Minggu, 26 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Penyegaran Polhut Balai TN Wakatobi

Baubau, 13 Juni 2019. Dalam rangka meningkatkan kualitas sumberdaya manusia Polisi Kehutanan yang profesional dan mampu bersaing, Balai Taman Nasional Wakatobi mengadakan “Penyegaran Polisi Kehutanan” yang dilaksanakan pada tanggal 12 – 13 Juni 2019 bertempat di Hotel Galaxy Inn Baubau. Kegiatan Penyegaran Polisi Kehutanan diikuti seluruh pejabat fungsional polisi kehutanan sebanyak 27 orang, yang berasal dari Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Wangi-Wangi, SPTN Wilayah II Kaledupa dan SPTN Wilayah III Tomia-Binongko. Penyegaran ini guna mengembangkan sikap, kepribadian dan budaya kerja polisi kehutanan sehingga dapat menunjang keberhasilan pelaksanaan tugas yang berkaitan dengan tupoksi dalam pengelolaan kawasan. Kegiatan penyegaran POLHUT ini dibuka secara resmi oleh Ir. Abubakar Assagaf, M.Si selaku Kepala Bagian Perencanaan Kepegawaian Biro Kepegawaian KLHK. Dalam kegiatan yang dilaksanakan selama 2 (dua) hari tersebut disampaikan materi-materi terkait tupoksi polhut dengan narasumber dari Kasat Reskrim Polres Wakatobi AKP Aslim, S.H., Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi Darman, S.Hut., M.Sc dan Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi KLHK Ir. Abdul Hakim, M.For.St sekaligus menutup secara resmi kegiatan penyegaran POLHUT lingkup Balai Taman Nasional Wakatobi. Pesan bijak yang disampaikan pada acara penutupan yaitu untuk selalu bersyukur dalam kondisi apapun, ketika kembali ke lapangan sesuai dengan pesan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan bahwa kita sebagai ASN harus berperan aktif menjaga hubungan baik dengan masyarakat, tanpa masyarakat kita tidak akan mampu mengelola hutan dengan baik. Perlu fleksibilitas dalam pengambilan kebijakan dilapangan sesuai dengan asas kepatutan dan asas kelayakan demi kesejahteraan masyarakat. POLHUT sebagai ujung tombak terus semangat untuk pengabdian kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hidup POLHUT, Hidup Hutan Kita dan Selalu Jaya…..!!! Sumber : Hastuty, S.Hut - Balai Taman Nasional Wakatobi
Baca Berita

Balai KSDA NTB dalam Peringatan Coral Triangle Day di Pantai Mapak

Rabu, 12 Juni 2019. Balai KSDA NTB turut hadir dalam Kegiatan Peringatan Coral Triangle Day yang jatuh pada 9 Juni lalu yang juga bertepatan dengan Perayaan Hari Lebaran Topat di Pantai Mapak, Lombok Barat. Acara digagas oleh Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar Wilayah Kerja NTB juga mendapat dukungan dari PT. PLN (Persero), TNI Angkatan Laut, Balai KSAD NTB, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTB, Badan Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM), Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Mataram, Wildlife Conservation Society (WCS), World Wide Fund for Nature (WWF) dan Para Mahasiswa Universitas Mataram Jurusan Konservasi Sumber Daya Perikanan. Pantai Mapak, Kelurahan Jempong Baru, Mataram ini dipilih sebagai lokasi acara karena merupakan pantai yang aktif didarati penyu untuk bertelur. Peringatan mendukung tema "Corals of Change: Paving Way for Gender Equality in Coral Triangle" (Karang Perubahan: Kesetaraan Gender di Kawasan Segitiga Karang) yang sekaligus menyambut Hari Penyu Dunia ( World Sea Turle Day) 16 Juni 2019 mendatang. Beberapa Agenda Kegiatan yakni bersih pantai dari sampah plastik, sosialisasi biota laut, lomba mewarnai dan menggambar untuk anak sekolah serta pelepasan tukik dan tagging dua ekor Indukan Penyu. Balai KSDA NTB pun menggunakan peringatan kali ini untuk sosialisasi jenis-jenis Penyu yang dilindungi serta pentingnya menjaga kelestarian biota laut yang juga menjadi sumber penghidupan masyarakat disekitar Pantai Mapak. Selain itu, Balai KSDA NTB juga melakukan tagging terhadap dua ekor indukan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) yang pada malam sebelumnya didapati bertelur dan dipindahkan sementara ke Sarang Semi-Alami milik Pelestari Penyu di Pantai Mapak. Proses Tagging dua ekor indukan penyu (No. Tagging 0000055NTB dan 0000056NTB) dilakukan oleh Bapak Ir. Ari Subiantoro, M.P. selaku Kepala Balai KSDA NTB dan Bapak Musliman, S.H. selaku Kapten Laut (P) KAURBINPUAN POTMAR LANAL TNI Angkatan Laut. Usai tagging, kedua indukan penyu langsung dilepasliarkan kembali ke laut yang disaksikan beramai-ramai oleh para pengunjung pantai. Tak hanya itu, Kelompok Pelestari Penyu binaan Balai KSDA NTB "Kerabat Penyu Lombok" juga turut menghadirkan 30 ekor tukik untuk dilepasliarkan oleh peserta kegiatan dan juga bersama masyarakat. Acara ditutup dengan aksi bersih pantai dari sampah plastik bersama masyarakat serta Mahasiswa Universitas Mataram. Sebagai Informasi, Coral Tirangle Day adalah Hari Peringatan Kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Tirangle) yang membentang seluas enam juta kilometer persegi di enam negara yakni Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua Nugini, Kepulauan Solomon dan Indonesia. Kawasan ini menjadi sumber utama penghidupan dan pangan bagi masyarakat di sekitarnya dan memiliki peran penting bagi ekosistem di bumi. Perayaan ini sejatinya jatuh pada tanggal 09 Juni setiap tahunnya yang sekaligus menjadi ajang kampanye untuk penyadartahuan publik dan terlibat aktif dalam upaya perlindungan kawasan Segitiga Terumbu Karang yang memiliki keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Sumber: Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Beruang Madu Taman Nasional Tesso Nilo

