Senin, 27 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Harimau “PALAS” Ditangani Serius di Dharmasraya

Medan, 22 Juli 2019. Harimau sumatera yang meresahkan warga Padang Lawas selama ± 3 bulan berhasil masuk kandang jebak/perangkap pada 16 Juli 2019. Upaya ini merupakan keberhasilan Tim yang meliputi : Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama Pemda Padang Lawas, Koramil 007 Sosopan, Polsek Sosopan, Kepala Desa Setempat dan masyarakat dalam menanggulangi koflik harimau di Padang Lawas. Pada saat yang sama, tim mengevakuasi harimau yang terperangkap di kandang jebak dari lokasi kejadian menuju Balai KSDA Sumatera Barat untuk dilakukan pengobatan dan perawatan di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD). Harimau ini diberi nama “PALAS”. Rabu, 17 Juli 2019 Balai Besar KSDA Sumatera Utara menitipkan Harimau Sumatera PALAS kepada Balai KSDA Sumatera Barat dengan Berita Acara Nomor BA.520/K.3/BKWIII/KSA/7/2019 dan Nomor BA. 688/K.9/TU/KSA/7/2019, yang selanjutnya Harimau Sumatera ditempatkan di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dharmasraya (PRHSD). Kamis 18 Juli 2019, tim medis PRHSD melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap “PALAS”, hasilnya diketahui bahwa “PALAS” berjenis kelamin Jantan, dengan perkiraan usia 5 tahun, Panjang 224 cm dan Berat Badan 90 Kg. Kondisi luka pada kaki kanan akibat sling yang masih tertinggal, telapak kaki kanan membusuk. Akibat luka ini salah satu kuku hampir lepas sehingga harus diambil untuk pengobatan. Telapak kaki bagian tengah juga berlubang. Semua luka dipenuhi dengan belatung karena diperkirakan luka yang sudah lama. Luka ini termasuk kategori luka yang berat/parah. Pada bagian dalam mulut (pangkal gigi atas) berlubang dan juga berbelatung. Ditemukan juga pada bagian tubuh dan kaki kiri luka-luka kecil. Bulu rambut di tubuh sampai ekor rontok. Setelah memeriksa kondisi “PALAS” tim medis melakukan pengobatan ke seluruh luka selama 2,5 jam, sekaligus mengambil sampel darah untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium. Pemantauan dilakukan 24 jam selama 14 hari kedepan petugas PRHSD. Keprihatinan yang tinggi muncul ketika melihat seekor harimau terluka parah, kalau tidak sempat tertangani pasti mati. Harapannya semoga kita dapat belajar dari kejadian PALAS. Tidak ada lagi yang memasang jerat di dalam hutan dan berburu satwa liar. Mari jaga hutan kita dan melestarikan lingkungan untuk generasi saat ini dan generasi mendatang. Sumber : Darmawan- Balai Besar KSDA Sumatera Utara Tim yang menangani PALAS Kaki kanan PALAS setelah diobati
Baca Berita

