Senin, 27 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Monev Budidaya Lebah Madu Desa Betung di CA Selat Laut dan Selat Sebuku

Berangas – Kotabaru, 27 Juni 2019 – Komitmen Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) dalam upaya meningkatkan program pemberdayaan masyarakat di sekitar Kawasan Konservasi, ditunjukkan dengan melakukan monitoring terhadap Kelompok Pemberdayaan Masyarakat “Betung Mandiri” di Desa Betung Kecamatan Pulau Laut Timur Kabupaten Kotabaru. Kelompok ini bergerak dalam Budidaya Lebah Madu Apis sp. Dan Trigona sp. Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin Nikmat Hakim Pasaribu, S.P, M.Sc yang di dampingi Kepala Resort Yofi Azhar , mengatakan kegiatan monitoring yang dilakukan tim BKSDA Kalsel ini sangat penting dikarenakan Desa Betung ini telah ditetapkan sebagai salah satu Desa Penyangga Kawasan Konservasi (CA Selat Sebuku bagian Pulau Laut, red.), dan juga guna melihat secara langsung perkembangan kegiatan kelompok pemberdayaan masyarakat Betung Mandiri dalam melakukan budidaya lebah madu. Nikmat juga mengatakan melalui kegiatan monitoring ini diharapkan dapat mendorong masyarakat agar tetap semangat dalam mengembangkan kelompoknya dan bidang usaha yang telah ditetapkan oleh KPM Betung Mandiri. “Pentingnya melakukan monitoring kegiatan pemberdayaan masyarakat ini adalah untuk mengetahui sejauh mana perkembangan program pemberdayaan masyarakat di desa Betung ini, sehingga dalam kelanjutannya program ini bisa lebih ditingkatkan lagi serta bisa diketahui kendala-kendala yang dihadapi KPM Betung Mandiri dalam mengembangkan kelompoknya sehingga bisa di evaluasi secara baik.” lanjut Nikmat. Kepala Desa Betung yang dalam kesempatan ini diwakili Sekretaris Desa Syahransyah dan Ketua KPM Betung Mandiri Zulkifli, menyambut hangat kedatangan tim monitoring BKSDA Kalsel. Syahransyah mengatakan kunjungan ini sangat baik adanya, sehingga pihak BKSDA Kalsel bisa mengetahui dan melihat secara langsung kondisi KPM Betung Mandiri di Desa Betung ini. Syahransyah menyadari bahwa meskipun keadaan Desa Betung mempunyai potensi alam yang bagus untuk ternak lebah madu namun Sumber Daya Manusia anggota KPM Betung Mandiri belum sesuai yang diharapkan. Untuk itu, pihaknya berharap agar pihak BKSDA Kalsel agar tidak henti-hentinya memperhatikan masyarakat desa Betung dalam kaitan dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., berpesan agar hasil monitoring dan evaluasi ini dijadikan dasar untuk kegiatan berikutnya. “Kita tidak hanya melihat hasil akhirnya, tapi juga proses yang terjadi selama kegiatan merupakan bagian pembelajaran penting bagi kedua belah pihak, kelompok masyarakat dan petugas pelaksana di lapangan” tutup Kepala Balai. (Ryn) Sumber : Rifqi Destayanda (Bakti Rimbawan) - Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Diversifikasi Destinasi Selam Hotel Grand Luley Lakukan Penenggelaman 20 Patung Untuk Transplantasi Karang

