Rabu, 29 Apr 2026

Berita

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Berita

SPTN Wilayah II Baserah Dampingi YTNTN Berikan Pelatihan Mitigasi Koflik Satwa

Baserah, Sabtu 03 Agustus 2019 - SPTN II Baserah melakukan pendampingan pelatihan mitigasi konflik satwa gajah yang diselenggarakan oleh Yayasan Taman Nasional Tesso Nilo (YTNTN). Peserta pelatihan ini adalah masyarakat Desa Gunung Melintang sebanyak 20 orang. Pelatihan dilaksanakan di kantor SPTN Wilayah II Baserah. Pemateri pelatihan mitigasi konflik gajah ini berasal dari WWF Riau Bapak Syamsuardi dan didampingi oleh petugas SPTN Wilayah II Baserah serta YTNTN. Dalam pelatihan ini masyarakat diajarkan bagaimana mengatasi konflik yang terjadi dengan satwa gajah liar. Materi-materi yang diberikan berupa teori dan praktek dilapangan. Perilaku gajah dialam liar, pengusiran gajah liar, safety pengusiran gajah liar, meriam karbit, dan perakitan meriam karbit merupakan materi teori yang diberikan kepada masyarakat. Kemudian dilanjutkan dengan simulasi pengusiran gajah liar yang langsung dilakukan dengan dipandu oleh pemateri dan pendamping pelatihan di kawasan hutan sekitar SPTN Wilayah II Baserah. “Terimakasih kami sampaikan kepada YTNTN yang telah mengadakan pelatihan ini, pelatihan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat sekitar kawasan TN Tesso Nilo yang merupakan habitat bagi gajah, kami harap masyarakat mampu memahami dan memperaktekkan ilmu yang telah diberikan. Kami TN Tesso Nilo siap bekerjasama dengan masyarakat apabila terjadi konflik dengan satwa gajah”, ujar Kepala Balai TN Tesso Nilo Bapal Ir. Halasan Tulus. Sumber: Balai TN Tesso Nilo
Baca Berita

Salonika Kisiwaitou, Kepala Kampung Tablasupa yang Mengalokasikan Dana Desa untuk Konservasi Alam

Batam, 6 Agustus 2019. Peran Salonika Kisiwaitou dalam bidang konservasi di Papua tidak dapat disangkal lagi. Salonika adalah kepala Kampung Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura. Tablasupa merupakan salah satu perkampungan eksotis di daerah penyangga kawasan konservasi Cagar Alam Pegunungan Cycloop. Keberadaan Salonika sebagai perempuan Papua telah melampaui batas-batas tradisi pratiarkal di tanah nenek moyangnya. Salonika menjadi salah satu sosok inspiratif yang memiliki kepedulian sangat besar terhadap konservasi alam di Papua, lebih khusus di wilayah kampungnya. Pada momentum Hari Konservasi Alam Nasional yang diperingati di Taman Wisata Alam Muka Kuning, Batam, 5-8 Agustus 2019, Salonika mendapatkan kesempatan menyampaikan sambutan. Hal ini karena Desa Binaan Kena Nembey di Kampung Tablasupa mendapatkan mendapatkan peringkat pertama peraih apresiasi desa binaan konservasi dalam rangka HKAN 2019. Desa Binaan Kena Nembey merupakan bagian dari program kerja Resort Tepera Yewena Yosu, BBKSDA Papua, yang didampingi Kepala Resort, Chandra Irwanto Lumban Gaol. Demikian kutipan penggalan sambutan Salonika. "Saya sebagai kepala desa di kampung saya, Tablasupa, Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, sangat mendukung konservasi di Papua. Sehingga sebagai pimpinan pemerintah terkecil di tingkat kampung saya mendorong masyarakat saya untuk membentuk kelompok-kelompok. Ada kelompok KPA, MPA, MMP, dan kami juga membentuk kelompok Polisi Masyarakat Kampung. Kami semua menjaga, sehingga sampai hari ini kampung kami masih utuh. Kami masih menikmati air yang bersih, pantai-pantai yang bersih, kami masih menikmati ikan yang segar dari laut langsung masuk ke belanga. Kami masih menikmati cenderawasih yang hampir punah. Tapi di bawah bimbingan dan binaan BBKSDA Papua cenderawasih kami semakin bertambah. Ada kaka tua dan semua flora fauna di kampung kami masih utuh saat ini." Salah satu hal penting yang dilakukan Salonika adalah menyediakan biaya operasional kegiatan KPA Amemay dalam anggaran kampung. Hal ini menandakan keterbukaan pemikiran Salonika, sehingga mampu memberikan dukungan melalui banyak segi terhadap kegiatan-kegiatan konservasi alam di Tablasupa. Berlangsungnya semua kegiatan Desa Binaan Kena Nembey juga tidak lepas dari peran dan dukungannya. Pada saat yang sama, Kepala Balai Besar KSDA Papua, Edward Sembiring, S. Hut., M. Si., menyampaikan apresiasi mendalam terhadap peranan Salonika di bidang Konservasi. Ia menyatakan, “Harapan ke depan, semoga semakin banyak terlahir Salonika yang lain di Papua, juga di Tanah Air Indonesia, sehingga alam kita semakin lestari dan terjaga.” [] Sumber : BBKSDA Papua Call Center : 0823 9802 9978
Baca Berita

BKSDA Jambi Adakan Press Release Penggantian GPS Collar dan Rescue Gajah Sumatera