Beruang madu (Helarctos malayanus) mempunyai panjang tubuh sekitar 1,4 meter dengan tinggi punggungnya sekitar 70 cm. Beruang madu dewasa mempunyai berat tubuh antara 50-65 kg. Dengan ukuran tubuh ini, menjadikan Beruang madu sebagai beruang terkecil jika dibandingkan dengan 8 jenis beruang yang ada di dunia. Kawasan TN. Tesso Nilo merupakan salah satu kawasan konservasi yang merupakan habitat beruang madu. Pemasangan kamera trap untuk monitoring dan pemantauan satwa di kawasan TN. Tesso Nilo menunjukkan bahwa beruang madu tersebar hampir diseluruh kawasan TN. Tesso Nilo. Selengkapnya silahkan klik link sbb : Seri satwa Taman Nasional Tesso Nilo Beruang Madu – Jenis Beruang Terkecil di Dunia Sumber : Andi Kusumo, S.Si, M.Si - PEH Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Rescue Orangutan Sumatera Terisolir

Medan, 28 Mei 2019. P Tim gabungan dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan HOCRU Orangutan Information Center (OIC) telah melakukan rescue terhadap 1 individu Orangutan Sumatera yang terisolir di perladangan karet milik masyarakat di Dusun 8 Desa Sei Litur Tasik Kecamatan Sawit Seberang Kabupaten Langkat pada hari Sabtu 25 Mei 2019 silam. Orangutan Sumatera (Pongo abelii) terisolir di perladangan yang dapat membahayakan keselamatan Orangutan serta kekhawatiran menimbulkan kerugian dan kekhawatiran bagi masyarakat sekitar perladangan. Hasil observasi diduga ada 2 individu Orangutan Sumatera yang terisolir di areal perladangan tersebut. Rescue terhadap Orangutan dilakukan pada pukul 13.30 Wib dengan cara melakukan pembiusan dengan senjata bius. Selanjutnya, tenaga medis dari OIC melakukan pemeriksaan kesehatan Orangutan Sumatera dan dinyatakan sehat serta tidak ditemukan adanya luka-luka atau malfungsi lainnya di bagian tubuh. Perilakunya juga masih liar seperti orangutan pada umumnya sehingga masih memungkinkan untuk translokasi kehabitat alaminya. Tim berkoordinasi dengan Kepala Seksi PTN 5 Besitang, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), lokasi translokasi direkomendasikan di Hutan Restorasi Resort Cinta Raja, TN. Gunung Leuser. Selanjutnya tim menuju lokasi membawa Orangutan dengan kandang transport, dan pada pukul 18.00 Orangutan langsung dilepasliarkan. Di perladangan karet masyarakat tempat terisolirnya Orangutan sampai saat ini masih dilakukan monitoring untuk mengamankan kemungkinan terdapatnya individu Orangutan lainnya di lokasi tersebut. Sumber : Herbert Aritonang - Balai Besar KSDA Sumatera Utara Tim di lokasi pelepasliaran Orangutan Orangutan Sumatera dilepasliarkan dibawa menggunakan Kandang transpor Orangutan
Baca Berita

Pendampingan Tim LIPI Pantau Terumbu Karang di TN Taka Bonerate

Pulau Tinabo-Taman Nasional Taka Bonerate, 10 Juni 2019. Sebelum menuju ke kawasan, tim LIPI diterima langsung oleh Kepala Balai Faat Rudhianto di kantor Balai Taman Nasional Taka Bonerate dan menyelesaikan administrasi simaksi. Tim LIPI rencana awal akan tiba di Pulau Tinabo tanggal 23 Mei namun terkendala cuaca yang buruk tertunda sehari 24 Mei 2019. "Kegiatan ini bertujuan sebagai Baseline monitoring Kesehatan Terumbu Karang atau Reed Health Monitoring (RHM) khusus Taman Nasional Taka Bonerate" jelas Suyarso ketua tim RHM Pusat Penelitian Oseonalogi Lembaga Imu Penelitian Indonesian. Suyarso menambahkan bahwa kegiatan monitoring ini akan dilaksanakan setiap tahunnya. Setiba di Pulau Tinabo, tim LIPI langsung membagi 3 kelompok kecil, dilanjutkan pembagian kelompok menjadi 3 terdiri dari Tim karang, lamun/teripang dan pemetaan/ GIS. Setiap tim didampingi dari petugas dan masyarakat dari Taman Nasional Taka Bonerate, Yusuf Ronald (PEH) mendampingi tim karang, Tim Lamun/teripang didampingi oleh Andi Irham (Petugas Lapangan) kemudian tim pemetaan/GIS (Geographic Information System) didampingi oleh Firdaus (Masyarakat Lokal). Tanggal 25 Mei tim khusus LIPI ini masing-masing berangkat ke lokasi yang ditentukan. Tim karang ke Bungin Laloh, Taka Subu dan Taka Sirobe. Tim lamun ke pulau Tarupa besar. Tim GIS ke Taka Lamungan serta Taka Gantarang. Tim karang menuju ke Pulau Jinato, Taka Lantigiang dan Taka Tumbor pada tanggal 26 Mei. Tim lamun ke Pulau Jinato. Tim GIS ke Pulau Belang-belang dan Pulau Tarupa kecil. Tanggal 27 Mei Tim karang kemudian bergeser ke taka Lamungan, Taka Gantarang dan Pulau Tinabo besar. Sementara Tim lamun ke Pulau Rajuni Latondu dan Rajjuni kecil. Sedangkan Tim GIS ke Latondu besar, Latondu kecil, Rajuni kecil. Keesokan harinya tanggal 28 Mei, Tim karang ke menuju pulau Belang-belang, Pulau Tarupa kecil dan Latondu kecil. Tim lamun ke Pulau Rajuni kecil dan Rajuni Besar. Tim GIS ke Taka Tumbor. Tanggal 29 Mei, Tim bertolak menuju Pulau Selayar. Di kota Benteng TIM menginput data-data yang diperoleh dari lapangan selama 2 (dua) hari yaitu tanggal 30-31 Mei. Penginputan rampung tepat pada waktu yang telah ditentukan sehingga tanggal 1 Juni Tim bisa kembali ke Jakarta. Sumber Teks : Asri PEH Balai TN Taka Bonerate Sumber Foto : Yusuf Ronald PEH Balai TN Taka Bonerate
Baca Berita

