Selasa, 28 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

Sambang Tretan Jilid II Antisipasi Karhutla di TN MerBeti

Jember, 1 Agustus 2019. Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) kembali menggelar kegiatan Sambang Tretan pada tanggal 30 Juli lalu. Kegiatan ini diikuti oleh petugas Resort Baban, SPTN Wilayah III Kalibaru TN MerBeti menggandeng Muspika Kecamatan Silo, Pemdes Desa Mulyorejo, dan kelompok desa binaan. Tema yang diusung yaitu Deteksi Dini Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), sub tema Sambang Tretan Jilid II. Mengedepankan keharmonisan dan sinergi antara TN MerBeti dengan pihak terkait untuk bersama-sama mengantisipasi terjadinya Karhutla di musim kemarau. Tim sambang tretan berpusat di lokasi rawan kebakaran yaitu Blok Curah Burun. Dalam perjalanan tim melakukan pemantauan di sepanjang jalur Perhutani, Perkebunan dan lingkungan rumah warga. Tidak terdeteksi adanya kebakaran. Tim melakukan kunjungan ke rumah warga dan memberikan penyuluhan untuk waspada dalam menggunakan api. Selanjutnya saat memasuki kawasan zona rimba dilakukan pemantauan kawasan areal bambu yang gersang, namun tidak ditemukan adanya kebakaran. Kepala Balai TN MerBeti memberikan arahan kepada setiap pengelola SPTN Wilayah agar tetap membangun kebersamaan seperti sambang tretan ini, dan terus mengkampanyekan tentang pentingnya pelestarian kawasan konservasi. Sumber : Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti)
Baca Berita

Balai Besar Tana Bentarum Turut Meriahkan INDONESIA INTERNATIONAL OUTFEST 3RD 2019

Jakarta, 1 Agustus 2019. Bertepat di halaman lapangan Aldiron, Pancoran Jakarta Selatan pembukaan Pameran Indonesia Outdoor Festival tahun 2019, pameran dilaksanakan selama 4 hari ini di mulai tanggal 1-4 Agustus 2019 secara resmi dibuka oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia. Selama empat hari kedepan, Balai Besar Tana Bentarum bersama dengan Ditjen PSKL turut berpartisipasi pada kegiatan Indonesia International Outdor Festival 2019 (IIOUTFEST) yang berlokasi di lapangan Aldiron Jakarta. Mengusung tema ?Rumah Kreasi PeSoNa?, stand Perhutanan Sosial hadir dengan warna yang berbeda diantara stand-stand lainnya dengan konsep stand yang ?homy? dan jejeran Land Rover yang klasik di depan stand menjadikan stand ?Rumah Kreasi Pesona? sangat menarik dan instragramable untuk menjaring minat para pengunjung milenial. Keikutsertaan Balai Besar Tana Bentarum dalam ajang pameran OUTFEST 2019 kali ini, dilakukan bersama-sama para penggiat ekowisata diberbagai wilayah di Indonesia di bawah binaan Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan, KLHK. Bertemakan adventure, nature, community and history, Direktorat Penyiapan Kawasan Perhutanan Sosial (PKPS) mengajak para penggiat ekowisata di daerah untuk bisa menampilkan atraksi daya tarik wisata di masing-masing wilayahnya dan juga turut mensosialisasikan program perhutanan sosial dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Di sela-sela persiapan Stand Rumah Kreasi Pesona (Perhutanan Sosial Nusantara) Ibu Direktur PKPS, Ir. Erna Rosdiana, M.Si menyampaikan dalam arahannya pada tim ? Ajang pameran indonesia outdoor pestival ini harus dijadikan moment untuk mempromosikan potensi wisata yang ada di daerah, khususnya binaan dari Direktorat PKPS?. Menurutnya para pengunjung pameran outfest ini merupakan kaum yang berasal dari generasi millenia yang sangat suka untuk melakukan travelling menuju destinasi wisata di daerah yang banyak mengandung unsur adventure dan masih memiliki nilai lingkungan yang alami, pungkasnya. Pameran Outfest 2019 Rumah Kreasi Pesona, Direktorat PKPS-KLHK mengundang sebanyak 7 perwakilan kelompok penggiat ekowisata, terdiri dari LPHN Salibutan Sumatera Barat, Arsel Community Bangka-Belitung, KTH Seberang Bersatu Bangka-Belitung, KTH Mandiri Kali Biru Yogyakarta, Gapoktan Rimba Lestari NTB, dan Koperasi Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS) Kalimantan Barat. Kehadirian Tana Bentarum diundang untuk menampilkan potensi ekowisata yang ada di wilayah pengelolaannya khususnya lokasi-lokasi Kemitraan Konservasi antara Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS) bersama dengan masyarakat di penyangga kawasan. Sesuai tema yang diangkat dalam pameran Outfest 2019 oleh Direktorat KPKS, Balai Besar Tana Bentarum mengangkat beberapa potensi ekowisata di lokasi kemitraan konservasi seperti Arung Jeram di Hulu Kapuas Desa Bungan Jaya, Jelajah Goa Karst di Tanjung Lokang, Ekpedisi Kapuas-Mahakam di Desa Tanjung Lokang, Mengintip Danau Sentarum di Bukit Semujan, Pesona Pulau Melayu dan Pulau Sepandan di Danau Sentarum. Setiap harinya stand Rumah Kreasi PeSoNa akan menghadirkan dialog interaktif dengan topik bahasan yang berbeda dengan menghadirkan narasumber dari kelompok tani pemegang izin akses kelola Perhutanan Sosial dengan agenda sebagai berikut: Pameran selama 4 hari ini ditargetkan dapat memberikan informasi berupa promosi wisata pada para kaum milenial untuk datang dan berkunjung khususnya ke wilayah-wilayah Binaan PSKL yang memiliki destinasi wisata alam menarik. Target terpenting umumnya adalah merubah cara pandang kaum milenia agar lebih mencintai potensi hutan Indonesia, salah satunya sebagai destinasi wisata alam nusantara. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum)
Baca Berita

