Senin, 27 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Pengujian pH Air dan Tanah Dukung Program Revegetasi Suaka Margasatwa Padang Sugihan

Palembang, 9 Juli 2019. Balai KSDA Sumatera Selatan bekerjasama dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan melakukan uji pH air dan tanah. Hal ini digunakan untuk mengetahui kondisi keasaman air dan tanah sehingga kita bisa menentukan jenis tanaman yang bisa bertahan hidup dan tumbuh secara maksimal. Dengan pengujian pH air dan tanah ini diharapkan program revegetasi di Suaka Margasatwa Padang Sugihan mampu berjalan maksimal. Suaka Margasatwa Padang Sugihan merupakan kawasan konservasi yang memiliki wilayah gambut yang cukup luas. Hal ini memerlukan perlakukan khusus karena tingkat keasaaman dan kadar pH nya berbeda dengan tanah mineral. Tahun 2019 Balai KSDA Sumatera Selatan memiliki program revegetasi. Dengan mengetahui pH air dan tanah maka dapat diketahui juga jenis tanaman yang mampu bertahan hidup. Dengan begitu program yang akan dilakukan baik restorasi maupun revegetasi dapat dikelola dengan baik dengan lokasi dan kondisi yang sesuai. Dibutuhkan alat yang dapat mengukur dan memastikan air berada dalam keasaman (pH) yang pas. Alat tersebut adalah alat Pengukur pH Air. Alat pengukur pH air adalah sebuah instrumen yang mengukur aktivitas ion hidrogen dalam larutan atau air dengan menunjukkan keasaman atau alkalinitasnya yang dinyatakan sebagai pH. Alat pengukur pH air mengukur perbedaan potensial listrik antara pH elektroda dan elektroda sehingga alat ini kadang-kadang disebut sebagai "pH meter potensiometri" Alat ukur ph memiliki nilai dari 0 sampai 14 dimana angka 0 merupakan tingkat keasaman paling asam dan 14 adalah tingkat keasaman paling basa. Tingkat dan hasil dari reaksi kimia yang terjadi dalam air sering tergantung pada keasaman air. Alat pengukur pH Air sering digunakan dalam analisis laboratorium kimia. Air merupakan kebutuhan pokok makhluk hidup termasuk flora fauna di dalam hutan. Tanaman menggunakan air untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Terdapat berberapa spesifikasi khusus seperti kadar keasaman air. Kadar keasaman air atau pH air yang bagus berada di angka 7 yang berarti tidak asam dan tidak basa atau netral. Sumber : Taufan Kharis - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Tanam Mangrove Serentak Cegah Mitigasi Perubahan Iklim dan Bencana

Manado, 9 Juli 2019. Hutan Mangrove Blok Meras Taman Nasional Bunaken menjadi tempat Aksi Penanaman Mangrove Serentak Dalam Rangka Mitigasi Perubahan Iklim dan Bencana. Kegiatan penanaman mangrove dalam rangka Gerakan Nasional Peduli Mangrove, Pemulihan DAS & Kampung Hijau Sejahtera kali ini secara serentak dilaksanakan pada 12 Provinsi di Indonesia yaitu Provinsi Aceh, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Utara menjadi pusat kegiatan ini dimana sebanyak 60.000 batang bibit mangrove ditanam dengan melibatkan jajaran pemerintah daerah, organisasi wanita, unsur TNI-Polri, UPT Kementerian LHK, LSM serta masyarakat. Acara Penanaman Mangrove dalam rangka Gerakan Nasional Peduli Mangrove, Pemulihan DAS & Kampung Hijau Sejahtera di Kelurahan Meras, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara yang diinisiasi oleh OASE Kabinet Kerja. Selain seremoni penanaman mangrove juga dilaksanakan pengobatan gratis, lomba mewarnai untuk anak, sosialisasi tsunami dari BPBD dan saber pungli dari Polda Sulawesi utara, serta adanya Kominfo Peduli Mangrove dari Dinas Komunikasi dan Informatika Daerah Prov. Sulawesi Utara untuk menggunakan jaringan wifi gratis. Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey dalam sambutanya mengucapkan banyak terima kasih dimana Provinsi Sulawesi Utara menjadi tuan rumah dalam aksi serentak ini. Mangrove di Sulawesi Utara tersebar dibeberapa Kabupaten, dan Kota Manado menjadi salah satu titik penting sebagai kawasan Taman Nasional Bunaken. Bahkan beberapa hari lalu Bapak Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya menyempatkan melihat indahnya panorama bawah laut Bunaken, untung saja disaat kunjungan beliau tidak ada sampah plastik lewat, arus tidak kencang, dan Puji Tuhan alam bersahabat dengan kita. Tanggal 3 Agustus 2019 akan ada kegiatan pembersihan laut serentak dengan Ibu Kapolri sebagai Ketua, dan ada 3000 penyelam sekaligus untuk mengangkat sampah di laut dalam rangka memecahkan rekor MURI. Kami sangat berharap mangrove di Sulawesi Utara akan menjadi destinasi kunjungan wisata dengan alam, mengingat kunjungan wisata mancanegara saat ini memiliki minat tinggi ke Sulawesi Utara ujar Olly. Sambutan juga disampaikan Ketua OASE Ibu Rugaya, kami adalah istri para menteri kabinet kerja, mendampingi para suami untuk mendukung kerja Pemerintah. Dengan di komandoi oleh Ibu Negara. Kegiatan utama kami adalah Peduli mangrove, pemulihan DAS, dan kampung hijrah. Mensosialisasikan kepada masyarakat untuk mengupayakan pembuatan resapan air serta mengolah sampah, dengan mendorong kaum untuk memilah sampah sejak awal. Terima kasih atas dukungan dari para pihak selama ini, dan tentunya binaan Ibu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam untuk mendukung OASE. Kami di support dari KLHK, KKP, BNBP, ESDM, Kementan, Kominfo dan seluruh pihak-pihak yang mendukung terselenggaranya acara ini, Kami sangat berterima kasih kepada Ibu-Ibu sebagai istri kabinet kerja yg mendukung mantan para pacar dalam program Pemerintah ucap Rugaya. Dalam kegiatam ini sekaligus launching Lagu INDONESIA HIJAU karya Ibu Uga Wiranto. Ibu Menteri LHK dalam sambutannya Indonesia dikaruniai ekosistem mangrove terluas dan memiliki tipe mangrove terlengkap di dunia. Luas mangrove di Indonesia saat ini ± 3,5 juta Ha, ekosistem mangrove dengan kondisi baik dan sedang seluas ± 1,8 juta Ha (51%), sedangkan yang mengalami degradasi mencapai ± 1,7 juta Ha (49%). Provinsi Sulawesi Utara menurut Peta One Map Mangrove Nasional Tahun 2017 mempunyai luas mangrove 11.434 Ha yang tersebar di 12 Kabupaten dan 2 Kota. Kementerian LHK sangat menaruh perhatian akan kelestarian ekosistem mangrove ini, dikarenakan banyaknya fungsi/manfaat dari suatu ekositem mangrove dalam menjaga keseimbangan lingkungan pantai, antara lain; pelindung erosi dan abrasi air laut; penyangga dan pencegah intrusi air laut; tempat berlindung/ berkembangbiaknya berbagai jenis fauna dan biota laut; sumber pendapatan masyarakat (ekowisata, pemanfaatan kayu dan non kayu), dan sebagai mitigasi bencana. Hasil penelitian bahwa lebar tanaman mangrove ±100 m dengan ketinggian akar ±30 cm sampai 1 m dapat mereduksi besarnya gelombang tsunami ±90%. Mangrove juga memiliki kemampuan menyerap emisi GRK 5 kali lebih baik dari tanaman hutan lainnya sehingga ekosistem mangrove perlu tetap terus dipertahankan sebagai bagian dari upaya kita untuk menangani masalah lingkungan. Terima kasih kepada Ibu Negara Iriana Joko Widodo serta pengurus OASE Kabinet Kerja yang telah berinisiatif dan menyiapkan program ini dengan baik. Juga kepada jajaran Kementerian Pertanian, Kementerian Perikanan dan Kelautan, BNPB dan Mabes TNI serta Pemerintah Daerah di 12 Provinsi yang telah menyiapkan acara ini. Khusus kepada Gubernur Provinsi Sulawesi Utara beserta jajarannya serta Walikota Menado yang telah mendukung penyelenggaraan acara ini. Selanjutnya Ibu Menteri LHK didampingi Gubernur Sulawesi Utara dan Ketua OASE, menyerahkan bantuan kepada : Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Komitmen Masyarakat Lindungi Orangutan Tapanuli

