Senin, 27 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Ucapan Selamat HKAN 2019 Dari Balai Besar KSDA Jawa Timur

Sidoarjo, 12 Juli 2019. Sobat Konservasi... Dalam memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2019, Balai Besar KSDA Jawa Timur membuat sebuah video ucapan dengan judul "Selamat & Sukses Hari Konservasi Alam Nasional, 10 Agustus 2019". Mari kita simak video ini. Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Kesadaran Masyarakat Meningkat BKSDA Sumsel Terima Penyerahan 3 Ekor Elang

Lahat, 10 Juli 2019. Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat ,Balai Konservasi Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) menerima penyerahan 3 ekor Elang dari perusahaan batubara PT. Pasific Global Utama di Tanjung Enim. Satwa tersebut masih dalam kondisi sehat yang diterima langsung oleh Raswandi selaku Kepala Resort Konservasi Wilayah (RKW) VII Isau-Isau. Hal tersebut menunjukkan adanya kesadaran masyarakat yang semakin meningkat untuk tidak memiliki satwa liar dilindungi dan menyerahkan kepada pihak yang terkait. Penertiban kepemilikan satwa liar dilindungi baik dalam keadaan hidup maupun mati berupa opsetan menjadi target SKW II Lahat BKSDA Sumsel. Upaya penertiban melalui patroli eksitu rutin dilakukan selain untuk menyelamatkan satwa liar dilindungi juga untuk lebih menyadartahukan masyarakat bahwa kepemilikan satwa liar dilindungi baik dalam keadaan hidup maupun mati berupa opsetan melanggar peraturan.Harapannya akan semakin meningkat kesadaran masyarakat untuk tidak memiliki satwa liar dilindungi baik dalam keadaan hidup maupun berupa opsetan. Selanjutnya 3 ekor Elang tersebut dilepasliarkan di Hutan Suaka Alam Pusat Latihan Gajah Kelompok Hutan Isau-Isau. Sumber : Wahid Nurrudin - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Masyarakat Lampung Barat Berkomitmen Mendukung Program Konservasi TN Bukit Barisan Selatan

Liwa, 10 Juli 2019. Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Ir. Wiratno, M.Sc menyaksikan penyerahan izin pemanfaatan air non komersil sebanyak 6 izin kepada masyarakat Lampung Barat, saat menghadiri Kegiatan Lokakarya Konservasi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat, di Kebun Raya Liwa pada Hari Rabu. Lokakarya Konservasi dengan mengangkat tema “Komitmen Konservasi Untuk Kesejahteraan Rakyat Dan Pembangunan Berkelanjutan” ini juga diselenggarakan dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup sedunia. Dengan paradigma baru 10 cara pengelolaan kawasan konservasi, menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama (subjek) dalam pelaksanaan program pengelolaan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Seiring dengan itu, dukungan masyarakat atas program konservasi TNBBS akan meningkat. Pemberian izin pemanfaatan air non komersil yang bersumber dari aliran sungai yang berada di kawasan TNBBS, merupakan langkah kongkrit untuk membuka akses masyarakat dalam pemanfaatan kawasan TNBBS. Sampai dengan saat ini, Balai Besar TNBBS telah menerbitkan izin pemanfaatan air sejumlah 60 izin dan izin usaha jasa wisata sejumlah 14 izin, kepada kelompok masyarakat di sekitar kawasan TNBBS. Dalam kesempatan yang sama, Bapak Dirjen secara simbolis juga menyerahkan bantuan alat pendukung wisata berupa tenda dum, matras, sleepingbag kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Jagad Endah Lestari Pekon Sukamarga Kec. Suoh Kabupaten Lampung Barat, selaku pengelola ekowisata suoh. Lokakarya Konservasi Kabupaten Lampung Barat Tahun 2019 ini menghasilkan Kesepakatan antara Direktur Jenderal KSDAE dan Bupati Lampung Barat, dengan salah satu poin penting kesepakatan yang ditandatangani kedua belah pihak adalah “Kemitraan Konservasi harus dapat membantu BBTNBBS dalam mengurangi meluasnya perambahan hutan untuk kebun kopi dan membantu melestarikan satwa liar dilindungi yang saat ini dalam kondisi sangat kritis, terutama Badak Sumatera dan Harimau Sumatera”. Sumber: Humas Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