Jambi, 2 Agustus 2019. Balai KSDA Jambi melakukan kegiatan press release terkait hasil kegiatan yang telah dilakukan yaitu penggantian GPS Collar 3 Gajah Sumatera di Kabupaten Tebo dan Penyelamatan Gajah Sumatera bernama Karina di Desa Pintas Tuo Kecamatan Muara Tabir Kabupaten Tebo. Press Release dilaksanakan di kantor Balai KSDA Jambi pukul 09.00 WIB dihadiri langsung oleh Kepala Balai KSDA Jambi (Rahmad Saleh), Kasubbag Tata Usaha Balai KSDA Jambi (Teguh Sriyanto) dan Pimpinan FZS (Peter Pratje) selaku mitra konservasi Balai KSDA Jambi. Sekitar 20 awak media dari berbagai media cetak maupun media elekronik datang menghadiri press release yang dilangsungkan. Kepala Balai KSDA Jambi bersama dengan Pimpinan FZS memaparkan kronologis selama kegiatan berlangsung dan latar belakang program konservasi Gajah Sumatera. Kegiatan penggantian GPS Collar dan penyelamatan Gajah Sumatera dilakukan pada tanggal 4-30 Juli 2019, Balai KSDA Jambi dan Frankfurt Zoological Society (FZS) dibantu dokter hewan dari Unsyiah dan Ahli Gajah dari Balai Taman Nasional Way Kambas Lampung dengan hasil sebagai berikut : Para awak media tidak ketinggalan untuk bertanya seputar kegiatan dan konservasi yang dilakukan oleh Balai KSDA Jambi bersama mitra konservasi terhadap kelangsungan Gajah Sumatera yang ada di Provinsi Jambi. Press Release berlangsung kurang lebih selama 1 jam. Kepala Balai KSDA Jambi, Rahmad Saleh menuturkan, “Press Release terkait kegiatan Balai KSDA Jambi dan mitra konservasi sudah dilakukan dan kami harap kedepannya masyarakat akan mengtahui tentang program konservasi KSDA Jambi terkait Gajah Sumatera yang ada di Provinsi Jambi.” Sumber : BKSDA Jambi
Baca Berita

SPTN Wilayah II Baserah Menyerahkan 500 Bibit Tanaman Kehidupan Kepada Masyarakat

Baserah, Minggu 04 Agustus 2019 – SPTN Wilayah II Baserah menyerahkan bibit tanaman kehidupan kepada Ketua RT 04 Dusun Kuala Tebangan. Bibit tersebut akan ditanam pada areal bekas kebakaran dan kritis seluas 1 Ha. Bibit tanaman kehutanan dan kehidupan tersebut diterima langsung oleh perangkat Dusun Kuala Tebangan Ketua RT Bapak Lijan. Penyerahan bibit ini dilakukan oleh personil SPTN II Baserah dipimpin oleh Kepala Resort Onangan Nilo Bapak Joni Putra Siregar. Tanaman yang diserahkan berjumlah 500 bibit yang tediri dari bibit nangka, petai dan sirsak. Permintaan bibit ini merupakan swadaya langsung dari masyarakat Dusun Kuala Tebangan. Masyarakat merasa perlu untuk melakukan penghijauan pada lokasi-lokasi bekas kebakaran. Untuk kegiatan penanaman rencananya akan dilaksanakan secara swadaya dan bergotong royong oleh masyarakat. Kegiatan ini merupakan kegiatan yang diapresiasi langsung oleh Kepala Balai TN Tesso Nilo Bapak Ir. Halasan Tulus, “kami sangat mengapresiasi inisiatif dan keinginan masyarkat untuk melakukan penanaman dan penghijauan pada kawasan terbuka di Dusun meraka, Kondisi ini menandakan bahwa trend masyarakat semakin melihat dimensi eratnya hubungan harmonis antara alam dan masyarakat setempat yang saling membutuhkan. Balai TN Tesso Nilo siap mendukung dan menyediakan bibit bagi masyarakat. Kami akan terus mensosialisasikan dan menginventarisasi masyarakat yang mau swadaya melakukan penanaman di dusun meraka.” Sumber: Balai TN Tesso Nilo
Baca Berita

Jaring Aspirasi Kembangkan Pemberdayaan MDK TN Meru Betiri

Jember, 5 Agustus 2019 - Balai Taman Nasional Meru Betiri (TN MerBeti) meluncurkan tim dalam rangka evaluasi kegiatan pemberdayaan kelompok Masyarakat Desa Konservasi (MDK) yang menyebar di SPTN Wilayah I Sarongan, SPTN Wilayah II Ambulu, dan SPTN Wilayah III Kalibaru. Kegiatan ini dilaksanakan selama 5 (lima) hari sejak tanggal 30 s/d 31 Juli dan 1 s/d 3 Agustus 2019. Tim bergerak mulai dari SPTN Wilayah II Ambulu yaitu pada kelompok TOGA King Betiri, dan Masyarakat Peduli Hutan Konservasi (MPHK) Desa Sanenrejo. Selanjutnya, tim menuju ke SPTN Wilayah III Kalibaru di SPKP Multi Kreasi Sejahtera Desa Kebunrejo. Dan terakhir ke SPTN Wilayah I Sarongan. Pada pertemuan di setiap kelompok MDK, tim menjaring aspirasi dari kelompok untuk mengembangkan dan memajukan pemberdayaan MDK di TN MerBeti. Tim melakukan peninjauan lokasi dan wawancara kepada kelompok, mendata usaha yang dilakukan dan upaya pengembangan ke depannya. Kelompok TOGA King Betiri menjalankan usaha produksi jamu tradisional, mengusulkan peralatan pengolahan jamu, peralatan pengemasan produk jamu dan pelatihan pemasaran produk jamu. Sedangkan MPHK Desa Sanenrejo yang bergerak pada pembibitan tanaman, mengusulkan perbaikan atap persemaian dan instalasi air. Kelompok SPKP Multi Kreasi Sejahtera menjalankan usaha seperti budidaya jamur oleh Dedy, ternak ayam petelur oleh H. Dasuki, dan usaha makanan ringan oleh Eko. Untuk pengembangan usaha ada beberapa usulan seperti perlunya penambahan rumah jamur, peralatan pembuatan bibit jamur, alat pembuat pakan ayam petelur, dan peralatan pembuatan nugget jamur. Data yang telah didapat oleh tim selanjutkan akan diolah untuk menghasilkan rekomendasi usaha yang bisa dikembangkan oleh MDK menuju kemandirian masyarakat. Kepala Balai TN MerBeti, Maman Surahman, S.Hut, M.Si. berpesan bahwa untuk pemberdayaan masyarakat perlu dikawal mulai dari awal hingga akhir. Kabalai menilai sukses untuk SPKP Multi Kreasi Sejahtera, selanjutnya bisa dicontoh untuk kelompok lain. Dalam pemberian bantuan, Misalnya dalam usaha ayam petelur, harus mencakup mulai dari pembuatan kandang ayam, penyediaan bibit ayam petelur, makanan (hingga menghasilkan telur), vitamin, honor dokter hewan dan honor petugas pendamping. Sedangkan untuk usaha yang lain yang telah menghasilkan produk, TN MerBeti bisa memberikan bantuan peralatan, peningkatan kapasitas kelembagaan dan pemasaran. Prinsip yang dipakai petik, olah, jual. Masyarakat sejahtera, hutan lestari. Sumber: Balai TN Meru Betiri
Baca Berita