Sipirok, 8 Juli 2019. Konflik antara warga Ramba Sihasur dengan Orangutan kerap terjadi, ditandai dengan rusaknya ladang/kebun durian masyarakat. Petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidempuan sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menghalau dan mengusir Orangutan, tapi tetap saja orangutan menerobos masuk ladang/kebun warga. Tidak cukup hanya menghalau dan mengusir Orangutan, Bidang Konservasi Wilayah III Padangsidimpuan melalui Resort Konservasi CA. Dolok Sipirok dengan merangkul lembaga mitra kerja Scorpion, juga melakukan berbagai kegiatan edukasi dan penyadaran terhadap warga, seperti kegiatan Sosialisasi tentang Pentingnya Penyelamatan Orangutan Tapanuli dan Satwa Dilindungi Lainnya di CA. Dolok Sipirok, pada tanggal 24 Juni 2019. Hasil Sosialisasi menginspirasi masyarakat melalui Kelompok Tani Ramba Sihasur menyampaikan “Komitmen Masyarakat Ramba Sihasur Terhadap Perlindungan Orangutan”, yang pada intinya menyatakan berkomitmen untuk tidak memburu, menangkap atau membunuh Orangutan Tapanuli maupun satwa dilindungi lainnya yang terdapat di CA. Dolok Sipirok, serta ikut membantu mengingatkan anggota masyarakat lainnya agar tidak mengganggu satwa liar di sekitar desa Kelompok Tani Ramba Sihasur juga membuka diri bagi siapa saja yang akan memberikan bantuan bidang pertanian terutama sumbangan bibit tanaman budidaya. Menindaklanjuti keinginan Kelompok Tani tersebut, petugas Resort KSDA Cagar Alam Dolok Sipirok dan Scorpion menyerahkan bantuan bibit berupa tanaman Manggis dan Petai sebanyak 1000 bibit kepada masyarakat. Disamping itu, sebagai wujud dari komitmen, Kelompok Tani Ramba Sihasur memasang plang informasi dan larangan, yang berbunyi “Dilarang Berburu/Memikat Burung Disekitar Kawasan ini”. Kita berharap bahwa upaya-upaya yang telah kita lakukan mampu mengurangi konflik dan meminimalisir kerugian yang terjadi pada masyarakat maupun kerugian yang terjadi pada satwa liar termasuk orangutan. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Spirit Konservasi Alam Millenial dari Merbabu

Surakarta, 7 Juli 2019. Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diperingati pada tanggal 10 Agustus 2019, Balai Taman Nasional Gunung Merbabu menggelar Road to HKAN melalui kegiatan Kampanye Wisata Alam dengan tema “Spirit Konservasi Alam Millenial”. Kampanye dilaksanakan pada acara Car Free Day (CFD) tanggal 7 Juli 2019 di Surakarta, diikuti Plt. Direktur PIKA Direktorat Jenderal KSDAE, Plt. Kepala Balai TN Gunung Merbabu, Kasubag TU Balai TN Gunung Merbabu serta staf balai TN Gunung Merbabu. Para pemuda sebagai generasi millenial dirangkul agar kritis terhadap fenomena sosial. Terlihat antusiasme pengunjung khususnya para generasi millenial pada acara kampanye kali ini. Para pengunjung CFD bebas berfoto dengan karakter macan, lutung budeng, pohon dan berbagai property yang disediakan oleh panitia. Yang tidak kalah menarik dalam kampanye kali adalah pertunjukan Topeng Ireng sebagai salah satu icon budaya lokal. Dengan adanya kegiatan ini diharapkan dapat lebih menarik minat dan antusiasme para generasi millenial untuk ikut serta dalam upaya kelestarian hutan dan lingkungan khususnya di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. Sumber : Milla Septiana, S.Hut - Penyuluh Balai Taman Nasional Gunung Merbabu
Baca Berita