BKSDA Sumsel Tertibkan Kepemilikan Opsetan Cendrawasih, Bangau Putih dan Beruang Madu

Lahat ,10 Juli 2019. Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat ,Balai Konservasi Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) berhasil menertibkan opsetan satwa liar dilindungi yaitu 2 opsetan Cendrawasih, 1 opsetan Bangau Putih dan 1 opsetan Beruang Madu, saat melakukan patroli eksitu di Kota Lahat. Melalui pengamatan intensif pada beberapa lokasi yang dicurigai memiliki opsetan satwa liar dilindungi yang ditindaklanjuti dengan penajaman informasi dan penyadartahuan kepada pemilik membuahkan hasil dengan berhasil ditertibkannya opsetan tersebut. Pemilik bersedia menyerahkan karena menyadari bahwa kepemilikan satwa liar dilindungi melanggar peraturan. Hal ini juga menunjukkan keberhasilan dalam upaya penyadartahuan kepada pemilik yang dilakukan oleh SKW II Lahat BKSDA Sumsel. Penertiban kepemilikan satwa liar dilindungi baik dalam keadaan hidup maupun mati berupa opsetan menjadi target SKW II Lahat BKSDA Sumsel melalui rutinitas patroli eksitu. Sebuah upaya yang dilakukan selain untuk menyelamatkan satwa liar dilindungi juga untuk lebih menyadartahukan masyarakat bahwa kepemilikan satwa liar dilindungi baik dalam keadaan hidup maupun mati berupa opsetan melanggar peraturan.Harapannya akan semakin meningkat kesadaran masyarakat untuk tidak memiliki satwa liar dilindungi baik dalam keadaan hidup maupun berupa opsetan. Sumber : Wahid Nurrudin - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Rusa Bawean “Agelejer”

Senin, 8 Juli 2019. Beberapa hari yang lalu beredar sebuah video yang menayangkan seekor Rusa Bawean tengah berada di tanah lapang bersama beberapa ekor Sapi. Video yang direkam menggunakan telepon pintar itu beredar di grup Facebook Media Bawean dengan tajuk Rusa Bebas Agelejer dan diunggah pada 8 Juli 2019. Video unggahan akun Roin Boyanarkepivop Bhei tampak terlihat gelisah dengan kehadiran perekam, namun tidak menunjukkan tanda-tanda stress. Tak berapa lama perekam bersama temannya meninggalkan rusa tersebut. Menurut pengunggahnya, ia mendapatkan video itu dari temannya sehari sebelum ia unggah. Bahkan ia tak hadir di lokasi saat perekaman rusa tersebut, namun yang pasti lokasinya dekat dengan pantai dan hutan. “Sebelumnya pernah dilepasliarkan Rusa Bawean di dekat lokasi itu,” tambah Rion. Beberapa komentar warganet di Bawean akan rekaman tersebut, mayoritas mengajak untuk menjaga rusa Bawean dari kepunhan. Seperti akun Hayyan Sr yang berujar, mari kita sama-sama menjaga kelestarian Rusa Bawean. Iapun menambahkan bahwa rusa jenis ini cantik dan langka. Pun dengan akun Abdul Rahim mengajak untuk ikut menjaga satwa endemik Rusa Bawean dari kepunahan dengan membiarkan hidup bebas. Menurut Nursyamsi, Kepala Resort Konservasi Wilayah 11 Pulau Bawean, Rusa Bawean (Axis kuhlii) terekam berjenis kelamin jantan dan masih muda. Adapun lokasinya berada di Desa Kepuh Teluk, Kecamatan Tambak. Desa ini letaknya tak berjauhan dari kawasan Suaka Margasatwa Pulau Bawean Blok Payung-Payung. “Tahun 2014, kami melepasliarkan Rusa Bawean dari penangkaran sebanyak 11 ekor di Blok Payung-payung,” ujar pria berkacamata ini. Masih menurut Nursyamsi, masyarakat sekitar kawasan Suaka Margasatwa mengetahui dan paham bahwa Rusa Bawean dilindungi undang-undang. Seperti saat seekor Rusa Bawean pernah terjerat jaring pengaman sawah / kebun Beberapa waktu yang lalu, namun oleh masyarakat dilepaskan kembali ke hutan. Beberapa kali tim RKW 11 Pulau Bawean berjumpa dengan rusa hasil pelepasliaran bersama anaknya. Ini menandakan kegiatan pelepasliaran tahun 2014 berhasil dengan telah berkembangbiaknya satwa tersebut. *Agelejer = bermain-main / Ngluyur Sumber: Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Kalung Baru si Gajah Freda