Meneropong Si Hidung Besar di CA Selat Sebuku

Kotabaru, 17 Juli 2019 – Tim Balai KSDA Kalimantan Selatan kembali melakukan monitoring bekantan di CA Selat Sebuku, di Kabupaten Kotabaru pada tanggal 12-17 Juli 2019. Tim survey yang diperkuat oleh fungsional PEH dan Polhut ini dipimpin langsung oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah III, Nikmat Hakim Pasaribu, S.P, M.Sc. Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan satwa endemik Kalimantan yang populasinya terus menurun sebesar lebih dari 80% dalam kurun waktu 3 dasawarsa terakhir karena degradasi dan fragmentasi habitat. Untuk meningkatkan populasi bekantan sebesar 10%, berbagai upaya dilakukan oleh Bksda Kalimantan Selatan antara lain dengan aktif melakukan patroli pengamanan kawasan dan penyuluhan kepada masyarakat disekitar kawasan konservasi. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga kelestarian kawasan konservasi, khususnya menjaga keanekaragaman hayati termasuk satwa Bekantan sebagai satwa dilindungi dan maskot Provinsi Kalimantan Selatan. Untuk mengetahui perkembangan Bekantan, pada pertengahan tahun 2019 ini salah satu langkah yang ditempuh adalah dengan cara memantau populasinya di alam. Pemantauan bekantan di CA Sebuku sendiri sudah dilakukan sejak tahun 2015. Tahun 2019 ini merupakan tahun ke-5 BKSDA Kalsel melaksanakan monitoring populasi bekantan di kawasan ini. Kepala BKSDA Kalsel, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc dalam beberapa kesempatan selalu mengingatkan bahwa peningkatan populasi 25 satwa terancam punah prioritas sebesar 10% pada tahun 2019 bukan hanya menjadi IKK dari Dirjen KSDAE tapi termasuk ke dalam Rencana Jangka Menengah Nasional yang perkembangannya dilaporkan secara rutin kepada Kantor Staf Kepresidenan setiap tahunnya. Beliau juga menyampaikan bahwa peningkatan populasi satwa ini menjadi acuan keberhasilan pengelolaan ekosistem dengan menakar kondisi biologis dan ketersediaan habitat, sekaligus keberhasilan program konservasi. Kepada para petugas atau pelaksana kegiatan monitoring agar melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab dan jujur dalam penyampaian data hasil kegiatan agar tidak terjadi bias dalam pengembangan pangkalan data namun tetap mengacu pada kaidah-kaidah atau metoda yang ada. Monitoring atau pemantauan Bekantan di habitat alaminya di kawasan konservasi termasuk di CA Sebuku bertujuan untuk mendapatkan data kondisi populasi bekantan serta untuk mendapatkan gambaran kondisi eksisting habitat terkini apakah masih mendukung keberlangsungan kehidupan bekantan. Kondisi populasi Bekantan setidaknya meliputi jumlah perjumpaan individu dan struktur populasi (jantan, betina, remaja, anak/bayi). Metode yang digunakan dalam pemantauan populasi bekantan di CA Sebuku adalah kombinasi dari metode susur sungai (rivers survey) dan metode terkonsentrasi (concentration count). Penyusuran sungai dilakukan untuk menemukan titik-titik konsentrasi bekantan, selanjutnya penghitungan populasi dilakukan untuk setiap konsentrasi Bekantan yang dijumpai. Lazimnya pengamatan Bekantan dilakukan pada pagi hari setelah matahari terbit sampai matahari mulai naik sekitar jam 9 pagi dan sore hari mulai jam 15.00 sampai saat matahari terbenam. Waktu pengamatan ini didasarkan pada perilaku bekantan yang berada di pohon tidurnya di tepi sungai pada waktu-waktu tersebut. Di luar jam tersebut bekantan akan sulit dijumpai karena mereka melakukan aktivitas penjelajahan ataupun beristirahat di bawah/ lantai hutan untuk menghindari teriknya matahari. Saat pengamatan di CA Sebuku tepatnya di Sungai Serakaman terdapat fenomena yang sedikit berbeda, di beberapa titik pengamatan Bekantan justru dijumpai pada siang hari, meskipun di titik pengamatan lainnya dijumpai di pagi dan sore hari. Kecenderungan perilaku ini diduga karena di pagi dan sore hari aktivitas lalu lalang perahu motor masyarakat lebih tinggi. Hal ini karena di daerah ini sungai merupakan askes utama bagi masyarakat untuk mencapai atau keluar desa. Bekantan dijumpai di Sungai Serakaman, Sungai Kanibungan dan Pulau Keluang. Di Sungai Serakaman sedikitnya teramati secara langsung sebanyak 36 individu yang terdiri dari indvidu jantan, betina dan remaja. Di Sungai Kanibungan teramati 4 individu yang terdiri dari 1 ekor jantan, 2 betina dan 1 remaja. meskipun menurut penuturan masyarakat jumlah kawanan Bekantan yang sering terlihat di Sungai Kanibungan lebih dari itu. Selama beberapa kali ulangan tim tidak menjumpai kelas umur bayi. Di Pulau Keluang, tim kurang beruntung karena selama beberapa kali ulangan, hanya menjumpai 1 individu yang teramati dari jauh dan tidak terindentifikasi jenis kelamin dan kelas umurnya, diperkirakan adalah Bekantan dewasa. Habitat bekantan di Sungai Serakaman dan Kanibungan disusun oleh asosiasi mangrove. Di bagian muara didominasi oleh jenis Rhizophora apiculata dan Rhizophora mucronata. Semakin mengarah ke dalam merupakan kombinasi vegetasi mangrove dan nipah (Nypa fruticans). Jenis mangrove lainnya yang menyusun komposisi vegetasi antara lain jenis Bruguiera sp, tingi (Ceriops tagal), kelampan (Cerbera manghas), buta-buta (Excoecaria agallocha), dungun (Herieteria littoralis), dengan jenis mirih (Xylocarpus granatum) mendominasi. Selain Bekantan, dijumpai jenis primata monyet ekor panjang (Macaca fascularis) dan lutung (Trachypithecus cristatus) yang merupakan satwa kompetitor dalam penggunaan sumber daya yang ada. Meskipun tim tidak menjumpai langsung selama pengamatan, buaya muara (Crocodylus porossus) konon merupakan satwa predator bagi Bekantan ataupun primata lainnya di habitat ini. Ular cincin emas atau ular kucing bakau/ular tali wangsa (Boiga dendrophila) adalah reptil yang dijumpai langsung tim saat pemantauan. Ular ini merupakan spesies ular berbisa menengah dari suku Colubridae. Beberapa jenis burung seperti elang bondol (Haliastur indus), dan pekaka emas (Pelargopsis capensis) kerap dijumpai selama pengamatan. Lebih Lanjut Kepala Seksi Konservasi Wilayah III, Bapak Nikmat Hakim P, S.P, M.Sc mengatakan “Untuk di wilayah ini peningkatan populasinya telah melebihi target tahunannya yakni 2% per tahun, semoga di site monitoring lainnya juga seperti ini”. (ryn) Sumber : Mila Rabiati, S.Hut., M.Si - PEH Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Pengamatan Rafflesia meijerii di Taman Nasional Batang Gadis