Ecotourism Kelimutu National Park

Ende - Ekowisata Kelimutu adalah paket lain yang ditawarkan TN Kelimutu dalam travel mart di Festival TN & TWA di Nusa Dua kemarin. Berwisata di Kelimutu adalah sebuah kegiatan wisata ekowisata (ecotourism) yang telah cukup lama dilaksanakan dan dibangun melalui program CBT (Community Based Tourism) oleh pihak Swisscontact yaitu sebuah yayasan independen Swiss yang berusaha mempromosikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di negara-negara berkembang. Khusus di sekitar Kelimutu program ini dilaksanakan di Desa Waturaka yang diinisiasi melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Bersama TN Kelimutu dan beberapa pihak lain membantu masyrakat dalam penguatan kelembagaan dan mendorong promosi pariwisata yang sebelumnya tidak bisa dilakukan oleh warga lokal. Dalam ekowisata prinsipnya adalah mengajak pengunjung wisata menjadi bagian dari ekosistem yang ada di daerah tersebut. Bukan merupakan outsider yang Ada masuk ke dalam sebuah sistem. Aktifitas pengunjung yang dilakukan antara lain menginap di homestay masyarakat, melakukan kegiatan keseharian masyarakat seperti ke sawah, menjemur atau menumbuk padi sambil berinteraksi dengan masyarakat serta tentu saja mengunjungi objek-objek wisata yang ada di sekitar. Sampai saat ini setelah program Swisscontact berakhir (2017), masyarakat terus melanjutkan kegiatan yang telah berjalan dan Balai TN Kelimutu terus berusaha mengembangkan kegiatan dan lokasinya dengan semangat harmoni alam dan budaya di desa-desa penyangga lain di TN Kelimutu. Bagaimana sobat dengan produk yang ditawarkan oleh TN KELIMUTU ? Apakah masih ragu ??? Dijamin sobat tidak akan ragu ataupun kecewa karena TN Kelimutu akan melayani pengunjung dengan setulus hati serta memperkenalkan wisatawan terhadap Budaya alam Yang merupakan ekosistem dari TN KELIMUTU. Ayo kesini sobat, di tunggu ya????. Sumber: Balai TN Kelimutu
Baca Berita

Balai Besar KSDA Jawa Timur Gagalkan Penyelundupan Berbagai Jenis Burung

Surabaya, 3 Agustus 2019 - Resort Konservasi Wilayah 07 Surabaya bersama Ditpolair Polda Jawa Timur – Tanjung Perak berhasil mengagalkan pengiriman satwa liar di Pelabuhan Tanjung Perak sekitar Pukul 9 malam. Satwa liar berupa berbagai jenis burung tersebut berasal dari Kalimantan dengan tujuan Kediri, Jawa Timur. Bersama satwa tersebut ikut diamankan seorang tersangka, wid, dan seorang ABK kapal yang ikut serta membantu upaya penyelundupan tersebut. Tersangka dijerat dengan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya. Menurut Doki Djati, Kepala RKW 07, burung-burung tersebut dibawa dalam 27 kardus. Adapun burung yang diamankan berupa 17 ekor Murai Batu, 70 ekor Kapas Tembak, dan 57 ekor Cucak Hijau. Yang bikin miris saat ditangkap, ternyata tak kurang dari 18 ekor burung telah mati dalam kardus. Kondisi sesak dan ventilasi yang buruk, bisa jadi penyebab kematian burung-burung tersebut. Selanjutnya burung-burung ini akan segera dikembalikan ke habitatnya di Kalimantan. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Berita