Mengantar Bujing dkk Kembali ke Habitatnya di Kawasan TN Bukit Baka Bukit Raya

Sintang, 4 Juli 2019 – Pada akhir Juni tepat tanggal 28 Juni 2019 Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) dan Yayasan International Animal Rescue Indonesia (YIARI) bekerjasama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat telah melakukan pelepasliaran lima individu orangutan (Pongo pygmaeus) di kawasan TNBBBR. Kelima orangutan ini bernama Bujing (Jantan), Japik (Betina), Kibo (Betina), Manis (Betina), dan Santi (Betina). Kelima orangutan ini telah selesai menjalani masa rehabilitasi dan dipastikan siap untuk dilepasliarkan. Pelepasliaran ini merupakan pelepasliaran Orangutan tahap kedua di tahun 2019 setelah Bulan Pebruari lalu telah dilakukan pelepasliaran tahap pertama di TNBBBR dengan melepaskan enam individu Orangutan. Tim pelepasan berangkat dari Pusat Rehabilitasi Yayasan IAR indonesia di Ketapang pada tanggal 26 Juni 2019 pada pukul 05.00 WIB. Selama di perjalanan tim selalu memperhatikan kondisi orangutan yang dibawa agar tidak mengalami stress di dalam kandang mengingat jarak tempuh yang sangat jauh. Memerlukan sekitar 16 jam bagi tim untuk mencapai lokasi kantor seksi Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Nanga Pinoh sekitar pukul 22.00 WIB. Perjalanan dilanjutkan pada tanggal 27 Juni 2019 sekitar pukul 05.00 WIB setelah beristirahat selama sekitar 5 jam tim langung menuju dusun Mengkilau, Desa Nusa Poring yang merupakan dusun terdekat dengan kawasan TNBBBR di Resort Mentatai pada SPTN Wilayah I Nanga Pinoh. Perjalanan darat ditempuh sekitar 5 Jam dan kemudian diteruskan dengan perahu motor selama 1 Jam. Tidak sampai di situ, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar ± 4 jam memasuki kawasan hutan TNBBBR menuju ke lokasi Camp Monitoring YIARI-TNBBBR di Teluk Ribas. Tim pelepasliaran orangutan kali ini terdiri dari perwakilan pihak TNBBBR, YIARI, BKSDA KALBAR, Pemda Kecamatan Menukung, Koramil Menukung dan Perwakilan masyarakat. Porter yang terdiri dari belasan warga desa sekitar TNBBBR, bertugas memikul kandang berisi Orangutan yang beratnya mencapai sekitar 150 kg melalui perjalanan yang tidak mudah menembuh hutan dan melewati bukit dan lembah. Sekitar pukul 16.00 WIB tim tiba di lokasi teluk ribas, kelima orangutan ini kemudian ditempatkan di dalam kandang habituasi agar mereka bisa beristirahat dan sedikit beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Keesokan harinya pada tanggal 28 Juni 2019, tim melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar ± 3 jam untuk menuju ke lokasi pelepasliaran, akhirnya kelima orangutan ini dilepaskan di lokasi titik pelepasan yang sama. Dimulai dengan Japik, Kibo, Manis, Santi dan Bujing secara bergantian. Secara keseluruhan kegiatan pelepasliaran ini berjalan lancar, kesemua orangutan yang baru dilepasliarkan langsung bergegas menuju alam liar. Kegiatan pemantauan pasca pelepasliaran akan dilakukan secara intensif untuk memastikan keberhasilan pelepasliaran. Sumber : Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya Contact Person : Dudy Kurniawan Call Centre : 082158564609 e-mail : bukitbakabukitraya@gmail.com
Baca Berita