Manado, 27 Juni 2019. bertempat di pesisir utara Tanjung Pisok Kawasan Taman Nasional Bunaken, Hotel Grand Luley dan Luley Dive Center Manado bekerjasama dengan Coral Triangle Center dari Bali kembali menenggelamkan 20 patung dalam upaya transplantasi terumbu karang di Taman Nasional Bunaken. Hal ini dilakukan sebagai lanjutan upaya rehabilitasi karang dan implementasi Perjanjian Kerja Sama antara PT Pandu Harapan Nusa dengan Balai Taman Nasional Bunaken Upaya konservasi terumbu karang dengan memasukan media baru dilakukan untuk memberikan kesempatan planula karang tumbuh serta menciptakan destinasi baru bagi penggemar dunia bawah air. Media tersebut dibuat dan disusun dengan tatanan patung dan terumbu karang yang indah yang memanjakan mata para penyelam baik dari dalam maupun luar negeri. Hadir dalam acara ini Bapak Ir. Wiratno, M.Sc, selaku Direktur Jenderal Konservasi dan Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia, Kepala Balai Taman Laut Nasional Bunaken Ibu Dr. Farianna Prabandari S.Hut., M. Si, Pemilik Hotel Grand Luley Manado dan pemrakarsa acara ini, Ibu Suzy Hutomo, General Manager Hotel Grand Luley Manado, Bapak Arief Ali dan Environmentalist and Activist, The Marine Foundation, Mrs. Celia Gregory. Dalam sambutannya, Direktur Jenderal KSDAE - Kementerian LHK Ir. Wiratno, M.Sc mengemukakan bahwa Wiratno dalam menglola kawasan konservasi tidakhanya memerlukan ilmu, tetapi juga seni (art). Bekerja dengan hati penting untuk menghasilkan suatu hal yang optimal. Kerjasama Taman Nasional Bunaken dengan Grand Luley Hotel sebagai perwujudan kerjasama lintas sektoral, sehingga kita tidak hanya kerja sendiri dalam mengelola kawasan konservasi. Ibu Dr. Farianna Prabandari S.Hut., M. Si Kepala Balai Taman Laut Nasional Bunaken mengatakan, “Kami mendukung dan mengapresiasi upaya Hotel Grand Luley & Luley Dive Center untuk membantu konservasi di Taman Nasional Bunaken melalui transplantasi terumbu karang dan penenggelaman patung yang akan menjadi habitat baru bagi biota laut. Taman Nasional Bunaken merupakan salah satu destinasi menarik bagi wisatawan lokal dan juga mancanegara. Untuk itu, upaya ini bukan hanya menyelamatkan berbagai biota laut yang lestari tetapi juga membuat destinasi baru selam untuk memberikan daya tarik wisatawan dalam menikmati keindahan Taman Nasional Bunaken.” Ibu Suzy Hutomo selaku Pemilik Hotel Grand Luley mengatakan, “Ini merupakan kelanjutan upaya dan komitmen kami untuk ikut terus berperan aktif dalam melestarikan Taman Nasional Bunaken. Sebagai kebanggaan masyarakat Manado khususnya dan tentu seluruh rakyat Indonesia, menjaga kelestarian Taman Nasional Bunaken menjadi prioritas kami. Selain menjadi daya tarik para penyelam, ini juga dapat memiliki nilai edukasi bagi wisatawan untuk ikut berwisata sambil menjaga kelestarian dan keindahan alam. Kegiatan ini juga merupakan bagian dari Implementasi Perjanjian Kerjasama antara PT Pandu Harapan Nusa dengan Balai Taman Nasional Bunaken tentang Penguatan Fungsi Kawasan Taman Nasional Bunaken Berupa Pengembangan Wisata Alam dalam Bentuk Pemanfaatan Dermaga (Jetty) di Kelurahan Tongkaina, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara.” Pada tahun 2016, Hotel Grand Luley Hotel dan Luley Dive Center memulai upaya konservasi Taman Nasional Bunaken dengan cara menenggelamkan patung mermaid yang bertujuan untuk mengembalikan habitat bagi biota laut yang hidup di Taman Nasional Bunaken. Patung mermaid tersebut dibuat oleh pematung ternama dari Bali, Wayan Winten dan kolaborasi dengan The Marine Foundation di Bali. Selain itu, Grand Luley juga melakukan berbagai upaya lain diantaranya; penanaman 8.000 tanaman bakau, penanaman terumbu karang, pemanfaatan jetty bagi banyak pihak, program donasi dan lain-lain, tutup Suzy. Sumber: Eko Wahyu Handoyo,.Hut (PEH) - Balai TN Bunaken
Baca Berita

Pembinaan Pegawai dan Halal Bihalal Keluarga Besar Balai TN Kutai

Bontang, 29 Juni 2019. Keluarga besar Balai Taman Nasional Kutai dan PT. Pertamina EP Aset 5 Sangatta Field mengadakan acara pembinaan pegawai dan halal bihalal. Pembinaan pegawai dan halal bihalal kali ini diadakan di Lembah Permai Adventure Park. Dalam sambutan sekaligus membuka acara, Kepala Balai TN Kutai Bapak Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc menyampaikan bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam mempertemukan kita dengan teman, tetapi semuanya kembali kepada kita yang menjalaninya. Acara pembinaan pegawai dan halal bihalal kali ini diikuti oleh seluruh pegawai TN Kutai beserta keluarga inti, karyawan dari PT. Pertamina EP Aset 5 Sangatta Field dan beberapa pensiunan Balai TN Kutai. Berbagai kegiatan telah disiapkan oleh panitia untuk menghibur peserta seperti fun game untuk semakin menjalin keakraban, kekompakan serta kerjasama tim. Selain itu, panitia juga menyiapkan 3 wahana yang bisa dinikmati oleh peserta sepeti berenang, flying fox dan water ball. Untuk memotivasi pegawai dalam meningkatkan kinerjanya, pada acara ini juga diisi dengan penyampaian motivasi tentang “Peran Keluarga dalam Meningkatkan Produktifitas, Etos Kerja dan Kualitas SDM Balai TN Kutai” oleh Ibu Laela Siddiqah, M.Psi, Psikolog. Salah satu yang ditekankan oleh Sang motivator yaitu pentingnya mewujudkan “work life balance” yaitu keseimbangan antara kehidupan keluarga, kesehatan dan pekerjaan. Semoga dengan adanya kegiatan pembinaan pegawai dan halal bihalal ini, dapat semakin mempererat hubungan antara keluarga besar Balai TN Kutai dan juga PT. Pertamina EP Field dan kinerja pegawai semakin meningkat. Sumber: Balai TN Kutai
Baca Berita