Dirjen KSDAE Bertemu Masyarakat Dongi-dongi Kawasan Taman Nasional Lore Lindu

Palu, 3 Agustus 2019. Taman Nasioanal Lore Lindu (TNLL) kembali mendapat kunjungan dari Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ir. Wiratno, M.Sc dalam rangka menyambangi masyarakat Dongi-dongi untuk melaksanakan dialog interaktif dengan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi Dusun Dong-dongi pada hari Jumat (2/8). Masyarakat Dongi-dongi tinggal di kawasan enclave yang secara administrstif berada di 2 (dua) Kabupaten yaitu Kabupaten Sigi dan Poso. Dalam kunjungan yang pertama kalinya ke Dongi-dongi di Kabupaten Poso, Dirjen KSDAE didampingi oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL), Ir. Jusman beserta personil di wilayah tapak Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Makmur dan disambut dengan pagelaran adat diantaranya musik bambu, tarian rego dan persembahan kidung nyanyian dari kelompok perempuan dan anak-anak dari Sekolah Alam Dongi-dongi. “Masyarakat Dongi-dongi mulai sekarang saya anggap saudara, sesama saudara kita harus bekerjasama” ujar Wiratno dalam dialog dengan masyarakat Dong-dongi. Dialog interkatif Dirjen KSDAE dengan masyarakat Dongi-dongi turut pula dihadiri oleh Kepala Balai Konservasi Sumberdaya Alam Sulawesi Tengah, Camat Lore Utara, Sekretais Camat Palolo, Forum Petani Merdeka (FPM) dan LSM terkait serta masyarakat Dongi-dongi. Proses dialog berjalan cukup dinamis dengan diberikannya kesempatan perwakilan masyarakat Dongi-dongi menyampaikan aspirasinya secara langsung kepada Dirjen KSDAE dengan isu-isu yang diangkat terkait akses masyarakat Dongi-dongi dalam mengelola sumber daya alam yang ada di kawasan TNLL dan dukungan untuk penetapan Dusun Dongi-dongi menjadi Desa Definitif Ngata Katuvua Dongi-dongi. Akhir dari dialog interaktif ini disepakati beberapa butir hasil rumusan bersama Dirjen KSDAE dan masyarakat Dongi-dongi yaitu; 1) BBTNLL bersama masyarakat Dongi-dongi berkomitmen untuk membangun wilayah Dongi-dongi dan mendukung pengelolaan TNLL secara kolaboratif; 2) BBTNLL bersama masyarakat Dongi-dongi melalui FPM bersepakat melestarikan kawasan hutan TNLL dan melakukan penutupan/penghentian aktivitas pertambangan di sekitar wilayah Dongi-dongi; 3) Dirjen KSDAE dan BBTNLL bersama FPM bersepakat mengakomodir wilayah Dongi-dongi menjadi Zona Khusus dan Zona Trdisional seluas 5.640 ha sesuai peta partidipatif yang dibuat oleh FPM; 4) Dirjen KSDAE dan BBTNLL bersama FPM mendukung dan mengawal proses usulan penetapan Dusun Dongi-dongi menjadi Desa Definitif Katuvua Dongi-dongi seluas 1.531 ha dimana 200 ha berada di Kab. Sigi dan 1.331 ha berada di Kab. Poso, sedangkan 5.640 ha sebagai wilayah kelola dari masyarakat di luar batas desa usulan dikelola dengan skema Kemitraan Konservasi dengan mendorong percepatan penetapan zona tradisional menjadi wilayah kemitraan konservasi sesuai Perdirjen No. 6 Tahun 2018; 5) Kemitraan Konservasi yang akan dibangun meliputi pengembangan wisata Danau Tauji, wisata minat khusus Ex-Pertambangan Tanpa Izin (PETI), pemberdayaan kelompok perempuan, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (damar, rotan, anggrek) dan pemulihan ekosistem berupa tanaman dengan jenis tanaman enau, kemiri, damar dan durian.” Semoga dengan kemitraan konservasi, BBTNLL dan masyarakat Dongi-dongi dapat bekerjasama dalam pengelolaan kawasan TNLL secara kolaboratif” ungkap Jusman. Hari itu acara kunjungan Dirjen KSDAE dilanjutkan dengan penandatangan prasasti pencanangan gerakan menanam sejuta pohon di lokasi Dongi-dongi dan Ex-PETI TNLL serta penanaman pohon oleh Dirjen KSDAE sebagai awal dari gerakan ini. “Saya cinta masyarakat Dongi-dongi dan lestarikan hutan TNLL” secuplik pesan catatan kaki Dirjen KSDAE pada prasasti yang ditandatangani. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Berita

Tanggapi petisi penolakan peragaan lumba lumba di Makassar : Tim Kami akan pantau SERIUS Peragaan Lumba-lumba di Makassar

Makassar, 4 Agustus 2019 - Ir.Thomas Nifinluri,M.Sc Kepala Balai BBKSDA SULAEL menanggapi terkait dengan PETISI penolakan peragaan lumba lumba di Makassar MENGATAKAN, dijelaskan bahwa kegiatan ini BUKAN "Sirkus" yang menyebabkan lumba lumba tersiksa atau bahkan menyebabkan kematian. Melainkan ini "peragaan" satwa yang eksotis ini masih diperbolehkan sesuai dengan ketentuan dimana aspek ethic dan welfare animal diutamakan. Kami akan serius Pemantauan terhadap peragaan ini meliputi kesehatan dan keamanan, pakan dan kondisi air kolam serta durasi peragaan satwa lumba-lumba. Adapun bentu pemantauan dari TIM kami adalah sebagai berikut : Pengawasan, pembinaan dan monitoring, Seksi P3 dan SKW IV BBKSDA Sulsel akan memantau secara komprehensif dan berkala terhadap 1. Etika dan kesejahteraan hewan 2. Jenis peragaan harus sealamiah mungkin dan tidak menyimpang dari perilaku alaminya 3. Memmantau Alat bantu yang digunakan tidak membahayakan satwa 4. Memanfau Frekuensi peragaan paling banyak 6 kali dalam satu hari dengan waktu istirahat minimal 2 jam satu pertunjukan ke pertunjukan berikutnya 5. Memantau Durasi peragaan lumba-lumba dalam satu kali peragaan maksimal 15 Menit 6. Pesan edukasi dalam setiap peragaan Sumber: BBKSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Sosialisasi Manajemen Bahaya di Kawasan Konservasi dan Kawasan Rawan Bencana

Kamis (1/8/2019), Balai Taman Nasional Gunung Rinjani bersama Divisi Rekreasi Alam dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) mengadakan Diskusi Multi Pihak Sosialisasi Manajemen Bahaya di Kawasan Konservasi dan Kawasan Rawan Bencana dengan tema “Rinjani Clean and Safe Hiking”. Acara sosialisasi ini disupport oleh Fakultas Kehutanan IPB sebagai pembicara yaitu Prof. Dr. E.K.S Harini Muntasib, MS dan Dr. Rinekso Soekmadi. Pada acara tersebut Balai Taman Nasional Gunung Rinjani mengundang Kapolda NTB, Danrem 162, Wira Bhakti Mataram, Kepala BAPPEDA Provinsi Mataram, Kepala Dinas ESDM Provinsi NTB, Kepala Dinas LHK Provinsi NTB, Kepala Dinas PUPR Provinsi NTB, Kepala BPBD NTB, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Mataram, Kepala Pengamat Gunung Api Sembalun (PVMBG), Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Utara, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lombok Timur, Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Klas I Lombok Barat, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Mataram, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi BIL, Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah I Kayangan, Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah II Selong, Ketua EMHC (Edelweis Medical Help Center), Ketua Forum Citra Wisata Rinjani, Ketua Forum Porter Guide Rinjani, Ketua Asosiasi TO Kab. Lombok Utara, Ketua Asosiasi TO Kab. Lombok Tengah, Ketua Asosiasi TO Kab. Lombok Timur, Ketua APGI Lombok, Kepala Resort Senaru, Kepala Resort Setiling, Kepala Resort Kembang Kuning, Kepala Resort Sembalun, Camat Sembalun, Camat Bayan, Ketua Orplas, Ketua Pokdarwis Rinjani Perkasa, DPH Geopark UGG Rinjani-Lombok, Direktur WWF Indonesia, dan Ketua Grahapala Universitas Mataram. Jumlah peserta yang hadir sebanyak 39 orang. Dalam penyampaiannya pembicara menyampaikan terkait bahaya-bahaya serta bencana yang ada di kawasan taman nasional gunung rinjani, sehingga pentingnya peran serta kerjasama semua pihak mengenai bagaimana menanggulangi atau mengelola bahaya serta bencana yang ada di Taman Nasional Gunung Rinjani. Bahaya dan bencana yang sering terjadi di kawasan TN Gunung Rinjani beberapa diantaranya terjadi karena keteledoran para pelaku wisata yg tidak mematuhi aturan atau tata krama yang berlaku. Beberapa ancaman bahaya/bencana yg perlu diwaspadai seperti gempa bumi, cuaca ekstrim, angin kencang, serta suhu yang dingin paling banyak menimbulkan korban di pendakian. Adapun usaha preventif yang bisa dilakukan salah satunya adalah memasang papan peringatan pada titik-titik yang sekiranya berbahaya bagi pengunjung. Sumber: Balai TN Gunung Rinjani
Baca Berita