Balai TN Matalawa Semarakkan HUT ke 74 RI di Kabupaten Sumba Timur

Waingapu, 1 Agustus 2019. Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 74 Kemerdekaan Republik Indonesia sudah semakin dekat. Berbagai macam acara mulai dibuat untuk menyambut hari besar tersebut. Diantaranya yang dilakukan di Waingapu adalah Pameran Pembangunan dan Taman Hiburan Rakyat. Pameran yang akan berlangsung tanggal 1-20 Agustus resmi dibuka oleh Bupati Sumba Timur, Gidion Mbiliyora pada tanggal 1 Agustus pukul 15.30 WITA. Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa) turut memeriahkan pameran ini sekaligus sebagai ajang pengenalan dan persiapan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang akan diperingati 10 Agustus nanti kepada para pengunjung. Dengan stand yang dibuat menyerupai kondisi perkemahan untuk wisata birdwatching, para pengunjung sangat antusias berswafoto di dalam stand. Tak ketinggalan, Bupati Sumba Timur pun menyempatkan masuk dan melihat-lihat stand TN Matalawa. Selain dekorasi, Bupati juga mengapresiasi tayangan-tayangan promosi wisata di stand ini. Pameran ini menghadirkan stand-stand dari SKPD lingkup Kabupaten Sumba Timur, BUMN, instansi vertikal, dan pihak swasta. Sumber: Balai Taman Nasional Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (TN Matalawa)
Baca Berita

Balai Besar Bentarum Bekali Kelompok Periau Madu Hutan

Rabu, 31 Juli 2019 - Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) yang bekerjasama dengan Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Wilayah Kalimantan dan PISU ADB FIP-1 Kapuas Hulu melaksanakan kegiatan Pembekalan Periau Madu Hutan dalam Panen Lestari, Pengolahan dan Pengemasan Produk. Potensi sumberdaya hutan yang ada di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum, khususnya potensi madu hutan memiliki prospek yang sangat potensial dalam meningkatkan pendapatan masyarakat lokal serta sebagai modal pembangunan wilayah Kabupaten Kapuas Hulu. Usaha madu hutan ini selain memberikan nilai ekonomis yang tinggi bagi masyarakat serta dapat mendukung pelestarian kawasan Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum. Kegiatan Pembekalan Periau Madu dalam Panen Lestari, Pengolahan dan Pengemasan Produk ini dilaksanakan pada tanggal 25-27 Juli 2019 yang diikuti oleh masing-masing 20 orang peserta yang berasal dari Desa Vega, Kecamatan Selimbau dan tanggal 29-31 Juli 2019 di Desa Pulau Majang, Kecamatan Badau. Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan yang diwakili oleh Nugroho Rinadi Pamungkas mengungkapkan bahwa kegiatan ini untuk mendorong kapasitas masyarakat dalam diversifikasi pengolahan madu hutan dan meningkatkan kualitas hasil olahan madu. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan keterampilan petani madu hutan dalam pengelolaan potensi madu hutan dengan sistem panen lestari dan pengolahan produk madu lestari dengan kemasan produk yang menarik, serta menyusun rencana tindak lanjut pengembangan madu hutan lestari. “Pengembangan madu di Danau Sentarum ini memiliki prospek yang bagus, selain dengan produk ikan yang melimpah madu ini sangat menjanjikan, jadi bersyukur saat ini ada pelatihan tentang madu bak gayung bersambut sesuai dengan harapan masyarakat” Ujar Suhaili Yakto peserta dari Desa Pulau Majang. Senada dengan Kepala Desa Vega “semoga masyarakat bisa mengikui pelatihan ini dengan baik, sudah banyak Balai Besar Tana Bentarum membantu kita, saatnya kita semua hidup mandiri, sejahtera dan tanpa merusak hutan” Menurut Kepala SPTN Wil. VI Semitau “hasil yang diharapkan dari kegiatan tersebut yaitu bertambahnya keterampilan petani madu hutan baik dalam penerapan sistem panen lestari, pengolahan produk madu lestari serta dapat menyusun rencana tindak lanjut pengembangan madu hutan lestari sehingga dapat bermanfaat dan meningkatkan nilai ekonomi madu di Kapuas Hulu” Kepala Balai Besar yang diwakili oleh Kepala Bidang PTN Wilayah III Lanjak menyampaikan kepada masyarakat untuk bersama – sama menjaga hutan Taman Nasional Danau Sentarum beserta potensi yang ada didalamnya seperti madu hutan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan karena konsep dasarnya adalah pengendalian karhutla berbasis periau. “Apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan, lebah madu tidak akan hinggap dan menghasilkan madu sebagaimana mestinya, saya berharap kepada masyarakat khususnya Desa Pulau Majang dan Desa Vega agar berperan aktif dalam pengelolaan kawasan terutama menjaga kawasan dari kebakaran hutan dan lahan karena ancaman yang serius pada musim sekarang adalah kebakaran dan peranan masyarakat sebagai ujung tombak dilapangan sangat penting”. Ujar Kepala Bidang PTN Wil III Lanjak. Sumber: Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Berita

