Senin, 25 Mei 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Dewi Tari: Menari di Tengah Sampah, Membangun Harapan di Kaki Ijen

Banyuwangi, 26 Februari 2025. Di kaki megah Gunung Ijen, di Desa Tamansari, Banyuwangi, sebuah kelompok perempuan bernama Dewi Tari menari melawan permasalahan sampah yang kian mencemaskan. Dengan semangat yang tak mudah goyah, mereka mengelola Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) yang menjadi harapan baru bagi 400 kepala keluarga, pengelola homestay, hotel, hingga wisatawan yang membanjiri kawasan Ijen setiap bulan. Mereka tidak berjalan sendiri. Sejak 2024, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) hadir sebagai fasilitator yang tak hanya memberikan dukungan finansial senilai 90 juta rupiah, namun juga aktif melakukan monitoring dan pendampingan berkelanjutan melalui petugas Seksi KSDA Wilayah V Bayuwangi. Dana tersebut digunakan untuk membangun fasilitas pemilahan sampah, landasan container box, uji laboratorium pupuk organik, hingga pengemasan produk. Kolaborasi ini diperkuat oleh keterlibatan LSM yang merealisasikan pengadaan dua kontainer senilai Rp 120 juta, kini kokoh berdiri di atas landasan bangunan bantuan BBKSDA Jatim. Para petugas BBKSDA Jatim tak sekadar hadir dari balik meja kerja. Mereka turun ke lapangan, berdiskusi dengan masyarakat, memantau kualitas produksi, dan memberi arahan teknis agar pengolahan sampah tidak hanya berjalan tetapi berkelanjutan. Bangunan pemilahan sampah yang sempat diuji oleh hujan badai beberapa waktu lalu tetap berdiri teguh, menjadi saksi ketangguhan kelompok ini. Dari sisa organik, lahirlah pupuk berkualitas yang sebagian besar digunakan oleh warga sekitar. Kelak, mereka bermimpi memasarkan produk ini lebih luas, termasuk budidaya maggot untuk dipasarkan baik hidup maupun kering sebagai langkah nyata meredam limbah sekaligus menopang ekonomi komunitas. Namun, perjuangan mereka bukan tanpa aral. Biaya operasional pengangkutan sampah residu ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan strategi pemasaran menjadi tantangan besar. Sampah yang terus mengalir dari aktivitas harian dan wisata membuat kerja keras mereka seperti menimba air di lautan. Mereka butuh dukungan, bukan hanya dana, tetapi juga jejaring dan perhatian yang berkesinambungan. Dewi Tari bukan sekadar kelompok pengelola sampah, mereka adalah simbol perjuangan masyarakat yang berani beraksi disaat banyak yang hanya diam. Di tengah hiruk-pikuk pariwisata Ijen, mereka membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari tangan-tangan sederhana yang tak lelah merawat bumi. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Mendengar Keterangan Saksi Kasus Dugaan Alih Fungsi Kawasan SM Karang Gading Langkat Timur Laut

Istri terdakwa usai memberi keterangan di hadapan Majelis Hakim Medan, 25 Februari 2025. Sidang kasus dugaan korupsi alih fungsi kawasan hutan Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading Langkat Timur Laut, kembali digelar di ruang sidang Cakra Utama Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pengadilan Negeri (PN) Medan, masing-masing pada Senin (17/2) dengan agenda mendengarkan keterangan saksi fakta Lie Siew Kin, istri dari terdakwa Alexander Halim dan pada Senin (24/2), mendengarkan keterangan saksi fakta David Luther Lubis, menantu terdakwa Alexander Halim. Pada sidang Senin (17/2) saksi Lie Siew Kin menerangkan di hadapan Majelis Hakim bahwa benar saksi memiliki 12 SHM (Sertifikat Hak Milik) di lahan yang diduga berada di kawasan hutan Suaka Margasatwa di Desa Pematang Cengal dan Desa Tapak Kuda. Ke 12 SHM tersebut merupakan balik nama dari pemilik sebelumnya, namun saksi mengaku tidak mengenal pemilik sebelumnya, karena proses balik nama diurus suaminya Alexander Halim (terdakwa). Saksi hanya menerima dan menandatangani SHM di Notaris Weni. Saksi Lie Siew Kin mengaku tidak mengetahui jika lahan yang dikuasainya merupakan kawasan konservasi suaka margasatwa. Saksi juga mengakui di lahan 12 SHM miliknya tersebut telah menjadi kebun sawit. Hasil panen dari kebun sawit digunakannya untuk membayar gaji karyawan dan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Sedangkan dalam sidang Senin (24/2), saksi fakta David Luther Lubis menerangkan tidak memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM) apapun berkaitan dengan pokok perkara dan tidak mengetahui secara persis tentang SHM yang dimiliki keluarga mertuanya (terdakwa) berkaitan dengan permasalahan hukum yang sedang terjadi. Saksi berdomisili di Kota Medan, dan sepengetahuan saksi terdakwa dan seluruh keluarganya juga berdomisili di Kota Medan. Tidak ada satupun yang berdomisili di Stabat, Kabupaten Langkat. Saksi menerangkan, bahwa pada bulan Maret 2021, terdakwa mengajaknya untuk menjadi komisaris di CV. Anugrah Agro Abadi (CV. AAA), yang mengelola kebun sawit di lahan bermasalah di kawasan konservasi. Saksi tidak mengetahui bila lahan tersebut adalah kawasan konservasi suaka margasatwa. Saksi menerima ajakan terdakwa karena menghormati mertuanya. Meskipun saksi sebagai komisaris di CV. AAA, namun saksi mengaku tidak mengetahui berapa keuntungan dari pengelolaan kebun sawit tersebut, karena semuanya dikelola langsung oleh terdakwa. Usai mendengar keterangan saksi, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyatakan pemeriksaan saksi fakta sudah selesai dan akan dilanjutkan dengan pemeriksaan Ahli yang diajukan oleh JPU. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Operasi Gabungan Menyelamatkan Burung-Burung Nusantara