Selasa, 23 Juli 2019. Rafflesia meijerii adalah salah satu jenis Rafflesia yang.mendiami kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), sosoknya yang kecil dari Kebanyakan Rafflesia lainnya menjadi ke khasannya. Rafflesia meijerii tumbuh paling mendominasi di kawasan TNBG beberapa side telah di catat sebagai habitatnya. Diameter bunga ini berkisar 14 - 20 cm, dengan rata-rata diameter diagfragma 13 cm dan diameter discuss 7 cm. Rafflesia meijerii tumbuh di kawasan TNBG pada ketinggian 1000-15000 mdpl. Rafflesia meijerii termasuk flora yang dilindungi di PP No 106 tahun 2018 tentang jenis satwa dan flora yang dilindungi. Upaya konservasi yang sudah dilakukan TNBG untuk menyelamatkan kelangsungan hidup di habitatnya berupa pembuatan Demplot Rafflesia, inventarisasi tetrastigma sebagai inangnya serta kampanye pendidikan dengan media objek penelitian dan wisata agar semua paham untuk selalu melestarikan Puspa langka kebanggaan ini. Rafflesia meijerii membutuhkan waktu berkisar 379 hari dengan masa mekar hanya 13 hari saja dan selanjutnya membusuk. Menurut literatur, Rafflesia meijerii sama sekali tidak memiliki procesii pada permukaan discusnya, akan tetapi di Tnbg telah ditemukan Rafflesia meijerii yg memiliki procesii di permukaan discusnya sehingga temuan ini menjadi lebih menarik untuk di kaji (proses kajian). Pengamatan Rafflesia meijerii di laksanakan selama 6 bulan terhitung dari bulan Desember 2018 hingga Mei 2019. Pengamatan dilakukan dari mulai bonggol hingga bunga mekar yang dimulai dari fase kopula, brakta hingga perigon. Pengamatan dilakukan pada bonggol Rafflesia yang tumbuh pada inang Rafflesia dengan jenis tumbuhan adalah tulang nihayuk (bahasa lokal). Bonggol yang tumbuh diawal pengamatan sebanyak 12 bonggol dengan diameter bervariasi. Diameter bonggol terendah adalah 1 cm dan tertinggi 17 cm. Pengamatan dilakukan selama waktu ± 8 s.d 14 hari Kegiatan pengamatan dilakukan selama 7 kali pengamatan. Pengamatan 1 s.d 5 jumlah bonggol masih 12 bonggol namun dipengamatan ke 6 muncul/ditemukan bonggol dengan jumlah 2 bonggol, sehingga bonggol pengamatan ada 14 bonggol. Pengamatan bonggol Rafflesia dilakukan selama musim basah dan kering pada waktu siang hari hingga sore hari. Sumber: Balai TN Batang Gadis
Baca Berita

Pelepasliaran Burung Pleci Sumatera

Pekanbaru, 19 Juli 2019. Balai Besar KSDA Riau bersama Polairud Polda Riau melepasliarkan Burung Pleci Sumatera (Zosterops salvadorii) yang tidak dilindungi undang-undang sebanyak 700 ekor lho kawan rimba. Lokasi pelepasliaran berada pada ekosistem hutan pantai di daerah penyangga Suaka Margasatwa Tasik Tanjung Padang di Kabupaten Kepulauan Meranti. Burung tersebut merupakan hasil perburuan dari daerah Sinaboy Kabupaten Rokan Hilir. Pengamanan 700 ekor burung Pleci berawal dari kegiatan patroli Polairud Polda Riau pada tanggal 17 Juli 2019 di perairan Bandul Pulau Padang. Pada saat itu dilakukan pemeriksaan terhadap kapal motor Riski dengan tujuan Tanjung Batu, Kecamatan Kundul Kabupaten Karimun, dan didalamnya ditemukan ratusan burung pleci serta tidak adanya surat persetujuan berlayar /SPB. Selanjutnya Polairud Polda Riau melakukan penanganan lebih lanjut terhadap kasus tersebut. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Berita

Sukses di FTN dan TWA 2019, TN Aketajawe Lolobata Akan Menggenjot Kemajuan Ekowisata

Sofifi, 22 Juli 2019. Kemeriahan Festival Taman Nasional dan Taman Wisata Alam 2019 (FTN dan TWA) baru saja berakhir (21/07), akan tetapi semangat pengelolaan wisata alam dalam acara tersebut belum berakhir. Begitulah kira-kira kesan dari Akhmad David, pemandu di stan pameran Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL). Acara yang dilaksanakan di Peninsula Island, Nusa Dua, Bali mulai tanggal 19 s.d 21 Juli 2019 berlangsung cukup meriah. Terdapat agenda baru yang mempertemukan pihak taman nasional maupun taman wisata alam dengan para agen perjalanan ataupun calon wisatawan yang potensial untuk membawa tamu-tamu ke kawasan konservasi. Acara tersebut adalah Travel Mart & B to B Investasi Pengembangan Sarana Prasarana TN dan TWA Indonesia. Tidak sedikit para agen perjalanan menanyakan tentang paket wisata, akomodasi, transportasi dan hal lainnya dalam pengelolaan wisata alam di TN dan TWA. Beberapa diantaranya meminta langsung agar dikirimkan paket perjalanan melalui surat elektronik (e-mail) mereka. Selesai acara pameran, Kepala Balai memberikan beberapa arahan setelah diberikan rangkuman hasil kegiatan Travel Mart tersebut. Salah satu arahan Beliau adalah agar segera ditindaklanjuti pembuatan paket perjalanan (itinerary) dengan diskusi dengan kelompok-kelompok binaan TNAL. Balai TNAL dengan tema stan pameran “Ekowisata Ajalo Tanpa Plastik” mendapatkan juara 6 kategori stan terbaik. Sedangkan film dokumenternya masuk dalam peringkat 5 besar. Sumber: Akhmad David KP (Polhut) - Balai TN Aketajawe Lolobata
Baca Berita

Balai KSDA NTB Tagging Dua Ekor Indukan Penyu Lekang

Mataram, 21 Juli 2019. Balai KSDA NTB Melalui Polisi Kehutanan TWA Kerandangan SKW I Lombok bersama dengan BPSPL Denspasar Wilker NTB, Mahasiswa PKL Universitas Brawijaya, GENPI, TVRI serta perwakilan dari PT. PLN melakukan Kegiatan Tagging dua ekor Indukan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) pada hari Minggu. Kedua Indukan Penyu Lekang ini merupakan dua indukan yang didapati bertelur satu hari sebelumnya di sekitar area Pantai Mapak, Kota Mataram. Bersamaan dengan induk, tim juga ikut mengamankan telur penyu dari predator (alam dan manusia) untuk ditetaskan di sarang semi-alami milik salah satu penangkar penyu binaan Balai KSDA NTB di Pantai Mapak, Bapak H. Awan. Tagging dua indukan penyu lekang dengan nomor NTB000054 dan NTB000011 berjalan dengan lancar dan kedua ekor indukan penyu langsung dilepasliarkan kembali pagi hari di Pantai Mapak tak lama setelah proses tagging selesai. Sumber: Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Berita

