Senin, 27 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Balai KSDA Sumatera Selatan Terima Penyerahan 1 Ekor Lutung Simpai

Palembang, 18 Juli 2019. Balai KSDA Sumatera Selatan tak pernah berhenti menerima penyerahan satwa dilindungi, bukti terbaru pada tanggal 18 Juli 2019 silam di kantor Balai KSDA Sumatera Selatan menerima penyerahan 1 (satu) ekor satwa dilindungi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018 yakni lutung simpai (Presbytis melalophos). Satwa tersebut pada awalnya ditemukan di pinggir jalan oleh salah satu warga di Kota Palembang, kemudian diserahkan ke kantor Seksi III Balai Penegakan Hukum Wilayah Sumatera, selanjutnya pada hari itu juga oleh salah satu Polhut Seksi III Balai Penegakan Hukum Wilayah Sumatera Saeful Nur Hayat,S.Hut menyerahkan di kantor Balai KSDA Sumatera Selatan. Pada saat diserahkan, lutung simpai dalam kondisi sehat dan aktif. Lutung simpai yang masih berumur anakan tersebut selanjutkan dilakukan pemeliharaan sementara di Resort Punti Kayu sebelum siap untuk dilepasliarkan. Mari kita semakin peduli akan satwa liar dilindungi! Sumber : Agnes Indra Mahanani - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Belajar Pelestarian Penyu di SPTN Wilayah I Pulau Kelapa Dua, Taman Nasional Kepulauan Seribu

Kelapa Dua, 20 Juli 2019. Salah satu tempat yang menjadi sarana perawatan pelestarian penyu yaitu pulau Kelapa Dua Seksi Pengelolaan Taman Nasional (STPN) I Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Terdapat dua jenis penyu yang dilestarikan yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricate) dan penyu hijau (Chelonia mydas). Penyu dan tukik diletakkan dalam ruangan yang berukuran sekitar 8 x 8 m beratapkan multiroof dengan pintu selebar 2 meter terbuat dari kayu ini sering dikunjungi wisatawan saat weekend. Jendela bertralis dengan ukuran 3 x 1.5 m menjadi sumber penerangan saat siang hari. Tukik dan penyu diletakkan dalam beberapa bak yang terbuat dari semen berlapiskan keramik dan beberapa bak kecil yang terbuat dari plastik. Total bak yang terdapat di pulau Kelapa Dua sebanyak 9 bak terdiri dari dua bak besar berukuran 2.5 x 2.5 m dan tujuh bak kecil berukuran 1.3 x 1.5 meter. Tukik yang dipelihara berusia mulai dari beberapa minggu sampai berusia 8 tahun. Penyu Sisik diberi pakan selar kuning sebanyak dua kali sehari saat pagi dan sore hari, dalam sekali pemberian pakan total menghabiskan sekitar tiga kilogram. Tukik diberi pakan cacahan ikan selar atau fillet selar dalam ukuran yang kecil sedangkan penyu yang dewasa diberi selar kuning yang sudah dibersihkan. Tukik yang baru beberapa minggu menetas belum diberi pakan ditandai dengan ari-arinya yang masih basah. Menurut salah satu pegawai TNKS, total ikan selar yang diperlukan dalam satu bulan sekitar 100 kilogram. Namun, alga menjadi makanan utama penyu hijau sedangkan penyu sisik mampu memakan karang (coral) saat di alam. Pagi hari bak dibersihkan dari sisa kotoran penyu dan pakan. Kemudian diberi pakan sesuai dengan umur dan bukaan mulut. Kebersihan tukik menjadi faktor penentu keberlangsungan hidup tukik. Bak yang kotor dapat menyebabkan penyu berjamur dan mengakibatkan kematian bagi penyu. Jamur ini biasanya menyerang bagian mata dengan tanda bintik berwarna putih. Penyebab tukik berjamur selain kebersihan air yaitu sisa pakan yang menempel di punggung tukik atau duri ikan yang menancap di mata. Langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah kematian tukik yaitu memisahkan tukik yang terinfeksi jamur dan merendamnya dalam air yang sudah diberi beberapa tetes larutan methylene blue selama satu sampai dua malam kemudian dibilas dengan air dan dimasukkan ke bak yang sesuai dengan umur. ­­­ Selengkapnya klik link sbb : Belajar Pelestarian Penyu Sumber : Amanah Zakiah dan Isai Yusidarta - Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu
Baca Berita