Surabaya, 24 Februari 2025. Dalam operasi gabungan yang melibatkan Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur, Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal) Lantamal V Surabaya, dan Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah (SKW) III Surabaya - BBKSDA Jatim, dalam upaya penyelamatan puluhan satwa liar, 23 Februari 2025. Operasi ini merupakan tindak lanjut dari pemeriksaan terhadap kapal penumpang KM Labobar (rute Ambon–Makassar–Surabaya) dan KM Dharma Kencana VII (Makassar–Surabaya) sehari sebelumnya. Di tengah riuhnya pelabuhan Tanjung Perak, petugas mendapati puluhan burung tanpa dokumen sah, cermin dari masih maraknya perdagangan ilegal satwa liar yang mengancam keanekaragaman hayati Indonesia. Dari KM Labobar, ditemukan satu ekor Kakatua Koki-triton (Cacatua galerita triton), 14 ekor Perkici Kuning-gelap (Trichoglossus meyeri), dan satu ekor Nuri Maluku (Eos bornea). Sementara itu, dari KM Dharma Kencana VII, petugas mengamankan 13 ekor Merpati Hitam Sulawesi (Turacoena manadensis), 47 ekor Burung Manyar biasa (Ploceus manyar), 18 ekor Jalak Alis-api (Enodes erythrophris), dan lima ekor Jalak Tunggir Merah (Scissirostrum dubium). Hingga kini, pihak berwenang masih menyelidiki pemilik satwa-satwa tersebut. Proses penyelidikan tetap berjalan dan semua pihak berkomitmen untuk mengusut tuntas temuan tersebut. Sementara penyelidikan berlangsung, BBKSDA Jatim telah mengevakuasi seluruh burung ke kandang Wildlife Rescue Unit (WRU) guna pemulihan kondisi sebelum dilepasliarkan. Banyak di antara burung-burung ini yang mengalami stres akibat perjalanan panjang dalam kondisi yang tidak layak. Perdagangan ilegal satwa liar bukan hanya kejahatan terhadap hukum, tetapi juga sebuah ancaman nyata terhadap keberlanjutan ekosistem. Kakatua Koki dan Nuri Maluku, misalnya, termasuk spesies yang rentan dan populasinya kian menipis di habitat aslinya. Tanpa tindakan tegas dan kesadaran kolektif, keindahan suara dan warna-warni burung Nusantara ini bisa lenyap dari hutan-hutan kita. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Baca Berita

Hantu Cagar Alam Manggis Gadungan

Kediri, 22 Februari 2025. Cagar Alam (CA) Manggis Gadungan merupakan satu dari 26 kawasan konservasi yang dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Cagar alam yang masuk ke dalam wilayah kerja Seksi KSDA Wilayah (SKWI I) Kediri memiliki potensi utama jenis-jenis Ficus, seperti Ficus albipila atau leses. Selain ficus, kawasan ini juga dihuni oleh burung hantu, yaitu kukuk seloputo. Burung dengan nama ilmiah Strix seloputo merupakan suku dari Strigidae atau burung hantu asli yang memiliki ukuran yang besar, yaitu 47 cm. Burung penetap yang jarang ini memiliki sebaran alami mulai dari Asia Tenggara, Palawan, Jawa, dan Sumatera. Di CA. Pulau Bawean juga dapat dijumpai jenis ini, namun ukurannya lebih kecil. Di seluruh dunia terdapat 132 jenis dari suku ini, 46 jenis diantaranya ada di Indonesia. Di pulau Jawa dapat dijumpai sebanyak 10 jenis dari suku Strigidae. Burung malam terdiri dari lima suku, yakni Strigidae (burung hantu asli), Tytonidae (serak), Podargidae (paruh kodok), Caprimulgidae (cabak), dan Aegothelidae (atoko). Suku Strigidae dan Tytonidae merupakan keluarga dari burung hantu, Strigiformes. Burung hantu ini dijumpai dan terdokumentasikan di “alas simpenan”, nama lain CA. Manggis Gadungan, pada siang hari saat patroli di kawasan tersebut. Menurut catatan, kukuk seloputo ini berbiak pada bulan Januari hingga Agustus dengan jumlah telur sebanyak 2-3 butir. Harapannya kukuk seloputo yang dijumpai tetap tinggal dan berbiak di cagar alam yang memiliki luas 13,356 ha ini. Sumber: Akhmad David Kurnia Putra – Polhut Ahli Pertama Seksi KSDA Wilayah I Kediri
Baca Berita

Eksplorasi Cacing Pemakan Bakteri Pada Ficus di CA Besowo Gadungan

Kediri, 20 Februari 2025. Setelah tuntas eksplorasi nematoda Caenorhabditis inopinata pada Ficus di Cagar Alam (CA) Manggis Gadungan, tim melanjutkan pencarian cacing tersebut ke CA. Besowo Gadungan. Menapaki jalanan yang masih basah dan licin akibat guyuran hujan deras semalam, tim menyusuri satu per satu tegakan Ficus di CA. Besowo Gadungan, 20 Februari 2025. Di dekat pos jaga tim disambut sikonium berwarna merah dan oranye cerah milik Ficus montana. Ficus montana sangat mudah dijumpai di tepi barat, utara dan selatan cagar alam yang meiliki luas nyaris 6 hektar ini. Ficus montana lebih dikenal masyarakat sebagai tumbuhan Uyah uyahan, sering dijumpai sebagai semak, tumbuhan merambat atau pohon kecil yang tingginya hampir 2 meter saja. Daunnya tersusun spiral dengan tekstur seperti kertas kasar. Sikoniumnya bisa sepasang atau tunggal yang muncul di ketiak dan dibawah daun. Sikonium yang masak berwarna dari oranye sampai merah cerah dan rasanya manis! Setelah menyapa Uyah uyahan, tim segera menuju Ficus raksasa di dekat pal 2, Ficus callophylla. Ficus callophylla lebih dikenal masyarakat setempat dengan sebutan pohon Preh. Meski sdang berbuah, namun tim tidak dapat menjangkau sikoniumnya, Hatta menggunakan tongkat pemetik buah sepanjang 7 m. Sikonium yang sudah jatuh tidak dapat digunakan untuk pengamatan C.inopinata dikarenakan besar kemungkinan kontaminasi dari nematoda yang hidup di tanah. Berjalan kembali menyusuri rimbunnya Besowo Gadungan, tim menjumpai Ficus variegata merah dan hijau di penghujung masa berbuah. Ficus variegata lebih kondang dengan nama Gondang. Pada saat Gondang berbuah, di batang utama dan cabang cabang akan dipenuhi dengan gerombolan sikonium yang menyerupai buah apel. Puas mengamati sikonium Gondang si apel hutan, tim menuju Ficus drupacea yang ternyata tidak sedang berbuah. Dari rindang tajuk Ficus drupacea raksasa, tim memutuskan kembali ke pos jaga untuk beristirahat. Tampaknya mendung telah bergelayut manja di udara, kami putuskan untuk menyudahi pencarian hari ini. Sumber : Siti Nurlaili - Pengendali Ekosistem Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur Seksi Wilayah I Kediri
Baca Berita

Satwa Liar, Pandemi, dan Konsep One Health: Upaya Bersama Cegah Risiko Zoonosis di Jawa Timur