Inovasi Penerapan Sistem Informasi E-Divers Wakatobi di TN Wakatobi

9 Juli 2019. Bermula dari inovasi Bapak Union, S.P. selaku Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Wangi-Wangi dalam Diklat Kepemimpinan IV yang mengusulkan ide pembuatan Sistem Informasi E-Divers Wakatobi yang kemudian didukung penuh dengan arahan langsung Bapak Darman, S. Hut., M.Sc. selaku Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi, diluncurkanlah aplikasi Sistem Informasi Wisata Selam E-Divers Wakatobi. Sistem informasi ini menyajikan lokasi dan rencana penyelaman wisatawan di kawasan Taman Nasional Wakatobi, melalui sistem ini rencana penyelaman diarahkan sesuai dengan kuota kapasitas daya dukung lokasi penyelaman. Sehingga ekosistem terumbu karang dapat tetap terjaga dan memberikan manfaat secara berkelanjutan. Selain itu, sebagai aplikasi yang menyajikan informasi rencana penyelaman secara terintegrasi antar Dive Operator, penerapan e-Divers Wakatobi dapat memberikan kemudahan kepada Dive Operator dalam penyusunan itinerary perjalanannya. Sehingga menghindari adanya pemanfaatan lokasi selam yang bersamaan dalam satu waktu. “Adanya aplikasi ini merupakan salah satu jawaban dari kendala teknis di lapangan yang kerap terjadi apabila sesama dive operator berencana menyelam di lokasi dan waktu yang sama. Selain itu, dengan pengaturan ini dapat menjaga lokasi dive spot agar tetap terjaga keindahannya sehingga usaha wisata dapat terus berkelanjutan.”, opini dari Bapak Akas Hamid selaku pemilik Wakatobi Dive Adventure. Sistem informasi ini bermanfaat pula dalam pengawasan aktivitas wisatawan agar lebih optimal. Sehingga dapat membantu stakeholders terkait dibidang pariwisata, perlindungan, dan pengamanan kawasan Wakatobi. “E-Divers ini masih sederhana dengan menggunakan google form dan dalam tahap pembangunan aplikasi berbasis Androidnya. Dukungan penuh dari Pemda Wakatobi, Polres Wakatobi, Pos TNI Angkatan Laut, Kantor Imigrasi Wakatobi, Perwira Penghubung DIM 1413, WWF ID SESS, Swiss Contact, Para Dive Operator, serta jajaran Balai Taman Nasional Wakatobi sangat diperlukan dalam kebermanfaatan dan pengembangan aplikasi ini ke depannya” ujar Bapak Union, S.P. selaku Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I TN Wakatobi. Besar harapan dari Bapak Darman, S.Hut, M.Sc. selaku Kepala Balai Taman Nasional Wakatobi bahwa aplikasi ini akan berkembang menjadi berbasis android dan terintegrasi dengan objek wisata dan penyedia akomodasi di seluruh kawasan Taman Nasional Wakatobi. Taman Nasional Wakatobi yang dalam pengelolaannya bersama-sama dengan Pemerintah Kabupaten Wakatobi merupakan salah satu dari 7 taman nasional laut di Indonesia yang juga diamanahi sebagai Cagar Biosfer Dunia, Asean Heritage Park, Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, serta 10 Destinasi Pariwisata Prioritas. Keindahahan ekosistem bawah laut Wakatobi sudah menjadi idaman para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Aktivitas wisata andalan di Taman Nasional Wakatobi yaitu Scuba Diving. Lokasi penyelaman yang tersebar di seluruh wilayah ini menjadi potensi besar yang dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai salah satu mata pencahariannya, yakni sebagai penyedia jasa wisata selam atau yang biasa disebut dengan Dive Operator. Keindahan terumbu karang di kawasan Taman Nasional Wakatobi sangatlah berpengaruh terhadap tingkat kepuasan wisatawan yang berimplikasi terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat di Taman Nasional Wakatobi. Sumber : Balai Taman Nasional Wakatobi
Baca Berita

Konsultasi Publik Review RP SM Kuala Lupak

Banjarbaru, 5 Juli 2019 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan melaksanakan kegiatan konsultasi publik review Rencana Pengelolaan Suaka Margasatwa Kuala Lupak Periode Tahun 2020-2029. Kegiatan ini dihadiri berbagai pihak dari unsur dinas terkait lingkup Pemerintahan Provinsi Kalimantan Selatan, Pemerintah Kabupaten Barito Kuala, Camat Tabunganen, Kapolsek Tabunganen, Danramil Tabunganen, Kepala Desa Kuala Lupak, Kepala Desa Sungai Telan Besar, Universitas Lambung Mangkurat, LSM, Mitra BKSDA Kalsel, perwakilan masyarakat sekitar kawasan, perwakilan petambak di SM. Kuala Lupak serta staf Balai KSDA Kalimantan Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari kamis tanggal 4 Juli 2019 bertempat di Fave hotel, Banjarbaru. Maksud kegiatan ini adalah untuk memaparkan draft review rencana pengelolaan Suaka Margasatwa Kuala Lupak periode 2020 – 2029 yang memuat visi, misi, tujuan pengelolaan serta rencana kegiatan kepada para pihak terkait. Sedangkan tujuannya agar memperoleh masukan serta saran dari para pihak guna penyempurnaan draft review rencana pengelolaan Suaka Margasatwa Kuala Lupak. Metode pelaksanaan kegiatan konsultasi publik ini terdiri dari paparan materi dan diskusi dengan narasumber Ir. H. Zulkipli Yadi Noor, M.Sc Kepala Bappelitbang Kabupaten Barito Kuala, Dr.Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan serta Dr. Kissinger, S.Hut.,M.Si Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, dengan moderator Trisnu Satriadi, S.Hut.,M.Si Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr.Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc memaparkan visi pengelolaan Suaka Margasatwa Kuala Lupak adalah “Terwujudnya Suaka Margasatwa Kuala Lupak sebagai kawasan konservasi mangrove untuk habitat Bekantan dan satwa dilindungi lainnya dengan melibatkan para pihak”. Lebih lanjut Dr. Mahrus menyampaikan bahwa dalam pengelolaan Suaka Margasatwa Kuala Lupak tidak terlepas dari peran aktif masyarakat. Keterlibatan masyarakat sangat diperlukan khususnya dalam kegiatan pemulihan ekosistem melalui mekanisme kemitraan konservasi. Perlu diketahui bahwa lebih dari 50 % luas kawasan SM. Kuala Lupak telah mengalami kerusakan. Kepala Bappelitbang Kabupaten Barito Kuala, Ir. H. Zulkipli Yadi Noor, M.Sc, mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Barito Kuala melalui SKPD terkait sangat mendukung upaya Balai KSDA dalam pengelolaan Suaka Margastwa Kuala Lupak yang lebih baik dengan meningkatkan peran dan keterlibatan masyarakat sabagai mitra kerja. Dr. Kissinger memaparkan tentang arti penting dari kawasan konservasi dan analisis para pihak untuk kolaborasi kegiatan. Setelah paparan materi dan diskusi dilanjutkan dengan pembahasan berita acara hasil konsultasi publik yang berisi beberapa rumusan dari rangkuman materi yang disampaikan oleh narasumber maupun topik yang berkembang dari hasil diskusi. Melengkapi kegiatan konsultasi publik, pada kesempatan ini Dr. Mahrus Aryadi memaparkan tentang proyek perubahan dengan judul Resolusi Konflik Tenurial Kawasan Konservasi Melalui Model Baparuan Di SM Kuala Lupak Kalimantan Selatan. Tujuan proper ini adalah: Diharapkan dukungan para pihak sesuai tupoksi masing-masing untuk menyelesaikan Model Baparuan tersebut. (Ryn) Sumber : M. Ridwan Effendi, S.Hut, M.Si - Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru)
Baca Berita