Patroli Tipihut, Tim Temukan Potensi Kehati & Wisata Alam di Long Rungan

Krayan, 22 Juli 2019 – 10 (sepuluh) cara kerja baru oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) benar-benar diterapkan secara kolaboratif oleh Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) dengan masyarakat adat yang berada di sekitar kawasan penyangga. Salah satu penerapannya ialah pada kegiatan Patroli bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) wilayah Long Rungan, Resort Long layu SPTN I Long Bawan. Patroli yang dilaksanakan selama 7 hari itu (2 – 10 Juli 2019), selain untuk memastikan kondisi kawasan TN Kayan Mentarang di wilayah tersebut aman dari gangguan atau tindak pidana kehutanan (tipihut), juga dimanfaatkan untuk menginventarisasi potensi kawasan yang memungkinkan untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata alam. Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I Long Bawan Suwarto, S.Hut.,MP melalui Wawan selaku Koordinator kegiatan Patroli bersama MMP di wilayah Long Rungan memastikan Kondisi hutan dan ekosistem di kawasan tersebut masih terjaga dengan baik. Hal tersebut di tandai oleh temuan Pohon Aghatis bornensis dengan diameter ±1,5 m dan tinggi ±10 m serta air terjun dengan tinggi ±8 m dan lebar ±4 m dikoordinat N.03.38.04.0 E.115.49.40.8 , selain itu juga ditemukan sumber air asin sebagai tempat satwa minum pada zona khusus. “Kita tidak temukan indikasi tindak pidana kehutanan, di kawasan ini yang kita temukan lebih banyak potensi kehati dan potensi wisata alam yang masih terjaga lestari. Seperti pohon besar dengan diameter kurang lebih 1,5 meter kemudian Air terjun yang tingginya kurang lebih 8 meter, bahkan kita temukan sumber air asin tempat satwa biasa turun untuk minum.” Ujar Wawan yang menjabat Polhut Pelaksana Lanjutan pada SPTN I Long Bawan Balai TNKM. Hingga akhir semester pertama tahun 2019 ini, Balai TN kayan Mentarang telah melaksanakan sedikitnya 10 (sepuluh) kegiatan di kawasan berupa Patroli bersama MMP. Kegiatan ini tidak hanya dilaksanakan di SPTN I Long Bawan, tapi juga dilaksanakan di SPTN II Long Alango dan SPTN III Long Ampung sebagai maksimalisasi pengamanan kawasan di TN Kayan Mentarang. Sumber : Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

Spirit Konservasi Alam Milenial BBKSDA Sulsel

Makassar, 23 Juli 2019. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan (BBKSDA SULSEL) merupakan Unit Pelaksana Teknis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang mempunyai tugas penyelenggaraan konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya di kawasan konservasi Sulawesi selatan dan Sulawesi Barat. Dalam rangka menyambut Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2019 ini atau Road to HKAN 2019, BBKSDA SULSEL melakukan aksi nyata dengan sejumlah kegiatan antara lain : (1) Promosi Deseminasi, Street Campaign, Bakti Konservasi “Donor Darah”, Pembagian Bibit Gratis (Free Seedings) tanggal 21 Mei 2019 di Anjungan Pantai Losari (2) Schoool Conservation Tanggal 24 Juli 2019 di SD Sudirman dan (3) Talk show “Konservasi Milenial”, Conservation Award, Penanaman Pohon Endemik dan Release Satwa secara simbolis Tanggal 25 Juli di Fort Roterdam Makassar. Acara Street Campaign Minggu dilaksanakan dengan kerjasama semua UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Lingkup Sulawesi Selatan seperti Pembagian Bibit (Free Seedings) dari BPTH, donor darah dari Balai Taman Nasional Bantimurung, simulasi penggunaan alat pemadam kebakaran dari Balai PPI, Penampilan Marching Band dari SMK Kehutanan serta partisipasi pemerintah Kota Makassar, Bank BRI dan pihak Swasta pada 21 Juli 2019, Pukul 06.00 WITA. Hasil dari kegiatan ini berhasil mengajak para pengunjung Pantai membersihkan sampah pantai sebanyak 13 Kantong pelastik besar didarat dan dilaut. Dari kegiatan donor darah berhasil mengaet 47 calon pendonor dengan 35 kantong darah dari pengunjung. Kegiatan School Conservation akan dilaksanakan Rabu, 24 Juli 2019 pukul 08.00 WITA di SD Sudirman, Jl. Jend. Sudirman No.7 dengan peserta dari siswa SD berjumlah 200 Orang. Kegiatan School Conservation ini diisi dengan penampilan Pantomin, Band Akustik, pembacaan puisi dan pengenalan satwa liar serta peragaan pemadaman api oleh Balai PPI. Kegiatan Road to HKAN 2019 melibatkan para pihak swasta,.pemda, PT, LSM antara lain Pencinta Alam, Pramuka, UNHAS, Bank BRI, Perbakin, Club Air Mineral, Rumah Penyu, PT KIMA, PT Indofood, PT Maruki Burung Indonesia, Gowa Discovery Park, Citra Satwa Celebes - Bontomarannu Education Park, Jalan-jalan Makassar, Rumah Hijau Dennasa, Bus Primadona, Klik Hijau, Harian Fajar, Tribun Timur, Klik Hijaum Biringtanews, Terkini.id. Talkshow “Spirit Konservasi Alam Milenial”, Conservation Award, Penanaman dan Release Satwa pada Kamis 25 Juli 2019 pukul 15.30 WITA akan dihadiri oleh Walikota Makassar Muh. Iqbal Suhaeb sekaligus menyerahkan penghargaan konservasi kepada tokoh-tokoh yang telah berkontribusi di Konservasi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Di acara Talkshow ini juga akan di meriahkan dengan Pentas Seni dari SMK Kehutanan Makassar. Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional tahun 2019 lingkup Kementerian Lingkungan Hidup Dan Kehutanan mengusung tema “Spirit Konservasi Alam Milenial”. Berdasarkan surat sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.S. 534/Setjen/Rouh/KSA.2/ 5/2019 tanggal 31 Mei 2019 tentang Sosialisasi dan Partisipasi Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2019. Dengan peringatan ini tentunya juga sebagai upaya untuk memasyarakatkan konservasi alam secara nasional sebagai sikap hidup dan budaya bangsa. Dalam peringatan ini diharapkan pengelolaan terhadap alam dan lingkungan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan manfaat dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Spirit adalah semangat berkolaborasi untuk aksi.konservasi alam bersama para pihak mulai dari masyarakat umum, media, tokoh masyarakat, pemerhati, PT, LSM, Pemuda, Anak-anak, Perempuan, Pemda dan Swasta. Semua pihak berperan dan berpartisipasi aktif dalam mempromosikan dan membudayakan komservasi alam dan keanekaragaman hayati. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Monev Wanita-Wanita Hebat Kawasan Penyangga