Surabaya, 20 Februari 2025. Di tengah meningkatnya ancaman penyakit yang bersumber dari hewan liar, lebih dari seratus peserta berkumpul di Aula Tandjung Adiwinta, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga - Surabaya, Kamis (20/2), untuk menghadiri talk show bertajuk "Satwa Liar, Pandemi, dan One Health" dengan subtema "Sinergi untuk Pencegahan Risiko Zoonosis di Jawa Timur". Kegiatan ini menjadi ajang pertemuan penting antara akademisi, praktisi konservasi, mahasiswa, dan masyarakat umum dalam menghadapi tantangan kesehatan yang semakin kompleks. Diselenggarakan oleh ADPRC OHCC Universitas Airlangga dengan dukungan narasumber dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama mitra internasional seperti FAO Indonesia, acara ini mengupas tuntas akan pentingnya pendekatan One Health, sebuah konsep yang menekankan keterkaitan erat antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. "Pengelolaan satwa liar bukan hanya soal konservasi, tetapi juga langkah preventif terhadap potensi penyebaran penyakit zoonosis," tegas Dr. Ichwan Muslih, Kepala Bidang KSDA Wilayah II Gresik BBKSDA Jatim. Dalam paparannya, beliau menjelaskan bagaimana degradasi habitat dan perdagangan satwa liar ilegal dapat meningkatkan risiko penularan penyakit dari satwa liar ke manusia. BBKSDA Jatim saat ini aktif melakukan penyelamatan satwa dan edukasi publik untuk menekan risiko ini. Sementara itu, Drh. Farida Camallia Zenal dari FAO Indonesia menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. Ia juga memaparkan berbagai program penguatan sistem kesehatan hewan dan manusia yang telah dijalankan di Indonesia. "Penerapan One Health harus melibatkan semua pihak: pemerintah, akademisi, organisasi internasional, dan masyarakat. Sinergi ini krusial untuk membangun sistem deteksi dini dan respons cepat terhadap potensi wabah," ujarnya. Dari sisi akademisi, Prof. Dr. Fedik Abdul Rantam menyoroti perkembangan riset vaksin untuk zoonosis yang melibatkan satwa liar. "Akademisi memiliki peran penting dalam menyediakan data ilmiah yang akurat untuk mendukung kebijakan pencegahan dan penanggulangan zoonosis. Riset vaksin menjadi salah satu fokus kami untuk mengurangi dampak penularan," ungkapnya. Diskusi berlangsung dinamis dengan banyak pertanyaan dari peserta mengenai tantangan di lapangan, terutama dalam pengelolaan habitat satwa liar dan upaya mitigasi risiko zoonosis di kawasan konservasi. Selain memperkuat kesadaran peserta, acara ini juga menghasilkan kesepakatan untuk mempererat jejaring kerja antara BBKSDA Jatim, universitas, dan organisasi internasional. Di akhir sesi, semua pihak sepakat bahwa pencegahan zoonosis bukanlah tugas satu sektor saja. Dibutuhkan kesadaran kolektif dan aksi nyata untuk menjaga keseimbangan ekosistem, melindungi satwa liar, dan pada akhirnya, melindungi manusia dari potensi pandemi yang dapat muncul dari alam yang terganggu. Acara ini diharapkan menjadi langkah awal kolaborasi berkelanjutan dalam upaya konservasi dan pencegahan zoonosis di Jawa Timur, memperkuat ketahanan kesehatan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian keanekaragaman hayati. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

20 Tahun HPSN, Kolaborasi Untuk Indonesia Bersih

GLI Sumatera Utara giat aksi bersih di Kota Medan Medan, 21 Februari 2025. Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2025 kembali diperingati. Tak terasa sudah 20 tahun perjalanan peringatan HPSN, yang bermula dari peristiwa tragedi longsornya gundukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada 21 Februari 2005. Kala itu, gunungan sampah setinggi 60 meter dengan panjang 200 meter longsor akibat hujan deras selama semalaman. Selain itu ada ledakan gas metana yang timbul dari tumpukan sampah. Dua hal tersebut memicu longsoran sampah dalam jumlah yang besar (https://lestari.kompas.com ) Akibat peristiwa tersebut, dua permukiman yang berjarak sekitar 1 kilometer (km) dari TPA Leuwigajah, yaitu Kampung Cilimus dan Kampung Pojok Timur tertimbun sampah. Jutaan meter kubik sampah longsor, menimbun puluhan rumah. Bahkan 157 orang meninggal sebagai imbas dari tragedi tersebut. Tanggal tragedi longsornya gunungan sampah di TPA Leuwigajah akhirnya menjadi tonggak sejarah lahirnya Hari Peduli Sampah Nasional. Kejadian itu menjadi peringatan bagi masyarakat maupun pemerintah. Tahun 2025, tema dari HPSN adalah “Kolaborasi Untuk Indonesia Bersih”. Tujuan dari peringatan HPSN adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan bertanggung jawab. Peduli sampah adalah sebuah kesadaran dan tindakan untuk menjaga kebersihan lingkungan serta mengelola sampah dengan baik. Peduli sampah merupakan bagian dari kepedulian terhadap diri sendiri dan lingkungan. Dalam peringatan HPSN 2025, setidaknya ada empat tujuan yang ingin dicapai untuk pengelolaan sampah, sebagaimana dikutip dari https://lestari.kompas.com yaitu : memperkuat komitmen dan peran aktif pemerintah daerah dalam melaksanakan pengelolaan sampah, memperkuat partisipasi publik dalam upaya mencapai emisi nol melalui gerakan memilah sampah, memperkuat komitmen dan peran aktif produsen dan pelaku usaha lainnya dalam implementasi bisnis hijau dengan menjadikan sampah sebagai bahan baku ekonomi, dan membangun rantai nilai pengelolaan sampah di seluruh sektor. Dalam HPSN 2025, ada delapan lokasi aksi peduli sampah nasional, yaitu : pantai, gunung, kawasan mangrove, desa, pesantren, pasar, sekolah dan kampus. Lalu pertanyaannya, apa yang bisa dilakukan ? Merujuk kepada surat Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan Nomor : S.40/SETJEN/ROUM/SET.03.02/B/1/2025 tanggal 24 Januari 2025, hal Pengurangan Timbulan Sampah Plastik di Lingkungan Kantor Kementerian Kehutanan, menekankan bahwa sesuai dengan semangat amanat Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dimana semua pihak diminta melakukan upaya pengurangan dan penanganan sampah di lingkungan masing-masing. Oleh karena itu, sesuai arahan Menteri Kehutanan dihimbau untuk meminimalisir penggunaan plastik di lingkungan kantor, penyediaan dispenser di setiap ruangan kerja, membudayakan penggunaan botol minum/tumbler bagi masing-masing ASN lingkup Kementerian Kehutanan, serta melaksanakan upaya-upaya 3R (Reuse, Reduce dan Recycle) untuk pengelolaan sampah di lingkungan kantor masing-masing. Selain itu, kegiatan-kegiatan positif lainnya dapat dilakukan, diantaranya : sosialisasi pengelolaan sampah melalui penyuluhan ke sekolah-sekolah dan masyarakat yang berada di sekitar kawasan konservasi, memberi himbauan dan edukasi kepada pengunjung kawasan konservasi untuk tidak membuang sampah secara sembarangan, menggerakkan dan memberdayakan peran aktif dari kelompok binaan, kader konservasi alam, Green Leadership Indonesia (GLI), Green Youth Movement (GYM), sispala, mapala, dan pramuka Saka Wanabakti dengan melakukan aksi kecil namun nyata seperti penerapan 3R, serta menggandeng lembaga mitra kerjasama untuk kampanye peduli pengelolaan sampah. Intinya, dalam pengelolaan sampah ini tidak bisa dilakukan secara mandiri, butuh berkolaborasi dengan berbagai pihak, sebagaimana yang menjadi tema HPSN tahun ini. Untuk itu, mari bangun kolaborasi dan sinergitas dalam mengatasi permasalahan sampah, menuju Indonesia bersih dan sehat ….. Nurhabli Ridwan, kader konservasi binaan Balai Besar KSDA Sumut edukasi mahasiswa pemanfaatan sampah di TWA Sibolangit Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Musim Pancaroba, Petugas Damkar dan BBKSDA Jatim 'Panen' Ular di Tuban

