eksploitasi yang dapat merusak atau dengan bijaksana tanpa merusaknya. Jika alam rusak akan mengganggu keseimbangan ekosistem dan merugikan manusia. Oleh karena itu, perlu suatu cara untuk memanfaatkan alam dengan bijaksana". Jelas Kabalai TN MerBeti. Sesuai dengan tema yang diangkat, TN MerBeti mengenalkan cara pemanfaatan alam secara bijaksana melalui ecoprint, yaitu sebuah teknik memberi pola pada suatu bahan (kain, kertas, dll) dengan menggunakan bahan alami. Kali ini, peserta diajak mempraktekan secara langsung teknik ecoprint melalui selembar kertas dengan bahan dari bunga warna-warni. Caranya dengan mengambil helaian kelopak bunga untuk disusun sesuai keinginan di atas kertas putih yang dilipat menjadi dua. Setelah itu kertas ditekan menggunakan pemukul secara perlahan hingga warna dan bentuk kelopak menempel pada kertas. Peserta mengikuti acara ini dengan antusias, dimana hasil karya yang telah dibuat dapat dibawa pulang. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, bisa melahirkan generasi milenial yang mampu memanfaatkan alam secara bijaksana. “Kita harus bangga dengan keanekaragaman hayati kita. Memajukan budaya Indonesia melalui ecoprint diperlukan kreatifitas tinggi dan ketekunan. Mari bersama-sama kita kembangkan. Nantinya akan dibuat persemaian pewarna alam untuk mendukung perkembangan pewarnaan alami dari TN. MerBeti” Jelas Kabalai TN MerBeti. Sumber: Balai TN Merbeti
Baca Berita

Apa yang Berubah dari Rencana Pengelolaan Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango?

Rabu, 29 Mei 2019. Sesuai amanah Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2011 sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.35/MENLHK/SETJEN/KUM.1/3/2016 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pengelolaan pada Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam, Balai Besar TNGGP telah menyusun Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) Periode 2019 – 2028 berdasarkan SK Direktur Jenderal KSDAE Nomor: SK. 179/KSDAE/SET/KSA.1/5/2019 tanggal 9 Mei 2019. "Setiap taman nasional pada dasarnya harus dikelola berdasarkan rencana pengelolaan. Rencana pengelolaan sebelumnya dibuat dalam jangka waktu 25 tahun, yakni tahun 1995 - 2020. Namun berdasarkan peraturan di atas, pergeseran paradigma konservasi keanekaragaman hayati, dan adanya perkembangangan situasi riil di lapangan terutama terkait perluasan serta pemanfaatan kawasan sehingga Rencana Pengelolaan yang sudah dibuat sebelumnya perlu penyesuaian," Kepala Balai Besar TNGGP, Wahju Rudianto menjelaskan. Mulai tahun 2014, luasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango berubah menjadi 24.270,80 hektar yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK. 3683/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 8 Mei 2014 tentang Penetapan Kawasan Hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Kabupaten Cianjur, Sukabumi, dan Bogor, Provinsi Jawa Barat. Sehingga dalam rencana pengelolaan perlu ada penyesuaian luasan yang semula 15.196 hektar menjadi 24.270,80 hektar. Rencana pengelolaan ini disusun berdasarkan zonasi yang telah disahkan melalui Keputusan Direktur Jenderal KSDAE Nomor: SK.356/KSDAE/SET/KSA.0/9/2016 tanggal 30 September 2016. Dan dengan melibatkan para pihak melalui konsultasi publik secara partisipatif, transparan, dan bertanggungjawab di Cibodas 27 Desember 2018, yang dihadiri dan ditandatangani oleh pihak pemerintah daerah, lembaga pendidikan, LSM, pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan adat dari ketiga wilayah Kabupaten Cianjur, Sukabumi, dan Bogor. Selain itu, RPJP ini telah mendapat rekomendasi Bappeda Provinsi Jawa Barat melalui surat Nomor: 800/384/Fisik tanggal 1 Februari 2019 perihal Rekomendasi terhadap RPTN Gunung Gede Pangrango. Sehingga kita harapkan rencana pengelolaan taman nasional ini dapat mengakomodir kebutuhan atau dinamika perkembangan yang ada di sekitar taman nasional. Pengelolaan taman nasional tersebut, pihak pengelola tidak bisa melepaskan diri dari kehidupan masyarakat di sekitar taman nasional. Sehingga dibutuhkan masukan dari para pihak terkait. Prinsip dasar review RPJP tersebut adanya pergeseran paradigma konservasi keanekaragaman hayati diakomodir dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2011 sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2015, yang memberikan peluang atas peran yang lebih besar bagi masyarakat maupun pemerintah daerah dalam pengelolaan konservasi keanekaragaman hayati dan adanya perubahan kondisi di lapangan. Sehingga visi pengelolaan kawasan pun berubah menjadi “TNGGP sebagai Pusat Konservasi Hutan Hujan Tropis Pegunungan di Pulau Jawa yang Bermanfaat untuk Mendukung Pembangunan Wilayah dan Masyarakat”. Atas dasar ini, Rencana Pengelolaan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) Tahun 2015 - 2020 perlu disusun dalam upaya mengakomodir berbagai program dan kegiatan sebagai aktualisasi dari perubahan paradigma baru tersebut. Sebagai penjabaran visi tersebut, ditetapkan misi pengelolaan TNGGP, yaitu: a. Mempertahankan tipe ekosistem hutan hujan tropis pegunungan sebagai sistem penyangga kehidupan yang menunjang pengembangan pendidikan dan penelitian; b. Mempertahankan populasi owa jawa, macan tutul, dan elang jawa; c. Mewujudkan fungsi pemanfaatan secara lestari sumber daya alam ekosistem hutan hujan tropis pegunungan dalam kerangka cagar biosfer Cibodas untuk mendukung pembangunan wilayah dan kehidupan masyarakat. “Perjalanan yang cukup lama proses review Rencana Pengelolaan Taman Nasional, dengan rasa syukur resmi TNGGP memiliki Rencana Pengelolaan yang disahkan melalui SK Direktur Jenderal KSDAE pada tanggal 6 Mei 2019. Mari bersama-sama kita kelola TNGGP untuk mewujudkan Visi dan Misi TNGGP dalam rangka pemanfaatan kawasan taman nasional untuk kelestarian sumber daya alam dan ekosistemnya, kesejahteraan masyarakat, dan mendukung pembangunan wilayah”, ungkap Wahju Rudianto. Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP) TNGGP ini pada dasarnya mempertajam dan mempertegas arah pengelolaan TNGGP. Program dan kegiatan di dalam RPJP digunakan sebagai alat bantu dalam menentukan prioritas dan menjamin keberlanjutan program dan sasaran jangka panjang yang telah disusun. Rencana pengelolaan ini agar dapat diketahui oleh publik dalam rangka pengelolaan taman nasional lebih baik lagi. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Mereka Harus Mudik