Tebo, 7 Juli 2019. Balai KSDA Jambi bersama Mitra Konservasi melakukan kegiatan pemasangan GPS Collar terhadap Gajah Sumatera yang berada di daerah penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh di Kabupaten Tebo. Yang menjadi target kegiatan ini adalah 3 ekor Gajah yang mewakili masing-masing kelompok yaitu Gajah Freda, Gajah Cinta dan Gajah Indah dari 9 kelompok yang telah teridentifikasi dan telah dipasang GPS Collar di Provinsi Jambi. Pemasangan GPS Collar ini bertujuan untuk mengganti GPS Collar yang masa aktifnya sudah hampir habis. Masyarakat Desa Semambu yang sedang melakukan aktivitas penggiringan yang bertujuan untuk menghalau Gajah agar tidak masuk dan merusak kebun mereka mempengaruhi terhadap pergerakan Gajah yang menjadi target untuk diganti GPS Collar-nya. Hingga pada tanggal 8 Juli 2019 salah satu Gajah target yaitu kelompok Gajah Freda yg berada di Desa Pemayungan Kampung Jawa diantara batas PT. ABT (Alam Bukit Tigapuluh) dan TNBT (Taman Nasional Bukit Tigapuluh) berhasil diganti GPS Collarnya. Sampai pada saat ini tim masih berada di lapangan untuk melakukan penggantian GPS Collar pada target selanjutnya yaitu Cinta dan Indah. Sumber : Balai KSDA Jambi
Baca Berita

Bersama Kelola Hutan

Glenmore, 10 Juli 2019. Bertempat di Perkebunan Lonsum Treblasala Glenmore pada 9 Juli 2019 telah dilaksanakan FGD tripartit antara Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti), BBKSDA Jawa Timur dan PT. Lonsum Treblasala. Acara ini dihadiri langsung oleh Manager Lonsum Andi La Tenri, Kepala SPTNW III Kalibaru TN MerBeti Sulistrianto, S.Si., M.Si., Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Banyuwangi BBKSDA Jatim Sumpena, Bidang KSDA Jember serta Kepala Resort Konservasi Wilayah (RKW) 14 BBKSDA Banyuwangi Vivi Primayanti beserta para Astan dan staf ketiga unsur. Pertemuan ini bertujuan untuk menyelaraskan persepsi perkebunan dengan Balai TN MerBeti dan BBKSDA Jatim. Hasil pertemuan disepakati beberapa hal yaitu: Dengan adanya penyelarasan persepsi diharapkan hutan tetap lestari, habitat satwa terlindungi, konflik manusia dan satwa liar teratasi dan masyawarakat sejahtera. Sumber: Balai TN Meru Betiri
Baca Berita

Kunjungan Dirjen KSDAE ke TN Bukit Barisan Selatan Tingkatkan Semangat Kerja Petugas