Tuban, 19 Februari 2025. Saat Pancaroba di akhir dan awal tahun, fenomena kemunculan ular di pemukiman manusia meningkat. Perubahan musim, ketersediaan makanan yang melimpah, serta perilaku migrasi alami menjadi factor utama yang mendorong ular keluar dari habitat aslinya. Inilah yang terjadi di Kabupaten Tuban di akhir tahun 2024 hingga awal 2025, di mana puluhan Ular Sanca Kembang (Malayopython reticulatus) berkeliaran di berbagai lokasi pemukiman, memicu kekhawatiran warga. Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Tuban, yang selama ini menangani laporan warga terkait keberadaan ular, telah mengumpulkan puluhan ekor sanca dari berbagai lokasi. Ular-ular tersebut bukan sekadar pengganggu yang bisa dipindahkan sembarangan. Sebagai predator alami yang mengendalikan populasi hewan pengerat, mereka memiliki peran krusial dalam keseimbangan ekosistem. Oleh karena itu, upaya penyelamatan dan relokasi harus dilakukan secara hati-hati oleh pihak yang berwenang. Pada 18 Februari 2025, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Seksi KSDA Wilayah (SKW) II Bojonegoro dan Wildlife Rescue Unit (WRU) melakukan evakuasi besar-besaran. 51 ekor ular sanca yang sebelumnya ditempatkan di kandang transit Dinas Pemadam Kebakaran Tuban, diangkut ke fasilitas rehabilitasi WRU BBKSDA Jatim untuk menjalani pemantauan kesehatan dan persiapan pelepasliaran ke habitat yang lebih aman. Namun, ular bukan satu-satunya satwa yang menimbulkan interaksi negatif antara manusia-satwa. Dua ekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) juga turut diselamatkan. Primata ini sering kali terpaksa masuk ke pemukiman akibat semakin menyusutnya habitat mereka, yang berujung pada interaksi tidak diinginkan dengan manusia. Atau, korban orang-orang tidak bertanggung jawab yang bermodalkan kata saying ketika primata tersebut masih kecil dan imut, namun ketika dewasa dan menunjukkan sisi keliarannya dilepaskan di sembarang tempat yang pada akhirnya menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat. Kini, mereka telah diserahkan dan ditranslokasi ke WRU BBKSDA Jatim untuk mendapatkan perawatan dan rehabilitasi sebelum dilepasliarkan kembali ke alam. Fenomena kemunculan ular di akhir dan awal tahun bukanlah kejadian acak. Perubahan musim dari kemarau ke hujan atau sebaliknya memaksa ular mencari tempat lebih kering, sementara melimpahnya populasi mangsa seperti tikus dan burung membuat mereka lebih aktif berburu. Beberapa spesies juga melakukan perpindahan untuk mencari habitat yang lebih sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Perubahan suhu, kelembaban, dan ketersediaan air turut menjadi faktor yang mempengaruhi perilaku mereka. Penyelamatan ini bukan hanya sekedar memindahkan satwa dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga menjadi bukti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mitigasi konflik manusia-satwa. Keberhasilan evakuasi ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, manusia dan satwa liar dapat hidup berdampingan tanpa harus saling mengancam. Konservasi bukan hanya tentang melindungi spesies langka di pada sebuah kawasan, tetapi juga tentang memahami dan menghormati kehidupan liar yang berbagi ruang dengan kita. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun - BBKSDA Jawa Timur
Baca Berita

Menyelaraskan Konservasi dengan Kepercayaan Tradisional, Upaya Penanganan Buaya Muara di Sulawesi Selatan

Makassar, 18 Februari 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan terus meningkatkan penanganan interaksi negatif antara manusia dengan satwa liar yang masih sering terjadi di wilayah kerja. Akhir-akhir ini viral di media sosial tentang kemunculan buaya muara (Crocodylus porosus) di permukiman warga saat banjir melanda wilayah Kampung Kajang, Lorong 1, Kelurahan Tamangapa, Kecamatan Manggala, Makassar, pada Rabu (12/2/2025) pukul 23.00 WITA. Buaya tersebut dievakuasi oleh tim Damkar bersama warga Kelurahan Tamangapa pada Kamis (13/2) pukul 12.37 WITA dan selanjutnya diserahkan kepada BBKSDA Sulawesi Selatan serta dilakukan perawatan sementara. Kemunculan buaya muara menjadi viral karena beberapa warga Kelurahan Tamangapa menyatakan dirinya sebagai kerabat buaya tersebut. Salah seorang warga meyakini bahwa kakeknya yang berusia 100 tahun merupakan saudara kembar buaya. Masyarakat Bugis-Makassar memiliki kepercayaan tradisional bahwa buaya adalah saudara manusia. Kepercayaan ini berasal dari mitos lama yang menyebutkan bahwa setiap manusia memiliki saudara kembar dari alam air, salah satunya adalah buaya. Beberapa masyarakat Bugis-Makassar percaya bahwa buaya kembar lahir dari air ketuban yang pecah saat ibu melahirkan. Dalam kitab Lagaligo, terdapat kisah dewa dan dewi yang turun ke bumi dengan duduk di atas punggung buaya. Sehubungan dengan kepercayaan tradisional tersebut, warga yang mengaku sebagai kerabat buaya meminta buaya dipelihara di rumah atau dilepaskan. BBKSDA Sulawesi Selatan bersama aparat keamanan dan pemerintah terkait telah memberikan penjelasan status buaya sebagai satwa dilindungi yang perlu dijaga dan dilestarikan selaras dengan kearifan lokal masyarakat. Selanjutnya menjelaskan bahwa buaya merupakan satwa buas dan dapat mengancam keselamatan manusia apabila dipelihara di rumah. Merespons hal tersebut, BBKSDA Sulawesi Selatan bersama Lurah Tamangapa, Camat Manggala, Polsek Parangloe, Polres Gowa dan Koramil Parangloe menawarkan beberapa solusi sebagai jalan tengah, sebagai berikut : 1. BBKSDA Sulawesi Selatan akan melakukan pelepasliaran ke habitat yang sesuai. 2. Buaya muara tetap berada dalam penanganan BBKSDA Sulawesi Selatan, namun warga yang mengaku sebagai kerabat buaya dapat mengunjungi di lokasi perawatan. 3. Warga yang mengaku sebagai kerabat buaya disarankan mengurus izin sesuai ketentuan dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 18 Tahun 2024 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar dalam Bentuk Penangkaran, Pemeliharaan untuk Kesenangan, Perdagangan, dan Peragaan. Dalam penanganan interaksi negatif manusia dengan satwa liar BBKSDA Sulawesi Selatan berpedoman pada : 1. Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.53/MENHUT-II/2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.48/MENHUT-II/2008 tentang Pedoman Penanggulangan Konflik antara Manusia dan Satwa Liar. 2. Peraturan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor P.9/KSDAE/SET/KSA.2/11/2018 tentang Petunjuk Pelaksanaan Unit Penyelamatan Satwa Liar (Wildlife Rescue Unit). Beberapa kegiatan yang telah dilakukan BBKSDA Sulawesi Selatan dalam penanganan interaksi negatif manusia dengan satwa liar, antara lain: 1. Penyuluhan dan sosialisasi intensif guna memberikan pemahaman dan pengetahuan masyarakat akan pentingnya pelestarian hutan dan satwa serta keberadaan dan status satwa di habitatnya. 2. Pemasangan papan informasi di lokasi berupa himbauan terhadap keberadaan satwa dan kewaspadaan bagi yang berada di sekitar habitat. 3. Memonitor habitat dan populasi buaya. 4. Mendorong adanya perizinan pemanfaatan buaya muara. 5. Melakukan pengembalian satwa liar ke habitatnya. 6. Meningkatkan kapasitas Tim WRU dalam rangka penanganan konflik satwa liar seperti handling dan restrain satwa liar. BBKSDA Sulawesi Selatan terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat tentang penanganan interaksi negatif antara manusia dengan satwa liar serta memperkuat koordinasi dengan instansi terkait guna memastikan keselamatan manusia dan satwa liar. Upaya pemasangan papan himbauan, sosialisasi, serta pemantauan di lokasi-lokasi rawan konflik juga terus ditingkatkan. Konservasi dengan kepercayaan tradisional harus mendukung keselarasan manusia dengan alam. Sumber Berita: BBKSDA Sulawesi Selatan Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Berita