Launching Logo CB Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu Hasil Karya Warga Lanjak

Putussibau, 9 Juli 2019. Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu dan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) mengumumkan pemenang lomba desain Logo Cagar Biosfer (CB) Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu. Bupati Kapuas Hulu Bapak A.M Nasir, SH dan Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum Bapak Ir. Arief Mahmud, M.Si memilih 1 pemenang dari 130 karya dan desainer lokal pada rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun Kota Putussibau tanggal 8 Juli. Pemenang desain logo adalah saudari Efiyati, S.Pi yang berasal dari Lanjak, Kecamatan Batang Lupar dan berhak menerima hadiah sebesar 10 juta rupiah didukung oleh lembaga kerjasama Indonesia-Jerman dan GIZ FORCLIME. Desain logo ini secara keseluruhan melambangkan kesatuan alami antara bentang alam, kekayaan flora dan fauna yang memberikan nilai ekonomi dan juga sekaligus sebagai status sosial budaya masyarakat dalam bingkai fungsi ekosistem untuk pembangunan yang berkelanjutan. Inisiatif ini didukung kerjasama teknis Jerman dan didanai oleh pemerintah Jerman untuk mendukung penjangkauan publik terhadap Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu yang ditetapkan pada 25 Juli 2018 lalu di sidang ke-30 International Coordinating Council (ICC) Man and Biosphere (MAB) UNESCO di Palembang. Bupati kabupaten Kapuas Hulu Bapak A.M Nasir, SH menyatakan bahwa dengan status baru Cagar Biosfer akan memperkuat upaya sejak lama meletakkan Kabupaten Kapuas Hulu dalam isu konservasi melalui penetapan sebagai Kabupaten Konservasi terutama untuk mendapatkan pengakuan dari dunia internasional. Ia berharap penetapan cagar biosfer ini akan memberikan peluang tambahan misalnya pengembangan ekowisata yang akan memberikan kontribusi peningkatan ekonomi bagi masyarakat lokal. Bapak Ir. Arief Mahmud, M.Si Kepala Balai Besar TaNa Bentarum melengkapi pandangan ini dengan menyatakan bahwa penetapan cagar biosfer ini adalah sebagai langkah maju dan sebuah inisiatif kabupaten yang sangat baik yang perlu mendapatkan apresiasi di level nasional hingga internasional. Acara peluncuran logo cagar biosfer ini, bersamaan dengan peringatan hari ulang tahun Kota Putussibau yang dihadiri oleh masyarakat luas di Kabupaten Kapuas Hulu baik dari kalangan pemerintah, swasta, dan masyarakat umum. Cagar biosfer merupakan ekosistem dengan tumbuhan dan hewan yang memiliki minat ilmiah dan alami yang tidak biasa. Ini adalah label yang diberikan oleh UNESCO untuk membantu melindungi situs dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan di kawasan ini. Cagar biosfer diharapkan untuk mempromosikan manajemen, penelitian dan pendidikan dalam konservasi ekosistem, termasuk “pemanfaatan sumber daya alam berkelanjutan”. Kabupaten Kapuas Hulu terletak di Provinsi Kalimantan Barat yang merupakan sumber air dimana 70% dari luasan daratannya berada dalam status Kawasan Hutan Lindung dan Taman Nasional. Cagar Biosfer memiliki zona inti yang berada pada dua Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum. Kondisi CB Ini merupakan fitur hutan hujan tropis dataran rendah dan gunung yang unik yang merupakan rumah bagi beragam flora dan fauna. Di dalam CB, keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan konservasi untuk kepentingan masyarakat setempat dibayangkan. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Manggala Agni Brigdalkarhut Tana Bentarum Padamkan Karhut Bersama TNI dan Polri

Semitau, 9 Juli 2019. Manggala Agni Brigdalkarhut Non Daops Semitau Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) berhasil melakukan pemadaman kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Upaya keberhasilan pemadaman kebakaran hutan tidak terlepas dari kerjasama semua pihak yang terlibat dalam pemadaman antara lain Manggala Agni Brigdalkarhut Non Daops Semitau Balai Besar Tana Bentarum, TPHL Resort Tengkidap, Koramil Suhaid, Polsek Suhaid dan Masyarakat Peduli Api (MPA) Desa Laut Tawang. Ade Arief, S.Hut selaku Kepala Brigdalkarhut menuturkan kronologis kebakaran hutan di kawasan TNDS diawali dengan adanya laporan dari Petugas TPHL Resort Tengkidap sdr. Yusniardi melalui Kepala Resort Tengkidap hari Jumát tanggal 5 Juli 2019 sekitar pukul 19.00 WIB bahwa di daerah Penyelawat sekitar Dusun Kenelang Desa Laut Tawang yang termasuk wilayah kerja Resort Tengkidap Seksi PTN Wilayah VI Semitau terjadi kebakaran. Menindaklanjuti laporan tersebut Tim Pemadam Manggala Agni Brigdalkarhut Non Daops Semitau bergerak ke lokasi tersebut pada hari Sabtu tanggal 6 Juli 2019. Kemudian diberangkatkan tim tambahan yang merupakan unsur gabungan Manggala Agni Brigdalkarhut Non Daops Semitau TNBKDS bersama Koramil Suhaid dan Polsek Suhaid ke lokasi kebakaran pada hari Minggu tanggal 7 Juli 2019. Dalam pemadaman ini Masyarakat Peduli Api turut serta di dalam upaya pemadaman kebakaran hutan. Pemadaman kebakaran hutan dilakukan dengan menggunakan peralatan semi mekanis yaitu pompa portable dan peralatan tangan seperti jet shooter. Kebakaran berhasil dipadamkan oleh tim gabungan pada hari Senin tanggal 8 Juli 2019 sekitar pukul 15.30 wib dengan luasan kebakaran 2,66 Ha. Keberhasilan dalam melakukan pemadaman ditentukan oleh respon yang cepat dalam menyikapi laporan kebakaran sehingga dapat meminmalisir luasan kebakaran, sambungnya lagi. Kepala Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah III Lanjak Gunawan Budi Hartono, S.Hut, M.Si menuturkan untuk mengantisipasi terjadinya lagi kebakaran hutan, Balai Besar Tana Bentarum terus meningkatkan upaya pengendalian kebakaran hutan diantaranya peningkatan penyadartahuan kepada masyarakat, penguatan kelembagaan di bidang kebakaran hutan melalui pembinaan kepada Masyarakat Peduli Api, Peningkatan Sinergitas para pihak dalam upaya pengendalian kebakaran serta peningkatan upaya deteksi dini kebakaran hutan melalui patroli yang dilaksanakan secara terpadu bersama TNI, Polri dan masyarakat. Sumber : Manggala Agni Brigdalkarhut Non Daops Semitau Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Terjadi Karhut, Aktivitas Pendakian TN Gunung Rinjani Tidak Terganggu