Kotabaru, 6 Juli 2019 – Upaya meningkatkan program pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi ditunjukkan dengan melakukan monitoring dan pendampingan terhadap Kelompok Pemberdayaan Masyarakat “Harapan Makmur” di Desa Karang Payau Kecamatan Kelumpang Hulu Kabupaten Kotabaru. Kegiatan monitoring dan pendampingan oleh Tim Seksi Konservasi Wilayah III (Kasi Wilayah III (Nikmat Hakim P., S.P, M.Sc), Kepala Resort Ca Teluk Kelumpang (Achmad Nabawi), Penyuluh Kehutanan (Eddy Kurniawan A.,A.Md) beserta staf) untuk melihat secara langsung perkembangan kegiatan kelompok pemberdayaan masyarakat dalam melakukan tanaman hidroponik dan kolam ikan. Kelompok pemberdayaan masyarakat ini dibentuk pada tahun 2017 Sesuai SK Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan Nomor : 6515 Tanggal 26 Oktober 2017. Tujuannya agar dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar kawasan CA Teluk Kelumpang dan pada akhirnya akan dapat mengurangi terhadap tekanan / gangguan yang terjadi di kawasan tersebut, dan ketergantungan terhadap kawasan dapat diminimalisir. Kelompok yang dibentuk ini semuanya beranggotakan wanita, akan tetapi peran serta Kepala Keluarga secara tidak langsung akan terlibat dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, hal ini terbukti dengan terlaksananya kegiatan yang telah direncanakan oleh kelompok tersebut dan dibantu oleh Kepala Keluarga dalam merealisasikan kegiatan kelompok ini. Pemilihan wanita wanita yang hebat ini dikarenakan dalam hal melaksanakan suatu kegiatan lebih teliti dibandingkan dengan laki laki, apalagi hal ini secara tidak langsung melibatkan Kepala keluarga dalam mewujudkan program yang telah mereka susun, hal ini menjadi nilai tambah dalam program yang telah direncanakan kelompok. Kepala Desa Karang Payau Bapak Arbani, S.AP menyambut hangat kedatangan tim monitoring BKSDA KALSEL. Kelompok Harapan Makmur merupakan kelompok binaan BKSDA KALSEL dengan seluruh anggotanya adalah wanita. Pada kesempatan diskusi dengan kelompok Harapan Makmur Ibu Salasiah sebagai ketua kelompok mengatakan bahwa kelompoknya sudah berhasil mengembangkan hidroponik di masing-masing kelompok, hasil tersebut berupa sawi dan seledri. Sebagian hasil tanaman sudah ada beberapa yang di jual dan untuk konsumsi rumah tangga. Sedangkan untuk kolam ikan nila ada beberapa kelompok yang sudah panen dan hasil penen untuk keperluan sehari-hari, belum mampu untuk diperjual belikan. Namun ada juga beberapa dari kelompok yang masih belum berhasil. Kepala Desa Karang Payau Bapak Arbani, S.AP menyampaikan harapan agar beberapa anggota kelompok mendapat pelatihan cara pemeliharaan kolam yang benar sehingga bisa mengembangkan kolam ikan yang sudah mereka buat berhasil sepenuhnya. Tim SKW III Batulicin menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kepala Desa Karang Payau dan Kelompok yang sudah bersama sama dalam membentuk kelompok pemberdayaan ini dengan Tim SKW III Batulicin dalam rangka pemberdayaan masyarakat disekitar kawasan konservasi. Juga bersama-sama memelihara dan melindungi kawasan konservasi yang berada di sekitar mereka. Tim juga mengajak pihak aparat desa dalam hal turut mengembangkan kelompok yang telah dibentuk di desa tersebut dengan membantu program program yang bersinergi dengan kegiatan yang telah dilaksanakan oleh kelompok ini. Program yang telah direncanakan oleh kelompok ini agar terus diketahui oleh kepala desa setempat sehingga pencapaian dari program dapat cepat terealisasi. Diharapkan agar desa ini dapat dijadikan sebagai desa penghasil sayur dan ikan terbesar di Wilayah Kecamatan Kelumpang Hulu pada khususnya dan Kabupaten Kotabaru pada umumnya. Menurut Penyuluh Kehutanan lingkup Seksi Konservasi Wilayah III (Eddy Kurniawan Astanto, A.md) bahwa program ini dapat dikembangkan menjadi skala yang besar apabila didalam pelaksanaannya Kelompok binaan tersebut dapat menunjukkan hasil peningkatan yang bersifat positif. Sehingga pengembangan terhadap skala produksinya dapat didukung dan ditingkatkan. Kedepannya diharapkan dengan semakin maju dan berkembangnya kegiatan pemberdayaan ini dapat mendukung upaya pelestarian dari Cagar Alam Teluk Kelumpang. Arahan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. agar setiap program yang telah direncanakan dalam RPP dan RKT kelompok hendaknya terkonektivitas dengan kegiatan pemberdayaan di tingkat desa, sehingga saling bersinergi dan saling melengkapi dalam hal pemenuhan dalam pencapaian tujuan, yaitu menjadikan kelompok pemberdayaan ini menjadikan kelompok yang mandiri dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat sehingga akan menciptakan suatu lingkungan yang lestari. (ryn) Sumber : Maulinda, S.Hut - Staff Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