Si Cantik Mekar Sempurna di Tanah Krayan

Malinau, 19 Juli 2019. Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) menggiatkan kembali monitoring Rafflesia sejak tahun 2018 hingga sekarang sebagai bagian dari program pengeloaan keanekaragaman hayati (kehati) di kawasan TNKM dengan menetapkan 8 plot monitoring di lokasi Buduk Tumu, Pa Api dan Tang Paye. Faktanya, waktu mekar tidak bisa diprediksi. Dibutuhkan waktu dan kesabaran untuk melihat Si Cantik dari Tanah Krayan ini mekar. Cahaya matahari, kelembaban, dan faktor lainnya menjadi penentu mekarnya. Upaya monitoring selama 2 tahun membuahkan hasil, pada tahun 2019 ini tim monitoring mendapati Si Cantik Rafflesia pricei mekar sempurna di 2 (dua) plot di lokasi Tang Paye walau tak berlangsung lama (4-5 hari). Selebihnya, ditemukan 8 (delapan) inang, 13 (tiga belas) kopula hidup, 40 (empat puluh) knop hidup, 3 (tiga) perigon hidup, serta 2 (dua) antesis. Hasil kegiatan monitoring kali ini menguatkan kesimpulan bahwa Si Cantik ditanah Krayan mulai mekar sekitar bulan Juli. Monitoring Rafflesia pricei ini merupakan bagian dari konsep pengelolaan kolaboratif Balai TNKM dengan melibatkan Tenaga Pengaman Hutan Lainnya (TPHL) yang direkrut dari masyarakat adat setempat di penyangga kawasan TN. Kayan Mentarang. Rafflesia pricei salah satu flora unik dan langka yang terdapat di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM). Pertama kali diketahui keberadaannya pada tahun 2003 di wilayah Pa’ Raye, Krayan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Long Bawan Balai TNKM saat kegiatan penelitian Joint Expedition Indonesia-Malaysia. Kemudian tahun 2007, Balai TNKM melakukan inventarisasi kembali di lokasi yang sama. Tahun 2012, kegiatan patroli yang dilakukan Balai TNKM secara tidak sengaja menemukan beberapa tumbuhan dengan bulatan keras seukuran bola ping-pong di lokasi Buduk Tumu dan Pa Api yang terindikasi merupakan Kopula dari Rafflesia. Kemudian tahun 2017 dalam kegiatan serupa juga menemukan Rafflesia pricei di lokasi Tang Paye yang letaknya berbatasan dengan Negara Malaysia. Sumber : Balai Taman Nasional Kayan Mentarang Artikel & dokumentasi by : Tim Monitoring Raflesia SPTN I Long Bawan
Baca Berita

Pemancing Selamatkan Bekantan yang Tertabrak Motor

Kusan, 19 Juli 2019 - Seorang warga menemukan seekor Bekantan di jalan poros 30 Batulicin dalam keadaan lemah, Rabu(17/7) sore. "Ketika mau pergi memancing, saya tiba-tiba melihat Bekantan tergeletak di jalan. Kondisinya lemah. Mungkin tertabrak motor," kata warga tersebut. Ia berinisiatif untuk menolong primata yang dilindungi ini. Kera berhidung mncung ini kemudia dibawa ke kantor Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kusan UPT Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan Kepala KPH Kusan , Syafriani melihat keadaan Bekantan yang terluka di bagian tangan. Setelah menunggu beberapa saat, ia menghubungi dan menyerahkan satwa itu ke Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah III Batulicin BKSDA Kalsel. "Bekantan ini akan dirawat dan dikarantina, untuk selanjutnya dilepasliarkan ke habitatnya," kata Syahriani. Sumber : KPH Kusan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan
Baca Berita