Balai Besar TaNa Bentarum Hadiri Musyawarah Besar Adat Masyarakat Dayak Punan Hulu dan Mahakam Hulu

Nanga Enap, 11 Juni 2019. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTaNa Bentarum) mengikuti Musyawarah Besar Adat Masyarakat Dayak Punan Hulu Dan Mahakam Hulu yang berjudul seminar “Pengakuan dan Perlindungan Hak-Hak Masyarakat Hukum Adat dalam Pembangunan”. Kegiatan dilaksanakan selama 6 hari pada tanggal 10-15 Juni 2019 di Balai Pelatihan Dusun Nanga Enap Jalan Lintas Timur, Jalan Cempaka Baru kecamatan Putussibau Selatan, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Wakil Bupati Kapuas Hulu, Anggota DPRD Kapuas Hulu, Muspida Kabupaten Kapuas Hulu, Balai Besar TNBKDS, Dewan Adat Dayak Kapuas Hulu, Dewan Adat Dayak Mahakam Hulu, Akademisi, turut hadir beserta 250 peserta musyawarah yang berasal dari perwakilan Punan Uheng-Kereho, Punan Hovongan, Buket Kalbar, Buket Soputan serta perwakilan dari masyarakat Dayak Aoheng Kaltim. Musyawarah mendiskusikan persoalan-persoalan Masyarakat Adat Punan serta memberi masukan, saran serta informasi yang cukup kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas Hulu, yang kedua membangun jaringan komunikasi antara Masyarakat Adat Punan, Mahakam Hulu, Dan Pemerintah Daerah. Kegiatan ini dibuka Wakil Bupati Kapuas Hulu yang membuka kegiatan Pehumong Hiuu’ dan penancapan rumah adat Suku Punan. Anton Pamero selaku wakil bupati dan dewan adat Kapuas hulu menyampaikan bahwa masyarakat hukum adat memiliki hak hidup yang sama seperti atas hak pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan penghidupan yang layak. Saat ini keberadaan masyarakat adat yang berada di hulu kapuas belum mendapatkan fasilitas pendidikan dan kesehatan yang maksimal. Tugas semua pihak dalam meningkatkan fasilitas hak dasar masyarakat adat baik itu oleh pemerintah daerah, pemerintah pusat maupun swasta. "Masyarakat hukum adat dalam perkembangan tetap memperhatikan Undang-undang yang berlaku dan aturan-aturan lainnya serta memenuhi hukum formal dan hukum materil" tambah Anton. Dalam kesempatan yang lain, Kasim selaku anggota DPRD Kapuas hulu menyampaikan bahwa Kabupaten Kapuas Hulu sudah memiliki Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2018 tentang Pengakuan Dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Kabupaten Kapuas Hulu. Peraturan daerah ini dapat mengakomodir keberadaan dan kepentingan masyarakat hukum adat di Kapuas Hulu termasuk Masyarakat Suku Dayak punan. Di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun terdapat dua desa yang berada di dalam kawasan, antara lain Desa Bungan Jaya dan Desa Tanjung Lokang. Masyarakat ini merupakan Masyarakat Suku Dayak Punan Hovongan yang menggantungkan kehidupakan ekonomi, sosial, dan budaya terhadap kawasan hutan. Dalam penyampaian Arief Mahmud selaku Kepala Balai Besar TaNa Bentarum mengatakan bahwa saat ini pemerintah berpihak kepada masyarakat dalam pengelolaan kawasan hutan antara lain dengan adanya perhutanan sosial meliputi hutan adat, hutan kemasyarakatan, hutan desa, hutan tanaman rakyat, kemitraan kehutanan. Kemitraan konservasi dapat dilakukan di kawasan Taman Nasional Betung Kerihun. Selain itu, pihak Balai Besar TaNa Bentarum mendorong fasilitasi pihak ketiga dalam pengembangan masyarakat di hulu Kapuas misalnya dari program TFCA, ADB FIP, dan lain lain. Saat ini, sedang dibangun jalan pararel perbatasan ruas Putussibau-Nanga Era-Batas Kalimantan Timur yang melintasi Taman Nasional Betung Kerihun sepanjang ± 50 km merupakan salah satu upaya untuk membuka akses Masyarakat Adat Suku Dayak punan hovongan sehingga memudahkan arus transportasi barang dan jasa bagi Masyarakat Punan Hovongan khususnya Desa Tanjung Lokang. Pembangunan ini merupakan kerjasama strategis yang tidak dapat terelakan antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Paradigma selama ini yang menganggap bahwa Taman Nasional adalah penghambat pembangunan adalah tidak benar. Balai Besar TaNa Bentarum sangat mendukung pembangunan yang dilaksanakan di Kabupaten Kapuas Hulu. Beberapa contoh pembangunan yang dilaksanakan di dalam Taman Nasional diantaranya adalah Pembangunan Jalan Paralel Perbatasan dan Pembangunan Tower Komunikasi di Desa Bungan Jaya, sehingga masyarakat sudah bisa menikmati komunikasi dan akses jalan dalam waktu dekat. Masyarakat Adat Dayak Punan Hovongan yang tinggal di Desa Tanjung Lokang selama ini terisolir dari dunia luar karena akses yang sangat sulit menuju desa tersebut, dengan dibukanya jalan ini maka masyarakat sudah bisa dengan mudah keluar desa maupun menuju desa tersebut. Potensi-potensi yang ada di desa bisa dikembangkan sehingga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat ungkap Arief. Kepala Bidang Teknis Balai Besar TaNa Bentarum Ardi Andono juga menyampaikan bahwa paradigma pengelolaan kawasan konservasi lebih mengedepankan masyarakat sebagai subyek pengelolaan dan penghormatan nilai budaya dan adat. Sistem zonasi Taman Nasional Betung Kerihun mengakomodir keberadaan hukum adat antara lain zona khusus untuk pemukiman, zona religi, budaya, dan sejarah untuk menghormatan nilai budaya dan adat masyarakat adat punan serta zona tradisional untuk sumber penghidupan masyarakat secara tradisional. Di samping itu kedepan untuk pengembangan potensi desa Arief menawarkan Kemitraan Konservasi di desa-desa yang berada di dalam kawasan seperti Desa Bungan Jaya dan Tanjung Lokang sehingga masyakarat bisa memanfaatkan potensi yang ada di zona tradisional secara legal. Bahkan pihak Balai Besar TaNa Bentarum juga menawarkan pembangunan mikrohidro dan sarana air bersih melalui pihak donor di desa-desa tersebut jika bersedia untuk melakukan kemitraan konservasi. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum.
Baca Berita