BBKSDA Sumut dan COP Gelar Lomba Desain Poster Infografis

Medan, 19 Februari 2025. Dalam rangka Hari Satwa Liar Sedunia pada 3 Maret 2025, Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan Pusat Perlindungan Orangutan (COP) mengadakan Lomba Desain Poster Infografis bertema “Kenali dan Lestarikan Satwa Sumatera Utara”. Untuk mensosialisasikan serta mempromosikan giat lomba ini, pada Selasa (18/2) dilaksanakan talkshow di salah satu stasiun radio di Kota Medan, yaitu KISS 105 FM. Bertindak sebagai narasumber masing-masing Dede Syahputra Tanjung, SP. dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan Buchori dari COP. Kedua narasumber menjelaskan bahwa tujuan dari kegiatan lomba ini selain dimaksudkan untuk kampanye mengenal lebih dekat keanekaragaman hayati yang ada di Sumatera Utara khususnya satwa Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), juga untuk mengajak masyarakat ikut peduli menjaga dan melestarikan satwa liar tersebut. Oleh karena itu, Panitia menyediakan 3 topik satwa liar yang bisa dijadikan sebagai bahan dari infografis, yaitu: Harimau Sumatera, Gajah Sumatera dan Orangutan Tapanuli, dengan harapan konten infografis tersebut mengandung informasi unik dan penting tentang satwa tersebut. Panitia menetapkan ketentuan lomba, yaitu: terbuka untuk umum, karya harus orisinal, ukuran A3, format JPEG + file asli (pdf/psd/ai), maksimal 2 karya per peserta, karya diunggah ke Instagram dengan mention @bbksda_sumut & @orangutan_cop serta tagar #satwaliarsumut #bbksdasumut, panitia tidak mentoleransi terhadap plagiat dan penggunaan karya orang lain, desain dikirimkan ke panitia sebelum jam 20.00 WIB tanggal 28 Februari 2025, dan peserta tidak dipungut biaya. Desain yang terpilih nantinya akan menjadi hak penyelenggara dan dipergunakan sebagai bahan kampanye dan edukasi kepada siswa sekolah dan masyarakat umum. Terkait penilaian, Dede Syahputra Tanjung, SP. selaku salah seorang Tim Juri membocorkan, bahwa ada 3 point penting yang akan menjadi kriteria penilaiannya, yaitu infografis harus sesuai dengan temanya, kemudian konten gambar dan informasinya harus valid dalam arti harus ada kesesuaian antara gambar yang ditampilkan dengan isi informasinya sehingga Ketika menjelaskan/menginformasikan contoh tentang Gajah Sumatera maka foto/gambar yang disajikan juga harus Gajah Sumatera, bukan gajah lainnya, seperti gajah Afrika, serta yang terakhir unsur penilaian memperhatikan layout (tata letak) dari infografis. Pengumuman pemenang lomba akan dilakukan bertepatan dengan Hari Satwa Liar Sedunia, 3 Maret 2025, pukul 20.00 WIB. Pemenang akan memperoleh hadiah masing-masing : Juara 1 sebesar Rp. 4.000.000,- (Empat Juta Rupiah) + sertifikat dan merchandise dari COP, Juara 2 sebesar Rp. 3.000.000,- (Tiga Juta Rupiah) + sertifikat + merchandise dari COP dan Juara 3 sebesar Rp. 2.000.000,- (Dua Juta Rupiah) + sertifikat + merchandise dari COP. Selain itu ada juga Juara Favorit Netizen (berdasarkan banyaknya followers dan like) akan mendapatkan hadiah sebesar Rp. 1.000.000,- (Satu Juta Rupiah) + sertifikat + merchandise dari COP. Sampai saat acara talkshow, tercatat sebanyak 380 orang yang sudah mendaftar dan mengirimkan karyanya ke Panitia, yang berasal dari kalangan generasi muda pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum dari berbagai daerah di Indonesia. Ditargetkan sampai penutupan pendaftaran dan pengiriman infografis, akan diikuti sekitar 1.000 orang peserta. Oleh karena itu, selagi masih ada waktu dan kesempatan diimbau kepada seluruh masyarakat di seluruh Indonesia untuk segera mengirimkan karya kreatifnya kepada panitia. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Warga Kabanjahe Serahkan Sepasang Kukang ke BBKSDA Sumatera Utara

Kabanjahe, 19 Februari 2025. Bermula pada Senin (17/2) malam, masyarakat menghubungi petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe tentang adanya warga yang ingin menyerahkan satwa liar dilindungi jenis Kukang (Nycticebus coucang) kepada petugas, dan satwa tersebut berada di kantor PLN Kabanjahe. Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe menyambangi kantor PLN Kabanjahe dan bertemu dengan Ipo Palentinus, warga yang akan menyerahkan satwa tersebut. Petugas melakukan identifikasi dan benar bahwa satwa tersebut adalah Kukang, sebanyak 2 (dua) individu, berjenis kelamin jantan dan betina. Setelah memperhatikan kondisi satwa yang terlihat dalam keadaan sehat, petugas selanjutnya mengevakuasi satwa dan menitipkannya ke Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit, pada Selasa (18/2), guna mendapatkan perawatan serta rehabilitasi sebelum dilepasliarkan ke habitat alaminya. Kukang yang kerap juga disebut dengan Malu-malu ini adalah jenis primata yang menghabiskan waktunya di atas pohon atau biasa disebut arboreal dan merupakan hewan nokturnal (aktif di malam hari). Di Indonesia, berdasarkan ekologi dan persebarannya terdapat tiga spesies Kukang, yaitu Kukang Jawa (Nycticebus javanicus), Kukang Sumatera (Nycticebus coucang) dan Kukang Kalimantan (Nycticebus menagensis). Kukang memiliki penampilan yang lucu dan menggemaskan sehingga banyak masyarakat umum yang gemar menjadikan primata ini sebagai hewan peliharaan. Selain itu, perkembangbiakan Kukang juga cukup lambat yaitu hanya bisa melahirkan seekor anak dalam satu setengah tahun. Akibatnya semua jenis Kukang kondisinya terancam punah. Oleh karena itu, Kukang kemudian ditetapkan sebagai satwa yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/ KUM.1/12/2018. Pengembalian ke habitat alaminya merupakan upaya untuk menjaga dan mempertahankan populasinya agar tetap lestari. Sumber : Suparman, SP. (Kepala Resort CA/TWA Sibolangit) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