Patroli Gabungan TWA Pulau Bakut dan TWA Pulau Kembang

Barito Kuala, 20 Juni 2019 – Tim Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Banjarbaru Balai KSDA Kalimantan Selatan baru-baru ini telah melaksanakan Patroli Gabungan Pengamanan Kawasan Hutan yang berlokasi di TWA Pulau Kembang dan TWA Pulau Bakut. Pelaksanaan kegiatan ini sebagai perlindungan dan pengamanan kawasan TWA Pulau Bakut dan Pulau Kembang yang dipimpin oleh Kepala Seksi M. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si beranggotakan Suwandi, Rudi Pranoto dan Kusdania Naibaho, S.Hut personil Polisi Kehutanan pada SKW II serta melibatkan anggota Kepolisian Resort Alalak Berangas (AIPDA Syaipullah) dan Komando Rayon Militer Alalak (Koptu Suwanto). Berdasarkan pernyataan Kepala BKSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc, Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Bakut merupakan kawasan konservasi yg memiliki fungsi untuk kegiatan rekreasi wisata alam terbatas dan pelestarian satwa primata maskot Kalimantan Selatan yaitu Bekantan (Natalis larvatus), sedangkan TWA Pulau Kembang lebih mengarah pada kegiatan wisata budaya dengan iconnya Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) sehingga perlu terus dilakukan upaya perlindungan dan pengamanan yang melibatkan aparat terkait. Lebih jauh Kepala Balai menyampaikan bahwa kegiatan patroli gabungan yang dilaksanakan dengan unsur TNI/Polri sebagai bagian untuk meningkatkan koordinasi serta membangun jejaring kerja (network) dengan para pihak khususnya aparat penegak hukum. Dalam pelaksaan kegiatannya tim melakukan patroli dengan menggunakan moda transportasi air menuju kawasan TWA Pulau Bakut dan dilanjutkan melalukan penyisiran kawasan dengan patroli berjalanan kaki di titian wisata TWA Pulau Bakut. Setelah itu, patroli kembali dilanjutkan masih dengan menggunakan moda transportasi air menuju ke TWA Pulau Kembang. Patroli dilakukan menyisir berjalanan kaki di titian wisata TWA Pulau Kembang sembari mengamati perilaku primata yang ada di kawasan tersebut. Patroli berjalan dengan baik dan tidak ditemui adanya gangguan di kedua kawasan tersebut. Upaya pengamanan kawasan hutan seperti ini akan terus dilakukan oleh Balai KSDA Kalsel, baik itu kawasan hutan yang bernilai wisata maupun ekologis, demi tetap menjaga kelestarian kawasaan dan sumber daya alam (SDA) yang terkandung di dalamnya. Kekayaan dan keragaman satwa dan tumbuhan merupakan anugrah Tuhan yang harus kita jaga bersama untuk generasi mendatang. (Ryn) Sumber : M. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si - Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru BKSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Evakuasi Dramatis Buaya Muara di Soliu

Kupang, 1 Juli 2019. Balai Besar KSDA NTT (BBKSDA NTT) melalui Unit Penanganan Satwa (UPS) bergerak cepat dan responsif mengamankan buaya muara (Crocodylus porosus) di Desa Soliu, Kecamatan Amfoang Barat Laut, Kabupaten Kupang. Informasi keberadaan satwa tersebut disampaikan oleh Kepala Pos Polisi Soliu (Bapak Eris) yang diterima oleh operator Call Center (Hallo BBKSDA NTT) pada hari Sabtu (29 Juni 2019) pukul 16.30 WITA. Dalam laporannya, masyarakat menyampaikan bahwa ukuran buaya muara besar dan “menakutkan” serta telah menyerang dan memangsa ternak warga. Atas arahan Kepala BBKSDA NTT, UPS BBKSDA NTT segera menindaklanjutinya dengan menuju Desa Soliu dan tiba di lokasi sekitar pukul 24.00 WITA. Tim lalu melakukan persiapan untuk penanganan terhadap buaya muara itu. Upaya evakuasi satwa berlangsung dengan dramatis mengingat ukurannya yang besar. Atas berkat kerjasama tim UPS BBKSDA NTT dengan masyarakat sekitar, kepolisian, pemerintah kecamatan akhirnya buaya muara tersebut dapat dievakuasi. Dari pengukuran fisik, diketahui buaya muara itu berjenis kelamin jantan, berukuran panjang 4,58 meter dan lebar 0,8 m. Selanjutnya, buaya muara oleh tim UPS BBKSDA NTT dievakuasi ke kandang transit di kantor Seksi Konservasi Wilayah II di Kupang. Tim juga melakukan perawatan karena kondisi tubuhnya mengalami luka pada bagian kepala/leher dan mulut. Hingga saat ini diketahui bahwa buaya tersebut merupakan buaya yg ukuran tubuhnya paling besar yang pernah ditangani tim UPS BBKSDA NTT. Selanjutnya buaya tersebut akan ditampung sementara di kandang transit sambil menunggu adanya lembaga konservasi yang berminat menampung buaya untuk digunakan sebagai indukan (pada penangkaran satwa), tentu yang memenuhi ketentuan/peraturan yang berlaku. Sumber: Dewi Indriasari - Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur
Baca Berita