Harimau di Padang Lawas Masuk Perangkap

Padang Lawas, 17 Juli 2019. Hari ini (16 Juli 2019), setelah 2 bulan berlalu pencarian Harimau Sumatera yang meresahkan warga di beberapa desa Kabupaten Padang Lawas masuk kandang jebak. Upaya panjang Tim Satgas Penanggulangan Konflik meliputi Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Pemda Palas, Koramil 007 Sosopan, Polsek Sosopan, Kepala Desa Setempat dengan dibantu masyarakat dalam pencarian/penelusuran harimau sumatera akhirnya membuahkan hasil ketika satwa yang berkeliaran ini telah masuk perangkap yang dipasang dengan umpan kambing di Desa Hutabargot Padang Lawas. Harimau Sumatera yang masuk perangkap di Desa Hutabargot Padang Lawas Sebelumnya telah terjadi konflik berupa gangguan Harimau Sumatera di 3 desa yang relatif berdekatan. Konflik pertama, diawali pada 13 Maret 2019 Desa Pagarambira Julu, Kecamatan Sosopan, Kabupaten Padanglawas harimau berkeliaran di areal kebun dan memangsa ternak kambing peliharaan warga. Kemudian di Desa Siraisan, Kecamatan Ulu Barumun, pada tanggal 16 Mei 2019, memakan korban tewasnya seorang warga, Abu Sali Hasibuan, 61 tahun, petani, dalam kondisi yang mengenaskan. 10 hari berselang, tepatnya tanggal 26 Mei 2019, peristiwa kedua terjadi di Desa Pagaran Bira Jae, Kecamatan Sosopan, dimana Harimau Sumatera kembali melakukan penyerangan yang mengakibatkan seorang warga, Faisal Hendri Hasibuan, 40, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Dinas Pertanian Padang Lawas, menderita luka-luka disekujur tubuhnya. Kemunculan terakhir 10 Juli 2019, harimau sumatera kembali memasuki Desa Hutabargot Padang Lawas dan memangsa monyet peliharaan warga. Tim BBKSDA Sumut siaga, tanggal 12 Juli 2019 tim langsung menuju lokasi dan menambah pemasangan kamera trap lebih banyak lagi dan mengaktifkan kembali 2 kandang jebak dengan umpan kambing. Selama terjadi konflik masyarakat dengan harimau sumatera, Tim Satgas didukung oleh Pemda Padang Lawas. Dipimpin oleh Bupati, Pemda Padang Lawas mendukung kerja Tim dan aktif menanggulangi konflik. Dalam kondisi konflik ini Pemda Padang Lawas menetapkan sebagai Bencana Daerah dan melalui BPPD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Padang Lawas mendukung pembiayaan Tim Satgas dan memberi bantuan beras kepada masyarakat di desa terdampak, mengingat masyarakat tidak berani turun ke ladang/kebun mereka. Selasa dini hari 16 Juli 2019, harimau masuk kandang perangkap, setelah memakan ayam peliharaan warga. Tim melakukan penyisiran dan menemukan Harimau Sumatera sudah masuk kandang perangkap. Harimau Sumatera dievakuasi menuju Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dhalmasraya Sumatera Barat. Kondisi harimau, luka pada bagian kaki kanan akibat terkena jerat. Hal ini diduga menyebabkan Harimau Sumatera mendekati/masuk ke perkampungan, karena kesulitan berburu mangsa. Evakuasi Harimau Sumatera yang tertangkap “Melihat kondisi harimau yang terluka pada kaki kanan depan karena terkena jerat, maka harimau kesulitan berburu mangsa di habitatnya. Kami menghimbau kepada masyarakat untuk tidak lagi memasang jerat di hutan. Kalau tidak, resikonya ya seperti ini, harimau akan mendekati bahkan masuk perkampungan untuk mencari makan. Kita berharap tidak terjadi lagi konflik harimau di Padang Lawas” himbau Kepala Balai Besar KSDA Sumut, Dr. Ir. Hotmauli Sianturi, M.Sc, For Apresiasi BBKSDA Sumut kepada semua pihak : Pemda Padang Lawas, BPPD Padang Lawas, TNI, Polri, Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya Sumatera Barat, mitra kerja BBKSDA Sumut (WCS-IP, GEF-UNDP Tiger Project dll), masyarakat yang telah membantu upaya penyelesain konflik harimau sumatera di Padang Lawas, harapannya tidak ada lagi konflik satwa liar di Padang Lawas. Sumber : Darmawan - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Berita

Road to HBA, KAJARI Bontang Menanam di TN Kutai

Bontang, 18 Juli 2019. Dalam rangkaian menyambut Hari Bakti Adhyaksa (HBA) ke-59 pada tanggal 22 Juli mendatang, Kejaksaan Negeri (Kajari) Bontang melaksanakan beberapa kegiatan dengan tema “Bontang Peduli Lingkungan Bersama Adhyaksa”. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan adalah dengan melakukan penanaman pohon di Bontang Mangrove Park Taman Nasional Kutai. Jumlah pohon yang ditanam berjumlah 59 bibit sesuai dengan umur Adhyaksa yaitu 59 tahun. Adapun jenis bibit yang ditanam antara lain Ulin, Durian, Jambu, Rambutan dan Sirsak. Hadir dalam acara tersebut Wali Kota Bontang, Wakil Walikota Bontang, Ketua DPRD Kota Bontang, Ketua TP-PKK Bontang, pimpinan dan perwakilan unsur Forkopimda, Kepala OPD Pemkot Bontang dan lurah, perwakilan direksi perusahaan di Kota Bontang dan pegawai Balai TN Kutai. Kajari Bontang, Agus Kurniawan menyatakan kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan menyambut HBA ke-59. Tema kepedulian lingkungan dengan melakukan penanaman pohon untuk mengantisipasi terjadinya bencana karena mengingat beberapa waktu kemarin Bontang dilanda banjir. Walikota Bontang, Dr. Hj. Neni Moerniaeni, Sp.Og., dalam sambutannya menyatakan kegiatan penanaman pohon merupakan komitmen seluruh pihak, karena dalam Paris Agreement menyebut seluruh dunia harus berkomitmen terhadap penurunan emisi gas rumah kaca. Lanjutnya, Kota Bontang yang dikelilingi oleh perusahaan –perusahaan besar tentu memiliki komitmen yang sangat besar untuk bersama memikirkan kelestarian lingkungan yang dibuktikan oleh kegiatan penanaman pohon. Beliau pun menghimbau kepada seluruh pihak agar pohon yang ditanam selalu dirawat bukan hanya sebatas seremoni. Jayalah Adhyaksa... Jayalah Indonesia... Sumber: Balai TN Kutai
Baca Berita