20 Satwa Liar Dievakuasi Di Gresik, Sinergi Untuk Konservasi

Gresik, 18 Februari 2025. Di tengah lanskap perkotaan yang terus berkembang di Gresik, interaksi negatif antara manusia dan satwa liar menjadi tantangan yang kian sering terjadi. Sejak awal tahun 2025, Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Gresik telah menerima berbagai laporan mengenai kemunculan satwa liar di pemukiman warga. Dalam upaya mitigasi konflik ini, sinergi antara pemadam kebakaran dan BBKSDA Jatim menjadi kunci utama dalam penyelamatan satwa yang terdampak. Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah III Surabaya melakukan evakuasi satwa liar dari Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Gresik, 17 Februari 2025. Sebanyak 20 individu satwa liar berhasil dievakuasi dan diserahkan kepada Seksi KSDA Wilayah III Surabaya. Mayoritas satwa tersebut adalah ular Sanca Kembang (Malayopython reticulatus), sebanyak 17 ekor, diikuti oleh 3 ekor Biawak Air (Varanus salvator), dimana satwa tersebut diselamatkan pada periode 8 Januari hingga 17 Februari 2025. Satwa-satwa ini ditemukan di berbagai lokasi, mulai dari area perumahan hingga fasilitas umum, di mana keberadaannya memicu kekhawatiran masyarakat. Proses evakuasi ini merupakan bagian dari implementasi Program Matawali (Penyelamatan Satwa Liar), sebuah inisiatif yang bertujuan untuk membangun sinergitas antara BBKSDA Jawa Timur dan tim penyelamat lokal dalam menangani interaksi negatif antara manusia dan satwa liar. Setelah dievakuasi, satwa-satwa tersebut ditranslokasi ke Kandang Transit Wildlife Rescue Unit (WRU) - BBKSDA Jatim untuk menjalani rehabilitasi sebelum dilepasliarkan ke habitat yang lebih sesuai. Memperkuat Kapasitas dan Pencegahan Keberhasilan program ini tak hanya terletak pada penyelamatan satwa, tetapi juga pada upaya membangun pemahaman masyarakat mengenai pentingnya keberadaan satwa liar dalam ekosistem. Penguatan komunikasi antara Tim penyelamat dan BBKSDA Jatim sangat penting dilakukan dalam rangka meningkatkan efektifitas penanganan interaksi negatif antara manusia dan satwa liar. Disamping itu, peningkatan kapasitas SDM melalui pelatihan formal dan informal bagi petugas serta komunitas lokal juga diperlukan guna optimalisasi respon terhadap laporan keberadaan satwa liar yang berinteraksi negatif dengan manusia. Dan yang tidak kalah penting adalah penyusunan strategi mitigasi jangka panjang, termasuk penentuan area rawan konflik dan penguatan perlindungan habitat alami satwa liar melalui kompilasi data penanganan satwa yang selama ini dilakukan. Langkah-langkah ini diharapkan dapat menciptakan keseimbangan antara aktivitas manusia dan kelangsungan hidup satwa liar. Sinergi antara tim pemadam kebakaran dan tim Matawali bukan sekadar aksi reaktif, tetapi juga bagian dari strategi besar dalam melestarikan keanekaragaman hayati di Jawa Timur. Di balik setiap penyelamatan, ada harapan baru bagi satwa liar untuk kembali ke habitat alaminya dan bagi manusia untuk hidup berdampingan dengan alam dalam harmoni. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Mengenal TWA Sibolangit Bersama MAS Al-Asy’ariyah Medan Krio

Cristian Habinsaran Silalahi, petugas TWA Sibolangit kenalkan Julang Emas, identitas fauna TWA Sibolangit Sibolangit, 17 Februari 2025. Rangkaian kegiatan Field Trip Tahun 2025, MAS Al-Asy’ariyah Medan Krio mengunjungi kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit, pada Kamis (13/2). Kegiatan field trip ini diikuti 150 orang siswa/i dan 10 orang guru pendamping/pembina. Seperti biasanya, di awal kunjungan Kepala Resort CA/TWA Sibolangit memaparkan sejarah singkat kawasan, potensi keragaman hayati yang ada di kawasan serta arti penting kawasan bagi kehidupan masyarakat dan lingkungan sekitar. Selesai pemaparan, seluruh siswa dan guru pendamping menyusuri kawasan untuk melihat langsung potensi-potensi yang ada, didampingi petugas Resort CA./TWA. Sibolangit. Adalah Cristian Habinsaran Silalahi, petugas Resort yang memberikan penjelasan beberapa potensi, seperti pengenalan identitas flora maupun fauna TWA Sibolangit, yaitu Bunga Bangkai (Amorphophallus titanium) dan Burung Julang Emas (Rhyticeros undulatus). Cristian menjelaskan bahwa Bunga Bangkai merupakan salah satu jenis bunga yang unik yang tumbuh di Indonesia, karena selain bunganya tinggi dan besar, pada saat mekar pun bunga ini mengeluarkan aroma bau bangkai yang bisa tercium sampai beberapa meter. Bunga ini muncul dari dalam tanah berasal dari umbi tumbuhan. Dalam masa perkembangannya, bunga sangat tergantung pada umbi yang ada di dalam tanah. Perkembangan bunga yang dimulai sejak berbentuk kuncup, mekar hingga menjadi layu kembali diperkirakan kurang lebih 2 bulan. Bunga Bangkai yang disebut juga dengan Suweg Raksasa, kerap muncul dan tumbuh di kawasan TWA/CA Sibolangit. Pertama kali ditemukan di Sibolangit sekitar tahun 1920-an. Kemudian, pada tahun 1995 bunga ini tumbuh sempurna dengan tingginya mencapai 210 cm. Akibat pesona dan keunikan bunga ini maka Bunga Bangkai menjadi salah satu identitas flora di kawasan TWA/CA. Sibolangit. Cristian mengedukasi pelajar tentang Bunga Bangkai dan keragaman hayati di TWA Sibolangit Sedangkan untuk fauna, identitas kawasan TWA/CA. Sibolangit adalah Julang Emas. Julang Emas termasuk dalam famili Bucerotidae, seperti rangkong, enggang, julang dan kangkareng. Di Indonesia, Julang Emas dapat ditemukan di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Bali dan beberapa pulau lepas pantai. Ada beberapa fakta menarik dari satwa ini. Julang emas dikenal dengan monogami, yaitu setia pada pasangannya. Ketika sedang tidak dalam masa bertelur, julang emas akan bersama pasangannya, atau dalam kelompok kecil. Sedangkan pada saat betina bertelur sampai telur menetas, sang jantan akan setia memberi/mensuplai makanan kepada pasangannya. Selain itu, kehadiran Julang Emas ternyata menjadi indikator hutan yang sehat dan terjaga. Hutan juga membutuhkan spesies ini untuk dapat lestari. Dengan daya jelajahnya yang luas, ia dapat membantu penyebaran berbagai benih tumbuhan. Regenerasi vegetasi hutan dapat terjadi secara alami melalui benih tumbuhan sisa makanan atau yang terkandung pada fesesnya. Kini Julang Emas memiliki status konservasi Vulnarable atau rentan punah. Hilangnya kawasan hutan menjadi ancaman hilangnya habitat Julang Emas. Ia juga terancam dari perburuan liar karena bentuk paruhnya yang unik. Kawasan TWA/CA. Sibolangit menjadi habitatnya Julang Emas, karena satwa pemakan buah-buahan ini mencukupi kebutuhan pakannya dari kawasan. Sehingga bila kawasan rusak tentunya akan berdampak kepada Julang Emas yang tidak mendapatkan lagi sumber pakannya. Oleh karena itu, perlu upaya-upaya menjaga kelestarian kawasan beserta keanekaragaman hayati agar tetap terjaga dan lestari. Pengenalan identitas flora dan fauna kawasan TWA Sibolangit beserta potensi keanekaragaman hayati lainnya menarik perhatian siswa/siswi generasi muda. Berbagai diskusi pun dilakukan dengan petugas untuk memperdalam pengetahuan. Sebagian lagi mendokumentasikan potensi-potensi yang ada di kawasan melalui kamera handphonenya masing-masing. Semoga pengenalan kawasan TWA Sibolangit beserta potensinya memberi inspirasi dan motivasi bagi peserta untuk terus belajar dan menggali informasi tentang konservasi alam. Sumber : Suparman, SP. (Kepala Resort TWA/CA. Sibolangit) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Pulau Nusa Barung: Benteng Keanekaragaman Hayati di Samudra Indonesia