Perkuat Resort Base Managament, Balai TN Kayan Mentarang Eksplore Kehati di Resort Sungai Tubu

Long Alango, 1 Agustus 2019. Penguatan Resort Base Management merupakan fokus terkini oleh Balai TN Kayan Mentarang dibawah kepemimpinan Kepala Balai Ir.Johnny Lagawurin yang memungkinkan untuk menginventarisasi seluruh potensi kehati yang terdapat di Taman Nasional Kayan Mentarang secara efektif dalam skema pengelolaan kolaboratif. Baru-baru ini telah dilaksanakan Patroli Fungsional di Resort Sungai Tubu Seksi Pengelolaan Taman Nasional wilayah II Long Alango. patroli yang berlangsung selama 10 hari (17 – 26 Juli 2019) ini telah manjangkau kawasan seluas ±380 Ha dari luas kawasan Resort Sungai Tubu yakni 74.424,70 Ha. Kegiatan ini tidak menemukan adanya ancaman serius baik di dalam kawasan maupun di batas kawasan. Selain mengawasi kondisi kawasan, dengan kekayaan alam yang tersuguhkan sepanjang trek patroli juga menggerak inisiatif Tim Patroli yang di pimpin oleh Misoniman, A.Md (Polhut Penyelia) untuk mencatat dan mendokumentasikan keanekaragaman hayati yang dijumpai. Seperti buah rotan, anggrek, pohon ulin, hingga potensi akuatik seperti Ikan Pelian/Masheer (Tor tambroides) yang menjadi primadona di pasar perbatasan Indonesia-Malaysia. Kondisi kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) saat ini terbilang relatif lebih aman bila dibandingkan dengan Taman Nasional Lain di Indonesia yang memiliki ragam ancaman baik satwa maupun habitat satwa. Kondisi ini tak lantas memberikan ruang untuk Balai Taman Nasional Kayan Mentarang untuk bekerja lebih santai. Ada potensi keanekaragaman hayati yang harus secara terus-menerus di pantau dan menjadi catatan tersendiri dalam upaya memperkuat Resort Base Management TNKM. Sumber : Tim Patroli Fungsional Resort Sungai Tubu SPTN II Long Alango Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Berita

BBKSDA Jawa Timur Satukan Kesepahaman Dengan Penyegaran Fungsional

Sidoarjo, 31 Juli 2019. Sebanyak 50 Pejabat Fungsional Tertentu lingkup Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) mengikuti kegiatan penyegaran yang di gelar pada 30 – 31 Juli 2019 di Hotel Sofia - Sidoarjo. Para pejabat fungsional tersebut terdiri atas Pengendali Ekosistem Hutan, Penyuluh Kehutanan, dan Polisi Kehutanan. Selama 2 hari para peserta mendapat beberapa materi teknis yang digunakan dalam mengerjakan tupoksi sehari-hari. Beberapa materi tersebut antara lain Pemenuhan Kewajiban Penangkar, Stuudbook dan Logbook, BAP Kelahiran dan BA Kematian, serta Identifikasi Kebutuhan Tagging Lembaga Konservasi dan Penangkar. Juga Pelestarian Burung Hantu, Pengukuran dan Pengujian Kayu yang masuk dalam Appendiks II Cites, serta Tehnik Pengisian Data pada e-Data Collection. Beberapa pemateri sengaja didatangkan dari luar instansi BBKSDA Jatim seperti Administratur KPH Parengan, Koordinator The OWL World of Indonesia, dan Balai Pengelolaan Hutan Produksi Wilayah VII Denpasar. Sedangkan pemateri lainnya berasal dari rekan-rekan Pengendali Ekosistem Hutan BBKSDA Jatim. Dalam sambutannya, Dr. Nandang Prihadi, S. Hut., M.Sc., Kepala BBKSDA Jatim mengharapkan agar setelah mengikuti penyegaran para peserta memiliki kesepamahaman yang sama mengenai studbook, logbook, tagging, beserta penerapan di lapangan. “Jadi nanti mengerti cara mengisinya, taggingnya seperti apa, dan pelaksanaannya juga bagaimana,” tambah Nandang. Pada beberapa materi yang bersifat teknis dilaksanakan dalam 2 kelas terpisah dan peserta dibagi kedalam kelas-kelas tersebut. Tujuannya selain agar peserta lebih fokus, juga agar peserta dapat lebih berinteraksi dengan peserta dari bidang dan seksi lain. Selain itu, setiap materi teknis dilakukan pre test dan post test, dan bagi 10 peserta dengan nilai tertinggi menerima doorprize dari panitia pelaksana. Terkait peredaran tumbuhan dan satwa liar, panitia memberikan materi pengujian kayu. Meski nantinya tidak mendapatkan sertifikat kompetensi, namun harapannya peserta dapat mengetahui dasar pengujian kayu. Menurut Nandang, ada kesepakatan antara BBKSDA Jatim bersama BKSDA Yogyakarta dan BKSDA Jawa Tengah, yang akan mengusulkan ke Balai Diklat untuk melakukan Diklat Uji Kayu di Balai Diklat. Sehingga BKSDA memiliki kompetensi untuk menguji kayu. “Sehingga tak ada lagi alasan lagi, kita tidak memiliki kompetensi pada pengujian kayu,” tutup Nandang. Sumber: Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Piagam Pa'Jukukang, Menuju Selayar Zero Illegal Fishing Dan Destraktive Fishing