Usai Libur Lebaran 2019, BKSDA NTB Amankan 1800 Lebih Satwa Tanpa Dokumen

Lombok Barat, 12 Juni 2019. Balai KSDA Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) melalui Petugas POS Pelabuhan Lembar Lombok Barat menindaklanjuti informasi dari masyarakat mengenai adanya pengiriman satwa burung melalui pelabuhan Lembar (10/6). Petugas pun bergerak cepat melakukan penyelidikan dengan mengumpulkan keterangan mengenai kebenaran informasi tersebut. Setelah memeriksa kebenaran informasi, Petugas Pos Pelabuhan Lembar melakukan koordinasi dengan Anggota LANAL Mataram yang juga berjaga di Pelabuhan Lembar. Sehingga pada Pukul 20.15 WITA, BKSDA NTB bekerjasama dengan LANAL Mataram melakukan pengecekan salah satu truk dengan Nopol DK 9490 SI yang baru tiba di Pelabuhan Lembar. Dari hasil pengecekan bersama Tim, benar didapatkan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) yang dibawa menggunakan 5 kotak dan 37 keranjang. Dan Sopir tidak bisa menunjukkan Dokumen Pengangkutan yang sah (SATS-DN) dan TSL pun langsung diamankan. Adapun TSL yang diamankan adalah : 1. Burung Kecial 1050 ekor 2. Burung Kelincer 420 ekor 3. Burung Branjangan 315 ekor 4. Burung Daicu 38 ekor 5. Burung Perkutut 35 ekor TOTAL JUMLAH; 1858 ekor Truk dan satwa telah diamankan di Kantor BKSDA NTB (10/6), dan untuk satwa sitaan dilakukan pelepasliaran Satwa n di Taman Wisata Alam Kerandangan, Senggigi - Lombok Barat pada Hari Selasa 11 Juni 2019 bersama TNI AL dan Balai GAKKUM Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Info dari Call Center Balai KSDA Kalsel, SKW 2 Terima Bayi Buaya Muara

Barito Kuala, 9 Juni 2019 – Seksi Konservasi Wilayah 2 Banjarbaru menerima penyerahan satu 1 ekor satwa liar dilindungi undang-undang yaitu Bayi Buaya Muara (Crocodylus porosus) dari warga yang bernama Adi yang beralamat di Jln. Handil Bakti, Semangat Dalam Komplek Griya Antasari No.13 Blok Rambai Kecamatan Alalak Kabupaten Barito Kuala. Penyerahan satwa ini dilaksanakan melalui Kepala Resort TWA Pulau Bakut Imam Riyanto, S.Hut. Penyerahan satwa anak buaya tersebut bermula dari adanya informasi yang diterima oleh Kepala SKW 2 Banjarbaru M. Ridwan Effendi, S.Hut., M.Si dari Call Center BKSDA Kalsel (0812 4849 4950) bahwa ada warga masyarakat yang akan menyerahkan satwa tersebut dan kemudian ditindaklanjuti oleh Kepala Resort TWA Pulau Bakut dengan mendatangi kediaman warga tersebut. Kepala Balai KSDA Kalsel Dr.Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc menyambut baik atas penyerahan satwa liar yang dilindungi undang-undang tersebut dan menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi yang tinggi terhadap kepedulian Sdr. Adi terhadap upaya pelestarian satwa liar yg dilindungi tersebut. Pada kesempatan ini kepala balai mengajak dan menghimbau kepada semua pihak mulai dari sekarang agar tidak lagi memelihara satwa liar yang dilindungi undang-undang dan membiarkanya hidup di alam bebas untuk keseimbangan ekologis. Satwa anak buaya hasil penyerahan saat ini berada di kandang transit BKSDA Kalsel di Banjarbaru dalam keadaan baik dan sehat untuk selanjutnya segera dilepasliarkan di habitatnya agar dapat berkembang biak secara alami. Kita juga harus menjaga habitat tempat hidup satwa liar demi keberlangsungan jejaring makanan dan genetik aslinya. (jrz) Sumber : Imam Riyanto, S.Hut - Kepala Resort TWA Pulau Bakut Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Kembali Tim Balai Besar KSDA Riau Melakukan Penanggulangan Konflik Gajah dengan Manusia