Jember, 17 Februari 2025. Di perairan selatan Jawa Timur, tersembunyi sebuah ekosistem liar yang masih misterius bagi dunia sains. Pulau Nusa Barung, sebuah pulau kecil yang seolah berdiri sendiri di tengah samudra, menjadi benteng terakhir bagi keanekaragaman hayati yang jarang tersentuh. Ditunjuk sebagai kawasan konservasi sejak tahun 1920 dan ditetapkan sebagai salah satu pulau terluar di Indonesia (Kepres No 6/2017). Pulau tanpa penghuni seluas 7.635,9 ha tersebut, kini berstatus Suaka Margasatwa berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: SK.314/MENHUT-II/2013 tanggal 1 Mei 2013. Saat ini, dengan bantuan teknologi mutakhir seperti e-DNA, soundscape, dan citra satelit, para ilmuwan mulai membuka lembaran baru tentang kehidupan liar di pulau ini. Lansekap Tak Terjamah Pulau Nusa Barung adalah mosaik ekosistem yang unik. Hutan pantainya dipenuhi vegetasi khas seperti Nyamplung (Calophyllum inophyllum), Putat (Barringtonia sp.), dan Pandan Laut (Pandanus tectorius). Keberadaan hutan mangrove yang mengelilingi Teluk Plirik dan Teluk Kandangan menjadi bukti nyata bahwa ekosistem di pulau ini masih berfungsi dengan baik. Di sini, Rhizophora mucronata dan Avicennia sp. menciptakan habitat bagi berbagai spesies ikan, kepiting, dan burung air. Namun, yang paling mengejutkan dari eksplorasi terbaru adalah keberadaan ekosistem hutan tropis dataran rendah yang masih sangat asri. Hasil penelitian terbaru (Mei 2024) dari tim dari Pusat Riset Zoologi Terapan, Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN bersama Balai Besar KSDA Jawa Timur, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tenger Semeru, Balai Penerapan Standar Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan Samboja, serta Yayasan Pakarti menemukan indikasi keberadaan Rafflesia. Salah satu bunga parasit paling langka di dunia, yang hidup pada tumbuhan inang Tetrastigma sp. Jika dikonfirmasi, ini akan menjadi penemuan ilmiah penting yang menambah nilai penting status kawasan Nusa Barung sebagai kawasan konservasi. Kehidupan Fauna: Dari Penyu Hingga Elang Jawa Pulau Nusa Barung juga merupakan rumah bagi fauna yang beragam. Pantainya menjadi tempat pendaratan rutin bagi penyu hijau (Chelonia mydas) yang datang bertelur setiap tahun. Selain itu, spesies langka seperti penyu sisik (Eretmochelys imbricata) juga ditemukan di perairan sekitar pulau ini. Di dalam hutan, kamera jebak berhasil menangkap dokumentasi Rusa Timor (Rusa timorensis) dan monyet-ekor panjang (Macaca fascicularis). Survei burung mendata lebih dari 30 spesies, dengan Pycnonotus plumosus dan Chalcophaps indica sebagai dua spesies dominan yang mengisi lanskap akustik pulau. Beberapa spesies pemangsa langka dari Elang Laut perut putih (Haliaeetus leucogaster), Elang Ular Bido (Spilornis cheela) dan Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) juga ditemukan mengitari langit Nusa Barung. Ini menandakan bahwa rantai makanan di pulau ini masih berfungsi secara alami. Menyibak Simfoni Alam: Analisis Bioakustik dan e-DNA Hal yang cukup menarik dari penggunaan bioakustik untuk mengungkap kehidupan tersembunyi di Nusa Barung. Perekaman suara di kedalaman hutan menghasilkan lebih dari 24.000 anotasi suara, dengan mayoritas berasal dari burung, serangga, dan amfibi. Analisis soundscape menunjukkan bahwa pulau ini memiliki indeks keanekaragaman akustik yang tinggi, mengindikasikan lingkungan yang masih sehat dan kaya spesies. Teknologi e-DNA yang diterapkan di pulau ini juga membawa kejutan besar. Sampel yang diambil dari sumber air tawar dan batang pohon mengungkap keberadaan 554 spesies dari lima kingdom: Amoebozoa, Animalia, Chromalveolata, Fungi, dan Plantae. Ini termasuk berbagai spesies mikroba yang sebelumnya belum pernah terdeteksi di pulau ini. Misteri Kelelawar dan Reptil di Nusa Barung Dalam ekspedisi tersebut, peneliti juga menemukan 11 spesies kelelawar, semuanya merupakan catatan baru untuk Pulau Nusa Barung. Salah satu spesies yang paling dominan adalah Rousettus amplexicaudatus, kelelawar pemakan buah yang berperan penting dalam penyebaran biji. Sementara itu, survei herpetofauna berhasil mencatat 19 spesies reptil dan amfibi, termasuk biawak air (Varanus salvator), biawak abu-abu (Varanus nebulosus), serta beberapa spesies katak dan cicak yang sebagian besar merupakan catatan baru bagi pulau ini. Penemuan ini semakin mengukuhkan bahwa Nusa Barung adalah tempat perlindungan penting bagi fauna yang membutuhkan habitat alami yang minim gangguan manusia. Tantangan dan Harapan untuk Konservasi Pulau Nusa Barung Terlepas dari kekayaan biodiversitasnya, Pulau Nusa Barung menghadapi tantangan besar dalam konservasi. Lokasinya yang terpencil dan akses yang sulit membuat penelitian dan pengawasan menjadi tantangan tersendiri dimana hempasan ombak Samudra Indonesia membatasi waktu eksplorasi. Namun, temuan-temuan baru ini membuka peluang besar untuk konservasi berbasis data. Dengan memahami pola ekologi dan distribusi spesies, pengelolaan kawasan ini dapat disusun lebih baik, memastikan bahwa ekosistem liar di Nusa Barung tetap lestari. Penelitian lanjutan akan terus dilakukan, termasuk pemantauan lebih lanjut terhadap spesies yang baru ditemukan serta kemungkinan adanya spesies langka lainnya yang masih tersembunyi di sudut-sudut pulau. Pulau Nusa Barung adalah pengingat bahwa masih banyak sudut liar Indonesia yang belum sepenuhnya kita kenal. Setiap penemuan di sini bukan hanya membuka wawasan baru tentang biodiversitas, tetapi juga mempertegas betapa pentingnya menjaga ekosistem yang masih alami ini. Di antara gemuruh ombak Samudra Indonesia, Nusa Barung tetap berdiri sebagai benteng terakhir keanekaragaman hayati, sebuah warisan alam yang patut kita jaga untuk generasi mendatang. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Evakuasi Satwa Dilindungi dari Kebun Binatang Mini Banjarmasin