Benteng - Kepulauan Selayar, 31 Juli 2019. Rapat Koordinasi dan Penandatanganan "Piagam Pa'jukukang" antar anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FORKOPIMDA) dan lingkup instansi Kabupaten Kepulauan Selayar dilaksanakan di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Bupati Kepulauan Selayar tentang Pemberantasan Illegal Fishing dan Destructive Fishing di Kabupaten Kepulauan Selayar (29/7). Rapat dihadiri Bupati, Ketua DPRD, Kapolres, Dandim 1415, Kajari, para Staf ahli dan asisten Bupati, Danpos TNI AL, para Kepala OPD, para Camat, Lurah dan kepala desa wilayah pesisir Kabupaten Kepulauan Selayar, Koordinator Wilayah Kerja PSDKP, Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Kepala Cab. Dinas Kelautan Provinsi Sulawesi Selatan serta koordinator WCS-IP wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar. Dimulai dengan pembacaan piagam kesepakatan oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan. Komitmen ini sangat penting dan strategis karena selama ini beberapa pihak cenderung kurang peduli, bahkan memback-up kegiatan illegal dan destructive fishing di wilayah Kab.Selayar, dengan melakukan pungli dan memperdaya nelayan. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Bupati Kepulauan Selayar. Beliau mengatakan Piagam Pa'jukukang ini disamping sebagai bentuk komitmen, juga sebagai upaya penegakan peraturan perundang-undangan. Sebagai contoh UU nomor 45 tehun 2009 tentang perikanan, pasal 9 mengamanatkan bahwa setiap orang dilarang memiliki, menguasai, membawa, dan atau menggunakan alat penangkapan ikan dan atau alat bantu pengankapan ikan yang mengganggu dan merusak keberlanjutan sumberdaya ikan di kapal penangkap ikan di wilayah Pengelolaan perikanan republik Indonesia terkhusus di Kepulauan Selayar. Bupati Muh. Basli Ali memerintahkan jajarannya dan menghimbau para pihak agar membereskan "Illegal Fishing" dan "Destructive Fishing" , Selayar harus "zero illegal fishing and destructive fisihing". Beliau menginstruksikan setiap desa dibuat dan dipasang pintu gapura atau semacamnya (terkhusus daerah pesisir) bertuliskan "Anda memasuki kawasan bebas destruktif dan illegal fishing" dari anggaran desanya masing-masing sebagai bentuk komitmen/implementasi sampai di tingkat bawah. "Piagam ini diharapkan mempunyai dampak psikologis buat para pelaku illegal fishing, bahwa akan ditindak tegas sesuai dengan undang-undang karena kita semua sudah berkomitmen dan ditingkat kecamatan melakukan kegiatan semacam ini" ucap Basli Ali diakhir sambutannya. Setelah Bupati Kepulauan Selayar menyampaikan sambutannya dilanjutkan dengan sambutan dari ketua DPRD Kepulauan Selayar, Mappatunru, S.Pd. Beliau menyarankan bahwa hasil piagam Pa'jukukang ini disampaikan juga ke kabupaten tetangga karena pelaku ilegal fishing ini bukan hanya berasal dari Selayar saja tapi banyak juga dari kabupaten tetangga. Dalam kesempatan ini Kapolres Kepulauan Selayar AKBP. Taovik Ibnu Subarkah juga menyampaikan usulan bahwa kedepan diadakan forum melalui Dinas Kelautan Propinsi yang mengundang kabupaten-kabupaten tetangga karena Kepulauan Selayar adalah spot utama pencarian ikan. Selain itu forum tersebut bisa dijadikan ajang sosialisasi Piagam Kesepakatan ini. "Dalam penindakan Ilegal Fishing ini juga terkendala dengan cuaca dan armada di Polres Kepulauan Selayar, nanti diharapkan kesatuan-kesatuan yang mempunyai fasilitas yang lebih besar bisa bersama-sama melaksanakan penindakan besar-besaran" Jelas AKBP Taovik Ibnu Subarkah. Beliau meminta agar tidak ada lagi pihak yang merasa terganggu kalau dilakukan penertiban dan penegakan hukum. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan singkat dari Kajari Kepulauan Selayar Cumondo Trisno, SH. Dalam sambutannya menyampaikan bahwa pertemuan yang menjalin kerjasama ini, yang kita butuhkan adalah "actionnya" karena efek jera dari sebuah pelanggaran adalah penindakan, instansi lain memantau dan mengingatkan karena kita semua adalah manusia. "Dan jika ada daerah lain yang melakukan pelanggaran Ilegal Fishing di daerah Selayar kita tangkap saja" tegas Cumondo Trisno menutup sambutannya. "Jaga Laut Kita untuk Kesejahteraan Masyarakat, Kelola dengan Bijaksana dengan Prinsip Keberlanjutan dan Ramah Lingkungan" Adapun isi PIAGAM PA'JUKUKANG adalah sebagai berikut : 1. Akan melakukan tindakan tegas sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku terhadap pelaku illegal fishing dan destructive fishing dalam wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar. 2. Pelaku illegal fishing dan destructive fishing tersebut pada angka (1) di atas antara Iain : a. Pengguna kapal penangkapan ikan yang tidak memiliki Izin atau tidak sesuai penzinan; b. Penggunaan kompresor sebagai alat bantu penangkapan ikan; c. Penggunaan pukat harimau dan lalau slat penangkapan Ikan lainnya yang dilarang; d. Penggunaan bahan peledak (bom), racun berbahan kimia dan biologi antara lain potassium sianida, tuba dan pestisida dalam melakukan penangkapan ikan, lobster dan crustacea lainnya. Sumber Teks & Foto : Asri - PEH Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Berita