Rescue Flora, Upaya BKSDA Sumatera Selatan Selamatkan Flora Tersisa

Lahat, 22 Juli 2019. Rescue Flora merupakan program penyelamatan flora yang tersisa yang dilakukan oleh Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) bersama dengan Pungky Nanda Pratama (Kader Konservasi BKSDA Sumsel). Flora yang tersisa merupakan sebuah kondisi dimana Sumatera Selatan memiliki keanekaragaman flora yang sangat luar biasa tetapi disisi lain pembukaan lahan untuk perkebunan masyarakat, perdagangan flora secara online dan degradasi kawasan konservasi mengancam keberadaan flora sehingga yang tersisa pun harus segera dilakukan upaya penyelamatan. Tindak lanjut upaya penyelamatan akan dikonsentrasikan pada Unit Pengembangan dan Rescue Flora yang berada di Desa Karang Panggung, Kecamatan Selangit, Kabupaten Musi Rawas yang telah dikembangkan SKW II Lahat sejak tahun 2018. Rescue Flora dilakukan pada lokasi yang terjadi perubahan penggunaan lahan untuk kebun yang dilakukan oleh masyarakat, perdagangan flora secara online dan juga pada kawasan konservasi yang terdegradasi oleh penggunaan kawasan secara non prosedural. Pada upaya kali ini tim Rescue Flora melakukan penyelamatan flora di perkebunan masyarakat yang terletak di Kecamatan Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat. Pada area dengan ketinggian mencapai 1.200 mdpl ini merupakan habitat anggrek pada hamparan kebun kopi tua yang akan dilakukan regenerasi dengan dibersihkan untuk ditanamai tanaman kopi yang baru sehingga kekayaan flora di area tersebut terancam. Faktor lain yaitu anggapan masyarakat setempat bahwa tanaman anggrek yang menempel pada tanaman kopi dapat mengancam produktivitas dan keselamatan tanaman kopi memicu kerentanan pembersihan anggrek oleh masyarakat yang artinya kekayaan flora akan musnah. Penyelamatan kali ini berhasil menyelamatkan anggrek jenis Coelogyne sp , Dendrobium sp, Taeniophyllum sp, Vanda helvola, Vanda foetida, Gastrochillus sp, Eria sp, Dendrobium linearifolium, dan Flickingeria sp. Semoga melalui program Rescue Flora ini kami dapat sedikit mengupayakan sebuah upaya untuk menceritakan kekayaan flora di Sumatera Selatan sebelum semuanya tinggal sebuah cerita yang belum sempat terceritakan. Sumber : Wahid Nurrudin - PEH Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

TN Batang Gadis Akan Rilis Tiga Buku

Panyabungan, 22 Juli 2019. Kepala Balai TN Batang Gadis bersama tim penyusun buku menyerahkan draft buku berjudul : Draf buku tersebut diserahkan kepada Direktur Konservasi Kawasan (KK) dan Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) untuk mendapatkan Kata Sambutan. Penyerahan buku ini mendapatkan apresiasi dan saran dari masing-masing Ibu Direktur. Bapak Ir. Wiratno, M.Sc. selaku Direktur Jenderal KSDAE juga sangat mengapresiasi dan menghargai usaha Balai TNBG atas kontribusinya terhadap konservasi kehutanan. “ Semangat dalam menjalankan tugas menjaga dan melindungi kawasan TNBG “, pesan dari Pak Dirjen. Sumber: Balai TN Batang Gadis
Baca Berita

Kondisi Bos javanicus , salah satu satwa prioritas TN. MerBeti

Minggu, 21 Juli 2019. Anggota Resort Sukamade, SPTN Wilayah I melakukan patroli rutin di wilayah kerjanya. Pada pukul 16.45 WIB tim berjumpa secara langsung satwa prioritas Banteng Bos javanicus di Blok Sumber Suko KM 5 sebanyak 13 ekor yang teridentifikasi 3 ekor jantan dewasa, 7 ekor betina dan 3 ekor anakan. Banteng dengan tubuh gemuk dan sehat menunjukkan bahwa kondisi kawasan hutan TN. MerBeti masih terjaga dengan baik sehingga mampu menyediakan sumber pakan yang cukup bagi kehidupan satwaliar di dalamnya. Sumber: Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Berita