Lumba-lumba Membawa Pesan Konservasi dan Edukasi

Makasar - Kegiatan peragaan lumba lumba dan aneka satwa PT. Taman Impian Jaya Ancol di Panakukang Square Makassar ramai dikunjungi masyarakat. Soft Launching Peragaan satwa dilaksanakan pada hari Jumat, 2 Agustus dan dibuka untuk umum mulai tanggal 3 Agustus sampai 1 September 2019., di Panakkukang Square. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulsel, Ir. Thomas Nifinluri memgatakan, hal ini sesuai izin peragaan satwa dengan ketentuan Surat Direktur KKH Nomor S. 667/KKH/AJ/KSA.2/7/2019 tgl 12 Juli 2019 perihal Informasi Peragaan Satwa dan Lumba-Lumba Dia menambahkan, jenis satwa yang diperagakan adalah lumba-lumba (Tursiops aduncus) 2 ekor, singa laut ( Otaria byronia ) 1 ekor dan berang-berang (Aonyx cinerea) sebanyak 2 ekor. Kegiatan ini dalam rangka pengawasan, pembinaan dan monitoring, Seksi P3 dan SKW IV BBKSDA Sulsel yang akan memantau secara komprehensif dan berkala terhadap etika dan kesejahteraan hewan. Jenis peragaan harus sealamiah mungkin dan tidak menyimpang dari perilaku alaminya. Dan alat bantu yang digunakan tidak membahayakan satwa. “Frekuensi peragaan paling banyak 6 kali dalam satu hari dengan waktu istirahat minimal 2 jam satu pertunjukan ke pertunjukan berikutnya,” Jelas Thomas. Lanjutnya, durasi peragaan lumba-lumba dalam satu kali peragaan maksimal 15 menit, dan ada pesan edukasi dalam setiap peragaan. Hasil pengamatan terhadap teknis dan administrasi telah dilakukan Kamis, 1 Agustus yang dituangkan dalam BAP berupa sarana dan prasarana (kolam, kualitas air), pakan, perawatan dan kesehatan serta peragaan sesuai dengan peraturan yang ada. Ir. Anis Suratin, mewakili Kababes KSDA Sulsel saat pembukaan mengatakan, “Syarat dan ketentuan kegiatan sesuai peraturan. Tujuan utama atraksi adalah edukasi dan rekreasi untuk umum” “Aturan tentang peragaan diperbolehkan, namun diikuti kontrol terhadap jalannya peragaan,” tambah Anis. Sementara itu, Manajemen Panakkukang Square mengatakan, tujuan peragaan lumba-lumba sebagai edukasi dan wisata keluarga serta pesan konservasi terhadap lumba-lumba. Penyelenggara MBC Production mengatakan, event ini merupakan kegiatan wisata, rekreasi dan edukasi untuk berbagai kalangan masyarakat. Thomas juga menanggapi petisi penolakan peragaan lumba lumba di Makassar oleh Ahsin Arifuddin. Menurut Thomas, ini bukan sirkus yang menyebabkan lumba-lumba tersiksa atau bahkan menyebabkan kematian. Melainkan ini “peragaan” satwa yang masih diperbolehkan sesuai dengan ketentuan di mana aspek ethic dan welfare animaldiutamakan. Pemantauan terhadap peragaan ini meliputi kesehatan dan keamanan, pakan dan kondisi air kolam serta durasi peragaan satwa lumba lumba. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Berita