Indragiri Hulu, 12 Juni 2019. Konflik antara satwa dan manusia tidak henti hentinya terjadi di wilayah kerja Balai Besar KSDA Riau. Kali ini konflik Gajah dengan manusia terjadi di Kec. Peranap, Kab. Indragiri Hulu, Prov. Riau. Balai Besar KSDA Riau bersinergi dengan WWF dan Yayasan TNTN melakukan penggiringan satwa dilindungi yang sudah beberapa lama mendiami dua Kecamatan yaitu Kec. Peranap dan Kec. Kelayang. Seolah enggan beranjak dari tempat tersebut, empat ekor Gajah liar asyik memakan sawit warga yang kebanyakan berumur 2 sampai 5 tahun. Tanggal 11 Juni 2019, Tim telah melakukan rapat dan koordinasi bersama Wakil Bupati Indragiri Hulu, Kecamatan Peranap (4 desa dan 2 kelurahan), Kec. Kelayang, Polsek Peranap, Danramil Peranap, PT. RAPP, PT. RPI, PTPN V, PT. Bintang dan masyarakat yang berdampak. Timpun segera melakukan survey jalur untuk penggiringan dengan gajah latih dan menemukan 3 Gajah liar berada di belakang pasar baru Peranap tengah berendam. Malamnya dilakukan pembahasan kembali teknis penggiringan dengan gajah latih yang direncanakan akan dilakukan keesokan harinya, yaitu tanggal 12 Juni 2019 ke arah kantong gajah Tesso Nilo (15 km dari TKP). Untuk satwa Gajah latih sendiri, Tim Balai Taman Nasional Tesso Nilo dan WWF mengirimkan bantuan 2 Gajah latih dari Lubuk Kembang Bungo. Semoga konflik ini bisa segera teratasi dan tidak menimbulkan korban jiwa baik dari Gajah maupun manusianya sobat konservasi.... Mohon do'anya ya.... Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Pisah Sambut dan Penandatanganan Kerjasama di Momen Halal Bihalal Balai Besar TaNa Bentarum

Putussibau , 11 Juni 2019. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BB TaNa Bentarum) menyelenggarakan acara Pisah Sambut Pejabat Pengawas serta Halal Bi Halal Idul Fitri 1440 H. Acara pisah sambut dilaksanakan berdasarkan SK pelantikan No. SK 346/MENLHK/SETJEN/PEG.2/5/2019 tanggal 15 Mei 2019 dan halal bi halal dilaksanakan bertepatan dengan hari Raya Idul Fitri yang menjadi momen silahturrahmi seluruh pegawai setelah menjalani cuti bersama. Acara pisah sambut dan halal bi halal dihadiri seluruh pegawai BBTNBKDS, FOKKAB dan Ustadz Zainudin. Ir. Arief Mahmud, M.Si selaku Kepala Balai Besar TNBKDS memberikan kesan dan pesan kepada pejabat yang baru pisah sambut “tetaplah menjaga kualitas kerja dan selalu memberikan kontribusi terbaik dimana pun bertugas, salah satunya Dian Banjar Agung selaku KaSubBag Data Evaluasi Pelaporan dan Kehumasan (DEH) ini sangat banyak memberikan perubahan yang positif dalam mendukung organisasi menjadi lebih baik, kami sangat berterima kasih atas kinerjanya selama ini” tuturnya. Setelah acara pisah sambut dilanjutkan dengan ceramah dari Ustadz Zainudin yang menjadi pelengkap halal bi halal dengan harapan dapat meningkatkan iman dan ketaqwaan pegawai setelah menjalani ibadah puasa dan berhari raya. Pada acara perpisahan dan halal bi halal ini bertepatan juga dengan penandatanganan perjanjian kerja sama antara BBTNBKDS dengan Forum Konservasi OrangUtan Kalimantan Barat (FOKKAB) yang dihadiri langsung oleh ketua FOKKAB Bapak Muhammad Syamsuri. Kerjasama ini untuk mewujudkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dalam rangka survei/monitoring satwa Orangutan dan tersedianya data populasi satwa Orangutan di wilayah Sub DAS Embaloh Kawasan TNBK . FOKKAB merupakan Lembaga yang berbentuk forum multi-pihak yang anggotanya terdiri dari Lembaga-lembaga yang bergerak dibidang konservasi, pemberdayaan masyarakat, dan individu yang peduli terhadap konservasi Orangutan dan primata di Provinsi Kalimantan Barat (11/6). Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Polhut TN Matalawa Gagalkan Penyelundupan Burung

Waingapu, 10 Mei 2019. Penyelundupan satwa liar di Pulau Sumba agak sulit ditemukan karena kerapihan para pelaku dalam menyembunyikan selundupannya di kendaraan yang mereka tumpangi. Meskipun begitu, Polisi Kehutanan yang bertugas di Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (Matalawa) serta para pihak terkait tidak pernah lengah terhadap aksi ini. Seperti yang terjadi Senin, 10 Juni 2019, Kepala Resort Kambatawundut, Kristoforus Y. Dj. Assan, SIP, di SPTN II Lewa bersama tim berhasil menggagalkan penyelundupan ratusan ekor burung burung Branjangan (Mirafra javanica) dan burung Decu Belang (Saxicola caprata). Temuan ini berawal dari pemeriksaan acak kendaraan yang dilakukan oleh anggota Polisi Pamong Praja yang bertugas di Pos Jaga Kecamatan Lewa. Pemeriksaan ini kemudian dilaporkan ke Kantor Resort Kambatawundut yang hanya berjarak ± 300 meter dari tempat pemeriksaan. Setelah diidentifikasi, ditemukan ratusan ekor Branjangan dan Decu Belang. Burung-burung tersebut dimasukkan dalam kardus dan hendak dibawa ke Bima melalui pelabuhan Waikelo di Sumba Barat Daya. Pelaku beserta barang bukti kemudian dibawa ke Polsek Lewa untuk diproses hukum. Pelaku dapat ditahan karena hendak memperdagangkan satwa liar tanpa dilengkapi Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa – Dalam Negeri (SATS DN) serta melanggar surat Bupati Sumba Timur tanggal 24 Juli 2017 tentang Larangan Penangkapan dan Penembakan Burung Branjangan Jawa (Mirafra javanica) dan burung-burung lainnya. Sumber: Balai TN Matalawa
Baca Berita