Sembalun, 8 Juli 2019. Kebakaran hutan telah terjadi di kawasan hutan Savana Propok, pada koordinat 116o 30’ 38.3” BT dan 08o 26’ 6.2”. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menerima laporan adanya hot spot dari masyarakat (7/7) sekitar pukul 13.17 wita. Selanjutnya Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II memerintahkan Kepala Resort Aikmel dan Resort Sembalun untuk melakukan pengecekan dan pemadaman kebakaran hutan dengan melibatkan masyarakat. Tim Pemadaman kebakaran hutan berangkat menuju lokasi kebakaran hutan pada pukul 13.30 wita. Tim terdiri dari Resort Sembalun sejumlah 9 orang (BTNGR dan PHL) dan Resort Aikmel sejumlah 12 orang (BTNGR dan PHL : 2 orang; MMP, Pokdarling dan Pokdarwis : 10 orang). Perkiraan luasan kawasan hutan yang terbakar sekitar ± 115 Ha. Kondisi terakhir hingga saat siaran pers ini diterbitkan Hotspot/titik api masih terpantau di beberapa titik dan tim masih melakukan pemantauan jarak jauh dari Sembalun dan Pesugulan. Kronologis kebakaran terjadi sekitar pukul 18.30 wita. Dua titik api yang mengarah ke Propok dan Pusuk Sembalun dapat dikendalikan, namun beberapa titik api yang mengarah Gunung Kondo tidak dapat dikendalikan karena medan yang curam. Pukul 19.00 wita atas pertimbangan keselamatan, tim memutuskan untuk kembali dan melakukan pemantauan jarak jauh. Penyebab kebakaran masih dalam proses penyelidikan dan kebakaran hutan ini tidak mengganggu aktifitas pendakian. Vegetasi yang terbakar meliputi rumput, alang, semak dan perdu dan tidak ada laporan adanya korban jiwa. Apabila membutuhkan informasi dan data kondisi kawasan TNGR dan proses pemadaman kebakaran hutan dapat menghubungi kami melalui Call Centre Balai Taman Nasional Gunung Rinjani dengan nomor 0811283939 atau media sosial di twitter:@tnrinjani, instagram: gunungrinjani_nationalpark, Facebook: Taman Nasional Gunung Rinjani, dan website: tngr.menlhk.go.id Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Berita

Kemitraan Konservasi di Desa Penyangga Balai Besar TaNa Bentarum

Mataso, 8 Juli 2019. FORCLIME FC bekerjasama dengan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) mengadakan kegiatan Sosialisasi Kemitraan Konservasi kepada desa – desa penyangga kawasan yang sekaligus merupakan area kerja FORCLIME FC. Kegiatan sosialisasi bertempat di Kantor Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah I Mataso Balai Besar TaNa Bentarum yang diikuti 50 orang peserta dari perangkat desa, perangkat adat, tokoh masyarakat, tokoh adat, KPP Iban Kanyau, Pengurus Biogas Sadap Rimba dan sebagian kelompok ibu – ibu penenun tradisional. Turut hadir sebagai narasumber Kepala Balai Besar TaNa Bentarum, Distrik Team Leader Program FORCLIME – FC DPMU Kapuas Hulu, Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar TaNa Bentarum, Kepala Seksi PTN Wilayah I Lanjak, dan Kepala Seksi Penyiapan Kawasan dan Usaha Perhutanan Sosial BPSKL Wilayah Kalimantan. Menurut Bapak Sutedja, Distrik Team Leader Program FORCLIME – FC DPMU Kapuas Hulu dalam sambutannya menyampaikan bahwa sebelumnya hutan konservasi memiliki aturan yang sangat ketat dan tegas, akan tetapi dengan perkembangan zaman sekarang dan kebutuhan masyarakat akan hutan begitu tinggi, maka Balai Besar Taman Nasional membuka diri bersama masyarakat mengelola hutan dengan kegiatan pemanfaatan pada Zona Tradisional dalam skema Kemitraan Konservasi. Bapak Ardi Andono sebagai Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar TaNa Bentarum menyampaikan dalam paparannya bahwa Kemitraan konservasi merupakan peraturan baru yang kita sosialisasikan kepada masyarakat desa penyangga maka dari pada itu perlu waktu untuk memahami mekanisme dan pelaksanaan kemitraan konservasi di masyarakat, kami membuka kesempatan dan membuka diri untuk bersama – sama mewujudkan kemitraan konservasi yang baik dan benar sehingga pelaksanaannya dapat berkesinambungan dan bukan sebatas dokumen semata. Pada kesempatan ini ditandatangani beberapa poin kesepakatan antara Balai Besar TaNa Bentarum dengan perwakilan masyarakat yang pada intinya masyarakat berkomitmen menerima dan menyetujui penyelenggaran skema kemitraan konservasi di Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK). “puji Tuhan pada hari ini program dari Balai Besar TaNa Bentarum sangat sesuai dengan harapan kita, semoga masyarakat kita khususnya Dayak Iban Desa Menua Sadap dapat sejahtera” Ujar Pak Jantan Tokoh Masyarakat Dayak Iban. Kepala Balai Besar Ir. Arief Mahmud, M.Si menyampaikan bahwa dengan adanya aturan kemitraan konservasi memungkinkan masyarakat mendapatkan akses untuk memanfaatkan kawasan Taman Nasional yang diharapkan mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat di sekitar Taman Nasional dan dapat terjalin kerja sama yang baik antara Balai Besar TaNa Bentarum dengan masyarakat agar kawasan hutan Taman Nasional Betung Kerihun tetap terjaga kelestariannya. Salah satu terobosan dalam pemanfaatan hutan bagi masyarakat adalah Kegiatan Kemitraan Konservasi, kegiatan ini merupakan salah satu program pemerintah dalam membuka akses pemanfaatan hutan konservasi bersama masyarakat yang hidup di sekitar hutan. FORCLIME FC (Forest And Climate Change Financial Cooperation) sebagai salah satu mitra utama Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) yang mendukung penuh pengelolaan taman nasional merupakan lembaga di bawah Biro Perencanaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai wujud kerjasama Antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jerman dalam pengelolaan hutan. Membina sekitar 31 desa diantaranya adalah daerah penyangga kawasan TNBK dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dengan beberapa kegiatan pemberdayaan masyarakat seperti budidaya madu kelulut, budidaya rotan jernang, pemanfaatan tumbuhan pewarna alami, budidaya madu lalau, pembangunan persemaian masyarakat, budidaya tanaman holtikultura, fasilitasi pemasaran investasi hasil produk, patroli hutan berbasis masyarakat, dan kegiatan pemetaan partisipatif batas administrasi desa. Mempunyai 3 tujuan utama program untuk menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca yaitu perbaikan pengelolaan hutan secara lestari dari kerusakan (Deforestasi dan Degradasi), konservasi keanekaragaman hayati, dan peningkatan kondisi mata pencaharian masyarakat setempat. Sumber : Harri Ramadhani - Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Pelatihan Okupansi Harimau Sumatera di Sumatera Utara