TN Kutai Tampilkan Stand dengan Konsep Bebas Plastik Dalam FTN & TWA 2019

Nusa Dua, 21 Juli 2019. Menuju Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2019, Balai Taman Nasional Kutai turut berpartisipasi dalam Festival Taman Nasional & Taman Wisata Alam (FTN & TWA) tahun 2019, yang digelar di Peninsula Island, Nusa Dua, Bali tanggal 19-21 Juli 2019. Dalam perhelatan tersebut, Taman nasional Kutai mengusung tema konservasi tumbuhan dan satwa liar dengan maskot orangutan yang merupakan flagship pengelolaan Taman Nasional Kutai. Melindungi 1 orangutan orangutan setara dengan melindungi 100 hektar kawasan konservasi/kawasan hutan. Orangutan merupakan satwa pemakan buah dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bergerak mencari makan dengan trayek lebih dari 1 km per hari. Karena perilaku tersebut orangutan dikenal sebagai penyebar biji yang sangat potensial. Berbeda denga jenis burung yang hanya menyebarkan biji-biji berukuran kecil. Untuk lebih mendekatkan “Orangutan” bagi masyarakat , khususnya pengunjung FTN & TWA 2019, Stand TN Kutai membuat patung orangutan dengan ukuran yang sangat besar (tinggi 2.4 m). Mengusung konsep bebas sampah plastik dan styrofoam, sehingga tidak ada penggunaan bahan pameran yang berbahan plastik sekali pakai. Patung orangutan sebagai maskot orangutan, seluruhnya dibuat berbahan baku bambu, termasuk logo Taman Nasional Kutai dan ornament yang menjadi pelengkap dekorasi stand. Melengkapi tujuan FTN & TWA 2019 secara umum yang berfokus pada ekowisata, konservasi alam, dan penghargaan budaya lokal, Taman Nasional Kutai menyediakan kostum tradisonal masyarakat Dayak Kalimantan Timur, yang dapat digunakan untuk berfoto bersama “orangutan” di Stand TN Kutai. Hal ini untuk menguatkan pesan bahwa peran masyarakat dan budaya lokal merupakan kunci keberhasilan dalam upaya konservasi di Indonesia. Dan untuk menikmati suasana kekeluargaan saat berkunjung ke stand TN Kutai, sebagai tuan rumah TN Kutai menyediakan tempat untuk bersantai sambil minum kopi. Partisipasi Taman Nasional Kutai dalam FTN & TWA 2019, didukung oleh Mitra Taman Nasional Kutai, sebuah bentuk kemitraan yang telah mendukung upaya pengelolaan Taman Nasional Kutai selama ¼ abad sejak tahun 1994. Mitra TN Kutai merupakan gabungan dari 10 korporasi yang terdapat di sekitar Taman Nasional Kutai dan yang berpartisipasi mendukung kegiatan TN kutai dalam FTN & TWA 2019 antara lain: PT. Indominco Mandiri, PT. Pertamina Ep Sangatta, PT. Kaltim Prima Coal, PT. Badak NGL, PT. Pupuk Kaltim, PT. Surya Hutani Jaya, PT. Pama Persada Nusantara-Bontang, PT. Pama Persada Nusantara Sangatta dan PT. Kaltim Nitrate Indonesia. Selain dukungan dari Mitra TN Kutai, keikutsertaan TN Kutai dalam pelaksanaan Ftn 2019 juga didukung oleh tim kreatif dari Baliwoso Ecotourism Camp, Desa Pengotan, Kabupaten Bangli. Sumber: Balai TN Kutai
Baca Berita

Aktualisasi PKS Balai TN MerBeti dan UNEJ

Wonoasri, 21 Juli 2019. Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) bersama dengan Wakil Rektor 2 Universitas Negeri Jember melakukan kunjungan lapang ke Desa Wonoasri. Kunjungan dimulai ke tempat Kepala Desa Wonoasri sekaligus "kulo nuwun" kepada pemangku masyarakat Desa Wonoasri. Kepala Desa Wonoasri menyambut baik program-program TN MerBeti khususnya dalam rangka kerjasama antara TN MerBeti dengan UNEJ yang sedang berjalan. Diharapkan program yang dilakukan dapat terus berkesinambungan kedepannya untuk masyarakat Desa Wonoasri. Selain itu, Kepala Desa Wonosari juga turut mendukung untuk terlaksananya pengelolaan wisata di pantai nanggelan. Kunjungan selanjutnya dilakukan kepada masyarakat pengelola hutan lorong di Dusun Curah lele Desa Wonoasri. Dalam kesempatan ini Kepala Balai TN. MerBeti juga menyampaikan agar masyarakat turut serta menjaga kawasan hutan MerBeti karena adanya kerusakan hutan dapat berakibat bencana. Salah satu imbas kerusakan hutan yang dirasakan oleh masyarakat Wonoasri yaitu bencana banjir ketika menghadapi musim hujan. Sementara itu, Wakil Rektor 2 UNEJ menyampaikan kepada masyarakat untuk tetap menjaga tanaman cabe jawa yang ada di hutan lorong. Sebagai salah satu bentuk apresiasi bagi masyarakat yang telah terlibat baik dalam mengelola hutan lorong juga diberikan bibit buah kelengkeng. Selanjutnya Kepala Balai TN. MerBeti, Wakil Rektor 2 UNEJ dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju kawasan rehabilitasi di blok Donglo, Resort Wonoasri. Kepala Balai TN. MerBeti menyampaikan kepada Pak Legiman selaku ketua kelompok tani donglo 1 untuk turut serta menjaga tanaman pokok yang ada di dalam kawasan. Selain itu, Kepala Balai TN. MerBeti juga menyarankan untuk dilakukan penanaman jenis kepuh (Sterculia foetida) di zona rehabilitasi selain jenis MPTS yang ada saat ini. Kunjungan diakhiri dengan kembali menuju Desa Wonoasri untuk melihat green house. Kepala Balai MerBeti pun mengusulkan agar ke depannya juga dapat dikembangkan beberapa jenis anggrek untuk meningkatkan nilai tambah dari green house yang ada saat ini. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti)
Baca Berita