Aksi Mengeluarkan TN Kerinci Seblat Dari List Terancam Warisan Dunia

Senin, 5 Agustus 2019 - Taman Nasional Kerinci Seblat menjadi salah satu dari tiga taman nasional yang masuk dalam Tropical Rainforest Heritage of Sumatera (TRHS) sejak 2004 bersama dengan Taman Nasional Gunung Leuser dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Ketiga kawasan tersebut menjadi bagian dari Warisan Alam Dunia (World Heritage Site) yang ada di Indonesia selain Taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Komodo, dan Taman Nasional Lorentz. Menurut Kepala Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Tamen Sitorus, TNKS menjadi salah satu taman nasional dengan hutan tropis yang tersisa dalam menyumbang kehidupan, tidak saja untuk satwa yang ada di dalam kawasan, namun juga untuk masyarakat yang ada di sekitar kawasan. “Selain memiliki satwa penting dan prioritas yaitu harimau sumatera Panthera tigris sumatrae, gajah sumatera Elephas maximus sumatranus, kelinci sumatera Nesolagus netscheri, tapir asia Tapirus indicus, padma raksasa Rafflesia arnoldii, dan cemara sumatera Taxus sumatrana, kawasan ini juga menyimpan sumber air untuk kebutuhan kehidupan mahluk hidup,” jelas Tamen. Tamen menambahkan di sidang World Heritage Convention ke 35 pada 2011, Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Leuser, dan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan masuk dalam Daftar Warisan Dunia Dalam Bahaya atau List of World Heritage in Danger akibat banyaknya kerusakan dan ancaman berupa perambahan dan usulan pembangunan jalan di dalam kawasan. Faktor-faktor tersebut pada akhirnya akan dapat mengeluarkan ketiga taman nasional dari daftar warisan alam dunia bila tidak ditanggapi dengan serius. Tidak tinggal diam, Pemerintah Indonesia membuat rencana aksi dalam mempercepat mengeluarkan dalam List of World Heritage in Danger. Beberapa langkah diantaranya adalah melaksanakan Strategic Environmental Assessment (SEA) pada setiap rencana pembangunan atau peningkatan jalan di kawasan TRHS dan melaksanakan Environmental Impact Assessment (EIA) yang mengacu pada setiap jalan yang telah dibangun tanpa SEA. Menurut Direktorat Kawasan Konservasi, Marlenni Hasan, bahwa tercatat delapan indikator, 10 tindakan perbaikan, dan 57 rencana aksi yang telah dilakukan pemerintah dengan menyusun Desired State of Conservation (DSOCR) dan Emergency Action Plan (EAP). “Tindakan yang perlu dilakukan antara lain tutupan hutan harus meningkat, meningkatnya populasi spesies fauna kunci, tidak ada pembangunan jalan baru, tidak ada kegiatan atau izin pertambangan, tata batas akurat dan tidak hilang, tersedianya tata kelola yang baik, melakukan patroli menggunakan SMART Patrol dengan jumlah kasus dan jumlah putusan pengadilan menurun, dan mempertahankan koridor satwa untuk spesies kunci yaitu spesies harimau, badak, gajah, dan orangutan,” tambah Marlenni. Agar sinergi aksi bisa diterapkan, Balai Besar Taman Nasional Kerinci Seblat (BBTNKS) bekerjasama dengan Sumatran Tiger Project dan Fauna & Flora International – Indonesia Programme melaksanakan Lokakarya “Inisiasi Penerapan Smart Green Infrastructure di Lanskap Taman Nasional Kerinci Seblat” pada selasa (30/7/2019) sebagai bagian dari upaya mengkomunikasikan pentingnya warisan dunia dan upaya yang perlu disiapkan jika pembangunan tidak terelakkan terjadi. Workshop dihadiri sebanyak 75 orang dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian dan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Dinas Kehutanan, Bappeda Provinsi dan Kabupaten, Kesatuan Pengelolaan Hutan Kabupaten, perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat. Menurut Country Director Fauna & Flora International – Indonesia Program, Cahyo Nugroho, kegiatan ini bertujuan dalam menyamakan persepsi mengenai taman nasional yang masuk dalam warisan dunia, pengembangan infrastruktur yang ramah bagi lingkungan di TRHS yang sudah terlanjur dibangun setelah masuk dalam warisan alam dunia pada 2004. “Perlu disusun opsi-opsi ramah-lingkungan bagi pengembangan infrastruktur yang melibatkan sinergi lintas sektor berdasarkan praktik terbaik yang sudah ada di tingkat nasional dan internasional,” terang Cahyo. Rekomendasi Aksi Terdapat tujuh rekomendasi aksi yang disepakati dan ditandatangani, yaitu: Mengoptimalkan fungsi Tim Koordinasi Warisan Dunia Indonesia sebagaimana SK Menko Nomor 20 tahun 2016 tentang Tim Koordinasi Pelestarian dan Pengelolaan Warisan Budaya dan Alam Indonesia. Sumber: Balai Besar TN Kerinci Seblat
Baca Berita

Komisi IV DPR RI dan Sekjen KLHK Bahas Potensi Sumber Daya Alam Hayati Papua

Jayapura, 5 Agustus 2019. Pimpinan Komisi IV DPR RI, Viva Yoga, bersama Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melakukan kunjungan kerja ke Papua pada Jumat (2/8). Rombongan tiba di Bandar Udara Internasional Sentani pada pukul 07.40 WIT dan disambut di VIP Room oleh UPT KLHK Provinsi Papua, Dinas Kehutanan Provinsi Papua, Kepala Pusat P3E Biak, Kalimantan, dan Sulawesi, serta Kepala Bagian PA KSDAE. Komisi IV DPR RI yang berkunjung ke Jayapura adalah Viva Yoga Mauladi, M.Si selaku wakil ketua, beserta anggota yang terdiri dari DR. Drs. Yus Sudarso, SH. MH., Ir. KRT H. Darori Wonodipuro, MM., Rahmad Handoyo, S.Pi, MM, Drs. Fadholi, dan Hj. Kasriyah. Sedangkan Sekjen KLHK, Bambang Hendroyono, didampingi oleh Kepala Biro Perencanaan, Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Kepala Biro Umum, Kepala Biro Keuangan, Kepala Pusat Data dan Informasi, Direktur PIKA, dan beberapa pejabat eselon II lainnya. Pukul 08.30 WIT rombongan menggunakan alat transportasi darat bertolak dari Bandara Internasional Sentani menuju TWA Teluk Youtefa. Selanjutnya rombongan melakukan peninjauan lapangan mengelilingi kawasan TWA. Teluk Youtefa dengan perahu motor. Di antara destinasi tinjauan adalah Kampung Adat Terapung Enggros, Kampung Tobati, Jembatan Holtecamp atau yang lebih dikenal dengan sebutan Jembatan Merah. Rombongan juga melakukan diskusi ringan di Pulau Metu Deby, kawasan TWA Teluk Youtefa. Pukul 15.00 WIT Sekjen KLHK melakukan pembinaan dan diskusi bertempat di Grand Abe Hotel, terkait dengan RPJMN/RKTN/RKP Sekjen KLHK, RPPUPK Kapusjakstra, dan Pengantar Renstra-Indikator Kinerja Utama Kepala Biro Perencanaan. Selanjutnya pada pukul 17.30 -19.45 WIT digelar pertemuan dan diskusi oleh Komisi IV DPR RI bersama peserta Rapat Koordinasi yang dipimpin oleh Sekjen KLHK. Pertemuan tersebut, setidaknya, menghasilkan empat poin penting mengenai sumber daya alam hayati di Papua. Pertama, Papua yang memiliki potensi sumber daya alam hayati sangat tinggi dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata yang prospektif di masa mendatang. Sehingga dalam pengembangan dan pembangunannya agar menjadi skala prioritas nasional. Kedua, Komisi IV DPR RI mendukung program maupun peningkatan anggaran yang diusulkan oleh KLHK. Ketiga, perencanaan kehutanan dengan penambahan anggaran akan difokuskan pada hutan konservasi dengan pengelolaan secara efektif dan efisien, serta data yang konkret untuk dapat menyelesaikan permasalahan di tingkat lapangan. Keempat, Komisi IV DPR RI menggagas pertemuan dengan KLHK untuk melaksanakan rapat dengar pendapat, membahas masalah Polisi Kehutanan yang terkait dengan sarpras, jaminan asuransi, jumlah personil Polisi Kehutanan, dan penganggaran pangamanan dan perlindungan hutan. Rencananya rapat tersebut akan dihadiri oleh seluruh Kepala Balai Besar KSDA dan Balai Taman Nasional seluruh Indonesia. [] Sumber : BBKSDA Papua Call Center : 0823-9802-9978
Baca Berita