Banjarmasin, 13 Februari 2025 – Tim Satgas Konflik Manusia dan Satwa Liar BKSDA Kalimantan Selatan pada 12 s/d 13 Februari 2025 melakukan evakuasi satwa dilindungi yang dititiprawatkan di UPTD Poliklinik Hewan dan Kebun Binatang Mini (UPTD PHKBM) Kota Banjarmasin, yang terletak di Jl. Jahri Saleh, Kelurahan Sungai Jingah, Kec. Banjarmasin Utara Kota Banjarmasin. Satwa dilindungi yang terdiri dari buaya muara (Crocodylus porosus) sebanyak 4 ekor, owa jenggot putih (Hylobates albibarbis) sebanyak 3 ekor, binturong (Arctictis binturong) sebanyak 2 ekor, dan burung kakatua maluku (Cacatua moluccensis) sebanyak 2 ekor, berhasil dievakuasi. Penyerahan satwa dilakukan secara simbolis oleh Kepala UPTD PHKBM, Noor Hidayat, SKM. kepada Kepala BKSDA Kalimantan Selatan, drh. Agus Ngurah Krisna K., MSi. Penyerahan koleksi satwa dilindungi ini dilakukan karena belum terpenuhinya persyaratan luas lahan minimal. Sesuai Permen LHK nomor:P.22/MENLHK/SETJEN/KUM.1/5/2019 tentang Lembaga Konservasi, calon LK (Taman Satwa), harus menyediakan lahan minimal seluas 2 Ha. Proses evakuasi dilakukan secara baik dan berjalan lancar. Semua satwa berhasil dievakuasi dalam kondisi sehat, tanpa cidera. Proses pemindahan sepasang buaya, Si Udin dan Si Gina memerlukan usaha yang luar biasa. Dengan berat badan Si Udin yang mencapai 1 Ton (1000 Kg), proses evakuasi harus dibantu dengan ditarik mobil double gardan. Sementara Si Gina lebih ringan dengan berat 400 kg, proses evakuasi dapat dilakukan sedikit lebih cepat. Sungguh proses yang tidak mudah. Tapi saya bersyukur proses evakuasi berjalan lancar. Petugas dan satwa tidak ada yang cidera, Ujar Kepala BKSDA Kalimantan Selatan, drh Agus Ngurah Krisna K., M.Si. Semua satwa yang telah dievakuasi ini, selanjutnya akan dititiprawatkan di penangkar dan LK yang berada di bawah binaan BKSDA Kalimantan Selatan. Satwa buaya, selanjutnya akan dititiprawatkan ke LK Jhonlin Lestari di Batulicin. Sementara burung, binturong dan rusa, akan dititiprawatkan di penangkar yang ada di Banjarbaru. (Ryn) Sumber: Jarot Jaka Mulyono, S.Hut, M.Sc (Call Center BKSDA Kalsel) - BKSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Koordinasi Dengan Instansi Terkait, Perkuat Jaringan Rimbawan Mengajar

Trenggalek, 13 Februari 2025. Tahun 2024 yang lalu, Rimbawan Mengajar telah melaksanakan kegiatan pendidikan konservasi di lima sekolah, satu diantaranya dilaksanakan di Cagar Alam Manggis Gadungan. Kegiatan tersebut juga turut melibatkan komunitas pecinta lingkungan lainnya seperti WWI (Wild Water Indonesia) yang mengenalkan tentang pentingnya keberadaan ikan-ikan lokal. Sekolah-sekolah yang telah dikunjungi memberikan apresiasi terhadap program ini. Beberapa diantaranya menginginkan program ini dilaksanakan kembali di sekolah mereka. Menanggapi hal tersebut dan rencana pengembangan program Rimbawan Mengajar, Seksi KSDA Wilayah (SKW) I Kediri telah melakukan koordinasi ke beberapa instansi terkait. Koordinasi pertama dilaksanakan di Disdikpora (Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga) dan Dinas PKPLH (Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup) Kabupaten Trenggalek, 13 Februari 2025. Tujuannya untuk membuat rencana mengajar di sekolah adiwiyata dan menindaklanjuti inovasi yang tercantum dalam dokumen IKPLHD (Informasi Kinerja Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah) Kabupaten Trenggalek Tahun 2024. Rimbawan Mengajar telah menjadi salah satu inovasi yang tertuang dalam dokumen tersebut. Dalam pertemuan tersebut, baik Disdikpora maupun Dinas PKPLH akan mendukung kegiatan Rimbawan Mengajar dan memberikan informasi terkait sekolah-sekolah adiwiyata yang akan dikunjungi. Sasaran program pendidikan lingkungan ini adalah siswa Sekolah Dasar (SD) dengan program pembelajaran yang baru. Rimbawan Mengajar akan dilaksanakan sebanyak tiga kali pertemuan setiap sekolahnya, yaitu pertemuan di kelas sebanyak dua kali dan satu kali pertemuan di lapangan. Pertemuan pertama merupakan pertemuan untuk pengenalan profil BBKSDA Jawa Timur dan pejabat fungsionalnya seperti Polisi Kehutanan, Pengendali Ekosistem Hutan, dan Penyuluh Kehutanan. Materi dasar-dasar kehutanan, konservasi, pengenalan satwa liar, dan pengelolaan sampah. Pertemuan kedua dilaksanakan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam sesuai minat dari siswa. Pertemuan terakhir merupakan praktikum langsung yang akan dilaksanakan di Huko (Hutan Kota) Trenggalek. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra, Polisi Kehutanan Ahli Pertama Seksi KSDA Wilayah I Kediri - Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 529–544 dari 11.141 publikasi