Pontianak - Arus mudik lebaran 2019 sudah terjadi beberapa hari belakangan. BKSDA Kalbar turut memfasilitasi mudiknya burung berkicau ke habitatnya. Ratusan ekor burung hasil tangkapan tim BKSDA di Pos Pelabuhan Laut Dwikora Pontianak berhasil lepasliarkan. Inilah mudiknya Burung Berkicau. Burung-burung ini sejatinya akan di bawa menggunakan kapal menuju ke jawa besama penumpang yang akan mudik. Terdiri dari Jenis Kacer ( Copyschus saularis ) berjumlah 102 ekor, Murai Batu ( Copyschus malabaricus ) 82 ekor, dan Cililin ( Platychopus garecularus ) 6 ekor, pada Kamis 23 Mei 2019 oleh Tim wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA KALBAR. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Penerapan Dewey Decimal Classification di Perpus Balai TN Kelimutu

Ende, 28 Mei 2019. Dalam mengoptimalkan manfaat taman nasional sebagai penunjang pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, Balai Taman Nasional Kelimutu menyediakan fasilitas sarana perpustakaan di 3 (tiga) lokasi, yaitu: 1. Perpustakaan di Kantor Balai TN Kelimutu di jalan El Tari, Ende, yang memfasilitasi kebutuhan bagi staf, pelajar, mahahasiswa maupun mitra pemda atau LSM dalam penelitian atau mencari data/informasi. 2. Perpustakaan di Kantor Seksi PTN I Moni yang berada di areal wisata Kelimutu umumnya untuk memfasilitasi para pelajar atau mahasiswa yang sedang melakukan praktek atau magang di lapangan. 3. Perpustakaan/Pondok baca di Resort Wologai, Seksi PTN 2 yang berada di Sekretariat SPKP Wologai Tengah umumnya dimanfaatkan bagi pelajar atau anak-anak utk belajar dan membaca. Untuk memudahkan pembaca dalam mencari katalog buku yang berada di perpustakaan, Balai Taman Nasional Kelimutu menerapkan sistem Dewey Decimal Classifacation (DDC) yang sudah dimodifikasi khususnya perpustakaan yang berada di Kantor Balai. Sistem DDC ini berfungsi untuk mengelompokkan/mengklasifikasikan buku berdasarkan subjek kecuali karya umum dan fiksi sehingga dapat mempermudah pengunjung dalam mencari judul buku yang dikehendaki. Semoga perpustakaan-perpustakaan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Sabeni Beranjak Terbang

Sukabumi - 29 Mei 2019, Sabeni, anakan Elang Jawa ditemukan di areal Gunung Salak. Keberadaannya ditemukan oleh Yovi, anggota kader konservasi Halimun Salak, saat baru beberapa hari menetas. Nama ini diberikan karna Sabeni terlahir pada bulan Sya'ban. Sabeni kecil yang pemalu, kini sudah berumur dua bulan. Gagah mempesona saat belajar mengepakkan sayapnya. Esok atau lusa, ia mewarisi tahta langit mengarungi angkasa raya. Di Areal Gunung Salak ditemukan setidaknya 8 sarang aktif Elang Jawa dalam rentang waktu tiga tahun terakhir. Lima individu baru berhasil menetas dan tumbuh dengan baik pada masa ini. Ini menjadi salah satu bukti bahwa Halimun Salak merupakan salah satu habitat terbaik Elang Jawa yang masih tersisa. Bantu kami menjaga rumah mereka, guys. Penulis : Wardi Septiana PEH Muda Balai TN Gunung Halimun Salak

Menampilkan 5.537–5.552 dari 11.140 publikasi