Berastagi, 8 Juli 2019. Pentingnya informasi populasi harimau di Sumatera Utara, Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser didukung Proyek Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Priority Sumatran Landscape (Sumatran Tiger Project) GEF-UNDP menggelar kegiatan Pelatihan Okupansi Harimau Sumatera (ToT) Lingkup Wilayah Sumatera Utara pada tanggal 1 sampai 7 Juli 2019 di Rudang Hotel Berastagi dan Suaka Margasatwa Siranggas Kab. Pakpak Bharat. Implementasi pelatihan ini digunakan untuk pembaharuan data pola distribusi dan penggunaan ruang dalam skala pulau melalu kegiatan Sumatera-Wide Tiger Survey (SWTS). Acara ini dibuka resmi oleh Kepala Balai Besar TNGL Ir. Jefry Susyafrianto,M.M. dengan melibatkan 46 personil dari berbagai instansi/lembaga yaitu, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), Dishut Provinsi Sumatera Utara, Fahutan Universitas Sumatera Utara (USU), KPH Gunung Tua, Wildlife Conservation Society (WCS), Yayasan Satucita Lestari Indonesia (YLSI), GEF-PIU Leuser, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Nort Sumatera Hydro Energy (NSHE), Konsorsium Barumun. Hadir juga narasumber dari Forum Harimau Kita, Yayasan SINTAS Indonesia, YOSL, OIC dan WCS-IP. Pelatihan ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu, materi di dalam ruangan, praktek lapangan dan presentasi hasil kegiatan. Harapannya semua peserta paham dan mampu menyerap semua materi serta mengaplikasikanya di lapangan nantinya karena peserta akan menjadi pelaksana survey. Pada pelatihan ini disampaikan pedoman dan teknik survei okupansi harimau sumatera kepada peserta sebagai tim survey lapangan. Survey yang dilaksanakan nantinya harus menerapkan metode yang standard di lapangan dan memahami dengan baik beberapa kaidah-kaidah ilmiah dalam survei okupansi harimau. Kegiatan ini dilaksanakan dengan melibatkan UPT KSDAE di Sumatera Utara dan beberapa mitra kerjasama yang mendukung konservasi satwa liar di Wilayah Sumatera Utara, terutama di kawasan landscape kawasan konservasi di Provinsi Sumatera Utara. “Do’a dan harapan untuk mendapatkan yang terbaik bagi peserta. Peserta pelatihan agar bersungguh-sungguh dalam melaksanakan pelatihan ini, mengikuti dengan serius dan mampu menerapkan ilmu yang didapat”, pesan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dr.Ir.Hotmauli Sianturi, M.Sc, For”. Upaya Konservasi Harimau Sumatera membutuhkan informasi trend populasi dan wilayah hunian secara time series. Informasi tersebut dibutuhkan dalam penentuan skala prioritas kegiatan lapangan maupun dalam pengambilan kebijakan. Pada tahun 2007-2009, survei dalam skala pulau melalui metode okupansi sudah dilakukan pada 60% habitat harimau diokupansi seluruh Sumatera. Hingga saat ini hasil survei tersebut menjadi salah satu rujukan utama dalam penyusunan program konservasi harimau dalam skala nasional. Dalam rentang 2009 hingga saat ini, berbagai kegiatan konservasi harimau terus berjalan dengan berbagai inisiatif, baik di tingkat landscape dan kebijakan di tingkat nasional. Untuk mengetahui tingkat efektifitas kegiatan konservasi harimau maka diperlukan survei okupansi kembali pada skala pulau di tahun 2018-2019. Dalam pelaksanaannya, survei dengan skala pulau ini akan melibatkan berbagai pihak terkait baik dari UPT KLHK, lembaga non pemerintah dan swasta. Sumber : Balai Besar KSDA Sumatera Utara Praktek lapangan di SM Siranggas
Baca Berita