Serigala Hutan, Sang Pemburu Pintar dari SM Isau-Isau

Lahat, 19 Juli 2019. Serigala Hutan merupakan julukan dari masyarakat lokal untuk Anjing Hutan Sumatra (Cuon alpinus). Indonesia memiliki dua subspecies Anjing Hutan yaitu Anjing Hutan Jawa dan Anjing Hutan Sumatra yang memiliki tipe habitat berbeda. Subspesies dari Jawa tinggal di daerah dataran rendah bahkan savana namun pada subspecies dari Sumatra tinggal di daerah dataran tinggi dalam lebatnya hutan hujan tropis. Anjing Hutan merupakan hewan yang sangat cerdas dan hidup dalam kelompok serta memiliki hirarki. Mereka akan berburu mangsa secara berkelompok dengan menggunakan strategi dan senyap. Keunikan dari Anjing Hutan Sumatra adalah mereka memiliki bulu yang berwarna coklat kemerahan dengan warna keputihan pada bagian dada dan warna hitam pada ujung pangkal ekor serta memiliki bulu yang mengembang. Suara Anjing Hutan sangatlah berbeda karena gonggongan Anjing Hutan terdengar melengking tinggi. Penemuan Serigala Hutan ini merupakan hal yang sangat menggembirakan karena menambah jenis predator baru yang pertama kalinya terdokumentasi hidup dan beraktivitas dalam kawasan SM Isau-Isau setelah terekamnya aktivitas Macan Dahan sebelumnya yang merupakan predator utama. Hal ini menandakan sangat pentingnya keberadaan SM Isau-Isau bagi kehidupan satwa langka sehingga sudah sepantasnya kawasan konservasi ini mendapat perhatian yang lebih. Sumber : Pungky Nanda Pratama - Kader Konservasi BKSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Sungai Rutas Calon KEE Baru Dengan Populasi Bekantan Capai 200 Ekor

Rantau, 18 Juli 2019 - Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan melalui Seksi Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, bersama KPH Hulu Sungai telah melakukan survei terhadap habitat dan populasi Bekantan di Desa Sungai Rutas, Kecamatan Candi Laras Selatan, Kabupaten Tapin, Selasa (16/7). Kegiatan tersebut didampingi oleh kepala desa dan warga, serta mahasiswa yang melakukan kuliah kerja nyata (KKN). Berdasarkan hasil survei lapangan, terdapat 4 koloni Bekantan di Sungai Rutas, sepanjang 6 kilometer. Menurut informasi Kades Sungai Rutas, Hakim masih terdapat beberapa koloni lagi yang biasa muncul di dekat kampung. Jumlah keseluruhan primata berhidung mancung ini diperkirakan 200 ekor lebih. Di sepanjang Sungai Rutas banyak terdapat pakan alami hewan endemik ini. Seperti pucuk kalakai. Tetapi, saat ini tempat perlindungannya, seperti pohon - pohon besar sangat jarang ditemui. Hakim bercerita, pada tahun 2015 terjadi kebakaran hutan dan lahan di kawasan itu. Banyak Bekantan yang mati. Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq mengungkapkan, di kawasan ini direncanakan dilakukan penanaman pohon kembali dengan jenis pohon jingah dan pohon panggang. Selanjutnya, diwacanakan sebagai Kawasan Ekosistem Esensial (KKE). Sumber : Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan
Baca Berita

Lagi, 1 Ekor Kukang Diserahkan Masyarakat ke BKSDA Sumsel

Lahat ,18 Juli 2019. Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat ,Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) kembali menerima penyerahan 1 ekor Kukang (Nycticebus coucang) oleh masyarakat di Kota Lahat. Satwa tersebut masih dalam kondisi sehat yang diterima langsung oleh petugas SKW II Lahat. Penyerahan satwa dilindungi tersebut merupakan inisiatif dari pemilik yang langsung menghubungi petugas untuk menyerahkan kukang karena menyadari bahwa kepemilikan satwa dilindungi tidak diperbolehkan. Petugas SKW II Lahat merasa bersyukur karena segala upaya yang rutin dilakukan untuk menyadartahukan kepada masyarakat tentang kepemilikan satwa dilindungi menunjukkan capaian hasil yaitu kesadaran masyarakat untuk tidak memiliki satwa dilindungi dan menyerahkan kepada pihak yang terkait semakin baik. Selanjutnya Kukang tersebut akan dilepasliarkan ke habitatnya di Kawasan Hutan Suaka Alam Pusat Latihan Gajah Kelompok Hutan Isau-Isau. Sumber : Wahid Nurrudin - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Sinergi BKSDA Kalsel dengan KPH Kusan Hulu Selamatkan dan Lepas-liarkan Bekantan