Antisipasi Gangguan Sebelum dan Setelah Lebaran, Balai TN Komodo Patroli Pengamanan Gabungan

Labuan Bajo, 12 Juni 2019. Untuk mengantisipasi adanya gangguan keamanan sebelum dan setelah lebaran kemarin, Balai TN Komodo bersama anggota Subden B Pelopor Satbrimob Polda NTT dan Polres Manggarai Barat telah melakukan patroli pengamanan kawasan baik darat maupun perairan. Dengan menggunakan empat armada speedboat, patroli pengamanan gabungan tersebut dibagi dalam tiga gelombang yakni tanggal 11-20 Mei, 21-31 Mei dan 01-10 Juni 2019. Dalam setiap gelombang, tim patroli dibagi menjadi dua grup yakni grup yang berpatroli di Pulau Rinca, Padar dan sekitarnya serta grup yang berpatroli di Pulau Komodo dan sekitarnya. Sasaran utama patroli perairan adalah daerah-daerah rawan pelanggaran baik di darat maupun perairan. Patroli perairan umumnya dilaksanakan tim pada siang hari, sedangkan pada malam hari tim melakukan patroli darat serta pemantauan aktivitas yang mencurigakan dari beberapa titik pemantauan. Selama patroli darat, tim tidak menemukan adanya pelanggaran dan aktivitas yang mencurigakan. Berbeda dengan patroli daratan, saat patroli perairan masih ditemukan beberapa pelanggaran yang dilakukan oleh masyarakat seperti pengunjung yang melakukan aktivitas camping dan tidak memiliki tiket masuk, nelayan yang tidak melapor ke pos jaga, serta nelayan yang menggunakan kompresor. Terhadap para pengunjung maupun nelayan tersebut telah diberikan pembinaan oleh tim patroli. Walau dalam keadaan cuaca dan gelombang laut yang kurang bersahabat, namun pelaksanaan patroli pengamanan gabungan ini secara umum dapat berjalan dengan baik. Selain kegiatan pengawetan dan pemanfaatan sumberdaya di TN. Komodo, kegiatan perlindungan memang mutlak diperlukan. Keseimbangan ketiga kegiatan tersebut tentu akan mewujudkan kelestarian kawasan TN. Komodo. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo
Baca Berita

Semangat Pancasila Rimbawan Sumatera Utara

Medan, 11 Juni 2019. Meski hujan rintik-rintik membasahi halaman kantor Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara, namun tidak melemahkan mental dan spirit peserta upacara Peringatan Hari Kelahiran Pancasila, pada Sabtu 1 Juni 2019, bahkan sebaliknya tetap semangat dan tertib dalam mengikuti rangkaian upacara. Pagi itu, seluruh rimbawan UPT Kementerian LHK lingkup Propinsi Sumatera Utara serta Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara berbaur mengikuti Upacara Peringatan Hari Kelahiran Pancasila Tahun 2019. Bertindak sebagai pembina upacara adalah Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc.For. Plt. Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Hariyono, dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, selaku Koordinator Wilayah UPT Kementerian LHK lingkup Propinsi Sumatera Utara, menyampaikan, bahwa Pancasila sebagai Dasar Negara, Ideologi Negara dan Pandangan Hidup Bangsa yang digali oleh para “Pendiri Bangsa” merupakan anugerah yang tiada tara dari Tuhan Yang Maha Esa buat bangsa Indonesia. Selanjutnya, Hariyono menjelaskan, sesuai dengan pesan Presiden Jokowi, bahwa memperingati dan merayakan Hari Kelahiran Pancasila setiap tanggal 1 Juni merupakan suatu keniscayaan. Pertama, kita berusaha mengenang dan merefleksikan momentum sejarah dimana pendiri bangsa berhasil menggali nilai-nilai fundamental bangsa Indonesia sebagai Dasar Negara sehingga bangsa nusantara yang beragam dapat bersatu dan menyatu sebagai satu bangsa. Kedua, dengan merayakan Hari Kelahiran Pancasila, kita bangun kebersamaan dan harapan untuk menyongsong kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik. Pancasila sebagai “Leitstars Dinamis”, Bintang Penuntun, mengandung visi dan misi negara yang memberikan orientasi, arah perjuangan dan pembangunan bangsa kedepan. Sebagai energi positif bangsa, Pancasila terus memberikan harapan untuk masa depan, khususnya dalam merealisasi visi dan misi bangsa Indonesia, ujar Hariyono. “Kita Indonesia, Kita Pancasila adalah sosok yang percaya diri, optimis dan penuh harapan dalam menatap masa depan sebagai bangsa yang maju, adil dan makmur. Kita bersatu membangun bangsa untuk merealisasikan tatanan kehidupan masyarakat yang rukun, damai, adil dalam kemakmuran dan makmur dalam keadilan. Kita Indonesia, Kita Pancasila”, pesan Hariyono di akhir sambutannya. (Evan) Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara Sambutan Plt. Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dibacakan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara selaku Pembina Upacara Peserta upacara Peringatan Hari Kelahiran Pancasila, Pejabat Eselon II dan III (gbr. kiri), Pejabat Eselon IV (gbr. kanan) staf UPT Kementerian LHK lingkup Propinsi Sumatera Utara serta Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara
Baca Berita