H -8 Jungle Trek Rimbang Baling Road to HKAN 2019

Pekanbaru, 6 Juli 2019. Naik..., turun..., lombat...., memanjat...., merunduk..., itu mah biasa klo kita ikut lintas alam.... Hayoo kawan kawan yang udah terdaftar...persiapkan fisikmu ya.... jangan sampai berhenti ditengah jalan. Karena bagi semua peserta yang sampai ke finish akan dapat medali finisher.... wuih....kereeeen bwooo....dapet medali jungle Trek Rimbang Baling..... Kapan lagi klo tidak sekarang? okey... sampai ketemu diRimbang Baling ya.... hup..hap...semangat konservasi!!!! Sumber: Balai Besar KSDA Riau #kemenlhk #hkan_2019 #tamannasional
Baca Berita

Penggiringan satwa liar Gajah yg berjumlah 11 ekor di dusun III Desa Karya Indah

Pekanbaru, 5 Juli 2019. Lokasi di Desa Karya Indah, Kec. Tapung, Kab.Kampar, Riau, Tim Balai Besar KSDA Riau dibantu beberapa warga, anggota MPA dan Babinsa desa setempat masih melakukan penggiringan kawanan gajah liar dari lokasi semak belukar yang berdekatan dengan kebun warga. Penggiringan satwa liar Gajah yg berjumlah 11 (sebelas) ekor di dusun III Desa Karya Indah dilakukan dengan menggunakan 2 Gajah jinak dari Pusat Latihan Gajah Riau di Minas. Dalam penggiringan ini dilakukan penjagaan di beberapa titik tempat lintasan, agar kawanan gajah liar tidak masuk kembali ke daerah pemukiman. Sampai saat ini tim masih terus berada di lokasi melakukan penjagaan. Sumber: Balai Besar KSDA Riau #kemenlhk #hkan_2019 #tamannasional
Baca Berita

Penyerahan Penyu Sisik dari MMP Pulau Kelapa Dua TN Kepulauan Seribu

Kelapa Dua, 6 Juli 2019. Masyarakat Pulau Kelapa Dua sekaligus anggota MMP (Masyarakat Mitra Polhut) bernama Ahmad alias Aldo, menyerahkan seekor Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) pada hari Jum’at, tanggal 5 Juli 2019 di Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah 1 Kelapa Dua Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS). Penyu Sisik diterima oleh Suwarna Polhut Balai TNKpS bersama Kepala SPTN Wilayah 1, Isai Yusidarta, ST., M.Sc. Penyerahan dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) Nomor : BA.01/T.13-SPTN1/4/2019. Sambil memberikan edukasi kepada mahasiswa magang dari Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, kami melakukan identifikasi terhadap penyu tersebut. Hasil identifikasi yang kami tuangkan dalam BAP bahwa penyu berjenis kelamin betina, umur 2 tahun, bobot 0,6 kg dengan panjang tukik 27 cm, lebar karapas 17 cm dan panjang karapas 19 cm. Berdasarkan penuturan anggota MMP tersebut bahwa penyu tersebut disita dari penduduk di Pulau Kelapa Dua dan sudah lama dipelihara dalam karamba miliknya. Berdasarkan pertimbangan tersebut, penyu kemudian diletakkan di karamba habituasi milik SPTN Wilayah 1. Ketika sudah dianggap cukup adaptasinya dengan ditandai bisa berburu ikan di karamba habituasi, akan dilepas kembali. Kepala SPTN Wilayah 1 menyampaikan apresiasi atas peran anggota MMP yang berperan aktif dalam pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa melalui penyadartahuan kepada masyarakat yang bertempat tinggal dan berhubungan langsung dengan penggunaan kawasan perairan Taman Nasional Kepulauan Seribu, khususnya Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 Kelapa Dua. Sumber : Suwarna - Polhut Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu
Baca Berita

Belajar Kondisi Lokal Untuk Transplantasi Karang Di Pulau Kaliage

Pulau Kaliage, 8 Juli 2019. Pulau Kaliage merupakan satu dari sekian pulau yang hak guna pakai-nya dimiliki oleh privat. Pemanfaatannya sebagai resort pribadi. Pemilik resort melalui manajemen pulau, memiliki keinginanan untuk membuat coral garden pada area perairan disekeliling pulau melalui transplantasi. Area perairan tersebut notabene merupakan kewenangan dari Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, yang secara tapak diwakili oleh Resort Wilayah Kelapa Dua, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 (SPTN 1) SPTN 1 menanggapi keinginan perwakilan manajemen pengelola resort Pulau Kaliage dengan melaksanakan monitoring kondisi perairan Pulau Kaliage untuk “belajar pada kondisi in-situ (lokal +)” kehidupan koral (karang) di area tersebut. Tim SPTN 1 yang terdiri dari Isai Yusidarta, ST., M.Sc., Wira Saut Perianto Simanjuntak, S.P., dan Ipang melaksankan kegiatan monitoring tersebut pada tanggal 28 Juni 2019. Monitoring difokuskan pada 2 (dua) hal yaitu 1). Menilai kondisi terkini transplantasi karang yang dilakukan tahun 2015; dan 2) Mempelajari kondisi perairan perairan Pulau Kaliage. Mengapa? Melaksanakan transplantasi tidak hanya sekedar menanam (men-transplant), dan meniru metode yang sudah umum dilakukan tanpa mempelajari kondisi lokal +, yang sangat mungkin berbeda antar titik di satu pulau. Apalagi menerapkan metoda baku yang sebenarnya merupakan hasil karya ilmiah dengan merata-ratakan kondisi perairan yang optimum. Selengkapnya : Transplantasi Karang Pulau Kaliage Sumber : Isai Yusidarta dan Wira Saut Perianto Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu

Menampilkan 5.361–5.376 dari 11.140 publikasi