Pelantikan Saka Wanabakti Cabang Kapuas Hulu

Mataso, 28 Juni 2019. Saka Wanabakti Cabang Kapuas Hulu Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum Melantik Pengurus Dewan Saka Ranting Embaloh Hulu Masa Bakti 2019 – 2021. Pelantikan dilakukan oleh Pamong Satuan Karya Wanabakti Gerakan Pramuka Cabang Kapuas Hulu ( kak Mustar) yang dilaksanakan di aula Kantor Bidang PTN Wilayah 1 Mataso dengan melibatkan peserta Saka wanabakti Embaloh Hulu dan Saka Wanabakti Cabang Putussibau sebanyak 60 orang. Pelantikan Dewan Saka merupakan bagian dari organisasi dalam Satuan Karya Gerakan Pramuka yang beranggotakan ketua dan wakil ketua krida memiliki tugas merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan saka Wanabakti di pangkalan Ranting Embaloh Hulu. Fungsi dari Dewan Saka yaitu membina dan mengembangkan sumber daya kaum muda melalui kepramukaan agar menjadi warga negara yang berkualitas dan mampu memberikan sumbangan yang positif bagi kesejahteraan dan kedamaian masyarakat baik lokal, nasional, maupun internasional. Tujuan pembentukan Saka ini adalah sebagai wadah pendidikan bagi para Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega untuk mengembangkan bakat minat, pengetahuan, kemampuan, ketrampilan dan pengelaman dalam bidang kejuruan tertentu dan untuk meningkatkan motivasi karya nyata yang produktif sehingga dapat memberikan bekal bagi kehidupan anggota Saka dalam pengabdiannya kepada masyarakat, bangsa dan negara dalam menunjang pembangunan Nasional. Pamong Saka Wanabakti Cabang kapuas Hulu, Kak Mustar dalam amanatnya menyampaikan kepeda Dewan Saka yang baru dilantik untuk selalu bekerja sesuai dengan Fungsi pokok Saka Wanabakti yaitu sebagai, Wadah pembinaan dan pengembangan pengetahuan dan keterampilan di bidang kehutanan yang diimplementasikan dalam kegiatan nyata yang produktif sebagai bakti kepada masyarakat. Pengurus Dewan Saka yang baru dilantuk diharapkan dapat menggerakan semua anggota Saka Wanabakti untuk dapat meningkatkan kreatifitas serta berjiwa pancasila dalam mengisi kehidupan sehari-hari dengan menjaga tali persaudaraan, kesatuan dan persatuan, serta menanamkan rasa cinta pada seni budaya daerah. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Aksi Bersih TWA Dolok Tinggi Raja Bersama Camat Silau Kahean

Dolok Tinggi Raja, 1 Juli 2019. Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar Balai Besar KSDA Sumatera Utara mengadakan aksi bersih sampah di kawasan pada Jumat, 28 Juni 2019 silam. Aksi ini berupa gotong royong mengutip sampah di kawasan kawah biru Taman Wisata Alam Dolok Tinggi Raja guna memberikan contoh kepada masyarakat sekitar bahwa kebersihan itu sangat penting bukan hanya di dalam rumah dan sekitarnya tetapi perlu dilakukan di lokasi yang menjadi tujuan wisata. Kegiatan gotong royong ini dilakukan bersama Staf Bidang KSDA Wilayah II, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran dan Staf Petugas Resort CA/TWA Dolok Tinggi Raja, Masyarakat Pangulu Nagori Dolok Marawa, Camat Silau Kahean beserta jajarannya yang turut serta melakukan aksi bersih sampah di TWA. Dolok Tinggi Raja. Aksi ini mendukung wisata TWA Dolok Tinggi Raja. Terbitnya Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor SK.397/MENLHK/SETJEN/PLA.2/9/2018 tanggal 18 September 2018 merubah sebagian kawasan CA. Dolok Tinggi Rajai menjadi Taman Wisata Alam seluas +60,94 Hektar. Dengan keputusan ini, maka yang tadinya lokasi wisata Dolok Tinggi Raja dengan objek utamanya adalah kawah biru merupakan kegiatan yang dilarang karena status kawasan cagar alam, sekarang sudah diperbolehkan dan dapat dikembangkan untuk tujuan/aktivitas wisata. Kepedulian pengelolaan sampah tidak hanya sekedar membudayakan mumbuang sampah pada tempatnya, namun kedepannya di harapkan setiap warga secara mampu memilah sampah seperti organik dan anorganik. Aksi bersih sampah perlu terus diadakan dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat sebelum menimbulkan permasalahan besar bagi kelestarian lingkungan. Budaya sadar lingkungan dan sadar mengelola sampah harus dimulai dari diri sendiri. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Seminggu Berada di Kebun Waarga Desa Teluk Pulai, Orangutan Jantan Dievakuasi Tim WRU SKW II BKSDA Kalimantan Tengah

Kotawaringin Barat, 30 Juni 2019. Tim Wildlife Rescue Unit Seksi Konservasi Wilayah II-BKSDA Kalteng di Pangkalan Bun kembali melakukan Rescue terhadap 1 (satu) individu orangutan (Pongo pygmaeus pygmaeus) di Sungai Merjan, Desa Teluk Pulai, Kec. Kumai, Kab. Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Desa Teluk Pulai merupakan salah satu desa yang berbatasan dengan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Rescue dilakukan menindaklanjuti laporan dari staf TNTP yang meneruskan laporan dari salah satu warga Desa Teluk Pulai An. Bapak Gusti pada hari sabtu tanggal 29 Juni 2019. Dalam laporan tersebut, Bapak Gusti menyampaikan tentang adanya orangutan yang telah berada di kebunnya selama seminggu. Orangutan didapati telah memakan umbut kelapa dan buah nenas. Selanjutnya pada hari Minggu, tgl 30 Juni 2019, Tim Wildlife Rescue Unit SKW II BKSDA Kalteng beserta OFI menuju lokasi dengan menggunakan Speed Boat. Memerlukan waktu 1,5 jam melalui Teluk Kumai ke arah laut jawa dan dilanjutkan menyusuri sepanjang 1,5 Km untuk menuju lokasi kebun. Dengan teknik pembiusan dan dilengkapi dengan jaring, Tim berhasil melakukan rescue terhadap 1 (satu) Individu orangutan berjenis kelamin Jantan, berumur 20 tahun dengan berat 74 Kg. Selanjutnya dengan menggunakan kandang transit, orangutan tersebut dibawa ke Orangutan care centre quarantine di Pasir Panjang-Pangkalan Bun, untuk selanjutnya dilakukan pengecekan kesehatan sambil menunggu waktu yang tepat untuk di translokasi kembali. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Ajak Menanam Generasi Millenial, Cara Balai KSDA Kalimantan Tengah Tanamkan Kepedulian dan Cinta Alam