Libur Lebaran di Kelimutu

Ende, 11 Juni 2019. Aura Danau Kelimutu selalu memikat untuk dikunjungi, terutama pada hari-hari libur panjang. Seperti tahun-tahun sebelumnya, libur Hari Raya Idul Fitri selalu berdampak pada peningkatan kunjungan di Taman Nasional Kelimutu. ± 10-15% pengunjung dari jumlah total per tahun terjadi pada libur Lebaran. Selain merupakan suatu tradisi, hari libur yang panjang dan cuaca yang cukup baik, meningkatkan minat kunjungan ke Kelimutu. Pada tahun ini,jumlah pengunjung pada Liburan Hari Raya Idul Fitri (tgl 1-9 Juni 2019) sebanyak 9.188 orang yang terdiri Wisnu 8.895 orang dan Wisman 293 orang, dengan puncak kunjungan terjadi pada tanggal 6 juni dengan jumlah pengunjung sebanyak 2.775 orang dan pada tanggal 8-9 juni dengan kunjungan lebih dari 1.500 orang per harinya. Pada tahun 2018, jumlah kunjungan pada Hari Raya Idul Fitri (tgl 12-20 Juni 2018) sebanyak 10.534 orang yang terdiri Wisnu 10.127 orang dan Wisman 407 orang. Dibandingkan antara tahun 2019 dan 2018, menunjukkan ada penurunan jumlah kunjungan pada tahun 2019 sebanyak 12,78% atau sebanyak 1.346 orang, dimana penurunan jumlah terdapat pada wisatawan nusantara dan mancanegara dalam periode libur lebaran yang sama. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh kondisi cuaca pada beberapa hari awal liburan yang cenderung mendung bahkan hujan/gerimis dan berkabut tebal, pilihan obyek wisata lainnya serta dampak dari kenaikan harga tiket pesawat. Dalam pelayanan pengunjung dan pengamanan area wisata Danau Kelimutu dan sekitarnya, pihak Balai TN Kelimutu melibatkan TNI-POLRI, Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan Mahasiswa/I PKL di TN Kelimutu. Personil disebar mulai dari gerbang masuk (loket), KM 11, Areal Arboretum, Parkir, Wall Danger Area, Anjungan Garugiwa, Atapolo View Point, Area Lopo Ria, Area tanggal menuju puncak dan View Point Puncak. Keterlibatan MMP dan mahasiswa/I ini belum cukup efektif dalam mendukung kegiatan pelayanan pengunjung dan pengamanan ketertiban dan area wisata, kemungkinan disebabkan oleh keterbatasan kemampuan secara personal dalam membangun komunikasi dengan pengunjung. Pengunjung memadati fasilitas-fasilitas yang ada dalam area wisata Danau Kelimutu, mulai dari areal puncak, shelter besar, jalur sepanjang view point atapolo, banyak juga yang mengakses anjungan garugiwa dan shelter Lopo Ria. Setelah menikmati keindahan Danau Kelimutu, pengunjung beristirahat dan makan bersama, khusus bagi yang rombongan. Selain itu, ada juga aksi peduli sampah yang dimotori oleh Kader Konservasi TN Kelimutu dan Alumni Spendu 1994. Mereka disamping berkunjung juga ikut membersihkan area trekking dari View point atapolo hingga view point puncak. Pak Made, pimpinan salah satu BUMN di Ende, bersama keluarga baru pertama kali berkunjung ke Kelimutu, beliau mengatakan “Alam dan budaya di sekitar Kelimutu merupakan suatu hal unik dengan daya tarik wisata yang tinggi, sehingga perlu dijaga dan ditata dengan baik sehingga dapat lebih berkembang kedepannya”. Frince, anggota Kader Konservasi TN Kelimutu, bersama teman-temannya alumni SMP 2 Ende (Spendu), melakukan aksi nyata peduli sampah. Ia mengatakan selain untuk berwisata, sudah sepatutnya kita harus menjaga kebersihan tempat ini, sehingga Kelimutu tetap lestari dan nyaman untuk dikunjungi. Hingga hari libur terakhir (9/6/2019), kegiatan dan aktifitas kunjungan terpantau berjalan dengan lancar dan normal. Kepada pengunjung tetap dihimbau untuk : Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