Batulicin, 17 Juli 2019 – Bekantan yang keluar dari habitatnya kembali berhasil diselamatkan. Kali ini terjadi di Jl. Manggis yang tembus ke Jalan Lingkar 30 wilayah Kecamatan Batulicin Kabupaten Tanah Bumbu. Informasi ini disampaikan ke BKSDA Kalsel oleh Kepala KPH Kusan, Ir. Safriani, MP. Berdasarkan informasi tersebut, Tim penanganan konflik satwa Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin yang terdiri dari Suriansyah, S.Hut., Ahmad Nabawi, Bariansyah dan Agus Eko, bergerak untuk melakukan evakuasi satwa Bekantan (Nasalis larvatus). Dari informasi yang di dapat satwa tersebut telah berada di kantor KPH Kusan wilayah Kab. Tanah Bumbu. Saat sampai disana Tim penanganan konflik satwa melakukan koordinasi bersama KPH Kusan dan melakukan pulbaket kepada warga yang melakukan penyerahan satwa. Dari kronologi kejadian diketahui bahwa Bekantan awalnya hendak menyeberang jalan dari hamparan hutan rawa ke area hutan di seberangnya. Namun naas satwa tersebut tertabrak warga yang kebetulan lewat mau memancing ikan, kemudian satwa tersebut terjatuh dan diam di pinggir jalan. Kemudian oleh warga bekantan tersebut di bawa ke kantor KPH Kusan untuk diserahkan. Kejadian Bekantan tertabrak kendaraan bukan yang pertama kali terjadi. Tahun 2019 ini saja, sudah 2 kali terjadi. Kedua-duanya terjadi di Banjarmasin. Menurut Kepala Balai KSDA Kalsel, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., peristiwa ini memberikan indikasi bahwa habitat Bekantan memang semakin berkurang. Perlu upaya lebih dengan melibatkan multipihak untuk menyelamatkan satwa maskot Kalsel ini, imbuhnya. Kami apresiasi warga yang aktif membantu perlindungan satwa, demikian pula tim KPH Kusan Hulu yang sigap menangani Bekantan tersebut. Setelah Tim selesai melakukan pulbaket dan berkoordinasi dengan KPH Kusan, kemudian Tim mengevakuasi satwa Bekantan. Secara umum Bekantan dalam kondisi sehat dan hanya mengalami sedikit luka dibagian tangan. Setelah menjalani perawatan, Bekantan segera dilepasliarkan di jalan Lingkar 30 yang berdekatan dengan aliran anak sungai Batulicin. Hamparan hutan di daerah ini merupakan hutan rawa yang sering di jumpai populasi Bekantan. (ryn) Sumber : Nikmat Hakim Pasaribu, S.P, M.Sc - Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin, Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Terjerat, Beruang Madu Dievakuasi Ke SM Malampah Alahan Panjang

Pasaman Barat, 18 Juli 2019. Seekor Beruang Madu (Helarctos malayanus) terjerat dilokasi kebun warga di Nagari Kajai Kecamatan Talamau, Pasaman Barat pada haru Rabu (9/17). Beruang yang keluar dari kawasan hutan lindung setempat terjerat perangkap yang dipasang oleh warga setempat. Perangkap tersebut semula dipasang untuk mengurangi gangguan hama Babi yang mengganggu tanaman kebun warga. Tim Balai KSDA Sumatera Barat Resor Pasaman yang menerima informasi tersebut langsung datang ke lokasi dan melaksanakan evakuasi dengan melibatkan tenaga medis kesehatan hewan dari Lubuk Sikaping. Sebelum jerat dilepaskan, satwa langka dan dilindungi tersebut dibius dengan ditembakan menggunakan sumpit oleh petugas BKSDA bersama dokter hewan. Selanjutnya satwa dipindahkan ke kandang transit yang sudah dipersiapkan setelah dievakuasi ke kantor BKSDA Sumbar di Lubuk Sikaping dan dilakukan observasi oleh tim medis. Sumber : Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Berita

Oscar dan Gagas dilepasliarkan di Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun

Padua Mendalam, 17 Juli 2019. Dua Orangutan kembali dilepasliarkan di Kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), pelepasliaran ini merupakan bagian dari kerjasama antara Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) dengan Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang (YPOS). Lokasi pelepasliaran dilaksanakan di Seksi Pengelokaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Padua Mendalam kawasan Taman Nasional Betung Kerihun, tepatnya di Sub DAS Mendalam yang secara administratif lokasi pelepasliaran masuk wilayah Desa Datah Diaan, Kecamatan Putussibau Utara. Orangutan yang dilepasliarkan sebanyak 2 individu yang bernama “ Oscar dan Gagas “ dengan jenis Pongo pygmaeus pygmaeus. Oscar dan Gagas yang berjenis kelamin jantan ini telah lulus sekolah dari Yayasan Penyelamatan Orang utan Sintang dan siap untuk dilepasliarkan ke habitatnya. Kondisi Oscar dan Gagas (Orangutan) sehat dan sudah siap untuk dilepasliarkan di alam bebas yang sebelumnya telah menjalani perawatan dan masa rehabilitasi selama beberapa tahun di Yayasan Orangutan Sintang. Oscar kecil ditemukan oleh warga di area Taman Nasional Danau Sentarum dan telah dipelihara selama kurang lebih 1.5 tahun. Mengetahui akan status konservasi orangutan, warga kemudian menyerahkan Oscar kecil kepada petugas Taman Nasional yang kemudian menyerahkannya kepada BKSDA KalBar dan YPOS untuk kemudian direhabilitasi. Oscar kemudian memulai masa rehabilitasinya di Yayasan Penyelamatan Orangutan Sintang sejak tanggal 24 November 2014 saat masih berumur kurang lebih 2 tahun. Hingga saat ini, jumlah Orangutan yang telah dilepasliarkan dikawasan Taman Nasional Betung Kerihun Sub DAS Mendalam Seksi PTN Wilayah III Padua Mendalam sebanyak 6 individu Orangutan dan ditambah dengan Oscar dan Gagas menjadi 8 individu Orangutan. Pelepasliaran Orangutan ini merupakan upaya untuk meningkatkan populasi Orangutan yang terancam punah. Pada Pelaksanaan kegiatan pelepasliaran dihadiri juga oleh tokoh masyarakat yangg berada di Sub DAS Mendalam untuk menyaksikan langsung prosesi pelepasliaran Orangutan tersebut, Kepala Balai Besar Ir. Arief Mahmud, M.Si berharap dengan kehadiran para tokoh tersebut, nantinya dapat ikut berperan aktif dalam mensosialisasikan tentang kegiatan pelepasliaran kepada masyarakat dan turut menjaga keberadaan Orangutan yang telah dilepasliarkan. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Rimbawan Resort Nanga Hovat TaNa Bentarum Mengajar

Nanga Hovat, 17 Juli 2019. Resort Nanga Hovat Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) gelar kegiatan rimbawan mengajar kepada siswa SDN 16 Nanga Hovat di Dusun Hovat. Dusun Hovat merupakan Dusun terujung dari salah satu Desa Penyangga yakni Desa Datah Diaan yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK). Kegiatan yang berlangsung di Aula Resort Nanga Hovat dihadiri siswa sebanyak 13 orang serta dibuka langsung oleh Pak Badrul Arifin, S. Hut., selaku Kepala Resort Nanga Hovat. "Bahwa penting pendidikan bagi anak-anak khsusunya siswa sekolah dasar, karena mereka lah harapan dan masa depan bangsa dan negara meskipun jauh di ujung batas negeri" imbuh Badrul Arifin. Adapun Materi yang disampaikan meliputi teori dan praktik yakni belajar CaLisTung (membaca, menulis, berhitung,) dan belajar PBB (Peraturan Baris-Berbaris). Selama kegiatan berlangsung siswa mengikuti kegiatan Rimbawan mengajar dengan antusias dan penuh semangat karena di sela-sela materi diselipkan yel-yel tentang menjaga kelestarian hutan dan permainan anak-anak. Bapak Narok, selaku Kepala Adat Dusun Hovat mendukung kegiatan Rimbawan mengajar ini. “Saya sangat mendukung sekali dengan kegiatan rimbawan mengajar yang telah dilaksanakan oleh Balai Besar Bentarum khususnya Resort Nanga Hovat, karena sudah lama sekali operasioal SDN 16 Nanga Hovat tidak berjalan lagi karena tidak ada guru” ujarnya. Kegiatan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi siswa baik belajar CaLisTung (membaca, menulis, menghitung) sendiri maupun memahami dalam menjaga kelestarian hutan serta dampak akibat kerusakan hutan dan meningkatkan rasa peduli bagi pegawai lingkup Resort Nanga Hovat kepada masyarakat di Desa Penyangga, Khususnya Masyarakat Dusun Hovat. Bapak Nguli, selaku Kepala Dusun Hovat sangat mengapresiasi kegiatan ini. “Saya sangat mengapresisasi kegiatan ini, karena kita tahu bahwa pendidikan itu sangat penting karena yang akan mengubah cara berpikir, karakter dan sikap itu melalui bidang pendidikan. Ujarnya. “Dan sejak dari dini lah anak-anak harus dibekali pendidikan demi keberlangsungan kehidupan yang lebih baik” tambahnya. Kepala Balai Besar Ir. Arief Mahmud, M.Si. menyampaikan bahwa kegiatan rimbawan mengajar ini merupakan bagian dari pengabdian ASN Balai Besar Bentarum kepada masyarakat yang berada di ujung batas negeri, dengan harapan kedepannya bisa dilaksanalan secara kontinyu di setiap resort. Sumber: Daud - Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Pelepasliaran Buaya Muara dan Ular Sanca Kembang Di Sungai Malili Kabupaten Luwu Timur