Liwa, 10 Juli 2019. Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Ir. Wiratno, M.Sc mengunjungi Bumi Perkemahan Kubuperahu Resort Balik Bukit SPTN III Krui BPTN II Liwa Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Rabu 10 Juli 2019. Dirjen KSDAE memberikan dukungan moril kepada petugas TNBBS dalam menjalankan tugasnya. “Sekecil apapun usaha dan upaya yang kita lakukan untuk menjaga kawasan hutan dan kehidupan satwa di dalamnya, tidak ternilai harganya”, ujar Wiratno. Beberapa hari yang lalu, dikabarkan di kawasan TNBBS 1 ekor Harimau Sumatera terluka akibat terkena jerat satwa yang dipasang oleh pelaku perburuan liar. Harimau tersebut kini telah dievakuasi dan mendapatkan perawatan medis di Lembaga Konservasi Lembah Hijau Bandar Lampung. Wiratno telah mendengar langsung dari petugas Tim Evakuasi terkait proses evakuasi, kemudian menginstruksikan kepada seluruh jajaran Balai Besar TNBBS untuk tidak lengah dalam menjaga dan melindungi satwa-satwa kunci TNBBS yaitu Harimau Sumatera; Badak Sumatera dan Gajah Sumatera, dan terus menerus melakukan patroli pengamanan kawasan hutan. Kunjungan Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc ke TNBBS merupakan rangkaian kegiatan Lokakarya Konservasi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Barat. Dirjen KSDAE diundang oleh Bupati Lampung Barat sebagai Keynote Speaker pada kegiatan Lokakarya ini. Pada kesempatan yang sama, Bapak Dirjen mensosialisasikan Perdirjen KSDAE Nomor P.6/KSDAE/SET/Kum.1/6/2018, tentang Petunjuk Teknis Kemitraan Konservasi Pada Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam pada peserta Lokakarya. Sumber: Humas Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan
Baca Berita

Balai TN Meru Betiri Raih Penghargaan IKPA dari KPPN Jember

Jember, 9 Juli 2019. Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) meraih penghargaan dari KPPN Jember sebagai juara III IKPA (Indikator Kinerja Pengelolaan Anggaran) Semester I Tahun 2019 yang diserahkan langsung oleh Kepala Kantor KPPN Jember, dalam kegiatan FGD (Focus Group Discussion) Penyusunan Laporan Keuangan Semester I 2019 serta pendalaman materi kartu kredit pemerintah. Penghargaan ini diterima oleh 9 satker terbaik dalam 3 kategori dari 70 satker lingkup KPPN Jember. Parameter penilaiannya yaitu berdasarkan realisasi anggaran, ketepatan penyampaian data kontrak, pengelolaan dana UP dan TUP, ketepatan penyampaian SPM, sedikitnya berkas SPM yang ditolak dan ketepatan penyampaian LPJ (Laporan Bendahara). Kepala Balai yang diwakili Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TN MerBeti, Ir. Khairun Nisa’ menerima penghargaan dalam kategori pagu UP di atas Rp 2.4 milyar – Rp 6 milyar. Hal ini diraih karena dianggap mampu mengelola anggaran dengan baik. “Selamat dan sukses untuk tim keuangan dan teman-teman yang sudah mendukung. Satu langkah success story kita. Mari Kita Tingkatkan spirit kinerja kita untuk TN MerBeti yang lebih baik.” Ungkap Maman Surahman, S.Hut, M.Si saat dikonfirmasi terkait penerimaan penghargaan tersebut. Sumber: Balai TN Meru Betiri
Baca Berita

Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu Tarik Minat Mahasiswa

Putussibau, 10 Juli 2019. Sejak 25 Juli 2018 lalu di sidang ke-30 International Coordinating Council (ICC) Man dan Biosphere (MAB) UNESCO di Palembang, Pemerintah Indonesia telah secara resmi mencalonkan Kapuas Hulu sebagai Cagar Biosfer UNESCO baru pada . Penetapan menjadi cagar biosfer memberikan energi baru dalam pengembangan cagar biosfer yang ada. Cagar biosfer merupakan ekosistem dengan tumbuhan dan hewan yang memiliki minat ilmiah dan alami yang tidak biasa. Ini adalah label yang diberikan oleh UNESCO untuk membantu melindungi situs dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan di kawasan ini. Cagar biosfer diharapkan untuk mempromosikan manajemen, penelitian dan pendidikan dalam konservasi ekosistem, termasuk “pemanfaatan sumber daya alam berkelanjutan”. Penetapan cagar biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu (BKDSKH) memberikan dampak positif bagi setiap kalangan. Berawal dari pembuatan logo yang sangat menarik antusias masyarakat local dengan hadiah yang menggiurkan hingga antusias Penulis Buku, Mahasiswa maupun Peneliti yang berkunjung tanpa henti dalam kegiatan Permintaan Data, Magang / Praktek Kerja Lapangan dan Penelitian di Kawasan Cagar Biosfer Kapuas Hulu yang semakin meningkat. Kunjungan mahasiswa bervariasi, mulai dari mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM), mahasiswa Tanjungpura (UNTAN), Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Brawijaya (UB) yang sedang berlansung hingga sekarang. Setiap Universitas mengirimkan mahasiswa sebanyak 5- 19 mahasiswa yang telah dibagi tugas masing-masing sesuai kebutuhan dan akan didampingi oleh petugas-petugas teknis dan wilayah PTN. Kepala Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) Ir. Arief Mahmud, M.Si menyambut dan siap mendukung setiap keperluan dan kebutuhan para pengunjung baik dalam penelitian maupun wisata dikawasan CB, Selagi dapat memberikan feedback positip dan juga dapat mempromosikan kekayaan alam yang dimiliki oleh Cagar Biosfer BKDSKH Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Survey Sosek Ke Desa Lubuk Kembang Bunga