Kelompok Tani Hutan Hejo Cipruk Kedatangan Tamu Lagi

Cianjur, 1 Agustus 2019 - Apa dan dimana sih Kelompok Tani Hutan (KTH) Hejo Cipruk itu? Mungkin hal itulah yang menimbulkan kepenasaranan orang untuk datang berkunjung dan belajar di KTH Hejo Cipruk. Disamping, tentunya keberhasilan kelompok ini dalam pengembangan usahatani yang mununjang upaya konservasi SDA. KTH Hejo Cipruk salah satu KTH binaan Balai Besar Taman Nasional Gede Pangrango (TNGGP) berada di desa penyangga wilayah kerja Resort Tegalega, Seksi PTN Wilayah II Gedeh, Bidang PTN Wilayah I Cianjur. Secara administratif berada di Kampung Tabrik, Desa Gekbrong, Kecamatan Gekbrong, Kabupaten Cianjur. Apa sih kelebihan Kelompok Tani Hutan (KTH) yang terbentuk sejak 2016 ini? Selain sebagai kelompok tani hutan juga menjadi lokasi praktik/ magang mahasiswa, lokasi praktik pelatihan instansi-instansi, dan juga lokasi studi banding para petani/ pengusaha dari berbagai provinsi maupun negara. Pusat Pendidikan dan Pelatihan SDM Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Proyek Forest Investmen Program (FIP) II Tahun 2019 mengadakan praktik Pelatihan Pendampingan Kelompok Tani Hutan (KTH) di KTH Hejo Cipruk. Tentu saja ada alasannya kenapa KTH Hejo Cipruk yang dipilih. Kegiatan praktik tersebut dilaksanakan selama dua hari, 31 Juli sampai 1 Agustus 2019. Acara dibuka langsung oleh Adang Sopandi, Kepala Bidang Perencanaan, Evaluasi, dan Pengembangan E Learning - Pusat Pendidikan dan Pelatihan Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Beliau menyampaikan, “Maksud kedatangan ke KTH Hejo Cipruk untuk melakukan praktik Pelatihan Pendampingan KTH, peserta berasal dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang tersebar di 7 provinsi”. Beliau juga menambahkan, semoga KTH Hejo Cipruk dapat dijadikan contoh untuk bahan pembelajaran yang dapat diaplikasikan sesuai dengan kondisi di lapangan daerah masing-masing. Peserta pelatihan diterima oleh Kepala Balai Besar TNGGP, pada kesempatan ini diwakili oleh V. Diah Qurani Kristina, Kepala Bidang PTN Wilayah I Cianjur. Beliau mengungkapkan, “Kunjungan peserta Pelatihan Pendampingan KTH ke KTH Hejo Cipruk merupakan kebanggaan dan kehormatan bagi kami dikunjungi oleh perwakilan dari 9 KPH yang tersebar di 7 provinsi. Ini dapat dijadikan pembelajaran bersama juga bagi kami KTH Hejo Cipruk maupun TNGGP sebagai pendamping KTH karena kita pun sedang dalam proses pengembangan pendampingan KTH”. Praktik Pelatihan Pendampingan KTH didampingi oleh Agus Wiyanto dan Amin Fauzi sebagai Widyaiswara Pusat Pendidikan dan Pelatihan SDM Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pendamping dari TNGGP, Febriyani dan Poppy Oktadiyani (Penyuluh Kehutanan), Ranto (Kepala Resort Tegalega/ Pengendali Ekosistem Hutan), dan Asep Andriana (Polisi Kehutanan). Kang Sayo, Kang Uden, Kang Sabar, Kang Dedi, dan anggota lainnya dari KTH Hejo Cipruk pun ikut bagian dalam kegiatan ini. Teh Nanin Suminar pendamping dari Yayasan Baitul Mal (YBM) Bank Rakyat Indonesia (BRI) saat ini sedang bekerjasama dengan KTH Hejo Cipruk dan kelompok ibu-ibu usaha olahan sayuran di Kampung Tabrik ikut hadir dalam kegiatan ini. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok (kelompok paprika, wortel, dan cabe). Para peserta sangat antusia mengikuti kegiatan praktik ini, mulai dari diskusi banyak peserta yang bertanya sambung menyambung. Sampai praktik pengambilan data ke lapangan pun diikuti peserta dengan serius namun mengasikan. Apa saja sih yang dipelajari dalam praktik tersebut? Peserta pelatihan belajar tentang identifikasi pemetaan potensi dan permasalahan kelompok serta penguatan kelompok dalam kelola kelembagaan, kelola kawasan, dan kelola usaha dengan menggunakan metode Focus Group Discussion (FGD) dan beberapa alat PRA (sketsa usaha tani, transek kampung, diagram venn, dan peta mobilitas). Identifikasi pemetaan potensi dan permasalahan desa dan kelompok, TNGGP sudah melaksanakannya untuk KTH Hejo Cipruk dan Kampung Tabrik – Desa Gekbrong pada tahun 2016, sehingga dapat saling sharing dari hasil identifikasi dan bersama-sama merumuskan bagaimana strategi penguatan kelompok dalam kelola kelembagaan, kelola kawasan, dan kelola usaha. Ada beberapa masukan untuk pengembangan KTH Hejo Cipruk dari hasil praktik tersebut, kelola kawasan (papan informasi terkait kawasan perlu dipasang terutama pada batas kawasan dengan kebun/ kampung untuk mengingatkan kepada masyarakat keberadaan kawasan TNGGP), kelola kelembagaan (penyetaraan gender dalam struktur organisasi, SDM wanita berpotensi dalam kepengurusan KTH), dan kelola usaha (diversifikasi produk olahan dari pertanian maupun Hasil Hutan Bukan Kayu lainnya seperti madu berpotensi dikembangkan). Diakhir acara, Kang Sayo, ketua KTH Hejo Cipruk, berharap agar hasil dari kegiatan praktik Pelatihan Pendampingan KTH ini dapat bermanfaat bagi peserta dan dapat diterapkan yang baiknya di daerah masing-masing. "Semoga bermanfaat juga bagi kemajuan KTH Hejo Cipruk sendiri maupun untuk para pendamping agar dapat melahirkan KTH Hejo Cipruk lainnya", tuturnya. Sumber: Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Berita