Palangka Raya, 30 Juni 2019. Mengakhiri bulan Juni, Balai KSDA Kalimantan Tengah bersama-sama generasi muda yaitu siswa pecinta alam (Sispala) MAN Kota Palangka Raya dan Mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata Universitas Palangka Raya melakukan kegiatan penanaman. Bertempat di Taman Wisata Alam Bukit Tangkiling, penanaman diikuti oleh kurang lebih 50 orang. Bibit yang ditanam berasal dari bantuan BPDAS Kahayan sebanyak 350 bibit terdiri dari durian, mahoni, cempedak dan jengkol. Penanaman dilakukan disekitar kantor Resort TWA Bukit Tangkiling serta di jalur tracking menuju Bukit Baranahu. Maksud kegiatan penanaman ini adalah untuk meningkatkan kepedulian dari berbagai pihak serta menumbuhkembangkan bina cinta alam khususnya kepada generasi muda di Kalimantan Tengah. Selain itu gerakan menanam dapat menjadi kegiatan positif di kalangan millennial serta program Kuliah Kerja Nyata berkelanjutan yang tidak hanya dilakukan di kawasan konservasi tapi juga di lahan-lahan masyarakat atau di sekitar fasilitas umum. Kegiatan ini juga mendukung Pembangunan Indonesia Hijau, megurangi pemanasan global serta sebagai upaya konservasi sumberdaya genetik. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Owa-owa dan Kucing Kuwuk Diserahkan Masyarakat ke Balai KSDA Kalimantan Tengah

Kotawaringin Barat, 28 Juni 2019. Dua satwa dilindungi Undang-undang yaitu owa-owa (Hylobates muelleri) dan Kucing Kuwuk (Prionailurus bengalensis) telah diserahkan masyarakat pada Balai KSDA Kalimantan Tengah. Pada hari kamis tanggal 20 Juni 2019, Satu individu Owa-owa diserahkan oleh Bapak Kasi, warga Desa Hambuku Hilir, Kab. Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Owa-owa berjenis kelamin jantan diterima oleh Wildlife Rescue Unit SKW III BKSDA Kalteng di Muara Teweh dalam kondisi sehat. Berdasarkan infromasi, satwa tersebut dipelihara sejak umur ± 1 tahun sampai pada saat ini mencapai 5 tahun. Saat ditemukan pertama kali, owa-owa tersebut terpisah dari induknya yang selanjutnya diselamatkan oleh Bapak Kasi. Saat ini owa-owa tersebut dititipkan di Yayasan Kalaweit untuk menjalani proses rehabilitasi. Selanjutnya pada hari Jum’at, tanggal 28 Juni 2019, Wildlife Rescue Unit SKW II BKSDA Kalteng di Pangkalan Bun telah menerima penyerahan satwa liar yg di lindungi undang undang lainnya yaitu Kucing Kuwuk (Prionailurus bengalensis)dari Sdr. Bimo Pangestu warga Desa Natai Raya, Kel. Baru, Kec. Arut Selatan, Kab. Kotawaringin Barat dalam keadaan sehat. Saat ini satwa tersebut berada di kantor SKW II BKSDA Kalteng, untuk selanjutnya akan dilepasliarkan di Suaka Margasatwa Lamandau. BKSDA Kalimantan Tengah mengapresiasi keinginan masyarakat yang ingin menyerahkan satwa dilindungi yang telah ditemukan/dipelihara. Ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kelestarian satwa liar dilindungi di habitatnya. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Usaha Pengenalan Burung Oleh Petugas PEH di Resort Bone Bolango SPTN Wilayah I Limboto

Kotamobagu, 30 Juni 2019. Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone sebagai salah satu Kawasan Pelestarian Alam yang merupakan bagian dari kawasan Wallacea adalah daratan yang memiliki potensi keanekaragaman hayati cukup tinggi, salah satunya yakni potensi jenis-jenis satwa burung. Potensi sumberdaya alam Taman Nasional Bogani Nani Wartabone ini memiliki prospek yang memadai untuk dijadikan lokasi tujuan wisata alam. Hal ini ditunjang dengan potensi satwa liarnya, diantaranya yaitu keberadaan jenis burung endemik Sulawesi yang dapat dengan mudah dijumpai Macrocephalon maleo. Selain itu terdapat juga beberapa jenis yang juga mudah untuk dijumpai seperti sikatan leher merah, kadalan sulawesi, raja udang, walik kembang, bilbong fendeta, dan burung penghisap madu yang merupakan hasil kegiatan identifikasi pengenalan burung yang dilakukan oleh Andy Hari Waskitho, S.Hut yang sehari - hari bertugas sebagai Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) di Resort Bone Bolango SPTN Wilayah I Limboto. Menurut Andy “ Pengenalan Burung terhadap anak – anak lebih mudah dilakukan karena mereka bisa melakukannya sambil bermain di alam. ” Keragaman jenis burung yang berhasil teramati, menunjukkan potensi kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yang sangat belimpah dan beragam. Potensi ini jika dapat dikelola dengan melibatkan peran serta masyarakat lokal sebagai pelaku wisata maka akan mengurangi ancaman langsung terhadap kelestarian kehidupan flora dan fauna yang ada di wilayah Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Peningkatan kapasitas Polisi Hutan dan Pengendali Ekosistem Hutan dalam hal pengetahuan jenis satwa liar terus menerus dilakukan SECARA MANDIRI oleh para petugas lapangan agar nantinya dapat mendukung mereka dalam menjalankan tugasnya serta dapat memberikan informasi yang jelas terkait potensi flora dan fauna yang ada diwilayah kerjanya. Selain itu, Pelatihan bagi kelompok masyarakat pemandu wisata lokal juga dapat dilakukan, khususnya untuk pengenalan dan pengamatan burung, karena hal ini akan memberikan nilai tambah serta motivasi bagi penduduk lokal untuk berlomba-lomba menjaga potensi sumber daya alam yang ada diwilayah mereka, khususnya kehidupan flora dan faunanya, dimana hal ini dapat memberikan tambahan pengetahuan dan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Sumber: Kusmayanti, S.Hut (KSBTU) - Balai TN Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Pelepasan Burung Maleo di Balai TN Bogani Nani Wartabone