Lubuk Kembang Bunga, 6 Juli 2019 – Petugas Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) melaksanakan kegiatan survey sosial ekonomi kepada kelompok masyarakat di Desa Lubuk Kembang Bunga. Kegiatan ini dilaksanakan untuk pengumpulan data sosial dan ekonomi masyarakat khususnya masyarakat yang selama ini berkegiatan dan memanfaatkan zona tradisional TN. Tesso Nilo. Empat tim petugas turun langsung ke rumah-rumah masyarakat untuk melakukan survey. Tim ini terdiri dari tim sosial ekonomi kelompok nelayan, kelompok madu, kelompok pemanfaatan tanaman tradisional, dan Kelompok tanaman obat. Tim mengumpulkan data dengan wawancara langsung ke rumah masyarakat dan juga melakukan pertemuan dan diskusi dengan kelompok-kelompok masyarakat. Berbagai informasi diperoleh petugas sepanjang kegiatan, diantaranya sudah ada 3 kelompok nelayan diantaranya Kelompok Sungai Sawan, Kelompok Rantau Bonal dan Kelompok PU Mandiri dari Desa LKB, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan yang di bentuk oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Pelalawan. Kelompok tersebut berharap agar nantinya agar dapat bekerja sama lebih lanjut dengan pihak TN. Tesso Nilo. Dalam kegiatan survey sosek ini, kelompok masyarakat sangat antusias dan menerima kebijakan dari Balai TN. Tesso Nilo terkait pembentukan Kelompok-kelompok pemanfaatan zona tradisional. Kelompok-kelompok masyarakat tersebut berharap dapat bersama-sama dengan TN. Tesso Nilo untuk memperoleh pendampingan dan menghadirkan program-program dan kegiatan yang bermanfaat bagi perkembangan kelompok pemanfaat zona tradisional di kawasan TN. Tesso Nilo. Kepala Balai TN. Tesso Nilo, Bapak Ir. Halasan Tulus mendukung penuh kegiatan ini dan menyatakan, “Kebijakan pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem berupa ‘Kemitraan Konservasi’ merupakan solusi akses kelola kawasan konservasi, termasuk di Taman Nasional Tesso Nilo, yang memperhatikan aspirasi masyarakat. Oleh karena itu, Balai Taman Nasional Tesso Nilo sangat serius mendorong program ini agar berhasil dengan baik melalui komunikasi aktif bersama masyarakat”,terang Kabalai TN. Tesso Nilo. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Berita

Pelepasliaran Lima Individu Orangutan

Sintang, 9 Juli 2019. Sobat BKSDA-KALBAR, Menjadi suatu kepuasan tersendiri bagi kita semua bisa mengembalikan orangutan ke habitatnya. Setelah melalui perjuangan dan proses yang panjang, Balai KSDA Kalimantan Barat dan Yayasan IAR melepasliarkan 5 ekor satwa tersebut ke rimba Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Sumber: Balai KSDA kalimantan Barat
Baca Berita