Kembangkan Kawasan Wisata Leang Londrong, Libatkan Indecon

Bantimurung, 2 Agustus 2019. Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung bersama Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, dan Resort Minasatene lakukan susur gua di Leang Londrong, Desa Panaikang, Minastene, Pangkep. Susur gua yang berlangsung Selasa (30/7/2019), juga melibatkan Yayasan Ekowisata Indonesia (Indecon) dan Karang Taruna Desa Panaikang. Kawasan Wisata Leang Londrong merupakan salah satu dari tujuh destinasi wisata unggulan Bantimurung Bulusaraung (seven wonders) dengan daya tarik utama: gua dan pemandian alam. Leang dalam bahasa Bugis-Makassar berarti gua. Leang Londrong merupakan gua dengan tipe horizontal dan basah dengan sungai mengalir sepanjang tahun dari dalam leang. Gua sepanjang 5,4 km tak hanya menarik karena memiliki sungai namun juga ornamen menarik berupa stalaktit, stalakmit, kolong, hingga flowstone. Belum lagi sajian menara karst menjulang tinggi menyambut para penikmat alam saat bertandang. Kerjasama pengembangan wisata Leang Londrong mulai diinisiasi dengan melibatkan beberapa pihak. Adalah Yayasan indecon yang membantu proses-proses fasilitasi kerjasama multistakeholder dan perencanaan pengembangan wisata berbasis masyarakat. Kerjasama ini diharapkan mampu menjadi bagian dari proses partisipasif berbagai pihak, di antaranya Pemerintah Desa Panaikang, Dinas Pariwisata Pangkep, PT. Semen Tonasa dan Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sendiri. Beberapa waktu lalu Indecon telah memulai langkahnya dengan melakukan lokakarya dengan tema: Perencanaan Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat. Gelarannya berlangsung di Aula Hotel Celebes Pangkep pada Selasa (23/7/2019) dengan memaparkan rencana pengembangan wisata di Desa Panaikang, Minasatene, Pangkep. “Kami memilih Pangkep karena memiliki potensi wisata, budaya, dan letaknya juga cukup strategis. Saya berharap ke depan sektor wisata Pangkep mampu menciptakan lapangan kerja bagi pemuda di sekitar objek daya tarik wisata,” pungkas Ary Suhandi, Direktur Indecon saat lokakarya. Fakta unik: Leang Lonrong memiliki potensi jasa lingkungan wisata dan pemanfaatan air. Masyarakat sekitar memanfaatkan air dari mulut gua sebagai sumber mata air utama dan irigasi. Aliran sungai yang bersumber dari Leang londrong ini mampu menopang produksi padi masyarakat hingga mampu panen sebanyak tiga kali dalam setahun. Tak hanya itu PT. Semen Tonasa juga memanfaatkan aliran sungai dari Leang Londrong untuk memenuhi kebutuhan air pabrik dan perumahan karyawan perusahaan semen ini. Sumber: Taufiq Ismail dan Erista Murpratiwi – Fungsional Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Berita

Balai Besar Tana Bentarum Tingkatkan Pengetahuan Kelompok Arwana

Rabu, 31 Juli 2019 - Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) berkomitmen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat baik yang berada di sekitar kawasan maupun yang di dalam kawasan. Salah satunya adalah Kelompok Perbesaran dan Perguliran Ikan Arwana “Konservasi Tekenang Permai” sebagai kelompok penerima bantuan peningkatan ekonomi produktif berupa 20 ekor Ikan Arwana beserta peralatannya pada Tahun 2018. Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam pemeliharaan ikan Arwana ini maka Balai Besar Tana Bentarum mengadakan kegiatan peningkatan kapasitas kelompok binaan dengan mengundang praktisi Ikan Arwana yang sudah berpengalaman. Kegiatan diikuti oleh 20 orang anggota kelompok Konservasi Tekenang Permai dilaksanakan di Guest House Bukit Tekenang dengan pemateri dari Suhaid Bapak Made Dunye. Materi yang disampaikan adalah mengenal Ikan Arwana, pemeliharaan Ikan Arwana yang baik dan benar, pencegahan penyakit pada Ikan Arwana, pengobatan Ikan Arwana dan perlakuannya, teknis pemindahan Ikan Arwana ke kolam, tips dan trik pemilihan bibit Ikan Arwana. Menurut Bapak Made kegiatan ini sangat berguna untuk masyarakat dan merupakan program nyata dari TNDS dalam rangka meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat yang ada di dalam kawasan, saya berharap program ini bisa berkesinambungan sehingga masyarakat bisa sejahtera dan Ikan Arwana sebagai Ikan endemik dan kebanggaan masyarakat Kapuas Hulu ini dapat lestari. Kepala Balai Besar yang diwakili oleh Kepala Bidang PTN Wilayah III Lanjak menyampaikan bahwa konsep yang dibangun oleh Balai Besar adalah bagaimana potensi satwa khususnya Ikan Arwana melalui mekanisme perguliran dan perbesaran serta pelepasliaran bisa menunjang peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat sesuai dengan Undang – Undang Nomor 5 Tahun1990. “Allhamdulillah, tahun kemarin kami dibantu perbaikan lanting, saluran air bersih dan Ikan Arwana, sekarang pelatihannya lagi, semoga kami bisa mandiri dan kami bertekad untuk mendukung program –program Balai Besar Tana Bentarum dan ucapan terimakasih kepada Balai Besar Tana Bentarum yang sangat perhatian kepada kami” Ujar Bpk Ahmad Ketua Kelompok Konservasi Tekenang Permai. Sumber: Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum

Menampilkan 5.201–5.216 dari 11.140 publikasi