Kotamobagu, Jumat 28 Juni 2019. Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (BTNBNW) bersama EPASS dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta, telah melakukan penandaan pada burung (Bird banding) maleo di Pusat Penelitian maleo / Sanctuary Maleo Tambun, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara pada hari Sabtu, tanggal 22 Juni 2019. Kegiatan ini merupakan salah satu dari penelitian maleo di Lansekap Taman Nasional Bogani Nani Wartabone yang bertujuan untuk mengetahui wilayah jelajah satwa tersebut. Tiga tahun yang lalu BTNBNW telah membangun Sanctuary Maleo Tambun sekaligus sebagai Pusat Penelitian Maleo. Sebelumnya anakan maleo yang menetas di bak penetasan semi alami langsung dilepasliarkan. “Namun semenjak ada pembangunan Sanctuary malaeo, beberapa maleo dibesarkan dalam kandang pembesaran. Saat ini maleo generasi pertama yang ada di kandang sudah beranjak dewasa dan akan dilepasliarkan ke alam. Untuk mengetahui wilayah jelajah dari maleo, maka sebelum dilepasliarkan, dilakukan penandaan (bird banding) terlebih dahulu.” Jelas drh. Supriyanto, Kepala Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Pada hari Sabtu tanggal 22 Juni 2019, telah dilakukan Bird banding pada 5 ekor burung maleo dewasa dengan memasang cincin penanda (ring bird) yang terbuat dari campuran alloy dan nikel. “Cincin tersebut diperoleh dari LIPI, dan bernomor seri Indonesian Bird Banding Scheme (IBBS). Dengan adanya cincin ini, petugas atau staf lapangan yang melihat tanda tersebut dapat mengenali bahwa individu tersebut dari Tambun,” jelas Ign Pramana Yuda, PhD., peneliti dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta sekaligus Presiden Indonesian Ornitologist Union yang melakukan banding pada hari tersebut. Lokasi-lokasi dimana individu maleo yang di-banding terlihat oleh staf lapangan dapat dipetakan, dan kita dapat mengetahui wilayah jelajah dari burung ini. Sebelum pemasangan cincin, dilakukan pengukuran morfometrik pada masing-masing burung maleo tersebut. Data ini nantinya akan dimasukkan dalam database nasional burung yang dikelola oleh LIPI. Pengambilan sampel darah juga dilakukan untuk uji kesehatan maleo, khususnya penyakit parasite darah. “Serangkaian kegiatan ini dimulai pada dini hari, dimana maleo masih mudah untuk ditangkap dan langsung dilakukan pengurukan morfometrik, banding, dan pengambilan sampel darah. Hal ini untuk mengurangi stress pada individu maleo. Sedangkan Uji test sampel darah dilakukan di Laboratorium Kesehatan Hewan Manado, Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara. Hasil laboratoium menyatakan bahwa semua sampel hasilnya negatif atau semua maleo bebas dari parasite darah. Sehingga maleo ini siap untuk dilepasliarkan ke alam.” Jelas Elisabet Purastuti, Field Coordinator EPASS Bogani Nani Wartabone. Maleo adalah burung endemic Sulawesi yang dilindungi dan habitatnya banyak berkurang karena perubahan penggunaan lahan di lokasi peneluran maleo. Taman Nasional Bogani Nani Wartabone adalah salah satu habitat terbesar dan penting bagi maleo. Oleh karena itu penelitian yang dapat menunjang konservasi maleo sangat diperlukan untuk menunjang kelangsungan hidup satwa ini. Sumber: Balai TN Bogani Nani Wartabone
Baca Berita