Tana Bentarum Mendorong Pendidikan Konservasi Alam Kaum Milenial

Selasa, 9 Juli 2019. Dalam Rangka Hari Konservasi Alam Nasional tahun 2019 dan penerapan Cagar Biosfer Betung Kerihun Danau Sentarum Kapuas Hulu, Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) melakukan kegiatan Pendidikan Konservasi Alam khusus kaum Milenial. Kegiatan tersebut dilaksanakan di SMA Negeri I Embaloh Hulu dengan melibatkan 137 siswa bersamaan dengan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah bagi siswa baru. Penanaman jiwa konservasi alam dan lingkungan bagi kaum milenial atau generasi muda masa kini bertujuan memberikan pemahaman pentingnya hutan bagi beraneka ragam jenis tumbuhan, dari yang kecil hingga yang berukuran “raksasa”, dari berbentuk semak hingga pohon besar serta dari yang sudah banyak di ketahui hingga tumbuhan yang sangat langka, variasi bentuk, ukuran, penampakan dan sifat lainnya yang disebut dengan keanekaragaman (biodiversity). Narasumber dalam kegiatan tersebut yaitu Kak Mustar selaku Pamong Saka Gerakan Pramuka Wanabakti Cabang Kapuas Hulu. Pada kesempatan tersebut Kak Mustar memberikan bekal ilmu pengetahuan tentang pentingnya melestarikan lingkungan. “Berkurangnya keanekaragman hayati atau punahnya salah satu spesies penyusun ekosistem dapat meyebabkan gangguan terhadap kehidupan dalam ekosistem tersebut”, pungkas Kak Mustar. Kepunahan satu spesies dengan sendirinya akan mengurangi keanekaragaman hayati yang ada di alam. Selanjutnya Kak Mustar juga menjelaskan faktor penyebab berkurangnya keanekaragaman hayati adalah bencana alam dan ulah manusia seperti pembakaran hutan, penebangan kayu yang berlebihan, pembukaan lahan serta pencemaran lingkungan. Mengapa kaum milenial perlu belajar konservasi alam karena pentingnya bersama-sama menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan mewariskan keanekaragaman hayati itu untuk anak cucu kita. Serta Untuk menjaga keseimbangan ekosistem sehingga terlaksananya lingkungan hutan yang lestari. Sumber: Mustarrudin - Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

BBKSDA Papua Barat Evakuasi Satwa Cantik dan Mahal di Tempat Hiburan Malam

Sorong, 10 Juli 2019. Menindaklanjuti temuan 30 satwa liar oleh Penyidik Krimsus Polda Papua Barat, Balai Besar KSDA Papua Barat bersama Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Sorong melakukan evakuasi satwa liar yang dipelihara tanpa izin di areal tempat hiburan malam (THM) Double O di jalan Sungai Maruni, Kota Sorong, Papua Barat Selasa (9/7). Beberapa jenis satwa liar yang dievakuasi merupakan satwa dilindungi endemik Papua Barat dan Maluku serta puluhan jenis satwa import yang berasal dari beberapa negara di Afrika dan Amerika. Petugas Polisi Kehutanan dan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat dibantu Petugas dari Stasiun Karantina Kelas I Pertanian Sorong dan Dokter hewan dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kota Sorong mulai mendatangi TKP, satu persatu satwa yang dipelihara dalam sangkar ditangkap petugas, diperiksa kesehatannya lalu dimasukan kedalam sangkar khusus yang disediakan petugas. Satwa dilindungi yang dievakuasi diantaranya 2 (dua) ekor Kakatua Koki (Cacatua Galerita); 2(dua) ekor Kakatua Raja (Probosciger aterrimus); 2 (dua) ekor Nuri Kabare (Psittrichas fulgidus); 1(satu) ekor Mambruk Ubiiat (Goura cristata); 1(satu) ekor Kakatua Jambul Kuning (Cacatua sulphurea); 1(satu) ekor anakan Rusa Timor (Rusa timorensis) dan ; 2(dua) ekor Biawak (Varanus Slavadori). Adapun satwa import berupa 2(dua) ekor Makaw Skarlet (Ara Macao); 1(satu) ekor Betet Kelapa Paruh Besar (Tanygnathus megalorynchos); 4 (empat) ekor Iguana; 2 (dua) ekor Kucing Anggora; 2 (dua) ekor Kucing Karakal (Carakal caracal); dan 8 (delapan) ekor Monyet Mini yang diduga berasal dari Amerika tidak ikut dievakuasi dan saat ini masih berada di TKP. Tutut Herry Wibowo Kepala Bidang Teknis KSDA Papua Barat menjelaskan bahwa satwa yang diamankan tersebut akan dititipkan sementara di Lembaga Konservasi Taman Burung yang terletak di Kota Baru Aimas, Kabupaten Sorong. “Kalau di kami, untuk satwa yang dilindungi tentu saja apabila sudah layak secara kesehatan dan secara perilaku sudah siap dilepas, pasti kita lepas liarkan. Untuk kakatua jambul kuning dan kakatua raja itu kan habitatnya di Papua ini saja, artinya kalau sudah siap segera kita lepas.” tegas beliau. Beberapa satwa yang berasal dari luar negeri seperti kucing karakal dari afrika dan monyet mini dari amerika latin akan diperiksa lagi untuk memastikan bahwa satwa-satwa ini tidak tertular rabies dari negara asalnya. Untuk nasib hewan import tersebut kemungkinan besar akan dimusnahkan atau diserahkan ke kebun binatang di luar Papua Barat tergantung dari kondisi kesehatannya. Sumber : Balai Besar KSDA Papua Barat
Baca Berita