Deteksi Sinar X Ray Halau Pengiriman Satwa Ilegal

Pontianak, 1 Agustus 2019. Meskipun mata telanjang bisa di kelabuhi, sinar x ray menjadi alat bantu dalam mencegah tindakan ilegal. Pengiriman Lima ekor Sanca Kembang (Phyton reticulatus) dan Seekor Biawak Hitam (Varanus beccari) melalui cargo bandara Supadio Kubu Raya berhasil digagalkan. Tanpa dokumen resmi, satwa-satwa ini akan dikirim keluar dari wilayah Kalimantan Barat. Petugas Balai Karantina Kelas I Pontianak yang mengidentifikasi tindakan ilegal ini akhirnya menyerahkan hasil temuannya ke BKSDA-KALBAR. Drh. Taryu, mewakili pihak Balai Karantina Kelas I Pontianak menyerahkan secara langsung satwa-satwa tersebut ke Ketua Tim Penyelamatan tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) dan Kasat Polhut BKSDA-KALBAR. Semoga dengan kolaborasi yang apik, tugas-tugas konservasi akan berjalan semakin baik. Bravo Konservasi. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Berita

Menteri PPN Resmikan Pusat Batik Warna Alam Meru Betiri

Jember, 31 Juli 2019. Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti), Maman Surahman menghadiri acara kunjungan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) di Universitas Jember (UNEJ) dalam rangka Expo Produk ICCTF dan peresmian Desa Wonoasri sebagai pusat batik warna alam Meru Betiri. Salah satu produk unggulan yang dihasilkan dari kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam rangka program mitigasi berbasis lahan yang bekerjasama antara TN MerBeti dengan UNEJ yang telah didanai oleh ICCTF yaitu produk batik tulis warna alam (Batik Kehati MerBeti). Menteri PPN/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro pada sambutannya menyampaikan bahwa di Kabupaten Jember terdapat kawasan hutan yang harus dijaga yaitu TN MerBeti agar keseimbangan lingkungan juga tetap terjaga. Selanjutnya Menteri Bambang meresmikan Desa Wonoasri yang merupakan salah satu desa penyangga kawasan TN MerBeti sebagai pusat batik warna alam dan dilanjutkan dengan berkeliling stand pameran untuk melihat produk-produk yang ditampilkan. Sejalan dengan diresmikannya Desa Wonoasri sebagai pusat batik warna alam meru betiri, Kabalai TN MerBeti akan lebih fokus lagi dalam meningkatkan kapasitas masyarakat sebagai pengrajin batik sehingga bisa memenuhi permintaan pasar, selain itu bantuan peralatan dan jaminan pasar akan lebih dikembangkan lagi. Sumber: Balai TN Meru Betiri
Baca Berita