Makassar, 17 Juli 2019. Wildlife Rescue Unit (WRU ) Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan yang terdiri dari PEH, POLHUT, Animal Keeper dan Dokter Hewan pada tanggal 13 Juli 2019 Pukul 04.00 WITA telah melakukan pelepasliaran 1 (satu) ekor Buaya Muara (Crocodylus porosus) dan 1 (satu) ekor ular Sanca Kembang (Pyton reticulatus) berlokasi di Sungai Malili Kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan. Buaya tersebut merupakan buaya serahan dari masyarakat di Seksi Konservasi Wilayah III Soppeng dan ular Sanca Kembang merupakan temuan di sekitar Kantor Balai Besar KSDA Sulsel. Lokasi pelepasliaran ditempuh dengan Perjalanan darat dari Makassar memakan waktu selama 10 jam perjalanan mengunakan mobil bak terbuka dengan kandang khusus, Nurdin salah satu anggota Tim Pelepasliaran ini dalam keterangannya “Sebelum dilakukan pelepasliaran kedua satwa tersebut ditempatkan di kandang transit Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan untuk memastikan kondisi satwa dalam keadaan sehat. Sebelum dilepasliarkan dilakukan pemeriksaan kesehatan oleh Dr. hewan dan berdasarkan hasil observasi dari curator, medis dan animal keeper serta survey habitat release, secara kesluruhan satwa dalam kondisi sehat secara fisik dan telah memenuhi indicator sifat liar.” Terang Nurdin. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Kerjasama KOMBATA, BKSDA Jakarta Gagalkan Penyelundupan 72 Buah paruh Rangkong

Jakarta, 17 Juli 2019. Berbekal informasi dari Karantina Hewan dan AVSEC Bandara, petugas Balai KSDA Jakarta Resort Bandara gagalkan penyelundupan 72 buah paruh rangkong dengan tujuan Hongkong. Adapun sosok tersangka merupakan seorang wanita yang tertangkap di Terminal Keberangkatan Internasional Bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 07.00 pagi. Balai KSDA Jakarta telah menerima Barang Bukti (BB) dan tersangka dari pihak Karantina dilanjutkan koordinasi dengan Balai Penegakan Hukum wilayah Jawa Bali Nusa Tenggara (Balai GAKKUM). Sampai saat ini proses administrasi serah terima BB dan tersangka dari Karantina Hewan ke Pihak Balai GAKKUM masih dilakukan. Kepala Resort Bandara Adam Mustofa menyampaikan bahwa tersangka mengaku hanya sebagai kurir dan tidak tahu menahu asal paruh tersebut. “Pengakuan tersangka akan kami dalami lebih lanjut dalam proses penyidikan, Kami telah berkoordinasi dengan pihak Balai GAKKUM, yang akan meneruskan proses lebih lanjut” Imbuh Adam. “Penyelundupan paruh Rangkong ini melanggar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, selanjutnya proses hukum akan dilanjutkan oleh tim Balai GAKKUM” tegas Kepala Balai KSDA Jakarta Ahmad Munawir. Munawir juga menyampaikan bahwa ini adalah hasil komunikasi dan kerjasama antara para pengelola Bandara Soekarno Hatta yang tergabung dalam Komunitas Bandara Soekarno Hatta (KOMBATA), ke depan bentuk sinergi antara pengelola Bandara Soekarno-Hatta diharapkan semakin erat dan lebih baik. Selain UU Nomor 5 Tahun 1990, kegiatan penyelundupan juga melanggar Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 447/Kpts-II/2003 tentang Tata Usaha Pengambilan atau Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar, pungkas Munawir. Burung Enggang atau yang sering dinamakan dengan burung Rangkong merupakan sejenis burung yang tampak memiliki paruh dengan bentuk tanduk sapi namun tidak ada lingkaran. Pada umumnya paruhnya itu memiliki warna yang terang. Nama ilmiahnya “Buceros” mengarah ke bentuk paruh, dan mempunyai arti “tanduk sapi”pada Bahasa Yunani. Secara umum burung Rangkong atau Enggang ini punya ciri khas berupa paruh yang begitu besar menyerupai tanduk. Indonesia termasuk rumah untuk sebanyak 13 jenis burung rangkong yang menyebar pada hutan hujan tropis. Untuk tiga diantaranya memiliki sifat endemik. Pulau Sumatera menduduki jumlah paling banyak dengan 9 jenis. Selanjutnya di ikuti dengan Kalimantan dengan sebanyak 8 jenis. Dengan banyaknya jenis burung rangkong yang ada di Indonesia menjadikan daerah penting untuk konservasi burung rangkong yang ada di dunia. Sumber : Balai KSDA Jakarta
Baca Berita