Kekayaan Karst Betung Kerihun Menggoda Tim Lawalata IPB

Putussibau, 10 Juli 2019. Beragam potensi karst di Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) telah menarik minat Mahasiswa Pecinta Alam LAWALATA IPB untuk melaksanakan Ekspedisi Lentera Putussibau. Sedikitnya 15 anggota tim akan bergerak menelusuri goa-goa yang ada di dalam kawasan mulai 12 s.d. 28 Juli 2019, setelah sebelumnya memaparkan rencana pelaksanaan ekspedisi di Kantor Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum). Tim akan menggali peran karst sebagai ekosistem penting di TNBK dengan kajian identifikasi persebaran gua, identifikasi lorong dan pemetaan gua, inventarisasi biota gua, dan pengukuran debit air. Mereka juga akan menginventarisir tumbuhan hutan sekitar gua, serta sosial budaya masyarakat. Seluruh data yang akan dihimpun dapat memperkaya data gua yang telah terdokumentasikan di Tana Bentarum, baik melalui ekspedisi sebelumnya maupun melalui kegiatan mandiri lapangan. Bahkan dapat menjadi data baru, mengingat terdapat lebih dari 50 gua di dalam kawasan, yang sebagian besar belum tergali detail datanya. Tana Bentarum mendukung penuh kegiatan ekspedisi ini. Tim ekspedisi akan didampingi petugas lapangan dan tim ahli. Dalam arahannya Kepala Balai Besar, Ir. Arief Mahmud, M.Si, menekankan agar kegiatan ini dapat dilaksanakan sebaik mungkin dan dijadikan pembelajaran bersama tidak hanya bagi tim ekspedisi tapi juga bagi pendamping dan pengelola kawasan. Sehingga output dapat semakin meningkatkan implementasi Cara Baru Kelola Kawasan Konservasi melalui pembelajaran di lapangan. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Kelam Tourism Festival

Sintang, 8 Juli 2019. secara resmi event tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang telah dibuka. Kelam Tourism Festival diselenggarakan untuk mensosialisasikan keberadaan budaya, pariwisata, hasil industri, perdagangan serta peluang investasi di Kabupaten Sintang. TWA Gunung Kelam berperan sebagai ikon sehingga diharapkan bisa menjadi pintu gerbang suksesnya sektor pariwisata dan sektor lainnya di Kabupaten Sintang yang dapat meningkatkan perekonomian serta taraf hidup masyarakatnya. Kelam Tourism Festival diselenggarakan selama satu minggu, yakni dari 8 s/d 14 Juli 2019, diisi dengan rangkaian acara, diantaranya Gawai Dayak Kabupaten Sintang, Pagelaran Seni Budaya, Fun Climbing, Bike to Kelam, Bisnis Forum dan acara pendukung lainnya. Ayo kunjungi Kelam Tourism Festival dan nikmati kemegahan Gunung Kelam.Work Fun, Stay Productive Sumber: Balai KSDA Kalimantan Barat #KSDAE #bksdakalbar #klhk

Menampilkan 5.345–5.360 dari 11.140 publikasi