Sinergi BBKSDA Papua dengan Kodam XVII Cenderawasih Lindungi Kawasan Cagar Alam

Jayapura, 18 Juli 2019. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si., didampingi Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar KSDA Papua, Abdul Azis Bakry, S.Pi., M.Si., dan Kepala Subbagian Data Evaluasi dan Pelaporan, I Ketut Diarta Putra bertemu Asisten Teritorial Komando Daerah Militer XVII Cendrawasih Jayapura, Kolonel Infanteri Moch. Andi P., Kamis (18/7). Pertemuan berlangsung di Markas Kodam XVII Cendrawasih guna membahas pengamanan dan perlindungan kawasan konservasi. Edward Sembiring menyampaikan, BBKSDA Papua sebagai pemangku kawasan konservasi di Papua yang sangat kaya sumber daya alamnya, memerdalam adanya sinergi dengan berbagai pihak, termasuk TNI, khususnya Kodam XVII Cenderawasih. Sinergi tersebut diharapkan dapat memaksimalkan kinerja pengelolaan kawasan konservasi, yang menjadi bagian dari pengelolaan keutuhan Negara Republik Indonesia. Saat ini Balai Besar KSDA Papua mengelola 19 kawasan konserasi dengan luas 4.1 juta hektar, dan kekayaan keanekaragaman hayati di dalamnya berpotensi untuk diedarkan secara ilegal. Pada sisi inilah sinergi berbagai pihak sangat diperlukan untuk menjaga bersama-sama. Menanggapi hal tersebut, Moch. Andi P. menyampaikan bahwa Panglima Daerah Militer XVII Cenderawasih juga memiliki komitmen yang kuat untuk melestarikan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang dimiliki Papua. Pihaknya siap mendukung dan menyukseskan program-program Balai Besar KSDA Papua. Di antara program Balai Besar KSDA Papua yang siap disinergikan dengan Kodam XVII Cenderawasih berkaitan dengan kegiatan sosialisasi bagi Prajurit TNI yang bertugas di perbatasan. Selain itu, Festival Perlindungan Cagar Alam Cycloop yang sekaligus menjadi momentum deklarasi bersama tentang perlindungan peredaran tumbuhan dan satwa liar juga menjadi program penting. Rencananya festival tersebut dilaksanakan pada 16 November 2019. Pada pertemuan tersebut, Balai Besar KSDA Papua dan pihak Kodam XVII Cenderawasih bersepakat akan melakukan pertemuan yang lebih intensif. Ke depan akan melibatkan stakeholder lainnya, termasuk komunitas, untuk menyatukan persepsi dan gagasan dalam rangka menyukseskan program-program tersebut. [] Sumber : Balai Besar KSDA Papua Call Center : 0823-9802-9978
Baca Berita

BBKSDA Papua dan Pemkab Mamberamo Raya Rembuk Bersama Untuk Kesejahteraan Masyarakat

Jayapura, 18 Juli 2019. Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S.Hut., M.Si., melakukan audiensi bersama Bupati Kabupaten Mamberamo Raya, Dorinus Dasinapa, A.Ks., S.Sos., di Hotel Front One, Jayapura. Audiensi berlangsung Rabu (17/7). Hadir dalam audiensi jajaran OPD Kabupaten Mamberamo Raya di antaranya Sekretaris Daerah, Kepala Bappeda, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Dinas PUPR, Kepala Bidang PPKLH, Kepala Bidang Ekonomi Bappeda, dan Staf Ahli Bupati. Sementara dari Balai Besar KSDA Papua hadir Kepala Bagian Tata Usaha, dan Kepala Subbagian Data Evaluasi dan Pelaporan. Dalam paparannya, Kepala Balai Besar KSDA Papua menyampaikan, terdapat 11 Kabupaten yang secara administratif masuk dalam Kawasan Suaka Margasatwa Mamberamo Foja (SMMF), dan Mamberamo Raya adalah Kabupaten terluas di antara 11 kabupaten tersebut, yaitu 53% berada di dalam kawasan SMMF. Sementara Bupati Kabupaten Mamberamo Raya menyampaikan, pada prinsipnya, Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya sangat mendukung pengelolaan kawasan konservasi sebagai penyangga kehidupan, sehingga SMMF harus dijaga dan dilestarikan. Namun di beberapa wilayah (kampung), masyarakat yang berada dalam Suaka Margasatwa dapat dikategorikan berada pada garis kemiskinan. Faktor utamanya adalah mereka sulit berkembang karena daerah yang terisolir. Salah satu fasilitas yang mereka butuhkan saat ini adalah akses jalan menuju daerah atau wilayah yang lebih ramai dan maju. Pemerintah Kabupaten Mamberamo Raya telah mencanangkan pembangunan jalan, yaitu Trimuris – Kasonaweja, Trimuris – Anggreso, dan Kasonaweja – Iwaso. Pada saat yang sama akan dibangun juga jalan Trans Papua Utara, yang merupakan program nasional. Dalam sesi diskusi, Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar KSDA Papua menyampaikan mekanisme pembangunan jalan di dalam kawasan konservasi. Hal itu dapat dilakukan dengan mengacu pada Peraturan Menteri Lingkingan Hidup dan Kehutanan RI Nomor P. 23/MENLHK/SETJEN/KUM.1/5/2019 Tanggal 24 Mei 2019 tentang Jalan Strategis di Kawasan Hutan. Selain itu, dapat pula mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor SK. 547/Menlhk/KSDAE/KSA.0/II/2018 tentang Pembentukan Tim Teknis Evaluasi Kesesuaian Fungsi Cagar Alam Pegunungan Cycloop, SM Mamberamo Foja, dan Suaka Margasatwa TWA Pulau Dolok, Provinsi Papua. [] Sumber : Balai Besar KSDA Papua Call Center : 0823-9802-9978

Menampilkan 5.281–5.296 dari 11.140 publikasi