Serah Terima Komodo Dari Balai Besar KSDA Jawa Timur KE Balai Besar KSDA NTT

Riung, 15 Juli 2019. Dengan disaksikan oleh Direktur KKH, Sekretaris Daerah Kabupaten Ngada, Direktur Tipidter Bareskrim, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Prov. NTT,Tokoh masyarakat dan tokoh adat Riung, beserta tamu undangan lainnya, Balai Besar KSDA Jawa Timur menyerahkan satwa komodo (Varanus komodoensis) sebanyak 6 ekor hasil sitaan Bareskrim Mabes Polri, Polda Jawa Timur dan Balai Besar KSDA Jawa Timur kepada Balai Besar KSDA NTT. Kepala Balai Besar KSDA NTT memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak atas keberhasilan penangkapan dan pengungkapan jaringan perdagangan illegal satwa liar yang dilindungi Undang-Undang oleh Polda Jawa Timur dan Bareskrim Mabes Polri. Konferensi Pers perkembangan penanganan kasus telah digelar oleh Polda Jawa Timur pada tanggal 27 Maret 2019 di Ditreskrimsus Polda Jatim. Satwa komodo yang diserahterimakan dari Balai Besar KSDA Jawa Timur kepada Balai Besar KSDA NTT ini merupakan hasil dari 3 kegiatan operasi penertiban perdagangan satwa liar oleh Direktorat Reskrimsus Mabes Polri dan Polda Jawa Timur, yaitu: Berkenaan dengan Surat Penetapan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya Nomor 1261 dan 1267 tanggal 12 Juni 2019 dan Nomor 1593 tanggal 13 Juni 2019 tentang Barang Bukti Barang Hidup berupa 6 (enam) ekor komodo diizinkan untuk dilepasliarkan maka setelah serah terima, satwa komodo tersebut langsung dilepasliarkan di kandang habituasi di Pulau Ontoloe, Riung Kab. Ngada. Langkah pelepasliaran enam ekor komodo ke habitatnya ini merupakan upaya nyata para pihak yaitu Kepolisian Republik Indonesia, Kejaksaan, Kementerian LHK (Ditjen KSDAE, Balai Besar KSDA Jawa Timur, dan Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur), Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Ngada, Pemerintah Kecamatan Riung, Komodo Survival Program, JAAN, serta masyarakat dan tokoh adat Riung sebagai wujud upaya bersama mensinergikan penanganan konservasi komodo sebagai satwa liar dilindungi negara hingga tuntas dapat kembali ke habitatnya di Pulau Flores. Serah terima ke enam ekor komodo yang dilaksanakan di Kec Riung Kab Ngada, didahului dengan penyambutan secara adat atas kedatangan kembali enam ekor Mbau (komodo), Ketua adat dalam bahasa sambutannya mengucapkan ”Selamat datang para pejabat negara, inilah tanah riung tanah yang sangat menawan ciptaan Tuhan, terdapat banyak potensi alam seperti Mbau (Komodo) kelelawar dan pasir putih. Selama ini kami telah lama cari harta yang hilang, tetapi hari ini berkat tangan Pemerintah, maka kekayaan alam kami datang lagi ke tanah riung tanah kebanggaan.” Ketua adat selanjutnya menyampaikan terimakasih kepada Pemerintah atas pengembalian Mbau di habitatnya di Riung, Pulau Ontoloe TWA 17 Pulau , masyarakat adat riung mendukung penuh upaya pengembalian Mbau dan siap menjaga kelangsungan hidup Mbau dan menjadikan sebagai salah satu ikon wisata di Riung TWA 17 Pulau Kab. Ngada. Kementerian LHK, Direktorat Jenderal KSDAE, dan Balai Besar KSDA NTT menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat atas segala usaha dan kerja kerasnya untuk bersama-sama bersinergi menjaga, mengawal, dan bertindak demi kelestarian kekayaan sumberdaya alam hayati satu-satunya di dunia yang ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur ini. Pelepasliaran komodo ke habitatnya di TWA Tujuh Belas Pulau, Pulau Ontoloe diharapkan menjadi momentum penguatan peran Tiga Pilar 1). Peran Masyarakat Adat, 2). Peran Tokoh Agama dan 3). Peran Pemerintah. Sumber: Humas Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur

Menampilkan 5.297–5.312 dari 11.140 publikasi