Mapala Silvagama Siap Eksplorasi Dua Taman Nasional di Kalimantan Barat

Yogyakarta, 31 Juli 2019. Mapala Silvagama Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada mengadakan upacara pelepasan tim lapangan ekspedisi 50 Taman Nasional Mapala Silvagama di Taman Timur Fakultas Kehutanan UGM sebelum diberangkatkan menuju Taman Nasional Danau Sentarum dan Taman Nasional Gunung Palung. Ekspedisi 50 Taman Nasional Mapala Silvagama merupakan program kerja jangka panjang yang telah dilaksanakan sejak tahun 2014. Hingga saat ini, Mapala Silvagama telah melakukan ekspedisi di 19 Taman Nasional. Taman Nasional Danau Sentarum dan Taman Nasional Gunung Palung ini merupakan ekspedisi ke 20 dan 21 dalam rekam jejak Ekspedisi 50 Taman Nasional Mapala Silvagama. Sebelumnya pada tahun 2018, Mapala Silvagama telah melakukan eksplorasi taman nasional di Pulau Kalimantan, yaitu di Taman Nasional Tanjung Puting. Pulau Kalimantan meruapakan salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati yang luar biasa. Pada Taman Nasional Danau Sentarum, tim akan fokus mengambil data terkait keanekaragaman dan persebaran burung diurnal yang difokuskan pada wilayah Hutan Kirin Lintang, sedangkan pada Taman Nasional Gunung Palung fokus penelitian tim pada tumbuhan Nephentes sp yang tersebar di berbagai ekosistem pada Stasiun Penelitian Cabang Panti. Tujuan dari kegiatan Ekspedisi 50 Taman Nasional Mapala Silvagama adalah menyajikan luaran yang informatif dan edukatif berkaitan dengan konservasi alam bagi masyarakat luas. Salah satu luaran dari kegiatan ini adalah photobook yang menyuguhkan cerita ekspedisi Mapala Silvagama di daerah Kalimantan Barat yaitu Taman Nasional Tanjung Putting, Taman Nasional Danau Sentarum dan Taman Nasional Gunung Palung. Pada Ekspedisi Taman Nasional kali ini, Mapala Silvagama juga bekerja sama dengan Unit Fotografi Universitas Gadjah Mada (UFO) dalam hal dokumentasi selama kegiatan. Tim lapangan yang siap diberangkatkan dalam Ekspedisi Taman Nasional Danau Sentarum dan Taman Nasional Gunung Palung ini antara lain Hamzah Ramdhani, Tegar Kukuh Pribadi, Jatmiko Bayu Aji dan Yusta Elvasonia Duan sebagai tim peneliti dan Rendy Wijayanto, Rienetta Ichmawati Delia Sandhy, Bram Ashido, Farisa Armantya serta Wicak Baskoro sebagai tim dokumentasi. Ekspedisi akan dilaksanakan selama 31 hari (31 Juli – 31 Agustus 2019). Dengan adanya kegiatan ekspedisi ini, diharapkan dapat meningkatkan kapasitas anggota serta hasil yang diperoleh dapat bermanfaat dan dinikmati seluruh khalayak umum. Sumber : Universitas Gadjah Mada
Baca Berita

Kemerdekaan RI 74 dengan Pelepasliaran Satwa di Tahura Sultan Adam

Banjarbaru, 1 Agustus 2019 – Mengisi Bulan Kemerdekaan RI ke-74 dan Hari Konservasi Alam Nasional 2019, sekaligus rangkaian Kunjungan Menteri LHK Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar di Kalsel, maka demi menjaga dan melestarikan populasi satwa liar di habitat alami, BKSDA Kalimantan Selatan bersama dengan Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan melakukan kegiatan pelepasliaran satwa di Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam berlokasi di Mandiangin Kabupaten Banjar. Terdapat 6 ekor satwa yang dilepasliarkan di Tahura yaitu Binturong (Arctictis binturong) sebanyak 1 ekor, Kukang (Nycticebus menagensis) sebanyak 2 ekor. Kedua jenis satwa ini termasuk dalam kategori dilindungi. Sementara satwa lainnya yang dilepasliarkan dan tidak termasuk dalam kategori dilindungi undang-undang adalah Musang Pandan (Paradoxurus hermaphrodites) sebanyak 1 ekor, Ayam Hutan (Lophura ignita) sebanyak 2 ekor. Kegiatan pelepasliaran ini dilakukan oleh BKSDA Kalsel mewakili Kepala Balai KSDA Kalsel Darwin, S.Hut dan Jarot Jaka M serta tim KKH. Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel, diwakili oleh Bp. Warsita (Sekretaris Dinas Kehutanan), Rahmat Riansyah (Kepala Tahura) dan beberapa staf lainnya. Menurut Kepala BKSDA Kalsel, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., pelepasliaran ini merupakan salah satu upaya dalam menjaga populasi satwa liar di habitat alami. Kedepan kita berharap satwa yang dilepasliarkan di Tahura ini dapat beradaptasi dan berkembangbiak, sehingga resiko kepunahan satwa dapat diminimalisir, imbuhnya. Kerjasama para pihak, terutama keterlibatan masyarakat sangat penting dalam usaha pengawetan satwa dan tumbuhan, demikian pula dukungan Dishutprov, UPTD Tahura dan KPH sangat berharga. (ryn) Sumber : Jarot Jaka Mulyono, S.Hut, M.Sc - Call Center Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Berita