Tanamkan Rasa Cinta Alam pada Generasi Pesantren Kawasan Puncak

Kuta, 28 Juni 2019. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) melaksanakan kunjungan penyuluhan kepada Pesantren Daarul Mughni Al Maaliki 2. Lokasi pesantren tersebut berada di area penyangga yang berbatasan dengan Zona Pemanfaatan Petak 16 Resort PTN Cisarua, Puncak-Bogor dimana secara administratif masuk ke dalam wilayah Desa Kuta, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor. Penyuluhan kali ini dihadiri oleh sekitar 80 orang santri/ santriwati yang merupakan calon generasi tenaga pendidik/da’i. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman keberadaan, fungsi dan peran penting taman nasional khususnya bagi masyarakat sekitar daerah penyangga serta mengemban visi “TNGGP sebagai pusat konservasi hutan hujan tropis pegunungan di Pulau Jawa yang bermanfaat untuk mendukung pembangunan wilayah dan masyarakat” salah satunya melalui pengembangan TNGGP sebagai Pusat Pendidikan dan Penelitian Konservasi Alam. Daerah Puncak merupakan magnet para investor dalam pengembangan usaha wisata dengan banyak kepemilikan villa oleh warga pendatang, sehingga kepemilikan tanah oleh masyarakat lokal semakin berkurang. Hal ini mendorong terdesaknya kawasan hutan TNGGP sehingga perlu dilakukan pendekatan secara intensif terhadap masyarakat sekitar untuk membentengi/ mencegah tindakan ilegal terhadap hutan. Pertimbangan ini yang mendorong dilakukan kegiatan penyuluhan di daerah tersebut. Kegiatan Visit to Pesantren dilaksanakan di aula pertemuan pondok pesantren dan diawali sambutan dari Pimpinan Pondok Pesantren Ustad Muhamad Abdullah Syafi’i. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasinya kepada BBTNGGP yang telah menjadikan pondok pesantren sebagai lokasi kegiatan penyuluhan. Kegiatan ini baru pertama kalinya diadakan di lokasi tersebut. Sambutan kedua dari perwakilan pihak BBTNGGP yang disampaikan oleh Kepala Seksi PTN Wilayah VI Tapos, Bambang Mulyawan, S.H., M.H. Banyak masyarakat yang mengetahui tentang hutan tetapi belum memahami lebih jauh taman nasional yang memiliki kawasan asli dan dikelola dengan sistem zonasi yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pendidikan, penelitian, ilmu pengetahuan, menunjang budidaya serta rekreasi tutur beliau dalam sambutannya. Sebetulnya peranan taman nasional sangat penting bagi daerah Jabotabek sebagai penyangga kehidupan baik dari air dan udara yang dirasakan setiap saat oleh masyarakat sekitar. Pernyataan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memiliki arti penting bagi kawasan sekitarnya dipertajam kembali dengan pemaparan materi yang disampaikan oleh penyaji yang terdiri dari Penyuluh Kehutanan dan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH). Di sela-sela pemberian materi, peserta kegiatan diajak untuk bermain, menonton film bermuatan edukasi dan konservasi, serta adanya pemberian doorprize. “Dalam hutan TNGGP terdapat 5 jenis primata dan 3 satwa prioritas seperti Owa Jawa Elang Jawa, dan Macan Tutul karena status konservasinya dinyatakan terancam punah”, ujar Andie Martien yang bertindak sebagai penyaji. Pernyataan tersebut menandakan betapa pentingnya TNGGP. Dengan adanya kegiatan penyuluhan ini, tersampaikan informasi kepada generasi muda bahwa hutan TNGGP menyimpan segudang kekayaan alam yang dapat dipelajari untuk menjadikan TNGGP sebagai tempat belajar dan tersematkan dalam hati yang akan mereka sampaikan kepada orang-orang ditemui. Tim Visit to Pesantren menyerahkan secara simbolis lima batang pohon kepada pesantren sebagai aksi nyata mengajak para santri dan pengajar untuk peduli terhadap alam melalui menanam pohon. Setidaknya terdapat 65 desa penyangga sekitar TNGGP. Keberadaan desa–desa tersebut penting dalam kapasitas sebagai penyangga sosial. TNGGP berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan segenap lapisan masyarakat baik melalui peningkatan kapasitas, memberi ruang keterlibatan yang lebih besar dalam proses pengelolaan/ pemanfaatan kawasan sepanjang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, memposisikan mereka dalam peran pengawasan masyarakat serta upaya pemberdayaan lainnya. Salam konservasi. Sumber: Ratih Mayangsari (Penyuluh Kehutanan) - Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Kunjungan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan

Cibodas, 28 Juni 2019. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) mendapatkan kunjungan Pemerintah Daerah Kabupaten Tapanuli Selatan. Maksud dari kunjungan ini untuk studi tentang pengelolaan dan pemanfaatan ekowisata. Lokasi yang jadikan studi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (Situgunung - Sukabumi dan Cibodas - Cianjur) serta Kebun Raya Cibodas. Acara diawali dengan sambutan dari Sekretaris Daerah Tapanuli Selatan dan Bupati Tapanuli Selatan, dalam sambutannya beliau menyampaikan, "Pembangunan saat ini di Tapanuli Selatan senantiasa selalu menjaga lingkungan". Kemudian dilanjutkan sambutan penerimaan dari Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar TNGGP, yang menyampaikan bahwa, Gede Pangrango sebagai pusat pendidikan dan konservasi alam mengedepankan fungsi konservasi dan pendidikan dalam pengelolaannya, sehingga kegiatan wisata pun tetap dalam framing pendidikan dan konservasi. Nilai lebih wisata di taman nasional selain keindahan dan keragaman spesies juga nilai edukasi dan kemanfaatan pada masyarakat sekitar. Saat kunjungan ke Situgunung - Sukabumi (Sabtu, 29/06/2019), rombongan tamu diterima oleh Kepala Bidang PTN Wilayah II Sukabumi beserta jajarannya, disuguhkan pengelolaan wisata alam yang secara harmoni memadukan kekayaan alam dengan teknologi maju. "Trik pengembangan wisata di TNGGP membangun dengan hati demi konservasi dan nilai ekonomi", Kepala Bidang PTN Wilayah II Sukabumi menjelaskan kepada tim kunjungan. Selain itu pengelolaan wisata di Situgunung pun mengedepankan pemberdayaan masyarakat dan partisipasi aktif sebagai guide dan dalam atraksi budaya setempat. Keunggulan komparatif inilah yang menjadikan Situgunung sebagai destinasi utama Kabupaten Sukabumi selain Geopark - Cileutuh. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan berkeinginan untuk dapat mengelola wisata dengan tidak melupakan nilai konservasi seperti dalam pengelolaan wisata di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Dan berencana akan mengembangkan wisata seperti membangun jembatan ataupun sarana wisata lainnya yang diharapkan menjadi destinasi utama/ primadona Kabupaten Tapanuli Selatan dan dapat mendongkrak ekonomi masyarakat. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Dalam Sepekan, Masyarakat Serahkan 2 Bayi Orangutan ke Balai KSDA Kalimantan Tengah