Tim Gugus Tugas Evakuasi Seekor Lutung Jawa di Cijapati, Kabupaten Bandung

Bandung – 7 Juni 2019, Call center SKW V Garut menerima informasi tentang adanya seekor lutung jawa (Trachypithecus auratus) yang dipelihara/dijadikan sebagai bagian dari atraksi wisata di daerah Cijapati, Kabupaten Bandung. Segera setelah menerima informasi tersebut, Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW V Garut bergerak menuju lokasi dimaksud. Namun, Tim Gugus Tugas tidak dapat mencapai lokasi tersebut dikarenakan kemacetan yang parah karena bertepatan dengan arus mudik/balik lebaran. Keesokan harinya, Tim Gugus Tugas mencoba kembali mendatangi lokasi dimaksud sambil melakukan koordinasi dengan pihak polisi lalu lintas agar terhindar dari kemacetan (8/6). Namun demikian, mereka tetap menyarankan agar mengikuti lalu lintas yang sudah diberlakukan karena seluruh jalur sudah dipadati arus balik dan diberlakukan one way traffic. Tim tetap melanjutkan upaya evakuasi dengan menggunakkan kendaraan roda 2 untuk memudahkan menembus kerumunan arus lalu lintas. Tim menyadari bahwa ada resiko stres yang tinggi, bahkan kematian pada lutung jawa tersebut apabila evakuasi tetap dipaksakan pada kondisi lalu lintas yang parah seperti pada hari pertama dan kedua ini. Bagaimanapun juga satwa yang dievakuasi harus terhindar dari deru kendaraan, polusi dan cuaca panas yang tinggi sehingga satwa bukan hanya bisa dievakuasi tetapi juga selamat sampai tujuan untuk memudahkan perawatan selanjutnya. Intinya, aspek animal welfare juga harus tetap diperhatikan. Pada hari ketiga, tanggal 9 Juni 2019 barulah Tim Gugus Tugas berhasil mencapai lokasi dimaksud setelah melalui jalan alternatif lain sesuai yang disarankan oleh polisi lalu lintas. Berdasarkan informasi yang didapat, terungkap bahwa lutung tersebut telah dipelihara sejak umur 2 bulan pada bulan Juni 2018 berasal dari pemberian seseorang yang beralamat di Leuwiliang/Curug Cinulang (Kareumbi), Sumedang. Satwa tersebut kemudian dipelihara oleh Ibu Wulan yang beralamat di Kampung Bojong, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Terakhir pada hari Rabu tanggal 5 Juni 2019 satwa lutung tersebut diketahui oleh tim dan sebagaimana dilaporkan melalui call center, berada di Kampung Ciheuleut/Cilutung Desa Mekar Laksana Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung. Pada saat di lokasi dimaksud, Tim Gugus Tugas melakukan upaya persuasif terhadap anggota oknum yang memelihara agar lutung tersebut dapat dievakuasi dan direhabilitasi. Akhirnya, mereka bersedia menyerahkan lutung tersebut dengan syarat bahwa satwa tersebut akan diserahkan sendiri secara langsung ke Kantor Balai Besar KSDA Jabar di Bandung pada keesokan harinya (direncanakan diserahkan pada tanggal 10 Juni 2019) . Pada saat akan dimasukkan ke dalam kendaraan si pemelihara, tanpa diduga lutung tersebut menggigit orang yang memegangnya sehingga terlepas dan lari ke pepohonan tak jauh dari lokasi. Informasi lepasnya lutung tersebut, diterima oleh Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL SKW V Garut dan meresponnya dengan menurunkan kandang jebak beserta kelengkapannya pada hari itu juga. Upaya penangkapan kembali lutung jawa masih dilakukan hingga sore hari dengan bantuan masyarakat. Lutung tersebut sempat tertangkap namun terlepas kembali karena menggigit penangkapnya. Upaya penangkapan juga dilakukan dengan melibatkan 2 (dua) orang dokter hewan dari Taman Satwa Cikembulan. Upaya penangkapan dihentikan setelah malam hari tiba mengingat situasi gelap sehingga tidak memungkinkan dilakukan penangkapan. Pada hari keempat tanggal 10 Juni 2019, Tim tetap berupaya menangkap kembali lutung yang terlepas. Berdasarkan pengamatan Tim dan informasi masyarakat setempat, dari pagi hingga tengah hari lutung belum terlihat karena bersembunyi di antara dedaunan dan ranting pohon bambu pada tempat sama yang telah ditandai pada malam hari sebelumnya. Namun demikian, akhirnya lutung dapat kembali ditemukan keberadaannya pada koordinat 070 03,738’ LS dan 107050.396’ BT. Upaya penangkapan berlangsung hingga malam hari dan akhirnya pada pukul 21.45 WIB lutung tersebut berhasil ditangkap. Selanjutnya, lutung jawa tersebut dievakuasi dan untuk sementara diamankan di Kantor Seksi Konservasi Wilayah V Garut sebelum akhirnya ditentukan lokasi yang tepat untuk proses rehabilitasi satwa dilindungi tersebut. Apresiasi tentunya perlu diberikan kepada seluruh pihak yang telah membantu mulai dari penyampaian informasi sampai pada proses evakuasi dan penyelamatan sehingga lutung jawa tersebut nantinya dapat direhabilitasi. Sumber: Humas BBKSDA Jawa Barat
Baca Berita

Rayakan Idul Fitri 1440 H Ratusan Wisatawan Kunjungi Danau Sentarum

Putussibau, 6 Juni 2019. Taman Nasional Danau Sentarum Kabupaten Kapuas Hulu menjadi tempat wisata favorit warga untuk menghabiskan liburan sekaligus merayakan Idul Fitri 1440 H. Data dari Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTaNaBentarum) sebagai pengelola kawasan menyebutkan sebanyak 456 orang mengunjungi Kawasan Danau Sentarum utamanya ke Bukit Tekenang dan Pulau Sepandan pada tanggal 5 Juni 2019. Hal ini membuktikan bahwa Bukit Tekenang dan Pulau Sepandan Danau Sentarum menjadi andalan wisata bagi Kabupaten Kapuas Hulu. Selain pemandangan alamnya yang bisa terpantau 360 derajat dari atas bukit Tekenang, fasilitas serta akomodasi yang disediakan pengelola kawasan juga menjadi pilihan bagi masyarakat untuk berlibur ke sini. Selain bukit Tekenang, Pulau Sepandan menjadi obyek wisata baru yang mulai dibuka pada awal tahun 2019, beberapa fasilitas seperti jalur tracking, shelter dan selfie spot menjadi idola baru wisatawan yang berkunjung. Dina salah satu petugas mengatakan bahwa pesona alam dari bukit yang bisa melihat Danau Sentarum dengan pesona keindahannya, menjadi tujuan utama berwisata di Danau Sentarum. Gunawan Budi Hartono, Kepala Bidang Wilayah III menyampaikan, “Selain Bukit Tekenang , Kami membuka obyek wisata alam baru di pulau Sepandan, pada tahun 2018 telah kami bangun beberapa fasilitas, pada tahun ini juga akan ditambah beberapa fasilitas baru.” Pulau dengan luas kurang lebih 8 Hektar ini diharapkan mampu menjadi destinasi baru wisata alam di Danau Sentarum. Bukit Tekenang merupakan Bukit berkapur yang terletak di tengah Taman Nasional Danau Sentarum. Dalam pengelolaan Taman Nasional. Akses termudah menuju Tekenang dapat dilakukan melalui Lanjak dan Semitau di Kabupaten Kapuas Hulu. Pengunjung dapat menyewa perahu (speedboat) dari Lanjak atau Semitau dengan harga Rp. 600.000,- dengan kapasitas 4-5 orang untuk sekali jalan. Sedangkan Pulau Sepandan merupakan Pulau yang terletak di dekat Lanjak dan hanya membutuhkan waktu 15 menit menggunakan speedboat untuk mencapainya, dengan biaya sewa speedboat kurang lebih Rp. 150.000,- dengan kapasitas 4-5 orang untuk sekali jalan. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTaNaBentarum)

Menampilkan 5.521–5.536 dari 11.140 publikasi