13 Penyelam Balai TN Bunaken Ikut Cetak Rekor Selam Dunia 2019

Manado, 1 Agustus 2019. Bertempat di perairan megamas Teluk Manado, sorak sorai terdengar dari peserta selam yang akan memecahkan tiga aksi rekor selam dunia. Tak terkecuali utusan dari tim Balai Taman Nasional Bunaken. Terdapat tiga kategori aksi yang akan ditorehkan dalam aksi pemecahan rekor selam dunia dalam memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74 di Pantai Manado, yang bersambung dengan perairan Bunaken dimana Teluk Manado merupakan salah satu pintu masuk kawasan Taman Nasional Bunaken. Dengan berlatar Pulau Manado Tua para divers berjajar membentuk barisan dengan berpegangan tangan. Venue untuk penyelaman massal di Teluk Manado sangat representatif untuk penyelenggaraan kegiatan ini, berbeda dengan periaran Taman Nasional Bunaken yang didominasi oleh rataan terumbu dan tubir, sehingga pemecahan rekor selam dunia juga merupakan diversifikasi destinasi selam di Sulawesi Utara. Pemecahan rekor dunia tersebut terdiri dari penyelaman massal terbanyak (Longest Human Chain Underwater yang diselenggarakan pada Kamis, 1 Agustus 2019. Kemudian dirangkaikan penyelam terpanjang di bawah air (Most People Scuba Diving), dan pembentangan bendera terbesar di bawah air (Largest Unfurled Flag Underwater) yang akan dilaksanakan pada 3 Agustus 2019. Sebanyak 13 penyelam dari Balai Taman Nasional Bunaken ikut sebagai peserta dalam Guinness World Records (GWR) tersebut. Dengan menggunakan seragam biru bertuliskan Forester Diver - Bunaken National Park, dengan dibantu oleh panitia dan group leader kemudian secara bersama-sama melakukan penyelaman di Teluk Manado. Sumber : Balai Taman Nasional Bunaken
Baca Berita

Sejumlah Satwa Liar Dilepasliarkan

Banjarbaru, 1 Agustus 2019 - Dinas Kehutanan Kalsel bersama UPT Tahura Sultan Adam dan BKSDA Kalsel, melaksanakan pelepasliaran satwa liar yang dilindungi dan tidak dilindungi, Rabu (31/7). Sebanyak 1 ekor Binturong, 2 ekor Kukang, 2 ekor Ayam Hutan dan 1 ekor Musang Pandan, dilepas di areal Tahura Sultan Adam Mandiangin. Bintorung (Arctictis binturong) dan Kukang (Nycticebus menagensis) merupakan satwa liar yang dilindungi berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 dan Peraturan Menteri LHK Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Sedangkan Musang Pandan (Paradoxurus hermaphroditus) dan Ayam Hutan (Lophura bulweri) merupakan satwa liar yang tidak dilindungi. Pelepasliaran tersebut dihadiri Sekretaris, Kepala Bidang PKSDAE dan Kasi KSDAE, Kepala Tahura dan Kasi Perlindungan Hutan dan KSBTU, serta beberapa staf dari BKSDA Kalsel dan diliput media SCTV. Tujuan pelepasliaran satwa adalah untuk mengembalikan satwa liar ke habitatnya, sehingga keberadaannya tetap terjaga dan tidak punah. Kepala Dinas Kehutanan Kalsel, Hanif Faisol Nurofiq, selama ini sangat konsisten terhadap penanganan satwa liar. Ia mengatakan bahwa satwa liar yang hampir punah harus dilindungi. "Saya mengimbau kepada masyarakat Kalsel, agar satwa liar yang dipelihara dapat dilaporkan dan menyerahkannya petuga Dinas Kehutanan atau BKSDA Kalsel. Untuk dievakuasi dan dilepasliarkan kembali," tegasnya. (dishut) Sumber : Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan
Baca Berita

Konsultasi Publik RPJP TWA Gunung Permisan Membuka Potensi wisata tersembunyi di Bangka Selatan

Pangkalpinang, 30 Juli 2019. Bertempat di Hotel Swiss Bell Kota Pangkal Pinang, telah dilakukan rapat pelaksanaan Konsultasi Publik Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Periode 2020 – 2029 Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Permisan, Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dari hasil kegiatan tersebut diperoleh hasil bahwa dalam penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Jangka Panjang TWA Gunung Permisan Periode 2020 – 2029, dilaksanakan oleh Balai KSDA Sumatera Selatan. Balai KSDA Sumatera Selatan menghadirkan para pihak, baik berkaitan langsung maupun tidak langsung serta berkepentingan langsung dengan kawasan terhadap keberadaan kawasan TWA Gunung Permisan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, meliputi : Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung; ;Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan; UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; Camat Simpang Rimba; Kepala Desa sekitar kawasan TWA Gunung Permisan; Universitas Bangka Belitung dan Yayasan ALOBI. Berdasarkan hasil konsultasi publik Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Periode 2020 – 2029 Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Permisan Kabupaten Bangka Selatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, disepakati hal-hal seperti sosialiasi kepada para pihak untuk memperkuat dukungan pengelolaan yang tercantum dalam rencana aksi; Memperkuat publikasi dan dokumentasi terkait pengembangan Taman Wisata Alam Gunung Permisan; Balai KSDA Sumatera Selatan akan membangun kerja sama dan sinergitas dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan dan Masyarakat sekitar kawasan dengan segala kearifan lokalnya berkomitmen untuk mendukung pengembangan dan pengelolaan TWA Gunung Permisan. Dukungan dari berbagai elemen masyarakat dan pemerintah daerah sangat terlihat, terlebih Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan saat ini tengah gencar mempromosikan potensi wisata baik alam, budaya maupun lainnya. Dengan adanya penetapan TWA Gunung Permisan melalui Keputusan Nomor : SK.578/MenLHK/Sekjen/PLA.2/7/2016 tanggal 27 Juli 2016 seluas : 3.149,69 Ha menambah modal daya tarik Bangka Selatan untuk mempromosikan daerahnya. Sumber : Dedi Susanto - PEH Pertama Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Berita