Katingan, 26 Juni 2019. Selama sepekan di bulan Juni 2019, Balai KSDA Kalimantan Tengah telah menerima serahan 2 (dua) bayi orangutan dari masyarakat Kalimantan Tengah. Bayi orangutan pertama berkelamin jantan dengan umur 5 bulan, diserahkan oleh Bapak Sisiadi, warga Desa Sumber Makmur, Kec. Dadahup, Kab. Kapuas. Penyerahan diwakilkan oleh Bapak Imanudin dari PT. UAI (Genting Group), sebuah perusahaan perkebunan yang berada disekitar desa pada hari Sabtu tanggal 22 Juni 2019 di Kantor Balai KSDA Kalimantan Tengah. Orangutan tersebut didapatkan Bapak Sisiadi ketika sedang dikejar oleh anjing pemburu babi milik warga desa sekitar, dan anak Oranutan terpisah dari induknya. Kemudian dengan bantuan pihak perusahaan, akhirnya bayi tersebut diserahkan kepada BKSDA Kalimantan Tengah. Selanjutnya pada hari Rabu, 26 Juni 2019, Tim WRU SKW I BKSDA Kalimantan Tengah telah menerima serahan bayi orangutan dari warga Desa Telok Kec. Katingan Tengah, Kab.Katingan bernama Kristian Tata. Berdasarkan informasi dari yang bersangkutan bayi Orangutan berusia 1,5 tahun tersebut di temukan di pinggiran hutan dekat pemukiman warga. Satwa tersebut sudah dipelihara selama 3 bulan oleh yang bersangkutan. Saat ini kedua bayi Orang Utan tersebut telah dititipkan di Pusat Reintroduksi Orangutan Nyaru Menteng untuk dilakukan observasi dan pemeriksaan kesehatan. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Berita

Peningkatan Kapasitas MPA, Balai Besar TaNa Bentarum Gelar Pelatihan

Selasa, 25 Juni 2019. Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) kembali menggelar kegiatan pelatihan bagi Masyarakat Peduli Api (MPA) yang berada di desa – desa dalam kawasan selama 3 hari (25-27 Juni 2019) bertempat di Desa Sekulat Kec. Selimbau. Kegiatan dihadiri oleh Camat Selimbau, Danramil Selimbau, Kapolsek Selimbau, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wil. V Selimbau, Kades Sekulat dan para tokoh masyarakat serta diikuti oleh 30 anggota MPA dari Desa Vega dan Desa Sekulat Kec. Selimbau. Menurut Kepala Seksi PTN Wilayah V Selimbau Bpk. Desra Zullimanysah, “Kegiatan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan anggota MPA dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan serta merupakan kegiatan lanjutan secara kontinu dari Tahun 2017, kegiatan dimulai dengan bantuan paket alat pemadam kebakaran tahun 2017, Kegiatan Pelatihan bagi MPA tahun 2018, dan tahun ini adalah kegiatan pelatihan sekaligus penyegaran bagi anggota MPA, hal ini adalah salah satu wujud komitmen dari Balai Besar dalam menekan kejadian kebakaran hutan dan lahan di dalam kawasan khususnya di areal Danau Sentarum dan pengembangan kemampuan masyarakat desa penyangga pada umumnya.” Menurut data yang diperoleh dari Manggala Agni Non Daops Semitau bahwa luas hutan dan lahan yang terbakar di dalam kawasan cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun sebagaimana di tampilkan oleh grafik dibawah ini : Camat Selimbau menyampaikan pada sambutannya bahwa kebakaran hutan dan lahan adalah tanggung jawab kita semua, masyarakat sebagai garda terdepan adalah ujung tombak dalam pengendalian kebakaran karena masyarakat berada di dalam daerah – daerah yang sering terjadi sehingga kemampuan masyarakat dalam pengendalian kebakaran perlu ditingkatkan, program Balai Besar sudah tepat sehingga kita semua jangan melewatkan kegiatan yang sangat penting ini. Saya berharap masyarakat terutama masyarakat Kecamatan Selimbau bisa aktif dalam pencegahan, pemadaman, serta sosialisasi kepada masyarakat lainnya. “Hari ini saya sangat senang dan memberikan apresiasi kepada Balai Besar, ternyata programnya ini berkelanjutan, bukan sekali pelatihan sekali itu juga ditinggalkan, tetapi sekarang kita bisa melihat bahwa program berkelanjutan, mulai dari bantuan peralatan, lalu pelatihan disambung dengan penyegaran lagi, tinggal kita pihak desa mensinkronkan kegiatan lainnya, intinya saya sangat senang.” ujar Kades Sekulat dalam kata sambutannya. Presiden Asosiasi Periau Muara Belitung (APMB) sekaligus ketua MPA Desa Sekulat, Uju Taruna menambahkan “kejadian kebakaran hutan merupakan bencana bagi kami para periau madu hutan karena asap muncul, lebah tak bisa hinggap ditikung, ujung – ujungnya madu tak ada, gagal panen madu, hilanglah salah satu penghasilan kami, gak ada kebakaran masyarakat sejahtera". Sumber : Harri Ramadhani - Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)

Menampilkan 5.425–5.440 dari 11.140 publikasi