Tiga Jalur Trekking Taman Nasional Kelimutu

Ende, 1 Agustus 2019. Selain Bird Watching dan Jalur Tenun Ikat sebagai produk atraksi wisata yang di tawarkan oleh Taman Nasional Kelimutu pada acara Travel Mart (Festival TN & TWA tahun 2019 di Nusa Dua Bali) adapun beberapa Produk lainnya salah satunya Trekking di Taman Nasional Kelimutu. Trekking merupakan atraksi wisata Taman Nasional Kelimutu diperuntukan bagi peminat khusus trekking. Atraksi ini menyajikan jalur trekking yang menarik dan menantang, karena selama menjelajahi jalur trekking kita dapat kombinasikan dengan kegiatan bermalam atau berkemah. Selain itu kita juga dapat berinteraksi dengan masyarakat setempat sekitar jalur trekking, karena selama perjalanan trekking kita akan melewati beberapa rumah Adat Etnis Lio. Atraksi wisata jalur trekking terdapat tiga jalur yaitu jalur trekking Wologai, Niowula, dan Ratebeke yang dapat dipandu oleh masyarakat lokal mitra Taman Nasional Kelimutu. Disetiap ketiga jalur trekking memiliki cerita perjalanan yang menarik menjadi pilihan wisatawan, Karena selama menjelajahi ketiga jalur trekking ini peminat akan diperkenalkan interaksi etnis lio yang kuat akan harmoni alam dan budaya. Bagaimana Sobat, masih ragu untuk bertrekking ??? Ayo menjelajahi Bumi Kelimutu dan menelusuri aktivitas Budaya dan alam Taman Nasional Kelimutu. Sumber : Balai Taman Nasional Kelimutu
Baca Berita

BBKSDA Sulsel Sosialisasi Talaparusi Ke Desa Cakura

Takalar, 30 Juli 2019 -Sosialisasi Talaparusi (Tata Kelola Penangkaran Rusa Berbasis Rakyat Terintegrasi dan Berkelanjutan) berlangsung sehari di Kantor Desa Cakura, Kab. Takalar, Selasa, (30/7/2019). Sosialisasi dihadiri 55 orang peserta berasal dari unsur Dinas Pariwisata Kab. Takalar, Dinas Pertanian Kab. Takalar, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Aparat Desa Cakura, Perwakilan Kelompok Mammetang, Masyarakat Desa Cakura, dan Balai Besar KSDA Sulsel. Kepala BBKSDA Sulsel Ir. Thomas Nifinluri menyampaikan konsep konservasi satwa jenis Rusa Timor melalui penangkaran dengan prinsip 3K yaitu, kemitraan, kelestarian dan kesejahteraan. ” Penangkaran rusa rakyat di Desa Cakura ini didukung beberapa stakeholders seperti BRI, Pertamina (CSR), Bus primadona, Dinas Pertanian dan stakeholder lainnya,” jelas Thomas. Prinsip 3K yaitu Kemitraan bersama masyarakat, swasta dan Perguran Tinggi, Media dan lintas Eselon I KLHK serta OPD Kabupaten dan Provinsi. Kelestarian dimaksud dengan keberlanjutan program Talaparusi dan dukungan sumberdaya nya. Sementara Kesejahteraan adalah sehat kawasan hutannya, sejahtera satwa nya serta sejahtera masyarakatnya. Lanjut Thomas, “Skema pembiayaan melalui CSR dari PT Pertamina (Persero) TBBM Makassar dengan cara membantu penangkar mulai dari pengadaan indukan, pembuatan kandang, hingga persiapan lahan untuk pakan.” Kepala Desa Cakura dalam paparannya menyambut baik program ini dan berharap keseriusan kerja kelompok yang telah dibina BBKSDA Sulsel. Beliau juga menyampaikan bahwa masyarakat cenderung akan melihat dan mengamati terlebih dahulu serta mempertimbangkan untung ruginya penangkaran tersebut. Dinas Pertanian menyampaikan bahwa warga Cakura merupakan peternak ulung sehingga mempunyai dasar kemampuan untuk Penangkaran Rusa. Yg harus diantisipasi pada penangkaran rakyat ini salah satunya adalah pencegahan penyakit pada indukan satwa melalui proses karantina. Pada sesi diskusi, kelompok masyarakat Mametang sangat antusias terhadap program Talaparusi. Mereka berharap dapat memperoleh pelatihan mengenai pengelolaan penangkaran rusa. Masyarakat berkeyakinan bahwa jika program ini berhasil akan mendatangkan banyak pengunjung dalam kegiatan wisata buru di Desa Cakura dan menjadi sumber pendapatan masyarakat. Thomas menambahkan, konsep Talaparusi adalah bentuk implementasi dari 10 cara baru kelola Kawasan Konservasi dan mendukung program prioritas nasional yaitu pariwisata serta visi Gubernur Sulsel untuk akselerasi wisata bertaraf internasional di Sulsel. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan

Menampilkan 5.217–5.232 dari 11.140 publikasi